[Oneshoot/NC21/Kyuhyun] Winter In Italy

-1
kyuhyun winter in italy
Title : Winter In Italy
Author : Kimheli
Category : NC21, Yadong, Romance, Oneshoot
Cast : Han Minji (OC), Cho Kyuhyun, other cast
Ff ini mungkin jauh dari kata lumayan. Bahasa yang dipake masih amburegeul emeseyu bahrelway bahrelwey/?
Tapi aku harap ini lebih baik dari cerita sebelumnya. Sekali lagi maaf ya kalo ff ini banyak cacatnya. Ncnya ga mutu lah, atau jalan ceritanya yang klise bak telenovela 🙁

…Selamat membaca ^^
Menapakkan kakiku di venezuela bukanlah perkara yang mudah. Entah apa yang orang-orang pikirkan, ke sini untuk liburan? Apa mereka tidak menyadari kalau mereka semua dalam bahaya? Salah satu negara komplotan terbesar di dunia, harusnya mereka sadar.
Menjadi anak satu-satunya keluarga Han bukan sesuatu yang aku banggakan. Peraturan-peraturan bodoh selalu mengikutiku, dimanapun dan kapanpun. Bahkan saat ini, saat aku jauh dari rumah, semua itu tetap ada. Takdirku menjadi anak seorang bos mafia.
“Maaf nona, apa ada lagi yang anda perlukan?”
Aku tetap menutup mataku menikmati semburan air hangat jacuzzi. Seseorang berdiri didepan tirai putih di sampingku, siluetnya terbentuk jelas. Bodoh. Bisa-bisanya membiarkan suruhan ayahku mengikutiku walaupun aku sedang mandi? Ini gila.
“Tidak, kau bisa keluar Minho-ssi”
Kulihat bayangan hitam itu tidak beranjak sesentipun dari posisi awalnya.
“Maaf, saya harus menjaga anda nona. Ini perintah”
Hah.
Tidak ada yang bisa aku perbuat kalau sudah begini. ‘Ini perintah’ Blablabla aku mual sekali mendengar kata-kata tak berperikemanusiaan itu. Aku mendengus dan menenggelamkan kepalaku kedalam air.
@Dinning Room, 7PM
“Bagaimana harimu sayang?”
“Seperti biasa, appa”
Laki-laki berjas hitam itu terkekeh kecil. Aku benar-benar tidak dalam mood ku saat ini.
“Besok kau mau kemana? Biar Choi Minho tau jadwalmu”
“Appa…..!”
“Sudahlah Minji, ini demi kebaikanmu”
Aku berdiri dan meninggalkan appa dan bawahan-bawahannya di meja makan.
Eomma, kuharap kau bisa lihat keadaanku dari surga…..
“Maaf nona,” sebuah tangan menahan lengan atasku. Pasti dia lagi.
“Apa?” jawabku dingin.
“Anda tidak seharusnya seperti itu. Beritahu saya besok anda mau kemana”
aku tersenyum menyindir. Cih, lebih baik kau urus dirimu sendiri choi Minho!
“Minji!” appa menghampiriku, aku menyilangkan tanganku didada.
“Apa lagi?” Ia terlihat menarik nafasnya.
“Appa mohon dengarkan kata-kata appa kali ini. Kau dalam bahaya Minji-ah. Kau tahu Gansan? Kelompok mafia korea golongan atas? Mereka sedang mengincarmu”
“Apa?” Sedikit shock, tapi aku harus berpura-pura tidak peduli pada hal semacam ini. Diincar? Tidak mungkin.
“Ya. Ia ingin menghancurkan semua perusahaan appa. Mungkin menculikmu salah satu strategi mereka agar appa melepas saham-saham itu”
“Appa kelelahan, lebih baik appa istirahat” Ucapku sambil berjalan membelakangi mereka.
“Tunggu, nona, kau benar-benar dalam bahaya. Lebih baik aku menemanimu kemanapun kau pergi. Itu lebih aman” lagi-lagi Minho membuka suaranya. Sebenarnya aku tidak mengerti, umurnya hanya satu tahun diatasku tapi mengapa sikapnya sangat dewasa? Apa dia ikut latihan kepribadian atau semacamnya?
“Menguntitku tepatnya.” ucapku menyindir.
“Minji!” appa menekuk wajahnya, ah sudahlah aku tidak ingin membuat appa marah. Bisa-bisa aku yang dibunuhnya.
“Ne, maaf appa. Baiklah Minho, kau boleh ikut kemanapun aku pergi”
“Baik.”
“Kecuali saat mandi tentu saja” ia menahan senyumnya dan menggaruk lehernya yang kuyakin tidak gatal. Harus kuakui dia sangat manis.
Keesokan harinya,
“Selamat pagi, nona Minji”
Apa-apaan ini? Mengapa di tidur disofa kamarku?
“K..Kau tidur disini?” ia mengangguk pelan,
“Agar kau aman, nona.” aku mendengus pelan. Baiklah, ini pasti perintah appa.
Masa bodo dengan pakaianku saat ini, mini dress transparant yang memperlihatkan jelas lekuk tubuhku, aku berjalan kearahnya bangkit dari tempat tidur. Kulihat ia memalingkan wajahnya ke kiri, berpura-pura tidak melihatku. Aku yang hanya setinggi lehernya mengusap pudak hingga dadanya dengan telapak tanganku. Ia tidak menoleh sedikitpun, kurasa ini akan menjadi permainan kecil. Aku menyingkirkan sedikit jaket kulit hitamnya dan mencium tulang selangkanya dari luar kemeja.
“Nona, tolong jangan seperti itu” ucapnya dingin, aku mencium lehernya dan memajukan tubuhku hingga menempel pada lapisan tubuhnya.
“Berlaku seperti apa?” Lucu sekali, wajah innocentnya itu membuat kejahilanku menambah.
“Nona..”
“Ssst. Kalau tidak ada appa, kau harus memanggilku Minji, tidak ada nona. Dan aku memanggilmu Minho. Mengerti?”
Ia menoleh kearahku dan mengangguk. Aku menjauhkan tubuhku darinya, berjalan kearah kamar mandi, sedikit tertawa. Beruntung juga aku memiliki pengawal seperti dia yang tidak macam-macam. Kurasa kini dia tengah membuang nafasnya panjang. Apa dari tadi dia tidak bernafas?
***
“Jadi bagaimana?” appa menyuapkan penne ke mulutnya, aku masih sibuk dengan fettuchiniku. Memberinya ekstra keju, saus, dan sedikit bubuk cinnamon.
“Bagaimana apanya?”
“Hari ini, kau mau pergi kemana?” aku tidak menjawab dan masih mengunyah sedemikian halus pasta itu di dalam mulutku. Appa terlihat menunggu jawabanku, tetapi aku menambah satu suap lagi hingga kini mulutku penuh. memberi jeda yang cukup panjang untuk dapat menjawab pertanyaan tak penting itu.
“Maaf tuan, hari ini nona Minji hanya minta diantarkan ke pusat perbelanjaan di kota” Aku menatap Minho, baguslah aku tidak perlu susah-susah menjawab. Appa mengangguk paham.
“Baiklah, jaga Minji dengan baik” Minho mengangguk tegas.
***
“Minho, turun disini saja”
“Tapi kita harus mencari parkiran dulu nona” ia tetap memfokuskan pandangannya ke jalan. Aku menyenderkan tubuhku ke kursi dan menyilangkan tanganku didada.
“Sudah ku bilang jangan panggil nona. Apa kau tidak mengerti juga?” ia melihat ku sekilas.
“Oh, ya, maaf.. Minji” aku mengangguk puas.
“Stop disini! Kau carilah parkir dimanapun kau mau, aku turun disini, hubungi aku jika kau tak bisa menemukanku. Ah, agent sepertimu mana bisa tidak menemukanku, ya?”
“Tidak bisa, aku harus terus menja—”
“Choi Minho berhenti!!!!!!” Ia mengerem mendadak. Kurasa suara melengkingku berguna juga.
Aku membuka kunci pintuku dari pintu Minho, pusat semua doorlock mobil, tentunya, agar aku tidak bisa kabur. Ia hanya terdiam melihatku. Aku merapihkan tasku dan turun ke trotoar jalan. Menutup pintunya perlahan dan menundukan kepalaku, Minho membuka jendelanya hingga kami bisa bertatapan.
“Ingat, hubungi aku saja oke?” Ia menggeleng pasrah dan memacu mobilnya kencang hingga aku tidak bisa melihatnya lagi.
Aku terus mencari sosok di antara keramaian pasar itu. Menemukan orang korea disini tidaklah sulit bukan? Kontras sekali dengan wajah orang Italia yang notaben bermata besar. Aku terus berjalan dimana kiranya dia. Ah! Handphone ku, bodoh. Tertinggal di mobil, bagaimana ini?
Tunggu, Minho-ssi tidak bisa melacakku. Accident yang menguntungkan.
Lorong itu terasa seperti toko emperan di China, sangat ramai dan pengap. Sosok yang kucari masih belum tertangkap oleh retina mataku. Karena sudah mulai lelah, aku berhenti berjalan dan diam pada posisiku saat ini.
“Minji?”
Aku menoleh kearah sumber suara yang memanggilku, benar saja dia orang yang kucari dari tadi. Ia mengajakku menjauh dari kerumunan itu kearah taman di balik gedung, aku mengikutinya dari belakang, ia memegang tanganku mencegah kami terpisah dari desakan orang-orang yang lewat lalu-lalang.
Kami duduk di bangku taman itu, aku masih terdiam. Ia terlihat sangat keren hari ini. Kemeja putih polos dan celana yang melekat sempurna pada tubuh tingginya.
“Kukira kau melupakan janji kita” Ia membuka suara.
“Tidak mungkin, aku punya janji dengan siapa lagi di negara orang seperti ini?”
Akan kujelaskan, dia Kyuhyun. Pria yang aku temui 2 minggu lalu di Coloseum. Selama beberapa hari terakhir ini kami banyak menghabiskan waktu bersama, aku menyewanya sebagai guide tourku, ya walaupun ia tidak meminta bayaran. Minho selalu mengawasiku dari belakang, tapi aku memintanya untuk tidak menampakkan diri di hadapan kami. Setidaknya aku merasa tidak terlalu risih.
Diumurnya yang ke 24, ia pernah bilang bahwa ia punya perusahaan di Roma dan memiliki banyak kenalan di sana. Aku sempat bercerita padanya kemarin malam soal Gansan lewat telefon, dan ia bilang bahwa ia tau beberapa hal soal Gansan. Jadi aku memintanya menemuiku hari ini. Aku harap aku bisa mendapatkan sesuatu yang berharga.
“Aku rasa kita harus mencari tempat yang lebih aman,” aku mengangguk. “Ikut aku ke tempat parkir.” ucapnya dingin.
“Dimana? Jauh?”
“Tidak juga. Bukankah hanya ada satu tempat parkir disini?”
“Hanya satu??”
“Kau kenapa? Sudah cepat.”
Ia menarikku lagi, bukan lewat jalan yang tadi kami lewati. Ah, kalau tempat parkir hanya satu, bisa jadi aku bertemu Minho. Bagaimana ini?
“Kyuhyun-ssi,”
“Jangan banyak bicara, jalan saja” ia sedikit berlari menerobos orang-orang dan tidak menghiraukanku.
“Kyuhyun-ssi, tunggu!”
“Apa?” ia berhenti dan menunggu jawaban dariku.
“Di sana pasti ada pengawalku. Kau tau kan, yang pernah aku ceritakan padamu?” Ia mengangguk, “Bagaimana kalau ia memaksaku pulang? Ia pasti melarangku pergi kemana-mana saat ini. Bagaimana kalau ia menelfon appa?”
Ia terlihat berfikir, menarikku ke arah lain menuju jalan raya. Ia menyetop sebuah taksi hitam, menyuruhku masuk kedalam. Ia duduk disampingku dan berbicara kepada supir taksi dengan bahasa Italia.
“Kita mau kemana?”
“Kau akan tahu”
Taksi itu membawa kami kearah selatan kota. Tidak terlalu cepat, jadi aku sempat menikmati pemandangan disekitar jalan, banyak gondola di sepanjang sungai. Aku merasa Kyuhyun tengah memperhatikanku, tapi saat aku menoleh padanya, ia malah sibuk dengan handphonenya, menelfon seseorang. Apa yang ia bicarakan? Sial aku tak mengerti sama sekali bahasa itu.
“Wah, lihat, salju!” aku menunjuk keluar jendela, benar saja, butiran salju turun dengan anggunnya. Pantas pagi ini udara terasa agak dingin. Kyuhyun hanya melihatnya tak bernafsu.
“Berlebihan. Apa kau tak pernah melihat salju di Korea?”
Aku mendengus, kenapa ia cuek sekali sih. Aku mencoba untuk tak memperdulikannya, tapi mataku terasa ditarik oleh pesona pria ini. Sadarlah Minji, kau baru saja mengenalnya.
Kami berhenti di depan sebuah gedung besar pencakar langit yang sebenarnya adalah sebuah apartemen. Kuperkirakan ada lebih dari 60 lantai disana, ornamen khas eropa lekat sekali diseluruh sudut taman kecil didepannya. Tepat dibelakangnya aku bisa melihat menara pisa, tidak jauh dari sini. Aku dan Kyuhyun turun dan memasuki lobby apartement besar itu.
“Welcome, Mr. C—” Kyuhyun berdehem kecil. Resepsionis itu menahan perkataanya, aku melihat kearah Kyuhyun, Tapi ia tak menunjukan ekspresi apapun.
*Author Pov*
Mereka melangkah kedalam lobby apartement dan seorang resepsionis baru saja menyapa Kyuhyun. Ia cukup terkenal di kalangan pegawai apartement itu. Tentu saja.
Kyuhyun menarik Minji kearah lift. Minji terlihat mengusap lengan atasnya, mungkin kedinginan. Salju turun tak henti-hentinya sejak tadi. Kyuhyun sangat tidak menyukainya, dingin dan tidak hangat. Pria itu memegang tangan gadis disampingnya, menggenggamnya erat. Gadis itu terlihat kaget dan menatapnya. Ia memalingkan muka tanpa melepas tautan tangannya.
Lift berhenti dilantai 27, Kyuhyun menarik Minji keluar menuju kamarnya diujung lorong serba emas itu. Lagi-lagi tanpa melepaskan tangannya, Kyuhyun menggesek id card pemilik kamar dan masuk kedalamnya, segera ia mensetting alat semacam air conditioner sekaligus pemanas ruangan, memasang suhu yang cukup tinggi, 30°, setidaknya dibandingkan dengan suhu diluar.
Kyuhyun merebahkan tubuhnya di sofa, Minji hanya berdiri terpaku melihatnya, tak berani menyentuh barang-barang orang yang baru dikenalnya. Pria itu hanya menggeleng pelan, bangkit dan mengambil handuk dalam lemarinya. “Kau kedinginan? Pergi mandi. Hidupkan air panasnya” Ia melemparkan handuk itu pada Minji yang hanya dibalas langkah gadis itu ke kamar mandi.
Minji mengeringkan rambutnya dengan hair dryer dikamar mandi. Gawat, bajunya basah. Lagipula apa yang tadi ia kenakan hanya satu stel rok selutut dan tanktop dengan cardigan rajut. Sama sekali tak membantunya melawan dingin. Ia putuskan untuk keluar dan berbicara dengan Kyuhyun.
Ia melihat Kyuhyun tengah menelpon seseorang, aneh. Dari tadi ia selalu sibuk dengan handphonenya. Gadis itu tak berniat mengganggu dan duduk di salah satu sofa disana. Menggesekan kedua telapak tangannya, berharap menghasilkan panas. Suhu ruangan yang sudah disetting pria itu sama sekali tak berpengaruh padanya.
“Kita bahas ini lagi nanti”
Kyuhyun mematikan handphonenya dan menoleh. Ia sedikit kaget saat Minji sudah ada disana. “S..sejak kapan kau disini?” Ia menggigit bibirnya cemas. Minji yang tak mengerti apa-apa hanya berdiri dan meminta pakaian hangat untuknya. Kyuhyun tetap bertanya sejak kapan Minji mendengarnya menelfon, gadis itu mengangkat bahunya, yang jelas ia tak mendengar apa-apa. Kyuhyun yang sedikit curiga tak mempermasalahkan itu lagi, dilihat dari wajah Minji yang benar-benar seperti orang yang tidak tau apa-apa.
“Tunggu sebentar,”
Pria itu kembali dengan sebuah rompi bulu lengan panjang dan kaos putih polos ditangannya.
“Maaf, aku tidak punya pakaian untuk wanita. Hanya ada ini”
Kesal? Tentu saja. Ia tak mendapatkan baju yang diharapkannya. Tapi senang? Pasti. Dalam pikirannya ia sungguh bersyukur Kyuhyun tak menyimpan pakaian wanita, setidaknya saat ini.
“Gomawo, Ini lebih dari cukup Kyuhyun-ssi”
Setelah selesai memakai baju dari Kyuhyun dan rok miliknya, mereka duduk di meja makan dekat dapur. Memang, apartemennya tak begitu luas, tapi sangat mewah dan elegant. Dan mungkin karena memang pemilik kamar ini hanya satu orang. Minji heran dari mana Kyuhyun mendapat makanan itu semua. Tapi perutnya yang berteriak meminta makan mengusir semua pikiran itu. Ia memakan sandwich dihadapannya lahap, bahkan terlalu lahap hingga dagingnya terjatuh di piring. Kyuhyun tertawa dan mengacak-acak rambut Minji pelan.
“Eh?”
Kyuhyun melanjutkan makannya tergesa-gesa. Sadar bahwa apa yang ia lakukan salah.
“Hya, Kyuhyun-ssi. Baru kali ini aku melihatmu tertawa”
Kyuhyun merasa pipinya memerah dan meminum air di sebelah piringnya canggung. Minji hanya melihatnya sambil tertawa terbahak-bahak. Kyuhyun hanya menatapnya datar.
“Diamlah dan teruskan makanmu”
Minji mendengus. Lagi-lagi Kyuhyun kembali dingin. Minji meminum air jeruk dan menyelesaikan makannya.
“To the point saja Kyuhyun-ssi. Jelaskan padaku sejelas-jelasnya tentang seluk beluk Gansan.”
Pria itu membenarkan duduknya, melirik jam tangannya, dan menatap wajah gadis itu lekat.
“Kenapa kau mempercayai orang begitu mudah? Apa kau bodoh?” mimik mukanya berubah serius.
“Maksudmu?”
“Kau menceritakan masalahmu pada orang lain yang bahkan baru kau kenal. Bagaimana jika aku melakukan hal yang tidak-tidak padamu?”
“Kau tidak akan.”
“Kau tidak tahu aku, Minji-ssi.”
Minji mengerutkan dahinya bingung.
“Kyuhyun, ada yang ingin aku katakan”
“Katakanlah,”
Gadis itu berdiri dan berjalan kearah ruang tidur. Kyuhyun mengikutinya dari belakang.
“Mungkin ini terlalu cepat…..”
Minji tetap berjalan hingga tepat di depan tempat tidur Kyuhyun.
“……tapi aku rasa aku menyukaimu, Kyu.”
Kyuhyun menghentikan langkahnya seketika. Mencerna apa yang baru saja gadis itu katakan. Kenapa ia merasa senang saat itu juga? Minji menunduk dan memainkan jarinya. Kyuhyun melangkah perlahan kearah Minji dan mengusap telinganya halus.
“Kau benar-benar bodoh mencintai orang seperti aku, Minji-ah”
Tiba-tiba air mata Minji menetes, benar kata Kyuhyun. Ia gila, bisa-bisanya mengaku kalau ia jatuh cinta pada Kyuhyun. Ia merasakan sesuatu bergerak di perutnya. Tangan Kyuhyun melingkar erat ditubuhnya.
“Aku bilang kau bodoh karena mencintaiku..”
Ia mengusap air mata Minji pelan.
“Tapi kau tidak salah,”
Saat ini ia benar-benar terbakar. Minji benar-benar malu.
“Demi tuhan Kyuhyun, aku mencintaimu! Aku tahu ini konyol. Tapi aku benar-benar suka padamu. Katakan. Katakan apapun agar aku punya alasan untuk tidak menyukaimu!”
“Aku tidak tahu apa yang sedang kau fikirkan saat ini, tapi haruskah kau menangis untuk orang seperti aku?”
“Kyu…”
“Beri aku alasan kenapa kau mencintaiku”
“Aku tidak butuh itu”
“Satu saja. Berikan aku satu saja”
“Kau beda. Kau memperlakukanku tidak seperti yang lain, apa adanya dan tidak dibuat-buat. Bahkan aku bisa dengan spontan memberimu segala identitas dan gambaran kehidupanku, padahal belum sampai sebulan kita saling mengenal. Sebenarnya apa yang salah denganku Kyu?”
Kyuhyun membalikkan tubuh Minji hingga kini mereka berhadapan. Membelai anak rambut gadis itu, dan mengusap keningnya.
“Kan sudah ku bilang, tidak ada yang salah.”
TOKTOKTOK!!!!
Kyuhyun menoleh kearah pintu, Minji menghapus cairan basah itu di pipinya. Kyuhyun menyuruh Minji bersembunyi di kamar mandi secepat mungkin. Pria itu membuka pintu apartementnya perlahan.
“Selamat siang, tuan Cho.” satu lagi orang korea di Italia, Kyuhyun mendengus.
“Siapa kau?”
“Apa aku tidak dipersilahkan masuk?” Kyuhyun menyuruhnya masuk dengan malas, “Aku Choi Minho”
Kyuhyun membelalakan matanya. Ia tahu jelas siapa choi Minho ini, namun ia harus tetap tenang. Bersikap seakan tidak ada apa-apa.
“Aku tidak mengenalmu, lebih baik kau keluar.”
“Mudah saja menyuruhku keluar dari sini tuan, tapi beri aku nona Minji kembali.”
Kyuhyun mengepalkan tangan kanannya, giginya bergeretak menahan kesal pada pria satu ini. Benar saja tampangnya yang lugu, tetapi bahasa yang lugas dan sangat frontal.
“Kau menuduhku?”
“Tidak. Aku tahu betul apa yang terjadi”
“Tutup mulutmu Choi Minho-ssi. Kau boleh cek seluruh apartement ku, jika kau tidak menemukannya, berhentilah menggangguku!”
Minho mengitari setiap sudut ruangan itu, nihil. Tidak ada Minji disana. Ia membuka kamar mandinya, tetap tidak ada. Kyuhyun menunggunya dengan sedikit cemas.
“Baiklah cho Kyuhyun, kali ini aku tidak menemukannya. Tapi, sampai aku menemukan nona Minji padamu, kau akan kuhabisi.”
“Silahkan keluar”
Minho pergi dari ruangan itu dengan telefon di telinganya “Dia tidak disini tuan..”
Kyuhyun melenguh pelan dan teringat akan sesuatu. Ia berlari ke kamar mandi dan tak menemukan Minji disana,
“Astaga!”
Kyuhyun membopong Minji keluar kamar mandi, merebahkannya di atas ranjang.
“Kau apa-apaan?”
Minji bergetar kecil, kedinginan.
“M..maaf menyusahkanmu K..Kyu, apakah tadi itu mer—”
“Kenapa kau menenggelamkan dirimu di bathtub dengan air dingin seperti itu? ini winter Minji-ah!”
“A..aku takut..”
Kyuhyun memeluk gadis itu erat, menatap intens wajah mungil di dekapannya. Ia merasa benar-benar bersalah. Dialah yang harusnya Minji takuti. Garis bawahi itu. Dia, anak sulung dari Cho Hyun Sik, pemegang tertinggi Gansan. Ia merasa lututnya lemas. Sejak tadi Minji tidak terlihat ketakutan akan Gansan, tapi saat ini, semua berubah 180°. Ini Minji yang sebenarnya, lemah dan lemah. Letih dengan semua bisnis appanya, hingga kini ia yang menjadi korban. Minji yang malang.
Kyuhyun mengatakan bahwa ia akan mengambil pakaian baru untuk Minji, gerakan yang sangat sedikit membuat tangan Minji reflek menahan Kyuhyun. Kyuhyun melepaskan tangannya, mengacak-acak lemari, mencari baju hangat secepatnya agar gadis itu tidak kedinginan. Kyuhyun mengelap rambut Minji sebisanya. Gadis itu masih meringkuk dibawah selimut tebal. Kyuhyun meminta izin untuk menggantikan pakaian Minji. Minji mengangguk dan memejamkan matanya, saat ini ia merasa pusing, mungkin terlalu lelah. Ditambah air dingin yang sempat menusuknya beberapa menit lalu.
Kyuhyun melepas rompi bulu yang ikut terendam, apa ia yakin melakukan ini? Ia melanjutkan membuka kaos putih yang sudah menyetak tubuhnya, membentuk jelas bra hitam yang ia kenakan.
“Apa ini tidak masalah?” Minji mengangguk lagi.
Ia melanjutkan kegiatannya hingga kini hanya tersisa bra dan celana dalam hitam. Ia berfikir sejenak, haruskah ia menelanjangi Minji didepan wajahnya sendiri?
“Kyu..dingin nggh” Minji masih memejamkan matanya, Kyuhyun langsung menutup tubuhnya dengan selimut hingga leher. Tidak berani memasangkan pakaian yang sudah ada di sampingnya.
Kyuhyun menambah suhu alat pemanas ruangannya. 34° sepertinya cukup. Ia memperhatikan wajah gadis itu, lagi-lagi ia merasa wajah itulah yang ia dambakan selama ini. Ia teringat saat Minji menyatakan cintanya, saat itu Kyuhyun merasa sangat senang. Bukankah itu wajar? Ayolah buat pengakuan saja. Diumur kepala 2 ini Kyuhyun belum pernah punya yeojachingu, terlalu sibuk dengan bisnisnya. Alasan klise.
“Ada apa denganmu?” Kyuhyun berbisik pada dirinya. Rasanya aneh melihat gadis lemah dihadapannya yang kedinginan dan tidak berbusana. Seperti ada yang menyeruak dalam aliran darahnya. Kyuhyun juga pria bukan?
Perlahan ia duduk kembali disamping Minji dan menyingkirkan selimutnya. “Dingin..” Kyuhyun memeluk gadis itu hingga dapat dirasakan tubuh gadis itu menempel dengan kemejanya. Minji mendesah pelan saat bibir tebal Kyuhyun menyapu leher jenjangnya. “Kyu apa yang kau— mpphhh” Kyuhyun membungkam bibir Minji, tanpa sadar telapak tangannya bergerilya pada pundak Minji, menarik-narik tali branya kecil. Turun kearah tonjolan besar didada Minji, meremasnya pelan sesekali memencet bagian tengah mangkuk itu.
Minji terus mendesah hingga ia tak sadar bagian atasnya tidak tertutup apa-apa lagi. Kyuhyun menciumi payudara Minji yang terlihat sangat menantang, ukuran yang tidak terlalu besar tapi sangat pas dalam genggaman tangannya. Mengemutnya kuat hingga benda pink kecoklatan itu menegang sempurna. Pertama kalinya Kyuhyun melakukan itu pada wanita, tapi langsung mendapat yang terbaik. Sudah jatah Kyuhyun mungkin.
Tangan Minji bergerak perlahan keatas, memegang rambut hitam Kyuhyun, meremasnya lemah. Kyuhyun masih tidak berkutit dan makin menambah intensitas kuluman dan remasannya pada payudara itu.
“Kyuhyun.. ahhh”
Ia mencium bibir itu lagi dan mengusap bagian terlarang gadis itu. Membuatnya menggelinjang dan makin menguatkan remasan tangannya pada kepala Kyuhyun. Tanpa basa-basi Kyuhyun membenarkan posisinya hingga kini menindih tepat diatas Minji. Ia melepaskan celana dalam gadis itu dengan kakinya, mendorongnya hingga ke mata kaki tergesa-gesa, terlalu malas untuk menghentikan pekerjaan tangannya saat ini.
Udara yang masih terlalu dingin untuk Minji tanpa ragu menyambut vagina Minji yang tanpa pelindung. Minji menggigit bibirnya menahan desakan yang ingin meledak. Kyuhyun menurunkan kepalanya kesana dan menghirup aroma yang begitu khas baginya. Mengendus seluruh permukaan gadis itu dan menghisapnya tanpa ampun.
“Jangannnn ohhh”
Ia menyapu lipatan itu dengan lidahnya. Sedikit menusuk hingga membuat gadis itu tersentak mengangkat bokongnya. Kyuhyun tertawa kecil saat berhasil mengenai klitorisnya. Ia membuka sedikit permukaannya dan menghisap benda kecil itu tanpa jijik, membuat pemiliknya semakin panas. Menggerakan pinggulnya kekanan kekiri, membuat Kyuhyun sedikit terganggu. Pria itu menahan kedua paha Minji dan makin menghisap klitoris Minji dengan ganas.
“AHHHH”
Orgasme pertama Minji disambut baik oleh bibir Kyuhyun, menghabiskan cairan itu tak tersisa.
Kyuhyun merangkak dan kembali menjilat telinga Minji, kini ia dirasuki nafsu. Tangannya tetap setia pada vagina Minji dan mulai menggosoknya pelan.
“Nappeun, ssshh” Minji mencengkram bahu Kyuhyun kuat. Pria itu memasukan satu jarinya, membuat gadis itu rasanya ingin teriak. Kyuhyun menambahkan 1, bahkan 2 jarinya lagi. Memutari dinding vagina Minji yang terasa sudah berkedut. Ia melihat wajah gadis itu dan mencium matanya yang sudah basah oleh air mata.
*Minji Pov*
Entah apa yang aku rasakan saat ini, berbaring dengan keadaan telanjang, dengan pria, apa aku sudah benar-benar gila?
Seingatku tadi adalah saat-saat terdingin yang bisa tubuhku rasakan. Tapi kenapa sekarang aku merasa kelenjar keringatku membengkak dan membuat sekujur tubuhku basah? Ini sangat panas. Panas sekali hingga aku hampir bisa merasakan kulitku menyatu dengan tulang.
Kyuhyun tetap menusuk-nusuk vagina ku kasar, sakit, apa ia tidak bisa lebih pelan sedikit? Ini mebuatku sinting.
Kepalaku masih terasa pusing, perutku aneh, rasanya aku akan mengeluarkan sesuatu lagi. Aku tidak dapat menahannya.
“Kyu aku.. ada yang..”
“Keluarkan sayang”
Vaginaku menghangat dan kulihat Kyuhyun bangkit dari tubuhku. Mengusap pangkal pahaku dengan seluruh permukaan telapak tangannya, membalurkannya di atas perutku. Ia menarik lengan atasku, menyuruhku duduk.
“Apa kau sudah merasa lebih baik?” aku mengangguk. Ia memelukku lagi, “Maaf tak meminta izin untuk yang satu ini” Ia mencium tengkukku lagi. “Tapi kau masih terlihat pucat” aku menggeleng, terlalu berat untuk mengeluarkan kata-kata. Ia tersenyum dan membelai rambutku, memintaku untuk membuka kemejanya. Aku melepaskan satu persatu kancing putih itu hingga seluruhnya terbuka. Menurunkan kedua lengan kemejanya. Aku menelan ludahku, dada bidangnya, memang tanpa abs, tapi begitu terbentuk dan membuat darahku berdesir lebih kencang.
“Bisa lebih cepat sedikit?” Lagi-lagi sikapnya kembali semula. Dingin dan tetap mempesona. Tanpa babibu aku membuka belt dan resleting celananya. Ia mendengakan kepalanya keatas, aku menarik celanya dan celana pendek yang ia kenakan. Aku sedikit kaget melihat juniornya yang sudah menegang sempurna. Ini pertama kalinya aku melihat itu dalam dunia nyata, dan err.. menyeramkan.
“Apa yang kau perhatikan?” aku menutup mulutnya cepat, pria ini benar-benar banyak bicara.
Entah kerasukan apa, aku tau apa yang harus aku lakukan. Maaf saja, aku bukan tipe wanita yang addicted akan hal-hal sex. Aku murni, sungguh.
Aku menurunkan kepalaku dan mencium pucuk juniornya ia mendesah pelan. “Satu sama, Kyuhyun-ssi” Ia menekan kepalaku hingga junior itu memenuhi mulutku, hampir tersedak. Aku memukul pinggulnya, ia tertawa. Hah, simpan tertawamu itu Kyu. Aku menghisapnya kuat dan ia terus menahan tengkukku, pria ini sangat menyebalkan.
“Lebih cepat, min-ah..” aku membantu mengusap benda itu dengan tanganku. Urat-uratnya terasa sekali, ia semakin menegang.
“Ahhhh Stop!!”
Ia mendorongku, aku meringis pelan merasakan benturan pada punggungku. “Aku sudah tidak tahan lagi, Minji-ah. Aku sudah tidak tahan lagi—” aku mencium bibirnya dan memegang kedua pipinya. “Lakukan,” ia menatap mataku dalam. “Sungguh?”
Ia menuntun juniornya tepat di depan vaginaku, aku dapat merasakannya bergerak menggesek permukaannya. Aku mencoba menstabilkan tempo nafasku. Ia menggigit bibirnya dan menumpu tangannya di sebelah pundakku. Aku mengusap kepalanya pelan.
“Arrrghhhh!”
Ia menghentakkan juniornya kencang. Sial, apa dia tidak punya hati? Air mata ku mengalir begitu saja, vaginaku terasa ngilu, aku melihat darah di sprai putihnya, dan ia menenggelamkan kepalanya di leherku. “Maaf Minji-ah aku membuatmu kesakitan” Suaranya terdengar teredam kulitku. Aku tersenyum, “Aku kira kau sering melakukannya” Ia menggeleng pelan, “Ini pertama kalinya, kau yang pertama bagiku” masih dengan suara teredam . Aku mengusap punggungnya “Aku juga,” “Aku tau pasti kau kesakitan kan? Maaf maaf maaf”
Aku menarik kepalanya lagi, “Kenapa kau begitu peduli dengan apa yang kurasakan? Hahah” ia terdiam dan menekuk alisnya. “Kau ini.. Bukannya berterima kasih”
“AHHH BODOHH!” ia menghentakan juniornya sekali. dua kali. tiga kali. Hingga kini menjadi sebuah irama, ia mempercepat hentakan pinggulnya dan mencium payudaraku. “Kau sempit Minji-ahmm uhhh” ia memompaku begitu cepat hingga dapat kurasakan tubuhku ikut terangkat. Remasannya tak berhenti di payudaraku, malah semakin ganas. Aku meremas dada bidangnya, ia tak henti-hentinya mendesah. Begitupun aku. Tubuhku semakin panas hingga sama sekali tak dapat merasakan udara winter di luar jendela. Aku meremas rambut dan tengkuknya. Ribuan kupu-kupu melayang di dalam perutku.
“Ahhhh Kyu ahhh”
“Panggil aku oppa, kumohon shh”
“Nggghh, aku mau keluar… oppa ahhh!”
“Tahan sebentar sayang, sebentar” ia menambah temponya. Sinting, aku merasakan urat-uratku mau putus semua, menahan ledakan yang ingin keluar, sementara ia semakin brutal memompaku.
“Kyuhhh.. mmh oppa aku tidak kuat lagi”
“Bersama Minji-ahhhh”
Byurr
Aku merasakan perutku menghangat, tidak mematikan kupu-kupu yang tengah terbang, malah menumbuhkan insang mereka. Berenang di cairan itu yang kuyakin masuk begitu banyak. Kyuhyun tergulai lemas di dadaku dan mengecup puncak payudaraku lembut. “Aku juga mencintaimu”
*Author pov*
“Aku juga mencintaimu”
Kyuhyun mencium permukaan kulit Minji yang masih bisa ia cium. Minji menyipitkan matanya tak percaya. Kyuhyun mencium bibirnya lagi, tanpa melepaskan kontak mereka.
“Sangat mencintaimu Han Minji” ia mengelus ujung mata Minji halus.
“Sangat mencintaimu juga Cho Kyuhyun”
Kyuhyun membulatkan matanya tak percaya.
“K..Kau tau margaku?” matanya yang dingin berubah sayu.
“Bagaimana bisa aku tidak tau, hanya ada satu keluarga besar yang memiliki marga Cho, bukan?”
Kyuhyun melepaskan kontak mereka dan duduk di ujung tempat tidur. “Jadi kau sudah mengetahuinya?”
“Sulit bagiku untuk mempercayai bahwa kaulah yang sedang mengincarku. Sulit sekali Kyu untuk menahan teriakkan yang ingin keluar saat Minho ada disini dan aku yakin aku pasti bisa selamat. Tapi kau ingat kan? Aku mencintaimu. Itu lebih kuat dari apapun, bahkan rasa takut ku.”
Kyuhyun terhenyak. “Minji-ah..”
“Kau itu seperti pemanas portable ku, ya? Selalu memberi aku kehangatan, bahkan musim dinginpun kalah. Aku anggap tadi hadiah darimu untukku, eoh?”
Kyuhyun masih terdiam.
“…..Aku tidak bodoh Kyu, aku cukup cerdas untuk mencintaimu. Salahku, karena kita bertemu hari itu.”
“Bukan kau.. Bukan salahmu..”
“Winter di Italia.. Aku sangat berterima kasih. Ini merupakan hal terindah dalam hidupku. Saat pertama kali kita bertemu, dan mungkin untuk yang terakhir kalinya juga…..”
“Kyuhyun.. Bunuh aku”
“Minji!!!”
“Aku lelah dengan semua ini. Dan aku juga pasti senang karena mati di pangkuan orang yang aku cintai. Bukan ditangan mereka,”
Kyuhyun beranjak dan langsung memeluk Minji. Air matanya keluar, tubuhnya lemas. Ia merasa menjadi orang terjahat di muka bumi ini. Ia terlalu tolol untuk memutar balikan fakta bahwasanya ia benar mencintai gadis itu, Han Minji. Tidak yang lain, bahkan tidak dirinya. Ia memeluk erat gadis itu.
TOKTOKTOK!!!!
“Apa itu Minho?” tanya Minji pelan.
Kyuhyun teringat sesuatu, melihat jam dinding di kamarnya. Jackpot, kali ini benar suruhan appanya yang datang untuk menculik, atau bahkan menembak Minji saat itu juga, meletakannya di penjara bawah tanah dan membiarkan Minji disana hingga appa dari gadis itu memberikan seluruh hartanya pada Cho Hyunsik tanpa sisa. Apa Kyuhyun harus menyembunyikan Minji, berpura-pura mengatakan bahwa ia telah meloloskan gadis itu dan ia akan mati sebagai gantinya? Appanya tidak akan pandang bulu, siapa yang mengkhianatinya akan mati sia-sia. Mungkin itu terdengar lebih adil bagi Kyuhyun. Pria itu kembali lemas mengingat dirinya yang telah membeberkan dimana keberadaan gadis itu.
“Tetap disini Minji-ah, aku tidak akan membiarkanmu terluka oleh orang-orang brengsek itu”
“Maksudmu mereka.. suruhan Gansan?” Kyuhyun mengangguk lemah dan makin mengusap kepala Minji.
“Maaf aku tidak bisa membaca apa yang aku rasakan sejak bertemu denganmu hari itu Minji-ah, aku fikir itu hal yang tidak penting. Tapi sekarang aku sadar, aku mencintaimu. Dan akan mencintaimu sampai kapanpun Minji-ah. Bahkan jika aku harus meminta izin dan bertemu eomma-mu saat ini juga.”
END

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: