Jkyll & Hyde Chapter 2-END

0
Jkyll & Hyde Chapter 2-END ff nc kang sura
Author             : Ullzsura
Judul               : Jkyll & Hyde // Chapter 2-END
Kategori          : NC 17, Romance, psychological
Cast                 :
–          Kang Sura
–          Kim Himchan
–          Yoo Youngjae
Inspiration by : Strange Case of Dr Jekyll and Mr Hyde, VIXX-Hyde, Sybil {}
I’m not a bad person
Don’t give me those scared eyes
There is a different person that’s not me inside of me
He’s trying to hurt me
I am both Jekyll and Hyde, don’t run away from me
-Kim Himchan-

Pernah merasakan kenyamanan sesungguhnya? Bagaimana menurutmu? Terbebas dari beban, merasa aman, adanya ketenangan dalam diri, apakah begitu? Lalu apa yang Himchan berikan padaku sehingga aku menyimpulkan kalau aku merasa nyaman bersamanya? Bebanku banyak karenanya. Karenanya, aku harus memikirkan hal yang sebenarnya bukan urusanku. Merasa aman? Terkadang ya, terkadang tidak. Kenyataannya, aku datang pada bahaya. Masalah ketenangan dalam diri….bagaimana bisa tenang jika beban itu menumpuk di pikiranku?
Ah, kali ini aku membicarakan dua tokoh, Kim Himchan dan Park Minjun, bukan Himchan seorang.
Dulu, saat aku baru bertemu dengan Minjun 4 tahun yang lalu, aku sangat membencinya. Dia jahat padaku. Aku benar-benar benci padanya ketika ia merusak barang kesayanganku. Dia merusak apapun jika sedang kesal. Aku benci orang emosional sepertinya. Tapi sekarang, tanpa kusadari Minjunlah yang tidak mengabaikan cintaku. Meski aku tidak tau dia membalasku dengan cinta atau yang lain.
“Tidak usah masuk kelas.” Aku menarik Minjun yang hampir saja akan masuk ke dalam. Aku tidak mengerti mengapa switching ini sering sekali terjadi akhir-akhir ini. Tidak seperti dulu, dia akan berubah jika ada yang memancing amarahnya saja. Sekarang, tidak ada yang bisa menebak siapa yang akan jalan bersamaku. Ini semakin membuatku khawatir. Anak ini mempunyai IQ yang tinggi. Dia murid berprestasi. Haruskah karena hal ini dia menjadi anak nakal yang sering membolos? Merepotkan karena Minjun tiba-tiba muncul saat pelajaran kedua. Tau begitu aku tidak perlu pergi ke sekolah dari pagi.
“Kemari,” Minjun menarikku menuju belakang gedung olahraga. Aku tau apa yang dia inginkan. Dia mendorongku ke tembok. Kepalaku sedikit terbentur, tapi rasa sakit itu akan segera tertutupi.
Minjun menciumku. Aku lemas karna nafsunya. Terus melumati bibirku dan sesekali menggigit bibirku gemas. Sakit. Tangan kanannya menumpu pada tembok. Tubuhnya mengunciku. Tangan kirinya menekan payudara kiriku, membuatku benar-benar linu. Aku berusaha mendorongnya karena nafasku bener-benar tercekat. Aku berhasil, tapi kini dia mengarah pada leherku. Tangannya berusaha untuk membuka kancing kemejaku karna mungkin kerahnya menghalanginya. Aku melihat kanan-kiriku. Tidak ada siapa-siapa, tapi aku takut.
“Minjun-ah….”
“Sssttt…”
Dia menyuruhku untuk diam dan dengan cepat ia membuka seluruh kancing kemejaku. Ia kembali mengulum bibirku. Tangannya mulai meraba tubuhku, menuju peyudaraku. Dia mencoba mengeluarkannya dari bungkusnya dan berhasil.
Kini tangannya berpindah ke pahaku. Dia merabanya sebentar dan berusaha untuk mengangkatnya. Aku digendongnya. Kakiku melingkar di pinggulnya. Bibirnya tak lepas dari bibirku. Lalu ia kembali beraktivitas, kali ini dia mengulum payudaraku. Lidahnya bermain disana. Aku segera memeluk kepala Minjun, tak tahan akan kegelian. Ini tak berlangsung lama, karena bel istirahat sebentar lagi akan berbunyi.
***
            Himchan POV
“Yak, ini tugasmu.” Youngdae memberikan bukuku dan duduk di sebelahku. “Kemana saja kemarin? Ajak aku kalau kau akan membolos.” Ujarnya. Membolos?
“Ha, bicara apa kau ini.” Kataku tak mengerti.
“Hey,” Youngdae menyuruhku untuk mendekat. Dengan bingungnya aku sedikit mendekat padanya. “Bagaimana rasanya bercinta dengan Sura?” bisiknya, membuatku langsung menatapnya tajam. Apa yang ia katakan? “Kau pasti sering melakukan dengannya, kan?”
“Apa maksudmu?”
“Sudahlah, jangan main rahasia denganku. Aku melihanya dengan mata kepalaku sendiri kemarin.” Youngdae menepuk-nepuk bahuku. Aku terus menatapnya tak percaya. “Maaf, tapi bukan salahku karena kau melakukannya di area sekolah.”
“……”
“Haha maaf kalau kesannya terlalu ingin mengetahui urusan orang, tapi bukankah aku selalu menceritakannya padamu?” Lagi, Youngdae menepuk bahuku dan ia pun pergi. Sura. Dimana ia sekarang? Aku harus bertanya padanya apa aku benar-benar pikun? Tapi sungguh, aku tidak pernah merasa pernah menyentuh Sura lebih dari sekedar pelukan biasa! Well, aku pernah menciumnya sekali.
“Hey! Hey! Kemari, ceritakan apa yang kau lihat!” Aku kembali memanggilnya.
***
Sura POV
“Kita akan menemui orang yang special.” Kataku pada Himchan. Dia terlihat bingung.
“Siapa?” Tanyanya.
“Tunggu dan lihat saja nanti.”
Kami menunggu di kedai yang tak jauh dari sekolah kami. Kupandangi Himchan yang terlihat memikirkan sesuatu. Apa ada beban di pikirannya? Entah, aku tak ingin dulu bertanya padanya. Biarkan suasana ini diselimuti rasa ceria untuk sementara.
“Sudah lama menunggu?” Kudengar suara orang itu datang dan aku segera menoleh padanya. Dia tersenyum padaku, lalu beralih pada Himchan. Senyumku mengembang. Ini sangatlah menyenangkan. Bertemu teman lama.
“Youngjae!” Aku segera berdiri dan memeluknya. Youngjae menerima hangat pelukanku.
“Kau?” Himchan terlihat kebingungan.
“Apa kabar, Himchan?” Tanya Youngjae. Himchan tertawa dan menyambut pelukan ringan dari Youngjae. “Terkejut melihat tampangku sekarang?”
“Kemana lemak di pipimu?” Tanya Himchan. Kami tertawa.
“Aku sudah membuangnya jauh-jauh.” Jawab Youngjae. Ya, dia kurus sekarang. Jadi terlihat lebih tinggi. Aku tidak menyangka kalau ia akan tumbuh menjadi setampan ini.
Tujuanku mendatangkan Youngjae kemari, untuk membantuku dalam proses penyembuhan Himchan. Dia mempunyai kenalan bernama Nyonya Lee, orang yang kemungkinan besar dapat menyembuhkan Himchan. Kuharap ini akan berjalan lancar.
***
Malam ini, aku sengaja mengajak Youngjae untuk pergi ke kedai kopi, tempat dimana Himchan bekerja. Pekerjaan barunya ini walaupun membutuhkan waktu lebih lama, tapi kuyakin lebih bisa membuat Himchan nyaman. Aku dan Youngjae memandangi Himchan sambil mencicipi coffee milk yang kami pesan. Beruntung karena Himchan ditempatkan di kasir lagi. Kalau ia menjadi waiters, ini bisa gawat. Pengunjung mempunyai sifat yang berbeda-beda dan tak jarang pengunjung yang mempunyai masalah dengan pelayan hanya karena kesalahan kecil.
“Kau benar-benar niat untuk membuatnya normal.” Ujar Youngjae. Aku tersenyum memandangi gelas yang kupegang. “Aku beruntung mengenalmu. Teman yang setia.”
“Bukankah kau pun begitu?”
“Tapi kau lebih. Aku tidak pernah lupa ketika Minjun sialan itu—-“
“Hey, jangan berkata seperti itu.”
“Uh, baiklah. Aku tidak pernah lupa ketika Minjun benar-benar diselimuti amarah terbesarnya. Kau mencoba menenangkannya sementara yang lain menjauh darinya. Bahkan ketika dia memukulmu, kau tidak pergi menjauh. Bagaimana bisa?”
“Aku tidak tau. Kupikir dia sahabatku, maka seharusnya tak ada yang kutakutkan darinya.”
“Sahabat? Kau yakin tidak menyukainya?”
Aku langsung menunduk, tidak berani untuk menatap mata Youngjae. Youngjae malah terkekeh melihatku. Aku segera meminum kembali coffee milk-ku. Semoga pipiku tak memerah.
“Mana mungkin.” Kataku.
“Oh, kupikir begitu. Secara fisik tidak ada yang kurang darinya, kan?” Aku mengangguk pelan. “Hah, semoga ini akan berjalan mudah. Kapan Himchan mendapatkan hari liburnya?”
“Hanya hari Rabu.”
“Ah, baiklah. Hari Rabu, aku akan membawa Nyonya Lee ke apartment-mu.” Lagi, aku mengangguk. “Omong-omong, kau tinggal bersama Himchan?”
“Ya, kenapa?”
“Kau yakin tidak pernah terjadi apa-apa?”
“Hah? Uh…..,”
“Ahahaha jangan menyembunyikan apapun dariku, Sura. Kau tau itu.”
Ya, aku tau. Terkadang aku membenci Youngjae. Aku tidak mengerti mengapa Youngjae selalu dapat membaca pikiranku.
***
            “Bagaimana soupnya? Enak?” Tanyaku disela makan malamku. Uh, tengah malam maksudnya. Semenjak Himchan kembali bekerja, kini kami sering makan tengah malam.
“Seperti biasa. Lezat.” Jawabnya. Aku tersenyum puas dan kembali memakan soupku. “Uh…, Sura.” Tiba-tiba saja Himchan memanggilku. Kulihat wajah bingung itu lagi. Ada apa sebenarnya? “Kemarin kita membolos.”
Aku diam. Dia ingat? Benarkah dia ingat?
“Dan di belakang gedung olahraga…..” Dadaku berdegup kencang. Bagaimana bisa dia mengingat semuanya? “Benarkah?”
“……….”
Ha, tentu saja tidak mungkin ia mengingatnya.
“Membolos apanya? Ada apa dengan belakang gedung lahraga?” Tanyaku.
“Youngdae bilang….ah, tidak jadi.”
“……apa?”
Himchan menyunggingkan senyumnya sambil mengaduk soup. “Bukan hal yang penting.”
Kau tau? Aku merasa sangat bodoh. Sinting. Bagaimana bisa aku merelakan tubuhku disentuhnya, bahkan beberapa jam setelah dia menguasai tubuhku, dia tidak ingat sama sekali mengenai kejadian itu. Tidak ingat apa yang telah kami lakukan. Tidak ingat berapa kali aku memanggil namanya sambil menahan sakit. Tidak ingat berapa kali kata yang terucap bahwa aku mencintainya. Jika bukan aku yang dijadikan korban, aku tidak akan rela jika orang lain yang disentuhnya. Aku rela menjadi boneka, asal dia terus bersamaku.
I want to be everything in you and next to you
Because you already became my everything
I’mma give you everything
-Kang Sura-
***
Jam pulang sekolah. Sehabis mengantar Dayoung ke perpustakaan, aku pun segera menyusul Himchan yang menungguku di bawah pohon dekat lapangan. Aku berlari menuju tempat itu. Kulihat Himchan dari kejauhan, dia berdiri menghadap pohon dan terlihat aneh. Kuperlambat langkahku. Kulihat kanan dan kiriku, sudah sepi. Himchan seperti….bicara sendiri.
“Aku tidak melakukannya.” Ujar Himchan gelisah. Kudengar suara Himchan seperti berbisik dan seperti bicara pada seseorang. “Bukan kau, tapi aku.” Kali ini dengan suara lebih dingin. “Jika kau melakukannya, aku akan membunuhmu.”
“K…Kau…”
Orang itu menoleh padaku dan terlihat terkejut.
“Siapa kau?” Tanyaku ragu.
“A-apa yang kau katakan? Ini aku, Himchan.”
Himchan menghampiriku. Daguku bergetar. Aku menghirup nafas panjang, mencoba menahan getaran itu.
“Himchan, ayo kita pulang.”
Aku mengulurkan tanganku. Dia menyambutnya dan menggandengku pulang. Aku khawatir. Sebelumnya dia tidak pernah seperti ini. Atau belum pernah kulihat?
Bagi yang melihat keadaan yang seperti tadi, jangan pernah menganggapnya sebagai orang yang tidak waras. Dia hanya memiliki kepribadian ganda. Mereka waras, perilaku keseharian normal, latar belakang pendidikannya bagus, dan bahkan bisa jadi intelektualnya juga tinggi. Seperti Himchan. Dia hanya butuh sedikit bantuan.
***
Sepulang bekerja, Himchan langsung berbaring di sebelahku dan cepat sekali ia terlelap. Sebenarnya aku belum tidur. Entah, tapi aku sangat memikirkan Himchan. Aku menghadap padanya dan memperhatikan sosok dirinya. Haruskah orang sepertimu mengalami hal seperti ini? Kepribadian ganda. Ha, apa-apaan. Kukira tidak akan seburuk itu. Kukira kepribadian ganda hanyalah orang yang labil, bisa bersifat apa saja, tapi dalam keadaan sadar dan tentu tidak akan berlebihan. Tapi ternyata tidak. Mereka bisa berwujud baik, bahkan jahat. Dan mereka melakukan itu terkadang tanpa disadarinya. Ya, mereka akan lupa ketika menjadi kriteria yang lain.
Anak tampan ini, tak kuduga mempunyai masa lalu yang sangat buruk. Ini kuketahui saat sebelum aku pindah sekolah dan bicara pada ibuku kalau aku ingin kembali bersama Himchan. Ibuku yang memberitahu.
Saat ia berumur kurang lebih 4 tahun, saat ia masih tinggal bersama keluarganya sendiri, kejadian buruk menimpanya. Tidak seperti anak normal pada umumnya, Himchan selalu dikurung di rumah, tidak pernah bermain di taman bermain, bahkan dengan anak tetangganya yang sebaya. Ibunya selalu mengawasinya secara berlebihan. Sepertinya Himchan merasa tertekan.
Ibuku juga bilang, pernah terjadi kasus di kediaman Himchan dulu. Ayahnya menyekap ibunya di ruang bawah tanah. Ayahnya sering menyiksa ibunya dan Himchan tidak sengaja melihatnya dengan mata kepalanya sendiri. Ayahnya juga memperkosa kakak Himchan di depan matanya, lalu berakhir dengan pembunuhan. Pemandangan yang sangat tidak lazim untuk anak berumur 4 tahun. Jika Himchan menangis, ayahnya memarahinya dan tak segan menyiksanya. Aku pernah melihat luka berbekas di punggung Himchan. Luka saat ayahnya memukul Himchan dengan lampu neon panjang.
Tanpa terasa, air mataku mengalir begitu saja. Aku mengusap pipi Himchan. Dia masih tertidur lelap. Terlihat sangat lelah. Semua ini karena trauma masa kecil. Himchan, apa kau mencoba untuk menghibur diri sendiri?
Dulu, saat kami SMP, Himchan senang menggambar komik. Dia membuat tokoh Park Minjun, seorang anak SMA yang sebenarnya adalah iblis yang sedang menyamar. Dia anak yang senang berfantasi. Dan 4 tahun yang lalu, tokoh Park Minjun itu terlahir dalam dirinya. Dua tokoh dengan sifat yang jauh berbeda dalam satu tubuh. Kau menghibur diri dengan menciptakan kepribadian lain untuk menampung semua perasaanmu? Ya, Park Minjun dapat mengungkapkan amarahnya, sedangkan hal itu sulit bagi Himchan. Himchan, kapan kau akan sadar kalau menjadi Minjun hanyalah pelarianmu saja? Pelarian dari segala kesedihanmu.
“Ngg…” Himchan mengerang. Ia terbangun. Aku segera kembali berbaring dengan benar. “Sura?” Himchan memiringkan badannya untuk melihatku. “Kau menangis? Ada apa?” Himchan terlihat khawatir.
“Ani. Aku hanya bermimpi buruk.”
“Kemari,” Himchan menjulurkan lengannya kesamping, menyuruhku untuk tidur di lengannya. Aku pun melakukan itu. Himchan mendekapku. Hangat. “Tidurlah. Besok kita harus bangun pagi.”
Aku ingin melakukan apapun yang dapat membuatnya bahagia sekarang. Seandainya aku bisa.
***
“Benarah kau akan mengajakku konsultasi sekarang?” Tanya Himchan yang kelihatannya sangat senang. Aku mengangguk dan tersenyum lebar. Sepertinya ia terlalu kerumitan dengan masalah ingatannya itu sehingga sekarang ia begitu senang.
“Ah, itu Youngjae.” Aku melambaikan tanganku pada Youngjae yang sudah menunggu di depan gerbang dengan mobilnya. “Ayo,” Aku meraih tangan Himchan dan berlari menuju Youngjae. Himchan, kau harus sembuh!
***
Himchan duduk di sebelahku dan di depanku sudah ada Youngjae dan Nyonya Lee. Aku menoleh pada Himchan yang terlihat tenang-tenang saja. Aku tersenyum lega.
“Apa ada kejadian lain yang membuatmu merasa kalau kau menjadi pikun? Selain kasusmu dengan teman sekolahmu itu?” Tanya Nyonya Lee.
“Huh?…..sebenarnya ada.” Jawab Himchan yang tiba-tiba saja telihat ragu.
“Katakan.”
“Temanku bilang aku membolos. Itu saja.”
“Apa kau sama sekali tidak sadar akan hal itu?” Himchan menggelengkan kepalanya. “Benarkah? Apa kau sengaja melupakannya?”
“Maksudmu?”
“Apa kau pernah memaksakan diri untuk melupakan suatu hal yang menyakitkan? Atau yang tidak kau suka?”
Himchan tertawa remeh. “Sebenarnya mengapa pertanyaannya semakin melenceng?” Aku segera menggenggam tangan Himchan erat. Nyonya Lee tersenyum.
“Karena sepertinya semua ini dikarenakan kau terlalu sering dengan sengaja melupakan moment-moment tertentu yang kau benci.” Tenaga Himchan melemah. Aku sedikit tenang. “Merasakah?” Kulihat Himchan memalingkan pandangannya dari Nyonya Lee. Aku menatap Nyonya Lee dan mengangguk padanya. Kurasa hari ini cukup sampai disini. Aku tidak mau terlalu menekannya pada hari pertama. “Baiklah, kurasa kau harus memikirkannya. Pertemuan kedua kita bicarakan lagi.”
Himchan hanya tersenyum kecut padanya.
***
Selesai makan malam, Himchan meminta izin untuk mematikan lampu. Aku mengangguk saja. Lalu dia duduk di atas kasur, tepat di sebelahku. Lagi-lagi wajahnya terlihat banyak pikiran. Kalau saja ada Youngjae, aku ingin meminta bantuannya untuk mencari tau apa yang sedang ia pikirkan.
“Sura,” Panggilnya. Aku mendongak padanya, lalu bangun setengah badan. “Jika ada orang lain yang menyukaimu, apa aku harus menjauhimu?” Aku bingung dengan apa yang Himchan katakan. Aku hanya berharap dia begini karena dia takut harus menjauhiku. Tak lain karena dia mencintaiku.
“Kenapa bertanya seperti itu?”
“Apa kau menyukainya?”
“Siapa maksudmu?”
“Minjun.”
“…….” Aku terdiam. Dia tau sosok itu? Dia sadar?
“Dia yang melakukannya denganmu, tapi kenapa Youngdae menuduhku? Dan kau, kenapa kau melakukannya?”
“Apa maksudmu?”
“Belakang gedung olahraga.”
Dan lagi, aku diam. Jika aku bisa mengatakannya, aku akan mengatakan karna dia adalah kau.
“Aku tidak menyukainya. Seenaknya saja mengancamku.” Katanya.
“Kau tidak menyukainya?” Tanyaku. Himchan mengangguk. “Kalau begitu, hancurkan dia.”
***
Minjun POV
Kubuka pintu apartment dan menutupnya dengan kasar. Aku tak peduli akan merusaknya atau tidak. Masih teringat pemandangan menjijikkan yang tadi kulihat di gang itu. Ahjussi itu apa tidak malu menggerayangi tubuh anak sekolahan di jalan? Di tempat tertutup pun tetap dia tak tau diri.
Kulihat wanita itu terbangun karenaku.
“Himchan?”
Cih, lagi-lagi dia memanggil nama itu. Ada apa dengan pria itu? Lemah. Apa yang ia harapkan?
“Tanganmu?” Dia segera bangun menghampiriku. Tanganku? Kulihat tanganku terluka dan terdapat darah disana. “Kau kenapa?!” Dia terlihat khawatir. Dia langsung mengambil tanganku. Sura, itu bukan darahku. “Apa yang kau lakukan?”
“Bukan urusanmu.” Aku menepis tangannya dan segera pergi ke kamar mandi. Sial, karna paman tua itu tanganku kotor.
Sura POV
“Bukan urusanmu.” Dia menepis tanganku. Aku terdiam memandangnya. Tatapan dingin itu kembali menatapku, lalu ia segera pergi meninggalkanku ke kamar mandi. Apa lagi yang telah ia lakukan? Badanku lemas. Aku segera memeluk lututku sendiri dan menenggelamkan kepalaku disana. Aku takut kalau ditangannya sudah ada darah. Takut kalau dia kembali membuat masalah. Kadang aku merasa putus asa. Tak apa jika ia kasar padaku, tapi bisakah dia tidak melukai orang lain? Ini akan mendatangkan masalah.
“Sura? Kau kenapa?” Seseorang terdengar berlari ke arahku. Dia menggoyahkanku. Aku pun mendongakkan kepalaku. Kulihat tatapan khawatir dari seseorang yang sangat kucintai itu. Dia memelukku, aku memeluknya erat. Aku menangis disana sepuas mungkin. Aku hanya tidak ingin kau dalam masalah, Himchan. Aku tidak ingin kehilanganmu.
***
“Sura, ada apa denganmu?” Tanya Himchan yang menoleh ke belakang, bertanya padaku. Aku hanya menggelengkan kepalaku dan kembali mengerjakan tugas yang diberikan Wonsik sonsaengnim. “Kau sakit? Wajahmu pucat.” Lagi, aku menggelengkan kepalaku. Youngdae yang duduk di sebelah Himchan pun ikut menoleh padaku.
“Kau antar dia ke ruang kesehatan.” Ujar Youngdae pada Himchan. Himchan menatapku. Lagi dan lagi aku menggeleng.
“Kau halangi aku. Aku ingin tidur sebentar.” Kataku. Akhirnya, Himchan berusaha menghalangiku dengan tubuhnya. Kepalaku kurebahkan di meja. Lelah. Semua ini membuatku lelah. Sudut mataku sedikit basah. Bisakah ini segera berakhir?
***
Aku mengikat rambutku dan bersiap untuk pergi. Himchan terus menatapku khawatir sambil memakai sepatunya. Aku pun membalikkan badan dan menatapnya. Aku mengangkat alisku, tandanya bertanya ‘ada apa’.
“Tidurlah saja. Kau harus istirahat.” Ujarnya.
“Aku sudah membaik. Tadi sudah minum obat. Ayo turun bersama.”
Himchan tersenyum terpaksa. Ya, aku yakin aku baik-baik saja. Aku pun menarik tangan Himchan. Himchan pun bangkit tanpa semangat.
Kami menuruni lift dan berpisah di luar. Himchan pergi bekerja, sedangkan aku akan pergi ke laundry untuk mengambil pakaian yang tadi pagi kukirim. Sambil melangkahkan kakiku, aku berimajinasi. Dapatkah beberapa tahun kemudian aku hidup bersamanya? Aku ingin terus seperti ini. Hidup bersama Himchan. Aku ingin aku mencintainya, dia mencintaiku. Menikah, lalu mempunyai anak yang mengegemaskan. Apakah bisa terkabul? Himchan pasti sembuh, tapi aku pesimis dengan perasaannya padaku. Dia hanya terlalu terbiasa dengan kehadiranku, tidak lebih sayang kepada seorang sahabat. Kurasa begitu. Hah, sudah cukup untuk mengkhayal.
Aku memasuki tempat laundry dan Hyesun eonni menyambutku.
“Uh, Sura. Bisa kita bicara sebentar?” Tanya Hyesun eonni padaku. Dia terlihat sedikit….takut? Aku mengangguk bingung. Dia menarikku ke dalam. “Ini,” Dia memberikan pakaianku yang sudah rapi. “Maaf, aku memukan ini.” Ia memberikanku sebuah pisau lipat. Milik siapa? Rasanya aku mulai khawatir kalau pisau itu milik Himchan. “Aku menemukannya di saku jeans hitam.” Benar saja, itu milik Himchan. “Dan penuh darah.”
Dadaku mencelos. Ketakutan menjalarku. Dia benar-benar berulah.
“Apa sesuatu terjadi padamu?” Tanyanya padaku, terlihat khawatir. “Ini milik pria yang selalu bersamamu itu?”
“……”
“Uh, maaf kalau aku terlalu ikut campur.”
Aku tersenyum tipis. “Tidak apa eonni. Itu darahnya. Hanya kecelakaan kecil yang disebabkan olehnya sendiri. Tak usah khawatir.” Jelasku berbohong.
“Ah, baiklah.”
“Aku pulang dulu. Terima kasih, ya!”
“Ya, sama-sama.”
Aku segera keluar dari tempat itu dan tanganku gemetar. Dimana ia berkelahi? Apa yang ia lakukan dengan pisau lipat itu?
***
Youngjae POV
Kupandangi Sura yang menangis sambil menatap ke luar jendela. Dibalik kegigihannya, ia sangat rapuh. Aku sudah mendengar semuanya, masalah tentang pisau lipat itu. Mungkin nanti aku harus mencari tau apakah ada kasus di sekitar sini pada malam itu? Kurasa akan mudah. Tapi, jika aku sudah menemukan orang yang Minjun lukai, apa yang harus kulakukan? Menyembunyikannya?
“Youngjae, apa sebaiknya ku katakan semuanya pada kepala sekolah?” Tanya Sura tiba-tiba. Dia mencoba untuk menyeka air matanya.
“Untuk?”
“Agar dia tidak perlu sekolah. Bagaimana kalau langsung memberikannya terapi saja? Aku tidak mau dia berkeliaran untuk sementara.”
“Baiklah, aku akan bicara pada Nyonya Lee. Dan ini, titipan darinya.” Aku memberikan botol obat padanya. Obat terapi. “Walaupun tidak mempengaruhi gangguan yang akan dialaminya lagi, tapi setidaknya bisa meringankan gelisah dan depresinya.”
“Ah, terima kasih.” Sura mengambil obat itu dan menaruhnya di lemari.
“Dia akan diberikan psikoterapi. Terapi ini memang agak sulit dan sangat menyakitkan secara emosional. Himchan akan mengalami emosional yang tinggi saat ingatan traumanya teringat kembali selama terapi. Biasanya diperlukan dua sampai satu minggu sesi psikoterapi yang dilakukan dan ini butuh waktu tiga sampai enam tahun. Aku khawatir dengan pendidikannya yang pasti akan tertunda jika ia tidak boleh keluar, seperti apa yang kau inginkan.”
“Ujian di rumah? Apapun harus kita lakukan, Youngjae.”
“Lagipula apa kau tidak khawair kalau dia akan tertekan jika dikurung?”
“Baiklah, aku tidak akan mengurungnya. Hanya saja dia terus bersamaku. Aku ingin menyuruhnya berhenti bekerja saja.”
“Terserah padamu. Mungkin sementara kita bicara ke sekolahmu, jelaskan apa yang sebenarnya terjadi padanya. Jika sesuatu terjadi padanya di sekolah lagi, kurasa mereka akan sedikit memaklumi dan mereka pun akan memberikan sedikit solusi untuk masa depannya.”
“Ya, kau benar. Kita harus melakukannya.”
Ha, betapa beruntungnya kau, Himchan. Mau seperti apapun keadaanmu, gadis ini pasti akan selalu setia padamu. Membantumu, mengikutimu, juga mencintaimu. Kau mendapatkan segalanya darinya. Membuatku iri saja.
***
Himchan POV
Dia kembali lagi. Untuk apa? Mengapa dia senang sekali membuntutiku? Aku tetap melanjutkan pekerjaanku. Waktu sudah menunjukkan pukul 11.30. Pengunjung sudah tidak ada. Sebaiknya cepat kubereskan meja-meja agar bisa cepat pulang.
Dia menggangguku. Mengganggu pekerjaanku. Aku menghela nafas panjang.
“Bisakah kau pergi? Kau menyita waktuku jika terus berada di sini.” Dia tetap menggangguku, menatapku seolah benci padaku. Jika ia tau, aku jauh lebih membencinya. Aku ingin menghancurkannya, tapi ada hal yang membuatku tidak bisa menyakitinya. Entah itu apa. Dia tidak boleh terluka.
“Pergi dari tempat ini. Pergi keluar dan cari kesenangan di sana. Berhentilah menjadi orang lemah.”
Seperti iblis saja menyuruhku untuk berbuat yang seharusnya tidak kuperbuat. Aku berusaha tetap fokus pada pekerjaanku, membersihkan meja kotor ini.
“Pergi, kalau tidak, Sura ditanganku. Mungkin tersakiti.”
“Bisakah kau diam?!” Bentakku kesal, namun sedikit berbisik.
“Uh…, Himchan, apa kau baik-baik saja?” Aku terkejut ketika Jinhwan diam memperhatikanku. Aku segera membereskan 1 meja itu.
“Aku sudah selesai. Aku pulang duluan, ok?” Kataku yang langsung pergi ke belakang untuk mengambil tasku.
Jika menyangkut tentang Sura, aku tidak bisa diam. Aku kesal. She’s mine, all mine, only mine. Mine to look at, mine to touch, mine to love.
***
Aku membuka pintu apartment dan kulihat Sura berbaring di atas kasurnya. Aku segera menyimpan tasku dan membuka jaketku. Aku naik ke atas kasur dan berbaring, lalu mendekap Sura dari belakang. Entah, tapi aku takut. Aku mendekapnya semakin erat. Aku takut jika ia terluka. Aku takut jika suatu saat ia tak dapat bersamaku lagi. Aku takut jika orang itu merebutnya dariku. See? Sekarang dia di tanganku.
“Kau?” Sura terbangun, perlahan mencoba untuk membalikkan badannya, melihatku.
“Aku Himchan.”
Aku menatapnya dalam. Mata itu, mata yang selalu terlihat khawatir karenaku. Apa aku membuatnya susah selama ini? Apa boleh aku menyentuhnya seperti apa yang telah orang itu lakukan? Aku tidak ingin milikku diambil alih olehnya. Aku hanya tidak rela.
“Kau kenapa?” Tanyanya. Aku diam. “Ada yang membuatmu takut? Atau apa?”
Aku benci ketika ia memandangku seperti anak kecil. Apa memang kenyataannya seperti itu? Mengapa aku tidak bisa melindunginya? Mengapa malah seperti dia yang melindungiku?
“Sura, apa aku lemah?”
“Kenapa kau bertanya seperti itu?”
“Kau tau? Aku sedih melihatmu memandangku seperti itu.”
***
Sura POV
“Sura, apa aku lemah?” Aku terheran-heran. Mengapa Himchan bertanya seperti itu? Lagi-lagi ia membuat pertanyaan aneh.
“Kenapa kau bertanya seperti itu?” Tanyaku.
“Kau tau? Aku sedih melihatmu memandangku seperti itu.”
Aku diam. Aku tidak memandangnya lemah. Hanya saja aku tidak…..uh, aku tidak tau.
“Apa yang kau bicarakan? Lemah apanya? Kau yang selalu melindungiku.”
Himchan tersenyum miris. “Sepertinya aku merasa gagal. Meskipun aku membencinya, tapi kurasa selama ini malah dia yang bisa melindungimu. Bukankah begitu?”
“…….bisakah kau muncul saat aku dalam bahaya? Kau tau? Setiap aku merasa terancam, siapa yang kutunggu? Siapa yang kuharapkan untuk datang?”
“……”
“Itu kau.”
“Tapi pahlawanmu bukan aku.”
“Lalu kenapa kau tidak pernah berusaha?”
“…….maafkan aku.”
Himchan menunduk. Tadi aku berusaha memancingnya. Berusaha agar sisi Himchan jauh lebih dominan dari Minjun. Aku harus membuat Himchan merasa terdorong untuk lebih tampil. Kurasa perlahan Minjun akan hancur.
Kini aku tidak berharap apapun dari Himchan selain untuk tetap terus bersamaku. Tak peduli kuat atau lemah, yang penting dia Kim Himchan.
“Sura,” panggilnya.
“Hmm?”
Himchan sedikit bangun, menahan tubuhnya dengan sikutnya. Dia terus menatapku.
“Apa boleh…aku memberlakukanmu benar-benar milikku?”
Mataku berkaca-kaca. Aku tertawa, memalingkan wajahku lalu kembali menatap Himchan. Himchan tersenyum, tau bahwa aku mengizinkannya. Wajahnya semakin mendekatiku hingga hidungnya yang sangat kusuka itu menyentuh hidungku. Ia mengecup bibirku, lalu memiringkan kepalanya dan kembali menciumku. Dia memberikanku ciuman-ciuman ringan di bibir. Aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya. Bahkan tidak pernah tersenyum dan tertawa disela ciuman kami. Himchan mulai melumat bibir bawahku, lalu bergantian dengan bibir atasku. Menjilat bibirku, lalu kembali melumatnya dengan lembut. Rasa bahagia ini berbeda. Berbeda saat pertama kali aku merasakannya. Kali ini ia melakukannya sangat perlahan dan lembut. Ini Kim Himchan.
Aku menarik kemejanya sehingga ia semakin berhimpit denganku. Aku lebih membuka mulutku sehingga Himchan memasukkan lidahnya dan lidahnya bermain disana. Aku melengkuh ketika lidah Himchan menggelitik langit-langit mulutku. Tidak ada televisi yang menyala ataupun alat elektronik lainnya. Hanya ada suara yang kami ciptakan di malam yang hanya diterangi lampu kuning ini.
Himchan mulai menyentuh pinggangku. Dia meraba perutku sehingga piyamaku terangkat ke atas. Lidahnya kini bermain di telingaku, membuatku kegelian. Sesekali dia menggigit kecil daun telingaku. Geli.
Author POV
Kini tangan Himchan mulai bermain di kancing piyama Sura. Ia membukanya satu per satu dan setelah itu melepaskannya dari tubuh Sura. Kini ia dapat melihat tubuh indah Sura walaupun baru sebagian. Himchan kembali mengecupi wajah Sura, lalu  turun dengan menjilati leher Sura. Sura mendongak dan menikmatinya, sementara tangannya sibuk mencoba untuk membuka seluruh kancing kemeja yang Himchan pakai. Sura terus mencoba melepaskan kemeja itu dari tubuh Himchan, dan akhirnya ia berhasil. Himchan kembali menunjukkan senyumnya dan kembali melahap bibir mungil Sura. Tangannya kini bermain di payudara Sura yang masih dibungkus bra kuningnya. Merasa risih, Himchan sedikit mengangkat tubuh Sura dan berusaha melepaskan kaitan branya dan ia berhasil. Himchan memandangi Sura dengan wajahnya yang terlihat sedikit aneh.
“Kau kenapa?” Tanya Himchan.
“Uh.., tidak apa-apa. Lanjutkan.” Ujar Sura. Himchan pun mencium rahang Sura dan tangannya mulai meremas pelan satu payudaranya. Sura tidak mengerti dengan apa yang ia rasakan. Selain rasa bahagia yang luar biasa, ia juga malu ketika Himchan memandangi tubuhnya. Bukankah mata itu sudah pernah melihatnya? Walaupun dengan kepribadian lain, tetapi dengan wujud yang sama. Mengapa rasanya seperti pertama kali?
Sura mulai mengeluarkan desahan kecil ketika Himchan menjilat puncak payudaranya, lalu menghisapnya dan tak sengaja milik Himchan menggesek milik Sura. Sura sedikit mendorong pinggang Himchan yang sudah menindihnya. Tangannya bergerak ke tengah, mulai meraba milik Himchan dari luar, mencoba untuk membuka resleting jeansnya.
“Aku dulu yang bermain,” Bisik Himchan. Himchan mundur, menurunkan sedikit tubuhnya sehingga Sura tak dapat lagi meraih milik Himchan. Himchan mengelus perut datar Sura, sampai akhirnya berhenti di atas vagina Sura. Himchan mengusapnya beberapa kali, lalu akhirnya menurunkan celana tidur sekaligus celana dalam Sura. Dia menemukan yang menarik disana. Sesuatu yang ia rasa baru saja ia lihat. Perlahan Himchan membuka kaki Sura dan mendekatkan wajahnya pada selangkangan Sura. Ia menelusuri paha Sura dengan bibirnya, menjilat selangkangannya, hingga ia sampai di depan vagina Sura. Sura memejamkan matanya dan menggigit bibir bawahnya. Himchan mengecup vagina Sura sekali, membuat Sura bergidik. Sura merasakan kini vaginanya basah disapu oleh sesuatu yang lunak. Himchan terus menjilatnya, menusuk-nusuk vagina Sura dengan lidahnya dan sesekali menghisap klitorisnya.
“Akh….” Sura menahan sakit yang dirasanya ketika jari telunjuk Himchan menusuk vaginanya. Himchan memaju-mundurkannya perlahan sambil menjilati cairan yang keluar dari sana. Sura menggeliat, tak kuat menahan sengatan setiap kali bagian sensitive-nya disentuh oleh Himchan. “Himchan….hh…”
“Hmm?” Himchan kembali menghampiri wajah Sura yang memerah. Himchan menciumnya kembali, membagi cairan yang masih tersesa di mulutnya dengan Sura. Mau tak mau Sura menelannya juga.
Sura kembali mendapatkan apa yang ia inginkan. Ia mencoba kembali membuka kancing celana jeans Himchan dan menurunkan resleting celananya. Ia menarik celana Himchan dan Himchan terkekeh ketika merasa kalau Sura sedang kesulitan. Himchan tidak membantunya, ia kembali bermain di bibir Sura. Sura menyunggingkan senyumnya ketika ia berhasil menurunkan celana jeans Himchan. Tangannya menangkup penis Himchan yang masih terbalut celana dalamnya. Ia mengusapnya, sesekali meremasnya pelan. Himchan menggigit kecil bibir Sura, lalu kembali melumatnya. Tak lama, ia melepaskan ciumannya dan duduk di sebelah Sura.
“Mau mencoba?” Tanya Himchan. Sura pun bangun. Himchan memperhatikan ekspresi Sura yang terkadang seperti anak kecil. Dengan tampang penasaran, Sura menarik celana jeans Himchan yang setengahnya masih belum terlepaskan. Perlahan ia juga menarik celana dalam Himchan dan menemukan apa yang ia inginkan. Sura melepaskannya, lalu menggenggam batang itu. Sura melumat kembali bibir Himchan, sementara tangannya bekerja di bawah. Sura menarik ulur penis Himchan, semakin lama semakin cepat. Tangan satunya meraba dada Himchan dan ciumannya pun turun ke leher Himchan, bahu, lalu dadanya. Sesekali tangan Sura meremas twinballs Himchan, membuat Himchan semakin ingin cepat mendapatkan jatahnya yang lebih.
Sura sedikit mundur dan membungkuk, jarinya mulai memutari kepala penis Himchan, merasakan tekstur apa yang dipegangnya. Sura melihat ke atas, menatap Himchan yang juga menatapnya. Sura mendekatkan bibirnya pada penis Himchan. Lidahnya mulai menjilati batangnya, lalu memasukkan mulutnya hanya sampai kepala penis. Lidahnya menjarah di dalam sana, mencoba merasakan rasanya. Himchan terlihat gelisah, tak sabar dengan apa yang Sura lakukan padanya. Sura terkekeh geli, lalu kembali memasukkan penis Himchan ke dalam mulutnya. Sura memaju-mundurkan kepalanya, berusaha secepat mungkin. Himchan menyisir rambut Sura dengan jarinya. Meremas rambut Sura dan membantu Sura untuk menggerakkan kepalanya lebih cepat lagi.
Sura meremas kencang paha Himchan, merasa dirinya sudah tidak kuat lagi. Akhirnya Himchan melepaskan kepalanya, membiarkan Sura mengeluarkan penisnya dari dalam mulutnya.
Himchan kembali meniduri tubuh Sura. Ia memposisikan dirinya di antara kaki Sura yang terbuka.
“Tidak keberatan jika aku melakukannya?” Tanya Himchan. Sura menggelengkan kepalanya. Himchan tersenyum dan membungkuk, mencium leher Sura. Himchan memegang dan mengarahkan penisnya pada vagina Sura. Ia menggoda Sura dengan menaik-turunkan penisnya di bibir vagina Sura, seolah ingin membelahnya. Sura sedikit menggeliat dan desahannya kembali terdengar jelas. Himchan menyeringai dan mencium ringan bibir Sura.
“Ahhh…!” Sura merintih pelan ketika Himchan memasukkan penisnya perlahan.
“Apa itu sakit?” Tanya Himchan. Sura mengangguk sambil menggigit bibirnya. “Maafkan aku.” Himchan menekan tubuhnya, memasukkan penisnya lebih dalam. “Jangan gigit bibirmu.” Himchan mulai memaju-mundurkan pinggulnya, membuat Sura mendesah nikmat. Peluh di wajah Sura membuat Himchan semakin ingin melahapnya. Himchan menjilat peluh di dekat pipi Sura, lalu menciuminya. Sura semakin meracau, Himchan semakin cepat menggerakkan tubuhnya. Sura memeluk Himchan, menahan tubuhnya yang selalu ingin menggelinjang.
“Hhh…Sura,” Himchan memanggilnya.
“Hmmh?” Sebenarnya, Sura benci ketika Himchan mengajaknya bicara sementara seharusnya ia tau kalau Sura sedang menahan semua yang ia rasakan.
“Aku mencintaimu.”
“Eh……?” Sura diam menatap Himchan, melupakan sakit yang dirasanya. ‘Apa aku tak salah dengar?’ Gumamnya dalam hati.
“Aku mencintaimu.” Ulang Himchan.
“…..benarkah?”
“Lebih dari apapun.”
***
“Ah, kau sudah bangun?”
Kulihat Himchan sudah ada di dapur, saat aku baru keluar dari kamar mandi. Dia tersenyum lalu berlanjut mengaduk tehnya. Aku tersenyum dan menghampirinya.
“Kau curang. Kenapa mandi tapi tidak mengajakku?” Godanya. Aku menyenggol lengannya dan ia tertawa. “Selamat pagi.” Aku terpaku. Dia mencium pipiku dan mengucapkan selamat pagi. Bukankah ini indah?
Himchan pergi dan meminum tehnya sambil memandang keluar jendela. Aku masih diam di tempat, tapi mataku tak hentinya memandangi Himchan. Dia melirik meja rias di sebelahnya. Dia memandangi sesuatu dan mau mengambil sesuatu. Kulihat…….pisau!
“Uh, Himchan…” aku segera berjalan mendekatinya. Himchan mengambil pisau lipatnya dan terus memperhatikannya seperti keheranan. Himchan membuka lipatannya sehingga aku diam.
“Dimana kau menemukannya?” Kali ini dia Minjun. Ya, nada suaranya dingin sekali. Ini bukan Himchan.
“A…aku menemukannya di saku celanamu.”
“Bagus.”
“M-maaf. Tapi apa yang kau lakukan dengan pisau itu? Pada malam itu…”
“Apa yang kulakukan?” Minjun menyentuh ujung pisau itu dengan telunjuknya dan sedikit memutarnya. Itu membuatku takut. Ia membalikkan badannya. “Hanya memberi pelajaran pada yang bersalah.”
“Berikan benda itu padaku.”
“Ini barangku.”
“Minjun-ah….” Aku berjalan ke arahnya dan segera kutarik tangan kanannya.
“Bisakah kau—“
“Ahh!!”
***
Himchan POV
Zreeet!!
“Ahh!!”
Aku membelakkakan mataku. Tanganku lemas. Sesuatu telah jatuh dari tanganku. Apa yang baru saja kulakukan?
“Sura!” Aku segera mendekapnya yang baru saja terduduk lemas. Aku memegangi rahangnya. Mengalir darah dari pipi lembutnya. Garis panjang yang sedikit terbuka di pipinya itu membuat tanganku gemetar. Apa aku gila? Air matanya mengalir, tapi Sura terkulai lemas. “Sura, maafkan aku.” Aku mengguncang badannya. Aku benar-benar khawatir dan merasa bersalah. Aku benar-benar tidak sadar! Kulihat dia sedikit membuka matanya. Sayu. Dia tersenyum seperti biasanya.
“Himchan…, bisa kau obati lukaku? Untukku?”
***
Youngjae POV
“Jangan gila, Sura.” Kataku. Aku marah padanya. Aku marah dengan apa yang sudah terjadi padanya. Aku menariknya ke rumah sakit. Wajahnya terlalu terlihat tenang. Aku kesal. “Jangan bersikap bodoh, Sura. Ini sudah cukup. Pipimu sobek dan kau hanya meminta Himchan mengobatinya dengan tangannya sendiri? Kau mau kehabisan darah, huh? Mana bisa hanya mengandalkan perban.”
“……..”
Aish, dia malah diam.
“Kenapa tadi Himchan tidak ada? Kemana dia? Menjadi Minjun lagi lalu berkeliaran lagi? Kau tau? Aku kehabisan kesabaran kalau begini.”
“Jangan marah padanya.” Ujarnya. Dia bicara sangat pelan. Pipinya pasti sangat sakit jika ia terlalu menggerakkan mulutnya. “Aku memaksanya untuk pergi bekerja.”
“Dan dia terima paksaanmu?!”
“Jika tidak, aku tidak akan memaafkannya.”
Kulihat dia meringis kesakitan. Aku mendengus kesal. “Kali ini tidak usah jawab pertanyaanku jika aku bertanya. Jangan bicara.”
***
Aku memandangi Sura yang baru saja selesai dijahit. Karena pria itu, wajah cantiknya ternodai. Dokter menutupi jahitannya yang masih basah itu dengan perban. Aku tidak rela melihatnya menjadi seperti itu. Sekarang juga, aku harus menemuinya. Aku tidak akan bertoleran lagi. Aku yang akan bicara ke sekolahnya, aku juga yang akan menyeretnya ke tempat Nyonya Lee dan mengurungnya disana. Sementara, ia harus jauh dari Sura.
“Tuan Yoo,” Dokter memanggilku. Ah, Sura sudah selesai. Dia menghampiriku dan tanganku menyambutnya.
“Terima kasih dokter.” Kataku. Aku pun segera membawa Sura keluar.
“Sekarang kita ke tempat kerja Himchan.” Kataku tanpa melihatnya sama sekali.
“Huh? Untuk apa?” Dia bicara sangat hati-hati. Aku khawatir dengan lukanya.
“Jangan bicara.” Kataku. “Mau tidak mau kita harus membawanya ke tempat Nyonya Lee. Lebih cepat lebih baik. Kau tidak perlu khawatir, sekolah dan semuanya biar aku yang urus.”
“…….”
Baguslah Sura tidak berkata apa-apa lagi.
***
Sura POV
Mobil Youngjae sudah berhenti tepat di depan kedai dimana Himchan bekerja. Kami pun keluar dari mobil dan berjalan menuju dalam kedai. Setelah kupikir tadi, memang benar kata Youngjae. Lebih cepat lebih baik. Maka aku menyetujuinya.
“Tapi aku tidak melakukannya!”
Himchan? Kulihat ada dua polisi yang menahannya. Apa-apaan ini?
“Kau jelaskan saja nanti di kantor.” Ujar polisi yang satunya. Aku segera berlari mendekati.
“Ada apa ini?” tanya Youngjae. “Apa yang terjadi?” tanya Youngjae pada polisi itu.
“Dia kami tahan karena dia kasus penusukan pada pria separuh baya.”
“Penusukan? Apa yang ia lakukan maksudnya?” Tanyaku sambil menahan sakit di pipiku.
“Memukulnya, sampai menusuknya dengan pisau lipat.” Aku diam. Sudah kuduga.
“Sura, tolong aku.” Ujar Himchan lirih. “Aku tidak melakukannya, Sura.”
“Uh, bisakah aku bicara sebentar?” Ujar Youngjae pada polisi tadi. Polisi itu mengangguk dan Youngjae membawanya untuk duduk. Ya, Youngjae yang akan mengurusnya.
Kini aku kembali memandang Himchan yang kedua tangannya masih ditahan oleh dua polisi itu, padahal tangannya sudah diborgol.
“Bisa aku bicara padanya sebentar?” Izinku. Mereka mengangguk dan melepaskan Himchan. Mereka hanya beberapa langkah menjauh. Aku menatapnya dan menelan ludahku. Aku menahan nafasku, menahan getaran di daguku. Aku menyentuh pipinya. ”Apa yang kau lakukan?”
“Sura, aku tidak melakukannya….”
Aku menangis. Lagi-lagi aku melihatnya seperti ini. Kau tau rasanya dituduh? Sangat menyakitkan. Itu yang dirasakan Himchan. Merasa dituduh atas hal yang tidak pernah ia lakukan. Aku memeluknya. Aku ingin merasakan hangatnya tubuh ini setiap hari. Aku tidak mau kehilangan moment itu. Aku tidak mau.
“Kau akan baik-baik saja.” Kataku yang akhirnya melepaskan pelukanku pada Himchan walaupun tidak rela. “Youngjae akan menolongmu.”
“Sura,” Youngjae memanggilku dan dia berjalan ke arah kami. “Aku sudah bicara. Himchan, sementara kau ikuti mereka saja. Besok aku akan menjemputmu. Mengerti?”
Himchan mengangguk.
“Tapi…” Entahlah, aku tidak rela kalau dia akan pergi walaupun sehari. Aku mengkhawatirkannya.
“Sudahlah Sura, besok aku pasti akan membawanya kembali. Aku janji.” Ujar Youngjae menggenggamku untuk meyakinkanku. Aku kembali menatap Himchan. Dua polisi itu kembali menahan Himchan. Mereka membawanya pergi. Himchan menoleh padaku. Air mataku kembali mengalir. Aku benar-benar tidak dapat menahannya. Tangisku memecah melihatnya semakin jauh dariku. Youngjae memelukku. Sakit di hatiku ini melibihi rasa sakit di lukaku. Ini benar-benar membuatku terluka.
My body and my heart endlessly want you
Like a child who was sucking on candy but taken away
I’m going crazy, whatever I do, I can’t focus
What exactly did you do to me?
It doesn’t make sense that I’m being like this
-Kang Sura-
***
“Ya, pelajaran hari ini sudah selesai. Silakan bereskan barang kalian.” Ujar Yooyoung sonsaengnim. Ia pun keluar dari ruang kelas. Aku memasukkan bukuku ke dalam tas. Hari-hariku berjalan normal. Sedikit risih karena banyak yang membicarakan luka yang tiba-tiba saja muncul di pipiku. Aku tidak cantik seperti dulu katanya. Tapi apa peduliku.
“Sura, mau pulang bersama?” Ajak Jimin padaku. Aku tersenyum dan mengelengkan kepalaku.
“Hari ini aku dijemput.” Kataku.
“Ah, begitu. Kalau begitu kami duluan. Dah!” Jimin dan Dayoung pun pergi. Aku tersenyum lalu teringat seseorang. Aku memandangi kursi kosong di depanku. Sudah sebulan aku tidak bertemu dengan Himchan. Youngjae melarangku karena katanya emosional Himchan sedang benar-benar meningkat. Aku mengingat kejadian saat di kantor polisi itu. Nyonya Lee dengan kuasanya berhasil membawa Himchan walau statusnya masih tahanan. Tahanan di tempat rehabilitasi lebih baik dibanding tahanan di penjara menyeramkan.
Sial, lagi-lagi dadaku terasa sakit. Sakit bila mengingat wajah Himchan yang seperti meminta tolong padaku. Sakit ketika mengingat Himchan yang memintaku untuk menghentikan petugas yang akan membawanya ke tempat rehabilitasi. Sedih ketika aku harus diam saat dia memohon padaku. Diam melihatnya menjauh pergi dan hanya bisa menangis. Ugh, ingatan itu membuatku menangis lagi. Aku merindukannya. Sangat merindukannya. Apakah dia makan dengan baik di sana?
Drrrtttt….Drtttt….
Ah, ponselku bergetar.
“Yeoboseyo?” Sahutku.
“Aku sudah di depan gerbang.” Ujar Youngjae di sebrang sana.
“Ah, aku segera kesana!”
Aku pun menyeka air mataku dan berjalan keluar kelas.
“Aku punya kejutan untukmu. Cepat lari!”
“Apa? Kau hanya ingin aku cepat ke depan kan agar kau tidak lama menunggguku? Aku akan memperlambat langkahku.”
“Mau begitu? Yasudah, aku tidak mengajakmu untuk menjenguk Himchan.”
“Himchan?” Aku begitu terkejut. Apa aku akan bertemu Himchan segera? “Tunggu aku! Aku segera datang!”
“Hahaha, cepatlah.”
Aku berlari keluar dari gedung sekolah. Hari demi hari, pasti akan kujalani dengan baik. Sampai akhirnya nanti aku akan bertemu denganmu, dengan sosok hanya satu. Hanya Kim Himchan.
All day, I only think of you
I can’t do anything because of you all day
I think my heart has been taken away by you
-Kang Sura-
-END-
%d blogger menyukai ini: