Saco Dear Ra Part 4 End (Neorago Sequel)

0
Saco Dear Ra Part 4 End (Neorago Sequel) ff nc kyuhyun
Saco Dear Ra! Chapter 4- Ending
Author : DiraKimra17
Tittle : Saco Dear Ra! chapter 4
Category : NC17, Yadong, Romance / Kekerasan, Chapter.
Cast :
Cho Kyuhyun
Shin Kim Ra
Other  cast : Other Super Junior member
Author’s Note : Haii, disinilah akhir kisah mereka. Hahahaha. Maaf kalau nantinya part ini tidak memuaskan. Aku mohon maaf yang sebesar – besarnya kalau ada salah kata selama bersama kalian ‘para pecinta Kyuhyun yang selingkuh massal sama Yesung’. Setelah ini aku merencanakan untuk hiatus dari nulis ff untuk blog. Karena saat ini aku sedang mempersiapkan sebuah judul yang nanti, PENGENNYA bisa diterbitin jadi sebuah buku. Standarlah, cita – cita CALON PENULIS yaa pasti pengen jadi PENULIS YANG PUNYA BUKU. Hohoho.

Jadi maaf yaa kalau aku belum bisa lanjutin After story dari Neorago-Saco Dear Ra atau side story KIM YESUNG dalam waktu dekat. Jangan di demo, yaa. Karena sekarang lagi konsentrasi banget sama si calon buku yang judulnya ’NoKYUphobia’ itu. Hehehe
Sekedar info, maaf kalau aku belum bisa share Saco Dear Ra di blog-ku. Karena laptopku sedang menginap di rumah tukang service, jadi aku belum bisa membuka blog. Ribet kalau buka dari henpon. Mohon pengertiannya. Terima kasih.
Warning! Gak Typo, Gak Gaul!
Selamat menikmati.
                                  -000-
“Kau ingin meninggalkan aku?” Suara Kyuhyun serak dan berat.
Kim Ra mengangguk pelan.
“Kenapa?”
“Aku hamil.”
Kyuhyun diam. Beberapa detik itu, pikirannya kosong. Pengakuan Kim Ra seperti kalimat ‘kau akan mati besok pagi’ di telinga Kyuhyun. Pria itu menelan ludah dengan payah. Menyenangkan dan menakutkan dia rasakan bersama.
“Pulang!” Suara Kyuhyun putus asa.
Kim Ra mendongakkan kepalanya. Melihat wajah Kyuhyun secara langsung. Oh! Mengerikan. Mata tajam Kyuhyun menghujamnya. Kesedihan terukir jelas di wajah Kyuhyun. Kim Ra meyakinkan diri. Pria itu, belum bisa menerimanya. Menerima bayinya.
“Pulang!” Desis Kyuhyun lagi.
“Ayo kita pulang.” Bisik Yesung dalam bisikan. Membujuk.
Kim Ra terlalu takut untuk membantah. Kyuhyun benar  – benar mengerikan saat ini. Dia juga yakin kalau Yesung juga tidak akan melepaskan pegangan tangannya. Renggang tapi penuh penjagaan. Berjalan pelan dengan tuntunan Yesung, Kim Ra mengekori Kyuhyun yang beberapa langkah di depannya.
                                             -000-
Setelah melewati kondisi menegangkan sekaligus ajaib, dimana Kyuhyun yang nota bene bos besar mengemudi dengan kecepatan setan. Sedangkan Si supir tampan duduk di belakang dengan Nona-nya yang masih sibuk mengelap air mata. Akhirnya, mereka tiba di rumah.
Kyuhyun membuka pintu mobil untuk Kim Ra. Hanya membukakan. Karena setelah itu, Kyuhyun langsung berlalu begitu saja. Kim Ra kembali pada rangkulan Yesung. Berjalan takut – takut. Sampai Kim Ra dan Yesung mulai mendekati Kyuhyun yang hanya berdiri di ambang pintu. Ada apa?
Mereka kedatangan seorang tamu. Kim Ra menegang. Dia tahu maksud kedatangan tamu itu.
“Kenapa kau kesini?” Tanya Kyuhyun dingin. Tapi tidak melunturkan nada kejut dalam suaranya.
“Sajangnim.” Tamu yang tadinya asyik bermain ipad itu berdiri dari duduknya. Lebih terkejut daripada Kyuhyun.
“Eunhyuk.”
“Maaf, Sajangnim. Saya kemari karena ada yang harus saya serahkan pada anda.” Eunhyuk melirik keadaan Kim Ra. Feelingnya teramat kuat. Dia terlibat dalam sebuah peperangan.
“Apa?”
“Ini Sajangnim.” Eunhyuk dengan ragu menyerahkan sebuah map kepada Kyuhyun. Takut. “Tadi siang pengacara keluarga Shin datang menemui saya untuk memberikan berkas ini. Gugutan cerai yang di ajukan oleh Nyonya Shin Kim Ra.”
Gugatan Cerai.
“Semua berkasnya sudah lengkap. Ini tinggal menunggu tanda tangan anda, Sajangnim. Setelah itu besok pagi sudah bisa di proses di pengadilan.”
Setelah melotot sepersekian detik, Kyuhyun langsung memejamkan mata sekaligus menghirup napas dalam – dalam. Menekan keras emosinya agar tidak meluap. Mengikat amarahnya. Menahan napsunya untuk menghancurkan seluruh isi ruangan. Hati Kyuhyun terasa sakit. Gugatan cerai. Lagi?
Pernikahan yang mengenaskan. Dimana bayi selalu berhubungan dengan gugatan cerai.
Membuka matanya, Kyuhyun memamerkan warna merah di matanya yang suram. Bibirnya bergetar. Melihat Kim Ra dengan nanar. Hubungan mereka tiba pada batas yang menyedihkan. Berkedip sekali. Setelah itu, Kyuhyun merangsek maju ke arah Eunhyuk. Gerakannya cepat. Merampas berkas gugatan cerai, merobek dua kali dan melemparkannya ke arah Eunhyuk.
“SINGKIRKAN INI!” Kyuhyun berteriak.
Eunhyuk, Kim Ra dan Yesung terlonjak bersamaan.
“Y-Ye Sajangnim.” Eunhyuk yang panik memungut sobekan kertas yang baru saja berhambur di wajahnya.
Kyuhyun menghadap Kim Ra lagi. Tepat di depannya.
“Sejak kapan, menggugat cerai diriku menjadi hobimu?” Tanya Kyuhyun dengan suara yang di tekan rendah. Awas Kim Ra! Awas!
“Aku hamil.” Kim Ra terisak.
“Lalu?”
“Aku belum 25 tahun.”
“Ya!”
“Kau pasti memintaku untuk aborsi lagi.”
“Kau tidak mau?”
“Tidak.” Segerombolan rasa takut menyerbu Kim Ra.
“Lalu maumu?” Suara Kyuhyun seperti menegur.
“Aku ingin melahirkannya.” Kim Ra berbisik.
“Keras kepala!”
“Kyuhyun…”
“AHJUMMA! ANTAR KIM RA KE KAMAR!” Perintah Kyuhyun dengan teriakan lagi. Dia membentak siapapun, kecuali Kim Ra.
Bukan. Bukan Kim Ra. Kyuhyun tidak mau membentak Gaemgyu.
Gaemgyu?
Han Ahjumma menarik Kim Ra dari ruang tamu. Mencoba menenangkan sesekali mengelus pundak Kim Ra. Naik ke lantai dua dengan perlahan. Tanpa mereka tahu, mata Kyuhyun mengawasi sampai mereka hilang di tikungan tangga.
Kyuhyun duduk di sofa, di depan Eunhyuk. Menutup wajahnya dengan telapak tangan. Napasnya memburu cepat. Kasar. Bahunya bahkan terlihat naik turun. Benar dugaan Eunhyuk. Peperangan telah terjadi. Mereka hanya diam selama itu. Kyuhyun dengan semua pikiran kacaunya, Yesung yang sedang memikirkan strategi dan Eunhyuk yang kaku, sesekali menjilat bibirnya yang kering sambil menghitung cicak di dinding.
Knock.. knock..
Dokter Park melongok dari pintu yang terbuka.
“Aku boleh masuk?” Tanya dokter Park dari ambang pintu. Kyuhyun mengangkat kepalanya.
“Masuklah!” Kyuhyun bangkit dari duduknya. “Dia ada di kamar.”
                                  -000-
“Nona…” Han Ahjumma masih mengelus rambut Kim Ra.
“Aku takut… Aku takut.” Kim Ra terisak semakin keras.
“Tuan Muda akan melakukan yang terbaik, Nona. Percayalah.”
“Dia pernah memintaku untuk aborsi.”
Han Ahjumma bungkam. Iya, itu memang benar.
Kim Ra duduk di pinggiran ranjang sambil meremas tangan kanan Han Ahjumma. Mengadu. Apa yang akan dilakukan Kyuhyun? Akankah pria itu mengizinkan Kim Ra untuk tetap mempertahankan bayi mereka? Tuhan, gadis itu benar – benar ingin bayi itu hidup.
Suara pintu terbuka.
“Dokter Park di sini. Han Ahjumma, kau bisa keluar.” Kyuhyun berkata pelan.
“Baik, Tuan Muda.” Han Ahjumma mematuhi. Hanya saja, gerakannya tersendat karena Kim Ra tidak melepaskan tangannya. Menatap Kim Ra, gadis itu menggeleng. Tidak mau di tinggalkan. Kyuhyun menangkap moment itu.
Untuk kesekian kalinya. Kim Ra takut pada dirinya.
Han Ahjumm melepas tangan Kim Ra dengan berat hati. Meninggalkan senyum menenangkan yang terakhir. Senyuman yang berarti, semua akan baik – baik saja. Han Ahjumma pergi. Kim Ra menunduk dalam. Meremas tangannya sendiri.
Dokter Park dan dua assistant-nya sedang mendekorasi kamar Kyuhyun menjadi ruang prakter dokter kandungan. Saat itu, Kyuhyun maju selangkah demi selangkah mendekati Kim Ra. Berdiri di depan gadisnya. Mengulurkan tangannya dan menggapai tangan Kim Ra. Menyatukan dalam kehangatan pernuh arti. Mengerti Kim Ra? Kalian saling membutuhkan.
Kim Ra mengangkat kepalanya untuk melihat Kyuhyun. Wajah pria itu lelah dan keras.
“Aku ingin dia hidup.” Kim Ra berbisik. Kyuhyun menutup matanya.
“Silahkan berbaring, Nyonya.” Salah satu Assistant dokter Park memberi intruksi.
Assistant dengan rambut dikuncir menuntun Kim Ra untuk berbaring. Membantu Kim Ra menyibak dress peach-nya. Menutupi bagian bawah Kim Ra dengan selimut. Selama itu, tangan Kyuhyun tetap pada peraduannya. Tangan Kim Ra. Saling meremas selama dokter Park melakukan pemeriksaan.
Beberapa kali dokter park menggeleng lalu berdiskusi dengan dua assistant-nya. Serius. Sesekali meihat Kyuhyun dan Kim Ra bergantian.
“Saya sudah selesai, Tuan Cho.” Dokter Park membuka pembicaraan. Dua assistant-nya mulai mengemas kembali peralatan yang mereka bawa.
“Jelaskan padaku!” Perintah Kyuhyun.
“Baik. Ini adalah hasil pemeriksaan saya untuk saat ini. Kehamilan Nona Kim Ra masih sangat muda. Ini diperkirakan baru berusia 2 minggu. Keadaannya belum bisa dipastikan secara jelas. Harus dilakukan pemeriksaan laboratorium. Tapi karena Nona Kim Ra mempunyai riwayat kandungan lemah dan bahkan keguguran dalam waktu yang belum terlalu lama, ini bisa menyebabkan kehamilannya yang sekarang juga memiliki resiko yang sama.”
Kyuhyun kehilangan organ vitalnya yang bernama paru – paru. Kenapa dia tidak bisa bernapas sekarang?
“Lalu?” Tanya Kyuhyun dengan suara yang hanya sampai di tenggorokan.
“Kita harus melakukan pemeriksaan menyeluruh di rumah sakit. Silahkan meluangkan waktu anda dan Nona Kim Ra. Sesegera mungkin lebih baik.”
“Apa mereka bisa bertahan?” Kyuhyun berbicara dengan nada mengancam. Menutupi harapan yang besar dalam suaranya.
“Selalu ada jalan, Tuan Cho. Tapi untuk sekarang, saya sarankan agar Nona Kim Ra benar – benar istirahat total. Jangan melakukan pekerjaan berat atau menjalani kegiatan bisa membuat kelelahan. Nona harus menjaga pola makan dan meminum vitamin untuk kehamilan.”
“Kau dengar itu?” Tegas. Kyuhyun menyentak istrinya yang keras kepala.
Kim Ra mengangguk pelan. Menunduk. Mengamati tangan besar Kyuhyun yang menyelimuti tangannya.
Tangan ayah dari bayinya.
Dokter Park dan dua assistant-nya pergi dari kamar Kyuhyun. Meninggalkan neraka itu untuk Kim Ra sendiri. Tanpa perlindungan. Kyuhyun masih berdiri. Kim Ra masih berbaring. Tangan mereka masih saling bertaut.
Kim Ra menanyai dirinya sendiri.
‘Kalau dia ingin aborsi, aku harus apa? Bunuh diri? Tapi Tuhan, aku takut mati.’
“Dengar!” Kyuhyun menekan keras rahangnya.
“Kyuhyun, jangan…” Kim Ra menggeleng cepat. Menangis? Sudah dari tadi.
“Dengarkan aku!” Terdiam sesaat, memejamkan mata 5 detik. “Kita akan lihat, apakah kau bisa melahirkannya atau tidak. Seberapa jauh kau dan dia bisa bertahan. Tapi kalau sebelum dia lahir, satu dari kalian tidak bisa bertahan atau bahkan kalian berdua tidak selamat.” Jeda. Napas Kyuhyun memburu.
“Apa?”
“Percaya padaku! Aku punya banyak cara untuk menyusul kalian.”
APA??????
“Kyuhyun…”
“Ibumu? Dimana ibumu?” Pertanyaan Kyuhyun yang mengalihkan pembicaraan membuat Kim Ra menelan ludah kasar.
“Di rumah, mungkin.”
“Dia tahu kau pergi?” Kim Ra menggeleng. “Dia tahu kau hamil?” Kim Ra menggeleng lagi. “Apa yang kalian lakukan seharian ini?”
Kim Ra berusaha menarik pelan tangannya yang sedang di genggam Kyuhyun. Dia ingin mengelap air matanya. Nah! Alih – alih melepaskan tangan Kim Ra, yang gadis itu dapati adalah Kyuhyun yang semakin mencengkeram tangannya dan melotot padanya.
Mereka akan berbicara dengan tangan bertaut. Kyuhyun menghendaki itu.
“Aku mengantar Eomma ke rumah sakit. Tadinya aku berniat untuk mendonorkan darahku. Tapi aku tidak bisa melakukan tranfusi, karena menurut hasil laboratorium aku dinyatakan hamil.” Kim Ra berbisik takut. Menjelaskan dengan kepala menunduk.
Kyuhyun mengerutkan kening.
“Tidak ke Cafe?”
“Tidak.” Kim Ra menggeleng. “Setelah aku tahu, aku hamil. Aku langsung pulang.”
Ok, Kim Ra tidak melihat pertemuan Kyuhyun dengan Seohyun. Menimbang sebentar, Kyuhyun menghela napas. Dia akan bicara pada Kim Ra tentang pertemuannya. Tapi tidak sekarang.
“Dan aku lupa memaki doktermu karena kecerobohannya.”
Kecerobohan? Oh ya, Kim Ra ingin menggali kuburnya sendiri sekarang. Dikubur hidup – hidup lebih baik dari pada membahas tentang kecerobohan.
“Bukan dokter Park yang salah…” Kim Ra mengaku.
“Maksudmu?”
“Pertemuan kami untuk berdiskusi dan belum.. ada tindakan.” Kim Ra berbisik sangat lirih.
Jadi?
Kyuhyun melepaskan tangan Kim Ra. Melepaskan persatuan tangan mereka.
Tangan Kim Ra jatuh di tempat tidur. Kim Ra terkejut. Dia mendongak untuk melihat Kyuhyun. Kemarahan melakukan pertemuan di mata pria itu. Hati Kim Ra mencelos. Tiba – tiba sakit. Kyuhyun melepaskan tangannya.
Dengan gerakan lebih dari cepat, Kim Ra bangun dari tidurnya dan menggenggam tangan Kyuhyun. Baru saja kata maaf ingin terucap dari bibirnya, tapi gagal. Kyuhyun menyentak tangannya. Oh Tuhan! Jangan sampai Kyuhyun menyesal karena telah merobek surat cerai mereka.
“Kau selalu diluar dugaan.” Desis Kyuhyun.
“Aku tahu.” Kim Ra pasrah. Tak apa kalau Kyuhyun akan menamparnya.
Cup!
Kyuhyun mendaratkan sebuah ciuman di bibir Kim Ra. Melumat dan mengigit. Terasa sakit. Kim Ra meringis di dalam mulut Kyuhyun.
“Hukuman untuk kecerobohanmu. Sekarang aku ingin kau tidur. Tidur!”
                               -000-
Sejak malam itu, hubungan Kim Ra dan Kyuhyun membaik. Kyuhyun menerima bayi mereka seiring dengan sikap protektif dan perhatian yang luar biasa, meskipun melibatkan bentakan, mata yang melotot dan rahang yang mengeras.
Masih Cho Kyuhyun.
Jangan melakukan apapun! Jangan pergi ke dapur! Jangan turun ke bawah kalau itu bukan untuk hal yang penting! Jangan terlalu banyak berpikir! Kalimat itu yang selalu di ulang Kyuhyun di pagi hari. Seperti kaset rusak. Kim Ra bahkan bisa mengatakan apa yang dikatakan Kyuhyun secara bersamaan dalam hatinya. Kim Ra sudah hafal di luar kepala.
“Apa yang kau inginkan dariku?” Tanya Kyuhyun pagi ini.
“Apa?”
“Yang kau inginkan dariku, agar kau tidak memikirkan hal yang tidak – tidak.”
“Ada beberapa.”
“Katakan!”
“Hmm..” Kim Ra memutar matanya. Berpikir. “Jangan bertemu dengan mantan calon istrimu! Jangan bicara dengannya! Jangan menelepon dia! Jangan membalas pesannya!”
“Semua tentang Seohyun?”
“Jangan. Menyebut. Namanya!” Penuh penekanan.
“Oke.” Kyuhyun mengangkat tangan. Menyerah. “Ada lagi?”
“Jangan pulang malam! Jangan selalu marah – marah padaku!”
“Aku tidak akan pulang malam. Masalah marah, itu akan melihat kondisi.”
“Kondisi?”
“Bukan Kondisiku. Tapi kondisimu. Kau yang selalu membuatku marah. Tidak sadar?”
Kim Ra merengut.
“Jangan melanggar aturanku! Kau tahu ini untuk siapa.”
“Ya, Tuan Cho.” Kim Ra mengembungkan pipinya besar.
                              -000-
Sementara itu, di tempat lain. Di sebuah taman kota yang cukup ramai. Dua orang pria sedang duduk di sebuah bangku panjang. Menikmati pagi. Satu di antara mereka mengenakan pakaian olah raga. Mereka berbincang – bincang.
“Dia datang padaku belum lama ini. Aku terkejut kau mengenalnya.” Kata seorang pria dangan segelas kopi di tangannya.
“Aku memang mengenalnya. Aku lebih terkejut karena dia juga mengenalmu, Hyung.” Kata pria yang memakai pakaian olah raga. Lee Donghae.
“Dia datang untuk suamianya. Aku yakin kau mengenalnya juga.”
“Cho Kyuhyun.”
“Ya.”
“Apa masalahnya?”
“Sepertimu.”
“Jadi dia sepertiku juga?” Suara Donghae hampir tertelan di tenggorokan. Terkejut yang ia coba tutupi.
“Kau tidak tahu?” Heechul mengamati ekspresi Donghae. Pria di sampingnya itu menggeleng. “Tidak separah dirimu. Dia masih bisa tertolong.”
“Kau akan menolongnya?”
“Itu tugasku donghae-ya.” Heechul tersenyum. “Dan kau masih menguntit wanita itu?”
“Terakhir kali aku melihat, dia bersama Kyuhyun di sebuah cafe.”
“Kyuhyun? Apa yang mereka lakukan?”
“Entahlah.” Donghae mengendikkan bahu. “Mungkin kencan singkat di belakang istrinya.” Donghae tersenyum sinis.
“Aku yakin Kim Ra tidak tahu.” Sahut Heechul dengan jail.
“Cho Kyuhyun memang selalu beruntung. Dan menjadi tugasku untuk memberi tahu Kim Ra.” Satu rasa bisa dirasakan Heechul dari kalimat Donghae. Kesedihan.
“Kau iri pada keberuntungannya.” Heechul meletakkan kopinya. Donghae mengendikkan bahu. “Lalu apa yang akan kau lakukan?”
“Sesuatu yang ingin dan memang seharusnya aku lakukan sedari dulu. Ini sudah tiba waktunya.”
                        !          -000-
Jam delapan malam. Kyuhyun sudah telat satu jam. Sejak Kim Ra hamil bayi kedua mereka, Kyuhyun selalu pulang sebelum jam tujuh malam. Tapi hari ini Kyuhyun terlambat. Kim Ra yang biasanya selalu menunggu Kyuhyun dengan duduk manis di kamarnya, kini dengan langkah kesal menuruni tangga. Berjalan menuju ruang tamu. Melewati Han Ahjumma yang terlihat sedang sibuk di dapur.
“Nona, mau kemana?” Sapa Han Ahjumma.
“Oh?” Kim Ra menggeleng – geleng pelan. Dia juga tidak tahu akan kemana. Merubah haluan langkahnya, Kim Ra berjalan mendekati Han Ahjumma. Melanggar satu peraturan: Jangan pergi ke dapur! Kim Ra mengabaikan bayangan Kyuhyun yang sedang marah – marah di atas kepalanya.
“Ahjumma, ada yang bisa aku bantu?”
“Tidak, Nona. Jangan! Kembalilah ke kamarnu, sebelum Tuan muda pulang.”
“Tenang, Ahjumma. Dia tidak akan marah. Dia sudah tidak peduli lagi padaku sekarang.” Kim Ra mengerucutkan bibirnya kesal.
“Siapa yang tidak akan marah? Dan siapa yang tidak peduli?” Kyuhyun. Kim Ra menoleh cepat.
Kyuhyun sudah berada di ruangan yang sama dengannya.
“Aku kira kau tidak pulang.” Kim Ra memperjelas hawa permusuhan di antara mereka.
Kyuhyun melepas dasinya sambil berjalan cepat ke arah Kim Ra. Dan saat itu, semakin dekat Kim Ra dengan Kyuhyun, Kim Ra mendapatkan beberapa hal ganjil dari prianya. Kim Ra mencium aroma lain dari tubuh Kyuhyun. Wangi yang manis. Parfum perempuan. Kim Ra meneliti lagi. Bang! Hatinya tertembak saat melihat noda merah yang pudar di sekitar kerah dan bahu Kyuhyun. Kim Ra mengenali noda itu. Blush on. Sejak kapan pria memakai blush on?
Kyuhyun berpelukan dengan siapa?
“Apa yang kau lakukan disini?” Kyuhyun memarahi Kim Ra.
“Apa yang kau lakukan di luar sana?” Kim Ra balas memarahi Kyuhyun.
“Kau di dapur. Di mana banyak hal yang membahayakanmu di sini.” Suara Kyuhyun mulai tinggi.
“Dan kau terlambat satu jam lebih. Pulang dengan parfum wanita di tubuhmu dan noda blush on di kemejamu. Aku tidak tahu dengan siapa kau bermain dan sekarang kau berdiri di depanku. Berteriak padaku. Kau benar – benar tukang selingkuh yang paling jahat!” Kim Ra berteriak.
“Apa yang kau bicarakan?” Kyuhyun memiringkan kepalanya. Bingung.
“Aku membicarakan seorang suami hidung belang yang kesenangannya adalah mencari pelampiasan saat istrinya tidak bisa melayani kebutuhannya.” Kim Ra memukul keras dada kyuhyun, kemudian berlari menjauh.
Gadis dengan bayimu di dalam perutnya itu berlari, Kyuhyun!
“Jangan lari! Jalan saja. Aku tidak mengejarmu.” Kyuhyun berteriak mengingatkan. Gadis itu menghentikan larinya, kemudian berjalan pelan – pelan menuju kamar tanpa menoleh pada Kyuhyun lagi.
Kim Ra sudah menghilang dari pandangan. Kini Kyuhyun diam menganga saat mengingat lagi kalimat panjang Kim Ra. Kemudian menoleh ke asal suara cekikikan di belakangnya. Yesung sedang bahagia sekali melihat Kyuhyun dan Kim Ra bertengkar. Hiburan yang menyenangkan untuk di tonton secara Live.
Han Ahjumma berjalan ke arah Kyuhyun. Wanita itu ingin membuktikan juga kebenaran yang dikatakan Kim Ra. Kyuhyun menaikkan satu alisnya saat Han Ahjumma yang ada di dekatnya mulai mengendus udara di sekitar tubuh Kyuhyun. Han Ahjumma melihat juga bekas merah muda yang memudar itu.
“Anda bersama Nyonya?” Menyelesaikan penelitiannya. Han Ahjumma menatap Kyuhyun penuh arti.
“Dan istriku baru saja meneriakiku tukang selingkuh…”
“Yang paling jahat!” Yesung memotong kalimat Kyuhyun dengan seringai di wajahnya.
“Tutup mulutmu, sialan!” Umpat Kyuhyun.
Meninggalkan Han Ahjumma dan Yesung yang sedang menikmati penderitaannya, Kyuhyun berjalan menuju kamar. Langkah demi langkah, dia lewati dengan rasa nyaris frustasi. Menghadapi Kim Ra yang sedang hamil, berkali lipat lebih merepotkan dari pada Kim Ra yang berseragam.
Membuka kamar pelan, yang Kyuhyun lihat adalah Kim Ra yang berbaring memunggunginya di tempat tidur dengan memeluk guling. Menangis sesenggukan. Kyuhyun mendekat dengan gemas dan kesal yang ia rasakan bersamaan. Berdiri di belakang Kim Ra, yang pertama Kyuhyun sentuh adalah pantat bulat gadis itu. Meremas sedikit kuat.
Hey, tukang selingkuh! Apa tidak ada tempat lain?
“Jangan sentuh!” Kim Ra menepis tangan Kyuhyun kasar.
“Apa yang tidak boleh disentuh?” Dengan gerakan tiba  – tiba, Kyuhyun sudah berbaring di depan Kim Ra. Menghadap istrinya itu.
Kyuhyun memeluk pinggang Kim Ra. Menempatkan tangan kanannya untuk menopang kepalanya sendiri. Sedangkan tangan kirinya sudah sampai lagi di pantat bulat Kim Ra. Mengelus. Membuat gerakan melingkar. Kim Ra memberontak dalam pelukan Kyuhyun.
“Aku tidak tahu kalau seorang pria bisa menjadi tukang selingkuh yang paling jahat hanya karena bertemu dengan ibunya.” Kata Kyuhyun dengan santai. Gerakan Kim Ra berhenti mendadak. Mata bulatnya memandang Kyuhyun yang tersenyum setengah.
“Kau…”
“Aku bertemu Eomma. Aku akan menelponnya nanti. Bilang padanya kalau mulai saat ini, dia tidak bisa lagi memeluk dan mencium pipiku. Istriku sedang berada dalam masa darurat. Emosi yang menjengkelkan. Itu membuatku harus sangat waspada.”
“Itu … Eomonim?”
“Aku bertemu dengannya di kantor. Dia yang menahanku sampai aku terlambat dari jadwal pulang yang di tetapkan istriku.”
“Aku tidak tahu kalau kau bertemu Eomonim.” Kim Ra mengelap air matanya. Merona malu.
“Belajarlah untuk bertanya! Istri. Yang. Penuh. Aturan.” Kyuhyun mengeja setiap kata. Menyindir.
“Aku belajar darimu.” Kim Ra merengut. “Lagipula tidak biasa – biasanya dia memeluk dan mencium pipimu. Atau jangan – jangan itu ibu yang lain?” Kim Ra-mu masih curiga, Kyuhyun.
“Itu Eomma. Tentu saja dia bisa melakukan itu saat dia tahu, putra tunggalnya akan menjadi seorang ayah.” Terdengar nada bangga dan sombong dari suara Kyuhyun.
“Eomonim tahu?” Kim Ra menyingkirkan guling yang tadi di peluknya. Kyuhyun mengangguk.
“Jadi itu yang kau pikirkan?”
“Tentang?”
“Aku.”
“Kau?”
“Suami hidung belang dan kesenanganku adalah mencari pelampiasan saat istriku tidak bisa melayani kebutuhanku.” Kyuhyun mengulang makian Kim Ra.
Gadis itu menganga. Oh! Kata – kata kasarnya pada Kyuhyun. Kim Ra bahkan tidak sadar sudah mengatakan itu pada Kyuhyun tadi. Kim Ra membahas tentang kebiasaan Kyuhyun dulu. Semua karena emosi dan mulut kurang ajar yang tidak bisa di kendalikan. Kim Ra melihat dengan jelas kesedihan Kyuhyun. Pria itu tersinggung.
Kim Ra memeluk leher Kyuhyun. Menenggelamkan wajahnya di dada suaminya.
“Maaf.. maaf..”
“Aku berhenti dari itu semua.” Kyuhyun membalas pelukan Kim Ra.
“Aku tahu. Aku minta maaf.”
“Angkat kepalamu! Aku ingin menciummu.”
Nah, kan!
                                  -000- 
Hari minggu yang cerah. Setelah sarapan, Kyuhyun menonton Kim Ra yang sedang membaca buku novelnya. Mereka duduk berseberangan di ruang keluarga. Kim Ra duduk di sebelah Yesung yang sedang sibuk dengan ponselnya. Larut dalam salah satu aplikasi media sosial. Memotret segelas jus strawberry yang ada di meja.
“Have a nice day with a glass of strawberry juice.” Yesung mendikte tangannya yang sedang mengetik pada layar ponselnya. “Bagaimana yaa tulisan Strawberry dalam bahasa inggris?” Yesung berpikir sebentar lalu mengetik lagi. Melirik Kim Ra yang ada di sampingnya sekilas. Mengetik lagi. “And… beautiful fairy.”
Kyuhyun mendengus. Sejak kapan Kim Ra jadi peri cantik –Yesung?
“Dasar pria jahat!” Teriak Kim Ra tiba – tiba.
“Siapa?” Yesung menggumam.
“Tokoh pria di sini.” Kim Ra menunjuk bukunya. “Judulnya, noKYUphobia. Prianya jahat, galak, suka berteriak, pemarah, kasar dan banyak aturan.” Kim Ra menyebutkan satu per satu penuh penekanan. Melirik Kyuhyun sesekali.
Ah! Yesung mengerti kemana arah mata Kim Ra. Dengan senang hati Yesung merapatkan duduknya dengan peri cantik. Menanggapi pembicaraan Kim Ra dengan antusias. Ini akan jadi sangat menarik. Apa yang bisa Kyuhyun lakukan pada istrinya yang sedang hamil?
“Apa yang dilakukan pria itu?” Yesung bertanya.
“Dia memperlakukan wanita sesuka hati. Memacari seorang aktris yang masih berusia 22 tahun tapi masih berhubungan dengan wanita jalang akhir pekannya. Alasannya karena dia mempunyai kebutuhan sebagai pria dewasa dan dia tidak mau menyentuh pacarnya. Hanya karena pacar gadisnya itu masih perawan.” Penjelasan Kim Ra menggebu.
“Oh? Brengsek sekali pria itu.” Yesung menyiram minyak di tengah kebakaran. Kyuhyun yang mulai tersinggung, menyipitkan matanya.
“Memang brengsek. Pria ini mempunyai kehidupan yang bebas. Dia tidak pernah berhubungan serius dengan wanita. Bermasalah dengan komitmen. Jadi dia egois karena memacari seorang aktris muda perawan itu tanpa ada rencana masa depan. Seharusnya dia dengan pelacur saja sampai mati.”
“Kau benar. Pria yang bermasalah dan tetap egois dengan menginginkan wanita di sampingnya. Dia pasti tidak sadar keegoisannya itu melukai wanitanya. Yaa, kebanyakan pria kaya raya itu memang brengsek.” Penuh penekanan. Yesung terdengar seperti mencurahkan isi hati.
Untuk pertama kalinya, Kyuhyun ingin menyumpal mulut Yesung dengan blender jus strawberry-nya.
“Dan ternyata, pria ini dulunya menyukai seorang wanita. Tapi wanita itu adalah kekasih sahabatnya sendiri. Dan Oppa tahu? Pria egois ini memacari aktris muda perawan itu hanya karena wajahnya mirip dengan wanita yang di sukainya di masa lalu. Aktris muda perawan itu hanya dijadikan boneka pengganti. Itu jahat sekali. Mereka putus di bab 7. Keterlaluan sekali bukan?”
“Ya Tuhan, semoga tidak ada pria kejam seperti itu di dunia ini.” Yesung memasang ekspresi ngeri. Memeluk dirinya sendiri. Tersenyum sinis pada Kyuhyun.
“Sudah selesai membahas pria kejam, egois, kasar, pemarah dan banyak aturan itu?” Kyuhyun sudah tidak tahan. Apalagi selanjutnya? Apa dia akan mendengar pria dalam novel itu meminta pacarnya untuk aborsi? Seperti dirinya?
Sialan!
“Tapi pria ini benar – benar menyebalkan.” Kim Ra masih terbawa emosi.
“Berniat menulis buku Nona? Kau punya bahan yang bagus. Kau punya suami yang menyebalkan juga.” Yesung serius.
“Wow! Ide yang bagus. Tapi aku punya pertanyaan untuk memulai ceritaku.” Kim Ra menutup buku novelnya. Menatap Kyuhyun. “Kenapa kau mencintaiku?”
Hah?
“Karena kau istriku.” Masih terkejut. Tapi Kyuhyun menemukan jawaban spontan di otaknya.
“Kenapa kau mencintaiku?” Kim Ra mengulang pertanyaannya. “Karena apa?”
Hening.
“Buahahahhahahahha…” Tawa Yesung menggelegar. Dia tahu kemana arah pertanyaan Kim Ra.
Mendengar tawa Yesung, Kyuhyun jadi mengerti apa yang dimaksud Kim Ra. Alasan dia mencintai Kim Ra. Ini berhubungan erat dengan kisah masa lalunya yang sangat lama. Menyangkut masa kecil Kim Ra. Dan… celana dalam gadis itu. Yesung mulutmu!
Kyuhyun mendengus kesal. Biasanya dia selalu menikmati saat – saat mereka berkumpul bertiga. Karena saat itu, biasanya Kyuhyun dan Kim Ra akan berkerja sama untuk mem-bully Yesung. Tapi, sekarang Kyuhyun benci kebersamaan mereka saat Kim Ra menghianatinya dan berkoalisi dengan Yesung untuk melawannya. Dua mulut kurang aja dan tanpa ‘handle’ bersatu. Kyuhyun yang hanya suka membentak, bisa apa?
“Yesung Oppa bilang kau menyukaiku karena melihat celanaku saat aku terjatuh.” Kim Ra. Nadanya menuduh bukan main.
Oh?
Kyuhyun memiringkan kepalanya ke kiri. Terlihat bingung. Melihat celana dalam Kim Ra saat gadis itu terjatuh? Kapan? Kyuhyun melihat Yesung yang tiba – tiba tertarik dengan hiasan lampu ruang keluarganya. Ya, Kyuhyun paham. Yesung mengarang cerita.
Mengambil napas lega, Kyuhyun menyandarkan dirinya pada sofa. Karangan cerita yang tidak terlalu buruk. Kim Ra tidak tahu kalau yang terjadi sebenarnya bukan seperti itu. Kyuhyun mengingat lagi kesan pertama yang tidak pernah terlupakan itu.
Saat itu Kyuhyun remaja mengerjakan tugas kelompok di rumah Siwon. Saat Siwon, Yesung, dan dua teman lainnya terlihat sibuk dengan tugas mereka. Kyuhyun malah serius mengintip seorang gadis dari balik bukunya. Seorang gadis yang sedang bermain ayunan di taman belakang. Setiap ayunannya meninggi di depan, rok gadis itu terangkat dan memperlihatkan apa yang seharusnya ditutupi. Kyuhyun melihatnya.
Kyuhyun tersenyum mesum pada ingatannya. Dan sekarang Kim Ra mengetahui cerita yang berbeda. Ini pertolongan baginya. Terjatuh itu bukan kesengajaan. Bukan salahnya. Kim Ra tidak akan tahu betapa mesumnya Kyuhyun pada Kim Ra bahkan saat pria itu masih remaja.
“Apa kalau kau tersandung itu menjadi salahku? Apa kau yang memakai rok itu salahku? Apa kau yang terjatuh di depanku dan memamerkan celana dalam bergambar bebek kuning itu salahku juga?”
Celana dalam bergambar bebek kuning.
“Kau benar – benar melihatnya? Seharusnya kau menutup matamu!” Kim Ra berteriak kesal.
“Kau meminta Kyuhyun menutup mata? Yang aku lihat waktu itu, Kyuhyun malah membuka matanya lebar!” Yesung mulai lagi. Kim Ra melempar buku novelnya ke arah Kyuhyun.
Kyuhyun menangkap buku yang nyaris mengenai kepalanya. Melupakan wajah kesal Kim Ra yang menggemaskan dan suara tawa Yesung yang menyebalkan, Kyuhyun mengamati buku yang ada di tangannya. Berjudul noKYUpobhia, ditulis oleh Dirakimra. Kyuhyun membalik buku, membaca sinopsis yang tertulis di belakang. Dia mengumpat.
“Sialan sekali penulis ini.” Kyuhyun melempar buku ke atas meja. Tersinggung karena karakter tokoh prianya sama dengan sifatnya.
“Sialan kenapa? Buku itu bagus. Aku belum selesai membaca dan aku berharap setelah mereka putus, aktris muda perawan itu menjalin hubungan saja dengan Bodyguard-nya.” Kim Ra membela.
“Bodyguard?” Yesung mengambil buku dari meja. Lama – lama dia penasaran juga.
“Iya. Jadi karena Pria egois, kasar, pemarah dan banyak aturan itu terlalu protektif, dia sampai memerintahkan seorang Bodyguard untuk menjaga keselamatan aktris muda perawan itu.”
Tiba – tiba tanpa alasan yang jelas, Yesung merasa iri. Akan sangat keren menjadi Bodyguard. Tapi disini dia hanya seorang supir. Hatinya memaki Kyuhyun keras – keras.
“Bagaimana penggambaran Bodyguard itu?”
“Tampan, dewasa, romantis, perhatian, baik, lucu, banyak bicara, kadang aneh, konyol, dan pada waktu tertentu bisa menjadi pria yang sangat bodoh.” Saat menggambarkan karakter ‘Bodyguard’ Kim Ra mengalami perubahan ekspresi. Dari senyum riang menjadi cemberut. “Tapi kasihan, terkadang dia di-bully oleh majikannya.”
“Benar kataku! Kebanyakan orang kara raya itu pasti menjengkelkan. Aku tidak suka cerita ini.” Yesung merengut. Tersinggung. Melempar buku ke atas meja dengan kasar.
Kyuhyun tertawa sinis dibarengi suara bel yang berbunyi. Ada tamu yang datang.
                                 -000-
Han Ahjumma berjalan pelan menuju pintu utama dengan kegelian yang tersisa di senyumnya. Ia diam – diam mendengar ocehan konyol tiga majikannya. Suara pintu terbuka. Han Ahjumma, datang kembali ke ruang keluarga. Menghadap Kyuhyun.
“Tuan muda, Nona Seohyun ada disini.” Han Ahjumma melapor.
Apa?
Kyuhyun langsung melihat Kim Ra. Bukan hanya terkejut, ekspresi marah, kesal dan benci dapat dia lihat dengan jelas dari wajah istrinya. Kyuhyun hanya diam beberapa saat. Sampai Kim Ra menoleh padanya. Gadis itu penasaran, kenapa Kyuhyun hanya diam saja.
“Kau ingin aku menemuinya?” Tanya Kyuhyun.
“Tidak.” Kim Ra menegaskan.
“Yesung akan bicara dengannya. Kita kembali ke kamar.” Kyuhyun bersiap bangun dan memakai sendalnya.
Yesung menganga.
‘Kenapa aku? Apa aku terlihat seperti pasukan perang terdepan?’ Seandainya Yesung punya uang lebih banyak dari Kyuhyun, kalimat itu pasti keluar dengan suara.
“Aku ingin menemuinya.” Kim Ra menyela.
“Bukan ide yang bagus.” Kyuhyun menolak.
“Aku akan menjaganya.” Yesung membela Kim Ra. Ahh, namanya juga pasukan perang terdepan.
“Kau yang akan aku bunuh, kalau sesuatu terjadi pada Peri. Cantik. Ku.” Kyuhyun menyidir kepemilikannya.
Kepala Kim Ra membesar tiba – tiba. Kyuhyun memanggilnya peri cantik?
“Aku akan mati di tanganmu dengan hati yang bahagia, Sajangnim.” Yesung berbicara sinis. “Ayo!” Mengulurkan tangan pada Kim Ra, Yesung menggandeng gadis itu bersamanya.
“Aku ingin bertemu dengan Oppa.” Seohyun berbicara lembut saat yang muncul di hadapannya bukan Kyuhyun.
“Oppa-mu sedang dikurung di kamar oleh istrinya.” Yesung menuntun Kim Ra duduk. Jauh dari Seohyun. “Apa yang membuatmu datang kemari?”
“Oppa bukan pria yang bisa diatur. Sejak kapan dia menjadi penurut pada istri yang sudah berkali – kali dihianatinya.”
“Sejak aku mengandung anaknya.” Jawab Kim Ra cepat.
“Apa?” Seohyun nyaris berteriak. “Dasar wanita licik. Kau menggunakan kehamilanmu untuk mengikat Oppa. Kau benar – benar egois. Kau kira Oppa siap menerima anakmu?”
“Dia menerimanya.” Kim Ra ikut berteriak juga.
“Kau tidak tahu hatinya. Untuk orang – orang seperti kami, yang paling ditakuti adalah anak. Oppa pernah bilang padaku, dia tidak ingin anak.”
“Apa maksudmu?” Suara yang berat dan serak menengahi pertengkaran Kim Ra dan Seohyun. Madam Young.
“Halmoni.” Seohyun menyapa hangat. Madam Young datang dengan ibu Kyuhyun, Hana.
“Apa yang kau bicarakan? Anak?” Tanya Madam Young lagi.
“Eomeoni, ini adalah kenapa aku membawamu kemari. Karena aku ingin Eomoni bertemu dengan Kim Ra. Dia sedang hamil, Eomoni.” Jelas Ibu Kyuhyun pelan. Memcoba menenangkan.
“Hamil?” Madam Young terkejut. Mendekati Kim Ra. Membuat gadis itu berdiri dari duduknya.
“Halmoni…” Seohyun berbicara lagi. “Dia menjadikan kehamilannya untuk mengikat Oppa. Agar Oppa tidak pergi darinya.”
“Itu tidak benar.” Kim Ra berkata lirih.
“Itu benar. Oppa tidak pernah menginginkan anak. Kau seharusnya sadar, kehamilanmu itu salah dan tidak diinginkan.”
“Jaga bicaramu!” Kim Ra berteriak keras.
PLAK!
Kim Ra terperanjat. Tubuhnya menegang dan kakinya melemas seketika. Yesung merangsek mendekat. Merangkul Kim Ra. Madam Young mengepalkan tangannya yang baru saja ia gunakan untuk menampar. Sedangkan Seohyun, mengelus pipinya yang terasa panas.
“Halmoni…” Seohyun terkejut. Kenapa Madam Young menamparnya?
“Tutup mulutmu! Anak keturunanku bukan kesalahan. Tidak ada satupun darah daging keluargaku yang menjadi kesalahan. Ingat itu dan menjauhlah dari cucuku! Aku benar – benar salah menilaimu.” Madam Young berbicara lantang pada Seohyun.
“Halmoni, aku tidak bermaksud…”
“Tujuanku menjodohkan cucuku denganmu karena aku pikir gadis ini tidak bisa mengandung. Mereka sudah menikah satu tahun lebih. Karena itu aku ingin kau mengandung anak Kyuhyun. Keturunan adalah tujuanku.”
“Aku.. Aku..” Seohyun tergagap.
Hanya Tuhan dan Han Ahjumma yang tahu, Kyuhyun sudah ada di balik dinding pembatas. Menyaksikan semuanya.
“Hana, aku ingin pulang.” Madam Young berbalik pada Ibu Kyuhyun.
“Halmoni..” Kyuhyun muncul dari persembunyiannya. Melangkah maju mendekati Madam Young. Memeluk wanita tua itu. “Aku dan istriku akan datang menemuimu.”
“Kunjungi aku setelah anakmu lahir.” Madam Young melepaskan diri dari Kyuhyun. Menatap Kim Ra. “Dan kau! Jaga anak cucuku dengan baik, atau aku akan menghadirkan Seohyun yang lain untuk Kyuhyun. Aku pergi.”
Madam Young keluar dari rumah, Hana memeluk Kyuhyun sebentar.
“Jangan menciumku! Istriku sangat pecemburu.” Kyuhyun menggoda. Hana menepuk dada Kyuhyun.
“Berkunjunglah ke rumah, aku ingin mengobrol banyak denganmu. Semoga kau dan bayimu selalu sehat.” Hana berbicara dengan Kim Ra sedikit terburu. Setelah melambaikan tangan, Hana menyusul Madam Young keluar.
“Jadi, Seohyun. Kau ingin keluar dari sini dengan kakimu sendiri atau aku gendong?” Lalu aku lempar kau ke sungai. Yesung selalu punya kalimat terpendam dalam hati.
Mengabaikan Seohyun sepenuhnya, Kyuhyun berjalan mendekati kim Ra.
“Oppa…” Suara Seohyun memanggil. Mencekal tangan Kyuhyun. “Orang tuaku akan mengirimku ke Los Angeles.” Kyuhyun menoleh ke arah Seohyun. “Itu karena mereka tahu tentang aku.”
Mata Kim Ra terpaku pada tangan Seohyun yang menyentuh kulit Kyuhyun. Dia sesak.
“Tolong yakinkan mereka agar aku tetap disini.” Mohon Seohyun. Kyuhyun melepas tangan Seohyun.
“Kalau begitu selamat tinggal.” Kyuhyun langsung mengangkat Kim Ra ke dalam gendongannya. Bridal style. Membawa gadis itu masuk ke dalam. Bukan hanya Seohyun, Kim Ra juga terkejut bukan main dengan aksi tiba – tiba Kyuhyun.
                             -000-
Di kamarnya, Kim Ra turun dari gendongan Kyuhyun tanpa mengeluarkan suara. Dia bungkam. Masih memikirkan beberapa perkataan Seohyun. Kyuhyun tidak menginginkan anak. Kyuhyun membicarakan masalah itu dengan Seohyun. Tapi tidak dengannya. Kim Ra tidak tahu apa – apa. Ditambah sentuhan mantan –calon istrinya itu.
“Kau kenapa?” Tanya Kyuhyun.
“Aku pusing. Aku ingin tidur.” Jawab Kim Ra ketus.
“Aku akan memanggil dokter Park.”
“Tidak. Tidak perlu. Aku hanya ingin tidur.” Suara Kim Ra terdengar aneh di telinga Kyuhyun. Kesal dan marah.
“Apa yang terjadi?”
“Tidak ada.”
“Apa?”
“Tidak!” Kim Ra membentak.
“Katakan!” Kyuhyun mulai terpancing emosi.
“Aku bilang tidak ada. Jadi tidak ada yang perlu dikatakan. Tolong jangan ganggu aku!” Suara Kim Ra terisak. Dia akan menangis.
“Dan kau hanya akan menyimpannya untuk dirimu. Berpikir sendirian. Dan itu membahayakan dia!” Kyuhyun berteriak juga. “Bicara!”
Kim Ra tersentak dengan teriakan Kyuhyun. Bukannya menjawab, Kim Ra malah naik ke atas ranjangnya dan menarik selimut. Menutupi seluruh tubuhnya. Sehelai rambutpun tidak terlihat. Dia menangis keras. Terdengar sangat menyayat hati.
Kyuhyun mengusap wajahnya kasar. Demi Tuhan, dia kerepotan menghadapi wanita hamil. Kim Ra sangat sensitif. Kyuhyun duduk di pinggir tempat tidur, di samping Kim Ra. Tangannya terulur untuk menepuk pelan bahu gadis itu. Menenangkan. Setelah tangisan Kim Ra sedikit mereda, dengan gerakan perlahan Kyuhyun menarik selimut yang menutupi kepala Kim Ra.
Mengusap wajah cantik yang penuh peluh dan air mata. Mencium puncak kepalanya.
“Maafkan aku. Aku tidak bermaksud membentakmu.”
“Kau jahat.”
“Aku tahu. Aku tahu. Aku memang jahat. Aku hanya tidak ingin kau terlalu banyak berpikir. Bicara padaku!”
“Dia bilang kau tidak ingin anak.” Bisik Kim Ra. Di dalam selimut, tangannya mengusap – usap perutnya yang masih rata.
“Ya.” Kyuhyun menunduk. “Tapi itu dulu. Sebelum aku menikah denganmu. Sebelum aku punya keinginan untuk sembuh. Sebelum aku kehilangan Kim Kyu. Saat keadaanku sangat kacau dulu. Entahlah. Aku hanya tidak yakin dengan anak.”
“Dulu?”
“Dulu. Sekarang aku menginginkannya. Aku benar – benar merasa kehilangan atas kepergian Kim Kyu. Dan aku sangat mengharapkan Gaemgyu lahir. Kau dan dia selamat. Sehat. Aku ingin itu.”
“Gaemgyu?”
“Aku pikir dia laki – laki. Kim Kyu pasti senang sekali dengan adik laki – laki.” Kyuhyun mengendikkan bahunya.
Kim Ra diam sejenak.
“Lalu bagaimana dengan ginjal?”
“Ginjal Seo..” Kyuhyun mendapatkan Kim Ra yang merengut. “Ginjal mantan. Calon. Istriku itu sudah diganti dengan satu perusahaan nenek yang berada di Jeju. Itu sudah impas sejak dulu. Ginjal untuk pernikahanku hanya alasan.”
“Oh ya? Jadi…”
Tok.. Tok.. Tok..
Suara ketukan pintu menginterupsi percakapan Kyuhyun dan Kim Ra. Kyuhyun berdiri dan berjalan menuju pintu. Setelah pintu terbuka, wajah kacau Yesung yang terlihat. Kim Ra melihat Yesung. Kenapa pria itu? Wajahnya jelek sekali. Apa dia jadi menggendong Seohyun?
“Apa?” Kyuhyun bertanya singkat.
“Ada yang mencarimu.” Yesung berkata pelan.
“Siapa?”
Yesung menjawab dengan suara berbisik. Kim Ra hampir tidak bisa mendengar apa – apa. Kyuhyun mengangguk lalu menghadap pada Kim Ra. Berjalan pelan. Mengambil ponselnya dari meja.
“Aku akan ke bawah. Tetap tinggal di kamar. Kau harus istirahat.” Kyuhyun mencium bibir Kim Ra sekilas. Lalu turun menuju leher jenjang gadisnya. Melumat. Membuat beberapa tanda.
“Siapa yang datang?” Mengabaikan pembuatan tanda, Kim Ra bertanya penasaran.
“Bukan siapa – siapa.”
Kyuhyun keluar dari kamar. Kim Ra langsung duduk dari posisi berbaringnya. Siapa yang datang? Yesung dan Kyuhyun terlihat menyembunyikan sesuatu. Kim Ra bangun. Berjalan mondar – mandir. Keluar, tidak. Keluar, tidak. Keluar. Tidak. Keluar.
“Ya. Keluar.” Kim Ra yang keras kepala.
Mengendap – endap menuruni tangga, Kim Ra menyelinap sepelan mungkin ke ruang tamu. Bersembunyi di balik dinding pembatas. Mengintip sekilas. Kim Ra terdiam. Dia bisa melihat dengan jelas siapa tamu Kyuhyun. Dia…
Lee Donghae.
“Apa yang ingin kau katakan?” Tanya Kyuhyun dingin. Waspada.
“Terlalu banyak yang ingin aku katakan.” Donghae terlihat santai.
Donghae tersenyum diam – diam. Bukan pada Kyuhyun. Bukan pada Yesung. Kyuhyun menangkap gerak – gerik Donghae. Melihat pantulan vas kaca yang ada di atas meja, di depannya. Kyuhyun melihat kepala seorang gadis melongok dari balik dinding di belakangnya. Istrinya yang keras kepala.
“Apa yang kau lakukan di situ? Kemari!” Kyuhyun menegur. Kim Ra keluar dari balik dinding dengan senyum kekanakan. “Keras kepala!” Kyuhyun mengulurkan tangannya. Menarik Kim Ra duduk di sampingnya. Rapat. Tak ada celah untuk udara di antara mereka.
“Hai, Kim Ra. Kita bertemu lagi.” Sapa Donghae ramah. Kim Ra tersenyum kaku.
“Berhenti menggoda gadis itu. Dia sudah menikah dan akan menjadi seorang ibu. Jadi, apa yang ingin kau katakan?” Yesung menghancurkan acara tebar pesona Donghae.
Donghae terkejut beberapa saat. Menjadi ibu?
“Oke. Aku tidak menggodanya.” Donghae mengangkat tangannya sesaat. “Hmm… Apa aku mengejutkanmu, kalau aku datang untuk minta maaf?”
Minta maaf? Kyuhyun mengerutkan keningnya.
“Untuk?”
“Jangan pura – pura bodoh!” Donghae mencibir. “Untuk kesalah pahaman kita. Untuk tindakanku yang tidak termaafkan padamu. Untuk kelainanmu dan untuk mengganggu Kim Ra bererapa waktu lalu.”
Tidak ada jawaban dari Kyuhyun, Yesung dan Kim Ra. Mereka diam.
“Karena semua ulahku malam itu dan aku yang menjadi penyebab dari perilaku menyimpangmu. Lalu, aku menemui Kim Ra. Sebenarnya aku tidak berniat menggangu istrimu. Aku hanya ingin tahu, bagaimana kehidupanmu. Aku ingin tahu seberapa bahagia dirimu. Menggoda Kim Ra, aku hanya ingin memastikan apa dia gadis baik untukmu. Kau tahu ‘kan tentang ketampananku yang lebih banyak darimu. Tapi sialannya, istrimu benar – benar setia.”
“Aku tahu.” Kyuhyun menjawab singkat. Yesung melemaskan badannya yang tegang. Oke, Donghae tidak terindikasi mencari keributan.
“Dan untuk kesalah pahaman itu.” Donghae menegakkan duduknya. “Pasang telingamu baik – baik! Aku menyesal karena tahu kebenarannya setelah beberapa hari kau memutuskan persahabatan kita.”
“Bukan aku yang memutuskan. Tapi kau.” Kyuhyun masih waspada.
“Seohyun meninggalkanku bukan karenamu. Aku tidak sadar wanita itu masuk ke kamarku diam – diam, melihat berkasku dan akhirnya dia tahu, aku menderita HIV/AIDS.”
“APA?” Yesung berteriak. Kyuhyun melebarkan mata. Kim Ra menutup mulut dengan tangannya.
Tuhan, apa tidak cukup Sadism dan Macocism? Apa harus AIDS juga?
“Itu alasan dia berpaling dariku.” Donghae masih tetap santai. Mengabaikan ekspresi tiga orang yang ada di depannya. Dia sudah menyiapkan mental selama bertahun – tahun untuk mengatakan ini pada Kyuhyun. “Hidupku sudah sangat berantakan dan tidak tertolong. Tapi walau begitu aku ingin memastikan kalian hidup dengan baik sebelum aku mati. Seumur hidupku, kau, Yesung dan Siwon adalah hal terhebat yang pernah aku miliki. Dan juga Kim Ra yang mau menjadi temanku beberapa bulan lalu. Dia menggemaskan.” Donghae mengedipkan matanya pada Kim Ra.
“Dia menggemaskan untukku juga.” Kyuhyun meremas tangan Kim Ra. Gerakannya terlihat oleh Donghae. “Bagaimana kondisimu?” Kyuhyun mengakui dalam hati. Dia khawatir.
“Beginilah. Aku baik. Aku hanya perlu meminum beberapa butir obat setiap hari, memeriksakan diriku secara rutin, mengecek kalender untuk menghitung berapa lama aku bisa hidup dan berteman dengan psikolog. Ah yaa, Kim Heechul adalah orang yang tepat untuk kau ajak berdiskusi. Dia akan membantumu.”
“HIV/AIDS bukan vonis mati. Perawatan dokter akan membantumu.” Kyuhyun terang – terangan menghawatirkan Donghae.
“Tapi sayangnya terlambat. Aku mengabaikan HIV selama bertahun – tahun. Dan hebatnya, aku pernah dengan wanita penderita HIV juga. Aku tidak peduli karena kami sama – sama penderita. Tapi sialnya, aku resisten terhadap obat anti HIV pasanganku. HIV-ku meningkat menjadi AIDS dan virusnya menyebar cepat.” Donghae terkekeh. Dia seperti sedang berbincang tentang wanita – wanita seksi sekelas SISTAR. Ini menyangkut nyawamu, Lee!
Donghae menutupi detak jantungnya yang berdegup cepat karena ketakutan. Kyuhyun menyadari itu.
“Apa rencanamu setelah ini?” Yesung dengan suara tercekat. Prihatin pada taraf paling parah.
“Tidak ada. Ah, Yesung-ah. Percaya atau tidak, aku benar – benar merindukan perhatianmu ini. Dan… Apa kau masih menyukai Kyuhyun?” Donghae menggoda Yesung.
“Anak keparat!” Yesung melempar Donghae dengan bantal sofa. Menghampiri Donghae dan memukuli si tamu dangan bantal bertubi – tubi. Donghae tertawa lepas. Terlihat bahagia dan riang. Kim Ra menemukan mata Kyuhyun yang berkaca – kaca memperhatikan Donghae.
Kyuhyun merindukan Donghae-nya. Mengasihani sahabat baiknya. Sahabat yang dia hapus dari hidupnya. Yang tiba – tiba datang dengan memamerkan semua penderitaan yang dia alami. Lee Donghae, teman berbagi makan siangnya dulu.
“Aku bisa membantumu.” Kyuhyun berbicara. Berusaha tenang setelah menetralkan matanya yang  berair.
Donghae dan Yesung menghentikan aksi perang bantal.
“Aku pikir kau sudah cukup kerepotan dengan seorang istri sekaligus menanggung hidup pria tua ini.” Bug! Yesung memukul Donghae dengan bantal lagi. “Bukankah anggota keluargamu juga akan bertambah sebentar lagi? Jadi aku berenca untuk merepotkan pengusaha kaya raya di London sana saja.”
“Kau akan menemui Siwon?” Yesun yang bertanya.
“Ya.” Lee Donghae kau harus pergi. Lihat matamu! Kau akan menangis. “Aku pikir aku akan pergi sekarang. Setelah menghadiri pemakaman Mom, aku akan langsung ke London.”
“Pemakaman?” Kyuhyun mengulang kata itu dengan lirih.
“Ya. Mom meninggal kemarin karena kecelakaan. Over dosis saat mengemudi. Sebenarnya aku sudah memutuskan hubunganku dengannya bertahun – tahun lalu. Tapi aku pikir akan sangat keterlaluan kalau aku tidak datang. Aku pernah memakan makanan darinya.”
Tanpa bisa di jelaskan, Kyuhyun merasa tali yang mengikat hatinya kuat selama bertahun – tahun lalu terlepas. Tidak bisa dipungkiri, dia merasa lega. Untuk kematian wanita yang menjadi mimpi buruknya.
“Kau pergi sekarang?” Melihat ekspresi Kyuhyun yang tegang, Yesung mengalihkan pembicaraan. Donghae berdiri.
“Aku akan menemuimu lagi nanti.” Donghae merentangkan tangan dan dibalas pelukan oleh Yesung. “Carilah seorang wanita! Kau pasti bisa.” Bisik Donghae.
“Aku berdoa untukmu juga.” Yesung dengan mata berkaca – kaca melepas Donghae.
“Nah, gadis cantik. Bolehkah aku memelukmu?” Tawar Donghae pada Kim Ra.
Tanpa menoleh atau bertanya pada Kyuhyun, Kim Ra menarik tangannya dari genggaman Suaminya itu. Berdiri dan menghambur kedalam pelukan Donghae. Merasakan hangat tubuh pria itu. Pria yang pernah menjadi gurunya. Pernah menghiburnya. Pernah menjadi temannya.
“Selamat atas kehamilanmu. Tolong, jangan menyerah terhadap Kyuhyun.” Donghae memberikan selamat.
“Terima kasih, Oppa. Tolong, peluklah Kyuhyun. Dia merindukanmu.” Bisik Kim Ra di telinga Donghae.
Melepaskan Kim Ra dari pelukannya, Donghae tersenyum sambil mengusap bahu Kim Ra. Berjalan menghampiri Kyuhyun yang masih duduk tenang di sofanya. Donghae semakin dekat. Yang dilakukan Donghae adalah menendang kaki Kyuhyun.
“Berdiri kau!” Perintah Donghae.
Terakhir yang di lihat Kim Ra adalah Kyuhyun yang berdiri. Setelah itu Kim Ra ditarik oleh Yesung. Pria itu memeluk Kim Ra. Kuat. Meletakkan kepalanya di bahu Kim Ra. Yesung menangis sesenggukan. Kim Ra mengintip dari punggung Yesung. Melihat Kyuhyun yang berpelukan dengan Donghae. Astaga! Mereka berdua juga saling menangis.
Donghae yang lebih pendek, sedikit berjinjit untuk bisa menangis di bahu Kyuhyun.
“Maafkan aku. Maafkan aku.” Serak Donghae di sela tangisnya.
“Aku tahu. Temui aku kapanpun kau membutuhkan aku.” Kyuhyun. Wajahnya sudah basah.
“Aku akan menemuimu lagi kalau aku masih bisa hidup, di hari ulang tahunmu yang ke 29. Tahun depan.” Bisik Donghae dengan terisak. Kyuhyun mengangguk. Mengeratkan pelukannya.
Melihat tiga pria dewasa di depannya menangis keras, Kim Ra ikut menangis juga.
Kyuhyun kehilangan fokus menangisnya di menit ke-4. Saat tanpa sengaja matanya melihat…
YESUNG MEMELUK KIM RA DARI DEPAN! DARI DEPAN! ERAT!
Kyuhyun merencanakan sesuatu yang jahat di otaknya untuk Yesung.
                                         -000-
Malam terasa lebih damai di rumah Kyuhyun setelah Donghae pergi tadi siang. Kim Ra sudah masuk ke kamar setelah makan malam. Kyuhyun dan Yesung sedang bekerja di ruang kerja Kyuhyun. Kim Ra sendirian di dalam kamarnya. Duduk merenungi semua kejadian hari ini. Melihat Kyuhyun tertawa, menggendongnya, marah, membentak dan menangis. Terlalu banyak yang terjadi.
Dan tiba – tiba Kim Ra merindukan Kyuhyun-nya.
Merangkak turun dari tempat tidur, Kim Ra ingin menyusul Kyuhyun di ruang kerjanya. Berjalan pelan keluar kamar. Sampainya di depan ruang kerja Kyuhyun, Gadis itu membuka pintu perlahan. Kyuhyun duduk di kursi besarnya, sedang mengetik sesuatu. Sedangkan Yesung ada di sofa dengan beberapa berkas.
“Belum tidur?” Yesung yang pertama menyadari kehadiaran Kim Ra. Kyuhyun mendongak.
“Belum bisa.” Kim Ra melewati Yesung begitu saja. Kakinya menuju Kyuhyun.
“Membutuhkan sesuatu?” Tanya Kyuhyun dengan alis yang mengkerut.
“Membutuhkanmu.” Kim Ra bicara terang – terangan. Entahlah, Kim Ra tidak merasa malu sama sekali. Melepaskan kaca matanya, Kyuhyun mengamati Kim Ra yang semakin mendekat.
Kim Ra sampai di samping Kyuhyun. Mengabaikan keberadaan Yesung, Kim Ra langsung naik ke atas pangkuan Kyuhyun. Gadis itu memeluk leher Kyuhyun. Mengendus aroma prianya. Kyuhyun menegang saat hidung Kim Ra menyentuh adam apple-nya. Sesuatu telah terjadi pada istrinya. Dia yakin itu.
“Kau baik – baik saja?” Tanya Kyuhyun penasaran. Kim Ra mengangguk.
“Kau menginginkan sesuatu?” Tanya Yesung yang ikut penasaran dengan tingkah Kim Ra.
“Memang kenapa?”
“Biasanya wanita hamil itu mengidam. Menginginkan sesuatu dengan sangat menggebu dan kadang  tidak masuk akal.”
Kim Ra diam sebentar. Berpikir. Matanya tertuju pada meja besar Kyuhyun. Dimana pernah menjadi tempat dia berbaring di bawah kuasa Kyuhyun. Yaa, Lalu?
“Menginginkan sesuatu?” Kyuhyun mengelus pipi Kim Ra. Dia siap di repotkan dengan apapun permintaan Kim Ra.
“Aku ingin itu.” Bisik Kim Ra. Malu – malu.
“Apa?”
“Itu.” Jawaban Kim Ra ambigu, tapi matanya menjelaskan semuanya. Kim Ra melihat kearah pangkal paha Kyuhyun.
“Tidak!” Kyuhyun mengerti kemana arah mata Kim Ra. “Kau keluarlah dulu.” Perintah Kyuhyun pada Yesung.
Setelah merapikan beberapa berkasnya, Yesung keluar dari ruangan dengan mundumal. Selalu saja, dia terusir. Saat Kyuhyun dan Kim Ra berdua saja, Kyuhyun mengangkat Kim Ra untuk duduk di meja kerjanya. Menghadap Kyuhyun.
“Ya? Ya? Ya?” Kim Ra memohon.
“Tidak!” Sentak Kyuhyun.
“Aku ingin merasakannya. Sekarang.”
“Merasakan apa?”
“Milikmu.”
“Jangan berharap! Kau tahu apa akibatnya. Itu berbahaya. Sebaiknya kau tidur.”
“Aku hanya… ingin.” Kalimat Kim Ra tersendat. Gadis itu mulai menangis.
“Hei.. Jangan menangis!” Kyuhyun mulai kebingungan.
“Kau menolakku.”
“Aku tidak ingin menyakitimu.”
“Kau jahat!” Kim Ra turun dari meja, kemudian berjalan terburu keluar dari ruangan Kyuhyun.
Malu dan kecewa menumpuk sesak di benak Kim Ra. Dia sedang ingin. Dia meminta Kyuhyun dan dia ditolak. Kim Ra merasa sangat menyedihkan. Dia tahu itu berbahaya, tapi entah kenapa malam ini perasaan itu menguasainya. Sekarang, Kim Ra berakhir dengan menangis di dalam kamar. Oh tentu saja. Istri –hamil- Kyuhyun yang cengeng.
Kyuhyun yang mengikuti Kim Ra, berhenti di depan pintu kamar. Dia bingung bukan main. Astaga! Ini lebih membuat frustasi dari pada Kim Ra yang mengajukan gugatan cerai. Wanita hamil itu benar – benar! Tersambar petir dari mana dia, sampai menginginkan Kyuhyun?
Kyuhyun berjalan cepat ke lantai bawah. Mencari Yesung. Itulah kenapa Kyuhyun meminta Yesung pindah ke rumahnya. Yesung bisa membantunya mengatasi Kim Ra. Nah, Kyuhyun menemukan pria itu sedang duduk di sofa sambil menonton televisi dengan Han Ahjumma. Memanggku sebungkus snack dalam kemasan yang besar.
“Apa yang harus aku lakukan?” Kyuhyun duduk di samping Yesung. Mengacak – acak rambutnya frustasi.
“Apa yang dia inginkan?”
“Oral.” Satu kata. Singkat. Frontal. Berhasil membuat Yesung menyemburkan snack kentang dari mulutnya.
Yesung terbatuk – batuk. Han Ahjumma memberikan segelas air putih.
“YANG BENAR SAJA?!!” Yesung berteriak setelah kentangnya tertelan.
“Dia bilang ingin merasakan milikku. Jadi aku harus apa?” Kyuhyun mengurut pelipisnya sambil memejamkan mata. “Kau tahu aku tidak bisa berhenti sampai disitu. Dan kau bahkan melihat sendiri yang terakhir aku lakukan padanya.”
“Ingat! Dia sedang hamil, Hyun.”
“Apa wanita hamil selalu begitu?” Yesung yang penasaran.
“Sebagian. Itu adalah hormon. Ibumu dulu begitu, Hyun. Dia bilang saat hamil, dia tidak bisa pergi berbelanja untuk menghilangkan bosan karena itu menjadi salah satu kegiatan melelahkan. Sebagian wanita hamil melepaskan stress dengan berhubungan. ”
“Lalu bagaimana? Kau benar – benar tidak bisa menahannya?” Yesung meyakinkan Kyuhyun. “Aku akan menghubungi dokter Park! Kau harus bicara dengannya.”
Yesung mengambil ponselnya yang ada di atas meja. Mencari nomor dokter Park dan menekan tanda ‘call’. Yesung berbicara sebentar dengan dokter Park. Lalu menyerahkan ponselnya pada Kyuhyun.
“Ya. Ada yang ingin aku tanyakan padamu.” Kyuhyun berdiri dan berjalan menuju dapur. 
Yesung dan Han Ahjumm hanya saling pandang saat Kyuhyun menjauh dan sibuk dengan teleponnya. Sesekali berbisik – bisik. Beberapa menit kemudian, Kyuhyun kembali dengan ponsel di tangannya. Kyuhyun telah selesai.
“Bagaimana?” Tanya Yesung penuh perhatian.
“Jangan terlalu jauh dari ponselmu dan bersiaplah di depan kamarku!” Bukannya menjawab, Kyuhyun justru memberikan perintah. Kyuhyun kembali ke kamar dengan menggumamkan beberapa kalimat. “Lakukan dengan pelan, lakukan dengan pelan, pelan, pelan, jangan di buang di dalam, jangan di dalam, tidak boleh di dalam..” Begitu terus sampai Kyuhyun berlalu dari hadapan Yesung.
                                    -000-
Kyuhyun kembali ke kamar. Kim Ra sedang duduk di dekat jendela. Menerawang langit yang gelap. Matanya masih terlihat basah walaupun dia sudah berhenti menangis. Kim Ra tahu Kyuhyun masuk ke dalam kamar, tapi Kim Ra mengabaikan.
“Tidak tidur?” Kyuhyun berbasa – basi. Kim Ra tidak menjawab. “Kemari!”
Kim Ra menoleh. Mendapatkan Kyuhyun dengan wajah yang keras.
“Kemari!” Ulang Kyuhyun. Pria itu duduk di tepian tempat tidur. Kim Ra menghampiri dengan wajah ditekuk. Kesal yang bercampur takut.
Kim Ra berdiri di depan Kyuhyun. Pria itu meraih pinggang Kim Ra dengan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya mengusap pipi Kim Ra. Perlahan dan halus. Mata mereka saling berpandangan. Kyuhyun sedang memenuhi otaknya dengan wajah –hamil- Kim Ra. Mencari pengendali napsunya.
“Kau tahu ini tidak akan mudah. Kau tahu ini berbahaya untukmu dan dia. Kau masih menginginkannya?” Tanya Kyuhyun lembut.
Ragu – ragu. Tapi Kim Ra mengangguk juga. Heiiisss!
“Ya.” Kyuhyun memejamkan mata. “Lakukan dengan pelan! Berhenti saat kau merasa lelah. Mengerti?”
Kim Ra mengangguk antusias. Matanya berbinar seperti anak kecil yang di beri es krim. Mencium bibir Kyuhyun sekilas. Dengan senyum yang mengembang nakal, Kim Ra berlutut di depan Kyuhyun. Tangannya yang lentik dengan terampil membuka kancing celana hitam yang di kenakan Kyuhyun. Dan sampai sejauh ini, Kyuhyun masih bertanya dalam hati. Apa yang terjadi pada Kim Ra?
Kyuhyun mulai merasakan tangan Kim Ra. Pria itu menggigit bibirnya kuat.
Tuhan, selamatkan kami bertiga. Doa Kyuhyun.
                                    -000-
Benar seperti dugaan Kyuhyun. Dia tidak merasa cukup dengan mulut Kim Ra. Percuma untuk menahan, karena kali ini Kim Ra juga merengek ingin lebih. Kyuhyun menyerah. Dia menuruti napsu primitif dan istri nakalnya malam ini.
Membaringkan Kim Ra di tempat tidur, Kyuhyun melihat lagi pemandangan favorit-nya. Terasa lama sekali tidak menikmati ini. Dia sudah membuat istrinya bulat. Tugas terakhirnya adalah mempersiapkan dirinya sendiri.
“Kalau aku lepas kendali, berteriaklah! Ada Yesung di luar.” Bisik Kyuhyun. Kim Ra mengangguk.
Kim Ra menahan napas. Ketakutan mulai menyerangnya tanpa ampun saat Kyuhyun menunduk kearahnya. Mengawali permainan dengan menciumi Kim Ra. Penyatuan yang selalu menyenangkan. Dalam hati, Kyuhyun merapal beberapa kalimat. Berulang – ulang.
Pelan – pelan!
Lakukan dengan pelan!
Ada anakku di dalam sana.
Gaemgyu sedang tidur, Appa!
Pelan – pelan!
Lakukan dengan pelan, Kyuhyun!
Pelacur itu sudah mati.
Pelacur itu sudah mati.
Lakukan dengan pelan!
Jangan di dalam!
Tidak boleh di dalam!
Ada anakku di dalam.
Kau bisa, Cho Kyuhyun!
      
                                 -000-
Jam 1 malam. Kim Ra membuka matanya. Dengan gerakan perlahan, dia melepaskan dirinya dari tangan Kyuhyun yang melingkar di pinggangnya. Kim Ra merangkak turun. Memungut piyamanya. Memakai tanpa suara.
Kim Ra berdiri di ujung ranjang. Mengamati Kyuhyun.
Prianya itu sudah tidur pulas. Posisinya tengkurap dengan wajah yang menghadap padanya tadi. Tidur tenang dalam balutan selimut yang menutupi tubuh polosnya. Kim Ra masih bisa melihat punggung telanjang Kyuhyun yang putih. Mereka selesai satu setengah jam yang lalu. Keajaibankah? Kim Ra tidak terluka. Oh ya, hanya bibirnya yang membengkak parah dan sobek di beberapa bagian. Itu bisa diterima.
Kim Ra berjalan mengitari tempat tidur. Mengambil ponselnya lalu berpikir sebentar. Apa pantas mengirim pesan pada Kim Heechul selarut ini? Kim Ra menggeleng. Kim Heechul yang bilang padanya, dia bisa di hubungi kapanpun. Kim Ra mulai mengetik pesannya.
To: Kim Heechul
Maaf mengganggumu malam – malam. Aku ingin bertanya sesuatu. Aku dan Kyuhyun bercinta malam ini. Tapi dia tidak melukaiku seperti biasa. Kau bisa menjelaskan sesuatu tentang ini?
Kim Ra menunggu beberapa menit. Hampir sepuluh menit.
From: Kim Heechul
Mungkin karena kau hamil. Donghae membagi kabar gembira kalian padaku tadi siang. Selamat untuk kalian.
Donghae? Oh, tentu saja. Mereka berteman.
To: Kim Heechul
Ya. Terima kasih. Lalu apa hubungannya dengan kehamilanku?
From: Kim Heechul
Aku rasa itu berpengaruh. Hal itu juga terjadi pada beberapa pasienku. Terapi Kognitif itu berhasil. Bukan antara kau dengan Kyuhyun. Tapi Kyuhyun dengan bayi kalian. Jangan cemburu! Aku berpikir kesembuhan Kyuhyun tidak cukup denganmu. Kau tidak terlalu berpengaruh padanya. Suamimu lebih mencintai Bayi kalian daripada dirimu.
Kim Heechul menyebalkan!
Kim Ra malas membalas. Dia memilih membuang ponselnya di atas sofa. Masih berdiri, Kim Ra mengamati Kyuhyun lagi. Kim Ra juga ingat, Kyuhyun melakukan dengan perlahan tadi. Sangat hati – hati. Kyuhyun meremas seprai atau  bantal juga sebagai pelampiasan tangan gatalnya. Beberapa kali menggeram frustasi. Dan… Di beberapa kesempatan, Kyuhyun sering terlihat fokus pada perut Kim Ra.
Kyuhyun baru saja berperang melawan dirinya sendiri.
“Sayang, apa yang kau lakukan di situ? Kau membutuhkan sesuatu? Atau merasakan sesuatu?” Tiba – tiba Kyuhyun bangun. Dengan sigap dia duduk di tempat tidur. Menghawatirkan Kim Ra.
“Tidak. Aku baru saja dari kamar mandi.” Kim Ra berbohong.
“Kemarilah! Ayo tidur!” Kyuhyun mengulurkan tangannya dan di sambut hangat oleh Kim Ra.
Kim Ra kembali berbaring dengan Kyuhyun. Pria itu memeluknya sangat erat. Menciumi puncak kepalanya. Tangan kanan Kyuhyun merambat ke atas perut Kim Ra. Mengelus pelan. Kim Ra dan Kyuhyun tersenyum diam – diam tanpa di ketahui satu sama lain.
‘Terima kasih, Sayang!’ Dalam hati mereka.
Iya, mereka. Kyuhyun dan Kim Ra yang lagi – lagi melupakan Yesung yang tertidur di kursi. Tidak jauh dari pintu kamar Kyuhyun dengan memeluk ponselnya. Oh, tidak! Kalian tidak tahu. Kyuhyun hanya pura – pura lupa. Sebenarnya dia ingat. Tapi dia menghitung ini sebagai hukuman karena Yesung memeluk Kim Ra dari depan!
Malang nasibmu, tampan!
                                      -000-
Kim Ra mengeliat dari tidurnya saat merasakan seseorang mengusap kepalanya. Membiasakan matanya dengan cahaya matahari, Kim Ra membuka perlahan kelopak matanya. Samar – samar dia melihat seseorang di sampingnya. Han Ahjumma?
“Nona…” Sapa Han Ahjumma hangat.
“Ahjumma, di mana Kyuhyun?” Tanya Kim Ra lemah, berusaha duduk.
“Tuan sudah berangkat bekerja. Tuan meminta anda untuk sarapan dan meminum vitamin anda. Saya akan membawanya ke kamar.”
Kim Ra hanya mengangguk. Melirik jam dinding. Jam sepuluh. Tentu saja Kyuhyun sudah berangkat bekerja. Han Ahjumma sudah pergi untuk mengambil sarapan. Kim Ra bangun dari tempat tidur. Ingin mencuci muka dan menggosok gigi.
Sampai di kamar mandi, Kim Ra melepas pakaiannya. Tapi tubuhnya bergetar saat matanya menangkap noda merah di celana dalamnya. Oh Tuhan! Dia berdarah. Kim Ra memakai cepat kaosnya. Berjalan terburu keluar. Menelepon Kyuhyun.
“Kyuhyun…” Kim Ra merengek saat Kyuhyun mengangkat teleponnya.
“Apa yang terjadi?”
“Aku- Aku berdarah. Bagaimana ini?” Kim Ra terisak. Ketakutan.
“Tetap diam disitu! Jangan melakukan apapun! Panggil Ahjumma ke kamar! Aku akan pulang.” Kyuhyun menutup teleponnya.
Kim Ra meremas ponselnya. Dia panik. Bingung. Takut. Bagaimana bayinya? Apakah baik – baik saja? Kim Ra menggigit bibirnya kuat. Menyesal. Ini karena tindakan cerobohnya. Dia benar – benar membahayakan bayinya. Sebenarnya kau sayang atau tidak dengan bayimu?
Kurang dari 30 menit, Kyuhyun datang. Masuk ke kamar. Kalimat pertamanya adalah…
“Seberapa banyak?” Tanya Kyuhyun dengan napas cepat.
“Kyuhyun..”
“Seberapa banyak kau berdarah?” Kyuhyun menangkup wajah Kim Ra.
“Tidak terlalu banyak, tapi…” Kim Ra menangis lagi.
“Sekarang masih berdarah?” Kyuhyun mendesak. Panik. Kim Ra menggeleng tidak tahu. “Biar aku lihat.” Kyuhyun menyelipkan tangannya kedalam kaos kebesaran Kim Ra. Menarik celana dalam gadis itu. Kim Ra merona parah. Yesung dan Han Ahjumma keluar dari kamar tanpa suara.
Kyuhyun menahan napas saat melihat darah Kim Ra. Masih berdarah.
“Ayo kita kerumah sakit!” Kyuhyun membantu Kim Ra memakai pakaiannya.
                                   -000-
“Aku sudah mengingatkanmu, untuk perlahan Tuan Cho!” Dokter Park mengomel. Kyuhyun sebenarnya tidak terima diomeli, tapi Kyuhyun sadar dia memang salah.
“Aku tahu.”
“Membuang di luar?” Dokter Park masih ketus. Kyuhyun mengangguk. “Keadaan kandungan lemah, kalian harus lebih hati – hati. Beruntung karena ini bukan pendarahan besar. Ini hanya flek. Aku akan memberikan Nona obat penguat kandungan. Dan ingat! Tidak ada hubungan intim sampai Nona melahirkan! Tolong tahan dirimu, Tuan Cho. Anda bilang ingin mereka bertahan.” Dokter Park melotot pada Kyuhyun. Menghakimi.
‘Seandainya dokter sok tampan ini tahu siapa yang memulai semalam. Sial!’ Kyuhyun mengumpat dalam hati.
“Aku mengerti Park Leeteuk-Ssi.” Jawab Kyuhyun tidak kalah ketus. Berniat mengganti dokter Kim Ra.
Kyuhyun, Kim Ra dan Yesung pulang setelah menebus beberapa resep yang diberikan dokter Park. Selama perjalanan, Kyuhyun hanya diam saja. Tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan. Sedangkan Kim Ra hanya menunduk. Memainkan tangannya di atas pangkuan. Menyesali perbuatannya. Seandainya dia tidak merayu Kyuhyun semalam. Benar – benar bodoh!
“Aku tahu aku salah. Tapi jangan memarahi aku!” Bisik Kim Ra pelan. Suaranya terisak, tapi tidak menangis.
Kyuhyun belum menjawab. Dia hanya menggapai tangan Kim Ra. Meremas pelan.
“Tidak.” Kyuhyun sedang menyalahkan dirinya sendiri. Seandainya dia bukan pria brengsek yang menginginkan lebih semalam.
“Hei.. Hei.. Dia tidak apa – apa. Dia baik – baik saja. Kalian tidak perlu khawatir. Kalau kalian tidak menyingkirkan wajah cemberut kalian, aku akan meninggalkan kalian di pinggir jalan.” Yesung menenangkan keduanya disertai ancaman.
“Ya, dia putraku yang kuat.” Kyuhyun tersenyum kecil, menular pada Kim Ra.
Sampai di rumah, Kyuhyun langung naik ke atas. Dia mengatakan akan menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tadi dia tinggalkan di kantor. Kim Ra dan Yesung berjalan ke ruang makan. Melanjutkan sarapan yang tertunda. Han Ahjumma bertanya antusias tentang bayi Kim Ra. Perempuan tua itu berkali – kali mengucap syukur saat Yesung menjelaskan bahwa semuanya baik – baik saja.
                                             -000-
Sabtu pagi. Setelah sarapan, Kyuhyun kembali ke ruang kerjanya, meninggalkan Kim Ra dan Yesung yang masih sarapan sambil berbincang. Seperti biasa, Kyuhyun sedang sibuk dengan proyek baru perusahaannya. Han Ahjumma sesekali menimpali obrolan Kim Ra dan Yesung. Ikut bergabung.
Ketika itu, suara bel menggema.
“Siapa itu?” Yesung menggumam.
“Akhir – akhir ini kita kedatangan banyak tamu.” Kim Ra meletakkan sendoknya. “Ahjumma, biar aku yang buka.”
Kim Ra membuka pintu besar. Yang muncul di hadapannya adalah seorang wanita cantik. Tinggi, anggun, dan telihat lembut. Rambutnya bergelombang sebahu. Sempurna dalam balutan blouse biru muda.
“Bisa aku bertemu dengan Kim Yesung?” Sapa wanita itu ramah dengan senyuman.
“Anda siapa?” Tanya Kim Ra pelan. Membalas tersenyum.
“Aku Kim Hyurin.”
Oh, Kim Hyurin.
APA?????
KIM HYURIN?????
“Anda…” Kim Ra menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.
Kim Hyurin. Dia wanita Kyuhyun. Bekas. Kyuhyun pernah tidur dengan wanita cantik ini. Kim Ra mengkerut. Dia melupakan fakta kalau wanita di depannya ini juga wanita Yesung. Kim Ra hanya terpaku pada bayangan Kyuhyun dan Hyurin di dalam kamar hotel. Hyurin yang mendapatkan luka dan menginap di rumah sakit.
Karena melakukan seks dengan Kyuhyun.
“Siapa?” Yesung menyusul Kim Ra. Pria itu melihat ke depan pintu. “Hyurin?”
“Oppa..”
“Apa yang kau lakukan disini?”
“Aku berkali – kali ke rumahmu. Tapi kau tidak ada. Aku ingat kau pernah memberiku alamat rumah ini.” Suara Hyurin terdengar manja.
“Ada sesuatu?”
“Ya. Aku ingin melihatmu, Oppa.”
“Masuklah!” Yesung menyingkir untuk memberi jalan Hyurin. Kim Ra masih melamun. “Hei!” Yesung menegur Kim Ra.
“Oh?” Kim Ra melihat Yesung. Kemudian melihat Hyurin yang berjalan menuju sofa. “Aku akan memanggil Kyuhyun.” Kim Ra berbisik.
Kim Ra berjalan gontai menuju ruang kerja Kyuhyun. Dia senang melihat Yesung dengan wanita. Tapi perasaan lain menghianati rasa senangnya. Dia kesal. Kecewa. Kenapa wanita itu adalah wanita yang pernah dengan Kyuhyun? Kim Ra seperti melihat istri Kyuhyun yang lain.
Kim Ra membuka pintu ruangan Kyuhyun. Kim Ra terdiam. Tertegun. Melihat apa yang ada di depannya. Kyuhyun sudah mengganti pakaiannya dengan kaos hitam dan celana jeans. Duduk di atas meja. Tangannya memegang beberapa lembar kertas. Dia masih selalu tampan. Yang mengagumkan adalah Kyuhyun menyumpal telinganya dengan headset. Badannya bergerak – gerak pelan. kepalanya menganggu – angguk teratur. Dia seperti bergoyang sesuai irama. Kim Ra melihat Kyuhyun tidak seperti biasanya. Terlihat santai, bahagia dan tidak punya beban.
“Na honja dareun kkummeul kkum-myeon jeoldae andwae. Jigeum niga piryohae.. Niga piryohae.. Niga piryohae..” Tiba – tiba Kyuhyun bernyanyi. Kim Ra menganga mendengarkan suara Kyuhyun.
Kyuhyun bisa bernyanyi? Dan suaranya tidak kalah bagus dari Yesung.
Kim Ra masih terdiam kaku saat Kyuhyun menyadari kehadirannya. Pria itu terkejut. Berdiri tegak dan melepaskan headset dari telinganya. Berjalan mendekati Kim Ra yang masih terpesona. Kim Ra berkedip cepat beberapa saat.
“Ada apa?” Kyuhyun bertanya.
Bruk!
Kim Ra melempar dirinya pada Kyuhyun. Memeluk pria itu erat.
‘Bagaimana reaksi Kyuhyun kalau dia tahu salah satu mantan pelacurnya yang begitu cantik dan seksi ada disini? Apa yang akan muncul di kepalanya kalau dia melihat wajah menawan wanita yang pernah dia masuki? Kyuhyun yang selalu peka, apa dia akan sadar?’ Dalam hati Kim Ra. Dia ingin menangis.
Kim Ra merasakan Kyuhyun membalas pelukannya. Kim Ra mendongak.
“Kenapa?”
“Tidak peduli kau sudah tidur dengan berapa banyak wanita, sekarang kau suamiku. Kau milikku.” Bisik Kim Ra. Di akhir kalimat Kim Ra, detik itu juga Kyuhyun menyambar bibir istri –hamil-nya yang semakin hari semakin aneh menurutnya.
Kyuhyun masih memperdalam ciuman mereka. Tangannya mulai merayap kemana – mana. Tuhan tidak salah menciptakan tangan indah dengan jari yang panjang untuk seorang Cho Kyuhyun. Pria itu benar – benar memanfaatkannya dengan benar. Memanfaatkannya untuk membuat istrinya melupakan dunia.
Dan ketika jari Kyuhyun yang kelewat terampil mulai menyelinap masuk ke dalam dress Kim Ra, bayangan seorang balita laki – laki yang mirip dengan dirinya muncul di kepalanya. Balita laki – laki yang berteriak keras di telinganya. ‘Appa! Kalau kau ‘menjenguk’ aku lagi, dokter Park akan membunuhmu!’
Kyuhyun menarik serempak bibir, tangan dan tubuhnya.
“Kau tidak sedang merencanakan agar aku mati di tangan dokter Park, kan?” Napas Kyuhyun memburu. Kim Ra yang bingung menggeleng. “Kalau begitu berhenti merayu aku! Sebenarnya ada apa?”
“Itu… Ada teman Yesung Oppa di bawah.” Kim Ra menjawab kikuk.
“Teman?” Kyuhyun menyipitkan matanya.
“Seorang wanita.”
“Oh? Baiklah, Ayo kita turun sebelum aku menghabisimu dan aku akan berakhir patah tulang di tangan dokter Park-mu yang cerewet itu.” Kyuhyun merapikan dress Kim Ra. Gadis itu tertawa.
Kyuhyun dan Kim Ra turun bersamaan. Kyuhyun merangkul pinggang istrinya.
“Hyurin-ah, kenalkan ini sahabatku sekaligus bos-ku.” Yesung mengenalkan Kyuhyun pada Hyurin.
Hyurin terperanjat sesaat. Namun dia bisa mengatasi rasa terkejutnya dengan cepat. Tersenyum dengan wajah merona yang sangat jelas. Hyurin mengulurkan tangannya. Kyuhyun melepaskan Kim Ra, berjalan mendekati Hyurin dan menyambut hangat tangan wanita itu. Hyurin tersipu malu. Kim Ra menyadari itu.
Wanita yang pernah dengan Kyuhyun, kini terpesona pada suaminya.
“Kau sudah melihat Kim Ra tadi, dia adalah istri Kyuhyun. Nona-ku yang sangat manis.” Yesung menunjuk Kim Ra.
“Ya.. senang bertemu denganmu, Nona.” Hyurin menyapa.
“Kim Ra saja, Eonni.” Kim Berusaha tersenyum tapi gagal.
Kyuhyun, Kim Ra, Yesung dan Hyurin sedang berbincang di ruang tamu. Yesung banyak menceritakan tentang Hyurin pada Kyuhyun dan Kim Ra. Menceritakan tentang Kim Ra juga pada Hyurin. Mereka membicarakan apa saja. Kyuhyun sesekali menanggapi. Kim Ra mendadak menjadi pendiam. Sedangkan Hyurin selalu tersenyum cantik. Selalu merona. Beberapa kali mencuri pandang pada Kyuhyun.
Hyurin sudah menebak dalam hati. Kyuhyun adalah pria kasar yang pernah membayarnya. Bos Yesung. Dia mengingat postur tubuh Kyuhyun. Dan apa? Hyurin tidak pernah mengira kalau Kyuhyun serupawan ini. Dia pria sempurna.
“Tuan, Nona, makan siang sudah siap.” Han Ahjumma datang menghampiri.
“Ayo, kita makan siang bersama. Aku harap kau tidak keberatan untuk bergabung Hyurin-Ssi.”
“Tentu saja, Kyuhyun-Ssi.” Hyurin menyebutkan nama Kyuhyun dengan mesra. Yesung merangkul Hyurin menuju ruang makan.
Di meja makan, mereka duduk dengan tenang. Makan sambil berbincang sesekali. Kim Ra masih diam. Dia hanya mengaduk – aduk makanannya. Bosan, kesal dan marah menyatu padu dalam hatinya. Sedari tadi, Kyuhyun dan Yesung hanya terpusat pada Hyurin. Kim Ra ingin menangis sekarang. Dia diabaikan. Kyuhyun dan Yesung yang biasanya hanya milikknya seorang, sekarang sudah tidak lagi. Akan ada wanita yang akan memecah perhatian kedua pria kesayangannya. Dan wanita itu sudah disini. Kim Hyurin.
Kyuhyun menyadari, Kim Ra-nya murung.
“Kenapa tidak makan? Kau merasa sakit?” Tegur Kyuhyun lembut.
“Tidak. Hanya tidak berselera.”
“Makan, Kim Ra! Kalau tidak kau akan sakit.” Bujuk Yesung. Hyurin menoleh pada Yesung. Pria sipit itu belum pernah bicara selembut itu padanya. 
“Kemari!” Kyuhyun mengulurkan tangannya. Dengan wajah ditekuk, Kim Ra menyambut tangan Kyuhyun. Berdiri dari duduknya dan mendekat pada Kyuhyun.
Olala! Kyuhyun membawa Kim Ra ke pangkuannya. Di depan Hyurin dan Yesung. Di ruang makan.
“Ayo, makan! Bayiku juga harus makan.” Kyuhyun mengambil satu sendok sup dan mengarahkan pada Kim Ra. “Buka mulutmu!”  Kim Ra tertegun. Melirik Hyurin sekilas. Wanita itu memajang ekspresi terkejut, kagum dan kecewa bersamaan.
Nah, Lihat Kim Hyurin! Pria kasar yang sering dengan pelacur ini sangat mencintai istrinya. Kim Ra bersorak. Membuka mulut dan memakan apa yang masuk ke dalam mulutnya.
“Perhatikan makanmu! Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada kalian.” Kata Kyuhyun penuh perhatian. Mengelus perut Kim Ra, Pria itu membisikkan sesuatu dui telinga Kim Ra.
“Hmm..” Kim Ra mengangguk. Tersenyum. Mencium bibir Kyuhyun cepat.
Di suapan kedua, Kim Ra merasa aneh. Makanannya terasa tidak enak. Kim Ra melirik sekitar. Yaa Tuhan, godaan macam apa ini? Kenapa makan dari tangan Yesung terasa sangat menggiurkan? Kim Ra ingin di suapi Yesung. Kim Ra menyentuh perutnya. Anaknya benar – benar konyol!
“Kenapa? Perutmu sakit?” Kyuhyun bertanya. Menarik perhatian Yesung dan Hyurin.
“Tidak. Tapi makanannya tidak enak. Aku tidak mau makan.”
“Kau harus makan!” Suara Kyuhyun penuh peringatan.
“Hmm..”
“Apa?”
“Aku ingin… di suapi Yesung Oppa.” Bukan hanya Kyuhyun. Yesung dan Hyurin pun ikut melongo.
“Jangan bercanda!” Kyuhyun tidak terima.
“Tidak.”
“Aku sedang menyuapimu.”
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa kau ingin makan disuapi pria lain?” Kyuhyun mulai kesal.
“Bukan aku. Anakmu!” Kim Ra mulai kesal juga. Ini ‘kan bukan maunya! Kim Ra turun dari pangkuan Kyuhyun. Dia ingin pergi ke kamar, tapi Kyuhyun menahan tangannya.
“Oke! Oke! Kau makan dengan Yesung. Makan!” Menekan rasa kesalnya, Kyuhyun mengalah.
“Kemari!” Yesung merapatkan satu kursi di sampingnya. Kim Ra mendekati Yesung.
Kyuhyun meletakkan sendoknya. Dia masih tidak percaya, Kim Ra –dan anaknya- melakukan ini padanya. Jadi tangan Yesung lebih berharga dari tangannya? Oh benar – benar! Kyuhyun memejamkan mata beberapa kali melihat Kim Ra makan dengan lahap disuapi Yesung. Yaa, Kyuhyun jadi sangat cemburu pada Yesung sejak Kim Ra hamil. Apa ini pengaruh bayi pada calon ayah?
“Sebenarnya itu anak siapa? Anakku atau bukan? Benar – benar menjengkelkan!” Selesai menggerutu, Kyuhyun meninggalkan meja makan begitu saja.
“Kyuhyun…” Panggil Kim Ra lirih.
                                     -000-
Sore hari yang benar – benar indah. Senja menguasai langit. Kim Ra tidak menemukan Kyuhyun di kamar mereka. Tidak juga di ruang kerjanya. Dimana dia? Kim Ra melihat keluar jendela dari ruang kerja Kyuhyun. Oh! Itu dia. Pria itu berdiri di balkon lantai dua. Dia sedang menikmati indahnya matahari yang akan tenggelam.
Kim Ra menyusul.
Berdiri di belakang Kyuhyun, Kim Ra ragu untuk menyapa. Pikirannya kembali pada makan siangnya tadi. Kyuhyun yang menyuapinya di pangkuan pria itu. Dan Kim Ra ingat pada kalimat yang di bisikkan Kyuhyun ditelinganya.
“Jangan cemburu! Aku bersikap hangat pada Hyurin, karena dia adalah teman wanita Yesung. Membuat wanita itu lari ketakutan karena aku, bukan ide yang baik. Yesung bisa saja menjadi bujang tua. Aku mencintaimu.”
Seperti itu kalimat Kyuhyun. Kim Ra membalas dengan ‘Aku ingin di suapi Yesung’
Kim Ra merasa dia sangat keterlaluan. Ini yang pertama kalinya Kyuhyun cemburu pada Yesung. Kyuhyun tidak seperti biasanya. Merasa bersalah. Kim Ra sangat merasa bersalah. Mengambil napas dalam, Kim Ra mengumpulkan keberaniannya. Ayo minta maaf Kim Ra!
“Kyuhyun..” Kim Ra mendengar suaranya sangat pelan.
“Hmm..” Oh? Kyuhyun hanya menggumam. Tidak berbicara ataupun menoleh. Dia benar – benar marah.
“Aku… minta maaf.” Kim Ra menunggu respon Kyuhyun. Sampai dua menit, pria itu masih bungkam. Kim Ra meremas dress-nya. “Aku tidak tahu kalau kau akan cemburu pada Yesung Oppa. Aku minta maaf.”
“Aku tidak cemburu padanya seperti yang kau pikirkan.” Kyuhyun menjawab dingin. Ketus.  “Aku hanya iri padanya.”
Apa?
“Aku iri karena dia mempunyai semua sifat yang kau sukai. Dia membuatmu tertawa. Dia selalu bisa menenangkanmu. Aku selalu melihatmu nyaman saat bersamanya. Aku iri karena dia adalah pria normal yang tidak pernah menyakitimu.”
Di belakang Kyuhyun, Kim Ra menggelengkan kepalanya berulang kali. Kim Ra tidak pernah mengira kalau Kyuhyun akan berpikir begitu.
“Pertama aku menyadari ini saat aku melihatmu tidur di sampingnya. Kau terlihat sangat cantik dan damai. Kau bahagia. Aku jadi bertanya, apa kau akan sedamai, secantik dan sebahagia itu saat tidur denganku? Dan sialannya, yang muncul di bayanganku adalah kau yang menangis, kau yang sekarat dan kau tidak sadarkan diri.”
“Tapi.. aku tidak begitu.. hiks..”
HIKS??
Kyuhyun menoleh cepat untuk melihat Kim Ra. Hiks? Gadis itu menangis?
“Tapi.. aku mencintaimu.. Bukan Yesung Oppa. Apa aku terlihat bahagia malam itu? Bukan Yesung Oppa yang membuat aku bahagia. Tapi pesan -aku mencintaimu juga- darimu. Sungguh!” Kim Ra semakin sesenggukan.  Kyuhyun mencelos. Dia membuat Kim Ra menangis lagi.
“Tidak. Jangan menangis! Aku tidak bermaksud.” Kyuhyun memeluk Kim Ra.
“Aku bahagia denganmu. Maafkan aku, ya?” Mohon Kim Ra.
“Aku juga iri karena kau memanggilnya Oppa.” Kyuhyun menyindir. “Berhenti menangis!” Pria itu mengusap punggung Kim Ra. Gadis itu masih sesenggukan. “Hei, diam atau aku akan menciummu!” Kyuhyun membentak. Kim Ra terkejut. Mengangkat kepalanya dari dada Kyuhyun.
“Cium, Kyuhyun Appa!”
Appa? Oh iya, kau akan menjadi Appa, Cho Sajangnim. Kyuhyun mengabulkan dengan senyum sombong. Menunduk untuk mencapai mulut  -ahli membantah- Kim Ra.
Kim Ra mencatat moment ini sebagai hal romantis seorang Kyuhyun. Menciumnya di balkon lantai dua dengan pemandangan langit sore yang menguning. Udara segar, dengan suka rela mengisi stok oksigen mereka ketika Kyuhyun beberapa kali merubah posisi kepalanya. Kekiri dan kekanan. Memberi jalan untuk Kim Ra bernapas. Cara agar Kim Ra tidak mati karena dicium olehnya.
“Uhuuuukk uhuuukkk!” Suara terbatuk menghancurkan kemesraan Kyuhyun dan Kim Ra.
Siapa lagi yang berani dengan lancang batuk saat majikannya bercumbu, kalau bukan..
“Kim Yesung!” Geram Kyuhyun.
“Oppa sendirian? Di mana Hyurin Eonni?” Tanya Kim Ra dengan merona malu. Mengalihkan fokus Yesung.
“Dia pamit pulang. Dia menitipkan salam untuk kalian berdua. Mana mungkin dia berani batuk – batuk di sini. Aku baru saja mengantarnya ke halte bus. Dia akan pergi menemui temannya.”
Belum sampai Kyuhyun membuka mulut untuk mengomel, ponselnya berbunyi. Dia mengangkatnya.
“Ya. Bagaimana?… Aku tahu. Lalu?… Oh ya, aku lupa itu. Akan aku lihat dulu!” Kyuhyun mengecup Kim Ra sejenak lalu berjalan masuk ke dalam rumah. Menuju ruang kerjanya.
“Sepertinya suamimu benar – benar sibuk.” Yesung mendekati Kim Ra.
“Ya. Bagaimana Hyurin Eonni?” Kim Ra mengalihkan topik dengan cepat.
“Aku sudah mengantarnya pulang.”
“Bukan itu. Bagaimana hubungan kalian?”
“Baik.”
“Kau tertarik padanya?”
“Sedikit.”
“Bagaimana dengan mencoba menjalin hubungan dengan Hyurin Eonni?”
“Akan aku pikirkan.”
“Kenapa?”
“Karena kau tidak menyukainya.” Hah? Yesung tahu? Kim Ra terdiam. “Aku tidak bisa menjalin hubungan dengan wanita yang membuatmu tidak nyaman. Karena pada akhirnya, wanitaku akan terlibat dengan kau dan Kyuhyun. Aku tidak mau setiap kita bersama, kau akan murung dan sedih.”
Yesung memperhatikanmu, Kim Ra!
“Aku minta maaf.”
“Tidak perlu. Aku mengerti perasaanmu. Kita hanya perlu waktu.”
Kyuhyun tiba – tiba berdiri di belakang mereka. Kyuhyun memeluk Kim Ra dari belakang. Ini seperti dejavu.
“Aku ingin mengatakan sesuatu padamu.” Yesung melirik Kyuhyun.
“Apa?” Kyuhyun menjawab sambil mengecupi tengkuk Kim Ra.
“Aku harap kau tidak patah hati lalu bunuh diri karena sekarang aku menyukai seorang wanita.”
Kyuhyun mengangkat kepalanya. Melihat Yesung lekat. Tersenyum miring. Kim Ra juga menatap Yesung. Ini kejutan. Jadi Yesung berhasil menyukai seorang wanita?
“Siapa?” Tanya Kyuhyun.
Yesung mengendikkan bahu dengan senyum lebar. Mengangkat tangannya untuk mengacak – acak rambut Kim Ra. Dia gemas sekali pada wajah Kim Ra dengan mata yang membulat karena terkejut.
‘Istrimu.’ Yesung. Dalam hati.
                                            -000-
The End
Note: Karena kalian ngga suka sama TBC dan BERSAMBUNG. Maka aku menggantinya dengan THE END. Maaf kalau ending ini tidak memuaskan. Mungkin akan ada After stroy dimana Kyuhyun udah jadi Appa.  Dan kalian pasti sadar ada promosi ‘noKYUphobia’ di tengah cerita.
Sampai Jumpa di karya yang lainnya.

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: