EX-Boyfriend Part 2

0
EX-Boyfriend Part 2 ff nc kyuhyun
Author              : Kyu_bbie
Tittle                : EX-Boyfriend
Category         : Yadong, Romance, Chaptered
Cast                 : Cho Kyu Hyun — Shin Ji Hyun
Cover Fanfic  : Rainadisa ARTPOSTER
“Aku mungkin bisa menipu seluruh dunia,
tapi aku tidak bisa menipu hatiku.
Aku mencintaimu.”
Ji Hyun Apartement.
Aku menegerjapkan mataku, menyesuaikan cahaya yang masuk melalui retina mataku. Aku masih mengantuk. Rasanya baru beberapa menit yang lalu aku memejamkan mataku. Aku menelungkupkan badanku dan menenggelamkan kepalaku ke dalam bantal. Ini pagi ke-emapat aku terbangun tanpa bunyi alarm yang memekakkan telinga.

“Yah, cepat bangun,” seru ibuku. Dia mengguncang tubuhku. Sejak aku sakit, eomma memang tinggal di apartementku. Jadi terhitung sudah empat hari beliau ada di sini.
“Kau bilang akan mulai bekerja lagi kan?” ucapnya mengingatkanku.
Yah, itu benar. Hari ini aku memutuskan untuk mulai bekerja. Sudah tiga hari aku izin. Rasanya ada yang aneh ketika aku tidak bekerja. Aku juga menghkawatirkan kelima rekan-rekanku itu. Bukannya aku tidak percaya mereka bisa mengerjakan tugas-tugasku selama aku sakit. Hanya saja, harus ada yang mengawasi mereka.
Aku membalikkan tubuhku menghadap ibuku.
“Cepat mandi. Dong Hae sebentar lagi akan sampai. Kita akan sarapan bersama.”
Aku mengangguk dan menegakan tubuhku dari posisi tidur. Badanku masih terasa lemas, tapi akan terasa semakin lemas jika aku hanya bermalas-malasan disini. Aku segera beranjak menuju kamar mandi. Ternyata ibuku sudah menyiapkan air hangat untukku.
Aku selesai membersihkan tubuhku. Aku keluar kamar dengan pakaian formalku. Tujuanku adalah dapur. Aku bisa melihat eomma dan Dong Hae dari sini. Aku berjalan menghampiri keduanya.
Aku mengambil tempat duduk di sebelah Dong Hae oppa.
“Bagaimana keadaanmu?” tanyanya. Tangannya mengelus kepalaku penuh sayang.
“Ya, sudah jauh lebi baik.” Aku mulai memasukan makan buatan ibuku itu ke dalam mulutku. Rasanya sangat enak. Seenak apapun masakan orang lain, masakan ibu adalah yang paling enka. Aku benarkan?
“Makan yang banyak.”
“Eumm…” aku hanya bergumam menanggapi ucapan ibuku, mulutku penuh dengan makanan.
Hari ini Dong Hae oppa mengantarku ke perusahaan.
“Aku akan datang saat makan siang. Jaga dirimu. Jika terjadi sesuatu, hubungi aku. Mengerti,” ucapnya sebelum aku keluar dari mobil mewahnya itu.
Aku tersenyum dan mengangguk mantap, “Oke!” ucapku. Aku keluar dari mobilnya. Kemudian pria itu melesat pergi dengan mobil sport miliknya.
            Aku selalu merepotkannya.
Aku memasuki sebuah gedung dengan desain arsitekturnya yang megah. Aku selalu mengagumi bangunan megah ini. Benar-benar megah. Aku memasuki sebuah lift bersama beberapa karyawan lainnya. Kemudian turun di lantai dua puluh tujuh.
“Shin Ji Hyun.”
Aku menghentikan langkah kakiku saat seseorang memanggil namaku.
“Yah?” Aku memandang bingung pada seorang gadis yang tengah berjalan menghampiriku. Apa aku mengenalnya? Tunggu. Dia kan gadis yang waktu itu ada di apartement Kyu Hyun. “Annyeong haseyo,” sapaku ramah padanya. Bagaimanapun juga gadis itu pernah menolongku.
“Bagaimana keadaanmu?” tanyanya setelah cukup dekat denganku.
“Baik. Berkat dirimu,” aku tersenyum menjawabnya.
“Baguslah kalau begitu. Kau bekerja disini?”
“Ya, dan… kau?” Aku masih menngingat gadis ini mengatakan padaku bahwa dia seorang dokter beberapa hari yang lalau.
Dia tersenyum dan mengangkat tanganya yang membawa kota bekal. “Aku datang untuk mengantarkan sarapan Kyu Hyun,” ucapnya.
“Ohh—“ Gadis yang pengertian. Beruntung sekali kau, Cho Kyu Hyun.
“Ngomong-ngomong, kita belum berkenalankan?”
“Itu—“
“Perkenalkan, namaku Park Sora.” Gadis bernama Park Sora itu mengulurkan tangannya padaku.
“Shin Ji Hyun.” Aku menjabat tangannya.
“Aku tahu,” ucapnya tertawa kecil. Ya, dia sudah tahu. Mungkin dari Kyu Hyun. “Sedikit banyak aku tahu tentangmu,” lanjutnya.
            Apa dia juga tahu aku mantan kekasih Kyu Hyun?
“Aku harus menemui Kyu Hyun. Senang berkenalan denganmu, sampai jumpa.”
“Ya… sampai—jumpa.”
Aku masih belum beranjak dari tempatku. Kuperhatikan langkah gadis bernama Park Sora itu hingga dia berbelok ke kanan—menghilang dari jarak pandangku. Dari penglihatanku, dia gadis yang baik dan perhatian. Dan juga cantik, sangat cantik malahan. Dia bahkan terlihat anggun dan elegan hanya dengan pakaian dinasnya. Rambutnya bergelomban, tatapan matanya tajam namun sangat menenangkan, tubuhnya tinggi semampai. Keliahatanya dia juga bukan tipe gadis yang manja dan suka menghamburkan uang. Benar-benar tipe seorang Cho Kyu Hyun.
Aku tersenyum kecut dengan tingkah lakuku yang konyol ini. Mengomentari seseorang bukanlah tabiatku. Tapi baru saja aku melakukanya.
Aku bergegas menuju ruanganku berada. Entahlah, perasanku tidak enak. Kubuka pintu bercat kecokelatan di hadapanku ini.
“Astaga.” Itulah kata pertama yang keluar dari mulutku. Aku menatap seisi ruanganku dengan pandangan terkejut, kedua mataku membulat sempurna. Apa yang terjadi dengan ruangan kerjaku?!!
“Oh, Ji Hyun—ah. Kau sudah datang,” Ji Hoon yang pertama kali menyapaku. Pria itu melambaikan tanganya dari tempat duduknya. Berikutnya aku mendengar Ji Na, Hyuk Jae dan Tae Kyung bersorak gembira. Aku tidak meliahat Hana.
“Apa yang terjadi?” Aku menatap keemapat manusia itu dengan tajam—meminta penjelasan atas semua kekacauan ini. Kedua tanganku terlipat di depan dada.
“Itu—“ Tae Kyung terlihat ragu-ragu untuk berbicara. “Kami lembur semalam lalu membawa beberapa makanan dan juga minuman—“
“Bersihkan! Sekarang!” ucapku tak terbantahkan. Keempat orang itu dengan sigap beranjak dari tempat duduknya masing-masing dan mulai membereskan kekacauan yang mereka buat. Aku memijat pelipisku. Aku tidak habis pikir, bagaimana bisa mereka bekerja dengan kondisi ruangan yang seperti ini—kotor dan berantakan.
Setelah selesai, mereka berempat berjajar di hadapanku dengan kepala yang tertunduk. Aku sudah seperti seorang guru yang tengah memarahi murid-muridnya yang nakal. Aku memberikan mereka wejangan-wejangan tentang kebersihan. Lima belas menit kemudian aku baru selesai dengan ocehanku.
“Di mana Hana?” tanyaku setelah berhasil mendudukan pantatku ini di kursi.
“Aku di sini,” sebuah suara yang kuyakini kepemilikan Hana tersebut terdengar dari belakangku. Aku menoleh dan mendapatinya sedang menutup pintu. Kemudian Hana menhempaskan tubuhnya di sofa.
“Dari mana?”
“Menemui pria tampan dan sexy,” jawabnya santai—khas seorang Lee Hana.
“Aku serius Ny. Lee,”
“Aku juga Ny. Shin. Baru saja aku menemui pria tampan dan sexy—maksudku Presdir kita itu. Astaga, kenapa ada pria setampan dia. Seandainya aku adalah cocholate, pasti aku sudah meleleh sedari tadi,” jelasnya dengan bersemangat. Aku dan yang lainnya hanya mendengus mendengar ucapannya itu.
“Disini juga ada pria tampan dan sexy,” ujar Lee Hyuk Jae.
“Siapa?” tanya Hana, “kau?” Hana tersenyum mengejek seraya menunjuk Eun Hyuk.
Dengan matap pria itu menganguk. Dan kami semua tertawa, menertawakan kekonyolan seorang Lee Hyuk Jae.
“Ada apa kau menemuinya?”
“Presdir kita yang tampan itu ingin tahu sejauh apa perkembangan proyek yang kita tangani.”
“Bisakah kau tidak menambahkan kata tampan saat menyebut Presdir baru kita itu,” protes Hyuk Jae. Sialnya protesnya itu hanya dibalas dengan juluran lidah Hana.
“Lalu, apa yang dia katakan?”
“Dia bilang ‘Kerja bagus. Lanjutkan.’, begitu.”
“Eoh—, Hana, tolong buatkan aku kopi.”
“Tidak.”
“Oh, ayolah. Tidak ada kopi yang seenak buatanmu,” ujarku merayu Hana. Dia hanya mendengus dan pergi untuk membuatkanku kopi.
Ponselku bergetar, ada pesan masuk dari ibuku.
            Buka e-mail—mu.
Aku mendengus membaca pesan dari ibuku itu. Benar-benar pesan yang singkat dan jelas. Sesuai isi pesai itu aku membuak e-mail—ku. Mencari-cari nama ibuku dari ratusan e-mail yang masuk. Aku menemukannya. Ibuku hanya melampirkan sebuah file dokumen di e-mailnya. Judul file itu sangat mencurigakan—SCHEDULE, aku jadi penasaran dengan isinya.
Aku selesai mendownloadnya, kemudian kubukan file tersebut. Mataku hampir terlepas dari tempatnya saat melihat isi dari file yang dikirimkan ibuku. Astaga. Ini—jadwal kencan buta untukku?? Di file itu tertulis dengan jelas, daftar nama pria, hari , jam berapa dan tempat di mana aku harus menemuinya beserta foto-foto mereka. Total ada sembilan pria yang dijadwalkan akan bertemu denganku dalam beberapa hari ini. Astaga ibuku benar-benar.
Ada pesan masuk lagi dari ibuku.
            Lakukan dan jangan membantah.
            Ini demi kebaikanmu.
Astaga. Bunuh saja aku.
            12.15 P.M.
Dong Hae oppa benar-benar datang saat jam makan siang. Tapi kali ini dia tidak datang untuk mengajakku makan di luar. Pria itu membawa banyak makan ke ruanganku. Tentunya tindakannya itu disambut dengan baik oleh teman-temanku. Kami makan bersama di kantor. Dong Hae oppa orang yang mudah bergaul, dia sudah akrab dengan Ji Hoon dan yang lainnya.
Selesai makan, Dong Hae oppa pergi untuk menemui Kyu Hyun. Dia bilang ada sedikit urusan dengan pria itu. Ngomong-ngomong tentang Kyu Hyun, aku sama sekali belum menceritakannya pada Dong Hae. Pria itu juga hanya diam dan membiarkanku begitu saja. Tingkat kesabarannya itu memang perlu diberi penghargaan.
“Yah, kekasihmu itu sangat perhatian,” Hana mulai menggodaku. Alisnya bergerak naik-turun.
Aku memilih untuk tidak meladeninya, akan panjang urusannya nanti jika aku menyahut kata-katanya barusan. “Ji Na, tolong berikan ini pada manager Han.”
“Baik.”
“Wow, kau tidak menyanggah ucapanku. Jadi kau sudah mulai mengakuinya sebagai kekasihmu, eoh?”
“Aku sudah lelah menyanggah ucapanmu.”
***
            05.45 A.M.
Kulihat jam yang melekat sempurna di lengan kiriku. Aku mendesis kesal melihat angka-angka yang ditunjuk oleh jarum jam milikku itu. Sudah empat puluh lima menit aku di restoran ini, dan pria bernama Han Tae Suk itu sama sekali belum menampakkan batang hidungnya.
Seorang pelayan datang membawa pesananku. Ini adalah royal milk tea ke-3 yang aku pesan.
            Jika pria bernama Han Tae Suk itu belum datang juga sampai minumanku ini habis, aku akan pergi dari restoran ini.
Minumanku tersisa setengah gelas saat seorang pria menghampiriku dengan berlari. Aku yakin sratus persen bahwa pria itu adalah Han Tae Suk, wajahnya sama persis seperti foto yang ibuku kirimkan.
“Maaf—aku terlambat,” ucapnya dengan napas yang terengah-engah.
“Yah, tidak masalah. Aku juga baru saja akan menghabiskan royar milk tae-ku yang ketiga.” Aku tersenyum untuk menyamarkan rasa kesalku. Sesungguhnya aku sangat ingin menyiram mukanya dengan minumanku.
“Sekali lagi aku minta maaf. Ada rapat mendadak di perusahaan jadi—“
“Aku mengerti. Tidak masalah bagiku,” aku menyela ucapanya. Aku malas mendengarkan alasan kenapa dia terlambat.
Pria itu memberikanku sebuket bunga mawar merah dan sekotak chocolate almond. Dia cukup romantis. Sayangnya aku lebih suka bunga Anemone daripada mawar. Dan aku tidak suka makanan manis.
Kencan pertamaku tidak terlalu buruk. Kupikir dia pria yang baik. Dia tampan, yah… meskipun tidak setampan Kyu Hyun. Pria ini juga selalu membuat topik pembicaraan yang menarik. Komunikasi kami berjalan lancar.
_________***__________
            09.01 A.M
“Tolong turunkan aku di depan cafe itu—,”
“Apa?” Han Tae suk terkejut karena Ji Hyun memintanya untuk menurunkan gadis itu di depan cafe bernama Aphrodite. “Kenapa tiba-tiba?”
“Aku ada janji dengan teman-temanku.”
“Ohh—, begitu.” Dengan perasaan kecewa Tae Suk menghentikan mobil mewahnya di depan cafe tersebut. Pria itu sangat berharap bisa mengantar Ji Hyun sapmpai apartementnya.
“Terima kasih.”
“Ya. Seharusnya aku yang berterima kasih. Hari ini benar-benar menyenangkan. Terima kasih,” ujar Tae Suk. Kemudian Ji Hyun keluar dari mobil itu.
Mobil Han Tae Suk membelah jalanan yang cukup lenggang. Sebelum pergi pria itu mengatakan sesuatu pada Ji Hyun, “Sampai bertemu lagi,” ucapnya.
Ji Hyun menghentikan sebuah taksi. Sebenarnya bukan cafe ini tujuanya, melainkan sebuah bar milik Lee Hyuk Jae.
Sekitar pukul 09. 20 malam, Ji Hyun sampai di sebuah pelataran bar milik Lee Hyuk Jae. Bangunan yang berdiri di hadapan Ji Hyun sekarang bukanlah sebuah bar biasa. Bar milik Lee Hyuk Jae merangkap sebuah Night Club. Dari luar bangunan itu terlihat biasa-biasa saja, bahkan kau bisa melihat isinya karena dindingnya terbuat dari kaca. Tapi, saat kau masuk ke dalamnya, kau akan menemukan sebuah tangga yang mengarah ke lantai bawah. Disanalah letak club malam tersebut.
Ji Hyun memasuki bar tersebut. Suasananya sangat tenang, berbanding terbalik dengan lantai bawah yang sangat bising.
Eun Hyuk sedang berbicara dengan seorang gadis cantik saat Ji Hyun menghampirinya. Pria itu terlalu asik mengobrol tanpa tahu Ji Hyun yang datang dengan sejuta niat buruk untuknya. Dan dengan kurang ajarnya gadis itu memukul kepala Eun Hyuk dengan buket bunga pemberian Tae Suk.
“Aw…” Eun Hyuk mengaduh kesakitan. Pria bernama asli Lee Hyuk Jae itu menoleh pada sosok yang memukulnya. “Shin Ji Hyun—,” desisnya menahan amarah. Sekesal apapun, dia tidak akan pernah bisa marah pada gadis itu. Amarahnya pasti akan menguap entah kemana.
Ji Hyun tertawa karena berhasil membuat pria bermarga Lee itu marah tanpa bisa membalasnya. Gadis ini benar-benar memanfaatkan kelemahan Eun Hyuk yang tidak bisa marah padanya.
Semua pengunjung di sana—minus wanita, semuanya memperhatikan Ji Hyun, bahkan sejak gadis itu memijakkan kakinya di bar tersebut. Bagaimana tidak? Saat ini gadis itu mengenakan dress hitam berlengan panjang yang melekat pas ditubuhnya—memperlihatkan bentuk tubuhnya yang sexy. Panjang dress itu bhakan hanya cukup untuk menutupi sebagian paha putihnya yang mulus. Gadis itu benar-benar sebuah godaan.
Di sudut ruangan, Cho Kyu Hyun tengah menggeram kesal karena gadis itu. Tangannya terkepal menahan amarah. Ingin rasanya pria itu mencongkel semua mata yang menatap gadis itu dengan pandangan kelaparan. Kemudian membawa Ji Hyun perge sejauh-jauhnya—mengamankan tubuh gadis itu dari laki-laki hidung belang. Namun keinginanya itu kalah oleh harga dirinya sendiri. Pria itu lebih memilih diam tapi tetap mengawasi gadis bermarga Shin itu.
Sedangkan gadis yang tengah menjadi pusat perhatian para lelaki itu berjalan santai memasuki mini bar di ruangan itu. Mengambil satu botol berisi minuman yang menjadi candu baginya sejak delapan tahun lalu. Kemudian gadis itu menarik satu-satunya kursi disana dan mendudukinya.
“Ini, untukmu—,” Ji Hyun memberikan buket bunga dan chocolate pemberian Tae Suk pada Eun Hyuk.
Eun Hyuk menerimanya. “Dapat dari mana?” tanyanya.
“Seseorang memberikanya padaku.” Ji Hyun mulai meminum wine-nya.
“Orang yang memberimu ini tentunya belum lama mengenalmu.” Eun Hyuk membuka kotak chocolate almod tersebut dan memakannya. “Ini enak, kau tidak mau?”
“Tidak. Kau tahu aku kan,” ujar Ji Hyun. Matanya kini tengah menelisik keseluruh ruangan. Gadis ini hampir saja tersedak wine-nya karena matanya menangkap sosok Kyu Hyun di sudut ruangan.
“Yah, Lee Hyuk Jae.” Ji Hyun masih belum melepaskan pandanganya dari Kyu Hyun. Pria itu sedang berbicara dengan seorang laki-laki yang terlihat lebih tua darinya.
“Ada apa?” Eun Hyuk menjawab tanpa menoleh sekalipun pada Ji Hyun. Pria itu asik memakan chocolate-nya.
“Itu—, sejak kapan Presdir kita ada di sini?”
“Ohh, sekitar satu jam yang lalu dia datang bersama Choi Siwon.”
Ji Hyun masih menatap Kyu Hyun. Merasa seperti diawasai, Kyu Hyun menolehkan wajahnya. Tatapan keduanya bertemu. Ji Hyun buru-buru mengalihkan pandangannya. Pipinya bersemu merah, malu karena tertangkap basah sedang memandangi Kyu Hyun.
“Ji Hyun—ah, aku tinggal sebentar.”
“Eungg… “ Gadis itu hanya bergumam. Kemudian Eun Hyuk pergi bersama seorang wanita entah kemana.
Jari telunjuk Ji Hyun mengitari pinggiran gelas wine miliknya. Pikiranya entah melayang kemana sapmapi-sampai gadis itu tidak menyadari Kyu Hyun sudah duduk dihadapannya.
“Aku pesan ,” ujar Kyu Hyun.
“Orangnya sedang pergi. Kalau kau ingin pesananmu, sebaiknya kautunggu. Jika tidak, kau bisa pergi.” Ji Hyun berucap tanpa melihat lawan bicaranya. Tanganya masih berkutat dengn pinggiran gelasnya.
“Kalau begitu aku mau yang ini.” Kyu Hyun mengambil gelas milik Ji Hyun dan menenggak habis isinya. Ji Hyun terperanjat kaget karena gelasnya ditarik paksa oleh seseorang. Gadis itu mendongakan wajahnya, bersiap memaki orang yang merebut gelas winenya. Tapi lidahnya terasa kelu begitu tahu orang itu adalah Kyu Hyun.
“Kau—,” lirih Ji Hyun.
“Wow… Ny. Shin, kau di sini.” Ji Hoon yang baru saja kembali dari toilet terkejut melihat Ji Hyun yang sedang duduk berhadapan dengan Kyu Hyun.
“Hai,” Gadis itu menyapa Ji Hoon. Ji Hyun mencoba mengalihkan rasa terkejutnya karena kehadiran Kyu Hyun.
Ji Hoon mengambil tempat duduk di sebelah kanan Kyu Hyun. “Anda masih di sini?” tanyanya pada Kyu Hyun.
“Apa tidak boleh?” Kyu Hyun menuangkan wine ke gelasnya—milik Ji Hyun. Ji Hyun berdecak kesal dengan kelakuan Kyu Hyun tersebut.
            Itu wine-ku.
“Apa? Bu—buka itu maksudku,” Ji Hoon terlihat gugup menjawab pertanyaan Kyu Hyun. “Dimana Hyuk Jae?” Dia mengalihkan pembicaraanya pada Ji Hyun. Gadis itu sedang mengambil sebotol wine lagi dari bar Eun Hyuk.
“Tadi seorang wanita mendatanginya, kemudian mereka pergi bersama entah kemana.”
“Wow… Ji Hyun nuna, kau disini?” Pria dengan pakaian seorang pelayan datang menghampiri Ji Hyun.
“Juno-ya?” ucap Ji Hyun tidak percaya. “Kenapa kau ada di tempat seperti ini?”
“Dia bekerja di bar-ku,” jawab Eun Hyuk yang entah sejak kapan sudah berdiri di sebelah kiri Kyu Hyun.
“Apa?” Dengan segera Ji Hyun bangkit dari duduknya dan menerjang Eun Hyuk. Gadis itu menarik-narik rambut pria itu dengan brutal. Tubuh Eun Hyuk bahkan sampai terantuk meja panjang yang memsihkan keduanya. “Bagaimana bisa kau mempekerjakan seorang anak di bawah umur di tempat sperti ini!”
“Yaa~ Appo!” Eun Hyuk berteriak kesakitan, pria itu masih berusaha melepaskan tangan Ji Hyun yang berada di rambutnya. Kyu Hyun menganga melihat aksi brutal mantan kekasihnya itu. Sedangkan Ji Hoon dan Juno, keduanya hanya tertawa tanpa berniat melerai Ji Hyun dan Eun Hyuk.
Aksi brutal Ji Hyun tersebut baru selesai lima menit kemudian. Kyu Hyun melihat ada sekumpulan rambut pada telapak tangan Ji Hyun. Astaga, jika hal tadi masih berlanjut, sudah dipastikan Eun Hyuk akan mengalami kebotakan. Kyu Hyun bergidik ngeri membanyangkan bagaimana jika hal seperti itu terjadi padanya.
Eun Hyuk masih mengaduh kesakitan. “Bocah itu memohon padaku, kau pikir aku harus bagaimana? Lagipula aku hanya mengizinkanya bekerja sampai pukul sepuluh malam.”
“Aku melihatnya keluar dari club malam sialanmu itu!” cecar Ji Hyun.
“I—itu, bar tander yang bekerja disana tidak bekerja hari ini, jadi aku menyuruhnya menggantikanya.” Jelas Eun Hyuk dengan hati-hati.
“Kenapa bukan kau saja?!”
“Itu—, terlalu banyak godaan di sana.” Jawaban Eun Hyuk itu membuat Ji Hyun ingin mencakar wajahnya. Tapi niatnya itu diurungkan. Ji Hyun menatap sepasang manusia yang berjalan bergandengan tangan menuju lantai bawah.
“Namanya Han Tae Suk,” ucap Eun Hyuk tiba-tiba. “Tadi sore dia memesan, tapi baru satu jam pria itu pergi terburu-buru entah kemana.”
            Apa? Jadi pria itu datang terlambat karena bercinta?
“Cih! Semua pria sama saja.” Gumaman Ji Hyun tersebut masih dapat didengar Kyu Hyun. Pria itu menatapnya dengan pandangan tidak mengerti.
“Yah, berhenti. Sudah berapa yang kau minum itu, huh?” Ji Hoon memperingati Ji Hyun. Sudah dua botol wine dihabiskan gadis itu. “Aku tidak mau mengantarmu pulang jika kau mabuk.” Ji Hoon mengambil botol dan gelas berisi wine milik Ji Hyun. Tapi gadis itu mengambilnya lagi.
“Kau tega sekali. Aku bahkan sengaja tidak membawa mobil karena ingin mabuk dan membiarkan salah satu dari kalian mengantarku pulang.”
Eun Hyuk mendengus mendengar ucapan Ji Hyun barusan. “Aku tidak mau mengantarmu pulang,” ujar Eun Hyuk, “Terakhir kali aku mengantarmu pulang karena mabuk, aku dihajar habis-habisan oleh kekasihmu itu.”
Ji Hyun terkekeh mendengar penuturan Eun Hyuk tersebut. Gadis itu jadi teringat kejadian dua bulan yang lalu. “Kau tenang saja, Dong Hae oppa sedang pergi ke luar negeri.”
“Luar negeri?”
“Yah. Dia bilang ada urusan bisnis di China.” Tanpa sadar Ji Hyun menjawab pertanyaan Kyu Hyun. Gadis itu sudah setengah mabuk.
Setengah jam kemudian, Ji Hyun sudah terkapar. Kepalanya terkulai di atas meja bar.
“Apa dia sering seperti ini?” tanya Kyu Hyun entah pada siapa.
Ji Hoon dan Eun Hyuk saling berpandangan. “Yah, tidak juga. Ji Hyun memang sering kemari, tapi dia hanya meminum beberapa gelas saja, tidak sampai mabuk. Hanya beberapa kali dia mabuk, itupun karena dia sedang ada masalah,” jawab Ji Hoon.
“Jadi dia sedang ada masalah?” Kyu Hyun menatap wajah gadis yang sudah tidak sadarkan diri lagi di hadapannya itu.
“Sepertinya begitu,” timpal Eun Hyuk. “Tuan Yoon Ji Hoon, tolong antarkan gadis malang ini pulang.”
Ji Hoon menghela napasnya panjang, pria itu menenggak habis minumanya. Kemudian dia bangkit dan berjalan memutar menuju Ji Hyun yang berada di dalam mini bar milik Eun Hyuk. Ji Hoon menegakkan tubuh ringkih Ji Hyun. Kemudian pria itu mengalungkan lengan Ji Hyun ke lehernya. “Ck, menyusahkan saja.”
“Yoon Ji Hoon—,” ucap Kyu Hyun ketika Ji Hoon melewatinya di belakang.
“Ya?” Ji Hoon menhentikan langkahnya, menatap punggung Presdirnya dengan bingung.
Kyu Hyun terun dari tempat duduknya. Tubuhnya berbalik menhadap Ji Hoon yang tengah memapah Ji Hyun.”Biar aku saja yang mengantarnya pulang,” ucapnya.
“A—apa?” Ji Hoon dan Eun Hyuk terkejut mendengar penuturan Kyu Hyun.
“Aku saja.” Ucapan Kyu Hyun benar-benar tidak terbantahkan. Ji Hoon sama sekali tidak berkutik dibuatnya, pria itu hanya diam ketika Kyu Hyun mengambil alih Ji Hyun darinya. Menggendong gadis itu ala bridal style dan membawanya pergi.
“Hey, apa tidak apa-apa?”
“Entahlah—,” ujar Ji Hoon menjawab pertanyaan Eun Hyuk.
            To Be Continued…

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: