Saco Dear Ra (Neorago sequel) part 2

0
Saco Dear Ra (Neorago sequel) part 2 ff nc kyuhyun
Saco Dear Ra! Chapter 2
Author : DiraKimra17
Tittle : Saco Dear Ra! chapter 2
Category : NC17, Yadong, Romance / Kekerasan, Chapter.
Cast :
Cho Kyuhyun
Shin Kim Ra
Other  cast : Other Super Junior member
Author’s Note : Haii… Seperti biasa, aku akan menanggapi beberapa komentar dari readers.  masalah Masokis. Meluruskan salah paham beberapa pembaca. Masokis juga termasuk perilaku menyimpang. Dimana si penderita ini menikmati rasa sakit. Jadi intinya, kalau si masokis ini ketemu sama Sadistis, mereka tidak akan sembuh. Tapi sebaliknya, yang terjadi adalah mereka akan saling menguntungkan dengan metode ‘memberi dan menerima’. Tidak ada yang dirugikan.

Dan juga, semua itu memiliki proses. Hanya mengingatkan, part ini juga bagian dari proses.
Warning! Gak Typo, Gak Gaul!
Selamat Menikmati.
                            -000-
Kim Ra turun dari taksi dengan kaki yang bergetar dan lemas. Pertemuan dengan Seohyun membuat nyawanya seperti lenyap. Hidupnya terasa seperti di antara kematian. Dia sudah tidak bisa memikirkan apa – apa. Otaknya seperti masuk kedalam lemari es. Membeku. Mendadak nyaris expired. Sudah tidak bisa digunakan untuk berpikir lagi.
Sampai akhirnya kaki Kim Ra melewati pagar besi rumah Kyuhyun yang kokoh.
Kim Ra melihat mobil Kyuhyun sudah terparkir di halaman depan. Pria itu sudah tiba di rumah lebih dulu dari pada dirinya. Pasti Kyuhyun akan mengamuk lagi karena Kim Ra pergi tanpa sepengetahuannya. Tanpa izinnya.
Kim Ra yang lelah dan putus asa memasuki rumah besar Kyuhyun. Siap menerima apapun yang akan di katakan atau yang dilakukan suaminya itu padanya. Kim Ra bukan orang sabar. Kesabarannya mempunyai batas. Dan Kyuhyun tidak tahu akan hal itu.
Wasit, silahkan meniup peluit! Pertarungan akan segera dimulai.
“Menentangku lagi?” Kyuhyun dengan kedua tangan yang terkepal. Berdesis pada Kim Ra. Suaranya menandakan bahaya. Kyuhyun sedang marah. “Dari mana kau?”
“Bertemu dengan Seohyun-mu.” Kim Ra balas menatap Kyuhyun. Entahlah. Kali ini dia tidak takut sama sekali. Terlalu lelah.
“Brengsek! Untuk apa kau bertemu dengannya? Kau tidak ada urusan dengan Seohyun!” Kyuhyun nyaris berteriak.
Pintu terbuka. Yesung di sana. Dia baru pulang. Tapi dia diabaikan.
“Kau yakin? Aku menemui calon istri dari suamiku. Apa itu belum cukup menjadi alasan untuk aku berurusan dengannya?” Kim Ra menjaga emosinya. Biar saja di sini Kyuhyun yang berteriak – teriak. Biar saja hanya tenggorokan Kyuhyun yang hancur. Hati Kim Ra sudah sakit. Tidak perlu di tambah dengan sakit tenggorokan, bukan?
“Apa maksudmu?” Kyuhyun memasang wajah waspada.
“Ini maksudku.” Kim Ra merogoh tasnya. Mendapatkan undangan keparat itu di genggamannya. Melempar ke arah Kyuhyun. Tepat, mengenai dada bidang prianya. “Kau tidak bisa melakukan semua hal sesukamu! Kau. Pria. Paling. Brengsek. Yang. Pernah. Aku. Kenal.” Penuh penekanan. Penuh kebencian.
Kyuhyun melotot. Terkejut. Kim Ra meninggalkan Kyuhyun yang terlihat sedang memungut undangan yang terjatuh di dekat kakinya.
Kim Ra masuk ke dalam kamar. Mengunci pintu rapat – rapat. Hatinya sakit sekali. Sangat sakit. Kata – kata yang Kim Ra katakan pada Cho Kyuhyun tadi, adalah kata- kata yang paling tidak ingin dia ucapkan. Kata – kata laknat yang dulu, terpikir saja tidak. Tapi malam ini, kalimat itu mengalir seperti air. Walau kadang tersendat. Kim Ra meremas blouse di depan dadanya. Terasa sangat ngilu di dalamnya. Dia mengingat lagi.
Kyuhyun sang Sadistis dan Seohyun si Masokis.
Kim Ra mencoba berdiri dengan tegak di atas kedua kakinya. Mencoba tegar seperti biasa. Kyuhyun adalah miliknya. Apakah Kim Ra rela melepas Kyuhyun? Mendesah frustasi. Kim Ra melempar tasnya. Berjalan menuju cermin di meja rias. Menatap dirinya lama. Bibirnya mulai bergetar. Air mata sudah menggenang lagi. Dia mulai berbicara dengan kembaran maya dirinya.
“Haruskah?” Kim Ra meneteskan air mata yang  jumlahnya seperti tak pernah habis.
Plak! Plak!
Dua kali, Kim Ra menampar dirinya sendiri. Di pipi kanan yang sekarang memerah. Tamparan yang bukan main – main. Gadis itu terindikasi menyakiti dirinya sendiri. Belum cukup. Kim Ra merapatkan dirinya pada cermin. Meletakkan kedua tangan menempel pada refleksinya. Kemudian ‘dugh! dugh! dugh!’. Berkali – kali. Kim Ra menghantamkan kepalanya pada cermin.
Sakit semakin menyengat. Kim Ra mundur beberapa langkah. Darah segar mulai mengalir dari dahi dan hidungnya. Kim Ra memejamkan mata. Merasakan apa yang sedang dia rasakan. Mencoba menikmati rasa sakitnya. Oh! Ini juga belum cukup. Kim Ra mengambil dasi Kyuhyun yang tersimpan di laci. Mengikat lehernya sendiri. Menarik simpulnya.
Semakin kuat. Semakin kuat. Membuat lehernya tercekik.
Kim Ra menyerah. Dia hampir kehilangan napasnya sendiri. Dengan terbatuk – batuk Kim Ra meraih vas bunga di meja rias. Menghantamkan pada cermin. Membuat kaca itu pecah berkeping – keping. Kim Ra terseok dengan sisa tenaganya. Mendekati kepingan kaca yang berserakan. Memungut satu. Tangannya bergetar hebat saat dengan perlahan dan pasti, Kim Ra menggoreskan kaca di paha kirinya.
Oh! Itu paha kesayangan Kyuhyun!
Kim Ra ambruk. Dia meringis merasakan tajam kaca yang mengoyak kulit mulus pahanya. Kim Ra semakin terisak. Memejamkan mata. Mencoba menikmati rasa sakitnya lagi. Sialan! Kenapa rasanya perih sekali? Kenapa dia tidak merasakan kenikmatan sedikitpun?
Di saat tubuhnya semakin terasa berat, Kim Ra mendengar suara pintu di dobrak. Kyuhyun dan Yesung. Kedua pria itu lari serempak ke arah Kim Ra yang tergeletak dilantai dengan dahi memar dan hidung masih mengeluarkan darah. Dasi masih terikat di lehernya. Paha mulusnya yang tergores dalam. Berdarah. Kim Ra bahkan masih menggenggam serpihan kaca di tangannya. Ia merasakan Kyuhyun membawa tubuhnya di pangkuan pria itu.
“APA YANG KAU LAKUKAN?” Teriak Kyuhyun. Pria itu Shock. Sangat terlihat jelas.
“Jangan s-sentuh aku!” Bisik Kim Ra tegas dengan isakan.
“DIAM!” Teriak Kyuhyun lagi sambil membawa Kim Ra dalam gendongan. Kim Ra mendengar? Entahlah! Gadis itu sudah memejamkan matanya. Mulai kehilangan kesadaran.
-000-
Di ruang putih yang pekat beraroma obat itu, Kyuhyun masih setia duduk di samping Kim Ra yang terbaring lemah. Setelah Kim Ra tak sadarkan diri, Kyuhyun langsung membawanya ke rumah sakit. Kim Ra sudah mendapatkan pertolongan tim medis. Selang infuse sudah tertancap di tangan kirinya. Dahinya sudah di plester. Pahanya sudah tertutup perban. Dasi yang maninggalkan bekas kemerahan di lehernya juga sudah dilepas.
Dasi berwarna putih. Seputih wajah pucat Kim Ra. Kyuhyun bersumpah, tidak akan memakai dasi putih lagi selamanya.
Kyuhyun menciumi tangan Kim Ra berkali – kali. Dia hampir menangis. Hampir. Keadaannya kacau. Dia seperti masuk ke dalam api neraka. Kim Ra belum juga sadarkan diri. Ini sudah hampir 5 jam. Kim Ra masih tenang dengan obat penenangnya. Sedangkan Kyuhyun hampir mati karena tidak bisa tenang.
Masochist!
Kyuhyun mengingat lagi beberapa kalimat rancu yang keluar dari bibir Kim Ra saat mereka dalam perjalanan menuju rumah sakit. Kalimat yang di ucapkan dengan lemah dalam keadaan nyaris tidak sadar. Kim Ra terisak dengan beberapa kali menyebut kata Masochist. Aku ingin menjadi Masochist. Aku ingin menjadi Masochist. Aku ingin menjadi Masochist. Aku ingin jadi pantas untuk Kyuhyun. Semua itu Kyuhyun mendengarnya.
Kau brengsek, Kyuhyun! Kau brengsek!
Iya, Kim Ra juga mengatakan begitu. Cho Kyuhyun brengsek! Sudah tidak penting apa masalahmu Kyuhyun. Sekarang yang harus kau pikirkan adalah masalah Kim Ra. Hey! Gadis itu menyakiti dirinya sendiri. Mencoba menjadi masokis. Untuk apa? Agar dia pantas mendampingi monster keparat sepertimu!
Kau mahkluk paling egois dan gelap.
Kyuhyun tersentak. Dadanya berdegup kencang. Kim Ra mulai bergerak. Kepalanya bergerak. Perlahan, matanya mulai terbuka. Kim Ra-mu sadar! Kyuhyun bangun dari duduknya. Meneliti pergerakan Kim Ra. Bersiap memanggil suster yang berjaga.
“Kyu…” Lirih Kim Ra setengah sadar. Berusaha bangun.
“Ini aku.” Kyuhyun menekan tombol otomatis di samping ranjang Kim Ra. “Tetap tenang Kim Ra!” Tegas. Kyuhyun masih mengintimidasi. Kim Ra kenal dengan nada suara itu. Kyuhyun sedang sangat Khawatir.
Seorang dokter bersama dua orang perawat datang untuk memeriksa keadaan Kim Ra. Mereka menghabiskan waktu sekitar sepuluh menit.
“Tuan Cho, keadaan pasien sudah stabil dan membaik. Besok kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Pastikan agar pasien istirahat cukup malam ini.” Pesan dokter sebelum keluar ruangan. Kyuhyun menunduk hormat.
Dokter dan suster sudah pergi. Kini di ruangan VVIP itu hanya menyisakan dua manusia yang hanya saling menatap. Keadaan yang sama – sama kacau. Sekarat. Mata mereka masih khidmat dalam penyatuan. Saling menyesali. Saling mengasihani. Saling mencintai.
Kyuhyun yang memulai. Memangkas jarak pengganggu diantara mereka. Mendekati Kim Ra. Membelai rambut gadisnya. Tangan Kyuhyun berakhir di pipi gadis itu. Masih sedikit memar karena tamparannya sendiri. Kim Ra memejamkan mata sesaat untuk menikmati hangat tangan besar Kyuhyun. Tuhan, rindu sekali pada pria ini.
“Apa yang kau lakukan?” Tanya Kyuhyun dalam bisikan. Kim Ra membuka mata. Bernapas.
“Apa pedulimu?” Jawab Kim Ra lemah. Oh! Kim Ra masih ingat kalau dia marah pada Kyuhyun ternyata.
“Bodoh! Kau tahu ini tindakan paling bodoh dan aku peduli padamu.” Kyuhyun menajamkan matanya. Berusaha menahan gejolak amarah yang sebernarnya siap dimuntahkan.
“Jadi kau pura – pura tidak tahu kalau penyebab semua ini adalah dirimu sendiri?”
“Ya. Aku tahu.” Kyuhyun dengan penyesalah dan kebencian. Benci pada dirinya sendiri.
“Kau juga pasti tahu, aku tidak pantas untukmu.” Akhirnya, Kim Ra.
“Kau selalu pantas untukku. Hanya kau.” Dengan kening berkerut, Kyuhyun terlihat bingung dengan arah pembicaraan mereka.
“Kalau hanya aku yang pantas untukmu, kenapa kau menikah lagi?” Kim Ra berbicara dengan nada tidak bersahabat. Menuduh. Hilang sudah romantisme mereka.
Kyuhyun meraup wajah Kim Ra dengan kedua tangan besarnya. Memaksa wajah itu untuk berhadapan dengannya. Waktu terasa berhenti saat itu juga.
“Aku tidak pernah berniat menikahinya. Demi Tuhan. Aku tidak pernah tahu dengan rencana pernikahan sialan itu. Aku tidak tahu apapun tentang undangan itu. Aku memutuskan pertunangan dengannya. Bahkan di depan matamu.” Rahang Kyuhyun mengeras. Dia berbicara dengan gigi terkatup. Menahan emosi.
“Kau tidak benar – benar memutuskannya. Kau tidak mengembalikan cincin pertunanganmu.” Ada rasa takut yang sedang disembunyikan Kim Ra di dalam gudang hatinya. Menghadapi Kyuhyun yang sedang emosi itu mengerikan. Jangan takut Kim Ra!
“Astaga!” Kyuhyun melepas tangannya dari wajah Kim Ra. Berjalan mondar – mandir dengan mengacak – acak rambutnya. Frustasi. “Aku tidak bisa.” Kyuhyun menggerutu.
‘Apa?’ Kim mencelos. Sakit lagi di dadanya. Kyuhyun memang tidak berniat memutuskan pertunangan itu.
“Aku tidak mungkin mengembalikannya.” Kali ini Kyuhyun menatap Kim Ra dengan wajah kecewanya.
“Yaa..” Senyum sinis bermain di bibir Kim Ra. Kyuhyun memang brengsek ‘kan?
“Tepat setelah pertunangan sialan itu, aku membuang cincin itu di kolam ikan taman hotel. Jadi apa kau ingin aku mengaduk – aduk kolam seluas 500 meter hanya untuk mengembalikan cincin itu?”
Oh?
Hati Kim Ra yang berbalut perban tiba – tiba terbang. Jadi?
“Pertunangan itu hanya lelucon bagiku. Hanya karena nenekku menginginkannya. Dia di rumah sakit dengan kebohongan sialannya saat itu. Sama sekali tidak melibatkan niat dan hatiku.” Kyuhyun mendekati Kim Ra. Gadis itu melihat Kyuhyun dengan wajah waspada dan sedikit -lega.
Menghirup napas. Kim Ra memejamkan mata. Lelah sekali.
“Dia Masokis.” Kim Ra berbisik.
“Apa?” Kyuhyun mendengar kata Masokis lagi. Kim Ra menatap Kyuhyun dalam.
“Aku bertemu Seohyun hari ini. Dia adalah seorang masokis. Dia wanita yang kau butuhkan. Dia yang lebih pantas untukmu.” Air mata sialan tidak bisa di tahan. Kim Ra mulai menangis lagi. “Masokis ada dalam dirinya. Dia bisa menerimamu. Dia yang pantas untukmu. Bukan aku yang selalu mengeluh dan menangis karena sakit. Bukan aku yang lancang karena ingin kau sembuh.”
Kyuhyun menegang. Kim Ra tahu?
“Tidak. Tidak.” Kyuhyun menggeleng kaku. Ada ketakutan di matanya. “Kau adalah satu – satunya wanita yang aku butuhkan.” Kyuhyun masih berbisik. Kim Ra mencengkeram lengan kemeja Kyuhyun.
“Jadi, menyakiti aku sangat menyenangkan untukmu?” Hampir meledak.
“Bukan begitu.”
“Kau begitu!” Kim Ra sudah tidak tahan.
Mereka harus bicara tentang ini. Persetan dengan harga diri. Persetan dengan kepemilikan. Kalau memang mereka harus berpisah, maka Kim Ra akan melepas Kyuhyun. Oh ya! Seperti romantisme yang ada dalam novel dan drama. Cinta tidak harus memiliki. Kebahagiaanku adalah melihat kau bahagia. Kebahagiaanmu adalah segalanya bagiku. Dan semua pedoman romantisme lainnya. Terdengar indah di telinga Kim Ra, memang. Tapi dia tidak ingin mencoba menempuh jalan itu.
Oke. Kim Ra juga butuh kebahagiaan.
“Ada Seohyun dengan Masokis dalam dirinya. Sudah jelas dia akan menerimamu dengan semua sadismu. Dia adalah wanita yang akan tersenyum dan bahagia. Terpuaskan dengan setiap luka yang kau beri untuknya. Tidak seperti aku. Tapi kau bilang hanya ingin aku? Kau sadar Kyuhyun? Aku tidak menerima itu semua. Aku sudah mencoba menerima tapi aku tidak bisa.”
“Cho. Kim. Ra.” Kyuhyun terdengar putus asa. 
“Haruskah aku menjadi Masokis juga?”
“Tidak, Sialan!” Bentak Kyuhyun. “Hentikan omong kosong itu!”
“KALAU BEGITU SEMBUHLAH!” Kim Ra berteriak juga di depan wajah Kyuhyun. “Kau harus sembuh. Kalau kau tidak ingin aku menjadi pantas untukmu. Maka kau yang harus memantaskan dirimu untukku. Aku wanita normal, Kyuhyun.” Terisak. Sesenggukan. Kim Ra menangis keras di depan Kyuhyun. Menguatkan cengkeraman tangannya pada lengan kemeja Kyuhyun yang semakin kusut di genggamannya.
Kim Ra, kau melukai harga diri Kyuhyun.
Kyuhyun menarik diri dari Kim Ra. Menjauh beberapa langkah. Kyuhyun mengacak – acak rambutnya. Nafasnya memburu. Pembicaraan yang tidak pernah ingin dia bicarakan. Kim Ra menyinggung perasaannya dengan sangat parah. Apa katanya? Sembuh?
“Kalau kau ingin kita tetap bersama, hanya dua pilihan itu yang kau punya. Aku yang jadi sepertimu atau kau yang jadi sepertiku.” Kim Ra memohon dalam suaranya.
“Aku tidak yakin.” Kyuhyun sudah memejamkan mata. Dia terjatuh dalam lubang hitam.
“Kalau begitu kita akan berpisah.”
“Jangan katakan tentang perpisahan!” Membentak lagi. Kyuhyun benar – benar disudutkan. Kim Ra, sebenarnya kau sudah sangat melukai perasaan Kyuhyun. Harga diri priamu berdarah dimana – mana seandainya kau tahu. Kyuhyun mengalah pada pembicaraan ini. Kyuhyun ingat, Kim Ra tidak dalam keadaan baik untuk bertengkar. Mendekat lagi pada Kim Ra. Meraih tubuh mungil di depannya. Kyuhyun memeluk Kim Ra.
“Tidur, sayang.” Kyuhyun berbisik di telinga Kim Ra.
Apa? Sayang? Kyuhyun memanggilnya apa?
Kim Ra bertanya dalam hati. ‘Tuhan, aku tidak tuli ‘kan?’
“Kita akan bicara lagi nanti. Tidur Kim Ra! Istirahat. Bersama.”
Kyuhyun memeluk Kim Ra dan ikut berbaring di ranjang rumah sakit. Masih banyak waktu untuk berdebat dan bertengkar. Sekarang saatnya memastikan Kim Ra mendapatkan waktu istirahat yang cukup. Sesuai pesan dokter.
“Jangan melakukan ini lagi! Aku mohon.” Bisik Kyuhyun sebagai ucapan selamat malam.
Kim Ra terdiam. Lemas. Dia masih dibungkam dengan kata sayang dari Kyuhyun.
Kyuhyun mencium dahi Kim Ra yang terbalut plester. Kim Ra mencoba memejamkan mata. Kyuhyun benar. Dia perlu istirahat. Ini bukan waktu yang tepat untuk bertengkar. Kim Ra merasa pusing di kepalanya semakin menjadi – jadi. Pasrah. Kim Ra lebih memilih menikmati hangat tubuh Kyuhyun. Ini pelukan pertama Kyuhyun setelah hampir dua bulan. Kim Ra benar – benar merindukan Kyuhyun. Dan mereka berdua melupakan Yesung yang masih mondar – mandir di depan kamar rawat Kim Ra. Mencemaskan keadaan Kim Ra.
-000-
  Kim Ra terbangun dari tidurnya saat pagi datang. Memeriksa sekelilingnya. Kosong. Kyuhyun sudah tidak ada. Kim Ra bahkan tidak tahu kapan pria itu pergi. Semalam kepalanya benar – benar sakit. Mencoba untuk duduk, Kim Ra berpegangan pada sisi ranjang rumah sakit. Ugh! Kim Ra meringis saat perih di pahanya terasa menggigit.
“Sudah bangun?” Kyuhyun. Dia berdiri di ambang pintu dengan nampan berisi makanan.
“Hmm.”  Kim Ra tidak terlalu antusias dengan keberadaan Kyuhyun.
“Sekarang makan. Kau akan mendapatkan pemeriksaan lagi setelah ini.” Kyuhyun meletakkan nampan di meja.
“Aku mau pulang.”
“Tidak. Sebelum dokter memastikan kau baik dan mengizinkanmu pulang.”
“Aku tidak mau disini. Aku benci rumah sakit.” Kim Ra seperti merengek.
“Kalau begitu jangan melakukan hal yang membuat dirimu tidur di rumah sakit. Keras kepala!” Kyuhyun meluap lagi. Hey, ini masih pagi!
“Apa aku mengganggu?” Yesung. Kepalanya ada di ambang pintu. Hanya kepalanya saja. Melongok tidak tahu diri. Kyuhyun menoleh. Menatap Yesung dengan tatapan  Tamu- Tidak- Diundang!
“Hei…” Yesung menyapa Kim Ra dengan senyum bocah 5 tahun. Dia datang mendekat, lalu duduk di ranjang Kim Ra. Mengelus rambut gadis kepunyaan Kyuhyun. “Bagaimana keadaanmu?”
“Aku baik.”
“Makan?”
“Kau yang suapi.” Kim Ra, otakmu!
“Baiklah, Nona!” Yesung meraih nampan yang ada di meja sambil meilirik Kyuhyun Kau- Yang- Tidak- Diundang!
“Aku akan pergi. Nikmati waktu kalian.” Kyuhyun mendumal. Mendengus. Tahan Kyuhyun, tahan! Yang terpenting adalah Kim Ra-mu makan. Meraih tengkuk Kim Ra dan bibirnya membuat pendaratan sempurna di kening gadis itu. “Selamat makan, Sayang!”
Kali ini tidak hanya Kim Ra, Yesung juga melongo mendengarnya.
“Tuhan, aku tidak ‘tuli kan?” Yesung. Tidak dalam hati.
“Oppa!” Kim Ra menegur lamunan Yesung. Kyuhyun baru saja keluar dan menutup pintu kamar rawat Kim Ra.
“Kepalamu yang terluka, kenapa otaknya yang bergeser? Sejak kapan dia memanggilmu ‘sayang’? Apa lidahnya tidak terkilir mengatakan itu?” Yesung mengerutkan kening, mengoceh, dan tangannya mulai mengaduk bubur yang dipangkunya.
“Sejak semalam. Kami bertengkar.”
“Tapi kau tidak percaya begitu saja bukan?” Yesung menyodorkan sendok yang terisi bubur di depan mulut Kim Ra. “A!” Kim Ra membuka mulut, menyambut suapan Yesung.
“Percaya apa?”
“Kyuhyun. Dia tidak tahu tentang itu.” Yesung memenuhi sendoknya dengan bubur lagi. Kali ini mengarahkan pada mulutnya sendiri. Yesung!
“Aku percaya dia. Tapi aku kecewa.”
“A!”
“Oppa. Seohyun… dia masokis.” Dengan mulut penuh, Kim Ra ingin berdikusi tentang ini. Pria sinting ini biasanya bisa membantu memberi pencerahan.
“Aku tahu.” Yesung mengangguk sambil mengunyah bubur yang baru masuk ke dalam mulutnya.
“Kyuhyun memberi tahumu?” Yesung menggeleng. “Lalu?”
“Donghae.”
“Donghae? Bagaimana?”
“Kau ingat ceritaku tentang Donghae dan Seohyun?”
“Mereka pernah berpacaran.” Kim Ra mengingatnya. “Jadi…”
“Seohyun seperti itu karena Donghae.”
“Apa?” Kim Ra berteriak.
“Jangan berteriak!” Yesung memukul kening Kim Ra dengan sendok.
“Ahg!” Kim Ra mengusap keningnya. “Astaga. Jadi Seohyun bukan kebetulan?” Kim Ra masih belum memelankan suaranya.
“Tidak. Semua berpusat pada Donghae. Kyuhyun dan Seohyun karena Donghae. Kyuhyun trauma karena satu malam terkutuk dengan mama Donghae. Aku yakin kau bisa menebak apa yang terjadi dengan Donghae yang sudah terbiasa dengan itu.”
“Terbiasa? Donghae juga seorang sadistis?”
“Ya. Lebih tepatnya Sadis-masokis. Donghae memiliki keduanya.”
“Apa? Bagaimana? Pada dasarnya mereka adalah korban. Lalu kenapa mereka berbeda. Kyuhyun yang sadis. Seohyun yang Masokis. Dan Donghae yang Sadismasokis. Ini bukan skenario drama bukan?”
“Kyuhyun, dia menjadi sadis karena trauma. Sesuatu yang buruk itu menjadi dendam yang dia lampiaskan dengan cara yang sama. Dia dipikuli. Jadi sekarang dia hanya ingin memukuli. Donghae seperti itu karena dia terbiasa. Yang aku tahu, Mamanya sering melakukan itu padanya. Dia sering disiksa dan di ajari cara menyiksa. Akhirnya dia bisa menikmati keduanya. Sedangkan Seohyun, dia terbiasa dengan Donghae. Dia wanita yang polos dan patuh saat itu. Donghae membuat Seohyun bisa menerima dan terbiasa dengan rasa sakit saat mereka bersama.”
Memejamkan mata. Menggeleng beberapa kali.
Tiba – tiba Kim Ra kembali pada masa saat dia masih bisa bertemu Donghae. Pria tampan bak pangeran dengan senyum yang sangat menawan. Pria baik – baik yang selalu menunjukkan romantisme. Pria yang kala itu Kim Ra anggap lebih baik dari Kyuhyun. Ternyata…
Dia penyebab kegelapan dalam hidup Kyuhyun.
“Aku tidak menyangka… Donghae…”
“Bagi Donghae, Seohyun adalah wanita terbaiknya. Maksudku, Seohyun adalah wanita yang bisa menerima Donghae. Mereka pasangan. Tidak mudah mencari wanita yang bisa menerima perlakuan sadis. Terlebih karena Donghae mencintai Seohyun. Itulah kenapa Donghae benar – benar marah saat dia tahu Seohyun menyukai Kyuhyun. Sampai akhirnya dia melakukan hal terkutuk itu pada Kyuhyun.” Yesung mencengkeran mangkuk bubur yang ada di tangannya.
“Oppa…” Kim Ra mencoba menenangkan Yesung. “Pasti sulit untukmu. Kau tahu banyak tentang mereka.”
“Aku tahu itu semua, karena mereka adalah teman – temanku. Dulu.” Yesung kembali tenang. Itu terlihat saat dia membuka mulutnya sendiri untuk menerima sendokan bubur terakhir. “Sejujurnya Kim Ra…”
“Apa?”
“Aku takut kau akan seperti Seohyun, karena terbiasa dengan Kyuhyun. Kadang terlintas di pikiranku… Aku ingin membantumu kabur dari Kyuhyun.”
“Kalau begitu, ayo kabur dari Kyuhyun!”
“Bukan Ayo! Kau sendiri yang kabur. Aku tidak meninggalkan Kyuhyun.”
“Nah, kan! Kau mengambil keuntungan sendiri!”
“Yak! Bukan itu maksudku!” Yesung mencubit hidung Kim Ra.
“Kenapa acara sarapanmu lama sekali?” Kyuhyun datang dengan wajah bosannya. Berjalan mendekat dan berdiri di samping Yesung. 
Perseteruan terakhir Yesung dan Kim Ra masih kental. Kim Ra menarik tangan Kyuhyun membuat pria itu berdiri di sampingnya. Menjauh dari Yesung. Mata Kim Ra menajam, berbicara sinis –Jangan sentuh Kyuhyunku- pada Yesung.
Sialan kau! Aku tidak butuh Kyuhyunmu!- Mata sipit Yesung membalas.
“Aku senang, kau menghabiskan sarapanmu.” Kyuhyun merambatkan tangannya pada punggung Kim Ra. Mengelus pelan. Tentu saja, Kyuhyun tidak tahu kemana larinya bubur itu. Sesuap demi sesuap, lama – lama menjadi setengah mangkuk bubur yang tertimbun di perut Yesung.
Yesung dan Kim Ra mendadak akur. Mata mereka melakukan ‘high-five’.
-000-
Tidak terjadi masalah serius pada Kim Ra. Tidak ada gegar otak. Tidak ada syaraf leher yang putus. Semuanya hanya luka luar. Dan rengekan Kim Ra, membuat Kyuhyun menyerah. Mereka pulang siang itu juga.
“Jangan lakukan itu lagi!” Kyuhyun menegur. Mengingatkan. Mereka dalam perjalanan pulang. Yesung yang menyetir.
“Tidak.” Kim Ra menjawab sekenanya. Dia masih marah dengan Kyuhyun.
“Aku serius.” Kyuhyun dengan tegas tak terbantahkan.
“Aku juga serius.” Meninggalkan pemandangan di luar jendela, Kim Ra menoleh ke arah Kyuhyun. “Aku. Benci. Rasa. Sakit.” Penuh penekanan.
Benci rasa sakit. Kau dengar itu Kyuhyun? Gadis-mu benci rasa sakit. Coba kau ingat lagi, berapa banyak kau telah menyakitinya. Mata Kyuhyun meredup. Wajahnya berubah muram seketika. Kim Ra, kau benar – benar tahu bagaimana caranya membuat Kyuhyun mati perlahan dalam penyesalan.
“Maaf.” Bisik Kyuhyun. Meraih tangan Kim Ra, membawanya ke atas pangkuan.
Ponsel Kyuhyun berbunyi.
“Eunhyuk!” Jawab Kyuhyun sedikit kasar. Kim Ra melirik. Eunhyuk? Kim Ra tidak ingat kapan terakhir dia bertemu dengan sekretaris Kyuhyun itu. Sudah lama dia tidak ke kantor Kyuhyun.
“Bagaimana?.. Lusa? Kau yakin?… Tidak. Madam Young? Kantor?… Iya… Tidak.” Kyuhyun meremas tangan Kim Ra yang ada di atas pahanya. “Aku akan memakainya. Di mana itu? Baiklah.. aku akan datang.” Kyuhyun memutup teleponnya.
“Ada apa? Semua baik?” Yesung bertanya. Dia melihat wajah Kyuhyun yang menegang dari kaca depan. Kyuhyun membalas mata Yesung lewat kaca juga.
“Lusa. Rencana Madam tentang pernikahanku dengan Seohyun.”
Hah?
“Ada apa dengan Madam Young?” Yesung bertanya cepat setelah melirik wajah Kim Ra yang tak kalah tegang.
“Dia mengirimkan setelan pengantinku ke kantor.”
Tidak kerumah. Madam Young yang cerdik itu pasti punya otak. Dia tidak mungkin mengirimkan baju pernikahan ke rumah karena ada Kim Ra disana. Itu pasti akan berakhir dengan hangus terbakar.
“Kau ambilkan setelan itu setelah ini.” Perintah Kyuhyun. Kim Ra menarik tangannya dari genggaman Kyuhyun. Tepat saat mobil berhenti di lampu merah.
“Jadi apa rencanamu?” Kali ini Yesung menoleh ke belakang.
“Tidak ada. Belum.” Kyuhyun menggeleng ragu. Memejamkan mata. Mencoba menenangkan dirinya. Kim Ra semakin merapatkan dirinya pada pintu di samping kirinya. Kyuhyun akan menikah besok lusa. Lagi.
Kim Ra jantungmu akan selalu sehat selama hidup dengan Kyuhyun. Jantungmu terlalu banyak olah raga!
Yesung menginjak pedal gasnya lagi. Belum sampai 20 meter, Kyuhyun menegakkan tubuhnya. Matanya terbuka cepat. Kyuhyun mendengar suara tangisan. Menoleh pada Kim Ra. Jantungnya seperti tertinggal di lampu merah. Gadis itu terisak. Menangis tanpa suara. Tapi Kyuhyun masih bisa merasakan getaran tubuhnya. Kim Ra masih melihat kaca di sampingnya. Menjauhkan wajahnya dari Kyuhyun.
“Oh! Sayang.. Sayang..” Kyuhyun menarik lengan Kim Ra. Menggeser duduknya. Mendekat. “Menepi sekarang. Kau keluarlah dulu!” Yesung cepat tanggap. Itu perintah untuk dirinya.
Yesung meninggalkan mobil sesuai perintah. Kyuhyun langsung membawa Kim Ra ke dalam pangkuannya.  Sedikit sulit karena Kim Ra mencoba memberontak. Dia berhenti saat Kyuhyun menangkap kedua pergelangan tangannya dalam satu genggaman besar Kyuhyun. Tangan yang lainnya Kyuhyun gunakan untuk membenarkan posisi kepala Kim Ra. Menghadap padanya.
“Hey, kau kenapa? Ada apa?” Mencoba lembut, Kyuhyun berbisik di depan mulut Kim Ra. Gadis itu menggeleng. “Sayang, bicara!” Kyuhyun mendesak dengan tegas. Lihat! Walaupun mencoba lembut, Kyuhyun tetap Kyuhyun. Memanggil sayang dengan nada membentak. Cho Kyuhyun!
“Kau menikah lagi.” Salah nada Kim Ra. Seharusnya kau bertanya. Bukan menegaskan. Kau buang kemana tanda tanya-nya?
“Tidak! Aku tidak!” Kyuhyun merasa buntu untuk menjelaskan. Mulutnya menjelaskan. Bukan dengan kata.
Menyatukan bibirnya dengan bibir Kim Ra. Meraup mulut mungil Kim Ra dalam satu kecupan panjang. Lidahnya menari di atas bibir lembut gadisnya. Mendesak masuk. Mencari pasangannya.
Bersorak! Kim Ra membalas. Menyambut.
Ciuman panas di dalam mobil. Judul yang pas. Kyuhyun semakin merapatkan tubuh Kim Ra pada dirinya. Seakan takut Kim Ra menghilang. Kyuhyun melepaskan tangan Kim Ra. Membuat gadis itu memeluk tubuh Kyuhyun. Mereka menyatu dalam pelukan. Kim Ra menempatkan tangan kirinya di rambut Kyuhyun. Dengan senang hati merusak tatanan rambut Kyuhyun seiring dengan decapan lidah panas mereka.
Terengah – engah. Kyuhyun melepas.
“Kita akan baik – baik saja.” Kyuhyun berbisik di leher Kim Ra.
Kim Ra mencoba tersenyum walaupun sebenarnya hatinya masih ragu. Tapi biarlah. Kali ini dia akan percaya pada Kyuhyun. Kim Ra meringsut dari pangkuan Kyuhyun duduk kembali di bangkunya sendiri. Kyuhyun membenarkan kemejanya yang sedikit bergeser karena ulah Kim Ra. Setelah selesai, Kyuhyun hanya berdiam sampai beberapa saat.
“Ada apa?” Kim Ra bertanya dengan lirih. Kyuhyun tidak langsung menyahut. Dia menunjuk ke arah depan dengan dagunya. Kim Ra mengikuti kemana mata Kyuhyun melihat.
Bonamana!!! Di depan sana. Beberapa meter di depan mobil. Yesung duduk di pinggir trotoar. Wajahnya mendengus. Dua kancing kemejanya sudah terlepas. Rambutnya tidak berbentuk karena terpaan angin. Dia menopangkan dagunya di tangan kiri. Sehelai rumput liar terselip di sudut bibirnya. Sesekali mulutnya bergerak. Mengumpat. Dia terlihat seperti gelandangan tampan yang putus asa. Dia terserang bosan akut.
“Apa kau punya ide untuk memanggilnya kemari, tanpa membuatnya mengamuk?” Kyuhyun berbicara pelan, seakan Yesung adalah hantu yang bisa mendengar mereka.
“Tidak. Aku takut. Kau takut juga padanya?” Kim Ra menatap Kyuhyun.  Pria itu mengendikkan bahu.
“Saat dia kelaparan saja, tidak semengenaskan itu.”
“Lalu kita bagaimana?”
“Sialan.” Kyuhyun mengumpat saat memeriksa kemudi. “Dia membawa kunci mobilnya.” Kyuhyun menoleh ke belakang. Ah! Taksi. “Ayo! Berhentikan taksinya. Itu terlihat kosong.”
Kyuhyun membuka pintu di sebelah kanan Kim Ra. mendorong pelan gadis itu untuk keluar.  Taksi berhenti di belakang mobil mereka. Kyuhyun menuntun Kim Ra untuk menaiki taksi.  Yesung sebenarnya melihat semua itu. Mulai dari Kim Ra yang keluar dari mobil. Menghentikan taksi. Dia masih mengira pasangan gila itu sedang bertengkar. Tapi ketika melihat Kyuhyun menuntun Kim Ra yang tertatih, membukakan pintu taksi. Kyuhyun masuk ke dalam taksi bersama Kim Ra, Yesung langsung berdiri dari pose duduk gelandangan-tampannya.
Taksi melintas di depannya.
“Ayo pulang!” Teriak Kyuhyun.
“SIALAN KALIAN! PASANGAN GILA! AKU TUNGGU KALIAN DI NERAKA! JANGAN BAWA HARTAMU KE NERAKA KYUHYUN! KAU AKAN.. *&^%(@&#*#)#?”:_^&%^#&&!”
Taksi sudah menjauh. Kyuhyun dan Kim Ra tidak bisa mendengar apa – apa lagi.
“Apa kita tidak keterlaluan?” Kim Ra masih melihat Yesung yang semakin jauh tertinggal. Pria itu sedang meninju dan menendang udara.
“Lupakan dia!”
“Kalau dia mengamuk di rumah bagaimana?”
“Kita akan langsung masuk ke dalam kamar. Han Ahjumma bisa mengatasinya.”
-000-
Malam sudah tiba. Langit gelap yang angkuh terlihat dari jendela kamar Kyuhyun. Mengintip kegiatan berdarah sepasang manusia di atas ranjang. Kyuhyun sedang mengganti perban di paha Kim Ra. Beberapa kali Kim Ra meringis perih. Benar. Sampai malam tiba, keduanya hanya di kamar. Tidak ada yang turun ke bawah semenjak mereka mendengar teriakan Yesung. Seharian ini Yesung menganggap rumah besar Kyuhyun seperti hutan. Seharian ini Yesung menjadi Kyuhyun yang suka berteriak dan Kyuhyun menjadi Yesung yang bersembunyi di kamar.
Kyuhyun bahkan menelepon Han Ahjumma untuk mengantarkan makan malam ke kamar.
“Ini akan cepat sembuh. Jangan keras kepala! Minum obatmu!” Kyuhyun memperingatkan.
“Aku tahu.”
“Sekarang tidur, Kim Ra!” Kyuhyun mengambil selimut. Tapi tangan Kim ra mencegah. Gadis itu menggeleng.
“Kita harus bicara.”
“Apa?” Kyuhyun belum mengerti. Beberapa detik setelahnya, Kyuhyun tahu maksud Kim Ra. “Tidak sekarang.”
“Kapan?” Kim Ra meyakinkan Kyuhyun dengan matanya. “Sampai kita punya masalah baru lagi? sampai kita bertengkar lagi? Sampai kita berpisah lagi?”
“Kenapa selalu perpisahan yang kau tuju?” Kyuhyun tidak sadar, dia mulai masuk dalam pembicaraan yang di bangun Kim Ra.
“Karena bagiku, dengan keadaan kita sekarang, hubungan ini tidak punya masa depan.”
“Apa maksudmu? Kita sudah menikah dan kita hidup bersama. Masa depan apa yang kau bicarakan? Kau hanya perlu hidup denganku seterusnya.”
“Bagaimana bisa kau yakin dengan itu? seberapa yakin dirimu, kalau aku akan tetap tinggal dengan semua kesakitan yang kau beri padaku?” Kim Ra mencoba memprovokasi. Melukai perasaan Kyuhyun dengan sengaja agar pria itu mau bicara.
‘Maafkan aku, Kyuhyun. Maaf.’  Hati Kim Ra berlutut dan memohon ampun pada Kyuhyun.
“Apa kau sedang membahas caraku menyentuhmu?” Kyuhyun masih ragu. Kim Ra, kemana arah pembicaraanmu?
“Ya. Aku berbicara tentang caramu saat bercinta denganku. Aku membahas tentang kau yang memukuli dan menyakiti aku saat kita di tempat tidur. Aku bicara tentang kelainanmu, Kyuhyun.” Kim Ra menahan napas. Kyuhyun pucat.
Dalam hati, Kim Ra memukuli dirinya sendiri. Kau terlalu jauh, Kim Ra!
“Kelainanku.” Kyuhyun tersenyum sinis. Wajahnya tanpa ekspresi. Datar. Demi Tuhan, Kim Ra bergetar sekarang. Dia takut.
“Kalau kau masih seperti ini, aku tidak bisa bersamamu.” Kyuhyun menatap cepat Kim Ra. Kyuhyun terkejut. “Aku sudah mencoba, Kyuhyun. Aku sudah mencoba. Sampai kita hampir memiliki…” Kim Ra berhenti sesaat. “Kim Kyu. Kau memberi nama Kim Kyu. Kau tidak lupa ‘kan bagaimana bisa ada dia. Aku tidak lari darimu. Aku mau mencoba denganmu. Tapi sekarang aku sadar, aku tidak sanggup.”
“Sekarang kau ingin pergi dariku?”
“Ya.”
“Tidak!” Kyuhyun menjawab cepat. “Kau tidak bisa.” Kyuhyun berdiri. Dia mulai panik. Kyuhyun kehilangan keangkuhan, kekuasaan dan kekuatan mengintimidasinya saat mereka bicara tentang kelainan kyuhyun. Terlebih tentang rasa sakit Kim Ra. Kyuhyun bisa saja egois. Mengurung Kim Ra. Tapi Kyuhyun tidak bisa membiarkan Kim Ra dengan penderitaan.
“Jadi kau akan menahanku di sini dengan segala penderitaan dan kesakitanku?”
“Tidak! Aku tidak akan menyakitimu lagi.” Terlihat sangat jelas, Kyuhyun berbicara tanpa berfikir. Dia hanya tidak ingin Kim Ra pergi.
“Bagaimana? Kau tidak akan menyentuhku lagi? Kau akan menghindariku dengan tidur di ruang kerjamu lagi? Bagaimana dengan anak? Bagaimana dengan aku? Bagaimana denganmu? Kau tahu bagaimana kebutuhanmu. Apa kau akan kembali pada pelacur – pelacurmu?”
“Cho Kim Ra!”
“Kalau itu yang kau mau, kau benar – benar membunuhku!” Di akhir kalimat, Kim Ra berteriak.
“Lalu aku harus apa? Bagaimana agar kau tetap bersamaku, sialan?” Kyuhyun tertekan. Wajah pucatnya masih mendominasi. Matanya semakin memerah.
“Aku ingin kau sembuh.” Kim Ra mengucapkan dengan hati – hati.
“Aku tidak yakin dengan itu. Tidak mudah untukku. Kau tidak tahu apa yang terjadi padaku akhir – akhir ini.” Kyuhyun melemah. Dia harus bicara apa agar Kim Ra tahu, dia juga menderita.
“Apa? Kau kenapa?” Gantian Kim Ra yang terkejut.
“Aku tidak ingin kau tahu.”
“Itulah kenapa aku selalu bicara tentang perpisahan. Kau tak pernah berbagi ceritamu. Bagaimana kita bisa bersatu kalau kau membuat jarak diantara kita?”
“Karena aku menjaga hatimu. Perasaanmu. Kau akan terluka lagi kalau kau tahu.”
“Aku tahu membahas masalah ini bisa menyinggung harga dirimu. Aku sadar, sekarang aku sedang melukaimu. Tapi aku masih melakukannya karena aku ingin kita keluar dari masalah ini. Jadi katakan padaku! Aku siap terluka juga. Dan kita akan sembuh bersama, Kyuhyun.” Kim Ra memohon.
Kyuhyun mengacak – acak rambutnya. Dia berjalan ragu mendekat pada Kim Ra. Duduk di tepian ranjang. Menunduk. Sikunya bertumpu pada kedua lututnya. Dia menempatkan wajahnya di telapak tangan. Kemudian menjalankan jari – jari panjangnya ke atas kepala. Menjambak rambutnya sendiri.
“Aku dengan pelacur lagi. Beberapa minggu ini.” Suara Kyuhyun seperti nyamuk yang mendengung. Tapi Kim Ra bisa mendengar itu.
Menahan napas. Kim Ra lemas dan bersandar pada bantal yang tertumpuk di belakangnya. kepalanya mengadah pada langit – langit kamar. Pengakuan Kyuhyun seperti meremas hatinya sampai hancur tak berbentuk. Dengan pelacur lagi. 
“Beberapa minggu terakhir. Itu saat kau mendiamkan dan menghindari aku.” Kim Ra berbisik. Air mata sudah menggenang di pelupuk matanya.
“Aku tidak melakukannya hanya karena aku tidak bisa menyentuhmu.” Kyuhyun mengangkat kepalanya. Melihat Kim Ra. “Tidak begitu.”
“Aku tidak bisa bernafas, Kyuhyun.” Menangis. Kim Ra menatap Kyuhyun juga. Dia terisak. Memukul dadanya sendiri. “Di sini sesak. Sakit sekali Kyuhyun.”
Kyuhyun beranjak. Merangkak di atas ranjang. Mendekati Kim Ra. Wajah kacaunya panik bukan main. Kyuhyun berhenti di samping Kim Ra. Bertumpu pada lutut. Meraih tangan Kim Ra. Kim Ra memandangnya dengan nanar. Menangis keras.
“Dengarkan aku! Kau harus dengar aku!” Kyuhyun  berbicara dengan mendesak. Melihat Kim Ra menangis seperti itu benar – benar membuatnya seperti lumpuh total. “Aku melihat dia lagi. pelacur brengsek yang membuatku seperti ini. Lukaku terbuka lagi. Traumaku kembali. Dendamku dan kebencianku kembali.” Kyuhyun menunduk. Kim Ra merasa tangannya yang ada dalam genggaman Kyuhyun basah.
Kyuhyun menangis?
“Aku dengan pelacur bukan untuk seks. Tapi aku terlalu menghawatirkanmu. Aku dengan mereka karena aku ingin tahu seberapa besar pengaruh pertemuanku dengan pelacur brengsek itu pada diriku sendiri. Dan Aku kembali. Aku melukai mereka. Aku membuat mereka tidur di rumah sakit. Aku bersyukur karena tidak menyentuhmu.” Kyuhyun bergetar.  Kim Ra menarik tangannya dari Kyuhyun. Menyumpal mulutnya dengan telapak tangan. Menangis meraung semakin kencang.
Dia ingin memeluk Kyuhyun.
“Kyuhyun…” Disela isak tangisnya, nama yang menjadi obat penenang itu terucap dari bibir Kim Ra.
“Maafkan aku, sayang. Maafkan aku.” Kyuhyun memohon dengan pipi yang basah.
“Beri aku waktu.” Kim Ra menggeleng tidak yakin.
“Jangan tinggalkan aku.” Mata Kyuhyun gelap. Dia berharap.
“Aku akan memaafkanmu dengan satu syarat.” Kim Ra mendapatkan kesempatan.
“Apapun.”
“Apapun?”
“Ya.”
“Besok. Sekarang kemarilah! Peluk aku.” Kim Ra merentangkan tangan. Siap menyambut Kyuhyun dalam pelukannya.
-000-
Apapun.
Kata apapun yang di ucapkan Kyuhyun semalam, membuat pria itu duduk di sini. Di sebuah ruangan bernuansa putih bersih. Duduk di depan Kim Heechul. Kyuhyun berwajah pucat. Ekspresinya dingin dan datar. Dia seperti itu sejak selesai sarapan. Saat Kim Ra memintanya untuk bertemu dengan Psikolog sekaligus Seksolog yang dia kenal. Mengacu pada janji ‘apapun’ Kyuhyun. Dia tidak bisa menolak.
Sudah lewat dari setengah jam Kyuhyun yang di temani Kim Ra berdiskusi dengan Heechul. Selama setengah jam itu juga, Kyuhyun tidak banyak bicara. Hanya menjawab seperlunya. Kim Ra yang banyak bersuara. Bercerita.
Demi Tuhan, Kyuhyun merasa seperti sedang telanjang sekarang. 
Mendengar orang lain membicarakan masa lalunya, kehidupannya dan kelainan sialannya. Harga diri yang dia junjung setinggi langit, saat ini dia letakkan di tanah. Kyuhyun memejamkan matanya. Dia tahu ini untuk kesembuhannya. Ini untuk kelangsungan kebersamaannya dengan Kim Ra. Tapi dia tidak bisa memungkiri, dia merasa kecewa. Dia terluka. Dia malu bukan main.
“Sebelumnya, aku sudah menyarankan untuk menggunakan terapi perilaku – Kognitif dibantu dengan obat anti-depresi. Tapi anda bisa mencoba beberapa cara lain seperti Psikoterapi.” Heechul menyarankan.
“Psikoterapi?” Kim Ra mengulang dengan nada tanya.
“Salah satu pendekatan yang berlangsung lama. Pasien memiliki kesempatan mengerti dinamika serta peristiwa yang menyebabkan parafilia timbul. Terapi ini bisa membantu menghadapi stress dan meningkatkan kapasitas untuk berhubungan dengan pasangan hidup. Psikoterapi memungkinkan pasien memperoleh kembali rasa pecaya dirinya dan mendekati pasangan dengan cara seksual yang lebih normal.”
Kyuhyun menghembuskan nafas kasar. Pria sialan di depannya secara tidak langsung bilang dia tidak normal.
“Atau…” Heechul tampak ragu. “Kalian bisa dengan Medikasi. Pemberian obat antiandrogen yang bertujuan untuk menghambat penyerapan dan metabolisme hormon testosteron. Obat ini efekti untuk mengurangi gairah parafilia.”
Kyuhyun melirik cepat ke arah Kim Ra. Rahangnya mengetat. Kim Ra menggigit bibirnya.
Tegakah dia membatasi Kyuhyun? 
“Kami akan mendiskusikan ini terlebih dahulu. Aku akan menguhubungi anda secepatnya.” Kim Ra sudah merasa panas dengan hawa neraka Kyuhyun.
“Oh tentu saja. Kalian bisa menghubungiku kapan saja.” Heechul menyerahkan sebuah buku tentang Parafilia.
“Terima kasih.” Kyuhyun langsung beranjak dari duduknya. Tanpa menunggu Kim Ra, dia pergi begitu saja.
Kim Ra berusaha mengimbangi langkah besar Kyuhyun. Pria itu tidak menoleh atau menjawab panggilan Kim Ra. Tetap diam. Dia tidak pernah merasa malu melebihi yang dia lalui hari ini. Bahkan saat di mobil pun, Kyuhyun tetap mendiamkan Kim Ra. Gadis itu hanya tertunduk. Merasa bersalah. Tapi dia sudah bertekad. Tidak ada jalan lain.
Sesampainya di rumah, Kyuhyun tetap mengacuhkan Kim Ra. Bahkan saat dia memasuki rumah, sapaan Han Ahjumma seperti angin lalu. Berjalan lurus menuju kamar. Kim Ra masih terus mengekori Kyuhyun. Entah sadar atau tidak,  setelah memasuki kamarnya Kyuhyun membanting pintu saat menutup. Pintu tertutup dengan keras. Menabrak wajah Kim Ra tanpa ampun. Terlalu terkejut, Kim Ra bahkan lupa untuk berteriak.
Kim Ra meringis sambil berjongkok. Air  matanya mengalir. Hidungnya terasa patah. Hidungnya berdarah.
Sambil mengusap darah yang keluar dengan dress yang di pakainya, Kim Ra mengintip ke dalam kamar. Lupakan tentang hidungmu! Sekarang yang terpenting adalah keadaan Kyuhyun. Pria itu berbaring di tempat tidur dengan posisi miring memunggungi Kim Ra. Kyuhyun membalut tubuhnya dengan selimut. Dia seakan tak tersentuh.
“Maaf, Kyuhyun.” Lirih Kim Ra. Sakit hidungmu, belum seberapa dibanding sakit hati Kyuhyun!
Tidak ada yang bisa dia lakukan, mendekati Kyuhyun pun dia takut. Kim Ra turun ke lantai satu dengan menutup lubang hidungnya. Di ruang makan, ada yesung di sana. Menikmati makan siang. Yesung masih marah karena kejadian kemarin. Sekarang, di rumah itu mereka bertiga saling mendiamkan. Rumah dan neraka berbeda tipis bagi Kim Ra saat ini. Sekarang Kim Ra duduk di depan Yesung, dan dia diabaikan.
“Han Ahjumma.. tolong aku.” Panggil Kim Ra.
“Ya, Nona.” Bersamaan Han Ahjumma menyahut, Yesung mengangkat kepalanya dari piring. Melihat Kim Ra. Matanya melebar saat melihat darah mengucur dari hidung Kim Ra.
“Kau kenapa?” Yesung langsung berdiri dan mendekati Kim Ra.
“Maafkan kami untuk kejadian kemarin.”
“Ya, Tuhan. Kau kenapa? Jawab aku!”
“Oh? Ini.. tadi Kyuhyun menutup pintu terlalu keras, dia tidak tahu aku di belakang.”
“Darimana saja kalian?” Yesung menyeka hidung Kim Ra dengan Tissue. Han Ahjumma mengambil kotak obat.
Kim Ra mengambil buku tentang parafilia dari dalam tas yang masih menempel di tubuhnya. meletakkan di depan Yesung. Kim Ra menunduk. Air matanya sudah menggenang lagi. Kali ini bukan karena hidung. Dia teringat lagi pada bayangan Kyuhyun yang sangat malu selama berdiskusi dengan Heechul. Kyuhyun yang mendiamkannya. Kyuhyun yang tidur dengan memunggunginya. Kim Ra tahu, dia salah. Kim Ra menangis.
“Aku melukainya terlalu banyak. Aku mencintainya.” Kim Ra terisak seperti anak kanak – kanak yang di omeli ibunya. Dia menumpahkan sesaknya selama bersama Kyuhyun tadi.
Yesung disampingnya. Menenangkan.
                                   -000-
Hari sudah sore saat Kyuhyun terbangun. Dia ketiduran. Bangkit dari tempat tidur, yang pertama ia rasakan adalah perutnya yang kelaparan. Menyibak selimut, Kyuhyun berdiri. Melangkah menuju pintu. Tapi kakinya berhenti sejenak. Ia mendengarkan suara kran dari kamar mandi. Kim Ra sedang mandi.
Ponselnya berbunyi.
“Apa?!” Eunhyuk yang menelepon. “Tidak. Kau hanya perlu membawanya saja… Iya… Seohyun? Di mana?… Dia dengan Madam?… Baiklah. Aku akan datang menemui mereka nanti malam… Iya. Jam delapan.” Kyuhyun menutup telepon. Melempar ponselnya ke atas meja. Matanya melirik ke arah kamar mandi.
Tidak peduli. Kyuhyun masih sangat kesal dengan Kim Ra yang membawanya ke Psikolog hari ini. Kyuhyun keluar kamar, menuju dapur. Disana ada Yesung dan Han Ahjumma yang sedang menyiapkan makan malam. Kyuhyun melewati begitu saja. Menuju lemari es. Mengambil sebotol air mineral.
“Hei piring! Aku tahu kau kecewa. Tapi jangan lampiaskan itu dengan menyakiti yang lain.” Yesung tiba – tiba bicara. Padahal matanya saja masih sibuk menata piring  – piring di atas meja. Kyuhyun mengabaikan.
“Ahjumma, siapkan makanan.” Kyuhyun berteriak.
“Baik, Tuan Muda.”
“Kau juga sendok. Kalau menutup pintu lihat – lihat! Tengok ke belakang! Ada garpu atau tidak? Kau tidak lihat, kau hampir saja mematahkan hidung pasanganmu. Kau bahkan tidak tahu, dia menyeka darahnya sendiri. Kau terlalu lama tidur, sendok keparat!”
Koneksi otak Kyuhyun tersambung tiba – tiba. Dia tahu maksud ocehan gila Yesung. Kim Ra. Kyuhyun langsung membanting botol air mineral yang ada di tangannya. Berjalan setengah berlari menaiki tangga.
“Hey, gelas sialan! Kalau mau makan, jangan makan sendiri. Cangkir juga belum makan seharian!” Teriak Yesung keras seiring  dengan langkah cepat Kyuhyun.
Sampai di kamar, Kyuhyun baru saja mendekat pintu kamar mandi saat pintu itu terbuka. Kim Ra keluar dengan wajah sembab dan pucat. Matanya bengkak. Rambutnya basah sehabis keramas. Jangan lupakan hidungnya yang memerah dan memar.
“Kau sudah bangun? Kau belum makammpphhhh.”
Kyuhyun menyambar bibir Kim Ra.
Menyudutkan Kim Ra pada dinding terdekat. Memudahkan Kyuhyun untuk bertambah liar sesuka hati. Apa kabar dengan tangan Kyuhyun yang selalu aktif? Oh! Mereka sudah berpencar mencari tempat – tempat favorit. Membelai tubuh Kim Ra. Seluruhnya.
Kau sedang apa Kyuhyun? Kau tidak lupa ‘kan kalau sekarang kau adalah monster?
Alarm di dalam kepala Kyuhyun berbunyi. Berhenti, Kyuhyun! Kembali pada kesadarannya, Kyuhyun menghentikan ciuman mereka. Menurunkan mulutnya menuju cekungan leher Kim Ra. Napasnya menderu di sana. Sesekali mengecupi tenggorokan Kim Ra.
“Kenapa berhenti?” Dengan sisa napasnya, Kim Ra bertanya.
“Aku tidak ingin menyakitimu.”
“Aku ingin mencoba.”
“Apa?” Tatapan Kyuhyun rumit. Kesadarannya sudah tercemar dengan gairah.
“Terapi kognitif. Pelatihan empati. Aku akan membantumu. Ayo, kita coba!” Suara Kim Ra seperti iklan kosmetik yang ada di televisi. Penuh ajakan.
“Aku tidak yakin.”
“Kita tidak tahu, kalau kita tidak mencoba.”
“Ya.”
Gerakan kaku Kyuhyun mengiringi pembebasan Kim Ra dari kaos yang di pakainya. Kemudian jeans satu jengkal yang tidak menghalangi perban di pahanya. Pakaian dalam pun tanggal dengan mudah oleh tangan Kyuhyun.
“Sekarang giliranmu. Kau bisa melepas pakaianmu.” Bujuk Kim Ra.
“Tidak.”  Kyuhyun menolak tegas.
“Kyuhyun, lihat aku!” Kim Ra meraup wajah Kyuhyun. “Ini aku. Kau akan bercinta dengan aku. Dengan Cho Kim Ra. Milikmu.”
Kyuhyun terdiam. Berpikir. Ragu – ragu. Kemudian mengangguk pelan.
Kim Ra memulai kegiatan mendebarkannya. Dia terus waspada dengan respon Kyuhyun. Perlahan, Kim Ra membuka satu persatu kancing kemeja Kyuhyun. Memisahkannya dari tubuh kekar pria itu. Tangan Kim Ra semakin bergetar ketika tangannya terulur pada ikat pinggang Kyuhyun. Dia akan menelanjangi Kyuhyun?
“Kyuhyun, buka matamu! Ini aku. Aku yang melepas ini untukmu. Kau akan memiliki aku di atas tempat tidur. Kita akan baik – baik saja. Oke?” Kim Ra melihat wajah gusar Kyuhyun. Ayolah!
Setelah melepas ikat pinggang Kyuhyun, Kim Ra mulai menurunkan resleting celana Kyuhyun. Gerakannya halus tapi kaku. Kim Ra menurunkan celana Kyuhyun. Dengan dalamam hitamnya. Hati dan jantung Kim Ra sedang jogging bersama di dalam dada. Ini menegangkan. Sedikit mengerikan.
Selamat! Kau berhasil Kim Ra!
Kim Ra merona. Tubuh telanjang Kyuhyun di depannya.
“Kau sempurna.” Gumam Kim Ra. Mengabaikan rasa malunya karena pertama kali melihat Kyuhyun bulat seperti itu. Yang harus dia lakukan adalah bagaimana cara menyingkirkan ekspresi tegang Kyuhyun. Kim Ra tidak yakin, tapi Kyuhyun terlihat jijik. Terganggu dengan penampilannya sendiri.
“Biarkan tubuh ini menjadi milikku.” Bisik Kim Ra. “Aku menyukai kau seperti ini.”
Kau dengar Kyuhyun? Kim Ra menyukai dirimu. Kau menyenangkan gadismu. Jadi apa yang perlu kau sembunyikan?
“Miliki aku.” Kyuhyun membawa Kim Ra ke peraduan ternyaman mereka. Ranjang empuk dengan ukuran besar di ruangan itu.
Mencoba. Mereka sedang mencoba. Sekarang Kim Ra tahu, yang ditakutkan Kyuhyun benar.
Prianya sangat menakutkan. Dia terlihat seperti manusia kerasukan. Kasar. Kuat. Sadis. Kyuhyun benar – benar liar. Tidak ada jalan untuk Kim Ra mundur. Berpegang pada harapan dan masa depan mereka, Kim Ra harus bertahan.
Kyuhyun memasuki Kim Ra semakin dalam. Mendorong terlalu kuat. Sedangkan gadis itu,  terus mengucapkan kalimat peringatan seperti mantra. Berulang – ulang. Mencoba mengendalikann Kyuhyun.
“Kyuhyun ini aku. Kim Ra.”
“Kyuhyun, tolong! Ini sakit.”
“Kau melukaiku. Kau bisa lebih lembut.”
“Jangan menamparku! Jangan mengikatku! Kau akan menyakiti aku.”
“Kyuhyun, tolong. Lihat aku!”
“Cho Kyuhyun, Apa kau tega menyakiti aku?”
“Aku istrimu. Cho Kim Ra.”
                                -000-
Mereka telah selesai.
Percintaan pertama dengan keadaan keduanya yang tanpa sehelai benang. Kim Ra meringkuk diujung ranjang dengan memeluk dirinya sendiri. Sebagian wajahnya tertutupi rambut yang berantakan. Kyuhyun ada di lantai. Berlutut di depannya.
“Maafkan aku.” Kyuhyun berbisik.
-000-
TBC
Apa yang terjadi dengan mereka?
Sampai jumpa lagi!
@dirakimra17

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: