Locked Out Of Heaven part 2

0
ff nc locked out heaven kim jaejong
Title.         : Locked Out of Heaven (Part 2)
Author      : echiielicious
Category   : Romance, NC 21+, Yadong
Cast.         :  *Kim Jaejoong
                      *No Eun Soo (OC)
                      *Lee Hyukjae
                      *Kim Gae Ri/Garry  (Jaejoong’s son)
Anyeong.. Terima kasih yang masih mau membaca FF ini. Maaf kalo masih kurang HOT, karena sebener’ny author ingin mengedepankan ceritanya.
Hehehe.. Jangan lupa comment/kritik/saran yah, chingu. Selamat menikmati ^^

-Author’s POV-
“Aku Kim Jaejoong. Pria yang akan menikahinya.” 
Eun Soo hanya mampu ternganga mendengar ucapan pria yang masih merengkuh bahunya saat ini. Ia menatap wajah Kim Jaejoong yang memandang Hyukjae. Pria ini benar-benar gila, pikir Eun Soo. Namun tak dapat dipungkiri, Eun Soo sempat mengagumi ketampanan wajah Kim Jaejoong. Dia bisa melihat dagu dan rahang Kim Jaejoong yang begitu indah. 
“Mwo?!” sepertinya Hyukjae tidak terima dengan perkataan Kim Jaejoong. “Kau, tak perlu ikut campur urusan kami.” 
Lee Hyukjae mencoba untuk meraih lengan Eun Soo, menariknya kembali ke sisinya. Namun, tindakannya terbaca oleh Kim Jaejoong. Dengan sigap ia menjauhkan tubuh Eun Soo. Tetap di dalam rengkuhannya. 
“Kau jangan pernah lagi menganggu hidupnya. Arachi?”
Belum sempat Hyukjae menjawab, Kim Jaejoong menarik pergelangan tangan Eun Soo. Mengajaknya menjauhi Hyukjae, meninggalkan gang buntu itu. Eun Soo tak dapat bergeming, entah mengapa seluruh syarafnya menurut pada perlakuan Kim Jaejoong, meski hati dan pikirannya masih tertuju pada Lee Hyukjae.
—————
Kim Jaejoong membukakan pintu mobil untuk Eun Soo. Mwo? Jadi mobil tadi yang hampir menabrakku, itu mobil Kim Jaejoong-ssi?, pikir Eun Soo. 
Baru kali ini Eun Soo menaiki mobil semewah ini. BMW seri terbaru, berwarna hitam mengkilat. Dengan interior bernuansa elegant. Membayangkan harganya saja Eun Soo tak sanggup. Tapi sekarang dia berada di dalam mobil ini. Di sebelah pria yang mengenakan jas hitam dengan dalaman kemeja biru muda, tanpa dasi. Sepertinya dia baru kembali dari kantor. 
Eun Soo melirik pria di sebelahnya yang fokus menyetir dan menatap jalan. Setelah meninggalkan Hyukjae, pria ini tak berbicara apapun.
“Kim Jaejoong-ssi,” Eun Soo membuka suaranya pelan. 
“Wae?” tanya Kim Jaejoong datar tanpa menoleh ke arah Eun Soo. 
“Mianhae, aku…” Belum Eun Soo melanjutkan perkataannya Kim Jaejoong menepikan mobilnya tiba-tiba. 
Ia menarik rem tangan di sisinya, lalu menoleh pada Eun Soo. Menangkap kedua manik mata Eun Soo, sehingga gadis itu terlihat tak bisa berbuat apa-apa. “Kita menikah seminggu lagi.”
Seperti ada jutaan volt listrik menyengat tubuh Eun Soo. Ditatapnya Kim Jaejoong, ia ingin marah, ia merasa seperti perempuan yang bisa dinikahi kapan saja, tanpa cinta dan perasaan. 
“Mwo? Menikah? Kim Jaejoong-ssi, aku sudah mengatakan aku tidak bisa…”
“Lalu kau mau kembali dengan kekasihmu itu? Pria macam apa dia, tega menyakiti…”
“Berhenti Jaejoong-ssi! Kau selalu memotong pembicaraanku. Kau tak tahu siapa Lee Hyukjae, kau tidak tahu betapa besar cintanya padaku..”
“Kalau dia mencintaimu, dia akan berusaha selalu mempertahankanmu sebagai satu-satunya wanita dihidupnya.”
Jlebb! Ucapan Kim Jaejoong berhasil menikam perasaan Eun Soo. Benar. Benar apa yang dikatakan pria ini. Tak semestinya Lee Hyukjae melakukan hal ini  padanya. Buliran air mata Eun Soo mengalir di pipinya. Kim Jaejoong menatap nanar gadis di depannya. Ia tak tahu harus bagaimana. Sejujurnya ia juga tak memiliki perasaan apapun pada gadis ini. Hanya saja melihatnya seperti ini membuat hati Kim Jaejoong tersayat. 
“Mianhae, Eun Soo-ssi. Aku memaksamu untuk menuruti egoku.” Kim Jaejoong meraih tengkuk leher Eun Soo, kemudian membenamkan kepala Eun Soo ke bahunya. 
Tangisan Eun Soo semakin keras. Hati dan pikirannya serasa mati rasa. Hanya kepedihan yang bisa dia rasakan disetiap tetesan air matanya. 
“Eun Soo-ssi, mau tidak mau, suka tidak suka, kau.. harus menikah denganku.” 
———-
-Eun Soo’s POV-
Omo! Apartemen ini mewah sekali. Baru memasuki lobby-nya saja aku sudah disambut dengan interior bergaya royal-minimalis. Kim Jaejoong, kau benar-benar sangat kaya, gumanku mengagumi isi apartemen ini. 
Kim Jaejoong menekan tombol 17 pada panel lift, kemudian ia memasukkan tangannya ke dalam saku celananya. Tangan yang satu lagi tentu saja masih menggandengku dari tadi kami turun dari mobil. Seolah takut aku akan lari darinya. 
Apa-apaan dia, aku seperti orang yang punya hutang padanya saja. 
“Cih!” gumanku agak bersuara berhasil membuat Kim Jaejoong menoleh ke arahku. Lagi-lagi tanpa ekspresi. Tapi kenapa aku selalu tidak bisa berkutik saat matanya berhasil menangkapku. Haiiiiish~ Eun Soo paboya! Kenapa kau menurut saja diajak ke tempat ini. 
Kami tiba di depan sebuah pintu, kemudian Kim Jaejoong menekan beberapa digit angka. 
Piiipp!
Cklek!
Pintu itu terbuka sedikit, begitu kami memasukinya semua lampu menyala satu persatu. Dan memperlihatkan semua isi ruangan ini.
Omo! Omo! Omo! Besar sekali apartemen ini! Aku melongo memperhatikan seisi ruangan  berdesain minimalis dan didominasi warna putih dan coklat ini. Barang-barang di dalam apartemen ini terlihat tak satu pun yang murah. Semuanya terlihat mahal dan sempurna. 
“Mau sampai kapan mulutmu terbuka seperti itu?” tegur Kim Jaejoong spontan membuatku segera merapatkan mulutmu. Sial! Aku pasti terlihat bodoh tadi. 
Ku lihat Kim Jaejoong membuka jasnya, lalu meletakkannya di atas sofa putih berbahan suede. Ia duduk di atas sofa itu, sambil membuka kancing tangan kemejanya.
“Apa maksudmu membawaku kesini? Bukankah aku bilang aku ingin pulang?” Aku menyusulnya duduk di sofa putih itu.
Kim Jaejoong tersenyum getir, “Feelingku mengatakan pria brengsek itu akan mendatangi rumahmu malam ini.”
“Mwo?! Pria brengsek? Yak! Kim Jaejoong-ssi, Lee Hyukjae bukan pria brengsek.”
“Lalu apa sebutan untuk pria yang berselingkuh?” Kim Jaejoong tersenyum penuh kemenangan. 
“I-i-itu bukan seperti…”
“Aigoo! Sudahlah, aku tidak suka pria itu dibahas di rumahku.”
Aiiiish!!! Dasar pria sombong. Perkataanku selalu dipotong olehnya. Apa perlu aku memberinya satu tinjuan saat dia memotong omonganku? 
“Kau bisa memakai kamar di pojok sana,” ujar Kim Jaejoong sambil beranjak dari sofa.
“Ne?”
“Wae? Kau mau sekamar denganku?” 
“A-ani! Tentu saja tidak!” Apa-apaan dia? Aiiish~ mengapa wajahku memanas seperti ini?
“Eun Soo-ssi,”
“Wae?” tanyaku ketus menutupi wajahku yang kuyakin masih memerah akibat ucapannya tadi.
“Aku hanya mengingatkan besok kau harus bangun pagi.”
“Wae? Kita mau kemana?”
“Ani. Aku hanya ingin mengetes kelayakan dirimu menjadi seorang istri Kim Jaejoong. Ingat, sebelum jam 7 pagi sarapan sudah harus ada di meja makan. Araso?”
Mwo? Sungguh keterlaluan kau Kim Jaejoong. Memangnya aku pembantumu?! 
“Yak! Memangnya aku kesini untuk jadi pembantumu?” protesku kesal. Namun pria sombong itu hanya melirikku sesaat lalu melenggang pergi memasuki kamarnya.
Siaaal!! Nappeun namja! Eommaaaaa… Tolong anakmu ini.
————
-Kim Jaejoong’s POV-
Aku membuka mataku karna sinar matahari yang masuk dari celah gorden menerpa mataku. Kulirik sekeliling dengan mata masih menyipit, tak ada yang berubah. Aku tetap tidur sendiri di kamar ini. Haaaiissh~ siapa sih yang membuka gorden kamar selebar ini? Kulirik jam dinding, masih menunjukkan pukul setengah delapan. Song Ahjumma, yang membersihkan apartemenku biasa tiba pukul 9. Lalu siapa yang melakukan itu?
Aku beranjak dari tempat tidurku sambil mengacak rambutku. Kubuka knop pintu kamarku, apa yang aku lihat? Seorang gadis, rambut bergelombangnya terurai begitu saja. Sedangkan tangannya sibuk menata piring di meja makan, ia tak menyadari kehadiranku. Malah asyik dengan kesibukannya. 
Aku lupa semalam membawanya kesini. Menyuruhnya tidur di apartemenku. Tanpa aku mengerti mengapa aku melakukan hal itu padanya, pada gadis yang tak begitu ku kenal.
“Yak! Kau telat setengah jam” Gadis itu menyadarkan lamunanku. “Cepat duduk aku akan panaskan lagi sup untukmu.”
Aku menuruti perintahnya. Duduk di meja makan memperhatikan gadis itu sibuk mengaduk-aduk isi panci yang ada di atas kompor. “Memangnya kau bisa memasak?”
“Kau meremehkanku?” tanyanya, seperti tak suka dengan pertanyaanku. Lalu meletakkan semangkuk sup panas di hadapanku. “Cepat makan, lalu aku akan pulang.”
Aku menyantap sarapan pagi hari ini. Rasanya berbeda, setelah 2 tahun aku terbiasa sarapan sendiri atau makan masakan eomma.
“Kim Jaejoong-ssi,” 
“Eo?”
“Aku tidak melihat siapapun disini. Dimana Garry? Dia kan anakmu, bukankah seharusnya dia tinggal bersamamu?”
“Ne. Sebelumnya kami tinggal bertiga disini. Tapi setelah Ji Yool meninggal, eomma-ku menyuruh Garry tinggal bersamanya,” jawabku sambil menikmati sup buatannya, dan memang rasanya benar enak. 
“Eo. Begitu.”
Aku menatap gadis itu hanya mengangguk-angguk. “Ya! Kenapa kau tidak ikut makan?”
“Aniyo. Tadi aku sudah makan duluan. Eo! Bagaimana masakanku? Enak?”
“Lumayan,” jawabku datar. Gadis dihadapanku hanya mengerucutkan bibirnya, ia tidak suka dengan jawabanku.
—————-
Kulirik gadis itu sedang sibuk mencuci peralatan masak yang tadi dia gunakan. Lagi-lagi dia tidak sadar bahwa aku memperhatikannya dari belakang. Dengan menyenderkan pinggangku di counter dapur, aku memperhatikan gadis itu. Eun Soo-ssi. Meski dia tak secantik dan seanggun Ji Yool, ku akui Eun Soo memiliki tubuh yang indah. Pinggangnya ramping, dan yang paling sering ku perhatikan adalah rambut panjang sepunggungnya. Rambut bergelombang natural dan berwarna agak kecoklatan itu entah kenapa selalu berhasil menarik perhatianku.
“Apa kau belum mandi?” tanyaku mengagetkannya, membuat sendok yang sedang dicucinya jatuh ke washbak cuci piring.
“Omonaa!!” pekiknya. Ia menoleh ke belakang, tepatnya ke arahku. “Yak! Kim Jaejoong-ssi! Kau membuatku terkejut.” 
“Segitu bodohnyakah kau, daritadi aku berdiri disini dan kau tak menyadarinya.”
“Yak! Mana aku tahu. Kau lihat sendiri aku sedang mencuci.”
“Sudahlah Eun Soo-ssi, sebentar lagi Song Ahjumma datang, biar dia yang membereskan semuanya,” kataku. 
“Andwae, aku sudah hampir menyelesaikannya.”
Dia terlihat risih dengan rambut panjangnya yang selalu menutupi wajahnya saat menunduk. Kuperhatikan dia ingin membetulkan poni panjangnya, hanya saja itu tak mungkin karena ia sedang menggunakan sarung tangan karet untuk mencuci piring-piring itu.
“Kim Jaejoong-ssi,” panggilnya pelan.
“Ne.”
“Maukah kau menolongku?” Gadis itu melirik kumpulan karet gelang yang tergantung di samping kulkas. Lalu dia menyeringai lebar. “Jebaal…” 
Aku mendengus pelan lalu meraih karet tersebut. Kemudian aku mendekat ke arahnya. Berdiri tepat dibelakangnya. 
“Tolong diikat sembarang saja. Yang penting tidak menghalangi wajahku,” katanya. 
Aku meraih rambutnya. Mengumpulkannya menjadi satu genggaman, rambutnya terasa halus. Dan wangi. Aroma anggur menyeruak di hidungku. Kemudian rambut yang ku genggam kuangkat ke puncak kepalanya, kugulung rambutnya menjadi satu lalu mengikatnya dengan karet gelang.
“Cha. Seperti ini?” aku menatap hasil kunciran ala cepolku, memang terlihat sedikit berantakan.
“Woaaa.. Ternyata pria angkuh seperti kau bisa menguncir rambut juga,” ejeknya sambil menoleh kepadaku.
Begitu ingin kujawab ejekannya, dia kembali mencuci piring-piring itu tanpa menghiraukan aku.
Aku masih berdiri dibelakangnya, menatap gadis ini. Kutolehkan wajahku pada leher jenjangnya. Entah mendapat bisikan setan darimana, wajahku semakin dekat dengan lehernya. Semakin dekat, dan akhirnya aku berhasil menempelkan bibirku disana.
—————-
-Eun Soo’s POV-
Ya Tuhan, nafasnya terasa menyapu kulit leherku. Aku benar-benar tidak bisa bergerak. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa semua syarafku terasa lumpuh? Eotohkke?
Aku memejamkan mataku. Mukaku terasa panas. Aku yakin sekarang wajahku seperti udang rebus. Kim Jaejoong-ssi kau kenapa?, pikirku. 
Cup!
Omo! Seperti ada jutaan volt listrik mengalir ditubuhku. Kim Jaejoong-ssi mengecup leherku. Bagaimana ini? Aku harus bagaimana? Eun Soo-yaa, mengapa kau tidak bisa berkutik? 
Kupikir itu hanya kecupan sesaat, ternyata dugaanku salah. Kim Jaejoong-ssi kembali mengecup leherku berulang-ulang, dia seperti sedang menyesap aroma tubuhku. Tiba-tiba kedua tangannya melingkar di kedua pinggangku. Ia masih terus mengecup leherku hingga hembusan nafasnya terasa menyapu setiap inchi kulit leherku. Siaaaaal kau, Kim Jaejoong-ssi! Dia beranjak ke tengkuk dekat telingaku, itu bagian sensitifku! Seketika saja libidoku bisa naik. 
“Kau menyukainya, ne?” katanya setengah berbisik di telingaku. Damn! Darahku berdesir hebat, serasa semuanya mengalir ke kepalaku. 
“Kim Jaejoong-ssi,” Aku melepaskan sarung tangan karet yang kugunakan, aku membalikkan badanku bermaksud menjauhkan tubuhnya. 
Namun yang terjadi kami malah saling berpandangan, aku menatap wajahnya. Mulus sekali. Aku menatap bibirnya yang kemerahan. Kini malah ganti aku yang kerasukan entah setan mana. Hasratku menginginkan lagi, apalagi setelah melihat mata teduhnya menatapku. Entah maksud dari tatapan itu apa, yang jelas saat mata kami bertemu, hatiku ada yang menjerit -ayo sentuh aku-
Sepertinya Kim Jaejoong-ssi tau apa yang kupikirkan. Dia menarik pinggangku hingga kini tak ada jarak se-senti pun diantara kami berdua. Tanpa meminta persertujuan dariku dia melahap bibirku dengan lembut. Aku yang diawalnya tak bereaksi semakin lama terbawa permainan bibirnya yang penuh kelembutan. 
Aku mengalungkan kedua tanganku ke lehernya. Ciuman kami semakin terasa panas dan terkesan terburu-buru. Aku semakin dibuat gila dengan ciuman Kim Jaejoong-ssi. Ternyata dia seorang Great Kisser. Hasratku mencuat keluar. Kami semakin terlena dengan ciuman ini. Sampai-sampai aku meloncat dan berada digendongannya. 
Aku sadar dalam ciuman kami, Kim Jaejoong-ssi melangkahkan kakinya sambil menggedongku. Ia membawa kami ke kamarnya. 
Direbahkan tubuhku di atas kasur bersprei putih itu. Ia masih menciumiku dengan intens. Ciuman itu terhenti, kami saling bertatapan. Tak perlu waktu lama ia kembali menciumiku. Menciumi setiap inchi wajahku. Hingga ciumannya turun ke leherku. Entah mengapa aku tak sanggup menghentikan ini semua. Aku… Aku terlena dengan ciumannya. Dengan sentuhan bibirnya ditubuhku. 
Pria ini menciumi leherku tanpa henti, membuat libidoku semakin meninggi. Tangan kirinya menopang tubuhnya agar tak menindihku. Tangan kanannya sibuk membuka kancing kemejaku satu persatu. 
Berhasil membuka semua kancing kemejaku, Kim Jaejoong-ssi meraih celana    jeans-ku. Sekarang hanya bra dan panties-ku saja yang tersisa. Ia menghentikan semua kegiatannya. 
Ia membuka kaos putih polosnya memperlihatkan abs-nya yang tercetak jelas di perutnya. Bagaimana bisa dia seseksi itu? Membuat aku semakin menginginkan lebih. 
Rambutnya menyapu dadaku, sementara bibirnya asik bermain dengan nipple-ku. “Aaaaahhhh…. Ssssshhh…” racauku menahan setiap sesapan yang dia ciptakan di dadaku. 
Tangannya meraba panties hitamku, kemudian dia menariknya, melepaskan panties-ku dari tempatnya. Berhasil menyingkirkan benda itu, Kim Jaejoong-ssi menyentuh bagian kewanitaanku dengan jari-jarinya. 
“Omoo… Sssssshhhh-” desahku semakin jadi. Kurasakan jari-jarinya menusuk di lubangku. “Appoooo… Aaaahhh” Kim Jaejoong-ssi hanya menatapku kemudian mencium bibirku lagi dengan penuh nafsu. 
Dia menggerakkan jarinya di lubang kewanitaanku, aku meracau tak jelas. Memang sedikit sakit, namun aku menikmatinya. “Aaaahh.. Aaaah…” Kim Jaejoong menatap wajahku, dia tersenyum melihat ekspresiku. 
Semakin cepat Kim Jaejoong-ssi menggerakkan jarinya, aku semakin terangsang. Aku ingin keluar! Aku akan orgasme. Dan sepertinya dia tahu itu.
“Teruuuuss… Aaahh.. Aaahhh.. Ooh!” sedikit lagi aku akan orgasme, tapi pria brengsek ini mengeluarkan jarinya dari tubuhku. 
“Aku tak akan mengizinkan kau orgasme karena jariku,” katanya. Ia menindihku, kemudian mengarahkan juniornya -yang menurutku besar- itu ke arah pusat tubuhku. 
“Aaaaakhhhh!!!” Aku menjerit ketika ia melesakkan juniornya ke dalam tubuhku.  Omo! Ini nikmat sekali, pekikku dalam hati. 
Dia menggerakkan pinggulnya, mengocok juniornya di dalam tubuhku. Kami bertatapan. Ia menangkap kedua bola mataku dengan sepasang matanya yabg teduh. 
“Aaaakhhh… Aaaaahhh… Kim Jaejoong-ssi” Aku melenguh menahan semua kenikmatan yang pria ini ciptakan.  Kim Jaejoong-ssi semakin mempercepat gerakannya. Tidak memberiku ampun. Aku terbuai dengan sentuhannya, aku tidak bisa berfikir untuk menolaknya. 
“Aaaaaahhhh… Oooohhh… Kim Jaejoong-sii… Sssshhh.. Aaaahhh!” 
“Teruskan, sayaang.. Teruskan desahanmu..” Kim Jaejoong menatapku, memperhatikan setiap ekspresi yang aku ciptakan. 
Rasanya sesuatu akan keluar dari tubuhku. Aku akan orgasme.
“P-paliiii… p-palii… Aaaahhh.. Akuh ingin ke-luaarrh.”
Kim Jaejoong mempercepat gerakannya, membuat vaginaku berkedut. Aku pun dapat merasakan junior Kim Jaejoong-ssi berkedut hebat di dalam tubuhku. Hingga akhirnya kami melenguh bersamaan. 
“Aaaaaakkkh!!!” Kami mengerang bersama, menahan kenikmatan yang tercipta. 
Tubuh Kim Jaejoong-ssi melemas di atas tubuhku. Sebelum dia membenamkan wajahnya di dadaku, ia mengecup keningku. Lagi-lagi aku merasakan aliran listrik menyengatku. 
Kami berdua saling mengatur nafas. Terlihat dada bidang Kim Jaejoong-ssi naik turun terasa di tubuhku. Aku hanya bisa menatap rambutnya. Rambut hitamnya yang acak-acakan akibat perbuatanku saat orgasme tadi.
Tiba-tiba aku menyadari sesuatu. “Omona!!!” 
Kim Jaejoong-ssi melonjak kaget, lalu segera mengangkat tubuhnya dariku. “Wae??”
Aku pun bangkit lalu menyembunyikan tubuh naked-ku dengan bed cover berwarna coklat-putih itu. “Kau.. k-kau.. Mengeluarkannya di dalam!”
“Mwo?”
“K-kau… Eotohkke?? Bagaimana kalau aku hamil?”
Apa-apaan pria dingin ini, bukannya menjawab pertanyaanku ia malah meraih celana boxernya lalu memakainya. 
“Memang kenapa kalau kau hamil? Minggu depan kau akan menjadi istriku” katanya dingin. Lalu masuk ke dalam kamar mandi. 
“M-mwo?? Apa katanya? Menikah?” gumanku. “Yak! Kim Jaejoong-ssi! Siapa yang mau menikah denganmu?! Yak!!” 
Protesanku tak dianggap olehnya. Ia tak berkata apa-apa dari dalam kamar mandi. Hanya terdengar gemericik air shower. 
Aku menatap diriku yang terbalut bedcover. Omonaaa! Apa-apaan kau, Eun Soo. Paboya! Mengapa aku terlena sehinga mau melakukan ini dengannya? Haaiiissh~ eotohkke? Mana mungkin kau menikah dengan pangeran es itu sementara di hatimu masih ada Lee Hyukjae. 
—————-
-Author’s POV-
Dengan balutan kimono handuk ditubuhnya, Kim Jaejoong keluar dari kamar mandi. Ia menggosok-gosok rambutnya yang basah dengan handuk. Ia melirik gadis yang ada di atas ranjang miliknya. Gadis itu terlihat nyaman tidur dengan balutan bed cover. Tampaknya ia kelelahan dan tak sempat memakai kembali pakaiannya. 
Kim Jaejoong mendekati ranjangnya, lalu duduk tepat di samping gadis itu tertidur. Ia menatap setiap lekukan wajah gadis bernama No Eun Soo.
“No Eun Soo,” ujar Kim Jaejoong lemah. Karena memang dia tidak ingin membangunkan gadis itu dari tidurnya. 
Semenjak kematian Han Ji Yool 2 tahun yang lalu, Kim Jaejoong memang tak pernah menjalin cinta dengan perempuan mana pun. Dihatinya masih ada bayangan Han Ji Yool, wanita yang meninggal karena kecelakaan lalu lintas itu. Ia meninggal saat umur Garry 3 tahun. Semenjak itu yang ada di benak Kim Jaejoong hanyalah membahagiakan Garry, karena itulah pesan terakhir Ji Yool saat koma selama 2 hari dan akhirnya meninggal.
Alasan ia ingin menikahi Eun Soo juga karena ia ingin membahagiakan Garry. Awalnya memang seperti itu. Namun setelah kejadian kemarin, melihat Eun Soo terluka dan menangis di hadapannya, Kim Jaejoong terbuka hatinya sedikit deni sedikit. 
Kim Jaejoong menyampirkan rambut Eun Soo yang menutupi wajah manisnya.
 Dia memang tak secantik dirimu, Yool-ah, guman Kim Jaejoong dalam hati. Tapi kau liat sendiri kan, Garry sangat menyukai gadis ini. Entah apa yang dimiliki gadis ini sehingga bisa menarik perhatian anak kita. 
Kim Jaejoong tersenyum kecil, ia menatap mata Eun Soo. “Kurasa matanya cukup cantik, meski disaat ia tertidur.” 
Yool-ah, mianhae.. Kurasa kali ini aku sependapat dengan Garry. Aku mulai tertarik pada gadis ini. Apalagi saat tadi aku memeluknya, disaat aku bisa menyentuh semua miliknya, dan disaat aku dapat merasakan semua tubuhnya. Kupikir… Aku sudah terkunci dalam surganya. Dan hatinya.
*to be continued…

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: