Don’t Forget Me

0
Don’t Forget Me ff nc kyuhyun
Author : Park Ryeonji
Title : Don’t Forget Me
Category : NC-17, Yadong, Romance, Angst, Oneshot
Cast :
Super Junior Cho Kyuhyun as Cho Kyuhyun
OC – Choi Inyeon
OC – Seo Young
Super Junior M Henry as Henry Lau
OC – Xin Mei
and the other cast.
Disclaimer : They’re not mine, but this story is mine. Don’t copy + paste! Don’t remake without permission.
Di dalam Fanfic akan dicantumkan beberapa hal yang berhubungan dengan medis, tetapi diagnose, cara penanganan sepenuhnya adalah fiksi yang digunakan untuk membantu jalannya cerita.

 Author Note : Sedikit tentang ide ceritanya yang ingin aku sampaikan. Untuk ide ceritanya sendiri udah pernah aku pake. Judul fanficnya `E M B R A C E`. Aku pernah post di salah satu grup LuMin (Luhan x Xiumin), tetapi karena itu grup di protect aku ga kasih linknya, soalnya ga bisa dibuka juga. Pernah juga aku post di FFn dengan cast WonKyu (Siwon x Kyuhyun)—cuma ganti castnya aja (id : DancingChen). Terus di salah satu grup lagi dengan cast Tao x OC. Judulnya sama semua kaya yang aku sebutin tadi, cuma castnya aja yang beda. Tetapi sekarang, aku bener-bener ketik ulang fanfic ini, cuma idenya sama kaya fanfic yang aku buat dulu. Mungkin ini bakalan tampak berbeda. xD Sekali lagi terima kasih untuk yang sudah baca. Semoga suka.
Warning! : Aku ga bisa prediksi perasaan kalian bagaimana, tetapi ada baiknya sediakan tissue dua atau tiga lembar. Yang terlalu baper (?) mungkin bakalan nangis. Straight/Het Fic. OOC. OC. AU. AT. Bashing chara. Adults. Typo(s).
???
Don’t Forget Me
???
 2013, 10 July
Jemari wanita itu meluncur penuh gairah di lekuk tubuh Cho Kyuhyun. Sesekali ia mengedip nakal, lalu mencium bibirnya sekilas. Dia bergerak mengikuti irama yang dibuat oleh Kyuhyun yang berada di atasnya. Tubuhnya juga sudah lengket karena cairan nafsu milik Kyuhyun yang membasahi.
Malam ini sudah keenam kalinya. Mereka belum merasa lelah sedikitpun. Gairah dan nafsu yang terlalu bergejolak di dalam diri masing-masing membuat mereka menginginkan yang lebih dan lebih. Tempat tidur yang menjadi alas mereka sudah tak tentu bentuknya. Belum lagi dengan pakaian yang mengonggok di sembarang tempat. Perlu waktu yang agak lama untuk membersihkannya seperti semula.
“Ahh…” Kyuhyun melenguh, “Jika kau kalah dariku, kau harus memberikanku enghh lebih dari ini di kemudian hari.” kata Kyuhyun berusaha memegang pinggang Seo Young yang licin karena keringatnya.
Kyuhyun bergerak makin cepat. Bahkan Seo Young belum dapat menanggapi yang dikatakan oleh lelaki itu. Bibirnya terlalu sibuk melontarkan desahan-desahan yang membuat Kyuhyun ingin menghujamnya lebih lama lagi.
“Ahh… Ouhh… Kau bercanda huh? Enghh…” tanya Seo Young dalam pelepasannya.
“I’m coming, Baby!” Kyuhyun mendongak dan berteriak.
Cairan mereka menjadi satu. Tetapi Kyuhyun tahu, Seo Young yang lebih dulu. Seo Young kalah, konsekuensinya ia harus memberi lebih di hari selanjutnya.
Kyuhyun menarik miliknya dari dalam hole Seo Young. “Aku tidak bisa melanjutkannya. Besok aku harus bangun lebih pagi untuk bertemu eomma–ku.” ujarnya sambil merebah di sebelah Seo Young.
“Ya, aku mengerti.”
Seo Young berbalik hingga membuat posisinya menyamping. Tangannya bergerak naik dan memeluk pinggang Kyuhyun, lalu mempersempit jarak antara mereka.
“Ku pikir aku harus mempersiapkan tenagaku untuk permainan selanjutnya.” katanya lalu mencium Kyuhyun sangat dalam.
***
2013, 11 July
Kyuhyun berdiri di depan cermin sembari membenarkan kerah kemeja yang masuk di balik sweater–nya. Ia sedang bersiap untuk mengunjungi makam ibunya. Ibunya sudah meninggal ketika ia masih duduk di bangku SMA. Ia memang lebih suka menyebutnya dengan `menemui` ketimbang `mengunjungi makam`. Kyuhyun berbalik setelah menyemprotkan sedikit parfum berbau maskulin di pergelangan tangannya.
Kakinya melangkah perlahan. Di rumahnya, Kyuhyun tinggal sendirian. Ayahnya tinggal di Barcelona dan bekerja sebagai dewan direksi di salah satu perusahaan. Ayahnya bukanlah pemilik perusahaan itu, tetapi dirinya merupakan salah satu orang kepercayaan presdir pemilik perusahaan sehingga gajinya cukup untuk membuat Kyuhyun hidup di dalam kemewahan. Sekarang Kyuhyun sedang duduk di bangku perkuliahan untuk menyelesaikan strata 1–nya.
Tidak ada yang istimewa dari kehidupan Kyuhyun. Dia adalah anak tunggal. Hari-harinya selalu datar bahkan terkesan membosankan. Satu-satunya yang menjadi penghiburnya adalah Seo Young. Wanita itu bukanlah pacar, tunangan atau bahkan istrinya. Mereka hanya berbagi kesenangan. Ya, hanya seperti itu setiap harinya.
Hujan mulai turun membasahi jalanan kota di siang hari. Orang-orang yang berlalu lalang segera berlari-lari kecil bermaksud menghindari hujan dengan berteduh di emperan toko ataupun halte bus terdekat.
Mobil hitam milik Kyuhyun menepi. Pintu mobilnya terbuka dan menampakkan si pemilik yang muncul dari dalam sana. Di tangannya digenggam sebuah payung berwarna biru muda. Kyuhyun mengadah sebentar ke arah langit, membiarkan tetesan hujan menghantam wajahnya. Sesaat kemudian Kyuhyun membuka payungnya untuk berteduh di bawahnya.
Hujan yang semula gerimis semakin deras. Sepatu yang dikenakan Kyuhyun juga tampak kotor karena percikan lumpur dari tanah pemakaman. Sebenarnya tempat itu lebih mirip seperti taman. Ratusan pohon makam tertanam disana. Walaupun hujan turun dengan deras, namun di beberapa pohon makam yang dilewati oleh Kyuhyun tampak sedang dikunjungi oleh sanak saudaranya.
Kyuhyun sampai. Dia berdiri di dekat pohon makam ibunya sambil memandangi pohon, sesekali ia menghela napas panjang.
“Hiks,”
Kyuhyun melirik ke samping kanan, ketika mendengar suara isakan yang berasal tak jauh dari tempatnya berdiri. Suaranya memang tak terlalu jelas karena suara hujan yang begitu deras. Kyuhyun menyipitkan matanya ketika melihat seorang gadis yang duduk bersimpuh di sebelah pohon makam tanpa menggunakan payung.
“Kenapa dia tidak menggunakan payung?” gumam Kyuhyun pelan.
Kakinya melangkah sejauh lima meter, mendekati gadis yang tak terusik sama sekali dengan derasnya hujan yang menghantam tubuhnya. Gaun berukuran selutut berwarna hitam yang dikenakan sepertinya kotor oleh bercak-bercak lumpur. Rambut sebahunya juga sudah tampak lepek karena basah. Gadis itu masih tak peduli.
“Nona,” ujar Kyuhyun dengan suara agak keras. Badannya agak dicondongkan ke depan dengan salah satu tangan tertarik terulur, berniat menyentuh pundak si gadis.
Tak ada jawaban.
Puk.
Akhirnya Kyuhyun menepuk pundak si gadis karena ia juga tak mendapat respon.
“Nona, kau baik-baik saja?” tanya Kyuhyun.
Hening. Kyuhyun tak mendapat respon. Jangankan untuk menjawab pertanyaan, menoleh saja tidak, seperti tidak ada orang yang berbicara padanya. Badan Kyuhyun kembali menegak.
Untuk apa aku peduli, batinnya mencoba acuh.
Kyuhyun berbalik kembali menuju ke pohon makam ibunya. Sebelumnya ia sempat melirik tulisan yang tertera di pohon makam dekat gadis itu. Kang Yebin, mungkin itu nama orang terdekatnya si gadis. Entah itu ibu atau neneknya, yang pasti Kyuhyun yakin orang itu belum lama meninggal.
“Ah, untuk apa aku peduli,” gumam Kyuhyun sambil mengangkat bahunya acuh.
***
2013, 12 July
Kyuhyun menggeliat. Tangannya merapatkan selimut dan makin masuk ke dalamnya. Walaupun sudah pagi, udara yang begitu dingin membuatnya bertahan dalam posisi seperti itu. Embun yang bercampur sisa-sisa air hujan kemarin tampak menetes di dedaunan pohon. Jalanan di depan rumah pun masih tampak basah.
Kyuhyun mencoba membuka matanya. Hari ini libur dan ia memutuskan untuk ke makam ibunya lagi. Kali ini Kyuhyun berniat untuk membawa sebuket bunga mawar putih. Ibunya sangat menyukai bunga, terlebih bunga mawar putih.
Selimut yang digunakan Kyuhyun tersingkap. Tangannya terulur meraih ponsel yang terletak di meja nakas. Tiga-puluh-empat panggilan tak terjawab dan lima-puluh-empat pesan singkat masuk. Ya, semuanya dari Seo Young. Kyuhyun menghela napasnya panjang, lalu meletakkan ponsel itu acuh tanpa berniat memeriksa pesan yang masuk.
Mereka sudah berhubungan sejak setahun yang lalu. Awalnya mereka bertemu di sebuah bar illegal di daerah Incheon. Saat itu keduanya mabuk dan mereka tak sengaja melakukan `itu` untuk pertama kalinya. Semuanya berlanjut hingga sekarang, bahkan itu menjadi kesenangan tersendiri untuk masing-masing.
Apa ada rasa cinta di antara keduanya?
Untuk Seo Young, ya, tetapi tidak dengan Kyuhyun. Sudah puluhan kali gadis itu mengatakan kalau ia berangsur-angsur menyukai—mungkin sudah jadi mencintai Kyuhyun, bahkan ia berniat ingin menjadi ibu dari anak-anak Kyuhyun kelak. Namun Kyuhyun menolaknya dan mempertahankan hubungan itu sebagai teman untuk berbagi kesenangan.
Kyuhyun menyalakan pancuran dan melepas pakaian, membiarkan teronggok di atas dudukan toilet. Dalam beberapa detik air hangat mulai membuat ruangan itu beruap. Begitu melangkah ke bawah pancuran, Kyuhyun membasahi rambutnya.
Ia mengingat gadis yang ditemuinya di pemakaman kemarin. Dulu saat Kyuhyun ditinggalkan oleh ibunya, ia menginap di pemakaman selama tiga hari, sampai-sampai ayahnya tinggal di perumahan dekat sana hanya untuk mengawasi Kyuhyun. Tidak peduli itu panas ataupun hujan, ia memeluk pohon makam ibunya. Bahkan ia tidak makan ataupun minum hingga akhirnya ia pingsan saat mencapai batasnya.
Apakah gadis itu akan melakukan hal yang sama?
Pakaian gadis itu sudah kotor dan pastinya akan terasa lengket karena air hujan. Tetapi ia masih duduk bersimpuh disana tanpa bergeming sampai Kyuhyun meninggalkannya pulang kemarin.
Ah entahlah… Nanti Kyuhyun akan melihat apa yang terjadi saat sampai di pemakaman.
…*…
Kyuhyun menghentikan mobilnya di tepi jalan dan menempatkan persneling di posisi parkir. Ia bergegas keluar dari mobil dengan membawa sebuket bunga mawar putih di tangannya. Dalam benaknya, ia masih penasaran dengan keadaan gadis itu sekarang. Entahlah gadis itu masih disana atau tidak.
Ia sampai di pohon makam ibunya. Pertama-tama Kyuhyun meletakkan buket bunga mawar putih itu di depan pohon makam. Ia memberi salam berupa bungkukkan pada ibunya, lalu menegakkan badannya lagi. Mata Kyuhyun melirik ke kanan. Sejauh lima meter dari tempatnya berdiri, matanya menangkap sosok gadis yang ditemuinya kemarin masih dalam posisi sama. Sekarang tidak hanya gaun, tetapi juga kulit tubuh dan wajahnya juga sudah kotor oleh lumpur.
Kyuhyun berjalan mendekat ke arah gadis itu.
“Nona kau baik-baik saja?” tanya Kyuhyun agak cemas.
Dia hanya seperti melihat dirinya di masa lalu.
Tangannya terulur memegang pundak si gadis. Matanya terfokus pada tangan gadis itu yang bergetar kedinginan. Hujan di tengah keringnya musim panas membuat gadis itu menggigil seperti kehilangan jaket di musim dingin.
Kyuhyun berjongkok di sebelah gadis itu, “Nona kau mendengarku?” tanyanya sekali lagi.
Kepala gadis itu berputar, menoleh ke arah Kyuhyun, si sumber suara. Kondisi gadis itu sangat buruk. Wajahnya tampak kotor dengan kantung mata yang menghitam. Belum lagi dengan mata sembab bekas menangis.
“Kau mendengarku?” Kyuhyun tersenyum karena gadis itu menoleh ke arahnya, “Kau baik-baik saja? Kenapa kau tidak pulang? Kau ingin memakan sesuatu bersamaku?”
Kyuhyun langsung menghujani gadis itu dengan banyak pertanyaan. Sekali lagi dia hanya cemas karena seperti melihat dirinya di masa lalu.
Gadis itu diam, tetapi mata dengan iris cokelat caramel–nya menatap Kyuhyun penuh arti.
“Nona?” ujar Kyuhyun.
Tangan kanan gadis itu terulur, meraih tangan kiri Kyuhyun, menggenggamnya dengan erat.
“Aku tidak mengerti apa yang kau maksud, tetapi sepertinya kau ingin ikut bersamaku. Baiklah, aku akan membawamu,”
***
2013, 13 July
Choi Inyeon duduk di sebuah kursi berbahan kayu menghadap ke jendela. Matanya menatap kosong pepohonan tinggi yang tumbuh di depan rumah Kyuhyun. Ya, sekarang dia berada disana, tepat di sebuah kamar yang berada di lantai dua.
Sejak Kyuhyun membawanya ke dalam kamar itu dalam keadaan kotor, dan seorang wanita setengah baya yang merupakan tetangga Kyuhyun membersihkan tubuh kemudian mengganti pakaian Inyeon, gadis itu sama sekali belum memindahkan tubuhnya se–inchi pun dari kursi. Semalam ia tertidur disana juga. Bukannya dia tidak ingin memindahkan dirinya ke tempat lain, tetapi Inyeon memang tidak bisa.
Inyeon, dia lumpuh.
…*…
–Kyuhyun PoV–
Dia hanya diam dan duduk menghadap keluar melalui jendela kamarku. Terkadang dia mendengar atau meresponku saat aku berbicara padanya, tetapi lebih sering tidak. Dia sama sekali belum memakan sesuatu sampai aku meninggalkan untuk mencari identitasnya. Bukannya aku tidak ingin memberinya makan, tetapi dia memang tidak mau makan.
Gadis itu, aku belum mengetahui namanya. Tidak ada tanda pengenal semacam kartu kependudukan ataupun SIM. Aku ingin mencari informasinya. Kang Yebin, itu satu-satunya kunci yang aku dapat.
Pertama-tama, aku menemui penjaga makam disana untuk menggali informasi tentang Kang Yebin. Akhirnya aku mendapatkannya. Dia adalah nenek gadis itu yang beberapa hari lalu meninggal karena gangguan jantung yang sudah lama diderita. Dari alamat yang aku lihat, rumahnya berada di perumahan padat penduduk di tengah hiruk-pikuk Kota Seoul. Sempit, selokan bau dan jalan setapak diplester semen dengan sampah berserakan di beberapa sisi. Lingkungan yang tidak sehat, bahkan menurutku ini tidak layak digunakan sebagai tempat tinggal.
Aku membaca ulang alamat yang tertulis di secarik kertas buram yang aku pegang. Tidak salah, aku yakin rumahnya berada di sekitar sini. Kemudian, beberapa meter di depan mataku, terdapat sebuah rumah dengan pintu gerbang berwarna oranye berbahan seng yang terbuka. Sampah berupa kertas dan dedaunan keluar masuk dengan bebas karena angin. Seperti rumah yang tidak berpenghuni.
Kakiku melangkah mendekat. Setelah sampai, aku langsung membaca kotak pos yang terletak di dekat pintu gerbang dan mencocokkan alamatnya.
Cocok. Itu memang alamat rumah Kang Yebin.
Ding ding…
Sepertinya sebuah pesan masuk. Aku merogoh ponselku untuk melihatnya. Seperti dugaan, dia adalah Seo Young. Puluhan pesan bahkan panggilan darinya ku abaikan sejak kemarin. Wanita itu cukup membuatku kerepotan. Rasanya ingin memutuskan hubungan, tetapi setelah dipikir, aku akan kesulitan untuk mendapatkan wanita yang bisa memenuhi nafsuku setiap waktu.
Klik.
From: Seo Young
Kau ada dimana, Kyuhyun~ah? Aku ingin berbicara sesuatu. Sekarang aku ada di rumahmu. Dan hey… Kau menyimpan seorang gadis di kamarmu? Ah sungguh tidak bisa dipercaya.
–Kyuhyun PoV end–
…*…
Kyuhyun menelan ludahnya kasar. Seo Young ada di rumahnya? Dan dia masuk ke dalam kamarnya? Gawat, Seo Young mungkin saja melukai gadis yang dipungut oleh Kyuhyun kemarin.
Kyuhyun mencemaskan hal itu. Sebelumnya ia juga pernah membawa gadis ke dalam rumahnya, tetapi gadis itu akhirnya mendapat luka karena Seo Young. Bahkan Seo Young mengancam akan membunuh jika dia melapor pada polisi. Ya, Kyuhyun tahu, semua itu karena Seo Young mencintainya dan tidak hanya menganggap sebagai sebatas teman.
Lelaki itu berbalik, mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam rumah kosong milik Kang Yebin. Setidaknya Kyuhyun masih punya cukup waktu untuk kembali ke rumah dan melindungi gadis itu sebelum Seo Young berbuat yang tidak-tidak.
Brak…
Kyuhyun hampir saja terjatuh karena bahunya tak sengaja menyenggol seorang wanita setengah baya yang berpapasan dengannya. Barang bawaan wanita itu juga hampir terjatuh karena Kyuhyun yang berjalan terburu-buru.
“Jeosonghamnida…” kata Kyuhyun membungkuk lalu kembali melanjutkan langkahnya.
“Siapa pemuda itu?” gumam wanita tadi, “Apa dia masuk ke dalam rumah Inyeon?”
…*…
Brak.
Kyuhyun membuka pintu kamarnya kasar. Setelah memeriksa ke seluruh sudut rumah—kecuali di kamarnya dan tidak menemukan Seo Young, dia dapat memastikan kalau wanita itu pasti ada di ruangan pribadinya—kamarnya.
“Seo Young.” ujar Kyuhyun panik. Sesaat kemudian ia dapat menarik napas lega karena melihat Seo Young yang hanya berjongkok sambil memandangi gadis yang menatap kosong keluar jendela.
“Dia mainan barumu?” tanya Seo Young, “Kau menempatkannya dengan baik di kamarmu,” tatapan matanya masih menuju ke gadis itu.
Kyuhyun menelan ludahnya kasar. Dia harus menjawab apa? Tidak, Seo Young itu berbahaya, dia tidak boleh menjawab asal-asalan.
“Dia adalah adik angkatku.” jawab Kyuhyun. Ah—rasanya ia ingin memukul dirinya sendiri. Adik? Jangan katakan Kyuhyun sedang bercanda.
“Adik–angkatmu?” tanya Seo Young penuh penekanan.
“Ya. Namanya Cho Minhyun. Appa–ku mengadopsinya kemarin.” kata Kyuhyun berbohong. Bahkan ia mengarang nama untuk gadis yang sama sekali tidak dikenalnya itu.
“Oh… Pantas saja kau tidak membalas satupun pesan dariku. Pasti kau sedang sibuk mengurusnya.” Seo Young berdiri seraya menghampiri Kyuhyun.
“Young~ah…” ujar Kyuhyun. Matanya melirik sekilas tangan Seo Young yang mulai bermain di lehernya dan berniat menggoda. Kyuhyun berusaha mengabaikan hal itu.
“Apa?” tanyanya dengan manja.
“Aku ingin mengakhirinya.” kata Kyuhyun.
Seo Young menautkan alisnya, “Apa maksudmu?” tanyanya lalu menarik tangannya menjauh dari Kyuhyun.
“Aku ingin memutuskan hubungan pertemanan kita.”
“Tetapi kenapa?”
“Aku sudah bosan denganmu. Apa kau tak mengerti? Kita hanya berteman untuk berbagi kesenangan. Saat salah satu dari kita sudah bosan, kita akan mengakhirinya. Jadi, kau bisa berhenti berharap untuk menjadi istriku. Kau bisa bermain dengan laki-laki lain yang mungkin saja juga mencintaimu.”
“Tetapi aku—,”
“Aku tidak ingin mendengar alasan apapun. Kau bisa pergi dari rumahku sekarang.” Kyuhyun melangkah melewati Seo Young masih terpaku.
Bibir Seo Young bergetar, “Tidak, itu tidak boleh terjadi,” batinnya.
Seo Young menoleh ke arah Kyuhyun. Ia mendapati lelaki itu yang sedang berjongkok memandangi gadis yang dikatakan sebagai adik angkatnya. Tangan Kyuhyun memegang tangan gadis itu hangat. Sungguh, hal itu sangat membuat Seo Young cemburu.
“Apa semuanya gara-gara gadis itu? Kyuhyun adalah milikku. Aku akan membuatnya mencintaiku dan segera membuang gadis itu. Memangnya dia siapa huh?” batinnya marah.
***
2013, 14 July
Kyuhyun duduk di salah satu kursi yang terletak di balkon. Posisinya tepat menghadap Inyeon. Sebuah kotak berukuran sedang terletak di atas meja yang memisahkan keduanya.
“Kemarin aku senang karena akhirnya kau mau makan,” Kyuhyun tersenyum, “jadi aku memberimu hadiah.” Kyuhyun membuka kotak itu dan mengeluarkan sebuah boneka beruang berwarna cokelat berukuran sedang.
Mata Inyeon berkedip saat Kyuhyun mengeluarkan boneka dari dalam kotak. Tangannya terulur untuk meraih boneka yang diletakkan di atas meja. Dia sangat menyukainya. Warna boneka itu seperti warna iris matanya.
“Terima kasih,” gumam Inyeon pelan.
Kyuhyun membulatkan matanya terkejut. Untuk pertama kalinya gadis itu berbicara kepadanya. Walaupun hanya gumaman pelan, tetapi Kyuhyun dapat mendengar suaranya dengan jelas. Kyuhyun tersenyum takjub.
“Aku sempat mengira kau bisu,” kata Kyuhyun, “Tetapi ternyata suaramu sangat lembut.” tambahnya dan tersenyum canggung.
Tangannya mengepal. Kyuhyun sempat ingin memukul dirinya sendiri. Kenapa dia mengatakan kalimat itu? Bisu? Itu bisa saja menyinggung perasaan gadis itu. Hal lain yang Kyuhyun ketahui dan itu pasti adalah kenyataan bahwa gadis itu lumpuh. Kakinya memang lemas dan tak bisa digerakkan.
“Minhyun~ah…” ujar Kyuhyun, “Hari ini aku akan mengatakan pada appa–ku untuk mengadopsimu.”
Hening. Inyeon tak merespon apa yang dikatakan oleh Kyuhyun barusan. Namun tangannya bergerak, menarik perlahan note book kecil dan sebuah pensil. Kali ini Inyeon menulis sesuatu pada kertas itu. Setelah beberapa saat, dia menyodorkan note book itu pada Kyuhyun.
Choi Inyeon, bukan Minhyun.
“Namamu Choi Inyeon?” tanya Kyuhyun untuk menegaskan, “Ah ya, aku juga belum mengatakan siapa namaku padamu. Perkenalkan, namaku Kyuhyun, Cho Kyuhyun.”
Inyeon tersenyum.
“Gadis yang kemarin menemuimu kemarin bernama Seo Young. Dia adalah temanku.” jelas Kyuhyun, “Mianhae karena kemarin aku mengatakan kalau namamu adalah Cho Minhyun padanya. Mulai sekarang, cobalah untuk menjadi lebih akrab,”
…*…
“Yeoboseyo…” sapa Kyuhyun setelah mendekatkan ponsel ke telinga kanannya.
“Ada apa, Kyu? Kau menelponku saat aku berada di jam kerja.” sahut seseorang yang merupakan ayah Kyuhyun di seberang telpon.
“Bisakah Appa mengadopsi seseorang untukku?” tanya Kyuhyun.
“Maksudmu bagaimana, Kyu?”
“Kemarin aku menemukan seseorang dan tertarik untuk mengangkatnya sebagai saudaraku. Bisakah Appa mengurus surat adopsi agar dia menjadi anakmu? Aku akan mengirimkan foto orang itu padamu.”
Kyuhyun menahan panggilan telponnya. Dia mengirimkan foto gadis itu dengan ekspresi yang menurutnya paling cantik. Kyuhyun yakin, itu bisa meyakinkan ayahnya.
“Apa sudah terkirim?” tanya Kyuhyun kembali mengangkat telponnya.
“Ya,” sahut ayahnya, “Dia sangat cantik. Baiklah, aku akan segera mengurusnya. Oh ya, nama gadis itu siapa?”
“Namanya Inyeon, Choi Inyeon.” sahut Kyuhyun yakin.
“Baiklah. Kau segera mendapat apa yang kau mau Kyuhyun~i,”
***
2015, 5 July
Dua tahun berlalu setelah Kyuhyun membiarkan Inyeon di rumahnya. Kehidupannya menjadi agak tentram karena Seo Young yang memutuskan untuk pergi ke China. Mungkin wanita itu berpikir Kyuhyun akan mencegahnya untuk pergi, tetapi yang terjadi malah sebaliknya.
Selama dua tahun terakhir, Inyeon menghabiskan waktunya di atas kursi roda. Diam dan kurang merespon, itu masih sering terjadi. Akhirnya Kyuhyun mengetahui apa yang menyebabkan semua itu. Choi Inyeon, dia mengidap cerebral palsy.
Beberapa bulan terakhir, Inyeon menjalani terapi yang diperuntukkan untuk penderita cerebral palsy. Kyuhyun membuatkan sebuah ruangan khusus untuk Inyeon yang lengkap dengan pemicu respon dan alat yang dapat melatih otaknya. Gadis itu tidak bodoh, bahkan ia dapat menulis dan memahami sesuatu dengan baik, hanya saja ia seperti seorang tuna rungu yang sulit merespon orang.
…*…
–Flashback–
2014, 15 December
Angin musim dingin berdesir menusuk bagian terdalam tulang. Walaupun sudah menggunakan jaket yang tebal dengan syal yang melingkar di leher, tetapi hembusan angin itu seakan memiliki celah untuk masuk ke dalam tubuh.
Perasaan itu ditepis oleh Kyuhyun ketika kakinya melangkah di jalan setapak dengan pagar rumah-rumah semi permanen yang menghimpit di kedua sisinya. Ia kembali datang ke tempat yang pernah didatangi dulu. Tepat sekali, ia kembali menuju ke alamat rumah Inyeon.
Mungkin karena suasana hatinya yang terlalu gembira setahun lalu membuatnya lupa untuk menelusuri asal-usul gadis yang sekarang sudah sah secara hukum menjadi saudaranya. Sekarang ia kembali ingin menelusurinya setelah Kyuhyun tahu adik angkatnya itu mengidap cerebral palsy.
Hal itu bermula ketika Kyuhyun menawari Inyeon untuk makan malam, tetapi gadis itu tiba-tiba shock dan menjadi kaku dengan tangan yang bergetar hebat. Ia segera membawanya ke rumah sakit dan akhirnya mengetahui kalau Inyeon mengidap penyakit itu. Perkiraan dokter, Inyeon sudah menderita cerebral palsy sejak masih berumur tiga tahun.
Tangan Kyuhyun terulur untuk membuka pintu berbahan seng warna oranye. Kakinya melangkah masuk ke halaman depan rumah yang sempit. Kebun di sisi kanan rumah tampak tak terawat dengan rumput-rumput liar yang tumbuh di berbagai sisi. Belum lagi dengan sarang laba-laba di beberapa sudut rumah menambah kesan rumah ini memang tidak berpenghuni.
Kyuhyun berjongkok di depan teras rumah, lalu meniup debu yang menutup lantai teras. Sesaat kemudian ia duduk disana. Matanya berputar melihat ke sekitar rumah. Berbagai pertanyaan pun muncul di benak Kyuhyun, mulai dari kemana ayah dan ibu Inyeon, kenapa dia hanya tinggal dengan neneknya, apa dia tak mempunyai saudara lain, dan hal lain yang berkaitan dengan keadaan Inyeon.
Mata Kyuhyun menyipit saat melihat wanita setengah baya yang mengintip dari balik pintu berwarna oranye itu. Ia bangkit, melangkah menuju pintu. Wanita itu tampak gugup dan bersiap meninggalkan tempat mengintai.
“Tunggu!” kata Kyuhyun berhasil menghentikan langkah wanita itu.
Dia menghela napas berat. Langkah wanita itu kurang cepat. Mungkin seharusnya dia berlari tadi.
“Ahjumma…” Kyuhyun mendekati wanita yang berdiri membelakangi dirinya itu, “Apa kau tadi melihatku disana?” tanyanya.
“Y—ya,” wanita itu tersenyum canggung saat Kyuhyun mengambil posisi dengan berdiri di depannya.
“Ahjumma, kau mengenal keluarga itu?” tanya Kyuhyun. Sekarang ia akan berusaha menggali informasi tentang Inyeon sedalam mungkin.
“Y—ya, aku mengenalnya. Kalau tidak salah, kau pemuda yang sama yang ku temui setahun yang lalu.”
Bola mata Kyuhyun berputar, berusaha mengingatnya. Ah ya, mungkin ini adalah wanita setengah baya yang tidak sengaja disenggolnya dulu.
“Kau sedang mencari penghuni rumah itu?” tanya ahjumma tadi, “Rumah itu sudah tidak berpenghuni. Dulu, rumah itu dihuni oleh dua orang perempuan. Yang satu adalah halmeoni–nya dan yang satunya lagi adalah cucunya. Tetapi sejak halmeoni–nya meninggal, gadis itu tidak pernah kembali.” jelasnya.
“Apa kau mengetahui banyak tentang gadis itu?” tanya Kyuhyun.
“Aku tinggal di rumah itu,” katanya sambil menunjuk rumah yang berada di tempat yang lebih tinggi dari rumah milik Inyeon, “puluhan tahun lamanya. Nama gadis itu adalah Choi Inyeon. Yang aku tahu, malam hari di musim dingin terjadi pertengkaran hebat di antara kedua orang tuanya. Appa–nya adalah seorang penjudi dan pecandu alcohol dan eomma–nya yang bekerja keras untuk mengobati Inyeon yang sakit.”
Sakit? Apa mungkin gara-gara penyakit Inyeon yang dideritanya sekarang?
“Appa–nya memutuskan untuk pergi dan akhirnya eomma–nya menikah lagi dengan seorang pengusaha kaya. Setelah itu, Inyeon hanya tinggal bersama halmeoni–nya,” jelas ahjumma tadi yang sepertinya sudah menutup ceritanya, “Mungkin Inyeon sekarang sudah meninggal karena sejak hari itu aku sama sekali tidak pernah melihatnya lagi.”
Hening.
“Nak, kau baik-baik saja?” tanya ahjumma itu, “Aku harus pergi sekarang karena masih banyak yang harus dikerjakan.” katanya lalu meninggalkan Kyuhyun yang masih terdiam di tempatnya.
–Flashback End–
…*…
Bel rumah berbunyi. Kyuhyun meletakkan cangkir kopi yang semula diangkat. Majalah yang semula dibaca olehnya diletakkan di atas meja. Ia menuju ke pintu untuk membukanya.
“Aku datang terlambat, mian.” sesal seorang pria yang terlihat seumuran dengan Kyuhyun. Di belakangnya, berdiri seorang wanita dan juga melempar senyum penyesalan ke arah Kyuhyun.
“Aku tahu. Kau itu orang yang sibuk—emhh dan istrimu juga seperti itu. Ayo masuk!” lalu Kyuhyun mempersilahkan mereka untuk masuk.
“Bagaimana dengan Inyeon, apa dia membaik?” tanya pria tadi.
Henry Lau, dokter ahli saraf yang merupakan teman baik Kyuhyun. Mereka berada di kelas yang sama ketika berada di SMA. Dan perempuan tadi, dia adalah istri Henry, Xin Mei. Mereka berdua adalah orang China. Beda halnya dengan Henry, Xin Mei adalah seorang ahli anastesi.
“Kau tahu jawabanku apa,” kata Kyuhyun.
Mereka menaiki tangga, menuju ke kamar Inyeon yang berada di lantai dua.
“Apa kau sungguh-sungguh akan melakukan itu?” tanya Henry.
“Maksudmu membatalkan adopsi Inyeon?” tanya Kyuhyun, “Ah entahlah… Appa–ku sudah terlalu kesal karena tagihan kartu kreditku yang makin membengkak tiap bulannya.”
“Kau tidak mengatakan uang itu kau gunakan untuk biaya Inyeon?” tanya Xin Mei.
Kyuhyun menggeleng, “Appa–ku tidak tahu kalau dia mengadopsi seorang yang sakit.”
“Tunggu, kau sekarang sudah bekerja kan? Tentu saja kau menghasilkan uang sendiri. Apa appa–mu masih mengontrol keuanganmu?” tanya Henry.
“Hmm… Setidaknya dia akan mengawasi keuanganku sampai aku menikah.” Tangan Kyuhyun tampak terulur untuk membuka pintu kamar Inyeon.
“Kalau begitu kau harus segera menikah, Kyuhyun.” cibir Xin Mei.
Mereka masuk ke dalam kamar itu. Inyeon tampak sedang tertidur di atas ranjangnya. Xin Mei mengeluarkan alat pengukur tekanan darah dari dalam tasnya. Sebelumnya ia memeriksa detak jantung Inyeon menggunakan stetoskop lalu memeriksa tekanan darahnya. “Cukup baik,” katanya, “Ah walaupun seumuran, aku seperti melihat adikku sendiri.”
“Bukannya dia berubah saat Inyeon datang dan Seo Young pergi?” tanya Henry pada Xin Mei lalu memukul pelan lengan Kyuhyun.
“Hey! Diamlah!”
“Aku dengar Seo Young pergi ke China, apa dia sama sekali tak pernah menghubungimu?” tanya Xin Mei.
Kyuhyun menggeleng, “Dia tidak penting,”
***
2015, 6 July
Kyuhyun berdiri bersandar pada kusen pintu kamar Inyeon. Gadis itu sedang sibuk bermain dengan boneka beruang yang pernah diberikan padanya. Di sebelahnya juga terdapat rubik dan di lantai beberapa buah lego berserakan. Jika melihat Inyeon seperti itu, ia merasa bimbang. Bagaimanapun ia sudah mulai menyayangi Inyeon dengan segala keterbatasannya. Dua tahun bukanlah waktu yang singkat menurut Kyuhyun. Gadis itu banyak membuatnya berubah.
Dia juga ingin melihat Inyeon seperti gadis lainnya.
Tetapi keuangan yang dikontrol oleh ayahnya membuat lelaki tua itu mendesak Kyuhyun untuk mengizinkannya melepas adopsi terhadap Inyeon. Kyuhyun yang sekarang sudah bekerja di sebuah perusahaan itu hanya tak tega melihat gadis itu berada sendirian di rumah lamanya yang sudah lama tidak dihuni.
Ting tong… Ting tong…
Bel rumah berbunyi. Kyuhyun menghela napas berat. Henry dan Xin Mei mengatakan kalau mereka akan datang tiga hari kemudian, tetapi mereka malah datang hari ini. Dengan langkah malas, Kyuhyun menuju pintu untuk membukanya.
Saat daun pintu tertarik ke dalam dan Kyuhyun mengangkat wajahnya, ia sontak terkejut melihat siapa yang sedang berdiri sambil tersenyum di beranda rumah. “Seo—Young?” gumam Kyuhyun pelan.
“Lama tidak bertemu, Cho Kyuhyun. Kabarmu, apa baik-baik saja?” tanya Seo Young ramah.
Kyuhyun mengangguk canggung, “Kapan kau kembali?”
“Kemarin, tetapi aku baru sempat kesini hari ini.”
“Ayo masuk!” ujar Kyuhyun mempersilahkan. Walaupun ia agak tidak suka dengan kehadiran Seo Young, tetapi wanita itu sedang bertamu ke rumahnya. Jadi—dengan agak terpaksa, Kyuhyun membiarkannya untuk masuk.
“Choi Inyeon, apa dia baik-baik saja?” tanya Seo Young setelah mereka duduk di atas sofa dengan jarak yang cukup jauh.
Kyuhyun tampak terkejut. Ia sangat ingat saat memperkenalkan Inyeon padanya. Kyuhyun mengatakan namanya Cho Minhyun, bukan Choi Inyeon.
“Bagaimana—”
“Appa–mu yang memberitahuku. Kebetulan saat itu Tuan Cho menjadi perwakilan perusahaan yang merupakan clien di perusahaan tempatku bekerja. Jadi saat itu aku menyempatkan diri untuk berbincang dengannya.”
Kyuhyun mengangguk kikuk saat mendengar penjelasan Seo Young.
“Apa kau tidak memiliki penggantiku?” tanya Seo Young.
“Aku tidak melakukan hal semacam itu lagi,”
Seo Young tersenyum, “Cuaca di luar sedang hangat, kau ingin pergi membeli ice cream denganku? Aku yang traktir.” katanya, “Kau mau kan? Anggap saja ini adalah reuni antara teman lama yang tidak bisa kau tolak.”
“Baiklah,”
***
2015, 10 July
Inyeon menyisir boneka beruang kesayangan miliknya. Bibirnya tersenyum dan helai rambut hitamnya melambai. Sekarang ia berada di luar rumah dan menikmati angin musim panas yang berdesir begitu lembut. Err—lebih tepatnya, sejak dua hari terakhir ia berada di rumah milik Henry dan Xin Mei.
Pasangan itu tidak mengetahui apa alasan Kyuhyun menitipkan Inyeon di rumah mereka. Yang mereka tahu, Seo Young sudah kembali dari China.
Mereka berdiri di beranda rumah sambil memandangi Inyeon yang duduk di bawah pohon.
“Menurutmu apa sedang terjadi sesuatu?” tanya Henry.
“Mungkin.” terka Xin Mei, “Apa mungkin karena Seo Young?”
…*…
Terhitung empat hari sejak Seo Young datang ke rumah Kyuhyun. Mereka tampak semakin akrab. Berbeda dengan Kyuhyun sebelumnya, sekarang ia bersikap lebih hangat pada Seo Young. Tidak banyak yang dilakukan oleh wanita itu. Ia hanya berusaha untuk menjadi ramah. Minum kopi bersama, berkencan sambil membeli ice cream dan berbagi pengalaman membuatnya semakin menarik.
Ya, itulah rencana utama wanita itu. Menyingkirkan Inyeon dan mendapatkan Kyuhyun dengan cara yang lembut. Dia memang tidak mengira akan secepat itu, tetapi ia mendapat respon baik dari pria yang masih sangat dicintainya.
Kabar yang paling baik adalah kenyataan bahwa Inyeon yang sudah dipindahkan ke rumah Henry dan Xin Mei. Kyuhyun juga mengatakan kalau dia akan segera membatalkan adopsi terhadap Inyeon.
Seo Young meletakkan secangkir Caffe Latte di depan Kyuhyun. Tidak, dia tidak meletakkan apapun pada minuman panas itu. Dia tidak ingin merusak rencananya yang hampir sempurna.
“Minumlah,” kata Seo Young.
Tanpa ragu, Kyuhyun menyesap Caffe Latte buatan Seo Young.
Beberapa hari terakhir, ia memang merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya. Menurutnya, bukan hanya dirinya yang berubah, tetapi juga Seo Young. Wanita itu menjadi sangat ramah. Tidak bisa dipungkiri, Kyuhyun memang mulai menaruh hati padanya.
Lalu bagaimana dengan Inyeon?
Ah, Kyuhyun hanya menyayanginya sebagai adik, tidak lebih dan juga tidak kurang. Walaupun ia sempat menyukai Inyeon melebihi kasih sayang dari kakak ke adiknya, tetapi Kyuhyun segera menepisnya, mengingat Inyeon masih sah menjadi saudara.
Setelah membahas pembatalan adopsi dengan Seo Young dua hari yang lalu, kemarin malam Kyuhyun menelpon ayahnya dan meminta proses itu segera dilaksanakan. Ia juga sudah menyewa seseorang untuk membersihkan rumah lama Inyeon. Menurutnya, Inyeon sudah cukup membaik untuk tinggal seorang diri. Gadis itu tidak sepenuhnya manja. Dia dapat melakukan apapun tanpa bantuan dan sepengetahuan Kyuhyun.
***
2015, 12 July
“Kau yakin tidak akan menyesal? Ini terlalu cepat, Kyuhyun! Kau sangat gegabah.” Henry berbicara dengan nada yang cemas dan kesal. Ia hanya takut kalau suatu saat temannya itu akan menyesali keputusan yang diambil.
Kyuhyun mengacuhkan Henry. Ia sibuk mengemasi barang-barang Inyeon dan memasukkannya ke dalam koper. Hari ini Inyeon akan kembali ke rumahnya. Proses pembatalan adopsi itu sudah selesai. Bagi Kyuhyun, sekarang Inyeon hanyalah orang asing.
“Aku sudah bulat dengan keputusanku. Dua bulan lagi aku akan menikahi Seo Young.” katanya.
“Cih,” Henry berdecih. Tangannya berkacak pinggang, sesekali memijat dahinya. Dari tadi ia mondar-mandir tak jelas. Kepalanya terasa mau pecah memikirkan angin apa yang membuat Kyuhyun mengambil keputusan itu. Dia sangat tahu bagaimana hubungan Kyuhyun dan Seo Young dulu, jadi ini pasti ada apa-apanya.
“Yang aku sesali adalah tidak mengenal Seo Young lebih dalam. Dia mencintaiku dan aku baru menyadarinya bagaimana hal itu sekarang,” kata Kyuhyun lalu membawa koper Inyeon keluar, meninggalkan Henry dengan ekspresi tak percaya di dalam kamar Inyeon.
“Kau akan menyesal! Aku yakin itu!” teriak Henry tampak frustasi.
…*…
Xin Mei memandangi Inyeon yang mengadah ke arah jendela kamarnya. Mereka sedang duduk di bangku panjang yang terletak di halaman depan rumah Kyuhyun. Suara Henry dan Kyuhyun yang bertengkar terdengar jelas. Xin Mei tidak tahu pasti Inyeon mendengarnya atau tidak, tetapi melihat tangan Inyeon yang meremas boneka beruang miliknya kuat, dia mengira Inyeon mendengarnya.
“Kyuhyun mengusirku.” gumam Inyeon pelan.
Xin Mei membulatkan matanya. Untuk pertama kalinya selama dua tahun ia mendengar suara Inyeon. Gadis itu berbicara kepadanya.
“Tidak,” Xin Mei memaksakan dirinya untuk tersenyum, “dia hanya ingin kau hidup mandiri.”
“Dia akan menikah, itu sebabnya dia mengusirku.”
Inyeon menunduk. Setetes air mata jatuh di tangannya. Rasanya sangat sesak ketika mendengar Kyuhyun akan menikahi Seo Young. Dalam hatinya Inyeon merutuk kesal. Seharusnya Kyuhyun tidak membawanya saat itu. Perhatian, cara merawat dan sikap Kyuhyun membuat Inyeon menyukainya. Tidak hanya menganggapnya sebagai kakak, tetapi sebagai seorang pria.
***
2015, 13 July
Warna langit oranye khas senja tergantikan oleh warna biru tua dan bintang yang bertaburan. Mata dengan iris coklat caramel milik Inyeon menatap langit malam yang begitu membuat nyaman. Kembali ke rumahnya yang dulu tidaklah buruk, bahkan lama-kelamaan ia menyadari siapa dirinya. Inyeon tidak lagi mengharapkan Kyuhyun. Gadis itu sudah menganggap tidak pernah mengenal Kyuhyun.
Inyeon meraih tongkat yang terletak di sebelahnya. Walaupun benda itu sempat tidak terawat, tetapi masih layak digunakan. Dia tidak berniat menggunakan kursi roda lagi karena membuatnya agak kesulitan untuk melakukan hal yang masih dapat dikerjakan.
Inyeon berdiri lalu berbalik, bersiap masuk ke dalam biliknya. Rumah itu hanya terdiri dari tiga ruangan, satu kamar tidur, satu dapur dan satu lagi ruang tengah.
Sret, brak.
Inyeon terjatuh saat seseorang sengaja menendang tongkatnya menggunakan kaki. Matanya melirik mulai dari ujung sepatu si pelaku, perlahan naik hingga ia bisa melihat siapa orang itu. Seo Young.
“Bisu, lumpuh, sangat menyedihkan.” kata Seo Young angkuh, “Seharusnya aku tidak hanya melenyapkanmu dari kehidupan Kyuhyun, tetapi aku juga harus membuatmu lebih cepat bertemu dengan halmeoni–mu.”
Seo Young berjongkok. Tangannya meraih helai rambut Inyeon lalu menariknya kasar. Inyeon memekik. Tangannya mulai bergetar dan kakinya terlihat semakin kaku. Mungkin jika Seo Young melakukan hal yang tidak-tidak, Inyeon tak dapat menjerit untuk meminta bantuan.
“Kau harus mati, stupid!”
Seo Young melepaskan cengkraman tangannya terhadap rambut Inyeon. Ia meletakkan tas jinjingnya di teras, kemudian mengambil sebuah balok kayu di sudut rumah. Bibirnya tersenyum miring. Dengan sekuat tenaga, ia menghantamkan balok kayu itu di kaki Inyeon. Seo Young melakukannya beberapa kali sampai kaki Inyeon mengeluarkan darah dan terluka.
Inyeon tidak berteriak sama sekali. Dirinya terlalu shock dengan perlakuan Seo Young. Bibirnya terkatup rapat dan napasnya tercekat.
Tidak hanya sampai disana, setelah itu Seo Young menginjak tangan Inyeon menggunakan heels sepatunya.
“Hebat sekali. Tak satupun teriakan yang keluar dari mulutmu. Mungkin aku harus membuatmu kesakitan terlebih dulu sebelum meninggalkan dunia ini.” kata Seo Young dan kembali mengambil balok kayu itu lalu memukul Inyeon.
Beberapa menit berselang, Inyeon sudah tampak tak sadarkan diri. Seo Young yang kelelahan juga tampak puas melihat Inyeon yang terkulai lemas seperti itu. Rasa kesal yang dipendam selama dua tahun pun rasanya bisa terbayar dengan memperlakukan Inyeon seperti itu.
Brak.
Seo Young terkejut saat pintu berbahan seng berwarna oranye itu terbuka. Apalagi setelah menampakkan siapa yang berdiri disana. Mata Seo Young terbelalak menatap pria yang berekspresi tak percaya dengan apa yang dilihat dan tangan yang melepaskan boneka beruang dari genggamannya.
“Kyu—hyun,”
…*…
Tangan Kyuhyun mengangkat boneka beruang milik Inyeon. Gadis itu meninggalkan boneka itu di kamarnya. Padahal Kyuhyun yakin, saat berkemas semua barang milik Inyeon termasuk segala hal yang pernah ia berikan pada gadis itu sudah dibawa.
Kakinya melangkah, menyusuri jalan setapak yang membawanya menuju ke rumah Inyeon. Hari memang sudah malam, tetapi Kyuhyun memutuskan untuk membawa boneka itu ke rumah Inyeon. Ia tahu, Inyeon tidak dapat tidur tanpa boneka beruang itu disisinya.
Kyuhyun berhenti ketika merasakan getaran di saku celananya. Tangannya merogoh ponsel yang disimpan di dalam sana. Ahjumma yang bertemu dengan Kyuhyun saat itu menelponnya. Sebelumnya ia memang menitipkan Inyeon pada ahjumma itu dan meminta untuk menghubunginya jika terjadi sesuatu.
“Yeoboseyo…”
“Kyuhyun~ssi. Inyeon… Aku mendengarnya memekik. Seseorang mendatanginya.” katanya dengan nada panik.
Mata Kyuhyun membulat dan memutus hubungan telpon itu secara sepihak. Kakinya berlari sekencang mungkin. Baru sehari Inyeon berpisah dengannya, tetapi seseorang mengganggu gadis itu.
Brak.
Kyuhyun mendorong pintu rumah berwarna oranye itu dengan kasar. Napasnya tercekat. Tubuhnya terasa terpaku ketika melihat apa yang sedang terjadi. Wanita yang akan dinikahinya menatapnya dengan tatapan terkejut. Tangan wanita itu menggenggam sebuah balok kayu. Mata Kyuhyun melirik gadis yang terkulai lemas di halaman rumah dengan beberapa luka di sekujur tubuhnya. Tangannya terasa lemas hingga boneka beruang yang digenggam erat terjatuh.
“Kyu—hyun,”
“Apa yang kau lakukan?” tanya Kyuhyun dengan nada lemah.
“Ini tidak seperti yang kau lihat,” kata Seo Young.
Kyuhyun mengacuhkan wanita itu dan lebih memilih untuk menghampiri Inyeon. Ia memeriksa napas Inyeon, begitu pula dengan nadinya, lalu meletakkan tangannya di dada gadis itu. Masih hidup. Kyuhyun mengambil ponselnya dan menghubungi ambulance.
“Aku akan membatalkan semuanya, Seo Young.” katanya lalu mengangkat tubuh Inyeon dan meninggalkan rumah itu.
***
2015, 16 July
Inyeon membuka matanya perlahan. Penerangan yang berada di atasnya seakan memaksa masuk ke dalam pupil mata yang berangsur membesar.
Tiga hari berlalu sejak kejadian malam itu. Selama itu pula Inyeon dinyatakan koma oleh dokter yang merawatnya. Luka dan memar yang berada di sekujur tubuhnya berangsur-angsur menghilang walaupun di beberapa bagian masih tampak.
Iris matanya berputar, melirik ke seluruh ruangan yang di dominasi dengan cat berwarna putih. Tidak ada siapapun. Inyeon mencoba mengangkat tangannya. Jarum infuse tersemat disana. Alat-alat medis lain yang menopang kehidupannya pun tertempel di beberapa bagian.
Cklek.
Kenop pintu berputar menampakkan seorang pria berjas putih yang tidak asing. Dia adalah Henry. Ia melangkah mendekat ke bedpan yang ditempati oleh Inyeon.
“Kau sudah sadar?” tanya Henry seraya tersenyum.
Henry meraih selang infuse yang terhubung ke tangan Inyeon. Beberapa kali ia memutar gerigi yang berada di selang itu. “Tampak membaik. Syukurlah tidak terjadi luka yang serius walaupun kau sempat koma dalam beberapa hari.”
Henry melihat arloji yang melingkar di tangan kirinya, “Beberapa saat lagi Kyuhyun akan datang. Dia pasti senang saat mengetahui kalau kau sudah sadar. Dia bekerja keras selama tiga hari terakhir. Aku harap kau tidak membencinya karena hal ini,” katanya lalu meninggalkan ruangan yang ditempati Inyeon. Entahlah, Henry masih tidak yakin apakah Inyeon menyadari apa yang sedang dikatakannya. Meskipun membaik, tetapi itu tetap saja mempengaruhi kerja sarafnya.
Inyeon kembali sendirian. Dia menyadari apa yang dikatakan oleh Henry barusan. Tidak lama lagi Kyuhyun akan datang.
Cklek.
Suara kenop pintu yang diputar kembali terdengar. Pria yang muncul dari balik pintu tersenyum ke arah Inyeon. Matanya berbinar bahagia. Mungkin ia sedang senang karena mengetahui Inyeon yang sudah sadar kembali dari komanya.
Kyuhyun menarik kursi yang terletak tak jauh dari bedpan. Sebelumnya ia meletakkan sebuket bunga mawar putih pada vas yang berada di atas meja nakas. Aroma semerbak bunga mawar putih pun dengan cepat memenuhi ruangan.
“Aku sangat senang melihatmu kembali sadar,” kata Kyuhyun dengan senyum yang masih mengembang, “Maafkan aku, Inyeon~ah. Aku menyesal. Seharusnya aku tidak mempercayai Seo Young begitu cepat. Aku sudah memastikan wanita itu akan membayar semua yang dilakukan padamu,”
Hening, tetapi tangan Inyeon tampak bergetar. Ia mengalami tremor lagi.
“Apa kau tidak mendengar apa yang aku katakan sekarang?” tanya Kyuhyun kecewa.
Cklek.
“Annyeong haseyo…” sapa seorang wanita setengah baya yang berpakaian serba putih dengan cap khas perawat yang berada di kepalanya.
Kyuhyun tersenyum, “Apa kau perlu memeriksa Inyeon?” tanyanya pada perawat yang sekarang sudah berdiri di sebelah bedpan.
“Tidak. Tadi dokter Henry menyuruhku untuk memandikan Nona Inyeon,”
“Memandikan? Err sepertinya tidak usah. Aku akan mengurusnya nanti.”
Perawat itu tersenyum, “Baiklah kalau begitu, aku permisi.”
…*…
Tangan Kyuhyun dengan cekatan menggosok bagian lengan Inyeon menggunakan sepon mandi. Gadis itu duduk di dudukan toilet dengan mata yang terus memperhatikan Kyuhyun. Inyeon hanya menggunakan celana yang sangat pendek dan bra tanpa tali untuk menutupi payudaranya yang tidak terlalu besar. Tidak ada kecemasan yang tersirat, meskipun orang yang sedang memandikannya adalah pria.
Kyuhyun yang semula berjongkok mengubah posisinya hingga bersimpuh. Sekarang ia menggosok leher Inyeon, memastikan tidak ada bagian yang tertinggal. Setelah itu Kyuhyun menyalakan pancuran dan membilas tubuh Inyeon.
“Kau tampak lebih cantik. Selama tiga hari kau sama sekali tidak sempat mandi,” kata Kyuhyun, “Baiklah, selesai.” katanya lalu meletakkan selang pancuran ke tempat semula.
Kyuhyun meraih handuk yang digantungkan di besi tempat menggantungkan handuk. Ia mengeringkan punggung Inyeon terlebih dahulu dengan posisi seperti memeluk gadis itu. Namun Kyuhyun segera sadar saat tangan Inyeon yang bergerak naik dan memeluk pinggangnya.
Chu~
Kyuhyun memberikan satu kecupan hangat di punggung Inyeon. Sekarang ia bersimpuh di depan Inyeon, bersiap untuk mengeringkan bagian depannya. Saat membersihkan leher Inyeon, mata mereka saling bertemu. Iris obsidian dan iris coklat caramel itu saling menatap satu sama lain dan membentuk sebuah ketertarikan di antara keduanya.
Kyuhyun membiarkan handuk itu begitu saja di atas pangkuan Inyeon, sementara wajahnya yang semakin mendekat ke arah wajah Inyeon. Hembusan napasnya sangat terasa menyentuh bibir Inyeon.
Chu~
Bukan hanya sekedar kecupan, tetapi Kyuhyun mengulum bibir Inyeon dalam. Gairahnya bergerak naik dan menuntun tangannya untuk menelusup di balik rambut sebahu gadis itu. Semakin lama, ciumannya semakin memanas. Kyuhyun–lah yang mendominasi.
Bra basah yang digunakan Inyeon melorot turun dan bagian tubuh yang berada dibaliknya segera diremas oleh Kyuhyun. Tidak hanya sampai disana, tangan Kyuhyun juga menurunkan celana pendek yang digunakan oleh Inyeon hingga menyisakan tubuh polosnya tidak dibalut oleh sehelai benangpun.
Tanpa melepaskan ciumannya terhadap Inyeon, Kyuhyun melepaskan celana yang digunakan olehnya. Ia kemudian berdiri dan mengangkat tubuh Inyeon. Kyuhyun duduk di atas dudukan toilet untuk memangku Inyeon. Baju yang masih melekat menutupi tubuh bagian atasnya ditanggalkan olehnya.
Kyuhyun memeluk Inyeon dan melingkarkan kedua tangan gadis itu di pinggangnya. Tubuh gadis itu diangkat sedikit olehnya, mengarahkan kejantanannya masuk ke dalam hole Inyeon. Sedikit sulit, ya, Kyuhyun tahu, Inyeon pasti sama sekali belum pernah melakukan hal semacam ini.
Setelah berusaha cukup lama, akhirnya Kyuhyun berhasil memasukkan seluruhnya. Tidak ada pekikkan ataupun teriakan yang keluar dari mulut Inyeon. Hanya ringisan kecil yang masih dapat di dengar oleh Kyuhyun. Meskipun begitu, punggung Kyuhyun terasa perih karena cengkraman Inyeon yang begitu kuat.
Kyuhyun menuntun Inyeon untuk bergerak. Mungkin ia harus membantunya sampai ke akhir permainan. Inyeon mendekap Kyuhyun erat-erat. Mereka sudah tak dapat membedakan tubuh masing-masing. Kyuhyun mencium sisi lehernya yang mulai berkeringat. Mengecupnya penuh dengan kasih sayang—ah mungkin itu lebih tampak seperti seorang pria berhasrat.
Tempo gerakan semakin cepat, detik demi detik berlalu dengan kenikamatan yang sunyi. Tidak ada erangan, tidak juga dengan desahan yang lolos dari bibir Inyeon. Semuanya begitu tampak tenang dan tidak ada yang akan mengetahuinya di luar sana.
Mereka mencapai puncak bersamaan. Menarik napas dalam dan melepaskan kenikmatan itu bersama-sama. Napas Inyeon terasa memburu dan menerpa punggung Kyuhyun kasar. Tangannya masih erat mencengkram kulit lelaki yang sempat menjadi kakak angkatnya itu.
“Apa kau menyukainya?” tanya Kyuhyun.
Tidak ada jawaban, namun Kyuhyun tahu, gadis itu pasti sangat menyukainya.
“Kyuhyun~ah…” gumam Inyeon pelan. Ini adalah kali kedua Kyuhyun mendengar Inyeon berbicara kepadanya, “Aku mencintaimu,”
***
2015, 18 July
Kyuhyun menyesap sedikit Cappuccino yang disajikan oleh Xin Mei. Mereka bertiga sedang berada di ruangan Henry dan berbincang mengenai Inyeon.
“Apa rencanamu selanjutnya?” tanya Henry sambil meletakkan cangkirnya, “Kau sudah membatalkan adopsi terhadap Inyeon. Sekarang tidak ada alasan untuk membiarkan Inyeon tinggal di dalam rumahmu.” Dokter muda itu kembali mengangkat cangkirnya.
“Aku akan segera menikahinya,”
“Uhuk,” Henry tersedak, dan Cappuccino itu tumpah membasahi celananya.
“Kau gila?” tanya Xin Mei, “Jangan-jangan kau sudah lama menyimpan perasaan untuk Inyeon,”
“Awalnya seperti itu, tetapi aku berusaha menepisnya. Sekarang perasaan itu rasanya kembali lagi.”
“Ini bukan karena rasa bersalahmu atas kejadian itu kan?” terka Henry, “Inyeon semakin membaik, ku pikir kau tidak perlu melakukan hal aneh yang dapat membahayakannya lagi.”
“Cih, sekarang kau malah seperti mencegahku untuk menikahi Inyeon.”
“Kau itu orang yang gegabah. Aku hanya tidak ingin gadis malang itu menderita karena tindakan bodoh seorang Cho Kyuhyun,”
“Kalau kau bukan sahabatku, mungkin kau sudah habis, Henry!”
Henry malah cengengesan mendengar pernyataan temannya itu, “Besok, kau dapat membawanya pulang,” katanya sembari tersenyum.
“Lusa, aku berencana untuk pergi ke California dan akan segera menggelar pesta pernikahan kami disana,” jelas Kyuhyun.
***
2015, 20 July
Kemarin malam pihak rumah sakit sudah memperbolehkan Inyeon kembali ke rumah. Kondisinya makin membaik pasca koma. Tidak ada tanda-tanda vital yang dapat membahayakan hidupnya. Inyeon tidak kembali ke rumahnya yang berada di komplek perumahan padat itu, tetapi ke rumah Kyuhyun.
Seluruh pakaian dan barang-barang milik Inyeon sudah dikemas oleh Kyuhyun. Mereka akan pergi ke California hari ini. Sementara Kyuhyun sibuk mengemasi barang-barang miliknya, ia membiarkan Inyeon yang menunggu di halaman depan rumahnya. Ia juga sudah memastikan kondisinya aman dari gangguan yang mungkin dapat melukai Inyeon.
Semuanya sudah siap. Beberapa jam lagi menuju keberangkatan pesawat. Kyuhyun menuju ke halaman depan. Ia berdiri sebentar di beranda rumah sambil memandangi Inyeon yang sedang bermain dengan boneka beruangnya di bawah pohon.
“Inyeon!” Kyuhyun seketika panik ketika melihat Inyeon yang terkulai lemas dan tak sadarkan diri. Ia menghampirinya dan beberapa kali menepuk pipi Inyeon, namun gadis itu tak sadar juga.
“Bertahanlah, aku akan membawamu ke rumah sakit,”
…*…
“Bagaimana?” tanya Kyuhyun. Ia segera ingin mengetahui keadaan Inyeon.
Henry menghela napasnya panjang, “Sepertinya kau harus membatalkan keberangkatanmu ke California,”
“Kenapa? Apa terjadi sesuatu?” tanya Kyuhyun mulai cemas.
“Ini diluar dugaanku, Kyuhyun. Sepertinya ada saraf yang tiba-tiba rusak dan menyebabkan otaknya tak dapat meneruskan informasi ke saraf motorik tangannya. Ini buruk. Mungkin untuk selanjutnya, Inyeon sama sekali tidak dapat menggerakkan tangannya,” jelas Henry. Dari nada bicaranya, ia terlihat putus asa.
“Apa ada cara lain?” tanya Kyuhyun.
“Tidak ada obat untuk gangguan ini,” kata Henry, “Kita hanya bisa melatih kemampuannya dengan terapi, cara lain dengan operasi pemotongan saraf di alat gerak terkait,”
“Lakukan semua yang bisa dilakukan. Bagaimanapun Inyeon harus sembuh,”
***
2018, 25 July
Tidak ada harapan untuk Inyeon. Tiga tahun sudah berlalu. Bukannya kondisi Inyeon semakin membaik, malah makin memburuk. Terapi bahkan operasi sudah dilakukan. Kondisinya sempat membaik, namun kembali drop hingga makin memburuk. Sekarang tidak hanya kakinya yang lumpuh, tetapi seluruh tubuhnya sudah tidak dapat digerakkan. Berbagai alat medis yang digunakan untuk mempertahankan hidup menempel di beberapa bagian tubuhnya. Bahkan hanya untuk makan, ia harus dibantu alat khusus yang dihubungkan melalui hidungnya.
Sudah tiga tahun pula Kyuhyun menunda rencananya menikahi Inyeon. Saat itu juga, Inyeon dinyatakan hamil. Tetapi karena kondisi fisiknya yang tidak memungkinkan, kandungannya terpaksa digugurkan.
Kyuhyun duduk di depan ruang rawat Inyeon. Ia menghela napas berkali-kali dan menutup wajah dengan kedua tangannya. Sekarang ia memikirkan cara bagaimana agar—setidaknya—Inyeon kembali seperti tiga tahun yang lalu. Mungkin terlihat konyol karena itu sama sekali tak mungkin terjadi.
Henry datang, tampak mengambil posisi duduk di dekat Kyuhyun. Tangannya terulur dan memegang pundak Kyuhyun.
“Aku ingin bertemu dengan Inyeon,” katanya.
Kyuhyun mengangkat dagunya dan mengangguk lemah.
Henry bangkit lalu menuju masuk ke dalam ruang rawat Inyeon. Ia berdiri sejenak di dekat pintu setelah pintu ruangan tertutup. Matanya terfokus pada tubuh yang terbujur tak berdaya di atas bedpan. Di sisi kanan, tepatnya di atas meja nakas, boneka beruang kesayangan Inyeon duduk bersandar pada vas yang dipenuhi oleh bunga mawar putih. Suasana cukup hening kecuali alat pengukur detak jantung yang berbunyi rutin, menandakan si pasien masih hidup.
Henry menarik sebuah kursi dan duduk di dekat bedpan.
“Ini pertama kalinya aku menemui pasienku secara khusus,” kata Henry, tersenyum getir, “aku melakukan ini karena bujukan istriku, Xin Mei. Apa kau mendengarnya? Istriku pernah mengatakan kalau dia sudah menganggapmu sebagai adiknya.”
“Jika keadaanmu tidak seperti ini, mungkin tahun ini kau dan Kyuhyun bisa melihat betapa senangnya menjadi orang tua. Anakku sudah berumur dua tahun dan dia seorang putri yang cantik juga lucu. Aku sempat berpikir kalau Kyuhyun mempunyai anak laki-laki, maka aku akan menjodohkannya dengan anakku.”
Henry meremas selimut yang menutupi tubuh Inyeon. Wanita yang tampak tertidur lelap itu sama sekali tidak menyadari kehadirannya.
“Jika hari itu Kyuhyun tidak bertindak bodoh, mungkin kau bisa melihat dan merasakan dimana hari-hari menjadi orang tua itu terjadi. Dia memang sahabatku, namun jika mengingat ini, terkadang aku sedikit membencinya. Apa merasakan hal yang sama?”
“Tidak, kau pasti sangat mencintainya. Ku pikir begitu pula sebaliknya. Apa kau memerlukan sedikit bantuanku? Anggaplah bantuan ini dari teman lamamu, Inyeon~ssi…”
Henry bangkit. Ia berjalan keluar dari ruangan Inyeon. Dokter itu kembali duduk di sebelah Kyuhyun. Napasnya tertarik perlahan, seperti bersiap ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting.
“Kau mencintai Inyeon?” tanya Henry.
“Tentu saja,” jawab Kyuhyun datar.
“Lepaskan dia,” kata Henry.
“Apa maksudmu?”
“Kau hanya menahannya. Jika kau memang mencintainya, kau harus melepaskannya. Apa kau tidak merasa kasihan ketika melihatnya terbaring lemah seperti tubuh tak bernyawa?”
“Aku tidak mengerti apa yang kau maksud,” sahut Kyuhyun mulai terlihat serius. Badannya berputar dan menghadap ke arah Henry.
“Biarkan dia pergi,” Henry menatap Kyuhyun penuh arti.
Mata Kyuhyun memicing. Dia mulai mengerti apa yang dimaksudkan oleh Henry. Tangannya terkepal. Dengan penuh amarah, lelaki itu menarik kerah kemeja yang digunakan oleh Henry. “Tidak semudah itu kau mempengaruhiku! Apa kau sangat membenciku huh?”
“Aku tidak membencimu. Kami sudah menganggap Inyeon sebagai adik kami juga. Kau pikir, kakak mana yang akan tega melihat adiknya seperti itu huh? Kau egois, Cho Kyuhyun! Seharusnya bukan hanya Seo Young yang membusuk di penjara, tetapi kau juga!”
Kyuhyun melepaskan cengkraman terhadap kerah kemeja Henry dengan kasar. Ia mencerna apa yang dikatakan oleh Henry secara perlahan.
“Pergi!” usir Kyuhyun tanpa melihat Henry.
“Pikirkan lagi apa yang aku katakan, Tuan Cho!”
***
2018, 30 July
Kyuhyun menyisir boneka beruang itu, lalu meletakkannya kembali ke tempat semula. Dia memandangi Inyeon yang masih tertidur. Setelah memikirkan hal yang dikatakan Henry lumayan lama, Kyuhyun memutuskan untuk mengambil keputusan yang berat.
Kyuhyun melirik tangannya ketika sebuah jari terasa menggelitiknya. Inyeon sedang berusaha menggerakkan tangannya dan ingin menyentuh Kyuhyun. Dengan cepat lelaki itu menggenggam tangan Inyeon. Matanya beralih melihat Inyeon yang terjaga.
“Mianhae… Aku pasti mengganggu tidurmu, Inyeon,”
Iris coklat caramel itu bergerak, melirik Kyuhyun. Cukup lama Inyeon memperhatikannya. Ia seperti ingin menyampaikan sesuatu tetapi, tidak bisa. Inyeon memberikan tatapan seolah menahan rasa sakit. Air mata mulai mengalir menuruni pipinya.
Melihat itu, Kyuhyun mulai mengerti. Apa yang dikatakan oleh Henry beberapa hari yang lalu tidak sepenuhnya salah. Bahkan yang dikatakan olehnya benar.
Kyuhyun mencium tangan Inyeon berkali-kali. Ia tidak ingin melewatkan sedetikpun moment yang berharga sebelum semuanya menghilang. “Mianhae. Aku bersikap seperti ini terhadapmu karena aku mencintaimu. Aku bersikap seperti orang bodoh dan ingin mempertahankanmu hingga sembuh, padahal hal itu sangat tidak mungkin.”
Kyuhyun bangkit dari posisi duduknya, kemudian mencium dahi Inyeon, mengecupnya cukup lama. Perlahan ciuman itu turun menuju ke bibir Inyeon. Air mata Kyuhyun menetes. Dadanya terasa sangat sesak.
“Aku sangat mencintaimu. Bahkan dengan bodohnya aku membuat pemikiran kita akan hidup bersama selamanya. Mianhae karena aku memperlakukan kau dengan egois. Mianhaeyo, Inyeon~ah.”
Rasanya Kyuhyun ingin menepuk dadanya dengan keras. Hal ini sangat menyesakkan. Air matanya tak berhenti mengalir, begitu pula dengan Inyeon.
“Aku akan melepaskanmu sekarang. Jika kau ingin pergi, pergilah! Aku tidak bisa menahanmu lebih lama. Itu akan membuatmu semakin menderita.” Kyuhyun menarik napasnya dalam, “Aku merelakanmu untuk pergi. Tetapi satu yang harus kau ingat, aku melakukan ini karena aku sangat mencintaimu,”
Akhirnya Kyuhyun mengatakannya. Tangannya mengelus lembut surai hitam Inyeon.
Wanita yang sudah lama dicintainya itu berusaha tersenyum dalam tangisnya. `Gomawo` dan `Aku mencintaimu, Kyuhyun`, mungkin itu kata dan kalimat yang ingin diucapkan oleh Inyeon. Matanya perlahan tertutup. Dia sudah sangat lelah hingga ingin tertidur, beristirahat untuk waktu yang lama.
Alat pengukur detak jantung mengeluarkan bunyi yang cukup memekakkan telinga dan menunjukan garis lurus pada monitornya.
Kyuhyun mengusap air mata yang mengalir di pipinya cukup kasar. Tangannya menarik selimut yang menyelimuti tubuh Inyeon hingga sebatas dada wanita itu. “Selamat tinggal, Inyeon,” katanya lalu mengecup lembut dahi Inyeon.
???
THE END
???
Park Ryeonji—July 2015

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: