Selfish Bastard Part 1

0
ff nc gdragon selfish bastard
Author             : Listiaandani
Tittle                : Selfish Bastard Part 1
Category         : NC17, Yadong, Romance, Chapter
Cast                 :
Kwon Ji Yong
Yong Na Ra
Other Cast       :
Yong Jun Hyung
Other Big Bang Member
Author’s Note :
FF ini adalah hasil kerja otakku, apabila ada kesamaan cerita dengan FF lainnya itu karena hanya ketidaksengajaan belaka. Cerita ini memang mempunyai alur pasaran, but i’m not a plagiator. Jangan asal menuduh cerita murahan ini jiplakan jika kalian tak punya bukti kuat. Aku membuat cerita ini dengan tokoh my swag bias G Dragon dan tokoh gadis yang divisualisasikan dalam imajinasiku, Na Ra.

Don’t be a plagiator or reupload this FF without my permission. Cerita ini masih jauh dari kata sempurna, so i hope you don’t bash, this is just my wild imagination. If you like to leave a comment, i really appreciate it. Thank’s and happy reading all…
*wanna be friends? Just add my id line : listiaandani*
Summary         :
“Jika memang waktu bisa diulang, aku tak akan pernah hadir dalam kehidupannya. Aku terlalu tolol menyadari betapa berharganya gadis itu untuk aku rusak. Kini semua telah cacat, kehidupannya tak akan pernah sama lagi seperti dulu. Ini semua karena aku, karena jiwa bajingan egois sialan sepertiku yang terlalu pengecut untuk menghindarinya. Menghindari rasaku yang terlalu besar untuknya, gadisku.”
-KJY-
“Luka yang ia torehkan sungguh sangat sempurna membekas bahkan hingga saat ini. Luka itu belum sembuh sepenuhnya, hanya mencoba untuk mengering walau aku telah bosan mengobatinya dengan segala cara yang memungkinkan. Rasa ini menyiksaku hingga ke dasar, menceburkanku menjadi manusia idiot yang tak pernah bisa melupakannya. Pria bajingan itu.”
-YNR-
Seoul, July 2012
Yong Na Ra. Gadis dengan rambut bergelombang cokelat sebahu. Mata hazelnya selalu berkedip indah saat menatap. Bibir merah muda, hidung yang mancung nan mungil, serta suara indahnya bagai mahakarya Tuhan yang layak Ia ciptakan di surga. Jangan lupakan pipi merona yang agak tembam namun menggemaskan. Kecantikan itu sungguh alami dan menguar dengan sendirinya meskipun dengan ia yang hanya menggunakan sweater kebesaran dan celana favoritnya, jeans.
Saat ini mereka sedang duduk di kafe. Mereka sering bertemu di tempat ini dan selalu menempati sudut kafe yang jaraknya tak jauh dari kaca luar yang langsung menghadap ke arah timur jalan utama serta taman yang dipenuhi bunga di depan kafe. Sebutlah itu sebagai tempat favorit mereka yang merupakan sepasang kekasih beberapa tahun belakangan. Tidak, mereka ke sini bukan untuk kencan. Pria itu hanya datang untuk menemani gadisnya mengerjakan tugas kuliah yang harus dikumpulkan esok hari. Gadis itu memang sedikit ceroboh, bagaimana bisa ia lupa dengan tugas sastranya minggu lalu? Kemudian pagi tadi ia merengek meminta prianya datang untuk membantunya. Bukan meminta, memaksa adalah kata yang lebih tepat.
“Yak Ji Yong! Kau akan terus menatapku dengan pandangan seperti itu, eoh? Tak bisakah kau membagi sedikit isi otakmu yang cemerlang itu untuk tugasku?” Na Ra membentak dengan sedikit menendang kaki Ji Yong yang saat ini tengah duduk di hadapannya.
“Itu tugasmu. Risikomu sendiri untuk menyelesaikannya, bodoh.” ucap Ji Yong dengan sedikit seringaian di bibirnya.
Ji Yong bukannya enggan untuk membantu Na Ra. Namun, ia hanya ingin sedikit bersenang-senang dengan menggoda Na Ra yang sedari tadi merajuk. Na Ra menghentakkan kaki dengan kesal dan menjulurkan lidahnya. Ia segera menutup laptopnya yang dibiarkan menyala semenjak tiba di kafe ini. Menarik ponsel dan headphone kesayangannya untuk selanjutnya ia simpan dengan sembarangan di dalam tasnya. Na Ra hendak pergi ketika Ji Yong sedang tersenyum melihat tingkah kekanakannya.
Ji Yong segera menahan lengan Na Ra, “Hei, kau mau kemana?”
Na Ra melihat Ji Yong dengan tatapan tak sukanya, “Tentu saja pergi.”
“Ne, eodi?”
“Tak perlu tahu urusanku. Kau kan memang tidak peduli padaku.”
“Na Ra-ya…”
“Permisi, ini pesanannya.” Pelayan tiba-tiba datang dengan nampan berisikan salad buah kesukaan Na Ra dan steak untuk Ji Yong. Wanita muda berseragam itu pergi dengan mata berbinar dan rona merah di pipinya setelah Ji Yong mengucapkan terima kasih dengan senyum khasnya. Senyum yang mampu membuat wanita meleleh hanya dengan sekali menatapnya.
“Kau! Berhenti tebar pesona!” Na Ra menunjuk muka Ji Yong setelah melepaskan lengannya yang ditahan oleh prianya. Ia melihat dengan jelas bagaimana pelayan tadi terpesona dengan senyuman Ji Yong. Meskipun Na Ra mati-matian menyangkal, namun harus Na Ra akui bahwa prianya memang tampan. Kulit putih bersihnya, suara seksi yang dimiliki, serta tampang rupawan membuat wanita manapun rela melakukan hal gila untuk dapat berkencan dengannya. Tak perlu mengenalnya lebih dekat untuk tahu nilai plus dari pria yang digilai wanita ini. Cukup memandangnya dari jarak jauh, kau sudah bisa merasakan aura khasnya yang tak dapat disangkal oleh siapapun.
“Aku tidak menebarnya, pesonaku saja yang terlalu kuat sehingga keluar dengan sendirinya.”
Na Ra mendengus mendengarnya. Jawaban macam apa itu? Dasar pria narsis. Walaupun dalam hati, Na Ra juga mengakui itu bukan kesalahan Ji Yong sepenuhnya. Siapa suruh ia punya tampang menawan, bukan? Ia segera mendudukan pantatnya di tempat semula serta membanting tas tepat di sebelahnya. Tak ingat dengan niatnya yang akan pergi tadi sebelum insiden tersipunya-pelayan-wanita-karena-kekasihnya terjadi.
Ji Yong menatap geli gadis di hadapannya. Walau dengan umurnya yang menginjak angka 21, Na Ra tetap kekanakan layaknya siswa sekolah menengah yang baru merasakan masa puber, “Kau tak jadi pergi?”
Na Ra yang hendak mengambil garpu untuk salad buahnya membeku seketika. Ia mengutuki dirinya yang tak dapat mengontrol rasa cemburu terhadap pria menawan yang menjadi kekasihnya ini. Cemburu? Norak sekali pikir Na Ra, namun hatinya tak dapat menyangkal. Yong Na Ra, kau memang harus mengakuinya.
“Cemburu?” ejek Ji Yong, “Kau tak perlu begitu. Risiko itu seharusnya sudah kau pertimbangkan secara matang saat kau memutuskan untuk menjadi kekasihku.”
“Yak!” Na Ra segera menginjak kaki Ji Yong sekuat tenaga. Lihat? Bahkan kaki indah gadis itu tak mau diam. Ia tahu ia cemburu, namun tak perlu kekasihnya itu berkoar di hadapannya juga, bukan? Aish, membuat malu saja.
Ji Yong merintih selagi Na Ra mengutuki diri sendiri yang terlalu kentara menunjukan perasannya. “Hei sudahlah, segera kau habiskan makan siangmu. Setelah itu, aku akan membantumu mengerjakan tugas.”
“Shireo!” Na Ra mem-pout-kan bibirnya sembari menyedekapkan tangannya di depan dada.
“Kau yakin tidak ingin ini?” tanya Ji Yong dengan menunjuk mangkuk salad buah yang penuh mayonaisse di atasnya.
Na Ra terdiam, ragu dan malu ia rasakan sehingga tak satu pun kata yang mampu ia lontarkan.
“Baiklah, ini buatku saja.” ucap Ji Yong yang langsung mengambil garpu dan hendak menyantapnya.
“Hei ini punyaku!” Na Ra segera menarik mangkuk itu dan melahap dengan satu tusukan garpu penuh ke dalam mulutnya. Biarlah ia dianggap tak tahu malu, yang pasti Na Ra memang tak bisa menolak makanan favoritnya, dan Ji Yong tahu itu.
Ji Yong tersenyum melihat Na Ra, selalu seperti ini ketika mereka bertemu. Perdebatan menjadi bumbu yang amat kental di dalam hubungan mereka. Namun tenang saja, karena Ji Yong maupun Na Ra sudah terbiasa. Ini gaya mereka, dan mereka nyaman dengan itu.
*****
Kwon Ji Yong. Pria berumur 27 tahun dengan rahang lancip yang menyempurnakan penampilannya. Ia dikenal tegas dan tak main-main dengan keputusan yang ia buat, terlebih lagi dalam hubungan pekerjaan. Saat ini ia memiliki jabatan sebagai CEO sebuah perusahaan fashion yang sudah terkenal di Korea Selatan dan sekarang mulai merambah di beberapa negara lain, seperti Jepang, China, bahkan Amerika. Pria dengan sejuta kesempurnaan, kemampuan, dan yang pasti kekayaan.
Penampilan nyentriknya memang membuat ia lebih mudah dikenali, ia rutin mengganti warna serta model rambutnya sesuai yang ia inginkan. Entah itu karena mood, atau untuk menunjang penampilannya sehari-hari. Membuatnya terlihat selalu fresh. Yang jelas, pria setinggi 177 cm ini unik dengan fashion yang selalu menawan di setiap kesempatan. Terlebih lagi, beberapa bulan belakangan sorot media tertuju ke arahnya. Fashion itu pun seperti pelengkap untuk penampilan sempurnanya di media.
Ji Yong sekarang dikenal sebagai pria muda berbakat, tampan, dan kaya yang sukses sebagai pengusaha fashion. Beberapa kali wajahnya menghiasi sampul majalah bisnis dengan beberapa wawancara seputar kehidupannya dengan dunia fashion. Rancangan busananya bahkan sudah mendunia, ada pula beberapa rancangannya yang digunakan artis mancanegara. Tentu ia bekerja keras untuk mendapatkan itu semua. Ia bahkan menargetkan kesuksesan di usia yang tergolong muda. Ji Yong berhasil untuk targetnya, dan itu semua tak lepas dari kehadiran Na Ra yang membuat ia terasa lebih hidup dari sebelumnya.
Kau tentu penasaran dengan bagaimana pertemuan pasangan ini, bukan? Jangan harapkan kesan manis yang didapat seperti pasangan lainnya. Pertemuan mereka bahkan membuat Na Ra menghindari segala ingatan saat pertama kali mereka bertemu. Saat itu Ji Yong berusia 22 dan sedang menjalani masa-masa akhir kuliahnya di salah satu universitas ternama Korea Selatan. Sedangkan Na Ra masih di tingkat sekolah menengah, berusia 16 tahun.
*****
Seoul, February 2007
Hari masih siang saat Na Ra melangkahkan kakinya ke mall yang terletak di pusat kota. Ia sengaja mangkir dari pelajaran sejarah yang membuatnya bosan setengah mati. Sebenarnya ia ingin membawa serta Hye Jung, namun sahabatnya itu terlalu patuh terhadap aturan sehingga tidak menggubris permintaan Na Ra untuk bolos hari itu. Walaupun hanya tersisa satu pelajaran lagi, tapi Hye Jung tidak mau. Ia memang dikenal murid yang pintar, rajin, serta disiplin. Berbeda dengan Na Ra yang sepertinya sudah menikmati dunia remaja dan ingin mencoba berbagai hal, salah satunya membolos dan pergi ke mall saat siswa yang lain sedang berada di kelas.
Langkahnya menuntun dengan pasti ke pusat perbelanjaan itu dan berhenti saat dirinya melihat ada sebuah cermin yang berdiri di dinding, di sebelah toko baju yang sedang ramai pengunjung. Ia mematut dirinya, menyelipkan anak rambut ke daun telinganya serta mengencangkan kuciran rambut asalnya. Seragamnya telah berganti menjadi kemeja merah kotak-kotak serta celana jeans biru. Ia telah mengganti pakaian di toilet sekolah dan kabur lewat jalan belakang yang selalu sepi, untungnya juga beberapa penjaga hari ini ditugaskan mengawal kepala sekolah yang akan berangkat ke luar kota selama seminggu karena tugas dinas. Na Ra bisa leluasa menyelinap ke jalan belakang yang memang hari ini tidak dijaga siapapun dan meminta Hye Jung untuk mengatakan pada guru bahwa ia pulang karena sakit.
Na Ra tersenyum karena rencananya berakhir sukses. Ia sengaja membawa baju ganti karena semalam ia telah memikirkan ia akan mangkir pelajaran. Tak disangka, rencananya dilancarkan dan tak diberi hambatan berarti. Ia segera melangkahkan kakinya lagi lebih masuk ke dalam mall itu. Tujuannya adalah menonton film. Ya, ia akan ke bioskop sendirian, tak seperti biasanya yang ditemani oleh Hye Jung atau Jun Hyung, kakak lelakinya. Namun saat melewati salah satu foodcourt, ia menoleh dengan tampang lugunya. Perut Na Ra berbunyi, tak bisa berkompromi. Ia butuh makan siang.
Akhirnya, Na Ra memutuskan untuk menunda keinginan menonton film incarannya dan duduk di salah satu meja foodcourt. Tempatnya sangat nyaman dengan warna hijau mendominasi, terlihat dari berbagai macam hiasan dan properti, seperti meja dan kursi yang Na Ra tempati saat ini. Ia tadi telah memesan jajangmyeon dan jus lemon, tak lupa juga memesan salad buah penuh mayonaisse kesukaannya. Seraya menunggu pesanan makanannya datang, ia menyeruput jus lemon yang terlebih dahulu disuguhkan pelayan. Na Ra mengeluarkan ponsel dan mulai mengecek akun sosial medianya.
“Eun Mi-ya, kau cantik sekali hari ini.”
Na Ra tersedak mendengar ucapan pria yang berada di seberang meja dengan posisi memunggunginya. Gila, ia baru kali ini mendengar ucapan norak seperti itu, terlebih dari pria dewasa yang sekarang sedang menggenggam tangan wanita di hadapannya. Jika wanita yang lain akan merasa tersanjung dipuji seperti itu, maka lain halnya dengan Na Ra yang akan merasa risih. Terbukti dengan Na Ra yang saat ini tengah menatap aneh pasangan tersebut, sementara si wanita yang tadi dipanggil Eun Mi tersebut terlihat salah tingkah disertai munculnya rona merah di pipi.
“Sungguh menggelikan,” ujar Na Ra yang tak sadar menyuarakan isi pikirannya.
Sontak saja wanita bernama Eun Mi itu menolehkan tatapannya pada Na Ra. Tentu saja wanita itu menoleh, suara Na Ra saat berbicara tadi cukup jelas terdengar. Pria menggelikan yang memunggungi Na Ra pun berbalik dan melihat Na Ra terdiam dengan raut wajah panik. Pria itu bahkan bukan sekedar melihat, ia menatap tajam Na Ra dengan tatapan seperti mengatakan ‘Apa yang kau bilang barusan?’.
Na Ra yang panik segera menyeruput jus lemonnya, “Sungguh menggelikan, bagaimana bisa Hye Jung berkencan dengan Seung Ri. Yak, Hye Jung mungkin telah tertipu olehnya.”
Na Ra memaki ponselnya tersebut untuk menyembunyikan rasa malunya yang tertangkap basah mengumpat pada pasangan yang menurutnya aneh itu. Yak, kau harusnya tak menyuarakan pikiranmu bodoh! Ia jadi harus mengada-ada dengan alasan yang membawa serta nama temannya itu.
Ia hendak melihat bagaimana reaksi pasangan tersebut saat ini, namun pandangannya tertutupi oleh pelayan pria yang datang membawakan pesanan. Ia cukup bersyukur karena pelayan tersebut cukup lama menata hidangan serta mejanya. Saat pelayan itu pergi, Na Ra segera menundukan wajah, khawatir pasangan aneh tersebut masih memerhatikannya. Dengan ragu, ia memandang pasangan tersebut yang saat ini memulai acara ‘suap-suapan’ dengan suara manja yang dibuat-buat. Pasangan itu tampaknya tak memedulikan Na Ra lagi dan mulai asik sendiri dengan dunia mereka. Oh astaga, itu benar-benar lebih dari sekadar menggelikan, pikir Na Ra.
Setelah menghabiskan makan siang, Na Ra segera melangkah ke tempat tujuan awalnya, bioskop. Ia segera mengantri melihat banyaknya pengunjung yang cukup ramai hari itu. Na Ra mengedarkan pandangan ke sekeliling dan hampir tersedak melihat pasangan itu. Ya, pasangan aneh yang ditemuinya di foodcourt sekarang sedang ada di sini bersama Na Ra. Ah, mengapa mereka harus ada lagi? Menyebalkan. Na Ra yang tadinya ingin menonton film horor favoritnya, segera mengubah pikirannya untuk menonton film action yang kurang diminatinya.
Na Ra pernah mendengar dari Seung Ri, teman pria sekelasnya, bahwa ketika pasangan kencan dan pergi ke bioskop, maka kebanyakan dari mereka akan menonton film horor. Menurut Seung Ri, pria tak akan menyiakan kesempatan saat wanitanya menjerit histeris untuk memeluk, bahkan menciumnya. Dalihnya untuk melindungi, namun sebenarnya hanya untuk memanfaatkan kesempatan emas yang ada. Memikirkan itu membuat Na Ra mual, apalagi kalau harus membayangkan pasangan aneh itu melakukannya di bioskop. Oh tidak, Na Ra mungkin mulai gila.
Akhirnya, Na Ra memutuskan menonton film action. Kurang menarik menurutnya, karena ia penggemar berat film horor. Namun setidaknya ini jauh lebih baik dibandingkan ia menghabiskan waktu berjam-jam untuk drama. Lupakan, lebih baik ia pulang saja. Apa menariknya film dengan penuh kepalsuan itu? Lebih baik menonton film berdarah-darah dibanding film yang kebanyakan mengumbar derai air mata bagi Na Ra.
Ia duduk di kursi paling atas, agak sudut namun hanya ini yang tersisa. Na Ra tak suka duduk di depan, karena ia bisa pegal leher dan mata untuk menonton. Dengan tingginya yang hanya 160 cm, ia harus mendongak lebih tinggi. Na Ra memang tercipta mungil. Sesuai dengan wajahnya yang imut, ia terlihat menggemaskan karenanya. Dua bangku di sampingnya kosong, Na Ra duduk di kursi ketiga paling pojok. Ah, leganya ketika kursi di sampingnya kosong, terasa lebih leluasa bagi Na Ra. Namun keleluasaan Na Ra lenyap tak berbekas ketika wajahnya mendongak melihat dua orang datang menghampirinya.
“Permisi,” itu suara pria menggelikan yang menatapnya di foodcourt, ia datang bersama pasangannya, Eun Mi. Mereka bertiga sontak terkejut dengan kejadian ini, tak menyangka akan bertemu lagi di sini. Terlebih lagi bagi Na Ra yang telah merelakan film favoritnya untuk menghindari pasangan ini. Oh Tuhan, inikah hari sial baginya?
Na Ra sedikit menarik kakinya ke dalam untuk memberikan jalan bagi pasangan itu. Ia tersenyum canggung dengan wajah yang agak menunduk. Ingin rasanya ia lenyap seketika saat itu juga. Rasa-rasanya ia lebih baik terjebak di dalam kelas dengan guru sejarah yang membosankan daripada berada di sini. Ia menyesal. Sangat menyesal. Berbagai kalimat andai berseliweran di benaknya. Andai ia tak bolos sekolah, andai ia langsung masuk ke bioskop saja setelah berada di mall, dan andai-andai yang lainnya.
“Biar aku yang di pojok,” seru Eun Mi tegas sembari menatap tak suka pada Na Ra.
Gadis itu memutar bola matanya malas. Lebih baik ia pulang saja kalau tahu akan begini. Pria pasangan Eun Mi duduk di samping Na Ra, kemudian tak sengaja menindih tangan Na Ra yang sedang berada di pegangan kursi. Na Ra tentu saja kaget dan langsung menarik tangannya, begitu juga pria itu yang menatap Na Ra sama kagetnya.
“Ji Yong-ah, aku ingin popcorn.” rengek Eun Mi pada pria teman kencannya.
Oh namanya Ji Yong, pikir Na Ra. Ngomong-ngomong tadi tangannya sangat halus, bagaimana bisa tangan pria sehalus dan seputih itu? Bahkan mungkin punyanya saja tak begitu. Namun hei, apa urusannya denganmu, Na Ra? Itu sungguh pikiran yang tak berguna.
Film pun dimulai setelah pasangan yang menurut Na Ra aneh itu membeli popcorn. Dimulai dengan adegan perang antar dua kubu pada zaman kerajaan Romawi kuno. Ya, setidaknya film ini bisa memulihkan pikiran-pikiran penat Na Ra, namun pasangan di sebelahnya ini mengganggu. Sangat mengganggu. Mereka mengobrol dan cekikikan sepanjang awal film diputar, membahas hal-hal yang tak penting. Untuk apa mereka ke bioskop jika ingin mengobrol? Dengan diam di foodcourt pun mereka bisa melakukannya. Ish, benar-benar pasangan aneh dan mengganggu. Tapi syukurlah cerita filmnya cukup bagus menurut Na Ra, ia tak terlalu menyesal berada di sini. Ia harus berkonsentrasi penuh agar gangguan dari sebelah bisa ia abaikan.
Di pertengahan, tak terasa bioskop itu hening, hanya suara dari film yang terdengar. Na Ra melihat ke sekeliling, ternyata memang benar dugaannya bahwa mereka mulai serius menikmati jalannya film ini. Ia merapikan lagi kunciran asalnya, dan tak sengaja melihat ke arah pasangan aneh yang sejak tadi telah berhenti berbicara. Ia melihat ada yang janggal. Pasalnya, pria bernama Ji Yong itu sedang mencondongkan tubuh dan wajahnya ke arah Eun Mi, mereka sangat dekat, tubuh Ji Yong menjauh dari samping Na Ra, sehingga Na Ra tak bisa melihat wajah Eun Mi dari pandangannya.
Apa mereka sedang mengobrol? Mengapa harus sedekat itu? Sementara Na Ra berpikir, suara-suara aneh terdengar dari arah Ji Yong dan Eun Mi. Na Ra yang mendengar itu menegakkan tubuhnya dan mulai menajamkan telinganya. Suara aneh itu, suara seperti… decapan? Na Ra memang tak pernah melakukan hal-hal ekstrim layaknya remaja seuisianya yang ingin mencoba sesuatu yang baru seperti ciuman, namun ia tahu banyak tentang hal seperti ini dari Seung Ri. Temannya itu memang banyak memberikan pengalaman cinta yang ia banggakan pada Na Ra. Suaranya semakin lama semakin jelas saja, membuat bulu kuduk Na Ra merinding. Apa mungkin mereka…?
“Andwae!”
Tak sadar Na Ra menjerit, membuat hampir seluruh isi bioskop melihat ke arahnya. Na Ra mengutuki dirinya sendiri yang tak bisa mengontrol pikiran yang berkecamuk di benaknya. Ia menunduk untuk meminta maaf dan tersenyum canggung. Namun anehnya, penonton itu tak melihat ke arahnya, mereka mengalihkan tatapannya pada Ji Yong dan Eun Mi dengan pandangan terkejut dan juga… jijik? Ah entahlah, Na Ra hanya merasa malu pada dirinya sendiri di sepanjang sisa film berjalan.
*****
Film telah usai, Na Ra meregangkan badannya yang pegal setelah hampir dua jam penuh menghabiskan waktunya untuk duduk manis. Baru saja ia menggerakkan kepalanya, Ji Yong dan Eun Mi segera lewat di hadapannya untuk keluar dari bioskop. Saat melewati Na Ra, Ji Yong sempat melihat ke arahnya dengan tatapan tajam yang menyebalkan sebelum mengenakan kacamata hitamnya. Ada masalah apa pria itu? Pikir Na Ra. Tapi semakin dipikirkan, semakin ia menyadari bahwa pria itu sangat tampan, apalagi dengan kacamata hitam yang bertengger sempurna di hidungnya. Wah, ia sangat keren dan menawan. Hey, apa lagi yang kau pikirkan saat ini, Na Ra? Pria itu sepertinya berusia cukup jauh dari Na Ra. Bagaimanapun juga, Na Ra masih berstatus sebagai siswa yang berusia 16 tahun. Pria itu mungkin seperti paman baginya, ah atau mungkin… ahjussi? Ish, entahlah.
Na Ra mencoba untuk tak mempedulikan Ji Yong maupun Eun Mi yang terburu-buru untuk keluar dengan wajah menunduknya tersebut. Ia kemudian memeriksa ponselnya untuk melihat jam. Tak terasa hari sudah sore, ia harus segera pulang jika tak ingin diceramahi oleh kakak lelakinya yang cerewet itu.
“Kau melihatnya? Pasangan itu? Ah bibirnya sangat merah saat mereka menghentikannya,” terdengar suara wanita yang duduk di depannya. Na Ra yang hendak berdiri menghentikan gerakannya dan mulai tertarik untuk menguping.
“Pasangan di pojok itu? Wah, mereka pasti sering melakukan hal itu di bioskop. Pria itu juga sangat ahli sepertinya, dan jangan lupakan bahwa ia sangat tampan. Aku rela melakukan apapun untuk menjadi teman kencannya,” wanita satu lagi yang merupakan temannya menimpali dengan mata berbinar.
“Yak! Walaupun dengan tampang sempurna, mukamu seketika akan lenyap saat tertangkap basah berciuman dengannya di dalam bioskop.”
Dua wanita itu pun segera membereskan tasnya dan berjalan untuk keluar dari bioskop. Na Ra yang mendengarkan pembicaraan itu terkejut, tak menyangka dengan apa yang didengarnya barusan. Jadi, tadi pasangan itu… berciuman? Di sebelahnya? Suara-suara aneh itu juga…? Oh Tuhan, seharusnya tadi ia nonton film horor saja.
To be continued…

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: