Locked You in My Heaven (Sequel Locked Out of Heaven)

0
kim jaejong Locked You in My Heaven (Sequel Locked Out of Heaven)
Title : Locked You in My Heaven (Sequel: Locked Out of Heaven)
Author: echiielicious
Rating : NC 21+, Yadong, oneshoot
Cast : *Kim Jaejoong
              *No Eun Soo (OC)
              *Lee HyukJae
           
-Eun Soo’s POV-
Apa ini aku? Gadis dengan gaun putih yang menjuntai menyentuh lantai, dengan model tube dress full payet dibagian dada. Rambut bergelombang yg terbiasa ku gerai, kini tergulung rapih dengan hiasan mahkota kecil di puncak kepalaku. 

Tanganku memegang sebuket mawar merah yang amat cantik. Sesaat kemudian seorang wanita dengan pakaian formil muncul dari balik pintu ruangan bernuansa putih ini. Aku menoleh kearahnya. Wanita itu tersenyum kemudian menghampiriku.
“Eomma~” kataku lirih.
“Kau.. Cantik sekali, Soo-yaa. Aigoo! Eomma tak pernah berpikir engkau secantik ini.”
“Jadi menurut eomma selama ini aku tidak cantik?” tanyaku sambil mengerucutkan bibirku, berpura-pura kesal.
Eomma tersenyum dengan kekehan kecilnya, ia semakin mendekatiku kemudian merapikan rambutku sedikit. Ia menatap cermin di depan kami, yang memantulkan bayangan kami berdua. Kemudian ia memeluk meraih bahuku dari belakang.
“Soo-yaa, eomma ingin bertanya padamu.”
“Geureu? Apa yang mau eomma tanyakan?”
“Pria itu… Kim Jaejoong-ssi, apa dia mencintaimu?”
Pertanyaan eomma membuatku tercekat. Sesungguhnya hingga saat ini aku tak tahu perasaan Kim Jaejoong-ssi. Sesekali dia hanya mengatakan dia membutuhkan aku, apa itu berarti dia mencintaiku? Molla~ aku juga bingung dengan perasaan ini. Tapi aku tak ingin membuat eomma khawatir, sepertinya sedikit kebohongan tidak masalah. Mianhae eomma.
“Kalau Jaejoong-ssi tak mencintaiku, kenapa dia bersikeras menikahiku eomma? Aigoo! Pertanyaan eomma aneh.” Jeongmal mianhae eomma. Aku berbohong.
Kulihat sudut bibirnya tertarik, menyimpulkan sebuah senyum. Ia mengecup puncak kepalaku sesaat. 
“Jja! Eomma keluar dulu. Kau siapkan mentalmu, karena beberapa menit lagi namamu akan berubah.”
“Ne~” sahutku pelan. Kemudian ku lihat eomma menjauh dariku, hingga lenyap dibalik pintu. 
Kuhembuskan nafasku berat. Eotohkke?  Aku berbohong pada eomma-ku sendiri. Bahkan pada diriku sendiri. 
Aku beranjak dari kursi beludru ini, meraih ponselku di atas meja rias. Dari bangun tidur, hingga sekarang aku belum menyentuh ponselku. 
Deg! Hatiku terenyuh, seperti ada yang meremas jantungku. 
9 Missed Call
LEE HYUKJAE
Jariku bergetar. Seakan tak percaya dengan apa yang kulihat. Bodohnya aku menggerakkan jempolku, menekan tombol hijau di ponselku. Kudekatkan speaker ponsel ke telingaku. 
Apa yang sebenarnya aku lakukan?
“Yeobseo~” Suara di seberang sana begitu menyayat hatiku. Mengiris-ngiris perasaanku. Hingga  kurasakan tenggorokanku kering seolah tak mampu menjawab.
“Eun Soo-yaa. ” Suara itu memanggil namaku. “Eun Soo-yaa, aku yakin kau mendengarku. Kembalilah padaku, batalkan pernikahan konyol itu. Aku yakin kau tak mencintai pria itu. Kita mulai semua dari awal, kita perbaiki semuanya.”
Lee Hyukjae bodoh! Kenapa kau memberiku penawaran disaat seperti ini? Kemana saja kau seminggu ini? 
“Eun Soo-yaa, jebaal.. ” pintanya meski aku tak bersuara sedikitpun.
Aku  sungguh tak mampu mengeluarkan suara. Yang kurasakan hanya mataku yang semakin memanas, kumpulan air terasa memenuhi mataku hingga tak sanggup terbendung lagi. Akhirnya, air mata ini menetes di pipiku.
Dadaku terasa bergemuruh, hatiku serasa ingin mencelot keluar. Oksigen yang kuhirup seakan mulai menciut, hingga membuatku sulit bernafas. 
Dengan cepat aku menekan tombol merah, aku menatap diriku di cermin. Kuputuskan untuk beranjak dari tempatku, aku bergegas menuju pintu ruangan pengantin ini.
———
4 months later….
-Author’s POV-
Bocah lelaki itu duduk di depan meja makan. Sedangkan mulutnya asyik mengunyah roti isi sarapannya. Ia menatap wanita yang sedang mengoleskan selai coklat di hadapannya. 
“Eomma~” kata bocah itu.
“Ne~” sahut wanita itu tanpa menghentikan aktivitasnya.
“Aku juga mau roti isi selai kacang.”
“Shireo~ Kau  kan dilarang dokter Han memakan  kacang untuk sementara. Tunggu sampai perutmu membaik, nanti eomma akan membelikan kau kacang panggang. Arraso?”
“Neee~” Bocah lelaki itu melanjutkan aktivitasnya, mengunyah potongan roti isi selai stroberinya. 
Beberapa menit kemudian bocah kecil itu beranjak dari bangkunya . Ia meraih tasnya yang ada disisinya. 
“Eomma~ aku mau berangkat sekolah.”
“Chakkaman.” Wanita itu ikut beranjak dari kursinya, kemudian menghampiri wanita paruh baya yang sedang mengaduk-ngaduk isi panci di atas kompor.
“Ahjumma, kau antar Garry, biar aku yang menyiapkan sarapan Jaejoong-ssi.”
“Baik, nyonya.” 
Song Ahjumma yang mengantar jemput Garry sekolah, ia telah mengabdi pada keluarga Kim selama 6 tahun. Hingga 5 tahun yang lalu dia ikut bersama Kim Jaejoong dan keluarga kecilnya. Bahkan saat Garry masih bayi, dia yang membantu Ji Yool mengurus.
“Anyeong, eomma” kata Garry kemudian mengecup pipi Eun Soo.
———
-Eun Soo’s POV-
“Jja!” aku letakkan sendok di atas baki yang berisi semangkuk nasi dan semangkuk sup  jagung. Ku angkat baki itu lalu ku berjalan ke arah pintu kamar yang berada berhadapan dengan ruang televisi. 
Ku dorong pintu putih yang sedikit terbuka itu dengan kaki kananku. Ku lihat seorang pria tengah membolak balik kertas putih yang penuh dengan susunan angka-angka.
Pria itu menyadari kehadiranku, ia hanya menoleh sesaat kemudian lebih memilih fokus pada kertas-kertas yang sama sekali tak seksi itu.
“Sarapan dulu,” kataku sambil meletakkan baki yang kubawa ke atas meja kecil yang ada disamping ranjang.
“Ne~ aku akan memakannya nanti.”
“Yak! Kim Jaejoong-ssi, kau sedang sakit, masih saja mengurus pekerjaanmu,” omelku. Tapi pria gila kerja ini sama sekali tak menghiraukanku.
Membuat aku tak sabar saja, gumanku. Ku tarik semua kertas-kertas yang berada di tangannya. Ku rapihkan beberapa yg berceceran di kasur. Kemudian ku letakkan semuanya di atas meja.
“Yak! Apa yang kau lakukan?” protesnya. Aku tak menghiraukannya, hitung-hitung membalas perbuatannya tadi.
Ku ambil baki yang ada di atas meja kemudian ku tempatkan tepat di depan Kim Jaejoong. “Kalau kau tak mau makan, ku bakar semua kertas-kertas itu.” Ancamku.
Ia tersenyum simpul kemudian terkekeh sesaat. “Semakin lama kau semakin mirip eomma.”
“Ne~ biarkan saja,” jawabku kesal. Lagi-lagi pria ini hanya terkekeh pelan. Ia mulai menyantap masakan yang ku bawakan untuknya, tanpa menghiraukan bibirku yang masih mengerucut karenanya.
Dasar nappeun namja! Kenapa aku mau menikah dengan si gunung es ini? Aigoo~ nasi sudah menjadi bubur, Eun Soo, kau tak bisa melangkah mundur lagi. Bisa-bisa kau menyakiti perasaan banyak orang nantinya.
Aku memperhatikannya tengah menyantap sup jagung tanpa menoleh sedikitpun padaku. Aigoo~ tapi kuakui pria ini sangat tampan. Bahunya kekar. Dan abs-nya yang seksi itu selalu berhasil menggodaku. 
Kalau dia sudah merengkuhku, aku bersumpah demi apapun aku tak akan bisa berkutik lagi. Seolah semua syarafku lumpuh, dan pikiranku terhipnotis dengan feromonnya. 
Bukan masalah itu saja, ciumannya, ciumannya mampu memanipulasiku. Sentuhan lembutnya, bisa membuat perutku serasa dipenuhi kupu-kupu yang berterbangan, apalagi saat mata teduhnya menangkap bola mataku, rasanya seperti tak ada lagi pria di dunia ini selain dirinya.
Kuakui pria ini mampu mengubah takdirku, bahkan mengubah perasaanku dalam sekejap. Kim Jaejoong-ssi, apa doaku sebelum pernikahan kita sudah dikabulkan Tuhan?
—————
Kulirik jam dinding di ruang televisi menunjukkan pukul 11 siang. Apartemen besar ini terasa sepi, apalagi kalau Garry sudah berangkat sekolah. Biasanya jam segini aku hanya duduk-duduk manis di depan tivi, seperti saat ini juga. Meskipun Jaejoong-ssi sedang ada di rumah, sepertinya tak berpengaruh banyak untukku . Memang kondisinya sedang tidak baik, sejak kemarin lusa dia tidak masuk kerja karena demam musim panasnya. Aigoo~ seperti bocah kecil saja. Jadi dia menghabiskan waktunya hanya di kamar. Bukan untuk istirahat, dia malah sibuk memeriksa berkas-berkas yang dibawanya dari kantor. Atau mengecek email melalui iPad-nya. Kupikir dulu dia seorang Pangeran Es ternyata dia seorang gila kerja juga.
“Eun Soo.” Suara orang yang sedang kupikirkan memanggilku. Ia muncul dari pintu kamar kami. Hanya mengenakan celana piyama dan kaus putih, serta rambutnya yang sedikit berantakan. Wajahnya masih pucat, namun aku yakin demamnya sudah turun.
“Wae?” tanyaku malas-malasan. Dia menyusulku duduk di atas sofa. 
“Aku haus,” katanya pelan. 
“Chakkaman, aku ambilkan air.” Aku beranjak dari dudukku, tapi baru saja akan melangkah, ia menahan pergelangan tanganku.
————-
-Kim Jaejoong’s POV-
Aku membuka mataku perlahan, kulirik sebentar jam di dinding kamar. Ternyata aku tertidur setelah tadi Eun Soo memberikan aku obat setelah sarapan. 
Sepi. 
Aku memutuskan beranjak dari kasurku, kubuka pintu kamar dan aku menemukan seorang wanita yang sedang menatap layar televisi. Meskipun begitu, orang bodohpun tahu pikirannya tidak terfokus di acara televisi yang ia tonton. 
Lagi-lagi dia tak menyadari seseorang memperhatikannya. Akan tetapi lebih baik seperti ini, jadi aku bisa menikmati pemandangan ini sepuasku. 
Wajah mungilnya tersiluet dari samping, menunjukkan kepolosan sekaligus pesonanya. Ternyata dia cukup cantik. Melihatnya seperti ini jujur membuatku agak sedikit bergetar. Aku memang belum bisa memastikan apa aku sudah mencintai dia sepenuhnya, yang aku yakini aku membutuhkannya. Dia memiliki sesuatu yang tidak bisa kudapatkan dari wanita lain, termasuk dari Ji Yool. Mianhae Yool-ah, tapi aku harus mengakuinya. Aku tak mau berbohong pada diriku sendiri.
“Eun Soo,” kataku, ternyata lumayan membuatnya terkaget.
“Wae?” tanyanya lemah, sambil menatapku dengan mata sayunya. 
Aku berjalan menghampirinya kemudian ikut duduk disampingnya.
“Aku haus.”
Sebenarnya bukan itu yang ingin aku katakan.
“Chakkaman, aku ambilkan air.” 
Ia beranjak dari duduknya. Aish~ wanita bodoh, bukan itu yang aku maksudkan. Ku tahan pergelangan tangannya sebelum ia jauh melangkah.
“Shireo~ aku tak butuh air,” kataku lemah. 
“Mwo?”
Wajahnya yang sama sekali tak mengerti itu sungguh membuatku ingin merengkuhnya. Apa-apaan wanita ini, dengan menatap wajahnya saja aku selalu ingin mendapatkan tubuhnya. 
Kutarik tubuhnya hingga ia terjatuh ke atas sofa. Dengan tubuhku ku kunci dia dalam dekapanku. Ku tatap wajahnya yang mulai memerah.
“K-kau kenapa?” tanyanya.
—————
-Author’s POV-
“K-kau kenapa?” tanya Eun Soo. Jelas dia bingung dengan sikap suaminya yang tiba-tiba bertingkah seperti ini. 
“Aniyo~” Kim Jaejoong mengangkat tubuhnya, membopongnya ke arah kamar mereka.
Tak perlu waktu lama Kim Jaejoong meletakkan tubuh ramping Eun Soo di atas kasur ber-sprei putih. 
Tanpa persetujuan Eun Soo, Kim Jaejoong mulai mencium bibir mungil Eun Soo. Ciuman yang lembut diawalnya, hingga menjadi ciuman yang menuntut. 
Eun Soo yang awalnya sempat bingung dengan sikap suaminya malah ikut terhanyut dengan setiap gerakan bibir Kim Jaejoong di bibirnya. 
“Hmmffh..” Eun Soo mulai bersuara. “Kauh ma-sih sakit, Kim Jaejoong-ssih” protes Eun Soo dalam ciumannya. 
Namun sepertinya Kim Jaejoong tak memperdulikan ocehan Eun Soo. Ia terus menciumi wanita itu, melesakkan lidahnya ke dalam mulut Eun Soo dan mulai menggerayangi tubuh wanita itu. 
“Nggghhhh…” desah Eun Soo saat tangan Kim Jaejoong berhasil menggerayangi dadanya. 
Perlahan Kim Jaejoong membuka loose shirt yang dikenakan Eun Soo. Ia tak menghentikan ciumannya, bahkan tangannya semakin intens memainkan nipple Eun Soo. Membuat wanita itu mengerang kenikmatan.
“Aku tau kau menyukainya,” goda Kim Jaejoong tepat di telinga Eun Soo, spontan membuat wajah wanita itu memanas.
———
-Eun Soo’s POV-
Ia menyesap bibirku, melahapnya penuh dengan kenafsuan. Entah kenapa tiba-tiba ia seperti ini. Padahal kondisi badannya belum pulih benar.
Tapi aku menyukainya, saat lidahnya memasuki mulutku menuntut ciuman yang lebih dalam.
Aku mengerang lagi-lagi ketika tangannya sibuk memainkan nipple-ku. “Aaaakkh~”
Dia beralih dari bibirku, menyesap setiap inchi kulit leherku. Kemudian beralih ke telingaku, menjilatinya dengan erotis. Aku… Aku benar-benar terbuai pada setiap sentuhan yang ia berikan. 
“Aaaahhh~” desahanku tak dapat ku pendam lagi. Ia meloloskan hotpants yang kukenakan dengan mudah. Hingga kini aku benar-benar naked dihadapannya. 
Ciuman kami terhenti. Kami saling bertatapan, aku melihat mata teduhnya seperti sedang mencari sesuatu dariku. 
“Kau tau apa yang paling kusukai darimu?” tanyanya tiba-tiba.
“Ne?”
“Desahanmu. Desahanmu begitu indah di telingaku,” katanya. Ia melanjutkan ciumannya, kembali melahap bibirku sesuka hatinya.
Ia melepaskan pakaiannya, kemudian kembali menjamah tubuhku. Ku kalungkan tanganku kelehernya. Ku nikmati setiap sentuhan yang dia berikan.
Sungguh, aku menyukainya. Hembusan nafasnya terasa di kulitku membuat tubuhku bergerak tak sabar ingin segera miliknya memasuki tubuhku. 
Entah sejak kapan aku menggilai seks seperti ini. Seks dengan seorang pria bernama Kim Jaejoong. Dia selalu berhasil menaklukkan diriku.
“Aaaaakkkh~” Akhirnya miliknya memasuki tubuhku. Aku merasakannya. Ini sangat nikmat, gumanku.
“Aaaakkh~ aaaahhh…ssssshh” Kim Jaejoong menggerakkan juniornya. Ia memaju mundurkannya, mengaduk-aduk isi tubuhku dengan miliknya. 
Aku gila. Sungguh gila. Kim Jaejoong kau berhasil membuatku gila. 
“Ssssshhhh… Aah! Aah! Aaah!” Aku meracau semakin tak jelas saat Kim Jaejoong mempercepat gerakannya. 
“Oooohhh! Oooohh”Pria ini ikut mendesah. Dan tak bisa kupingkiri desahannya ikut membuatku semakin terlena. 
Kami berdua saling menggerakkan tubuh kami. Berlomba-lomba mencari klimaks yang ingin kami dapatkan. 
Semakin cepat Kim Jaejoong menghujamku dengan kenikmatannya, dia menggerakkan juniornya dengan cepat, lebih cepat dan lebih cepat.
Rasanya ada yang ingin keluar dari tubuhku merasakan setiap gerakan yang diberikan pria ini pada tubuhku.
“Oooohh.. Jaejoong-ssi… Aaaahhh~ Aahh!” 
“Teruskan sayang, teruskan desahanmu.”
“Oooooouhh! Aaaahh! Aaaahh!”
Kurasakan hujaman junior Jaejoong-ssi semakin terasa di rahimku. Peluhnya mulai menetes, padahal AC di kamar ini menyala. 
Hingga akhirnya kurasakan junior Jaejoong-ssi berkedut di vaginaku. Ia masih tetap menggerakkannya, membuat vaginaku kuat menjepit juniornya.
“Aaaaakkkkhh!” Kami mengerang bersamaan. Kurasakan cairan hangat mengalir dalam tubuhku.
Kami saling mengatur nafas masing-masing. Mata teduhnya menatapku, membuatku merasa nyaman. Kemudian ia mengecup keningku.
“Saranghae, Eun Soo-yaa”
Deg! Jantungku serasa berhenti berdetak untuk sepersekian sekon. Mataku membulat. Tak percaya dengan apa yang aku dengar barusan dari mulutnya. 
‘Saranghae’ katanya, masih terngiang di telingaku. 
“Mwo?” Aku masih bertanya-tanya, tapi pria ini hanya menyunggingkan senyum kecilnya. Ia beranjak dari ranjang kemudian masuk kedalam kamar mandi.
Aiiisssh~ apa-apaan pria itu? Mengucapkan kata cinta tanpa memberikan penjelasan apapun. Benar-benar tak bisa ditebak jalan pikirannya. Kalau begini terus aku bisa semakin bodoh menghadapinya.
—————
-Author’s POV-
Eun Soo menekan tombol off pada remote televisinya. Ia melirik jam dinding.
“Omo! Sudah jam 1 malam,” serunya terkaget. Saking menikmati dvd film yang ia tonton, ia sampai melupakan waktu. 
Ia melangkahkan kakinya menuju sebuah pintu berwarna cokelat. Ia membuka pintu itu, kemudian menemukan seorang bocah kecil tengah terlelap seraya memeluk gulingnya yang bermotif  garis berwarna-warni.
Eun Soo tersenyum menatap Garry yang tertidur. Anak ini memang bukan darah dagingnya, tapi Eun Soo sangat menyayanginya. Dan yang perlu Eun Soo ingat, bocah inilah yang bisa membuat hidup Eun Soo layaknya seorang Cinderella. Bisa dibilang Garry adalah peri kecilnya.
Eun Soo kembali menutup pintu kamar Garry. Ia berpindah menuju pintu kamarnya sendiri. Begitu membukanya, ia mendapatkan Kim Jaejoong pun sudah terlelap. 
Tubuh rampingnya berjalan menuju ranjang, namun ia memutuskan duduk di sisi ranjang tepat Kim Jaejoong tertidur. 
Suasana kamar yang redup, hanya disinari oleh cahaya bulan yang menembus gorden tipis kamar membuat Eun Soo dapat melihat wajah Kim Jaejoong yang terlelap dengan jelas.
Bintik-bintik air di dahi Kim Jaejoong, serta ekspresi wajah yang tak nyaman membuat Eun Soo sedikit khawatir.
“Jaejoong-ssi, apa kau demam lagi?” tanya Eun Soo pelan, sangat pelan. Meskipun begitu perasaannya amat khawatir.
Ia menatap ekspresi wajah Kim Jaejoong seolah tak tenang dalam tidurnya. Malah pria itu mulai menggerakkan kepalanya kekiri dan kekanan dengan matanya yang tertutup.
“Jaejoong-ssi” Eun Soo semakin khawatir melihat keadaan suaminya. “Jaejoong-ssi, kau baik-baik saja?” tanya Eun Soo lalu menempelkan tangannya ke dahi Kim Jaejoong.
Belum lama Eun Soo menempelkan telapak tangannya, ia terkejut karena Kim Jaejoong meraihnya.
“Shireo..” Kim Jaejoong mengigau pelan.
“Jaejoong-ssi.” Eun Soo semakin khawatir.
“Gajima!”Kim Jaejoong semakin mengigau tak jelas membuat Eun Soo tak mengerti.
“Gajima, Ji Yool-ah!!” 
Eun Soo tersentak karena tiba-tiba Kim Jaejoong bangkit dari tidurnya, sekaligus terenyuh hatinya mendengar nama wanita yang pernah mengisi hari-hari Kim Jaejoong. 
“Eun Soo-ya,” kata Kim Jaejoong lemah, ia masih sibuk mengatur nafasnya. Wajahnya agak lembab akibat keringat mimpi buruknya. 
Ia menatap wanita di depannya, ada perasaan bersalah karena ia menyadari telah membuat sedikit kesalahan di hadapan wanita ini.
“Eun Soo-ya, aku hanya…”
“Kau bermimpi buruk, Jaejoong-ssi. Lebih baik kau tidur kembali,” Eun Soo merebahkan tubuh Kim Jaejoong. Ia menarik selimut untuk menutupi tubuh pria itu.
Sedangkan Kim Jaejoong hanya menatap Eun Soo dengan perasaan yang tak menentu. Ia menatap Eun Soo yang berbaring di sisinya. Wanita itu tidur dengan posisi membelakangi dirinya.
Sekarang ia benar-benar tak tahu apa yang sedang dirasakan wanita itu. Hanya punggungnya dan rambut panjangnya yang terlihat oleh Kim Jaejoong. 
———–
-Eun Soo’s POV-
Sudah hampir seminggu ini aku jarang berbicara dengan Kim Jaejoong-ssi. Ya, sejak kejadian mimpi itu ada perasaan yang mengganjal di hatiku.
Mendengar ia menyebut nama Ji Yool dalam mimpinya itu jelas mengaduk-aduk perasaanku. 
“Eomma.” Garry memanggilku.
Aku menolehkan wajahku padanya yang sudah berada di sisi tepat aku duduk.
“Eomma, aku berangkat.”
Aku tersenyum kepadanya seraya mengangguk. Garry berjinjit sesaat kemudian mengecup pipiku singkat.
“Anyeong, eomma.”
“Ne~ belajar yang baik, Garry-yaa. Jangan nakal di sekolah. Arraso?”
“Ne~ arachi,” katanya tersenyum memamerkan deretan giginya.
Kemudian Song Ahjumma mengandengnya, mengantarnya ke sekolah. Aku memperhatikan mereka hingga mereka hilang dibalik pintu depan.
Aku menghela nafas pelan. Lagi-lagi sepi. 
“Eun Soo-yaa.” Suara Jaejoong-ssi membuatku terkejut. Aku menoleh padanya.
“Aku berangkat,” katanya datar kemudian berlalu melewatiku.
Blamm~
Pintu ruang depan tertutup. Kini aku benar-benar sendiri. 
Aiiish~ pria nappeun itu benar-benar membuatku jengkel. Dia sama sekali tak membahas kenapa aku seperti ini. Dia hanya bersikap biasa saja. 
Pria macam apa itu? Kau bilang padaku mencintaiku, tapi mengapa kau begitu, Jaejoong-ssi? 
Aku mendengus pelan. Kemudian tertuduk lemah. Aku menuju sofa di ruang tivi, melewati sebuah rak pajangan yang tergantung di dinding. 
Langkahku berhenti tepat di depan sebuah pigura foto. Di dalam foto itu ada Jaejoong-ssi yang sedang menggendong Garry yg masih berusia 1 tahun, disisinya tentu saja Ji Yool. Foto yang berlatar belakang menara Eiffel itu menjadi saksi kebahagiaan keluarga kecil ini. 
Jelas sekali ekspresi wajah Jaejoong-ssi amat bahagia, karena ada Ji Yool dan Garry disisinya. 
“Wae?” gumanku pelan. “Kenapa aku seperti ini? Kenapa perasaanku teraduk-aduk seperti ini?”
Sampai kapanpun aku tak akan pernah bisa menggantikan posisi Ji Yool di hati Jaejoong-ssi. Kenangan mereka terlalu banyak, bahkan mungkin saja Ji Yool adalah cinta pertama Jaejoong-ssi. 
“Ada apa dengan aku ini?” Kenapa akhir-akhir ini aku sering memikirkan hal ini?
Masalahnya sudah beberapa kali aku mendapati Jaejoong-ssi menyebut nama Ji Yool di mimpinya. Apalagi saat ia sakit beberapa hari yang lalu. Hampir setiap malam Jaejoong-ssi memanggil nama Ji Yool. Dan puncaknya aku harus melihat sendiri wajah Jaejoong-ssi yang masih sangat membutuhkan Ji Yool. 
Aku meraba foto itu sejenak. “Eonni, mianhae.. Sepertinya, aku cemburu padamu.”
————
-Magical’s Salon & Bridal-
“Anyeooooonggg~” seruku dan Garry bersamaan ketika kami memasuki salon tempat dulu aku menggantungkan hidupku.
Kulihat Tae Yoon sedang melayani customer, dan Ha Na eonni seperti biasa duduk di singgasananya, kursi kasir. 
“Anyeoong!” sahut mereka. Begitu melihatku Ha Na eonni beranjak menghampiriku. 
“Yak! Soo-ya, bogoshippoo~” Ha Na eonni memelukku kegirangan. Kulihat Tae Yoon sepertinya juga ingin memelukku, tapi sepertinya tidak mungkin ia meninggalkan customernya.
“Nado, eonni,” kataku. Aku juga rindu pada kalian. 
Ha Na eonni menoleh pada Garry yang daritadi menyengir lebar.
“Garry-yaa, kau mau memiliki eomma-mu sendiri? Kau tau eomma barumu tak pernah mengunjungiku sejak dia menikah dengan appa-mu yang super tampan itu.”
“Eonni, bukan seperti itu.”
“Haaiissh~ kau ingin menjadi ibu rumah tangga yang baik? Sepanjang hari mengurus anak dan suami. Cih!” Ha Na eonni berdecak pura-pura kesal. Aku tersenyum melihat tingkahnya.
“Ha Na-ssi” Garry membuka suaranya. “Eomma tidak bisa jauh dari appa, dia sangat menyukai appa,”
Aku tercekat mendengar perkataan Garry. Dadaku bergemuruh. Haiish! Bocah ini benar-benar menyebalkan seperti ayahnya. Bagaimana bisa dia bicara sejujur ini pada Ha Na eonni. Membuat wajahku memanas saja.
“Aa~ ani. Ani. B-bukan be..”
“Haiiish! Dasar yeoja pabo!” Ha na eonni mengetuk kepalaku.
“Auuw! Appo eonni! Kenapa kau memukulku?” protesku kesal sambil menggosok-gosok kepalaku.
“Dasar yeoja pabo!” , “Yak! Sekarang kau malah tergila-gila dengan Kim Jaejoong-ssi. Haish! padahal dulu kau tahu pasti, kau menolaknya demi si Hyukjae brengsek itu.”
“Eonni…” Aku melirik ke arah Garry. Dia masih dengan cengiran lebarnya. Aigoo! Bocah nakal. Aku menunduk lemas.
“Eo, Garry-ya, kau mau es krim?” tanya Ha Na eonni. 
“Neeee~ aku mau,” seru Garry kegirangan. 
“Arraso. Aku juga mau.” Ha Na eonni melirikku, aku yang tak mengerti hanya menatapnya keheranan.
“Wae?” tanyaku heran.
“Yak! Anakmu ingin makan es krim, kenapa kau tak membelikannya?”
“Eonni! Tadi kau yang menawarkan padanya.”
“Haissh! Tapi kau eomma-nya. Eun Soo-yaa, kau masih ingat kan toko es krim tidak jauh dari sini, hanya beberapa blok saja.”
“Haish! Eonni! Kau benar-benar…” aku menatapnya kesal, tapi wanita ini hanya terkekeh geli kemudian menggandeng Garry menuju sofa.
“Arra! Arra! Aku akan membelinya.” Aku merungut kesal kemudian membalikkan badanku.
“Soo-yaa, aku rasa mocca, ne?” kata Ha na eonni sebelum aku membuka pintu.
“Aku rasa cokelat, eomma.” Sekarang giliran Garry.
“Eun Soo, aku rasa vanilla.” Apa-apaan ini Tae Yoon juga ikut-ikutan. Aigoo! Benar-benar kalian menyebalkan! 
———–
Apa -apaan mereka ini. Menyuruhku membeli es krim sendirian seperti ini. Aaaah~ tujuan aku main ke salon sebenarnya untuk merefresh otakku yang beberapa hari ini keruh karena ulah Kim Jaejoong-ssi. Aku sengaja mengajak Garry. Biar saja Si Gunung Es kesepian. Aku sengaja tak membangunkannya, memang setiap weekend dia selalu bangun siang. 
Aku terkekeh pelan, membayangkan ekspresi si Tuan Kim itu. Pasti dia akan jengkel bangun tidur tak menemukan siapapun. Hehehehe.. Bahkan Song Ahjumma pun libur bekerja hari ini.
Sudah lama tak berjalan di pinggiran jalan seperti ini. Sepanjang jalan berdiri pertokoan yang sangat ramai pengunjung. Aku memperhatikan sekitar, menatap orang-orang yang berlalu lalang. Tak jauh dari tempatku berdiri sudah terlihat toko es krim yang ku tuju.
“Anyeonghaseyo~” sambut si pelayan toko.
“Anyeong~” jawabku ramah. “Aku mau rasa cokelat 1, mocca 1, vanilla 1 dan..”Aku melirik ke arah etalase yang menampilkan bermacam-macam rasa es krim. Semuanya terlihat menarik. “Aaa~ green tea 1.”
“Ne~ chamkkanman-yo.” Pelayan toko tersebut mulai membuat pesananku.
Aku menunggu pesananku sambil melihat-lihat isi toko es krim. Sudah lama juga aku tak kesini. 
Aku menatap meja yang ada dipojokan toko. Meja menghadap ke jalanan. Dulu, aku sering menikmati es krim-ku disana. Dan bayangan pria itu tiba-tiba terproyeksi disana, duduk di sebelah gadis yang sedang menikmati es krimnya dengan wajah berseri. Mereka saling bercengkrama, bercanda, dengan sekali-kali tangan pria itu mengusap puncak kepala sang gadis.
“Jeosonghabnida, agassi.” Suara pelayan itu membuyarkam semuanya. Proyeksi yang terlihat sempurna itu hilang seketika.
“Ini pesanan anda.” Pelayan itu memberikan bungkusan padaku dengan tersenyum. Aku meraihnya lalu menyerahkan beberapa won. 
“Gomawo,” kataku pelan.
“Ne~ cheonmana-yo.”
Aku tersenyum kecil pada pelayan toko, kemudian memutar tubuhku berjalan ke arah pintu keluar. 
Suara bel pintu terdengar saat aku membuka pintu toko. Aku menuruni beberapa anak tangga . Kemudian berjalan kembali ke salon. Namun, baru saja aku menuruni anak tangga terakhir, langkahku terhenti.
“Eun Soo-yaa.”
Suara itu. 
Aku menolehkan wajahku, dan mendapatkan seorang pria tengah berdiri dari arah kananku. Seorang pria yang suaranya amat ku kenal. Tak mungkin bisa kulupakan hingga sejauh ini.
Deg!
Jantungku. Jantungku serasa ingin lepas dari tempatnya. Ketika kami saling bertatapan aku merasa seperti dunia berhenti berotasi. Oksigen yang kuhirup seperti menipis membuatku sulit bernafas.
“Eun Soo-yaa” Pria itu menghampiriku yang masih berdiri kaku. Ia menatapku, mengunciku dengan bola matanya. 
Kenapa aku ini? Bahkan besuara saja pun sulit.
———–
-Kim Jaejoong’s POV-
Sepi. 
Tak biasanya hari Minggu ini  sepi seperti ini. Biasanya suara ocehan Eun Soo dan Garry terdengar dari luar kamar. 
Aku membuka mataku perlahan kemudian menggeliat pelan. Ku lirik jam yang menunjukkan pukul 1 siang. 
Aku bangkit dari ranjangku, kemudian duduk di tepian tempat tidur sebentar. Benar-benar sepi. Biasanya suara ocehan mereka terdengar sampai ke kamar. Menjerit-jerit sambil memainkan games. Tapi hari ini terasa lain. 
Ku raih sendal rumah yang ada di sisi ranjang. Ku langkahkan kakiku keluar kamar. 
Tak ada siapapun. Ku tengok ke arah kamar Garry. Dan hasilnya sama. Tak ada siapapun disana. 
“Apa mereka sedang berenang?” Aku berniat menyusul mereka. Tapi sepertinya perutku berkata tidak.
Tentu saja ini sudah jam 1, aku melewatkan waktu sarapanku dan ini jam makan siang. 
Ku berjalan menuju ruang makan yang bersebelahan dengan dapur. Sialnya aku tak menemukan apapun disana.
Meja makan kosong. Tapi ada secarik kertas diatasnya. 
‘Aku dan Garry main ke salon, hari ini kau makan ramyeun saja. Fighting!’
“Haiish! Apa-apaan dia. Istri macam apa dia? Pergi tanpa izin suaminya, juga tanpa menyiapkan makanan. Aigoo~ wanita bodoh.” 
Tapi meskipun bodoh, entah mengapa aku malah menyukainya. Aku tersenyum singkat, aku putuskan untuk menyusulnya.
————
-Author’s POV-
Sudah bermenit-menit mereka saling mematung dan memandang satu sama lain seperti ini. Tak peduli dengan tatapan orang-orang di sekitar, melewati mereka dengan tatapan aneh dan terheran-heran. 
“Apa kabar, Eun Soo-yaa?” Akhirnya Lee Hyukjae membuka suara. Dia tersenyum pada wanita di hadapannya. Ada kerinduan yang amat terdalam ketika berhasil menemukan sosok Eun Soo lagi.
Berbulan-bulan ia mencari dan menunggu kabar Eun Soo, dan sepertinya kali ini Tuhan  menjawab doa-doanya. Ia bisa menatap wajah wanita yang pernah digoreskan luka akibat ambisinya. Meskipun ia sangat tahu betul Eun Soo sudah sah dimiliki pria lain. Sah di mata Tuhan, dan sah di mata hukum.
“A-aku baik-baik saja.” Dengan sedikit gugup Eun Soo menjawab Hyukjae. Ini percakapan pertamanya dengan Hyukjae setelah dia sah menjadi istri seorang Kim Jaejoong.
Tubuh Lee Hyukjae selangkah lebih dekat dengan Eun Soo. Ia sangat paham dengan apa yang hatinya inginkan. Masihkah ada harapan untuk membawa wanita ini ke dalam hidupnya? Haruskah dia mencari tahu apa wanita ini bahagia bersama pria itu? Dan yang terpenting, masihkan wanita dihadapannya ini memiliki cinta untuknya. 
Dan entah mengapa Lee Hyukjae merasa yakin dengan persepsinya sendiri. Ia tahu betul dan sangat paham sifat Eun Soo. Kalau saja cinta untuknya masih tersimpan di hati Eun Soo, ia tak peduli dengan status istri orang, dia akan berusaha mendapatkan wanita ini kembali.
“Bogoshippo, Soo-yaa.” Lee Hyukjae tersenyum. “Jeongmal bogoshippo.”
Lutut Eun Soo melemas, namun ia berusaha untuk tetap kuat menahan tubuhnya. Matanya memanas akibat sulitnya ia menghirup udara di sekitar. Sejujurnya ia ingin mengucapkan kalimat yang sama. Hanya saja ego menahannya. Dia tak mungkin mengucapkan hal itu pada Lee Hyukjae saat ini. Mengingat saat sebelum pernikahannya, dia berjanji untuk tidak menyebut nama Lee Hyukjae lagi. Apalagi dengan statusnya kini menjadi istri orang.
“Hyukie-yaa,” Eun Soo merasa buliran air matanya akan menetes. Ia tak sanggup membendungnya, membendung perasaan sakit di hatinya.
“Eun Soo-yaa, aku tahu kau merindukanku.”Hyukjae semakin mendekati Eun Soo, ia meraih kedua bahu Eun Soo dan menatapnya lekat. 
“Katakan padaku kau masih mencintaiku, dan aku akan berusaha mendapatkan kau kembali dengan cara apapun.”
Hati Eun Soo mencelos. Ia kecewa dengan pernyataan pria ini. Kenapa tidak dia ucapkan saat dulu. Saat semuanya belum terjadi seperti ini.
Tapi tawaran pria ini sungguh menggoyahkan hatinya. Akankah dia kembali pada pria ini? Atau tetap bersama Kim Jaejoong, pria yang entah benar mencintainya atau tidak.
“Eun Soo-yaa, saranghae-yo,” kata Lee Hyukjae pelan namun membuat relung hati Eun Soo seperti ditancap sebuah belati. 
Namun tiba-tiba tubuh Eun Soo tertarik kebelakang, masuk ke dalam rengkuhan seorang pria.
————
-Magical’s Salon & Bridal-
“Yak! Jadi kau tidur di kamar yang terpisah dengan appa dan eomma-mu?” tanya Ha Na pada Garry. Tae Yoon baru saja menyelesaikan pekerjaannya, dia ikut dalam percakapan ini. 
“Ne~ aku sudah tidur terpisah dengan mereka sejak appa menikah dengan eomma.”
“Aaaa~ ne.” Ha Na mengerucutkan bibirnya sambil mengangguk-angguk.
“Garry-yaa, coba katakan pada noona, apa eomma dan appa-mu terlihat bahagia sejak menikah?” tanya Tae Yoon.
“Yoon-ah! Apa-ap..”
“Ssstt! Eonni, biarkan saja. Aku ingin tahu apa teman kita bahagia.”
Kata Tae Yoon memotong protesan Ha Na.
“Ne! Tentu saja!” seru Garry. “Aku sering melihat mereka berpelukan selagi tidur.”
“MWOOO???”Tae Yoon dan Ha Na terkejut bersamaan.
“Haish~ yeoja itu benar-benar..” desis Ha Na. 
“Kadang aku bangun lebih pagi dari eomma dan appa, ketika aku menyusul mereka ke kamar, appa masih tertidur dengan memeluk eomma.” Garry menyengir lebar. “Pasti mereka bahagia.”
Ha Na dan Tae Yoon saling berpandangan mendengar cerita Garry. Mereka menatap Garry yang menoleh ke arah mereka dengan bibir tersungging lebar. 
“Eun Soo, kau sungguh beruntung,” guman Ha Na tertunduk lesu. 
Suara pintu terbuka mengagetkan Ha Na dan Tae Yoon. Mereka berbarengan beranjak dari tempat masing-masing.
“Anyeonghase-yo!”
Mereka sempat membulatkan matanya melihat siapa yang datang. “Kim Jaejoong-ssi.” Tae Yoon berkata lemah.
“Appaaaaa~” Garry menghampiri ayahnya. 
Kim Jaejoong tersenyum pada Garry, ia membungkuk pada Ha Na dan Tae Yoon. “Anyeonghase-yo” katanya ramah dengan senyuman mautnya.
“Kemana eomma-mu?” tanya pria tampan itu. Meskipun hanya mengenakan celana jeans dan kaos hijau army berkerah V, tetap saja pesonanya tak memudar.
“Eomma sedang membelikanku es krim.”
“Eodisseo?”
“Molla~” Garry mengendikkan bahunya.
“Aa~ toko es krimnya hanya beberapa blok dari sini,” Ha Na membantu menjelaskan.
Kim Jaejoong mengangguk. “Geurae, aku akan menyusulnya. Garry-yaa, kau tunggu sebentar. Arasso?”
“Ne! Arasso, appa.” Kim Jaejoong tersenyum kemudian mengusap puncak kepala Garry sebelum pergi.
————
-Eun Soo’s POV-
“Eun Soo-yaa, saranghae-yo.”
Hatiku. Hatiku ada sedikit kebahagiaan mendengar dia berucap seperti itu. Tapi juga ada kekecewaan dia harus mengatakannya di hidupku yang sudah seperti ini.
Tiba-tiba aku merasakan pinggangku ditarik oleh seseorang. Kemudian tangan orang itu merengkuhku hingga tangan Hyukjae terlepas dari bahuku. 
Aku merasa dejavu. Aku pernah mengalami ini sebelumnya. 
Aku pun mengenal aroma orang ini. Aroma yang mampu menenangkanku sekaligus menghipnotisku. Feromonnya selalu berhasil memanipulasi pikiran dan akal sehatku.
“Kau, sudah kuperingatkan untuk tidak mengganggunya lagi.” Tatapan Jaejoong-ssi berbeda, tersirat kemarahan dari matanya.
Aku pun merinding dibuatnya, tatapannya seperti akan membunuh. Sudut matanya memerah menahan segala kemarahan. Aku dapat merasakan tangannya terkepal kuat, menahan segala emosi yang akan membuncah.
“Jaejoong-ssi, ini tidak seperti yang kau pikirkan.” Aku mencoba menenangkan suasana.
“Cih!” Hyukjae bergidik. Aku melihat sikapnya yang agak meremehkan. “Istrimu saja masih memanggilmu dengan sebutan formil.”
Aigoo~ pria ini benar-benar mencari masalah, pikirku.
Kulirik Jaejoong-ssi dia agak kecewa denganku. Memang benar aku masih belum bisa memanggil namanya tanpa sebutan formil.
“Kau tahu, Tuan Kim, istrimu ini memanggilku dengan nama Hyukie. Itu panggilan sayangnya padaku. Dan sampai hari ini dia masih memanggilku dengan nama itu.” 
Apa-apaan kau Lee Hyukjae, sengaja memanas-manasi Jaejoong-ssi. Ku tatap pria yang merengkuhku, sudut matanya masih memerah, bahkan terlihat sedikit cairan bening berkumpul di matanya. Tangannya ia kepalkan kuat-kuat, tapi aku tahu ia berusaha mengontrol emosinya, karena ia merasa apa yang dibicarakan Hyukie benar.
Entah mengapa dadaku sakit melihat  Jaejoong-ssi seperti ini. Aku merasa iba padanya, sekaligus merasa bersalah.
“Yak! Lee Hyukjae! Kau tak pantas berkata seperti itu pada suamiku.”
Jaejoong-ssi terkejut mendengar aku berkata seperti itu. Ia menoleh ke arahku, aku tetap menegakkan pandangan ke arah Hyukie yang juga sama terkejutnya.
“Kuperingatkan kau, mulai sekarang aku hanya akan memanggilmu Lee Hyuk-Jae. Arrasso?” ucapku. 
Hyukie terpaku dengan penyataanku. Mulutnya terbuka seperti akan berbicara, meski sulit untuk bersuara. Tanpa menghiraukannya, aku menarik tangan Jaejoong-ssi pergi meninggalkannya.
Sakit. Hatiku serasa dihujani duri. Pedih. Aku merasakan mataku meleleh, buliran air mata menetes di pipiku. 
Mianhae~ mianhae-yo, Hyukie-ya. Selamat tinggal, gumanku dalam hati. Cukup diriku saja yang tahu kepedihan ini, aku tak ingin membaginya. 
————-
-Author’s POV-
Eun Soo menarik selimut bermotif garis berwarna-warni hingga menutupi setengah bagian tubuh Garry. 
Ia meletakkan buku dongeng yang baru ia bacakan sebelum Garry tertidur. Sebelum meninggalkan kamar itu, Eun Soo mengecup pelan  kening bocah tersebut.
“Jalja-yo, peri kecil eomma.”
———
-Eun Soo’s POV-
Kututup pintu kamar Garry perlahan agar tak membangunkan Garry yang sudah tertidur. Ku telusuri ruang makan yang berhadapan dengan kamar Garry, tak ada siapapun.  Ruangan apartemen ini sudah memudar pencahayaannya, karena sebagian lampu sudah dimatikan. Hanya menyisakan lampu-lampu redup .
Kubuka pintu kamarku perlahan. Kulihat tak ada siapapun di atas kasur bersprei putih dan berselimut coklat itu. Seharusnya ada Jaejoong-ssi disana. 
Sejak pulang dari salon, Jaejoong-ssi tak berbicara banyak padaku. Mungkin dia masih kesal dengan kejadian tadi. Benar-benar membuatku kikuk dan semakin merasa bersalah saja.
“Huuuuff~” Aku menghembuskan nafas pelan. 
Kulihat bayangan seorang pria yang menyender di balkon kamar. Jaejoong-ssi, ia menatap pemandangan kota Seoul di malam hari. Aku memandangnya Si Gunung Es itu dari kejauhan.
Omo~ dia memang sungguh tampan, pikirku.
Ku beranikan diri melangkahkan kakiku mendekatinya. Ku tatap punggungnya yang membelakangiku. Celana piyama dan kaos putih itu selalu menjadi andalan baju tidurnya.
Tubuhku semakin dekat. Logika dan hatiku sama sekali tak bisa diajak berkompromi. Kulingkarkan tanganku, memeluk tubuhnya dari belakang.
Tapi pria ini sama sekali tak bergeming. Ia tetap diam menatap ke depan.
“Mianhae-yo” Aku membuka suaraku. Memperat pelukanku. 
Jaejoong-ssi menyentuh lenganku, kemudian melepaskannya. Aku terkejut melihat dia beranjak dari tempatnya.
Refleks ku tarik kaosnya memaksanya berhenti. “Wae?” protesku kesal.
“Ani-yo. Aku mau tidur,” jawabnya pelan.
“Shireo!” 
Jaejoong-ssi menoleh ke arahku. “Aku mengantuk.”
“Kau bohong, Jaejoong-ssi.” Protesku kesal.
Permintaan maafku sama sekali tak dianggap. Dia malah memilih tidur, padahal aku tau benar dia tak mengantuk. 
“Aku mau tidur,” Jaejoong-ssi mencoba pergi lagi tapi sekarang ganti tangannya yang kutahan.
“A-aku menyesal,” kataku cepat. “Mianhae.. Beberapa hari ini sikapku kurang baik padamu.”
“Sudahlah, Soo-yaa, aku ingin ti…”
“Aku cemburu!” Jantungku berdetak tak karuan. Perutku mulas. Tapi aku harus melanjutkan kalimatku.
“Mwo? Apa maksudmu?”
“A-aku cemburu.” Ku tarik nafas dalam-dalam. Ku tundukkan wajahku tak berani menatap Jaejoong-ssi. “Aku.. aku cemburu pada Ji Yool eonni. Aku merasa kau masih membutuhkannya, dan… Aku tahu pasti aku tak bisa menggantikannya di hatimu.”
Cairan bening yang berkumpul di mataku menetes dengan sempurna. Dadaku yang terasa sesak hanya mampu mengeluarkan suara isakan kecil.
Aku sama sekali tak berani menatap wajah Jaejoong-ssi, aku malu, aku takut, semuanya bercampur menjadi satu. Lututku sedikit bergetar dan lemas. Aku tau seharusnya aku tak mengatakan hal ini, karena dari awal aku merasa aku memang tak pantas menjadi pendamping dirinya.
Jika disandingkan dengan Ji Yool eonni aku memang tak ada apa-apanya. Dari segi fisik saja Ji Yool eonni lebih cantik dan anggun dibandingkanku. Apalagi dari segi kepribadian. Ku dengar dari Song Ahjumma, dia wanita yang penyabar, baik pada setiap orang dan pandai memasak.
Mengingat semua perbedaan antara aku dan Ji Yool eonni membuat aku semakin menciut. Perasaanku semakin teriris. Nyatanya aku tak bisa membuat suamiku mencintaiku. Malah aku tak pernah tau benar sifat suamiku. Dan aku sulit menebak pikiran dan perasaannya. Dan parahnya, aku merasa seperti ini karena kupikir aku sudah sangat mencintai pria yang ada dihadapanku sekarang.
“Mianhae~” kataku parau sambil menyeka air mata yang menetes di pipiku. “Tak seharusnya aku berkata seperti ini, karena sampai kapanpun aku tak akan bisa menggantikan posisi Ji Yool eonni di ha-”
Aku terkejut. Jaejoong-ssi menarikku ke dalam dekapannya sebelum aku menyelesaikan ucapanku. Hangat. Itu yang aku rasakan. Dan yang paling aku sukai adalah feromonnya yang mampu menenangkan syarafku. 
Ia mendekapku erat seperti takut aku akan melepaskannya. Aku hanya mampu menikmati pelukannya dengan hening, tapi sepertinya kepedihan yang masih tersisa dihatiku ikut melesak keluar. Aku menangis lagi dalam dekapan Jaejoong-ssi.
“Maafkan aku, Soo-yaa. Akhir-akhir ini Ji Yool sering datang ke dalam mimpiku. Aku… Aku tau hatimu akan merasa sakit saat aku mengucap namanya.”
“Dan sampai kapanpun, tempat Ji Yool di hatiku tak kan pernah tergantikan oleh siapapun.”
Hatiku mencelos, rasanya sakit. Dan apa kalian tahu, rasanya lebih sakit ketika aku melihat Lee Hyukjae berselingkuh. Aku gagal. Aku gagal merebut hati Kim Jaejoong.
Aku bisa merasakan detak jantung Jaejoong-ssi berdegup kencang. Saking kencangnya membuat perasaanku teriris.
“Jaejoong-ssi, mianhae~ aku memaksakan perasa…”
Jaejoong-ssi melepas pelukannya dengan cepat. Digantikan dengan sentuhan lembut di bibirku.
———–
-Kim Jaejoong’s POV-
Aku melumat bibir tipisnya. Melumatnya perlahan namun kupastikan aku dapat menjelajahi seluruh bibirnya. Manis. Itu yang kusukai saat mengecupnya seperti ini.  Bibirnya bagai morfin untuk diriku.
Tapi kali ini berbeda, aku merasakan kepedihan yang dia rasakan. Seolah dia membagi kepedihannya melalui ciuman ini. Terus terang aku merasa pedih melihat dia seperti ini. Apalagi dia sedih karena diriku. Ia memikirkan masa laluku.
“Jaejoong-ssi..” Ia melepaskan ciumanku perlahan. Pandangannya menatap ke bawah, seperti tak berani menatapku.
Aku meraih dagunya, mengangkat kepalanya agar berani menatap wajahku. Masih tersisa bekas airmata mengalir di pipi mulusnya. Matanya sembab dan agak sedikit bengkak. Meskipun begitu tetap saja sepasang mata itu masih terlihat indah untuk diriku.
“Soo-yaa,” kataku pelan. “Ji Yool memang tak akan pernah tergantikan oleh siapapun posisinya dihatiku.”
Kutatap bola matanya yang bergerak sedikit ke kanan dan ke kiri seperti mencari sesuatu di mataku. Kuusap sedikit air matanya yang masih menetes.
“Tapi,” aku melanjutkan kalimatku. “Biarkan Ji Yool menjadi masa laluku. Biarkan dia kusimpan di bagian terkecil dihatiku. Karena saat ini aku bagian terbesar hatiku hanya mampu diisi oleh seorang gadis. Gadis yang mampu membuatku ingin memiliki seutuhnya. Hanya dengan menyentuhya, dia berhasil mengunciku ke dalam surganya.”
Aku membelai halus pipinya, menyampirkan rambutnya ke sisi telinganya. “Gadis itu sekarang ada di depanku. Sudah menjadi wanitaku. Aku berhasil memilikinya. Tapi, aku rasa aku belum berhasil membuatnya bahagia.”
“Aku bahagia.” Wanita dihadapanku menarik sudut bibirnya. “Meskipun aku tak pernah mendengar kau mengatakan cinta, tapi entah mengapa aku selalu merasa bahagia saat kau memelukku.”
“Aku memang belum bisa menebak pikiranmu. Mengerti apa yang kau mau. Tapi, cukup melihatmu aku sudah merasa bahagia.”
———
-Author’s POV-
“Oppa~” Eun Soo-yaa menatap Jaejoong lekat-lekat. “Mulai saat ini aku akan memanggilmu oppa. Bahkan sampai kau berhenti mencintaiku, aku akan terus memanggilmu~ oppa.”
Jaejoong tersenyum mendengar Eun Soo berkata seperti itu. Ia kembali mendekatkan wajahnya pada Eun Soo. Menempelkan bibirnya, melumat penuh nafsu bibir wanita itu. 
Eun Soo mengalungkan kedua tangannya di leher Jaejoong. Ciuman mereka semakin menuntut, hingga Eun Soo meloncat pada gendongan Jaejoong.
Mereka terhanyut pada ciuman itu. Langkah kaki Jaejoong mengajak mereka memasuki kamar. 
Tanpa melepaskan ciumannya, Jaejoong menempelkan tubuh Eun Soo pada dinding kamar. Mereka melumat satu sama lain. Hingga bibir Jaejoong turun di leher Eun Soo.
“Aaaahh~” desah Eun Soo. Nafsunya membuncah dengan sentuhan Jaejoong. Ia menengadahkan wajahnya, membiarkan Jaejoong menyesap lehernya.
Tangan Jaejoong sibuk meraba dan meremas dada Eun Soo. “O-oppaaaahh~” Eun Soo merasa libidonya sudah tak bisa dibendung lagi. 
Perlakuan Jaejoong semakin membuatnya gila. Membayangkan hal selanjutnya, dan tak sabar menunggu Jaejoong memasuki dirinya.
———
-Eun Soo’s POV-
Aku.. Aku tak mengerti mengapa setiap sentuhan Jaejoong membuat aku terlena seperti ini.
Ku acak rambut hitamnya membuatnya agak berantakan. Ku remas sedikit karena aku tak sanggup menahan sentuhan bibirnya yang menggerayangi kedua payudaraku. 
“Aaaah~” aku kembali mendesah begitu Jaejoong mengemut nippleku. Ia memainkan dengan lembut, membuat darahku berdesir. 
Entah karena kami saking menikmati ini semua, aku baru tersadar saat ini hanya bra dan panties yang membalut tubuhku. Sedangkan hanya boxer hitam yang membalut tubuh Jaejoong. Aku melihatnya, tonjolan keras dibalik boxer itu. Dan aku merasakannya saat Jaejoong menghimpit tubuhku ke dinding, menciumi bibirku dengan kasar dan menuntut kenafsuan.
Jaejoong terus menghimpit tubuhku ke tembok dingin dibelakangku. Aku mulai merasakan kulit kami bersentuhan.
Tonjolan keras itu semakin terasa di daerah sensitifku. Perlahan tangannya meraih panties-ku kemudian meloloskannya dengan mudah. 
Sambil terus menciumiku, Jaejoong melepas kaitan bra-ku, melahap apa yang ada di depan matanya. Penuh kenafsuan, tapi aku bisa merasakan sengatan-sengatan kasih sayangnya. 
“Aaakkh!” Aku menjerit kaget saat kurasakan jarinya memasuki tubuhku tanpa sepengetahuanku. Ia memainkan jarinya disana, membiarkan aku menjerit kenikmatan atas perlakuannya. Sedangkan bibirnya tak henti-henti melahap kedua payudaraku.
“Aaaahh! Ssshhhh! Aaahhh” desahanku semakin menjadi. Jaejoong sama sekali tak menghiraukanku, dia asyik memainkan jarinya disana. Hingga akhirnya aku melenguh, melepaskan erangan kepuasan. 
Wajah mulusnya menatap wajahku. Ia membelai lembut pipiku kemudian menyampirkan rambutku yang sedikit menghalangi wajah. Kulihat ia tersenyum. Aku masih sibuk mengatur nafasku sampai aku rasakan Jaejoong mengangkat kaki kiriku.
——-
-Jaejoong’s POV-
Aku menatap wajah orgasmenya. Entah mengapa aku sangat menggilai ekspresi yang ia ciptakan setelah aku berhasil membuatnya orgasme. Ku belai pipinya, kemudian kurapihkan sedikit rambutnya yang menghalangi wajah manisnya. 
Dia masih terlihat sibuk mengatur nafas, hingga ia tak sadar aku mengangkat kaki kirinya, menahannya di pinggangku. Dan tanpa persertujuan darinya, kusatukan tubuh kami berdua. Alhasil membuatnya kembali menjerit, kemudian menatap wajahku agak sedikit kesal. Tapi aku tau, wanita ini menyukainya.
——-
-Author’s POV-
Ruangan kamar ini dipenuhi suara-suara kenikmatan yang dihasilkan mereka berdua.
Jaejoong terus menggoyangkan tubuhnya, membuat Eun Soo terus meneriakkan namanya. Menahan setiap kenikmatan yang mereka ciptakan.
Eun Soo menengadahkan kepalanya,  membuat ruang untuk Jaejoong bisa menciumi setiap senti lehernya. Mereka berpelukan, sambil terus menggoyangkan badan mereka masing-masing. Mencoba mencari tujuan akhir dari semua ini.
“Oooooh! Sssssh~” Jaejoong mendesah. Terus memaju mundurkan pinggulnya. Hingga ia merasa miliknya berkedut hebat.
“Akuuuh.. A-kuh ingin…” Eun Soo tak mampu melanjutkan kata-katanya. Hujaman junior Jaejoong benar-benar memonopoli pikirannya.
“Aaaaakhhhh!” Mereka melenguh bersamaan. Mengeluarkan semuanya.
Jaejoong sibuk mengatur nafasnya. Ia mendekap erat tubuh Eun Soo. Seperti tak akan melepaskannya.
“Kita sudah selesai, oppa,” Eun Soo berkata pelan. Karena Jaejoong belum juga melepasnya.
“Aku tahu. Aku memastikan semuanya masuk ke rahimmu,  Eun Soo-yaa.” Jaejoong menatap Eun Soo dengan smirk jahilnya. Eun Soo merasakan pipinya memanas mendengar perkataan suaminya itu.
——-
2 bulan kemudian…
-Author’s POV-
Eun Soo terlihat sedang bercanda dengan Garry di ruang televisi. Mereka tak menyadari sesosok tampan mengawasi mereka. Ya, itu Kim Jaejoong.
Pria tampan itu tersenyum dengan manisnya melihat tingkah Eun Soo yang tengah mengelitiki putra semata wayangnya. Ia bersyukur menemukan wanita seperti Eun Soo yang bisa menyayangi Garry seperti anaknya sendiri. 
Dulu ia sempat ragu dengan pilihannya menikahi wanita yang tengah memeluk bahagia anaknya itu. Ia khawatir tidak bisa mencintainya dengan tulus, ia selalu dihantui bayang-bayang Ji Yool. Tapi wanita itu, dengan mudahnya merebut hati anak semata wayangnya. Dan yang terpenting dengan gampangnya membuka relung hatinya untuk mencintai wanita lain selain Ji Yool.
“Ehm..” Jaejoong berdeham pelan. Membuat kedua orang dihadapannya tersadar bahwa ada yang memperhatikan mereka sedari tadi.
Garry tersenyum sumringah. “Appaaaaaa” serunya beranjak dari pangkuan Eun Soo kemudian menghambur ke pelukan appa-nya.
“Kau sudah pulang? Kenapa tidak memberi tahu?” tanya Eun Soo.
Jaejoong menoleh pada Eun Soo sambil tersenyum. Ia menggendong Garry lalu mengecup pipinya sekilas.
“Appa ingin tahu, apa kau menjaga eomma-mu saat appa pergi ke London selama 2 minggu?” tanya Jaejoong pada Garry.
“Ne! Tentu saja aku menjaga eomma. Kemanapun eomma pergi, aku mengikutinya. Setiap malam aku tidur disamping eomma.” Cerita Garry dengan bangganya.
“Jinjja? Whoaa~ daebbak. Anak appa memang yang terbaik.” 
Eun Soo tersenyum melihat Jaejoong memberikan hi-five pada Garry.
“Appa.” Garry menatap appa-nya. “Apa appa tahu, ada adik kecil di perut eomma?” Pertanyaan Garry spontan membuat Jaejoong membulatkan matanya. Ia menatap Eun Soo yang hanya menunduk malu.
Kemudian ia menurunkan Garry dari gendongannya. Ia berjalan menghampiri Eun Soo. 
“Benarkah yang dikatakan Garry?” Jaejoong menatap.
Eun Soo mengangkat wajahnya malu, ia tersipu menatap suaminya yang super mempesona ini. Kemudian ia mengangguk singkat.
Jaejoong benar-benar tak bisa menutup mulutnya. Dia menatap wajah Eun Soo dengan ekspresi ketidak percayaannya.
“Usia kandungannya sudah hampir 1 bulan, oppa.” Eun Soo tersenyum kemudian terkejut karena suaminya merengkuhnya dengan erat.
Ia dapat merasakan kegembiraan Jaejoong dalam pelukannya. Saking gembiranya, Jaejoong sampai mengangkat tubuh Eun Soo dalam pelukannya.
“Yak! Appa!” Protes Garry tiba-tiba. Membuat Jaejoong dan Eun Soo melepas pelukan mereka masing-masing. 
Mereka terheran melihat ekspresi Garry. Kedua tangannya terlipat di depan dada, dengan mulut mengerucut menandakan ketidaksukaannya. 
“Appa tidak boleh memeluk eomma sekencang itu. Nanti adik bayi yang diperut eomma terjepit. Arraso?”
Jaejoong mendengus tidak percaya dengan perkataan Garry. Kemudian dia tertawa kecil lalu menghampiri Garry untuk menggendongnya lagi. Eun Soo tersenyum melihat tingkah Garry.
“Arraso, Garry-yaa.” Kata Kim Jaejoong sambil mengecup pipi Garry.
-The End-
Waaah! Akhirnya lega juga hati ini. Punya hutang sekuel itu paling ga enak, dari setahun yg lalu waktu Locked Out of Heaven Part 3 di publish banyak  bgt yg minta sekuel. Maaf yaa.. baru terpenuhi sekarang. Dan umur FF ini udah setaun baru bisa di publish. Terima kasih sudah mau membaca dan berkomentar. Yang mau contact-an sm author *sok ngartis* hahaha.. bisa email ke echiielicious@gmail.com ..gamsahamnidaa ^^

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: