Uncommitted Part 10 (END)

0
Uncommitted Part 10 (END) ff nc kyuhyun minho jonghyun super junior shinee
Author             : Red Blue
Title                 : Uncommitted Part 10 (END???)
Category         : NC-21, Yadong, Romance, Chapter
Cast                 : Cho Kyuhyun
Shim Changmin
Lee  Jonghyun
Choi Minho
Han Rise
Baek Choa
Yoon Minhye
Kwon Rin
Reader-nim, terima kasih udah membaca FF author yang masih amatir ini hehe. Terima kasih juga udah ikhlas memberikan komentar. Gak kerasa udah mau ending, tapi author udah menyiapkan kejutan di akhir cerita. Happy Reading ^^

Kyuhyun’s Story
Sudah hampir dua minggu berselang, Kyuhyun masih belum menemukan belahan hatinya. Berbagai cara ia lakukan, mulai dari menyewa detektif hingga mendatangi langsung ke tempat-tempat yang biasa dikunjungi oleh gadisnya. Hasilnya masih saja nihil. Pikirannya buntu, ia kehabisan akal. Sebenarnya masih ada satu cara lagi yang sudah ia coba namun belum berhasil. Cho Ahra pasti tahu sesuatu. Kyuhyun yakin nunanya itu sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
Ahra telah mengetahui hubungan adik laki-lakinya dengan Choa, meskipun ia tak tahu jika keduanya telah terlibat hal yang lebih jauh. Kyuhyun sudah pernah menanyakan keberadaan Choa pada sang kakak, namun wanita yang berusia lebih tua tujuh tahun itu enggan menjawabnya. Ia berdalih tak ingin ikut campur dalam hubungan keduanya.
Malam itu Kyuhyun tak pulang lagi ke rumah. Dalam seminggu ia hanya sesekali pulang untuk mengambil pakaian ganti. Ia bahkan tak menyapa kedua orang tuanya. Kyuhyun terlalu sibuk dengan dunianya sendiri. Dunianya yang bagai kiamat saat ia kehilangan seseorang yang berharga.
“Kau tak pulang lagi?” Ahra memasuki ruangan Kyuhyun di Winner Group. Ia khawatir dengan adiknya, yang hidupnya semakin menyedihkan. Hari sudah gelap, lampu-lampu perkotaan menerangi pekatnya malam, berkelap-kelip seperti batu permata yang berserakan. Kyuhyun berdiri dalam diam sambil memandangi panorama malam di jendela besar di belakang meja kerjanya.
“Kyu, sampai kapan kau akan hidup seperti ini? Kau tak pernah seperti ini sebelumnya. Choa bukanlah wanita pertama yang kau kencani, kau selalu bisa bangkit tiap kali dicampakkan wanita.” Suara sang kakak melembut, berusaha meraih hati Kyuhyun.
“Tapi dia adalah wanita pertama yang berhasil mempengaruhiku. Mereka yang aku kencani dulu hanyalah pajangan cantik. Mereka tak pernah mencampakkan aku, tapi aku yang membuang mereka.” Suara Kyuhyun begitu dalam, terasa adanya kegetiran di setiap kata yang ia ucapkan.
“Bangkitlah! Carilah wanita lain. Banyak gadis-gadis di luar sana yang akan tergila-gila padamu.” Ahra berusaha memberikan dorongan semangat kepada adiknya, tetap dengan nada bicara yang keibuan. Ia berjalan mendekat, tangannya terulur untuk memegang bahu Kyuhyun. Bahu yang telah memanggul beban berat selama beberapa minggu ini. Bahu yang sama, yang ia gunakan untuk menjadi bantal super nyaman bagi gadisnya.
“Tapi aku hanya tergila-gila padanya.” Kini Kyuhyun berbalik, ia menatap mata Ahra seolah siap menelannya hidup-hidup. Ia menatap kakaknya dengan tatapan setajam belati.
“Aku sudah mengatakannya padamu, dia pergi tanpa pamit padaku.”
“Aku yakin kau pasti tahu sesuatu. Dimana dia?! Kumohon!” Kyuhyun sudah putus asa. Ia tak sanggup lagi memikul beban di bahunya. Matanya berkaca-kaca, tak ada kemarahan yang terpancar. Tatapannya seketika berubah sendu. Ia mati-matian menahan air asin agar tak mengalir di wajah muramnya.
“Aku harus yakin jika kau takkan menyakitinya. Dan aku sudah mengetahuinya melalui matamu.” Senyum tipis tergambar jelas di bibir merah Ahra.
“Apa maksudmu? Jadi kau tahu dimana dia?”
“Aku tak pernah berbohong padamu. Choa memang pergi tanpa pamit padaku. Tapi aku tak sengaja melihatnya di  Gyeongju minggu lalu saat sedang mengunjungi gudang kita di sana.” Kyuhyun terdiam. Ia menatap Ahra dengan tatapan tak percaya. Air asin berhasil lolos dari pelupuk matanya.
“Aku tak tahu dimana ia tinggal. Aku tak tahu apakah ia masih di sana saat ini. Aku hanya melihatnya sekilas, aku sendiri tak yakin apakah gadis itu benar-benar Choa atau hanya seseorang yang mirip dengannya.”
Ketidakpastian yang terlontar dari mulut Ahra bagaikan secercah harapan meskipun hanya seterang lilin. Cahaya yang muncul dari lilin mampu menerangi kegelapan Kyuhyun selama beberapa minggu ini, meskipun redup. Tak apa, aku akan membuatnya semakin terang. Atau justru bisa jadi semakin gelap. Ada perang batin di dalam hati Kyuhyun. Satu-satunya cara adalah memastikannya sendiri.
Ada setitik harapan yang mampu menguatkannya, memberinya alasan untuk bertahan hidup. Di saat yang bersamaan, ada ketakutan dan perasaan was-was. Bagaimana jika ia hanyalah orang memiliki wajah mirip dengannya? Ketakutan itu terus-menerus menghantui Kyuhyun. Ketakutan itu juga yang membuatnya buru-buru mengambil keputusan.
“Aku harus memastikannya dengan mataku sendiri.” Kyuhyun bergegas membereskan kertas-kertas yang berserakan di atas meja kayu oaknya.
“Kau akan ke Gyeongju? Tapi aku tak tahu pasti Kyuhyun-ah. Bisa saja aku salah lihat. Kau bahkan tak tahu harus mulai mencari dari mana, Gyeongju bukanlah kota sebesar telapak tanganmu.”
“Aku tahu harus mulai dari mana. Aku akan mencarinya di sekitar gudang perusahaan kita. Pasti ada sesuatu di sana. Aku yakin.” Kyuhyun tak pernah seyakin ini. Ia tak akan percaya pada siapapun sebelum memastikan kebenarannya sendiri.
&&&
Keesokan paginya, Kyuhyun membulatkan tekad, mengedepankan kenekatannya. Perjalanan tiga jam ia tempuh demi membuktikan langsung kesaksian kakaknya. Ia bahkan mengemudikan mobilnya sendiri tanpa bantuan seorang sopir. Seorang calon CEO Winner Group mau sudi menyetir mobilnya sendiri hanya demi seorang wanita bukan dari kalangan ningrat, ini gila! Ya, Kyuhyun sudah gila. Ia kehilangan akal sehatnya sejak berhasil membuka gembok cinta milik Choa. Cinta? Ah, perasaan yang sakral namun terlalu menyakitkan untuk bisa merasakannya. Siksaan yang diakibatkan tak sebanding dengan besarnya kenikmatan yang dirasakan. Bagi Kyuhyun, Choa itu seperti heroin, kokain, bahkan sabu-sabu. Sekali pernah merasakan, maka tak akan bisa berhenti. Jika kau mencoba untuk berhenti, usahakan kau mampu menahan rasa sakitnya. Jika tak mampu, kau akan mati, lebih buruk lagi, kau akan gila bahkan hidup bagai mati.
Sesampainya di Gyeongju, Kyuhyun menghentikan mobilnya di kompleks penyimpanan material milik perusahaannya. Benar kata Ahra, ia tak tahu harus memulai dari mana. Jika ia hanya menunggu, kemungkinan kecil ia akan bisa menemukan belahan hatinya. Kyuhyun mulai membuka pintu mobil. Kakinya menjejak tanah yang berkerikil, musim semi hampir berakhir namun matahari belum terlalu menyengat. Ia mulai melangkahkan kaki panjangnya, menapaki kompleks gudang. Tak ada tanda-tanda kebaradaan Choa.
“Aku akan coba mencari ke tempat lain.” Kyuhyun bergumam pada dirinya sendiri. Tampak keseriusan di matanya. Ia tak akan menyerah sebelum menjelajahi Gyeongju, meskipun harus berjalan kaki atau merangkak sekalipun.
Kyuhyun mulai mencari di pemukiman sekitar gudang. Ia mencari di sekitar apartemen tempat tinggal beberapa pegawainya yang bekerja di kantor cabang Winner. Nihil. Lalu Kyuhyun bergeser ke pemukiman yang sedikit lebih jauh. Kyuhyun lupa jika ia masih punya otak, hanya saja otaknya sudah tidak berfungsi sebagaimana semestinya. Ia bisa saja bertanya pada penduduk sekitar, namun ia lebih suka mencari dan menggali sendiri. Kakinya sudah lelah, keringat mulai membasahi kerah kemeja putihnya. Perutnya sudah protes, meskipun ia sudah sarapan sebelumnya tapi siapa yang tak akan lapar jika berjalan tanpa henti selama berjam-jam. Apalagi matahari juga sudah lelah menyinari bumi, ingin kembali ke peraduannya.
“Sepertinya aku harus makan dulu. Mungkin aku bisa bertanya pada orang lain.” Akhirnya otak Kyuhyun bisa loading lagi meskipun agak tersendat.
Kyuhyun berhenti di kedai makanan kecil, tapi mengeluarkan bau sedap yang membuat perut Kyuhyun semakin memberontak. Kyuhyun duduk di tepi jendela, ia memesan semangkuk dwenjang jjiggae. Hanya dalam sepuluh menit, mangkuk sudah kosong. Entah ia memang sedang lapar atau doyan. Saat membayar makanannya, Kyuhyun mengeluarkan ponsel, jari telunjuknya sibuk membuka aplikasi. Munculah sebuah foto wanita cantik dengan gaya high class yang tampak anggun.
“Apakah anda mengenal wanita ini?” Kyuhyun menunjukkan foto itu pada orang yang bekerja sebagai kasir sekaligus pelayan di kedai itu.
“Aku pernah melihatnya beberapa kali. Sepertinya ia orang baru di lingkungan sini, karena aku belum pernah melihat dia sebelumnya.” Wanita paruh baya itu berusaha mengingat-ingat wajah seorang gadis yang ia lihat.
“Apakah anda tahu dimana dia tinggal?” Kyuhyun sebisa mungkin menahan diri agar tidak mencengkeram kerah baju wanita paruh baya di hadapannya. Ia bertanya dengan kesopanan yang hampir terkikis oleh rasa tidak sabar.
“Aku tak tahu dimana dia tinggal. Tapi aku sering melihatnya masuk ke gang kecil sekitar dua blok dari sini. Anda bisa mencarinya di sekitar sana.” Informasi yang sangat membantu, namun tidak sepenuhnya membantu. Kini permasalahan Kyuhyun sudah terpecahkan 60%.
Setelah tangkinya terisi makanan, kakinya sudah siap bergerak dengan kecepatan tinggi. Kaki panjangnya melangkah lebar-lebar. Rasa tidak sabar kini membuatnya setengah berlari. Ia ingin segera sampai, meskipun tidak tahu alamat pasti. Aku akan mulai mencari, tinggal sedikit lagi. Otak Kyuhyun sudah bekerja normal, ia benar-benar fokus 100%.
*Kyuhyun’s POV on*
Sedikit lagi. Aku hanya perlu mencarinya diantara petak rumah kecil. Aku yakin tak akan sulit menemukannya. Langit sudah berubah menjadi jingga, kuketuk setiap pintu atau bertanya pada setiap orang yang kutemui. Pertanyaan yang kulontarkan selalu sama “Apakah anda mengenal gadis ini?” atau “Apakah anda tahu dimana gadis ini tinggal?” masih belum ada jawaban yang memuaskan rasa ingin tahuku.
Tak terasa aku sudah mengelilingi satu blok dan aku masih belum mendapatkan hasil apapun. Rasanya aku ingin mengumpat pada wanita paruh baya yang memberiku informasi ini. Apakah ia salah lihat? Atau dia lupa pernah melihat Choa di suatu tempat?
“Ah tidak! Setidaknya aku sudah di sini. Aku akan tetap mencari.”
Kulangkahkan lagi kakiku, saat aku ingin beranjak pergi dari tempat berdiri saat ini aku merasa ada yang mengganjal perasaanku. Ada sebuah rumah yang belum aku masuki, tapi aku sedikit ragu saat akan memasukinya. Rumah itu cukup tertata rapi, dengan halaman kecil yang lumayan indah. Tapi ada tulisan ‘sold out’ di pagar kayu berwarna putih yang menjadi pembatas antara halaman rumah dengan trotoar. Biasanya rumah yang masih menggantung tulisan ‘sold out’ adalah rumah yang telah terjual namun belum ditempati oleh pemiliknya. Ada yang aneh dari rumah itu. Tulisan ‘sold out’ masih menggantung, namun rumah itu sudah dalam keadaan  bersih dan rapi. Halamannya juga basah, pertanda baru saja disiram. Kuputuskan untuk mencoba bertanya pada pemilik rumah itu.
Kutekan bel di sebelah pintu pagar. Pagarnya tak terlalu tinggi, hanya sedikit lebih tinggi dari pada lututku. Aku menunggu sekitar satu menit, tak ada tanda-tanda pintu akan dibuka. Pagar juga tidak dalam keadaan terkunci. Kuputuskan masuk saja, mungkin pemilik rumah sedang sibuk di dapur atau apalah. Baru beberapa langkah aku menginjakkan kaki di halaman, ada seseorang yang mengintip dari balik pintu bercat merah itu. Aku hanya melihat matanya sekilas, wajahnya tak terlalu jelas. Mata itu, aku merasa tak asing dengan mata itu. Aku yakin, sangat yakin. Itu dia! Aku menemukannya. Aku berlari, tanganku menggapai daun pintu sebelum pintu benar-benar tertutup.
*Kyuhyun’s POV off*
“Buka pintunya!” Kyuhyun setengah berteriak pada seseorang yang bersembunyi di balik pintu. Orang itu berusaha sekuat tenaga menutup pintu, tapi Kyuhyun juga mengerahkan semua tenaga untuk menahan pintu agar tak tertutup. Tenaga pria selalu lebih besar dari wanita. Wanita? Ya, seseorang yang bersembunyi di balik pintu adalah seorang gadis yang selama ini dicari Kyuhyun.
Sang dewi yang Kyuhyun pikir bersembunyi di Olympus, ternyata malah bersembunyi di sebuah rumah sederhana berpagar putih dan pintu bercat merah. Kyuhyun berhasil masuk, ia menutup pintu dari dalam. Gadis itu berusaha menghindar dari Kyuhyun, tapi terlambat.
“Aku menemukanmu……aku menemukanmu.” Ada kelegaan di suara Kyuhyun. Ia memeluk erat Choa agar ia tak lepas lagi. Memeluk erat untuk memastikan bahwa gadis yang kini didekapnya adalah nyata. Choa masih diam, ia tak membalas pelukan Kyuhyun.
“Maafkan aku.” Suara Kyuhyun begitu lirih. Ia bahkan mengucapkannya sambil menyembunyikan wajahnya di bahu Choa. Penyesalannya melebihi apapun. Manusia baru akan merasakan siksaan neraka setelah mereka mati, namun tidak dengan Kyuhyun. Ia sudah tau seperti apa neraka itu. Kyuhyun sudah tahu seperti apa rupa pelahap maut. Pelahap maut akan mengambil seseorang yang dicintai agar manusia itu menderita seumur hidup. Itu lebih mengerikan dari pada kematian.
Choa masih bergeming. Ia tak merespon, hanya menutup mata. Ia berusaha menahan amarah yang selama ini ia pendam. Di sisi lain, ada perasaan haru yang menyeruak di dadanya. Pria yang telah membuka gembok yang selama ini mengunci perasaannya, telah berada di hadapannya. Meskipun ia belum yakin jika Kyuhyun lah orangnya.
“Mau berapa kali kupikirkan, bagaimana caranya berhenti menyukaimu, aku tak tahu. Aku akan tetap seperti ini. Kau tak perlu melakukan apapun. Aku hanya ingin kau tahu perasaanku.” Ada keheningan panjang. Kyuhyun sadar jika bahu milik gadis yang ia dekap mulai bergerak, tanda ia sedang menangis.
“Keegoisanku karena tak bisa melepasmu pergi berubah menjadi obsesi yang memenjarakanmu. Apakah kau terluka karena aku? Kau pergi diam-diam. Aku baru sadar saat kau telah pergi.” Kyuhyun perlahan melepaskan pelukannya. Merasa pelukan di tubuhnya mengendur, Choa mendorong tubuh Kyuhyun menjauh darinya.
“Kau mengatakannya seolah kau peduli padaku. Apa yang kau inginkan? Tubuhku atau hatiku?” Choa membalikkan tubuhnya memunggungi Kyuhyun. Harga dirinya terlalu tinggi, ia tak ingin menunjukkan sisi lemahnya pada Kyuhyun. Ia tak ingin Kyuhyun tahu, betapa hancurnya ia saat Kyuhyun membuka paksa kotak pandora yang selama ini ia simpan rapat-rapat.
“Aku ingin keduanya.” Bukan Cho Kyuhyun namanya jika tak bisa memuaskan obsesi dan ambisi untuk memiliki sesuatu. Jika ia harus memilih satu diantara dua pilihan, maka ia akan memilih keduanya dan mendapatkan semuanya.
Kyuhyun melangkah mendekat. Respon Choa telalu lambat saat Kyuhyun memeluknya dari belakang. Hembusan napas pria itu menerpa kulit mulus wajahnya. Aroma parfum yang maskulin menyeruak memenuhi rongga hidungnya.
*Choa’s POV on*
Pria ini begitu menggairahkan. Jujur saja, selama eksistensiku di dunia ini aku belum pernah menemui pria yang memiliki ambisi dan obsesi sebesar ini. Begitu banyak pria yang telah kutolak, tapi mereka mudah putus asa. Itulah yang membuatku muak terhadap pria yang lemah dan tak mau memperjuangkan kehidupan asmaranya.
Cho Kyuhyun, tak ada kecacatan dari rupamu. Tak ada wanita di dunia ini yang kuat iman jika kau dekati. Tapi aku berbeda. Aku memang wanita dengan harga diri yang terlalu tinggi, ku akui itu. Aku ingin didekati, dirayu dan dipuja seperti wanita pada umumnya. Aku ingin lelaki yang memujaku menunjukkan usaha kerasnya untuk mendapatkanku.
Kau, mendekatiku dengan cara yang berbeda. Kau merenggut sesuatu yang berharga dariku. Aku akui, aku juga sempat menikmati saat itu. Aku hampir jatuh pada pesonamu, kau satu-satunya pria yang menunjukkan sisi aroganmu padaku. Sehingga aku tak punya pilihan lain selain menyerahkannya. Kau mendapatkan kenikmatan sesaat setelah membuka kotak pandoraku. Setelah itu, kau akan mendapatkan karmanya. Itulah harga yang harus kau bayar untuk kenikmatan yang sudah kau dapat.
Bukan hanya kau yang menderita, aku juga. Aku tak lagi memiliki semangat untuk meneruskan kehidupanku. Tak ada lagi yang istimewa dariku. Aku begitu hancur, hanya saja aku bisa menutupinya dengan sempurna.
Melihatmu hancur, aku juga hancur. Aku tak tahu apa ini. Aku tak tahu apakah aku sudah mulai menaruh simpati padamu. Perasaan ini, aku belum bisa memastikannya. ‘Aku mencintaimu’ bisakah kau tunjukkan kalimat itu? Aku tak keberatan menyerahkan yang tersisa dariku, asal kamu bisa menunjukkan apa itu cinta padaku.
*Choa’s POV off*
Pelukan Kyuhyun semakin erat. Pria itu seolah menikmati setiap momen bisa menyentuh gadisnya, meskipun sang gadis telah menolak. Tubuh Kyuhyun bergerak sendiri, seolah ada magnet yang menyelubungi tubuh Choa. Kini pria itu sudah menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang gadis. Ia menggigiti dan menciumi setiap milimeter kulit sang gadis.
“Hentikan!” Choa sudah tak tahan lagi. Ia pasti akan ikut terbakar gairah jika Kyuhyun meneruskan kegiatannya.
“Aku tak bisa berhenti.” Kyuhyun membalik tubuh Choa, ia ingin menatap langsung wajah rupawannya. Kyuhyun begitu merindukan setiap inchi tubuh ringkih itu. Bahkan pelukan dan ciuman saja tak cukup untuk mewakili rasa rindunya.
“Pergi!” Choa berusaha menghentikan ciuman ganas Kyuhyun dengan mendorong tubuh pria itu.
“Tidak! Mari kita selesaikan masalah ini.” Kyuhyun mendekat secepat kilat, ia meraih pinggang ramping Choa. Meraup bibir seksi sang gadis, melahapnya seolah itu adalah makanan pertama yang ia makan dalam beberapa minggu terakhir. Kyuhyun mendorong tubuh Choa ke dinding. Ia menghimpitnya, memperdalam ciumannya. Tak hanya itu saja, tangannya sudah bergerilya menjelajahi punggung Choa. Choa mengerang dan berusaha meronta. Tapi apa daya, Kyuhyun sudah dikuasai setan. Ia tak hanya haus, tapi juga lapar.
Erangan Choa tak digubris oleh Kyuhyun, seolah ia tuli. Tangannya mungilnya berusaha memukul dada si pria, tapi kulit Kyuhyun seolah sekeras kulit badak. Pukulan Choa tak terasa olehnya. Rindu dan nafsu berkumpul jadi satu.
Tak ada gunanya melawan, nikmati saja. Jauh di lubuk hatimu, kau juga menginginkannya. Setan ternyata telah merasuki pikiran Choa. Tadinya ia melawan sekuat tenaga, tapi ia sadar jika kekuatannya bukanlah apa-apa.
Tak ada ranjang di ruang tengah, yang ada hanya karpet bulu terhampar menutup lantai kayu. Aktivitas dua anak manusia yang sibuk menyelesaikan ‘panggilan alam’ tampak tak terganggu meskipun bergumul di atas karpet yang tak seberapa empuk. Desahan dan erangan memenuhi setiap sudut ruangan. Entah sudah berapa permainan yang mereka selesaikan, hingga langit yang semula jingga berubah menjadi hitam. Choa tak sanggup lagi melawan. Harga dirinya sudah tak ia pedulikan. Ada perasaan sakit karena harga dirinya telah terinjak, tapi tak bisa dipungkiri kini ia lebih mengutamakan kenikmatan.
“Jadi begini caramu menyelesaikan masalah?” Pergumulan panas kedua keturunan Adam telah berakhir. Akhir yang ambigu, keduanya sama-sama mencapai puncak kenikmatan tapi tak ada satupun yang puas dengan hasil akhirnya. Choa memunggungi Kyuhyun, berusaha memunguti pakaian untuk menutupi tubuh polosnya. Pria yang ia ajak bicara hanya duduk terdiam menatap langit-langit. Kyuhyun mengusap kasar mukanya. Kebodohan yang telah ia lakukan sehingga membuat gadisnya pergi, ia ulangi kembali.
Tak ada jawaban dari Kyuhyun. Sementara Kyuhyun hanya duduk diam, Choa sibuk memakai kembali pakaiannya. Dengan langkah gontai, ia berjalan ke pintu. Selama beberapa detik ia diam sambil menghadap pintu.
“Pergilah. Kupastikan kau tak akan bisa menemukanku lagi.” Ada hening panjang setelah Choa menyampaikan keinginannya. Hanya terdengar suara sedikit gaduh yang ditimbulkan Kyuhyun yang sedang memakai kembali pakaiannya.
“Aku takkan meminta maaf padamu lagi, karena yang kulakukan padamu tak bisa dimaafkan.” Ucapan Kyuhyun penuh dengan penyesalan. Choa hanya diam mendengarkan, tak ada respon darinya.
“Aku memang brengsek. Mencintai hanya untuk semalam dan akan bosan saat matahari telah terbit. Tapi aku ingin kembali ke hari itu. Hari dimana aku bisa menyentuhmu. Jika hari itu bisa aku simpan dalam kaset, aku tak akan bosan meski sudah diputar berkali-kali.”
Choa membalikkan tubuhnya saat mendengar ucapan Kyuhyun. Ia tak percaya apa yang barusan ia dengar berasal dari mulut pria bedebah yang ada dihadapannya atau hanya halusinasi.
“Aku adalah orang yang penuh dengan rencana. Berada di dekatmu, mengenalmu, tiba-tiba tertarik padamu, tiba-tiba menciumu, itu semua di luar rencana.” Kyuhyun benar-benar tak tahan lagi. Ia harus segera menyelesaikan kebodohan akibat perbuatannya.
Kyuhyun melangkah mendekat, berusaha sedekat mungkin dengan gadis cantik yang kini tampak seperti korban perkosaan. Ia ingin memeluk gadis itu. Tangannya terangkat, berusaha meraih tubuh sang gadis.
“Seharusnya kau menunjukkan ketulusanmu, bukan kebejatanmu.” Bulir air asin jatuh dari mata indah sang gadis.
“Meskipun kau sudah menyesalinya, sudah terlambat. Kau telah mengambil yang tersisa dariku.” Choa tertunduk lesu, matanya perih hingga tak sanggup lagi menahan derasnya aliran air mata. Jantung Kyuhyun serasa ditusuk belati, penyesalannya tiada guna. Gadis di depannya telah menutup pintu maaf. Meskipun ia sanggup memaafkan, tapi ia tak sanggup menerima Kyuhyun.
“Aku tak akan bisa bertahan tanpamu di sisiku. Aku telah mencarimu, berjalan tak tahu arah, aku tak sanggup jika harus mencarimu lagi.”
“Mencariku? Aku bisa saja bunuh diri lalu mati dan kau tak akan bisa menemukanku.”
“Aku akan mencarimu hingga ke neraka. Tapi aku yakin tak akan menemukanmu di sana. Karena kau pasti akan berada di surga.” Ada keheningan sejenak sebelum Kyuhyun kembali mengungkapkan isi hatinya. Ucapannya berhasil mempengaruhi Choa bahkan hingga ke sel tubuhnya yang paling kecil sekalipun.
“Aku tak bisa menunjukkan ‘cinta’ kepadamu. Tapi aku telah mengikatmu, lebih kuat dari sekedar kata cinta.” Ungkapan ambigu yang terlontar dari mulut Kyuhyun membuat Choa termenung memikirkan maksud perkataannya. Apa maksud pria ini? Apakah ada sesuatu yang lebih kuat dari cinta?
Epilog
Beberapa bulan telah berselang setelah kehidupan asmara mereka dimulai. Empat pria tampan dan berkuasa telah mendapatkan apa yang menjadi tujuan hidup mereka. Lengkap sudah aset yang mereka miliki. Tampan, kaya, berkuasa, dan tentunya wanita cantik yang siap mendampingi mereka untuk menyongsong hari baru.
“Oppa, tidak bisakah kita memilih konsep pernikahan yang lebih sederhana? Ini terlalu berlebihan.” Seorang gadis berparas cantik dan elegan merajuk seperti anak kecil pada seorang pria tampan yang duduk tepat di sebelahnya yang sedang sibuk dengan gadgetnya. Si gadis tampak kebingungan dengan berbagai konsep yang ditawarkan oleh pihak wedding organizer. Ia masih belum paham meskipun berkali-kali membolak-balik booklet yang dibawa oleh WO.
“Aku memiliki banyak relasi yang harus diundang. Jika acaranya sederhana, berarti hanya untuk kalangan terbatas saja, sayang.” Sang pria masih saja berkutat dengan perangkat gadgetnya tanpa menatap si lawan bicara.
Tanpa kusadari, ternyata kau memiliki sisi menggemaskan yang selama ini terkurung dalam bungkus keangkuhanmu. Seolah kau masih menyimpan sejuta rahasia yang belum aku ketahui.
&&&
Di lain tempat, sepasang anak manusia sedang menikmati indahnya matahari terbenam di pantai Gyeongpong. Mereka sengaja menjauh dari keramaian kota Seoul untuk menikmati kedamaian yang hayati. Keduanya duduk dalam diam sambil menatap jingganya langit dibalik kacamata hitam. Seorang pria duduk di atas hamparan pasir putih dan seorang gadis yang bersandar pada sang pria.
“Sepertinya tempat ini bagus untuk foto prewedding kita.” Ucap si gadis memecah keheningan diantara keduanya. Hanya ada suara deburan ombak dan burung camar yang terdengar selama keheningan mereka.
“Aku hanya ingin menikah di catatan sipil.” Jawab si pria dengan nada bicara yang enteng.
“Oppa! Pernikahan itu haruslah sesuatu yang indah dan bisa dikenang oleh banyak orang. Aku ingin menikah seperti orang normal. Aku ingin mendesain sendiri undangan pernikahanku, memilih gedung dan makanan, mencoba berbagai model gaun pengantin.” Protes si gadis hanya dibalas sebuah senyuman miring di bibir sang kekasih.
Semuanya indah, asal ada kau di sisiku.
&&&
“Sayang! Sudah jam berapa ini?! Kau masih belum bangun juga?” Suara seorang wanita dari dalam kamar mandi memekakkan telinga seorang pria yang masih enggan membuka mata meskipun sinar matahari telah menerobos masuk kamarnya.
“Kita bisa terlambat ke pernikahan sahabatmu. Yak! Yeobo! Bangun!” Dengan kesal si pria mendengus, berusaha bangun dari tempat peraduannya. Ia duduk di tepi ranjang sembari mengumpulkan nyawa.
“Aku sudah bangun.” Si pria menjawab dengan nada malas, matanya masih tertutup meskipun ia sudah duduk. Seolah ia tidur dalam keadaan duduk.
Kadang aku tak habis pikir, bagaimana bisa kau bertansformasi menjadi wanita cerewet begini?
&&&
Di sebuah kompleks perumahan elit di kawasan Gangnam, keributan terdengar dari sebuah rumah yang kelewat besar dan megah. Suara tangis anak kecil pecah memenuhi seluruh penjuru ruangan.
“Oppa! Junhee menangis, bisakah kau mengeceknya? Aku sedang sibuk di dapur.” Teriak seorang wanita yang sibuk berkutat dengan peralatan dapurnya. Tak lama kemudian terdengar suara seorang pria dari ruangan lain yang berjarak cukup jauh dari dapur.
“Aku ingin mandi. Aku harus ke kantor pagi-pagi!” Teriakan tak kalah lantang menggema di seluruh penjuru rumah.
“OPPA! LIHAT. JUNHEE. SEKARANG!!”
Dengan perasaan terpaksa, si pria melangkahkah kakinya ke kamar anak yang berada tepat di sebelah kamar tidurnya. Ia melihat botol susu terjatuh dari box bayi.
“Ibumu sangat mengerikan Junhee-ya. Kelak kau harus menikah dengan gadis yang kalem dan sabar.” Si pria memungut botol susu dan memberikannya pada seorang anak laki-laki yang kini ada dalam gendongannya.
END
Jangan keburu kecewa dulu reader-nim. Author masih akan lanjutin FF ini, dengan format dan konsep yang berbeda. Kalo dilanjut di part selanjutnya, author yakin kalian akan bingung dengan alurnya. Jadi demi kenyamanan bersama, hehehehe, author memustuskan untuk membuat sequelnya.
Di sequelnya nanti, author akan bahas cast nya satu persatu. Gak akan lama kok, karena sequelnya udah 80% siap publish. Keep waiting ya ^^

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: