Lucky or Unlucky Part 1

0
Lucky or Unlucky Part 1 ff nc kyuhyun
Author                        : Nami
Tittle               : Lucky or Unlucky (Part 1)
Category         : Yadong, School life, Twoshoot
Cast                 : Cho Kyuhyun, Lee Minjae
Other cast       : Lee Donghae, Shim Changmin, Oh Hani, Go Minah, Cho Joori
-Part 1-
“Good morning, Princess Je!” sapa seorang namja yang tak lain adalah flower boy di Hannyoung High School kepada seorang yeoja bernama Lee Minjae yang dianggap sebagai princessnya. Bukan hanya namja tersebut yang menanggap princess, tapi hampir seluruh sekolah menganggapnya seperti itu. Ya, karena memang yeoja tersebut cantik, putih, berambut panjang, tinggi semampai, sexy, memiliki lekuk tubuh yang indah, kaya raya, pintar. Bahkan terkenal ramah kepada siapapun, tapi tidak untuk satu orang yang menurutnya sangat menyebalkan didunia ini.

Minjae hanya memutar bola mata malas. Dia benar-benar sudah jengah dengan tingkah laku namja didepannya saat ini. Semenjak dia masuk di Hannyoung High School, namja ini selalu mengikuti dirinya dimanapun dia berada. Seolah-olah mempunyai sinyal pendeteksi dikepalanya yang dapat menemukannya dengan sangat cepat. Dan lebih menyebalkan lagi ketika mengetahui fakta bahwa rumahnya hanya terletak beberapa blok saja dari rumah namja tersebut. Oh God, benar-benar sial hidupnya karena dirumah maupun di sekolah sama saja.
Tunggu! Bisakah hal ini disebut dengan kesialan mengingat –Cho Kyuhyun­– namja menyebalkan sekaligus tampan dan perfect tersebut menyukai dirinya? Mungkin ini adalah keberuntungan yang berujung pada kesialan, karena hingga ditahun terakhir sekolahnya dia belum pernah merasakan indahnya menjalin kasih dengan seorang namja yang dicintainya. Memang seperti ini akibat jika menjadi yeoja target Cho Kyuhyun, semua laki-laki yang hendak mendekatinya akan di tendang jauh-jauh atau mengurungkan niatnya mengingat memiliki saingat sehebat Cho Kyuhyun.
“Berhenti menggangguku, Cho Kyuhyun! Hus hus hus!” usirnya dengan cepat sambil mengibaskan tangannya. Kyuhyun tidak mau pergi dari tempatnya. Dia tetap duduk sambil tersenyum menopang dagu memandangi wajah Minjae. Kyuhyun memberi isyarat kepada kedua teman Minjae agar pergi meninggalkan mereka.
“Yak, kalian mau kemana?” teriak Minjae sambil berdiri mengikuti teman-temannya.
“Tentu saja ke kelas, Minjae-ah.” jawab Oh Hani sambil cekikikan.
“Pangeranmu mengusir kami” imbuh Go Minah sambil menunjuk Cho Kyuhyun yang masih tampak idiot memandangi Minjae.
“Tunggu aku,”
Saat akan berjalan, Kyuhyun menarik pergelangan tangan Minjae hingga Minjae jatuh terduduk tepat dipangkuan Kyuhyun. Good! Kini mereka menjadi tontonan para siswa di kantin termasuk ajumma penjaga kantin yang sedang menahan tawanya. Minjae hanya menahan nafasnya merasakan sesuatu yang aneh menyentuh pantatnya, samar-samar dia mendengar lenguhan kecil. Mungkinkah?
“Kau membuatku berdiri, sayang” bisik Kyuhyun sepelan mungkin.
“MWO?”
***
TIN TIN
Suara klakson terdengar nyaring tak henti-hentinya dibunyikan. Siapa lagi kalau bukan Cho Kyuhyun yang sedang mencari perhatian Minjae.
“Astaga, apalagi sekarang?” rutuk Minjae sambil menjambak rambutnya frustasi.
Kyuhyun melambaikan tangannya di jendela mobil, “Honey,” teriaknya.
“Naiklah! Kita pulang bersama.” Lanjut Kyuhyun sambil menyembulkan kepalanya.
“Tidak. Terima Kasih.” Minjae mulai malas membalas ucapan Kyuhyun, dia berlalu begitu saja tanpa perduli Kyuhyun yang masih berteriak memanggilnya dengan sebutan ‘Honey’.
Hingga beberapa saat kemudian Minjae melihat supir Han menjemputnya. Dia buru-buru naik dan menyuruh supirnya jalan sebelum Kyuhyun lagi-lagi membuat ulah. Seperti satu bulan yang lalu Kyuhyun menyuruh supir Han pulang meninggalkan Minjae, atau dua minggu yang lalu Kyuhyun meminta supir Han sekaligus mengantarkannya pulang, sehingga keesokan harinya dia akan berangkat sekolah kembali bersama Minjae. Tentu saja karena mobilnya ia tinggalkan di sekolah.
***
Sesampainya dirumah, lagi-lagi Minjae mendapati kedua orang tuanya sudah tidak ada. Rumah benar-benar terasa sepi. Padahal baru semalam dia bertemu orang tuanya. Itupun karena dia terbangun ditengah malam untuk mengambil minum dan melihat orang tuanya baru saja datang. Sedangkan tadi pagi, dia tampak semangat karena membayangkan akan sarapan bersama seperti sebuah keluarga bahagia, tapi itu semua hanya mimpi karena Appa dan Eommanya masih tidur akibat kelelahan.
Appa Minjae bekerja di luar kota jauh dari Seoul, sehingga mengharuskannya menetap disana dan hanya pulang sesekali untuk menengok putrinya. Itupun tidak lama, karena harus kembali melanjutkan pekerjaan. Sedangkan Eomma kandung Minjae sudah meninggal saat melahirkan Minjae, dan saat ini Eomma yang tinggal bersama Appanya adalah Eomma tirinya. Karena kesibukan pekerjaan Appanya, Minjae menyuruh Eomma tirinya untuk ikut bersama Appanya, sehingga Minjae selalu sendirian dirumah.
Sejujurnya Minjae menyesal dengan keputusannya tersebut. Tapi mau bagaimana lagi, ia lebih memilih Appanya tinggal bersama Eomma tirinya daripada asisten-asisten rumah tangga yang kurang bisa dipercaya. Sedangkan dia sendiri dirumah memlilih bersama Bibi Han yang sudah menjadi pelayan semenjak Minaje lahir, dan Minjae sudah menganggap beliau sebagai ibunya.
“Ajumma, eomma dan appa sudah berangkat?” tanya Minjae kepada Bibi Han.
“Ya Nona. Mereka berangkat tadi pagi setelah Nona berangkat sekolah.”
Minjae mengangguk-anggukkan kepalanya. “Lalu kapan akan kembali lagi?”
“Saya kurang tahu, Nona. Tadi pagi Tuan dan Nyonya menitipkan pesan agar Nona tidak terlalu sering pulang malam-malam, karena tidak terlalu baik untuk anak perempuan dan berbahaya.” Minjae menyipitkan matanya, pasti bibi Han yang sudah melapor kepada appa dan eommanya.
Bibi Han yang merasa tatapan majikannya mengintimidasi buru-buru menjawabnya, “Saya hanya menjawab apa yang ditanyakan oleh Tuan, Nona.”
Minjae menghela napas sejenak. Akhir-akhir ini dia memang sering pulang malam, tapi bukan berarti dia menuju bar, diskotik, atau tempat sejenisnya. Dia hanya pergi ke toko buku, perpustakaan, atau ke rumah temannya untuk mengerjakan tugas. Dan tentu saja masih dalam pengawasan supir Han.
“Ne Ajumma. Aku tidak akan pulang malam lagi,” jawab Minjae sambil tertunduk lesu.
Selalu seperti ini kehidupan Minjae. Dia adalah anak tunggal yang tinggal dirumah besar bersama kepala pelayan Han, beberapa pelayan lainnya, dan satu orang supir pribadi yang mengantarkannya kemanapun ia mau. Tidak ada keluarga hangat yang setiap hari menemani sarapan bersama atau makan malam bersama. Tidak ada tempat dirinya berkeluh kesah seperti ketika masih bersekolah ditaman kanak-kanak. Dulu saat dia masih kecil, dia selalu menceritakan apapun kepada Eomma tirinya. Tapi semenjak Appanya dipindah tugaskan keluar kota, kehidupannya terasa berubah karena keputusannya sendiri.
Kesepian. Itu yang sering Minjae rasakan. Kadang ia mengajak teman-temannya untuk menginap dirumahnya. Tapi tetap saja ia merasa bosan saat teman-temannya sudah pulang.
Minjae berjalan kearah kamarnya dengan langkah lesu. Dipandanginya foto kedua orang tuanya di dinding, lalu menghembuskan napas berat.
***
Minjae baru selesai mandi dan hanya mengenakan handuk ditubuhnya. Saat keluar kamar mandi, dirinya dikejutkan oleh suara gitar dan seseorang bernyanyi di kamarnya. Tepatnya diatas tempat tidur.
Matanya membulat sempurna saat ia tahu siapa orang tersebut. “CHO KYUHYUN WHAT ARE YOU DOING HERE?” teriaknya Minjae nyaring.
Kyuhyun menoleh, lalu matanya ikut membulat saat melihat sosok Minjae dengan wajah segar, rambut basah, sekaligus hanya mengenakan handuk yang menutupi bagian dadanya hingga atas paha.
“Wow wow wow you look so….errrr sexy” ucap Kyuhyun tatapannya tidak lepas dari tubuh menggoda Minjae.
Secepat kilat Minjae mendorong tubuh Kyuhyun keluar balkon, lalu mengunci pintunya dan menutup jendelanya rapat. Dia tahu benar dari mana Kyuhyun masuk. Tidak mungkin dari pintu depan karena jika dari pintu depan, maka Kyuhyun tidak diperbolehkan masuk hingga kamar Minjae dan harus menunggu diruang tamu. Kyuhyun pasti masuk dengan cara memanjat pohon besar yang cabangnya hampir menempel pada balkon kamar Minjae. (bayangin High School Musical 3, waktu Troy turun dari kamar Gabriella sebelum nyanyi walk away)
“Baby, jika sudah selesai berpakaian keluarlah.” teriak Kyuhyun dari luar.
“Oh God. Apa dosaku hingga hidupku sesial ini?” gerutu Minjae sambil memakai pakaiannya.
Setelah selesai memakai pakaiannya, Minjae berjalan kearah balkon. Sebelum membuka pintu, ia menarik napas dalam-dalam menyiapkan dirinya sebelum emosinya kembali dibuat meledak oleh Kyuhyun.
Kreeekk
Minjae bersandar pada pinggiran pintu sambil melipat tangannya didepan dada tanpa mau melihat Kyuhyun didepannya. Sedangkan Kyuhyun mengamati Minjae dari atas hingga bawah lalu kembali keatas.
Minjae merasa risih dengan cara Kyuhyun memandangnya, “Hentikan tatapan mesum mu itu, Cho!”
Kyuhyun tertawa mendengar ucapan Minjae, “Aku seperti ini karena kau sangat menggairahkan nona Lee. Ngomong-ngomong aku lebih suka kau memakai handuk saja seperti tadi,” ucap Kyuhyun yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Minjae.
“Oops… aku hanya bercanda.” lanjutnya dengan cengiran tanpa dosa.
Minjae langsung masuk kekamarnya, diikuti Kyuhyun dibelakangnya.
“Yak, siapa yang menyuruhmu masuk?” teriak Minjae sebal sambil membalikkan badannya ke arah Kyuhyun.
“Jadi kau tidak mengijinkan seorang tamu masuk? Benar-benr tidak sopan.”
Minjae menggeram sebal dengan tingkah Kyuhyun. “Seorang tamu yang sopan akan masuk melalui pintu depan, bukan langsung menyusup seperti ini” ucap Minjae sambil menekan emosinya ke titik terendah. Jika dia terus berteriak pelayannya akan curiga dan menuju kamarnya saat ini juga.
“Oke oke. Aku akan masuk melalui pintu depan.” Kyuhyun berjalan kearah pintu kamar Minjae. Sebelum menyentuh knop pintu, Minjae menarik kaos Kyuhyun kasar hingga Kyuhyun berbalik menghadapnya.
“Sekarang apalagi, Princess?” tanya Kyuhyun dengan muka polos.
“Kau bodoh atau bagaimana? Keluarlah lewat pintu balkon! Bukan pintu ini” ucap Minjae sambil menunjuk pintu yang dimaksud.
Kyuhyun menolehkan kepalanya kearah pintu kamar, lalu ke arah pintu balkon. “Ahh, kau memang pintar Honey” ucap Kyuhyun sambil berjalan kearah pintu balkon.
Lagi-lagi Minjae menjambak rambutnya frustasi. Kyuhyun benar-benar manusia tampan paling menyebalkan didunia ini.
“Tunggu, aku melupakan sesuatu.” Kyuhyun kembali masuk ke kamar Minjae sehingga membuat Minjae bingung. Seingatnya Kyuhyun tidak membawa barang apapun. Lagipula gitar yang sedari tadi disentuhnya juga bukan miliknya, tetapi milik Minjae.
“Apa?” tanya Minjae.
Kyuhyun berjalan mendekat kearah Minjae, lalu CUP… kecupan singkat mendarat di bibirnya. Hanya kecupan singkat tidak lebih dari satu detik. Tapi mampu membuat tubuh Minjae memerah. Kyuhyun mengacak rambut Minjae pelan.
“Aku akan langsung pulang saja, lagipula urusanku sudah selesai.” Kyuhyun mengeluarkan smirknya. Ya, urusan untuk merasakan bibir Minjae tentu saja. Dia lalu berbalik dan melambaikan tangannya.
“Selamat malam Honey, semoga tidur nyenyak dan mimpi indah.” Ucap Kyuhyun sebelum akhirnya mulai menaiki ranting pohon, dan HAP dengan satu lompatan dia sudah sampai bawah dengan mendarat sempurna.
Hingga Kyuhyun menghilang, Minjae masih meraba bibirnya. Ini sudah yang kesepuluh kalinya Kyuhyun mengecup bibirnya, tapi tubuhnya selalu memberikan reaksi yang sama. Tubuhnya menegang, jantungnya berdetak kencang, seluruh badannya akan terasa panas, dan kelembutan bibir Kyuhyun akan terasa sampai esok pagi. Astaga, Minjae bahkan mengingat betul berapa kali Kyuhyun menciumnya. Padahal hanya satu detik, tetapi efeknya sangat luar biasa, bagaimana jika lebih dari itu? Minjae tidak bisa membayangkannya, mungkin dia akan pingsan.
Minjae buru-buru menggelengkan kepalanya. Menepis pikiran kotornya jauh-jauh.
***
“Good morning everybody.” teriak Kyuhyun dari ambang pintu sambil melambaikan tangan kepada semua orang.
Ruang kelas yang tadinya tenang menjadi riuh akibat para yeoja sibuk berbisi-bisik hingga berteriak histeris karena kedatangan sang flower boy dikelas mereka. Tapi Kyuhyun tidak perduli, dia tetap berjalan lurus ke arah ujung kelas menuju yeoja yang sedang sibuk dengan novelnya, hingga mematahkan hati para gadis-gadis yang mengaguminya.
“Good morning, Baby” ucap Kyuhyun sambil menarik lengan teman sebangku Minjae agar pergi sehingga dia dapat duduk disamping Minjae. Minjae hanya menolehkan kepalanya singkat, lalu kembali berkutat pada novelnya.
Kyuhyun diam sambil terus memandangi Minjae hingga akhirnya Minjae mengalah dan meletakkan novelnya.
“Apa maumu, Cho?” tanya Minjae ketus.
“Weekend nanti kita harus kencan, bagaimana?” ajak Kyuhyun. Ralat, bukan ajakan melainkan paksaan.
Minjae menyernyitkan keningnya. Kencan? Mimpi apa dia semalam hingga Kyuhyun mengajaknya kencan. Melihatnya saja sudah muak, apalagi pergi berkencan, “Aku sibuk,” Minjae kembali membuka novelnya dan mengabaikan Kyuhyun.
Kyuhyun tidak tinggal diam, dia kembali merayu Minjae dengan mengeluarkan setangkai bunga mawar merah yang dibawanya.
Kyuhyun berlutut didepan Minjae, “Ini untuk wanita tercantik didunia ini, agar mau pergi kencan denganku.” Ucapnya dengan sedikit berteriak, hingga semua orang dikelas ikut menoleh menyaksikan adegan pangeran yang seolah-olah seperti sedang melamar tuan putri.
Minjae tentu saja malu setengah mati mendapat perlakuan seperti itu dari Kyuhyun. Semua orang dikelas diam menunggu jawaban Minjae. Hingga seseorang berteriak.
“Terima saja!”
Lalu satu kelas ikut berteriak agar Minjae menerim ajakan Kyuhyun.
“Terima,”
“Terima, terima,”
Minjae masih diam, dia sejujurnya malas pergi dengan Kyuhyun. Tiba-tiba…
BRAK
Bunyi gebrakan pada pintu terdengar memekakan telinga. Seisi kelas langsung terdiam dan kembali ketempatnya masing-masing melihat Kim Seonsaengnim berdiri di ambang pintu dengan tatapan horor.
Kyuhyun ikut panik, dia harus kembali ke kelasnya sekarang juga karena dirinya tidak satu kelas dengan Minjae. Tapi Minjae tetap belum menjawab ajakan Kyuhyun.
“Ayolah,” mohon Kyuhyun dengan wajah aegyo, sambil melirik Kim Seonsaengnim yang sudah masuk kedalam kelas siap mengajar.
Minjae mengambil mawar dari tangan Kyuhyun dengan cepat. Tentu saja karena terpaksa agar Kyuhyun cepat pergi, lagi pula jika Kyuhyun tertahan di kelas Kim Seonsaengnim yang terkenal killer ini maka tamat sudah riwayatnya. Tunggu, sejak kapan dia perduli riwayat Kyuhyun? lupakan.
“Oke. Pergilah,” ujar Minjae sambil mendorong Kyuhyun agar segera pergi.
“Gomawo,” Kyuhyun buru-buru berlari keluar kelas. Baru saja akan mencapai pintu, tatapan mata Kyuhyun bertabrakan dengan mata tajam Kim Seonsaengnim. Hal tersebut membuat Kyuhyun mengurungkan niatnya untuk keluar, karena jika dia langsung keluar Kim Seonsaengnim pasti akan menegurnya dan menganggapnya tidak sopan.
“Annyeonghaseyo, Kim Seonsaengnim” sapa Kyuhyun sambil membungkukkan badannya ditambah dengan senyum manis.
“Kau mau kemana Cho Kyuhyun-ssi?” tanyanya.
Kyuhyun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, “Engg.. Anu.. Saya akan kembali ke kelas, ini bukan kelas saya.”
“Kau tersesat?” tanya Kim Seonsaengnim, yang membuat seisi kelas menahan tawa melihat kegugupan sang flower boy tersebut.
Kyuhyun semakin salah tingkah dihujani tatapa tajam, “Tidak. Saya hanya sedang ada keperluan dengan Lee Minjae.” Ucapnya.
Minjae merasa namanya disebutkan, ikut mendongak. Mati sudah dirinya diseret dalam masalah Cho Kyuhyun. Itulah watak dari Kim Seonsaengnim, beliau akan terus menghujani berbagai macam pertanyaan hingga sang korban berterus terang.
“Ada keperluan apa?”
“Hanya bertanya masalah tugas,”
“Tugas apa?”
“Matematika”
“Yang mana?”
“Enggg.. yang kemarin.”
“Kemarin? Ah yang hukuman itu?”
Kyuhyun tersadar bahwa dia sedang berhadapan dengan guru matematika killer ini. Kim seonsaengnim tidak pernah memandang apakah murid itu pintar, bodoh, kaya, miskin, pria, wanita, semuanya akan diperlakukan sama. Dan kemarin Kyuhyun baru saja mendapatkan hukuman berdiri dengan satu kaki serta PR mengerjakan 100 soal karena lupa membawa buku tugas yang seharusnya dikumpulkan. Kyuhyun benar-benar malu saat ini.
“N..ne Seonsaengnim, aku meminta Minjae untuk membantuku.”
“Benar Lee Minjae-ssi?” tanya Kim Seonsaengnim. Minjae yang tidak tahu apa-apa terpaksa menangguk dengan takut.
Kim Seonsaengnim menyipitkan matanya melihat Minjae. Beliau tahu Lee Minjae sedang berbohong, terlihat dari gerak-geriknya yang tidak nyaman.
“Kau berbohong,” tembaknya langsung.
Minjae memandang Kyuhyun tajam, jika Cho Kyuhyun tidak kemari tidak akan terjadi hal semacam ini pikirnya. Kyuhyun ikut memandang Minjae tajam, jika Minjae cepat menjawab ajakan kencannya atau paling tidak pandai berbohong, maka tidak mungkin Kim Seonsaengnim menahan Kyuhyun seperti ini.
Mereka saling melempar tatapan tajam, hingga sebuah ketukan dari penghapus kayu menyadarkan mereka.
“Kau boleh pergi, Kyuhyun-ssi.” Ucap Kim Seonsaengnim pada akhirnya, karena beliau mesti mengajar. Bukan untuk mengintrogasi Kyuhyun.
“Gamsahamnida, Seonsaengnim” Kyuhyun membungkukkan badan dan melesat keluar setelah sebelumnya mengedipkan satu matanya ke arah Minjae.
Sedangkan Minjae menatap Kyuhyun malas.
***
Kyuhyun mengendap-endap memasuki kelasnya karena memang sudah ada guru yang mengajar. Beruntunglah dia karena pelajaran pertama hari ini adalah Bahasa Inggris oleh Yoon Seonsaengnim yang terkenal aneh, karena setiap kali mengajar beliau selalu menerangkan sambil menghadap papan tulis, bukan ke muridnya. Sehingga beliau tidak tahu jika ada seorang murid yang mengendap-endap masuk.
“Kau habis dari mana, Kyu?” tanya Donghae yang duduk disebelahnya.
Kyuhyun menunjukkan sebuah benda persegi yang biasa disebut buku.
“Buku-Tugas-Matematika-Lee Minjae.” Donghae mengeja tulisan yang tertera di atas buku tersebut, lalu menyernyitkan dahi tidak mengerti dengan apa yang Kyuhyun lakukan. Setelah beberapa detik, Donghae tersadar.
“Kyu, kau gila? Kau ingin mempermalukan Minjae?” tebak Donghae dengan ekspresi terkejut.
“Bukan mempermalukan. Hanya sedikit memberikan shock terapi agar hidupnya lebih berwarna.”
Donghae menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir dengan kelakuan usil Kyuhyn. “Aku ragu apakan kau benar-benar mencintainya.”
Kyuhyun tidak menjawab ucapan Donghae. Dia memandang buku Minjae, lalu mengeluarkan smirknya. Mencintainya? Tentu saja, bukan hanya mencintainya tapi sangat-sangat mencintainya. Dan dia tahu benar bahwa Minjae sesungguhnya juga menyimpan rasa padanya, hanya saja Minjae selalu menepis hal tersebut dan mensugesti otaknya bahwa dia membenci Cho Kyuhyun. Jika Minjae tidak mencintainya, mengapa tidak pernah marah setelah dicium bibirnya tidak hanya sekali, tetapi berkali-kali oleh Kyuhyun hingga wajahnya memerah.
Sebenarnya Kyuhyun sedang menyusun rencana agar dia bisa lebih dekat dengan Minjae dengan memanfaatkan Kim Seonsaengnim, dan tanpa diduga secara tidak sengaja Kim Seonsaengnim justru membantunya.
“Jika dia tahu, dia akan membencimu Kyu. Kembalikan bukunya.” Lagi-lagi Donghae bersuara, masih tidak terima dengan perlakuan Kyuhyun.
“Itu tidak mungkin. Dia hanya berkata ‘Kau menyebalkan Cho Kyuhyun’, lalu dengan sekali kecupan dia kan terdiam dan menelan semua kemarahannya. Hahaha…” Kyuhyun terkekeh membayangkan bagaimana ekspresi Minjae saat dia melakukan hal tersebut.
“Terserah kau saja.” Donghae kembali memperhatikan Yoon Seonsaengnim.
***
“Kumpulkan tugas kalian.” Ucap Kim Seonsaengnim didepan kelas. Semua murid maju kedepan mengumpulkan tugas masing-masing. Tapi tidak untuk satu orang yang sedang panik membongkar tasnya mencari-cari sesuatu.
“Wae?” tanya Hani.
“Bukuku tidak ada, Hani-ah.”
“Mwo? Astaga Minjae, kau sudah melakukan kesalahan besar.” Ucapan Hani sukses membuat Minjae semakin panik.
“Aku yakin tadi malam sudah meletakannya didalam tas. Bagaimana ini?” Ucapnya sambil mencoba merogoh laci meja. Hani membantu Minjae mencarinya didalam tas kembali, lalu melihat lacinya yang kosong.
“Mungkin kau lupa meletakkan. Coba kau ingat-ingat.”
Minjae mengingatnya kembali. Semalam setelah selesai mengerjakan tugas, dia yakin langsung memasukkan buku matematikanya ke dalam tas dan tidak mengeluarkan sama sekali.
Kim Seonsaengnim menghitung jumlah buku yang sudah terkumpul.
“Kurang satu anak. Siapa yang belum mengerjakan?”
Minjae dengan sangat terpaksa mengacungkan tangannya.
“Lee Minjae?” ucap Kim Seonsaengnim sedikit tidak percaya. Tentu saja tidak percaya, karena Minjae merupakan murid rajin yang tidak pernah melalaikan tugasnya. Dan baru kali ini Minjae melakukannya.
Satu kelas menoleh karena memang tempat duduk Minjae berada dibelakang. Perasaan Minjae bercampur aduk antara malu dan takut.
“Berdiri didepan,” seru Kim Seonsaengnim. Seperti yang sudah dikatakan, dia tidak pandang bulu dengan siapa dia berhadapan dan akan melakukan hal setara.
Minjae memejamkan matanya sejenak, lalu bangkit dan berjalan kedepan. Kim Seonsaengnim mendekat kearahnya.
“Benar-benar tidak bisa dipercaya, seorang contoh teladan tidak mengerjakan tugas?” ucapnya sambil berjalan mondar mandir didepan Minjae.
“Bukan begitu Seonsaengnim, aku sudah mengerjakannya. Tapi bukunya hilang,” Minjae mencoba membela diri, tapi justru mendapatkan tatapan tajam dari Kim Seonsaengnim. Beliau memang tidak suka dibantah. Minjae menggigit bibir bawahnya.
Teman-teman Minjae –Hani dan Minah– hanya mengangkat tangan sambil berguman pelan, “Fighting,”
Minjae rasanya ingin menangis karena sangat malu. Dia benar-benar akan mencekik orang yang sudah mengambil bukunya hingga ia dipermalukan dan dijatuhkan harga dirinya seperti ini.
“Kau harus berdiri dengan satu kaki hingga pelajaran selesai. Dan kau harus kerjakan 100 soal, dikumpulkan minggu depan. Arasseo?”
Minjae mengangguk menerima hukuman. Dia berjalan ke pojok dekat pintu dan berdiri mengangkat satu kakinya. Semua teman-teman dikelas memandangnya iba.
Tiba-tiba Kim Seonsaengnim kembali memandang Minjae, “Kau bisa mengerjakannya bersama Cho Kyuhyun. Dia juga mendapatkan tugas yang sama. Mungkin kalian bisa sekaligus berkencan, bukankah itu kencan yang bermanfaat?” ucapnya diakhiri senyuman sinis.
Sontak ucapan Kim Seosaengnim membuat satu kelas kembali menahan tawa, mengingat tadi Kyuhyun mengajak Minjae kencan dan akhirnya mereka akan berkencan dengan 100 soal matematika. Minjae menundukkan kepalanya dalam-dalam. Hari ini karena bertemu Cho Kyuhyun dia menajdi sial. Cho Kyuhyun benar-benar pembawa sial, pikirnya.
***
“HAHAHAHA…” Kyuhyun tertawa kencang mendengar Shim Changmin bercerita tentang kejadian di kelasnya yang menimpa Minjae. Changmin adalah sahabat Kyuhyun dan Donghae, dan dia satu kelas dengan Minjae.
“Tapi aku masih benar-benar tidak percaya, seorang Minjae melakukan hal ceroboh.” Ucap Changmin. Kyuhyun hanya tertawa geli membayangkan bagaimana ekspresi malu yang dialami Minjae.
Kyuhyun mengeluarkan buku tugas Minjae, lalu meletakannya didepan Changmin, “Kembalikan padanya,”
Changmin menganga setelah mengetahui pelaku penyebab Minjae dihukum. Tenyata sahabatnya. Hidup Minjae benra-benar sial karena dicintai Cho Kyuhyun, pikir Changmin.
“Yak Kyu, seharusnya kau melihat bagaimana ekspresi Minjae saat menahan malu dan tangisnya. Dia benar-benar_”
“Terlihat lucu dan menggemaskan? Oh astaga, harusnya aku satu kelas dengan kalian agar bisa ikut melihatnya. HAHAHA…” belum selesai Changmin berbicara, Kyuhyun sudah memotongnya.
Changmin ikut tertawa, memang benar apa yang dikatakan Kyuhyun. Minjae akan terlihat lucu dan menggemaskan saat wajahnya memerah. Donghae hanya menggelengkan kepala sambil melipat kedua tangannya didepan dada melihat kedua temannya tampak seperti setan yang bahagia diatas penderitaan orang lain.
BRAK
Seseorang menggebrak meja dimana  Cho Kyuhyun, Lee Donghae, dan Shim Changmin berada. Siapa lagi kalau bukan Lee Minjae, sang pemeran utama yang sejak tadi dibicarakan ketiga namja tersebut.
“Terima kasih teman-teman.” Ucapnya sambil menampilkan senyum kecut. Minjae mengambil bukunya yang berada ditengah-tengah ketiga namja tersebut. Lalu pandangannya beralih pada Kyuhyun.
Kyuhyun dengan tanpa dosanya melambaikan tangan pada Minjae, “Annyeong,” sapanya sambil tersenyum. Minjae menatap Kyuhyun sarat akan kemarahan serta kebencian mendalam.
Dia mengeluarkan mawar pemberian Kyuhyun, lalu mencabut semua mahkota mawar tersebut sekaligus dengan kasar dan melemparkannya didepan wajah Kyuhyun.
“Aku benar-benar membencimu, Cho Kyuhyun.” ucap Minjae dengan penuh penekanan. Dan berbalik pergi.
Senyum Kyuhyun semakin lama semakin memudar. Minjae memang sering mengucapkan kalimat tersebut setiap hari, tapi baru kali ini Kyuhyun melihat Minjae mengucapkan dengan raut wajah yang benar-benar terluka. Apakah aku benar-benar keterlaluan? Tanya Kyuhyun kepada dirinya sendiri.
***
Minjae berjalan dengan menahan tangis. Ternyata benar dugaannya bahwa Cho Kyuhyun yang melakukannya. Dia berjalan ke ruang guru untuk bernego kepada Kim Seonsaengnim mengenai hukumannya.
“Annyeonghaseoyo, Kim Seonsaengnim. Aku sudah menemukan buku tugasku. Bisakah anda mencabut hukumanku?” tanya Minjae dengan nada sehalus mungkin sambil menyerahkan buku tugasnya.
“Tidak. Kau tetap mendapatkan hukuman.” Jawabnya acuh, sambil tetap menulis menyelesaikan pekerjaannya.
“Emm, paling tidak bisakah anda meringankan hukumanku?”
“Hukumanmu sudah cukup ringan dan aku tidak bisa menarik kata-kata ku kembali.”
“Tapi seongsaengnim_”
“AKU SEDANG SIBUK, LEE MINJAE-SSI.” Bentak Kim Seonsaengnim yang sukses membuat Minjae terkejut bukan main hingga jantungnya hampir copot.
“N..ne. Maaf sudah mengganggu,” Minjae menundukkan badannya setelah meletakkan buku tugasnya dimeja, lalu pergi keluar dengan kecewa.
Kyuhyun yang berada didepan pintu ruang Kim Seonsaengnim langsung menyingkir melihat Minjae akan keluar. Dia benar-benar menyesal telah berbuat usil kepada Minjae. Dilihatnya Minjae yang berjalan lesu ke arah kelasnya. Kyuhyun sudah membulatkan tekad, pulang sekolah nanti dia akan meminta maaf kepada Minjae. Sebenarnya tadi dia juga akan bernego dengan Kim Seonsaengnim mengenai hukuman Minjae, tapi diurungkan niatnya melihat Minjae dibentak. Sepertinya bernego dengan Kim Seonsaengnim bukan jalan yang tepat.
***
“Princess Je,” teriak Kyuhyun saat melihat Minjae berjalan melintasinya.
Minjae pura-pura tidak mendengar dan terus berjalan ke arah supir Han yang sudah siap mengantarkannya pulang, mengabaikan panggilan Kyuhyun.
“Princess Je, tunggu sebentar,” Kyuhyun menarik tangan Minjae sehingga Membuat Minjae berbalik menghadapnya. Minjae diam tidak bergeming, dan tidak mau memandang Kyuhyun.
“Ada yang ingin aku bicarakan,” ucap Kyuhyun. “Tapi tidak disini,” lanjutnya.
Minjae mengabaikan Kyuhyun. Dia berbalik dan kembali berjalan menuju supir Han.
“Ayo kita pulang, ahjussi” ucap Minjae saat sudah berada didepan supir Han yang sedang membukakan pintunya.
“Ne”
Kyuhyun tidak bisa berbuat apa-apa. Sepertinya Minjae benar-benar marah padanya kali ini, pandangannya bahkan berubah dingin. Tidak ada teriakan ‘Berhentilah menggangguku Cho Kyuhyun’ atau ‘Kau benar-benar menyebalkan’.
Minjae memandang Kyuhyun melalui kaca sepion mobilnya yang sedang melambaikan tangan dengan tatapan terluka. Entah mengapa ada perasaan yang mengganjal di hatinya. Minjae memang sangat marah dengan kelakuan Kyuhyun, tapi perasaan lain mengatakan bahwa dia tidak bisa membencinya.
***
“Bagaimana?” tanya Donghae kepada Kyuhyun, sambil mencoba mengambil bola dari tangan Changmin.
Donghae dan Changmin sedang bermain basket, sedangkan Kyuhyun hanya duduk ditepian tribun. Setiap malam jika ada waktu mereka selalu berkumpul di aula basket sekolah untuk sekedar bermain basket atau berkumpul biasa, kebetulan Changmin adalah ketua klub basket di Hannyoung High School, sehingga kunci aula selalu berada ditangan Changmin. Menurut mereka berkumpul seperti ini lebih menyenangkan daripada berkumpul di sebuah club bar yang akhirnya mabuk-mabukan. Sungguh tidak bermanfaat.
“Yah, tebakanmu benar, Donghae-ah. Dia sangat marah padaku.” Jawab Kyuhyun sambil tersenyum miris.
“Kau harus minta maaf secepatnya, Kyu” kini giliran Changmin yang bersuara sambil mendribble bolanya kearah Ring. Kyuhyun mengangguk setuju.
“Bagaimana jika dia tidak mau memaafkanku?”
Changmin melemparkan bolanya kearah Donghae sebelum menjawab Kyuhyun, “Kau abaikan saja dia, berhenti mengganggunya. Jika memang dia benar-benar mencintaimu, dia akan merasa ada sesuatu yang hilang, dan dia akan merindukan hal tersebut. Buatlah dia menyadari cintanya padamu.”
“Astaga, sejak kapan seorang Kyuhyun kehilangan ide-ide gilanya?” imbuh Donghae dengan tawa.
Kyuhyun tertawa. Memang benar apa kata Donghae, hanya karena Minjae marah dia menjadi selunak ini dan melupakan ide-ide gilanya.
Donghae melemparkan bola basket ke adah Kyuhyun. Mau tidak mau, Kyuhyun turun ke lapangan dan mendribble bola tersebut, lalu menembakkannya kearah ring. Sepertinya sedikit bermain bisa menghilangkan kegalauan yang sedang melanda dirinya.
***
Sudah tiga hari ini Kyuhyun benar-benar berhenti mengganggu Minjae seperti yang Changmin sarankan. Di sekolah mereka juga jarang bertemu karena memang tidak satu kelas. Jika mereka tidak sengaja berpapasan, Kyuhyun akan bertingkah seolah-olah tidak mengenal Minjae. Begitu pula Minjae yang bertingkah tidak perduli. Terakhir mereka bertemu adalah saat malam setelah Kyuhyun bermain basket bersama teman-temannya. Kyuhyun menyempatkan diri mengunjungi rumah Minjae untuk minta maaf. Tetapi Minjae hanya mengintip dari jendela dan tidak mau keluar rumah utntuk menemui Kyuhyun sama sekali.
“Yak Evil! kau lemas sekali, wae ?” tanya Donghae.
“Ini benar-benar membuatku bosan Hae-ah. Tiga hari tidak menggoda Minjae membuatku kehilangan tenaga. Bahkan Minjae belum memperlihatkan tanda-tanda bahwa dia merasa kehilangan diriku,” Jawab Kyuhyun dengan lesu sambil meletakkan kepalanya diatas meja.
“Menurutmu apakah dia mencintaiku?” lanjutnya.
Donghae mengendikkan bahunya tanda dia tidak tahu tentang hal itu.
“Ini semua karena Shim Changmin. Jika dia tidak menyarankan hal seperti ini, maka aku tetap bisa menggoda Minjae, aku bisa membuat wajah Minjae memerah, aku bisa_”
“Yak.. Minjae akan semakin benci padamu. ” Donghae langsung bersuara sebelum Kyuhyun selesai berbicara. Kyuhyun mengangkat kepalanya sejenak, lalu kembali meletakkannya diatas meja. “Kau benar.” Ucapnya lirih.
PUK
Seseorang menepuk bahu Kyuhyun. Mau tidak mau dia mendongakkan kepalanya, dan harus melihat sabahatnya yang lain –Shim Changmin– berdiri didepannya.
“Rencanaku berhasil, kawan” ucapnya. Kyuhyun mendengus mendengarkan ucapan Changmin. Berhasil apanya? Minjae tidak menunjukkan tanda apapun, pikir Kyuhyun.
“Minjae sepertinya sudah kebosanan menjalani hidupnya tanpa sosok Cho Kyuhyun. Kesehariannya hanya meletakkan kepalanya diatas meja. Dan ada suatu hal yang lebih mengejutkan, kalian mau dengar?”
“Tidak”
“YA”
Jawaban Donghae dan Kyuhyun tidak kompak. Donghae menjawab ‘tidak’, lain halnya dengan Kyuhyun yang menjawab ‘ya’ dengan begitu antusias dan semangat yang menggebu.
“Ceritakan cepat !” ucap Kyuhyun seperti mendapatkan energi penuh, langsung duduk tegak sambil menopangkan dagu di kedua tangannya. Tidak lupa dengan mengedip-kedip kan matanya.
“Eww.. kau menjijikkan, Kyu”
“Jadi begini…
Flashback begin
“Minjae-ah, jika kau memang mencintai Cho Kyuhyun katakanlah. Jangan hanya memendam seperti ini.” Ucap Hani sambil memainkan ujung rambut Minjae.
“Sudah berapa kali kubilang, aku tidak mencintainya Hani-ya”
Minah memajukan kepalanya tepat didepan wajah Minjae sambil menyipitkan matanya. “Kau bisa berbohong pada kami, tapi tidak dengan dirimu sendiri Minjae sayang. Mungkin kau berkata bahwa kau tidak mencintainya, tapi sorot mata dan hatimu mengatakan lain. Kau bahkan sering uring-uringan akhir-akhir ini dan mengucapkan ‘aku bosan’, tidak biasanya kau merasa bosan. Ini semua pasti karena tidak ada Cho Kyuhyun yang selalu mengganggumu.”
Minjae terdiam, benarkah dirinya memang terlihat seperti itu? Tanyanya pada diri sendiri. Dia memang merasa senang karena Kyuhyun tidak mengganggunya lagi, tapi di sisi lain dia juga merasakan kebosanan, kehilangan, dan merindukan?
“Apa yang kau rasakan ketika berada didekat Kyuhyun?” kini giliran Hani yang bertanya.
Jantungnya memang selalu berdebar dengan cepat jika Kyuhyun berada disekitarnya. Tapi bisakah hal tersebut dikategorikan bahwa dia mencintainya?
“Entahah, mungkin jantungku akan berdebar dengan cepat.” Aku Minjae.
“Itu tandanya kau mencintainya, Sayang” ucap Hani. Minjae mengeluarkan tatapan tidak terima.
“Yak, dari mana kau mendapatkan teori jika jantung berdebar maka dikatakan mencintai? Lalu jika jantungku berdebar karena Kim Seonsaengnim, maka aku mencintainya? Yang benar saja.”
Minah dan Hani menggelengkan kepalanya. Sepertinya teman yang selalu mendapatkan julukan princess ini mempunyai sedikit masalah.
“Baiklah, abaikan teoriku. Kau pernah jatuh cinta?” tanya Hani kembali
“Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja pernah.”
Minah dan Hani membulatkan matanya tidak percaya. “Dengan siapa?” tanya mereka bersamaan.
“Dengan Appa, Eomma kandungku, dan Eomma tiriku.”
Lagi-lagi Minah dan Hani menggelengkan kepalanya. Benar dugaannya bahwa Minjae mempunyai masalah, tepatnya pada indra perasanya. Bukan lidah, tetapi hati.
“Bagaimana dengan ciuman?”kini giliran Minah yang bertanya
“M..mwo? apa maksudmu?” Minjae gugup ditanya perihal ciuman. Sejauh ini tidak ada teman Minjae yang tahu tentang ciumannya dengan Kyuhyun.
“Kalian sudah pernah berciuman?”
“Belum pernah,” ucap Minjae cepat. Hanya mengecup singkat. Mungkin bisa jadi hanya saling menempelkan bibir. Tidak berlebihan seperti yang ada pada film-film yang ia tonton. Tidak sampai mengeluarkan lidah, melumat atau menyesap satu sama lain. Bisakah hal tersebut dikatakan ciuman?
“Dia bohong,” ucap Hani pada Minah. “Changmin bilang, Kyuhyun sudah pernah menciumnya.”
Minjae terkejut sekaligus malu. Dia berharap agar mukanya tidak memerah saat ini. Tapi sepertinya harapannya tidak terkabul.
“Wajahmu memerah Minjae-ah. Jadi benarkah kalian sudah berciuman?”
Dengan sangat terpaksa Minaje menganggukkan kepala. Percuma jika dia berbohong, pasti akan ketahuan juga karena dia memang tidak pandai berbohong. Kini Minjae sudah pasrah dengan apa yang akan dilakukan temannya selanjutnya.
“Kyuhyun sudah minta maaf perihal buku tugasmu yang disembunyikan?” tanya Minah yang dibalas anggukan oleh Minjae.
“Kau sudah memaafkannya?” lanjutnya.
“Aku sudah memaafkannya. Hanya saja aku belum mengatakan padanya.”
“BAGUS” teriak Minah bersemangat. “Pulang sekolah nanti, kau mengatakan padanya bahwa kau sudah memaafkan kesalahannya tempo hari.”
Minjae mengangguk. “Jangan buat Kyuhyun berpaling dan mencintai wanita lain hanya karena kau selalu mengacuhkannya,” Hani menambahkan.
DEG
Hati Minjae berdebar kencang. Kyuhyun mencintai wanita lain? Selama ini Minjae tidak pernah berpikir sejauh itu. Dan dia baru menyadari bahwa hal tersebut tentu saja bisa terjadi. Tidak! Dia diak mau jika hal tersebut terjadi. Kyuhyun hanya mencintainya. Terdengar egois memang, tapi entah mengapa perasaannya tidak terima jika Kyuhyun sampai mencintai wanita lain selain dirinya.
Flashback end.
… begitulah ceritanya. Kau tunggu saja pulang sekolah nanti. Aku pergi dulu” Ucap Changmin sebelum dia bangkit dari kursi dan berjalan keluar kelas menuju kelasnya. Kyuhyun mengeluarkan senyum miring. Sepertinya akan ada shock terapy untuk Minjae kembali pulang sekolah nanti. Kyuhyun mengeluarkan ponselnya dari dalam saku, lalu menghubungi seseorang.
“Aku butuh bantuanmu. Siang nanti datanglah ke sekolahku. Gomawo.” ucapnya dengan seseorang di sambungan telepon.
***
Minjae benar-benar melakukan apa yang dikatakan teman-temannya. Dia menunggu Kyuhyun di depan kelas. Sesekali melirik jam yang melingkar ditangannya. Sepertinya belum ada tanda-tanda Kim Seonsaengnim untuk mengakhiri pelajaran. Akhirnya Minjae memutuskan untuk berjalan pergi dan menunggu diparkiran di depan mobil Kyuhyun.
Tadi supir Han menelepon dan mengatakan bahwa hari ini tidak bisa menjemput karena sedang sakit. Beliau menyuruh Minjae pulang bersama Kyuhyun saja.
Minjae tersenyum sambil melambaikan tangannya saat melihat Kyuhyun sedang berjalan kearahnya. Berbeda dengan Kyuhyun, dia melihat Minjae dengan pandangan datar.
“Kyuhyun-ah, hari ini Han Ahjussi sedang sakit dan tidak bisa menjemputku. Bolehkan aku pulang bersamamu?” tanya Minkjae. Kyuhyun terdiam sejenak, lalu mengangguk.
“Ah iya, untuk yang masalah tempo hari kau tidak perlu khawatir. Aku sudah memaafkanmu”
Kyuhyun mengangguk, “Gomawo,” ucapnya singkat dan datar.
Pandangannya memang terlihat datar, tapi berbeda dengan hatinya yangs aat ini sedang menari bahkan menjerit bahagia karena bisa pulang bersama Minjae terlebih Minjae sudah memaafkannya. Tapi Kyuhyun mencoba berthan agar tidak berteriak dan lompat-lompat kegirangan didepan Minae. Jika dia melakukan hal tersebut, rencananya akan gagal.
“Masuklah.” Kyuhyun membukakan pintu belakang mobilnya agar Minjae masuk. Awalnya Minjae bingung kenapa Minjae tidak duduk didepan saja. Tapi Minjae tetap menurut pada Kyuhyun.
Setelah Minjae masuk, Kyuhyun tidak langsung masuk melainkan menunggu seseorang. Hingga sepuluh menit berlalu Kyuhyun hanya berdiri sambil bersandar pada mobilnya. Minjae penasaran dengan apa yang dilakukan Kyuhyun. Dia membuka kaca mobil, lalu menyembulkan kepalanya keluar.
“Kyu, kita tidak pulang sekarang?”
“Aku sedang menunggu seseorang.” Ucapnya singkat tanpa memandang Minjae.
“Kyuhyun Oppa,” teriak seorang yeoja yang sedang berlari kearah Kyuhyun dengan mengenakan seragam sekolah lain.
Tbc
Maaf buat yang minta sequel ‘My Brother’s friend’ cerita itu enggak aku bikin sequel karena enggak ada ide sama sekali. Mungkin buat readers yang berminat bisa melanjutkan hehe, ceritanya terserah kok yang penting happy ending aja hihihi

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: