It’s Your Day

0
It's your day kyuhyun ff nc
Author: Snowie
Title: It’s Your Day
Cast:
Cho Kyu Hyun
Song Eun Hwa
Cho Hee Chan
Cho Hee Jin
Other cast:
Lee Donghae (mentioned)
Category: NC 21, Yadong, Family, Oneshoot.
Annyeonghaseyo readers ini FF special untuk ulang tahun CHO KYU HYUN tercinta. Maaf kalau ada typo ya readers aku cuma buatnya dalam satu hari haha gini deh hasilnya. Hehe semoga terhibur. Aku saranin bacanya sambil dengerin lagu Yiruma yang It’s your Day sesuai dengan judul FF nya. Gomawoyo buat temen-temen yang udah ngasih comment kritik dan saran di FFku sebelumnya. Aku akan menulis lebih giat lagi. Keep Writing!!!

Song Eun Hwa membuka album photo kenangannya bersama sang suami. Sekedar mengenang masa lalu sambil menunggu yang tercinta pulang. Tugas rumah sudah diselesaikannya sejak tadi. Menjadi ibu rumah tangga adalah pilihannya sejak menikah. Mengurus suami yang banyak maunya dan anak-anak yang masih dalam masa pubertas. Ia tak ingin melewatkan sedetikpun perkembangan buah hatinya.
Sesaat tangannga berhentik membalikkan lembaran yang agak lengket. Song Eun HWa, wanita berusia diakhir 30-2n itu memiliki lembaran terlarang dalam album photo tersebut. . ia ingin sekali mebuka bagian itu tapi ia selalu ingat pesan suaminya.
“Jangan buka bagian itu, sayang. Jika tidak kau akan tahu akibatnya”
Eun Hwa merinding mendengar perkataan namja yang sudah hidup empat belas tahun bersamanya itu. ia tertawa geli saat melihat raut wajah suaminya.
Hatinya tergoda kembali untuk melihat halaman terlarang itu.
“Ayolah Song Eun Hwa, sekali ini saja”
Dengan segala bisikan dan rayuan hatinya Eun Hwa menyerah. Hari ini tepat pukul dua siang ia membuka halaman keramat itu. oh bayangan sang suami yang memarahinya seketika terlintas dipikirannya.
“Come on, Song Eun Hwa. You can do it”
Wanita itu dengan gemetar menyentuh bagian yang tak ppernah ia sentuh bahakan melihatnya pun ia tak mau.
Dibaliknya halamna yang sedikit lengket itu, mungkin karena tidak pernah dibuka, Eun Hwa gemetar saat melihat satu figure disana. Pikirannya melayang ke beberapa tahun silam.
17 tahun lalu
Seorang gadis dengan kacamata tebal sedang menyusun buku di rak berdebu perpustakaan sekolah. Ia sesekali terbatuk pelan akibat debu yang sangat tebal itu. sejak tadi sepasang mata mengawasinya tanpa berkedip. Eun Hwa masih terbatuk-batuk menutup mulutnya.
“Huh dasar guru tidak punya belas kasihan, seharusnya jika murid sepertiku tidak bisa jangan dihukum begini tapi diajarkan. Lagipula nilaiku meningkat satu point dari ujian lalu. Menyebalkan.”
Song Eun Hwa. Gadis berusia tujuh belas tahun yang suka bermain musik dan membenci matematika. Musuh terbesarnya di sekolah adalah Guru Song sang master matematika sekaligus ayah kandungnya. Ia sering mendapatkan nilai jelek pada mata pelajaran eksak itu. Ayahnya tidak tahu lagi harus dengan cara apa mengajarkan Eun Hwa.
“Kerjakan saja jangan banyak mengomel.”
Sebuah suara menghentikan pergerakan tangan Eun Hwa. Dilihatnya rak buku ensiklopedia yang berada tepat diseberangnya. Eun Hwa menajamkan matanya. Ia menangkap siluet putih yang sedang duduk di meja baca perpustakaan tersebut.
Gadis itu mendengus kesal pada namja tadi. Namja itulah yang ditugaskan ayahnya untuk memantau hukuman yang diberikan oleh sang ayah. Namja yang memiliki penampilan tidak berbeda jauh dengan dirinya, kacamata tebal, rambut tertata rapid an baju seragam musim dingin yang dikancingkan sampai keleher.
Sebenarnya Eun Hwa memiliki rahasia besar yang tak pernah diketahui orang lain termasuk sahabatnya sendiri Han Mi Young yang saat ini sedang berusaha menyelinap masuk ke perpustakaan untuk mengantarakan cemilan kepada Eun Hwa.
“Nona Han tinggalkan makanan itu di luar saja, kalau sampai kakimu melangkah masuk ke ruangan ini aku pastikan kau akan mengikuti jejak sahabat tersayangmu itu.
Han Mi Young segera menghentikan langkahnya dan menaruh plastik putih berisi makanan itu di depan pintu perpustakann selanjutnya gadis itu menatap Eun Hwa dengan tatapan minta maaf karena tidak bisa membantu banyak. Eun Hwa tersenyum maklum dan kembali menyusun setumpuk buku-buku itu.
Song Eun Hwa semakin gusar melihat kelakuan namja itu pada sahabatnya.
“Ya! Tidak bisakah kau membantuku” bentak Eun Hwa.
Sosok itu tak bergeming. Ia masih saja tekun membaca komik detektif paling terkenal tahun ini.
Song Eun Hwa menaruh kasar bukunya. Rasanya ia ingin mennagis kencang dan berteriak sampai satu korea selatan ini dengar dan menolongnya untuk keluar dari penjara berdebu ini.
Ayahnya benar-benar kejam sekali.
Eun Hwa melirik jam tangannya. Jam dua siang. Itu artinya dia sudah empat jam berada diruangan ini. kalau sampai ia memiliki penyakit sistem pernapasan setelah ini maka satu-satunya orang yang patut dipersalahkan adalah ayahnya yang super kejam itu. pikir Eun Hwa.
Sosok jangkung tadi masih sibuk di balik meja baca. Percayalah matanya tak sedetikpun terlepas dari gerak gerik Eun Hwa.
Namja jangkung berkulit pucat itu bernama Cho Kyu Hyun. Murid kesayangan ayah Eun Hwa. Dialah rahasia terbesar Song Eun Hwa. Gadis bermata bulat warisan eommanya itu menyukai Kyu Hyun sejak sang ayah membawanya kerumah setahun yang lalu.
Kalau boleh berkata jujur, dimata Eun Hwa Cho Kyu Hyun tidaklah tampan. Laki-laki itu berpenampilan sangat kuno sekali. Membuat siapa saja yang melihatnya bosan. Tapi tidak dengan Eun Hwa. Gadis itu seperti bertemu dengan pangeran impiannya saat bertemu Kyu Hyun kala itu.
Cho Kyu Hyun sebenarnya merasa kasihan pada Eun Hwa. Lwbih tepatnya ia tidak tega melihat Eun Hwa dihukum seperti ini. dengan segala pertimbangan ia akhirnya memutuskan untuk menghentikan hukuman ini.
“Stop” ujar sosok itu.
“Ne? Kau bilang apa?”
“I said stop”
Eun Hwa meletakkan novel Harry Potter yang bersampul biru di rak terakhir dan berjalan menuju namja jangkung yang sejak tadi memperhatikannya.
“Kenapa tiba-tiba menyuruhku berhenti?”tanya Eun Hwa seraya duduk di kursi yang berhadapan dengan Kyu Hyun.
Namja itu tak menanggapi pertanyaan Eun Hwa. Ia malah beranjak kedepan pintu perpustakaan dan mengambil plastic pemberian Mi Young tadi.
Diulurkannya sebotol minuman isotonic kepada Eun Hwa dan langsung disambar gadis itu dengan cepat.
Eun Hwa mengusap bibirnya kasar setelah menenggak setengah botol minuman itu. ia bersendawa pelan dan menyengir lebar. Kyu Hyun hanya mengeluarkan seringaian khasnya.
Sedetik kemudian Kyu Hyun mengeluarkan sesuatu dari laci meja dan menaruhnya diatas.
“Siapa yang berulang tahun?” Eun Hwa heran melihat kue tart sederhana yang dihiasi buah-buahan yang dikeluarkan Kyu Hyun dari dalam kotaknya.
“Aku, gara-gara tugas konyol yang diberikan oleh ayahmu ini aku jadi merayakan ulang tahunku di sini”
namja itu sambil mengambil pisau kue bersiap untuk memotong.
Tetapi Eun Hwa dengan cekatan menahan tangan Kyu Hyun.
“Kita tidak akan memotongnya tanpa lagu selamat ulang tahun”
Eun Hwa tersenyum sambil menarik nafas bersiap mengeluarkan suara indahnya. tak lama kemudian nyanyian khas selamat ulang tahun terdengar di seluruh ruangan berdebu ini.
Sampai Eun Hwa menyelesaikan nyanyiannya Kyu Hyun terus menatap kue tart buah yang ia beli dari uang tabungannya selama tiga bulan.
“Sayang sekali tidak ada lilin”
“Aku tidak berencana untuk meniup lilin, omong-omong suaramu bagus juga” puji Kyu Hyun.
“Tentu saja, aku ini ikut les vocal. Tapi kau jangan beritahu appaku ya. Aku tahu beliau sangat dekat denganmu. Kau murid kesayangannya Cho Kyu Hyun.
Pipi Kyu Hyun merona mendengar suara Eun Hwa menyebut namanya. Satu hal lagi, sebenarnya Cho Kyu Hyun menyukai Eun Hwa sejakhari pertama ia masuk SMA dan bertambahlah rasa sukanya saat tahu Eun Hwa adalah anak dari guru favoritnya Guru Song.
“Song Eun Hwa”
“Ne”
“Please be my girl”
Song Eun Hwa tersentak saat mendengar suara klakson mobil yang sudah sangat ia hafal. Cepat-cepat ditutupnya album photo itu dan kembali menyimpannya dirak lemari kaca.
Ia segera berjalan menuju pintu. Suara-suara berisik yang keluar dari mulut kedua putrinya terdengar jelas. Eun Hwa hanya tersenyum maklum.
“Dad, pokoknya aku tidak mau tahu Daddy harus membelikanku gaun berwarna merah untuk ulang tahunku besok, please”
“Jangan Appa, lebih baik Appa belikan aku baju baseball yang terbaru dan limited edition, limited edition”
“Tidak Dad pokoknya gaun merah”
“Baju baseball”
“Gaun Merah”
“Baju baseball”
Semenatara kedua anak gadis yang memiliki wajah sama itu bertatapan sengit. Mereka tidak tahu appa dan eomma mereka sudah bermesraan di kursi ruang tamu. Sang namja hampir saja melepaskan seluruh kancing kemeja istrinya.
“Chagiya NO, masih ada anak-anak”
“Biar saja tunggu sampai mereka memutuskan mau membeli gaun atau baju baseball” Namja itu masih tetap dengan aksinya yang lebih berani kali ini leher sang istri menjad sasarannya. Ia mnegecup pelan leher jenjang itu. Eun Hwa melenguh pelan saat tangan suaminya sudah berada tepat diatas dadanya dan meremas benda bulat itu pelan.
“Eomma Appa geumanhae, bantu kami menyelesaikan masalah ini” gadis yang berpenampilan sedikit boyish itu melemparkan topi baseballnya kelantai dan berjalan menghentak-hentak menuju dapur.
“Daddy and Mommy kalau mau bermesraan di kamar saja, mencemari mata polos anak berusia dua belas tahun seperti kami saja” gadis yang memakai gaun ala eropa itu segera melepaskan sepatu flatnya dan kemudian menuju dapur mengikuti saudara kembarnya yang sudah melahap biskuit kesukaan mereka.
“Sayang jangan begitu, appa dan eomma sedang berusaha untuk memberikan adik laki-laki untuk kalian, iya kan chagi?” sang suami menaikturunkan alisnya menatap istrinya yang sudah mendengus sebal.
“Kau saja yang hamil kalau begitu.”
“Ya! Sayang.”
***
Hari ini mereka jalan-jalan ke mall demi memenuhi keinginan si kembar yang tetap kukuh membeli baju kesukaan mereka.
“Hee Chan-ah cepatlah pilih baju baseball jelek itu lalu kita akan ke toko princess disebelah sana untuk mencari gaun untukku”
“Hee Jin Eonniku sayang, jangan mengatakan baju baseballku jelek, jsutru gaun kekanakan itu yang jelek, huh kau seperti hantu kastil eropa kalau memakai gaun-gaun menggelikan itu”
“Apa kau bilang”
“Sudah-sudah, Hee Chan cepatlah putuskan mana yang kau suka sayang, setelah itu kita mencari gaun eonnimu, ini sudah hampir makan siang” Eun Hwa menengahi pertengakaran anaknya yang tak akan pernah sudah.
“Ne, eomma. Aku pilih yang bergaris merah saja”
“Bagus, ayo kita bayar”
Setelah menyelesaikan urusan dengan baju baseball Hee Chan mereka beralih ke bagian yang menjual gaun-gaun cantik. Mata Hee Jin langsung berbinar-binar. Gadis itu dengan cepat memilih baju kesukaannya.
“Jatahmu hanya satu saja Hee Jin” ujar Eun Hwa.
“Arraseo eomma, Hee Chan temani aku”
Hee Jin menarik tangan saudaranya dengan senag sementara itu Hee Chan bergerak malas mengikuti kakanya yang maniak gaun itu.
Song Eun Hwa dikarunia anak kembar saat usia pernikahannya memasuki usia hampir dua tahun. Ia dan sang suami hampir putus asa kala itu. tapi mereka tidak menyerah dan terus berdo’a dan berusaha sampai akhirnya mereka dikarunia anak dan kembar pula. Sungguh tak pernah ia duga sebelumnya.
Eun Hwa melirik kesamping melihat suaminya yang sedang memilih dasi.
“Yang warna peach itu bagus” Eun Hwa melirik kearah dasi yang sedang dipegang oleh suaminya.
“Belikan untukku”
Eun Hwa hanya menatap heran suaminya yang tersenyum-senyum.
“Wae, kenapa tiba-tiba?”
“Tidak lupakan saja”
Namja itu berlalu begitu saja tanpa tahu Eun Hwa tersenyum penuh arti
***
Pukul delapan malam mereka pulang ke rumah setelah menjelajahi seluruh isi mall.
“Bagaimana, sudah puas” tanya Eun Hwa melihat kedua anaknya masih hanyut dengan baju-baju mereka.
“Sudah eomma, gomawoyo eomma”
“Ne Mommy, Thank You very much”
“Huh Cuma eomma saja, appa yang menggemaskan ini tidak?”
“Ne Gomawoyo Appa/Daddy” ujar mereka kompak.
“Baiklah, saatnya tidur. ah eomma mengantuk sekali” Eun Hwa membereskan barang belanjaannya dan segera masuk ke kamar tidur.
Ketiga orang yang berada di ruang keluarga itu diam terpaku sambil melirik wanita yang sudah menghilang dibalik pntu.
“Ini aneh apa eomma benar-benar lupa”
“Gawat mommy melupakan hal ini”
“Chagiya, kau tega sekali”
Mereka bertiga terduduk lesu. Hee Jin berbaring dipaha kiri ayahnya sementara Hee Chan meletakkan kepalanya di bahu kanan sang ayah.
Tak disangka orang yang paling mereka sayangi didunia ini melupakan hal sepenting dan sesakral hari ini. mereka bertiga sama-sama mengeluarkan air mata kepedihan. Dan mengusapnya secara bersamaan.
Sementara itu Song Eun Hwa sedang tertawa pelan di dalam kamar sambil menyiapkan tart buah warna warni ukuran besar. Ia menghidupkan lilin dengan hati-hati. Dibukanya pintu kamar perlahan. Ia melihat tiga orang tersayangnya itu memasang wajah sendu. Eun Hwa menutup mulutnya menahan tawa. Perlahan dibukanya pintu kamar lebar-lebar sambil membawa kue di kedua tangannya.
Eun Hwa menyanyikan lagu selamat ulang tahun dengan suara merdunya.
Si kembar dan suaminya segera menegakkan badan dan menatapa bengong kearah Eun Hwa.
“Hei kalian bertiga cepat tiup lilinnya” Eun Hwa menyadarkan ketiga orang itu.
“Kalian ini cepatlah , nanti lilinnya meleleh”
Hee Jin dan Hee Chan segera meniup lilin.
Eun Hwa meletakkan kue itu diatas meja dan bertepuk tangan senang.
“Kami kira eomma melupakan ulang tahun kami” Hee Chan berkata dengan suara bergetar.
“Mommy yang terhebat” Hee Jin mencium pipi Eun Hwa.
Namja yangs sejak tadi terpaku itu belum juga sadar dari rasa terkejutnya.
“Hei sayang kau masih tidak mau meniup lilrnya dia mencolek in ini, hm?”
Eun Hwa berdecak kesal melihat suaminya yang masih terbengong-bengong. Akhirnya ia mencolek sedikit hiasan gula di kue tart itu dan mengoleskannya ke pipi sang suami.
“Ya! Kotor Song Eun Hwa”
“Akhirnya, cha potong kuenya”
Mereka melewati malam dengan tertawa riang dan saling menggoda satu sama lain. Untuk mala mini Hee Jin dan Hee Chan bersatu untuk mengerjai ayah mereka. Eun Hwa memberikan hadiah dasi berwarna peach yang dilihat Kyu Hyun di mall tadi. betap senagnya pria itu. Ternyata Eun Hwa sama sekali tidak melupakan ulang tahunnya.
***
Song Eun Hwa mendesah tertahan saat lehernya dicium mesra oleh sang suami. Ia sudah tidak tahan dengan godaan-godaan yang sejak tadi hanya membuatnya frustasi.
“Chagiya, ppali”
“Aku ingin membuatmu mendesah dulu sayang, sejak tadi kau mengerjaiku bersama si kembar”
“Habisnya kau hanya bengong saja saat aku menyuruh tiup lilin, ah…ah… chagiya”
Eun Hwa menggigit bibir bawahnya menahan desahan yang sudah tidak tertahankan. Bagian tersulitnya saat memulai percintaan adalah menahan suara-suara nikmat yang ingin ia keluarkan tapi tidak bisa. Ia takut si kembar mendengarnya. dulu saat baru menikah ia dengan mudah melepaskan suara merdunya itu.
“Chagiya sebenarnya aku ingin membuat pengakuan” ujar Eun Hwa ditengah desahannya.
“Apa itu?” suaminya masih asyik mencium dada sang istri dengan perlahan dan berusaha menikmati gundukan kenyal itu.
“Sebenarnya aku kemarin…” ucapan Eun Hwa terputus saat milik suaminya memasuki penuh mahkota miliknya yang hangat. Ia melenguh pelan dan berkonsentrasi dengan penyatuan tubuh mereka yang selalu luar biasa menakjubkan.
“Katakan sayang” ujar sang suami sambil menarik pelan miliknya dan mendorongnya kembali.
“Ah..ehm…a..aku melihat lembaran terlarang itu”
Saat itu juga sang suami menghentikan kegiatannya dan menatap marah wajah istrinya. Eun Hwa sedikit gemetar saat melihat wajah suaminya yang memerah menhan marah.
“Mianhae chagiya, aku benar-benar penasaran. .ah.”
“Kau melanggarnya sayang dan terimalah akibatnya”
“Cho Kyu Hyun please, itu hanya fotomu yang sedang memakai seragam perempuan sewaktu kita SMA dulu”
“Tapi itu aib bagiku, aku tidak akan pernah memperlihatkannya padamu. Aku menyesal mengikuti taruhan Donghae Hyung waktu itu”
“Taruhan apa?”
“Kami bertaruh kalau kau menerima pernyataan cintaku saat di perpustakaan itu maka aku akan memakai pakaian perempuan kesekolah selama tiga hari lengkap dengan wig nya.”
Cho Kyu Hyun menurunkan pusat tubuhnya lagi sambil melenguh pelan. ia benar-benar tidak bisa menghindari sensasi nikmati saat mengunjungi milik istrinya ini.
“Maksudmu aku hanya dijadikan taruhan?”
“Aniya, aku benar-benar menyukaimu, chagiya”
“Tapi kau menjadikanku taruhan”
“Itu hanya permainan antara aku dan DongHae Hyung karena dia gemas melihatku yang tak pernah berani menyatakan cinta padamu”
Kyu Hyun mengerucutkan bibirnya. Song Eun Hwa tertaa melihat wajah suaminya yang menggemaskan itu.
“Aigoo, Cho Kyu Hyun, kau manis sekali.”
Eun Hwa mencium gemas bibir Kyu Hyun dan diasambut oleh pria itu dengan senang hati. Mereka berciuman mesra sambil terus berkonsentrasi pada pusat tubuh mereka yang masih menyatu sejak tadi.
Kyu Hyun itu menekan miliknya dengan sekali sentak membuat Eun Hwa mendesah keras. Ia ikut larut dalam percintaan mereka yang amat panas ini. diusapnya peluh di kening Kyu Hyun.
Song Eun Hwa mencintai Cho Kyu Hyun.
“Terima kasih perayaan ulang tahun malam ini” Kyu Hyun mengecup lembut rambut istrinya yang lembab oleh keringat. Mereka menikmati sisa-sia pelepasan cinta yang begitu hebat dan istimewa.
“Bukankah kita selalu merayakan ini setiap tahun. Dan aku bersyukur si kembar lahir dengan tanggal yang sama dan bulan yang sama denganmu. Tiga februari adalah tanggal yang paling istimewa dalam hidupku.” Eun Hwa mengecup dada suaminya yang berkeringat.
“Yah, dengan begitu kau bisa menghemat biaya perayaan ulang tahun, kan?”
“Benar, tapi aku sedih putri-putri kita sudah beranjak dewasa Kyu, mereka sudah genap dua belas tahun sekarang”
“Jangan sedih, itu artinya kita sudah berhasil merawat dan mendidik mereka hingga besar seperti saat ini. aku tidak menyangka bisa mendapatkan anak kembar.”
“Aku juga, kau benar-benar hebat sayang”
“Kau juga Eun Hwa-ya. Kau adalah istri dan ibu yang paling hebat.” Kyu Hyun mengecup sekilas bibir Eun Hwa.
“Cho Kyu Hyun, terima kasih sudah menjadi bagian dari jiwaku.”
Cho Kyu Hyun mencintai Song Eun Hwa.
“Karena ini ulang tahunmu, maka aku memberikan bonus ronde berikutnya.”
Eun Hwa segera menduduki perut Kyu Hyun dan mencoba memasuki miliknya kembali.
“Aku tak akan bisa menolaknya.”
Mereka kembali mereguk nikmatnya malam yang indah dengan sejuta harapan untuk esok hari.
“Selamat malam dan selamat ulang tahun Cho Kyu Hyun”
THE END

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: