Saco Dear Ra ( Neorago Sequel) part 3

0
Saco Dear Ra ( Neorago Sequel) part 3 ff nc kyuhyun
Saco Dear Ra! Chapter 3
Author : DiraKimra17
Tittle : Saco Dear Ra! chapter 3
Category : NC17, Yadong, Romance / Kekerasan, Chapter.
Cast :
Cho Kyuhyun
Shin Kim Ra
Other  cast : Other Super Junior member
Mereka telah selesai.
Percintaan pertama dengan keduanya yang tanpa sehelai benang. Kim Ra meringkuk di ujung ranjang dengan memeluk dirinya sendiri. Sebagian wajahnya tertutupi rambut yang berantakan. Kyuhyun ada di lantai. Berlutut di depannya.

“Maafkan aku.” Kyuhyun berbisik.
-000-
Kyuhyun masih dengan sikap berlututnya. Ini sudah hampir 10 menit. Kim Ra belum bergerak sama sekali. Kyuhyun mulai gusar. Berdiri. Menyentuh wajah Kim Ra. Menyingkirkan helaian rambut yang mampir ke wajah pucat gadis itu. Detik itu, Kyuhyun sadar.
Kim Ra tidak sadarkan diri.
Seperti kesetanan, Kyuhyun memakai celananya dengan cepat. Menyambar telepon. Yesung. Kyuhyun butuh Yesung. Tidak sampai 2 menit, Yesung datang dengan napas memburu. Kyuhyun bahkan masih menggemgam ponselnya. 
“Tolong dia.” Suaranya serak. Kyuhyun panik. Matanya liar memandang Kim Ra dan Yesung bergantian.
“Kau panggil dokter Park.  Kim Ra denganku.” Yesung berlari ke ranjang.
Yesung terdiam beberapa detik. Menganga.
Setelah itu, dengan cepat Yesung mendekati Kim Ra. Ya Tuhan.. Ya Tuhan.. Yesung berdoa dalam hatinya. Tangannya gemetar saat melepas simpul ikat pinggang di kedua lengan Kim Ra. Biru. Bekas memarnya berwarna biru keunguan. Menepuk – nepuk sebentar lengan Kim Ra agar darah yang sersumbat kembali mengalir. Sebentar menghayati luka di lengan Kim Ra, Yesung langsung membebaskan kedua kaki gadis itu yang terikat dengan gulungan kain sprei.
Yesung memang sudah biasa dengan pemandangan seperti ini. Tapi rasanya benar – benar mengerikan saat wanita yang harus dia ‘bereskan’ adalah Kim Ra. Yesung melirik Kyuhyun yang ada di sudut ruangan. Dia duduk di lantai dengan memakai celana hitamnya saja. Menekuk lututnya keatas, Kyuhyun menumpukan sikunya di lutut. Tangannya bergerak – gerak kasar di rambut. Sesekali menjambak. Sesekali mengusap wajahnya kasar.
“Dia masih bernafas. Kau tenanglah!” Yesung memungut pakaian Kim Ra yang berserakan di lantai.
Kyuhyun tidak menjawab. Wajahnya kacau. Perasaannya berantakan. Dia sendiri tidak menyadari apa yang telah dia lakukan. Kyuhyun berdiri saat Yesung akan memakaikan Kim Ra pakaian. Mendekat, membuat kegiatan Yesung terhenti.
“Biar aku.” Kyuhyun meminta kaos berwarna putih itu dari tangan Yesung.
Setelah memberikan kaos Kim Ra pada Kyuhyun, Yesung mundur beberapa langkah. Mengamati. Kyuhyun dengan telaten membungkus tubuh mungil Kim Ra dengan kaos longgar favorit gadis itu. Satu tetes, dua tetes. Air mata yang jatuh dari mata Kyuhyun terlihat oleh Yesung.
Selesai dengan kaos, Kyuhyun menutupi tubuh Kim Ra dengan selimut. Ikut berbaring di samping gadisnya. Membelai rambut dan wajah cantik pucat itu. Kyuhyun semakin merapatkan tubuh mereka. Menciumi pipi Kim Ra.
Apakah dia masih termaafkan?
“Kalau setelah ini kau ingin pergi dariku, aku akan melepasmu.” Bisik Kyuhyun di telinga Kim Ra.
Memeluk Kim Ra erat. Seakan itu adalah pelukan terakhirnya. 
“Tuan muda, dokter Park sudah ada di sini.” Han Ahjumma memberitahukan keberadaan dokter Park.
Kyuhyun bangkit dari posisi ternyamannya. Melepas pelukannya pada Kim Ra di tempat tidur. Itu bersamaan dengan dokter Park yang melangkah masuk ke kamar utama. Yesung bersalaman sebentar dengan dokter Park.
“Kau jaga dia. Aku akan pergi.” Kyuhyun berbicara dengan Yesung. Sedikit berbisik.
“Tunggu!” Yesung menahan lengan Kyuhyun. “Kau mau kemana?”
“Bukan urusanmu.”
“Apa yang akan kau lakukan?”
“Kau akan tahu.”
“Kau tidak menunggunya?”
Menatap Kim Ra sebentar, Kyuhyun menggeleng lemah saat melepaskan cengkeraman tangan Yesung di lengannya. Kyuhyun berjalan mendekati lemari. Membuka pelan. Mengambil satu kemeja untuk dipakainya. Yesung hanya diam menonton. Sampai akhirnya Kyuhyun pergi meninggalkan kamar.
Kyuhyun pergi. Bisa jadi sebrengsek apa lagi dia?
Yesung dan Han Ahjumma masih berdiri di samping tempat tidur saat dokter Park memeriksa Kim Ra. Dokter Park terlihat bingung. Tapi dia tidak mengatakan apapun. Sesekali keningnya berkerut. Menggelengkan kepala pelan. Sebenarnya apa yang terjadi dengan gadis ini?
Selesai memeriksa, dokter Park berbicara dengan Yesung sementara Han Ahjumma merapikan selimut Kim Ra. Yesung mengangguk beberapa kali mendengar penjelasan dokter Park. Dan diagnosa dokter Park adalah: Kim Ra tidak sadarkan diri karena kekurangan oksigen dan kelelahan.
Tentu saja. Kim Ra melawan monster dan dia belum makan seharian. Kecuali sepotong roti saat sarapan.
“Aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi beruntung karena itu tidak berlangsung lama dan cepat mendapatkan pertolongan. Kalau tidak, kemungkinan besarnya adalah berhentinya oksigen yang mengalir ke dalam otak. Dan itu akan berakibat sangat fatal.” Dokter Park menjelaskan.
Cho Kyuhyun, Kau harus dengar itu!
-000-
Saat pagi menjelang, yang Kim Ra lihat di kamar Kyuhyun adalah Yesung yang tertidur di sofa dan Han Ahjumma yang tertidur di kursi samping ranjang dalam keadaan duduk. Tidak ada Kyuhyun. Sesaat tadi, Kim Ra melupakan kejadian semalam. Tapi dia ingat sekarang.
“Sudah bangun, Nona?” Sapa Han Ahjumma lembut. Wanita paruh baya ini terlihat sangat lelah.
“Yaa, Ahjumma.”Kim Ra menjawab pelan. Tenggorokannya kering. Dia haus.
“Membutuhkan sesuatu?”
“Air putih, tolong.” Kim Ra meminta. Han Ahjumma mengangguk. Bertepatan dengan Han Ahjumma menutup pintu kamar, Yesung membuka matanya.
“Kau sudan bangun?” Tanya Yesung. Berjalan mendekat ke arah tempat tidur. “Bagaimana keadaanmu?”
“Aku baik.” Kim Ra tersenyum canggung. Tidak yakin.
“Pasti sangat mengerikan untukmu.”
“Yaa. Tapi aku tidak apa – apa sekarang.”
“Apa yang dia lakukan padamu semalam?”
“Tidak ada.” Kim Ra menggeleng kaku. “Kyuhyun hanya sedikit hilang kendali.” Bohong!
Hanya sedikit? Hati Kim Ra bersembunyi di dalam selimut saat otaknya kembali mengingat kejadian semalam bersama Kyuhyun. Pria itu mengikat kedua lengannya di punggung dengan ikat pinggang. Mengikat kakinya juga dengan kain seprai. Memasuki Kim Ra dengan penuh dan kasar dari belakang. Bertubi – tubi. Dengan keras. Tanpa ampun sambil menekan leher Kim Ra kebawah. Membuat kepala gadis itu menekan bantal. Membuatnya sulit bernapas. Menampari pantatnya berkali – kali. Kim Ra bahkan sempat melihat, luka di pahanya berdarah lagi.
Dan kau bilang itu hanya sedikit?
“Kau yakin? Melihat kondisimu…”
“Aku baik, Oppa.” Kim Ra memaksakan senyumnya.
Han Ahjumma bergabung dengan segelas air di tangan. Kim Ra menyambut dengan ramah. Dia butuh air. Hanya itu. Han Ahjumma kembali meninggalkan Yesung dan Kim Ra.
“Kau tidak marah dengan Kyuhyun?” Yesung kembali dengan introgasinya.
“Kenapa?”
“Untuk semua ini.” Yesung memutar telunjuknya seakan mengelilingi tubuh Kim Ra.
“Tidak tahu, Oppa. Sebenarnya kami sudah sepakat semalam. Tentang hal ini.”
“Tapi..”
Memotong kalimat Yesung. Lagu –It has to be you- mengalun indah di tengah percakapan. Yesung mengambil ponselnya dari saku celana.
“Kau di mana?… Apa?… Hey! Kim Ra sudah sadar dan sekarang kau mengambil keputusan seperti itu? Jangan gila!…” Yesung mengomel dalam teleponnya. Kim Ra mengamati.
‘Siapa?’ Kim Ra bertanya tanpa suara. Hanya gerakan bibir. Yesung mengarahkan dagunya ke arah foto pernikahan Kyuhyun dan Kim Ra. Ya, itu telepon dari Kyuhyun.
“Otak tololmu itu tidak akan menjadikan kau kaya raya. Jangan di pelihara!” Yesung berteriak. “Aku tidak mau tahu. Kalau kau masih mengambil keputusan itu, jangan pernah pulang kerumah!”
Itu rumah siapa, Yesung? 
“Sialan!” Yesung mendengus saat menutup teleponnya.
“Kyuhyun?” Kim Ra bertanya dengan suara. Yesung mengangguk. “Dia di mana?”
Yesung menatap Kim Ra lama. Ada rasa iba dan ragu. Kim Ra baru saja bangun tidur. Gadis yang bahkan masih belum pulih sepenuhnya. Haruskah?
“Ayo, ikut aku.” Yesung menyambar tangan Kim Ra. Membantu berdiri.
“Kemana?” Kim Ra dilanda kebingungan.
“Kita hancurkan pernikahan sialan itu.”
Apa? Pernikahan siapa?
Kepala Kim Ra seperti dihadiahi bogem mentah. Jawaban Yesung seakan menarik jantungnya secara paksa. Kim Ra melupakan lusa -yang terkutuk. Dan lusa itu adalah hari ini. Jadi Kyuhyun di sana. Setelah malam yang mengerikan bersamanya. Kyuhyun pergi. Tidak ada di sampingnya. Kyuhyun tidak di sini. Kyuhyun meninggalkannya.
Iya. Marah! Bukan untuk luka – luka ini. Tapi karena Kyuhyun pergi begitu saja semalam.  Kim Ra sangat Kecewa.
“Pakai ini!” Yesung keluar dari lemari Kim Ra dengan dress putih di tangannya. Kim Ra masih diam. “Kim Ra, ayolah! Kita tak punya banyak waktu.” Yesung mendesak.
“Apa dia akan menikah?”
“Oh Tuhan, Ahjummaaaa!” Teriakan  Yesung menggelegar. Han Ahjumma datang dengan tergopoh. “Tolong gantikan pakaian Kim Ra.”
Kedua tangan Kim Ra saling meremas di pangkuannya. Matanya berkedip – kedip cepat. Menghalau air matanya agar tidak turun. Menghadapi Kyuhyun, Kim Ra tidak pernah ingin menyerah. Tapi kalau Kyuhyun menikah lagi, Kim Ra sudah tidak memiliki harapan. Persetan dengan Yesung yang akan menghancurkan acara itu. Kim Ra hanya ingin bertemu Kyuhyun. Sekali lagi.
Sebelum mereka berpisah.
Berpisah? Oh damn! Pikiran itu benar – benar menyakitkan.
“Kau siap? Kita sudah hampir sampai.” Yesung berkata pelan. Masih fokus pada kegiatannya mengemudikan mobil. Kim Ra duduk di sampingnya.
Kim Ra tetap diam. Memandang lurus ke jalanan. Sampai akhirnya Yesung mendekati sebuah hotel mewah di pusat kota Seoul. Apa namanya? Hotel Insadong? Kim Ra hanya membaca sekilas. Tapi tempat ini benar – benar mewah. Sangat berkelas.
Saat Yesung menghentikan mobil di depan lobi, yang datang pada mereka bukanlah petugas hotel. Tapi Cho Kyuhyun. Pria itu tadinya berdiri di depan lobi. Dia memakai setelan tuxedo putih resmi yang elegan. Pas di tubuhnya. Lebih tampan dari biasanya. Dia seperti pangeran. Sebelumnya, Kim Ra pernah melihat Kyuhyun dengan balutan pakaian seperti itu. Di hari pernikahan pria itu. Dengan dirinya. Tapi sekarang Kyuhyun memakai pakaian sejenis itu. Di hari pernikahan pria itu lagi. Dengan wanita lain.
Kyuhyun mendekat. Kim Ra ingin lari. Ingin.
“Kenapa lama sekali?” Kyuhyun mengomel pada Yesung setelah membuka pintu Kim Ra. Menunduk dan melepaskan sabuk pengaman Kim Ra.
Sesaat mengamati Kim Ra. Dari wajah sampai ujung kakinya. Memeriksa. Tatapan menyesal Kyuhyun di balas tatapan tidak bersahabat Kim Ra.
Tanpa bicara apapun, Kyuhyun menggenggam tangan kanan Kim Ra. Menarik keluar mobil. Membawa masuk kedalam hotel. Membuat semua tamu undangan berbisik – bisik. Di sana. Kim Ra melihat Madam Young bersama kedua orang tua Kyuhyun. Madam Young yang terkejut tapi tidak melepas ekspresi sombongnya. Kedua orang tua Kyuhyun yang terlihat cemas dan… merasa bersalah?
Sejauh mata Kim Ra menyapu ruangan itu, dia tidak melihat Seohyun.
Mengabaikan semua orang dan terus berjalan ke dalam hotel, Kyuhyun membawa Kim Ra menuju lift. Menekan tombol dua dan menunggu. Sementara semua orang di sekitar mereka masih terus menggosip tentang pertunjukan yang mereka lihat. Si pengantin pria menggandeng wanita lain, yang bukan calon pengantin wanitanya.
Pintu lift terbuka. Dengan terburu Kyuhyun membawa Kim Ra masuk. Lalu menekan tombol tutup. Mereka naik ke lantai dua. Berbeda satu lantai. Terlalu singkat untuk sekedar memunculkan rasa canggung diantara Kyuhyun dan Kim Ra di dalam lift. Saat pintu lift terbuka lagi. Kyuhyun mambawanya ke sebuah ruangan.
Saat pintu dibuka, Yang Kim Ra lihat adalah hall yang penuh dengan wartawan, reporter, crew dan banyak pria dengan kamera ditangan mereka.
Ada apa ini?
Berusaha tidak peduli dan mengabaikan, Kim Ra hanya menurut kemana Kyuhyun membawanya. Sekarang mereka berdua sudah duduk di depan hall. Di depan para reporter dan kawan – kawannya itu. Mereka semua bersuara. Berisik. Hall ini berbeda tipis dengan konser Super Show. Sampai akhirnya…
“Selamat siang.” Kyuhyun berbicara di depan microfon-nya. Membuat ratusan mulut yang tadi bersuara langsung tertutup. Hening. “Sebelumnya, saya berterima kasih atas kesediaan kalian untuk datang kemari dan meliput konferensi ini. Saya hanya akan mengumumkan suatu hal dan saya tidak akan menjawab pertanyaan dalam bentuk apapun.”
Kyuhyun meremas tangan Kim Ra yang ada di dalam genggamannya.
“Seperti yang kalian tahu, hari ini adalah hari pernikahan saya dengan seorang wanita yang bernama Seo Joo Hyun. Tapi saya dengan resmi mengumumkan bahwa pernikahan itu dibatalkan. Karena saya sudah menikah selama hampir dua tahun lalu dengan seorang gadis yang sekarang duduk di samping saya. Shin Kim Ra.”
Suara berisik memenuhi hall. Lagi.
Kim Ra menahan napas saat namanya di sebutkan oleh Kyuhyun dengan lantang. Kyuhyun mengakui pernikahan mereka. Hati Kim Ra berbunga – bunga, di neraka. Rasa senang dan ngeri ia rasakan bersama. Bagaimana dengan Madam Young? Seohyun? Kim Ra merasa Kyuhyun meremas tangannya semakin kuat. Kim Ra menunduk ketika ratusan kilat lampu flash terasa menusuk matanya.
“Saya hanya akan mengumumkan hal ini. Sekali lagi terima kasih untuk kalian.” Kyuhyun menunduk sesaat di ikuti Kim Ra. Setelah itu Kyuhyun membawa Kim Ra pergi. Meninggalkan para reporter dan wartawan yang semakin berisik. Bertanya ini dan itu. Tapi Kyuhyun hanya mengabaikan saja. Melenggang pergi.
-000-
Plak!!!
Kyuhyun mengelus pipinya yang baru saja menjadi pendaratan tangan Madam Young. Kim Ra yang berdiri di samping Kyuhyun, mundur satu langkah. Dia terlalu terkejut. Setelah konferensi yang di lakukan Kyuhyun beberapa saat lalu, sekarang keluarga Cho dan Seo berkumpul di ruangan ini. Salah satu kamar hotel yang di jadikan ruang ganti pengantin wanita.
Seohyun ada di sini.
Dia cantik hari ini. Ah, tidak. Dia cantik seperti biasanya. Duduk dengan anggun di sebuah sofa tunggal. Gaun pengantinnya masih membalut tubuh ramping nan idealnya. Wajahnya merah padam karena marah. Matanya tidak lepas memandang Kyuhyun. Sarat akan kekecewaan. Tangannya terkepal di pangkuan. Dia duduk di sebelah ibunya.
“Memalukan.” Desis Madam Young. “Kau tahu apa yang sedang kau lakukan?”
“Aku melakukan apa yang seharusnya aku lakukan.” Kyuhyun menjawab. Berusaha tenang.
“Yang seharusnya kau lakukan adalah menikah dengan Seohyun!” Sentak Madam Young kasar.
“Aku sudah menikah dan aku tidak menikah lagi. Aku tidak akan berpisah dengan istriku.”
“Aku tidak memintamu untuk menceraikan si jalang ini. Kau hanya perlu menikah dengan Seohyun.”
“Jangan memanggil istriku dengan jalang!” Kyuhyun hampir berteriak. “Tidak.” Kyuhyun menggeleng tegas. “Aku tidak mencintainya.” Mata Kyuhyun menunjuk Seohyun.
“Setidaknya kau harus membantuku membalas hutang budiku padanya. Satu ginjalnya ada padaku.” Madam Young sudah tiba di puncak kemarahannya.
Apa katanya? Ginjal? Oh itu dia. Seohyun mendonorkan satu ginjalnya untuk Madam Young.
“Aku bisa membantumu. Tapi tidak dengan menikahinya.” Kyuhyun merubah haluan. Menghadapkan dirinya pada Seohyun. “Terima kasih karena kau sudah mendonorkan satu ginjalmu untuk nenekku. Jadi apa kau ingin balasan?”
“Oppa…” Seohyun bersuara. Halus.
“Seingatku golongan darah kita berbeda. Jadi maaf, aku tidak bisa memberikan ginjalku untukmu. Tapi aku akan segera mencari sebuah ginjal pengganti untukmu.” Kyuhyun melanjutkan.
“Oppa, bukan begitu. Kita perlu bicara. Tolong bicara denganku. Berdua.” Seohyun bangkit dari sofa empuknya.
Kyuhyun memandang Seohyun. Berpikir. Yaa, mereka perlu bicara. Kyuhyun baru saja ingin melangkah saat tangannya dicekal. Kim Ra. Gadis itu mencengkeram erat lengan Kyuhyun. Membuat Kyuhyun menoleh ke arahnya. Kim Ra dengan mata yang basah. Wajahnya semakin pucat. Bibirnya bergetar. Bersuara dengan bisikan.
“Jangan bicara dengannya!” Lirih Kim Ra dengan gelengan lemah.
“Jangan?”
“Jangan!” Keegoisan terdengar sangat kental di dalam suara Kim Ra.
Kim Ra pernah berbicara dengan Seohyun. Wanita itu punya banyak kata – kata manis. Seperti? ‘Aku bisa dengan Oppa. Aku adalah wanita yang dibutuhkan Oppa.’ Kim Ra ingat itu. Sekarang yang Kim Ra takutkan, perkataan seperti itu terulang lagi dan justru membuat prianya menerima Seohyun.
Kim Ra bahkan tidak bisa membayangkan ‘pasangan serasi’ ini berduaan. Berbicara secara pribadi. Kim Ra takut Kyuhyun akan terpengaruh. Bagaimana pun juga Seohyun adalah ‘pasangannya’. Santapan empuk sesuai selera. Terlebih setelah Kyuhyun menyerang Kim Ra semalam. Kim Ra takut Kyuhyun akan berpikir yang tidak – tidak. Seperti Kim Ra akan menyerah terhadap Kyuhyun atau berniat pergi meninggalkan Kyuhyun. Kim Ra dan Kyuhyun bahkan belum bicara tentang semalam.
“Kyuhyun, jangan!” Bisik Kim Ra sekali lagi. Kyuhyun berkedip sebelum kembali menatap Seohyun.
“Tidak!” Tegas Kyuhyun pada Seohyun. Mereka tidak akan bicara berdua.
“Oppa, tolong.” Seohyun memohon dengan wajah polosnya.
“Bicara apa? Bicara di sini, atau tidak bicara sama sekali.”
“Baik.” Ada sedikit nada menantang dalam suara Seohyun. “Aku pikir, kita akan menikah. Itu akan lebih baik. Untuk semuanya. Keluargamu, keluargaku, Oppa, aku dan istrimu itu.” Seohyun menekankan kata istri. “Kita bisa bersama, Oppa. Kau mengerti maksudku.”
Kebaikan untuk Kim Ra? Oh! Apa maksudnya membantu Kim Ra melayani Kyuhyun?
Brengsek! Kim Ra mengkerut ngeri dengan bayangan Seohyun dan Kyuhyun ada di atas tempat tidur yang sama.
“Apa yang kau maksud adalah kelainan kita berdua?” Kyuhyun menaikkan satu alisnya. Membuat semua orang di ruangan itu menganga. Kelainan?
Seohyun menggeleng pelan. Tidak percaya kalau Kyuhyun mengatakan hal itu.
“Oppa…”
“Aku tidak membutuhkanmu sebagai partner-ku. Aku akan sembuh. Kim Ra dan aku bertemu dengan Psikolog. Dan sebagai temanmu, aku menyarankan. Kunjungilah ahli kejiwaan juga. Sembuh akan baik untukmu.” Kyuhyun berkata dengan ringan. Tidak memperdulikan harga diri yang sedang dia injak di bawah sepatu pantofel-nya.
“Oppa…” Seohyun terkejut bukan main mendengar penuturan Kyuhyun.
Kim Ra menutup matanya. Menunduk. Dia tahu seberapa besar Kyuhyun menekan rasa malunya. Mencabik harga dirinya sendiri.
“Dan Halmoni, ini adalah penolakan halusku yang terakhir. Kalau kau masih melakukan hal seperti ini lagi, mencampuri urusanku lagi, maka aku tidak akan segan untuk menolak dengan kasar.” Kyuhyun menunduk sesaat pada Madam Young. “Appa, Eomma, terima kasih untuk konferensi yang kalian siapkan. Aku pergi.”
Kyuhyun menarik Kim Ra pergi. Keluar.
“Oppa…” Seohyun memanggil Kyuhyun.
“Seohyun.” Yesung yang sedari tadi diam, bersuara. “Jangan! Tolong berhentilah.”
“Kau tidak tahu apa – apa.” Sentak Seohyun. Oh! Kelembutan dan keluguannya hilang seketika.
“Aku tahu segalanya.” Jawab Yesung lantang. “Jangan melakukan ini. Kau gadis baik – baik, Seo. Aku tahu itu.”
“Apa yang terjadi? Kelaianan apa yang di maksud Kyuhyun?” Tuan Seo, Ayah Seohyun menatap tajam pada putrinya.
“Bukan apa – apa, Appa. Kalian salah paham. Kyuhyun Oppa hanya…”
“Macocism.” Yesung menyela. “Putri anda mempunyai Parafilia, Tuan. Macocism.”
“Yesung Oppa, cukup!” Seohyun membentak.
“Lalu Kyuhyun?” Nyonya Cho menyela.
“Eomonim maaf, Kyuhyun juga memiliki Parafilia dengan jenis yang berbeda. Tapi Anda tidak perlu khawatir. Kyuhyun bisa mengatasinya. Kim Ra membawa Kyuhyun menemui dokter. Kyuhyun menjalani terapinya dengan baik.” Dengan marah seharian, nyaris mematahkan hidung Kim Ra dan membuat istrinya sekarat. Yesung menambahkan dalam hati.
“Yaa Tuhan.” Bisik Nyonya Cho. Lemas. Wanita yang melahirkan Kyuhyun itu dituntun suaminya untuk duduk di sofa tidak jauh dari Madam Young.
“Jadi madam Young, dengan penuh kehormatan.” Dan kutukan! “Jangan rencanakan pernikahan untuk mereka berdua. Kalau mereka bersama, Parafilia yang mereka miliki tidak akan sembuh.” Yesung menghadap Madam Young.
“Sebenarnya kau bicara apa? Parafilia itu apa?” Madam Young berteriak.
Yesung menganga. ‘Astaga! Wanita tua ini sudah licik, jahat, bodoh pula.’
“Kelainan seks. Perilaku seksual yang menyimpang, Madam.” Suara Yesung seperti seorang ibu yang kesal pada anaknya.
“APA???” Teriak semua orang di ruangan itu bersamaan. Kecuali Yesung dan Seohyun.
Apa? Mereka berteriak apa? Sial! Yesung merengut. Dia sudah berlagak seperti pahlawan. Menjelaskan kelainan Kyuhyun dan Seohyun seperti seorang dosen yang mengajar di depan mahasiswanya. Tapi Apa? Tidak satupun dari mereka yang mengerti apa itu Parafilia?
“Aku tidak akan menjelaskan lagi.” Yesung kesal. “Dan Tuan Seo, sebaiknya anda membawa putri anda untuk menemui seorang dokter.” Saran Yesung. Kemudian pandangan matanya terarah pada Seohyun yang sedari tadi memucat.
“Dan masalah ginjal. Golongan darah kita sama. Kita hanya perlu memeriksa kecocokannya. Aku bisa memberikan satu ginjalku untukmu kalau kau mau. Pergilah ke dokter untuk parafilia-mu. Semoga lekas sembuh, Seohyun.” Tambah Yesung.
“Yesung Oppa, kau!” Suara Seohyun sarat akan kebencian.
“Aku permisi.” Yesung menunduk sesaat. Meninggalkan ruangan.
-000-
Setelah menghabiskan perjalanan panjang dari hotel menuju rumah besar, akhirnya mobil Kyuhyun memasuki garasinya. Masih tetap diam dan canggung, Kyuhyun dan Kim Ra berjalan masuk ke dalam rumah. Wajah Kyuhyun sudah terlihat sedikit santai. Kim Ra melenggang begitu saja. Kyuhyun berjalan tiga langkah di belakang Kim Ra.
Pikiran dan perasaan Kim Ra kacau berkali lipat. Terlalu banyak yang terjadi. Terapi, penyiksaan, pernikahan dan pembatalan. Tapi Kim Ra terpaku pada dua hal yang bisa membuatnya terbang dan jatuh. Pengakuan pernikahannya dengan Kyuhyun. Tidak ada alasan bagi Kim Ra untuk tidak merasa bahagia. Dia sangat bahagia. Tapi yang mendominasi isi kepalanya saat ini adalah kenyataan bahwa Kyuhyun meninggalkannya dalam keadaan nyaris sekarat kemarin.
Untuk alasan yang jelas, Kim Ra merasa setara dengan para pelacur Kyuhyun.
Memasuki rumah, Han Ahjumma berdiri di samping pintu. Wanita itu menyambut dengan senyum hangat dan kelegaan. Wajah keibuannya benar – benar menentramkan. Kim Ra memelankan langkah kakinya saat semakin mendekati Han Ahjumma. Memaksakan senyumnya. Kyuhyun berjalan melewati Kim Ra.
“Tuan muda.” Sapa Han ahjumma.
“Ahjumma siapkan makanan! Aku belum sarapan.” Kyuhyun bicara sambil terus berjalan.
“Baik Tuan muda.” Han Ahjumma menjawab patuh.  “Nona muda.” Sapa Han Ahjumma pada Kim Ra.
“Ahjumma.” Kim Ra berhenti di depan  Asisten rumah tangga Kyuhyun yang setia itu.
“Aku melihatnya di televisi. Aku turut senang dengan kebahagiaan kalian.”
“Oh! Apa itu ada di televisi?” Kim Ra terkejut.
“Ya. Tadi disiarkan secara langsung.”
Jadi itu benar – benar sudah tersebar. Sekarang dunia tahu kalau dia adalah Istri Cho Kyuhyun. Tapi apa ini? Kenapa rasa cemas justru membengkak parah dalam hati Kim Ra? Saat semua orang tahu tentang statusnya. Dan sekarang Kim Ra bahkan tidak tahu bagaimana hubungannya dengan Kyuhyun. Apakah baik – baik saja? Setelah semalam? Setelah semua ini? Mengambil napas dalam. Kim Ra mencoba berpikir hal baik. Mencoba mengalirkan kenyataan dalam darahnya. Oke, dia bukan istri simpanan!
Tunggu! Kalau beritanya ada di televisi, berarti…
“Appa dan Eomma pasti melihat.” Kim Ra menggumam. “Aku kekamar dulu, Ahjumma.”
Kaki Kim Ra melangkah dengan cepat menuju tangga. Tergesa. Membuka pintu kamar sedikit keras. Kyuhyun yang ada di dalam menoleh ke arah pintu. Pria itu sudah mengganti kemejanya dengan kaos hitam berlengan panjang yang di gulung asal sampai siku. Mata mereka bertemu. Kim Ra yang lebih dulu mengalihkan pandangannya.
Astaga! Membuang pandangan dari Kyuhyun, mata Kim Ra justru terarah ke tempat tidur yang masih belum dirapikan. Masih berantakan. Ikat pinggang dan Seprei yang bergulung ada di atasnya. Sangat mengingatkan tentang semalam. Dan ingatan itu berujung pada kenyataan pahitnya. Kyuhyun meninggalkanya.
Sial!
Dicekik rasa canggung, Kim Ra menuju meja belajarnya. Gadis itu sibuk merusak mejanya. Membuka laci. Merogoh tas. Dia mencari ponsel. Kim Ra berjalan ke arah tempat tidur. Memeriksa meja yang biasa di pakai Kyuhyun meletakkan ponselnya. Dimana benda itu?
“Apa yang kau lakukan?” Kyuhyun tidak tahan dengan yang keributan yang diciptakan Kim Ra.
“Ponsel. Aku harus menelepon Eomma.” Ketus. Kim Ra masih mencari.
“Aku sudah menelepon mereka pagi – pagi tadi.”
“Oh?” Berusaha terlihat tidak perduli. Kim Ra berdiri kaku memunggungi Kyuhyun.
“Tidak usah khawatir. Appa-mu sedang di Thailand dan Eomma-mu akan terbang ke Jepang Jam 10 nanti. Ah, itu 15 menit lagi. Aku juga sudah bilang pada Oppa-mu.” Kyuhyun berjalan mendekati Kim Ra. “Yang perlu kau lakukan sekarang adalah makan.”
“Aku akan menyusul.” Kim Ra yang merasa Kyuhyun mendekat, langsung berjalan cepat masuk ke dalam kamar mandi.
Kyuhyun murung. Dia tahu Kim Ra menghindarinya.
Kim Ra bersandar di balik pintu kamar mandi. Lega. Setidaknya dia tidak harus menjelaskan kepada orang tuanya. Mengabaikan Kyuhyun yang masih berdiri di depan kamar mandi, Kim Ra sibuk dengan pikirannya. Tersenyum sinis sesekali. Appa ada di Thailan. Eomma akan pergi ke Jepang. Akan? Kyuhyun menelepon pagi – pagi dan dia tetap terbang ke Jepang tanpa berusaha menemui anaknya. Ya, itulah orang tua Kim Ra.
  Di meja makan, Kim Ra tetap tenang dengan makanannya. Menganggap seakan tidak ada Kyuhyun di sekitarnya. Sementara Pria itu duduk di sebelah kanannya juga hanya diam. Makan dengan canggung. Tidak ada yang memulai pembicaraan.
Lama seperti itu, dan akhirnya Yesung datang.
Yesung dengan wajah cemberut taraf tinggi, berjalan mendekat. Duduk di depan Kim Ra. Dia menghembuskan nafas kasar. Memamerkan kekesalannya. Matanya memandang Kim Ra. Menyipit dua kali lipat.
“Tuan muda Yesung, kau ingin sarapan juga?” Tanya Han Ahjumma lembut.
“Yes please, Honey.” Yesung menjawab dengan desisan. Matanya tak lepas dari Kim Ra.
“Kenapa?”
“Kenapa? Kau tanya kenapa setelah kau dan suami sialanmu itu meninggalkan aku. Membuatku harus memberikan kuliah pagi untuk para orang tua itu dan tidak satupun dari mereka mengerti  apa yang aku bicarakan. Sekarang kau tanya aku kenapa?”
“Kuliah pagi?” Kim Ra memiringkan kepalanya. Bingung.
“Dan sekarang kau juga tidak tahu apa yang aku bicarakan! Kenapa hari ini semua orang mendadak tolol semua?” Yesung berteriak kemudian berdiri dan meninggalkan Kyuhyun dan Kim Ra.
-000-
Hari sudah hampir senja. Yesung masih uring – uringan seharian. Setelah sarapan di waktu menjelang siang tadi, Kyuhyun sudah kembali ke kamar. Belum keluar lagi. Dan di sinilah Kim Ra. Sendirian duduk di pinggir kolam renang. Dia tidak tertarik untuk masuk ke dalam kamarnya. Melihat wajah Kyuhyun bukan ide yang bagus. Mendiamkan Kyuhyun adalah cara terbaik untuk menenangkan diri.
“Aku harus apa?” Mendesah pada dirinya sendiri. Kim Ra berbaring di bangku santai kolam renang.
“Kau harus tidur. Masuk!” Suara Kyuhyun begitu dekat. Pria itu ada di belakang Kim Ra.
“Sebentar lagi.”
“Sekarang!”
“Berhenti bersikap seakan – akan kau peduli padaku.” Kim Ra bangun dari posisi berbaringnya.
Mata Kyuhyun melebar. Terkejut dengan respon Kim Ra.
“Apa?” Kyuhyun mulai waspada.
“Aku marah padamu!”
“Marah?” Dengan dahi berkerut, Kyuhyun berjalan mendekat.
“Jangan mendekat!” Kim Ra berdiri. Mundur satu langkah.
Kyuhyun berhenti. Mengamati ekspresi Kim Ra. Mencoba membaca apa yang ada di dalam kepala gadis cantik itu. Marah? Untuk alasan apa? Kyuhyun membuat daftar kesalahannya sendiri. Marah yang membabi buta pada Kim Ra setelah terapi. Melukai hidung gadis itu. Menyiksa dangan brutal di tempat tidur. Melibatkannya dalam rentetan acara memuakkan siang ini. Jadi kesalahan yang mana?
“Kau marah untuk…”
“Kau meninggalkan aku.” Kim Ra memotong cepat. Kyuhyun terdiam dengan mulut setengah terbuka.
Hah?
“Meninggalkanmu? Aku tidak pernah.”
“Kemarin malam. Kau pergi.” 
“Itu, eumm- aku…”
“Kau hanya tinggal membayarku, dan aku akan sama seperti pelacurmu.” Kim Ra menahan air matanya.
“Astaga..” Kyuhyun mengeluh pelan. Kali ini tingkat terkejutnya berkali lipat.
Kyuhyun membeku. Dia tidak pernah menyangka kalau Kim Ra akan sampai pada pemikiran itu. Apa? Menyamakan Kim Ra dengan pelacur? Itu pemikiran yang sangat kacau. Tidak pernah terlintas pemikiran menjijikkan itu. Kyuhyun menatap Kim Ra pasrah. Terluka. Kim Ra melangkah terlalu jauh dari kenyataan.
“Aku bahkan tidak pernah berpikir seperti itu.”
“Tapi kau melakukannya.” Mengabaikan air mata yang jatuh. Kim Ra berusaha untuk tidak terisak.
“Aku tahu aku menyakitimu. Tapi aku tidak pernah menganggapmu seperti itu.”
“Menyakitiku.” Kim Ra mengulang kata Kyuhyun dengan nada sinis. “Kau memang menyakiti aku.” Kim Ra berjalan cepat melewati Kyuhyun.
Mencekal tangan Kim Ra, Kyuhyun menahan kepergian gadisnya.
“Hei, ayo bicara!”
“Akan percuma berbicara dengan orang sepertimu.”
“Orang seperti aku?”
Orang yang tidak punya hati!
“Aku tidak mau bicara denganmu.” Kim Ra menarik lengannya dari cekalan Kyuhyun.
Kim Ra meratapi nasib di setiap langkahnya. Meninggalkan Kyuhyun di belakang. Menghapus air matanya dengan kasar, Kim Ra menuju dapur. Berharap segelas air es bisa mendinginkan kepalanya.
Kim Ra merasakan dinginnya air es yang mengaliri tenggorokannya. Oh tidak! Air es bukan pendingin yang tepat untuk kepala dan hatinya. Kim Ra meletakkan gelas dengan kasar, nyaris membanting. Meninggalkan dapur dengan bibir yang masih cemberut. Kim Ra tertarik dengan suara obrolan hangat Yesung dan Han Ahjumma.
Mereka berdua mengobrol santai seperti mereka adalah pemilik rumah.
Kim Ra menjatuhkan tubuhnya di salah satu sofa panjang di ruang keluarga. Bergabung dengan Yesung dan Han Ahjumma yang duduk santai di sofa yang lain. Fokus pada televisi. Kim Ra melirik layar flat itu sekilas. Layar televisi yang sedang menayangkan sebuah acara hiburan. Apa namanya? Running Man? 
Kim Ra mendengus saat mendengar Yesung dan Han Ahjumma tertawa cekikikan.
Dengan rasa kesal yang menumpuk penuh di dada, Kim Ra menyandarkan dirinya pada sadaran sofa empuk nan mahal. Mengadahkan kepalanya ke atas. Menatap langit – langit rumah mewah Kyuhyun. Istananya. Me-review kenangannya. Kenangan mereka. Mulai dari pertama kali Kim Ra datang ke rumah ini.
Pernikahannya. Menyandang status sebagai istri Kyuhyun. Sikap Kyuhyun. Pertengkaran – pertengkaran mereka yang menyebalkan. Malam pertama yang ‘luar biasa’. Kelainan Kyuhyun. Pertunangan pria itu. Mengandung anak pria itu. Keguguran. Perpisahan. Hubungan kacau yang terkadang manis.
Sampai pada Kyuhyun yang mengakui pernikahan mereka siang tadi.
Kim Ra semakin jauh terhanyut pada kenangan masa yang telah berlalu. Sampai dia merasakan sofa yang dia duduki bergerak. Seseorang telah menambah beban. Kim Ra tersentak dan menegakkan badannya saat pangkuannya terasa berat.
Oh! Kyuhyun berbaring dengan kepala di pangkuan Kim Ra.
Mata mereka bertemu. Kyuhyun dengan wajah yang tidak terbaca. Berbaring santai. Tangannya terlipat di dada. Mengamati wajah Kim Ra. Menikmati ekspresi terkejut gadis itu. Menggemaskan.
“Aku tidak pernah menganggap dirimu seperi pelacur.” Kyuhyun berbicara santai seperti mengatakan ‘Aku tidak suka apel.’ Kim Ra menegang. Ini terlalu to the point.
Tanpa perintah, Yesung dan Han Ahjumma mundur teratur.
“Kau melakukannya.” Bisik Kim Ra. Berusaha mengumpulkan pikirannya yang sempat tercecer. “Membawa aku ke tempat tidur, berbuat kasar, dan setelahnya kau pergi meninggalkan aku dengan Yesung Oppa. Kau hampir memperlakukan aku sama seperti para pelacurmu. Hanya saja tidak ada uang.”
“Kau berpikir aku begitu?”
“Aku tidak yakin.” Kim Ra menggeleng ragu. “Kau meninggalkan aku dan itu membuat aku merasa sangat buruk.”
“Itu karena aku merasa sangat menyesal. Aku terkejut juga dengan apa yang sudah kita lakukan. Apa yang aku lakukan padamu.” Kali ini suara Kyuhyun dalam bisikan.
“Dan kau merasa lebih baik menemuinya dari pada menungguku?”
“Siapa?”
“Aku harus memanggilnya apa? mantan- calon istrimu?”
“Tidak. Aku tidak menemui Seohyun.”
Oh ya?
“Aku tidur di kantor. Tapi aku bahkan tidak menemukan diriku bisa memejamkan mata walau sebentar. Sama sekali.”
“Seharusnya kau tidak pergi.”
“Aku tidak bisa bernafas saat melihatmu terluka. Terlebih karena itu ulahku.”
“Aku hanya ingin terbangun dalam pelukanmu.” Kim Ra berbisik. Air matanya menetes tepat di pipi Kyuhyun. Kim Ra menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
“Sshh! Jangan menangis! Aku minta maaf.”
Kyuhyun menyingkirkan tangan Kim Ra. Menghapus air mata Kim Ra dengan ibu jarinya. Pipi mulus dan lembut itu, entah seberapa sering teraliri air mata. Lubang penyesalan di hati Kyuhyun menganga semakin lebar. Pria gagah, tampan, dan kaya  raya itu mulai meragukan dirinya sendiri. Apakan dia bisa membahagiakan istrinya?
‘Kalau kau ingin berpisah setelah ini. Aku akan melepasmu.’
Kyuhyun mengingat lagi mantra yang dia ucapkan malam itu. Bisikan lembut di telinga Kim Ra saat gadis itu tak sadarkan diri. Kyuhyun mencoba mengucapkannya lagi saat ini. Katakan! Katakan Kyuhyun!
“Kalau kau…” Kyuhyun berhenti.
“Apa?”
“Kalau kau ingin berpisah denganku. Aku tidak akan pernah melepasmu.”
Apa? Tidak? Hey, Cho Kyuhyun!
Tidak bisa. Kyuhyun tidak bisa mengatakannya. Kim Ra adalah kehidupannya. Melepaskan hidupnya sama artinya dengan mati. Jadi Cho Kyuhyun yang tampan, catat dengan huruf besar dan tempel di otakmu!
GADIS YANG MENJADI HIDUPMU HANYA INGIN KAU BERSAMANYA!!!
“Aku…” Kim Ra memandang Kyuhyun penuh keraguan.
“Jangan!”
“Aku tidak pernah ingin. Kecuali kalau kau tidak ingin berubah…”
“Menunduk!” Perintah Kyuhyun cepat. Melupakan kalimatnya yang masih menggantung. Kim Ra menunduk. 
“Lagi!”
Kim Ra patuh. Semakin menunduk. Semakin merona.
“Lagi!”
Kim Ra terdiam. Berkedip cepat.
“Jangan pura – pura tidak tahu. Aku ingin menciummu. Menunmmmpp.”
Gerakannya cepat. Kim Ra menempelkan bibirnya pada bibir Kyuhyun.
Hanya menempel saja. Kim Ra langsung menarik wajahnya. Duduk dengan tegak lagi. Kyuhyun tersenyum nakal saat mendapati wajah merona Kim Ra. Gadis itu gugup. Tubuhnya menegang. Matanya liar menyapu ke seluruh ruangan. Dan secara tidak sengaja, Kim Ra melihat sebuah bayangan di balik dinding pembatas ruang keluarga dan ruang makan.
Hantu berkepala besar!
Kim Ra mengikrarkan sumpah serapah dalam hati. Tuhan, pria tampan yang diragukan kewarasannya itu harus mendapatkan benjolan besar di matanya besok pagi. Amin.
Kim Ra merasakan sebuah getaran. Kyuhyun merogoh saku celananya.
“Apa?” Kyuhyun mengangkat teleponnya. “Sekarang keadaannya bagaimana?… Oke, tetap di sana! Aku akan datang.” Kyuhyun bangun dari pangkuan Kim Ra.
“Ada apa?” Suara Kim Ra? Bukan! Hantu berkepala besar muncul dari balik dinding.
“Kesehatan Madam memburuk. Dia pingsan. Aku akan ke rumah sakit.”
Kim Ra membatu. Madam Young? Ini pasti karena pembatalan pernikahan siang tadi. Rasa bersalah yang tidak diundang tiba – tiba menyelinap masuk ke dalam hati Kim Ra. Apa ini salahnya juga?
Kyuhyun berdiri. Menyipitkan mata. Ekspresi Kim Ra terbaca olehnya.
“Ini bukan salahmu. Kembali ke kamar. Istirahat!” Kyuhyun menunduk untuk mencium Kim Ra. Penyatuan yang singkat penuh kesan. Basah. “Kita akan bicara lagi. Aku pergi.”
“Perlu ditemani?” Yesung menawarkan bantuan.
“Eomma memintaku datang dengan Han Ahjumma. Kau disini menjaga Kim Ra.”
-000-
Kim Ra berbaring dengan perasaan tidak menentu. Berkali – kali dia membolak – balik tubuh rampingnya. Kekiri dan kekanan. Mencari posisi yang nyaman. Dia berusaha memejamkan mata. Selalu gagal. Banyak tanda tanya besar yang melayang dalam pikirannya. Dimana Kyuhyun? Sedang apa? Bagaimana keadaan Madam Young? Di rumah sakit mana? Apa disana ada si pendonor ginjal? Apa Kyuhyun bertemu dengan –mantan- calon istrinya itu?
Ponselnya berbunyi singkat. Membuyarkan lamunan Kim Ra. Sebuah pesan.
From : Mr. Sadism
Aku tahu kau belum tidur. Tidurlah! Halmoni baik – baik saja.
Kim Ra tersenyum. Lega. Pesan Kyuhyun seperti obat penenang.
To : Mr. Sadism
Aku senang kau mengabariku. Kau akan pulang?
“Aku membutuhkanmu untuk bisa tidur.” Ucapan Kim Ra tidak tertulis.
From : Mr. Sadism
Aku belum tahu. Jangan menungguku. Tidurlah!
Kim Ra mengetik sebuah kalimat tapi langsung menghapusnya lagi. Mengetik lagi. Menghapus lagi. Mengetik lagi. Menghapus lagi. Berkali – kali. Kim Ra mendengus. Memukul kepalanya sendiri. Bodoh ! Bodoh! Bodoh!
To : Mr. Sadism
Ya. Aku akan tidur. Selamat malam.
Kim Ra kembali berbaring. Menatap kosong langit – langit kamarnya. Hanya beberapa detik setelahnya, ponselnya berdering.
Mr. Sadism (Incoming call)
“Apa?” Kyuhyun sudah bertanya sebelum Kim Ra menyapa.
“Maksudmu?” Kim Ra balik bertanya.
“Aku menunggu pesanmu hampir sepuluh menit dan kau hanya menulis enam kata. Apa yang ingin kau tanyakan?”
Ya, Kyuhyun yang cerdas.  
“Oh? Itu.. aku..” Kim Ra menggigit bibirnya sesaat. Bernapas. Semoga Kyuhyun tidak marah. “Kau bersamanya?”
Kyuhyun tidak langsung menjawab. Kim Ra meremas selimutnya semakin kuat.
“Dia di sini.” Akhirnya Kyuhyun menjawab. “Tapi aku tidak berdua dengannya. Di sini ada beberapa orang.”
“Baiklah. Aku mengerti.” Kim Ra merengut tanpa sepengetahuan Kyuhyun.
“Menjauhlah dari pikiran yang tidak – tidak. Aku bahkan tidak bicara dengannya.  Kau harus tidur! Selamat malam.”
“Ya, selamat malam.” Kim Ra terdiam. Kyuhyun sudah menutup teleponnya. “Aku mencintaimu.” Kim Ra berbisik walaupun dia tahu, Kyuhyun tidak lagi mendengar.
Kim Ra menjauhkan ponsel dari telinganya saat benda itu berbunyi lagi.
From : Mr. Sadism
Aku mencintaimu juga!
Ah? Kim Ra menutup mulutnya yang menganga. Kyuhyun selalu penuh kejutan.
“Ohhh!” Suara Kim Ra keluar dengan spontan saat tiba – tiba kamanya menjadi gelap.
Kim Ra menyalakan ponselnya dan merayap turun dari tempat tidur. Dengan penerangan seadanya, Kim Ra berusaha keluar kamar. Gelap gulita. Semuanya gelap. Memandang keluar dari jendela besar, Kim Ra tidak menemukan cahaya. Pemadaman listrik.
Gelap tanpa Kyuhyun itu menyebalkan.
Dengan hati – hati Kim Ra menuruni tangga. Berjalan pelan menuju kamar Yesung. Hanya pria itu yang ada di rumah ini. Han Ahjumma ikut pergi bersama Kyuhyun. Kim Ra berjalan dengan sesekali meraba dinding. Setelah perjuangan melawan rasa takut, akhirnya Kim Ra sampai di depan kamar Yesung. Tanpa mengetuk pintu, gadis itu masuk ke dalam.
Dari cahaya yang di pancarkan ponselnya, Kim Ra melihat pria itu tidur dengan posisi tengkurap. Terlihat tenang dengan napas yang teratur. Pria itu damai dalam tidurnya sampai tidak menyadari kalau mereka sedang dilanda pemadaman listrik.
Kim Ra duduk di sisi tempat tidur yang lain. Merenung. Merindukan Kyuhyun. Sampai beberapa saat kemudian, Yesung menarik perhatiannya. Pria terlihat gusar dalam tidurnya. Bergerak – gerak tidak nyaman. Keringat mengalir di wajahnya. Setelah menyalakan lampu flash dari ponsel dan meletakkannya di meja, Kim Ra mencari sebuah buku.
Tidak ada buku. Ah! Selembar poster dia dapatkan. Kim Ra Melipat benda itu menjadi bentuk yanng lebih kecil.
Kim Ra kembali duduk di tepian tempat tidur. Menggerakkan posternya ke kiri dan ke kanan sehingga menghasilkan udara yang cukup sejuk. Lambat laun, Yesung kembali dalam ketenangannya. Kembali pulas, sementara Kim Ra sibuk mengipasi dirinya.
Kim Ra masih ingat, Kyuhyun meminta Yesung untuk menjaga dirinya. Tapi yang terjadi adalah sebaliknya. Seandainya Kyuhyun tahu, pasti akan ada PHK besok pagi.
Semakin larut malam itu, Kim Ra tertidur di samping Yesung.
Jam 02.00 pagi.
Pintu rumah besar terbuka. Kyuhyun masuk dengan wajah lelah dan mengantuk. Beberapa kali dia menguap saat menaiki tangga menuju kamarnya. Yang dia inginkan adalah segera naik ke tempat tidur dengan Kim Ra di sampingnya. Tidur sambil memeluk istrinya adalah ide yang sangat menggiurkan.
Sampai di kamar, Kyuhyun terdiam. Kosong? Dimana Kim Ra. Kamarnya kosong. Tidak ada Kim Ra di tempat tidur. Kyuhyun berjalan menuju kamar mandi. Kosong. Melihat lemari pakaian Kim Ra. Kosong. Mulai panik, Kyuhyun mengambil ponselnya. Menelepon Kim Ra.
Tidak aktif.
Dengan terburu Kyuhyun keluar kamar. Menuruni tangga dengan cepat. langkahnya tergesa menuju kamar Yesung. Apa yang terjadi dengan Kim Ra?
‘Cklek!”
Kyuhyun membuka kamar Yesung.
-000-
“APA YANG KALIAN LAKUKAN DISINI???” Suara teriakan mengudara.
Sangat memekakan telinga. Membuat dua insan yang sedang tidur sambil berpelukan itu terusik. Yesung yang berteriak. Ini sudah pagi dan dia ingat ini bukan April mob. Lalu apa yang dilakukan kedua majikan sialannya itu? Mengapa Kyuhyun dan Kim Ra tidur di tempat tidurnya?
Perlahan membuka mata dan mulai sadar, Kim Ra ikut terkejut mendapati dirinya berada dalam pelukan Kyuhyun. Kyuhyun ada di sini? Kim Ra melihat Yesung. Matanya mengirimkan pertanyaan. Bagaimana bisa Kyuhyun tidur di tengah, antara Kim Ra dan Yesung.
Pemandangan Kim Ra dan Kyuhyun yang tidur bersamanya, benar – benar menyakitkan mata Yesung.
“Apa yang kalian lakukan disini?” Yesung mengulang pertanyaannya. Aura kemarahan belum reda.
“Apa yang Kyuhyun lakukan disini?” Kim Ra menunjuk Kyuhyun yang masih memejamkan mata.
“Mana aku tahu!” Sentak Yesung.
“Apa yang kalian lakukan?” Kim Ra mengamati Kyuhyun dan Yesung bergantian.
“Apa maksudmu?”
“Kau tidur di sampingnya. Kau..”
“Apa? Kau pikir aku menyentuhnya? Aku lebih berminat menyentuhmu daripada suami sialanmu ini!”
‘Bug!’
Kyuhyun yang berpura – pura tidur, akhirnya merasa jengah juga dengan pertengkaran Yesung dan Kim Ra. Memukul kepala Yesung dengan bantal, Kyuhyun mendapatkan dua kesalahan Yesung.  Berniat menyentuh Kim Ra dan mengatai dirinya sialan. Sebuah bantal menjadi harga yang pantas untuk mulut kurang ajar Yesung.
“Yak! Kenapa kau memukulku? Apa yang kau lakukan disini? Kenapa harus di kamarku? Kalian berniat membuat bayi di tempat tidurku? Kenapa harus bersamaku?” Yesung mengomel dengan kalimat yang panjang.
Kyuhyun tidak menanggapi. Yang dia lakukan adalah bangun dari tidurnya, mendorong Yesung keluar kamar, dan menuntup serta mengunci pintu kamar Yesung. Selesai membereskan hama pengganggu, Kyuhyun kembali berbaring di samping Kim Ra yang masih melotot melihat tingkah Kyuhyun.
“Apa yang kau lakukan?” Tanya Kim Ra.
“Mengusirnya.” Kyuhyun memejamkan mata kembali.
“Ini kamarnya.”
“Ini rumahku.” Tersenyum iblis, Kyuhyun meraih Kim Ra dalam pelukannya lagi.
-000-
Jam 9 pagi tadi, Kyuhyun dan Kim Ra keluar dari kamar Yesung. Keduanya mandi dan mengganti pakaian. Kemudian berjalan beriringan menuju ruang makan untuk sarapan. Selesai sarapan, Kyuhyun dan Kim Ra menghampiri Yesung yang sejak di tendang dari kamar itu hanya duduk di ruang keluarga. Masih dengan wajah yang ditekuk, bibir yang maju beberapa centi, dan piyama yang belum diganti. Tentu, dia belum mandi.
“Apa yang kau lakukan disini?” Kyuhyun menegur Yesung. Duduk di sofa yang lain.
“Kau pikir apa? Dua orang tidak tahu diri merampas kamarku.” Yesung bersungut – sungut.
“Bukan aku, Oppa!” Mengelak. Tidak mau disalahkan. Kim Ra duduk di samping Yesung.
“Aku hanya meminjam kamarmu beberapa jam itu tidak sebanding dengan aku yang menampungmu di sini berbulan – bulan.”
“Apa? Menampung? Lalu siapa yang memohon padaku untuk tinggal di rumah ini karena bingung bagaimana menghadapi istri muda?”  Yesung membongkar gudang rahasia. Kyuhyun melotot padanya.
“Istri muda?” Kim Ra menyipitkan mata.
“Istri yang berusia masih sangat muda. Yang pria itu anggap pasti akan sangat labil, tukang rajuk, dan sulit dikendalikan.” Yesung menatap Kim Ra sambil menunjuk Kyuhyun.
“Kapan aku pernah berkata seperti itu? Tutup mulutmu!” Desis Kyuhyun.
“Terlambat untuk menutup mulutku, Cho Kyuhyun. Kim Ra bahkan sudah mendengar tentang cinta pertama pada celana dalam.” Yesung memasang wajah licik. Skak Mat kau Kyuhyun!
Kim Ra berdehem spontan. Merona saat kedua pria dewasa ini membahasa celana dalam masa kecilnya.
“Sialan!” Baru saja Kyuhyun akan mengomel, Ponselnya bergetar. “YA!” Bentak Kyuhyun. Kekesalannya pada Yesung dia muntahkan pada…
Siapa yang menelepon? Eunhyuk? Oh! Eunhyuk yang malang.
“APA? BICARA YANG JELAS!” Kyuhyun masih membentak. Nadanya meledak – ledak. “BERAPA LAMA?… AKU SENDIRI YANG AKAN KESANA!” Kyuhyun mematikan teleponnya dengan kasar.
Kyuhyun menatap Yesung dengan mata penuh dendam yang haus untuk dipuaskan. Mulut Yesung yang kelewat terampil itu harus di beri pelajaran. Mengerti aura gelap yang mengancam, Yesung bergidik ngeri. Merapatkan duduknya dengan Kim Ra. Kyuhyun menatap Kim Ra.
“Aku akan ada perjalanan bisnin ke London. Mungkin akan sedikit lama. Sekitar 2 sampai 3 minggu. Han Ahjumma akan kembali nanti siang.” Kyuhyun berdiri. Melangah pergi. Tapi saat di depan Yesung, Kyuhyun berhenti. Matanya kembali penuh dendam. “Kau ikut aku. Kemasi barangmu sekarang!”
“Ya. Sajangnim.” Yesung patuh.
-000-
“Kau tak perlu mendengarkan omong kosong Yesung.” Kyuhyun mengamati Kim Ra yang sedang mengepak beberapa pakaian Kyuhyun dalam koper.
“2 Minggu itu waktu yang lama.” Mengalihkan pembicaraan. Kim Ra meminta setumpuk kemeja yang di pegang Kyuhyun.
“Itu bisa lebih. Aku akan meneleponmu 3 kali sehari. Jadilah gadis manis selama aku tak ada.”
‘Teleponmu tidak bisa memelukku. Aku pasti rindu pelukanmu.’ Kim Ra mengeluh dalam hati.
“Kenapa aku tidak ikut?”
“Tidak. Aku tidak membawa keluarga untuk bisnis.”
“Aku tidak akan mengganggu. Aku bisa tinggal dengan Siwon Oppa.”
“Itu yang aku hindari. Kau bertemu Siwon.”
“Aku tidak akan mengadu padanya.” Kim Ra sedikit tersinggung.
“Aku tahu. Tapi tidak. Sebaiknya menurut dan kita selesaikan pembicaraan ini sebelum kita bertengkar. Aku akan mandi.”
-000-
Kyuhyun dan Yesung sudah pergi selama 5 hari. Kim Ra merasa hidupnya tiba – tiba menjadi kosong. Tidak menarik. Tidak berwarna. Apa seperti ini hidupnya saat tidak bersama Kyuhyun. Kim Ra menggeleng lemas.
“Berhenti memikirkan Kyuhyun! Hidupku bukan hanya Kyuhyun!” Kim Ra menyemangati dirinya sendiri.
Kim Ra memeriksa agendanya. Tersenyum simpul lalu mengambil ponselnya.
To : Mr. Sadism
Aku akan pergi menemui Kim Heechul. Semoga harimu menyenangkan.
Tidak sampai 2 menit, Kyuhyun membalas.
From : Mr Sadism
Kalian pasti akan sangat senang membicarakan aku di belakang. Jangan lupa makananmu!
Kim Ra tersenyum.
Izin Kyuhyun membawa langkah Kim Ra memasuki gedung berwarna putih. Kim Heechul sedang ada urusan di Rumah sakit. Jadi Kim Ra menemuinya disini. Menemui Kim Heechul, Kim Ra ingin membahas masalah terapi pertamanya dengan Kyuhyun yang gagal total. Huft.. Kim Ra bergidik ngeri saat membayangkan Kyuhyun yang mengikat lengannya dengan ikat pinggang malam itu.
Keluar dari lift di lantai 4, Kim Ra mendengar seorang pria memanggil namanya. Bukan panggilan yang terang – terangan. Hanya sebuah gumaman hasil  keterkejutan dan Kim Ra mendengar itu. Menoleh ke arah suara yang memanggil namanya, mata Kim Ra mencari – cari. Gadis itu tertular keterkejutan pria yang memanggilnya. Orang itu…
“Lee Donghae.” Lirih Kim Ra.
“Lama tidak jumpa.” Donghae berdehem singkat menetralkan rasa kejutnya. Tersenyum manis. “Apa kabar?”
“Aku… baik.” Ragu. Kim Ra membalas dengan senyum canggung yang aneh untuk dilihat.
“Sedang apa kau disini? Kau sakit?”
“Tidak. Aku hanya…” Memutar matanya, Kim Ra berpikir. “Aku ada janji dengan seseorang.”
“Shin Kim Ra-Ssi.” Kim Ra menoleh. Kim Heechul memanggilnya.
“Hyung…” Donghae menyapa Heechul. “Kau mengenal Kim Ra?”
“Iya. Aku mengenalnya.” Heechul tersenyum pada Kim Ra. “Kau bersama Cho Kyuhyun?”
“Tidak. Kyuhyun sedang bekerja. Hmm, Heechul Oppa maaf aku sedang ada urusan, bisakah kita mengatur pertemuan lain waktu saja. Aku permisi.” Kim menunduk sopan pada Heechul dan Donghae. Pergi dengan terburu.
Lee Donghae.
Kim Ra tidak pernah punya rencana untuk bertemu pria itu. Pria yang menjadi sumber kegelapan Kyuhyun. Diam – diam Kim Ra menyimpan rasa marah dan kesal pada Donghae. Dan sekarang Kim Ra tidak siap untuk bertemu pria itu. Sapa ramah dan senyum manis Donghae bertolak dengan kemarahan Kim Ra. Dan apa itu tadi? Donghae dan Heechul saling mengenal? Atau jangan – jangan Donghae menemui Heechul dengan tujuan yang sama seperti Kim Ra dan Kyuhyun.
Kim Ra akan menanyakan ini pada Heechul nanti.
-000-
Hidup tanpa Kyuhyun benar – benar membosankan.
Ini sudah lebih dari 2 minggu Kyuhyun dan Yesung pergi. Setiap hari Kim Ra hanya menghabiskan waktunya dengan mengobrol dengan Han Ahjumma. Sesekali ke mini market atau belanja bersama Han Ahjumma.
Setiap hari, waktu yang sangat ditunggu Kim Ra adalah jam 9 pagi, jam 5 Sore dan jam 8 malam. Karena di waktu – waktu itu, Kyuhyun meneleponnya. Walaupun tidak lama dan sering mengulang pembicaraan yang sama seperti ‘Bagaimana pagimu? Jangan lupa makan! Jangan tidur larut!’ Tapi Kim Ra sangat  senang mendengar suara Kyuhyun. Dia benar – benar merindukan prianya. Kapan Kyuhyun akan pulang? Ini sudah 2 minggu 3 hari.
Ponsel Kim Ra berdering. Kyuhyun? Kim Ra merengut saat nama ‘Eomma’ yang muncul di layar ponselnya.
“Eomma…” Kim Ra membahas sapaan Eomma-nya. “Kapan?… Iya, aku bisa. Dimana?… Eo! Sampai ketemu Eomma. Kim Ra menutup teleponnya. Beberapa menit kemudian ponselnya berbunyi singkat.
From : Eomma
Bisakah kau menjemput Eomma saja?
Kim Ra membalas cepat.
To : Eomma
Baiklah. Eomma tunggu aku.
Ponsel Kim Ra berdering lagi.
From : Mr. Sadism
Aku berencana pulang sore ini. Kau menginginkan sesuatu?
Kim Ra tersentak. Pesan dari Kyuhyun. Dia akan pulang hari ini? Kim Ra melompat – lompat kegirangan.
To : Mr. Sadism
Aku senang kau akan pulang.
Kyuhyun, Eomma ingin aku menemuinya. Aku janji akan berada di rumah sebelum kau pulang.
PS: Aku hanya ingin kau pulang dengan selamat.
Kim Ra menekan tanda ‘send’ dengan senyuman manisnya.
-000-
“Kenapa tidak masuk? Kau ini seperti tamu saja.” Ibu Kim Ra mengomeli anak gadisnya.
“Aku hanya ingin kita cepat pergi Eomma.” Kim Ra mencari alasan.
“Oh iya, Zhoumi-ah. Sebelum ke cafe Seventeen, kita akan kerumah sakit sebentar. Aku harus mengambil hasil pemeriksaanku kemarin.” Ibu Kim Ra berbicara dengan supirnya.
“Pemeriksaan apa?” Kim Ra tertarik untuk tahu.
“Kemarin saat aku bertemu teman – temanku, satu dari mereka menyenggolku hingga aku jatuh. Aku pikir itu sengaja. Kaki ku terkilir. Jadi aku melakukan Rontgen.”
Astaga! Kim Ra memutar matanya.
Melupakan masalah ibunya, Kim Ra lebih tertarik dengan supir baru ibunya. Muda, tampan, dan tinggi. Hampir seperti Siwon Oppa. Kim Ra beberapa kali menangkap interaksi aneh di antara kedua orang ini. Sesekali Zhoumi melihat Ibu Kim Ra dari kaca dan di balas dengan senyum merekah wanita itu. Belum lagi mendengar Ibu Kim Ra berbicara dengan suara yang sangat lembut.
Apa Zhoumi salah satu milik Ibu Kim Ra?
-000-
Kim Ra menunggu ibunya di yang sedang mangambil hasil Rontgen. Dia duduk bersama dengan beberapa orang yang terlihat gusar. Kim Ra melirik ruangan yang tidak jauh darinya. Ruang gawat darurat.
Beberapa menit kemudian, Seorang dokter keluar dari ruang gawat darurat. Memberi penjelasan kepada beberapa orang yang Kim Ra yakin itu adalah keluarga korban. Tidak terlalu mendengar apa yang di katakan dokter itu, tapi Kim Ra bisa mengdengar respon keluarga korban. Seorang ibu bahkan menangis nyaris menjerit.
“Tolong dokter, selamatkan putra saya.”
“Maaf, Nyonya. Kami sedang mengusahakannya. Sekarang pasien sedang membutuhkan darah golongan A. Apa dari keluarga ada yang memiliki golongan darah yang sama?” Suara dokter itu sedikit terburu.
“Suami saya. Tapi sekarang suami saya dalam perjalanan kemari dari Busan.”
“Itu terlalu lama. Apa ada yang lain?”
“Saya mempunyai golongan darah A.” Kim Ra bersuara sambil berjalan mendekati ruang gawat darurat.
“Anda keluarga korban?” Tanya dokter.
“Bukan. Tapi golongan darah saya A.”
“Baiklah. Silahkan ikut kami.”
“Oh. Terima kasih Nona.” Ucap keluarga pasien hampir bersamaan.
“Kim Ra!” Ibu Kim Ra berdiri di ujung lorong. Wanita itu melambaikan tangan. “Aku sudah selesai. Ayo, pergi!”
“Eomma, sebentar ya.”
-000-
Kyuhyun sudah berada di bandara Incheon saat jarum jam tangannya menunjuk pukul 2. Kyuhyun pulang lebih cepat. Kyuhyun pulang dengan Yesung. Tapi Yesung meminta izin untuk pulang kerumahnya terlebih dulu. Rumah ditinggalkannya sejak pindah ke rumah Kyuhyun.
Kyuhyun berada di dalam mobil saat ponselnya bergetar panjang. Sebuah panggilan.  Kyuhyun mengerutkan keningnya. Terdiam sesaat sebelum mengangkat teleponnya. Berpikir. Seohyun. Mantan calon istrinya, begitu cara Kim Ra memanggil wanita itu.
“Ada apa?” Kyuhyun menjawab teleponnya. “Oke. Kau dimana?… Cafe Seventeen? Aku akan kesana.” Kyuhyun menutup teleponnya dan langsung menuju ke Cafe Seventeen.
Seohyun ingin bertemu.
Kyuhyun memarkirkan mobilnya di depan Cafe. Turun dari mobil dengan cara yang maskulin seperti biasa. Masih mengenakan kaca mata hitamnya, Kyuhyun masuk ke dalam cafe. Matanya mencari – cari Seohyun.
“Oppa…” Panggil Seohyun. Wanita itu memilih meja yang terletak di dekat jendela.
“Apa yang ingin kau bicarakan?” Kyuhyun duduk di depan Seohyun. Melepas kaca matanya.
“Bagaimana dengan perjalanan bisnismu?” Seohyun tersenyum.
“Apa yang ingin kau bicarakan?” Kyuhyun mengulang pertanyaannya.
“Oppa… Aku ingin tahu bagaimana kabarmu.” Seohyun membuat pout di bibirnya. Cemberut dengan cara yang di buat imut.
“Aku baik.  Bisnisku baik.”
“Aku tak mau kehilanganmu, Oppa.” akhirnya. Seohyun terlihat sedih.
“Aku juga tidak. Kau temanku.”
“Kalau begitu jangan. Kita bisa berteman seperti dulu. Tolong jangan menghindari aku.”
“Bersikaplah baik dan kita akan tetap berteman. Jangan ganggu Kim Ra.”
“Oppa…”
-000-
Selesai bertemu Seohyun, Kyuhyun langsung pulang kerumah. Melirik jam tangannya. Ini sudah hampir jam 4. Kim Ra mungkin sudah pulang. Berjalan menuju kamar, Kyuhyun melepas jaket kulitnya. Sampai di kamar, Kyuhyun mengerutkan kening. Kosong. Sepertinya Kim Ra belum pulang.
Berjalan kesisi tempat tidur, Kyuhyun mengambil ponselnya. Mencari nama ‘Mrs.Cho’. Tapi belum sampai Kyuhyun menekan tanda Call, mata Kyuhyun melihat sebuah kertas yang tergeletak di atas bantal. Kyuhyun memungut dan membaca tulisan disana. Tulisan tangan Kim Ra.
Untuk Cho Kyuhyun
Maaf, aku tidak bisa menepati janjiku. Aku merasa sudah melewati batasku untuk bertahan denganmu. Aku pergi. Semoga kau bahagia.
Shin Kim Ra. 
Kyuhyun membeku. Matanya memanas. Darah mengalir deras ke wajahnya. Merah padam. Meremas surat Kim Ra. Kyuhyun menelepon Kim Ra. Tidak diangkat. Kyuhyun berlari keluar kamar. Turun ke bawah dengan langkah bar – bar. Di dapur, Kyuhyun mendekati Han Ahjumma. Yesung juga sudah kembali.
“Kim Ra pergi. Cari dimana posisinya sekarang. Aku memberi alat pelacak pada ponselnya.” Perintah Kyuhyun pada Yesung. Sempat terkejut, tapi Yesung langsung menuruti perintah Kyuhyun.
“Nona muda pergi?” Han Ahjumma tidak bisa menutupi keterkejutannya.
“Apa dia mengatakan sesuatu pada Ahjumma?” Kyuhyun tidak bisa menutupi kepanikannya.
“Tadi pagi dia bilang padaku akan bertemu dengan ibunya, Tuan Muda. Dia bilang setelah menjemput ibunya, mereka akan ke…” Han Ahjumma mencoba mengingat. “Cafe Seventeen.”
“Apa?!” Kyuhyun berteriak.
Iya, Kyuhyun. Cafe Seventeen. Kim Ra dan Ibunya disana. Di tempat kau bertemu dangan Seohyun.
“Tapi tadi sekitar jam 3, Nona pulang. Tapi segera pergi lagi dan Nona memang mamakai ransel sekolahnya. Aku bertanya apa Nona dengan ibunya, Nona hanya mengangguk saja.”
Kyuhyun mengacak rambutnya kasar. Memejamkan mata dengan nafas yang memburu. Kemungkinan besar Kim Ra melihatnya. Gadis itu pasti salah paham. Sial! Seharusnya Kyuhyun tidak bertemu dengan Seohyun. Sekarang Kim Ra pergi.
“Aku mendapatkannya.” Yesung berteriak antusias. “ Kim Ra ada di bandara. Aku juga memeriksa, namanya terdafatar pada penerbangan ke London.”
“Kita kesana sekarang.” Kyuhyun berjalan cepat keluar rumah di ikuti Yesung di belakangnya.
-000-
Sampai di bandara, Kyuhyun dan Yesung langsung mencari Kim Ra. Beruntung  Yesung sudah memeriksa jadwal penerbangan Kim Ra. Jadi setidaknya mereka tahu, dimana Kim Ra sekarang.   Dan itu dia. Kyuhyun melihat gadis itu duduk di sebuah bangku panjang. Memangku tas ranselnya.
Dia menunduk dan menutup wajahnya dengan tangan.
“Kim Ra!” Yesung berteriak memanggil. Kim Ra mendongak.
Gadis itu langsung berdiri dari duduknya. Wajahnya tegang. Yesung berlari mendekati Kim Ra. Sementara Kyuhyun berjalan pelan dengan napas memburu. Kim Ra merapatkan dirinya pada Yesung. Seperti meminta perlindungan.
Kyuhyun berhenti. Dua meter di depan Kim Ra. melihat dengan jelas keadaan gadis itu. Dia menangis. Tubuhnya bergetar dan sesenggukan. Wajah pucat itu benar – benar basah. Meremas ujung kemeja yang di pakainya sampai buku – buku tangannya memutih. Kim Ra ketakutan.
Kyuhyun menyipitkan matanya. Respon Kim Ra di luar bayangannya. Tidak ada teriakan, bentakan atau makian. Kyuhyun mengira Kim Ra akan marah – marah padanya karena melihat Kyuhyun dengan Seohyun. Tapi apa? Kyuhyun justru menemukan Kim Ra yang ketakutan melihatnya.
“Kau ingin meninggalkan aku?” Suara Kyuhyun serak dan berat.
Kim Ra mengangguk pelan.
“Aku hamil.”
-000-
Bersambung…
Note: Karena rata – rata readers benci dengan TBC, jadi aku ganti dengan ‘Bersambung’. Semoga kalian suka.

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: