Uncommitted Part 2

0
uncomitted ff nc kyuhyun super junior
Author : Red Blue
Title : Uncommitted Part 2
Category : NC-21, Yadong, Romance, Chapter
Cast : Cho Kyuhyun
  Shim Changmin
  Lee  Jonghyun
  Choi Minho
  Han Rise
  Baek Choa
  Yoon Minhye
  Kwon Rin
Author meminta saran untuk kelanjutan part 3 dan seterusnya sampai tamat. Jangan lupa komentarnya ya….Happy Reading!! ^^
Restoran jepang tempat makan favorit Kyuline tidak terlalu ramai karena memang sudah lewat jam makan siang. Saat Kyuhyun tiba, ternyata ketiga temannya belum ada yang datang. Ia pun mendengus kesal. Kyuhyun sudah lapar, tapi ia tidak suka jika makan sendirian. Beberapa menit kemudian Jonghyun dan Changmin datang

bersamaan. Mereka bertiga mulai melihat menu makanan, saat akan memesan makanan muncul Minho yang datang membawa beberapa kotak kue.
“Ya Choi Minho, kenapa kau lama sekali? Tak tahukah kau kami hampir saja memesan makanan duluan karena terlalu lama menunggumu.” Ujar Changmin dengan raut muka kesal.
“Mianhae Changmin-ah, aku membeli beberapa kue. Aku yakin kalian tidak akan cukup kenyang hanya dengan makan makanan seperti ini.” Jawab Minho sambil menunjuk buku menu dengan dagunya.
“Lihat, Jonghyun tersenyum untuk pertama kalinya dalam sebulan ini. Kau pandai sekali membujuk Jonghyun yang hampir mengamuk karena kelaparan.” Kyuhyun menggoda Jonghyun yang sedari tadi diam saja dan memandangi kotak kue Minho sambil tersenyum.
“Aku tahu Jonghyun suka sekali kue isi kacang merah. Aku tahu akan terlambat, jadi aku menyogoknya dengan kue-kue ini. Aku sudah hafal betapa mengerikannya Jonghyun saat lapar.” Minho menimpali godaan Kyuhyun. Kemudian ia membuka kotak kue. Dan benar saja, Jonghyun langsung mengambil kue isi kacang merah itu dan melahapnya. Changmin tidak tahan saat melihat Jonghyun makan kue itu dengan lahapnya. Ia pun ikut mengambil kue isi kacang merah itu, namun belum sampai tangannya menyentuh kue itu Jonghyun mencegahnya terlebih dahulu.
“Kue ini milikku. Kau makan kue yang lain.” Kata Jonghyun sinis sambil menatap tajam Changmin. Ia tidak suka jika makanannya diambil oleh orang lain. Apalagi itu makanan kesukaannya. Kyuhyun dan Minho yang melihat kelakuan kedua sahabatnya ini hanya bisa tertawa.
Di Kyuline, Changmin dan Jonghyun adalah member yang paling suka makan. Meskipun makan mereka banyak, tapi mereka tidak bisa gemuk. Ini karena Jonghyun yang selalu menjaga berat badannya dengan olahraga mixed martial arts sedangkan Changmin karena sepertinya ia memiliki gen yang  membuatnya tidak bisa gemuk. Sedangkan Minho, dia sangat suka sekali bermain sepak bola, kapan pun dan dimana pun ia akan siap sedia jika diajak bermain sepak bola. Minho bahkan bergabung dengan FC Men, itu adalah klub sepak bola para artis dan orang-orang penting. Kyuhyun adalah maniak game di Kyuline, ia selalu memiliki game keluaran terbaru dan tidak akan berhenti memainkan game itu jika ia belum mencapai level tertinggi.
Beberapa menit setelah mereka memesan makanan, akhirnya pesanan mereka datang. Dalam hitungan sekejap makanan itu lenyap dari atas meja. Begitu juga roti yang dibawa Minho. Soal makanan, selera mereka sama. Mereka bahkan memainkan game online yang sama dari ponsel mereka. Benar-benar seperti remaja usia sekolah menengah. Tak ada yang menyangka bahwa usia mereka sudah 29 tahun tapi kelakuan mereka yang seperti anak-anak saat bersama.
“Kau yang bayar makananku Kyu.” Minho mengingatkan Kyuhyun jika hari ini ia ditraktir olehnya.
“Baiklah. Apapun untukmu Minho-ya.” Ucap Kyuhyun yang dibuat-buat membuat Minho muak.
“Kau hanya mentraktir Minho?” Tanya Changmin tak terima.
“Aku sudah mengganggu jadwal olahraganya, sebagai gantinya ia memintaku untuk mentraktirnya hari ini.”  Jawab Kyuhyun santai. Meskipun ia bilang hanya akan mentraktir Minho, tapi ia akan membayar semua makanan mereka. Tidak mungkin jika bayar sendiri-sendiri.
Tiba-tiba ponsel Changmin berdering. Layarnya memunculkan nama sekretarisnya. Dengan malas Changmin mengangkat panggilan itu.
“Hm. Ada apa?” Tanya Changmin dengan malas. Padahal ia sudah memberitahu sekretarisnya untuk tidak menghubunginya jika tidak mendesak.
“Hah?! Wanita gila!” sepertinya sekretarisnya memberitahukan hal buruk pada Changmin sehingga ia mengumpat dan membuat ketiga sahabatnya melonjak kaget, kecuali Jonghyun yang sibuk dengan ponselnya.
“Hancurkan usahanya! Buat ia memohon pada kita. Kau atur saja sisanya.” Mata Changmin memerah karena marah. Ia sudah dibuat gila oleh wanita yang tidak mau menjual tanahnya itu. Moodnya yang tadi sudah membaik, kembali rusak karena telepon dari sekretarisnya.
“Ada apa Changmin-ah?” Tanya Minho ingin tahu sambil memajukan duduknya ke arah Changmin.
“Kau tampak stres akhir-akhir ini. Apa ada masalah dangan pembangunan apartemenmu?” Timpal Kyuhyun.
“Ada wanita gila yang tak mau menjual tanahnya padaku, padahal aku sudah menawarnya dengan harga tinggi. Bahkan tanahnya tidak selebar halaman belakang rumahku! Yang membuatku kesal, pembangunan apartemen jadi mundur 2 minggu dari rencana.” ucap Changmin berapi-api. Napasnya sudah memburu. Ia benar-benar kesal.
Minho dan Kyuhyun hanya mengangguk-angguk tanda mengerti. Sedangkan Jonghyun tampak tak peduli dengan masalah bisnis Changmin. Tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk membantu sahabatnya itu. Yang bisa mereka lakukan hanyalah mengembalikan mood Changmin menjadi lebih baik.
“Bagaimana kalau kita ke club nanti malam? Aku benar-benar gila karena wanita itu.” Ajak Changmin dengan antusias sambil menatap ketiga sahabatnya.
“Aku lembur hari ini. Ahra nuna sepertinya ingin membunuhku dengan melimpahkan semua pekerjaannya padaku.” Jawab Kyuhyun diikuti dengan desahan napasnya, pasrah.
“Aku ada pertemuan dengan direktur pemasaran dan lembur setelah pertemuan selesai. Kakek tidak akan membiarkanku bersantai sejenak. Ia ingin mempersiapkan aku untuk menggantikannya.” Minho menimpali jawaban Kyuhyun dengan lemas. Changmin tertunduk lesu mendengar jawaban kedua temannya.
“Bagaimana denganmu Jonghyun-ah?” tanya Changmin.
“Ayahku masuk rumah sakit lagi.” Jonghyun menjawab dengan ekspresi datar dan tak melepas pandangan matanya dari layar ponsel. Malam ini benar-benar sial bagi Changmin. Di saat ia ingin bersenang-senang, ketiga temannya sibuk dan tak bisa menemaninya. Changmin mendengus kesal.
“Sebaiknya kau pergi ke tempat lain Changmin-ah. Apakah kau tidak bosan pergi ke club dan bermain wanita?” Cetus Minho santai sambil mengaduk-aduk kopinya.
“Menurutmu aku harus kemana? Menenangkan diri di kuburan?”
“Sebaiknya kau menenangkan diri di tempat yang penuh dengan makanan enak. Aku sarankan kau ke toko kue tempat aku membeli kue tadi. Tampaknya kau menyukai kue yang aku bawa tadi. Pelayannya juga cantik. Mungkin kau bisa menggodanya.” Minho menahan tawa saat menjawab Changmin.
“Cih, kau bahkan memberikan saran terburuk dalam sejarah hidupku. Saudara macam apa kau?”
“Aku pergi dulu. Aku harus kembali ke rumah sakit.” Jonghyun bangkit berdiri, meninggalkan ketiga sahabatnya yang ribut sejak tadi. Ketiga sahabatnya hanya menatap Jonghyun heran. Mereka sudah terbiasa dengan kelakuan Jonghyun yang dingin dan tampak tidak berminat dengan apa yang mereka bicarakan.
“Yak! Lee Jonghyun!” Teriak Changmin, ia tampak tersinggung karena merasa diabaikan dari tadi.
“Ah, terima kasih sudah ditraktir hari ini.” Jonghyun berhenti sejenak dan menatap Kyuhyun.
“Aish! Siapa yang bilang akan mentraktirmu?!!” Timpal Kyuhyun tidak terima. Minho hanya geleng-geleng dengan kelakuan ketiga sahabatnya. Jonghyun dengan santainya melenggang pergi meninggalkan ruang VIP restoran jepang itu.
“Aku juga pergi dulu. Aku belum mandi, padahal aku ada pertemuan dengan direktur pemasaran setelah ini. Na kanda.” Ucap Minho dengan santainya. Ia pun berjalan menyusul Jonghyun yang sudah lebih dahulu keluar.
“Whoa! Choi Minho, kau ini benar-benar.” Ucap Kyuhyun kesal. Changmin bahkan merutuki kelakuan Minho yang kekanakan. Minho memang seperti anak kecil jika bersama Kyuline.
“Sebaiknya aku kembali ke kantor saja sebelum aku semakin gila jika bersamamu terus.” Kyuhyun pergi meninggalkan Changmin sendirian di ruangan VIP. Ia berhenti di kasir untuk membayar makan siangnya.
Apa yang akan aku lakukan? Hari ini aku tidak ada pekerjaan lembur. Setelah rapat jam 4, kemana lagi aku akan pergi? Pikiran Changmin dipenuhi pertanyaan apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Sebaiknya aku kembali ke kantor, pikir Changmin. Ia memutuskan untuk kembali ke kantor. Ia masuk ke mobilnya dan melihat jam tangannya, masih kurang setengah jam lagi sebelum rapat. Changmin teringat toko kue yang disarankan Minho. Kemudian ia mengambil ponselnya dan mengirim pesan singkat ke Minho, bertanya alamat toko kue itu. Tak selang berapa lama, Minho mengirim alamat toko kue itu.
Sebaiknya aku membeli beberapa kue untuk ku makan di kantor, batin Changmin. Ia menginjak gas dan melajukan mobilnya ke toko kue yang terletak di Myeong-dong. Sekitar 10 menit perjalanan, akhirnya ia sampai di toko kue yang cukup kecil berada di antara butik-butik ternama. Saat Changmin akan turun dari mobilnya, ia tampak ragu dan mengecek kembali alamatnya, ternyata sama dengan yang dikirim Minho. Changmin masuk toko kue dan tercium aroma kue yang baru keluar dari pemanggan menyeruak ke dalam hidungnya. Harum. Tempatnya kecil, namun tertata baik dan gaya vintage nya membuat tampak klasik.
“Selamat datang.” Sambut pelayan dengan ramah dan tersenyum ke arah Changmin. Changmin berjalan mendekat ke etalase yang memajang berbagai macam kue.
“Anda ingin membeli kue apa?” Tanya pelayan itu dengan lembut.
“Aku ingin 4 kue isi kacang merah dan 2 donat dengan coklat.” Jawab Changmin sambil menunjuk beberapa kue di hadapannya dan mengeluarkan beberapa lembar won dari dompetnya.
“Terima kasih. Silahkan datang kembali.” Changmin keluar dari toko kue itu dan mencium aroma kue dari kotak kue yang dibawanya. Enak, ia tak sabar untuk memakan kue itu di kantor.
&&&
Rapat selesai hampir pukul 6 sore, Changmin tak tahu lagi harus kemana. Ia pun kembali ke toko kue itu. Mood nya membaik saat memakan kue-kue yang dibelinya sebelum kembali ke kantor. Ternyata toko  kue itu belum tutup. Dengan langkah mantap, Changmin melangkah masuk ke toko kue itu.
“Selamat datang, anda kembali lagi tuan?” Tanya pelayan itu ramah, senang saat Changmin kembali lagi ke tokonya.
“Aku ingin roti caramel ini.”
“Anda ingin membungkusnya atau makan disini?” Changmin diam sejenak, setelah menimbang-nimbang ia akan memakan kuenya di toko kue itu.
“Aku makan di sini. Aku juga ingin espresso machiatto tanpa whipe cream.” Setelah memesan, Changmin memilih tempat duduk di dekat jendela kaca. Ia melihat lampu-lampu bangunan di Myeong-dong dan orang-orang berlalu lalang. Bukan tempat yang buruk untuk bersantai dan menghabiskan waktu, pikir Changmin.
“Ini pesanan anda, tuan. Silahkan menikmati.” Pelayan itu meletakkan pesanan Changmin di atas meja. Kemudian melangkah pergi, kembali ke meja kasir.
Jika diperhatikan, pelayan di toko ini hanya satu. Changmin melihatnya sekilas, cantik. Benar kata Minho, batin Changmin. Pelayan itu tampak cantik alami, rambutnya hitam bergelombang. Tinggi badannya hanya sekitar 160cm, pikir Changmin. Tanpa ia sadari, Changmin terus memperhatikan pelayan itu. Sadar jika dirinya diperhatikan, pelayan itu merasa tak nyaman dan masuk  ke dapur. Changmin menghentikan aktivitasnya saat pelayan itu masuk ke dapur. Mungkin aku terlalu berlebihan menatapnya, pikir Changmin. Saat ia akan membayar makanannya, pelayan itu tak kunjung kembali ke meja kasir.
“Chogiyo! Aku ingin membayar.”Seru Changmin memanggil pelayan itu.
“Ah ne, jwesunghamnida. Total semuanya 15.000 won tuan.”
“Ambil saja kembaliannya.” Saat Changmin akan keluar dari toko kue, ia melihat jam tangannya. Ah, sudah jam 10 tak terasa aku disini cukup lama, pikir Changmin. Ia langsung menuju tempat mobilnya diparkir dan duduk berdiam diri cukup lama di dalam mobil, melamun. Saat ia hendak pulang, Changmin melihat pelayan itu mengunci pintu toko kue dan berjalan kaki menyusuri jalanan sepi Myeong-dong.
Ini hampir jam 11 malam, batin Changmin. Dengan iseng, ia mengikuti wanita itu dari belakang. Ia melajukan mobilnya perlahan dan mengamati wanita itu dari jauh. Ternyata rumahnya cukup dekat dari toko kuenya. Changmin tertegun saat pelayan itu masuk ke lingkungan yang cukup familiar bagi Changmin. Bukankah ini area pembangunan apartemenku? Changmin yang penasaran, terus mengikuti wanita itu dan menjaga jarak agar tidak ketahuan. Saat wanita itu masuk ke rumah sederhana dengan halaman kecil, Changmin menggenggam gagang kemudi erat hingga jari-jarinya memutih.
“Sial! Ternyata wanita gila itu!” umpat Changmin. Ia menatap rumah itu cukup lama, kemudian seringaian jahat terukir di bibir tipisnya. Ia lalu mengambil ponselnya dan menghubungi sekretarisnya.Tak perlu menunggu lama hingga panggilan itu dijawab oleh lawan bicaranya.
“Kirimkan aku latar belakang wanita gila yang tak mau menjual tanahnya itu.” Tanya Changmin tanpa basa basi.
“Katakan pada direktur perencanaan, aku akan turun tangan langsung.” Changmin menutup teleponnya sepihak. Ia yakin bisa menaklukkan wanita itu. Changmin tersenyum puas saat sekretarisnya mengirim apa yang ia minta via email.
“Han Rise, aku selalu bisa mendapatkan apa yang kuinginkan.”Changmin bergumam sendiri sambil menatap rumah itu.
Latar belakang wanita itu muncul di layar ponsel Changmin. Han Rise. Wanita gila yang tak mau menjual tanahnya pada perusahaan Changmin sekaligus pelayan ramah yang menjual kue dengan rasa yang sangat enak.
Changmin tampaknya sudah merencanakan sesuatu di otaknya, ia tak henti-hentinya menyeringai dan menatap rumah itu. Tak berapa lama, ia menginjak pedal gas Jeep Wrangler Kahn nya menjauh dari lingkungan itu.
&&&
Minho kembali ke kantor setelah makan siang bersama sahabatnya. Ia mandi di kamar mandi pribadi di ruangannya dan mengganti pakaiannya dengan kemeja biru gelap yang lengannya digulung hingga siku, tanpa dasi serta celana hitam. Setelah ia tampak puas memandangi penampilannya di cermin, ia kembali ke meja kerjanya. Minho mengambil gagang telepon dan menghubungi sekretarisnya.
“Hubungi direktur pemasaran. Aku ingin pertemuannya dilakukan sekarang.” Perintah Minho pada sekretarisnya. Lalu ia meletakkan kembali gagang telepon interkomnya. Sebagai seorang General Manager sekaligus calon pewaris Red Star Inc membuatnya berkuasa sehingga ia bisa mengubah jadwal rapat semaunya. Padahal rapat yang seharusnya baru dilaksanakan jam 6 sore, ia majukan satu jam lebih awal.
Minho adalah pria impulsif yang bisa mengambil keputusan dengan cepat dan tepat. Ia adalah anggota Kyuline paling pintar setelah Changmin. Saat masih sekolah, keempat sahabat itu selalu menduduki peringkat teratas paralel. Changmin selalu berada di posisi pertama, ia mudah menyerap pelajaran dari gurunya. Meskipun ia sering membolos, namun peringkatnya tetap tak tergeser. Minho selalu menduduki peringkat kedua, ia tak pernah mengeluh karena selalu berada di bawah Changmin. Sekeras apapun ia belajar, ia tetap tak bisa menggeser Changmin dari posisinya.
Jonghyun dan Kyuhyun selalu bergantian posisi di peringkat 3 dan 4. Kyuhyun akan mengeluh seharian jika Jonghyun berada di peringkat 3. Sebaliknya, Jonghyun tak pernah berkomentar apalagi mengeluh jika ia berada di peringkat 4 dan Kyuhyun menggeser posisinya. Baginya berada di peringkat berapa, itu sama saja. Toh, mereka tak perlu mencari pekerjaan jika sudah lulus kuliah. Kehidupan mereka sudah terjamin sejak belum dilahirkan.
Rapat dengan direktur pemasaran hanya memakan waktu satu jam. Semuanya bisa ia kendalikan dengan mudah. Ia menelepon lagi sekretarisnya melalui saluran interkom.
“Masuk ruanganku. Bawa laporan yang harus kuselesaikan.” Beberapa menit kemudian, pintu ruangan Minho diketuk. Sekretarisnya membawa setumpuk laporan yang harus Minho selesaikan.
“Kau ingin membunuhku?”Minho kesal saat melihat banyaknya laporan yang harus ia selesaikan. Sekretarisnya hanya menunduk saat Minho kesal dengan banyaknya pekerjaan yang menumpuk.
“Bawa laptopmu kemari. Bantu aku menyelesaikannya.” Minho tidak tahu lagi harus menyuruh siapa untuk membantunya menyelesaikan laporan itu. Sekretarisnya keluar dari ruangan, beberapa menit kemudian masuk kembali dengan membawa laptop di tangan kiri serta secangkir cappucino dengan banyak coklat granul di atasnya.
Ini yang Minho suka dari sekretarisnya. Sekretarisnya paham betul apa yang disukai dan tidak disukai Minho. Ia wanita cerdas yang peka dengan keinginan bosnya, hanya saja penampilannya yang kuno membuatnya tampak seperti wanita kantoran biasa.
“Kau selalu tahu apa yang aku butuhkan.” Ucap Minho sambil menyesap cappucinonya.
Keduanya bekerja dalam diam. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Laporan yang harus dikerjakan pun sudah selesai. Minho tampak lega. Ia meregangkan otot-otot badannya yang kaku setelah berjam-jam duduk di depan komputer. Minho menatap sekretarisnya, ternyata wanita itu sudah tertidur. Minho berjalan mendekat ke arah sofa tempat sekretarisnya mengerjakan laporan dan jatuh tertidur.
“Ternyata kau sudah menyelesaikan bagianmu terlebih dahulu.” Gumam Minho puas.
“Sekretaris Yoon, bangunlah waktunya kita pulang.” Namun sekretarisnya tak kunjung bangun. Bahkan sekretarisnya masih tidur dengan memakai kacamata.
“Yak! Yoon Minhye! Bangun!” Seru Minho lebih keras. Sekretarisnya terkejut dengan suara Minho yang keras, ia gelagapan saat Minho memergokinya sedang tidur.
“Jwesunghamnida. Saya ketiduran pak.” Yoon Minhye tak bisa menyembunyikan ekspresi terkejut dan bersalahnya.
“Kenapa kau minta maaf saat kau sudah menyelesaikan pekerjaanmu. Ayo kita pulang.” Saat Minho akan pergi menjauh dari sofa, ia melihat sekretarisnya melepas kacamatanya. Beberapa kali Yoon Minhye mengucek matanya dan meletakkan kacamatanya di atas meja.
Minho tertegun dengan apa yang dilihatnya. Manis. Itulah kata yang terlintas di pikirannya saat melihat sekretarisnya tanpa kacamata. Yoon Minhye tidak sadar jika sejak tadi Minho memperhatikannya merapikan rambut lurusnya. Ia manis tanpa kacamata, gerakkan tangannya saat merapikan rambut tampak seksi bagiku, batin Minho.
“Pak, apakah kita jadi pulang sekarang?” Tanya Minhye menyadarkan Minho dari lamunannya.
&&&
Jalanan Cheongdam-dong sore itu cukup lengang. Jonghyun menlajukan Mercedes-Benz Sport Coupe nya dengan santai. Mobil sport putih kesayangannya memasuki halaman parkir Sungwon Hospital, ia memarkirkan mobilnya di tempat parkir VIP. Sebelum turun dari mobil, ia sempat melihat gadis yang bernyanyi bersama pasien anak-anak saat ia akan keluar dari rumah sakit. Gadis itu keluar dari pintu lobi rumah sakit menuju tempat parkiran sepeda sambil menenteng tas gitar. Saat sibuk memperhatikan gadis itu, ponsel Jonghyun berdering.
“Yeobseo. Ada apa paman?” Tanya Jonghyun pada si penelepon.
“Tak apa. Aku sudah kembali ke rumah sakit. Siapa yang menjaga ayahku saat kau pergi?” Tampaknya orang kepercayaan Jonghyun meninggalkan ayahnya di rumah sakit sendiri karena ada keperluan kantor.
“Baiklah, terima kasih paman.” Jonghyun menutup telepon. Kemudian ia turun dari mobilnya. Saat ia melihat tempat parkiran sepeda, gadis itu sudah tidak ada di sana. Jonghyun melangkahkan kakinya menuju ruangan ayahnya di rawat.
“Kau sudah kembali? Cepat sekali anak-anak berandal itu mengajakmu bermain?” Ayah Jonghyun, Lee Namgyu, terbiasa berbicara dengan santai pada anaknya tanpa ada maksud menyindir.
“Kami hanya makan siang. Mereka juga bekerja, bukan pengangguran sepertimu.” Ayah Jonghyun tampak tersenyum lemah menanggapi jawaban anaknya.
“Aigo, anakku berbicara sangat sopan pada ayahnya. Seandainya aku punya anak perempuan, ia pasti akan mengurusku dengan baik.” Jonghyun hanya diam saja saat ayahnya menyindirnya.
“Seandainya gadis tadi menjadi menantuku, aku akan sangat beruntung. Tapi sepertinya gadis itu akan menjadi manusia paling sial sedunia karena menikahimu.” Ayah Jonghyun melanjutkan sindirannya dan tampak mengingat-ingat wajah gadis yang sempat merawatnya saat orang kepercayaan Jonghyun harus kembali ke kantor karena urusan mendadak.
“Ah, sukarelawan itu. Paman Yoonjae sudah memberitahuku. Aku akan berterima kasih saat bertemu dengannya lain kali.” Jonghyun tampaknya paham siapa yang dimaksud ayahnya. Ekspresi wajah Jonghyun datar dan tak bisa ditebak.
“Seandainya kau kembali lebih cepat, kau pasti bertemu dengannya. Ia bahkan memainkan gitarnya untukku. Sepertinya kalian akan mudah berbaur, kalian sama-sama gila musik. Ah, aku lupa menanyakan dimana rumahnya. Jika aku tahu rumahnya, aku pasti akan melamarnya untukmu.” Ayah Jonghyun tampak senang saat menggoda anaknya, meskipun respon dari Jonghyun biasa saja. Tetap dengan muka datar. Jonghyun hanya menatap ayahnya tanpa ekspresi.
Beberapa menit kemudian, ayah Jonghyun tertidur. Raut wajahnya yang mulai banyak kerutan namun tetap terlihat tampan. Benar-benar mirip dengan Jonghyun. Saat tersenyum Lee Namgyu menampilkan lesung pipi yang indah di wajahnya yang tak lagi muda. Ia mewariskan senyuman indah itu pada Jonghyun. Namun, Jonghyun yang tak pernah tersenyum tak menyadari jika senyumannya mampu meluluhkan siapapun yang melihatnya.
Melihat ayahnya tertidur pulas, Jonghyun duduk di sofa di dekat tempat tidur ayahnya. Ia mulai mengeluarkan laptop dan beberapa laporan yang harus segera diselesaikannya. Meskipun sedang merawat ayahnya yang sakit, ia tetap tak melupakan kewajibannya sebagai CEO Seirin Corp. Di usia yang masih sangat muda dimana pada usia itu remaja sepertinya lebih banyak bermain dengan teman sekolah dan berkencan, Jonghyun sudah menjadi CEO di usia semuda itu. Ia tak bisa bermain sepulang sekolah. Saat pagi hari, ia akan menjadi murid SMA biasa. Siang hari sepulang sekolah, Jonghyun menjadi pemimpin Seirin Corp yang membawahi lebih dari 10.000 karyawan di seluruh Asia.
Jonghyun tak menyadari jika ia diperhatikan oleh ayahnya yang sudah bangun. Ayahnya merasa sedih jika melihat Jonghyun bekerja tanpa istirahat. Raut muka Lee Namgyu menggambarkan penyesalan. Saat Jonghyun melihat ke arah ayahnya, ia tak tahu bagaimana harus merespon ayahnya.
“Istirahatlah. Bermainlah. Berkencanlah.” Tiba-tiba ayah Jonghyun berkata seperti itu dengan ekspresi kesedihan.
“Aku baik-baik saja. Kau yang seharusnya istirahat.” Jonghyun yang tidak tahan dilihat ayahnya seperti itu, kembali berkutat dengan laporan-laporannya.
“Kau tahu, aku bukan orang yang pandai menyampaikan isi hatiku. Sama sepertimu. Kita berdua sama. Kau bahkan tak pernah meminta apapun sejak kecil. Katakan padaku saat kau tahu apa yang kau inginkan. Aku akan memberikannya.” Jonghyun berhenti dari aktivitasnya dan berhenti sejenak. Ia tampak menunduk dan berpikir. Kemudian ia menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Jonghyun mendesah.
“Jangan mati. Jangan pergi dariku. Setidaknya aku masih memilikimu. Aku tak ingin yang lain.” Lee Jonghyun benar-benar keturunan Lee Namgyu. Mereka berdua sama-sama tidak pandai menyampaikan isi hatinya. Jonghyun berkata pelan sambil menatap langit-langit ruang rawat inap, namun ayahnya masih bisa mendengar dengan cukup jelas di tengah kesunyian malam di rumah sakit.
“Kwon Rin. Gadis itu bernama Kwon Rin. Jika kau tak memiliki keinginan apapun saat ini, biar aku yang menyampaikan keinginanku. Dekati dia, setidaknya jadikan ia temanmu.” Saat mendengar nama itu, Jonghyun terkejut dan terduduk tegak menatap ayahnya dari sofa. Ayahnya sudah memejamkan matanya lagi, tertidur.
&&&
Setelah kembali dari makan siang bersama Kyuline, Kyuhyun menghempaskan diri di kursi kebesarannya dan mulai menyentuh laporan-laporan yang menggunung. Ia mengambil gagang telepon interkomnya sesaat sebelum memulai mengerjakan laporannya.
“Bawakan aku milkshake coklat.” Kyuhyun menghubungi sekretarisnya untuk membawakan minuman kesukaannya. Kyuhyun selalu minum milkshake coklat setiap lembur. Beberapa menit kemudian, pintu ruangannya diketuk. Sekretaris Kyuhyun masuk sambil membawa nampan yang di atasnya terdapat milkshake coklat dalam gelas besar. Setelah meletakkan minuman itu di atas meja Kyuhyun, sekretaris itu keluar.
Kyuhyun terlalu fokus pada pekerjaan sehingga ia tidak sadar jika hari sudah malam. Sudah jam 10 malam ternyata, batin Kyuhyun. Saat Kyuhyun akan mengambil gelas milkshake nya, ternyata gelas itu sudah kosong. Kyuhyun mendesah lemah.
“Sebaiknya aku pulang saja. Akan kulanjutkan besok pagi-pagi.” Kyuhyun mulai merapikan berkas-berkas yang berserakan di atas mejanya. Saat akan meninggalkan ruangan, ponselnya berdering.
“Ada apa nuna?” Ternyata kakaknya Cho Ahra yang meneleponnya.
“Tak bisakah kau tak merepotkanku sehari saja? Aku sudah cukup lelah dengan tambahan pekerjaan yang kau berikan.” Ucap Kyuhyun kesal. Ia benar-benar lelah dan ingin pulang.
“Baiklah, aku akan ganti pakaian dulu. Untung aku masih punya beberapa pasang baju resmi di kantor. Tunggu aku di lobi saja.” Kyuhyun menutup sambungan panggilan dan berjalan malas ke ruang wardrobe di dalam ruang kerjanya. Ruang kerja Kyuhyun memiliki sofa super nyaman yang terkadang Kyuhyun gunakan sebagai tempat tidur jika ia harus lembur hingga larut malam. Bahkan ada kamar mandi dengan shower dan washtafel, serta wardrobe tempat ia menyimpan beberapa pakaian santai dan resmi jika ia ada acara mendadak dan tidak perlu pulang ke rumah.
Hanya perlu 15 menit untuk berganti pakaian, mencuci muka dan menata rambutnya. Setelan jas berwarna hitam, kemeja hitam dan dasi hitam. Kyuhyun tampil all black malam itu, yang justru membuatnya tampak seksi. Poni rambut dinaikkan dan diberi sedikit gel, membuatnya terlihat mempesona. Penampilannya cukup sederhana, karena memang hanya pakaian ini yang cocok dipakai ke pesta mendadak seperti ini. Ia menyambar kunci mobilnya di meja kerja dan berjalan dengan langkah cepat menuju lobi tempat kakaknya menunggu.
“Kau lama sekali.”Cho Ahra mengkritik Kyuhyun karena ia menunggu terlalu lama.
“Cih, kalau kau tak ingin menunggu terlalu lama, seharunya kau memberitahuku sejak awal. Agar aku bisa bersiap-siap sebelumnya.”
“Lihat pakaianmu! Apa kau ingin menjadi agen intelijen?” Kakaknya tak henti-hentinya mengeluh pada Kyuhyun.
“Diam saja! Hanya pakaian ini yang kupunya untuk ke pesta. Apa kau mau aku pulang dan berganti pakaian di rumah? Jangan samakan wardrobe ku di kantor dengan yang di rumah.” Kyuhyun sama kesalnya dengan Cho Ahra. Ia sudah berdandan rapi meskipun mengenakan pakaian seadanya.
“Ayo berangkat. Aku sudah terlambat sejak sejam yang lalu.” Cho Ahra menggandeng lengan Kyuhyun menuju Audi RS hitamnya di depan pintu masuk lobi. Kyuhyun langsung menginjak pedal gas dan dengan agak mengebut ia mengemudikan mobilnya menuju tempat pesta. Hanya perlu sekitar 15 menit untuk sampai ke hotel tempat pesta itu diselenggarakan.
Kyuhyun berhenti tepat di depan pintu lobi dan menyerahkan kunci mobilnya pada petugas parkir, kemudian ia membukakan pintu untuk kakaknya. Dengan anggun Cho Ahra turun dari mobil, long dress one shoulder berwarna biru tua dengan pita besar di salah satu lengannya membuatnya tampak cantik dan berkelas. Rambut yang dibiarkan tergerai dan dihiasi penjepit rambut di salah satu sisi dekat telinga benar-benar membuat Cho Ahra terlihat elegan.
“Pesta apa yang baru mulai jam segini?” Tanya Kyuhyun saat berjalan menggandeng kakaknya.
“Peragaan busana. Temanku seorang designer di New York. Ia baru saja menyelesaikan kuliahnya di bidang mode. Namun karyanya sudah terkenal bahkan saat ia belum lulus kuliah.” Jelas kakak Kyuhyun panjang lebar.
“Kau bilang ia baru lulus kuliah? Berapa usianya? Aku yakin ia pasti sudah seumuranmu dan terlambat mendaftar kuliah.” Kyuhyun menyindir teman kakaknya. Memang, dari yang Kyuhyun tahu teman-teman kakaknya mayoritas seumuran dengan usia kakaknya.
“Ia masih 24 tahun, bodoh! Aku mengenalnya karena ia adik temanku saat aku kuliah di New York dulu. Sekarang ia pulang ke Korea dan mengadakan peragaan busana perdananya di sini.” Kyuhyun melongo saat tahu usia teman kakaknya. Cho Ahra yang melihat ekspresi adiknya justru mencubit lengan Kyuhyun.
“Aw! Tak bisakah kau bersikap lembut seperti wanita normal? Cepat kita masuk lalu pulang! Aku lelah.” Kyuhyun menyeret kakaknya yang masih menggandeng lengannya. Ia berjalan dengan langkah cepat. Hal ini membuat Cho Ahra kesulitan berjalan karena gaun dan sepatu hak tingginya.
Setelah masuk ke aula dimana peragaan busana digelar, Kyuhyun dan kakaknya duduk di kursi yang sudah tertera nama mereka karena mereka termasuk tamu undangan. Ternyata acara sudah dimulai sejak mereka belum datang. Hampir 45 menit setelah mereka duduk, acara peragaan busana hampir selesai. Semua model keluar dan berdiri di sepanjang panggung runway. Tiba saatnya sang designer keluar dari belakang panggung diikuti tepuk tangan para penonton. Kyuhyun terdiam saat designer itu muncul di atas panggung. Gadis itu yang ia temui tadi siang di kantor. Cukup lama ia diam, melihat gadis itu tidak berkedip sama sekali.
“Ayo kita temui Choa di belakang panggung.” Ajakan Cho Ahra mengejutkannya.
“Siapa itu Choa?” Tanya Kyuhyun dengan ekspresi bodohnya.
“Bae Choa, dia teman yang aku sebutkan tadi Cho Kyuhyun. Designer yang mengundangku ke sini.” Ahra tampak kesal dengan daya tangkap adiknya yang lambat.
Gadis yang ia temui di kantor hari ini adalah gadis yang sama dengan yang ia lihat di atas panggung runaway malam ini. Teman kakaknya yang berusia lebih muda darinya. Wajah gadis itu tampak anggun, seperti wanita berkelas, dengan tubuh ramping dan tinggi badan yang tak lebih tinggi dari Cho Ahra, sekitar 162 cm. Rambutnya yang bergelombang dibiarkan tergerai indah. Memakai mini dress selutut, bermotif bunga dengan warna peach membuatnya tampak cantik dan berwarna hingga mampu membuat Cho Kyuhyun terpesona.
TBC
P.S : Part 3 baru muncul romance nya. Sabar ya reader, dijamin nggak akan mengecewakan. Silahkan tinggalkan jejak, komentar dan sarannya ^^

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: