DRIBBLOVE Part 4

0
ff nc dribblove kyuhyun basketball
DRIBBLOVE [Part 4]
Author : namschoa
Title : DRIBBLOVE
Category : NC21, Yadong, Romance, Chaptered
Cast :
Cho Kyuhyun
Na Haeryung
Lee Donghae
Choi Siwon
Other cast
Disclaimer : Fiksi ini terinspirasi dari ketidakikutsertaan Kyuhyun untuk mengikuti event SM beberapa waktu lalu karena tur-nya bersama KRY, sehingga saya membuat fiksi dengan karakter Kyuhyun sebagai pebasket xD
Sebelumnya makasih yang sudah memberi kritik dan saran ^^ yang mau berteman yuk follow twitter à @sintiaadv atau ig à sintia.devi atau id line à sintiaadv hehe /promo dikit/

So, enjoy~
WARNING!! FOR TYPO(S)~
 “Untuk siapapun yang membuat kalimat ‘Hidup Adalah Pilihan’, kami ucapkan terimakasih atas pelajarannya.”
~Happy Reading~
“Hey! Karena Donghae-ssi sudah pulang ke Korea, aku ingin meminta gaji untuk menjadi asistenmu selama 1 hari kemarin,” Gadis itu menyerahkan telapak tangan kanannya pada Kyuhyun, bertindak seperti seorang pengemis yang meminta belas kasihan.
“Aku juga minta uang tambah untuk kekhilafanku yang membuat kau merasa cukup senang.” Lanjutnya.
Kyuhyun tersenyum mengejek, tangannya meraih jaket hitam yang tersampir disofanya, “Aku juga yakin kau pasti senang akan hal itu.”
“Tidak. Jika aku boleh jujur, aku merutuki diriku yang sekarang. Apa disini ada semacam gas atau sesuatu yang bisa membuat akal sehat seseorang menghilang dalam sekejap?” mata Haeryung diedarkan ke seluruh sudut apartemen Kyuhyun. Persis seperti seorang detektif yang sedang memecahkan suatu kasus.
“Kau bahkan sudah kehilangan akal sehatmu.” Kyuhyun meraih kunci mobilnya dan bergegas menuju pintu depan. Haeryung yang melihatnya segera memprotes, “Yak! Kau mau kemana? Mana uangku? Aku ingin cepat-cepat pergi dari sini!”
“Jangan mengangguku dulu, aku sangat sibuk sekarang.” Balas Kyuhyun sambil memakai sepatu kanannya tanpa menatap Haeryung sama sekali.
“Apa? Sibuk? Kau hanya sedang memakai sepatu!” Haeryung segera mengambil sepatu kiri milik Kyuhyun dan menyembunyikannya dibelakang tubuhnya.
“Yak! Apa yang kau lakukan! Berikan sepatu itu! Aku sangat terburu-buru!”
“Tidak sampai kau memberiku uang!” tantang Haeryung yang tetap teguh dengan pendiriannya.
“Kau memang seorang penjilat!” Kyuhyun mengambil dompetnya dan memberikan beberapa lembar won dengan nominal yang besar. Haeryung lantas menjatuhkan sepatu Kyuhyun dan menerima uangnya dengan mata yang berkilauan—setidaknya itu yang terlihat.
“Sisanya setelah aku pulang. Aku yakin jika aku memberikan semua uangnya sekarang, kau akan melarikan diri.”
Haeryung berhenti dari kegiatan ‘menghitung uangnya’ dan menyipitkan matanya pada Kyuhyun yang lebih tinggi darinya, “Apa maksudmu?”
“Apa? Apa aku mengatakan sesuatu yang ingin kembali kau dengar?” Haeryung mengangguk.
Kyuhyun tersenyum miring, “Sayangnya aku tidak ingin mengabulkan permintaanmu. Anggap saja aku tidak pernah mengatakan apapun padamu. Sudahlah, aku pergi dulu.“ Kyuhyun membuka pintu dan menutupnya dengan cepat, meninggalkan Haeryung yang masih terdiam ditempatnya.
“Apa maksudnya? Aku tidak mengerti. Ah entahlah.” Haeryung mengangkat bahunya dan kembali tersenyum saat melihat lembaran uang ditangannya. Hari ini hari keberuntungannya.
~ DRIBBLOVE ~
Donghae dan Siwon memasuki bandara Incheon setelah landing. Mereka baru saja tiba dari China untuk mengalihkan urusan mereka. Siwon dengan kacamata hitamnya berjalan tenang disamping Donghae. Sedangkan Donghae tampak sibuk mencari seseorang.
“Kita tunggu disini saja,” Donghae menunjuk deretan sebuah bangku, meminta Siwon untuk duduk dibangku besi berwarna putih susu tersebut. Siwon menurutinya.
Donghae mengotak-atik ponselnya untuk menghubungi seseorang, tapi hanya suara operator wanita yang menjawabnya.
Tak lama Kyuhyun muncul dengan gayanya yang santai. Pria itu memakai masker untuk sekedar menutupi identitasnya dari paparazzi. Donghae melambaikan tangannya agar Kyuhyun dapat menemukannya. Untungnya mata elang Kyuhyun segera menangkap gesturnya.
“Maaf aku terlambat.” Ujar Kyuhyun saat tiba dihadapan Donghae.
Siwon yang mendengar itu segera berdiri dan menyapa Kyuhyun, “Senang bertemu denganmu Kyuhyun-ssi.” Dengan lesung pipitnya, Siwon tersenyum manis sambil mengajak Kyuhyun untuk berjabat tangan. Mata Kyuhyun menatap mata Siwon yang tertutup kacamata hitam—meski mustahil.
Kyuhyun meraih tangan kanan Siwon, “Senang bertemu denganmu.” Balasnya singkat.
“Postur tubuhmu sangat ideal untuk seorang atlet basket,”
“Begitu juga kau,” Kyuhyun memperhatikan tubuh Siwon dari atas hingga bawah.
Siwon tersenyum, kali ini dia menjadi seorang pria yang tenang, “Jadi, kau menerima tawaranku?”
“Akan ku lakukan dengan senang hati.”
“Bagus. Lalu, apa kau sudah tahu tentang taruhannya?” Lagi-lagi Kyuhyun mengangguk.
“Aku sudah mencabut tuntutanku. Jika kau tidak percaya, kau bisa bertanya pada Donghae-ssi. Dia punya buktinya.” Siwon melirik kearah Donghae dan Donghae mengangguk.
“Tidak usah, aku percaya padamu.” Ucap Kyuhyun pada akhirnya.
“Senang bekerjasama denganmu, Kyuhyun-ssi.”
“Aku juga.”
“Kau tahu Kyuhyun-ssi? Bila sebelumnya kau tidak melakukan hal itu, maka kita tidak akan pernah menjadi seperti ini.” Siwon membuka kacamatanya agar obrolan dengan Kyuhyun menjadi lebih nyaman.
“Aku tidak akan melakukannya bila mereka tidak melakukan hal itu padaku.” Jawab Kyuhyun santai. Pria itu menepuk pelan pundak Siwon. Siwon memandang tangan Kyuhyun yang berada dibahunya, tepukan itu bak sebuah sindiran baginya. Semuanya sangat terasa.
“Kau tahu, Siwon-ssi? Kau hanya memperhatikan apa yang kau lihat, bukan apa yang tidak kau lihat.”
“Apa maksudmu?” Siwon semakin tidak mengerti dengan arah pembicaraan Kyuhyun. Begitupula dengan Donghae yang hanya mampu memperhatikan mereka berdua.
“Lihat saja nanti.” Nada Kyuhyun masih terasa dingin ditelinga Siwon.
Siwon tersenyum dan kembali memakai kembali kacamata hitamnya, “Baiklah, aku pamit untuk pergi.” Siwon menyeret kopernya dan menjauh dari pandangan Kyuhyun dan Donghae.
Setelah kepergian Siwon, Donghae segera mengintimidasi Kyuhyun dengan pertanyaan yang ada diotaknya. Tapi tak ada satu pertanyaan pun yang Kyuhyun jawab. Sebaliknya, Kyuhyun malah melangkah pergi untuk meninggalkan bandara.
~ DRIBBLOVE ~
Kyuhyun-ssi, terimakasih untuk uangnya. Aku tidak memerlukan uang tambahannya. Kau tahu kenapa? Karena aku tidak ingin berlama-lama di apartemenmu yang sangat dingin ini. Ditambah aku sudah lelah menjadi asistenmu, meski hanya satu hari, itu terasa seperti bertahun-tahun. Sudah ya, aku sangat terburu-buru untuk menulis catatan ini karena bila kau sudah pulang aku yakin aku tidak bisa pulang. Sekali lagi sudah ya, maksudku dari awal hanya untuk menulis catatan kecil, bila aku menulisnya terlalu panjang itu akan menjadi sebuah catatan besar. Jaga kesehatanmu, oke ini tidak perlu, tapi karena aku terlanjur menulisnya dan aku tidak dapat menemukan penghapus, aku biarkan tulisan ini ada. Hanya saja, kau harus menganggap tulisan itu tidak ada.  Sudah, aku benar-benar harus pergi sekarang, Annyeong!
-HR-
Nb : Kuharap kita tidak lagi bertemu, aku serius! Jika aku bertemu dan berurusan kembali denganmu, aku akan mengutukmu! Oh ya, aku juga mengambil beberapa persediaan dikulkasmu, anggap saja kau sedang berbaik hati padaku.
Kyuhyun terpaku melihat deretan tulisan Haeryung yang berada ditangannya. Pria itu mendesah kasar dan kembali menyimpan kertas berukuran sedangnya.
“Kyuhyun, apa tidak ada sekaleng minuman pun untuk melepas dahagaku?” Donghae menundukkan kepalanya untuk melihat isi kulkas milik Kyuhyun.
“Apa kau bercanda? Aku sudah membeli persediaan makanan dan minuman untuk satu bulan pemakaian.” Kyuhyun sedikit tersentak dengan penjelasan Donghae.
“Tidak, aku tidak bercanda. Disini memang tidak ada apa-apa selain—“ Donghae mengeluarkan sebuah makanan kaleng yang tinggal setengah bagian, “Ini.”
“Gadis itu benar-benar seorang penjilat!” ucap Kyuhyun dengan gusar. Kyuhyun memukul meja makannya dengan keras hingga kertas tadi terjatuh. Dengan cepat, Donghae memungutnya, “Ini—HR? Siapa dia?”
“Haeryung, gadis penjilat itu.” Jawab Kyuhyun seadanya.
“Kau bercanda? Dia menjadi asistenmu selama aku pergi?” Donghae tertawa dengan keras sedangkan Kyuhyun masih dengan mood buruknya.
“Apa tidak ada yang terjadi selama aku pergi?”
“Apa maksudmu?”
Donghae mengangkat bahunya, “Aku tidak yakin kau bisa menahan hasratmu atau tidak.” Donghae membuka kembali map yang berisi surat tuntutan Siwon untuk sekedar di cek keasliannya. Dan kali ini lebih teliti.
“Ya, asal kau tahu, aku melakukannya, aku tidak tahu dengan apa yang terjadi padaku saat itu.” Gumaman Kyuhyun dibuat sedikit keras agar Donghae dapat mendengarnya juga.
“APA?!”
Kyuhyun terkejut mendengar suara Donghae yang sedikit berteriak. Kyuhyun berdecak dengan kasar, ”Itu hal yang wajar ketika seorang pria dan wanita tinggal satu atap.”
“Bukan itu maksudku, ini, lihatlah!” titah Donghae sambil menyerahkan mapnya pada Kyuhyun.
Kyuhyun membaca bagian yang ditunjuk Donghae dengan seksama, “Na Sungjin.”
“Siwon, bukan nama aslinya?”
Kyuhyun menggangguk, “Kau baru tahu?”
“Apa maksudmu? Kau sudah mengenalnya sebelumnya?” Kyuhyun kembali mengangguk, “Lebih dari mengenalnya.” Pembicaraan Kyuhyun membuat Donghae menjadi semakin penasaran.
“Sebenarnya aku tidak terlalu mengenal Sungjin, yang aku kenal adalah Na Sungwook.” Mata Kyuhyun menerawang. Seperti mengingat masa lalu yang sudah tertutup dengan debu diotaknya.
“Sungwook? Bukankah itu korban—“
“Dia adalah ayah Sungjin, orang yang memberiku sebuah ketidakadilan saat di China, 2 tahun yang lalu.” Donghae masih setia untuk mendengarkannya.
“Aku bisa menerimanya, tapi tidak dengan teman-temanku. Jadi, aku merasa dia harus dihancurkan.”
“Jadi kau—“
Kyuhyun menggeleng, “Tidak, aku tidak berniat membunuhnya. Itu hanyalah sebuah kebetulan dan karena pengaruh alkohol yang aku minum.” Kyuhyun menarik nafasnya, “Dan kejadian itu pun terjadi.”
Kyuhyun menyunggingkan senyum kecutnya, “Sebulan kemudian, aku tidak menyangka bahwa anaknya datang ke China untuk mencariku dan dia menuntutku.”
Donghae menyipitkan matanya, ia lalu teringat sebuah ucapan. Ucapan yang pernah ia dengar dengan jelas. Donghae menutup kedua matanya untuk mengingatnya setiap untaian katanya.
“Orangtuaku sudah meninggal 2 tahun lalu karena sebuah kecelakaan mobil.”
“Molla. Kakakku meninggalkanku, jadi aku pikir, dia sudah tidak menganggap sebagai adiknya.”
“Dia akan kembali sambil membawa sebuah kabar bahagia.”
Donghae membuka matanya dan memasang raut wajah yang penuh keterkejutannya, “Tidak. Tidak mungkin.”
“Apa yang tidak mungkin?” Kyuhyun menautkan alisnya dan menatap Donghae dengan raut wajah bingung.
“Aku harus pergi.”
~ DRIBBLOVE ~
“Haeryung-ah, darimana kau mendapatkan makanan sebanyak ini?” Dami membelalakkan matanya saat Haeryung pulang dengan sekarung penuh makanan dan minuman. Seingatnya, gaji yang diberikannya tidak akan cukup untuk membeli semua itu.
Dengan terengah-engah, Haeryung membawa karung itu ke depan lemari es, dan terbujur kaku disampingnya, dengan peluh yang mengalir di dahinya.
“A—Akuh, baru sajah, me—mendapath, ber—kahhh,” Haeryung menggerakkan tangannya sebagai kipas, memberi sedikit udara pada tubuhnya yang kepanasan.
“Kau mencuri dimana? Bagaimana bila ada polisi yang mengetahui hal ini?” Dami terlihat panik. Bagaimana tidak, Dami sudah tahu jika sahabatnya itu adalah seorang gadis yang nekat. Ia tidak mau Haeryung berbuat macam-macam. Dia berjalan kesana-kemari sambil melihat keluar jendela. Takut bila ada suara sirine mobil polisi yang mengarah ketempatnya.
Haeryung menggeleng dan melambaikan tangannya, “Tidak, aku tidak mencurinya, aku bersumpah,” jari telunjuk dan jari tengahnya ia tegakkan.
“Lalu darimana kau mendapatkannya?”
“Apartemen Kyuhyun.” Jawab Haeryung lemah.
“APA?! KYUHYUN? K—KAU? BA—BAGAIMANA BISA?” Dami kembali membulatkan matanya, tapi kali ini lengkap dengan mulutnya yang terbuka lebar.
Haeryung mengibaskan rambutnya dengan bangga dan berkedip genit, “Kau belum pernah melihat Hyuk Jae yang sedang latihan dengan keringat mengalir ditubuhnya secara langsung, kan?”
“APA?! BAGAIMANA BISA KAU—HAERYUNG-AH, CERITAKAN PADAKU SEBENARNYA ADA APA?” Dami berteriak-teriak dengan tidak sabar, sedangkan Haeryung tersenyum senang setelah sukses memanas-manasi temannya itu.
“Aku akan menceritakannya, tapi dengan satu syarat.”
“Apa itu?”
“Naikkan gajiku.” Haeryung memasang aegyo-nya. Dami berdecak dan memalingkan wajahnya, “Pantas saja Kyuhyun memanggilnya si penjilat.” Gumam Dami yang sebenarnya masih bisa didengar oleh Haeryung.
“Hei hei hei, kau bicara apa? Jangan membenarkan ucapan pria itu!” ucap Haeryung tak terima.
“Baiklah, maafkan aku. Cepat, ceritakan apa yang terjadi.”
“Jadi—“
Belum Haeryung menjelaskan, ponsel miliknya bergetar, menandakan ada sebuah panggilan masuk untuknya. Lee Donghae. Begitulah ID yang tercetak di ponselnya. Haeryung sedikit bingung, mengapa Donghae meneleponnya. Apa Kyuhyun marah karena isi lemari es-nya kosong?
Dengan cepat Haeryung menggeser ikon hijau dan menempelkan ponselnya ke telinganya, “Halo, Donghae-ssi?”
“Haeryung-ssi, apa kita bisa bertemu?” suara Donghae terdengar terengah-engah, seperti seorang yang berlari dan terburu-buru.
“Ah, memangnya ada apa? Apakah Kyuhyun berbuat sesuatu? Apa Kyuhyun marah karena aku mengambil semua persediaannya?” Haeryung melirik Dami yang juga sedang memperhatikannya.
“Tidak, ini bukan tentang hal itu.”
“Lalu?”
“Temui aku di Kona Beans sekarang juga. Aku akan sampai dalam sepuluh menit.”
“Tapi Donghae-ssi—“
“Donghae-ssi?” Donghae memutuskan panggilannya secara sepihak. Haeryung menghentakkan kakinya kesal, “Kenapa dia memutuskan teleponnya.”
“Kedengarannya sangat penting.” Dami rupanya sedikit menguping obrolannya.
“Molla. Dami-ah, tolong bereskan makanan ini, aku harus pergi.” Haeryung memakai kembali mantelnya dan berlari keluar.
“Hey, Hey! Jangan lupa tanyakan kontak pribadi Hyuk Jae!” teriak Dami.
“Lihat saja nanti!” Balas Haeryung dengan teriakan yang sama-sama berfrekuensi tinggi.
Haeryung berlari diantara padatan pejalan kaki yang memenuhi trotoar. Untung saja jarak apartemennya dengan Kona Beans tidak terlalu jauh. Dengan berjalan kaki saja, ia akan sampai dalam waktu 8 menit.
Haeryung seperti lupa dengan kelelahan sebelumnya saat ia membawa sekarung penuh makanan. Yang ia ingat, hanyalah ia harus bertemu dengan Donghae sekarang juga. Nadanya saat ditelepon tadi begitu serius, berarti ini sangat penting.
Haeryung yang sudah tiba di Kona Beans segera mencari Donghae. Namun, pria itu belum terlihat sama sekali. Itu artinya pria itu belum datang. Haeryung memutuskan untuk mencari meja kosong dan memesan sebuah minuman untuk melepaskan dahaganya.
Tak sampai 5 menit, seorang pria menepuk bahunya dan menyapanya, “Maaf, apa aku sangat terlambat?”
“Donghae-ssi? Tidak, aku baru saja tiba. Duduklah.” Donghae menurut dan duduk dihadapan Haeryung sambil tersenyum.
“Kau ingin pesan sesuatu?”
Donghae menggeleng, “Tidak. Aku sangat terburu-buru. Aku hanya ingin menanyakan suatu hal padamu.”
Haeryung mengangguk, “Baiklah aku akan menjawabnya semampuku.” Haeryung mengangguk mantap.
“Apa aku terlihat seperti seorang wartawan yang sedang mewawancarai narasumber?” Donghae sedikit menggodanya.
“Wartawan bodoh mana yang ingin mewawancarai narasumber yang sangat bodoh ini.” Balas Haeryung. Keduanya tertawa. Sepertinya mereka mulai akrab.
“Baiklah kali ini aku akan serius.” Donghae memantapkan dirinya.
“Aku juga.” Haeryung kembali menunjukkan kepolosannya yang lagi-lagi membuat Donghae tertawa, “Hahaha, bahkan aku tidak bisa serius jika melihat wajahmu yang konyol itu.”
“Benarkah? Padahal aku sedang berusaha serius.” Haeryung menekan-nekan kedua pipinya dengan kepalan tangannya. Memperlihatkan aegyo yang sedang ia buat pada Donghae.
“Sudahlah, lupakan. Kita santai saja.” Haeryung kembali mengangguk.
“Begini, aku ingin kau menjawabnya dengan benar. Aku tidak tahu ini benar atau salah. Ini hanyalah pertanyaan bodoh yang sekilas berada diotakku.” Donghae menatap Haeryung kedalam matanya.
“Kalau tidak salah kau pernah mengatakan bahwa orangtuamu meninggal 2 tahun lalu dan kakakmu juga hilang. Apa itu benar?”
“Iya, kau benar, aku pernah mengatakan hal itu.” Haeryung membenarkan perkataannya meski ia tahu bukan itu pertanyaan yang sebenarnya.
“Jika aku boleh tahu, apa kakakmu pergi ke China?”
Kali ini Haeryung menggeleng, “Aku tidak tahu. Kakakku tidak memberitahuku.”
Donghae melipat bibirnya kedalam dan mengangguk, “Apa—kau mengenal Na Sungjin?”
Seketika Haeryung terkejut saat nama yang tidak asing ditelinganya keluar dari mulut Donghae. Donghae yang melihat ekspresi Haeryung segera mengerti dengan alurnya.
“D—Dia kakakku. Sungjin, dia kakakku. Apa kau bertemu dengannya? Katakan bahwa aku membencinya. Tapi aku sangat merindukannya.” Bulir air mata Haeryung mulai keluar meski Haeryung tidak terisak. Tangannya bergetar, dan tetesan air matanya jatuh mengenai tangan itu.
Kakaknya yang hilang tanpa kabar sedikitpun telah ditemukan. Meski Haeryung tidak yakin bagaimana kehidupan kakaknya yang sekarang. Apa dia sudah menikah? Apa dia kaya? Apa dia pengusaha? Entahlah, hanya jawaban kosong diotaknya.
Donghae tidak bisa berkata-kata, dia hanya memilih diam. Terlalu bingung dengan apa yang harus ia katakan dan apa dampak dari perkataannya itu nanti. Lagi-lagi ia diam, lebih memilih untuk menatap meja berwarna coklat tua.
Haeryung meraih kedua tangan Donghae dan menggenggamnya. Membuat Donghae mau tidak mau menatapnya.
“Donghae-ssi, katakan, apa kau bertemu dengannya? Apa sekarang dia disini? Di Seoul?” Haeryung menatap Donghae dengan sendu. Membuat Donghae menjadi iba.
“Aku bertemu dia saat di China.” ucap Donghae pada akhirnya.
“Lalu, apa yang dia katakan?” Mata Haeryung menjadi sedikit lebih berbinar dari sebelumnya. Kali ini Haeryung mengusap air matanya meski matanya masih terlihat sembab.
“Dia tidak mengatakan apa-apa selain kau harus menjaga dirimu sendiri. Dia tidak tahu apa dia bisa kembali atau tidak.” Bual Donghae.
Haeryung melepaskan genggamannya dan melemah. Raut wajah sedihnya bertambah menjadi berkali-kali lipat. Tapi kali ini tidak ada air mata yang menetes.
“Begitu? Itu cukup daripada tidak meninggalkan sebuah pesan pun. Tapi, bagaimana bisa kau bertemu dengannya? Apa dia bekerja ditempat yang kau kunjungi?” rasa penasaran Haeryung semakin menjadi-jadi, membuat Donghae kembali bingung dengan kebohongan apa yang harus ia katakan lagi.
“Hey, bukankah aku yang ingin mewawancaraimu?” Haeryung mengangguk, “Baiklah, setidaknya aku harus berterimakasih padamu. Ada lagi pertanyaan lain?”
“Tentu saja.” Jawab Donghae dengan mantap.
“Maka aku akan menjawabnya dengan benar.”
“Apa kau menyukai Kyuhyun?”
“Nde?”
~ DRIBBLOVE ~
“Hyung, mulai hari ini kita harus berlatih dengan keras untuk menghadapi sebuah pertandingan bulan depan.” Kyuhyun memainkan bola basket ditangannya. Kyuhyun dan teman-temannya baru saja melakukan latihan yang memang rutin dilakukan. Tapi kali ini Kyuhyun meminta mereka untuk sedikit menambah waktu latihan dan memantapkan semua konsep bermain timnya.
Jungsoo mengusap keringatnya dengan saputangan kecil miliknya dan meneguk sebotol air mineral, “Aku mengerti tapi untuk apa?”
“Untuk memenangkan pertandingan tentu saja.”
“Apa kita akan bertanding dengan tim yang kuat?” Kali ini Hyuk Jae ikut dalam pembicaraan mereka. Kyuhyun mengangguk, “Lawan kali ini cukup berat.”
“Memangnya siapa lawan kita, Hyung?” Minho menepuk bahu Kyuhyun dan duduk disampingnya.
“Choi Siwon. Ah tidak, Na Sungjin, anak dari pelatih Na Sungwook yang meninggal 2 tahun yang lalu.”
Sontak semua terkejut dengan apa yang Kyuhyun bicarakan. Semuanya tiba-tiba memiliki lidah yang kelu, tidak tahu dengan apa yang harus mereka bicarakan. Terlalu banyak pertanyaan diotak mereka.
“Pelatih Sungwook?” Hyuk Jae menyipitkan matanya.
“Ya, Sungjin akan melakukan balas dendam terhadapku.” Kyuhyun meremas botol air mineralnya yang sudah kosong.
“Tenang saja, kami akan membantumu dan menurutku itu bukan salahmu. Itu kesalahan kami semua yang tidak terlalu dewasa pada saat itu.” Jungsoo menghembuskan nafasnya.
“Tapi kita memang tidak mendapatkan keadilan, Hyung. Wajar jika kita menuntut hak kita pada saat itu.” Jungsoo mengangguk, “Aku tahu. Tapi lihat, hanya kau pihak yang dituduh, padahal kau tidak benar-benar melakukan hal itu.”
“Aku bersumpah itu sebuah ketidaksengajaan, Hyung.”
“Aku tahu.” Jungsoo mengusap pelan punggung Kyuhyun, memberikan sebuah kekuatan untuknya yang pasti sedang rapuh. Kyuhyun pun dapat merasakan sebuah kehangatan darinya, persis seperti seorang ayah yang bersikap lembut pada anaknya.
“Kita yang memulai semua ini, dan kita juga yang harus menyelesaikannya.” Ucap Jungsoo memberi semangat pada timnya. Semuanya bersorak-sorai dan mengangkat tangannya. Seperti mendapat sebuah semangat yang bergejolak dalam diri mereka.
Kyuhyun tersenyum dan memberikan Jungsoo sebuah ucapan terimakasih dengan gesturnya. Jungsoo mengangguk, mengiyakan apa yang Kyuhyun lakukan.
To Be Continue
Hola, saya kembali lagi dengan part 4 ^^ dari komentar-komentar sebelumnya dapat disimpulkan bahwa FF-nya terlalu pendek, lalu apakah part ini ‘sedikit’ lebih panjang, atau sama saja? Hehe. Kritik dan saran yang membangun sangat dibutuhkan ^^ see u in the next part, annyeong!

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: