Locked Out Of Heaven part 1

0
ff nc kim jaejoong locked out heaven
Title     : Locked Out of Heaven (Part 1)
Author      : echiielicious
Category   : Romance, NC 21+, Yadong, Chapter
Cast.          :  *Kim Jaejoong
                     *No Eun Soo (OC)
                      *Lee Hyukjae
                     *Kim Gae Ri/Garry (Jaejoong’s Son)
                       
Anyeong..
Selamat menikmati, jangan lupa comment, kritik dan saran yah chingu~
Gomawo ^^ *bow

-Author’s POV-
Gyeon-Dong Tower
“Saengil chukkahamnida, Garry-ya,” ujar seorang pria paruh baya kepada bocah laki-laki.
“Gomawo haraboejji,” bocah laki-laki itu tersenyum gembira. Ia memeluk kakeknya yang juga ikut merasa gembira seperti dirinya.
“Apa yang diberikan appa-mu untuk kado ulang tahunmu, Garry-ya?” tanya aboeji. 
Belum sempat Garry menjawab, sesosok lelaki tampan, bertubuh tegap, serta wajah tegas dan mulusnya datang menghampiri. Setelan jas hitam serasi dengan dasi’nya menambah ketampanannya malam ini. Ia menggapai puncak kepala Garry, lalu tersenyum kepada lelaki paruh baya dihadapannya.
“Appa, kapan datang? Kenapa tidak memberitahuku?” katanya,
“Aah, aku rasa kau sedang sibuk meladeni tamu-tamu bisnismu. Rasanya ini seperti pesta perusahaan, bukan pesta ulang tahun anakmu,” lelaki itu mengendarkan pandangannya ke sekelilingnya. 
Lelaki tampan itu hanya tersenyum, ia mengelus puncak kepala bocah laki-laki yang ternyata adalah anaknya. 
“Haraboejji, appa.. Kalian berdua belum memberikanku hadiah.” 
Lelaki tua itu hanya terkekeh pelan, ia berjongkok menghadap cucuk semata wayangnya ini. Tak lama seorang wanita paruh baya menghampiri mereka.
“Halmoniiiii !” seru Garry riang. 
“Hadiah apa yang kau inginkan, cucukku?” tanya halmoni sambil tersenyum. Cantik. Meski usianya sudah menginjak 60 tahun, tapi dia tetap cantik dengan balutan dress rancangan Gucci, serta clutch bag Prada-nya.
Haraboejji menyentuh puncak kepala cucuknya dengan penuh kasih sayang, “Bilang pada haraboejji, apa yang kau inginkan sebagai hadiah ulang tahun kali ini?”
Garry tersenyum memperlihatkan gigi  kelincinya. “Aku ingin appa menikah dengan Eun Soo-ssi.”
———–
Magicals Salon & Bridal
“Eonnie, tanganku seperti mau copot rasanya. Sudah berapa banyak tamu yang aku potong rambutnya hari ini?” keluh seorang wanita manis, berambut panjang menjuntai dengan ikal-ikal besar diujungnya.
“Eun Soo-yaa, seminggu lagi valentine, jadi tak heran kalau tamu ramai,” wanita yang dipanggil eonnie itu sibuk menghitung uang di meja kasir. “Lagipula kalau salon ramai, bos akan senang dan akan memberi kita bonus kan.”
“Aaah~ ya ya ya. Kau benar juga. Tapi kenapa Tae Yoon harus tidak masuk disaat seperti ini. Menyusahkan aku saja.”
“Molla~ dia bilang suaminya sedang sakit dan dia tidak mungkin meninggalkannya. Lagipula boss mengijinkan.”
Eun Soo menghela nafas panjang. “Aku mau pesan ramyeun dulu.”
Baru saja kakinya ingin melangkah menuju pintu, seorang bocah lelaki muncul dari balik pintu bersama seorang wanita paruh baya.
“Eun Soo-ssi !!” serunya lalu menghambur ke pelukan Eun Soo.
“Garry-yaa, kau mau potong rambut lagi? Bukankah baru minggu lalu kau potong?” tanya Eun Soo lalu membalas senyuman wanita paruh baya yang datang bersama Garry.
“Anyeong, Eun Soo-ssi,” sapa wanita itu ramah.
“Anyeong, Nyonya Kim.”
“Anni, aku kesini bukan untuk potong rambut,” Garry meraih tangan Eun Soo. Usianya masih 5 tahun, tapi bila tersenyum tampannya menyamai ayahnya.
“Lalu kau ingin mengajak kencan Eun Soo?” goda Han Na dari meja kasir.
“Ani.” Garry memperat genggamannya pada Eun Soo. “Aku kesini ingin memberitahu, Eun Soo-ssi akan menjadi eomma-ku.” Garry tersenyum lagi, lebih lebar dari sebelumnya.
Eun Soo dan Han Na hanya terpaku mendengar ucapan Garry. Mereka diam mematung, seolah ucapan Garry bergema di telinga mereka.
———-
-Eun Soo’s POV
Apa maksudnya ini? Aku diminta menikah dengan ayahnya Garry? Mimpi apa aku semalam?
Haissssh~ aku benar-benar akan gila. Aku ini hanya seorang hairstylist di sebuah salon. Garry itu hanya customer langgananku 1,5 tahun ini. Bocah laki-laki itu sering datang ke salon bersama halmoninya. Dia hanya mau dipotong rambutnya olehku. Kalau dia datang ke salon dan hanya menemukan Tae Yoon atau Han Na eonni, dia memilih pulang dan tak jadi menggunting rambut.
Aku membuka pintu rumahku. Sebuah rumah sewa berukuran kecil dan berada di pinggiran kota. Aku memang hidup sendiri, semenjak appa meninggal 4 tahun yang lalu, eomma menikah lagi dengan seorang pria berkebangsaan Indonesia, dan mereka hidup disana.
Awal mereka menikah aku sempat mengikuti mereka tinggal di Indonesia, tapi 2 tahun yang lalu aku memutuskan kembali ke Korea. Dan beginilah hidupku sekarang, bagai sebatang kara.
“Anni, aku tidak sebatang kara,” rutukku sambil menggeleng kepala. Sebenarnya aku sudah memiliki namjachingu, Lee Hyuk Jae namanya. Ia seorang penyanyi kafe. Terkadang dia menginap di rumahku. Hubungan kami baru sekitar 7 bulan, tapi Lee Hyuk Jae menjanjikan menikah denganku.
Kulihat ponselku bergetar di atas meja makan, ku raih ponselku dan kulihat foto namja pada panggilan masuk.
“Ne~”
“Kau sudah di rumah?” suara lelaki dari sebrang sana bertanya.
“Ne~ baru saja.” Belum lama aku menjawab, suara pintu terbuka. 
“Buat apa kau menelpon kalau sudah sampai depan pintu?” aku menutup telpon lalu meletakkannya kembali k atas meja.
Ya, itu Lee Hyukjae. Dia hanya tersenyum lalu menghampiriku. Ia melingkarkan tangannya dipinggangku. Memelukku dari belakang. Lalu menggodaku dengan menciumi tengkuk leherku.
“Ya ya ya, kenapa kau datang-datang seperti ini? Biasanya kau teriak-teriak kelaparan” kataku, mencoba menahan hasrat yang mulai membuncah karena perlakuannya.
“Ne~ aku lapar. Aku ingin makan malam, tapi aku ingin menu spesial malam ini.”
Ia semakin intens menciumi leherku. Rasanya semakin panas. Apalagi ketika ia mulai menjilati telingaku. Ya, itu titik sensitifku.
—————
“Aaaaahhh… Oh my…. Ssssshhhh~” aku semakin menjadi saat ia meraba daerah kewanitaanku. 
Lee Hyukjae, dia tipe pria yang tidak suka basa-basi. Begitu pun aku. Aku tak bisa berlama-lama melakukan foreplay. Aku terlalu egois, terlalu menginginkan lebih jika sudah menyangkut masalah seks.
Kurasakan juniornya yang sudah menegang mengganjal di daerah kewanitaanku. Tahu diriku sudah basah, Hyukjae langsung melakukan penyatuan tubuh kami.
“Aaakhhh~ oohhh…. Aaahh” jeritku saat juniornya benar-benar menggoda lubangku. 
Damn! Mengapa seks rasanya senikmat ini? Aku benar-benar menyukainya. Disaat junior Hyukjae ada di dalam tubuhku. Aku benar-benar menikmatinya.
Hyukjae terus menggerakkan juniornya didalam tubuhku. Nafasku tersengal menerima perlakuan darinya. Saat juniornya menyentuh g-spot, dan bibirnya tak henti-henti meyesap leher jenjangku. Rasanya aku akan orgasme.
Hyukjae tahu ekspressiku saat akan orgasme, dia tersenyum senang, “Waktunya Woman on top.”
Dia menggulingkan tubuh kami hingga akhirnya aku yang berada diatas. Aku tak bisa berfikir apa-apa lagi. Yang ku tahu, aku hanya ingin memuaskan hasratku yang akan membuncah. Aku menaik turunkan pinggulku, terus seperti itu. Sedangkan Hyukjae sibuk menikmati goyangan tubuhku, serta pemandangan ekspresiku yang menurutnya sangat ‘menggoda’.
Aku menatapnya dengan pandangan penuh nafsu, sambil terus menggerakan tubuhku. Dan benar saja, rasanya aku akan orgasme, aku semakin menggerakan pinggulku. Hyukjae membantuku, mengulum nippleku menuntunku ke lautan orgasme. 
“Aaaaaaakkkkh~” aku mengerang. Aku orgasme. Dan rasanya tak bisa digambarkan. Yang jelas aku menyukainya.
Hyukjae mengelap peluhku, ia tersenyum. Ia pernah mengatakan, paling menyukai wajahku setelah orgasme. Ia menyampirkan rambutku yang menutupi wajah. Aku tersenyum padanya. 
“Turn me now,” ujarnya pelan. Ia langsung mengubah posisi kami, berganti dia yang diatas tubuhku. 
“Aaaakh~ appooooooo,” seruku. Hyukjae terkekeh.
“Aku menyukainya, setelah kau orgasme. Milikmu terasa berbeda.” Hyukjae mulai menggerakan juniornya. 
“Aaaahh… Aaaahh… Sssshhh,” aku tak bisa menahan desahanku. Hujaman juniornya begitu nikmat, terasa memenuhi semua pikiranku.
“Teruskan chagii.. Teruskan desahanmuu,” pinta Hyukjae makin mempercepat gerakannya.
“Aaaahhh… Aaahhh..oooohh.. Hyukie! Aaaahhhh … Aaaah!” semakin aku mendesah gerakan Hyukjae semakin cepat. 
Kami tak tahu lagi apa yang akan dipikirkan, hanya keinginan klimaks yang ada dalam pikiran. Kulihat wajah Hyukjae yang berpeluh, sambil terus menggenjot tubuhku. Aku melihatnya melenguh, aku tahu dia akan klimaks. Dan memang benar.
“Aaakhhhh~” Hyukjae mencabut juniornya dari lubang kewanitaanku. Dia mengerang saat cairan putih kental melesak keluar dan berceceran di perutku. Merasa sudah mengelurkan semua cairannya, Hyukjae merengkuh tubuhku. Nafasnya masih terdengar tersengal di telingaku.
“Gomawo, chagi-yaa” katanya lemah hampir berbisik di telingaku.
“Ne~” 
Setiap bercinta Hyukjae tidak pernah mengeluarkan spermanya di rahimku. Aku tidak berani menanggung semua resiko. Lagipula aku belum mau hamil. Apalagi hamil di luar nikah. Meski Hyukjae menjanjikan pernikahan, tetap saja aku belum mau hamil di umurku yang masih 22 tahun ini.
—————-
-Eun Soo’s POV-
ORION Tea & Coffee
Hampir 20 menit aku menunggu Nyonya Kim di coffee shop ini. Kupendarkan pandangan ke arah pintu masuk, berharap Nyonya Kim akan datang.
Kemarin saat aku libur ia menitipkan  pesan pada Han Na eonnie, bahwa aku disuruh menunggunya disini. Aku  menyesap teh darjeeling-ku sampai seorang wanita yang tak lain adalah Nyonya Kim duduk di hadapanku.
“Anyeonghaseyo, Eun Soo-ssi,” seperti biasa dia selalu tersenyum ramah. Dan seperti biasa juga, pakaiannya terlihat mahal. Meski ia hanya mengenakan dress warna hijau army yang di double dengan blazer warna putih. Tapi aku tahu itu pasti tidak murah. Tas putih dengan branded Chanel-nya diletakkan disisinya. Nyonya Kim tersenyum lagi. Matanya teduh menatapku. Aiissh~ pantas saja anak dan cucuknya tampan kalau bibitnya seperti ini.
“Eun Soo-ssi, soal ucapan Garry tempo hari, ada yang ingin aku katakan.”
“Ne?” Aku kembali mengingat ucapan Garry tempo hari. “Aa~ ne,” aku mengangguk tanda sudah mengingatnya.
Nyonya Kim tersenyum. “Kau mengerti kan mengapa aku memanggilmu kemari?”
“Aaaa~ sebenarnya aku tak pernah mempermasalahkannya, Nyonya Kim. Aku tau Garry masih kecil dan kurasa…” 
“Ani, Eun Soo-ssi,” kalimatku dipotong oleh Nyonya Kim. “Apa yang diucapkan Garry memang benar. Aku memintamu menikah dengan anakku, Kim Jaejoong.”
Apa? Apa telingaku sudah rusak? Apa yang dikatakan Nyonya Kim? Apa Nyonya Kim terbentur kepalanya sehingga berkata seperti itu? Jelas-jelas Nyonya Kim tahu aku hanya hairstylist di sebuah salon yang bahkan bukan punyaku. Dan dia menyuruhku untuk menikah dengan anaknya, Kim Jaejoong. Seorang duda kaya raya, ani.. SANGAT KAYA, masih muda, tampan, dan memikat. Aku mengenal Kim Jaejoong, hanya mengenal saja, karena 2-3x dia pernah mengantar Garry potong rambut di salon. Selebihnya aku mengenal Kim Jaejoong dari mulut Garry, dia sering menceritakan ketampanan dan kebaikan hati appa-nya. 
“Eun Soo-sii,” tegur Nyonya Kim menyadarkan lamunanku.
“Ne? Aaa~ mianhae, Nyonya Kim,” aku tergagap. Detak jantungku tak karuan, rasanya akan mencelot keluar dari tempatnya.
Dan sialnya belum selesai aku mengontrol detak jantungku, serta memusatkan pikiranku, seorang pria duduk tepat dihadapanku, di sebelah Nyonya Kim.
Pria itu tinggi, tampan, wajahnya menyiratkan ketegasan, matanya teduh sama seperti milik Nyonya Kim, dan kulitnya putih dan mulus. Ketika ia menangkap manik mataku, jantungku terasa terhenti. Kim Jaejoong.
“Anyeong, Eun Soo-ssi,” sapanya dengan tersenyum sedikit. Bahkan tidak terlihat seperti tersenyum.
“A-a-anyeong.” Sial! Kenapa aku harus gugup seperti ini. Ya Tuhan, apa maksudnya ini.
“Kau kenapa baru tiba?” tanya Nyonya Kim menyentuh lembut lengan anaknya itu.
“Mianhae, eomma.. Penerbangan dari New York di tunda.” Kim Jaejoong, sepertinya dia baru pulang dari luar negri langsung menuju kesini. 
Sepasang mata teduh itu kembali menatapku. Ia berhasil menangkap manik mataku yang sedari tadi memperhatikannya. Aku yang tersadar langsung mengalihkan perhatianku pada cangkir teh yang ada dihadapanku. Meski aq tak menatapnya langsung, aku tahu dia masih menatapku. Tanpa senyuman.
“Eun Soo-ssi.” Nyonya Kim menatapku. “Bagaimana dengan permintaanku?” 
“Ne?Aaaa-” belum sempat aku melanjutkan, Kim Jaejoong membuka mulutnya.
“Ini permintaan Garry, bukan permintaan eomma-ku.” Wajahnya tanpa ekspresi, menatapku tanpa ada gairah sedikitpun 
“Kau menyayangi Garry?” pertanyaannya membuatku tercekat.
“N-n-ne, aku menyayanginya.” 
“Baiklah, kalau begitu menikahlah denganku.”
Mwo? Apa laki-laki ini gila? Apa dia tidak memikirkan perasaanya? Apa dia sudah tidak memiliki perasaan cinta lagi? Mana bisa dia menikah dengan yeoja yang sama sekali tidak dia cintai.
Lalu bagaimana denganku? Aku juga sudah punya namjachingu. Walau tak kaya seperti dirinya, tapi aku tau Lee Hyukjae mencintaiku, begitupun aku. Mana mungkin aku meninggalkan Lee Hyukjae tanpa sebab. Mana bisa aku menghilangkan rasa cintaku pada Lee Hyukjae dalam waktu semalam. Aku rasa pasangan ibu dan anak ini sudah gila, hanya permintaan seorang bocah kecil mereka menurutinya.
“Mianhae~” ujarku lemah. “Aku menyayangi Garry. Aku menyukainya. Sungguh. Tapi, aku tidak bisa mengabulkan permintaan kalian.”
Aku tertunduk, “Aku telah memiliki seorang namjachingu. Dan dia berniat menikahiku.” 
Aku tahu wajah Nyonya Kim menyiratkan kekecewaan. Dia menghela nafas panjang. Pandangan matanya masih teduh, walau terkesan sedih. Jujur, aku risih dengan situasi seperti ini.
“Aku harus kembali ke salon. Maafkan aku.” Aku beranjak dari kursiku, membungkuk sebentar lalu pergi meninggalkan 
pasangan anak-ibu itu.
———–
-Author’s POV-
No Eun Soo, gadis itu hanya termenung di depan televisi. Seminggu setelah kejadian itu dia sama sekali tidak bisa tidur dengan tenang. Entah kenapa, apa perasaan bersalahnya pada Garry, atau menyesal menolak permintaan Nyonya Kim. Padahal kalau saja dia menuruti permintaan nyonya besar itu, sudah jelas dia akan mendapatkan apa yang dia impikan. Tinggal di rumah yang besar, mobil mewah, serta kartu kredit yang memenuhi isi dompetmu. Yang pasti Eun Soo bisa membuat salon sendiri, dan menjadi nyonya owner. 
“Aigoo!! Apa siih yang aku pikirkan, No Eun Soo!” geramnya. “Ani ani ani! Kau tak boleh menyesal, meski kau hidup sulit seperti ini jangan sampai kau menjual cintamu demi harta”, “lagipula kau sudah memiliki Lee Hyukjae, No Eun Soo.” Ia tersenyum simpul. Mata bulatnya memancarkan kebahagiaan. Ya, Eun Soo bahagia hidup bersama Hyukjae.
Cklekk! 
Pintu ruang depan terbuka, Lee Hyukjae muncul dari luar. Ia tersenyum begitu melihat Eun Soo sedang menonton televisi. 
“Hyukie, kau datang hari ini?”
“Tentu saja aku datang kalau aku merindukanmu, chagi-yaa.” Hyukjae duduk di sebelah Eun Soo. Di atas karpet bulu berwarna peach. 
“Kau sudah makan?” tanya Eun Soo.
“Ne~ tadi aku makan di kafe. Kau?”
Eun Soo tersenyum sambil mengangguk. 
Suara rintikan hujan menemani sepasang manusia yang tengah menonton televisi. Diam-diam Hyukjae menatap gadisnya yang asik menatap layar televisi. Ia tahu betul kebiasaan gadisnya, jika sedang melakukan suatu kegiatan seringkali tak sadar dengan situasi sekelilingnya. Bisa dibilang terlalu fokus. 
Hyukjae menatap gadisnya yang hanya mengenakan hotpants dan tanktop krem. Memperlihatkan bahunya yang putih mulus. Perlahan tapi pasti Hyukjae menggeser duduknya merapat ke gadisnya itu. Ia mendekatkan bibirnya ke arah telinga Eun Soo, kemudian meniupkan pelan nafasnya disana. 
Eun Soo tersentak, ia menoleh ke arah Hyukjae. Wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. “Wae?” Eun Soo bertanya.
“Kau tahu kan di luar hujan?”
Eun Soo tersenyum jahil, ia tahu pasti apa yang dimaksud Hyukjae. Ia duduk dipangkuan kekasihnya itu, lalu mengalungkan kedua tangannya di leher pria yang selalu memenuhi pikirannya.
“Dasar kau ahjussi mesum,” ujar Eun Soo seraya tersenyum jahil. 
Hyukjae yang tidak terima dengan ejekan gadisnya, meraih pinggang Eun Soo lalu menciumnya ganas, penuh dengan kenafsuan. Bibir mereka saling berpagutan, tanpa jeda untuk menghirup oksigen. Terus seperti itu, hingga tangan Hyukjae memasuki tanktop Eun Soo. Berhasil menemukan dua gundukan kenyal dan padat milik Eun Soo, Hyukjae meremasnya lembut. Memilin nipple Eun Soo hingga terdengar suara desahan kecil dari bibir tipis gadis yang selalu berhasil membuatnya ingin menidurinya. 
“Sssshhh… Aaaaah! Hyukie-yaa..” desah Eun Soo disela-sela ciuman panasnya. 
“Aku tak akan mengampuni kau malam ini, chagi. Karena kau menyebutku ahjussi mesum.” Hyukjae tersenyum penuh kemenangan. 
Perlahan tapi pasti Hyukjae berhasil membuka satu persatu pakaian Eun Soo, dan sekarang gadis itu naked di atas karpet berbulu. Hyukjae membuka kaosnya, kemudian melepaskan celana jeans-nya. Hanya boxer hitam yang tersisa membalut tubuh kekarnya. 
Eun Soo bisa melihat tonjolan keras yang ada dibalik boxer Hyukjae. Dengan tangan nakalnya Eun Soo mengelus pelan junior Hyukjae yang masih tertutup boxer.
“Ouch! Aaaah” desah Hyukjae melepaskan ciumannya. “Sabar, chagi, aku pasti akan memberikannya untukmu.”
Hyukjae membuka boxernya, dan benar saja juniornya sudah menegang sempurna. Terlihat keras dan kokoh, siap untuk menghujam Eun Soo dengan kenikmatan. 
Mereka berdua saling berpagutan dengan tubuh naked di atas karpet berbulu. Suara gemericik hujan membuat suasan malam ini terasa berbeda. 
Eun Soo mengerang saat Hyukjae menyesap payudaranya. Memilin nipple coklat mudanya, kemudian berpindah menciumi perut ratanya. 
Ciuman Hyukjae semakin turun ke pusat tubuh Eun Soo. Hingga bibir Hyukjae berhasil membelai lembut bibir kewanitaannya. Kecupan itu membuat Eun Soo melayang, syaraf-syarafnya menegang sempurna. 
“Ooooohhh… Hyukie-yaa” Eun Soo meradang saat lidah Hyukie berhasil memainkan klitorisnya. 
“Aaaaaahhhh..” Hyukie menyesap klitoris Eun Soo, membuat gadis itu kesakitan sekaligus nikmat. “Terusssh- teruuuuskaaan..” pinta Eun Soo. 
Hyukjae melirik ke arah gadisnya, menatap ekspresi nikmat wajah Eun Soo. Dengan nakalnya Hyukjae terus memainkan lidahnya disana. 
“Aaaaaakh!” cairan orgasme Eun Soo mengalir ke mulut Hyukjae. Lidah pria itu menikmati setiap cairan yang keluar. 
Kemudian ia merangkak ke atas, kembali menciumi bibir ranum gadisnya. Tak perlu waktu lama, Hyukjae berhasil memasukkan juniornya ke dalam tubuh Eun Soo.
“Aaaaah!” desahnya. “Milikmu nikmat, chagi.. Akuuh sukaa.” Lee Hyukjae menggenjot tubuh Eun Soo dengan cepat. 
“Aaaaahhh… Aaaahhh… Terussshh- hyuki-yaa! Oooohhh… Sssssh..”
Hyukie semakin mempercepat menggoyangkan pinggulnya. Menghujam otot-otot vagina Eun Soo yang terasa menjepit kuat juniornya. 
“Ooooohhhh… Mendesahlah sayaang,” Hyukie menciumi leher Eun Soo sambil terus mempercepat gerakannya. 
Eun Soo dapat merasakan junior Hyukjae menghujam rahimnya. Nikmat, itu yang dirasakan Eun Soo. “Aaaaaakhhh! Aaaaaahhh… Oooooohhhh…”
Desahan Eun Soo membuat libido Hyukjae semakin memuncak. Ia merasakan miliknya berkedut, dan benar saja..
“Aaaaakh!” Dia mencabut juniornya, melepaskan cairannya di mulut mungil Eun Soo. Tanpa jijik, Eun Soo pun menelan semua cairan kental milik Hyukjae. 
Mereka saling mengatur nafas masing-masing, kemudian Hyukjae mengecup bibir Eun Soo. “Habiskan. Itu hukumanmu malam ini,” Hyukjae tersenyum jahil yang dibalas Eun Soo dengan tatapan nakal. 
“Segitu saja hukumanku?” 
“Aniyo.” Hyukjae mendekatkan wajahnya ke arah Eun Soo. “Kita akan bermain sampai pagi.”
“Mwo?!!! Yak, Hyukie! Kau mau membunuhku?!” 
Hyukjae hanya terkekeh mendengar protesan gadisnya itu.
———–
-Eun Soo’s POV-
“Soo-yaa, sudah lebih dari seminggu aku tak melihat Hyukjae menjemputmu,” ujar Tae Yoon sambil membereskan guntingnya.
“Ne~ dia juga tidak muncul di rumahku. Akhir-akhir ini pekerjaan dia bertambah. Dia tidak hanya bernyanyi di kafe Dong Gu Ahjussi saja, teman SMA-nya ada yang menawarkan dia bernyanyi di kafe miliknya.”
“Eo~ berarti penghasilan pria-mu itu semakin bertambah,” Han Na eonni menimpali, “Aku rasa dia bekerja keras untuk pernikahan kalian.” 
Aku tersipu malu mendengar perkataan Han Na eonni. “Heheheh.. Kau bisa saja, eonni.”
————
“Kau masih ingat halte busnya kan, Soo-yaa ?” tanya Tae Yoon.
Malam ini sepulang kerja aku menjenguk suami Tae Yoon di rumahnya. Memang agak jauh rumah Tae Yoon dari rumahku, jadi aku harus 2x berganti bus.
“Ne, tentu saja aku ingat.”
“Yasudah kau hati-hati. Ini sudah jam 11 malam. Tapi kau jangan khawatir, di dekat halte banyak kafe-kafe yang masih buka jam segini, jadi jalan masih ramai.”
“Arachi~ kalau begitu aku pulang dulu Yoon-ah. Sampai ketemu besok.” Aku melambaikan tangan pada Tae Yoon lalu berjalan menjauhi pintu rumahnya.
Mmmm.. Benar saja apa kata Tae Yoon, di dekat halte bus masih banyak orang berlalu lalang. Karena daerah rumah Tae Yoon dekat dengan pusat lifestyle. Banyak kafe-kafe yang menyajikan life music masih buka. Banyak orang berlalu-lalang di depan kafe. Yang bercengkrama di depan kafe pun masih banyak. 
Aku mengamati sebuah kafe outdoor, yang sedang menampilkan pertunjukan live accoustic di seberang halte. Suara penyanyi wanitanya sangat merdu menyanyikan sebuah lagu percintaan yang sedih. 
Entah mengapa mataku tertuju pada seorang pria, pria yang sangat ku kenal. Siluet rahangnya yang tegas, serta tubuhnya yang tegap. Tubuh yang selalu merengkuhku ketika kami berada di puncak kenikmatan. Dia berdiri di seberangku, berdiri dengan tangan kanan disakunya dan tangan kirinya menenteng kotak gitarnya. Itu Lee Hyukjae. Namja yang paling aku rindukan, meski baru seminggu, tapi aku sangat merindukan.
Baru aku ingin melambaikan tangan dan meneriakkan namanya, seorang gadis muncul langsung memeluk tubuhnya dari belakang. 
Siapa gadis itu? Apa maksudnya? Apa-apan dia? 
Ribuan pertanyaan berkecamuk di otakku. Belum satu pun aku berhasil jawab, Hyukjae merengkuh gadis itu, mereka berdua terlihat bahagia. Senyum Lee Hyukjae, yang biasa dia beri padaku, ia berikan juga pada gadis itu. Oh Tuhan! Apa maksudnya ini?
Dadaku berdesir hebat, rasanya kaki ku lemas. Mereka pergi, pergi memasuki kafe bernuansa garden itu. Aku disini masih terpatung, menatap mereka. Menuntut jawaban yang aku tanyakan pada diriku sendiri. Padahal aku sudah tahu jawabannya hanya satu. 
LEE HYUKJAE SELINGKUH!
Ani! Aku harus mencari jawaban yang pasti. Ku pastikan otakku sudah tak bekerja setelah melihat adegan itu. Tanpa ku sadari aku melangkah menyebrangi jalanan yang lumayan sepi, aku berniat menyusul Lee Hyukjae, menuntut jawaban dari pertanyaanku. Memang jalanan terlihat sepi, aku berjalan setengah berlari menyebrangi jalanan. 
Tanpa aku sadari, seberkas cahaya putih menyorotku dan suara klakson mobil bergema si telingaku.  
Oh Tuhan! Aku hampir mati kalau saja mobil mewah berwarna hitam ini pengemudinya tidak memiliki saraf refleks yang hebat. Tetapi pikiranku kembali kepada Lee Hyukjae. Aku menatap ke arah kaca depan mobil mewah tersebut. Tidak terlihat pengemudinya, hanya samar. Sepertinya pengemudi ini tidak mempermasalahkan. Aku menunduk cepat lalu segera menyingkir ke pinggir jalan. 
Tanpa memperdulikan siapa pengemudi mobil tadi, aku memasuki kafe yang tadi Lee Hyukjae masuki. Aku mencari ke setiap sudut kafe, pandanganku berpendar ke semua penjuru. Hingga akhirnya aku menangkap sebuah siluet pria yang sedang mengacak lembut puncak kepala seorang gadis lalu mencium keningnya. 
Mereka saling berpandangan lalu tersenyum bahagia. Hatiku mencelos, percayalah ini lebih sakit ketika jarimu tertusuk duri. Dadaku sesak. Serasa tak ada oksigen yang dapat ku hirup. 
Dan jantungku serasa berhenti ketika pandangan mata kami dipertemukan.
——–
Lelaki bermarga Lee itu segera menarik tanganku. Bodohnya aku mau mengikuti kemana dia mengajakku. Hanya ke sebuah gang buntu di antara sebuah toko es krim dan toko perhiasan. 
Dia mengajakku kesitu. Aku menatap keseliling, hanya ada beberapa tumpukan kantong hitam di sudut gang buntu itu. Itu pasti berisi sampah, pikirku, sempat-sempatnya aku berfikir di situasi seperti ini. 
Hyukie, yaa begitulah aku memanggilnya terkadang. Paling sering saat bercinta aku memanggilnya demikian . Dia menatapku nanar, seolah meminta permohonan maaf atau perasaan bersalah. Molla~ yang aku tahu aku tidak bisa berpikir untuk saat ini. Masih bisa bernafas saja aku sudah bersyukur. Karena rasanya dadaku memang benar-benar sesak.
“Mianhae, chagi-yaa,” ucapnya lemah. Matanya masih menatap mataku.
“Untuk?” tanyaku datar. 
“Aku melakukan ini untuk masa depan kita.”
“Maksudmu?”
“Aku….” Hyukie memalingkan wajahnya. “Aku…”
“Berselingkuh!” Entah setan dari mana yang memasukiku hingga aku bisa berkata seperti itu.
Kulihat mata Hyukie membesar, dia mengepalkan tangannya. “Aku terpaksa melakukannya, orang tua Jae In pemilik kafe itu. Dia berjanji akan menjadikan aku penyanyi tetap di kafenya, asal aku bisa kembali berpacaran dengan Jae In.” 
Hatiku sungguh mencelos mendengarnya. Sekujur tubuhku merasakan sakit, efeknya air mataku mengalir ke pipiku. 
“Apa maksudmu, Hyukie?”
“Chagi, sebelum bertemu denganmu, aku berpacaran dengan Jae In. Kami berpacaran sejak SMA”, “tapi sungguh saat ini aku hanya mencintaimu.”
“Kalau kau mencintaiku, kenapa kau jual cintamu padanya, Hyukie!!?” suaraku meninggi disertai isakan tangisan. Hatiku perih mendengarnya. Lee Hyukjae, kau satu-satunya orang yang kupercaya di dunia ini. Mengapa tega melakukan ini padaku. 
“Chagi, dengarkan aku dulu.. Aku berjanji setelah aku mendapat kontrak kerja, aku akan memutuskan hubunganku dengan Jae In. Aku akan menikahimu.”
Kata-kata Hyukie lumayan membuat hatiku sedikit tenang. Tapi, bagaimana bisa aku melihat kekasihku bermesraan dengan wanita lain. Wanita mana yang akan tahan melihat pria yang dicintainya mengecup lembut bibir wanita lain.
“Hyukie, jangan lakukan itu. Jebaaal…” air mataku jatuh lagi. “Aku rela hidup apa adanya denganmu, asal seutuhnya kau milikku. Kau tak perlu melakukan itu, jebaaaal” pintaku. 
Isakan tangisanku semakin kencang, aku merengkuh tubuh Hyukie. Tapi, tidak! Baru beberapa detik aku merasakan kehangatan tubuhnya, dia melepaskan pelukannya. Entah firasat atau naluri, perasaanku kacau, aku merasa sesuatu akan terjadi. Aku menatap matanya, melirik tindikan di telinganya. Menelusuri rahang kerasnya dengan tanganku. Aku mencintainya. Sungguh mencintainya. Tapi apa? Dia sama sekali tak menatapku. Dia hanya mematung, memandang onggokan plastik hitam yang menggunung di pojokan gang.
“Percayalah chagi, aku melakukan ini untukmu…”
“Andwae! Jebaal, Hyukie. Kumohon jangaan..”
Ia menatapku yang menangis lagi. Serasa ribuan kubik batu menghujam kepalaku saat ini. Dia menggenggam tanganku. 
“Hyukie, jebaaaal.. Kita hidup seperti dulu. Apa adanya. Bahagia. Ne?” 
“Mianhae chagi-yaa, aku sungguh mencintaimu, aku ingin membahagiakanmu dengan masa depan yang baik..”
“KALAU KAU INGIN MEMBAHAGIAKANKU, JANGAN SEPERTI INI !” air mataku semakin deras. 
“Tidak bisa, chagi.. Jeongmal mianhae.. Tapi aku janji akan menikahimu..”
————–
Aku terpaku mendengar ucapan Hyukie, aku menatap matanya. Mengapa dia tega melakukan itu? Apa begitu cara dia membahagiakanku?
“Aku yang akan menikahinya.” Sebuah suara berat namun merdu menyahut dari arah belakangku. Aku mengenal suara itu.  Dengan mendengarnya saja aku bisa merasakan tatapannya.
Kutolehkan wajahku, menatap pria tinggi berwajah mulus itu. Matanya menatap Hyukie. Pandangannya berbeda dari sebelumnya, ternyata dia bisa menatap orang dengan tatapan membunuh seperti itu. 
“Kim Jaejong-ssi,” suaraku tercekat. Ia menatapku. Dengan cepat menarik pergelangan tanganku, merengkuhku. Aku yang terkesiap hanya bisa diam. Diam dibalik lengan kokohnya.
“Nuguya?!” suara Hyukie meninggi.
“Aku Kim Jaejoong. Pria yang akan menikahinya.” 
*to be continued…

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: