Selfish Bastard Part 2

0
selfish bastard gdragon ff nc
Author             : Listiaandani
Tittle                : Selfish Bastard Part 1
Category         : NC17, Yadong, Romance, Chapter
Cast                 :
Kwon Ji Yong
Yong Na Ra
Other Cast       :
Yong Jun Hyung
Other Big Bang Member
Author’s Note :
FF ini adalah hasil kerja otakku, apabila ada kesamaan cerita dengan FF lainnya itu karena hanya ketidaksengajaan belaka. Cerita ini memang mempunyai alur pasaran, but i’m not a plagiator. Jangan asal menuduh cerita murahan ini jiplakan jika kalian tak punya bukti kuat. Aku membuat cerita ini dengan tokoh my swag bias G Dragon dan tokoh gadis yang divisualisasikan dalam imajinasiku, Na Ra.

Don’t be a plagiator or reupload this FF without my permission. Cerita ini masih jauh dari kata sempurna, so i hope you don’t bash, this is just my wild imagination. If you like to leave a comment, i really appreciate it. Thank’s and happy reading all…
*wanna be friends? Just add my id line : listiaandani*
Summary         :
“Jika memang waktu bisa diulang, aku tak akan pernah hadir dalam kehidupannya. Aku terlalu tolol menyadari betapa berharganya gadis itu untuk aku rusak. Kini semua telah cacat, kehidupannya tak akan pernah sama lagi seperti dulu. Ini semua karena aku, karena jiwa bajingan egois sialan sepertiku yang terlalu pengecut untuk menghindarinya. Menghindari rasaku yang terlalu besar untuknya, gadisku.”
-KJY-
“Luka yang ia torehkan sungguh sangat sempurna membekas bahkan hingga saat ini. Luka itu belum sembuh sepenuhnya, hanya mencoba untuk mengering walau aku telah bosan mengobatinya dengan segala cara yang memungkinkan. Rasa ini menyiksaku hingga ke dasar, menceburkanku menjadi manusia idiot yang tak pernah bisa melupakannya. Pria bajingan itu.”
-YNR-
Seoul, March 2007
“Na Ra-ya, kau masih memikirkan insiden di bioskop itu? Wah, pikiranmu sepertinya telah teracuni,” Hye Jung menggoda Na Ra yang sedang cemberut di mejanya. Na Ra duduk di samping Hye Jung, mereka teman sebangku.
“Hye Jung-ah,” Na Ra merengek, “Aku tak akan seperti ini kalau kau dan Jun Hyung oppa tidak bersekongkol dan memberi tahu eomma untuk memotong uang sakuku. Aish!” ia mengacak rambutnya frustasi.
“Dan kau harus tahu bahwa aku tidak memikirkan insiden dalam bioskop itu. Aku memikirkan insiden setelah aku pulang dari bioskop,” Na Ra menambahkan dengan jari telunjuk mengarah pada muka Hye Jung.
Setelah pulang dari bioskop itu, ia disambut dengan berbagai pertanyaan dari Jun Hyung. Ya, Jun Hyung mengetahui Na Ra bolos karena saat ia menunggu di parkiran sekolah Na Ra untuk menjemput, gadis itu tak kunjung datang. Ia pun bertanya pada Hye Jung dan sahabatnya itu tidak mempunyai pilihan untuk tidak jujur pada Jun Hyung. Kakak lelakinya itu segera memberi tahu ibu mereka dan berakhir dengan keputusan pemotongan uang saku Na Ra selama sebulan. Tadinya konsekuensi itu akan berjalan selama satu minggu, namun Jun Hyung memprovokasi. Kakaknya itu, menyebalkan sekaligus cerewet sekali, ia seperti ahjumma menurut Na Ra. Ah, saat ini ia benar-benar benci pada kakak lelakinya.
“Hei, aku tak punya pilihan lain. Sudah ku bilang untuk tidak pergi, kau saja yang tidak mendengarku.”
“Kau harusnya memberi alasan lain Hye Jung-ah. Lagi pula aku tidak tahu kalau Jun Hyung oppa akan menjemputku. Ah, aku sial sekali hari itu.” Na Ra menutup muka dengan kedua telapak tangannya. Ia benar-benar menyesal bolos sekolah.
“Setidaknya kau mendapat pembelajaran mengesankan saat di bioskop.”
“Yak!” Na Ra membentak Hye Jung untuk menutup mulut embernya itu. Hye Jung malah cekikikan karenanya, ia masih tak menyangka kalau ada pasangan yang berciuman di samping Na Ra, dan Na Ra yang membuat pasangan itu tertangkap basah. Oh Tuhan, betapa sialnya Na Ra hari itu.
“Memang ada pembelajaran apa di bioskop?” Seung Ri muncul tiba-tiba di depan Na Ra dan Hye Jung.
“Lupakan, aku sedang malas membahas apapun.”
Hye Jung hanya angkat bahu ketika Na Ra sudah mulai kesal begitu. Seung Ri yang biasanya merecoki pun kembali ke bangkunya. Lebih baik ia menutup mulutnya dibanding harus berurusan dengan Na Ra yang bermasalah dengan amarahnya yang tidak stabil dan sering membludak itu.
“Kau tahu Hye Jung-ah? Hari ini akan ada kunjungan rutin dari perguruan tinggi.” Seung Ri yang duduk di belakang Hye Jung memulai percakapan.
“Ne, aku sudah tahu Seung Ri-ah, woah aku tak sabar ingin melihat para mahasiswanya. Pasti mereka sangat menawan,” Hye Jung berbicara dengan semangat dan langsung merapikan rambut terurainya. Ia memang sangat menanti kedatangan kunjungan perguruan tinggi yang rutin diadakan tiap tahunnya. Ini diadakan untuk memperkenalkan para siswa tentang kehidupan nanti saat kuliah.
Guru Kang tiba-tiba masuk dan mengatakan bahwa ini saatnya kunjungan perguruan tinggi menghampiri kelas mereka. “Hari ini adalah kunjungan rutin. Aku harap kalian memperhatikan penjelasan yang akan disampaikan di depan. Silakan,” guru Kang mempersilahkan seorang mahasiswa masuk untuk mempresentasikan kehidupan perguruan tingginya, sementara ia segera keluar kelas.
Semua pandangan dari makhluk yang bernama perempuan di kelas itu tertuju pada seseorang yang baru saja berhenti di depan kelas untuk menyiapkan laptopnya. Pria itu, mahasiswa dengan rambut blonde mohawknya yang sangat amat menawan. Ia tampil mengenakan kemeja putih serta dasi merah bermotif ditumpuk dengan cardigan hijau, dipadupadankan dengan celana jeans dan sepatu oxford membuatnya tampil unik sekaligus enerjik. Membuat oksigen bagi perempuan di kelas ini seperti lenyap hanya dengan melihatnya. Terkecuali Na Ra, yang sedang menunduk di meja dengan wajah bersembunyi dalam dekapan tangannya. Rasanya ia ingin pulang saja dengan segera, mood nya hari ini sedang tidak baik. Sangat tidak baik.
Pria itu tersenyum dan membuat perempuan seisi kelas hampir histeris. Sungguh beruntung kelas yang hari ini mendapat kunjungan dari mahasiswa rupawan. Ia menarik  lengan bajunya hingga siku, mulai membuka folder yang akan ia gunakan untuk presentasi. Setelah semuanya siap, ia maju satu langkah.
“Selamat pagi semuanya. Perkenalkan, aku Ji Yong. Kwon Ji Yong. Mahasiswa tingkat akhir jurusan desain mode.”
Na Ra yang masih bertahan dengan posisinya mulai menajamkan telinganya mendengar ucapan pria yang belum ia lihat sedari tadi. Rasanya tadi ia mendengar kata yang cukup familiar. Alih-alih menggubris, Na Ra malah memejamkan matanya semakin dalam.
“Hei kau! Tak bisakah kau tidak tidur di kelas?”
Itu suara Ji Yong yang menegur Na Ra. Apa-apaan ini? Bagaimana bisa seorang siswa tidur di saat siswa yang lain memperhatikan presentasinya dengan wajah berbinar.
Na Ra yang mendengar itu mengerutkan dahinya. Apa mungkin ia yang ditegur? Sikutan dari Hye Jung membangunkannya seketika ke posisi tegak. Seseorang telah berdiri di samping mejanya, Na Ra mengerjapkan matanya dan membiasakan cahaya yang masuk di sekitarnya. Ia kemudian mendongak untuk melihat orang tersebut. Tak sampai sedetik hingga mereka bertatapan dan menyadari situasi tak waras ini.
“Ahjussi mesum?” itu kata yang Na Ra lontarkan sehingga membuat seisi kelas membelalak kaget, terlebih Ji Yong yang sedang menatapnya dengan pandangan membunuh.
*****
Seoul, July 2012
Ji Yong sedang memijat tengkuknya sendiri yang ia rasakan pegal setelah menghadiri rapat yang baru saja usai. Sudah tiga hari ia terpaksa menginap di kantornya untuk menyelesaikan setumpuk berkas yang harus ia teliti. Ah, pekerjaan ini sungguh menyiksanya. Ia harus bekerja ekstra karena beberapa bulan lagi akan digelar pesta fashion yang selalu diadakan perusahaannya setiap dua tahun sekali untuk menarik investor baik dalam maupun luar negeri.
Acara tersebut merupakan rangkaian pagelaran busana dengan rancangan terbaru dan unik. Tak lupa, mengundang pejabat serta orang-orang penting lainnya, sederet artis papan atas pun turut dihadirkan untuk memeriahkan acara perusahaan ini. Dragon’s Company. Itulah nama perusahaan yang Ji Yong bangun dari nol. Dengan simbol naga berwarna perak keemasan, ia berharap perusahaannya tak mudah ditaklukan layaknya legenda hewan tersebut.
Ini telah masuk waktu makan siang, namun Ji Yong masih duduk di ruang kerjanya. Ah, sungguh ia lelah sekali. Ia bahkan tak berniat untuk mengangkat telepon menyuruh seseorang membawakan makanan. Terlalu lelah.
Tiba-tiba pintu terbuka dengan sendirinya, menampilkan seseorang yang sangat ingin ditemui Ji Yong namun itu tak sempat untuk dilakukan karena setumpuk berkas sialan yang membumbung tinggi di hadapannya. Gadis itu, gadisnya. Na Ra melangkah dengan pasti ke arah sofa di salah satu sudut ruangan itu dan menyecahkan pantatnya di sana. Na Ra memang mempunyai kartu khusus yang diberikan Ji Yong, sehingga Na Ra bisa dengan leluasa keluar masuk kantor, meskipun ia hanya sesekali datang ke sini. Terlalu bising dengan banyaknya orang-orang asing, menurutnya.
“Ji Yong-ah, kemarilah. Temani aku makan,” Na Ra membuka kotak bekal makan siangnya yang tadi pagi sengaja ia buat sendiri dan mulai merapikannya di meja. Bukan sendiri juga sebenarnya, karena ada eomma membantunya. Na Ra hanya menemani dan membantu sekadarnya. Mana bisa ia memasak tanpa bantuan? Na Ra bukanlah gadis yang sering menghabiskan waktu di dapur.
Ji Yong tersenyum melihat gadis itu berada dalam jarak pandangnya saat ini. Padahal ia baru tiga hari tak melihat wajah Na Ra, namun rasa rindu itu sudah seakan membuncah di hatinya. Ia menghampiri Na Ra untuk kemudian duduk di sampingnya. Ji Yong menatap gadis pujaannya itu dari samping, Na Ra memang selalu terlihat cantik dari arah manapun.
“Yak, wae? Mengapa melihatku seperti itu?”
Ji Yong tersenyum dan mencubit gemas pipi Na Ra.
Na Ra segera menepis tangan Ji Yong, menatap aneh pada kekasihnya itu, “Hei, apa yang kau lakukan?”
“Ini masakanmu?” Ji Yong memilih tak menjawab pertanyaan Na Ra, lalu beralih pada kotak makanan yang tersaji di hadapannya.
“Tentu saja. Aku hampir telat masuk kuliah gara-gara membuatkan ini untukmu.”
“Aku sudah makan,” dusta Ji Yong.
“Tidak usah berbohong, Ji Yong-ah. Kau pikir aku tak tahu? Tatapanmu sudah mengartikan ingin menerkam makanan detik ini juga,” Na Ra mencibir.
Ji Yong tertawa dan mulai mengambil sumpit untuk mulai melahap sushinya, “Hmm…mashita. Makanan eommoni sangat lezat.”
“Yak Ji Yong! Itu aku yang membuatnya,” Na Ra membual untuk itu, sekali-kali kan ia juga ingin dipuji oleh kekasihnya.
“Hei bodoh, aku tahu kau tak pintar memasak.”
Na Ra merengut, “Tapi aku yang memotong udang serta ikannya. Aku juga yang menggulung sushi itu.”
“Tetap saja eommoni yang memasaknya. Memangnya kau bisa memasak dengan benar jika tanpa eommoni?” Ji Yong menjawil hidung Na Ra gemas seraya tertawa.
“Yak! Dasar ahjussi!”
“Berhenti mengataiku seperti itu. Kita hanya terpaut usia tak lebih dari enam tahun,” Ji Yong mengambil lagi sushi dan ia mulai menyuapi Na Ra.
“Tetap saja kau itu pria tua!” timpal Na Ra dengan kunyahan sushi di mulutnya.
“Tak akan ada pria tua setampan, semenawan, dan sekaya diriku Na Ra-ya.”
Ish, pria ini. Begitu menyebalkan. Selalu saja mengagungkan kesempurnaannya itu. Meskipun hal itu tak dapat ditolak, namun Na Ra tetap kesal dengan pria di sampingnya ini. Sekaligus rindu. Sudah tiga hari ini mereka tidak bertemu, Ji Yong hanya mengabarinya lewat pesan singkat sesekali dan telepon di pagi serta malam hari sebelum tidur. Kekasihnya ini sibuk sekali.
Biasanya, mereka selalu ada kesempatan bertemu dalam sehari, setidaknya Ji Yong selalu menyempatkan diri untuk menjemput Na Ra di kampusnya. Namun, karena prianya sedang larut dalam pekerjaan, ia tak bisa berbuat apa-apa. Bahkan Ji Yong pun memilih untuk tidak pulang demi menyelesaikan pekerjaannya. Pria ini gila kerja? Tentu saja. Itu tanggung jawab menurut Ji Yong. Baru pagi tadi ia mempunyai niat untuk membuatkan Ji Yong bekal makan siang dan dengan paksa menyeret eomma-nya ke dapur. Ya, Na Ra ke kantor Ji Yong bukan untuk menyerahkan bekal saja, ia juga ingin menatap wajah prianya.
“Aaaaa…” Ji Yong menyuapi Na Ra dengan membuat suara seperti itu, hal yang kekanakkan sekali.
“Aku bisa makan sendiri, ahjussi,” Na Ra mengambil sumpit lainnya lalu memasukan satu sushi ke dalam mulutnya.
“Aish, kau!”
Na Ra yang mendengar Ji Yong mengumpat melebarkan senyumnya, senang dengan kehadiran pria itu, “Sesibuk-sibuknya kau, jangan lupa luangkan waktumu untuk makan.”
“Kau harusnya kesini setiap hari membawakan makan siangku, chagiya. Aku akan dengan senang hati menerimanya.”
Na Ra hampir tersedak mendengar panggilan pria itu terhadapnya. Apa-apaan dia?
Ji Yong yang tersadar dengan perubahan air muka Na Ra tertawa terbahak-bahak. Haha, gadisnya itu memang selalu salah tingkah jika diperlakukan manis olehnya. Ia mulai menyukai menggoda Na Ra dengan panggilan sayang yang menurut mereka tak wajar. Ya, memang itu hal yang tak wajar menurut kadar pasangan yang sehari-harinya hanya menggunakan sapaan nama. Mereka tidak mempunyai alasan untuk itu, hanya terbiasa saja melakukannya.
“Kau!” Na Ra yang sadar bahwa ia sedang dibodohi segera memukul kepala Ji Yong dengan sumpitnya. Rasakan kau!
“Yak! Aku kan hanya bercanda.”
“Tidak lucu!”
Ji Yong memasukan lagi beberapa sushi ke dalam mulutnya sebelum mengambil botol minuman milik Na Ra dan menegaknya hingga hampir habis, menyisakan sedikit untuk Na Ra, “Buatku itu lucu, suatu hiburan untuk bisa melihatmu dengan tampang bodoh, Na Ra-ya.”
Na Ra hendak mengarahkan sumpit lagi ke kepala Ji Yong ketika dengan tiba-tiba pria itu menaruh bantal kursi di pangkuan Na Ra dan langsung meletakkan kepalanya di sana. Ji Yong tidur di pangkuan Na Ra.
“Habiskan makananmu, aku sudah kenyang.”
Na Ra mengerjapkan matanya melihat wajah Ji Yong yang hanya beberapa senti dari pandangannya. Ia tak bisa bergerak, hanya menatap canggung pada pria yang tengah memejamkan matanya itu. “Ji… Ji Yong-ah.”
“Biarkan seperti ini. Rasanya aku sudah lama tak memberi waktu istirahat bagi tubuhku. Aku tahu kau tak ada jadwal kuliah lagi hari ini. Nanti sore aku akan mengantarmu pulang. Jadi biarkan aku memejamkan mata dulu, aku lelah.”
Na Ra membeku di tempat mendengar apa yang dikatakan Ji Yong. Oh, sungguh ia memiliki pria yang gila kerja dibalik sifatnya yang menyebalkan, namun Na Ra harus mensyukuri itu. Meskipun dengan pekerjaan menumpuk, Ji Yong tidak pernah melupakannya. Sesibuk apapun, Na Ra selalu jadi prioritas di atas segalanya bagi Ji Yong. Na Ra tersenyum dan dengan lembut mengusap rambut oranye kemerahan Ji Yong. Pria ini mengubah warna rambutnya seminggu yang lalu. Ia terlihat segar dan lebih… seksi? Ya, katakanlah Na Ra tergila-gila pada pesona Ji Yong. Lagi pula siapa yang tak akan terpikat dengan pria tampan berpenampilan nyentrik ini? Wanita gila mana yang akan menolak?
“Gomawo, Na Ra-ya,” itu ucapan Ji Yong sebelum ia terlelap dalam tidurnya.
*****
Jam sudah menunjukkan pukul lima sore ketika Na Ra dan Ji Yong tiba di sini. Mereka saat ini tengah berdiri berhadapan di pelataran rumah Na Ra. Ji Yong menepati janjinya untuk mengantar Na Ra pulang. Namun tak disangka, ia tertidur seperti babi di pangkuan Na Ra. Mungkin ia terlalu lelah sehingga tadi sekretarisnya harus menunda pertemuan penting beberapa tamu yang sudah dijadwalkan bertemu dengan Ji Yong. Bagaimana bisa Ji Yong menghadiri janji itu jika pria itu tidur layaknya mayat hidup? Sama sekali tak bergerak, Na Ra membangunkan pun ia tak menggubris. Jika Ji Yong tak mengeluarkan napas, maka Na Ra akan menelepon ambulans saat itu juga.
“Kau tenang saja, pertemuan yang tadi sudah diatur ulang oleh sekretarisku,” ucap Ji Yong ketika Na Ra menanyakan perihal batalnya-pertemuan-penting-Ji Yong-karena-ia-tidur-layaknya-babi tersebut, “Ah, lain kali aku tak akan mau tidur di pangkuanmu lagi kalau tahu akan seperti itu.”
“Itu keinginanmu sendiri, mengapa jadi seperti aku yang salah? Aku juga sudah berusaha membangunkanmu tadi.”
Ji Yong memajukan wajahnya ke arah Na Ra dan berbicara dengan nada yang cukup rendah di dekat telinganya, “Kau salah jika berpikir aku akan bangun dengan begitu mudah. Kau tahu? Aku sangat lelah hari ini. Seharusnya kau memikirkan cara lain hingga aku akan merespon dengan cepat Na Ra-ya. Hmm… menciumku misalnya? Di sini. Tepat di bibir. Aku akan bangun lebih cepat dari yang kau kira sepertinya.”
Gadis itu terkejut bukan main. Ia melebarkan matanya cepat saat Ji Yong menjauhkan wajahnya dari sisi Na Ra, “Kau! Benar-benar Ahjussi mesum!” segera ia menjitak kepala Ji Yong dengan kepalan tangan sekuat tenaga.
Ji Yong berteriak kesakitan karenanya. Ah, Na Ra memang mempunyai sejuta kejutan di balik wajah imutnya itu. Semenjak pertemuan mereka tiga tahun lalu di sekolah Na Ra, gadis itu memang suka sekali memanggil Ji Yong dengan sebutan ahjussi, dan terkadang ditambah dengan kata mesum. Na Ra memang merasa otak Ji Yong telah teracuni hal-hal yang tidak beres dengan usianya saat ini.
“Hei, kalian akan terus berdiri seperti orang bodoh di situ? Masuklah jika ingin berbincang.”
“Oppa, sejak kapan kau di sini?”
Itu Jun Hyung, kakak lelaki Na Ra yang kadar cerewetnya menyaingi para ahjumma saat arisan. Pria itu berdiri di depan pintu rumah dengan tampang datar sekaligus memuakkan seperti biasanya. Jun Hyung siang tadi baru pulang dari pulau Jeju, pekerjaannya sebagai fotografer membuatnya sering bepergian hingga ke luar negeri sekalipun.
“Sejak lahir,” jawab Jun Hyung asal.
“Annyeonghaseyo, hyungnim,” Ji Yong membungkuk hormat pada Jun Hyung. “Kau pulang dengan selamat?”
“Hei hei hei, apa-apaan kau ini? Aku lebih muda darimu,” Jun Hyung memutar bola matanya malas, “Dan apa maksudmu dengan menanyakan aku pulang dengan keadaan selamat atau tidak? Singkirkan pikiranmu yang berharap aku akan celaka Ji Yong-ah. Aku masih harus menjaga serta mengawasi adikku dari lelaki sepertimu.”
Ji Yong da Jun Hyung memang terpaut usia setahun. Dan itu pun Jun Hyung yang lebih muda. Ji Yong sering melakukan itu untuk menggoda Jun Hyung, mereka cukup akrab sebenarnya, sehingga tak ada sapaan formal di antara keduanya.
“Aku harus melatihnya Jun Hyung-ah. Jika aku dan Na Ra menikah, kau akan jadi kakak iparku.” Ji Yong tersenyum jahil dan mengabaikan sindiran pedas Jun Hyung terhadapnya.
Jantung Na Ra berdegup lebih kencang saat Ji Yong menyatakan hal tersebut. Walau ia yakin itu hanya sebuah candaan, tapi entah kenapa pipinya memanas dan hatinya menghangat. Ia membayangkan bagaimana saat Ji Yong melamarnya nanti dan mereka akan menjadi sepasang suami istri. Ah Na Ra, kau mulai berpikiran yang tidak-tidak!
“Ish, siapa pula yang akan merestui kalian?” Jun Hyung mencibir, “Masuklah, hari sudah sore.”
“Aku akan pergi lagi setelah mengantarkan adikmu ini pulang dengan selamat, Jun Hyung-ah.”
“Oh bagus, segera pergilah kalau begitu.”
Jun Hyung tersenyum sekilas pada Ji Yong sebelum membalikkan badannya untuk masuk ke dalam rumah. Ji Yong adalah pria yang baik, dan Jun Hyung yakin akan hal itu. Karena selama ini, adik perempuannya selalu terlihat bahagia bersama Ji Yong. Hanya saja sebagai seorang kakak ia harus terlihat berwibawa di hadapan pacar adiknya itu, bukan? Walau terkadang kata yang ia lontarkan pedas, Jun Hyung mempunyai ketulusan dan bentuk dukungan terhadap hubungan Na Ra dan Ji Yong.
“Kau akan pergi ke kantormu?” tanya Na Ra.
“Iya, aku memiliki beberapa pekerjaan yang harus segera aku selesaikan dalam waktu dekat ini.”
Na Ra memberengut. Tak bisakah Ji Yong langsung pulang ke rumahnya dan beristirahat? Ia tahu Ji Yong amat lelah, lingkaran hitam di sekitar matanya tak bisa disembunyikan.
“Aku akan pulang ke rumah secepat yang aku bisa Na Ra-ya. Aku berjanji hari ini akan pulang ke rumah dan beristirahat. Tak ada lagi tidur di kantor,” Ji Yong menyejajarkan wajahnya dengan Na Ra dan melihat tepat di bola mata hazelnya seraya tersenyum. Ia tahu Na Ra khawatir terhadapnya, dan ia tak ingin membuat gadis kesayangannya ini memiliki pikiran tentangnya yang mungkin dapat mengganggu.
Na Ra tersenyum balik pada Ji Yong, lega karena rasa khawatirnya dapat berkurang.  Ji Yong mengacak-acak rambut Na Ra dengan senyum yang semakin melebar.
“Cepatlah masuk. Aku yakin oppa-mu akan datang lagi dan semakin menggerutu ketika kau tak kunjung datang.”
“Geurae. Kabari aku kalau kau sudah sampai di kantor dan pulang ke rumah.”
Senyuman Ji Yong tergantikan rasa kaget luar biasa ketika Na Ra berjinjit ke arahnya dan mengarahkan bibir mungilnya ke pipi Ji Yong. Na Ra mencium pipinya. Entah dapat keberanian dari mana gadis itu, yang jelas Ji Yong sekarang hanya bisa terpaku melihat Na Ra berbalik memunggunginya dan berjalan menjauh. Ji Yong memandangi Na Ra hingga gadis itu tertelan pintu besar rumahnya.
Ini bukan skin ship pertama mereka, namun ini pertama kali Na Ra menciumnya. Sekali lagi. Menciumnya. Oh astaga, walaupun hanya di pipi tapi ini sungguh membuat jantung Ji Yong hampir melompat karenanya. Apalagi kalau Na Ra menciumnya di tempat lain? Bisa-bisa ia pingsan seketika. Aish, berhenti berpikiran macam-macam Ji Yong!
Biasanya Ji Yong yang mencium pipi tembam gadisnya itu. Bahkan saat pertama kali mereka memutuskan untuk menjadi sepasang kekasih, Na Ra tak ingin disentuh, berpegangan tangan pun tidak. Gadis itu cukup keras kepala dan sulit ditaklukan. Namun lama kelamaan dengan segala taktik yang Ji Yong lancarkan, mereka melakukan skin ship juga seperti pasangan lain pada umumnya, namun hanya sampai batas pelukan serta cium pipi dan kening, tak lebih dari itu.
Ji Yong dengan setengah kesadaran yang masih dimiliki berbalik menuju mobilnya, bersiap untuk pergi. Di mobil ia menarik napas beberapa kali untuk menenangkan pikiran dan perasaannya yang tak tentu arah. Jika hal ini terjadi setiap hari, ia akan pingsan sesering mungkin. Ah, gadis itu. Gadis kecilnya. Gadis kecil yang sekarang tak terasa telah beranjak dewasa.
*****
“Hah, kau benar-benar pintar mencuri kesempatan.”
Na Ra berbalik mendengar Jun Hyung berbicara, melihat kakaknya yang sedang menonton televisi memunggunginya. “Apa maksudmu?”
“Tak disangka adik kesayanganku mencuri sebuah ciuman. Oh Tuhan, betapa aku telah berburuk sangka pada Ji Yong. Ternyata otak adikku sendiri yang telah teracuni.”
Na Ra membulatkan matanya, “Oppa!”
“Kau beruntung karena eomma dan appa sedang pergi ke rumah halmeoni. Kalau mereka tahu, apa yang akan mereka lakukan nanti? Kali ini kau lolos, aku tak akan memberitahu eomma dan appa. Hanya untuk hari ini. Tidak dengan hari lain!”
Na Ra menghembuskan napasnya, ia emosi sekaligus malu karena tertangkap basah mencium pipi Ji Yong. Kemudian ia teringat sesuatu, “Kau mengintip, hah?”
“Anni, aku hanya memastikan jika Ji Yong tidak akan berbuat macam-macam terhadapmu. Dan apa yang kulihat tadi? Kau! Kau yang macam-macam dan bertindak agresif Na Ra-ya, aku sungguh tak punya muka lagi di depan Ji Yong.”
“Yak! Kau tak usah sok suci,oppa. Memangnya aku tak tahu kelakuanmu di mobil dengan Yeon Joo? Kau berciuman dengannya, tepat di bibir. Lalu dengan Ha Ni? Kau juga mencuri ciumannya di taman dekat rumah.”
“Hei, aku itu lelaki. Wajar kalau seperti itu. Kau ini wanita, usiamu baru masuk kepala dua Na Ra-ya. Itu sungguh tak pantas. Lagi pula mereka mantanku. Tak usah kau ungkit lagi.”
“Lalu apa bedanya kau dan Ji Yong? Mengapa kau harus selalu mengawasiku dengannya? Kau pantas melakukannya dengan wanitamu, maka Ji Yong pun begitu. Tak usah kau mengawasiku terus, aku sudah dewasa. Aku tahu mana yang terbaik untukku.”
Jun Hyung terdiam mendengar ocehan panjang lebar adiknya. Ia tak memikirkan sejauh itu. Yang jelas, ia hanya ingin menjaga Na Ra selalu, sebisa yang ia mampu. “Ya… itu karena aku tahu batas. Mungkin Ji Yong tidak,” ucapnya ragu.
Na Ra sebal dengan kakak lelakinya yang protektif itu. Selalu saja menasehati dan bicara yang tidak-tidak. Eomma pun rasanya tak pernah sebawel Jun Hyung. Ia kemudian menyeringai, terlintas pikiran untuk sedikit menggoda Jun Hyung, “Ji Yong tahu batas, oppa. Kau tenang saja. Kami sudah melakukan hal yang lebih dari apa yang kau lihat barusan, dan itu semua aman.”
Jun Hyung yang terdiam mulai membelalakkan matanya lagi, “Yak! Apa saja yang sudah kau lakukan dengannya?”
*****
Ji Yong baru saja menutup teleponnya. Ia mengabari Na Ra bahwa ia sudah sampai di rumah dan siap untuk tidur. Dengan mendengar suara merdu dari gadis itu, rasanya ia sudah rindu pada Na Ra. Ji Yong memang begitu. Selalu rindu pada gadisnya. Ia kembali mengingat ciuman Na Ra yang masih terasa di pipinya. Oh Tuhan, pria maskulin ini berubah menjadi flower boy ketika salah tingkah. Hatinya tergelitik membuat ia tersenyum. Ia sudah sinting sepertinya, dan itu semua karena Na Ra, gadis yang sangat disayanginya.
Pembicaraan mereka sebenarnya sangat singkat setiap berbicara di telepon. Tak ada kata mesra yang terucap layaknya pasangan kasmaran lain. Mereka hanya berbicara seperlunya untuksaling mengabari, lalu mengucapkan selamat malam. To the point. Itu adalah ritual yang selalu mereka lakukan saat menjelang tidur.
Ting!
Satu pesan masuk dalam ponselnya.
‘Yong-ah, kau baik-baik saja?’
Ji Yong membaca itu dengan mata yang tiba-tiba melebar. Ia yang asalnya berada dalam posisi tidur terlentang, segera mendudukan tubuhnya. Meskipun nomornya tak termasuk dalam daftar kontak, ia tahu pasti siapa pengirim pesan ini. Hanya satu orang yang menyebutnya dengan panggilan itu, ‘Yong-ah’. Orang ini, orang yang sangat dihindarinya. Wanita yang hampir merampas masa depannya setelah menorehkan luka yang akan selalu membekas di hidupnya. Ji Yong menghembuskan napasnya gusar, sebaiknya ia cepat beristirahat. Bisa-bisa ia tak akan tidur malam ini jika memikirkan lagi masalah itu, masa lalu kelamnya.
Ji Yong segera mematikan ponselnya, lalu melempar asal ke arah nakas. Ia mengusap wajah lelahnya kemudian meringkuk dalam selimut tebal. Ia memutuskan untuk mengabaikan pesan itu. Pesan dari seseorang yang paling ia benci.
To be continued…

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: