MEMORIES PART 2

0
ff kyuhyun romance
Author : @KyuVie
Title : Memories ( Part 2 )
Genre : Romance
Cast :
• Ahn Vee
• Cho Kyuhyun
Kepergianku tidak untuk menyakiti..
Percayalah, aku menginginkan kebersamaan itu..
Aku ingin hidup bersama cinta itu, denganmu..

{ Winter Romansa }
“Apa yang terjadi?”
“Sebuah kecelakan mobil.”
“Periksa tekanan darahnya.”
“100/70 mmHg. Pasien kehilangan banyak darah akibat benturan di kepalanya pada sisi kaca mobil.”
“Bagaimana dengan kandungannya.”
“Bayi-nya masih hidup.”
“Persiapan untuk operasi.”
“Nde.”
Emergency stretcher rumah sakit terus bergerak membawa tubuh yeoja yang terbaring di atasnya masuk ke ruangan UGD. Seorang Dokter serta beberapa perawat sibuk mengawasi bagaimana kondisi yeoja itu setiap detiknya. Berbeda dengan namja yang saat itu ikut mengantar tubuh itu memasuki Rumah Sakit. Kondisinya yang juga tidak bisa dikatakan baik tidak membuatnya lepas dari rasa cemas. Darah yang mengalir melewati pelipis mata dan luka di beberapa bagaian tubuhnya seperti tak dirasakan olehnya. Nyatanya luka itu tak sebanding dengan luka yeoja itu.
Semuanya tidak akan terjadi jika saja dia tidak membawa mobilnya dengan keadaan emosi. Tidak seharusnya dia kehilangan konsenterasi dan menambarak taxi itu. Membuat yeoja itu terbaring disana. Terlebih dia seorang wanita hamil.
Tolong lakukan apapun demi menyelematkannya Tuhan.. Apapun itu, termasuk keajaibanmu…
***************
Six Years Later
Ruangan luas itu di penuhi suara musik yang tenang dan wewangian yang lembut. Dindingnya yang berwarna ke-emasan dihiasi tirai putih, di segala penjuru ruangan dihiasi buket Mawar putih dan bunga Peony berwarna merah muda. Di langit-langitnya yang tinggi tampak lampu gantung mewah dengan hiasan kanopi berwarna putih di sekitarnya. Lilin-lilin dengan pegangan perak kecil tertata rapih di atas setiap meja bundar bersama sekutum Mawar merah di dalam vas bunga kristal.
Sebuah dekorasi yang membuat pesta perayaan hari jadi pernikahan itu benar-benar terlihat elegan dan mewah. Para tamu yang datang berpakaian rapi dan pastinya berkelas.
Setelah acara penyambutan yang disusul dengan mengangkat gelas bersama untuk bersulang, acara pesta berjalan biasa saja seperti umumnya kebanyakan pesta-pesta besar lainnya. Para tamu hanya sibuk dengan percakapan masing-masing setelah memberi ucapan selamat pada tuan rumah. Pesta perayaan ulang tahun pernikahan tidak ubahnya seperti sebuah ruangan bisnis. Mulut-mulut berkoar membeberkan nominal-nominal angka dan segala jenis saham yang naik turun di pasaran.
Kyuhyun bahkan hampir mati kebosanan di tempatnya. Hampir tiap detik waktunya membuka mata, dia jejali hal-hal seperti itu. Pembicaraan yang sepertinya tidak akan pernah mencapai ujung itu terus saja menjadi santapan telinganya.
“Hanna~a, chukhayeo.”
Seorang wanita paruh baya datang menghampiri ibu namja itu. Memberi pelukan dan ucapan selamat. Gaunnya yang berwarna perak terlihat sangat mewah namun terasa kaku. Berbeda dengan gadis muda disampinya. Tubuhnya terbalut gaun sutra berwarna peace terjuntai jatuh hingga menutupi telapak kaki yang ditutupi high heels berwaran senada. Rambutnya di sanggul longgar hingga menyisakan anak-anak rambut di setiap sisi. Terlihat seperti sebuah maha karya tanpa cacat.
“Ini putriku Shin Yeong, dia baru pulang dari Ausi kemarin.”
“Astaga, dia begitu cantik.” Hanna tidak menyembunyikan rasa kagumnya melihat wajah Shin Yeong yang memang benar-benar terlihat cantik serta mimik wajah yang lembut. “Pasti akan sangat cocok jika berdampingan dengan Kyuhyun.”
Semuanya tertawa kecil tak terkecuali Shin Yeong. Yeoja itu lebih terlihat tersenyum malu-malu di bandingkan ikut tertawa. Siapa yang tidak kenal Kyuhyun, sekalipun dia berada di Ausi. Shin Yeong tahu bentul siapa itu Cho Kyuhyun. Pria tampan pewaris tunggal Samsung Electronics. Perusahaan besar yang sudah mendunia.
“Hyun~ah, kau tidak berkenalan dengannya?”
Kyuhyun tidak menjawab, pria itu hanya tersenyum kecil ke arah Shin Yeong yang di tanggapi hal yang sama oleh gadis itu. Setidaknya Kyuhyun memiliki alasan untuk melakukan itu, menghormati kedua orang tuannya dan juga orang tua gadis itu.
“Dia baru menyelesaikan S2-nya dan berencana akan membantu perusahaan mulai sekarang.”
“Luar biasa, selain cantik dia juga gadis yang cerdas dan bisa diandalkan.”
Ayah Kyuhyun menimpali ucapan pria paruh baya di sampingnya. Pria yang tak lain Ayah Shin Yeong. Tuan Kim Myeong Seo.
“Tidak sehebat Kyuhyun tentunya.” Tambah pria itu lagi yang disambut kekehan kecil mereka semua.
Kyuhyun bahkan sudah biasa menghadapi situasi seperti ini sejak dirinya bergabung di perusahaan. Termasuk memojokan dirinya pada sebuah perjodohan konyol yang tentunya tidak pernah berhasil.
“Appa.”
Mendengar teriakan kecil serta suara berat yang hampir menyamai miliknya itu membuat Kyuhyun menoleh kearah sana. Melihat bagaimana senangnya anak itu saat menemukan dirinya membuat senyumannya lolos. Kyuhyun dengan cepat mengulurkan tangannya meraih tubuh anak itu. Mengangkatnya sebentar kedalan pelukannya sebelum akhirnya menurunkannya kembali.
“Appa?” Wanita paruh baya yang tidak lain ibu Shin Yeong bahkan tidak bisa menutupi rasa penasarannya. “Anak ini? dia?”
“Anakku.”
“Anakmu?”
“Nde, anakku.”
“Maksudmu anak angkat?”
“Tidak, dia darah dagingku.” Kyuhyun kembali menjawab pertanyaan itu dengan lebih jelas. Melihat reaksi wanita itu membuat senyum separonya keluar. Kyuhyun bahkan tidak mempedulikan reaksi kedua orang tuanya yang mungkin akan marah lagi setelah pesta berakhir. “Jino~ah, cepat beri salam.”
“Annyeong.”
Bocah kecil berusia enak tahun yang sudah di ketahui bernama Jino itu membungkuk kecil memberi salam pada orang-orang yang dikenalnya sebagai teman ayah-nya dan juga kakek nenek-nya.
“Bagaimana bisa? kami bahkan tidak pernah mendengar tentang pernikahanmu.”
“Itu sudah lama sekali terjadi, tidak satupun media yang mengetahuinya.”
Ibu Kyuhyun akan menjawab seperti itu saat Kyuhyun membuat kejadian yang sama seperti ini. Mempermalukannya dengan mengenalkan Jino sebagai anak dari Kyuhyun. Sedangkan Kyuhyun sendiri masih di kenal sebagai seorang pengusaha muda sukses yang belum memiliki status pernikahan.
“Bagaimana dengan ibunya?”
“Dia meninggal saat melahirkan Jino.” Tambah wanita itu lagi memberi jawaban. Jawaban yang selalu membuat Kyuhyun marah dan membenci kedua orang tuanya.
“Kau datang bersama paman dan bibi?”
“Memangnya dengan siapa lagi.”
Kyuhyun tersenyum kecil mendapatkan jawaban anak itu. Dengan adanya Jino, Kyuhyun bisa selalu berhasil keluar dari situasi seperti perjodohan tidak langsung yang di lakukan kedua orang tuanya. Itu sebabnya, Dia selalu meminta bantuan sahabatnya Sungmin dan juga kekasih namja itu untuk membawa Jino secara diam-diam setiap ada perayaan pesta semacam ini. Lalu Kyuhyun akan dengan sangat tenangnya mengatakan jika Jino adalah anaknya. Anak Cho Kyuhyun.
Meskipun begitu, berita itu nyatanya tidak pernah menyebar hingga ke media masa. Fakta mengenai ayah-nya adalah orang yang paling berpengaruh di korea membuatnya bisa dengan mudah menutup mulut-mulut orang yang sudah mendengar ucapan Kyuhyun. Dan mungkin itu akan terjadi juga pada keluarga Kim. Mereka pasti tidak akan membuka mulutnya untuk menyebarkan berita luar biasa itu, mengenai keadaan Kyuhyun yang ternyata sudah memiliki seorang anak.
Pada akhirnya, Cho Jino akan tetap menjadi anak yang dirahasiakan oleh keluarga besar Cho Kyuhyun.
“Dimana mereka sekarang?”
“Disana.” Jino menunjuk arah jam sembilan tepat ke arah Lee Sungmin dan kekasihnya Song Ah Ri. Kedua pasangan itu berdiri tidak terlalu jauh dari posisinya, mereka bahkan melambaikan tangan saat Jino menunjuk ke arah mereka. Kedua orang itulah yang tidak pernah takut melawan kekuasaan orang tua Kyuhyun. Sungmin dan Ah Ri benar-benar bisa dia andalkan dengan sangat baik.
Kyuhyun dengan sopan mencoba pamit pada ketiga orang yang sepertinya masih sangat terkejut. Cho Kyuhyun yang di kenal sebagai pengusaha muda berusia dua puluh delapan tahun nyatanya sudah memiliki seorang anak yang beberapa minggu lagi akan mengijak usia enam tahun. Sulit dipercaya, siapapun pasti tidak akan mempercayainya. Shin Yeong bahkan tidak menyembunyikan raut wajah kecewanya. Gadis itu nampak kehilangan harapan. Sekalipun ibu dari anak itu sudah meninggal, sepertinya Kyuhyun juga tidak berniat untuk memiliki wanita penganti untuk ibu anak itu. Tidak sama sekali.
Pesta berakhir tepat pukul dua belas malam. Seluruh tamu undangan sudah tidak terlihat di sudut manapun kecuali beberapa pelayan yang bekerja membereskan sengala macam peralatan sisa pesta.
Kyuhyun bahkan sudah siap membawa Jino yang tertidur dalam pelukannya untuk pulang. Bocah itu pasti kelelahan karena harus menemani Kyuhyun. Sedangkan Jino harus sekolah besok paginya. Bukankah Kyuhyun termasuk ayah yang buruk.
Kyuhyun selalu mengatakan itu, terlebih saat melihat Jino. Dia seperti melihat kesalahannya sendiri, entah sekarang atapun dimasa lalu. Kesalahannya terhadap ibu dari anak ini. Yeoja yang dia ketahui telah pergi meninggalkan dunia. Kyuhyun bahkan tidak pernah melihat mayat yeoja itu, tapi Kyuhyun harus mempercayainya begitu saja hanya dengan bukti sebuah surat kematian dari rumah sakit.
.
‘Bayi siapa itu?’
‘Bayimu’
‘Bayiku?’
‘Benar, bayimu.’
‘Maksud Eomma bayi-ku dan Ahn Vee?’
‘Ya.’
‘Lalu Ahn Vee? dimana dia?’
‘Dia meninggal saat melahirkan bayi ini.’
.
Kyuhyun hanya mendengar itu semua dari ibunya. Ibunya yang tiba-tiba membawa bayi itu kepadanya, bayi yang katanya adalah anaknya sendiri. Awalanya Kyuhyun memang tidak mempercayai hal itu, tapi tes DNA yang di lakukannya menjadi bukti kuat jika anak itu adalah anaknya. Anaknya bersama Ahn Vee. Yeoja yang tidak Kyuhyun percayai sama sekali tentang kepergiannya meninggalkan dunia.
Tapi surat sialan itu lagi-lagi membuatnya berteriak gila. Surat yang mengatakan jika yeoja yang di cintainya telah tiada. Meninggalkan Kyuhyun dan juga Jino.
Kyuhyun bahkan belum melihat wajah itu untuk terakhir kalinya. Kenangan terakhirnya dengan wajah itu hanyalah sebuah luka dan air mata. Saat dalam keadaan terluka dan menangislah Kyuhyun melihat yeoja itu untuk terakhir kalinya. Bagaimana dia tidak merasa bersalah jika hanya ingatan itu yang dimilikinya.
***************
Berlin – Jerman
Suasana pagi yang nampak begitu tenang. Para pelayan bergerak rapih tanpa menimbulkan kekacauan sekecil apapun saat melakukan pekerjaannya. Sebuah rumah bergaya arsitektur kono bercat putih di pertengahan kota Berlin yang nampak terlihat mewah dan berkelas berdiri kokoh seperti istana.
Berbeda dengan para pelayannya yang bekerja dengan sangat tenang. Seseorang yang merupakan tuan muda rumah itu justru terlihat gusar kesana kemari, sibuk mencari sesuatu yang sepertinya menghilang tanpa di sengaja. Sebuah buku catatan yang menyimpan segala sesuatu tentang jadwal pekerjaannya itulah yang membuatnya terlihat seperti orang gila.
“Kau mencari ini?”
“Astaga, kau menemukannya.”
“Kau sendiri yang meletakannya di atas meja makan.”
Namja itu hanya tersenyum bodoh mendengar penuturan yeoja di depannya. Kesibukan selalu membuatnya mengalami hal-hal seperti itu. Melupakan sesuatu bahkan kadang mengabaikan sesuatu yang mungkin sebenarnya penting untuk di abaikan. Seperti salah satu kata yeoja itu, makan adalah sesuatu yang penting yang tidak seharusnya di abaikan.
Tapi namja itu, namja bernama lengkap Lee Donghae itu, dia selalu mengabaikan hal-hal penting tersebut.
“Aku melakukannya lagi.”
“Sepertinya itu memang sudah menjadi gayamu.”
Yeoja di depannya tampak berdecak dengan gaya yang di buat kesal. Tanpa merubah ekspresinya, dia meraih dasi di tangan namja itu. Memasangkan benda itu dengan apik pada kerah kemeja Donghae. Membiarkan namja itu memandang wajahnya dengan sangat lama karena dirinya bergerak terlalu lambat.
“Selesai.”
“Sudah?”
“Hm.”
Donghae menyentuh bagian dasar simpul dasinya. Mengerakan sipul itu ke kanan ke kiri yang membuatnya terlihat menjadi sedikit tidak bagus dari tataan sebelumnya. “Sepertinya ini miring.”
“Kau yang melakukannya.” Yeoja itu bahkan tahu betul kebiasaan namja itu. Membuatnya bekerja dua kali adalah keinginan Donghae. Jadi mau tidak mau dia harus kembali merapihkan tataan dasi namja itu.
“Jangan merusaknya lagi.”
“Aku akan melakukannya lagi.”
Pria itu tersenyum terlalu manis. Melihat bagaimana yeoja itu memasang wajah kesalnya dengan sangat baik membuat Donghae begitu menyukai ekspresi wajah itu. Wajah yang selama enam tahun sudah menemaninya. Wajah yeoja yang begitu lembut dan manis. Donghae menyukai wajah itu, saat melihatnya dia akan merasakan sebuah ketenangan yang sebelumnya tidak pernah dia rasakan.
“Sudah cukup, kau terlalu lama melihat wajahku pagi ini.”
Donghae kembali tersenyum yang kali ini di ikuti gerakan tangannya mengacak rambut yeoja itu. Matanya lagi-lagi memancarkan kekaguman, menatap lekat yeoja itu lebih lama lagi. “Ahn Vee~ya.”
“Wae?”
“Tadi malam sekretaris Jung menghubungiku.”
“Lalu?”
Donghae berhenti beberapa saat hanya untuk memperhatikan setiap perubahan reaksi yang di timbulkan wajah yeoja itu. “Perusahaan besar ternama di sana menyetujui profosal kerja sama yang di ajukan perusahaanku.”
“Terdengar seperti berita bagus, tapi kenapa kau terlihat tidak senang.”
Yeoja itu bahkan masih bisa menunjukan reaksi yang sangat lugu di saat pria didepannya memasang wajah yang dia sendiri saja sudah bisa nilai. Tidak senang. “Aku harus ke Korea.”
“Lalu kenapa? bukannya kau sering bolak balik ke sana.”
“Bukan untuk empat atau lima hari seperti yang biasa aku lakukan.” Donghae mencoba menjelaskannya dengan pelan. Berharap yeoja itu mengerti. “Tapi untuk waktu yang cukup lama.”
“Berapa lama? satu minggu? dua minggu?”
“Beberapa bulan, mungkin sampai satu tahun.”
Mendengar itu Ahn Vee tidak lagi membuka mulutnya. Jadi maksudnya dia akan di tinggalkan pria ini dengan waktu selama itu. Hidup disini seorang diri, tidak maksudnya hanya dengan beberapa pelayan di rumah ini. Donghae bahkan tahu jika dirinya memiliki pergaulan yang buruk di kota ini. Bahkan setelah Ahn Vee menyelesaikan kuliahnya di sini, dia tidak lagi berhubungan dengan orang lain selain dengan pria ini dan juga para pelayan.
“Itu terlalu lama.”
“Jika begitu ikut aku kembali ke sana.”
“Kembali ke korea? apa boleh?”
“Tentu saja, kenapa tidak.”
Donghae menjawab cepat kecemasan yeoja itu. Di bandingkan Ahn Vee, dialah yang sebenarnya lebih cemas. Membawa yeoja ini pergi dari sana selama beberapa tahun membuatnya takut untuk mengajak Ahn Vee kembali ke korea. Bagaimana jika nantinya trauma yang di alami wanita ini kembali. Kejadian mengerikan yang membuatnya tidak memiliki pilihan lain selain membawa yeoja ini pergi dari negera aslinya. Secara diam-diam, tanpa Ahn Vee sadari.
“Aku bahkan tidak begitu banyak mengenal negara Korea.”
Tentu saja. Tapi bukan karena kau tak mengenalnya, itu karena kau melupakanya. Ingatan Ahn Vee tentang negara itu seperti menghilang tak berbekas sedikitpun. Yang Ahn Vee tahu, saat membuka matanya, dia sudah berada disini, di Jerman.
“Kau bahkan besar disana.”
“Aku tidak ingat sama sekali tentang hal itu.”
“Jangan memaksa apapun yang membuat kepalamu sakit.”
“Arraseo.”
Donghae mengelus lembut pucuk kepala yeoja itu. Sebisa mungkin, dia mencoba menebus kesalahan di masa lalunya terhadap yeoja ini. Kecelakan itu dan kejadian mengenaskannya.
*************
Seoul – Korea
Ahn Vee dan Donghae tiba di korea saat waktu menunjukan siang hari. Membawa yeoja ini kembali ke tempat ini sama sekali bukanlah pilihannya. Lalu membiarkan Ahn Vee tinggal seorang diri di Jerman juga bukan pilihan yang bagus. Ahn Vee harus selalu berada dalam jangkau Donghae agar dirinya bisa selalu melindungi wanita itu. Meninjau keadaan dan perkembangan mental Ahn Vee yang sempat terguncang saat bangun dari koma panjangnya selama beberapa minggu adalah salah satu kewajibannya.
Donghae bahkan harus menjadi seorang pengecut yang mengucapkan syukur saat mengetahui wanita ini kehilangan ingatannya. Tidak, bukan berarti dia benar-benar senang. Donghae hanya tidak tahu harus menjawab apa pada yeoja itu jika Ahn Vee sadar dengan ingatannya yang normal. Mengenai bagaimana dia bisa berada di negara lain, terlebih jika Ahn Vee menanyakan keberadaan anaknya yang sama sekali tidak Donghae ketahui dimana dia sekarang.
Pembicaraan seseorang yang tidak sengaja di dengarnya enam tahun yang lalu itu membuat Donghae tidak mempunyai pilihan lain selain membawa yeoja ini pergi. Semuanya dia lakukan tidak lebih untuk melindung Ahn Vee. Jika saat itu Donghae bisa sedikit lebih cepat, dia pasti bisa menyelamatkan keduanya. Yeoja ini dan juga bayi-nya.
Tapi takdir membuatnya memiliki jalan yang berbeda. Meskipun dia sendiri bersyukur tidak membuat yeoja itu kehilangan nyawanya, tapi membuat Ahn Vee harus terpisah dengan anaknya sendiri adalah kesalahannya juga. Anak yang bahkan belum sempat dilihatnya. Anak yang bahkan tidak Ahn Vee sadari kehadirannya.
Donghae bahkan tidak tahu mengenai keluarga wanita ini, yang dia tahu hanya sebuah kartu identitas yang ditemukanya di dalam tas milik yeoja itu beserta sebuah benda yang sampai saat ini masih di simpan olehnya. Donghae tidak menemukan apapun selain kedua benda itu sehingga dia sendiri bingung harus menghubungi siapa saat kecelakan itu terjadi. Tapi setidaknya dia tahu harus memanggil yeoja itu dengan nama apa. Ahn Vee.
“Ternyata disini tidak terlalu buruk.”
Mereka sudah sampai disebuah rumah yang memang merupakan rumah milik Donghae di korea. Rumah yang sama besarnya seperti di Jerman itu jarang di tempati sejak kejadian enam tahun lalu. Donghae harus merelakan perusahaannya di negara ini di urus oleh salah satu orang kerpercayaannya dan lebih memilih mengurusi salah satu perusahannya yang lain di Jerman demi yeoja itu.
“Kamarmu di atas, ada di sebelah kiri.”
“Tentu, terima kasih.”
Ahn Vee bergerak cepat meninggalkan pria itu berdiri di ujung tangga. Yeoja itu terlalu kekanak-kanakan karena tidak sabar melihat kamarnya sendiri. Kamarnya disini tak berbeda jauh dengan kamarnya di Jerman. Donghae mendekorasi persis seperti disana. Nuansa putih kesukaan yeoja itu.
“Hae~ya, gomawo aku menyukainya.”
Yeoja itu berteriak sangat keras dari dalam kamarnya sendiri. Berharap teriakannya di dengar Donghae yang berada di lantai bawah. Tentu saja terdengar, pria itu bahkan tersenyum menanggapi kelakuan Ahn Vee sebelum akhirnya ikut naik ke lantai atas menuju kamar yeoja itu.
“Kajja, kita belum makan siang.”
“Eo, kajja.”
Sejauh apapun memandangnya, Kyuhyun tidak akan pernah menemukan keberadaan ujung dunia yang pernah di sumpahinya untuk menemukan keberadaan yeoja itu. Melihat bagaimana luasnya pantai di depannya saat ini semakin membuat keyakinannya menciut. Kyuhyun bahkan tak melihat sedikitpun satu titik ujung dunia disana.
Waktu benar-benar berjalan begitu cepat. Sudah berapa kali dia melewati pergantian musim selama hampir tujuh tahun tanpa kehadiran gadis itu. Apa dia benar-benar sudah berada di atas sana.
Kyuhyun sama sekali tidak ingin mempercayai kenyataan itu. Mayat yeoja itu saja dia tidak melihatnya, bagaimana bisa dia menganggap Ahn Vee sudah tidak ada lagi di dunia sementara hatinya masih menunggu.
Di tempat inilah semuanya dimulai. Awal pertemuannya dengan gadis itu. Tidak, bukan awal pertemuan, tapi awal perkenalan mereka. Kyuhyun melihat gadis berumuran dua belas tahun itu berlarian kesana kemari sendirian di pinggiran pantai seperti orang gila.
Lalu kau sebut apa dirimu yang terus memperhatikan gadis yang kau anggap gila itu. Kyuhyun bahkan hampir benar-benar terlihat tidak waras karena terus tersenyum memperhatikan setiap gerakan gadis itu.
Setelah lama di perhatikan ternyata gadis berpakain gaun putih selutut itu berlarian kesana kemari karena bermain air. Kakinya berulang kali menghindari terjangan ombak yang selalu berhasil menghempas ke pinggiran pantai.
Lama mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing. Ahn Vee yang masih berlarian kegirangan hanya karena bermain dengan air pantai, lalu Kyuhyun yang diam memperhatikan setiap gerakan gadis itu. Rambut dan gaun Ahn Vee yang kadang berterbangan karena tiupan angin membuatnya hampir terlihat seperti seorang malaikat. Wajah putihnya bersinar terkena pantulan sinar matahari sore.
Entah karena terlalu senang atau dirinya yang terlalu ceroboh. Gadis itu membuat dirinya sendiri terjatuh akibat terus berlari. Kyuhyun yang melihat itu bahkan tak menyadari reaksi tubuhnya sendiri yang langsung berlari menghampir gadis itu, melihat yeoja itu lebih dekat di bandingkan dari jarak delapan meter. Ahn Vee terduduk di pinggiran pantai dengan memegang pergelangan kakinya sendiri.
‘Gweanchana?’
‘Kakiku sepertinya tergilir.’
‘Bodoh.’
‘Ne?’
Ahn Vee yang awalnya berbicara tanpa menoleh ke arah namja itu akhirnya mendongakan kepalanya. Menemukan keberadaan seseorang di depannya. Matahari di belakang tubuh namja itu membuatnya benar-benar terlihat seperti seorang malaikat.
‘Kau? namja itu?’
‘Kau mengenalku?’
Kyuhyun tidak mengubah posisinya yang berdiri, dia membiarkan saja kepala gadis itu mendongak melihatnya. Karena matahari di belakang tubuh Kyuhyun itulah yang membuat mata yeoja itu menyipit.
‘Kau pria yang berulang tahun.’
Kyuhyun menyipitkan matanya menatap penuh selidik gadis di depannya. Bagaimana dia bisa tahu jika dirinya berulang tahun hari ini. Apa yeoja ini salah satu tamu undangan yang datang ke pesta ulang tahun Kyuhyun tadi siang.
‘Aku melihatmu meniup lilin tiga belas tahun.’
Apa yang dia katakan? Benar-benar tidak penting. Kyuhyun akhirnya meruntuk dirinya sendiri karena terpesona dengan gadis bodoh itu.
‘Kau tidak mengenalku?’
Kyuhyun sama sekali tidak menjawab bahkan hanya untuk sekedar menggeleng ataupun menganggukan kepalanya. Dia hanya sibuk menatap wajah lembut gadis itu. Benar-benar cantik.
‘Aku yang memainkan piano untuk lagu ulang tahunmu.’
Kyuhyun tetap tidak merubah reaksi wajahnya meskipun kenyataannya dia cukup terkejut. Kyuhyun tidak memperhatikan apapun saat ulang tahunnya berlangsung, apa lagi seseorang yang hanya memainkan piano yang pastinya hanya pemain bayaran.
‘Pulanglah, kau akan mati kedinginan disini.’
‘Tapi aku suka musim dingin.’
‘Memangnya aku peduli dengan apa yang kau sukai.’
Gadis itu mencibir karena jawaban yang Kyuhyun berikan terdengar tidak menyenangkan dan sedikit kasar.
‘Kakiku sakit.’
Ujurnya lirih. Ahn Vee bahkan menundukan kepalanya karena malu harus mengeluh pada pria yang baru di kenalnya itu.
‘Merepotkan saja.’
Meskipun mendengus, Kyuhyun tetap menundukan tubuhnya membelakangi yeoja itu. ‘kemari, naik ke punggungku.’
Namja ini tidak terlalu buruk. Diam-diam Ahn Vee mengulum senyumnya tanpa di ketahui Kyuhyun, sebelum akhirnya dia naik ke atas punggung pria itu.
‘Dimana rumahmu?’
‘Diatas atap.’
‘Yang benar saja.’
‘Maksudku rumah di atas atap.’
‘Siapa namamu?’
‘Ahn Vee.’
‘Ahn Vee~ya?’
‘Wae?’
‘Kau mau berteman denganku?’
******
“Pulang sekolah nanti Appa tidak bisa menjemputmu. Mian.”
Kyuhyun berbicara tepat saat mobilnya tiba di depan gedung sekolah Jino. Anak itu tidak menjawab dan hanya memberikan anggukan.
“Appa akan menyuruh paman Kim menjemputmu.”
“Tapi aku tidak ingin langsung pulang ke rumah.”
“Tentu, kau akan pulang bersama Appa saat pekerjaan di kantor selesai. Paman Kim akan membawamu ke kantor saat pulang sekolah nanti.”
Namja itu kembali mengangguk yang di tanggapi senyuman Kyuhyun. Tangan pria itu terulur mengelus puncuk kepala Jino. “Belajarlah dengan baik.”
Jino lagi-lagi hanya mengangguk. Namja kecil itu persis sama seperti dirinya. Dingin dan sedikit bicara. “Hubungi Appa saat jam pelajaranmu selesai.”
“Nde.”
“Kka, masuklah.”
Setelah itu, Jino benar-benar keluar dari mobil ayahnya. Membawa tubuhnya sendiri masuk ke dalam gerbang sekolah.
“Kau lihat, anak kita tumbuh dengan sangat baik.”
Berulang kali Ahn Vee menatap pantulan dirinya di depan cermin. Memastikan jika penampilannya sudah terlihat baik dan tidak memiliki sesuatu yang mungkin akan mempermalukan dirinya sendiri. Seperti sebuah noda atau sedikit sobekan pada bajunya mungkin. Sepertinya tidak.
“Kau sudah sangat terlihat cantik Nona.”
Ahn Vee tersenyum dan buru-buru membalikan tubuhnya. Di ambang pintu kamar, dia sudah menemukan keberadaan Donghae berdiri disana. Bersandar disamping pintu dengan tangan yang terlipat di depan dadanya. Namja itu benar-benar tampan. Aneh jika dirinya tidak jatuh cinta pada pria itu. Tapi Ahn Vee memang benar-benar tidak bisa melakukannya. Entah bagaimana bisa, dia sendiri penasaran mengenai hal itu.
“Kau sudah siap?”
“Aku gugup.”
Pria itu tersenyum yang di ikuti kekehan kecil dari bibir tipisnya. Ahn Vee berbicara terlalu jujur layaknya anak kecil. Tidak tahukah jika dirinya sudah memiliki anak. “Ini hanya pertemuan biasa.”
Sebuah pertemuan yang dianggap Donghae biasa nyatanya tak di anggap biasa oleh yeoja itu. Bagaimana tidak, untuk pertama kali Ahn Vee akan perperan langsung sebagai sekretaris namja itu. Sedangkan di Jerman dia hanya menjadi sekretaris Donghae saat berada di dalam rumah saja. Hanya mengingatkan semua jadwal kerja pria itu dan membantu Donghae mengatasi pekerjaannya saat pria itu membawa pekerjaannya pulang ke rumah.
Berbeda dengan kali ini yang akan menjadi sekretaris sesungguhnya pria itu, dimanapun terlebih saat di kantor. Memang bukan Donghae yang menyuruhnya, Ahn Vee memintanya sendiri pada pria itu dengan alasan -dia akan jenuh jika harus berada di rumah seharian- Donghae yang tidak bisa membiarkan Ahn Vee berada jauh dari jangkauannya akhirnya memilih alternatif itu. Dengan menjadikan Ahn Vee sekretaris pribadinya, dia dapat meninjau keadaan yeoja itu dengan mudah.
“Aku harap semuanya berjalan dengan baik.”
Donghae kembali tersenyum yang kali ini diikuti gerakan tangannya menarik tangan yeoja itu. Membawanya pergi keluar kamar. “Kau berlebihan.”
“Bukannya kau sendiri yang bilang jika ini proyek besarmu? setidaknya kita tidak boleh gagal.”
“Jika begitu jangan membuatnya gagal.”
“Aku akan berdoa untuk itu.”
“Sajangnim masih menghadiri pertemuan. Anda di minta menunggu sebentar.”
“Tentu, tidak masalah.”
Wanita yang tidak lain sekretaris Kyuhyun menuntun kedua tamu bosnya itu menunju ruangan Kyuhyun. Mempersilakan keduanya duduk untuk menunggu bosnya yang saat ini berada di ruangan lain. Tentunya masih berada di dalam satu gedung yang sama, tapi sepertinya pertemuan Kyuhyun dengan orang itu tidak di lakukan di dalam ruangan kerjanya sendiri. Tidak sama seperti yang saat ini Donghae lakukan. Pria itu dan Ahn Vee bahkan sudah duduk di dalam ruangan kerja pria itu meskipun belum ada kehadiran Kyuhyun disana.
“Ruangannya hampir sama dengan ruangan kerja kantormu di Jerman.”
“Ini jauh lebih luas.”
“Menurutku sama.”
Donghae hanya bisa tersenyum menanggapi ucapan yeoja itu. Ahn Vee bicara terlalu yakin yang membuat Donghae tidak bisa menahan senyumannya. Memangnya kapan kau bisa menahan senyumanmu jika sedang dekat dengan yeoja ini (?)
“Ahn Vee~ya, sepertinya aku harus ke toilet sebentar. Kau tidak apa-apa disini sendiri?”
“Hm, pergilah.”
“Jika pria bernama Cho Kyuhyun itu muncul lebih dulu sebelum aku kembali, kau tahu harus berbuat apa?”
“Memangnya kau pikir aku anak kecil.”
Donghae terkikik menerima cibiran gadis itu. Apa dia tidak sadar jika kelakukannya itu hampir menyamai bocah enam tahun.
“Kka, pergilah.”
“Arraseo.”
Ahn Vee hanya tersenyum membiarkan namja itu menghilang dari balik pintu. Sejak tadi dia tidak bisa berhenti berdecak mengangumi interior ruangan ini. Meskipun berkelas, tapi Ahn Vee masih bisa menangkap sisi kesederhanan ruangan ini. Seseorang yang kepribadiannya tidak menyukai hal-hal yang terlalu mencolok, itulah yang Ahn Vee nilai dari sosok pemilik ruangan ini.
Apa tidak apa-apa jika dia sedikit melihat-lihat? Rasanya tidak sopan jika Ahn Vee melakukan hal itu. Tapi lihatlah, deretan buku-buku di dalam lemari disamping meja kerja itu benar-benar menggodanya.
Baiklah tahan dirimu. Ahn Vee mengehela menarik nafasnya dalam-dalam. Apa yang terjadi dengan tubuhnya. Apa dia gugup? kenapa begitu tiba-tiba. Ahn Vee beranjak dari duduknya berniat untuk merileks-an tubuhnya yang sedikit tiba-tiba bergetar. Decitan pintu di belakang tubuhnya berhasil mengundang Ahn Vee untuk menoleh kesana. Tidak seperti perkiraannya, dari balik pintu tidak muncul kedua namja yang dia pikirkan. Bukan Kyuhyun yang memang sedang di tunggunya, ataupun Donghae yang kembali dari toilet. Dia seorang anak kecil yang memakai seragam sekolah.
“Nugu?”
Anak itu tidak menjawab dan justru menatap Ahn Vee dengan sangat lekat. Seolah-olah dia sedang menilai bagaimana persisnya bentuk wajah yeoja itu.
Ahn Vee yang merasa dirinya diperhatikan sontak sedikit membungkukan tubuhnya untuk menyamai tinggi namja itu. Mencoba untuk tidak membuat namja kecil itu takut dengan menunjukan senyuman termanis miliknya.
“Anak kecil, kau mencari siapa?”
“Aku menunggu ayahku.”
“Siapa?”
“Yang biasanya duduk disana.”
Namja itu menunjuk tepat ke arah kursi tunggal di mana biasanya Kyuhyun duduk saat menyelesaikan pekerjaannya.
“Maksudmu Cho Kyuhyun~ssi?”
Anggukan kecil kepala namja itu menjadi jawaban atas pertanyaan Ahn Vee.
“Kau anaknya?”
Namja kecil itu kembali mengangguk yang kali ini di ikuti gerakan serupa oleh Ahn Vee. Sulit di percaya, Kyuhyun yang Donghae bicarakan masih memiliki usia muda sudah memiliki anak. Sepertinya Donghae salah memberikan informasi.
“Baiklah, bagaimana jika kita menunggunya bersama. Kebetulan aku juga sedang menunggu ayahmu. Kau mau duduk bersamaku disana?”
Ahn Vee menunjuk sofa besar berwana hitam yang tadi sempat di dudukinya. Namja di depannya kembali mengangguk yang di tanggapi senyuman Ahn Vee. Mereka baru akan bergerak untuk mencapai sofa itu sebelum akhirnya suara pintu kembali berdecit mengundang keduanya. Memperlihatkan sosok pria muda tinggi yang saat itu masuk dengan keadaan menunduk, sibuk melihat lembaran kertas di tangannya sendiri.
“Appa.”
Kyuhyun yang mendengar suara itu sontak mendongakan kepalanya, berkas-berkas di tangannya terjatuh tanpa Kyuhyun sadari tepat saat matanya menoleh ke arah suara itu. Katakan dia gila, tapi Kyuhyun benar-benar melihatnya. Yeoja itu, kekasihnya, cinta pertamanya. Dia berdiri disana, disamping Jino.
“Ahn Vee~ya..”
To Be Continue….
?
“Gweanchana?”
“Kepalaku.”
?
“Tidak, aku benar-benar melihatnya, Kyuhyun bahkan melihatnya juga.”
“Kyuhyun, katakan padaku.”
“Tidak Hyung, dia bukan Ahn Vee.”
?
“Apa? jadi kau benar-benar menyuruhku melakuakan pekerjaan itu?”
“Memang apa yang salah dengan pekerjaan itu.”
“Astaga jadi maksudmu bekerja menyelidiki orang yang sudah mati adalah pekerjaan yang masuk akal?”
?
“Nanti malam bersiaplah, keluarga Kim akan datang untuk membicarakan perjodohanmu dengan Shin Yeong.”
—TUT—

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: