Uncommitted Part 4

0
Uncommitted Part 4 kyuhyun minho jonghyun super junior

Author : Red Blue
Title : Uncommitted Part 4
Category : NC-21, Yadong, Romance, Chapter
Cast : Cho Kyuhyun
  Shim Changmin
  Lee  Jonghyun
  Choi Minho
  Han Rise
  Baek Choa
  Yoon Minhye
  Han Rin
Sepertinya banyak readers yang salah paham tentang ff ini. Di ff ini cast utamanya ada 4 orang, Kyu disebut paling duluan bukan berarti hanya Kyu aja yang jadi cast utama. Cast utamanya Kyu, Changmin, Minho dan Jonghyun. Tiap cast utama akan punya part sendiri. Gitu ^^

Di part ini gak cuma cerita tentang Changmin, akan ada cerita lain di dalamnya & salah satu cast utama akan ada yang nongol selain Changmin. Siapakah itu??? Perhatikan setiap petunjuknya ya. Happy Reading ^^
Changmin’s Story
Sudah beberapa hari Changmin memikirkan insiden ciumannya dengan Rise, dan sudah seminggu pula ia tak bertemu dengan Rise. Sejujurnya, Changmin tak punya nyali untuk bertatap muka dengan Rise. Berkat insiden itu, pekerjaanya jadi kacau, moodnya selalu berubah-ubah.
*Changmin’s POV on*
Ada apa denganku? Sudah seminggu aku sulit tidur, bahkan aku mudah marah dan melamun. Apakah ini karena malam itu? Hei, itu bukan pertama kalinya aku mencium wanita! Dia bahkan tidak lebih cantik dari wanita-wanita yang selama ini kutiduri.
Sebaiknya aku pergi ke club. Sejak insiden itu, aku bahkan belum menginjakkan kakiku ke club lagi. Lebih baik ku hubungi mereka. Ku keluarkan ponselku dari saku celana, lebih baik aku menelepon Kyuhyun dulu.
“Kyu, sudah lama aku tidak ke club. Ayo kita bersenang-senang! Pikiranku sedang kacau.” Changmin mengutarakan keinginannya untuk menghabiskan malam di club bersama Kyuline.
“Baiklah. Kita bertemu di sana. Kau booking ruang VIP, aku akan menghubungi yang lain.” Aku memutus sambungan teleponku dengan Kyuhyun. Kemudian aku mencari nama Minho dan Jonghyun di daftar kontak. Aku menelepon menggunakan call room sehingga bisa menghubungi Minho dan Jonghyun sekaligus.
“Minho-ya, Jonghyun-ah mari kita ke club. Aku sudah menghubungi Kyuhyun dan ia sudah memesan ruang VIP. Aku butuh hiburan, pikiranku sedang kacau.” Ku memasukkan kembali ponsel ke saku celana. Melepas dasi yang melingkar di lehernya dan melipat lengan kemeja putihnya. Sebaiknya aku mencuci mukaku sebelum pergi. Mungkin air bisa sedikit menyegarkan pikiranku. Setelah mencuci muka, kupandangi cermin di hadapanku.
Apakah aku bertemu dengan wanita yang salah? Apakah ini benar-benar karena Han Rise? Aku hanya menyesapi bibirnya sekali, dan rasanya….manis.
“Dasar wanita sialan!” Aku berteriak, mengusap wajahku kasar. Berharap bayang-bayang wanita gila itu enyah dari pikiranku. Ah, sebaiknya aku mencari hiburan sebelum benar-benar berubah jadi gila.
*Changmin POV off*
Hilarious adalah club langganan Kyuline. Club itu hanya bisa diakses oleh kalangan atas. Privasi menjadi hal terpenting di club itu, tak heran banyak pasangan selebriti yang berkunjung kesana karena privasi mereka terjamin. Tidak berbeda dengan Kyuline, meskipun mereka bukan artis, namun mereka terkenal di kalangan bisnis dan bisa menghabiskan malam bersama artis cantik jika mereka mau.
Kyuhun sampai terlebih dahulu di Hilairous, lalu disusul Changmin yang masuk ke ruang VIP dengan wajah kacau dan pakaian yang berantakan. Beberapa saat kemudian Jonghyun datang dengan ekspresi datarnya dan mengambil tempat duduk di sebelah Changmin. Minho datang paling akhir, penampilannya tidak lebih baik dari Changmin. Bahkan saat ia berkumpul dengan Kyuline di club langganan mereka, Changmin tampak diam.
“Changmin-ah apakah ada masalah di kantor?” Kyuhyun yang sejak tadi memperhatikan Changmin hanya diam tidak menyentuh minumannya sama sekali. Changmin hanya memandang dengan tatapan kosong ke arah lantai, seolah tak mendengar pertanyaan Kyuhyun.
“Shim Changmin! Bicaralah!” Kali ini Minho yang bersuara. Namun Changmin tetap tak  bergeming, hingga Jonghyun menendang kakinya barulah Changmin tersadar dari lamunannya.
“Ya!! Haruskah kau menendang kakiku?” Changmin mengerang sambil memegang kakinya.
“Harusnya kami yang marah. Kau ini kenapa?” Kyuhyun menuntut jawaban atas pertanyaannya.
“Semua ini karena wanita gila itu. Aku bahkan tidak bisa bekerja dengan tenang!” Mendadak Changmin marah-marah dan menenggak habis vodka di gelasnya.
“Memangnya dia berulah lagi? Bukankah kau sudah menyelesaikan urusanmu dengannya?” Pertanyaan Minho keluar begitu saja dari mulutnya.
“Ulahnya kali ini benar-benar di luar dugaanku.” Napas Changmin menderu saat mengingat kejadian itu.
“Apa yang terjadi?” Kyuhyun mencondongkan badannya ke arah Changmin yang semula bersandar di sofa.
“Aku….aku menciumnya. Aku juga tak tahu kenapa bisa melakukan itu. Hanya saja malam itu ia terlihat sangat….menarik.” Dengan suara lirih pengakuan Changmin keluar begitu saja dari mulutnya.
Bahkan Jonghyun yang sedari tadi tidak menaruh minat dengan obrolan tidak penting itu, menghentikan aktivitasnya bermain game dan mulai mendengarkan curhatan sahabatnya itu. Kyuhyun dan Minho tampak sedikit terkejut. Bagaimana tidak, selama ini Changmin yang mereka kenal hanya tertarik pada wanita seksi yang kebanyakan mereka temui di club dan hanya bertahan menjadi partner one night stand-nya. Kali ini hanya dengan sekali ciuman, Changmin menjadi kacau.
“Sebaiknya aku mengajak beberapa wanita cantik yang tadi kutemui di luar.” Saat Kyuhyun akan beranjak keluar dari ruang VIP, Changmin menahannya.
“Aku sedang tidak ingin ‘bermain’.”
Changmin minum banyak vodka. Ia mabuk berat. Minho sudah pergi terlebih dahulu.
“Sebaiknya kau antar dia pulang. Biar mobilnya disini saja.” Kyuhyun menyuruh Jonghyun seenaknya sendiri.
“Kenapa harus aku?” Jonghyun membalasnya dengan dingin.
“Terakhir kali dia kuantar pulang dalam keadaan mabuk, ia hampir membuatku menabrak pohon.” Kali ini Kyuhyun sudah siap beranjak pergi dari ruang VIP.
“Akan ku telepon sopirku. Biar dia saja yang mengantarnya pulang menggunakan mobil Changmin.” Jonghyun mengeluarkan ponsel dari kantong celana jeansnya.
&&&
Selama perjalanan pulang, Changmin meracau. Ia bahkan meminta sopir Jonghyun untuk mengantarnya pulang ke apartemen bukan ke rumah ornag tuanya. Changmin mabuk berat, ia tak sadar jika ia ‘pulang’ ke apartemen yang ia pinjamkan untuk Rise. Otaknya yang selalu memunculkan bayangan Rise, kini justru menuntun Changmin pulang ke apartemen Rise. Changmin memasukkan kode pin pintu apartemen dan langsung masuk. Ia berjalan terhuyung menuju kamar Rise. Rise yang saat itu belum tidur, kaget dengan kedatangan Changmin yang tiba-tiba masuk ke kamarnya.
“Changmin-ssi apa yang kau lakukan di sini?” Changmin tak menjawab pertanyaan Rise. Changmin hanya menyeringai dan berjalan mendekati Rise. Rise mencium bau alkohol dari napas Changmin. Rise merasa gelagat Changmin aneh, ia perlahan mundur saat Changmin mendekat. Tiba-tiba Changmin merengkuh Rise ke pelukkannya.
“Kau harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi padaku.” Changmin berbisik tepat di telinga Rise. Bulu kuduk Rise meremang, gadis itu takut. Tangannya mulai bereaksi untuk menjaga jarak. Changmin seketika menciumnya, ciuman yang dalam dan menuntut. Gadis itu mencoba untuk memberontak, mempertahankan harga dirinya. Changmin mempererat pelukkannya, tangan kanannya mendekap erat pinggul Rise yang ramping sedangkan tangan kirinya meraih tengkuk Rise untuk memperdalam ciumannya.
Changmin mendorong Rise hingga membentur dinding. Rise hanya bisa memejamkan mata dan bulir air matanya mulai jatuh. Changmin menggigit bibir bawah Rise, ia ingin ciumannya terbalas. Namun Rise tetap bergeming.
“Hentikkkaannhh.” Rise tidak tahan dengan perlakuan Changmin yang menciuminya bertubi-tubi. Ia sudah terpojok di antara dinding dan tubuh Changmin. Rambutnya yang diikat kuda memperlihatkan lekuk lehernya yang jenjang. Changmin yang melihat leher indah Rise tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, ia menciumi leher Rise dengan intens hingga meninggalkan bekas kemerahan.
Rise berusaha menolak segala perlakuan Changmin terhadap tubuhnya. Changmin geram karena selama ini ia tidak pernah ditolak wanita manapun. Changmin menjilat telinga Rise dengan penuh nada menggoda ia berbisik.
“Turuti aku, aku takkan menyakitimu. Aku begini karena kau.”
Rise menegang, ia tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Sadar jika Rise diam dan tidak merespon, tangan kanan Changmin sudah berpindah ke dalam sweater kebesaran milik Rise. Ia meraba pinggul dan perut Rise. Rise yang ketakutan hanya bisa diam dan menangis tanpa suara. Bibirnya kembali merasakan sesuatu yang lembab, yang menyentuhnya dengan lembut namun menuntut dan berlanjut menjadi ciuman yang dalam.
*Rise POV on*
Kenapa dia? Apa salahku? Ada apa dengannya? Kenapa aku harus bertanggung jawab?
Seluruh pertanyaan itu terlintas di pikiranku. Aku hanya bisa diam saat ia membisikkan kata-kata itu. Selain rasa takut, aku juga merasa ada rasa putus asa di ciumannya. Saat ciumannya melembut, aku bisa mengenali Changmin yang sama seperti malam itu. Malam dimana ia menciumku pertama kalinya. Saat ciumannya berubah menuntut, aku merasa ada sosok lain yang tak kukenali. Ketika aku berniat membalas ciumannya, tiba-tiba Changmin menghentikan aktivitasnya terhadap bibirku.
Ia hanya memandangiku, sorot matanya berbeda. Tatapan lapar, namun tetap menggoda. Ia bahkan tidak berkedip. Menatapku intens seolah menelanjangiku. Menohok tepat di sisi wanitaku yang membutuhkan sisi lelakinya. Apa ini? Apakah aku menginginkannya? Aku hanya menatapnya, mencari jawaban atas pernyataannya yang mengharuskan aku bertanggung jawab atas dirinya. Entah kenapa, aku tidak merasa ada ancaman di dalam dirinya.
Tiba-tiba Changmin merengkuhku lagi, namun kali ini ia menggila. Seolah-olah ia sudah mendapatkan mangsanya dan bersiap memakanku.
*Rise POV off*
Rise tanpa sadar membalas ciuman Changmin. Changmin yang merasa jalannya telah terbuka, ciumannya berpindah ke leher Rise. Tangannya tak berhenti meraba punggung Rise dan berpindah menyentuh sesuatu yang kenyal, tidak terlalu besar namun terasa pas di tangannya.
“Ngghhh” Rise melenguh secara tidak sadar saat tangan Changmin menyentuh dan menekan dadanya. Melihat sinyal itu, Changmin lantas melepas sweater yang dikenakan Rise. Kemudian ia kembali menciumi bibir Rise. Changmin merasa ketagihan akan bibir mungil dan manis itu. Seolah ada heroin yang menempel di bibir Rise, membuat sang penikmat merasa sakau jika tidak menyentuhnya sedetik saja.
Bra hitam yang tadinya melekat pas di dada Rise sudah berpindah ke lantai, entah sejak kapan Changmin melepasnya. Seolah tangannya sudah profesional melepas pembungkus makanannya. Tanpa melepas ciumannya, Changmin melepas sendiri kemeja yang ia kenakan. Tubuhnya yang berotot sempurna, kembali menghimpit Rise ke dinding dan menciumi seluruh lehernya tanpa ampun.
“Ngghh…hentikaannh Chang..min..ssiiii.“ Changmin seolah tidak mendengar, ia memindahkan buruannya ke ranjang yang ada di belakangnya. Tubuh Rise terhempas di tempat tidur besar itu. Changmin menindihnya hingga ia kesulitan bernapas. Akal sehat Rise mulai kembali, ia berusaha menjaga jarak dengan Changmin. Changmin yang merasa Rise mulai menjauh, memposisikan tangan kanannya menahan kedua tangan Rise di atas kepala. Sedangkan tangan kirinya tak henti meremas mainan barunya. Mulutnya kini juga sudah berpindah ke objek favorit lainnya. Awalnya Changmin mencium dan mengecap dada Rise, lalu menggigit puncak dada Rise.
Setan telah menang. Mata Changmin menggelap. Napasnya memburu. Nafsu telah mengalahkan akal sehatnya. Ia tak menghiraukan buliran air mata yang jatuh dari mata bening Han Rise. Segala bentuk penolakan gadis rapuh itu ia abaikan. Rise merasa ia sudah tak bertenaga lagi untuk memberontak. Tak ada gunanya ia melawan. Pria yang ada di hadapannya bukanlah Changmin, namun pria yang haus dan lapar karena seks. Di sisi lain, sentuhan Changmin tak mampu ia tolak. Sedikit demi sedikit ia merasa ada kenikmatan dibalik setiap sentuhan tangan besar pria itu.
Rise seperti melayang di atas awan, tubuhnya terasa ringan. Kesadarannya entah sudah hilang kemana. Ia tak bisa menemukan jalan kembali. Rise yang semula menolak, kini sudah pasrah di bawah kuasa Changmin. Changmin yang merasa sudah tidak ada perlawanan dari Rise, meningkatkan intensitas aktivitasnya. Tangan kirinya sudah menjelajahi dada dan perut rata Rise, sekarang berpindah ke pusat tubuh Rise. Mengelusnya lembut. Menikmati setiap sentuhan.
Rise menggelinjang tak karuan. Rona merah di pipinya membuat Changmin semakin terpesona. Changmin menatapnya intens. Benar-benar cantik, batin Changmin. Entah kenapa ia tak seperti wanita jalang di luar sana. Padahal mereka lebih seksi.
Tangan besar Changmin seolah telah terlatih melepas setiap kain pembungkus mangsanya. Rise bahkan tak merasakan apapun saat celana dalamnya telah berpindah tempat. Tangan pria yang berada di atasnya telah mengoyak pusat tubuh Rise tanpa ampun. Rise menggelinjang lebih liar. Ia tak sanggup menahan kenikamatan itu. Changmin yang merasa mendapat angin, tanpa menunggu kesiapan wanitanya langsung menggabungkan kedua tubuh mereka dalam sekali hentakan.
Rasa sakit luar biasa datang dari inti tubuh Rise, ia bahkan sampai menggigit bibir bawahnya menahan sakit. Ia hanya bisa menangis. Mencengkram punggung telanjang Changmin. Perlahan napasnya mulai teratur, ciuman yang tadinya panas kini melembut. Apakah setan mendadak bisa berbuat selembut ini? Batin Rise. Saat merasa keadaan Rise mulai tenang, Changmin memompa tubuhnya perlahan dan sedikit demi sedikit menaikkan kecepatannya. Ciumannya kembali memanas. Rise tak diberi kesempatan untuk bernapas. Hentakan demi hentakan mengenai tepat titik rangsang Rise.
Sepertinya setan telah merasuki ku juga, pikir Rise.
*Changmin POV on*
Rasanya berbeda. Wanita gila ini seperti heroin. Aku tak bisa berhenti. Saat ia merasa kesakitan, aku juga merasa sakit. Namun aku tak mampu mengalahkan setan dalam diriku. Aku hanya mampu mengalihkan rasa sakitnya.
Mulutnya, lehernya, semua lekuk tubuhnya sangat indah. Rona merah pipinya seperti sunset di langit yang cerah. Suaranya saat berada di bawah kuasaku seperti alunan musik klasik, merdu dan indah. Tubuhku seolah bekerja dengan sendirinya tanpa perintahku.
Semakin cepat aku bergerak, aku merasa ada yang menjepit dengan ketat pusat tubuhku. Hangat dan dalam. Tak lama, aku merasa mau meledak. Tunggu, aku tidak memakai pengaman. Aku ingin berhenti. Tapi tubuhku tak mau mengikuti otakku.
*Changmin POV off*
Changmin memeluk tubuh Rise semakin erat, intensitas hentakannya semakin cepat dan keras.
“Akh…akh..akh..” Napas Rise memburu. Desahan keluar dari mulutnya seiring dengan hentakan yang ia rasakan di pusat tubuhnya. Keringat membasahi tubuh keduanya.
“Akuh…sudahh..takh..tahanh.” Changmin seketika berhenti bergerak, ia meledak. Di saat bersamaan Rise mencapai puncaknya. Sesuatu yang hangat mengalir keluar dari pusat tubuh mereka.
&&&
Sinar matahari dengan lancang masuk ke dalam kamar itu melalui celah tirai. Pria muda dengan tubuh hanya tertutup selimut setengah badan, memperlihatkan otot sempurna pemiliknya. Ia tampak kelelahan setelah melalui malam yang panjang. Perlahan ia membuka mata, mengerjap. Dimana ini? Kenapa aku ada disini? Pikir Changmin. Lalu ia duduk, memijat kepala yang terasa pening dan berat. Matanya menangkap situasi yang ganjal, pakaiannya berserakan. Telinganya menangkap suara pancuran air dari dalam kamar mandi yang ada di kamar itu.
Changmin menajamkan pikirannya, ia berpikir sejenak. Semalam ia bertemu dengan Kyuline di club lalu ia mabuk. Deg. Tiba-tiba pikirannya kalut. Ia teringat sesuatu yang besar telah terjadi. Perlahan ia bangkit dari ranjang, memungut celananya. Dengan langkah ragu ia menuju ke arah kamar mandi. Suara pancuran air semakin keras. Ragu-ragu ia membuka kenop pintu kamar mandi, ia tertegun dengan apa yang dilihatnya.
Han Rise, menangis, meringkuk di bawah pancuran air shower. Entah sudah berapa lama ia berada di sana. Rise menunduk, menyembunyikan wajahnya di antara kedua lengannya yang terlipat di atas lutut.
Lutut Changmin lemas, tak mampu menopang tubuhnya. Ia terhuyung, hampir ambruk.
“Apa yang telah ku lakukan? Kenapa terasa sakit saat melihatnya?” Gumam Changmin. Selama ini ia tak pernah merasa bersalah saat meninggalkan wanita yang menjadi partner one night stand-nya.
&&&
Minho’s Story
“Minho-ya, kau bilang akan mengenalkanku pada teman wanitamu saat acara amal. Kapan kau akan melakukannya?” Tiba-tiba nenek Minho menanyakan pertanyaan yang Minho sendiri tidak ingat ia pernah menjanjikan hal itu pada neneknya.
“Ehm….aku tidak tahu apakah ia bisa datang hari ini. Sebaiknya halmoni jangan terlalu berharap, aku sendiri tidak yakin ia akan datang jika kuminta.” Minho tampak bingung harus berbuat apa. Keinginan neneknya sungguh sulit untuk ditolak.
“Aku akan mencoba menghubunginya terlebih dahulu.” Lanjut Minho, kemudian ia meninggalkan sarapannya yang masih sisa setengah. Bergegas ia menuju kamarnya dan bermaksud untuk menghubungi seseorang.
Minho menyambar ponselnya, dengan napas memburu ia menekan nomor 4 sebagai speed dial untuk sekretarisnya.
“Minhye-ssi, bisakah kau menolongku? Aku benar-benar butuh bantuanmu hari ini.” Minho mengutarakan pikirannya to the point.
“Bisakah kau menemaniku dalam acara amal hari ini? Nenek terus menerus menanyakan teman kencanku, aku tak tahu harus bagaimana. Ku harap kau mau menolongku.” Lanjut Minho berbicara cepat dalam sekali tarikan napas.
“Terima kasih. Akan ku kirim alamatnya padamu, kita bertemu disana. Oiya, ku harap kau tidak memakai pakaian kuno mu dan lepas kacamatamu. Kau tak membutuhkannya.” Entah apa tujuan Minho berkata seperti itu karena terdengar seperti perintah dari pada permintaan tolong. Di sisi lain, Minho ingin melihat lagi penampilan Minhye tanpa kacamata.
Acara amal di balai kota itu dihadiri oleh orang-orang penting, baik itu politisi maupun pebisnis. Tak sedikit juga selebriti yang ikut serta. Minho yang pagi itu mengenakan kemeja putih dan blue jeans terlihat gusar menunggu seseorang di lobi balai kota. Orang yang ditunggunya tak kunjung datang, ia terlambat 5 menit. Berkali-kali Minho mencoba menghubunginya dan mengirimi pesan, namun tak satupun yang diangkat atau dibalas. Baru 5 menit namun rasanya sudah berjam-jam untuk Minho, apalagi neneknya terus menanyakan keberadaan teman wanitanya.
Tampak dari pintu gerbang balai kota, masuk sebuah Mini Cooper Clubman putih ke halam parkir balai kota. Minho memperhatikan setiap kendaraan yang masuk, saat mobil itu tiba ia setengah berharap jika pengemudi mobil itu Yoon Minhye. Pengemudi mobil itu keluar, seorang wanita cantik memakai dress selutut bermotif bunga, dengan tas tangan berwarna coklat dan memakai kacamata hitam. Wanita itu menghampiri Minho yang tampak seperti pria putus asa. Minho menghembuskan napasnya, sepertinya ia tak akan datang, batin Changmin.
“Sajangnim.” Panggil wanita itu pada Minho. Minho hanya menatapnya, ia tak mengenali wanita itu. Sadar jika dirinya tak dikenali oleh atasannya, wanita itu melepas kacamatanya.
“Jwesunghamnida, sepertinya saya bernampilan berlebihan hari ini.” Yoon Minhye tampak salah tingkah dengan penampilannya. Ia merasa risih karena ditatap terus menerus oleh Minho.
“Apakah kau Yoon Minhye?” Minho masih tak percaya dengan pemandangan di depannya. Wanita cantik berusia 25 tahun, yang biasanya bernampilan kuno lengkap dengan kacamata berbingkai kotak, saat ini ada di hadapannya dengan dress selutut bermotif bunga tanpa lengan, rambut dikuncir kuda memperlihatkan leher jenjangnya, make up natural dan TANPA KACAMATA.
Minho terus memandanginya, ia begitu cantik jika seperti ini, pikirnya. Minhye melambaikan tangannya di depan wajah Minho berusaha menyadarkan atasannya dari lamunan.
“A-ah…mari kita masuk.” Minho menggandeng tangan Minhye yang terkejut dengan perlakuannya. Minho melakukannya tanpa sadar, namun saat ia merasakan tangan Minhye membalas genggaman tangannya, Minho semakin memperat genggamannya.
Minho memperkenalkan Minhye sebagai kekasihnya pada sang nenek. Jung Boksoo tampak ingin mengenal Minhye lebih jauh. Nenek Minho merasa bahwa Minhye sangat mengenal Minho dengan baik.
Selama acara berlangsung, Minhye selalu berada di sisi Minho. Tangan Minho yang tadinya menggandeng erat tangan Minhye, kini sudah melingkar di pinggang rampingnya. Seolah ingin menunjukkan pada setiap orang bahwa Minhye adalah wanitanya.
Tak terasa acara amal itu sudah hampir selesai, Minho pamit pada setiap relasi bisnisnya. Ia masih menggandeng erat tangan Minhye hingga acara selesai. Selain berusaha akting senatural mungkin, Minho juga merasa nyaman saat kulitnya bersentuhan dengan kulit lembut yang kini ada di genggamannya.
“Minhye-ah, kau terlihat cantik hari ini. Terima kasih sudah menolongku.” Minho mengantar Minhye hingga ke tempat mobil Minhye terparkir.
“Senang membantu anda pak.” Minhye tersenyum manis ke arah Minho. Minho tampak kikuk dan tak bisa mengontrol ekspresi wajahnya. Ia mengeluarkan senyuman terbaiknya untuk seorang Yoon Minhye yang notabene nya adalah sekretarisnya.
“Sebaiknya kau pulang dan beristirahat Minhye-ah. Terima kasih untuk hari ini. Sampai jumpa di kantor.” Minho membukakan pintu mobil untuk Minhye, dan melambaikan tangan saat mobil Minhye meninggalkan area balai kota.
Cantik. Pintar. Bahkan ia cepat belajar dan tahu keinginanku. Jika saja kau berdandan cantik dari dulu, mungkin aku tidak akan bisa bekerja dengan tenang. Batin Minho.
&&&
Senin pagi, aktivitas seperti biasa di kantor Minho. Minho duduk di belakang meja eksekutifnya ditemani Yoon Minhye yang duduk di sofa. Sedari tadi, Minho hanya memperhatikan Minhye yang sibuk berkutat dengan jadwal-jadwal Minho. Namun, berkali-kali ia membenarkan posisi kacamatanya tampak tidak nyaman dikenakan.
“Lepas saja topengmu itu.” Celetuk Minho memecah keheningan.
“Ya?” Minhye tampak bingung, apa yang dimaksud oleh atasannya itu.
“Kacamatamu. Lepas saja. Hanya mengganggu pekerjaanmu.”
“Baik pak, saya permisi sebentar.” Minhye pamit untuk kembali ke ruangannya. Perlu waktu hampir 5 menit hanya untuk melepas kacamata, Minho geram saat Minhye kembali ke ruangannya. Sebelum marah, Minho sempat menatap Minhye kagum.
Ia cantik, lagi. Batin Minho. Beberapa detik kemudian, ia sadar jika ia harus marah.
“Kusuruh melepas kacamata dan kau butuh waktu 5 menit?”
“Maaf pak, saya menggantinya dengan lensa kontak.”
“Lanjutkan pekerjaanmu. Apa saja jadwalku hari ini?” Minho membenarkan posisi duduknya, ia mengamati Minhye dari ujung sepatu hingga rambut. Tidak ada yang berubah dari penampilan Minhye kecuali matanya.
&&&
Selama di kantor, Minho tidak bisa konsentrasi bekerja jika berada di dekat Minhye. Sejak Minhye tak pernah memakai kacamata lebih tepatnya. Apalagi penampilan Minhye sedikit demi sedikit sudah mulai berubah.
Padahal malam itu Minho berniat lembur, tiba-tiba ponselnya berdering. Layarnya memunculkan nama Choikang, itu adalah nama panggilan Minho untuk Changmin.
“Hm.” Dengan malas Minho menjawab panggilan telepon.
“Baiklah. Pikiranku juga sedang kacau. Kita bertemu di sana saja.” Minho menutup sambungan teleponnya. Niatnya untuk lembur sudah hilang. Ia melepas ikatan dasi yang melingkar di lehernya. Membuka kancing teratas kemeja biru tuanya dan melipat lengan kemeja hingga siku.
Minho menyambar kunci mobil di atas meja kerjanya, bergegas pergi meninggalkan kantor. Saat keluar ruangan, sejenak ia berhenti di depan ruang kerja Minhye. Wanita itu sudah pulang sejak beberapa jam yang lalu.
&&&
Sesampainya di club, di ruang VIP sudah berkumpul 3 member Kyuline. Changmin terlihat berantakan, meskipun ia memakai kemeja putih sepertinya ia juga datang dari kantor. Kyuhyun terlihat santai dengan kaos oblong putih polos dan jaket kulit favoritnya. Jonghyun baru saja akan bermain game di ponselnya saat Minho datang. Jonghyun selalu terlihat tampan meskipun ia hanya memakai celana blue jeans dan kaos oblong hitamnya.
“Bagaimana keadaan ayahmu?” Minho membuka suara, bertanya pada Jonghyun.
“Tadi pagi sudah pulang. Ia semakin baik.” Pandangan Jonghyun tak berpindah dari game di ponselnya. 
“Changmin-ah sudah beberapa hari ini kau tampak kacau. Ada masalah di kantor?” Tanya Kyuhyun sambil menuangkan sebotol vodka ke gelasnya. Namun Changmin hanya diam.
“Shim Changmin! Bicaralah!” Kali Minho yang angkat bicara. Ia sebal karena tadi Changmin yang menelponnya, namun justru pria itu yang tutup mulut.
“Wae? Haruskah kau menendang kakiku?” Tiba-tiba kakinya ditendang Jonghyun. Ia mengerang kesakitan.
“Harusnya kami yang marah. Kau ini kenapa?” Sahut Kyuhyun. Dengan seksama mereka bertiga memperhatikan cerita Changmin.
Ternyata masalah kita sama Changmin-ah. Batin Minho. Sambil menghela napas lelah, Minho bersandar pada sofa di ruang VIP itu. Hening menyelimuti mereka berempat. Seolah mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
Tiba-tiba Minho berdiri.
“Aku akan ke toilet.” Minho seolah butuh ‘bernapas’ di luar ruang VIP, entah itu bermain wanita atau mendengarkan dentuman musik yang keras di luar ruang VIP. Saat berada di lorong, ia melihat sesosok wanita yang ia kenal. Namun, wanita itu memakai pakaian yang kelewat seksi. Benar-benar bisa membangkitkan binatang buas di dalam diri setiap pria yang melihatnya. Minho hanya melihat punggung wanita itu. Minho membuntutinya. Langkahnya semakin cepat.
Minho berhasil menyusul wanita itu. Grep. Ia menahan lengan wanita itu. Minho seolah tak percaya dengan pengelihatannya. Mulutnya bergerak namun tak ada suara yang keluar.
TBC
Maaf kalau alurnya membingungkan atau kurang panjang. Terimakasih atas sarannya. 
Kalau readers ada ide, langsung tinggalkan jejak ya, mungkin ide-ide readers bisa menginspirasi author ^^
Berikanlah kritikan yang membangun agar kedepannya cerita ini semakin baik. Bukan hanya kritikan akan tidak puasnya kalian karena typo atau kurang panjannya ff ini.
Bagi sider “. saya tunggu jejak kalian.

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: