Uncommitted Part 5

0
ff nc kyuhyun Uncommitted Part 5 super junior shinee
Author : Red Blue
Title : Uncommitted Part 5
Category : NC-21, Yadong, Romance, Chapter
Cast : Cho Kyuhyun
  Shim Changmin
  Lee  Jonghyun
  Choi Minho
  Han Rise
  Baek Choa
  Yoon Minhye
  Han Rin
Selain melanjutkan menceritakan kelanjutannya Minho’s story, juga akan ada cast utama lainnya yang muncul. Who is he?? Keep reading ^^
Selamat menikmati :p *kayak makanan aja haha*
Minho’s Story
“Yoon Minhye, apa yang kau lakukan di sini?” Minho menatap lurus ke mata Minhye. Iya, wanita seksi yang ia temui itu adalah Minhye. Minhye yang berbeda dari yang selama ini Minho kenal.

Minhye mengenakan rok mini belel berbahan jeans dengan tanktop ketat berwarna hitam. Rambut tergerai lurus, make up tipis namun terlihat provokatif. Penampilannya simple, namun tetap menggoda. Rok mini itu memperlihatkan kaki jenjangnya, kulit perutnya sedikit terlihat karena tanktopnya tak mampu menutupi seluruh pinggangnya yang ramping.
Minhye tertegun. Ia kaget karena tak mengira akan bertemu dengan atasannya di tempat seperti itu. Club yang menjadi tempat hang out Kyuline adalah club prestisius dimana hanya orang-orang borjuis yang mampu membayar minuman di tempat itu. Minhye mengerjap tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Saya…eh sedang berkumpul dengan teman-teman.” Minhye tergagap tak mampu menyembunyikan keterkejutannya.
“Kau…tampak…berbeda.” Minho berbicara sambil memperhatikan penampilan Minhye dari atas kepala hingga kaki. Seolah wanita di depannya bukanlah sekretaris kuno yang selama ini ia kenal. Minhye yang merasa seperti ditelanjangi, melepas pegangan tangan Minho di lengannya. Ia buru-buru pamit pada bosnya itu.
“Maaf pak, saya sudah ditunggu teman-teman. Permisi.” Minhye melangkah cepat meninggalkan Minho yang masih berdiam diri mematung di lorong.
*Minhye POV on*
Aish, kenapa pria itu ada disini juga? Apakah ia pengunjung reguler disini? Haruskah aku pindah ke club lain?
Ah, tak apa. Ini kan bukan kantor. Disini aku dan dia adalah pengunjung. Sekarang aku hanya ingin bersenang-senang. Si Choi Minho brengsek itu sudah memberiku banyak pekerjaan akhir-akhir ini. Bukan hanya pekerjaan kantor, bahkan ia menyuruhku menjadi kekasih pura-puranya. Kenapa ia tak menyewa wanita malam? Kenapa harus aku?
Aku tahu dia adalah tipe bos brengsek yang suka bermain wanita. Saat aku bepenampilan kuno di kantor ia tak pernah bersikap baik padaku. Namun akhir-akhir ini ia bersikap baik padaku hanya karena aku merubah sedikit penampilanku. Cih, benar-benar pria brengsek.
“Malam ini aku ingin all out. Jangan hentikan aku, meskipun aku sudah mabuk sekalipun!” Aku benar-benar ingin melepas penatku akibat ulah Choi Minho.
Teman-temanku senang melihatku bersemangat menghabiskan malam bersama mereka. Teman-temanku juga berpakaian tak kalah seksi sepertiku. Banyak pria yang mendekati kami. Tak sedikit juga yang berusaha mendekatiku dan menyentuh tubuhku saat kami bergoyang di lantai dansa.
*Minhye POV off*
&&&
Minho yang semula berdiam diri mematung, kini sudah kembali ke alam sadarnya. Ia melihat Minhye berjalan menjauhinya, dengan sigap ia berusaha mengikuti Minhye. Saat Minhye duduk di sofa di tepi lantai dansa, Minho memperhatikan gerak-gerik Minhye bersama teman-temannya. Saat Minhye turun ke lantai dansa, menikmati alunan musik, menggoyangkan tubuh seksinya dengan ekspresi senang, saat itu Minho tak henti-hentinya tersenyum.
Minho menyadari ada sosok lain di balik kacamata kotak dan pakaian abu-abu yang selama ini Minhye kenakan di kantor. Seolah wanita ini adalah sisi lain dari seorang Yoon Minhye, seperti seseorang dengan 2 kepribadian berbeda. Dibalik kemeja formal dan rok abu-abu, terbalut tubuh yang seksi, kulit seputih susu dan selembut kapas. Ternyata kacamata itu hanyalah topeng. Iya, topeng seorang Yoon Minhye. Entah kenapa ia mengenakan topeng selama berada di dekat Minho.
Minho benar-benar dibuat kagum oleh seorang Yoon Minhye malam itu. Senyumnya terus mengembang. Bahkan Minho lupa jika ia berada di club itu bersama Kyuline. Yang ada di pikirannya saat itu hanyalah wanita seksi bernama Yoon Minhye. Minho terus memperhatikan Minhye yang meliuk-liuk, menggoyangkan tubuhnya dengan seksi, sangat menggoda.
Tiba-tiba senyumnya hilang saat melihat Minhye didekati 2 orang pria. Pria-pria itu menikmati dentuman musik di dekat Minhye. Perlahan mereka mendekati gadis seksi di hadapannya. Awalnya tangan pria itu memegang wajah Minhye, kemudian berpindah ke pinggul dan berakhir di bokong seksi Minhye.
Minho yang melihat itu, mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras. Ia berlari menghampiri Minhye di lantai dansa. Seketika pukulan ia layangkan pada salah satu pria yang mencoba menggerayangi Minhye.
“Jauhkan tanganmu dari wanitaku!” Lantai dansa yang tadinya penuh sesak, kini berubah berisi patung. Orang-orang kaget dengan aksi Minho. Tanpa berpikir panjang, Minho menyeret Minhye dari lantai dansa. Namun ia sadar, Minhye sudah terlalu banyak minum. Gadis yang kini digandengnya telah mabuk berat.
Minhye memang wanitanya, milik Choi Minho. Setidaknya itu yang Minho deklarasikan ketika acara amal. Minho tak ingin orang lain tahu jika hubungannya dengan Minhye hanyalah kebohongan. Selain itu, Minho merasa ada yang menohoknya ketika ada laki-laki brengsek mendekati Minhye. Beruntung, di club itu ia tak melihat seseorang yang berhubungan dengan relasi bisnisnya.
Minho menggendong Minhye di punggungnya. Ia berpamitan dengan salah satu teman Minhye dan mengatakan akan mengantar Minhye pulang. Minho menggendong Minhye menuju parkiran mobil. Setelah mendudukkan Minhye di kursi penumpang, Minho merogoh saku celananya dan mengambil ponsel.
Mian, aku ada urusan mendadak. Lain kali aku yang traktir. Minho mengirim pesan singkat ke grup chatting Kyuline. Minho sejenak berpikir.
Aku tak tahu dimana rumah Minhye. Jika aku membawanya pulang ke rumah, pasti aku akan dipanggang oleh nenek. Batin Minho.
“Sebaiknya aku membawamu ke hotel.”Saat Minho akan menyalakan mesin mobil, ia teringat akan sesuatu.
“Ah, sebaiknya bukan di hotelku. Pasti pegawai hotel akan berpikir yang tidak-tidak. Baiklah, aku akan membawamu ke hotel lain.” Setelah memastikan tujuannya, Minho melaju menuju ke salah satu hotel mewah yang bukan milik perusahaannya.
Perusahaan Minho bergerak di bidang pariwisata khususnya perhotelan dan entertainment. Jika ia membawa seorang wanita mabuk ke salah satu hotel miliknya, pasti ia akan dicap sebagai pria brengsek. Meskipun kenyataannya Minho memang pria yang suka bermain wanita, setidaknya di depan para pegawainya ia adalah bos teladan.
&&&
Minho menidurkan Minhye di ranjang besar di suite room salah satu hotel mewah kawasan Gangnam. Saat melepas sepatu Minhye, Minho sejenak memperhatikan kaki jenjang gadis yang terlelap di hadapannya.
Ada sesuatu yang menyeruak di dalam dada Minho. Jantungnya bekerja lebih keras. Matanya seperti lensa kamera yang mampu memperbesar objek. Otaknya mendadak kosong. Segala pikiran kacau karena pekerjaan yang tak kunjung selesai, mendadak hilang. Rasanya seperti ada yang menekan tombol reset.
Gadis yang ada di hadapannya sedang terlelap dan dalam kondisi mabuk. Ada keinginan untuk menyentuh kulit lembutnya, perlahan tangan Minho terjulur maju. Ia mengelus lengan Minhye yang terbuka. Lembut. Seakan tak cukup hanya menyentuhnya, ada dorongan lain yang membuat Minho memberanikan diri mendekatkan wajahnya ke wajah Minhye. Minho mengecup kening Minhye, lalu turun ke hidung Minhye, dan kini ia sudah mendaratkan bibirnya ke bibir pink milik Minhye.
1 kecupan. 2 kecupan. Entah sudah kecupan keberapa, namun tak juga cukup untuk seorang Choi Minho. Minho memagut bibir Minhye yang terasa manis seperti madu. Kecupan ringan berlanjut menjadi ciuman yang panas dan dalam. Minho memejamkan matanya, tangannya membelai lembut pipi Minhye.
Tiba-tiba Minho membuka matanya, ia merasakan Minhye membalas ciumannya. Minhye masih berada di bawah pengaruh alkohol, sehingga ia tak sadar dengan apa yang dilakukan Minho padanya. Posisi Minho kini sudah berada di atas tubuh Minhye. Ciuman mereka berlanjut panas. Minhye bahkan memegang tengkuk Minho untuk memperdalam ciuman mereka. Tangan Minho tak tinggal diam, rok mini yang tadinya membungkus paha atas Minhye kini sudah berada di lantai. Minho meraba perut ramping Minhye, mengelusnya lembut, dan mengangkat tanktop Minhye ke atas.
Tangan Minhye perlahan membuka kancing kemeja Minho, lalu meraba abs Minho yang padat. Entah sejak kapan seluruh penutup tubuh Minhye terlepas dari empunya, sedangkan Minho masih memakai celananya.
“Ngh….akh” Desahan pertama keluar dari bibir seksi Minhye. Terdengar seperti gemericik air sungai yang menyegarkan di telinga Minho. Saat Minho mencium leher putih Minhye, desahan Minhye semakin menjadi. Terlebih, saat Minho meremas dan menekan dada Minhye.
“Aaakh….emh..” Minhye menggigit bibir bawahnya saat Minho bermain dengan dadanya.
Minho seperti kerasukkan. Ia bahkan tak ingat jika wanita yang berada di bawah kuasanya adalah sekretarisnya sendiri yang dulu berpenampilan kuno. Seperti mendapat angin, Minho melepas celananya dan kembali bermain dengan tubuh Minhye. Tangan kanannya bermain di atas dada Minhye, mulutnya tak berhenti menandai seluruh bagian tubuh Minhye yang bisa ia jamah. Setelah puas bermain dengan tubuh bagian atas Minhye, Minho pindah ke bagian inti dari tubuh Minhye.
Minho memasukkan 3 jari sekaligus, mengocoknya perlahan kemudian menjadi cepat. Minhye menggelinjang liar, tak tahan dengan permainan Minho. Minhye mendesah keras, tanda ia telah mencapai puncaknya. Minho kembali menindih tubuh ramping Minhye, dengan sekali hentak ia berhasil masuk ke dalam inti tubuh Minhye.
“Aaaarrghh.” Minhye mengerang kesakitan. Ia menggigit bibir bawahnya lagi, sebulir air mata keluar dari ujung matanya. Minho yang melihat itu, menciumi mata Minhye dan mencium bibir Minhye untuk mengalihkan rasa sakitnya. Minho melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda. Ia mengehentakkan tubuhnya dengan keras dan cepat. Naluri laki-lakinya perlu dipuaskan.
“Akh….ah..ah..” Semakin keras Minho bergerak, semakin keras pula desahan Minhye. Minho kembali sibuk bermain dengan dada Minhye, ia seperti pria kelaparan yang melihat makanan enak.
Minhye memeluk tubuh Minho erat ketika ia sudah tak mampu menahan gelombang yang akan datang. Minho tahu jika gadisnya akan orgasme, ia menghentakkan tubuhnya semakin keras.
“Aaarghhh…” Minho mendesah keras, saat ia akan mengeluarkan benihnya di dalam tubuh Minhye. Minhye mencengkram punggung Minho hingga meninggalkan bekas kuku. Dada Minhye naik turun, ia kelelahan. Apalagi ia berada di bawah pengaruh minuman keras, kepalanya terasa berat. Minho menyelimutinya, kemudian menariknya ke dalam pelukan posesif. Minhye langsung terlelap kembali ke alam bawah sadarnya.
&&&
Pagi menjelang. Minhye mengerjapkan matanya. Kepalanya pusing dan berat, ia kesulitan bernapas karena ada sesuatu yang menindih perutnya. Saat kesadarannya mulai kembali, ia melihat seonggok tangan besar dan liat berada di atas perutnya. Memeluk tubuh rampingnya, posesif. Napas lembut terhembus di dekat telinganya. Saat Minhye menoleh ke arah hembusan itu, ia hanya melongo tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Minhye berusaha bangun dan menyingkirkan tangan Minho, tapi justru pelukannya semakin erat.
“Kau sudah bangun?” Minho berkata dengan suara beratnya, namun tetap memejamkan matanya. Ia merasa tidurnya terganggu karena Minhye banyak bergerak.
“Menyingkir dariku!” Minhye mendorong Minho menjauh, lalu ia bangkit dan melilitkan selimut putih itu ke tubuh polosnya. Minho bangun dengan malas dan mulai memakai celananya yang berserakan di lantai.
“Haruskah kau membuat keributan sepagi ini?” Minho masih tampak mengantuk, namun ia terpaksa bangun. Minhye perlahan mundur dan membuat jarak yang cukup jauh dengan Minho. 
“Apa yang sudah kau lakukan padaku? Apa yang terjadi?” Minhye menahan amarah dan sedikit muncul rasa takut di dadanya. Perlahan Minho mendekat, di saat bersamaan Minhye melangkah mundur berusaha menjaga jarak dengan Minho.
“Jawabannya sudah jelas, apa kau masih tidak tahu? Ah, maaf jika aku berbuat lancang lagi pula itu salah sendiri.” Minho berkata dengan santainya. Minhye membelalakkan matanya, tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Hatinya bergemuruh menahan marah.
“Kau terlalu menggoda. Yah, secara harfiah kau mabuk tapi hanya dengan melihatmu tertidur insting singaku seketika muncul.” Minho menghimpit Minhye diantara tubuhnya dengan lemari pakaian di belakangnya. Sambil menatap seduktif, Minho mendekatkan wajahnya ke wajah Minhye. Minho menunduk. Napas Minhye tertahan di tenggorokkan, jantungnya memompa darah lebih keras. Matanya memanas.
“Jangan datang ke club lagi tanpa seijinku. Aku tak suka melihatmu mabuk dihadapan orang lain. Dan. Jangan…pernah…menunjukkan..pesonamu pada orang lain tanpa seijinku.” Ucapan Minho penuh penekanan dan tak terbantahkan. Minho semakin mengikis jarak dan mendaratkan ciuman ringan di bibir merah muda Minhye. Minhye diam mematung. Ia bahkan tak mampu mengedipkan matanya dan bernapas.
“Jangan mencobaku, nona. Aku bukan pria penyabar.” Minho membisikkan kalimat yang terdengar seksi di telinga wanita manapun yang mendengarnya.
&&&
Jonghyun’s Story
Sabtu siang rumah sakit tetap ramai oleh pengunjung maupun dokter dan perawat yang piket saat akhir pekan, dengan langkah santai Jonghyun memasuki lobi rumah sakit dimana ayahnya dirawat. Pria berkulit putih pucat itu memakai celana jeans belel dan kaos putih, dengan kedua tangan berada di saku ia berjalan dengan angkuhnya. Pesonanya saat berjalan benar-benar membuat petugas lobi maupun perawat yang kebetulan ada di sana terpukau. Hari itu, ayahnya sudah diijinkan pulang dari rumah sakit. Ia bermaksud menjemput ayahnya.
“Kau sudah boleh pulang hari ini.” Jonghyun masuk ruang rawat dan membereskan baran-barang milik ayahnya.
“Wah, kau menjemputku? Apakah kau salah makan?” Lee Namgyu, ayah Jonghyun, sangat senang menggoda putranya. Pria paruh baya itu berharap jika putranya bisa kembali tertawa. Selain itu, anaknya selalu sibuk bahkan saat akhir pekan. Ayah Jonghyun heran jika anaknya sendiri yang datang untuk menjemputnya. Selama ini ia selalu ditemani oleh asisten atau orang kepercayaannya.
Jonghyun hanya diam tak menanggapi pertanyaan ayahnya. Ia masih membereskan segala keperluan ayahnya. Setelah selesai membereskan barang-barang ayahnya, ia duduk di sofa dan mengambil ponselnya.
“Paman, apakah keperluan administrasinya sudah selesai?” Pria dingin itu menelepon paman Yoonjae, salah satu orang kepercayaan ayahnya. Setelah si penerima telepon menjawab, Jonghyun langsung menutup telepon tanpa mengucapkan sepatah kata.
“Kau belum menjawab pertanyaanku. Ada urusan apa hingga kau yang menjemputku? Aku yakin pasti ada sesuatu.” Lee Namgyu masih penasaran dengan kelakuan Jonghyun hari itu.
“Karena Kwon Rin. Kau sendiri yang memintaku untuk mendekatinya.” Jawab Jonghyun datar, matanya masih menatap layar ponsel dan jari-jarinya menari indah mengetik pesan singkat.
“Kau sudah bertemu dengannya? Apakah kalian sudah mulai dekat?” Tanya ayah Jonghyun antusias.
“Aku hanya mencari informasi tentang dia hari ini. Aku belum melakukan apapun.” Kini tatapan mata pria itu beralih ke ayahnya. Mendengar jawaban anaknya, pria berusia hampir 60 tahun itu hanya mendesah putus asa.
“Kuharap kau memiliki teman lain selain para preman itu. Kalian tampak seperti boyband jika sedang bersama. Jika kalian jadi artis, pasti kalian akan memiliki banyak fans.” Lee Namgyu tertawa dengan guyonannya sendiri. Namun Jonghyun hanya menatap ayahnya datar, merasa jika ayahnya tidak lucu sama sekali.
“Gadis itu, Kwon Rin, ia adalah dokter baru yang sedang dalam masa percobaan di rumah sakit ini.” Lanjut Jonghyun. Ayahnya menatap Jonghyun takjub. Ia tak menyangka jika gadis yang merawatnya tempo hari adalah calon dokter.
“Whoa! Jackpot. Aku akan punya menantu seorang dokter. Ia pasti akan merawatku dengan baik.” Jonghyun menatap sinis ayahnya. Siapa bilang ia akan menikahi gadis itu? Ayahnya hanya meminta Jonghyun menjadikan Kwon Rin sebagai teman dan berterima kasih pada gadis itu karena telah merawat ayahnya.
“Kupikir kau hanya menyuruhku untuk berteman dengannya.” Sindiran Jonghyun kembali mengingatkan ayahnya.
“Apa salahnya jika ia justru jadi teman hidupmu?” Ayah Jonghyun pandai bermain kata-kata. Lee Jonghyun menghembuskan napasnya kesal. Ia tahu, ia tak akan pernah pandai berbicara seperti ayahnya. Jonghyun beranjak akan pergi keluar dari ruang perawatan ayahnya. Namun ia berhenti sejenak sambil menatap ayahnya.
“Aku tidak mengatakan akan menjemputmu. Kau pulang dengan paman Yoonjae saja. Aku masih ada urusan.” Jonghyun langsung melenggang keluar meninggalkan ayahnya yang bermuka masam, kesal ingin mengumpat pada anak satu-satunya.
&&&
Jonghyun berjalan menuju parkiran mobil, ia masih berada di kawasan Sungwon Hospital. Ia tidak masuk ke dalam mobil, Jonghyun justru mengeluarkan sesuatu dari pintu belakang mobilnya. Tas besar, berwarna hitam, berbentuk seperti gitar. Ia manyampirkan tali tas di salah satu bahunya, berjalan dengan santai kembali ke rumah sakit. Saat masuk ke dalam gedung rumah sakit, ia melihat pasien anak-anak menuju ke arah paviliun anak-anak dengan antusias. Jonghyun berjalan menuju arah yang sama. Ia memperhatikan dengan seksama, melihat ke sekeliling. Kwon Rin ternyata sudah datang.
Dengan percaya diri Jonghyun mengambil tempat di sebelah Kwon Rin. Ia mengeluarkan gitar dari dalam tasnya. Kwon Rin kaget, ia tidak tahu siapa pria yang tiba-tiba duduk di sebelahnya.
“Nuguseyo?” Kwon Rin menatap Jonghyun heran.
“Kita berkenalan nanti saja. Kau ingin menyanyi lagu apa? Aku akan bermain gitar denganmu.” Jonghyun berbicara tanpa menatap gadis yang terheran-heran di sebelahnya, Jonghyun malah menyetel ulang gitarnya.
“Penontonmu tidak akan senang jika menunggu terlalu lama.” Perkataan Jonghyun kembali mengingatkan Kwon Rin jika ia harus segera menyanyi. Mereka berdua sepakat untuk menyanyikan lagu anak-anak milik Dongbangshinki – Balloon. Jonghyun hanya bermain gitar, Kwon Rin juga bermian gitar namun gadis itu ikut menyanyi bersama anak-anak. Suaranya lembut, cukup merdu meskipun tidak semerdu penyanyi profesional. Gadis itu bernyanyi dengan tulus, sehingga anak-anak senang dan ikut bernyanyi dengan riang.
Jonghyun dan Kwon Rin bermain bersama, memainkan 3 lagu anak-anak. Acara menyanyi bersama telah usai, anak-anak kembali ke ruang perawatan. Tinggal Jonghyun dan gadis itu yang masih duduk saling menatap di ruang paviliun anak.
“Nuguseyo?” Kwon Rin masih menyampaikan pertanyaan yang sama. Jonghyun menatapnya dengan tatapan tajam. Tanpa senyum.
“Lee Jonghyun imnida. Aku ingin berterima kasih padamu.”
“Untuk?”
“Karena kau telah menjaga ayahku, Lee Namgyu. Pasien di ruang VIP.”
“Ah, paman itu. Kau anaknya?” Jonghyun menjawab pertanyaan Kwon Rin dengan anggukkan.
“Seorang laki-laki paruh baya meminta tolong padaku untuk menemani ayahmu, karena ada urusan mendadak di kantor.” Pasti itu paman Yoonjae, pikir Jonghyun.
“Ia sekretaris ayahku. Sekali lagi, terima kasih.” Jonghyun berdiri dan membungkukkan badannya. Saat Jonghyun berbalik badan dan bersiap akan pergi, Rin menahannya.
“Tunggu, apakah aku akan bertemu denganmu lagi?” Jonghyun tidak menjawab, ia langsung melangkahkan kakinya meninggalkan rumah sakit. Gadis itu masih diam mematung di tempatnya, memandang bahu lebar lelaki gagah itu perlahan menghilang.
*Rin POV on*
Pria itu, Lee Jonghyun, meskipun ekspresinya datar dan dingin namun setiap tatapannya memiliki arti berbeda. Sekilas, ia memiliki tatapan datar. Tapi aku bisa merasakan, matanya berbicara. Aku baru mengenalnya 30 menit yang lalu, tapi aku bisa melihat makna di setiap tatapan matanya. Tatapan matanya saat memainkan gitar dan melihat anak-anak, tatapan itu melembut. Aku tahu dia bukanlah orang jahat.
Pasti ada sesuatu di dalam dirinya yang membuatnya seperti itu. Saat aku merawat ayahnya, paman itu, Lee Namgyu, pernah mengatakan jika ia memiliki seorang anak lelaki yang sulit mengekspresikan dirinya. Awalnya aku hanya mendengarkan saja tanpa menaruh minat seperti apa anak seorang Lee Namgyu. Setelah bertemu dengannya hari ini, aku bisa merasakan kesedihan pada nada bicara paman Lee Namgyu saat itu.
Aku berharap bisa bertemu dengannya lagi. Ada magnet di dalam matanya yang membuatku tertarik. Aku ingin merasakan setiap ekspresi yang keluar dari pancaran matanya. Ia pria yang dingin, misterius, dan…..tampan.
Hei! Wanita mana yang tak akan jatuh pada pria tampan yang misterius? Aku wanita normal yang menyukai tipe pria seperti itu. Terkesan seperti drama yang selama ini ku tonton, tapi pria seperti itu memang selalu berhasil membuat wanita manapun jatuh tak berdaya.
*RIN POV off*
Pertama kali Jonghyun bertemu dengan Kwon Rin, pria dingin itu merasa ingin bertemu dengan Kwon Rin lagi. Percakapan singkat mereka tempo hari ternyata adalah pemantik rasa ingin tahu Jonghyun. Jonghyun hanya merasa ingin berbincang lebih lama dengan gadis itu. Permainan gitarnya cukup bagus, batin Jonghyun. Matanya yang memancarkan sinar saat menatap setiap orang, suaranya yang lembut bak beledu.
Akhir pekan berakhir dengan cepat, Senin sudah datang. Jonghyun hanya duduk manis di balik meja kebesarannya di kantor. Ia memandang lembaran kertas berharga bernilai miliaran won dengan tatapan tak berminat. Jari-jarinya mengetuk-ketuk meja, pandangannya tertuju pada gagang telepon di hadapannya. Ia menimbang-nimbang ingin melakukan sesuatu. Setelah memantapkan pilihan, ia akhirnya mengambil gagang telepon dan menekan dial speed nomor 1.
“Paman Yoonjae, tolong masuk ke ruanganku sekarang.” Tak berapa lama, sekretaris kepercayaan ayahnya yang kini menjadi bawahannya sudah berada di hadapan Jonghyun.
“Ada apa sajangnim?” Tanya pria berusia 46 tahun itu.
“Apa saja jadwalku hari ini?”
“Hari ini agenda anda hanya rapat rutin dengan para kepala staf jam 3 sore.” Jawab pria paruh baya itu lembut tanpa meninggalkan nada tegas. Setelah mendengar jawaban dari sekretarisnya, Jonghyun melirik jam. Masih jam 11 siang.
“Apakah hari ini Kwon Rin ada di rumah sakit?” Sekretaris Jonghyun yang biasa ia panggil Paman Yoonjae itu sedikit terkejut. Pertanyaan yang diajukan atasannya sedikit di luar dugaan.
“Menurut hasil penyelidikan saya tempo hari, nona Kwon Rin bekerja shift malam mulai hari Senin hingga Rabu.” Jonghyun menghela napas, ia tidak memiliki alasan untuk bertemu dengan Kwon Rin selain di rumah sakit.
“Apa yang ia lakukan saat siang hari jika sedang tidak bekerja?”
“Maaf sajangnim, saya tidak menyelidiki hingga sejauh itu.”
“Baiklah. Aku akan menanyakannya sendiri. Tolong kau jemput dia, aku ingin mengajaknya makan siang. Bilang saja padanya sebagai ucapan terima kasih.”
“Ne, sajangnim.” Paman Yoonjae membungkukkan badannya sebelum keluar dari ruangan pria berkulit putih pucat itu.
&&&
Kwon Rin sudah duduk manis di dalam restoran italia di kawasan Itaewon. Gadis itu bingung, mengapa pria itu bisa tahu alamat rumahnya dan jam kerjanya. Pria itu pasti seorang maniak, pikir Kwon Rin. Jonghyun masuk dengan langkah mantap ke dalam restoran itu, ia mengambil tempat duduk di hadapan Kwon Rin.
“Maaf menganggumu hari ini. Maaf juga karena telah membuatmu menunggu.” Jonghyun menatap gadis berambut lurus di hadapannya dengan mata tajamnya namun tidak meninggalkan kesan sopan.
“Anniyo, tidak apa-apa. Bagaimana kau tahu alamat rumahku dan jam kerjaku?” Tanya gadis itu polos.
“Pihak rumah sakit yang memberitahuku.” Jawab Jonghyun singkat. Akhirnya pria itu bisa mendengar suara Kwon Rin lagi. Cara Kwon Rin saat bertanya, menarik perhatian Jonghyun. Mata gadis itu bersinar penuh minat, suaranya lembut. Padahal pria di hadapannya, memiliki tatapan tajam penuh aura kegelapan, kulitnya putih pucat, ekspresi wajahnya datar tanpa senyum benar-benar seperti pembunuh berdarah dingin. Mendengar jawaban dari mulut Jonghyun, Kwon Rin hanya mengangguk.
“Ehm…Jonghyun-ssi. Ada perlu apa kau mengajakku makan siang?”
“Aku hanya ingin berterima kasih. Karena kau telah merawat ayahku.”
“Bukankah kau sudah berterima kasih padaku?” Jonghyun menatap Kwon Rin intens. Matanya mendominasi setiap ekspresi wajahnya.
“Saat itu aku tidak melakukannya dengan benar. Kali ini aku ingin mentraktirmu makan siang.” Jonghyun tak bisa mengalihkan pandangannya dari gadis manis di hadapannya.
Makanan yang telah mereka pesan, akhirnya datang. Mereka makan dalam diam. Kwon Rin terlalu sibuk dengan pasta di hadapannya. Sedangkan Jonghyun sibuk memperhatikan gadis itu. Setiap gerakan tangan Kwon Rin saat makan bagaikan tarian di mata Jonghyun. Gerakan lembut dan penuh kehati-hatian. Seolah-olah pasta itu adalah pasien yang rapuh dan sekarat.
“Kenapa kau ingin menjadi dokter?” Pertanyaan Jonghyun yang tiba-tiba memecah keheningan.
“Sebenarnya, saat masih sekolah aku sangat membenci pelajaran sosial. Nilai-nilai pelajaran sosialku sangat buruk, tetapi aku selalu mendapat nilai bagus di pelajaran eksak. Aku tidak berencana menjadi dokter, tetapi setelah melihat betapa tegangnya suasana penyelamat darurat, aku menjadi tertantang.” Kwon Rin menjawab pertanyaan Jonghyun dengan antusias. Jonghyun mendengarkan penuh minat, tatapannya juga tak luput dari setiap mimik muka gadis itu.
“Apakah kau suka musik?” Lanjut Jonghyun.
“Tentu saja. Aku suka memainkan gitar, suaranya sangat berbeda dari alat musik lain. Apalagi gitar akustik, aku sangat menyukainya.” Jonghyun terdiam sejenak mendengar jawaban Kwon Rin.
*Jonghyun POV on*
Kenapa aku ingin tahu apa yang ia suka? Kenapa ia tak ada habisnya untuk di pandang? Kenapa tatapanku penuh selidik?
Tidak, aku tak tertarik padanya. Aku tak boleh tertarik padanya. Wanita hanyalah monster yang akan memporakporandakan hidupku. Wanita diciptakan hanya untuk mengelabui pria. Jika tujuannya telah tercapai, mereka akan menghabisi setiap mangsanya.
Kutatap sendok dan garpu yang kupegang di tangan kanan dan kiri. Tatapanku yang sebelumnya penuh intensitas pada lawan bicaraku, perlahan turun ganti menatap makanan di hadapanku.
Aku harus menjauhinya, sebelum terperangkap lebih jauh. Aku harus mengakhiri rasa ingin tahuku. Pesona gadis ini pasti hanyalah topeng  untuk memancing mangsanya. Tak mungkin seorang wanita baik-baik mau begitu saja diajak makan siang oleh pria tak dikenalinya. Pasti ia memiliki maksud tertentu.
“Maaf Kwon Rin-ssi. Aku harus kembali ke kantor. Sekali lagi terima kasih telah merawat ayahku.” Aku tinggalkan gadis itu begitu saja. Bahkan nada bicaraku terkesan ketus. Aku yakin ia pasti kecewa karena mangsanya tidak jadi jatuh ke dalam lubang perangkapnya.
*Jonghyun POV off*
Kwon Rin hanya melongo saat tiba-tiba Jonghyun beranjak pergi tanpa peringatan sebelumnya. Pria itu yang mengajaknya makan siang, namun pria itu juga yang memutuskan untuk meninggalkannya terlebih dulu.
Apa mau pria ini? Pikir Kwon Rin. Gadis itu mendengus kesal.
TBC
Gimana readers? Author berharap sumbangan ide dengan meninggalkan jejak kalian
Gomawo ^^

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: