DRIBBLOVE Part 5

0
dribblove ff nc kyuhyun romance
DRIBBLOVE [Part 5]
Author : namschoa
Title : DRIBBLOVE
Category : NC21, Yadong, Romance, Chaptered
Cast :
Cho Kyuhyun
Na Haeryung
Lee Donghae
Choi Siwon
Other cast
Disclaimer : Fiksi ini terinspirasi dari ketidakikutsertaan Kyuhyun untuk mengikuti event SM beberapa waktu lalu karena tur-nya bersama KRY, sehingga saya membuat fiksi dengan karakter Kyuhyun sebagai pebasket xD
Sebelumnya makasih yang sudah memberi kritik dan saran ^^ oh iya, disini ada sedikit adegan dari film Love Rosie 😉

So, enjoy~
WARNING!! FOR TYPO(S)~
 “Tuhan, kami berterimakasih pada-Mu sekaligus sedikit mengkritik dengan apa yang kau berikan. Mengapa kau memberikan kami kebahagiaan dan kesengsaraan pada saat yang sama?”
~Happy Reading~
Berminggu-minggu sudah Haeryung dan Kyuhyun tidak bertemu. Berminggu-minggu itu pun juga mereka tidak saling berkomunikasi. Semuanya seolah-olah hilang tertelan waktu begitu saja.
Namun entah mengapa Haeryung merasa sangat ingin menghubungi Kyuhyun. Gadis itu seperti ingin memberitahu sesuatu, tetapi ia sendiri tidak tahu apa yang harus ia beri tahu pada Kyuhyun. Perasaannya terus membawanya pada Kyuhyun, Kyuhyun dan Kyuhyun. Padahal ia sendiri sangat membencinya—diluar perasaannya.
Haeryung terus memperhatikan ponselnya dengan layar yang menampakkan nomor ponsel Kyuhyun. Ia terlihat ragu dengan apa yang dihadapinya.
“Mengapa aku sangat ingin tahu kabarnya. Aku benci hal ini! Apa yang terjadi padaku!” gumam Haeryung dengan gelisah. Gadis itu sedikit menjambak rambut coklatnya.
“Dan juga aku merasa jika ada sesuatu yang harus kuberitahu padanya, tapi apa!” Haeryung menggigit jarinya.
“Ahh.” Erang Haeryung. Rasa sakit disertai lemas itu kembali menghampirinya. Tapi Haeryung tidak menganggap itu sebuah masalah serius. Malah dia menganggap bahwa dirinya kelelahan karena terlalu bekerja keras selama dua minggu ini. Memang, selama dua minggu ini dia bekerja full time ditoko Dami.
“Sepertinya aku harus membeli obat.” Haeryung memutuskan untuk pergi ke apotik untuk membeli obat—meski ia tidak tahu ia sakit apa.
Sesampainya disana ia disambut seorang gadis yang tinggi semampai. Gadis itu menyapanya dengan baik, “Annyeong haseyo.” Gadis berambut sedikit kemerahan itu menampilkan senyuman dengan matanya yang terlihat indah.
“Annyeong.” Balas Haeryung dengan sedikit membungkukkan tubuhnya.
“Sepertinya aku pernah melihatmu. Kalau tidak salah, diacara fanmeet di taman kota. Kau, nona penjilat itu?”
“Ah? Aku? Ya. Aku Haeryung, Na Haeryung. Sepertinya aku juga mengenalmu. Kau sama-sama mendapat keberuntungan itu, kan?”
Gadis itu mengangguk cepat, “Ya. Aku Jung Yuji. Aku juga mendapatkannya. Bahkan, aku sendiri merasa jantungku telah berhenti pada saat itu.” Mata gadis itu berbinar-binar seperti menerawang kearah belakang. Haeryung yakin gadis itu sedang membayangkan saat-saat berharganya itu.
“Kau akan mati jika jantungmu tidak berdetak.” Gumam Haeryung.
“Ah, ya, aku lupa, apa ada yang bisa kubantu?” Yuji kembali kealam sadarnya setelah berfantasi liar.
Haeryung mengangguk, “Ya, aku merasa aku sakit dan itu terjadi setiap hari. Aku sendiri tidak tahu apa yang terjadi padaku. Mungkin kau bisa memberiku pil atau suplemen atau sesuatu.”
Yuji mengangguk, gadis itu membawa sebuah kertas dengan tulisan yang tertera diatasnya. Entahlah, seperti daftar atau semacamnya. Haeryung tidak terlalu yakin dengan isinya.
“Diare?” tanya Yuji.
“Tidak.”
“Demam?”
“Tidak.”
“Flu?”
“Tidak.”
“Kram perut?”
“Tidak.”
Yuji kembali menyimpan kertasnya, “Baiklah, mungkin ini sedikit privasi tapi aku harus mengetahuinya.” Haeryung masih setia mendengarkan.
“Apa kau terlambat datang bulan?”
Haeryung sedikit terkejut dengan pertanyaan yang diajukan Yuji. Tapi apa yang dikatakannya memang benar, pada bulan ini Haeryung belum mendapatkan periodenya. Bahkan sudah lewat beberapa minggu dari biasanya.
Haeryung mengangguk ragu, “Ya.”
“Baiklah.” Yuji berjalan menuju satu lemari dan mengeluarkan sebuah kotak berukuran kecil. Yuji memberikannya pada Haeryung. Dapat Haeryung lihat tulisan ‘Pregnancy Test’ tercetak tebal disana.
“Ti—tidak.” Haeryung menggeleng dengan cepat.
“Maaf atas kelancanganku tapi—apa kau masih perawan?”
“Ti—tidak, tapi tidak mungkin!”
Sebagai seorang wanita, Yuji mengerti dengan keadaan Haeryung. Gadis itu mencoba untuk bersikap tenang. Tidak ingin membuat Haeryung menjadi jauh lebih panik.
“Ada toilet disini jika kau mau menggunakannya.”
Haeryung menatap kembali alat yang masih terbungkus itu. Ada keraguan dalam dirinya. Apa benar jika selama ini kehamilannya-lah yang ingin ia beritahu? Jika memang benar, bagaimana caranya? Apa yang harus ia katakan pada Kyuhyun? Tidak mungkin Kyuhyun akan menikahinya. Kyuhyun seorang publik figur sedangkan dirinya hanya gadis biasa. Ia yakin citra Kyuhyun akan buruk dimasyarakat.
Tapi ia harus memberitahunya. Bila janinnya itu benar ada, maka janin yang ada dirahimnya itu adalah milik Kyuhyun. Bukankah Kyuhyun yang pertama kali menyentuhnya? Ya, Haeryung harus memberitahunya. Persetan dengan Kyuhyun yang mau mengakuinya atau tidak, yang jelas dia harus memberitahunya.
“Aku akan menggunakannya.” Yuji mengangguk dan mengantar Haeryung menuju toilet yang tersedia. Dengan ragu, Haeryung masuk kedalam dan Yuji menunggunya diluar.
Setelah beberapa menit, Haeryung keluar dengan wajah canggungnya. Yuji yang penasaran segera melirik kearah alat yang Haeryung bawa. Haeryung memperlihatkan hasilnya. Alhasil, dua buah garis merah ada disana. Itu artinya dia benar-benar tengah berbadan dua sekarang.
“Dengar, meski kita baru saja mengenal satu sama lain, aku akan membunuhmu jika kau menggugurkan kandunganmu itu.”
“Kau mengetahui apa yang aku pikirkan?”
“Apa aku benar? Apa kau melakukan itu?”
“Tidak. Aku tidak yakin.” Haeryung menggeleng lemah. Otaknya tidak bisa berpikir jernih. Terlalu banyak awan hitam dan hal negatif lain yang bergelut diotaknya.
“Berikan dia kesempatan untuk hidup.” Yuji menggenggam kedua tangan Haeryung dan tersenyum manis. Memberikan sebuah semangat pada Haeryung yang terlihat goyah. Haeryung mengangguk.
Setelah membayar dan diberi nasihat yang cukup oleh Yuji, teman barunya, Haeryung segera pergi. Tapi kali ini bukan pulang ke apartemennya melainkan ke taman kota. Entah mengapa ia sangat merindukan tempat itu. Mungkin ini ada keingininan dari janinnya—meski mustahil.
Haeryung duduk disalah satu bangku disana dengan wajah sendu. Tangannya sibuk mengusap perutnya yang masih rata.
“Sayang, aku tahu kau belum bisa mendengarku. Aku tahu kau belum sepenuhnya terbentuk. Tapi aku tahu bahwa kau mengetahui apa yang aku pikirkan dan apa yang aku rasakan. Karena kita satu tubuh, benar?” Haeryung menatap kearah perutnya masih dengan tangan yang mengusap-usap lembut.
“Kau tahu, jika bukan karena tempat ini, kau tidak akan pernah ada. Aku tidak tahu apakah aku harus senang atau sedih. Tapi karena kini aku memilikimu, aku merasa sangat senang.” Tatapan matanya terlihat sendu saat ia mengucapkan beberapa untaian kalimat itu.
“Kau tahu, dulu saat aku bertemu dengan ayahmu, ah tidak, bukan ayah, Kyuhyun saja, lagipula kita belum menikah. Saat aku pertama kali bertemu dengan Kyuhyun, dia hampir menabrakku. Untungnya, aku hanya terkena bumper mobilnya. Tapi aku tidak apa-apa, hanya saja wajahku terkena krim kue dan itu cukup konyol.” Haeryung tersenyum kecut.
“Dan disini adalah tempat kita bertemu untuk kedua kalinya. Aku dipaksa oleh Dami untuk berada diantrian milik Kyuhyun dan disitulah dia kembali menyudutkanku. Benar-benar memalukan. Apalagi saat aku mendapat tatapan dari seluruh pengunjung fanmeet, aku seperti tidak bernyawa.”
“Tempat ketiga adalah restoran yang direservasi secara pribadi. Aku melempar kue tepat kearahnya. Pada saat itu, aku merasa senang, akhirnya balas dendamku terbayarkan. Tapi semua itu menjadi bumerang bagiku, dia menciumku dan—tunggu, kau terlalu kecil untuk mendengar cerita seperti ini, lebih baik aku berhenti saja.”
Haeryung tersenyum sambil menatap perutnya, “Sayang, aku sangat ingin tahu berapa usiamu sekarang. Bagaimana bila kita pergi ke dokter? Kau mau?”
Tanpa ada yang menjawab, Haeryung mengangguk dan segera pergi ke dokter kandungan untuk memeriksakan janinnya. Ia lebih memilih untuk berjalan agar tubuhnya terasa bugar. Berjalan menyehatkan, bukan?
Setelah menelusuri beberapa koridor toko dan mall-mall besar, Haeryung tiba di sebuah klinik kecil yang memang menerima pemeriksaan janin. Dengan perlahan, Haeryung masuk kedalam dan mendaftar dibuku antrian.
Tak banyak pengunjung pada saat itu, hanya beberapa lansia dan anak-anak yang didampingi orangtua mereka. Haeryung duduk dibangku yang tersisa untuk menunggu gilirannya. Haeryung memperhatikan anak-anak yang bermain kejar-kejaran, semuanya terlihat begitu gembira. Lagi, Haeryung kembali mengusap perutnya, membayangkan calon anaknya yang tumbuh dan dapat bermain bersama teman-temannya. Pasti mengasyikkan.
Tak lama, namanya terpanggil, Haeryung bangkit dan mengikuti seorang suster yang masuk ke sebuah ruangan. Aroma obat-obatan dan bahan kimia lain mulai masuk ke dalam hidung Haeryung. Gadis itu sedikit menutup lubang hidungnya dengan jari telunjuknya.
Disana terlihat seorang wanita dewasa yang menggunakan jas berwarna putih sedang memainkan penanya. Matanya menatap Haeryung ketika menyadari kedatangan Haeryung. Wanita itu tersenyum dan Haeryung membalasnya. Haeryung membungkukkan badannya sebelum ia duduk dihadapan wanita itu.
“Nona Haeryung, benar?” wanita itu mulai membuat sebuah percakapan.
Haeryung mengangguk, “Ya, dan kau?”
“Kang Hyena, panggil aku Hyena.” Hyena tersenyum sehingga membuat wajahnya bertambah cantik berkali-kali lipat.
“Ah, baiklah.”
“Hm, Usiamu 22 tahun?” tanya Hyena lagi. Ia sepertinya sedang membaca CV milik Haeryung. Terbukti dari sebuah kertas yang terus ia pegang sejak kedatangan Haeryung.
Haeryung mengangguk, “Kau tidak perlu terkejut seperti itu. Ini hanyalah sebuah kecelakaan. Ya, kecelakaan.”
“Tentu. Kau bisa memanggilku unni jika kau mau.” Hyena sedikit tertawa—meski tidak bersuara, Haeryung hanya membalasnya dengan senyuman canggung.
“Baiklah, silahkan berbaring.” Titah Hyena sambil menunjuk sebuah ranjang berwarna putih dan berukuran satu orang.
Haeryung mematuhinya, gadis itu mulai mendekati ranjangnya dan merebahkan tubuhnya disana. Sesekali gadis itu menyesuaikan letak tubuhnya agar terasa nyaman.
Hyena memakai stetoskopnya dan menyibakkan sedikit ujung baju Haeryung. Hyena menempelkan stetoskopnya pada area perut Haeryung. Sesekali ia memindahkan letak stetoskopnya ke arah lain. Tampak kegelian dari wajah Haeryung, namun gadis itu berusaha menahannya.
Selang beberapa menit, Hyena melepas stetoskopnya dan tersenyum pada Haeryung, “Usianya masih sangat muda, sekitar dua minggu atau lebih. Kau harus menjaga pola hidupmu. Dan yang paling penting, jangan bekerja terlalu berat.”
“Aku sering mendengar hal itu. Kurasa aku bisa menjalaninya.” Haeryung terduduk dan turun dari ranjangnya. Gadis itu memakai kembali sepatunya.
“Kau memang dokter yang hebat. Hanya dengan menggunakan satu alat, kau sudah bisa menerka usia janinku. Kau tahu? Dulu aku sangat ingin menjadi dokter, tapi apa daya, aku hanya seorang kurir. Itupun karena belas kasihan salah seorang sahabatku.” Haeryung mulai menampakkan sifat aslinya pada Hyena. Itulah Haeryung, mudah akrab dengan orang-orang yang bahkan belum ia kenal selama 1 jam.
“Ku seorang kurir?”
“Ya, ditoko kue milik sahabatku. Dokter dan kurir, sangat jauh, kan? Tapi aku bersyukur karena Tuhan tidak menggariskan jalan hidupku untuk menjadi seorang dokter. Kau tahu? Memegang jarum suntik pun aku tak sanggup.” Haeryung kembali duduk dihadapan Hyena. Ia bahkan tidak peduli berapa banyak pasien yang menunggu Hyena diluar.
“Tapi jika boleh aku memilih, aku ingin menjadi kurir.”
“Hm? Mengapa seperti itu? Menjadi kurir itu sangat tidak enak, kau harus berpanas-panasan diluar untuk mencari uang. Sedangkan dokter? Dokter hanya perlu menunggu uang datang diruangan dingin seperti ini.” Haeryung mengusap-ngusap bagian lengan atasnya dari luar.
“Aku bukanlah orang pemberani seperti yang kau katakan tadi. Aku memang berani memegang jarum suntik, tapi aku cukup berani dalam hal lain.” Hyena tersenyum kecut tanpa menatap Haeryung. Ia sibuk memainkan penanya di atas kertas putih.
“Maaf aku—“
“Haeryung-ssi, aku ingin bertanya satu hal padamu, saat kau terkurung dan hanya ada dua pilihan untuk keluar dari sana, apa kau ingin mengatakan kebenaran atau kebohongan? Sedangkan kedua perkataan itu membawamu ke arah yang berbeda.”
“Pertanyaanmu cukup sulit untuk orang bodoh sepertiku. Tapi, jika aku boleh memilih, aku akan mengatakan kebenaran meski hasilnya membuatku terluka.” Hyena tersenyum kecil—meski terlihat dipaksakan. Matanya ia beranikan untuk menatap Haeryung. Dapat Haeryung lihat, mata Hyena berkaca-kaca.
“Kau benar. Menurutku seperti itulah ‘orang pemberani’ yang sesungguhnya.” Haeryung mengangguk tak mengerti, yang ia tahu Hyena sedang dalam suatu masalah.
“Unni, aku rasa masih banyak pasien yang mengantri diluar sana. Jika kau tidak keberatan, aku bisa menjadi tempat untuk mendengar ceritamu kapan saja. Dan jika kau beruntung, aku bisa memberimu solusi.” Haeryung berbicara dengan perlahan, takut jika ia dianggap terlalu ingin tahu urusan orang lain, padahal mereka baru saja bertemu.
“Benarkah? Kau bisa melakukan itu?” mata Hyena sedikit berbinar.
Haeryung mengangguk, “Akan kulakukan sebisaku.”
“Terimakasih. Meski kita baru saja bertemu tapi sepertinya kau adalah orang yang cukup mengasyikkan.”
“Benarkah? Apa aku terlihat seperti itu?” Hyena mengangguk, “Datanglah ke klinikku secara rutin untuk memeriksakan kandunganmu itu. Sebagai bayarannya, dengarkan semua masalahku dan beri jalan keluar sebelum semuanya terlambat.”
“Siap, komandan!” Haeryung memberi hormat kepada Hyena, persis seperti prajurit yang memberi penghormatan kepada komandannya. Keduanya tertawa, melupakan semua kemelut di otak mereka masing-masing. Haeryung dengan kehamilannya dan Hyena dengan masalahnya—yang belum diketahui Haeryung sejauh ini.
“Baiklah aku permisi untuk pulang.” Haeryung bangkit dari duduknya dan membungkukkan badannya, “Annyeong.”
“Annyeong.” Balas Hyena.
Haeryung segera meninggalkan ruangan Hyena dan kliniknya. Sesampainya diluar, Haeryung kembali memikirkan cara untuk memberitahu Kyuhyun atas kehamilannya. Haeryung menggenggam ponselnya dengan erat dan menimang-nimang keputusannya. Setelah dirasa keputusannya sudah bulat, Haeryung mulai mengaktifkan ponselnya dan menyentuh ikon Line. Haeryung mencari ID Kyuhyun dan mengetikkan sebuah pesan singkat di jendela obrolannya.
Kyuhyun-ssi, aku ingin memberitahumu sesuatu. Aku harap kau tidak terlalu memikirkan hal ini dan berpura-puralah menjadi pelupa saat kau sudah mengetahuinya.
Haeryung menyentuh ikon kirim. Tampak ada keraguan darinya dan terus menerka-nerka apa yang akan Kyuhyun katakan nanti. Dengan canggung Haeryung terus memperhatikan ponselnya, takut bila Kyuhyun telah membacanya, bahkan membalasnya. Namun kenyataan mengatakan sebaliknya, Kyuhyun belum membaca pesannya sama sekali.
Dengan kecewa Haeryung menyimpan kembali ponselnya. Saat akan melangkah, Haeryung dikejutkan dengan suara berat seseorang yang menyerukan namanya.
“Haeryung-ah.”
Dalam hitungan detik, tubuh Haeryung terasa kaku dan bergetar dengan sendirinya. Matanya berkaca-kaca melihat apa yang ditangkap pupil matanya. Lidahnya sendiri cukup kelu untuk membalas sapaan seseorang didepannya itu. Tangan kanannya yang bergetar mulai mengepal. Kakinya seperti tidak mampu menopang tubuhnya.
“Apa itu kau? Haeryung? Na Haeryung?” pria itu kembali bersuara saat melihat Haeryung tidak bereaksi.
“Apa itu kau? Sungjin oppa? Na Sungjin?” Haeryung hanya mampu membeo. Memplagiati kata-kata milik pria dihadapannya. Pria didepannya tersenyum untuk menampilkan kedua lesung pipitnya, “Aku sangat merindukanmu, adikku.”
Pria bernama Sungjin itu merentangkan kedua tangannya, bersiap untuk memeluk Haeryung. Tapi Haeryung menggeleng, “Aku membencimu.”
“Akan aku biarkan kau melakukan itu.” Dengan tangan yang masih terangkat, Sungjin masih mengharapkan pelukan dari Haeryung.
Dalam hitungan detik, Haeryung menghambur kepelukan Sungjin dan menangis didada bidang Sungjin. Sungjin memeluk erat Haeryung sambil sesekali mencium puncak kepala dan mengusap rambutnya.
“Aku membencimu Oppa, sangat membencimu, kau harus tahu itu!” ucap Haeryung disela tangisnya. Tangan kanannya yang tadi ia kepalkan tak henti-hentinya memukul-mukul pelan dada Sungjin.
“Kau berhak untuk membenciku, tapi satu hal yang harus kau tahu, aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi.” Sungjin memberikan sebuah kehangatan pada Haeryung. Gadis itu sedikit mereda ketika mendengar apa yang diucapkan Sungjin.
Haeryung melepaskan pelukannya dan menatap Sungjin, “Apa itu sebuah janji?”
Sungjin tersenyum dan mengangguk, “Aku janji.” Jemari Sungjin menghapus jejak air mata Haeryung yang sudah mulai mengering.
“Aku lapar, apa kau lapar?”
~ DRIBBLOVE ~
Disinilah Sungjin dan Haeryung sekarang, disebuah restoran yang tidak terlalu mewah tetapi menu yang ditawarkan tidak jauh beda dengan restoran bintang lima. Sungjin sama sekali belum menyentuh makanannya, sedangkan Haeryung sudah hampir menyelesaikan steak ayamnya itu.
Merasa diperhatikan, Haeryung menghentikan makannya dan menatap Sungjin, “Oppa, berhentilah menatapku. Kau tidak akan kenyang dengan hanya menatapku.”
“Entah ini hanya perasaanku atau bukan, tubuhmu terlihat lebih berisi.” Sungjin menggoda adiknya itu. Dengan kecepatan cahaya, Haeryung segera menatap tubuhnya, “Benarkah?” Sungjin mengangguk.
Aku sering mendengar bila ibu hamil selalu mengalami pertambahan bobot tubuh, tapi bukankah ini terlalu cepat untuk usia kandunganku yang masih muda ini? Batin Haeryung.
“Itu mungkin karena kau tidak melihatku selama 2 tahun ini.” Haeryung meneguk jusnya dengan cepat, menghentikan acara makannya dengan segera. Tangannya menggapai serbet dan menghapus noda makanan didaerah mulutnya dengan canggung.
“Kau sudah selesai?”
Haeryung mengangguk kikuk, “Hm, aku sudah kenyang.”
“Benarkah?”
“Ya. Oppa, ceritakan jalan hidupmu selama 2 tahun itu. Aku ingin mendengarnya.” Haeryung berusaha mengalihkan topik pembicaraan mereka berdua. Tidak ingin bila Sungjin menggali dirinya lebih jauh lagi.
“Aku? Aku menjadi seorang kapten dalam sebuah klub basket.”
“Kau seorang atlet?” tanya Haeryung semakin penasaran.
Sungjin berdecak, “Menurutmu aku tidak pantas?”
Haeryung menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Gadis itu tersenyum canggung ketika mendengar pertanyaan kakaknya yang sangat menusuk dirinya.
“Tidak, hanya saja—“
Sungjin memotong pembicaraannya, “Jika kau ingin tahu, aku terpaksa.”
“Hm?”
“Ya, menjadi seorang atlet, itu sebuah keterpaksaan.” Sungjin menatap nanar cangkir kopi yang berada digenggamannya.
“Terpaksa? Jika itu terpaksa kenapa kau masih menjalani kehidupanmu itu?”
Sungjin tersenyum kecut. Pria itu menghisap sedikit kopi hitam yang masih mengeluarkan asap dan kembali menyimpannya di meja.
“Karena sekarang aku sudah menikmati semua ini. Memang, pada awalnya aku sangat malas untuk melakukan semua ini. Tapi, ketika aku mengetahui tujuan atas semua ini, aku melakukannya dengan segenap jiwa dan ragaku.”
Haeryung menggeleng, “Oppa, kau tahu? Aku adalah orang bodoh, berbicaralah dengan bahasa yang mudah aku pahami.”
Sungjin meraih kepala Haeryung dan mengacak pelan rambutnya, “Kau memang menggemaskan. Bahkan aku merutuki diriku karena telah meninggalkanmu.”
“Kalau begitu jangan pernah meninggalkanku lagi.” Haeryung memasang aegyo-nya. Sungjin hanya membalasnya dengan senyuman hangat.
“Beritahu aku mengapa kau tega meninggalkanku.”
Air muka Sungjin kembali berubah. Wajahnya menyiratkan sebuah kemarahan yang sudah lama melingkupinya. Haeryung hanya terpaku melihat kakaknya yang sama sekali tidak memberikan jawaban.
“Oppa?” Haeryung memberanikan diri untuk mengucapkan satu kata itu.
Sungjin menghembuskan nafasnya, “Kurasa aku tidak ingin kau mengetahuinya.” Suaranya sedekit bergetar dan melemah.
“Apa aku belum cukup dewasa dimatamu? Lalu apa penilaianmu tentang diriku yang sudah hidup sendiri selama 2 tahun ini? Apa aku masih saja seperti anak kecil?” Sebaliknya, Haeryung meninggikan nada bicaranya. Memberikan kesan bahwa dirinya sudah mulai kesal dengan perilaku Sungjin yang selalu menyembunyikan masalah darinya.
“Baiklah, aku minta maaf.” Haeryung tidak menjawab dan segera membuang muka.
Sungjin mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Berakhir dengan sedikit tarikan di hidung mancungnya.
“Aku sedang melakukan sebuah balas dendam.” Sungjin kalah, maka ia harus menyampaikannya.
Haeryung kembali menghadapkan wajahnya pada Sungjin. Memasang ekspresi tidak percaya pada kakaknya itu.
“Balas dendam? Kepada siapa? Atas perbuatan apa?” pertanyaan itu Haeryung lontarkan secara bertubi-tubi. Membuat Sungjin harus menceritakan semuanya pada Haeryung.
“Kepada seseorang, atas kematian kedua orang tua kita.” Jawaban singkat Sungjin berhasil membuat tubuh Haeryung mati rasa. Mengapa hal itu kembali muncul kepermukaan setelah ia berjuang mati-matian untuk melupakannya? Lantas, untuk apa ia harus kembali mendengar hal itu? Bukankah hal itu dapat memunculkan kembali rasa sesak didadanya?
“Kau mengetahui—pelakunya?” dengan terbata-bata Haeryung mengeluarkan apa yang ada didalam otaknya. Mungkin Sungjin bisa menilai jika pertanyaannya adalah pertanyaan yang bodoh. Bukankah bila kita melakukan balas dendam adalah karena kita sudah mengetahui pelakunya? Entahlah.
Sungjin mengangguk, “Ya. Aku sudah tahu.”
“Boleh aku tahu, siapakah orang itu?”
“Tuan, tolong tambah volume televisinya! Itu adalah sebuah berita tentang pertandingan klub favoritku!” teriakkan seorang wanita dari meja sudut kanan membuat semua orang fokus pada dirinya. Sedetik kemudian tatapan para pengunjung diarahkan pada televisi berlayar sedang yang sedang menampilkan sebuah iklan olahraga. Sebuah pertandingan basket.
“Sebuah pertandingan besar akan segera digelar di Seoul. Tim hebat dari Seoul akan bertanding melawan tim dari China.” ucap pria paruh baya yang diyakini sebagai seorang reporter.
Layar itu merubah tampilannya dengan gambar atlet-atlet basket Seoul dan sedikit tayangan pertandingan yang berhasil dijuarai tim Seoul. Euforia kemenangan pun turut mewarnai layar kaca tersebut.
“Pertandingan kali ini merupakan sebuah pertandingan persahabatan.” Suara reporter itu kembali terdengar, namun wajahnya tidak dimunculkan.
“Jungsoo dan kawan-kawan akan melawan tim China yang dipimpin Choi Siwon.” Haeryung menyipitkan matanya ketika layar menampilkan Park Jungsoo dan Siwon.
Matanya terbelalak ketika mengetahui siapa orang yang ada didalam sana. Sedetik kemudian Haeryung menatap Sungjin, “Oppa, kau—“
“Jangan berisik. Tunggu hingga selesai.” Titah Sungjin. Haeryung mengangguk dan kembali memfokuskan dirinya pada layar kaca, sesuai perintah kakaknya.
“Beberapa atlet basket seperti Lee Hyuk Jae, Cho Kyuhyun dan Choi Minho mendapat harapan dari semua penggemar mereka. Mereka dituntut untuk menciptakan point dalam jumlah yang besar, meski ini pertandingan persahabatan.”
Haeryung mengusap pelan perutnya saat gambar Kyuhyun ditayangkan, “Mengapa gambarnya ditampilkan.” Gumam Haeryung.
“Dia adalah sasaranku.” Ujar Sungjin dengan pelan.
Haeryung tersentak dan kembali menatap lekat Sungjin yang masih menatap televisi berwarna hitam itu, “Apa maksudmu?”
Sungjin tersenyum dan mengambil cangkir dengan kopi yang sudah mulai dingin didalamnya. Pria itu meneguk habis isinya dalam beberapa detik. Tangannya terlihat meremas cangkir berwarna putih porselen itu.
“Cho Kyuhyun, dialah pelakunya.”
Bagai terkena sengatan listrik, Haeryung membulatkan matanya seketika. Rasanya sakit. Tangannya yang berada diperut ratanya bergetar hebat. Ia juga merasa bila kursi yang sedang ia duduki berubah menjadi ribuan paku yang menusuk kulit tubuhnya. Haeryung juga merasakan hawa panas mengelilinginya.
Apa yang dikatakannya benar? Apa ini? Mengapa semuanya terasa sakit? Apa benar dunia sangat sempit? Takdir macam apa ini? Apa dosa yang pernah aku buat sehingga Tuhan menghukumku seperti ini?
Pertanyaan itu memenuhi otak Haeryung. Persis seperti gelas yang diisi air terus menerus hingga air itu meluap, namun ada meja yang menampungnya hingga air itu tidak jatuh. Haeryung meremas pakaiannya dan tertunduk. Bukan menatap ujung kakinya, ataupun menatap lantai. Melainkan menatap perut yang ia yakini ada seseorang didalamnya.
Semua ini terasa berat sayang, aku tidak sanggup, batin Haeryung. Gadis itu ingin sekali mengeluarkan air matanya sekarang juga. Tapi ia berusaha mehanannya dengan mengerjapkan matanya beberapa kali. Apa yang harus ia katakan pada Sungjin nanti bila ia menangis? Apa yang harus ia jawab ketika Sungjin mempertanyakan alasan tangisannya itu? Apa dia harus mengatakan kebenaran? Oh tidak, jika Haeryung melakukan itu, maka perang dunia ketiga dimulai.
Sungjin menautkan alisnya saat melihat tingkah aneh Haeryung. Sungjin mengusap pundaknya pelan, “Ada apa denganmu? Apa kau sakit?”
Haeryung kembali tersadar dan mengerjapkan matanya. Berusaha memasukkan kembali air matanya.
“Tidak, aku hanya—“
“Hanya?”
“Apa benar dia pelakunya, Siwon Oppa?” lagi-lagi Haeryung mengalihkan pembicaraannya. Sungjin harus menerima itu.
Pria untuk menghela nafasnya dan mengangguk, “Ya, dia pelakunya. Dan kau tidak perlu memanggilku Siwon.”
“Mengapa aku harus melakukan itu?”
“Karena ketika kau berada dihadapanku, aku adalah Na Sungjin. Kakak dari Na Haeryung, dan Choi Siwon adalah si pembalas dendam.”
Haeryung menelan ludahnya yang sudah terasa pahit, “Baiklah, aku akan membantumu.”
“Membantu apa?”
“Melakukan balas dendam.” Secara tidak sadar Haeryung mengucapkan kalimat itu.
Sungjin menggeleng, “Tidak. Aku tidak mengizinkannya.”
“Aku tidak sedang meminta izin kepada Sungjin Oppa. Aku sedang meminta izin kepada Choi Siwon.” Ucapan Haeryung sukses membuat Sungjin terdiam. Pernyataannya sangat sulit untuk diputarbalikan. Sebuah skakmat untuknya.
“Choi Siwon tidak ingin Haeryung terluka.”
“Bahkan aku sudah terluka.” Gumam Haeryung.
“Apa maksudmu?”
“Katakan bila kau menyetujuinya.”
“Choi Siwon hanya menginginkan Haeryung diam dan menunggu hasilnya.”
Haeryung mengangguk, “Baiklah. Tapi, jika aku sudah tidak bisa menahan keinginanku itu, maka biarkan aku untuk membantumu, Siwon Oppa.” Gadis itu sedikit menekankan kata-kata terakhirnya. Itu terdengar jelas ditelinga Sungjin.
Sungjin mengangguk dan mengulurkan tangannya, “Deal?”
Haeryung tersenyum dan meraih tangan Sungjin untuk berjabat tangan, “Deal.”
Keduanya bertatapan satu sama lain. Keegoisan tercetak tebal disana. Haeryung dengan keinginannya untuk membantu kakaknya dan Sungjin dengan keinginan untuk selalu berada disamping Haeryung tanpa kembali membuatnya terluka lagi.
Drrrttt
Sebuah getaran tercipta dari ponsel Haeryung yang berada diatas meja. Haeryung segera meraih ponselnya dan membuka kunci layar. Ternyata sebuah pesan. Haeryung melirik Sungjin yang mulai menyentuh makanannya. Gadis itu melihat ID pengirim di jendela obrolannya.
“Kyuhyun?” gumam Haeryung. Dengan sedikit takut, Haeryung menyentuh ikon ‘Lihat’ untuk membacanya.
Hei, long time no see. Maaf aku baru membalasnya, aku sangat sibuk. Kelihatannya serius, ada apa? Aku tidak janji untuk menjadi pelupa.
Haeryung tersenyum kecut, dengan cepat ia membalasnya.
Aku tidak yakin kau memiliki nilai mata pelajaran Bahasa Inggris yang baik. Pria arogan sepertimu tidak akan mudah mendapatkannya. Tidak, aku lupa tentang hal apa yang harus aku beritahu padamu, maaf. Lain kali saja, itupun bila aku mengingatnya. Jangan membalas pesan ini, bila perlu, langsung hapus. Annyeong~
Haeryung menyentuh ikon panah, artinya pesannya akan dikirim. Haeryung kembali menyimpan ponselnya dan tersenyum pada Sungjin yang sedaritadi menatapnya.
“Sepertinya penting.” Ujar Sungjin.
“Tidak. Tidak terlalu penting.” Haeryung tersenyum dan memutar-mutar jarinya. Sungjin hanya mengangguk sambil kembali melanjutkan memakan pesanannya.
Drrrttt
Ponselnya kebali bergetar, dengan malas Haeryung kembali membuka kunci layar ponselnya, “Sudah kubilang jangan membalasnya, dasar menyebalkan!” bisik Haeryung.
“Ada apa?” tanya Sungjin lagi ketika mendengar gumaman Haeryung yang terdengar menggerutu.
“Ah, tidak. Tidak keberatan bila aku membalasnya?”
“Kau punya waktu seumur hidupmu.” Jawab Sungjin santai.
Haeryung tersenyum dan kembali menatap layar ponselnya. Benar saja, Kyuhyun membalas pesannya.
Aku tahu kau sedang berbohong. Kau ingin seperti pinokio? Hidung memanjang karena berbohong? Aku menjadi lebih penasaran jika kau menyembunyikannya dariku. Jadi cepat beritahu aku, jika tidak, aku akan mendatangimu sekarang juga!
“Aish, pria ini benar-benar menyebalkan!” gerutu Haeryung sambil cepat-cepat mengetik balasan untuk Kyuhyun.
Ini bukan dunia fantasi. Jangan terlalu banyak menonton film kartun, itu sangat tidak pantas untuk pria yang sudah berumur sepertimu! Imajinasimu terlalu tinggi! Aku benar-benar lupa, tapi aku akan berusaha mengingatnya. Jadi, tunggulah sekitar dua atau tiga abad lagi, pria bermuka dua!
Haeryung sedikit membanting ponselnya ketika selesai mengirim pesannya. Gadis itu meramal bahwa Kyuhyun pasti segera menghubunginya pada saat ini juga dan meminta semua penjelasan darinya. Haeryung benar-benar malas menghadapinya.
“Seseorang mengganggumu?” tanya Sungjin.
“Tidak, hanya—“
Drrtt Drrtt Drrtt
Ponsel milik Haeryung kembali menyala, kali ini bukan tanda sebuah pesan masuk, melainkan sebuah panggilan masuk untuknya. Dugaan Haeryung benar, Kyuhyun menghubunginya. ID Kyuhyun tercetak jelas disana.
“Oppa, aku keluar sebentar.” Dengan ragu, Haeryung meminta izin pada Sungjin. Bila dia mengangkat teleponnya disini, akan berakibat fatal.
Sungjin menggerakkan jarinya berulang-ulang, menandakan bahwa ia mengizinkan Haeryung untuk mengangkat teleponnya. Dengan tergesa-gesa, Haeryung berlari kecil untuk keluar dari restoran tersebut. Setelah merasa dirinya aman, Haeryung menggeser ikon hijaunya ke arah kanan.
“Sudah ku katakan jangan menghubungiku!” gerutu Haeryung.
“Aku seorang pemaksa, kau tahu?” berbeda dengan Haeryung, suara Kyuhyun terdengar lebih santai.
Haeryung berdecak, “Terserah padamu.”
“Katakan apa yang kau ingin katakan.”
“Aku lupa.”
“Benarkah?”
“Iya.”
“Aku sedang berada diperjalanan menuju apartemenmu.”
Haeryung sedikit terkejut dengan ucapan Kyuhyun, “Kau!” sedetik kemudian Haeryung tersadar akan sesuatu dan tersenyum miring, “Baiklah, cari apartemenku sampai nafasmu terhenti.”
Kyuhyun tertawa diseberang sana, sedangkan Haeryung hanya mengernyitkan dahinya, “Mengapa kau tertawa?”
“Hahaha, nafasku tidak akan terhenti untuk mencari apartemenmu itu karena aku baru saja bertemu dengan Dami. Dan dia berkata dia akan mengantarku menuju apartemenmu.”
“Apa? Bagaimana bisa? Kau bohong!” elak Haeryung. Sekali lagi, boomerang kembali mengarah padanya.
“Jika aku ceritakan, maka butuh waktu berjam-jam. Intinya sangat mudah, Hyuk Jae Hyung membantuku untuk meyakinkan Dami.”
“Apa?”
To Be Continue
Hola, saya kembali lagi dengan part 5 ^^ dari komentar-komentar sebelumnya dapat disimpulkan bahwa FF-nya terlalu pendek, lalu apakah part ini ‘sedikit’ lebih panjang, atau sama saja? Hehe. Kritik dan saran yang membangun sangat dibutuhkan ^^ see u in the next part, annyeong!
%d blogger menyukai ini: