MEMORIES PART 3

0
ff kyuhyun romance
Author : @KyuVie
Title : Memories ( Part 3 )
Genre : Romance
Cast :
• Ahn Vee
• Cho Kyuhyun
To cover part of the first and the second, Vie deliberately use the remake novel Ilana Tan. Sorry to not ask a permit turning them. I hope sister Ilana not angry.. ^^

•••••••••
“Appa.”
“Ahn Vee~ya..”
“Cho Kyuhyun~ssi?”
Donghae yang baru masuk selang beberapa menit dari Kyuhyun sontak memanggil pria itu. Kyuhyun yang sekarang berada di depannya, membelangi dirinya. Pria itu sama sekali tidak menoleh dengan panggilannya, membuat Donghae akhirnya melangkah mendekati pria itu. Melihat langsung keadaan Kyuhyun yang tidak biasa. Donghae bahkan bisa melihat air mata pria itu mengenang penuh di pelupuk mata.
Donghae tidak tahu apapun jenis situasi yang di hadapinya sekarang. Satu hal yang pasti mata Kyuhyun terarah jelas kesana, kearah yeoja yang dibawanya masuk ke dalam ruangan ini. Lalu apa yang terjadi dengan keadaan yeoja itu sekarang. Donghae yang melihat tubuh Ahn Vee hampir terhunyung dengan cepat berlari menghampir yeoja itu. Menangkap tubuh Ahn Vee yang hampir saja rubuh tanpa sebab.
“Gweanchana?”
“Kepalaku.” Ahn Vee bahkan tidak tahu apa yang terjadi padanya. Satu hal yang dia tahu, guncangan di kepalanya tiba-tiba saja terasa tempat saat dia melihat Kyuhyun. Saat pria itu memanggil namanya. Ahn Vee merasakan panggilan itu terdengar begitu lembut menenangkan sekaligus menyakitkan dalam waktu bersamaan. Semuanya tampak terlihat samar dalam ingatan Ahn Vee. Bayangan yang bahkan bentuknya tidak jelas itu berkelibatan dalam ingatannya.
“Kyuhyun~ssi, sepertinya aku harus menunda dulu pertemuan kita.”
Donghae bicara tanpa di sadari oleh pria itu. Kyuhyun seperti orang yang kehilangan nyawanya saat ini. Berulang kali dia mencoba meyakinkan dirinya, dengan apa yang di lihatnya sekarang. Ahn Vee yang berdiri di hadapannya. Yeoja yang kata ibu-nya sendiri sudah mati itu nyatanya ada di hadapannya saat ini.
Kesadarannya kembali saat Donghae berdiri tepat di hadapannya. tangan namja itu menopang tubuh Ahn Vee, menuntun yeoja itu agar tidak terjatuh selama berjalan.
“Aku benar-benar minta maaf Kyuhyun~ssi, sekretarisku sepertinya dalam keadaan tidak baik saat ini.” Donghae mencoba untuk pamit setelah membungkukan tubuhnya. Membawa Ahn Vee keluar dari ruangan itu. Yeoja yang keadaanya saja tidak bisa di prediksikan, tapi yeoja itu mencoba untuk tetap sadar. Sekuat mungkin Ahn Vee menahan sakit di kepalannya. Terus menunduk dan memejamkan matanya dengan kuat, bahkan saat melewati Kyuhyun.
Cho Kyuhyun yang tidak lama menyadari kepergian Donghae dan yeoja itu buru-buru membalikan tubuhnya, berniat untuk mengejer mereka.
“Appa.”
Belum sampai tangannya memegang gagang pintu. Suara Jino sudah lebih dulu menahannya, dia bahkan melupakan kehadiran anaknya sendiri disana. Kyuhyun membalikan tubuhnya lagi, menemukan Jino yang sepertinya kebingungan dengan kejadian yang baru saja terjadi.
“Appa.”
“Jino~ah.”
Linangan air yang sejak tadi mengenang di pelupuk matanya itu akhirnya jatuh tak tertahankan lagi. Apa yang sebenarnya terjadi, Kyuhyun bahkan tidak mengerti dan tidak mempercayai dengan apa yang di lihatnya. Apa dia begitu merindukan yeoja itu sehingga Kyuhyun mengalami halusinasi yang sangat mengerikan.
Berlahan dia berjalan menyeret kakinya sendiri ke arah Jino. Namja kecil yang bahkan sejak tadi hanya berdiri kaku disana, Kyuhyun memeluknya begitu erat. Menumpahkan rasa sakitnya dalam pelukan anaknya sendiri. Jino yang tidak sepenuhnya mengerti hanya bisa membalas pelukan ayah-nya, mencoba memahami apa yang ayah-nya rasakan, tapi Jino sama sekali tak merasakan apapun selain perasaan aneh saat melihat yeoja yang beberapa menit lalu di temuinya.
Untuk kesekian kalinya Kyuhyun kembali meneguk minuman yang ada di tangannya sendiri. Kyuhyun bahkan sudah menghabiskan dua botol wine seorang diri. Tapi namja itu masih bisa merasakan kesadarannya. Hanya saja kepalanya benar-benar  pusing dan terasa sangat berat.
Bayangan itu kembali menghantuinya. Pertemuannya dengan yeoja yang wajahnya menyerupai wajah Ahn Vee. Bagaimana bisa ada wajah yang begitu mirip tanpa cela sedikitpun. Rasanya tidak mungkin.
Berulang kali Kyuhyun terus meyakinkan hal itu. Memastikan jika yang di lihatnya bukan hanya sekedar halusinasi. Jika memang begitu, itu artinya dia sudah gila. Membayang yeoja itu kembali hidup. Benar Cho Kyuhyun sepertinya gila.
Kyuhyun bahkan menertawai dirinya sendiri sekarang. “Yeoja itu sudah matipun masih bisa menyakitiku seperti ini.”
Kyuhyun berbicara sendiri entah dalam keadaan sadar atau tidak. Mungkin alkohol yang di minumnya mulai menimbulkan reaksi yang membuatnya mabuk. Air mata itu bahkan kembali jatuh tanpa Kyuhyun sadari. Setelah sekian lama bertahan untuk tetap kuat akhirnya Kyuhyun kembali tumbang sama seperti tujuh tahun yang lalu.
Berlahan dengan kesadaran yang hampir menghilang, Kyuhyun menyeret kakinya menaiki tangga munuju kamar Jino di lantai atas. Melihat bagaimana tenangnya namja kecil itu tertidur membuatnya tersenyum. Sejak kepergian Ahn Vee, Jino lah yang menjadi alasannya untuk tetap hidup. Jika saja Ahn Vee tak meninggalkan Jino untuknya, mungkin Kyuhyun juga akan memutuskan untuk mati menyusul keberadaan yeoja itu.
Tapi kehadiaran Jino menahannya. Melihat anak itu selalu membuatnya di penuhi rasa bersalah yang besar. Kyuhyun tidak ingin melakukan kesalahan yang sama dengan menyakiti Jino. Karena itulah, Kyuhyun selalu mempertahankan Jino dengan baik meskipun orang tuanya selalu bersikap dingin kepada anak itu.
Bodoh, padahal mereka sendiri yang membawa Jino pada Kyuhyun. Tapi kenapa mereka memperlakukan Jino dengan tidak baik. Mungkin kedua orang tua Kyuhyun sama seperti dirinya. Melihat Jino seperti melihat kehadiran yeoja itu, Kyuhyun yang merasa bersalah, dan orang tuanya yang begitu membenci yeoja itu.
“Mianhae.”
Kyuhyun berguma lirih disamping tubuh anaknya yang tertidur. Duduk di atas lantai kamar Jino disamping ranjang. Mengelus kepala namja itu dengan sangat lembut, menciumnya hingga akhirnya dia sendiri terlelap tanpa sadar disana.
******
Lounge hotel mewah itu penuh dengan cahaya lampu yang indah dan wangi bunga. Di belakang meja bernuansa merah dan putih tampak koki-koki handal tengah memamerkan kelihaian mereka menyiapkan masakan khas Prancis yang di sajikan dalam bentuk buffet. Tiramisu cake yang terlihat manis dan lembut , cokelat yang benar-benar tampak menggiurkan, sampai jenis minuman termasuk Wine pun di hidangkan di meja tersebut.
“Kau tidak lapar? mau makan sesuatu?”
“Tidak, nanti saja. Setidaknya kita harus menunggu sampai ada satu orang yang memberi kata sambutan.”
Donghae tersenyum lebar melihat Ahn Vee yang sepertinya begitu antusias menghadiri acara amal para pengusaha besar ternama korea. Ternyata ide mengajak yeoja ini tidak terlalu buruk.
Setelah kejadian kemarin di kantor Kyuhyun, Donghae menjadi lebih hati-hati mengajak Ahn Vee untuk berpergian. Meskipun tidak tahu alasan apa yang membuat yeoja itu tiba-tiba kesakitan, tapi Donghae berusaha lebih keras agar tidak membuat kejadian itu kembali terulang.
Mengajak Ahn Vee untuk selalu berpergian ataupun berlibur mungkin menjadi salah satu cara. Meskipun yang di hadirinya bukan termasuk liburan, tapi setidaknya ini acara yang tidak terlalu formal. Mungkin mengenal dan bercengkrama dengan banyak orang juga bisa membuat Ahn Vee lebih rileks.
“Tapi setidaknya kita butuh minum.”
“Terima kasih.” Ahn Vee tersenyum menerima minuman yang di ulurkan Donghae padanya. Tak lama selang beberapa menit acara dimulai, beberapa sambutan di lakukan dari berbagai petinggi-petinggi perusahaan. Ahn Vee memperhatikan dalam diam hingga lama kelamaan dia mulai jenuh sendiri.
“Eo, kau lagi?” Tanpa sengaja matanya menangkap kehadiran namja kecil yang kemarin sempat di temuinya di perusahaan Kyuhyun. Bocah itu hanya membungkuk kecil saat menemukan keberadaan Ahn Vee di depannya. Jino memang tidak sengaja melintas disana saat sedang mencari keberadaan bibi dan pamannya. “Dimana ayahmu? kenapa berjalan sendirian? nanti kalau tersesat bagaimana?”
Ahn Vee berbicara tanpa jeda yang berhasil membuat Donghae menertawai sikap yeoja itu. Berbicara mengenai keberadaa Kyuhyun, dia jadi ingat mengenai pertemuannya yang tertunda, Donghae belum kembali mengkonfirmasikan kepada Kyuhyun untuk melakukan pertemuan mereka yang sempat gagal.
“Jino~ah, kenapa pergi sendiri tanp___ Ahn Vee~ya?”
Suara kerasnya berubah kecil dan hampir tak terdengar. Song Ah Ri yang tiba-tiba datang dan langsung mengomeli Jino seketika terdiam dengan apa yang di lihatnya. Dia bahkan menyebut nama itu tanpa sadar saat melihat yeoja itu di depannya. “Bagaimana bisa?”
Meskipun bingung Ahn Vee mencoba untuk tetap terlihat ramah. Tersenyum dan membungkuk kecil ke arah yeoja yang di temuinya itu. Berbeda dengan Donghae yang seperti sadar dengan keterkejutan yeoja di depannya. Terlebih saat yeoja itu memanggil nama Ahn Vee.
“Kalian disini rupanya.” Kyuhyun datang menyela situasi itu. Untuk sekarang, dia mencoba terlihat lebih tenang di bandingkan saat terakhir kali melihat kehadiran wanita yang wajahnya menyerupai wajah Ahn Vee. Tapi siapa dia sebenarnya (?)
“Kyuhyun~ssi, kau disini juga.” Donghae tersenyum sekaligus membungkuk kecil, begitupun dengan Kyuhyun. Pria itu melakukan hal yang sama seperti yang Donghae lakukan. “Untuk pertemuan kita yang kemarin aku benar-benar minta maaf Kyuhyun~ssi.”
“Gweancahana.”
“Ah, kenalkan dia sekretarisku.”
“Annyeonghaseyo, Ahn Vee imnida.”
Seketika itu juga dunia seperti runtuh menimpanya. Bukan hanya wajah, tapi yeoja itu juga memiliki nama yang sama. Kyuhyun lagi-lagi kehilangan kendalinya untuk mengontrol hatinya sendiri. Begitupun dengan Ah Ri, yeoja itu bahkan hampir tersungkar jatuh kebelakang jika Jino tidak menahan tanganya.
“Tidak mungkin?”
“Anda baik-baik saja?” Donghae ikut menahan tubuh Ah Ri yang lagi-lagi kembali hampir rubuh. Melihat reaksi gadis itu yang semakin jelas membuat keyakinan pria itu semakin kuat. Gadis ini, pasti dia mengenal Ahn Vee.
“Ahn Vee~ya, kau tidak mengenaliku? kau tidak mengenal Kyu___” Ucapan Ah Ri tertahan saat Kyuhyun mencengkram pergelangan tangannya. Melihat bagaimana namja itu melihat Ahn Vee membuat Ah Ri meringis merasakan kesakitan namja itu. Kyuhyun bahkan tidak sedetikpun melepaskan pandangannya pada gadis itu.
“Kajja kita harus mencari Sungmin Hyung.” Kyuhyun lagi-lagi berpura-pura untuk tetap tenang. Dia menarik tangan Ah Ri dan juga Jino menjauh dari sana dengan sebelumnya pamit kepada Donghae dan juga sosok gadis yang mengakui dirinya bernama Ahn Vee, Ahn Vee yang sama sekali tidak mengenalinya dan juga Ah Ri sahabatnya. Bukankah itu terlalu menyakitkan untuk Kyuhyun.
“Kyuhyun dia Ahn Vee, bagaimana bisa kau tidak melakukan apapun.” Ah Ri tidak juga kehilangan rasa paniknya, setelah di geret cukup jauh dari kedua orang itu, dia kembali berbicara yang kali ini di ikuti air matanya yang ikut jatuh.
“Dia bukan Ahn Vee yang kita kenal.”
“Bagaimana bisa? aku bahkan sangat yakin jika dia Ahn Vee, Ahn Vee sahabatku. Jebal Kyuhyun lakukan sesuatu.”
“Apa yang terjadi?” Sungmin yang baru kembali dari toilet nampak terlihat kebingungan. Terlebih saat melihat kekasihnya menangis, dia buru-buru merenguh gadis itu, memeluknya. “Kau kenapa sayang? Apa yang terjadi Kyuhyun?”
“Sebaiknya kau bawa dia pulang Hyung.”
“Wae?”
“Tidak, aku tidak akan pulang. Aku harus memastikannya.”
“Jebal, berhenti Ah Ri~ah.”
“Tidak, Kyuhyun. Aku mohon.”
“Ada apa ini sebenarnya?” Sungmin kembali bertanya yang lagi-lagi di abaikan keduanya. Melihat Ah Ri seperti itu, membuatnya begitu ketakutan. “Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?”
Kali ini Sungmin bicara lebih tenang dari sebelumnya. Dia menyentuh pipi yeoja itu dengan lembut agar melihat dirinya. Sungmin mencoba untuk mendapatkan jawaban dari mata gadis itu yang masih menangis.
“Ahn Vee, aku melihatnya. Dia kembali.”
“Mwo?”
Sesuai perkiraan Kyuhyun. Reaksi Sungmin menunjukan ketidakpercayaan atas ucapan kekasihnya sendiri.
“Kau berhalusinasi sayang.”
“Tidak, aku benar-benar melihatnya, Kyuhyun bahkan melihatnya juga.” Ah Ri kembali menjelaskan meskipun masih dalam keadaan terisak dalam pelukan Sungmin. Mendengar itu, Sungmin langsung menatap Kyuhyun.
“Kyuhyun, katakan padaku.”
“Tidak Hyung, dia bukan Ahn Vee.”
Kyuhyun tidak bisa bertahan lebih lama lagi disana. Dia benar-benar tersiksa sekarang. Bagaimana bisa Ahn Vee tidak mengenali dirinya. Apa yang yeoja itu pikirkan, apa yang sedang yeoja itu lakukan. Apa dia sedang mencoba menghukum Kyuhyun dengan cara seperti ini.
“Paman, Ayah kenapa?”
“Jino~ah.”
Sungmin menarik Jino setelah menatap kepergian Kyuhyun. Apa yang terjadi, apa mereka berdua gila. Kyuhyun dan Ah Ri, bagaimana bisa mereka menjadi seperti itu karena seseorang yang sudah tiada.
“Kau bahkan lupa membawa anakmu sendiri.”
Acara pesta masih berjalan meskipun jam
sudah hampir menunjukan pukul sepuluh malam. Sumbangan-sumbangan besar para pengusaha juga sudah banyak terkumpul. Mereka melanjutkannya dengan acara individu masing-masing setelah beberapa acara sambutan, dan beberapa pidato-pidato singkat.
Sungmin tak membawa Ah Ri pulang sesuai saran Kyuhyun, lagi pula yeoja itu tetap memaksa untuk mengikuti acara hingga selesai. Sekarang justru Kyuhyun sendirilah yang menghilang. Bisa Sungmin tebak, namja itu pasti sudah meninggalkan pesta sejak perdebatannya dengan Ah Ri. Yang benar saja, dia bahkan mengabaikan Jino.
Sementara membiarkan Sungmin menjaga Jino yang asik duduk di salah satu sofa bersama PSP-nya. Ah Ri justru sibuk kesana kemari mencoba mencari keberadaan seseorang. Sesorang yang masih ingin Ah Ri cari tahu kebenarannya. Ahn Vee, dia menemukan gadis itu duduk sendiri disalah satu kursi tamu tanpa kehadiran Donghae di sekitarnya.
“Ahn Vee~ssi?”
“Eo, kau.” Ahn Vee tersenyum kecil menyambut kehadiran yeoja yang sempat di lihatnya itu.
“Boleh aku duduk disini?”
“Tentu.”
Setelahnya Ah Ri benar-benar duduk disamping yeoja itu. Menatap dan memperhatikan Ahn Vee lebih dekat. Ini bukan sebuah kebetulan, mereka benar-benar sama. “Aku minta maaf untuk kejadian__”
“Gweanchana.”
Ah Ri mengangguk kecil mendapatkan yeoja itu tersenyum.  Bahkan senyuman itu sama persis seperti milik sahabatnya. “Ah, aku belum memperkenalkan diriku.”
Ah Ri mengulurkan tangannya yang di sambut cepat oleh Ahn Vee. “Song Ah Ri, kau bisa memanggilku Ah Ri.”
“Tentu, Ah Ri~ssi. Senang mengenalmu.”
“Nde, Ahn Vee~ssi.”
Baiklah, sebaiknya mencari tahu secara berlahan-lahan saja. Mengenai apa yang terjadi dengan gadis ini. Kenapa Ahn Vee tidak mengenalinya, dan alasan apa dia melakukan semua ini. Keduanya tersenyum yang membuat suasana sedikit lebih menghangat.
“Jika boleh tahu kau tinggal di mana?”
“Aku tinggal di salah satu komplek perumahan di tengah kota.”
“Sudah lama tinggal disana?”
“Tidak.” Ahn Vee menggeleng yang di ikuti senyuman kecilnya. “Aku tinggal di Jerman sebelumnya.”
“Jerman?”
“Nde.”
Ahn Vee tinggal di Jerman? bagaimana bisa, kenapa? apa yang membawanya pergi kesana? Pertanyaan itulah yang tidak bisa Ah Ri lontarakan sekarang. Ah Ri tidak ingin menimbulkan kecurigaan pada gadis ini. “Kau lama tinggal disana?”
“Sepertinya lebih dari enam tahun.”
Enam tahun. Itu artinya selama waktu kematian Ahn Vee. Benar, Ahn Vee meninggal enam tahun yang lalu. Kecurigan yeoja itu benar-benar mendekati tujuan. Etah kenapa keyakinan Ah Ri begitu kuat mengenai siapa yeoja ini. Selanjutnya mereka hanya membicarakan hal-hal ringan Seperti Ah Ri yang menceritakan tentang Kyuhyun yang merupakan teman baiknya. Lalu Jino yang juga di kenal Ahn Vee.
“Ahn Vee~ya.”
“Eo, kau sudah selesai?”
Ahn Vee tersenyum senang saat menemukan keberadaan Donghae yang sudah kembali. Pria itu sempat berpamitan sebentar untuk menemui temannya. Sedangkan Ah Ri yang melihat kehadiran namja itu hanya tersenyum kecil. Berbeda dengan Donghae yang seperti cemas melihat Ahn Vee berada dekat dengan yeoja itu.
“Dia Ah Ri, katanya dia teman baik Kyuhyun.”
“Aku Lee Donghae.”
“Aku sudah mendengar banyak tentangmu darinya.” Ah Ri menjelaskan yang disambut senyumanan tipis namja itu.
“Sepertinya kita harus pulang sekarang, besok pagi aku ada rapat penting.”
“Ah begitu.” Ahn Vee tidak menyembunyikan kekecewaannya. Mengenal Ah Ri dan mengobrol banyak dengan yeoja itu membuatnya senang. Tidak aneh jika dia kecewa karena harus mengakhiri pertemuannya dengan Ah Ri. “Aku senang berteman denganmu Ah Ri~ssi, kajja lain kali kita pergi makan bersama.”
“Tentu, aku akan menunggu ajakanmu.”
“Kalau begitu aku akan pulang sekarang.”
“Nde, hati-hati.”
Bukan hanya Ahn Vee. Donghae juga ikut perpamitan dan mengucapkan permintaan maafnya pada Ah Ri. Setelahnya mereka benar-benar pergi meninggakan lounge hotel.
“Baiklah, kita mulai lagi pertemanan kita dari awal Ahn Vee~ya.”
*******
Kyuhyun membiarkan tubuhnya pergi lagi ke tempat ini selama lebih dari satu tahun tak menginjaknya. Meskipun rumah atap Ahn Vee sudah tidak memiliki penghuni, Kyuhyun tetap merawatnya dengan menyuruh orang untuk selalu membersihkan tempat ini. Dia bahkan membeli rumah atap ini.
Setidaknya, Kyuhyun bisa memiliki satu ingatan tetang yeoja itu dengan membeli rumah ini.
Tempat yang menyimpan begitu banyak kenangan mereka berdua. Tempat dimana pertama kalinya dia kehilangan akal karena menyentuh gadis itu tepat di saat ulang tahun Ahn Vee yang ke-19.
Kyuhyun tidak bisa menyembunyikan senyuman berikut air matanya yang sudah jatuh. Dia duduk di kursi kecil yang biasanya Ahn Vee duduki saat sedang bermain piano. Kyuhyun terpejam merasakan setiap jejak yeoja itu yang tertinggal. Tangannya bergerak menyusuri benda itu, tuts-tuts piano yang biasanya di mainkan oleh Ahn Vee.
Semua bayangan itu benar-benar kembali. Kyuhyun melihat Ahn Vee tersenyum ke arahnya, memainkan piano dan bernyanyi untuknya. Ingatan itu membuatnya ikut tersenyum. Kyuhyun membuka matanya, menelusuri lagi benda itu. Tidak ada satupun yang berubah, bahkan foto itu. Foto yang diletakan Ahn Vee di atas piano. Foto yang memperlihatkan senyuman mereka berdua saat melakukan kencan pertama mereka di usia Ahn Vee yang ke-17.
“Dia bilang dia bukan dirimu, tapi dia mengakui dirinya sebagai Ahn Vee.” Kyuhyun bicara pada foto di depannya. Berharap foto itu akan menjawab sengala kegelisahannya saat ini.  “Katakan padaku, wajah itu.. siapa wajah itu?”
Kyuhyun tertawa setelah beberapa menit terdiam. Entah sadar karena dia berbicara sendiri atau justru dia sudah menjadi gila dengan tiba-tiba tertawa seperti itu.
“Dia sama sepertimu, dia juga memiliki senyuman yang sama denganmu.”
Namja itu bicara lagi. Kali ini Kyuhyun tidak lagi tertawa, pria itu menangis. Menjatuhkan kepalanya di atas tuts-tuts piano menangisi ingatan tentang gadis itu. Kenangan serta kebersamaan mereka.
Biarkan dia menjadi rapuh untuk malam ini. Biarkan Kyuhyun yang angkuh itu menangis untuk saat ini. Lalu bisakah dia kembali setelah membuka matanya besok pagi.
******
Pelayan Han terlihat sibuk menyiapkan sengala sesuatu untuk keperluan Jino kesekolah, Lalu menemani anak itu memakan sarapan paginya seorang diri. Tugasnya sekarang bertambah sejak Jino di bawa ke rumah keluarga Cho enam tahun yang lalu. Pelayan Han yang biasanya hanya mengurus Kyuhyun kini harus mengurus Jino juga.
“Kemana Kyuhyun?”
“Dia tidak pulang tadi malam Nyonya.” Pelayan Han menjawab tenang pertanyaan Nyonya besarnya. Ibu Kyuhyun yang baru saja ikut bergabung di meja makan.
“Bukahkah semalam dia menghadiri pesta amal? Apa anak ini tidak ikut bersamanya?” Tanpa menyebut namapun, pelayan Han tahu betul dengan anak yang di maksud Nyonya-nya itu. Siapa lagi jika bukan Jino, namja kecil yang saat ini sibuk dengan sarapan paginya sendiri. Jino bahkan hanya diam seolah-olah dia tidak mendengar apapun disini.
“Nde, benar Nyonya.”
“Lalu kenapa dia tidak pulang? Biasanya dia akan pulang dengan membawa anaknya yang sudah tertidur.”
“Joesonghamnida Nyonya, tuan muda Jino semalam pulang di antar oleh Tuan Sungmin.”
Mendengar itu, Ibu Kyuhyun tidak lagi membuka mulutnya. Dia cukup paham dengan sifat Kyuhyun yang kadang-kadang suka menghilang dari acara pesta. Ada apa dengan pesta semalam, Kyuhyun biasanya tidak akan menghilang tanpa alasan. Keberadaannya yang hampir tiga hari berada di Jepang bersama suaminya itu yang membuatnya tidak bisa menghadiri pesta tadi malam. Keduanya bahkan baru sampai di Korea hari ini pukul tiga pagi tadi.
Selang beberapa menit, Jino bangun dari kursi yang di dudukinya. Tanpa pamit atau mengucapkan apapun, namja itu berlalu begitu saja dari sana. Benar-benar mewarisi sifat Kyuhyun. Dingin dan malas berbicara.
Kyuhyun pergi ke kantornya tanpa pulang ke rumah terlebih dahulu. Melakukan mandi serta sarapan paginya di perusahaan. Saat terbangun Kyuhyun bahkan seperti orang yang kehilangan sebagian ingatannya. Dia seperti orang kebingungan saat mendapatkan dirinya tidur di rumah atap milik Ahn Vee. Seingatnya dia tidak minum apa lagi mabuk.
Begitu mengenaskan keadaannya sekarang. Sampai detik ini pun dia masih mirip seperti orang gila. Kyuhyun kehilangan semangat untuk hidup sama seperti enam tahun yang lalu saat kehilangan yeoja itu.
Apa yang akan di lakukannya di tempat ini? Kyuhyun bahkan sama sekali tidak bisa berpikir. Memikirkan dirinya saja Kyuhyun menyerah. Tidak ada waktu untuk memikirkan pekerjaannya sekarang. Jadi yang Kyuhyun lakukan hanya diam diruangannya, duduk bersandar pada kursi kebesaran miliknya, memejamkan mata dengan satu tangan berada di atas kepalanya. Kyuhyun bahkan harus membatalkan semua pertemuan dan juga metting penting lainnya.
Persetan dengan nasib perusahaan.
“Hyung, kau di dalam?”
“Nde.” Tanpa merubah posisi Kyuhyun membiarkan namja itu masuk ke dalam ruangannya. Memang sebelumnya dia berpesan pada sekretarisnya untuk tidak menerima tamu siapapun dan dengan alasan apapun. Kyuhyun butuh sendiri.
Tapi pria itu? baiklah, mungkin pengecualian untuk pria itu. Pria yang memang sedang di butuhkan Kyuhyun saat ini.
“Hyung.”
Namja itu memanggilnya lagi yang kali berhasil membuat Kyuhyun membuka matanya, menyingkirkan tangan itu juga dari sana, lalu menegakan sedikit posisi duduknya. Namja yang merupakan adik sepupuhnya itu sudah terlihat duduk di depan mejanya tanpa menunggu izin dari Kyuhyun.
“Apa yang kau lakukan?”
“Apa? aku hanya duduk. Memangnya aku melakukan apa?” Namja itu menjawab semaunya sendiri. Memang hanya duduk, tapi tidak duduk dengan benar. Lihat saja kakinya.
“Turunkan kakimu.”
Tanpa membuka mulut, pria itu menurunkan kakinya dari atas meja kerja Kyuhyun. Jika di pikir-pikir dia memang kurang ajar. Belum ada satupun orang yang bersikap seperti itu di depan Kyuhyun kecuali namja ini. Namja keturunan korea-mandarin, Henry Lau.
“Aku sudah menerima email-mu semalam.”
“Lalu kenapa kau disini? seharusnya kau kerjakan tugasmu.”
“Astaga, dia benar-benar gila sepertinya.” Henry mengucapkan kalimat itu tanpa beban. Sama sekali tidak takut jika pria di depannya akan tiba-tiba meledak seperti bom. Yang Henry lihat sekarang hanya tatapan pria itu yang sepertinya menusuk tepat ke jantungnya. “Itu terlalu tajam.”
“Apa?”
“Tidak.” Pria itu mendengus kesal karena selalu tidak berhasil mengalahkan tatapan tajam milik Kyuhyun. Sekalipun dia seorang Detektif , tapi Henry tak memiliki tatapan seperti milik pria itu.
“Berhentilah bermain, dan cepat lakukan pekerjaanmu.”
“Apa? jadi kau benar-benar menyuruhku melakukan pekerjaan itu?”
“Memang apa yang salah dengan pekerjaan itu.”
“Astaga jadi maksudmu bekerja menyelidiki orang yang sudah mati adalah pekerjaan yang masuk akal?” Henry mendengus tidak percaya dengan kakak sepupuhnya itu. Niatnya datang ke sinipun bukan untuk menanyakan seputar pekerjaan yang di berikan Kyuhyun. Henry datang hanya untuk memeriksa keadaan pria ini yang menurutnya sudah tidak waras. Semalam Kyuhyun mengirimnya sebuah email yang isi-nya hampir membuat bola mata Henry loncat dari tempatnya. “Aku pikir semalam kau mabuk sehingga mengirim pesan seperti itu padaku.”
“Aku bahkan tidak minum semalam.”
“Lalu apa maksudnya dengan menyuruhku menyelidiki Ahn Vee Nunna.” Henry mulai kehilangan kesabarannya dengan berkoar-koar tidak jelas. Mulutnya bahkan bergerak mengumpat namja di depannya tanpa bersuara.
“Kau selidiki saja sendiri sana ke surga.” Cercahnya asal. Nyatanya sikapnya itu tak membuat Kyuhyun meneriakinya. Pria itu hanya menekan pelipisnya memberitahu kepalanya sakit mendengar ocehan Henry. “Apa pria ini menyuruhku mati sehingga memberi pekerjaan seperti itu.”
Lagi-lagi Henry mengumpat. Dia tidak habis pikir dengan apa yang Kyuhyun pikirkan tentang mengirim email itu.
“Dia bukan orang yang meninggal.”
“Mwo?”
“Dia masih hidup.”
“Astaga, dia mulai lagi.”
“Dengarkan dulu sampai aku selesai bicara bodoh.”
Henry menutup mulutnya saat itu juga. Tanda-tanda Kyuhyun mulai kesal sudah terlihat. Henry tidak mau ambil resiko pulang ke rumahnya dengan hanya membawa nama.
“Kau sebaiknya pergi ke rumah Lee Donghae, kau akan menemukan jawabannya disana.”
“Yang benar saja, aku bahkan tidak mengenalnya.”
Kyuhyun melempar satu lembar kertas ke arah Henry. “Itu data tentang Lee Donghae.”
“Lalu apa alasanku pergi ke rumah itu?”
“Sebenarnya kau Detektif bukan?”
Henry mencibir dengan kalimat pedas yang Kyuhyun berikan untuknya. Pria itu benar-benar memiliki selera humor yang buruk. Kyuhyun tidak bisa membedakan mana yang bercanda dan bukan.
“Baiklah Cho Kyuhyun, aku akan pergi kerumah itu dengan menawarkan mesin penghisap debu.”
Kyuhyun kembali ke rumah saat waktu menujukan sore hari. Tidak satupun pekerjaan yang dilakukannya hari ini kecuali berdebat dengan Henry. Sisanya dia hanya menghabiskan waktunya untuk tidur.
Satu hari seperti itu tentu tidak akan membuat perusahaan jatuh bangkrut. Tapi harus di akui, beberapa klien dan rekan bisnis yang seharusnya hari ini Kyuhyun temui mengeluh kecewa akibat pembatalan sepihak dari Kyuhyun.
“Kau sudah pulang.”
Kyuhyun menghentikan langkahnya saat tiba di ruang tengah. Menemukan ibu-nya duduk di atas sofa dengan satu cangkir teh di tangannya.
“Nanti malam bersiaplah, keluarga Kim akan datang untuk membicarakan perjodohanmu dengan Shin Yeong.”
Mendengar itu tidak membuat Kyuhyun menunjukan reaksi apapun. Kyuhyun sama sekali tidak peduli dengan apapun yang di bicarakan dan di rencanakan orang tuanya. Pria itu hanya menarik satu sudut bibirnya tersenyum sinis ke arah ibunya sendiri sebelum akhirnya pergi meninggalkan ruang tengah. Membawa kakinya sendiri naik ke lantai atas. Lantai dimana kamarnya dan Jino berada.
“Appa.” Jino mengalihkan pandangannya dari PSP pada pintu saat benda itu tergeser memperlihatkan sosok Kyuhyun dari balik sana. Ayahnya mendekat dan langsung duduk di sisi ranjang. Dimana Jino juga menempatkan tubuhnya.
“Maafkan Appa karena meninggalkanmu di pesta semalam.”
Namja kecil itu nampak mengangguk menerima permintaan maaf ayahnya.
“Kau sudah makan?”
Jino kembali mengangguk yang di tanggapi senyuman Kyuhyun, tangan ayahnya bergerak lembut di atas kepalanya. “Apa yang kau lakukan? kau sedang bermain game?”
“Nde.”
“Mau bertarung dengan Appa?”
“Dengan senang hati.”
“Baiklah, pinjamkan satu PSP-mu dan bersiaplah untuk kalah.”
“Aku tidak akan kalah dari Appa.”
“Coba saja.”
“Tentu.”
Malam harinya acara makan malam sekaligus pembicaraan mengenai perjodohan itu benar-benar terjadi. Mengenai status Kyuhyun yang ternyata sudah memiliki anak nyatanya tak membuat keluarga Kim mengurungkan niatnya untuk menjodohkan anaknya sendiri dengan Kyuhyun.
Shin Yeong sendiri bukan tanpa alasan menyetujui perjodohan itu. Selain karena desakan orang tuanya, Shin Yeong juga terlanjur jatuh hati pada Kyuhyun pada pertemuan pertama mereka. Apapun keadaan namja itu, Shin Yeong akan dengan senang hati menerimanya. Sekalipun Kyuhyun adalah seorang pria beranak satu.
Lalu Kyuhyun sendiri, bukan tanpa alasan dia ikut bergabung di meja makan. Selain karena dia memang butuh makan, dia hanya berusaha menghormati tamu yang datang ke rumahnya. Selebihnya Kyuhyun tak memikirkan apapun. Masalah perjodohan itu, Kyuhyun menghiraukannya sama sekali. Dia bisa melakukan apapun untuk menggagalkan pernikahan itu termasuk kabur dari altar.
Setelah makan malam berakhir, Kyuhyun langsung menarik Jino ke kamarnya. Tidak mempedulikan teriakan ayahnya yang menyuruh Kyuhyun untuk ikut bergabung membicarakan perjodohannya dengan Shin Yeong.
Kyuhyun selalu seperti itu. Lalu orang tuanya juga tidak akan jera melakukannya lagi. Cho Kyuhyun benar-benar anak dari Kim Hanna dan juga Cho Young Hwan. Mereka semua sama. Keras kepala.
******
“Kau sudah tahu mengenai bibi Ah Ri yang akan mengajakmu bermain sepulang sekolah nanti?”
“Nde.”
Kyuhyun tersenyum menanggapi jawaban Jino. Pagi ini dia melakukan aktifitasnya mengantar Jino ke sekolah. “Masuklah.”
Namja itu mengangguk yang langsung di ikuti gerakannya membuka pintu mobil. Jino melambaikan tangannya sebelum akhirnya benar-benar menghilang dari hadapan Kyuhyun.
“Aku sudah mendapatkan semua informasinya.”
Kyuhyun menurunkan lembaran kertas yang sedang di bacanya saat mendengar kalimat itu lolos dari mulut Henry. Memang sejak kedatangan pria itu ke ruangannya, Kyuhyun mengabaikan Henry, membiarkan saja namja itu melakukan apapun di ruangannya tanpa dia pedulikan. Kyuhyun bahkan lebih mementingkan berkas-berkas di tangannya di bandingkan menyambut kedatangan namja itu.
“Kau tidak percaya padaku?”
Melihat reaksi Kyuhyun seperti itu sontak membuat Henry mendengus setengah kesal. Meskipun Kyuhyun melepaskan berkas-berkas di tangannya lalu melihat Henry, tapi wajah itu terlihat terlalu datar.
“Aku benar-benar datang ke rumah itu sebagai sales, menawarkan mesin penghisap debu.” Tambah pria itu lagi yang masih tidak terima dengan tanggapan sepele dari Kyuhyun. Tidak bisakah dia menghargai hasil kerja kerasnya. “Aku bahkan hampir pingsan melihatnya.”
“Siapa?”
“Wajah Ahn Vee Nunna.” Lirihnya pelan. Henry tidak berbohong mengenai dirinya yang hampir pingsan kemarin saat datang ke rumah Donghae sebagai seorang sales. “Aku pikir aku melihat hantu.”
“Apa yang kau dapat?”
“Ini.” Henry menjatuhkan satu amplop coklat besar ke atas meja Kyuhyun. Sesuatu yang dia dapat dari hasil pemeriksaannya kemarin. Tapi tidak dari rumah pria bernama Lee Donghae.
Kemarin itu Henry langsung mengerti apa maksud Kyuhyun menyuruhnya datang ke rumah pria itu. Kyuhyun hanya ingin membuat Henry melihatnya sendiri, tentang apa yang dimaksud Kyuhyun untuk mencari tahu tentang Ahn Vee. “Aku mendapatkan semuanya dari rumah sakit, dan beberapa koneksi lainnya.”
Kyuhyun tanpa membuang waktu langsung membuka amplop coklat yang Henry berikan. Beberapa lembar kertas di dalamnya memberi banyak keterangan mengenai yeoja itu. Bagian mana saja yang membuat Kyuhyun sendiri hampir kesulitan bernafas. Jika dia tidak dalam posisi duduk, Henry pastikan namja itu sudah terhuyung dan ambruk. Karena itu juga yang sempat Henry alami saat menemukan bukti-bukti itu.
“Dia benar-benar Ahn Vee Nunna.” Henry bahkan kehilangan suaranya yang biasanya selalu terdengar berisik. “Ahn Vee Nunna mengalami kecelakaan enam tahun yang lalu, dia tidak meninggal, tapi koma setelah melahirkan Jino.”
“Lalu bagaimana bisa dia bersama pria itu?”
“Mobil yang menabrak taxi Ahn Vee Nunna adalah mobil Donghae. Pria itu yang membawa Ahn Vee Nunna ke rumah sakit dan juga membawanya pergi ke Jerman.”
Kyuhyun meremas kuat kertas di tangannya sendiri. Bagaimana bisa pria itu bertindak terlalu jauh pada kekasihnya.
“Aku tidak tahu apa yang pria itu pikirkan saat itu. Tapi sepertinya dia memiliki alasan tertentu melakukan semuanya.” Henry mencoba menjelaskan berharap pria di depannya sedikit lebih tenang.
“Lalu kenapa yeoja itu berpura-pura tidak mengenaliku?”
“Sepertinya itu bukan pura-pura.”
Kyuhyun menatap tajam namja di depannya, mencoba menuntut penjelasan atas apa yang Henry ucapkan.
“Menurut informasi yang aku dapat dari rumah sakit, Ahn Vee Nunna mengalami benturan pada kepalanya saat kecelakan mobil tersebut.” Pelan-pelan Henry kembali menjelaskan. Berharap Kyuhyun mengerti dan tidak salah paham. “Sebelumnya pihak rumah sakit memang belum memberi konfirmasi dengan masalah apa yang akan terjadi saat Ahn Vee Nunna bangun. Tapi beberapa kemungkinan buruk bisa saja terjadi mengingat benturan di kepala Ahn Vee Nunna tidak main-main.”
“Lalu? apa yang terjadi?”
“Sepertinya Ahn Vee Nunna kehilangan ingatannya.”
Pundak Kyuhyun merosot jatuh saat itu juga. Tatapannya bahkan berubah kosong setelah mendengar kalimat terakhir yang Henry katakan. Akhirnya Kyuhyun menemukan alasan kenapa yeoja itu tidak mengenalinya.
Lalu apa sekarang Kyuhyun harus bersyukur? setidaknya untuk menerima kenyataan bahwa Ahn Vee yeoja yang di cintainya masih hidup meskipun dengan kondisi yang tidak Kyuhyun harapkan. Yeoja itu melupakan dirinya, semua ingatan tentangnya.
“Aku sudah memastikan jika dia benar-benar Ahn Vee Nunna dengan melakukan tes DNA antara dirinya dan Jino. Hasilnya cocok.”
“Henry~ah.” Kyuhyun berguma terlalu pelan, sangat pelan bahkan terdengar seperti tak niat berbicara. Terlebih dengan tatapan namja itu yang begitu kosong membuat Henry meringis iba.
“Nde Hyung.”
“Bisakah kau tinggalkan aku sendiri.”
Henry paham betul dengan apa yang Kyuhyun rasakan sekarang. Meskipun kabar mengenai Ahn Vee masih hidup adalah kabar baik, tapi mengenai yeoja itu yang kehilangan ingatannya tentu saja menjadi batu besar yang menimpa tubuhnya.
Tanpa membuka mulutnya lagi, Henry bergerak pergi meninggalkan Kyuhyun. Setidaknya, namja itu butuh waktu untuk bisa menerima kenyataan yang baru di dengarnya.
Sudah hampir lebih dari sepuluh menit Jino berdiri di depan gerbang sekolahnya. Tidak ada satupun tanda jika seseorang yang di tunggunya akan segera tiba. Jino bahkan sudah mencoba menghubungi ponsel orang itu beberapa kali, dan beberapa kali juga nomer yang di hubunginya dalam keadaan tidak aktif.
Setelah beberapa kali berpikir, Jino kembali lagi mengurungkan niatnya untuk menghubungi Kyuhyun. Jino pikir ayahnya pasti sedang sibuk bekerja. Haruskah dia pulang saja dengan taxi?
“Jino~ah Mianhae.”
Namja kecil itu tampak menghela antara kesal dan lega. Yeoja yang sejak tadi di tunggunya muncul tepat saat Audi hitam itu berhenti di depannya.
“Bibi membuatku menunggu terlalu lama.”
“Mian.” Song Ah Ri, yeoja yang itu memasang wajah memelas berharap Jino mau memaafkannya.
“Setidaknya’kan kami datang.”
“Diamlah, tutup mulutmu.” Ah Ri menyikut lengan pria yang baru saja turun dari mobil yang sama dengannya. Lee Sungmin, pria itu bukannya meminta maaf seperti yang Ah Ri lakukan, pria itu justru berulah sesukanya sendiri.
“Wae? kenapa kau malah menyikutku?”
“Namja ini dasar___”
“Kita jadi pergi tidak?” Melihat kelakuan kedua orang itu membuat Jino terpaksa menyela ucapan Ah Ri. Jika di biarkan kedua pasangan itu pasti akan berdebat sangat lama.
“Tentu saja, kajja.”
Tanpa memikirkan Sungmin yang masih mengoceh tidak jelas, Ah Ri menarik Jino memasuki mobil. Yeoja itu membukakan pintu belakang untuk Jino, sedangkan dirinya duduk di depan tepat di samping Sungmin yang mengemudi.
“Jino~ah, Bibi dengar semalam keluarga paman Kim datang ke rumah?”
“Nde.”
“Bagaimana menurutmu?”
“Apa?” Jino berujar lucu tanpa disadari oleh dirinya sendiri. Dia tidak mengerti sama sekali dengan pertanyaan yang Ah Ri berikan padanya.
“Kau melihat wanita yang bernama Kim Shin Yeong itu?”
Untuk kali ini Jino hanya mengangguk tanpa membuka mulutnya.
“Bagaimana menurutmu?”
“Apa?”
“Astaga sayang, kenapa kau terus memberinya pertanyaan itu terus?” Sungmin yang melihat itu akhirnya tidak tahan untuk tidak angkat bicara. Kekasihnya itu bodoh atau bagaimana, sudah tahu Jino itu anak kecil. Tapi dia justru seperti mengajak bocah itu berbicara seperti orang dewasa.
“Sebaiknya kau diam saja.” Ah Ri merutuk pria disampingnya sebelum akhirnya kembali pada Jino yang duduk di belakangnya. “Kau suka pada bibi Shin Yeong?”
“Sepertinya Appa tidak menyukainya.”
“Lalu kau sendiri?”
“Aku pikir aku akan setuju dengan Appa.”
“Bagus, bibi juga tidak menyukainya.”
“Berhenti bicara seperti itu pada Jino, kau terlihat seperti orang jahat sekarang.”
“Diamlah, aku tidak menyuruhmu bicara Lee Sungmin.”
“Kyuhyun~ssi?”
Kyuhyun mematung tepat saat pintu besar rumah itu terbuka. Entah apa yang di pikirkannya sehingga Kyuhyun membawa tubuhnya sendiri ke tempat ini dengan sangat cepat. Setelah diam beberapa saat seperti orang kehilangan nyawa di ruang kerjanya, Kyuhyun melesat dengan cepat pergi ke rumah pria bernama Lee Donghae.
Tapi saat melihat Ahn Vee tepat di depannya, Kyuhyun bahkan tidak bisa melakukan apapun selain berdiri menatap yeoja itu seperti orang bodoh. Wajah itu, Kyuhyun begitu merindukan wajah itu dan segala hal tentang yeoja yang berdiri di depannya sekarang.
“Ahn Vee~ya..”
“Apa yang membawamu kesini? kau mencari Donghae? tapi dia sedang tidak ad__”
Ahn Vee gagal menyelesaikan kalimatnya. Kyuhyun membuatnya begitu terkejut karena tiba-tiba saja memeluk dirinya. Ahn Vee bahkan tidak bisa bergerak saat menerima terjangan tiba-tiba namja itu. Yang dia tahu, tubuhnya kaku saat berada dalam pelukan namja itu. Pikirannya bahkan seperti tiba-tiba kosong. Reaksi yang aneh. “Kyuhyun~ssi?”
“Bogoshipo.”
“Nde?” Ahn Vee bahkan tak menyembunyikan keterkejutannya. Dia tidak pernah mengenal Kyuhyun dengan baik. Bagaimana bisa namja ini berbicara seperti itu padanya.
“Bogoshipo, jeongmal.”
“Kyuhyun~ssi, sebenarnya apa yang kau katakan? aku sama sekali tidak mengerti.”
Ahn Vee dengan cepat melepaskan dirinya dari pelukan namja itu. Mencoba menjauhkan tubuhnya dari Kyuhyun. Bagaimanapun Kyuhyun adalah orang asing yang baru di kenalnya beberapa hari. Ahn Vee bahkan belum pernah berbicara dengannya selain hanya sebuah perkenalan. Hal itu tentu membuatnya takut.
“Joesonghamnida Kyuhyun~ssi, sepertinya kau sedang dalam keadaan yang tidak baik saat ini. Sebaiknya kau pergi dari sini.”
“Ahn Vee~ya, ini aku.”
“Nde?”
“Kau tidak boleh melupakanku.”
“Kyuhyun~ssi apa yang kau katakan? jebal lepaskan aku.”
Ahn Vee meronta saat Kyuhyun memegang kedua sisi pundaknya terlalu kuat. Pria itu menuntut sesuatu yang bahkan tidak Ahn Vee mengerti. Tatapan Kyuhyun yang terlihat begitu tersakiti membuat yeoja itu tiba-tiba saja terdiam. Pria itu bahkan menangis.
“Hajima, jebal. Jangan seperti ini, jangan lakukan ini padaku.”
“Kyuhyun~ssi apa yang kau bicarakan, aku___ Argh!!!”
“Ahn Vee~ya?”
“Argh..”
“Apa yang terjadi? kau kenapa?”
“Kepalaku__”
Ahn Vee yang memegang kepalanya dan terus meringis kesakitan membuat Kyuhyun tiba-tiba saja berubah panik. Kyuhyun sudah coba menenangkan yeoja itu, berusaha memeluknya meskipun Ahn Vee terus menghempaskan tubuh Kyuhyun agar menjauh. Ahn Vee bahkan sudah tidak sanggup lagi untuk berdiri setelah mencoba bertahan dengan memegang sisi pintu. Bayang-bayangan tidak jelas di kepalanya bergerak dengan sangat cepat yang berhasil membuatnya begitu sangat kesakitan.
“Apa yang kau lakukan padanya?”
Kyuhyun belum sempat membuka mulutnya saat tiba-tiba Donghae muncul dan langsung mencengkram kerah kemejanya. Pria itu hampir saja memukul wajah Kyuhyun saat tiba-tiba suara ringisan Ahn Vee kembali terdengar, bahkan semakin keras. Donghae menghempaskan tubuh Kyuhyun tanpa peduli jika pria itu tersungkar dan hampir menabrak pilar penyangga besar rumahnya.
“Ahn Vee~ya, gwaenchana?”
Ahn Vee tidak membuka mulutnya untuk menjawab, dia lebih sibuk dengan rasa sakit di kepalanya sehingga membuatnya terus meringgis kesakitan. Potongan-potongan ingatan itu, lalu suara-suara itu terus saja bergerak semakin tidak jelas yang lambat laur membuat kesadarannya hilang tenggelam bersama bayangan itu.
“Ahn Vee~ya.. jebal buka matamu.. Ahn Vee..”
“Vee~ya…”
To Be Continue….
?
“Kau tidak tahu Appa pergi kemana?”
“Appa bahkan tidak menghubungiku sejak kemarin.”
?
“Jadi kau orangnya?”
“Apa yang kau bicarakan?”
“Kau orang yang mencoba menyakiti Ahn Vee dan juga bayi-nya.”
?
“Entah kenapa aku seperti mengalami sebuah dejavu sekarang ini.”
“Benarkah?”
“Hm, Kau tahu alasannya?”
“Aku pikir mungkin kita pernah bersama di dunia sebelumnya.”
?
“Seperti apa eomma yang kau inginkan?”
“Seperti yang Appa inginkan.”
“Baiklah, kau akan mendapatkannya.”
“Berjanjilah.”
“Appa janji.”
—TUT—

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: