First Of The Last

0
First Of The Last ff nc kris exo
Title : First of The Last
Author : Krissie
Category : Romance, Oneshoot, NC-21, Yadong
Cast :
Kris Wu
Park Seo Hee
Jung Eun Yi ( OC)
Other Cast
Annyeong, ini NC-fiction pertamaku. Maaf kalau ceritanya klasik/biasa hehehe. Maaf juga kalau NC-nya kurang bagus kkk~ semoga kalian suka, ne? Jangan lupa isi comment ^^
-***-

Seo Hee POV
Sinar matahari pagi masuk melalui celah jendela apartementku dengan tidak bersahabat. Ku kerjapkan mataku lalu menatap dinding kamar sebentar—sekedar mengumpulkan nyawa. Ku lirik ke arah kananku dan mendapati dia, suamiku, tidak ada lagi. Aku tahu, ia pergi dari semalam.
Aku menghela nafasku berat dan mulai merasakan lapar. Dengan antara ingin dan tidak, aku berjalan menuju dapur dan mengambil beberapa buah yang akan ku makan. Suara dehaman pria mengejutkan lamunanku, “ Ehm.”
Aku menoleh ke arahnya. Wajah dinginnya yang tampak seperti es itu tiba-tiba membuat suasana pertemuan kami semakin tak enak. Ditambah sedikit pertengkaran kecil lewat telepon semalam membuatku enggan menyapanya duluan.
“ Kau tidak memasak pagi ini?” Tanyanya begitu aku lewat di hadapannya, mengira semua kejadian tadi malam tak berdampak banyak bagi perasaanku, aku menoleh dingin ke arahnya. “ Oh, ayolah, Seo Hee, maafkan aku.” Ucapnya memelas begitu aku melewatinya begitu saja. Aku membanting kecil piring buahku dan menatap ke arahnya, “ Aku sedang tidak dalam mood untuk membahas masalah semalam, Kris.”
“ Setidaknya, kau tidak tanya kapan aku sampai rumah? Atau apakah aku lapar karena tidak tidur semalaman—”
“ Untuk apa? Untuk membuatmu cukup terlihat memelas di mataku? Setidaknya, kau sendiri tidak pernah peduli dengan keadaanku, lalu kenapa aku harus peduli denganmu?”
Kris berdiri lalu membanting piring buahku, “ Ya! Kau sadar tidak kalau aku suamimu, Seo Hee!” Hentaknya. “ Ya, aku sadar kau suamiku. Suami yang bahkan lebih tega meninggalkan istrinya sendirian malam-malam hanya untuk teman wanitanya yang sedang sakit!” Hentakku.
“ Jangan hina Eun Yi seperti itu!”
Aku yang malas meladeninya memilih berlari ke kamar dan membanting pintunya keras-keras. Kemudian mengeluarkan tangisku yang sudah membuncah dan meluapkan rasa sesak yang sebenarnya sudah memuncak bahkan dari sebelum aku menikah.
Eomma, aku ingin bercerai saja.
-***-
Author POV
Kris menatap pintu kamarnya ragu. Sudah kesekian kalinya ia ingin mengetuk pintu itu tapi tangannya tak tega. Sebenarnya ia marah karena Seo Hee mengatakan hal yang tidak-tidak tentang Eun Yi. Namun ucapan ibunya dulu terngiang di otaknya dan membuatnya merasa bersalah sudah membentak Seo Hee.
Isakan tangisnya terdengar jelas dari luar kamar. Bahkan membuat hati Kris ikut ngilu. Dengan keberanian yang mulai penuh, tangannya berhasil menempel pada pintu kayu jati cokelat itu dan mengetuknya beberapa kali. “ Seo Hee, buka sebentar saja. Aku mohon.” Pintanya. Suara tangisan itu tiba-tiba berhenti. Membuat hati Kris cukup lega merasa betapa mudahnya istrinya memaafkannya. Tapi tak lama kemudian sebuah teriakkan menyusul dan mengagetkannya, “ Untuk apa? Untuk memakiku lagi? Ha? Kau, pergi saja! Pergi temui cinta pertamamu itu!”
“ Bukan seperti itu, Seo Hee. Ayolah kita bicara sebentar dan aku akan menjelaskan tentang kejadian semalam.” Pinta Kris lagi dan kini pintu itu terbuka. Memperlihatkan seorang wanita dengan wajah lebam karena tangisan, “ Wae? Mau beralibi macam apa lagi, Kris? Terus terang aku lelah. Aku—”
“ Maaf.” Ucap Kris menginterupsi dan memeluk Seo Hee tiba-tiba. Wanita itu mengerang minta dilepaskan. “ Sudahlah, Kris. Aku lelah.” Ujarnya. “ Aku mencintaimu. Bukan dia, Seo Hee.”
“ Kris, ayo bercerai saja.”
*flashback*
“ Perkenalkan, Seo Hee, dia Jung Eun Yi, teman Kris sewaktu SMP.” Ujar ibu Kris mengenalkan seorang gadis berperawakan kurus dan tinggi yang tampak cantik itu. Seo Hee menatapnya dan tersenyum manis, “ Annyeonghaseyo, Park Seo Hee imnida.” Gadis bernama Jung Eun Yi itu membalasnya namun dengan senyuman yang lebih tampak seperti kesinisan.
Hari ini adalah acara pertunangan Seo Hee dengan Kris. Beberapa kerabat mereka datang termasuk Eun Yi. Sesungguhnya, Seo Hee sudah pernah melihat Eun Yi ketika masuk kampus. Dulu beredar gossip kalau Eun Yi dan Kris berkencan. Namun saat ia mulai berhubungan dengan Kris, wanita itu menghilang dan baru muncul sekarang.
Kris datang dan langsung menyambut Eun Yi ramah. Seo Hee bisa menatap pancaran berbeda dari keduanya, tapi ibu Kris datang lagi dan mengatakan, “ Kau tidak cemburu, kan? Mereka memang dekat tapi Ibu yakin mereka tidak memiliki hubungan apa-apa.” Terus terang Seo Hee mulai merasa cemburu. Namun, ia bahkan baru berstatus tunangan jadi ia tidak bisa berkata apa-apa.
Hari terus berganti hingga hari pernikahan keduanya tiba.
“ Kris, Ibu ingin berbicara denganmu sebentar.” Panggil Ibunya ketika Kris dan Seo Hee baru saja melepas lelah setelah pesta pernikahan mereka. Lelaki tinggi itu berjalan menuju taman belakang dan duduk di hadapan ibunya.
“ Ibu hanya titip satu pesan untukmu. Ibu tahu kau mencintai Seo Hee meski setengah hatimu masih terpaut pada Eun Yi. Tapi, Ibu mohon mulai sekarang lupakan Eun Yi dan terus mencintai Seo Hee.”
“ Tenang saja, Bu. Aku akan menjaga Seo Hee.” Janji Kris tenang.
*flashback off*
Tetesan air hujan mulai turun dan udara semakin dingin. Jam mulai menunjukkan pukul delapan malam tapi tak membuat tangisan Seo Hee surut seperti cuaca yang terjadi belakangan ini—susah menemukan hujan berhenti. Wanita itu masih mengurung dirinya di kamar setelah pertengkaran tidak jelas itu. Yang pasti setelah ucapan itu Kris hanya diam dan melepas genggaman tangannya, membuat wanita itu semakin merasa seperti menjadi istri yang tidak berguna.
Berkali-kali ia berbisik pada dirinya sendiri, “ Mengapa lelaki itu harus menikahinya jika ia mencintai orang lain?”
Sekarang Seo Hee juga tahu Kris sudah pergi dari apartement mereka dan kembali ke rumah sakit untuk menjaga Eun Yi. Kejadiannya persis seperti kemarin malam. Ah, tidak, sudah beberapa kali sebenarnya.
Seo Hee ingat benar pertengkaran mereka berawal dari peringatan satu bulan pernikahan mereka. Di saat Kris menjanjikannya sebuah candle light dinner di sebuah restoran di Daegu tapi tiba-tiba ia membatalkannya secara sepihak. Alasannya adalah Eun Yi menghubunginya dan memintanya datang dengan segera. Meninggalkan Seo Hee yang sudah terlanjur datang ke restoran itu.
Jika dihitung satu per satu, Seo Hee mungkin sudah lelah untuk menghitung betapa ia merasa cemburu karena suaminya lebih perhatian pada gadis itu. Tapi, Seo Hee terlalu kaku dan tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menangis, itupun Kris tidak tahu. Sampai akhirnya kekesalannya memuncak kemarin malam. Bagaimana untuk kesekian kalinya Seo Hee bangun dari tidur malamnya dan menemukan sisi kanan tempat tidurnya kosong. Yang ada hanyalah pesan di ponselnya, Seo Hee, maaf, aku harus pergi menemani Eun Yi. Dia sendirian di rumah sakit dan itu membuatku tak tega.
Malam itu, Seo Hee langsung memencet nomor telepon suaminya itu dan memanggilnya. Dengan mengencangkan suaranya yang terdengar parau karena baru bangun tidur ia berkata, “ Jadi kau meninggalkanku lagi? Untuk Eun Yi lagi?”
Kris membalas ucapan itu dengan sedikit berbisik, “ Sebentar saja, aku akan pulang jika Eun Yi sudah mulai terlelap.” Seo Hee memutar matanya sebentar lalu menjawab, “ Apakah dia anak kecil berusia sepuluh tahun yang harus selalu kau jaga, ha?”
“ Dia sendirian di sini, Seo Hee. Mengertilah. Hanya aku yang dia punya.”
“ Baiklah, aku mengerti. Astaga, aku baru ingat bahwa aku terlihat begitu menyedihkan seperti ini.”
“ Menyedihkan? Apa maksudmu?”
“ Tidak. Sudahlah, urusi Eun Yi. Dia kan sendirian dan hanya kau yang dia punya. Aku akan tutup teleponnya. Ah, menyedihkan hidup seperti tidak punya suami.” Jawab Seo Hee sedikit tercekat menahan tangis dan langsung menutup teleponnya.
Setelah itu ia menangis lagi, mengingat kata-kata suaminya barusan. Hanya Kris yang Eun Yi punya dan Kris rela meluangkan waktu tidurnya untuk gadis itu. Lantas, dimana tanggung jawab Kris terhadap istrinya sendiri?
-***-
Lelaki itu memasuki kamarnya dengan pelan-pelan. Menatap punggung istrinya yang sudah terlelap. Ia melirik jam dinding di kamarnya dan menyadari bahwa sekarang sudah pukul tiga pagi.
Ia pergi setelah pertengkaran itu. Pergi minum sebentar lalu ke rumah sakit setelah Eun Yi menelepon. Gadis itu menangis minta ditemani olehnya. Sesampainya di sana, Kris berbincang kesana kemari tanpa membahas pertengkaran ia dan istrinya. Tentu saja ia tidak pernah membahas Seo Hee barang sedikitpun di hadapan Eun Yi, karena ia tahu gadis itu pasti cemburu.
Tiba-tiba pikirannya terganggu dengan bayangan-bayangan tangisan Seo Hee. Ia merasa begitu bersalah karena tidak pernah memikirkan perasaannya. Tapi, Seo Hee harusnya mengerti bahwa hubungannya dengan Eun Yi tidak lebih dari persahabatan—meski Kris sendiri menyadari dulu ia pernah tergila-gila dengan Eun Yi.
Kris sudah bergegas ingin pulang dan ingin bertemu istrinya sebelum tangan Eun Yi meraihnya dan menyuruhnya tetap tinggal. Seperti daya magis, Kris selalu tidak bisa menolak apa yang Eun Yi katakan dan perintahkan. Akhirnya ia kembali duduk di tepi ranjang rumah sakit dan menemani Eun Yi lagi.
Lelaki itu duduk di pinggir ranjang dan menatap istrinya. Dia tahu wanita di hadapannya itu lelah karena cemburu. Tapi daya tarik Eun Yi terlalu kuat menarik jiwanya, yang ia sendiri tidak tahu kenapa daya itu bisa membuatnya meninggalkan istrinya begitu saja.. Perlahan, Kris mencondongkan wajahnya hendak mencium bibir istrinya yang sudah lama tidak ia singgahi. Bahkan ia baru sadar, sudah satu bulan ia meninggalkan wanita itu.
Namun mata Seo Hee terbuka dan mendorong Kris cukup kuat. “ Apa yang sedang kau lakukan?!” Bentak Seo Hee. “ Ani.” Jawab Kris kaku. “ Lepaskan!” Ucap Seo Hee lagi ketika tangan Kris menggenggam pergelangan tangannya. “ Tidak akan.” Balas Kris.
“ Lepaskan! Kalau tidak—”
Kris menghentikan amarah Seo Hee dengan mengecup bibirnya. Menahannya cukup lama meski wanita itu mengerang. Tangannya menggenggam pergelangan tangan Seo Hee cukup kuat hingga wanita itu sulit bergerak. Setelah mulai merasa kehabisan oksigen, lelaki itu melepas ciumannya. “ Aku mencintaimu. Hanya mencintaimu.”
Seo Hee hanya berdecak lalu pergi ke arah pintu. “ Kau mau kemana, Seo Hee?” Wanita itu tidak menghiraukan pertanyaan Kris. Ia pergi lalu kembali dengan secarik kertas dan bolpoin.
“ Tanda tangan.” Ucapnya menunjuk sebuah kotak dengan materai. Kris memandang wajah wanita itu dengan bingung. Lalu kembali ke kertas itu dan membacanya,
Surat Permohonan Perceraian.
“ Apa maksudmu?”
“ Sudah jelas, bukan? Perceraian. Kita harus bercerai.”
“ Tidak. Kita tidak boleh bercerai.” Sanggah Kris merobek kertas tersebut. “ Ya! Nappeun!” Teriak Seo Hee.
“ Kita tidak boleh bercerai, Baby. Apa kau sudah tidak mencintaimu lagi?”
“ Persetan dengan ucapanmu, Kris! Kau tidak sadar diri. Tolong ceraikan aku sekarang juga!” Ucap Seo Hee frustasi. Kris menelan ludahnya mendengar ucapan kasar Seo Hee. Bagaimana bisa istrinya yang lembut itu menjadi sekasar ini?
“ Ceraikan aku!” Teriak Seo Hee mengguncang bahu Kris. Tapi Kris menahannya, menggenggam tangan Seo Hee dan menatapnya lembut, “ Kau salah sangka terhadap Eun Yi selama ini, Sayang.”
Seo Hee menghela nafasnya lelah dan menyerah untuk marah, “ Salah sangka apa lagi? Kris, ku mohon, ceraikan aku. Kau mau siksa aku macam apa lagi?”
“ Kris, aku sudah lelah. Kau dan keluargamu selalu menuntutku untuk mengerti hubungan kalian. Mengatakan bahwa kalian hanya berteman. Tapi, apa kalian pernah berpikir perasaanku? Kris, aku hanya istri biasa. Aku juga bukan wanita super yang terus-menerus mengalah dan menyerahkan suamiku untuk wanita lain. Kau kira aku tidak tahu tentang kau dan Eun Yi? Aku tahu dulu kalian berpacaran. Kalian merupakan pasangan terhebat di kampus. Kau tidak tahu kan aku mengetahuinya?”
“ Kris, aku mengagumimu dari dulu. Jauh sebelum kita benar-benar saling kenal. Dari dulu lukaku sudah mulai ada ketika melihatmu dengan Eun Yi. Sampai akhirnya kita menikah dan lagi-lagi luka lamaku kembali lagi. Kris, kalau kau masih mencintai Eun Yi, kenapa kau menikahiku?”
“ Bukan seperti itu, Seo Hee. Aku mencintaimu. Eun Yi hanya masa laluku.”
“ Kau selalu berkata bukan seperti itu, Seo Hee. Lalu apa yang menjadi alasanmu untuk terus bersamanya? Kalau kalian saling mencintai, kenapa tidak bersama saja?” Kris diam mendengarkan pertanyaan Seo Hee. “ Maka, ayo bercerai, Kris. Setelah kita bercerai, kau dan Eun Yi bisa bersama kembali.”
Kris menguatkan genggaman tangannya, menyadari Seo Hee kini terisak dalam dan ia sendiri tidak kuasa menahan tangisnya.
“ Aku tahu aku lelaki yang bodoh.” Ucapnya.
“ Aku hanya susah melepaskan bayang-bayang cinta pertamaku. Aku kira semuanya akan berjalan mudah ketika menikah. Aku kira kau akan mengerti betapa sulitnya melepas cinta pertama.”
“ Aku memang mencintainya, Seo Hee. Tapi itu dulu—itu ketika kami berkencan, seperti yang kau bilang. Dan di hatiku kini hanya ada istriku, tanggung jawabku, dan Eun Yi tidak lebih hanya kenangan, Seo Hee.”
“ Hanya saja, aku kira kau akan mengerti aku. Meski aku tahu kau sudah berupaya untuk mengerti dan aku justru tidak pernah mengertikanmu. Aku baru sadar bahwa kau begitu tersakiti dengan ini, Seo Hee. Aku berjanji tidak akan mengulanginya. Aku berjanji akan lebih mengedepankanmu. Aku juga baru sadar, bahwa cinta terakhir jauh lebih berarti dibanding cinta pertama.”
Seo Hee masih terisak dan enggan menatap Kris. Hatinya juga masih bersikukuh untuk bercerai. Ia sudah lelah. Kris sudah berjanji berkali-kali tapi ia ingkari. Kini Kris menariknya ke dalam pelukannya. Jujur, ia lelah mengerang dan lebih terlihat pasrah dipeluk Kris. Seo Hee juga tidak memungkiri ia merindukan sosok Kris yang dulu ketika mereka baru menikah.
Namun pikirannya terganggu dengan kata-kata cinta pertama Kris. Ketika lelaki itu masih bersikukuh mempertahankan rasa kepada cinta pertamanya, tidakkah ia tahu bahwa Kris adalah cinta pertama Seo Hee?
“ Jadi, hapus semua pikiranmu tentang perceraian. Karena sampai aku matipun, aku tidak akan menceraikanmu.” Ucap Kris.
Kris memeluk Seo Hee hangat dan tak kunjung melepasnya. Hingga ia menyadari Seo Hee mulai terlelap lelah. Ia rebahkan tubuh istrinya ke ranjang dan menatap wajah Seo Hee. Pada matanya terdapat lingkaran cukup besar, ia begitu terlihat menyedihkan.
Kris berjalan menuju kamar mandi dan membasuh wajahnya. Ia sangat mengantuk. Setelah bertekad untuk tidur, ponselnya berdering lagi.
“ Kris, temani aku lagi.” Ujar Eun Yi dari ujung telepon. Kris menatap wajah istrinya lalu menjawab, “ Maaf, Eun Yi. Mulai hari ini, aku tidak bisa mengunjungimu terus-terusan. Aku harus menjaga Seo Hee.”
Seo Hee yang merasa seseorang memanggil namanya terbangun dan mendapati Kris berada di sebelahnya. Tetapi lelaki itu tidak sadar jika Seo Hee kembali bangun.
“ Sudahlah, Eun Yi. Kau harus sadar kalau aku sudah menikah. Selama ini aku sudah cukup mengertimu, sekarang ayo kau juga harus mengerti aku.”
“ Ayolah sadar, Eun Yi. Seo Hee jauh lebih membutuhkanku. Sudahlah.” Kris menutup teleponnya dan bergeser posisi untuk tidur sebelum air hangat mengenai bahunya. Kris menoleh dan mendapati Seo Hee menangis lagi. “ Sayang, jangan menangis lagi. Aku minta maaf. Aku benar-benar berjanji kali ini untuk tidak akan meninggalkanmu.”
Seo Hee hanya diam dan menatap Kris sedih. Hatinya terasa penuh dan sesak ingin memukul dada suaminya itu, paling tidak membuat lelaki itu cukup mengerti bagaimana rasanya sakit hati. Tapi tubuhnya terlalu lelah karena menangis sepanjang hari.
Seo Hee menahan bahu Kris saat lelaki itu mencondongkan tubuhnya ingin menciumnya. Wanita itu membalikkan posisi tubuhnya membelakangi Kris—memberi jawaban untuk Kris agar tidak menciumnya. Kris menghela nafas dan memeluk pinggang Seo Hee, “ Aku tahu aku salah dan kau masih marah. Tapi ku mohon, Sayang, jangan perlakukan aku seperti ini.”
Seo Hee tidak menghiraukan perkataan Kris dan memilih memejamkan tubuhnya lagi. Tapi semakin ia diam, Kris semakin memberi kilahan dan memohon kepadanya untuk memaafkannya. Sesekali lelaki itu mengecupi leher Seo Hee tapi wanita itu tetap tidak bergeming. Mulai lelah, Kris akhirnya berhenti dan memejamkan matanya meski tangannya masih ia sampirkan ke pinggang istrinya. Seo Hee yang sebenarnya tidak tidur terus meneteskan air matanya. Berharap lelaki itu akan melepas pelukannya tapi sepertinya itu hampir tidak mungkin sebelum ia memaafkan lelaki itu. Sadar bahwa Kris mulai tidur, Seo Hee ikut memejamkan matanya dan berharap kali ini benar-benar terlelap.
-***-
“ Ah.” Erang Seo Hee begitu untuk kesekian kalinya Kris mengecupkan bibirnya ke lehernya. Lelaki itu mulai menggerakkan tangannya melepas kancing piyama istrinya satu per satu. Seo Hee sendiri lupa mengapa kejadian ini bisa terjadi. Yang pasti saat alarmnya bunyi saat pukul tujuh pagi, Kris menahannya untuk tetap tinggal. Lalu lelaki itu tiba-tiba menciumnya—meski lembut tapi tetap saja itu mengagetkan. Seo Hee sendiri merasa aneh pada dirinya sendiri, merasa ia juga merindukan sentuhan suaminya itu ia memilih diam dan menikmatinya.
“ Kris, ah, astaga.” Erangnya lagi begitu lelaki itu menghisap tulang belikatnya cukup kuat dan mengusap dadanya lembut. Tapi tiba-tiba lelaki itu berhenti. Masih dengan posisi menindih Seo Hee, dia menatap wajah istrinya lembut dan berkata, “ Mulai sekarang, ayo memulai lembaran baru dalam hidup kita lagi.”’
Seo Hee POV
Aku memandangnya yang terlihat begitu tulus mengucapkan kata-kata itu. Membuat mataku memanas dan hatiku meluluh begitu saja. Aku begitu merindukan sosok Kris yang lembut seperti ini.
Dia mengusap wajahku lembut dan kini memajukan wajahnya hendak menciumku lagi. Untuk kesekian kalinya, aku menahannya. Dia menatapku bingung tapi aku justru mengubah posisi kami menjadi duduk dan memeluknya erat. Meluapkan perasaanku yang aneh—antara cinta, benci, rindu, marah kepadanya. “ Jangan buat aku seperti ini lagi.” Ucapku menahan tangis. Kurasakan kepala Kris yang mengangguk. “ Kau tahu apa yang membuatku merasa begitu sakit setiap melihatmu dengannya? Terlebih setelah mendengar kata-katamu semalam membuatku semakin perih, Kris. Kau selalu mengedepankan perasaanmu untuk cinta pertamamu. Lantas, bagaimana aku? Ketika kau adalah cinta pertamaku, tapi aku tidak bisa mendapatkan balasan dari semua yang telah aku berikan padamu, Kris, aku harus bagaimana? Aku mencintaimu. Kadang aku merasa membodohi diriku sendiri, aku merasa kau mencintaiku, meski—” Aku menggantungkan ucapanku dan memilih menangis di bahunya. Tangisanku begitu kuat hingga pundaknya ikut berguncang. Dia hanya diam dan mengelus punggungku lembut, mungkin menyadari betapa aku merasa sakit. Kemudian dengan perlahan ia melepas pelukanku, menatapku lembut, “ Mulai sekarang, ayo buang pemikiran seperti itu, Baby. Mulai sekarang, ayo menganggap kita hanyalah kita, tanpa ada orang ketiga atau yang lainnya. Aku berjanji padamu, sekarang, Baby. Aku juga baru sadar betapa aku mencintaimu. Maaf sudah menyakitimu, membuatmu menangis, melukai perasaanmu, mengecewakanmu. Aku berjanji akan menjadi suami yang baik untukmu, menjadi ayah terbaik untuk calon anak-anak kita. Kau mau kan memaafkanku?”
Aku menatap Kris dalam. Mencari guratan kebohongan yang biasanya terpancar dari matanya. Untuk kali ini, aku merasa ia benar-benar tulus. Pandangannya bercahaya sekarang. Aku memegang tangannya dan menggenggamnya erat. “ Aku akan selalu memaafkanmu, Hubby.” Ucapku lalu memeluknya.
“ Akhirnya kau bisa memanggilku dengan ucapan itu lagi, Sayang. Aku mencintaimu.” Balas Kris ikut memeluk tubuhku erat lalu melepasnya dan mencium bibirku mesra. Setelah cukup lama diam, aku mulai membalasnya dan ia melumatnya lembut. Kris tak pernah menciumku kasar, meskipun dia sedang marah dia akan selalu menciumku lembut.
Dia mendorongku dan menindihku. Melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda lagi. Mengecup halus leherku yang perlahan-lahan turun. Membuatku semakin mengerang. Entahlah, kadang aku merasa bercinta setelah pertengkaran selalu punya nilai kenikmatan yang lebih tinggi.
Dia membelai dadaku yang terbungkus bra. “ Sejak kapan istriku mulai tidur dengan bra?” Tanyanya yang mulai menyingkirkan piyamaku dan melepas kaosnya sendiri. Lalu mendekatkan kepalanya ke dadaku dan mengecupinya. Tangan kanannya mengelus perutku lembut dan membuatku menggelinjangg geli sedangkan tangan kirinya menuju punggungku mencari kaitan braku. Aku memegang tangan kirinya dan menuntunnya ke depan, menunjukkan bahwa kaitannya ada di depan.
Ia menatapku sebentar lalu menyeringai. Mengecup bibirku lagi sebelum kini perhatiannya penuh kepada dadaku yang benar-benar sudah polos tak terbungkus. Ia mengecup lembut puncaknya dan mulai menghisap putingnya cukup kuat. Tangan kanannya memilin dadaku yang satunya. Intensitasnya makin lama makin kencang membuatku semakin menggelinjang.
“ Ah.” Desahku yang kini menarik rambut pirang Kris. Sedangkan kepala Kris masih ia tenggelamkan di dadaku. Mengecup, menarik, dan memilin keduanya secara bergantian. Membuatku semakin mendesah dan menyebutkan namanya beberapa kali.
“ Oh, Kris-ya, ah.” Teriakku kini saat tangan Kris mulai menyentuh pangkal tubuhku dari luar celana tidurku. Setelah ia menurunkan celananya, kini kepalanya turun dan menghembuskan nafasnya beberapa kali di ujung sana kemudian menjilatnya dan mengecupnya. Membuatku semakin menggelinjang dan tak tahan. Akhirnya setelah bagian kewanitaanku—yang sekarang sedang dipermainkan oleh Kris—mengalami kedutan, cairannya keluar dan lelaki itu menelannya habis.
Setelah cukup lama bermain dengan tubuhku, kini dia menarikku dan membalikkan posisinya menjadi dia ada di bawahku. Sembari mengerlingkan sebelah matanya—yang menurutku membuatnya semakin keren—ia menatapku seraya memintaku untuk memuaskannya.
Aku mengecup keningnya lalu berpindah ke bibirnya. Menciumnya dengan hangat dan melumatnya lembut. Tanganku ku arahkan ke perutnya yang tidak terlalu ber-abs tapi cukup seksi menurutku. Tubuhku semakin turun dan ciumanku sampai pada adam apple-nya, menjilatinya dan mengecupinya.
“ Ah, Sayang, cepat.” Desah Kris membuatku sedikit lebih bersemangat. Ku sentuh celananya dan mempermainkan little Krisnya yang entah sejak kapan sudah berdiri. Aku terus memainkannya dari luar celana, sengaja menggodanya. Dia menatapku galak, “ Jangan permainkan aku, Seo Hee. Ah, ayolah, aku sudah tidak tahan.”
Setelah merasa cukup menggodanya, aku menurunkan celananya dan memegang little Krisnya dan mengocoknya dengan intensitas pelan-cepat-pelan-cepat. Dia meneriakiku lagi dan kini ku arahkan kepalaku untuk mengecup ujungnya dan mulai memasukkannya ke dalam mulutku meski tak cukup. Uratnya sudah mulai terasa di ujung mulutku dan sebelum hitungan ketiga, cairan putih itu sudah memenuhi mulutku.
Kris menarikku dan membantuku menghabisi cairannya sendiri. Kini ia bersiap memasukkannya dan hanya dalam satu hentakan dia berhasil. Aku mulai menggerakkan pinggulku membantunya. Kris kini kembali ke leherku sedangkan tangannya memilin dadaku. Membuatku hanya bisa mendesah dan menyerukan namanya.
“ Kris, aku sudah tak tahan, ah.” Ucapku merasakan kewanitaanku gatal dan berkedut. “ Aku juga, oh ssh, kita lepaskan bersama, eoh? Aah.” Ucapnya mempercepat gerakannya. Setelah hitungan ketiganya kami melepaskan cairannya bersama-sama. Memenuhi perutku dan rasa hangat menjalar di rahimku.
Kris mengecupi keningku dan menyeka keringatku. Aku mengelus punggungnya lembut dan dia tersenyum, “ Jangan pernah berpikir untuk pergi lagi. Karena aku sendiri tidak akan pernah meninggalkanmu.” Ucapnya dan memberiku sebuah kecupan di bibir.
“ Satu lagi, boleh?” Ucapnya memainkan dadaku. Aku menggeleng sambil memejamkan mataku. “ Aku lelah, Kris.”
“ Ayolah, Baby. Satu lagi saja.” Pintanya memaksa seperti anak kecil. Aku membuka mataku dan menatapnya. Dia tersenyum, “ Baiklah, kita tidur saja.” Jawabnya seolah mengerti tatapan lelahku.
Kris membaringkan tubuhnya di sebelahku. Menarikku untuk tidur di dadanya yang lengket karena keringat. Aku melingkarkan tanganku di pinggangnya.
“ Hubby, apa tidak dilepas dulu?” Tanyaku menunjuk kontak kami yang belum ia lepas. Ia menggeleng, “ Tidak. Biar saja kita menyatu seperti ini. Lagipula setelah tidur aku akan menagihmu ronde kedua.”
“ KRIS!” Teriakku sambil mencoba bangun tapi ia menarikku lagi. Mengembalikan posisiku di dadanya lagi. “ Ayo tidur, Sayang. Kau bilang kau capek.”
Aku mulai memejamkan mataku seraya ia mengusap kepalaku lembut—mengembalikan kebiasaannya dulu, selalu mengusap kepalaku saat aku akan tidur. Aku tersenyum sendiri. Tuhan, terima kasih sudah mengembalikannya.
-***-
%d blogger menyukai ini: