EX-Boyfriend Part 1

0
ff nc kyuhyun romance
Author              : Kyu_bbie
Tittle                : EX-Boyfriend
Category         : Yadong, Romance, Chaptered
Cast                 : Cho Kyu Hyun — Shin Ji Hyun
Cover Fanfic  : Rainadisa ARTPOSTER
“Aku mungkin bisa menipu seluruh dunia,
tapi aku tidak bisa menipu hatiku.
Aku mencintaimu.”
Aku terbangun saat mendengar alarm yang berbunyi nyaring. Tanganku meraih ponsel yang berada di atas nakas. Kumatikan alarm yang selalu kunyalakan setiap harinya itu. Tekanan darah yang rendah membuatku sulit untuk bangun pagi. Jika aku di rumah, aku tidak akan mendengarkan suara alarm yang memekakkan telingaku di setiap pagi. Akan ada ibu yang selalu membangunkanku. Sialnya aku tidak berada di rumah.

Sekitar lima tahun yang lalu aku tinggal di apartement. Tepatnya setelah aku mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan yang ada di Seoul. Jarak rumahku dengan perusahan cukup jauh. Itu salah satu alasanku untuk tinggal di apartement. Aku tinggal di apartement yang tidak jauh dari perusahaan tempatku bekerja. Satu lagi alasan yang membuatku lebih memilih untuk tinggal di apartement, orangtuaku. Mereka selalu merecokiku prihal pernikahan. Menyebalkan.
Aku berjalan ke kamar mandi dengan sesekali menguap. Setelah selesai membenahi diri, aku pergi ke dapur dan mulai membuat sarapan. Aku meringis begitu melihat isi lemari pendingin milikku. Hanya ada roti tawar dan telur yang bisa kumasak pagi ini. Aku harus pergi ke minimarket untuk membeli persediaan. Mungkin setelah pulang bekerja nanti.
Baiklah, pagi ini aku sarapan dua roti panggang dengan telur goreng dan secangkir royal milk tea. Baru saja aku akan melahap roti panggangku ketika aku mendengar ponselku berdering. Aku sedikit berlali menuju kamar. Setelah mendapatkan ponselku, aku mengangkat panggilan masuk tersebut.
“Ada apa Hana?” tanyaku langsung—tanpa memberi salam—setelah memastikan siapa yang menelponku.
“Kau di mana?”
“Di rumah. Kenapa?” aku menjawab pertanyaan sahabatku ini dengan malas. Aku lapar dan ingin mengakhiri pembicaraan ini secepatnya.
            “Kapan kau akan pergi ke kantor?”
“Demi Tuhan, Lee Hana. Cepat katakan ada apa sebelum aku menutup sambungan ini,” ucapku datar namun penuh penekanan.
            “Oh, baiklah. Begini, seharusnya aku memberitahumu beberapa hari yang lalu, tapi aku—“
“Intinya saja Ny. Lee!”
“Pagi ini perusahaan kita kedatangan CEO baru. Aku lupa memberitahumu. Dan, ya Tuhan! Kau hanya mempunyai waktu 20 menit sebelum pukul 07.00. Maafkan aku—“ Hana masih berbicara saat aku memutuskan panggilannya.
Aku segera mengambil tas kerjaku dan berlari menuju pintu apartement. Saat melewati dapur, aku berhenti sesaat dan menatap nanar pada sarapanku. Aku melewatkan makan pagiku hari ini. Dan semua ini karena Lee Hana! Tolong ingatkan aku untuk membunuhnya nanti.
Setelah memastikan pintu apartement-ku terkunci, aku kembali berlari—menuju lift. Aku sampai di lantai bawah. Berlari menuju tempat parkir. Aku mengendarai mobilku dengan serampangan, terburu-buru. Mengklakson semua yang menghalangi jalanku. Biarlah semua orang mengataiku gila. Aku tidak peduli.
Aku sampai di perusahaan dengan keadaan yang kacau, berantakan. Aku berlarian mencari Hana. Aku melihatnya—dia bersama karyawan yang lain dalam barisan. Aku menghampirinya. Hana tersentak kaget melihatku.
“Astaga. Shin Ji Hyun, apa yang terjadi padamu?”
“Diamlah! Atau aku akan membunuhmu.” Aku membenahi penampilanku yang berantakan. Hana membantuku dengan merapihkan tatanan rambutku.
Tepat setelah aku selesai membenahi penampilanku, sebuah limosin berwarna hitam berhenti di depan perusahaan. Semua karyawan berdiri tegap dan bersiap menyambut kedatangan presdir baru kami. Seseorang membukakan pintu limosin dan keluarlah sosok yang akan menjadi presdir baru kami. Dia bertubuh tinggi, tegap. Rambutnya berwarna kecoklatan dan terkesan sedikit berantakan. Kulitnya putih seperti susu. Matanya tajam dan…
Aku kesulitan bernapas begitu melihat wajahnya. Tampan, tentu saja. Tapi buka hal itu yang membuatku mengalami kesulitan dalam bernapas. Wajah itu—aku mengenalnya. Pria itu terus berjalan melewati karyawan satu per satu. Sesekali dia tersenyum membalas ucapan selamat datang dari para karyawan.
“Cho—Kyu—Hyun,” ucapku tanpa sadar begitu dia melewati barisanku. Waktu disekitarku seperti berhenti. Pria itu berhenti dan menatap ke arahku. Dia menatapku dengan wajah datar dan ekspresi dinginnya—tidak ada yang berubah, tatapannya masih sama seperti dulu. Membuat dadaku sesak.
Hana menyenggol lenganku dengan sikunya. Dan aku tersadar bahwa semua orang sedang menatapku saat ini. Aku segera membungkukkan badan, “Jeo-jeosonghamnida Sajang-nim.” Lama aku membungkukkan badan, tapi satu patah kata pun tidak keluar dari mulutnya. Yang kudengar hanya suara ketukan sepatu yang menjauh.
            Ini memalukan.
***
“Ya, Shin Ji Hyun. Bagaimana bisa kau bersikap seperti tadi? Dan, darimana kau tahu nama presdir kita? Aku bahkan belum memberitahumu.” Hana terus saja merecokiku dengan pertanyaan-pertanyaanya. Aku terus berjalan dan sama sekali tidak ada niatan untuk menjawabnya.
“Hey, apa kau mengenalnya?”
Aku menghentikan langkahku dan berbalik. Menatapnya dengan tajam. Hana menciut hanya dengan tatapan tajamku. “Kau tahu? Hari ini aku sedang berhasrat untuk membunuh seseorang,”  ucapku dan pergi meninggalkan Hana yang masih menatapku dengan takut.
Saat ini pikiranku kacau. Aku tidak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaanku. Wajah pria itu terus berputar-putar di kepalaku, membuatku pusing. Kenapa dia ada di Korea? Bukankah seharusnya dia berada di Jepang? Astaga, Shin Ji Hyun. Berhenti memikirkannya!
“Argh!” Aku menjambak rambutku—frustasi.
“Shin Ji Hyun.”
“Aku bisa gila.” Aku menepuk-nepuk pipiku.
“Yah, Shin Ji Hyun!”
Aku tersentak ketika seseorang menyentuh pundakku. “Oh, Hana. Ada apa? Apa terjadi sesuatu?” tanyaku begitu aku melihat Hana sudah berada di sampingku—tidak lagi berada di tempat kerjanya yang berada di depan meja kerjaku.
“Ya, seharusnya itu pertannyaanku. Ada apa? Sebenerarnya apa yang terjadi padamu?” Hana menatapku penuh selidik. “Kau tahu? Sedari tadi kau hanya berteriak ‘Argh!’ sambil menjambak rambutmu—seperti ini.” Hana mempraktekkannya—menjambak rambutnya sendiri. “Kau sudah gila, eoh?!”
“Ya, sepertinya aku sudah gila.”
“Apa? Kau—”
“Shin Ji Hyun.” Suara berat seorang wanita mengintupsi pembicaraan kami.
“Ya, Manager Han. Ada yang bisa saya bantu?” Aku berdiri angkuh di hadapannya. Jujur saja, aku—sama—sekali—tidak—menyukainya. Begitupun dengannya.
“Persiapkan team-mu, Presdir akan berkunjung ke ruangan ini.” Setelah mengucapkan hal tersebut dia pergi dari ruanganku.
Apa? Presdir? Maksudnya Kyu Hyun?
Selang beberapa menit setelah aku mempersiapkan team-ku, Kyu Hyun datang. Dia datang bersama Tuan Jang. Kami membungkuk memberinya hormat, kemudian memperkenalkan diri satu persatu, dimulai dari aku. Dengan penuh wibawa, pria itu mengucapkan selamat dan terima kasih kepada team-ku karena proyek yang kami pegang sukses besar. Dia juga memberikan dukungan penuh atas proyek baru yang team-ku tangani. Setelah itu dia pergi, sepertinya akan mengunjungi team yang lain.
Kami sama sekali tidak mengobrol. Maksudku, kami memang mengobrol tapi yang kami bicarakan adalah mengenai proyek baru yang aku dan team-ku tangani. Hanya sebuah pembicaraan standar antara atasan dan bawahannya. Astaga, Shin Ji Hyun. Apa yang kau harapkan? Apa kau berharap ia akan menyapamu, menanyakan kabarmu selama ini. Aku pasti sudah gila, karena, ya aku berharap seperti itu.
Aku kembali berkutat dengan pekerjaanku. Begitu pula dengan Hana dan yang lainnya. Kami harus bekerja keras untuk proyek kali ini. Sesekali aku meminum kopi yang dibuatkan oleh Hana. Ini sudah cangkir ke-4 kopi yang aku minum. Hana memarahiku karena aku memintanya untuk membuatkanku kopi, lagi. Bukan karena aku yang selalu menyuruhnya, tapi karena aku terlalu banyak minum kopi. Meskipun begitu, Hana tetap membuatkannya untukku. Dia tahu, aku tidak bisa bekerja tanpa cairan hitam pekat itu.
Sejujurnya aku sedikit khawatir dengan lambungku, mengingat sejak tadi pagi perutku belum terisi apapun. Dan sekarang aku hanya mengkonsumsi kopi.
            Drrrtt drrrttt ddrttt
Getaran ponselku itu membuat semua perhatian lima orang yang berdada di ruangan menatapku dengan pandangan heran. Terlebih lagi aku sama sekali tidak mengangkat panggilan masuk itu dan membiarkannya begitu saja. Tanpa melihat nama yang tertera di ponselku itu pun aku sudah tahu siapa yang menelponku saat jam makan siang begini.
Hana melotot padaku. Tatapannya mengatakan ‘Jika kau tidak ingin mengangkatnya, matikan ponselmu.’, kurang lebih seperti itu. Aku menhela napasku. Kemudian kusentuh layar ponselku untuk menjawab panggilan tersebut.
“Yah, kenapa lama sekali mengangkat telponnya.” Aku baru saja menempelkan ponselku di telingaku dan pria di ujung sana meneriakiku. Menyebalkan.
“Aku sibuk.”
“Ck,” pria itu mendecak, “cepat turun, aku ada di bawah,” setelah mengucapkan itu dia mematikan sambungan telpon kami.
Dengan sedikit kesal, aku memasukan ponselku itu ke dalam tas. Aku membereskan beberapa berkas yang berserakan di atas meja kerjaku. Yoon Ji Hoon menghampiriku, tanganya merangkul pundakku.
“Jadi…” ucapnya menggantung, “kau akan pergi makan siang dengan pacarmu—pria tampan bermarga Lee itu?” tanyanya, yang kutahu dia sudah tahu apa jawabannya.
Aku mendengus mendengar ucapannya itu. Kutepis lengannya yang merangkul pundakku. “Sudah berapa kali kubilang, dia bukan pacarku, tapi—“
“Kakak sepupuku,” Hana menimpali ucapanku. Dia sudah seperti peramal saja yang bisa menebak apa yang akan kuucapkan. Atau mungkin karena aku sudah terlalu sering mengatakan hal tersebut, sehingga Hana tahu apa yang akan kuucapkan selanjutnya.
Hana memicingkan matanya, tangannya terlipat di depan dada. “Benar dia kakak sepupumu? Kalian lebih terlihat seperti sepasang kekasih daripada kakak dan adik.”
“Kalian juga pergilah makan siang, aku akan kembali sekitar dua jam lagi.” Aku sama sekali tidak menanggapi ucapan Hana, membuatnya mendengus kesal. “Aku pergi,” pamitku. Aku pergi meninggalkan ruangan tersebut, menyisakan lima orang aneh di sana.
Pintu lift terbuka. Aku sudah sampai di lantai dasar. Kuedarkan pandanganku ke sekitar, mencari pria yang beberapa menit lalu menghubungiku. Aku menemukannya. Dia disana, di dekat meja resepsionis. Tapi dia tidak sedang sendirian. Dia sedang berbicara dengan Kyu Hyun. Sesekali mereka tertawa bersama. Aku hanya diam di tempat, antara ingin dan tidak ingin untuk menghampirinya.
Tapi toh pada akhirnya pria itu menyadari kehadiranku. Dan dengan suara lantang ia memanggilku, “Yah, sayang. Cepat kemari,” ucapnya. Aku mendengus. Dengan langkah terpaksa aku mendekat pada pria bernama lengkap Lee Dong Hae itu. Entah mengapa Kyu Hyun selalu menatapku, membuatku canggung.
Aku membungkukkan badanku pada Kyu Hyun. Memberinya sapaan hormat layaknya bawahan terhadap atasannya.
Kemudian dengan tiba-tiba, Dong Hae oppa merangkul bahuku. “Yah, Kyu Hyun—ah. Perkenalkan, namanya Shin Ji Hyun,” Dong Hae oppa mengenalkanku pada Kyu Hyun. Ini terlihat konyol. “Dia kekasihku.”
Aku hampir tersedak oleh air ludahku sendiri karena ucapan Dong Hae oppa barusan. Aku melotot padanya yang justru dibalas dengan cengiran tanpa dosanya. Dia memang sering memperkenalkanku sebagai kekasihnya pada rekan-rekan kerjanya. Itu karena dia yang masih melajang sampai saat ini, karena itu akulah yang dikambing hitamkan olehnya. Benar-benar licik.
Meskipun kesal, tapi aku juga ingin tahu seperti apa reaksi Kyu Hyun. Aku menoleh padanya. Wajahnya datar-datar saja, tanpa ekspresi. Aku merasa kecewa karena reaksinya biasa saja.
“Benarkah?” ucap Kyu Hyun dengan senyumnya yang entahlah, aku sendiri tidak bisa mengartikannya. “Sepertinya kau memang tidak pernah beruntung, Hyung. Lagi-lagi kau mendapatkan bekas-ku.”
            DEG
“Bekas?” ualang Dong Hae oppa tidak paham dengan ucapan Kyu Hyun.
“Yaah. Semoga makan siang kalian menyenangkan. Aku pergi dulu.” Kyu Hyun pergi meninggalkanku dengan Dong Hae oppa yang masih kebingungan dengan ucapan Kyu Hyun.
Bekas?
Aku sudah seperti barang tidak berguna yang sudah tidak digunakan dan dibuang. Apa pria itu tidak memiliki kata-kata yang lebih baik, seperti mantan kekasihku, begitu. Aku meringis. Dadaku sesak, sakit. Aku pasti sudah gila karena pernah mencintainya.
__________***__________
Makan siangku benar-benar jauh dari kata menyenangkan. Aku hanya memesan kopi. Nafsu makanku hilang karena Dong Hae oppa membombardirku dengan segala pertanyaannya mengenai maksud dari ucapan Kyu Hyun. Aku sama sekali tidak menanggapinya. Membiarkannya terus mengoceh hingga ia lelah dan lebih memilih untuk memakan makan siangnya.
Aku kembali ke perusahaan lebih cepat dari jam makan siangku biasanya. Aku membuka pintu ruanganku dengan kasar, membuat orang-orang aneh yang berada di sana terperanjat kaget. Aku melihat Hyuk Jae akan memprotes prilakuku barusan. Tapi sepertinya ia mengurungkannya karena aku menatapnya tajam seraya meletakan tas-ku dengan sedikit membantingnya.
Mereka semua hanya terdiam melihatku. Biasanya mereka akan menggodaku habis-habisan setelah pulang makan siang bersama Dong Hae oppa. Hana bahkan mengkerut di depanku.
Kemudian, kami bekerja dalam keheningan.
Pukul 19.00, jam kerjaku sudah habis. Begitu juga dengan kelima temanku—Hana, Hyuk Jae, Ji Hoon, Ji Na, dan Tae Kyung. Mereka bersiap-siap untuk pulang.
“Ya—yah, Ji Hyun—ah… kami aka pulang,” Hana memberanikan diri untuk berbicara. Ini kali pertamanya Hana mengajakku berbicara sejak siang tadi.
“Ya, hati-hati,” jawabku sekedarnya. Aku masih tetap berkutat dengan komputer di hadapanku.
“Kau…tidak pulang?” kali ini Ji Hoon yang bertannya.
“Lembur.”
Aku dapat mendengar mereka berbisik-bisik tentangku di belakang. “Baiklah, kalau begitu kami pulang terlebih dahulu. Jangan pulang larut malam, okay?” ucap Ji Na—adik perempuan Ji Hoon. Aku hanya bergumam menanggapi ucapannya. Kemudian aku mendengar pintu terbuka dan tertutup setelahnya. Mereka sudah pergi. Aku sendirian sekarang, hanya ditemani secangkir kopi.
Pukul sebelas malam aku baru menyudahi pekerjaanku. Kurapihkan file-file yang berserakan di atas meja. Kurenggangkan otot-ototku, tubuhku sangat pegal dan lemas. Mungkin karena aku terlalu banyak duduk dan belum makan apapun sejak pagi tadi kecuali minum kopi.  Kepalaku pusing dan perutku terasa perih. Sepertinya maag-ku kambuh.
Suasana di perusahaan sangat sepi, hanya tersisa beberapa orang karyawan yang sepertinya sedang lembur dan beberapa orang petugas keamanan. Aku setengah menyeret kakiku menuju lift.
Aku menegndarai mobilku dengan kecepatan standar. Jujur aku ingin cepat sampai di apartement dan tidur seperti beruang. Tapi aku cukup waras untuk tidak menaikkan kecepatan hanya agar aku sampai lebih cepat di saat aku sedang dalam keadaan yang tidak baik. Aku sakit.
Aku sampai di pelataran apartement. Segera aku menuju tempat parkir. Setelah memarkirkan mobil, aku keluar dari mobilku. Perutku terasa sakit saat aku mencoba untuk berdiri. Aku menggeram menahan sakit. Aku menyandarkan tubuhku pada badan mobil. Meremas baju disekitar perutku. Rasanya sakit sekali.
Aku berjalan dengan sedikit membungkuk. Perutku akan terasa sakit begitu aku menegakkan tubuhku. Aku berjalan dengan terseok-seok.
“Yah, Shin Ji Hyun.” Seseorang memanggil namaku. Aku menghentikan langkahku dan berbalik ke belakang. Aku menemukan seorang pria tengah menatapku dengan wajah yang terkejut bercampur khawatir.
“Hyun…” lirihku. Kemudian yang kurasakan adalah kepalaku yang terasa semakin berat.
            Bruk
Aku yang sudah tidak kuat menopang berat tubuhku pun akhirnya terjatuh. Aku mendengar suara derap langkah kaki mendekatiku. Kemudian berganti dengan suara Kyu Hyun yang khawatir. Ia berkali-kali menyebut namaku seraya menggoncang tubuhku. Aku sudah tidak mempunya tenaga lagi, bahkan sekedar untuk membuka kelopak mataku pun aku tidak bisa.
“Yah, Shin Ji Hyun. Ireona!” Itulah suara terakhir yang dapat kudengar sebelum pada akhirnya aku kehilangan kesadaranku.
__________***__________
Kyu Hyun baru saja akan membuka pintu mobilnya, namun tindakannya itu terhenti begitu sebuah ferrari melintas tepat di depan mobilnya. Bukan mobil berwarna merah itu yang menarik perhatiannya melainkan sang pengemudi. Kyu Hyun yang mengurungkan niatnya untuk keluar dari mobil hanya mengamati sang pengemudi mobil ferrari itu. Dahi Kyu Hyun mengerinyit begitu melihat sang pengemudi itu keluar dari mobilnya dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.
Segera, Kyu Hyun keluar dari mobilnya dan mendekati pengemudi tadi yang sudah berjalan meninggalkan mobilnya.
“Yah, Shin Ji Hyun,” panggil Kyu Hyun pada sosok pengemudi mobil ferrari tersebut. Kemudian pengemudi yang dikenali Kyu Hyun sebagai Ji Hyun tersebut menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Kyu Hyun. Wajah gadis itu pucat, dahinya mengerinyit menahan sakit.
“Hyun…” lirih Ji Hyun sebelum gadis itu terjatuh karena sudah tidak memiliki tenaga lebih untuk sekedar berdiri.
Kyu Hyun terkejut. Dia segera berlari mendekati Ji Hyun. Kyu Hyun mengguncang tubuh gadis itu, menyebut namanya berkali-kali. Tapi sama sekali tidak ada respon dari Ji Hyun. Gadis itu sudah kehilangan kesadarannya. Kyu Hyun menggeram. Dia meraih ponsel yang ada di dalam saku bagian dalam jasnya.
“Datang ke apartement-ku. Sekarang. Dan bawa peralatan medismu,” ucap Kyu Hyun tak terbantahkan pada seseorang di telponnya. Kemudian dia mematikan telpone tersebut tanpa memperdulikan seorang gadis yang baru saja dia telpone itu mengumpatinya.
Kemudian Kyu Hyun mengangkat tubuh ringkih Ji Hyun dalam gendongannya. Pria itu membawa Ji Hyun menuju kamar apartementnya di lantai 11.
Sesampainya di apartement, Kyu Hyun segera memasuki kamarnya dan merebahkan Ji Hyun di tempat tidurnya. Pria itu melepaskan blazer hitam yang digunakan Ji Hyun, membuka satu-satunya kancing yang terdapat pada blouse Ji Hyun. Kemudian Kyu Hyun menyelimuti tubuh Ji Hyun.
Tangan Kyu Hyun terangkat untuk menyentuh dahi gadi itu. Dia menggeram kesal begitu mendapati suhu tubuh gadis itu sangat panas. Kyu Hyun melepaskan jasnya dan meletakkannya sembarang, menggulung lengan kemejanya sampai siku. Kemudian dia berlari menuju dapur untuk mengambil air hangat dan handuk. Kyu Hyun kembali lagi ke kamarnya dan mengompres dahi Ji Hyun.
Kyu Hyun melihat jam tangan pada lengan kirinya. Lagi-lagia dia menggeram kesal karena orang yang ditelponya tadi belum datang juga. Kyu Hyun menghela napasnya kasar. Diperhatikannya wajah pucat Ji Hyun. Gadis yang pernah menempati hatinya.
            Pernah? Atau mungkin masih?
Tanganya bergerak untuk merapihkan rambut gadis itu dan menyelipkannya di belakang telinga.
Cantik. Itulah kata yang ada di benak Kyu Hyun saat dia memperhatikan wajah Ji Hyun. Sekalipun gadis itu dengan wajh pucatnya, dia tetap cantik di mata pria itu. Tangan Kyu Hyun menelusuri setiap jengkal wajah Ji Hyun. Mulai dari mata, hidung, pipi, dan berakhir di bibir plum Ji Hyun.
Kyu Hyun mengusap bibir itu berkali-kali. Kemudian entah kenapa pria itu ingin sekali menyentuh bibir itu dengan bibirnya. Perlahan, Kyu Hyun mendekatkan wajahnya. Dia dapat merasakan napas Ji Hyun yang hangat. Dikecupnya bibir itu.
Manis, batinya.
Kyu Hyun mengulangi perbuatannya. Dikecupnya bibir itu berkali-kali. Kemudian dia mendiamkan bibirnya dan bibir Ji Hyun bersentuhan. Mata Kyu Hyun terbuka, masih dengan bibir yang saling menempel, Kyu Hyun memperhatikan Ji Hyun. Gadis itu sama sekali tidak terusik, jadi Kyu Hyun melanjutkan aksinya. Kali ini dia melumat bibir itu dengan lembut.
Kyu Hyun menyudahi aksinya tersebut sebelum hal-hal lain melintas di otaknya. Dia pergi menuju dapur, berencana membuatkan bubur untuk Ji Hyun.
Sepuluh menit kemudian, pintu apartement Kyu Hyun terbuka. Menampakan sosok gadis cantik berbalut jas putih layaknya seorang dokter pada umumnya. Gadis itu membawa tas hitam yang berisi peralatan medis.
“Jadi, kau sakit apa Tuan Cho?” tanyanya dengan berkacak pinggang.
Kyu Hyun hanya tersenyum. “Bukan aku,” ucapnya. Kyu Hyun melepaskan apron yang digunakannya.
“Kau sedang memasak atau apa?” tanya gadis bernama Park Sora itu pada Kyu Hyun. Gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya melihat betapa hancurnya dapur pria itu.
Kyu Hyun hanya tersenyum dan berjalan menuju kamarnya. Gadis bermarga Park itu mengikutinya. Sora hampir terpekik begitu melihat seorang gadis tertidur di ranjang Kyu Hyun.
“Wow, Cho Kyu Hyun. Wow,” ucapnya. Sora berjalan mendekati Ji Hyun dan mulai memeriksa gadis itu. “Siapa gadis ini?” Sora bertanya seraya memeriksa Ji Hyun. Mulai dari matanya, pernapasanya, denyut nadinya, tekanan darahnya dan berakhir pada perut gadi itu. Sora menekan-nekan perut Ji Hyun. “Aku cemburu.” Lanjut gadis itu. Kyu Hyun hanya terkekeh mendengarnya.
“Sepertinya dia tidak makan apa-apa seharian ini dan hanya minum kopi,” ucap Sora. “Gadis ini pasti sudah gila,” lanjutnya dan Kyu Hyun membenarkan ucapnya itu. Sora memasangkan infus pada lengan Ji Hyun. “Jika keadaannya masih seperti ini setelah di infus selama dua jam, bawa dia ke rumah sakit.”
Kyu Hyun hanya mengangguk mendengarkan perintah Sora. Gadis itu pergi meninggalkan kamar Kyu Hyun. Kyu Hyun mengikutinya, tapi langkahnya terhenti ketika ponsel milik Ji Hyun lagi-lagi bergetar. Dia sangat penasar dengan siapa yang sedari tadi menghubungi gadis itu. Diambilnya ponsel Ji Hyun dari dalam tas.
Getaran ponsel Ji Hyun sudah berhenti. Kyu Hyun mengusap layar ponsel tersebut. Di sana tertera ada puluhan panggilan dan sms dari orang yang sama, Lee Dong Hae. Tanpa sadar Kyu Hyun meremas ponsel tersebut. Dibukanya salah satu pesan dari pria bermarga Lee tersebut.
Yah, Sin Ji Hyun!
Angkat telpone-ku! Sebenarnya kau ada di mana, huh?
Aku ada di apartemet-mu. Cepat pulang!
Demi Tuhan, Shin Ji Hyun. Jangan membuatku khawatir.
Kyu Hyun mengembalikan ponsel itu ke tempat semula. Mengabaikan panggilan masuk dari Lee Dong Hae. Pria itu berbalik dan pergi mencari Sora.
Kyu Hyun menemukannya. Gadis itu sedang berkutat di dapur. Memperbaiki kekacauan yang Kyu Hyun lakukan. Kyu Hyun berjalan mendekatinya dan duduk di kursi dekat pantry.
“Jadi, siapa gadis manis yang sedang tertidur di kamarmu itu?”
“Namanya Shin Ji Hyun.”
“Siapa?”
“Shin Ji Hyun.”
“Iya, aku sudah tahu, maksudku apa hubunganya denganmu?” Sora menghentakkan kakinya, kesal karena Kyu Hyun selalu menjawab nama Shin Ji Hyun setiap kali dia menanyakan siapa gadis itu. Kyu Hyun hanya terkekeh menanggapi tingkah gadis berusia 26 tahun yang kekanak-kanakan itu.
Sudah dua jam berlalu dan Ji Hyun belum juga sadarkan diri. Sora baru saja mengecek keadaanya. Penampilan Sora sudah berubah, gadis itu menggunakan kemeja putih Kyu Hyun yang terlihat kebesaran di tubuhnya. Kyu Hyun sedang berkutat dengan berkas-berkas yang sama sekali tidak dimengerti oleh Sora. Gadis itu duduk dan hanya memperhatikan Kyu Hyun.
“Apa?” tantang Kyu Hyun.
Sora hanya diam dan tetap memperhatikan Kyu Hyun. Gadis itu menghela napasnya panjang. Kemudian dia merebahkan tubuhnya di sofa. Menyelimuti tubuhnya dengan selimut tebal yang diberikan Kyu Hyun. Dan tidur memunggungi Kyu Hyun yang duduk di sofa lainnya.
“Yah, katakan! Ada apa?” Kyu Hyun melempar sebuah buku dan mengenai tubuh Sora.
“Yak! Aku ingin tidur. Bisakah kau tidak mengusikku?!”
Sora bersiap melempar buku itu kembali pada Kyu Hyun. Tapis suara debaman terdengar dari kamar Kyu Hyun. Seketika itu juga Kyu Hyun beranjak dari tempatnya dan berlari menuju kamarnya. Sora, gadis itu juga melakukan hal yang sama seperti yang Kyu Hyun lakukan.
Kyu Hyun membuka pintu kamarnya. Pria itu melihat Ji Hyun yang sedang kesusahan untuk bangun dari lantai. Sepertinya gadis itu baru saja terjatuh dari kasur. Kyu Hyun baru saja akan mendekat, tapi Sora mendahulinya.
“Kau tidak apa-apa?” Sora membantu Ji Hyun untuk berdir.
Ji Hyun merasa bingung, gadis itu sama sekali tidak mengenal Sora. Meskipun begitu dia tetap menjawab pertannyaan Sora. “Ya, tidak terlalu buruk,” lirihnya. Perhatian Ji Hyun teralih pada sosok pria bertubuh tegap yang berdiri di belakang Sora. Kyu Hyun—pria itu mengenakan celana treaning dan kaos berwarna putih.
            Tunggu. Pria itu Kyu Hyun?
Ji Hyun membelalakkan matanya. Gadis itu memutar kembali ingatanya. Seingtnya dia pulang kerja sekitar jam sebelas malam. Perutnya sakit dan tubuhnya lemas. Saat di tempat parkir, seseorang memanggil namanya. Dan itu adalah Kyu Hyun. Selanjutnya dia tidak mengingat apapun. Sepertinya dia pingsan dan Kyu Hyun membawanya.
            Tapi…siapa gadis cantik yang tengah membantunya berbaring ini? Dia terlihat cantik hanya dengan memakai kemeja saja. Kemeja saja.
Pikiran-pikiran aneh mulai mempengaruhi otaknya. Dadanya tiba-tiba menjadi sesak, dan perutnya terasa sakit.
“Kenapa? Perutmu sakit?”
“Emm….”
“Kyu, bawakan bubur itu kemari.”
“Ya.”
“Jangan lupa untuk memanaskannya terlebih dahulu.”
“Ck, aku tahu.”
Kyu Hyun pergi untuk mengambil bubur yang dibuat Sora beberapa jam yang lalu. Ji Hyun hanya terdiam, dia membiarkan Sora memeriksa tubuhnya.   Sora memberinya  obat maag. “Minum ini. Setelah makan, minum obat yang satunya lagi.”
“Terima kasih,”
“Sama-sama. Ini sudah tugasku, aku seorang dokter,” ujar Sora.
            Jadi, dia seorang dokter.
Kyu Hyun datang membawa nampan berisi bubur. Pria itu memberikan semangkuk bubur padanya. Ji Hyun memandang bubur itu dengan tidak minta. Perutnya terasa mual.
“Aku tahu, kau pasti merasa mual. Tapi kau harus makan, jika tidak mualnya akan semakin parah dan kau tidak akan sembuh.” Sora menasehati Ji Hyun.
Ji Hyun memasukan sendokkan pertamanya. Perutnya semakin bergejolak. Gadis itu terus memakan bubur itu, hingga sendokkan ke-7 dia berhenti dan menggelengkan kepalanya. Kyu Hyun berdecak kesal karena gadis itu tidak menghabiskan buburnya. Sora mendesah. Seperti inilah jika orang sakit.
“Sekarang jam berapa?” tanya Ji Hyun lirih suaranya terdengar seperti bisikan.
“Jam dua lewat, Istirahatlah. Ini masih terlalu pagi untuk bangun,” ujar Sora.
“Apa?” Ji Hyun terpekik. Kemudian dia meraih tasnya yang terletak di atas nakas. Tanganya meraih ponsel yang berada di dalam tas tersebut. Diusapnya layar ponsel tersebut. Ada puluhan panggilan tak terjawab dan pesan masuk dari Dong Hae.
***
“Sungguh tidak apa-apa?” Ini sudah kesekian kalinya Sora bertanya seperti itu.
“Ya, aku sudah merasa lebih baik. jadi tolong lepaskan infusnya.”
Ji Hyun baru saja menelpon Dong Hae untuk menjemputnya di apartement Kyu Hyun. Dan sekarang gadis itu meminta Sora untuk melepas selang infusnya. Sora terdiam. Sora menatap Kyu Hyun, dia merasa perlu izin dari pria itu untuk melakukannya.
“Terserah,” ujar Kyu Hyun. Pria itu beranjak pergi.
Bel apartement Kyu Hyun berbunyi. Dong Hae terkejut begitu mendapati Kyu Hyun lah yang membukakan pintu untuknya.
“Kau tinggal di sini?” tanya Dong Hae. Pria bermarga Lee tersebut semakin penasaran dengan hubungan Ji Hyun dan Kyu Hyun.
“Yah, begitulah.”
“Oppa…” Suara lembut milik Ji Hyun mengintrupsi keduanya.
“Ji Hyun—ah, a—apa yang terjadi?” Dong Hae sedikit berlari mendekati Ji Hyun yang sedang berdiri tak jauh darinya dengan seorang gadis yang memapahnya. Dong Hae mengambil alih tubuh Ji Hyun dari Sora. Pria itu mendekap tubuh Ji Hyun penuh sayang.
“Apa yang terjadi?” Pertanyaan Dong Hae kali ini tertuju pada Kyu Hyun.
“Ja-jangan salah paham,” ujar Sora. Gadis itu menceritakan semuanya pada Dong Hae.
“Jadi begitu? Terima kasih karena sudah merawatnya.”
“Oppa, pulang…” lirih Ji Hyun.
“Eoh? Ya, kalau begitu kami permisi. Sekali lagi terima kasih.” Dong Hae menggendong Ji Hyun ala bridal style. Berjalan melewati Kyu Hyun—menuju pintu apartement. Sora mengikutinya di belakang. Sedangkan Kyu Hyun, pria itu hanya diam di tempatnya. Tatapanya datar. Bahkan pria itu sama sekali tidak berbicara pada Ji Hyun.
“Aku memberinya beberapa obat, jangan lupa untuk meminumnya,” ujar Sora pada Dong Hae.
“Aku mengerti.”
Dong Hae meninggalkan apartement Kyu Hyun yang terletak di lantai sebelas. Pria itu beranjak menuju lift yang akan membawanya dan Ji Hyun ke lantai sepuluh—dimana apartement Ji Hyun berada.
Ji Hyun bersandar lemas di bahu Dong Hae. Sedangkan pria itu diam, amarahnya menguap entah kemana begitu melihat kondisi Ji Hyun yang sedang tidak dalam keadaan yang baik-baik saja. Padahal dia sudah menyiapkan kata-kata untuk memarahi adik kesayangannya itu begitu dia menemukannya.
Sesampainya di apartement, Dong Hae membaringkan Ji Hyun di kasur. Menyelimuti tubuhnya hingga sebatas pundak. Dong Hae menatap lekat wajah Ji Hyun. Gadis itu menghela napasnya. Dia sangat tahu betul arti tatapan kakaknya tersebut. Tatapan penasaran seorang Lee Dong Hae.
“Nanti. Aku pasti akan menceritakanya padamu,” ujar Ji Hyun. Gadis itu membalikan tubuhnya memunggungi Dong Hae yang terduduk di pinggiran ranjangnya. Kemudian dia menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
Dong Hae menghela napasnya panjang. Dia beranjak dari posisi duduknya. Sepertinya gadis kecilnya itu membutuhkan waktu untuk sendiri, jadi dia berinisiatif untuk pergi ke kamar sebelah dan tidur.
Setelah Dong Hae benar-benar pergi, Ji Hyun membuka selimut yang menutupi wajahnya. Air mata gadis itu mengalir membasahi kedua pipinya. Sejujurnya dia sudah menahan air mata itu sejak di apartement Kyu Hyun tadi. Mati-matian dia menahannya. Di keheningan malam itu, Ji Hyun terisak dalam tangisnya.
Kenapa?
Kenapa harus bertemu dengannya lagi?
Kenapa rasanya sesakit ini saat melihatnya bersama gadis lain?
Kenapa bukan aku yang bersamanya?
Kenapa harus seperti ini?
Kenapa?Kenapa? Kenapa?
To Be Continued…

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: