DRIBBLOVE Part 1

0
DRIBBLOVE Part 1 kyuhyun ff nc
DRIBBLOVE [Chapter 1]
Author : namschoa
Title : DRIBBLOVE
Category : NC21, Yadong, Romance, Chaptered
Cast :
Cho Kyuhyun
Na Haeryung
Lee Donghae
Other cast
Disclaimer : Fiksi ini terinspirasi dari ketidakikutsertaan Kyuhyun untuk mengikuti event SM beberapa waktu lalu karena tur-nya bersama KRY, sehingga saya membuat fiksi dengan karakter Kyuhyun sebagai pebasket xD

So, enjoy~
WARNING!! FOR TYPO(S)~
 “Pertemuan singkat itu membuat kami percaya tentang adanya takdir.”
~Happy Reading~
“Haeryung-ah, antarkan kue ini.” Dami memberikan sebuah kue cantik berukuran sedang pada Haeryung. Tak lupa Dami memberikan secarik kertas berukuran nota yang berisikan alamat si pemesan.
Haeryung mengangguk dan menerimanya dengan sigap, “Baiklah, hanya ini saja?” Dami mengangguk, “Jaraknya cukup jauh dari sini, jadi antarkan kue itu terlebih dahulu.”
“Aku mengerti,” Haeryung langsung menuju sepeda berwarna putihnya yang diparkirkan tak jauh dari pintu toko.
Sepeda yang sudah menemaninya bekerja selama 2 tahun itu merupakan hadiah ulang tahun dari mendiang kedua orangtuanya yang meninggal akibat kecelakaan. Setelah kejadian itu, kakak laki-lakinya juga hilang begitu saja. Meski Haeryung sudah mencari kesana kemari, kakaknya tidak pernah ditemukan. Informasi terakhir yang ia dapatkan dari teman kakaknya adalah bahwa kakaknya itu pergi ke suatu tempat dan akan kembali pada Haeryung untuk membahagiakannya.
Sejak saat itu Haeryung harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhannya dan ternyata dewi fortuna tidak terlalu jauh dari dirinya. Dua minggu kemudian ia bekerja sebagai kurir disebuah toko kue yang merupakan milik sahabatnya, Dami. Tapi tak jarang juga Haeryung membantu Dami membuat kue-kue pesanan yang tidak sedikit. Itu menjadi bonus untuk Haeryung.
Haeryung mengayuh sepedanya sambil menggigit kertas yang terdapat alamat pemesan. Kuenya ia letakkan dikeranjang depan. Haeryung harus berhati-hati agar kuenya tidak rusak sehingga mengecewakan pelanggan. Setelah mengayuh cukup jauh Haeryung menghentikan sepedanya dan mengambil kertas dimulutnya.
“Ayo kita cari rumah yang tepat.” Gumam Haeryung pada dirinya sendiri.
Matanya ia edarkan keseluruh rumah yang berjejer rapi hingga ia terhenti pada rumah pertama disebelah kiri, “Tepat disana,” gumamnya lagi
Haeryung menyimpan sepedanya dan mengambil kue tersebut karena jarak rumah itu tidak terlalu jauh. Tak sengaja, angin menerbangkan penutup kuenya yang terbuat dari plastik bening dan sangat ringan. Angin menghentikannya tepat diseberang tempat Haeryung berdiri. Gadis itu mendengus kesal sambil menghentakkan kakinya.
Gadis itu menyebrang sambil menutupi kue yang setengah telanjangnya dengan tangan. Haeryung berjongkok dan mengambil penutupnya. Ia membersihkan bagian luarnya yang sedikit berdebu. Tanpa ia sadari sebuah mobil melaju kencang kearahnya dan pengemudi tersebut menghentikan mobilnya secara mendadak hingga bumper mobil itu sedikit mengenai bahu kiri Haeryung.
Gadis itu terkejut dan terjatuh. Wajahnya mendarat tepat diatas kue yang ia bawa. Seluruh krimnya memenuhi wajahnya, Haeryung sedikit meringis, “Ah~”
Tak lama seorang pria keluar dari mobilnya itu dan membantu Haeryung untuk berdiri, “Kau tidak apa-apa?”
Haeryung menggeleng, “Tidak.” Pria itu sedikit terkejut melihat wajah Haeryung yang penuh dengan krim.
“Dia tidak apa-apa hyung?” seorang pria lain keluar dari pintu depan bagian kiri. Haeryung sudah tahu bahwa pria itulah yang mengemudikannya.
Pria yang membantu Haeryung menggeleng, “Tidak, hanya saja—“
“APA KAU BUTA? JELAS-JELAS ADA SESEORANG DIHADAPANMU, TAPI KAU MASIH SAJA MENGEMUDIKAN MOBILMU ITU DENGAN CEPAT!” teriak Haeryung sambil mendekat pada pria yang hampir menabraknya.
“Kau saja yang bertubuh kecil hingga saat kau berjongkok aku tidak dapat melihatmu,” balas pria itu santai. Haeryung akui jika pria itu memang tinggi. Tingginya saja hanya sebahu pria itu padahal Haeryung tengah memakai sneakers yang memiliki hak.
“Sudahlah, yang penting kau tidak terluka.” Lagi-lagi pria itu acuh menanggapi Haeryung. Haeryung melipat bibirnya dengan kesal. Sedetik kemudian Haeryung menyunggingkan senyum iblisnya.
Gadis itu mengambil kuenya yang sudah tak berbentuk dan mengarahkannya pada pria tadi. Dengan sigap, pria itu menahan tangan Haeryung hingga kue itu hanya mengenai pakaiannya.
“Kau!” pria itu sedikit kesal ketika pakaiannya terkena krim kue. Tapi Haeryung terlihat tidak puas.
Pria yang dipanggil ‘hyung’ tadi segera menenangkan keduanya, “Sudahlah Kyuhyun, hentikan. Dan untukmu Nona, aku benar-benar minta maaf.”
Pria yang disinyalir bernama Donghae itu mengeluarkan beberapa lembar won pada Haeryung. Gadis itu terbelalak ketika melihat nominal dari uang tersebut, “Banyak sekali.” Gumamnya.
“Cih, penjilat.” Kyuhyun kembali berdecak.
Haeryung kembali melayangkan aura membunuhnya pada Kyuhyun. Namun lagi-lagi Donghae menghentikannya, “Kubilang hentikan.” Donghae mendorong pelan tubuh Kyuhyun agar kembali masuk ke mobilnya.
“Nona, aku benar-benar minta maaf.” Ucap Donghae sekali lagi.
“Gwaenchana.”
“Ah, tunggu sebentar,” Donghae kembali merogoh sesuatu dikantong celananya.
“Tidak, Tidak usah. Uang ini cukup untuk mengganti kuenya. Bahkan ini terlalu banyak.”
Pria itu tersenyum, “Bukan, ini, gunakan ini untuk membersihkan wajahmu.” Donghae memberikan sebuah saputangan berwarna cokelatnya pada Haeryung.
Haeryung menerimanya dengan ragu, “Te—terimakasih,” Donghae mengangguk dan tersenyum. Tampan, batin Haeryung.
Tak lama sebuah klakson mobil menginterupsi mereka berdua dan kepala Kyuhyun menyembul keluar dari kaca mobil, “Cepatlah, Hyung! Sudahi dramanya!”
“Pria yang satu itu benar-benar menyebalkan.” gumam Haeryung sambil sedikit menggertak.
“Tunggu sebentar!” kini giliran Donghae yang berteriak pada Kyuhyun.
“Nona, aku permisi, sekali lagi aku minta maaf atas kejadian tadi.” Haeryung mengangguk.
“Baiklah, sampai jumpa!” Donghae berjalan menuju mobil Kyuhyun. Mobil itu kembali melaju kencang seolah tak memperdulikan apa yang baru saja terjadi.
“Awas kau!” Haeryung membersihkan wajahnya dan memutuskan untuk kembali ke toko kuenya.
“Haeryung-ah, apa kau sudah mengantarkan pesanannya? Sejak tadi orang yang memesan terus menghubungiku, katanya pesanannya belum datang.” tanya Dami saat Haeryung tiba dengan wajah masam.
Haeryung merogoh kantong jaketnya dan memberikan uang yang diberikan Donghae tadi, “Maaf. Untuk kali ini aku tidak bisa mengantarkannya. Ini, sebagai tanggungjawabku.”
“Apa yang terjadi?” Dami menatap wajah Haeryung yang sedikit berminyak karena kejadian tadi. Haeryung hanya menggeleng.
“Yasudah kalau kau tidak mau memberitahuku. Oh ya, sore ini aku akan ke taman kota, kau mau ikut?” ajak Dami.
“Taman kota? Memangnya ada apa?”
Dami tersenyum tipis. Tangannya sibuk membuka laci dimejanya dan mengeluarkan sebuah poster berukuran sedang.
“Kita akan bertemu dia!”
~ DRIBBLOVE ~
“Kau hampir saja mengulangi kejadian yang sama. Kau harus lebih berhati-hati sekarang.” Donghae melempar sekaleng soda pada Kyuhyun. Beberapa menit yang lalu mereka telah sampai di apartemen pribadi Kyuhyun setelah pulang dari sebuah gelanggang olahraga.
Kyuhyun menerima kaleng sodanya dengan raut wajah malas, “Sudahlah hyung, sekarang kau lebih cerewet dari nenekku.” Kyuhyun berdecak.
Pria itu membuka kalengnya dan meneguk kencang isinya. Donghae menggeleng dan mengikutinya. Kyuhyun menyandarkan tubuhnya dan memejamkan matanya untuk beberapa saat. Entah mengapa Kyuhyun merasa sangat lelah.
“Beberapa minggu lagi ada turnamen. Lebih baik kau menyiapkan tubuhmu dengan berlatih mulai sekarang.” Donghae kembali bersuara sambil membuka catatan diponselnya. Ada banyak tanggal tertera disana.
“Bagaimana dengan Sungmin hyung?”
“Minho yang akan menggantikan posisinya.” Kyuhyun mengangguk mengerti.
“Ah satu lagi. Sebaiknya kau cepat-cepat mencari seorang asisten untuk menggantikanku. Hanya sementara.” Kali ini Kyuhyun membuka matanya dan menatap Donghae, “Kau mau kemana?”
“Aku akan pergi ke China untuk mengurus permasalahanmu, Tuan Cho.” Kyuhyun terkesiap mendengar penuturan Donghae yang penuh penekanan. Tapi sedetik kemudian pria itu merubah kembali air mukanya.
“Bukankah itu sudah lama? Kenapa masalah ini muncul kembali?”
“Seseorang yang diyakini ada hubungan darah dengan kedua orang itu kembali menuntutmu. Mungkin dia anggota keluarganya. Meski ini sedikit janggal, kita tetap harus mengikuti proses hukum.” Jelas Donghae.
Kyuhyun menegak habis isi kaleng sodanya dan meremasnya hingga tak berbentuk. Matanya menampilkan garis-garis semacam pembuluh darah. Tanda bahwa pria itu sedang menahan amarah yang melingkupi dirinya.
“Apa yang dia inginkan?” suara Kyuhyun terdengar sedikit serak.
“Aku tidak terlalu yakin. Yang pasti, dia sangat ingin bertemu denganmu.”
“Dia ingin balas dendam?” Donghae mengangkat bahunya, “Entah,”
Kyuhyun menghembuskan nafasnya dengan kasar, “Temui ia diam-diam dan beri berapapun uang yang dia inginkan asal permasalahan ini lenyap.”
“Akan aku coba saat aku sampai di China nanti.”
Kyuhyun mengangguk lalu beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Donghae. Donghae mengikuti Kyuhyun dengan pandangannya, “Kau mau kemana?”
“Mandi. Bukankah sore ini ada sesuatu yang harus aku lakukan?” jawab Kyuhyun tanpa melirik ke belakang.
“Aku hampir lupa.”
~ DRIBBLOVE ~
“Sebuah fanmeeting?” Haeryung mengedarkan pandangannya kesekeliling taman sesaat setelah keluar dari taksi yang ia dan Dami tumpangi. Taman kota ini dipenuhi remaja-remaja yang sebagian besar berjenis kelamin perempuan. Haeryung menelan air liurnya saat membayangkan dirinya yang terjepit diantara kerumunan.
“Ayo.” Ajak Dami sambil mengamit lengan Haeryung, tetapi dengan cepat Haeryung melepaskan tautan tangan Dami dilengannya, “Kau kan tahu aku tidak suka idol kpop.”
“Siapa bilang? Ini bukan fanmeet idol kpop.”
“Lalu?”
Dami mengulum senyumnya, “Atlet basket. Sudahlah, cepat!” Dami kembali mengamit lengan Haeryung dan kali ini Haeryung tidak menolak. Mereka siap bersatu pada lautan manusia itu.
Dami dan Haeryung sampai pada sebuah antrian. Ada tiga garis antrian yang berada disana. Dami memilih antrian kedua setelah mengetahui siapa yang ada di paling depan. Haeryung yang tidak mengerti akhirnya memilih untuk berdiri diantrian yang sama dengan Dami.
“Kau juga ini tandatangan Hyuk Jae?” Dami menoleh ke arah belakang, tempat dimana Haeryung berdiri.
“Apa?”
“Hyuk Jae, Lee Hyuk Jae. Kau juga ingin tandatangannya?” tanya Dami lebih meyakinkan.
Haeryung menggeleng, “Aku tidak mengerti.”
Dami menepuk keningnya, “Ah, aku lupa.”
“Begini, sekarang adalah fanmeet atlet basket Seoul. Tapi hari ini tidak semua atlet yang datang. Kau lihat pria di antrian pertama itu?” Haeryung melihat arah yang Dami maksud. Haeryung mengangguk.
“Dia adalah Park Jungsoo. Kapten dari club Seoul. Kau lihat pria yang ada didepan kita?” Haeryung sedikit berjinjit untuk melihat pria yang berada didepan sana. Haeryung kembali mengangguk.
“Dia adalah Lee Hyuk Jae. Atlet favoritku.” Dami sedikit tersipu malu. Pipinya terlihat memerah.
Haeryung berdecak, “Berlebihan sekali.”
“Aish, kau ini.” Dami memukul lengan kanan Haeryung, “Aw! Itu sakit!” jerit Haeryung.
“Sudahlah. Nah, yang terakhir itu, pria yang berada diantrian ketiga.” Haeryung kembali menatap ke arah depan. Kali ini ia membulatkan matanya saat melihat wajah pria yang dirasa tidak asing baginya.
“Dia adalah—“
“Kyu—Kyuhyun?” Haeryung berusaha mengingat nama yang muncul secara samar diotaknya. Kali ini giliran Dami yang membulatkan matanya, “Kau tahu dia? Kau mengidolakannya?”
“Aku tahu dia saat—“
“Kalau begitu, tunggu apalagi? Mengantrilah dibarisannya.” Dami mendorong tubuh kecil Haeryung ke antrian ketiga. Haeryung sedikit meronta atas perlakuan Dami.
“Hey, tapi aku tidak—“
“Sudahlah jangan malu-malu. Ini kesempatan yang langka. Kapan lagi kau bisa bertemu dengannya.” Dami terus mendorong Haeryung agar terselip diantara gadis lainnya meski tak jarang Haeryung mendapat tatapan yang tak enak karena dikira menyerobot tempat mereka.
Tak suka dengan perlakuan Dami, Haeryung mulai kesal dan berteriak, “AKU TIDAK MENGIDOLAKANNYA!”
Sedetik kemudian, seluruh orang yang berada ditempat itu melirik kearah Dami dan Haeryung. Tak terkecuali Jungsoo, Hyuk Jae dan Kyuhyun yang ikut penasaran dengan apa yang terjadi dibelakang. Namun mereka tidak dapat melihatnya.
Bagaikan hewan buruan yang diawasi hewan pemangsa, Dami dan Haeryung tersenyum kikuk saat mendapati tatapan aneh dari beribu-ribu pasang mata. Dami membungkukkan badannya dan meminta maaf berkali-kali dengan canggung. Haeryung pun mengikuti apa yang Dami lakukan. Untungnya suasana disana kembali tenang dan mereka kembali sibuk dengan urusannya masing-masing.
“Ini semua karena ulahmu,” Haeryung sedikit berbisik pada Dami.
“Kau yang berlebihan, sudahlah, ikuti mauku atau kau akan kupecat!” ancam Dami masih dengan setengah berbisik. Haeryung terkesiap mendengar ancaman Dami. Dengan terpaksa Haeryung mengikuti kemauannya daripada harus menjadi gelandangan seumur hidupnya.
Beberapa menit pun berlalu, kali ini Dami dan Haeryung sudah hampir berada diantrian depan. Haeryung merasakan pegal dikakinya. Gadis itu menghentakkan kakinya ditanah sebagai peregangan.
Haeryung dapat semakin jelas melihat wajah Kyuhyun. Pria itu terlihat tersenyum saat memberikan sebuah kartu berisi tandatangannya pada gadis didepannya. Benar-benar berbeda saat mereka bertemu pagi tadi. Pria itu seperti berkepribadian ganda.
Tinggal dua orang lagi didepannya dan kali ini Haeryung merasa canggung untuk sekedar bertemu dengannya. Entah karena masih muak atau karena ada alasan lain. Haeryung memutuskan untuk keluar antrian, namun Dami memberinya tatapan yang seolah-olah berkata ‘Kau mau kemana?’
Haeryung pun mengurungkan niatnya. Dan kali ini dia berada tepat didepan Kyuhyun. Kyuhyun masih sibuk dengan spidol hitamnya dan mengukir sebuah tulisan diatas kartu putih. Haeryung melirik kearah Dami. Temannya itu tengah bersalaman dengan Hyuk Jae sambil melempar senyum. Dasar fangirl, batin Haeryung.
“Siapa namamu?” Suara bass milik Kyuhyun mengagetkannya. Haeryung menatap Kyuhyun yang lebih rendah darinya—karena posisinya sedang duduk, namun pria itu masih menatap kartu ditangannya.
Haeryung berdeham untuk menetralkan suaranya, “Na Haeryung.”
Kyuhyun yang mendengarnya segera menulis hangul untuk nama Haeryung. Haeryung masih berdiri canggung, entah apa yang akan terjadi selanjutnya. Kyuhyun menyimpan spidolnya lalu kepalanya mendongak dan dapat Haeryung lihat pria itu terkejut ketika melihatnya. Haeryung masih bersikap tenang, seolah-olah tidak ada yang salah dengan dirinya.
Haeryung menerima kartu dari Kyuhyun dan membungkukkan sedikit badannya, “Terimakasih.”
Sedangkan Kyuhyun yang semula terkejut kembali menjadi lebih tenang, “Sepertinya aku mengenalmu.”
“Apa aku terkenal?” balas Haeryung dengan wajah menantang.
Kyuhyun berdecak dan segera mengambil kembali kartunya dari tangan Haeryung. Haeryung sedikit tersentak, tapi kemudian ia penasaran dengan apa yang Kyuhyun lakukan.
Kyuhyun terlihat mencoret hangul namanya dan mengganti dengan hangul baru, “Kau bukan Na Haeryung tapi Si Penjilat.” Kyuhyun mencetaknya dengan tebal dan mengembalikan kartunya pada Haeryung, “Terimakasih sudah datang.” Pria itu tersenyum simpul.
“Cih, bermuka dua!” Haeryung berjalan pergi sambil meremas kartu yang diberikan oleh Kyuhyun tadi sedangkan Kyuhyun tersenyum miring. Cukup menarik, batin Kyuhyun.
Waktu menunjukkan pukul 6 sore, pemberian fansign baru saja berakhir. Sebelum acara berakhir, sang pembawa acara akan mengumumkan sebuah hal penting yang wajib didengar oleh semua orang yang hadir disana. Semuanya merasa penasaran, kecuali Haeryung yang sedaritadi sudah muak berada disana.
Pembawa acara mulai mengetes mikrofonnya dan membuat dirinya menjadi pusat perhatian. Sebelum memulai pembicaraannya, pria itu tersenyum, “Baiklah. Selamat sore semuanya.” Suara orang yang menjawab salam dan bertepuk tangan terdengar bergemuruh.
“Saya ucapkan terimakasih kepada Anda semua yang telah hadir disini. Terimakasih juga karena sudah mendukung kami sehingga kami bisa seperti ini.” Suara tepuk tangan kembali riuh.
“Sebagai ucapan terimakasih, kami akan memberikan sebuah hadiah yang saya rasa akan membuat Anda sekalian senang.” Bisikan-bisikan terdengar dari masing-masing mulut.
“Hadiah? Kau bisa menebaknya?” Dami berkata pada Haeryung, namun gadis itu menanggapinya dengan malas, “Molla,”
“Ck, kau ini!”
“Kami akan memberikan sebuah acara makan malam dengan idola kalian. Namun, hanya 3 orang yang beruntung. Masing-masing satu dari setiap antrian tadi. Antrian Park Jungsoo, Lee Hyuk Jae dan Cho Kyuhyun.” Teriakan para fangirl kembali bergema. Haeryung menutup telinganya. Disekelilingnya para fangirl itu terlihat berkomat-kamit, mungkin mereka sedang berdoa. Lucu memang.
“Dan orang yang beruntung itu adalah….” pria itu menggantungkan kalimatnya, membuat semua gadis disana menjadi lebih tak sabar mendengarkan ucapannya.
“Orang yang beruntung itu adalah orang yang mendapat kartu dengan simbol bola basket emas dibaliknya!” sontak semua orang langsung memeriksa kartunya. Tak lama jerit kemenangan terdengar dari mulut gadis yang diyakini mendapatkan keberuntungan itu.
“Aku tidak mendapatkannya,” eluh Dami, “Bagaimana denganmu? Mana kartumu?”
Haeryung memberikan kartunya yang sudah tidak berbentuk. Dami memeriksa bagian belakangnya dan terkejut, “Kau mendapatkannya!”
Haeryung mengerutkan keningnya dan melihat bagian belakang kartunya. Benar saja sebuah bola basket emas berada disana, “Ba—bagaimana bisa?” gumamnya.
“Untuk yang beruntung, silahkan untuk maju kedepan dan pelihatkan kartu Anda.” Suara pria itu kembali terdengar.
“Sana cepat!” Dami mendorong tubuh Haeryung. Tapi gadis itu terlihat enggan untuk maju, “Kau saja, aku tidak mau.”
“Aku tidak mau.”
“Aku juga tidak!” elak Haeryung.
“Aish kau ini!” Dami menarik tangan Haeryung untuk maju kedepan. Kemudian Dami memberikan kartu Haeryung pada sang pembawa acara, “Dia mendapatkannya, ini, dia sedikit malu-malu.”
“Apa? Aku? Tidak!” ujar Haeryung tak terima.
“Baiklah, Nona, kau bisa kembali ketempat Anda. Terimakasih.” Pria itu tersenyum.
Haeryung kembali berdiri canggung. Disampingnya ada dua orang gadis lain yang terlihat seumurannya. Mata mereka terlihat berbinar-binar. Tampaknya mereka luar biasa bahagia.
“Baiklah. Kita sudah mendapatkan orang yang beruntung, yaitu Nona Jung Yuji, Nona Kim Hyena dan Nona—“
“Si penjilat?” pria itu tampak bingung dengan apa yang ia baca. Sontak semua orang tertawa mendengar penuturannya. Haeryung tertunduk malu dan tersenyum kikuk. Ia tahu semua orang sedang menertawakan dirinya. Terbukti dari tatapan mereka yang langsung mengarah padanya.
“Nona, nama asli anda siapa?” pria tadi membungkuk dan berbisik pada Haeryung, “Na Haeryung.” Jawab Haeryung.
“Oh, maaf, saya salah menyebutkan tulisannya, yang benar adalah Nona Na Haeryung.”
Haeryung menghembuskan nafasnya. Tiba-tiba matanya menangkap seorang pria yang ingin dimakinya. Kyuhyun. Pria itu tersenyum mengejek sambil melambaikan tangannya pada Haeryung.
“Aku benar-benar ingin membunuhnya.” Gumam Haeryung.
To Be Continue
Terimakasih untuk admin yang mau mempost fiksi ini 😀 *bow* terimakasih juga untuk readers yang mau menyempatkan waktunya untuk membaca fiksi absurd ini. Kritik dan saran diterima asal masih dalam etika yang disempurnakan (?) xD Sekali lagi, terimakasih!

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: