Little White Lies

0
Little White Lies
Author : Sungels’94
Tittle : Little White Lies
Category : NC21, Yadong, Romance, Oneshoot
Cast :
Kim Myungsoo [INFINITE]
Jung Hannah [OC]
Michael Rangamiz as Jung Michael
Senin pagi Doncaster Center Park di penuhi oleh orang-orang berlalu-lalang. Udara yang tak lagi menghembuskan angin winter yang dingin, membuat orang-orang tak lagi mengenakan lapisan layer-layer tebal di tubuh mereka, digantikan dengan mantel ringan atau parka (atau sweater rajut penuh gaya bagi para teenagers) untuk sedikit memberi kehangatan dari sejuknya angin spring.

Langit abu-abu musim dingin-pun perlahan-lahan menyingkir dari langit kota yang berada satu setengah jam perjalanan dari London itu, digantikan dengan langit cerah musim semi.
Tak ada yang lebih menyenangkan daripada berjalan menyusuri Center Park di pagi hari saat semua bunga-bunga bermekaran. Walaupun tak banyak yang mengapresiasi keberadaan bunga-bunga itu saat jam sibuk dan semua orang berjalan tergesa-gesa ke tempat kerjanya, tapi sebenarnya mereka menyukai musim semi.
Walaupun tak selalu menengok bunga-bunga yang tertanam rapi di sisi-sisi path-way di Center Park, tapi mereka selalu bergumam senang saat mencium aroma bunga dan aroma musim semi yang menyebar di udara. Mereka hanya terlalu sibuk untuk menyapa bunga-bunga yang bermekaran dengan indahnya itu.
Well, di Central Park yang menjanjikan keindahan musim semi itulah-Hannah, gadis keturunan Korean-British yang memiliki sepasang mata biru dan rambut cokelat yang lembut seperti bulu, menghabiskan waktu paginya.
Tak hanya musim semi, dia juga akan menghabiskan waktunya di taman itu saat musim panas, gugur dan dingin tiba. Dia akan datang ke taman pukul delapan setelah menikmati teh Yorkshire favoritnya di flat sempit yang ia sebut home. Dia selalu duduk di bangku kayu, di disisi path-way yang berjarak beberapa meter dari air mancur legendaris Doncaster Center Park- Amora Milagroso Fountain, yang diambil dari Bahasa Spanyol yang berarti ‘Keajaiban Cinta’.
Terdengar cliche memang, tapi itu semua tidak terlepas dari legenda fountain yang dibangun seniman Spanyol pada era Victorian itu sendiri. Ada sebuah kisah menarik dibalik pembangunan air mancur setinggi tiga meter dengan diameter kolam dibawahnya sekitar lima meter itu. Kisah tentang sebuah kastil kasih sayang yang dibangun bangsawan kaya raya untuk istrinya yang buta-
“-Lady Veronica, yang walaupun buta sangat berkharisma dan disayangi semua orang. Earl Druitt sangat menyayangi Lady Veronica meski dia tak bisa memberikannya keturunan. Dan ia membangun sebuah kastil untuk istrinya sebagai tanda cintanya. Kastil berwarna putih gading itu dibangun diatas sebuah bukit, yang dikelilingi taman bunga. Semua orang takjub dengan keindahan kastil itu. Akhirnya mereka berdua pindah ke kastil itu, dan dua tahun kemudian keajaiban datang-Lady Veronica hamil, bahkan ia dapat melihat setelah melahirkan anak pertamanya. Akhirnya mereka hidup bahagia di kastil penuh keajaiban itu. -Berpuluh-puluh tahun kemudian, seorang seniman Spanyol menemukan reruntuhan kastil yang diyakini adalah reruntuhan kastil kasih sayang itu, dan memakai reruntuhan itu untuk membangun Amora Milagroso Fountain ini-”
Semua mata langsung tertuju pada fountain yang menyemburkan air jernih kebiruan pada dua buah patung cupid yang saling mengarahkan panah mereka satu sama lain di belakang Hannah, saat gadis itu menyelesaikan dongengnya pada beberapa remaja yang datang ke taman.
“-sangat indah sekali, ‘kan?” Hannah melangkah kesamping, memberi jalan para remaja itu agar dapat melihat lebih dekat keindahan air mancur.
“Daaaaaan,” Hannah menepukkan tangannya, membungkuk pada remaja-remaja itu dan memberi isyarat pada mereka agar mendekat. “Barang siapa yang melempar koin ke dalam fountain ini, mereka akan segera bertemu dengan cinta sejatinya,” bisik Hannah sungguh-sungguh, membuat para remaja itu bergumam takjub.
“Hey Phezzz, apa kau membawa koin?” tanya seorang gadis pirang pada tem-saudara kembarnya yang langsung menggeleng penuh penyesalan.
“Lotts?” tanyanya lagi pada gadis yang lebih tinggi, yang berdiri di sebelah Hannah. “Fizz?” tanyanya begitu gadis yang ia tanyai menggeleng. Gadis cantik berambut cokelat yang ia panggil Fizz-pun menggeleng.
“Ha, don’t worry gals,” Hannah berkata dengan nada yang penuh siulan, ”aku punya banyak koin kalau kalian mau menukar uang padaku,” katanya sambil mengerling.
“Tentu, tentu.”
Angin malam musim semi membuat Hannah yang berjalan di pathway Center Park berlari-lari kecil karena kedinginan. Ia membenarkan letak beanie abu-abu di kepalanya agar benda fluffy itu tak terjatuh. Dalam hati ia mengutuk karena malam ini ia tak memakai boots atau Vans-nya, ia hanya memakai sepatu Toms-nya yang sama sekali tak membantu rasa dingin di kakinya.
Center Park sudah sepi saat Hannah tiba di sini beberapa menit lalu. Lampu-lampu taman sebagian besar sudah dimatikan karena ini sudah lewat tengah malam dan tak banyak atau bahkan tak akan ada orang yang datang kesini.
Tapi Hannah datang. Ia selalu datang kesini selepas tengah malam, berjalan dari flat-nya yang berjarak dua puluh menit dari sini; hanya untuk menghampiri air mancur di tengah taman.
Ia bersiul senang begitu ia mencapai air mancur yang gemericiknya semakin terdengar karena suasana taman yang tenang dan sepi. Ia melepas parka yang ia pakai, melemparnya ke bangku terdekat air mancur setelah mengeluarkan sebuah senter dari sakunya. Ia berbalik untuk kembali ke depan air mancur sambil menggulung lengan sweatshirt-nya sebatas siku.
Tapi ia berhenti bergerak saat ia melihat sesosok bayangan di seberang air mancur. Sosok itu duduk di tepian air mancur; membelakangi Hannah. Gadis berambut ikal sepunggung itu mengurungkan niat awal ia datang kesini. Ia menurunkan lengan sweatshirt-nya dan menyambar parka-nya sebelum berjalan pelan-pelan menghampiri sosok tersebut.
Hannah bergidik saat berpikir kalau orang itu bisa saja seorang psikopat, atau pembunuh berantai yang sedang mencari korban. Tapi ia terus berjalan mengitari kolam air mancur hingga sampai di sebelah sosok yang ternyata seorang pria.
Pria itu terkejut dengan kehadiran Hannah yang tiba-tiba dan melompat untuk berdiri. Ia memandangi Hannah, berdiri dengan posisi defensif. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya yang tegang.
“Hey, chill out man,” Hannah menggeleng kecil, “maaf mengagetkanmu,”
Pria itu mengerutkan kening, lalu menggeleng. “Nah, I’m good.”
Hannah mencondongkan tubuh ke depan untuk melihat pria itu lebih dekat lagi, lalu tertawa keras setelah tahu kalau pria bertinggi kira-kira 6 kaki itu adalah pria yang beberapa hari yang lalu datang air mancur ini, mendengarkan Hannah mendongeng dan melempar koin ke kolam air mancur.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Hannah setelah tawanya mereda, ia menutupi mulutnya dengan tangan merasa tidak sopan karena sudah tertawa di depan muka orang.
“Ah, kau story-teller yang waktu itu ‘kan?” pria berambut gelap dengan poni menutupi dahi di hadapan Hannah mengecek wajah Hannah sekali lagi, lalu bernapas lega saat Hannah mengangguk.
“Hey, kau tidak menjawab pertanyaanku mister-,”
“Myungsoo, dan tolong jangan panggil aku mister.”
“Whooa man, kau Orang Korea? Ayahku juga Orang Korea,” Hannah memekik senang karena ia bertemu orang Korea selain ayahnya.
Pri-Myungsoo mengangguk. Wajahnya berbinar setelah mendengar ucapan Hannah. “Ne ne. Kau bisa Bahasa Korea?” tanyanya dalam Bahasa Korea.
“Sedikit. Ayahku selalu mengajakku mengobrol dengan Bahasa Korea sejak kecil,”
“Great! Akhirnya aku bisa mengobrol dengan orang tanpa harus memakai Bahasa Inggris,” Myungsoo tertawa kecil sebelum mengulurkan tangannya pada Hannah. “Aku Kim Myungsoo.”
“Umm, aku Jung Hannah,” jawab Hannah dan menerima uluran tangan Myungsoo, menyalaminya.
“Sekarang katakan apa yang kau lakukan malam-malam di sini,” Hannah berkeras ingin mengetahui tujuan Myungsoo datang ke tempat ini, karena ini baru pertama kalinya ada orang lain selain Hannah yang datang kesini.
“Aku juga bisa menanyakan hal yang sama padamu nona,” Myungsoo membenarkan letak jaket jeans-nya lalu kembali duduk di tepian kolam air mancur, tapi matanya yang tajam terus memandangi Hannah.
“You’re so rude! Aku yang bertanya lebih dulu,” kata Hannah dengan nada jengkel.
“Okay, sorry. Aku akan menceritakan maksudku kesini asal kau berjanji tak mentertawaiku,” Myungsoo menunduk sambil memainkan tangannya di pangkuannya. Mengira-ngira apa Hannah bisa dia percaya.
“Nah, don’t worry,”
Myungsoo menarik napas pendek, lalu berkata, “aku datang kesini untuk melempar koin ke air mancur lagi.”
Hannah menatap Myungsoo heran, keningnya yang sebagian tertutup beanie mengerut penasaran. “Umm, bukankah kau sudah melempar koin?” katanya berusaha ber-logika.
“Yeah,” Myungsoo berdiri dan rambutnya tertiup angin saat ia menoleh pada Hannah. “Aku-aku masih belum bertemu cinta sejatiku,” ia mengakui malu-malu sambil memainkan kakinya di lantai paving-batu taman.
“Tidak secepat itu Myungie-oops!” Hannah tersenyum malu karena ia memanggil Myungsoo dengan nama pendek. Dan itu tak pernah ia lakukan pada orang asing yang baru ia temui, well dua kali bertemu.
“Tidak apa-apa,” Myungsoo tersenyum, memberi Hannah keberanian untuk memanggilnya dengan nama pendeknya seperti itu.
“Okay. Secara teori kau baru melempar koin dua hari yang lalu, dan kau sudah mengharapkan cinta sejatimu muncul. Itu mustahil,”
Myungsoo mengangkat bahu skeptis. “Kau sendiri yang mengatakan kalau fountain ini adalah keajaiban cinta, jadi kurasa-”
“Ya ya, ini memang air mancur keajaiban cinta, tapi kau harus menunggu Myung. Dan semua akan indah pada waktunya, believe me!” kata Hannah dengan berseri-seri. Mata biru cerulean-nya tampak bersinar.
Myungsoo mengangguk. “Anyway, apa yang kau lakukan disini malam-malam?”
“Uh, aku-ada satu rahasia yang akan kukatakan kepadamu,” Hannah berbisik dan memutar tubuhnya menghadap air mancur. Dengan tangan yang sedikit gemetar ia merogoh saku jeans-nya, tersenyum saat mengeluarkan sebuah koin berwarna perak.
Myungsoo tertarik dan berjalan mendekati Hannah, dengan suara lembut ia bertanya, “apa?”
“Kalau kau melempar koinnya di bawah sinar bulan, maka cinta sejatimu akan semakin cepat datang,” kata Hannah setengah berbisik. Seringai penuh kemenangan menghiasi wajahnya yang bundar dan Myungsoo tak dapat melihat seringai itu karena ia terlalu terpesona dengan cerita Hannah, pria yang memiliki mata indah itu hanya memandangi kilauan cahaya bulan yang memantul di permukaan kolam air mancur.
“So, aku datang kesini untuk melempar koin-ku,” Hannah bersiul lalu melempar koin di tangannya ke kolam di bawah air mancur.
“Kau? Kenapa kau baru melempar koin-mu sekarang?” Myungsoo menatap Hannah curiga. “Bukankah dua hari yang lalu kau mengatakan kalau kau berada di sini setiap hari?”
“Oh,” Hannah menelan ludah panik, namun tersenyum sepersekian detik kemudian. “Aku hanya tidak pernah berpikir tentang cinta sejati, well sampai hari ini maksudku. Jadi aku melempar koinku sekarang karena malam ini bulan bersinar terang.” Hannah berbohong dengan sempurna. Terima kasih pada Profesor-profesor yang mengajarinya akting di tempatnya kuliah.
“Okay. Aku juga akan melempar koin-ku agar cinta sejatiku segera datang,”
Kenyataannya adalah Hannah tak pernah berniat melempar koin ke kolam dan tujuan utamanya ke tempat ini adalah untuk memunguti koin-koin yang hari ini sudah orang lempar ke kolam. Setiap pagi sebelum ia pergi kuliah, ia akan tinggal di dekat air mancur selama dua jam untuk menceritakan kisah romantis di balik keindahan air mancur ini, dan mengatakan mitos tentang koin dan cinta sejati, agar mereka yang mendengarnya tertarik dan mau melempar koin ke kolam. Atau bahkan kalau ia beruntung, orang yang tak membawa koin akan menukarkan uang kertas mereka dengan koin milik Hannah; koin yang ia kumpulkan dari kolam.
So, Hannah rasa perbuatannya itu tak salah, karena kisah romantis tentang air mancur yang ia ceritakan bukanlah karangannya, ia mendengar cerita itu dari Johannah, ibunya. Mitos tentang koin-pun juga bukan bualan yang ia ciptakan sendiri, mitos itu sudah ada sejak dulu, bahkan sejak ibunya masih kanak-kanak dulu, mitos itu sudah ada.
Hannah hanya memanfaatkan ke-naif-an orang-orang yang mempercayai hal semacam itu untuk mengumpulkan sedikit uang yang bisa ia pakai untuk membeli sandwich atau crackers atau apapun yang bisa membuatnya kenyang seharian.
Ia hanya dapat bekerja paruh waktu selama tiga kali dalam seminggu, karena pemerintah tak membiarkan pelajar bekerja lebih dari delapan belas jam per minggu. Dan itu sangat menyusahkannya. Kalau saja peraturan itu tak ada, pasti setiap hari ia akan bekerja paruh waktu, dari tempat satu ke tempat lainnya selama ia tak ada kuliah. Jadi orang tuanya tak harus membantunya membayar sewa flat-nya.
Selama ini tak ada orang yang merasa dirugikan oleh perbuatan Hannah, kalau ada seharusnya mereka sudah memarahi Hannah. Tapi selama dua tahun ia melakukan hal ini, tak ada seorangpun yang merasa dirugikan olehnya. Jadi ia terus melakukan hal ini untuk mencari uang selain bekerja paruh waktu di sebuah Café.
Hannah berjalan tergesa-gesa meninggalkan Relish Café setelah jam kerjanya habis. Ia menyusuri jalanan Cleveland Street dengan mantel musim seminya menutupi kepala, berusaha melindungi tubuhnya dari gerimis yang semakin lama semakin deras. Dengan berat hati ia berhenti di teras sempit sebuah toko, menggamit ranselnya erat-erat di satu sisi tubuhnya, sementara tangan yang lain memegangi mantelnya.
“Shit!” ia bergumam kesal saat hujan semakin deras. Musim semi memang penuh dengan hujan. Hannah menyukai hujan, tapi tidak di saat seperti ini, saat ia harus segera sampai di kampus-nya untuk mengikuti latihan drama yang akan di pentaskannya beberapa minggu lagi. Dan kalau sampai hari ini dia terlambat lagi, berarti ini adalah keterlambatannya yang ke tiga. Ia tahu bagaiman Professor Wooddrift membenci keterlambatan. Ia pasti akan mencoret nama Hannah dari daftar pemain dan Hannah tak bisa mengambil kelas Mind, Body and Spirit Synchronisation semester depan jika tak lulus di kelas Professor Wooddrift. Dan, kemungkinan terburuk adalah ia kehilangan beasiswa-nya kalau ada mata kuliah yang ia tak lulus.
Suara lonceng di pintu toko yang terbuka membuat Hannah melonjak kaget. Ia menoleh hanya untuk mendapati Myungsoo-pria yang beberapa hari lalu bertemu dengannya di Center Park. Myungsoo tersenyum dan melambaikan tangannya, lalu berjalan mendekat pada Hannah.
“’Ello Miss-Story-Teller,”
“Hi Mister-Impatient-To-Meet-His-True-Love,”
“Seriously,” Myungsoo tertawa. “Nama itu terlalu panjang untukku. Kenapa tidak memanggilku Mister-Charming saja?”
Hannah ikut tertawa sebelum ponselnya berbunyi. Ia menggumamkan kata ‘sorry’ pada Myungsoo saat mengambil ponsel dari ranselnya lalu berbicara pada seseorang di telepon.
“Sorry Babs, sepertinya aku terlambat. Apa kau bisa melaporkannya pada Professor?-Mungkin setengah jam lagi, aku menunggu hujannya sedikit reda-Okay thank you so much Babs, love you,” Hannah memasukkan kembali ponselnya ke dalam ransel, lalu mendongak untuk melihat keadaan hujan. Masih deras, bahkan semakin deras.
“Have a problem there?” Myungsoo melambaikan tangannya di depan wajah Hannah untuk membawa gadis dua puluh tahun itu keluar dari lamunannya.
Hannah mengangkat bahu. “Aku hanya menunggu hujannya reda agar aku bisa pergi ke kampusku,” katanya mengakui.
“Oh, kau kuliah di mana?”
“Tentu saja Doncaster College, tidak ada Uni lain di sini, sir,” jawab Hannah sarkastis.
“Um maksudku di kampus mana? Anyway aku di The Hub,” Myungsoo tertawa.
“DBIC,” kata Hannah singkat.
Dan begitulah, akhirnya Myungsoo yang seorang mahasiswa Art Design and Media yang menyukai photography mengantar Hannah ke kampus dengan volkswagen tua-nya, hingga Hannah tak jadi terlambat dan semua bayangan buruknya tentang tak lulus mata kuliah Professor Wooddrift tak terjadi.
Dan Myungsoo yang baik hati menerima tawaran Hannah untuk melihatnya latihan, bahkan ia juga bersikeras mengantar Hannah pulang karena hujan masih belum reda saat latihan Hannah selesai, sekitar pukul delapan malam.
Hannah bisa saja pulang dengan menumpang pada Barbara, teman akrab Hannah, tapi ia tak mau berdebat dengan Myungsoo karena pria itu keras kepala.
“Kau benar-benar tidak perlu melakukan ini,” Hannah bergumam saat melepas sabuk pengaman pada tubuhnya. Ia duduk beberapa saat menunggu Myungsoo berbicara sebelum membuka pintu mobil dan keluar karena Myungsoo tak mengatakan apa-apa.
“Your welcome!” teriak Myungsoo saat memandangi Hannah berjalan masuk gedung tempat flat-nya berada.
“Yeah yeah, thank you, arsehole!” Hannah balas berteriak sambil menjulurkan jari tengahnya pada Myungsoo yang tertawa kecil di mobilnya.
—-
Musim semi terus bergulir dan sudah memasuki bulan kedua. Hannah dan Myungsoo jadi sering bertemu karena Myungsoo datang ke Center Park setiap akhir pekan hanya untuk mengobrol dengan Hannah atau bermain dengan Michael, adik laki-laki Hannah yang ia bawa ke taman setiap hari minggu.
Hannah bahkan mengundang Myungsoo makan malam di rumah Orang-tuanya, karena Michael tak pernah berhenti bercerita tentang Hyung tampan yang selalu bermain dengannya di taman. Dan orang tua Hannah sangat penasaran dengan pria itu, jadi Hannah memutuskan untuk mengundang pria, yeah, tampan itu makan malam saat akhir pekan. Karena hanya pada saat akhir pekan saja Hannah akan datang ke rumahnya, saat hari-hari biasa ia tinggal di flat yang ia sewa dua tahun yang lalu saat masuk universitas.
“So, Myungsoo-ssi, kau berasal dari Korea?” ayah Hannah menanyai Myungsoo saat mereka berkumpul di ruang duduk setelah selesai makan malam. Ibu Hannah mencuci piring di dapur sementara Hannah bermain FIFA dengan Michael.
“Iya, um dari Seoul.” Myungsoo mengangguk sopan, lalu memandangi layar Televisi yang memperlihatkan game yang Michael dan Hannah mainkan.
“Apa kau satu jurusan dengan Hannah?”
“Appa, Myungsoo mengambil jurusan Art Design and Media sedangkan aku mengambil Music and Performing Art, sudah berapa kali aku bilang?” Hannah menoleh sekilas pada ayahnya lalu kembali fokus pada game-nya karena Michael berhasil mencetak goal. “Mikey Mikey, kau hebat!” Hannah bersorak, melempar stick game-nya lalu memeluk adiknya yang berusia tiga tahun tapi sudah bisa bermain FIFA karena sejak usia dua tahun kakaknya sudah mengenalkan game itu padanya.
“’Ta (thanks) ‘Annah, I lawv you,” Michael juga melempar sticknya agar bisa memeluk Hannah.
“Love you too, little M,” Hannah mengacak rambut sebahu Michael yang keriting di ujungnya, lalu menciumi pipinya berulang-ulang.
“Okay kids!” ibu Hannah muncul dengan membawa nampan berisi kukis dan susu. “Waktunya Mikey tidur,”
“Mum, belum mengantuk. Aku masih bermain dengan ‘Annah,” Michael protes dan menyembunyikan diri dalam pelukan Hannah.
“Hey Munchkin, kita bisa bermain di kamarmu, kau memakan kukis dan meminum susumu, kau menggosok gigi, lalu aku membacakanmu dongengm dan kau pasti akan mengantuk,” bisik Hannah, berusaha membujuk adiknya.
“Pwomise?” Michael mengangkat wajah, memandanng Hannah dengan mata polosnya yang seperti anak anjing.
“Promise,” Hannah tersenyum, lalu berdiri. “Let’s go, Captain Mikey.”
Michael mengangguk, lalu berlari ke ibunya. Johannah menyerahkan nampannya pada Hannah, lalu memeluk Michael. “Good night Munchkin. Sleep tight and have a nice dream,” ia mencium Michael sekali lagi sebelum membiarkan anaknya itu berlari ke kamarnya diikuti oleh Hannah, lalu dia kembali ke dapur.
“Hey Myungsoo-ssi,” ayah Hannah menepuk bahu Myungsoo begitu Hannah hilang dari pandangan. “Apa kau menyukai Hannah?”
Myungsoo terkejut dengan pertanyaan Tuan Jung, lalu membenarkan posisi duduknya yang tiba-tiba terasa tidak nyaman karena gugup. “Um, t-tidak. Kami hanya berteman, sungguh,”
“Whatever, tapi aku akan mengapresiasinya kalau kau menyukai putriku,”
“T-terima kasih,”
“Hey, Myungsoo,” panggil Hannah saat dirinya dan Myungsoo berjalan ke mobil Myungsoo yang ia parkir di jalan depan rumah Hannah.
“Hmm?”
“Ayahku tidak menanyaimu hal yang tidak-tidak ‘kan?”
Mereka berhenti begitu sampai di volkswagen tua Myungsoo. “Maksudmu?” Myungsoo menyandarkan tubuh pada sisi mobil, tangannya terlipat di depan dada, dan ia terlihat seperti seorang model Vogue.
“Well, mungkin bertanya apa kita pacaran, atau hal lain yang menurutmu aneh?”
“Tidak,” Myungsoo berbohong. Ia tak ingin membuat suasana menjadi canggung kalau ia berkata ‘Iya, dia menanyaiku apa aku menyukaimu dan aku menjawab tidak. Tapi walaupun aku menjawab iya sepertinya ia akan merestui hubungan kita.’
Hannah mendesah lega. “Syukurlah. Maaf sudah menanyakan hal ini,”
“Nah, it’s fine. Memangnya kenapa?”
“Um, ayahku selalu bertanya hal seperti itu setiap ada teman pria-ku datang ke rumah, dan itu membuat mereka merasa tidak nyaman. Jadi mereka tak mau lagi bermain kerumah, apalagi aku punya adik yang sangat berisik,” Hannah tertawa, tapi matanya memandangi slipper yang ia pakai di kakinya.
“Oh, aku tidak mempermasalahkan hal seperti itu. Aku senang datang ke rumahmu karena keluargamu hangat, dan Michael sangat menggemaskan,” Myungsoo tersenyum sebelum membuka pintu mobilnya. “Well terima kasih atas makan malamnya, ‘Annah,”
“Hey, hanya Michael yang boleh memanggilku begitu,” Hannah mengerang kesal, dan membuat Myungsoo tertawa. “Anyway, Myungsoo, Sabtu depan aku ada pertunjukan drama di The Doncaster Little Theatre, kau bisa datang kalau kau mau.” kata Hannah sambil membungkuk ke pintu mobil Myungsoo setelah menutup pintunya untuk Myungsoo.
“Sure, kau tinggal mengirimiku pesan jam berapa aku harus datang atau aku harus memakai pakaian yang seperti apa,”
Hannah menyandarkan tubuhnya pada sandaran couch di flat Myungsoo setelah melepas jaket jeansnya. Hannah tak menyangka kalau ternyata tempat tinggal Myungsoo dekat dengan kampus-nya. Sangat dekat hingga Hannah hanya perlu berjalan sekitar sepuluh menit dari kampus DBIC saat ia menerima pesan dari Myungsoo yang mengatakan ia harus datang ke flat-nya lengkap dengan alamatnya.
“Okay, sir. Sekarang katakan kenapa saya berada disini?” teriak Hannah pada Myungsoo yang entah sedang melakukan apa di dapur.
“Tentu, tapi sekarang aku harus membuatkan tamu-ku minum dulu,” Myungsoo muncul dari dapur. “Coffee or tea?”
“Cuppa, of course. ‘M a typical British people, thank you very much,”
“Oke oke. So, teh kalau begitu,” kata Myungsoo lalu kembali ke dapur.
“Yes, with no sugar please and thank you,”
Beberapa saat kemudian Myungsoo kembali dengan secangkir teh untuk Hannah dan secangkir machiato untuk dirinya sendiri. Ia hanya mengenakan kaus putih dan sweatpants yang tidak membuat Hannah merasa gugup karenanya. Yeah, tidak sama sekali.
“So, tolong beritahu aku kenapa aku berada disini, menikmati secangkir teh sambil menonton televisi dengan ditemani oleh seorang pria yang bahkan terlihat seperti seorang model Burberry walau ia hanya memakai pakaian dari kain lap sekalipun,”
Myungsoo tertawa, lalu meletakkan cangkirnya ke meja. “Well well, terima kasih atas pujiannya nona. Tapi aku tidak tahu kau berkata sungguh-sungguh atau berbohong karena kau adalah pemain drama,”
Hannah tertawa keras-keras sebelum menutupi mulutnya sendiri setelah sadar kalau ia sudah tidak sopan. “Maaf, aku mengatakannya dengan tulus sir. Tapi kau belum menjawab pertanyaanku, kenapa aku disini?”
Wajah Myungsoo memerah. “Um, hari ini, um well hari ini adalah ulang tahunku, dan aku-”
“Whooaaaa, happy birthday, big boy!” menubruk tubuh Myungsoo dan memeluknya erat; tanpa sadar.
“Terima kasih, t-tapi bisakah kau melepaskanku? Kau membuatku tak bisa bernapas,” keluh Myungsoo, berusaha mendorong tubuh Hannah setelah ia membiarkan gadis itu memeluknya beberapa saat. Yeah, Myungsoo tak bisa bernapas karena tubuh Hannah begitu dekat dengannya.
“Maaf maaf,” kata Hannah dan dengan berat hati melepas pelukannya pada Myungsoo, karena ia merasa memeluk Myungsoo adalah hal yang menyenangkan. Tentu saja ini bukan pertama kalinya mereka berpelukan, mereka sudah sering berpelukan sebelumnya. Pelukan yang platonic, karena mereka adalah teman.
“So, kau ingin meminta kado padaku?”
“No, of course. Aku hanya ingin kau menemaniku merayakannya,” Myungsoo tersenyum malu-malu.
“Clubbing? Atau kau akan mengadakan pesta di sini?” Hannah bertanya antusias, karena sudah lama ia tak pergi ke club atau menghadiri party akhir pekan di rumah teman-temannya.
“No. Aku tidak suka merayakan ulang tahunku dengan hal seperti itu,”
“Soooooooooo? Ayolah Myung, jangan membuatku bingung,”
Myungsoo berdehem, lalu menyusupkan jemarinya yang panjang ke rambutnya. Matanya menatap layar televisi dengan gelisah. “Aku-apa malam ini kau ada acara, um maksudku aku ingin mengajakku makan malam, itu kalau kau mau, tapi kalau kau ada acara aku ti-”
“No no, aku tidak ada acara dan aku mau, and is it a date?” goda Hannah dengan senyum di bibir plump-nya. Tangannya menarik dagu Myungsoo agar menatapnya.
“Could say that!” jawab Myungsoo menyeringai senang.
Mereka memutuskan makan malam di ‘Cask Corner’, sebuah café lokal yang juga menyediakan macam-macam bir, karena tempat itu adalah sama-sama tempat favorit mereka. Tempatnya sangat nyaman dan mereka tak perlu memakai pakaian formal untuk datang kesana.
Myungsoo hanya memakai celana jeans hitam ketat, dengan kaus Ramones abu-abu dan jaket jeans serta boots, sedangkan Hannah memakai cut-knee jeans dengan kaus dengan tulisan ‘I Heart DONNY’ di bagian depan dan mengikat kemeja flanelnya ke pinggang, ia juga memakai Vans hitam favoritnya.
Mereka menghabiskan waktu setengah jam untuk makan dan satu jam untuk minum bir sambil mengobrol. Dan begitu mereka keluar, mereka sadar kalau mereka sedang mabuk karena Myungsoo kesulitan membuka pintu mobil.
“Finally,” teriak Myungsoo senang begitu mereka masuk ke dalam mobil, tapi Myungsoo tak menyalakan mesin mobil dan hanya duduk dalam keheningan selama beberapa saat sebelum menoleh pada Hannah. “’Annah, you look so perfect, can I kiss you?” tanya Myungsoo tak jelas karena mabuk.
“You’re not so shabby yourself, and sure you can kiss me,” Hannah tertawa kecil dan mencondongkan tubuhnya pada Myungsoo. Tangan Myungsoo segera menarik leher Hannah, memberi bibir Hannah sebuah ciuman kasar. Bibirnya melumat bibir Hannah yang terasa manis karena bir.
Hannah mengerang di sela ciuman dan itu membuat lidah Myungsoo mendapat celah untuk masuk ke mulut Hannah. Pria bermata elang itu mengisap lidah Hannah, membelai-belainya dengan lidahnya sendiri hingga Hannah memeluk lehernya erat-erat tanpa sadar.
Myungsoo menghentikan ciumannya karena mereka mulai kehabisan napas, tapi bibirnya tak beranjak dari kulit Hannah, hanya beralih ke kerongkongannya.
“Myung, gonna suck you,” Hannah mengerang erotis, membuat Myungsoo menghentikan aktivitasnya seketika.
“Fuck, kita harus mencari tempat yang sepi ‘Annah,” kata Myungsoo sambil menjalankan mobilnya meninggalkan parkiran. Ia tak yakin bisa menahan rasa horny-nya yang sangat kuat dan menyetir sampai flat-nya. Terlebih ia mabuk. Jadi ia menepikan mobil di tepi hutan yang sepi.
Hannah dan Myungsoo segera berpindah ke jok belakang, dan berciuman seolah tak ada hari esok. Dengan tangan satu sama lain saling meraba.
“Suck me, baby,” Myungsoo menghentikan ciuman dan bersandar pada pintu mobil, kedua kakinya berada di atas jok sementara Hannah duduk di antara kakinya, berusaha membuka kancing celananya.
Myungsoo mengerang karena gesekan antara celana dengan ‘milik’nya saat Hannah menarik celananya turun. “Shit,” bisiknya setengah berteriak ketika celananya berhasil lepas dan Hannah kini menarik briefs-nya. “C’mon ‘Annah,”
Hannah yang mabuk tertawa kecil lalu memegang ereksi Myungsoo, memainkan dan meremasnya membuat Myungsoo mengerang dan ia menempatkan tangannya di atas tangan Hannah.
“Seperti ini,” ia berbisik, dan dia menggerakkan tangannya naik turun dengan mencengkeram jari Hannah, dan jari-jari Hannah bertambah erat di ereksinya. Myungsoo menutup matanya, dan napasnya tersengal-sengal. Saat membuka mata, tatapan mata hitam legamnya terbakar dan meleleh. “Seperti itu, Baby.”
Dia melepaskan pegangan pada tangan Hannah agar gadis itu meneruskan sendiri, dan ia menutup matanya saat tangan Hannah bergerak naik dan turun. Myungsoo menegang, secara refleks pinggulnya sedikit maju saat Hannah memegang lebih erat lagi, dan sebuah erangan rendah keluar dari dalam tenggorokannya.
Hannah membungkuk kedepan, selagi mata Myungsoo tertutup, dan ia menempatkan bibirnya di ereksi Myungsoo dan mencoba mengisap, menjalankan lidah ke ujungnya.
“’Hannah,” mata Myungsoo terbuka, dan Hannah mengisap lebih keras.
Bergeser turun, Hannah mendorong benda itu ke dalam mulutnya. Myungsoo mengerang lagi. Lidahnya berputar di sekitar ujungnya lagi, dan pinggul Myungsoo menegang. Matanya terbuka sekarang, membara. Giginya terkatup saat dia menegang lagi, dan Hannah mendorong ereksinya lebih dalam ke mulutnya, dan menyangga dirinya pada paha Myungsoo. Hannah merasa kaki Myungsoo menegang di bawah tangannya. Myungsoo meraih rambut Hannah agar Hannah mengisap lebih dalam lagi.
Myungsoo mengerang sekali lagi sebelum mendorong wajah Hannah menjauh. “No honey, aku tidak ingin keluar sekarang dan permainan selesai,” katanya. Tangannya menarik ramut Hannah, membawa wajah gadis bermata biru itu ke depan wajahnya, dan menciumnya.
Dengan gerakan cepat tapi hati-hati, Myungsoo merubah posisi mereka, hingga sekarang Hannah yang bersandar pada pintu mobil sementara Myungsoo duduk di antara kedua kakinya yang terbuka.
“Myungsoo,” Hannah mendesah ketika tangan Myungsoo menaikkan ujung kausnya. Hannah memajukan tubuh dan mengangkat kedua tangannya untuk memudahkan Myungsoo melepas kausnya. Dan dalam beberapa saat yang terasa seperti bertahun-tahun, akhirnya Myungsoo berhasil melepas semua pakaian di tubuh Hanna, termasuk pakaian dalamnya. Myungsoo juga melepas kausnya.
“Myungsoo, please,” Hannah merengek saat Myungsoo mempermainkan payudaranya dengan gerakan pelan, menggoda.
“Please what Baby?” Myungsoo menyeringai, tangannya masih tetap di payudara Hannah, hanya membelainya pelan-pelan.
“Please, need you,”
“With my pleasure,” jawab Myungsoo lalu turun dari atas tubuh Hannah. Ia mencondongkan tubuh ke jok depan, meraih laci di dekat setir, lalu mengeluarkan sebuah bungkusan foil; kondom.
Ia memasang kondom ke ereksinya lalu menarik tubuh Hannah, menempatkan gadis itu di pangkuannya. “Ride me, Baby,”
Hannah mengangguk, menempatkan kedua telapak kakiknya di jok di sisi-sisi tubuh Myungsoo, lalu berusaha sebisanya membawa ereksi Myungsoo ke dalam tubuhnya. “M-myung,” ia mendesah, tangannya merangkul leher Myungsoo erat-erat.
“Move Honey,” Myungsoo mengerang, memegangi pinggul Hannah, berusaha membantu gadis itu menaik turunkan pinggulnya. Gerakan Hannah semakin lama semakin cepat, hingga akhirnya mereka berdua mencapai orgasme bersamaan.
Setelah efek orgasme mereka menguap, Myungsoo mengangkat tubuh Hannah yang lemas dan mendudukkannya di jok. Ia lalu melepas kondom, mengikatnya dan membuangnya ke luar mobil. Ia meraih tissue dari dasbor, lalu membersihkan tubuh Hannah yang penuh keringat dan cairan yang menetes dari tubuhnya.
Efek mabuk sudah meninggalkan tubuhnya sejak Hannah memberinya blowjob tadi, walau rasa pusing masih ada. Dengan hati-hati ia memasang pakaian Hannah karena gadis itu sudah tertidur, well hanya memasang kemeja flannel dan celananya, dan membiarkan pakaian dalam dan kausnya berserakan di lantai mobil.
Dengan susah payah ia memindahkan Hannah ke jok penumpang, memasang sabuk pengaman, lalu mencium pipi gadis yang tertidur itu.
“Love you, Hannah,” katanya sebelum menjalankan mobil.
Angin malam menerpa pepohonan di Center Park, menimbulkan gemerisik diantara sunyinya malam. Hannah berjalan setengah berlari menuju air mancur, dan segera masuk ke dalam kolam sebatas lutut itu setelah melepas Toms dan jaketnya. Senter berada di tangan kirinya sementara tangan kanannya meraba-raba permukaan kolam. Sudah dua hari ia tak memungut koin di sini. Malam pertama saat ia tidur di flat Myungsoo dan malam kedua karena ia menangis semalaman di flatnya.
Kemarin, saat ia terbangun di kamar Myungsoo, ia langsung mengingat semua kejadian saat malam sebelumnya. Mereka makan malam, mabuk lalu bercinta di mobil Myungsoo. Hannah yang saat itu merasa masih sedikit pusing karena sisa-sisa pengaruh alkohol, segera keluar dari kamar Myungsoo dan mendapati pria tampan yang memiliki dimples itu tertidur pulas di couch depan televisi.
Ia memanfaatkan kesempatan itu untuk mencari ponselnya, lalu pergi setelah menemukan benda itu ternyata tergeletak di sebelahnya tertidur.
Hannah tak bermaksud meninggalkan Myungsoo begitu saja tanpa berpamitan, tapi ia tak punya nyali untuk bertemu Myungsoo. Semua pasti akan berubah jadi canggung. Bagaimana kalau kejadian malam itu terjadi karena Hannah merayu Myungsoo. Bagaimana kalau Myungsoo akan merasa muak dengan Hannah dan menganggap Hannah berteman dengannya hanya karena ingin dia mencumbunya? Bagaimana kalau Myungsoo membenci Hannah dan meneriakkan kata benci keras-keras di telinga Hannah? Bahkan Myungsoo tidak mau tidur di kasur yang sama dengan Hannah setelah mereka bercinta.
Dan akhirnya ia pulang ke flat-nya yang kecil dengan menangis sepanjang jalan. Ia baru sadar kalau ia hanya memakai kemeja dan celana jeans, tanpa pakaian dalam saat ia akan mandi. Tapi tak ada niat dihatinya untuk menanyakan benda-benda itu pada Myungsoo, mungkin pria itu sudah membuangnya, terlebih lagi Hannah juga tak berani berbicara dengan Myungsoo.
Dari kemarin Myungsoo menelponnya, mengiriminya pesan, bahkan datang ke flatnya. Tapi Hannah tak punya keberanian menjawab telepon Myungsoo, membalas pesannya atau membuka pintu flat untuknya. Seharian ia hanya menangis di tempat tidur mendengar Myungsoo terus mengetuk pintunya.
Hannah tak mengerti kenapa ini semua menyakiti hatinya. Kenapa ia tak bisa bersikap biasa saja dan menganggap Myungsoo hanya one-night-stand? Kenapa ia tak bisa bersikap normal dan menemui Myungsoo, mengatakan ‘It’s okay man, it just sex,’ dengan nada kasual hingga pertemanannya dengan Myungsoo akan baik-baik saja? Dan kenapa ia tak bisa menerima kenyataan kalau Myungsoo melakukan ini padanya hanya karena mereka mabuk, bukan karena maksud lain?
Hannah tersenyum masam, saat tangannya menemukan koin demi koin. Pikirannya kembali pada Myungsoo, bagaimana perasaan pria itu kalau tahu ternyata koin yang ia lempar ke kolam ini demi menemukan cinta sejatinya di ambil oleh Hannah, bukan hanya koin Myungsoo tapi koin semua orang yang sudah dilempar kesini.
Dan seolah Tuhan benar-benar membencinya, sesaat kemudian ia mendengar Myungsoo memanggilnya dari seberang kolam, dimana ia meletakkan sepatu dan jaketnya.
Hannah panik, wajahnya memucat, tubuhnya melemas tapi ia berhasil keluar dari kolam dan berlari meninggalkan Myungsoo, tanpa mempedulikan sepatu dan jaketnya. Koin-koin di tangannya ia genggam kuat-kuat saat ia berlari secepat yang ia bisa.
“Berhenti Hannah, berhenti!”
Ia mendengar suara Myungsoo semakin dekat, ia mepercepat larinya tapi Myungsoo berhasil menyambar lengannya sebelum ia keluar dari kompleks taman.
“Hannah-Hannah, please,” Myungsoo mendekap tubuh Hannah erat, hingga Hannah berhenti meronta. “Please dengarkan aku,”
Hannah menggeleng, koin-koin ditangannya jatuh berceceran.
“Tolong dengarkan aku, sekali ini saja, setelah itu kau boleh pergi dan mengindariku seumur hidupmu,” Myungsoo memohon, tangannya mengelus rambut ikal Hannah yang lembab karena dingin lembut.
“Aku menyayangimu Hannah, dan aku ingin kau tahu kalau aku bercinta denganmu karena aku menyayangimu, mencintaimu, bukan karena mabuk,”
Hannah tertawa, tertawa penuh kepedihan dan Myungsoo melepaskan dekapannya.
“Kau mencintaiku?” Hannah bertanya dengan nada marah. “Apakah kau masih akan mencintaiku setelah tahu kalau aku adalah seorang pembohong?”
Myungsoo menatap Hannah penuh rasa heran.
Hannah menunjuk koin-koin yang berserakan di bawah kaki mereka. “Lihat koin-koin itu,itu adalah koin yang kalian lempar ke dalam kolam air mancur agar kalian menemukan cinta sejati kalian, tapi aku mengambilnya. Aku mengambil koin di kolam itu setiap hari, untuk membeli makan. Sementara kalian masih menaruh harapan pada koin itu untuk bertemu dengan cinta sejati kalian. Kalian naif, dan maaf kalau aku memanfaatkan ke-naif-an kalian untuk kepentinganku,”
“Han-”
“Aku tahu apa yang aku lakukan salah, jadi kau tak perlu memberitahuku,” Hannah mendorong tubuh Myungsoo lalu berlari lagi, tapi dengan cepat Myungsoo menangkapnya.
“No Hannah, dengar, aku tak peduli dengan apa yang sudah kau lakukan. Aku tetap mencintaimu,” Myungsoo memeluk Hannah, dan Hannah mulai terisak. “Aku mencintaimu Hannah, jauh sebelum kau mengenalku,”
Hannah tersentak. “What?”
Myungsoo tertawa malu, “well, aku sering melihatmu di taman ini meneceritakan kisah air mancur itu pada orang-orang, dan aku selalu mengamatimu. Ini mengerikan, tapi percayalah aku jatuh cinta pada pandangan pertama padamu,” Myungsoo tersenyum hingga lesung pipi-nya terlihat.
“Aku tidak mengerti,” Hannah menggeleng dan menatap Myungsoo penasaran.
“Yeah, setelah memperhatikanmu dari kejauhan selama berbulan-bulan, akhirnya aku berani menghampirimu, memintamu menceritakan kisah air mancur itu. Dan saat aku melempar koinku ke kolam itu, aku berdoa agar aku bisa mendapatkanmu,”
“Myung, k-kau tidak sedang berbohong ‘kan?”
“No Princess, sekarang katakan kau mau jadi kekasihku atau tidak?” Myungsoo meremas tubuh Hannah lembut dan gadis itu membuang muka karena wajahnya memerah mendengar pertanyaan Myungsoo.
“Aku-yeah, aku mau jadi kekasihmu,”
Myungsoo bersorak, lalu memeluk Hannah senang. “I love you, Princess,”
“I love you too, Myung,”
Musim panas tiba. Langit menjadi sangat cerah dan menawan, namun warna biru langit musim panas tak membuat Myungsoo berpaling dari warna biru mata Hannah. Sudah dua bulan mereka berpacaran dan Myungsoo masih bersikap manis pada Hannah, bahkan semakin manis dari hari ke hari.
“Kau tahu Princess betapa sedihnya aku saat kau menghindariku setelah kita bercinta waktu itu,” Myungsoo menggenggam tangan Hannah saat mereka duduk di bangku dekat air mancur sementara Michael berlarian mengelilingi bangku mereka walau Hannah sudah melarangnya berkali-kali. Hannah masih menjadi story-teller di tempat itu, tapi ia tak memunguti koin-koin itu lagi.
“Yeah, sorry, aku hanya taku kau membenciku dan berpikir kalau aku merayumu,” Hannah mengakui dan merasakan genggaman tangan Myungsoo mengerat.
“Kenapa berpikir begitu?”
“Well, kau tampan Myungsoo, dan kau sangat cool, mungkin kau orang paling cool yang pernah kutemui,” Hannah tersenyum saat Michael berhenti dan naik ke pangkuannya. “Mana mungkin orang sepertimu mau denganku yang seperti ini,” lanjutnya sambil membenarkan scarf yang terikat di kepala Michael, di rambutnya yang keriting.
Myungsoo mengerang, lalu menarik wajah Hannah agar memandangnya. “Dengar Princess, kau cantik dan kau layak untuk dicintai oleh orang yang lebih dariku, karena kau adalah Princess,”
“’Annah is Princess, And ‘M Prince, Mum is Queen and Appa is King,” Michael tertawa lalu membenamkan wajahnya di lekukan leher Hannah, membuat Hannah dan Myungsoo tertawa.
“Lalu Hyung apa?” tanya Myungsoo sambil mengelus rambut Michael.
“Hyung is Knight,”
“Sure sure, dan kita akan-”
“Permisi,” sebuah suara memotong ucapan Myungsoo dan mereka bertiga mendongak, hanya untuk menemukan seorang pria dan gadis berdiri di hadapan mereka.
“Yeah?” Myungsoo mengangkat alisnya lalu menoleh pada Hannah, Hannah mengangkat bahu sebagai tanda kalau ia juga tak mengenal mereka.
“Um, hai, aku Lily dan ini calon suamiku Josh, kami kesini ingin memberikan undangan pernikahan kami padamu,” kata sang gadis sambil tersenyum senang pada Hannah.
“Undangan?” Hannah merasa semakin bingung.
“Yeah, kau pasti tidak mengingat kami, tapi kami mengingatmu karena berkat dirimu, kami akhirnya bertemu,” jawab sang pria yang sangat tinggi dengan rambut di jambul penuh gaya.
“Begini,” lanjut Lily, “aku datang ke taman ini satu setengah tahun yang lalu, dan kau mendengar kisah darimu tentang air mancur itu,” ia menunjuk air mancur di sebelah mereka, “dan aku melemparkan koinku,”
“Maaf, aku tak mengingat semua orang yang pernah datang kesini,” Hannah tersenyum memintanta maaf.
“Tak apa,” sahut Josh. “Aku juga datang kesini satu setengah tahun yang lalu, dan melakukan hal yang sama dengan calon istriku. Dan akhirnya beberapa bulan kemudian kami bertemu, berpacaran dan memutuskan untuk menikah bulan depan. Kami harap kau punya waktu untuk datang,”
“Oh,” napas Hannah tercekat, karena ia sama sekali tak menyangka apa yang ia lakukan bisa berguna untuk orang lain.
“’Annah,” Michael mengelus pipi Hannah khawatir saat melihat kakaknya itu menangis. “Hyung, ‘Annah cwaying,” ia menarik kemeja Myungsoo panik, meminta pria itu menghentikan tangisan kakaknya.
“It’s okay Munchkin, aku baik-baik saja,” Hannah tersenyum, lalu menghapus air matanya sebelum mendongak pada Josh dan Lily. “Tentu, aku akan datang,”
Josh dan Lily pergi setelah memberikan dua buah undangan pada Hannah, mengatakan kalau ia boleh membawa pasangannya.
“See, Princess, apa yang kau lakukan selama ini tidak salah,” kata Myungsoo dan memeluk Hannah erat saat Michael berlarian kesana kemari.
Hannah mengangguk. “Jadi, aku masih boleh mengambil koin-koin di kolam?” goda Hannah yang langsung membuat Myngsoo melepas pelukannya.
“No, you’re naughty naughty naughty Princess,” kata Myungsoo menepuk-nepuk pipi Hannah lembut.
Michael berlari ke Hannah setelah mendengar ucapan Myungsoo “’Annah is naughty Princess, ‘M naughty Prince,” katanya sambil tersenyum lebar, memamerkan deretan giginya yang rapi.
“And Myungsoo-hyung is naughty Knight,” Michael tertawa kecil saat naik ke pangkuan Myungsoo yang juga tertawa.
“Dan ini adalah rahasia, jangan katakan ini pada Mum dan Appa, right naughty Prince?” Hannah membungkuk dan berbisik di telinga Michael.
“Yes, it’s our secwet,”
—END—
PS :
Sorry ya, ga nulis di Author’ Note, malah nulis PS (saya lebih suka nulis PS)
Ini FF Oneshoot mungkin ke tiga saya di sini. Sorry ya kalo ceritanya gak masuk akal, atau kalian bingung dengan hal-hal dalam FF ini, abaikan saja ^^
Aaaaaaand, yadong scene, saya gak terlalu bisa nulis adegan yadong apalagi di mobil, oops!, jadi maaf ya kalau gak greget. Dan juga maaf kalau alurnya kecepetan, soalnya saya ga bisa berbuat apa-apa dengan FF Oneshoot.
Oiya, air mancur dan koin itu saya dapat inspirasi dari film ‘In My Dream’, film Bule, yang romantis, dan untuk yang lainnya hasil pikiran saya sendiri.
FYI, di INFINITE sebenarnya saya suka Sungjong sampe nama author pake Sungels segala, tapi kalau nulis FF saya lebih suka pakai Myungsoo (bias saya juga dia). See you xxxxx
-your sincerely Sungels’94

Fc Populer: