Saco Dear Ra (Neorago Sequel ) part 1

0
Saco Dear Ra (Neorago Sequel ) Chapter 1 ff nc kyuhyun
Saco Dear Ra! Chapter 1
                  (Neorago Sequel)
Author : DiraKimra17
Tittle : Saco Dear Ra! chapter 1
Category : NC, Yadong, Romance / Kekerasan, Chapter.
Cast :
Cho Kyuhyun
Shin Kim Ra
Other  cast : Other Super Junior member
Author’s Note : Terima kasih untuk para pembaca Neorago. Sekarang aku hadir dengan Sequelnya. Sesuai dengan paksaan permintaan kalian. Sebenernya aku sudah masuk masa hiatus sekarang. Lagi sibuk banget. Tapi mengingat ini bulan Februari, okelah aku kasih Saco Dear Ra! buat kalian. Jadi mohon untuk tidak mendesak Chapter 2 publish secepatnya yaa. Karena aku menulis Saco Dear Ra! ini benar – benar sesempatnya alias kalau ada waktu saja.

Terakhir, februari nih -Selamat Ulang Tahun, Sayang! Mwah!-
Warning!
Gak Typo! Gak Gaul
Selamat menikmati.
                                -000-
Duduk di ruang bernuansa putih. Tegang. Gugup. Gadis itu meremas ujung kemeja yang di pakainya. Menghembuskan nafas dalam  – dalam. Berusaha menenangkan diri. Tidak ada rencana apapun setelah ini. Belum. Dia hanya ingin tahu. Hanya. Ingin. Tahu.
Apa yang bisa dia lakukan?
“Shin Kim Ra – Ssi.” Gadis itu mengangkat kepalanya saat seorang pria memanggil namanya. Seorang pria muda yang tampan. “Bagaimana?” Pria itu duduk di depan Kim Ra.
“Aku tidak tahu…  Harus apa?” Suara Kim Ra nyaris berbisik.
“Kalau begitu aku akan bertanya. Apa kau ada masalah?” Tanya Heechul hati – hati. Pria tampan dan muda itu bernama Kim Heechul. Seorang Psikolog sekaligus Seksolog.
“Aku ingin mendiskusikan beberapa hal dengan anda.”Kim Ra membahasahi bibirnya yang kering.
“Baiklah. Tentang apa?”
Kim Ra memejamkan matanya sesaat.
“Sadismacocism.”
Heechul mengerutkan kening. Sadismacocism? Yang benar saja?
“Oke. Apa yang ingin kau ketahui tetang sadismacocism?”
“Cara penyembuhannya.”
“Bisa dilakukan dengan banyak cara. Tapi…” Heechul melihat Kim Ra lebih intens. Hati – hati. “Kau tahu apa itu Sadismacocism?”
“Sedikit.” Kim Ra ragu – ragu. Malu. Ini tentang hal intim. Sangat privasi.
“Baiklah. Akan aku jelaskan secara singkat terlebih dahulu.” Heechul mengeluarkan sebuah buku dari lacinya.  “Sadismacocism adalah sadism dan macocism. Keduanya di kategorikan perilaku seks yang menyimpang. Sadism adalah perilaku dimana penderita akan melakukan kekerasan saat berhubungan intim untuk membuat dirinya bergairah dan mencapai kepuasan. Sebaliknya, Macocism adalah perilaku dimana seseorang akan mendapatkan gairah dan kepuasan saat dirinya merasa sakit. Disakiti. Penderita akan menikmati kesedihan dan luka yang terjadi pada dirinya.”
Kim Ra berdehem kikuk. Tiba – tiba cairan di dalam mulutnya hilang. Kering.
“Nona Shin, tenang. Kau harus rileks. Oke?” Heechul melihat kegugupan Kim Ra. “Jadi siapa? dirimu?”  Kim Ra menggeleng cepat.
“Bukan … bukan aku. I-itu suamiku.” Suara Kim Ra menghilang. Heechul hanya mendapatkan jawaban dari gerak bibir Kim Ra.
“Baik. Suami anda, termasuk yang mana? Sadism? Macocism? Atau keduanya?”
Ya Tuhan, haruskah Kim Ra menjawab? Ini lebih parah dari pada hal yang memalukan.
“Aku rasa … Sadisme.”
Heechul menatap Kim Ra dalam. Ada rasa iba di dalam matanya. Oh iya! Siapa yang tidak akan iba dengan seorang gadis yang masih terlalu muda. Bersuamikan seorang sadistis? Kim Ra tampak berfikir sendiri. Heechul hanya mengamati. Gadis ini sangat tertekan. Kasihan sekali.
“Tolong… aku ingin cara penyembuhannya, dokter.”
“Oppa. Panggil saja aku Oppa.” Tidak ada maksud apa – apa. Heechul hanya ingin mengakrabkan diri. Kim Ra terlalu tegang dengan status mereka yang seperti seorang dokter dan pesakitan. Kim Ra membutuhkan keakraban untuk kenyamanan bicara. “Kau bisa menceritakan masalahmu padaku.”
“Aku ingin menyembuhkan suamiku. Tapi aku tidak tahu harus bagaimana… aku..”
“Banyak cara Kim Ra. Banyak cara.” Heechul membuka lembar buku berikutnya. “Banyak terapi yang bisa kau lakukan. Seperti terapi perilaku, Hipnotheraphy, tekhnik psikoanalisis, behavional, penangan kognitif, penanganan biologis. Dan juga bisa dibantu dengan beberapa obat seperti obat antiandrogen atau antidepresi. Kau mempunyai jalannya.”
“Aku tidak bisa membawanya untuk terapi.”
“Aku mengerti. Banyak kasus seperti itu. Karena dia suamimu, aku menyarankan untuk menggunakan penanganan kognitif dibantu dengan obat anti depresi.”
“Penanganan kognitif?”
“Penanganan Kognitif seperti pelatihan empati. Menjelaskan padanya, kalau kau merasa sakit dan terluka karena perilakunya. Sadarkan dia kalau dia telah menyakitimu. Buatlah dia berempati padamu. Kalau dia adalah suamimu, itu artinya cinta terlibat diantara kalian. Secara logika, seseorang pasti tidak mau menyakiti orang yang dicintainya. Cobalah!”
“Yaa. Saya akan mencoba.” Dalam putus asa. Tidak ada harapan dalam suara Kim Ra.
“Ini kartu namaku. Hubungi aku kapanpun kau butuhkan. Ingat! Kapanpun.”
“Terima Kasih.” Kim Ra mengulurkan tangannya untuk menerima kartu nama Kim Heechul.
-000-
Kim Ra berjalan di trotoar dengan langkah lunglai. Tidak bertenaga. Seperti seorang yang akan mati kebosanan. Semuanya terlalu kacau. Kebahagiaan terasa semakin jauh dari genggamannya. Dengan semua rasa lelahnya, Kim Ra berhenti di sebuah halte. Duduk diam. Melihat banyak kendaraan yang berlalu lalang di depannya. Pikirannya mulai melayang. Apa masih ada jalan untuknya bersama dengan Kyuhyun?
Ingatan Kim Ra melayang kembali pada masa yang telah lalu.
-Flashback-
Dan disinilah mereka, di balkon lantai dua rumah besar Kyuhyun. Menatap mentari jingga yang akan tenggelam. Dengan Kyuhyun yang memeluk Kim Ra dari belakang dan sesekali mencium rambut gadisnya. Dengan Kim Ra dan Yesung yang berpegangan tangan. Saling menggengam erat.
“Masuk! Ini mulai dingin.” Bisik Kyuhyun. Kim Ra mengangguk.
Kyuhyun menarik Kim Ra. Mereka berjalan beriringan dengan tangan Kyuhyun di pinggang Kim Ra. Setelah mereka melewati pintu, tiba – tiba Yesung menyusul. Dengan bar – bar ia melingkarkan lengan kirinya di leher Kim Ra. Membuat gerakan mencekik. Tapi itu tidak sungguhan. Yesung Mengguncangkan tubuh Kim Ra beberapa kali.
“Oppaaaaaaa!” Teriak Kim Ra. Yesung menulikan telinganya. Dia berjalan begitu saja melewati keduanya.
Bugh!
Kyuhyun menendang Yesung, tepat di pantat pria itu.
“Yak! Sialan kau! Presdir mesum gila!” Yesung berteriak sambil mengelus bokongnya. Kim Ra tertawa melihat ulah dua pria tidak normal itu. Dengan senyum yang masiih tersisa di bibirnya, Kim Ra berjalan di belakang Yesung, sampai sebuah tangan menarik dirinya.
“Bersama.” Kim Ra kembali berjalan di samping Kyuhyun. Bersama.
Tiba di ruang makan, Yesung langsung memeluk Han Ahjumma dari belakang persis seperti yang dilakukan Kyuhyun pada Kim Ra sewaktu di balkon. Kyuhyun dan Kim Ra bergabung dengan mereka. Han Ahjumma sedang menata piring di meja makan. Kyuhyun menggeser sebuah kursi. Duduk dengan tenang layaknya bos. Iya, dia memang bos besar. Kyuhyun mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
“Yeobo… Jangan terlalu lelah. Kau tidak perlu mengerjakan semua pekerjaan ini sendiri. Kau bukan satu – satunya wanita di sini.” Yesung berkata pada Han Ahjumma. Kalimat sidirannya tepat sasaran. Kim Ra menginjak kaki Yesung. Mengerucutkan bibirnya.
“Aghhh!” Yesung melepas pelukannya dari Han Ahjumma. Meringis dengan mata nyalang pada Kim Ra.
Kyuhyun menarik Kim Ra dari jarak dekatnya dengan Yesung. Menarik gadis itu agar berdiri menempel dengan dirinya. Kyuhyun masih serius dengan ponselnya. Jari telunjuknya yang lentik masih sibuk menggeser layar. Nah, perhatikan tangannya! Tangan yang satunya. Tangan kanan Kyuhyun yang ada di punggung Kim Ra perlahan mulai turun. Turun. Dan turun. Meremas pantat Kim Ra yang bulat. Perlahan dan pasti. Berputar. Sesekali jari Kyuhyun menusuk. 
Kim Ra menoleh cepat kearah Kyuhyun. Menyadari dan merasakan apa yang pria itu lakukan pada tubuhnya. Dan Kyuhyun? Presdir sialan itu masih –kelihatan- sibuk dengan ponselnya. Kim Ra berbisik pada Kyuhyun.
“Kyuhyun.. Berhenti!”
“Apa?” Kyuhyun akhirnya menoleh. Membalas mata Kim Ra.
“Tanganmu! Ada Han Ahjumma di sini.” Kim Ra mendesis memperingatkan.
“Ahjumma!” Han Ahjumma menoleh ke arah Kyuhyun yang memanggilnya. “Panggil kami kalau makan malam sudah siap. Aku ada urusan dengan istriku.” Kyuhyun menarik Kim Ra. Membawanya menjauh dari ruang makan. Menuju lantai atas.
“Kemana?” Kim Ra bertanya saat mereka melewati kamar.
“Tidak di kamar. Ada ranjang di sana. Dan itu menggodaku untuk membuatmu berakhir dengan kelelahan dalam keadaan telanjang.”
“Lalu?” Kau menantang Kyuhyun, Nona?
“Tidak saat kita masih harus berurusan dengan makan malam.”
Ya, Si mesum yang frontal.
Kyuhyun membawa Kim Ra keruang kerjanya. Setelah menutup pintu, Kyuhyun mendorong Kim Ra. Menyudutkan gadis itu pada dinding.  Memberinya sebuah ciuman. Panas. Bergairah. Dalam. Kyuhyun membawa Kim Ra dalam pelukan. Dengan tangan yang merambat kemana – mana. Satu tangannya masuk ke dalam kemeja Kim Ra. Naik mendaki benda kenyal yang berukuran 34 B. Dan satu tangannya lagi sudah tenggelam di dalam rok Kim Ra. Melanjutkan kegiatan meremas. Tanpa interupsi.   
Tanganmu selalu aktif, Cho Kyuhyun!
Kyuhyun menekan Kim Ra lagi. Menggesek tubuh mereka. Membuat Kim Ra semakin mendesak dinding yang dingin. Wah, benar – benar bahaya kalau ada ranjang di dekat mereka. Kyuhyun akan dengan senang hati membawa Kim Ra ke atasnya.
Hey! Hey!
Kim Ra kehabisan nafas, Kyuhyun. Lepaskan!
Menarik lidahnya dari dalam mulut Kim Ra, Kyuhyun melepaskan tautan mereka. Melepaskan juga tangannya dari tubuh Kim Ra. Tersenyum iblis dengan meminjam ketampanan dewa. Mengusap wajah Kim Ra yang berpeluh. Mengusap bibir Kim Ra yang basah. Membenarkan Kemeja Kim Ra yang hampir tidak berbentuk.
Jangan lupakan rok yang tadi kau singkap ke atas, Cho!
“Terlalu merindukanmu.” Bisikan Kyuhyun membuat Kim Ra membuka mata. Kembali ke dunia.
‘Merindukanku? Pria ini tidak mabuk kan? Tumben sekali.’ Kim Ra mencibir dalam hati. Merona juga dalam hati.
Kyuhyun menarik diri dari Kim Ra. Berjalan dengan tenang menuju mejanya. Duduk di kursi besar. Tersenyum sejenak kearah meja. Senyuman usil yang kekanakan. Kim Ra tau kemana arahnya. Foto bayi empat minggu Kim Kyu. Mereka terlihat seperti anak dan Appa yang sedang mengerjai Eomma. Kyuhyun mengangkat tangannya pada Kim Ra.
“Kemari!” Perintah Kyuhyun seperti sihir. Kim Ra datang padanya dengan suka rela. Tersihir.
Kyuhyun menarik Kim Ra keatas pangkuannya.  Gadis itu tersentak. Ini bukan yang pertama, tapi tetap saja kelakuan Kyuhyun selalu berhasil menghilangkan jantung Kim Ra. Kyuhyun menarik wajah Kim Ra. Berhadapan.
“Apa dia membuatmu terkejut?” Kyuhyun bertanya dengan mata yang penuh dengan gairah.
“Seperti melihat gunung meletus di depan mataku.” Kim Ra memandang serius Kyuhyunnya. “Dia tersenyum padamu tadi. Tidak biasa. Sejak kapan kalian seperti itu?” Oh! Nada itu. Nada cemburu.
“Dia tersenyum seperti itu untuk memberi isyarat.”
“Tentang?”
“Siang tadi, dia mengirimi aku pesan. Dia ingin mengatakannya padamu. Dan saat aku pulang, dia tersenyum seperti tadi. Itu adalah kodenya. Dia sudah mengatakan padamu. Tentang dirinya.”
“Sejak kapan kau tahu?”
“Saat kuliah. Dia tahu tentang masalahku dan dia memberitahuku tentang perasaannya.”
“Kau menerimanya?” Kim Ra mendesak Kyuhyun. Pria itu menyipitkan mata.
“Menerima?”
“Menerimanya.” Kim Ra mengendikkan bahu. Ragu pada apa yang dia maksud. Menerima apa?
“Iya. Aku menerima kehadirannya. Bukan perasaannya. Perlu kau tahu, dia hanya melibatkan aku dengan hatinya. Yang harus kau garis bawahi adalah dia tidak tertarik secara seksual padaku. Hanya hatinya yang menyayangiku dengan tidak wajar. Tapi tubuhnya tidak.”
“Maksudmu?”
“Dia pernah melihat aku dalam keadaan ereksi saat di kantor. Dan kau tahu apa yang dia katakan padaku?” Kim Ra menggeleng. Waspada. “Dia memakiku. Melempari aku dengan apapun yang ada didekatnya. Menyuruh aku mencari pelacur.” Kyuhyun menyelipkan helaian rambut di belakang telinga Kim Ra.
“Dia menyukai pria kan?”
“Aku rasa tidak. Dia tidak tertarik secara seksual dengan pria. Dia bisa meniduri wanita. Aku mengajarinya.” Kyuhyun terkekeh.
“Apa maksudmu mengajarinya?”
“Memberinya setumpuk video dewasa.”
“Jadi dia dengan wanita?”
“Sesekali. Kalau dia ingin, dia akan mencari wanita untuk urusan ranjangnya.”
“Aku tidak mengerti.” Kim Ra menggeleng pelan. “Jadi dia itu penyuka sesama atau bukan?”
“Akan sulit menjelaskan padamu.” Kyuhyun memainkan lidahnya di bibir. Membasahi. Oh sialan seksi! “Dia menyukaiku, bukan berarti dia menyukai pria. Dia tidak menyukai pria lain. Dalam keadaan tertentu dia bisa tidur dengan wanita.”
“Nah, itu terdengar seperti dirimu.” Percikan api mulai terlihat di mata Kim Ra.
“Apa?”
“Mengaku mencintai seorang gadis, tapi karena suatu keadaan dan kebutuhan kau meniduri banyak wanita.”
“Terserah padamu.” Kyuhyun meringis. Itu benar.
“Alasanmu menerima kehadirannya?”
“Karena dia tidak menggangguku. Dia tidak melibatkan ketertarikan fisik. Dia mempunyai perasaan yang hanya dia sendiri yang merasakan. Itu bisa diterima. Juga, dengan dia bersamaku, aku merasa tidak sendirian. Kau tahu maksudku.” Kyuhyun kehilangan kebahagiaan di matanya. Kim Ra tahu itu.
Kyuhyun yang tidak normal dengan Yesung yang juga tidak normal. Dia tidak sendirian.
“Lalu bagaimana bisa Yesung melihat kau ereksi di kantormu? Menikmati klien yang seksi, huh?”
“Ereksi.” Kyuhyun menggumam pelan. “Itu setelah kunjungan istriku yang menolak untuk tinggal bersama denganku di rumah besarku. Dia cemberut, marah dan berteriak. Benar – benar membuatku terangsang.”
Kim Ra memukul dada Kyuhyun. Sialan! Itu dirimu Kim Ra.
“Bagaimana bisa dia menyukaimu?” Dengan wajah merona, Kim Ra mengalihkan pembicaraan.
“Aku rasa kau yang lebih tahu daripada aku.”
Big Yes, Kim Ra!
Hal yang membuat Yesung menyukai Kyuhyun adalah hal yang sama, dengan apa yang membuatmu mencintai Kyuhyun. Jelas kau lebih tahu daripada Kyuhyun. Kau merasakan apa yang Yesung rasakan. Mungkin lebih.
Oh Tuhan, Kyuhyun memang mempesona. Tapi apa tidak cukup kaum hawa saja yang terpesona? Haruskan pria juga ikut terjebak dalam pesonanya?
“Sudah bertemu dokter Park?”
“Yaa.”
“Apa katanya?”
“Banyak pilihan untuk kontrasepsi. Dia hanya memberi penjelasan dan belum melakukan apapun padaku.”
“Kenapa?” Kyuhyun melotot. Merengut tidak suka.
“Dia memberi waktu untuk memilih dan berdiskusi denganmu.”
“Sialan! Untung aku tidak membawamu ke kamar tadi.” Nada suara Kyuhyun tegas. Terdengar marah. “Kenapa tidak memberitahuku?”
“Maaf, aku lupa.” Bodoh! Bodoh! Bodoh! Bodoh berkali lipat Kim Ra. Apa jadinya kalau Kyuhyun benar – benar menarikmu ke atas ranjang? Hamil lagi? Bertengkar lagi? Keguguran atau yang lebih buruk, aborsi? Lagi?
Tuhan, bocah ini bernama Shin Kim Ra. Ampuni dosanya.
“Jangan ceroboh! Lain kali laporkan semua hal yang menyangkut dirimu padaku!” Perintah lagi. Yeah! Kyuhyun Si tukang perintah. Kim Ra mengangguk pelan. “Lalu apa yang kau pilih?”
“Hmmm… Aku belum memilih. Tapi aku berfikir obat akan…”
“Tidak!” Kyuhyun memotong. “Kau tidak akan dengan obat. Kau bisa lupa. Itu beresiko.”
“Tapi suntik itu mengerikan.” Kim Ra merengek.
“Hanya sekali dalam sebulan. Demi aku, tolonglah!” Kyuhyun membentak. Kim Ra terkejut. Tersentak di pangkuan Kyuhyun. Pria itu memohon dengan nada membentak.
Oh! Hanya Kyuhyun yang bisa.
“Baiklah. Suntikan. Aku akan bicara dengan dokter Park.” Kim Ra mengkerut. Menunduk.
“Maaf!” Kyuhyun merengkuh punggung Kim Ra. Membawa tubuh mereka saling bersentuhan. Kyuhyun menunduk. Mendekatkan wajah mereka. Menyatukan bibir ketusnya yang kurang ajar dengan bibir Kim Ra.
Kissing again.
Sudah saling melumat. Kalian sudah berbaikan, huh? 
Kim Ra mendorong pelan dada Kyuhyun. Suaminya lupa lagi kalau istrinya tidak punya nafas yang panjang saat berciuman. Kim Ra bukan dirimu, Kyuhyun. Ingatlah itu! Kyuhyun membelai rambut Kim Ra lembut. Membelai sayang. 
“Apa ini?” Mata Kyuhyun terarah pada sebuah berkas di atas mejanya.
“Buka saja.”
Kyuhyun membukanya. Membaca dengan cermat. Berkas milik Kim Ra mengenai pendidikan Kim Ra selanjutnya. Kyuhyun membaca serius. Membuka lembar demi lembar dengan kasar. Wajahnya berubah. Menegang. Aura Kyuhyun berubah. Kim Ra merasakannya. Gelap menyelimuti mereka.
Ekspresi Kyuhyun lebih mengerikan dari pada saat mereka berbicara tentang Kontrasepsi.
“Turun!” Kim Ra tersentak. “Turun, Kim Ra!” Bentak Kyuhyun lagi.
Dengan keterkejutan yang menumpuk di ujung kepalanya, Kim Ra meringsut turun dari pangkuan Kyuhyun.  Berdiri tegang di samping kursi Kyuhyun. Sedangkan pria itu langsung berdiri di sisi lain kursinya saat Kim Ra tidak lagi di pangkuannya.
“Apa ini? Apa maksudnya ini?” Kyuhyun menggeram. “Kejiwaan?” Kyuhyun mengangkat berkas itu di depan wajah Kim Ra. Mata Kyuhyun bersinar dengan amarah.
“Kyuhyun…”
“AKU TIDAK GILA!!” Kyuhyun berteriak. “SINGKIRKAN INI!” Berteriak lagi. Kyuhyun melempar berkas Kim Ra ke lantai.
“Kyuhyun, aku tidak…” Suara Kim Ra menggantung karena Kyuhyun sudah keluar dari ruangannya.
Astaga! Pasangan sialan itu bertengkar lagi?
-000-
Kembali dari lamunan tentang pertengkarannya dengan Kyuhyun, Kim Ra memejamkan matanya erat. Menghirup udara sebanyak mungkin. Saat matanya terbuka lagi, Kim Ra berdiri. Kakinya bergetar. Berjalan pelan. Mencari sebuah taksi.
Taksi?
Setelah Kyuhyun marah tentang pendidikan yang dipilih Kim Ra, pria itu menghindari Kim Ra. Selalu sibuk. Pergi ke kantor sepagi yang dia bisa. Selalu pulang larut malam. Sering sekali Kyuhyun tidur di ruang kerjanya, walaupun beberapa kali akan tetap tidur bersama Kim Ra. Dalam diam. Dengan punggung yang dihadapkan untuk Kim Ra. Ini seperti saat awal penikahan mereka. Dua minggu yang menjadi neraka Kim Ra.
Tapi sekarang, sudah hampir 2 bulan Kyuhyun membuat Kim Ra hidup di dalam neraka lagi.
Dua bulan. Hampir.
Sudah selama itu Kyuhyun tidak berinteraksi secara wajar dengan Kim Ra. Jangan berfikir tentang urusan ranjang. Berbicara dengan Kim Ra saja, hanya untuk sesuatu yang sangat penting. Tidak ada kemesraan. Tidak ada obrolan. Tidak ada pelukan.
Kim Ra sudah bukan lagi seorang gadis berseragam. Teman – temannya bahkan sudah sibuk untuk memasuki Universitas pilihan mereka. Tapi Kim Ra sebaliknya. Ia belum menentukan masa depannya. Dan karena Kim Ra belum memutuskan untuk studinya, Yesung kini kembali bekerja dengan Kyuhyun di kantor.
Itulah, kenapa Kim Ra berada di sebuah taksi.
Setelah perjalanan yang panjang ia habiskan dengan melamun, taksi yang ditumpangi Kim Ra sudah berhenti di rumah besar Kyuhyun. Kim Ra memasuki rumah dengan kening berkerut. Ia melihat mobil Yesung. Pria itu di rumah? Bukankan tadi pagi dia pergi bersama Kyuhyun?
“Nona…” Yesung menyambut Kim Ra.
“Aku kira Oppa pergi dengan Kyuhyun.” Kim Ra berjalan terus. Ke halaman belakang. Yesung mengikutinya.
“Aku sudah selesai. Kyuhyun memperbolehkan aku pulang.” Yesung berbohong. Dia tidak mungkin memberitahu Kim Ra, kalau dia dipulangkan Kyuhyun. Bos besarnya itu kehilangan Kim Ra di layar monitornya.  “Nona darimana?”
“Aku berjalan – jalan sebentar.” Kim Ra duduk di dekat kolam renang. Yesung mengikuti. Duduk di sampingnya. “Kyuhyun… masih tidak mau bicara padaku.” Kim Ra memelas.
“Dia butuh waktu, Nona. Kau tenang saja. Saat waktunya tiba nanti, dia akan kembali.”
“Waktu? Untuk apa? Aku sudah membatalkan pendaftaran studiku. Aku bahkan pengangguran sekarang. Ini sudah berbulan – bulan, Oppa.” Kim Ra menatap Yesung dengan kesedihan.
“Aku pernah sepertimu. Mendaftarkannya untuk therapy. Hasilnya adalah dia mendiamkan aku selama hampir satu tahun.”
“Yang benar ?” Kim Ra menatap Yesung.
“Harga dirinya yang setinggi langit itu membuatnya mudah tersinggung. Dia terlalu malu.”
“Aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya ingin dia sembuh. Hanya sembuh, Oppa.”
“Aku tahu. Akan aku coba bicara padanya.” Yesung menepuk punggung Kim Ra lembut. Kim Ra melihat Yesung lekat. Penuh minat. “Kenapa melihatku seperti itu? Kau menatapku seperti aku adalah sebuah fosil yang baru saja digali dari tanah.”
“Aku penasaran tentangmu.”
“Tentangku?”
“Aku mendengar beberapa hal tentangmu dari Kyuhyun. Oppa bisa dengan wanita.” Suara dengan nada tanya yang besar keluar dari bibir mungil Kim Ra.
“Dengan wanita?” Yesung menarik tangannya dari punggung Kim Ra.
“Tidur. Dengan. Wanita.” Kim Ra penuh penekanan. Yesung tersenyum sesaat.
“Iya. Kenapa? Aku ‘kan pria.” Yesung menyibak rambutnya. Membuat gaya ‘manly’. Tampan dan memuakkan secara bersamaan.
“Tapi kau mencintai Kyuhyun.”
“Kau berharap aku tidur dengan Kyuhyun?”
“YAK!” Kim Ra menjambak Yesung.
“Ampun! Ampun! Lepas!” Yesung mengusap rambutnya sambil meringis. “Aku menyukainya, belum tentu aku tertarik dengan pria. Hatiku yang menyukainya. Tapi aku tidak tertarik padanya secara fisik. Apa? ketampanannya? Orang buta di seluruh dunia ini juga tahu kalau aku lebih tampan dari Kyuhyun.”
“Aku kira kau menyukai saat bersama pria.” Kim Ra berucap pelan. Ia takut Yesung tersinggung.
“Aku menyayanginya. Aku menyayanginya sampai aku tidak bisa menyayangi orang lain lagi. Termasuk wanita. Terlepas dia seorang pria atau wanita. Aku menyukai seorang Kyuhyun.”
Penekanan yang mengiris hati.
“Maaf.” Yesung menambahkan.
Ya. Yesung tidak jatuh cinta pada seorang pria. Dia jatuh cinta pada sesosok Kyuhyun. Kebersamaan mereka yang membuat Yesung mempunyai perasaan terkutuk itu pada Kyuhyun. Sayang sekali, Kyuhyun adalah seorang pria.
“Kau pernah melihat drama Coffee Prince?” Yesung berkata dengan antusias. Kim Ra mencoba mengingat. Ah! Go Eun Chan. Kim Ra mengangguk. “Kurang lebih seperti itu. Aku adalah pria normal yang secara mendadak tertarik dan menyayangi Kyuhyun. Entahlah. Awalnya aku hanya merasa nyaman, kagum dan tiba – tiba aku menyayanginya begitu saja.”
“Perasaanmu rumit sekali. Kau menyukai Kyuhyun. Semua hal tentang Kyuhyun. Seandainya Kyuhyun adalah seorang wanita, kau pasti menjadi pria normal.”
“Dan kau yang jadi tidak normal.” Yesung terkekeh senang. Kim Ra melirik tajam. Ada sebilah pedang beracun dalam mata gadis itu. Mereka terdiam sesaat.
“Namanya Hyurin. Kim Hyurin.”
“Siapa?” Kim Ra tidak tahu Yesung berbicara tentang siapa.
“Satu – satunya wanita yang pernah aku tiduri.”
“Benarkah? Seperti apa dia?” Informasi menarik.
“Cantik. Kau mau dengar tentangnya?” Kim Ra mengangguk. “Mungkin ini akan membuatmu bernafsu untuk membunuhku.”
“Katakan saja! Akan kubunuh kau, kalau itu memang perlu.”
“Dia adalah seorang pelacur yang akan aku bawa untuk Kyuhyun.” Yesung melihat wajah Kim Ra menegang. Benarkan? Dia cemburu! “Tapi saat di lift hotel, dia berbisik padaku. Dia masih perawan.”
“Jadi…”
“Jadi mana tega aku memberikan seorang perawan untuk Kyuhyun. Suamimu masih sangat parah kala itu. Para pelacur itu pasti akan terkapar setelahnya.”
“Lalu?” Kim Ra terlihat sekali tidak ingin membahas tentang Kyuhyun. Kyuhyun yang bercinta dengan wanita lain. Pembicaraan ini tentang Yesung dan Hyurin, kan?
“Lalu aku membawanya ke kamar yang aku pesan sendiri. Aku adalah pria pertamanya. Dan dia adalah wanita pertamaku. Setelah itu…” Wajah Yesung penuh penyesalan. “Aku membawa Hyurin untuk Kyuhyun keesokan harinya.”
“Tuhan…” Kim Ra meringis.
“Dia butuh banyak uang. Dia yang memaksaku untuk mempertemukan dirinya dengan Kyuhyun. Setelah dia ditinggalkan Kyuhyun dalam keadaan tidak sadarkan diri, aku membawanya kerumah sakit.”
“Kyuhyun tahu tentang Hyurin?”
“Tidak. Dia tidak pernah mau tahu tentang wanita – wanita yang dipakainya. Aku yang mengurus mereka. Hyurin bukan yang pertama harus masuk rumah sakit. Dan biasanya, aku hanya akan mengurus administrasi mereka. Tapi Hyurin berbeda. Entahlah, mungkin karena aku telah menghabiskan malam dengannya. Aku mengurusnya di rumah sakit.”
Kim Ra tahu tentang Kyuhyun yang bersama pelacur selama ini. Bukan satu atau dua. Dilihat dari jangka waktunya, itu bisa lebih dari seratus. Kim Ra tahu. Tapi entah kenapa, membahas masalah itu lagi membuat Kim Ra masih merasa sakit di hatinya. Selalu sesak. Terlepas dari itu keterpaksaan atau tidak. Kim Ra merasa dikhianati.
“Kau masih berhubungan dengannya?”
“Ya. Dia mencariku setiap dia membutuhkan uang.”
“Memberikannya pada Kyuhyun lagi?” Menuduh sekali kalimatmu, Kim Ra!
“Tidak.” Yesung tersenyum geli. “Aku sudah pernah bilang, Kyuhyun tidak pernah dengan orang yang sama. Kecuali kau, Nona. Aku yang bersama Hyurin. Aku yang membayarnya. Ketika aku berada di atas ranjang dengannya, itu bukan karena aku menginginkannya. Tapi karena Hyurin yang membutuhkanku.”
“Hanya dengan Hyurin?”
“Ya. Sekali dengan Kyuhyun, Hyurin hanya datang padaku. Dan aku juga hanya membayar Hyurin. Tidak dengan pelacur lain. Aku tidak punya selera dengan pelacur. Aku dan Hyurin membangun sebuah hubungan yang rumit. Anggap saja, kami saling membantu.”
Seorang pria dewasa berbincang dengan seorang gadis yang baru saja menanggalkan seragamnya. Berbicara tentang hubungan di atas ranjang. God! Kim Ra mulai tertular sinting.
Braakk!! Byuurrr!
Kim Ra dan Yesung menoleh ke asal suara. Berdiri dengan spontan karena terkejut. Kyuhyun di belakang mereka. Berdiri tegak. Kyuhyun menendang sebuah kursi santai masuk kedalam kolam. Tenggelam. Kyuhyun dengan kilat marah di matanya.
“Jangan pernah keluar dari rumah ini tanpa seizinku!” Bentak Kyuhyun.
Hanya itu yang di katakan Kyuhyun pada Kim Ra.
Kyuhyun berbalik. Berjalan dengan langkah besarnya. Meninggalkan Kim Ra dengan Yesung. Pria itu benar – benar! Yesung geram setengah mati dengan tuan muda terkutuknya itu. Yesung mengekori Kyuhyun. Langkah Kyuhyun berhenti di dapur.
“Sampai kapan kau akan terus bertingkah seperti ini? Otakmu jatuh dimana Cho Kyuhyun? Matamu dimana? Apa kau tidak lihat? Kim Ra terluka karena sikapmu.”
Kyuhyun dan Yesung menoleh serempak ke arah tangga. Kim Ra yang mendaki tangga itu. Berlari.
“Aku tidak bisa.” Kyuhyun berbisik. “Aku tidak bisa menyakitinya.” Kali dengan suara yang lebih keras, agar Yesung mendengar.
“Kau sudah menyakitinya.” Yesung menggeram juga.
“Aku takut melukainya lebih lagi.” Tatapan Kyuhyun melunak. Yesung menangkap sinyal itu. Ketakutan Kyuhyun.
“Kenapa?” Yesung memelankan suaranya. Berjalan mendekati Kyuhyun.
“Aku melihatnya. Setelah aku berteriak pada Kim Ra tentang berkas pendidikannya. Saat aku pergi meninggalkan rumah malam itu. Di bar, aku melihatnya lagi.”
“Siapa?”
“Pelacur tua brengsek itu.” Yesung melihat mata Kyuhyun memerah. Kemarahan. Kebencian. Luka yang mengerikan.
Kyuhyun bertemu dengan ibu tiri Donghae. Si pelacur berumur yang brengsek. Mom.
“Kyuhyun, kau … Kau baik – baik saja?”
“Tidak. Tidak sama sekali.” Kyuhyun menggeleng gusar. “Semua yang aku hilangkan bertahun – tahun, kembali. Aku mengingat lagi seperti semua itu baru terjadi  semalam. Aku takut hilang kendali pada Kim Ra. Aku takut akan menyakitinya.”
“Jangan – jangan… kau..”
“Ya.” Kyuhyun memejamkan mata. Menunduk. “Maaf.” Tangan Kyuhyun mencengkeram meja bar mini di salah satu sudut dapur. “Aku dengan pelacur lagi. Dan membuat beberapa dari mereka menginap di rumah sakit beberapa minggu ini.”
Yesung lemas. Tanpa sepengetahuannya. Kyuhyun menjadi monster lagi seperti beberapa tahun lalu. Pertahanan dan usaha pengendalian dirinya selama bertahun – tahun, hancur begitu saja setelah melihat wanita itu lagi. Pelacur berumur brengsek. Kyuhyun mengingat lagi. Kyuhyun terjerumus pada trauma itu lagi. Kyuhyun kembali hitam lagi.
“Aku tidak bisa mengendalikannya lagi.” Kyuhyun menoleh ke arah tangga. Menerawang keberadaan Kim Ra disana.
Yesung menggeleng ngeri. Dia tahu betul apa yang terjadi pada para pelacur Kyuhyun beberapa tahun lalu. Mereka yang harus masuk rumah sakit. Mereka yang tidak sadarkan diri. Mereka yang sekarat. Mereka yang hampir kehilangan nyawa.
Cho Kyuhyun muda yang mengenaskan telah kembali, merasuki Cho Kyuhyun dewasa yang berkuasa.
Lebih dari mengerikan untukmu, Kim Ra. Seandainya kau tahu.
-000-
Menumpahkan isak tangisnya di bawah bantal. Kim Ra mengubur dirinya di dalam selimut. Menghangatkan dirinya sendiri. Meratapi rasa pahit dalam hidupnya yang seperti tak pernah habis. Dia melewatkan makan malamnya untuk kesekian kalinya. Mencoba terlelap dalam rasa sakit. Sendiri.
Lagi.
Setelah Kyuhyun membentaknya tadi, Kim Ra merasa hatinya sedang dimutilasi. Entah jadi berapa bagian atau mungkin kepingan. Kim Ra berakhir sendirian lagi di dalam kamarnya. Kim Ra sudah memastikan sesuatu. Kyuhyun tidak akan bersamanya malam ini.
Perkiraan yang salah.
Di tengah malam yang sangat tenang itu. Kyuhyunmu datang, Kim Ra.
Kyuhyun mendekati Kim Ra yang tidur dengan memunggungi tempatnya berdiri. Membungkus tubuh mungilnya dengan selimut tebal. Hampir tidak ada celah untuk melihat wajah cantik itu. Terlalu rapat. Teralu menyakitinya.
Seiring dengan hembusan nafas yang berat, Kyuhyun hanya berdiam diri. Menatap punggung Kim Ra seperti sedang menikmati keindahan matahari tenggelam. Shin Kim Ra yang terluka. Apa melihat Kim Ra terluka sama indahnya dengan melihat matahati terbenam? Kau brengsek sekali Presdir!
Mundur dua langkah, Kyuhyun mulai menjauh. Berbalik perlahan. Berniat meninggalkan Kim Ra yang kesakitan. Tapi langkah itu terhenti. Suara isak tangis lirih yang menghentikannya. Kim Ra menangis?
Kyuhyun menoleh cepat ke arah Kim Ra. Tubuh mungil yang tadi tenang itu kini bergetar. Masih terbungkus selimut. Kyuhyun merasa ditampar seratus kali saat mendengar isak pilu itu semakin nyata di telinganya. Berapa banyak dosamu Kyuhyun? Tuhan, namanya Cho Kyuhyun. Ampuni dosanya.
“Aku minta maaf untuk semua kesalahanku.” Suara Kim Ra di sela tangisnya. “Aku minta maaf, karena menyinggung harga dirimu.” Kim Ra bangun dari posisi berbaringnya. Menatap Kyuhyun sayu dengan mata yang membengkak. “Aku tidak bermaksud seperti itu.”
“Tidur, Kim Ra!” Kalimat Kyuhyun terbentuk dengan nada rendah yang berbahaya. Marah pada diri sendiri.
“Aku sadar, mungkin aku tidak termaafkan untukmu. Kesalahanku membuatmu tidak nyaman bersamaku. Tapi jangan seperti ini. Tolong katakan sesuatu. Aku akan memahami kalau kau…” Air mata Kim Ra semakin deras. “Kau tidak menginginkan aku lagi.” Sakitnya hatimu Kim Ra. Kau mengatakannya juga akhirnya.
“Tidak pernah seperti itu.” Kemarahan di kepala Kyuhyun menguap ke udara. Terbang bersama angin malam. Kyuhyun tiba – tiba cemas. “Tidak pernah seperti itu.” Kyuhyun mengulang kalimatnya seakan berbicara dengan seorang yang tuli.
“Iya, seperti itu!” Kim Ra nyaris berteriak. Ia muak. Sungguh. “Kau menghindar dariku. Mengabaikanku. Kau menjauhiku. Kau memperlakukan aku seperti orang asing. Kau tidak menginginkan aku lagi.” Kim Ra menangkup wajahnya dengan dua telapak tangannya. Tangisnya memecah malam. Meraung dalam gelap.
“TIDAK. PERNAH. SEPERTI. ITU!” Kyuhyun tidak tahan lagi. Penyesalan sudah menggerogotinya. Kyuhyun berbalik meninggalkan Kim Ra. Tanpa penjelasan. Lebih tepatnya, tidak ingin menjelaskan. Kenapa? Karena alasannya itu sangat menyakitkan untuk Kyuhyun. Kyuhyun tidak siap membuka lukanya pada Kim Ra. Tidak. Tidak sekarang.
Apa yang harus dia katakan? Kyuhyun-mu menjadi monster lagi!
-000- 
Pagi telah menyapa.
Kim Ra masih di dalam selimut. Malas untuk bangun dari ranjang empuknya. Padahal matahari sudah di atas kepalanya. Kim Ra mendengar Han Ahjumma mengetuk pintunya tadi pagi. Tapi Kim Ra membiarkan saja. Dia sekarang pengangguran kan? Kim Ra menghela nafasnya kasar. Saat itu tiba – tiba ponselnya berbunyi. Sebuah pesan.
Kita perlu bicara. Mari kita bertemu.
Seohyun.
Kim Ra langsung bangun dari tidurnya. Seperti ada pesawat yang jatuh di atas kepalanya. Kim Ra terkejut bukan main. Dari mana wanita itu mendapatkan nomornya. Kyuhyun? Sial! Tanpa pikir panjang Kim Ra membalas pesan itu.
Dimana?
Ponsel Kim Ra berbunyi lagi. Seohyun membalas.
Seventeen  Cafe. Jam 2 siang.
Kim Ra melempar ponselnya. Kemudian berlari menuju kamar mandi. 
-000-
Kim Ra pergi lagi. Tanpa seizin Kyuhyun lagi. Kyuhyun dan Yesung sudah pergi ke kantor tadi pagi sebelum Kim Ra bangun. Iya, gadis itu membuka mata di siang bolong karena menangis semalaman. Dengan mata lelah yang hampir seperti panda, Kim Ra menemui Seohyun yang cantik
Kim Ra duduk manis dihadapan wanita cantik semampai itu. Seohyun. Wanita itu memakai dress terusan berwarna pastel. Dengan rambut panjang yang terurai. Membuatnya terlihat cantik dan anggun. Kim Ra mendengus dalam hati. Dia kalah jauh kalau di bandingkan dengan wanita itu. Terlebih tinggi badannya.
“Aku ingin memberikan ini untukmu.” Seohyun mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Meletakkan di atas meja lalu menggeser perlahan. Sampai benda berbentuk persegi itu ada di hadapan Kim Ra.
Tidak berniat menerima. Kim Ra hanya sempat melirik. Sebuah benda tipis yang berbuat dari kertas. Berwarna abu – abu di hiasi dengan warna emas dan merah maroon. Di bungkus rapi dan cantik dengan plastik. Terlihat mahal. Ada tulisan disana. Kim Ra membaca dengan lirikan ekor matanya.
DAAARRR!!!!
Hati Kim Ra tertembak peluru Bazoka! Hancur? Yah, jangan tanya lagi!
Sebuah undangan pernikahan.
Cho Kyuhyun dan Seo Joohyun.
“Aku kira pertunangan kalian sudah di batalkan beberapa bulan yang lalu.” Berusaha tenang. Kim Ra tidak ingin terlihat kalah.
“Oppa memang memutuskan  pertunangan kami dihadapanmu. Tapi itu tidak resmi. Oppa bahkan tidak mengembalikan cincin pertunangannya. Jadi, Halmoni emmh.. maksudku Madam Young tetap melanjutkan rencana pernikahan kami.” Seohyun berbicara dengan senyum di setiap nadanya. Dia bahagia.
“Dan kau berfikir aku akan melepaskan Cho Kyuhyun?”
“Oppa menyayangi Madam. Dan Madam sangat menyayangiku. Ini semua tidak ada hubungannya denganmu. Kau terima atau tidak, ini hanya antara aku dan Oppa.”
SIALAN! Kalimat sesederhana itu, bisa membuat Kim Ra merasa seperti sampah dalam sekejap.
Oppa? Oppa? Oppa? Mendengar Seohyun memanggil mesra Kyuhyun dengan Oppa, membuat Kim Ra ingin mendadak tuli saja. Kim Ra memukuli dirinya sendiri dalam hati. Dia ingin juga memanggil Kyuhyun dengan Oppa. Kyuhyun Oppa. Ahh! Betapa indahnya. Betapa bodohnya.
“Kalau begitu kenapa aku harus bertemu denganmu disini? Ini tidak ada hubungannya denganku.” Kim Ra menekan perasaannya sekuat mungkin. Jangan marah! Jangan menangis! Jangan lemah!
Jangan!
“Aku ingin mengatakan sesuatu padamu.”
Kim Ra diam. Tidak merespon. Hanya menatap datar Seohyun. Ia sudah sangat lelah dengan apa yang ada di hadapannya. Hatinya sudah tak terbentuk lagi sejak dia mendapati nama suaminya tertulis di sebuah undangan pernikahan dengan nama wanita lain.
“Aku tidak akan memintamu berpisah dengan Oppa. Tapi, berbagilah Oppa denganku. Untuk kebahagiaannya. Oppa membutuhkan aku.” Lanjut Seohyun dengan wajah serius. Tidak semanis beberapa menit lalu.
“Tutup mulutmu!” Kim Ra berbicara dengan gigi terkatup rapat. Bagian ini sudah keterlaluan. Wanita di depannya ini meminta suaminya. Tidak. Tapi merampas. Ya, merampas lebih tepat. Undangan itu buktinya. Undangan yang di cetak tanpa izin darinya untuk mencantumkan nama Kyuhyun di sana.
“Kau tidak benar – benar menerima Oppa apa adanya. Kau merubahnya. Kau menghalangi kebahagiaannya.”
“Bicara apa kau sebenarnya?” Kim Ra sudah mulai di ujung emosinnya.
“Aku tahu tentang Oppa. Tentang kelainannya.”
“Apa?” Kejutan besar untukmu Kim Ra. Seohyun tahu. Darimana?
“Dan yang perlu kau tahu adalah…” Seohyun tersenyum setengah. Oh! Wanita anggun dan polos ini bisa membuat seringai iblis juga ternyata. “Aku adalah seorang masochist. Aku adalah wanita yang dibutuhkan Oppa. Aku bisa dengan Oppa.”
Ada yang lebih dahsyat dari Bazoka? Granat? Nuklir?
Lemparkan itu pada Kim Ra!
Pengakuan laknat itu membuat nyawa Kim Ra seperti terlepas dari tubuhnya. Kim Ra bergetar dengan rasa sakit tidak terkira di setiap aliran darahnya. Nyeri itu terasa di setiap pori – pori tubuhnya. Apa? Wanita yang nyaris sempurnya di depannya ini seorang Masochist?
Seorang Masochist adalah pasangan yang tepat bagi seorang Sadist. Kim Ra sangat  jelas akan fakta itu.
Kim Ra mengumpat di setiap detik yang ia lewati sekarang. Sadist-Masochist adalah kata yang luar biasa cocok di telinga Kim Ra saat ini. Pria – wanita, Raja – ratu, Pangeran – Putri bahkan kalah serasi dibandingkan dengan kata Sadist – Masochist. Dan sekarang apa? Kyuhyun – Seohyun lebih terdengar PAS dari pada Kyuhyun – Kim Ra?
Saco!!
Pergilah ke rumah sakit jiwa Kim Ra! Ini pertama kali dalam hidupmu, kau menyesal menjadi manusia normal.
Kyuhyun sang Sadistis dan Seohyun si Masokis.
Kyuhyun sang Sadistis dan Seohyun si Masokis..
BRENGSEK!
-TBC-

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: