DRIBBLOVE Part 6

0
ff nc kyuhyun dribblove yadong romance
DRIBBLOVE [Part 6]
Author : namschoa
Title : DRIBBLOVE
Category : NC21, Yadong, Romance, Chaptered
Cast :
Cho Kyuhyun
Na Haeryung
Lee Donghae
Choi Siwon a.k.a Na Sungjin
Other cast
“Sepandai-pandainya menyembunyikan bangkai, maka akan tercium juga.”
Setelah menolak tawaran Sungjin untuk mengantarnya pulang, Haeryung bergegas menuju apartemennya. Sepanjang perjalanan ia terlihat tidak sabaran. Ia menggigit-gigit kecil kuku ibu jarinya sambil menoleh ke kanan dan ke kiri jendela taksi yang ia tumpangi. Ia rasa mobil itu berjalan sangat lambat.

“Ahjussi, bisakah kau sedikit cepat? Aku sangat terburu-buru.”
“Ya.” Supir berjaket hitam itu menginjak pedal gasnya dengan penuh tekanan. Haeryung segera berpegangan dengan erat pada sesuatu yang bisa diraihnya.
Setelah beberapa menit dengan kelajuan diatas 60 km/jam, Haeryung tiba didepan apartemennya. Dengan cepat Haeryung membayar biaya taksinya dan berlari kedalam. Haeryung segera masuk ke dalam lift dan menekan tombol angka sesuai tujuannya.
“Semoga dia belum datang, semoga dia belum datang.” Gumam Haeryung dengan menggoyang-goyangkan pelan kakinya.
“Dia pasti bertemu Dami di toko kue dan waktu yang harus ditempuh untuk menuju ke apartemenku kurang lebih dua puluh menit. Aku pasti lebih cepat darinya. Aku akan berpura-pura tidur. Aku tidak mau bertemu dengannya.” Oceh Haeryung pada dirinya sendiri.
Ting!
Akhirnya ia tiba dilantai 4, pintu lift terbuka, Haeryung siap berlari menuju apartemennya. Baru saja ia mengambil ancang-ancang di depan pintu lift, matanya sudah menangkap dua orang pria dan satu orang gadis yang sedang berdiri di depan pintu apartemennya.
Haeryung membelalakkan matanya—begitu juga dengan mulutnya yang terbuka, Kyuhyun, Hyuk Jae dan Dami berada disana. Terlihat Kyuhyun menekan-nekan bel pintunya dengan tidak sabaran.
“Sial, aku kalah cepat darinya.” Gumam Haeryung. Haeryung memutuskan untuk pergi. Haeryung membalikkan tubuhnya dengan perlahan tepat saat Kyuhyun menyadari kehadirannya.
“Haeryung-ah!” teriak Kyuhyun.
Haeryung terkejut dan menoleh ke belakang, terlihat Kyuhyun tengah berlari ke arahnya, “Mati!”
Haeryung menekan-nekan tombol lift untuk membuka pintunya, namun tidak bisa terbuka. Gadis itu terlihat sangat panik, apalagi Kyuhyun sudah hampir dekat. Dengan cepat Haeryung berlari menuju tangga darurat, persetan dengan ucapan Hyena siang tadi.
Suara Kyuhyun masih terdengar meneriakkan namanya, tentu saja itu semakin membuatnya takut. Haeryung berlari secepat yang ia bisa. Baru saja menuruni beberapa anak tangga, Kyuhyun meraih lengan Haeryung dan menghentikannya.
“Ah,” ringis Haeryung.
Kyuhyun membuang nafasnya yang terdengar sesak. Pria itu sedikit kelelahan dengan olahraga kecilnya itu.
“Lepaskan aku!” titah Haeryung.
“Tidak—a—kan.” Suara Kyuhyun terputus-putus. Pria itu segera menyudutkan Haeryung pada tembok berwarna abu. Membuat gadis itu sedikit risih.
“Hey, apa yang kau lakukan!” Haeryung sedikit meronta. Kali ini tangan Kyuhyun berada pada kedua bahunya. Menutup sedikit ruang gerak Haeryung.
Kyuhyun masih mengatur nafasnya, “Kenapa kau berlari?”
“Apa?”
“Kenapa kau berlari?” ulang Kyuhyun.
“Itu karena aku melihatmu berlari. Jika aku melihatmu berjalan, maka aku akan berjalan.” Jawab Haeryung dengan polos.
“Kau benar-benar bodoh.”
“Kau benar-benar menyebalkan.” Balas Haeryung tak terima.
Kyuhyun menatap Haeryung dalam, pria itu sedikit mendekatkan tubuhnya. Haeryung terlihat gugup atas sikapnya, “Hei hei, k—kau, menjauhlah.”
Kyuhyun hanya diam. Haeryung tidak berani menatap mata pria itu. Kyuhyun menundukkan kepalanya, Haeryung menjadi semakin takut dengan apa yang akan Kyuhyun lakukan. Gadis itu memejamkan matanya dengan wajah kecemasannya.
Apa yang akan dia lakukan? Menciumku? Tidak! Batin Haeryung.
Kyuhyun semakin menundukkan kepalanya. Jantung Haeryung berdegup kencang dari biasanya. Pembuluh darahnya berdesir dan bulu kuduknya merinding—ini berlebihan, tapi itulah kenyataannya.
Hembusan nafas Kyuhyun semakin kuat menerpa wajah Haeryung. Kecemasannya bertambah berkali-kali lipat. Haeryung hanya berdoa di dalam hati agar Kyuhyun tidak melakukan hal bodoh itu.
“Mengapa kau sangat ketakutan? Kau berpikir aku akan menciummu?” bisik Kyuhyun.
“M—Mwo?” Haeryung membuka matanya dan menatap Kyuhyun yang sedang tersenyum miring kepadanya.
“Kau berpikir aku akan menciummu?”
Haeryung terlihat kikuk, ia menggeleng-gelengkan kepalanya, “Ti—tidak. Aku hanya—“
“Hanya apa?”
“Berhenti mempermalukanku!” pipi Haeryung terlihat memerah seperti tomat. Kyuhyun tertawa melihat tingkah konyol Haeryung. Gadis itu terlihat kesal dan berusaha melepaskan tangan Kyuhyun dari bahunya.
“Lepaskan aku!” Dengan sekuat tenaga Haeryung mencoba melepaskan tubuhnya. Kyuhyun berhenti dari tawanya dan mencengkram bahu Haeryung dengan kuat, “Tidak akan!”
Haeryung segera menggigit tangan kiri Kyuhyun dengan keras, membuat pria itu menjerit kesakitan dan melepaskan cengkramannya. Gadis itu memanfaatkan kesempatannya untuk melarikan diri, dengan cepat ia menuruni setiap anak tangga.
Kyuhyun mengibas-ngibaskan tangannya dan baru tersadar dengan apa yang terjadi setelahnya, “Gadis itu benar-benar menyebalkan.” Kyuhyun segera berlari mengejar Haeryung yang sudah berada jauh didepan.
Haeryung masih berlari sebisanya, namun langkah kakinya lebih lambat dibanding Kyuhyun yang bernotabene sebaga seorang pria.
Grep!
Lagi-lagi ia tertangkap oleh Kyuhyun. Pria itu mendapatkan pergelangan tangan Haeryung dan menariknya, “Berhenti bermain-main denganku!”
“Lepaskan aku!” ronta Haeryung.
Kyuhyun tidak menghiraukannya, pria itu segera menarik Haeryung untuk pergi. Bukan kembali ke apartemen Haeryung, melainkan menuju basement, tempat dimana Kyuhyun memarkirkan mobilnya.
“Ah, sakit! Kau mau membawaku kemana!” Haeryung meringis kesakitan saat Kyuhyun mencengkram pergelangan tangannya dengan kuat. Sebuah tanda merah tercetak disana karena pembuluh darah ditangan Haeryung berhenti mengalir—akibat tekanan Kyuhyun.
Kyuhyun membuka pintu mobilnya dan mendorong Haeryung untuk masuk kedalam, “Masuk.”
“Tidak!”
“Kubilang masuk!” bentak Kyuhyun. Haeryung sedikit tersentak, baru kali ini ia mendengar Kyuhyun membentaknya. Haeryung menelan ludahnya dan memilih untuk menuruti kemauan Kyuhyun.
Kyuhyun menutup pintu mobilnya dan berjalan memutar. Kyuhyun masuk dan memasang sabuknya. Haeryung mengikuti apa yang Kyuhyun lakukan. Baru saja Kyuhyun menyalakan mobilnya, ponselnya bergetar, menandakan ada sebuah panggilan masuk untuknya.
Kyuhyun menatap layarnya sekilas dan menggeser ikon telepon hijau, “Ya, Hyung?” Haeryung mendengar sedikit suara berisik diponsel Kyuhyun.
“Maafkan aku karena meninggalkanmu, aku pergi.” Jawab Kyuhyun santai. Suara tak jelas itu kembali terdengar, Haeryung hanya diam melihatnya.
“Ya.” Panggilan itu berakhir dengan suara ponsel yang dilempar keras oleh Kyuhyun kearah depan. Haeryung terkejut akan hal itu. Gadis itu langsung membuat kesimpulan bahwa Kyuhyun benar-benar marah padanya.
Kyuhyun segera melajukan mobilnya dengan cepat, Haeryung mencengkram tali sabuk didadanya. Sensasinya seperti saat ia sedang berada di roller coaster di sebuah taman hiburan. Cepat dan menegangkan. Haeryung memejamkan matanya dengan takut.
Mereka sudah mulai memasuki jalanan Seoul, tapi Kyuhyun belum juga menurunkan laju mobilnya itu. Haeryung mulai khawatir, “Kyuhyun-ssi, pelankan mobilmu ini.” Pinta Haeryung.
Kyuhyun tidak menghiraukannya. Pria itu hanya diam dan fokus pada jalan didepannya.
“Baiklah, aku minta maaf, aku minta maaf.”
Kyuhyun masih terdiam, namun akhirnya pria itu menghentikan mobilnya. Bukan karena mengabulkan keinginan Haeryung, tapi karena lampu lalu lintas menunjukkan warna merah.
Haeryung bernafas lega, setidaknya untuk sekarang. Gadis itu menatap Kyuhyun yang sedang terdiam. Kyuhyun masih enggan untuk berbicara. Haeryung mendesah pelan, “Aku minta maaf.”
“Apa yang ingin kau katakan?” ucap Kyuhyun pada akhirnya.
“Mwo?”
“Pesan itu. Apa yang ingin kau katakan?” kali ini Kyuhyun balas menatapnya.
Haeryung langsung dapat menerka arah pertanyaan Kyuhyun. Ternyata pria itu benar-benar seorang pemaksa.
Haeryung menggeleng, “Tidak, aku lupa.”
“Apa yang ingin kau katakan.”
“Aku lupa.”
“Apa yang ingin kau katakan.”
“Aku lupa.”
Kyuhyun menggertakkan giginya. Rahangnya mengeras. Dengan sekali tarikan pada tengkuk Haeryung, pria itu mempertemukan bibir tebalnya. Pria itu menuntut jawaban Haeryung dengan sebuah hisapan dibibir bawahnya. Ciuman Kyuhyun begitu kasar—menurut Haeryung. Gadis itu dapat merasakan kekesalan Kyuhyun yang ia gambarkan melalui fisik. Kyuhyun benar-benar marah.
Dengan bodohnya, Haeryung terdiam menerima perlakuan Kyuhyun meski hatinya menjerit-jerit—memerintahkannya untuk berhenti. Entah dorongan dari pihak mana, Haeryung memejamkan matanya dan membalas ciumannya dengan lembut, berbanding terbalik dengan apa yang Kyuhyun lakukan. Setidaknya Haeryung dapat sedikit memadamkan api kemarahan Kyuhyun.
Dapat ia akui ini adalah kesalahannya sejak awal. Jika saja ia tidak mengirim pesan pada Kyuhyun, maka Kyuhyun tidak akan menjadi penasaran seperti ini. Tapi semuanya sudah terlambat. Bahkan untuk diperbaiki sekalipun.
Suara decapan di bibir mereka mulai mendominasi mobil hitam itu. Haeryung masih saja melakukannya dengan lembut meski gadis itu mulai kelelahan. Gadis itu mengikuti alur permainan Kyuhyun.
Nafas Haeryung mulai terdengar tidak biasa. Kyuhyun yang mengetahui hal itu segera melepaskan tautannya. Keduanya menatap satu sama lain dengan canggung. Bibir bawah Haeryung terlihat merah.
“Maaf.” Kyuhyun membenarkan posisinya, begitu juga dengan Haeryung. Lampu lintas didepannya berubah kuning dan kemudian hijau. Kyuhyun kembali melajukan mobilnya, tapi kali ini dengan kecepatan sedang.
Setelah beberapa menit, mereka tiba di basement apartemen Kyuhyun. Haeryung sedikit bertanya-tanya pada dirinya sendiri mengapa Kyuhyun membawanya kemari.
“Keluar.”
“Mengapa kau membawaku ke tempat ini?” pertanyaan itu akhirnya ia lontarkan melalui bibirnya.
“Menurutmu?”
“Aku takut kau akan melakukan hal yang sama seperti saat aku pertama kali memasuki apartemenmu.” Haeryung terlalu jujur dan mungkin sedikit frontal.
Kyuhyun berdecak, “Aku sedang tidak ingin melakukan hal itu.”
“Tapi akan.” Ucap Haeryung pelan.
“Tidak. Cepat keluar!” nada bicara Kyuhyun sedikit naik.
Mereka keluar dari mobil dan segera melangkah menuju apartemen Kyuhyun. Mereka mulai memasuki lift dan Kyuhyun menekan tombol 9. Haeryung berdiri disamping Kyuhyun dan  menatap Kyuhyun yang lebih tinggi darinya. Gadis itu memainkan bibirnya.
Kyuhyun yang merasa bahwa dirinya sedang diperhatikan segera menoleh ke arah Haeryung, “Ada apa?”
“Mengapa kau menciumku?”
“Memangnya kenapa?”
“Kau tidak berhak atas anggota tubuhku!” cercah Haeryung.
“Bahkan aku telah melihat dan merasakan semuanya.” Jawab Kyuhyun santai.
“Dasar mesum!”
Pintu lift terbuka. Kyuhyun kembali menarik tangan Haeryung menuju apartemennya. Kali ini mereka harus cepat, jika tidak paparazzi ataupun sasaeng akan mengabadikan mereka berdua pada sampul berita.
Haeryung bingung ketika sudah berada didalam apartemen Kyuhyun yang sepi. Bukankah Donghae sudah pulang dari China? Mengapa pria itu tidak ada? Batin Haeryung.
Haeryung duduk disofa milik Kyuhyun dan menatap semua sudut apartemen Kyuhyun, “Aku kembali memasuki apartemen ini.” Gumamnya.
“Donghae-ssi, kemana dia? Bukankah dia sudah pulang dari China?”
Kyuhyun memberikan sekaleng minuman pada Haeryung dan duduk disampingnya, “Dia sedang mengurus pertandingan yang akan digelar.” Kyuhyun membuka kalengnya dan terdengar suara soda menguap disana.
“Pertandingan persahabatan melawan tim dari China itu?” tanya Haeryung.
“Kurasa kau mulai menyukai basket.”
“Tidak juga. Aku hanya sekedar mengetahuinya.” Haeryung sedikit meneguk sodanya, “Mengapa pertandingan persahabatan?” tanya Haeryung kembali.
“Apa maksudmu?”
“Mengapa itu sebuah pertandingan persahabatan? Kau akan melawan tim China, kan? Bukan tim dari Korea Selatan.”
Kyuhyun terdiam, pria itu terlihat bingung, “Apakah Korea Selatan dan China tidak boleh bersahabat?”
“Tidak, bukan begitu—“
“Aku lapar, bisakah kau memasak sesuatu?” dengan sengaja, Kyuhyun mengalihkan pembicaraannya, sepertinya pria itu sangat terganggu dengan pertanyaan Haeryung.
“Apa aku terlihat seperti pembantumu?”
“Kau asistenku, kau belum ku pecat.”
“Apa?” Haeryung terlihat tak terima.
“Anggap saja kau sedang membayar makananku yang telah kau curi.” Boom! Haeryung tidak dapat berkata-kata lagi. Kyuhyun mengungkit makanan yang telah Haeryung bopong ke apartemennya. Gadis itu tersenyum kikuk, “Baiklah.”
~ DRIBBLOVE ~
Haeryung memakai sepatunya dengan terburu-buru. Hari ini ia akan mengunjungi Hyena, sekedar untuk menanyakan kabarnya. Bukankah ia sudah janji akan mengunjunginya sesering mungkin?
Kyuhyun terlihat keluar dari kamarnya dengan tubuh yang segar. Pria itu baru saja menyelesaikan mandinya beberapa menit lalu. Kyuhyun melihat Haeryung yang masih berkutat dengan sepatunya. Pria itu sedikit penasaran.
“Kau mau kemana?”
Haeryung sedikit terkejut, gadis itu menoleh kearah belakang dan segera berdiri saat kedua sepatunya sudah terpasang.
“Ah, kau sudah selesai? Aku sudah menyiapkan sarapanmu di meja.”
“Kau mau kemana?” Kyuhyun mengulang pertanyaannya.
“A—Aku, aku, aku akan bertemu temanku.” Bual Haeryung. Keadaan akan kacau jika ia jujur pada Kyuhyun.
“Teman? Ku pikir kau hanya punya satu teman diduniamu ini.”
“Yak! Kau pikir aku apa! Sudahlah, aku sudah terlambat, annyeong!” Haeryung segera berlari keluar.
Kyuhyun melihatnya dengan bingung, “Mengapa begitu terburu-buru?”
Kyuhyun terdiam sesaat—lebih tepatnya berpikir, sedetik kemudian Kyuhyun meraih jaket dan kunci mobilnya. Pria itu berniat untuk mengikutinya, “Entah mengapa aku sangat penasaran.” Gumamnya.
Haeryung menghentikan sebuah taksi yang mendekat kearahnya, gadis itu masuk dan memberitahu tempat tujuannya. Tanpa ia sadari, mobil Kyuhyun telah siap untuk membuntutinya. Kyuhyun ikut melajukan mobilnya saat taksi yang ditumpanginya mulai melaju.
Kyuhyun membuat jarak yang tidak terlalu dekat dengan taksi Haeryung. Pria itu memilih berada di belakang mobil lainnya, “Mau kemana dia.” Gumam Kyuhyun.
Haeryung tiba diklinik milik Hyena. Gadis itu memberi beberapa lembar uang won pada supir taksi tersebut dan bergegas keluar. Kyuhyun menepikan mobilnya sedikit jauh dari klinik. Pria itu bertanya-tanya pada dirinya, “Gadis itu sakit?”
Haeryung berjalan memasuki klinik Hyena yang terlihat masih sepi. Tentu saja karena ini masih pagi dan klinik baru saja dibuka. Haeryung mendatangi tempat pendaftaran. Seorang gadis sedang sibuk dengan komputernya disana.
“Annyeong, apa Hyena-ssi sudah datang?” tanya Haeryung.
“Ya, beliau sudah datang, mari saya antar.” gadis berambut hitam itu menawarkan dirinya dengan sopan.
“Ah, tidak usah, aku bisa melakukannya. Kamsahamnida.” Haeryung sedikit membungkukkan badannya. Gadis itu pergi menuju ruangan Hyena.
Haeryung membuka pintu ruangan Hyena dengan pelan dan menyapa Hyena yang sedang memakai jasnya, “Annyeong!”
Hyena menoleh kearah Haeryung dan seketika matanya berbinar, “Haeryung-ah.”
Haeryung tersenyum, gadis itu melangkahkan kakinya dan duduk dihadapan Hyena, “Bagaimana kabarmu?” tanya Hyena.
“Baik. Dan kau?”
“Aku rasa aku cukup baik.” Balas Hyena. Haeryung tersenyum.
“Kau datang lebih awal dari yang aku kira.”
Haeryung mengangguk, “Ya, kebetulan ini salah satu pelarianku.”
“Pelarianmu?” Hyena mengerutkan keningnya.
“Ya, pelarianku dari—“ Haeryung menggantungkan ucapannya, “Aku rasa aku tidak perlu memberitahumu hal ini.” Gadis itu terlihat kikuk.
“Yak! Katakan saja masalahmu, mungkin aku bisa membantumu. Bukankah kita sudah berjanji? Aku bisa menjaga rahasia.”
“Benarkah? Hm, baiklah. Aku sedang melakukan pelarian dari seorang pria yang menyebalkan, menurutku.”
“Siapa?”
Haeryung tampak ragu untuk menjawab pertanyaan Hyena, “D—Dia, pria yang memiliki hak atas janin yang ku kandung ini.”
“Dia ayah dari bayimu ini?”
Haeryung menggeleng, “Dia bukan ayahnya, kami belum menikah.”
Hyena sedikit tersenyum mendengar jawaban polos Haeryung, “Lalu mengapa kau lari? Bukankah bagus bila kau telah menemukan pria yang harus bertanggungjawab atas kehamilanmu ini?”
Haeryung menundukkan kepalanya, “Seharusnya seperti itu, tapi aku berbeda.”
“Maksudmu? Dia tidak ingin bertanggungjawab?”
Lagi-lagi Haeryung menggeleng, “Tidak. Bahkan dia tidak tahu tentang kehamilanku ini.”
“Mengapa?”
“Aku takut. Aku hanya gadis biasa, sedangkan dia—“
“Dia?” Hyena membeo, dapat gadis itu rasakan jika Haeryung sedang ada dalam masalah yang cukup besar untuk ia hadapi sendiri.
“Dia seorang publik figur, lebih tepatnya atlet basket.” Suara Haeryung melemah, bahkan hampir tidak terdengar.
“Benarkah seperti itu?” Hyena meraih tangan Haeryung dan mengenggamnya lembut meski memberikan sebuah kekuatan yang cukup kuat didalamnya, “Ini sangat berat. Aku bisa merasakannya. Tapi aku yakin kau cukup kuat untuk melaluinya.” Hibur Hyena.
“Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku katakan pada Kyuhyun?”
Hyena tersentak setelah mendengar sebuah nama yang Haeryung sebutkan. Haeryung dapat melihat itu.
“Kyuhyun.” Gumam Hyena.
“Ya, Kyuhyun, Cho Kyuhyun, apa yang harus aku katakan padanya?”
Hyena menatap Haeryung sendu. Hyena hanya dapat menenangkan Haeryung dengan genggaman tangannya. Ia sendiri terlihat kebingungan untuk mencari sebuah solusi. Kyuhyun, Cho Kyuhyun, dia—Ya Tuhan, batin Hyena.
Drrrrtttt Drrrrtttt
Ponsel Haeryung bergetar, sebuah panggilan masuk untuknya. Haeryung melihat ID Sungjin tertera disana. Gadis itu menatap Hyena, “Aku keluar sebentar.” Hyena mengangguk. Haeryung berlari kecil untuk keluar ruangan.
Hyena terdiam dikursinya, gadis itu terlihat tak tenang. Jarinya saling meremas satu sama lain. Bibir bawahnya ia gigit dengan cukup keras.
“Kyuhyun, Kyuhyun, Kyuhyun.” Hyena terus saja mengatakan nama pria itu. Seperti seorang balita yang sedang diajarkan sebuah kata oleh orangtuanya. Diulang-ulang sampai hafal.
Tak lama kepala Haeryung muncul dari pintu ruangannya, “Unni, sepertinya aku harus pergi. Kakakku ingin bertemu denganku sekarang.” Hyena mengangguk.
Haeryung tersenyum, “Kita bicarakan hal ini lain waktu, Annyeong!” gadis  itu kembali menutup ruangan Hyena.
Hyena terlihat memijat keningnya, “Mengapa ini terjadi.”
Kyuhyun masih senantiasa diam didalam mobilnya. Pria itu terkejut ketika melihat Haeryung berlari dan menghentikan taksinya dengan kasar. Kyuhyun memutuskan untuk memasuki klinik itu ketika taksi yang ditumpangi Haeryung sudah menjauh.
Kyuhyun bergegas menuju bagian pendaftaran, “Gadis tadi, berasal dari ruangan mana?”
“Gadis berambut coklat itu? Dia tadi memasuki ruangan Dokter Kang.”
“Kamsahamnida.” Kyuhyun segera berlari menuju ruangan yang dimaksud. Akhirnya ia menemukan sebuah pintu bertuliskan hangul Dr. Kang yang dicetak tebal.
Pria itu mengetuk pintu dan membukanya saat seorang wanita menjawabnya dari dalam. Kyuhyun masuk kedalam, wanita itu tampak menundukkan kepalanya.
“Annyeong.” Sapa Kyuhyun agar wanita itu menyadari kedatangannya.
“Oh, A—Ann—Kyuhyun-ah?” ucap Hyena tak percaya.
“Nu—Nuna?” pria itu sama terkejutnya dengan Hyena. Kyuhyun tampak tidak bergerak dari tempatnya.
“Kau—Apa kau datang kesini untuk memeriksa kesehatanmu?” Hyena mencairkan suasana canggung diantara mereka. Berakting layaknya seorang dokter yang berhadapan dengan seorang pasien.
Kyuhyun menggeleng, “Tidak, aku hanya ingin bertanya satu hal.”
“Apa itu? Jangan kau tanyakan tentang dua tahun lalu itu, aku mengakui bahwa—“ Hyena menundukkan kepalanya. Tidak berani menatap Kyuhyun yang berada didepannya
“Apakah klinik adalah tempat yang tepat untuk membicarakan hal ini?”
“Apa maksudmu?”
“Lupakan hal itu, Nuna. Aku tidak menyalahkanmu. Aku datang kemari untuk menanyakan satu hal. Gadis yang tadi memasuki ruangan ini, apa dia sakit?”
“Maksudmu Haeryung?” Kyuhyun mengangguk.
“Maaf tapi aku sudah berjanji untuk tidak mengatakan apapun tentangnya.” Hyena menelan ludahnya, berusaha bersikap profesional. Hyena sudah paham arah pembicaraan pria itu.
“Nuna, jebal.” Pinta Kyuhyun.
“Apa kau punya hubungan dengannya?”
“Tidak, dia hanya teman, ah tidak bukan teman. Dia hanya seseorang yang ku kenal.” Kyuhyun merasa kesulitan untuk mendeskripsikan hubungannya dengan Haeryung. Maksudnya, mereka malah tidak punya hubungan apapun.
“Seseorang yang kau kenal?” Kyuhyun mengangguk.
“Baiklah, tapi kau harus berpura-pura tidak tahu tentang hal ini. Jika tidak, dia akan marah besar padaku.” Ucap Hyena pada akhirnya. Toh, bukankah suatu saat nanti Haeryung akan memberitahukan kehamilannya pada Kyuhyun? Dan bukan suatu masalah jika Kyuhyun mengetahuinya lebih awal, kan?
“Seseorang yang kau kenal itu—“ Hyena masih terlihat berat mengatakannya, “Sedang menumbuhkan benih yang sudah kau tanam.”
“Apa—Apa maksudmu?” Kyuhyun mengerutkan keningnya. Tangan kanannya terlihat mengepal kuat.
“Haeryung, dia sedang hamil.”
Hola, saya kembali lagi dengan part 6 ^^ dari komentar-komentar sebelumnya dapat disimpulkan bahwa FF-nya terlalu pendek, lalu apakah part ini ‘sedikit’ lebih panjang, atau sama saja? Hehe. Kritik dan saran yang membangun sangat dibutuhkan ^^ see u in the next part, annyeong!

Fc Populer: