Uncommitted Part 3

0
ff nc kyuhyun uncomitted super junior Shinee
Author : Red Blue
Title : Uncommitted Part 3
Category : NC-21, Yadong, Romance, Chapter
Cast : Cho Kyuhyun
  Shim Changmin
  Lee  Jonghyun
  Choi Minho
  Han Rise
  Baek Choa
  Yoon Minhye
  Kwon Rin
Tanpa ba bi bu….. Happy Reading!! ^^
Changmin berangkat bekerja pagi-pagi sekali. Ia bahkan tersenyum puas saat akan meninggalkan rumahnya menuju kantor. Entah apa yang ia rencanakan hari itu. Selama perjalanan menuju kantornya, ia memutar musik up beat. Terlihat jika ia sedang dalam mood yang bagus.

“Beritahu orang suruhanmu untuk menjalankan rencana kita hari ini. Aku ingin semuanya berjalan dengan bersih dan rapi.” Changmin meletakkan kembali ponselnya setelah menutup sambungan telepon. Sebelum menuju kantor, ia mampir sejenak ke toko kue yang ia kunjungi sebelumnya di Myeong-dong. Ternyata toko itu belum buka.
Tampak dari kejauhan, pemilik toko sedang berjalan ke arah tokonya. Han Rise, pemilik toko itu, berhenti di depan pintu masuk dan mengeluarkan kunci dari dalam tasnya.
Changmin yang melihat kejadian ini tidak membuang waktu lagi. Ia masih mengamati wanita itu dari dalam mobilnya. Saat wanita itu sudah masuk ke dalam tokonya, Changmin bersiap menjalankan rencananya.
“Selamat datang. Jwesunghamnida toko ini akan buka setengah jam lagi.” Han Rise, pemilik sekaligus pelayan toko kue itu berkata ramah pada Changmin saat ia membuka pintu.
“Ah, aku kesini bukan untuk membeli kue. Aku ingin menawarkan kerja sama bisnis denganmu Han Rise-ssi.” Ucap Changmin sambil tersenyum.
“Jwesunghamnida, tapi anda siapa?”
“Aku Shim Changmin, CEO Core Inc, yang ingin membangun apartemen di lingkungan rumahmu.” Han Rise tampak terkejut dengan jawaban Changmin. Sesaat kemudian ekspresinya tampak kesal dan marah saat tahu identitas Changmin.
“Jika anda ingin membeli tanahku, aku takkan pernah menjualnya padamu. Berapapun harga yang kau tawarkan aku tetap tak akan menjualnya.”
“Anda salah sangka terhadapku, Han Rise-ssi. Aku bermaksud mengajak anda bekerja sama untuk membuka toko kue di atas tanahmu sendiri, di tempat yang sama dimana kau tinggal saat ini.”
Han Rise tampak tidak percaya dengan apa yang ditawarkan Changmin barusan. Changmin bicara dengan mantap dan penuh keyakinan.
“Apa kau tak salah bicara Shim Changmin-ssi?”
“Aniyo, aku sungguh-sungguh. Aku akan tetap membangun apartemen di lingkunganmu, namun kau tak perlu menjual tanahmu padaku. Kau bisa tetap tinggal disana. Hanya saja rumahmu akan kuubah menjadi toko kue saat apartemen itu sudah selesai. Kau bisa tetap tinggal disana saat apartemen sudah selesai dibangun.” Changmin melanjutkan penjelasannya.
“Apartemen yang kubangun, justru akan membuat bisnismu semakin maju. Karena hanya orang-orang elit dan penting yang akan tinggal disana. Lokasinya juga strategis untuk bisnismu. Justru jika kau menolak tawaranku, kau akan rugi.” Changmin mengakhiri kalimatnya dengan penuh penekanan. Nada intimidasi cukup terasa di setiap penekanannya.
“Apa maksudmu aku akan rugi?”
“Aku tahu, toko kue ini tidak memiliki ijin usaha. Haruskah aku melaporkannya? Jika kau setuju untuk bekerja sama denganku, aku bisa mengurus segala perijinannya dan kau tetap bisa melanjutkan bisnismu. Bisa dibilang, kalau kau setuju dengan penawaranku, kita sama-sama diuntungkan.” Changmin tersenyum puas saat ia menyelesaikan penjelasannya. Han Rise memandang Changmin penuh kemarahan. Ia berkali-kali mendenguskan nafasnya kesal.
“Aku memikirkan penawaran ini setelah makan kuemu. Seandainya tempat ini di manajemen dengan baik, aku yakin kue-kue pasti akan laris di pasaran. Menurutku kuemu cukup enak.”
“Berikan aku waktu untuk berpikir.” Kata Han Rise setelah diam sejenak dan menimbang-nimbang penawaran Changmin.
“Han Rise-ssi, kau berada di posisi tidak bisa menolak. Terima tawaranku, atau tempat bisnismu terancam ditutup karena tidak berijin. Mungkin setelah itu kau akan kehilangan rumahmu karena bisnismu hancur.” Changmin mendesak Han Rise dengan setengah mengancam. Han Rise mengepalkan tangannya menahan amarah. Ia benar-benar sial. Han Rise merasa terpojok, tampak dari raut mukanya yang mulai memerah karena emosi.
“Baiklah, aku terima tawaranmu.” Han Rise menerima ajakan Changmin, ia berbicara dengan pelan karena menahan emosi, terpaksa dan tampak tak rela karena ia tak punya pilihan lain.
“Orang suruhanku akan mengurus segala surat perjanjiannya. Hubungi aku jika kau ingin menambahkan sesuatu di surat perjanjian kita.” Changmin keluar dari toko kue itu dengan senyum puas. Pagi ini ia selesai menyelesaikan masalah yang membuatnya gila beberapa hari ini. Ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi sekretarisnya untuk mengurus surat perjanjian dengan Han Rise.
                                        &&&
“Karena rumah anda akan dihancurkan, selama proses pembangunan apartemen dan toko anda sedang berlangsung, untuk sementara anda bisa tinggal di salah satu apartemen CEO kami, Shim Changmin.” Kata-kata sekretaris Changmin masih terngiang-ngiang di telinga Han Rise.
Baru beberapa jam yang lalu hidupnya berubah karena bertemu Shim Changmin di toko kuenya. Malam harinya, ia diberi tahu jika ia harus pindah ke salah satu apartemen Changmin. Beruntung, jika apartemen Changmin masih berada di kawasan Myeong-dong cukup dekat dengan tokonya karena selama pembangunan, ia masih bisa berjualan di tokonya yang lama. Namun masalahnya, apartemen itu berada satu komplek dengan rumah Changmin. Han Rise merasa malas jika harus sering bertemu dengannya.
Keesokkan harinya, Han Rise mulai pindah ke apartemen Changmin di kawasan elit Myeong-dong. Benar-benar kaya, batin Han Rise. Kompleks perumahan dan apartemen Changmin cukup dekat dengan kawasan bisnis, rumah-rumah mewah dan apartemen mewah dibangun di kawasan itu. Saat ia masuk ke dalam apartemen Changmin, ukurannya sangat besar dan sudah tersedia perabotan di dalamnya. Gaya dekorasi minimalis dan futuristik dengan perabotan mewah dan lukisan mahal. Rise tak henti-hentinya mengagumi apartemen itu.
“Dia benar-benar kaya. Dia memiliki apartemen ini namun tak pernah ditempati? Apakah ia waras?” Rise bergumam sendiri sambil melihat pemandangan perkotaan dari jendela. Tanpa ia sadari Changmin berdiri di  dekat pintu masuk dan mengamati Rise.
“Aku cukup waras saat membeli apartemen ini.” Changmin mengejutkan Rise dengan ucapannya. Rise merasa malu karena gumamannya terdengar oleh Changmin. Sejak kapan ia ada di sana? Pikir Rise.
“Aku baru saja masuk. Kau terlalu sibuk dengan kekagumanmu hingga tidak tahu jika ada orang lain masuk kesini.” Seolah Changmin bisa membaca pikiran Rise.
“Duduklah. Aku kesini membawa surat perjanjian kita.” Lanjut Changmin, ia menghempaskan dirinya di sofa hitam super nyaman yang ada di ruang tamu.
Rise melihat-lihat isi surat perjanjian. Ia berpikir sejenak, kemudian mengangguk-angguk. Setelah membolak-balik beberapa halaman, ia mulai bicara.
“Aku setuju dengan isinya. Tidak ada yang perlu diubah.” Rise berbicara dengan tenang dan mengambil pulpen dari dalam tasnya. Namun saat ia akan menandatangani surat itu, tiba-tiba Changmin berbicara.
“Aku ingin mengajukan penawaran lain.” Rise mengerutkan dahinya, ia tak mengerti apa yang diucapkan Changmin.
“Apa maksudmu? Bukankah aku sudah menerima tawaranmu?”
“Penawaranku kali ini berbeda dengan urusan bisnis kita.” Changmin menjawab rasa penasaran Rise dengan ucapannya yang tenang dan tidak ada unsur intimidasi di dalamnya.
“Apa yang ingin kau tawarkan padaku kali ini?” tanya Rise penuh penasaran.
“Aku membutuhkan pasangan untuk diajak ke pesta.” Kata Changmin santai. Han Rise yang mendengar penawaran Changmin justru terkejut dengan mulut terbuka.
“Aku sering menghadiri pesta resmi, namun aku tak pernah mengajak siapapun ke sana. Aku sudah muak dengan pertanyaan ‘mana calon istrimu’ aku ingin menyumpal mulut orang-orang itu saat aku mengajak seseorang ke pesta.”
“Kenapa tiba-tiba? Aku tidak mau. Kau pikir aku wanita seperti apa? Aku sudah cukup terpaksa dengan kerjasama bisnis kita.” Rise melanjutkan kegiatannya menandatangani surat perjanjian itu.
“Kujamin kau tidak akan rugi. Jika kau setuju, kau tidak perlu menanggung biaya pembangunan tokomu di apartemenku. Aku akan menanggung biayanya.” Changmin tampak serius dengan penawarannya. Raut mukanya penuh keyakinan dan tak tampak kebohongan di matanya.
Rise terdiam dengan penawaran Changmin. Ia sibuk dengan pikirannya saat ini. Biaya pembangunan toko yang tidak sedikit, membuat Rise berpikir keras. Kemudian ia menghembuskan napasnya.
“Aku terima tawaranmu. Dimana aku harus menandatangani perjanjian baru kita?” Changmin tersenyum puas mendengar jawaban Rise. Ia selalu berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya. Sebenarnya ia mampu menyewa jasa pacar bayaran, namun orang lain pasti akan curiga dan ia tak ingin mengambil resiko jika wanita yang menjadi pacar bayarannya memerasnya suatu hari nanti.
Changmin sudah membawa surat perjanjian kedua, sekedar berjaga-jaga jika Rise menyetujuinya maka ia tidak perlu membuatnya lagi. Ia memberikan surat itu pada Rise. Rise membacanya dengan teliti, gadis itu ingin memastikan isinya dan tidak ingin dirugikan.
“Memegang dan menyentuh tubuh pasangan jika keadaan mendesak? Apa maksudnya?” Rise menaikkan suaranya saat pasal dalam membaca surat itu.
“Bergandengan tangan, berpelukkan, dan…..” Changmin menghentikan kalimatnya sejenak.
“…..berciuman. Hanya saat kita sedang di pesta dan tidak ingin dicurigai oleh orang lain.” Changmin melanjutkan.
Rise tertegun dengan ucapan Changmin. “Hanya saat pesta. Dan tidak berlebihan. Hanya untuk pembuktian pada orang lain kalau kita benar-benar pasangan.” Rise menambahkan. Ia menambahkan revisi itu dengan tulisan tangan di atas surat perjanjian. Lalu ia membubuhkan tanda tangannya dan menyerahkan pada Changmin untuk ditandatangani.
                                                           &&&
Beberapa hari setelah pertemuan Changmin dan Rise di apartemen Changmin, mereka tidak berhubungan sama sekali. Siang itu, Rise sibuk bekerja di toko kuenya karena ia bekerja sendiri dan saat itu pelanggan cukup banyak yang datang. Tiba-tiba ponselnya berdering. Ternyata ada pesan masuk dari nomor tak dikenalnya.
“Nanti malam aku ada pesta peresmian hotel milik relasi bisnisku. Ku harap kau bersiap-siap. Aku mengirim asistenku untuk membawamu ke salon dan butik.” Pesan dari Changmin. Rise bahkan tak meminta nomor ponsel Changmin sebelumnya. Ia merutuki kebodohannya.
Beberapa menit kemudian, datang seorang wanita dan pria berpakaian kantor ke toko kue Rise.
“Selamat datang. Anda ingin pesan apa?” Tanya Rise ramah pada dua orang yang ia kira sebagai pelanggan.
“Kami kesini karena perintah dari Tuan Shim Changmin. Saya akan mengajak anda ke salon dan butik untuk persiapan ke pesta nanti malam.” Rise terkejut karena tiba-tiba lengannya di tarik oleh wanita muda yang ia pikir sebagai asisten Changmin.
“Tunggu dulu. Bagaimana dengan tokoku? Aku tak mungkin mengusir pelanggan  yang ada di sini.” Tanya Rise sambil menahan wanita itu.
“Tenang saja nona, Tuan Changmin sudah menyuruhnya untuk menjaga tokomu selama kau tinggal.” Jawab asisten wanita itu dan menunjuk pria yang ada di sebelahnya. Rise mengasumsikan jika pria itu juga asisten Changmin.
Rise dibawa ke sebuah salon yang cukup terkenal di daerah Gangnam. Salon itu tampak ramai dengan wanita-wanita yang terlihat berkelas. Rise merasa minder dengan penampilannya, apalagi ia pandang remeh oleh wanita-wanita berkelas yang ada di salon itu. Rise didudukkan di depan meja rias oleh asisten Changmin. Tampaknya asisten itu telah membooking salon itu khusus untuk mendandaninya. Selang tak berapa lama, seorang pria dengan penampilan feminim mendekatinya. Pria itu berpikir sejenak saat melihat Rise dengan tangan terlipat di depan dada. Tampaknya pria itu memikirkan gaya yang cocok untuk Rise.
“Tunjukkan hasil kerja tangan ajaibmu Daniel.” Wanita yang menjadi asisten Changmin itu menepuk pundak pria feminim yang bernama Daniel itu dan meninggalkan tempatnya berdiri semula. Rise tampak khawatir akan diapakan dirinya oleh pria feminim itu.
Cukup lama Rise di make over di salon itu, hampir 2 jam ia duduk manis di depan meja rias. Asisten Changmin tampak gelisah karena Rise tak kunjung keluar. Tak lama kemudian, keresahannya terjawab sudah. Rise keluar dari ruang rias dan berjalan mendekati wanita itu. Asisten itu tampak puas dengan hasil kerja pria feminim yang bernama Daniel. Selanjutnya, asisten itu membawa Rise ke butik yang letaknya tepat bersebrangan dengan salon tersebut.
Di dalam butik, Rise hanya diam berdiri mematung di dekat pintu masuk, sedangkan asisten itu sibuk memilih-milih gaun yang cocok untuk Rise.
“Tidakkah kau ingin memilih gaunmu nona?” tanya asisten itu membuyarkan kekaguman Rise terhadap butik itu.
“E-ne.” Rise bingung harus memilih gaun yang mana. Begitu banyak gaun indah di dalam butik itu. Ia sampai pusing.
“Cobalah gaun ini.” Asisten wanita itu menyerahkan sebuah gaun berwarna hitam kerlap kerlip sepanjang lutut dengan lengan panjang. Gaun itu tampak seksi dengan potongan rendah pada bagian punggungnya. Rise mengambil gaun itu dengan ragu. Ia tak pernah memakai pakaian seksi sebelumnya. Saat Rise mencoba gaun itu, asisten itu sibuk memilih sepatu untuk Rise. Pilihannya jatuh pada pump shoes berwarna hitam dengan pita dibagian belakangnya.
Rise keluar dari ruang ganti. Betapa cantiknya wanita ini, batin asisten itu. Gaun hitam itu benar-benar pas di tubuh Rise memperlihatkan setiap lekukkan tubuhnya. Rambutnya yang digulung sederhana memperlihatkan leher jenjangnya. Lalu asisten itu menyodorkan sepatu yang telah dipilihnya pada Rise.
                                              &&&
Changmin menunggu di depan W hotel, tempat pesta berlangsung. Tak lama kemudian, seseorang yang ditunggunya datang juga. Rise turun dari Rolls Royce silver milik Changmin yang dikemudikan oleh asistennya. Changmin menyambut Rise dengan membukakan pintu mobil untuknya. Dengan anggun Rise keluar dari kursi penumpang, dengan ragu menyambut uluran tangan Changmin.
“Kerjamu bagus Asisten Song.” Changmin tersenyum puas pada asisten wanita yang beranama asisten Song itu.
Changmin memegang tangan Rise dan meletakkannya di lengannya. Changmin tak henti-hentinya tersenyum. Kamera wartawan menyorotnya saat mereka berdua berjalan di red carpet. Sedangkan Rise, ia merasa gugup dan tersenyum dengan canggung. Beruntung Changmin menahannya agar tetap berpegangan padanya.
“Kenapa kau gugup? Kau cantik, tak perlu gugup. Tak akan ada yang tahu siapa kau sebenarnya.” Changmin berbisik tepat di telinga Rise. Wajah Rise mulai bersemu merah karena malu, apalagi saat Changmin berbisik di telinganya. Ia merasakan desiran di dadanya. Perutnya tiba-tiba terasa aneh. Tangannya berpegangan erat di lengan Changmin.
Rise tak mampu berkata-kata saat ia masuk ke ballroom hotel itu. Benar-benar pesta mewah dengan orang-orang penting sebagai tamu undangannya.
“CEO Shim, selamat datang. Aku senang kau datang ke pestaku dengan……” Pria paruh baya itu menggantung kalimatnya karena ia tidak mengenal Rise.
“Ah, kenalkan CEO Jung, wanita ini adalah tunanganku, Han Rise.” Changmin dengan percaya diri mengucapkan kalimat itu yang justru membuat Rise gelagapan. Rise merasa canggung dan tidak tahu harus berbicara apa. Dengan ragu ia membalas jabatan tangan CEO Jung dan memasang senyuman kaku di wajah cantiknya. CEO Jung pamit pada Changmin untuk menyambut tamunya yang lain.
“Apa maksudmu dengan ‘tunanganku’?” Desis Rise pada Changmin sesaat setelah mereka ditinggal berdua oleh CEO Jung.
“Ini hanya sandiwara. Tak perlu marah. Kau hanya perlu menuruti kata-kataku jika tak ingin malu di pesta ini.” Changmin menarik pinggang Rise dan berbisik di telinganya. Sungguh, perlakuan Changmin membuat detak jantuk Rise tidak karuan. Ada perasaan aneh saat Changmin memperlakukannya seperti ini.
Waktu telah berlalu, malam telah larut. Entah sudah berapa orang yang bertanya identitas Rise saat mereka di pesta. Kini makin banyak orang yang tahu bahwa Rise adalah tunangan seorang Shim Changmin, termasuk wartawan. Ia yakin, tak lama lagi wajahnya akan muncul di majalah enterntainment dan bisnis. Rise tak bisa membayangkan bagaimana hidupnya setelah ini.
Ia merasa lelah dan tak tahan jika harus berdiri dengan sepatu berhak tinggi. Changmin yang sadar hal itu, menggandeng tangan Rise dan berpamitan dengan CEO Jung. Ia mengantar Rise pulang dengan Jeep Wrangler Kahn nya. Changmin memecah keheningan selama perjalanan pulang.
“Aku yakin, setelah ini akan banyak kegiatan yang akan kau lakukan karena menyandang status sebagai tunanganku.”
“Apa maksudmu?” tanya Rise tak percaya.
“Acara amal, perkumpulan dengan para istri para pebisnis dan politisi. Semacam itulah.” Changmin tampak santai saat mengucapkan kalimat itu. Rise membelalakkan matanya tak percaya apa yang didengarnya barusan.
“Bukankah aku hanya menjadi pasangan pesta-mu?” Rise menaikkan suaranya satu oktaf, tanda ia benar-benar kesal dengan Changmin.
“Hei, ini bukanlah pekerjaan yang sulit. Asisten Song akan menemanimu.” Rise tidak percaya dengan jawaban Changmin. Ia merasa dibodohi oleh pria brengsek yang duduk di sebelahnya. Sekitar 20 menit perjalanan pulang ia diam.
Saat sampai di apartemen, ia langsung turun dari mobil tanpa menunggu Changmin membukakan pintu untuknya. Karena mobil Changmin tinggi, dan Rise mengenakan rok yang sempit ia hampir saja terjatuh dan kehilangan pegangan. Beruntung Changmin menangkapnya sebelum jatuh ke lantai tempat parkir apartemen yang dingin. Cukup lama mereka berdiam dalam posisi itu. Changmin menatap Rise dalam, ia baru menyadari kalau Rise terlihat cantik dari jarak dekat. Benar-benar dekat.
Rise menatap Changmin tanpa berkedip. Tubuh mereka saling menempel, tangan kanan Changmin memegangi pinggangnya, tangan kirinya mulai menyibakkan anak rambut dan memegang pipi Rise. Tanpa ia sadari, Changmin mendaratkan bibirnya di bibir Rise. Rise membelalakkan mata tak percaya dengan perlakuan Changmin. Ia belum membalas ciuman Changmin. Rise merasa ada yang aneh dengan dadanya. Seperti ada ribuan kupu-kupu di dalam perutnya.
Akalnya menyuruh tubuhnya untuk menjauh dari Changmin. Tapi tubuhnya menolak. Rise mulai memejamkan mata dan membalas ciuman Changmin lembut. Tangan kanannya yang tadi berada di dada Changmin untuk menjaga jarak, kini berpindah naik ke leher Changmin. Saat Rise tidak menunjukkan penolakkan, Changmin semakin menarik tubuh Rise dan mengikis jarak mereka. Ciuman Changmin mulai menuntut, tangan kanannya yang semula berada di pinggang Rise kini berpindah mengelus punggung Rise. Rise mulai tersengal kehabisan napas dan tiba-tiba Changmin sadar, ia melepas ciumannya. Changmin menjauhkan dirinya dari Rise dan tak berani menatap Rise.
“M-maaf.” Mulutnya terasa kaku. Rasa canggung menyelimuti keduanya. Rise hanya menunduk tak berani menatap lawan bicaranya.
“S-sebaiknya…a-aku segera kembali. T-terima kasih sudah mengantarku p-pulang.” Tanpa mengucapkan salam, ia berjalan cepat menuju lift yang akan membawanya kembali ke apartemen yang ditinggalinya. Changmin yang masih berdiam diri di tempatnya, tak menyadari kenapa ia melakukan hal itu. Padahal Rise bukanlah tipe wanita idealnya. Ia hanya merasa jika Rise tidak sama dengan wanita-wanita yang ia temui di club.
Rise adalah wanita yang menarik, menurut Changmin. Bukan karena keseksiannya yang membuatnya terlihat menarik. Rise tak perlu memperlihatkan lekuk tubuhnya untuk terlihat menarik. Ia cantik, anggun, dan seksi di saat bersamaan. Siapapun akan jatuh pada pesona Rise malam itu. Termasuk Changmin.
TBC
Gimana? Maaf, part ini hanya menceritakan Changmin. Siapa yang akan muncul di part selanjutnya? Tunggu kelanjutannya yaaaa….. Silahkan tinggalkan jejaknya. Tengkyu ^^

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: