DRIBBLOVE Part 2

0
kyuhyun ff nc dribblove basket kyuhyun
DRIBBLOVE [Chapter 2]
Author : namschoa
Title : DRIBBLOVE
Category : NC21, Yadong, Romance, Chaptered
Cast :
Cho Kyuhyun
Na Haeryung
Lee Donghae
Other cast
Disclaimer : Fiksi ini terinspirasi dari ketidakikutsertaan Kyuhyun untuk mengikuti event SM beberapa waktu lalu karena tur-nya bersama KRY, sehingga saya membuat fiksi dengan karakter Kyuhyun sebagai pebasket xD

So, enjoy~
WARNING!! FOR TYPO(S)~
 “Sebuah keberuntungan membuat kami semakin mengenal satu sama lain.”
~Happy Reading~
“Malam ini kau harus terlihat cantik didepannya.” Dami sibuk memilih baju yang berjejer rapi dilemari milik Haeryung. Tidak terlalu banyak memang, tapi baju-bajunya masih berwarna cerah dan layak untuk dipakai.
Haeryung sendiri hanya sibuk menggulati kasurnya. Berguling kesana kemari dengan earphone ditelinganya, seakan tak peduli pada Dami. Sesekali ia mengotak-atik laptopnya untuk mengganti lagu yang ia putar
“Aish! Apa kau tidak punya gaun?” Haeryung menggeleng, “Gaun? Kuno.”
“Lalu kau akan memakai apa?”
“Kaus santai, jeans, boots dan jaket tebal. Udara malam ini sangat dingin.” Haeryung mengedipkan matanya dengan genit.
“Yang benar saja, kau akan memakai semua itu?” Haeryung mengangguk, “Itu lebih dari cukup.” Haeryung membuka kaleng berisi makanan dan memakannya dengan santai. Dami hanya menggeleng.
“Kau tidak butuh bantuanku?” tanya Dami lagi.
“Tidak. Aku butuh satu bantuanmu.” Haeryung mengangkat jari telunjuknya ke udara.
Dami duduk ditepi kasur dan menatap Haeryung dengan serius, “Mwoya?”
“Ambilkan aku satu kaleng soda.”
“Aku serius!” jerit Dami. Sudah berkali-kali ia merasa dipermainkan oleh sahabatnya itu.
Haeryung terkikik, “Aniya, kau cepat sekali marah. Kau sedang datang bulan, huh?” gadis itu melahap makanannya dengan kasar.
“Bawakan aku sebuah kue sedang. Seperti kue perayaan,” Dami menyipitkan matanya, “Romantis sekali, kau ingin meniup lilin bersamanya?”
Haeryung menggeleng, “Hanya ingin mengucapkan selamat.”
“Selamat untuk apa?”
“Entah. Mungkin, sebuah ucapan selamat yang datang dari diriku sendiri.” Nada bicara Haeryung terlihat misterius. Gadis itu memiringkan bibirnya dan kemudian menjentikkan jarinya, “Cha, aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengannya.”
~ DRIBBLOVE ~
Kyuhyun tampak memakai kemeja santainya dengan sebuah jeans hitam dengan merek ternama. Pria itu menyemprotkan sedikit parfum agar tidak terlalu terkesan biasa saja. Rambutnya ia biarkan dengan gayanya. Meski begitu Kyuhyun terlihat tampan.
“Kau benar-benar akan memakai pakaian seperti itu?” Donghae datang dengan membawa setelan jas ditangannya, sedikit aneh dengan pakaian yang Kyuhyun kenakan.
Kyuhyun masih menatap dirinya di cermin, “Aku berani bertaruh gadis itu akan memakai kaus santai dan jeans. Dia gadis nakal.”
Donghae berdecak, “Sepertinya kau tertarik dengannya.”
“Aku akui jika gadis itu cantik, tapi aku belum menyukainya layaknya seorang gadis.”
“Aku mendapat firasat jika kau akan menjadikannya sebagai asistenmu.” Donghae melipat tangannya dan bersandar pada pintu. Kali ini Kyuhyun terdiam menatap wajahnya pada cermin.
“Baiklah, karena ini adalah urusanku, maka aku yang akan mengurusnya.” Donghae membuka kenop pintu kamar Kyuhyun dan hendak berlalu, tapi suara Kyuhyun menghentikannya, “Kau tahu, jika diperhatikan, wajah gadis itu sangatlah tidak asing.”
Donghae berbalik dan menatap Kyuhyun yang masih memunggunginya, “Benarkah? Apa kau begitu tertarik hingga menelusuri semua bagian wajahnya? Atau jangan-jangan semua bagian tubuhnya?” pria itu sedikit menggoda adiknya itu.
“Aish! Aku serius!” Kyuhyun berdecak sedangkan Donghae hanya memanggut-manggutkan bibirnya.
“Besok aku akan pergi ke China, aku harap hari ini aku mendapatkan seseorang untuk menggantikan posisiku.” Kyuhyun mengangguk, “Jangan lupa untuk membawa koper yang sudah aku siapkan.”
“Kau yakin akan berhasil?” Donghae menautkan alisnya. Sekarang pria itu merasa bahwa dirinya adalah seorang penyeludup.
“Coba saja. Aku tidak terlalu yakin.” Kyuhyun memakai jaketnya dan mengambil kunci mobil yang berada di nakasnya.
Kyuhyun berjalan melewati Donghae yang berada dipintu, “Bahkan itu melebihi gajiku.” Seketika Kyuhyun diam tepat dihadapan Donghae. Kyuhyun masih menatap lurus kedepan.
“Aku akan memberimu gaji yang lebih jika kau berhasil melakukannya.”
Donghae tersenyum tipis, “Baiklah, komandan!” suaranya terdengar mengejek.
~ DRIBBLOVE ~
Disinilah Haeryung, disebuah restoran mewah yang sengaja direservasi secara privat oleh penyelenggara yang membuat acara ini. Gadis itu tampak acuh dengan pandangan aneh dari semua orang disana. Pasalnya gadis itu benar-benar memakai pakaian yag non-formal—seperti yang dikatakan tadi.
Matanya menangkap seorang pria yang melambaikan tangannya, gadis itu tersenyum dan berjalan kearahnya.
“Donghae-ssi,” sapa Haeryung.
Donghae memperhatikan Haeryung dari atas ke bawah secara berulang-ulang, seperti mencari sesuatu yang tersembunyi, “Apa yang dikatakan Kyuhyun benar.” Gumamnya.
“Mwoya?”
“Ah tidak. Senang bertemu kembali denganmu, Haeryung-ssi. Dunia terasa sempit.” Haeryung tersenyum sambil menundukkan kepalanya sekilas, “Senang bertemu kembali denganmu Donghae-ssi.” Tapi tidak dengan pria busuk itu, lanjutnya dalam hati.
“Ayo, kita temui Kyuhyun. Kau sudah tidak sabar untuk bertemu dengannya juga, kan?” Donghae sedikit memancing.
“Ah, tidak.” Haeryung terkekeh, “Malahan aku akan menjadi gila jika bertemu pria itu.” Gumam Haeryung.
“Ya?” tanya Donghae yang sebenarnya bisa mendengar apa yang Haeryung katakan. Tapi pria itu sedikit menyembunyikan sebuah kebenaran.
“A—aniya.” Suara Haeryung terputus-putus.
“Baiklah, ayo.” Donghae mempersilahkan Haeryung untuk berjalan. Benar-benar manis, batin Haeryung.
Donghae dan Haeryung berjalan beriringan menuju tempat yang dimaksud. Mereka bahkan melewati lorong-lorong dan koridor tak bertuan. Haeryung sedikit ngeri jika ia tidak ingat bahwa ini hanyalah sebuah restoran yang memang sengaja dikosongkan dari pengunjung.
Tidak ada percakapan yang terdengar diantara mereka. Mereka sibuk dengan egonya masing-masing. Haeryung semakin erat memegang bungkusan yang ia bawa dan itu membuat Donghae menjadi penasaran.
“Apa itu hadiah?”
Haeryung terkejut dan mengangkat bawaannya, “Ini? Menurutku tidak, tapi bisa dibilang begitu.”
Donghae mengangguk dan tersenyum, “Kau benar-benar penggemar Kyuhyun?”
Haeryung menggeleng cepat “Apa? Aku? Tidak.”
“Lalu? Mengapa kau datang ke acara itu?” kali ini percakapan mereka terdengar lebih akrab dari sebelumnya.
Haeryung menengok kearah kanan dan kirinya untuk memastikan tidak ada yang mendengar percakapan mereka, “Aku diajak oleh Dami untuk menghadiri acara itu. Sedikit memaksa, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Jika aku menolaknya, dia akan memecatku dan hidupku pasti berakhir menjadi seorang gelandangan. Aku sangat tidak pantas, kan, untuk menjadi seorang gelandangan, Donghae-ssi?”
Donghae tertawa, “Seluruh Seoul akan gempar jika ada seorang gadis cantik yang menjadi gelandangan. Tidak lucu jika ada koran yang memberitakan sebuah kasus dengan judul ‘Seorang Gadis Cantik Menjadi Gelandangan Karena Tidak Mau Menghadiri Fanmeeting’.”
Haeryung ikut tertawa mendengar penuturan Donghae, meski sebenarnya ia sangat malu ketika Donghae mengatakan ‘Gadis Cantik’.
“Memangnya, dimana orangtuamu?” Donghae menjadi penasaran untuk menggali semua informasi tentang Haeryung.
“Orangtuaku sudah meninggal 2 tahun lalu karena sebuah kecelakaan mobil.”
“Maafkan aku, aku tidak—“
Haeryung tersenyum, “Gwaenchana. Aku sudah terbiasa dengan hal itu.”
Donghae mengangguk, “Kau tidak mempunyai saudara?”
Haeryung menggeleng, “Molla. Kakakku meninggalkanku, jadi aku pikir, dia sudah tidak menganggap sebagai adiknya.”
Donghae merasa bersalah karena telah membuat Haeryung kembali mengingat masa lalunya. Pria itu bingung harus bagaimana lagi. Untungnya, mereka sudah hampir tiba ditempat yang mereka tuju.
“Haeryung-ssi, kita hampir sampai. Disana, pintu itu.” Donghae menunjuk pintu berwarna cokelat dengan sedikit ukiran klasik. Mereka bergegas untuk masuk kedalam.
Disana Kyuhyun sedang duduk sambil memainkan ponselnya. Melihat itu, darah Haeryung kembali mendidih. Namun, ia tetap ingin terlihat tenang dihadapannya.
“Kyuhyun-ah, lihat siapa yang datang.” Sapa Donghae yang membuat perhatian Kyuhyun teralihkan. Sedetik kemudian pria itu mematikan ponselnya dan tersenyum kearah Haeryung. Namun, gadis itu tidak membalasnya.
Donghae membawa Haeryung untuk duduk dihadapan Kyuhyun. Gadis itu menyimpan bungkusannya dan menatap Kyuhyun dengan datar.
“Aku sudah lama menunggumu, Nona.” Suara Kyuhyun terdengar mengejek ditelinga Haeryung.
“Maaf membuatmu menunggu lama, Kyuhyun-ssi.”
Kyuhyun tersenyum miring, “Jadi, kau mau langsung makan atau pulang?” lagi-lagi pria itu mengejeknya
Haeryung menatap hidangan yang sudah tertata diatas meja. Semuanya terlihat enak, bahkan Haeryung menemukan makanan yang sama sekali tidak ia kenal. Ingin rasanya ia melahap mereka semua, tapi mau ditaruh dimana wajahnya nanti? Tujuannya datang kemari bukan untuk itu.
“Aku tidak akan lama,” ujarnya dengan santai.
Kyuhyun menaikkan alisnya, “Lalu?”
“Donghae-ssi, bisakah kau keluar sebentar?” Haeryung tersenyum pada Donghae yang berdiri disebelah Kyuhyun. Pria itu sedikit terkejut, namun akhirnya ia mengiyakan permintaan Haeryung. Donghae segera keluar.
Kyuhyun terlihat bingung dengan apa yang dilakukan Haeryung, namun ia memilih untuk tetap acuh.
Setelah dirasa Donghae telah pergi, Haeryung kembali menatap kearah Kyuhyun, “Kyuhyun-ssi, aku membawa sebuah titipan untukmu.”
“Apa itu?”
Haeryung tersenyum tipis dan meraih bungkusan yang ia bawa. Haeryung membukanya dibawah sehingga membuat Kyuhyun menjadi lebih penasaran dari sebelumnya.
Dalam hitungan detik, sebuah kue yang dipenuhi krim mendarat mulus diwajah tampan Kyuhyun. Kyuhyun sedikit terkejut mendapat serangan mendadak itu, bahkan untuk sekedar mengelak pun sangat sulit.
Haeryung tertawa puas melihat aksi ‘balas dendam’nya itu berhasil. Gadis itu mengepalkan tangannya diudara dengan sangat senang. Gadis itu sibuk ber-euforia.
Kyuhyun meringis sambil membersihkan wajahnya yang sudah tidak berbentuk—karena krim yang mengambil alih relief wajahnya. Sesekali ia menatap Haeryung dengan tajam.
Haeryung berdeham dan berdiri dari duduknya, “Terimakasih untuk malam ini Kyuhyun-ssi. Aku tidak akan melupakannya.” Haeryung membungkukkan badannya dan berniat pergi, namun gadis itu kembali berbalik, “Ini, gunakan saputangan milik Donghae-ssi, aku juga membersihkan wajahku dengan saputangan ini.”
Kyuhyun mengangkat wajahnya, ia melihat Haeryung yang sedikit menahan tawanya. Tangan Kyuhyun terulur, tapi bukan untuk menerima saputangannya. Pria itu memegang pergelangan Haeryung dengan erat dan membuat Haeryung terkejut.
“Hey, lepaskan tangan kotormu itu!” Haeryung sedikit menjerit saat tangannya dicengkram kuat oleh Kyuhyun.
“Kau sudah bersenang-senang, kan? Sekarang, biarkan aku yang bersenang-senang.”
“A—Apa?”
Kyuhyun membawa Haeryung kedalam pelukannya. Dengan gerakan cepat, pria itu meraih bibir milik Haeryung dan memainkannya dengan tak sabar. Pria itu menghisap dan menggigit kecil bibir bagian bawah gadis itu.
Haeryung meronta agar terlepas dari Kyuhyun. Namun, dengan cepat Kyuhyun menahannya sambil melingkarkan tangannya di pinggang Haeryung. Kyuhyun semakin menarik tubuh gadis itu agar lebih merapat. Pria itu masih saja melumat bibir Haeryung sambil bergerak kekiri dan kekanan. Decakan dari bibir mereka terdengar jelas diruangan yang hanya dihuni oleh mereka berdua.
Haeryung sudah kelelahan. Nafasnya telah habis karena Kyuhyun tidak memberikan ruang untuk bernafas. Haeryung memukul-mukul dada Kyuhyun, berharap pria itu mengetahui kode darinya.
Kyuhyun yang juga merasa pegal karena lehernya lama menunduk—karena Haeryung lebih pendek darinya, segera melepaskan tautannya, tapi tidak dengan tangan yang masih melingkar dipinggang Haeryung.
Mereka sama-sama menghirup oksigen yang terasa sangat terbatas untuk mereka berdua. Haeryung tidak berani mengangkat wajahnya, terlalu canggung untuk sekedar melirik pria itu.
“Lepaskan aku,” pinta Haeryung.
“Aku tidak berpikir untuk melakukannya.” Suara pria itu terdengar lebih menggoda dari sebelumnya.
“Aku ingin pulang. Sudah kubilang, aku hanya sebentar berada disini!” ucap Haeryung tak sabar, masih dengan aksi ‘tidak menatap Kyuhyun’.
“Maka aku akan membuatnya lebih lama.”
“Tidak!” Haeryung kembali meronta, kali ini Haeryung mencubit-cubit lengan Kyuhyun. Kyuhyun sedikit meringis, tapi tangannya masih enggan untuk melepas Haeryung, “Itu sakit, bodoh!”
“Kalau begitu, cepat lepaskan aku!” Haeryung mengangkat wajahnya dengan menantang. Di wajah Kyuhyun masih terdapat sisa krim. Itu membuat Haeryung ingin kembali tertawa. Tapi iu semua ia urungkan.
“Bersihkan wajahku lalu aku akan melepaskanmu.” Tawar Kyuhyun.
Haeryung menghembuskan nafasnya, sebenarnya ia sangat tidak ingin melakukan itu, tapi hanya itu yang bisa membuat dirinya keluar dari sini, “Baiklah.”
Dengan telaten, Haeryung membersihkan wajah pria itu dengan saputangan milik Donghae. Haeryung sedikit canggung saat Kyuhyun terus menatap wajahnya. Haeryung berusaha acuh, namun tatapan Kyuhyun semakin menggila.
“Berhenti membuatku menjadi orang bodoh.” Ujar Haeryung.
“Kau sendiri yang membuat dirimu menjadi bodoh.” Balas Kyuhyun.
Haeryung berdecak, “Berhenti menatapku seperti itu atau kau tidak akan melihat dunia untuk selamanya karena kuku yang baru saja panjang ini.” Ancamnya.
Kyuhyun sedikit ngeri dengan apa yang Haeryung ucapkan, “Kau ini benar-benar.”
“Cha, aku sudah membersihkannya. Sekarang, lepaskan aku!” Kyuhyun menurut dan melepaskan tangannya pada pinggang Haeryung. Pria itu membiarkan Haeryung untuk pergi.
“Hey, Penjilat!” panggil Kyuhyun lagi.
“Apa?” tantang Haeryung.
“Sampai jumpa lagi!” Kyuhyun melambaikan tangannya, sedikit menggoda Haeryung untuk terakhir kalinya—untuk hari ini.
“Bahkan aku tidak berniat untuk bertemu denganmu lagi, pria mesum!” bentak Haeryung.
“Berani bertaruh? Jika sekarang atau besok kau meminta untuk bertemu denganku, kau harus mengorbankan bibirmu itu untukku.” Haeryung berjengit, sedikit ngeri dengan apa yang Kyuhyun tawarkan. Pria yang didepannya ini benar-benar memiliki kepribadian ganda. Kadang dingin dan kadang mesum. Tapi kemudian Haeryung mengangguk, “Baik, aku tidak takut!”
“Deal!” Kyuhyun tersenyum miring dan Haeryung segera bergegas pergi. Sedetik kemudian Kyuhyun terkekeh dan mengeluarkankan sebuah ponsel dari sakunya, “Kau akan kembali, Haeryung-ssi.”
~ DRIBBLOVE ~
“Bagaimana kencannya?” tanya Dami saat Haeryung sudah pulang dan duduk disofanya dengan wajah masam.
“Kencan? Terserah kau mau bilang apa, tapi itu sangat buruk!” Haeryung terlihat sangat kesal. Dami memberikan mug berisi teh hangat untuk sekedar menghangatkan tubuhnya, “Ini, tenangkan pikiranmu dan ceritakan padaku.”
“Ey, aku tidak mau.”
“Baiklah, apa kau bertemu Hyuk Jae?” Dami sedikit mencari kesempatan dalam kesempitan.
“Aniya, aku hanya bertemu Lee Donghae.”
“Siapa itu?” Dami penasaran dengan pria yang baru saja ia sebutkan.
“Molla, tapi sepertinya dia sangat dekat dengan Kyuhyun, mungkin asisten atau semacamnya.” Dami mengangguk, “Oh ya, kau bawa pesananku?”
Haeryung menautkan alisnya bingung, “Pesanan apa?”
“Bukannya aku mengirimimu pesan untuk membelikanku tteokbokki?”
“Benarkah?” Haeryung merogoh saku jaketnya secara bergantian, “Ponselku, kemana ponselku?” Haeryung mencari disetiap saku jaket dan celananya, tapi ia tetap tidak bisa menemukan ponselnya.
“Kau yakin membawa ponselmu saat bertemu Kyuhyun tadi?”
Haeryung mengangguk, “Tentu saja. Bukankah aku menghubungimu saat aku lupa mematikan laptopku yang masih menyala?” Dami mengangguk. Saat Haeryung sudah pergi, beberapa menit kemudian gadis itu meneleponnya untuk mematikan laptop dikamarnya. Tentu saja ia butuh ponsel untuk menghubunginya.
“Tapi mengapa—Ya Tuhan, pria itu! Dami, pinjamkan aku ponselmu.”
Dami masih bingung, tapi gadis itu tetap memberikan ponselnya pada Haeryung. Haeryung cepat-cepat mengetik nomor ponselnya dan mencoba untuk menghubunginya. Haeryung menunggu seseorang disana untuk menjawab teleponnya. Tak lama terdengar suara serak disana.
“Halo?” suara itu terdengar santai, tapi terkesan memuakkan bagi Haeryung. Haeryung bergegas menuju kamarnya, menjauhi Dami.
“Kembalikan ponselku!” ucap Haeryung tak sabar. Kyuhyun terkekeh pelan disana.
“Ini ponselmu? Aku tak sengaja menemukan ponsel ini disaku jaketmu.”
Haeryung menggertakkan giginya, “Kau ini benar-benar!”
“Jadi bagaimana? Bagaimana cara aku mengembalikan ponselmu ini?” Ucapan Kyuhyun terdengar bodoh, setidaknya Haeryung tahu jika pria itu melakukannya dengan sengaja.
“Besok aku akan pergi ke restoran tadi dan suruh Donghae-ssi untuk mengembalikan ponselku!”
“Besok Donghae Hyung akan pergi ke China.”
“Kalau begitu, suruh dia temui aku sekarang!”
“Dia sedang kencan bersama pacarnya.” Habis sudah ide untuk membawa kembali ponselnya itu. Apa yang harus gadis itu lakukan? Jika bertemu langsung dengan Kyuhyun maka ia harus merelakan bibirnya. Tidak. Tidak akan pernah! Batin Haeryung.
“Hey, kau masih hidup?” suara pria itu kembali terdengar.
“Tentu saja bodoh!”
“Jadi, bagaimana?”
“Buang saja ponsel itu!” Haeryung sedikit tidak sadar mengucapkan kalimatnya.
“Benarkah? Aku rasa ponsel ini memiliki harga yang lumayan. Bahkan harganya lebih mahal dibanding ponselku.”
“Tentu saja, aku harus menabung ekstra untuk membeli ponsel itu!” Lagi-lagi Haeryung tidak sadar mengucapkan kalimatnya.
“Baiklah. Aku akan menunggu keputusanmu.”
Haeryung kembali terdiam. Bukan diam, hanya saja ia sedang memikirkan sesuatu. Setelah mendapat sebuah ide untuk kedepan, Haeryung pun mengiyakan, “Baiklah. Karena aku ingin mendapatkan ponselku kembali, temui aku besok.”
“Kau tahu apa yang akan terjadi?” suara Kyuhyun terdengar ngeri ditelinga Haeryung, tapi harus bagaimana lagi, ini semua sudah terjadi dan Haeryung harus melakukannya, “Tentu saja.”
“Aku tidak terlalu yakin, tapi aku tahu kau sedang merencanakan sesuatu dan aku menunggu hal itu.” Haeryung terkesiap mendengar penuturan Kyuhyun. Dengan mudahnya pria itu tahu jika Haeryung akan melakukan sesuatu, “Ba—bagaimana bisa? Ah sudahlah,”
Kyuhyun kembali terkekeh diujung sana, “Baiklah, sampai jumpa, Haeryung-ssi.” Kyuhyun mematikan sambungannya secara sepihak dan itu membuat Haeryung semakin muak dengannya.
“Aku bersumpah akan membencinya seumur hidupku!” ikrar Haeryung.
To Be Continue
Yeah, akhirnya Chapter 2 sudah di post! Saatnya menerima kritik dan saran yang masih dalam etika yang disempurnakan (?) xD Sekali lagi, terimakasih!
%d blogger menyukai ini: