Possible, You’ll Be Mine

0
Possible, You’ll Be Mine kyuhyun fanfiction
Tittle : Possible, You’ll Be Mine
Author : Chiezchua Present
Category : Romance, AU, Oneshoot
Cast : Cho Kyuhyun/ Marcus Cho || Park Hyo Reen/ Ryenne Clark
Chieva Say’s : This story is pure of my imagination. All Right Reserved, No   Plagirism No Copying Without Permission. FF ini sudah pernah posting di wep pribadiku dengan nama cast yang berbeda. Happy Reading All……. ^^

‘Sejak pertama aku melihatmu, hanya ada tiga kata paling mendalam yang mampu menguraikan segala rasa dalam sanubariku. Kebahagiaan, Kenyamanan, dan Kehangatan dirimulah yang mewakili itu semua. Mungkinkah memilikimu, bukan hanya akan menjadi angan semata?
***
Sejak dulu alasan yang membuatku bisa bertahan selama berjam-jam di tempat ini adalah, menghabiskan berbagai macam buku ilmiah hanya untuk menambah pengetahuanku yang terbilang sangat minim ini. Aku bukanlah seseorang yang pandai berbicara dan menanyakan semua hal tentang apa saja yang tidak aku ketahui. Aku pendiam, terlalu malu untuk mengungkapkan ketidaktahuanku dan selalu memendamnya sendiri. Aku bukanlah tipe orang yang mudah bergaul. Hanya membaca yang bisa menjawab segala pertanyaan dalam hatiku tanpa membuatku harus bertanya pada orang lain.
Suatu hari seseorang telah berhasil mengalihkan perhatianku. Membuat prioritas utamaku bergeser dari tempatnya. Membaca tidak lagi menjadi alasan utamaku berada disini. Semua itu karena ‘Dia’. Dia yang membuatku semakin nyaman berada di tempat ini. Dia yang aku kagumi, dan dia yang ingin kumiliki namun aku tidak tahu cara apa yang harus ku lakukan agar bisa memilikinya.
Ditempat orang-orang biasa menyebutnya perpustakaan inilah, saat pertama kali aku melihatnya. Kurang lebihnya sejak satu bulan yang lalu. Pada awal musim semi, di saat bunga-bunga ingin berlomba-lomba menampakkan keindahan mereka. Hatiku pun ikut berbunga saat melihatnya duduk nyaman pada kursi di dekat jendela yang berjarak tidak sampai seratus meter di sampingku. Saat itu dia mengenakan kaus hitam polos, kemeja putih bermotif kotak, dengan kacamata minus yang bertengger indah di hidung mancungnya. Sayang bila diabaikan begitu saja, beberapa detik aku sering mencuri pandang ke arahnya, mengintip kecil dari sela bulu mataku hanya untuk memastikan apakah ada pergerakan di tubuhnya selain bola matanya yang sedang memindai ribuan huruf yang tercetak pada buku tebal di depannya itu.
Sejak saat itulah, aku membuat intensitas keberadaanku di tempat ini lebih sering dari biasanya. Hanya karena ingin melihat lebih lama wajah oriental menawannya. Merekam lebih jelas sosok dirinya di dalam memori otakku, menyimpannya dengan baik agar aku bisa mengingatnya sampai kapanpun. Sosoknya terlihat begitu berbeda diantara orang-orang berambut pirang dan mata biru di sekitar kami. Mengamati dengan baik, aku ingin tahu, bagaimana saat ia tersenyum? apa warna matanya? jika boleh, aku ingin sekali mendengar suaranya. Sayangnya waktuku sudah tidak banyak lagi di negeri yang terkenal sebagai The Black Country ini. Kurang lebih dua bulan ke depan, aku akan menyandang gelar masterku sebagai Spesialis Anestesi dari Departemen Anestesiologi Imperial College London University. Setelah itu aku kembali ke tempat kelahiranku. Jujur, ada rasa enggan dalam hatiku, tidak rela jika hari-hariku tidak dapat melihatnya lagi. Sebelum hal itu benar-benar terjadi aku ingin menikmati masa-masa di saat aku bisa melihatnya lebih saring seperti saat ini. Bolehkan aku sedikit berharap. Berharap semoga saja Tuhan berbaik hati mempertemukan kami lagi. Meskipun kemungkinan seperti itu sangatlah kecil sekali.
Seperti biasanya, aku selalu mendapati, tepat pada pukul setengah satu, dia masuk ke dalam ruangan ini, membuka pintu ganda berwarna bening di sebelah kanan, berjalan ke arah rak buku pada baris kedua yang aku tahu berisikan tentang berbagai macam buku mengenai ilmu bedah. Tidak lama kemudian pria itu muncul, membopong berbagai macam tumpukan buku di kedua tangannya, hingga nyaris menutupi wajahnya, membuatku sedikit kecewa karena tidak leluasa melihat wajah tampannya saat dia berjalan melewatiku. Merasa lega, dia selalu duduk ditempat yang sama, di dekat jendela yang menampilkan pemandangan indah taman yang dipenuhi bunga aster di luar sana, dengan begitu aku bisa mencuri pandang ke arahnya dalam hening.
Saat dia duduk nyaman disana, semua perhatianku teralihkan begitu saja, bacaan semenarik apapun di hadapanku, tidak membuatku tertarik sedikitpun. Deretan huruf yang tercetak rapi menggunakan tinta hitam ini semuanya terlihat buram. Entah kenapa retina mataku hanya bisa fokus padanya, namun itu hanya terjadi tidak lebih dari satu menit. Aku takut tertangkap basah, nyaliku terlalu kecil hanya untuk memandangnya sedikit lama. Sialnya! fikiranku semakin kacau saat pandanganku kembali mengarah pada buku tebal yang menjadi membosankan ini. Semua itu terjadi terus berulang dan anehnya tidak pernah membuatku bosan.
Cara pria itu menunduk di atas meja dan tampak serius dengan bacaanya, begitu tenang dan nyaman. Terkadang sesekali dia mengarahkan pandangannya ke arah jendela, mungkin pemandangan diluar sana jauh lebih menarik daripada aku yang terlihat lebih menyerupai patung hidup ini. Aku sedikit bersyukur karena dengan begitu aku lebih leluasa memandangi sosoknya meskipun sedikit kecewa karena tidak bisa lebih jelas memandang wajahnya. Aku bisa merasakan kehangatan yang terpancar dari tubuhnya. Andai kedua tangannya dia gunakan merengkuh tubuhku, dengan sorot matanya yang menghujam padaku, mungkin aku akan luruh seketika itu juga. Tenggelam dalam pelukannya, merasakan sentuhan kulitnya di permukaan tubuhku. Ya Tuhan! khayalan macam apa yang kau fikirkan, aku menggeleng kecil saat kesadaran menamparku. Membawaku ketempat dimana aku seharusnya.
Suatu hari, di jam yang sama aku mendapati kursi yang biasa pria itu tempati kosong. Tidak ada dia yang seperti biasanya duduk nyaman di sana ditemani bukunya. Aku merasa kecewa tentu saja, rasa sedih itu hanya bisa aku telan sendiri, tidak ada satu orang pun yang menyadari kegundahan hatiku saat tidak melihatnya seperti sekarang ini. Kemana dia sebenarnya? Apa mungkin dia sedang sakit. Aku harus menjenguknya. ‘Bodoh’. Aku baru menyadari banyak hal. Darimana aku bisa tahu alamat rumahnya jika namanya saja aku tidak tahu. Ya Tuhan! apa yang harus aku lakukan? jemariku bergerak perlahan, mencoretkan pena di atas lembaran kertas putih di depanku. Menuliskan beberapa baris kalimat yang saat ini mewakili perasaanku.
Entah sudah berapa puluh catatan kecil yang aku tulis dan kusimpan sendiri. Semua isinya hampir sama, yaitu tentang dia dan aku yang mengaguminya secara diam, tanpa kata dan suara. Berbeda dengan hari ini coretan yang aku tulis hanya berisikan tentang kesedihan, kekecewaan, dan seberapa banyak aku mencintainya. Sangat. Bagiku tidak bisa melihatnya, meskipun hanya sehari membuatku sangat takut. Takut jika aku tidak bisa melihatnya lagi. Hanya coretan kecil inilah yang akan menjadi bukti betapa aku sangat menginginkannya. Jika sudah seperti ini aku membenci sifat pendiamku. Aku ingin sekali berteriak pada semua orang, menanyakan dimana keberadaannya, dan mengatakan bahwa aku sangat menginginkannya.
“Reen~ah!”
Aku mendengar seseorang menyebut namaku, dengan logat yang berbeda. Dengan cepat aku menyelipkan catatan kecilku kedalam salah satu buku yang tadi kupinjam, namun tidak sempat kubaca sama sekali. Tanpa melihat aku sudah tahu siapa saja yang datang. Jika orang-orang bermata biru disini sering memanggilku dengan nama ‘Ryenne’, berbeda dengan dua teman akrabku ini. Mereka lebih senang memanggilku dengan nama yang sama seperti dulu. Tidak pernah berubah. Kami sudah berteman sejak berada di masa Senior High School, dan hanya mereka berdualah yang paling mengerti bagaimana aku sebenarnya.
Rae dan Aini, itulah panggilan kesayanganku untuk mereka, sahabat berbagi suka dan duka dimanapun kami berada. Seperti saat ini, jika mereka berdua merasa aku terlalu lama menyendiri, maka dengan senang hati mereka akan menghampiriku, mengajakku pergi kemanapun mereka suka dan aku dengan senang hati hanya akan mengikuti kemana saja mereka pergi, karena hanya bersama merekalah aku merasa tidak sendiri.
“Sampai kapan kau akan disini, lihat sudah jam berapa ini?” Rae mengulurkan pergelangan tangannnya yang terpasang jam bermerk ‘Gucci’ tepat di depan mataku, membuatku terbelalak seketika. Jarum jam telah menunjukkan angka lima. Ya Tuhan! sudah berapa lama aku berada di sini? hanya untuk melamun dan meratapi nasib karena tidak melihatnya. Aku menatap kembali bangku kosong yang berada tidak jauh dari tempatku. Masih sama, pria itu benar-benar tidak datang hari ini.
“Apa kau tidak ingin pulang?” kini suara Aini ikut terdengar di telingaku. Aku hanya mengangguk sekilas. Membereskan beberapa perlengkapanku.
“Pantas saja, ternyata sejak tadi kau sedang membaca karangan membual Jane Austin.” Mereka berdua terkikik geli mendapati hobiku yang gemar sekali membaca novel-novel roman picisan yang menurut mereka sangat lucu. Baru saja aku akan mengembalikan novel tersebut pada rak buku sesuai tempatnya tapi Rae sudah merebutnya lebih dulu dari tanganku, meletakkannya kembali ke meja. “Sudahlah biarkan dia disini, nanti petugas perpustakaan yang akan membereskan, ayo kita pergi.”
“Tapi__ “ aku diam ditempat. Ya Tuhan! bagaimana dengan catatanku?, baru saja aku ingin mengambilnya, Aini dengan senang hati menarik lenganku lebih dulu. “Sudahlah, ayo kita pulang.”
Dengan berat hati aku mengikuti langkah mereka seraya bergumam dalam hati, semoga tidak ada orang lain yang menemukan catatan itu, aku akan mengambilnya segera besok.
Keesokan hari secepat mungkin aku datang ke perpustakaan setelah urusanku dengan Profesor pembimbing tesisku selesai, aku melirik arah jarum jam yang terpasang di pergelangan tanganku. Masih pukul dua belas, aku yakin pria itu pasti belum datang. Semoga saja hari ini tidak ada rasa kecewa untuk kedua kalinya. Aku tetap berharap dia akan datang seperti biasanya. Tanpa menunggu waktu lama, langkah lebarku langsung menuju pada rak buku yang berisikan tentang novel-novel romance. Berharap semoga apa yang aku cari ada di sana. Ya Tuhan! jangan sampai tulisan absurdku dibaca orang lain.
Retina mataku tidak henti-hentinya memindai berbagai macam judul novel yang tersusun rapi di setiap deretan rak tepat di depanku ini. Sejak beberapa menit yang lalu, tapi hasilnya tetap nihil. Tidak menemukan sama sekali apa yang aku cari. Mungkinkah buku itu sudah dipinjam orang lain? Ya Tuhan! bagaimana jika nanti orang itu membacanya dan menceritakan pada yang lain? tubuhku terasa lemas hanya membayangkan itu semua. Aku kembali dengan wajah murung dan tangan kosong. Menghempaskan tubuhku pada kursi yang biasa aku tempati. Apa yang harus aku lakukan? Andai saja aku tidak menuliskannya begitu jelas, mungkin aku tidak akan setakut ini.
Menoleh kesamping, bola mataku membulat seketika. Aku mendapati pria itu sudah berada di tempatnya. Bagaimana bisa? bahkan ini belum genap pukul setengah satu. Seperti biasa pria itu, membaca buku di tempatnya dan terlihat begitu nyaman. Daaan! Apa yang aku lihat membuat tenggorokanku tercekat, nafasku tertahan di udara, seolah oksigen di sekitarku tidak ingin masuk secara cuma-cuma kedalam saluran nafasku. Aku tidak bisa bicara maupun bernafas, yang kulakukan hanya mematung di tempat, tidak tahu apa yang harus kuperbuat. Ya Tuhann! Bagaimana bisa novel itu ada padanya? Sejak kapan dia suka membaca novel? Bukankah selama ini dia lebih sering membaca buku-buku tebal berisikan istilah-istilah medis yang begitu rumit. Berharap dewi fortuna sedikit memihak padaku, semoga saja pria itu belum menemukan catatan yang aku tulis.
Perasaan mendesak ingin berbicara dan meminjam novel itu sebentar saja. Hanya ingin mengambil secarik kertas tak berguna yang terselip diantara lembar-lembar kisah tersebut. Entah di halaman berapa aku meninggalkannya, semoga saja dia belum menemukannya. Doaku dalam hati. Aku menguatkan keberanianku yang nyaris tidak ada sama sekali.
“Emmbb permisi, maaf mengganggu, bolehkah aku meminjam buku itu sebentar saja.” Bersyukur akhirnya ada suara yang bisa muncul dari sela bibirku.
Dia menoleh padaku, untuk pertama kalinya pandangan kami bertemu. Tidak lupa pria itu menarik kedua sudut bibirnya, dengan mata yang hanya terlihat segaris saat dia menguarkan senyumannya. Ya Tuhan! seperti itukah senyumnya? Dua keinginanku akhirnya dapat terwujud. Dia tidak memakai kacamata seperti biasanya, membuatku dapat melihat jelas mata coklatnya yang terlihat jernih. Sorot matanya begitu menenangkan. Beberapa menit berlalu dia hanya diam seraya menatapku. Apa yang dia perhatikan? Mungkinkah ada yang salah dengan diriku. Aku menunduk sekilas, mengamati tubuhku sendiri. Tidak ada yang salah, mungkin aku memang terlihat buruk di depannya.
“Bolehkah aku meminjamnya sebentar?” tanyaku lagi, berusaha mengalihkan perhatiannya.
“Tentu saja, ini.” akhirnya aku bisa mendengar suara merdunya, membuatku semakin berdebar, dia menyerahkan novel itu padaku, tanpa sengaja jemari kami bersentuhan, ini pertama kalinya aku merasakan jemari halusnya, jantungku serasa ingin melompat dari tempatnya, membuatku nyaris terlunjak. Kupu-kupu seolah berterbangan di perutku. Ada perasaan senang dalam hatiku.
Aku membuka lembar demi lembar novel itu tanpa memperdulikan barisan-barisan kalimat yang terkandung di dalamya. Aku sadar, bahkan sangat sadar sekali. Sejak tadi dia tidak mengalihkan pandangannya dariku. Ya Tuhan! mengapa pandanganya terus mengarah padaku? jemariku bergetar, aku benar-benar gugup. Bagaimana caraku menjaga sikap saat diperhatikan seperti ini?. Berusaha keras memfokuskan fikiranku pada deretan huruf di depanku, tapi semua itu semakin gagal saat aku mendapati sesuatu yang terselip di antara lembaran kertas buku tersebut.
Apa maksudnya ini? mataku membulat sempurna tidak mengerti apa yang aku lihat.
“Berbahagialah denganku. Jadilah milikku. Park Hyo Reen ” Ya Tuhan! darimana dia bisa tahu namaku?
Ini pertama kali aku memberanikan diri menatap wajahnya, mencari jawaban atas semua pertanyaan yang terngiang dalam otakku. Mungkinkah ia sedang melamarku, kenapa?, kenapa terjadi begitu cepat? Selama ini aku tidak pernah bermimpi dapat memilikinya secara nyata tapi mungkinkah dia juga menginginkanku? Lalu bagaimana denganku yang bahkan sama sekali tidak mengetahui siapa namanya.
“Marcus Cho, kau bisa memanggilku Kyu Hyun, itu nama koreaku” Seolah tahu apa yang ada di dalam fikiranku.
“Bagaimana bisa?” aku masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi saat ini. Sungguh, tidak masuk akal dan semuanya seperti mimpi.
“Kau tidak sedang bermimpi Reen~ah, apa kau sedang mencari ini?” dia mengulurkan secarik kertas padaku. Ya Tuhan! bukankah itu catatanku kemarin. Itu berarti dia sudah membaca semuanya. Aku meraihnya cepat dan menemukan catatan lain disana.
Beberapa bulan ini hari-hariku terasa lebih menyenangkan saat aku mendapati seorang gadis yang diam-diam selalu memandangiku, bukan aku tidak berani menyapanya lebih dulu tapi aku ingin mencari waktu yang pas bagaimana caraku untuk mengungkapkan perasaanku. Aku bukanlah orang yang pandai bertutur kata, dengan tulisan ini aku akan mengungkapkan segalanya.
Pertama kali aku melihatnya pada awal musim semi, hari itu dia dengan cardigan berwarna peach dan dress hitam selutut, terlihat begitu cantik dan manis. Dia yang berjalan dengan tumpukan buku ditangannya, membuatku tanpa sengaja mengikuti kemana langkah kakinya tertuju. Pada akhirnya di sinilah aku selalu melihatnya, melihatnya dalam diam, aku ingin membuatnya terbiasa dengan kehadiranku, karena mulai hari itu aku akan selalu berada di sampingnya. Menemaninya dan mengamati gerak-geriknya yang begitu menggemaskan.
Bersyukur, ternyata dia juga sering memperhatikanku. Aku sangat senang mendapati fakta bahwa dia juga menginginkanku, sama seperti aku menginginkannya. Aku ingin membuatnya menjadi milikku. Hidup bersama dan membuatnya selalu bahagia.
Aku terlalu malu untuk mengakui langsung bagaimana perasaanku padanya saat itu juga. Aku takut dia tidak akan terima dengan apa yang kurasakan padanya. Karena itulah aku hanya berani menundukkan kepalaku seolah buku di depanku ini lebih menarik dan sayang untuk di lewatkan daripada wajah manisnya yang menurutku jauh lebih indah untuk dipandang. Tanpa dia sadari secara diam-diam akupun selalu memperhatikannya, mengamati dalam hening, tanpa suara. Melalui kaca jendela di sampingku yang menampilkan bayangan siluet tubuhnya, aku selalu mengamatinya dan aku tahu bahwa dia juga memandangiku, tanpa dia sadari dan secara tidak langsung kami saling berpandangan.
Kemarin aku tidak datang di tempat yang sama dan tidak duduk di dekatnya, membuatku sedih meskipun hanya sehari. aku mencoba menguatkan hatiku, berfikir optimis bahwa setelah satu hari aku tidak melihatnya, maka seterusnya aku akan selalu bersamanya dan memilikinya. Karena pada hari itu aku sedang mencari sebuah simbol yang bisa kugunakan sebagai tanda bahwa dia akan menjadi milikku.
Aku sering mengintip buku apa saja yang dia baca. Diantara buku-buku medis yang sering dia pelajari ada satu novel yang aku perhatikan menjadi favoritenya, yaitu milik Jane Austin. Hanya untuk mengungkapkan semua padanya, pilihanku jatuh pada Novel itu. Tanpa sengaja aku menemukan nama yang sangat cantik serta coretan indah disana, yang aku yakini itu semua adalah kejujuran perasaannya kepadaku. Aku sangat senang sekaligus sedih saat membaca catatan kecil yang sudah dia buat. Sedalam itukah dia mengimginkanku. Membuatnya begitu sedih hanya karena tidak melihatku sehari saja. Ya Tuhan! bolehkah aku memeluknya saat ini juga? Andai dia tahu. Seberapa banyak aku lebih menginginkannya. Aku juga ingin mengatakan bahwa aku juga menginginkannya, bahwa aku ingin dia menjadi milikku. Bukan hanya memandang dalam diam. Aku ingin mendengar suaranya, menggenggam tangannya, dan kami akan berjalan bersama.
Aku meletakkan kertas itu di atas meja. Tidak berani memandangnya. Tidak berani bicara. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan setelah tahu semuanya. Haruskah aku berteriak senang? Ingin sekali aku melakukannya, tapi mengapa tubuhku terasa kaku. Aku hanya terdiam di tempat. Dia menginginkanku juga, fakta mengejutkan itu menghantamku dengan keras.
Kurasakan kehangatan di jemari tanganku. Kuberanikan diri. Aku sedikit mendongak, menatap mata coklatnya yang begitu menenangkan. Dia menggenggam tanganku begitu erat seperti ingin menegaskan seseuatu. “Jadilah milikku, dan berada di sampingku.” Sebaris kalimat tulus yang meluncur langsung dari sela bibirnya. Tanpa bisa kutahan, senyum kebahagiaan merekah dari kedua sudut bibirku dan dia membalasnya. Kami sama-sama tersenyum. Dia semakin menggenggam erat jemariku. Apalagi yang kuinginkan? aku pun hanya bisa mengangguk mengiyakan permintaanya.
END
%d blogger menyukai ini: