CAMPBELL

0
campbell kang sura ff nc
Author             : Ullzsura
Genre              : Romance, nc
Cast                 :
–          Kim Himchan (BAP)
–          Kang Sura (Ulzz)
–          Kim Yura (Girlsday)
Himchan POV
12-12-13
            Sekolahku yang berharga, tempat dimana aku menghabiskan masa-masa burukku. Sangat buruk sampai aku ingin sekali melupakannya, tapi tidak bisa. Tujuh tahun sudah berlalu, tapi rasa sedih yang kurasakan saat itu tidak pernah hilang, bahkan memudar sedikit pun tidak. Tepatnya, rasa bersalahku masih menyelimutiku.

            Kulangkahkan kakiku menelusuri koridor sekolah. Sekolah ini tetap besar, bahkan terlihat lebih indah sekarang. Siswa-siswi berlalu-lalang melewatiku. Kuperhatikan lapangan bola dan basket yang bersebelahan. Ramai dengan anak-anak yang sedang bermain. Dulu, aku tak pernah bermain seperti itu. Bukan aku tidak bisa, tapi aku tidak tertarik untuk melakukannya di sekolah. Aku akan melakukannya saat liburan tiba, dan aku kembali ke rumahku.
            Sebuah suara gesekan kini mengusik telingaku. Gesekan sebuah pensil dengan kertas. Tak berubah, pendengaranku untuk masalah ini tetap tajam. Mataku menoleh pada sumber suara. Kulihat di depanku seorang anak perempuan duduk di pinggir lapang. Kepalanya tertunduk, terlihat fokus pada kertas yang sedang ia beri coretan asal. Rambutnya terurai panjang dan bukan hanya kelakuannya, tapi fisiknya pun mengingatkanku pada gadis itu. Tanpa kusadari kakiku melangkah ke arahnya dan kini aku tepat berada di depannya. Dia mengangkat dagunya, melihat heran padaku. Cantik.
            “Apa yang kau lakukan?” Tanyaku.
            “Membuat cerita.” Jawabnya dengan tatapan polos. Aku tak akan heran lagi dengan jawaban seperti itu. Aku pun duduk di sebelahnya dan memperhatikan coretan abstraknya.
            “Bisa ceritakan padaku bagaimana jalan ceritanya?” Tanyaku lagi.
            “Hm, aku belum selesai menggambarnya. Ini adalah sebuah kota.” Jelasnya sambil menunjuk lingkaran hitam di kertasnya. “Aku akan membuat cerita manusia kuda.”
            “Begitu?”
            “Ya.”
            “Lanjutkan kalau begitu.”
            Aku tersenyum dan menepuk bahu gadis itu, lalu kembali pergi.
            Sekolah ini bukan sekolah biasa. Dulu aku sama sekali tidak tau ada sekolah seperti ini di Seoul. Tempatnya di daerah terpencil, tapi sekolahnya sangat luas dan mewah. Aku pun tak menyangka ada sekolah mahal yang namanya saja tidak pernah kudengar. Sampai sekarang aku tidak pernah tau harus merasa senang atau sedih karena pernah menjadi siswa di sekolah ini. Seumur hidupku aku tidak pernah menyesal seperti ini. Rasanya ingin kembali ke masa lalu dan memperbaiki semuanya.
***
12-11-06
            “Cat kembali rambutmu jika masih mau sekolah di sini, Himchan.” Jelas guru bahasaku, entahlah namanya siapa.
            “Ne, seonsaengnim.” Jawabku malas, lalu berbalik, kembali menelusuri koridor sekolah. Lagipula siapa yang mau sekolah di sini. Dikeluarkan pun aku tidak akan bersedih. Ayahku memang menyebalkan, memasukkanku ke sekolah antah berantah ini seenaknya. Ya, aku memang meminta sekolah asrama, tapi bukan yang seperti ini!
            Malam ini aku akan keluar dengan alasan untuk mengecat rambutku kembali hitam. Ya, alasan yang cukup bagus.
            Berjalan terus, entah apa yang ingin kuperbuat pada jam istirahat pada hari ini. Malas bermain di lapang, malas berkumpul di kantin, semuanya membosankan. Tapi setelah aku menemukan Sura, aku tau apa yang ingin kulakukan.
            Kang Sura, gadis yang amat sangat cantik yang gemar menyendiri di bangku pinggir lapangan. Dia selalu membawa buku gambar dan pinsil kemana pun ia pergi. Berlagak seperti seniman, tapi gambarannya seperti bocah TK. Akhir-akhir ini aku selalu mendekatinya karena dia hiburan bagiku. Kau tau apa yang paling menyenangkan bagiku saat ini? Menjahili anak autis.
            Bicara tentang autis, ini yang membuatku risih untuk bersekolah di tempat ini. Di setiap kelas terdapat beberapa anak autis. Di kelasku terdapat 3 orang, salah satunya Kang Sura. Sekolah yang aneh karena menyatukan anak normal dengan anak yang kurang normal. Memang banyak hiburan, tapi terkadang mereka akan sangat amat mengganggu. Contohnya mereka akan melompat-lompat mengganggu pemandanganmu, bernyanyi seperti orang gila, menangis seperti bayi, sekolah SMA ini akan terlihat seperti playgroup jika salah satu dari mereka ada yang ‘kumat’.
            “Gambar apa yang kau buat hari ini?” Tanyaku sambil mengambil posisi untuk duduk di samping Sura. Dia langsung menoleh padaku. Matanya selalu membulat ketika memandangku. Pipinya selalu merona dan itu cantik sekali. Alasan mengapa aku mendekatinya, karena dia satu-satunya anak autis dengan fisik yang sangat menggoda.
            “Manusia kaca.” Jawabnya. Kulihat dia hanya menggambar orang-orangan berbentuk kotak. Seperti boneka danbo. Apanya yang manusia kaca? “Kasihan, dia mudah hancur.” Ujarnya, lanjut menggambar pada buku gambarnya.
            “Kau harus membuat tokoh pahwalan untuk menjaganya.”
            “Ah ya, kau benar!”
            “Tapi tidak sekarang.” Aku menahan tangannya yang hendak menggambar lagi. “Bermain denganku?”
            “Kemana?”
            “Seperti kemarin.” Dia diam, terlihat takut melihatku. Tak lama, dia menggelengkan kepalanya. “Tapi aku punya biskuit berbentuk beruang.”
            “Benarkah? Ayo kalau begitu!”
            Aku tersenyum lebar lalu menggandengnya pergi. Seperti merayu anak kecil, terlalu mudah.
***
            “Aku sudah meminta izin pada guru, jadi kau tak perlu khawatir. Mengerti?” Ujarku. Sura mengangguk lugu.
            “Apa kakimu pegal?” Tanyanya sambil memperhatikan pahaku yang didudukinya. Dia duduk menyamping, menduduki satu pahaku.
            “Tidak. Kau ringan.”                                                     
            Dia tidak membalas lagi, tapi malah sibuk dengan biskuit beruang yang kuberi. Memakannya, asik sendiri. Seharusnya nanti saja kuberi biskuit itu.
            “Kau bisa memakannya nanti saat di kamarmu.” Kataku.
            “Ah ya, kau benar.” Bersyukur, karena akhirnya dia berhenti memakan biskuitnya. Dia menyimpannya di meja. “Ayo kita keluar dari gudang ini.”
            “Tidak.” Tanganku pun langsung memeluk pinggangnya, berjaga agar dia tidak mudah pergi. “Kau lupa aku mengajakmu kemari untuk apa?”
            “Memberiku biskuit?” Bukan berlagak bodoh, tapi dia memang bodoh. Aku hanya dapat menghela nafas panjang jika berinteraksi dengannya.
            “Biskuit tidak gratis.”
            Tidak perlu berbasa-basi bila ingin sesuatu darinya. Aku memajukan wajahku hingga hidungku dapat menyentuh hidungnya. Mata kami bertemu dan dia masih dengan tatapan lugunya. Aku suka bermain dengannya karena dia selalu membuatku berdebar-debar. Dia tidak takut saat aku menatapnya terlalu dalam, itu yang kusuka. Memiringkan wajahku, lalu menekan tengkuknya agar dia dapat lebih condong padaku. Aku melakukan hal yang sama seperti hari-hari sebelumnya, yaitu mencium bibirnya.
             Semua anggota tubuhnya, aku suka. Tidak pernah sesuka ini jika sedang bersama orang lain. Bibir tipisnya saja selalu membuatku ketagihan. Sangat lembut. Sayangnya mencium Sura sama dengan mencium sebuah boneka. Dia tidak akan membalas. Mungkin dia tidak tau cara membalasnya sehingga aku selalu menikmatinya sendiri.
            Tidak apa, aku cukup merasa terhibur. Kutarik dagunya, lalu memasukkan lidahku de dalam mulutnya. Dapat kurasakan lidah hangatnya yang selalu menghindar ketika lidahku membelainya. Rasanya semakin gemas padanya.
            “Mh.., Himchan..” Tiba-tiba saja Sura memundurkan kepalanya, membuat ciuman kami terlepas. “Antar aku buang air kecil.”
            —–
***
13-11-06
            Normal, tapi bersikap seperti anak kecil. Terkadang ceria, terkadang menyendiri. Imajinasinya tinggi, terkadang terlalu aneh. Mengapa harus seperti itu sosok Kang Sura? Selalu kusesali tentang kenyataan seperti itu.
            “Himchan!” Seseorang memanggil namaku dari luar kelas. Kulihat, ternyata Yura, kekasihku. Yura masuk ke dalam kelasku dan duduk di sebelahku. “Malam ini bisa datang kekamarku?” Pintanya.
            “Apa kau mau aku dihabisi lagi oleh mulut pria tua itu?”
            “Baiklah, tidak usah lagi. Oh ya, tidak bisakah kau meminta untuk pindah kamar? Ada kamar kosong yang lebih dekat dengan kamarku.”
            “Kupikirkan nanti. Sudah makan?”
            “Sudah. Bagaimana denganmu?”
            “Sura memberiku roti. Aku sudah tidak lapar.”
            “Anak autis itu?” Aku pun mengangguk. “Kau pasti sering meminta makanan darinya. Kau tidak boleh begitu.”
            “Yaaa~” Aku meringis karena Yura mencubit pipiku keras sekali. “Dia yang memberiku, bukan aku yang memintanya!” Jelasku. Dia hanya tertawa kecil.
            “Aku tidak akan sekolah selama seminggu. Ayahku sedang sakit, jadi aku ingin izin pulang sebentar.”
            “Ah, okay.”
            “Aku akan kembali ke kelasku. Jaga dirimu baik-baik.” Tiba-tiba saja Yura mencium pipiku. “Dah!” lalu dia pergi kembali ke kelasnya. Dia anak yang baik. Kadang merasa bersalah karena aku bermain dengan Sura di belakangnya. Mungkin aku sudah tidak menyukai Yura lagi. Sura merubah segalanya. Sayangnya keadaan Sura membuatku terpaksa untuk bertahan pada Yura saja. Sura hanya bonekaku, cukup itu.
           
***
16-11-06
            Gaduh. Begini keadaan kelas ketika tidak ada guru. Kulihat Jongup, anak autis itu sedang menghitung lantai. Lalu aku menoleh pada Junhong, anak autis satu itu sedang asik makan sendiri dengan posisi jongkok di pojokan kelas. Parahnya, anak normal lainnya justru terlihat lebih autis. Mereka bernyanyi, juga menaiki meja sehingga rasanya kepalaku mau pecah. Idiot.
            Kulirik Sura, dia hanya diam memandangiku.
            “Apa?” Tanyaku. Dia menggelengkan kepalanya lemah, lalu kembali menatap ke depan. Aneh. Aku pun beranjak dari bangkuku, berjalan ke arah Sura dan menariknya untuk keluar dari kelas.
            Dia terlihat heran padaku. Mencoba melepaskan genggamanku, tapi tenaganya tak cukup kuat. Aku membawanya ke kamarku. Jam pelajaran seperti ini asrama sangat sepi, hanya ada beberapa orang penjaga. Karena aku punya jalan rahasia, aku dapat lolos dengan mudah.
            Kulihat Sura hanya diam memperhatikan isi kamarku. Bola matanya memutar, memperhatikan langit-langit kamar, lalu berhenti menatapku yang menatapnya.
             “Kenapa?” Tanyaku. Dia menggelengkan kepalanya. Apa dia sedang malas bicara? Aku merasa benar-benar sedang bicara dengan orang autis jika dia hanya diam saja seperti ini. “Tidurlah.” Aku berbaring di atas kasurku, menutup mataku dengan lenganku. Lega sekali karena suasana kali ini hening. Baru terpikir, mengapa aku mengajak Sura? Aku tidak punya niat apapun untuk mengajaknya ke kamarku, tapi mengapa aku mengajaknya?
            Menyingkirkan lengan yang menutupi pandanganku, lalu kulihat Sura bergerak. Dia bergerak duduk di pinggir kasurku, lalu kembali diam.
            “Sura,” Panggilku. Dia menoleh ke belakang, menatapku tanpa bicara sepatah katapun. “Apa kau pernah menyukai seseorang?” Dia menggelengkan kepalanya. “Tidak pernah atau tidak tau?” Lagi, dia menggelengkan kepalanya.
            “Aku ingin menggambar bumi berbentuk bulan.” Ujarnya tiba-tiba.
            Tidak nyambung. Aku pun bangkit dari tidurku. Rasanya penasaran sekali. Apa orang sepertinya pernah merasakan jatuh cinta? Apa mereka tidak pernah peduli mengenai hal itu? Tapi rasanya akan percuma saja jika aku bertanya pada Sura.
            “Sura, aku ingin menyentuhmu.” Kataku.
            “Aku menyentuhmu.” Ujarnya dengan jari telunjuknya yang ia kenai pada lenganku. Aku tertawa kecil. Anak bodoh.
            Tanganku pun bergerak menarik tangan Sura agar dia naik ke atas kasurku dan Sura menurutiku. Dia naik ke atas kasurku. Kubuat agar dia bersandar di dinding dan tanpa basa-basi, aku menyerangnya. Menciumnya, memberikan lumatan-lumatan ringan pada bibir mungilnya. Bukan hanya mencium, kali ini aku menginginkan lebih dari itu. Tanganku mulai mengusap pahanya, membuat roknya sedikit terangkat. Ciumanku pun turun pada rahangnya, lalu lehernya. Tubuh Sura masih normal, kan? Dia pun dapat merasakan rangsangan dan ini akan menyenangkan.
            “Apa yang kau lakukan?” Tanyanya. Dia mungkin heran karena aku tidak pernah melakukan ini padanya.
            “Kulitmu mempunyai rasa, apa kau tau?” Kataku.
            “Benarkah? Bagaimana dengan kulitmu?”
            “Kau bisa mencobanya.”
            Kembali menenggelamkan kepalaku pada lehar Sura, lalu menjilatinya. Sura sedikit menghindar, mungkin merasa geli atau semacamnya. Tapi hal itu tidak membuatku berhenti. Tanganku bergerak mengusap dadanya, lalu berusaha untuk membuka kancing seragamnya satu per satu. Ya, tentu aku berhasil jika hanya untuk pekerjaan seperti itu. Dan kini, aku terpana. Salah. Seharusya aku tidak perlu terpana lagi melihat tubuh mulusnya yang begitu indah. Dari luar pun aku sudah dapat menebaknya.
            “Himchan..” Sura memanggilku, terlihat takut karena aku membuka bajunya. Dia berusaha menutup kembali bajunya tanpa mengkancingkannya kembali.
            “Wae?” Tanyaku. Wajahnya memerah, apa dia merasa malu padaku? “Jangan khawatir, Sura. Kau tidak takut padaku, bukan?” Dia menggelengkan kepalanya. “Kau akan baik-baik saja, mengerti?” Perlahan dia mengangguk. Aku pun kembali menggerakkan tanganku, berusaha menyingkirkan tangan Sura yang mempertahankan bajunya. Baguslah, Sura tidak berontak. Hidungku pun kuusapkan pada pipinya, lalu menciumi telinganya, sesekali menjilatinya. Sura terlihat kegelian, lagi-lagi dia menjauhkan kepalanya. Kini ciumanku turun ke dadanya. Tanganku mengusap perut datarnya, lalu berusaha menelusup ke dalam rok dan juga celana dalamnya. Berhasil. Jari tengahku bergerak lebih dulu. Mencoba menelusup lebih dalam hingga jariku dapat menyentuh klitorisnya yang lembab. Jari tengahku bergerak maju-mundur, memijatnya.
            Kudengar Sura mendesah sangat pelan. Kulihat wajahnya, keningnya berkerut. Gila.
            “Sura, maafkan aku.” Ucapku. Dengan cepat kukeluarkan tanganku dari dalam sana. Ekspresi Sura berubah, seperti keheranan melihatku. Bodoh. Mencabuli gadis yang mempunyai kekurangan. Benar-benar tidak tau malu.
***
17-11-06
            Malam ini begitu sunyi. Suhu yang membuat tubuhku kepanasan membuatku tidak keberatan tidak memakai jaket saat keluar dari kamar. Kini aku sedang berada di atas gedung asrama putri, ditemani Sura tentunya. Hanya duduk, diam memandangi langit gelap. Sejauh ini Sura tidak membahas kejadian kemarin. Entah dia lupa atau merasa itu tidak penting. Tapi syukurlah, setidaknya hal itu tidak akan menjadi masalah yang besar. Sedikit menyesal mengenai apa yang terjadi kemarin. Ya, hanya sedikit karena aku tidak merasa seperti orang jahat saat itu. Bukan sekedar menyukai tubuhnya, tapi ada hal yang lain.
            Kulirik Sura, dia sedang bermain pesawat-pesawatan menggunakan bola tenisnya.
            “Sekarang manusia kaca tinggal di istana.” Ujar Sura tiba-tiba, membuatku kaget saja. Jarang sekali dia bicara duluan padaku.
            “Oh, ya?”
            “Ya. Dia benar-benar dilindungi oleh para prajurit, jadi dia tidak perlu khawatir lagi.”
            “Bagaimana denganmu?”
            “Ne?” Akhirnya Sura menoleh padaku.
            “Apa ada yang khawatirkan saat ini?”
            “Aku tidak tau.”
            Jawabannya pasti saja begitu. Kini kami berdua terdiam kembali. Begitu sunyi sampai-sampai hembusan angin begitu jelas suaranya.
            “Himchan,” Sungguh aneh, lagi-lagi Sura membuka pembicaraan. “Siapa wanita itu?”
            “Siapa?”
            “Wanita yang sering bersamamu.” Keningku berkerut. Apakah yang dimaksudnya adalah Yura? Dia memperhatikanku?
            “Haha kenapa? Kau cemburu?”
            Dia memanyunkan bibirnya. Bukan cemberut, tapi memanyunkan bibirnya seperti bebek, lalu kembali menerbangkan bola tenisnya ke udara. Aku tertawa kecil. Idiot.
            “Sura,” Panggilku.
            “Ya?” Aku mencium sudut bibirnya ketika ia menoleh padaku.
            “Dia temanku.”
            Maaf, tapi aku tidak tau mengapa mulutku bicara seperti itu.
***
19-11-06
            Aku ingin tertawa. Siang tadi kudapati surat cinta di lokerku. Si pengirim bilang kalau dia berani mengirimiku surat karena Yura sedang tidak ada. Ya, mungkin dia tau kejadian yang pernah terjadi sebelumnya. Yura mengamuk karena seseorang mengajakku untuk mempunyai hubungan khusus, sementara dia tau kalau Yura sudah memilikiku.
            “Jump!” Kepalaku menoleh ke arah sumber suara. Sudah kutebak, itu suara Sura. Sura yang sedang melompat sendirian di lapangan dengan baju olahraganya. Kulangkahkan kakiku ke arahnya, tapi seketika aku teringat sesuatu. Tanpa kusadari aku semakin memperjelas kedekatanku dengan Sura di depan umum. Akan terjadi masalah bila ada yang mempunyai sifat ‘ingin tahu’ yang berlebihan.
            “Ehm.” Cukup berdeham, Sura langsung menoleh padaku. Aku menggerakkan kepalaku, memberinya kode untuk mengikutiku. Aku pun berjalan tak tentu arah. Kutengok ke belakang, aku tersenyum puas. Ya, Sura mengikutiku. Pintar. Akhirnya kuputuskan untuk pergi ke atap sekolah.
            Kang Sura, aku berharap sudah ada magnet antara kau dan aku. Sesekali kembali menoleh ke belakang, dia tetap ada mengikutiku. Sampai akhirnya tiba di atap sekolah, dia masih ada di belakangku. Lucu.
            “Apa kau senang bersamaku?” Tanyaku.
            “Tidak tau.” Sialnya, jawabannya masih seperti itu. Sepertinya tak ada jawaban lain selain ‘tidak tau’.
            “Kang Sura, aku mencintaimu.” Ucapku. Ya, aku benar-benar mengenai penyataanku itu.
            “Terima kasih!” Ucapnya. Dia tersenyum berseri, membuatku benar-benar nyaman hanya dengan memandangi wajahnya. Tapi dia menghancurkan moment-ku. Dia malah naik ke atas balok, lalu meregangkan tangannya seperti akan terbang. Dia keasyikan bersama angin.
            “Lalu siapa yang kau cintai?” Tanyaku. Sura menoleh ke belakang, melihat ke arahku.
            “Hmm…, Kim Himchan?” Begitu katanya. Sudut bibirku tersungging. Tersenyum lebar, merasa benar-benar puas dan bahagia hanya karena mendengar dia menyebut namaku secara lengkap. Kini aku tak akan pernah menyesal karena telah didaftarkan di sekolah ini.
***
20-11-06
            “Bukan begitu, tapi begini.” Kataku sambil membenarkan origami yang sedang Sura buat. Sura pun mengikuti apa yang sudah kubenarkan. Dia tampak serius, tidak sadar sama sekali kalau aku terus memperhatikan wajahnya. Malam ini sangat menyenangkan karena aku berhasil diam-diam membawa Sura ke kamarku. Sayangnya teman sekamarku, Daehyun, terpaksa mengetahui semuanya. Tapi hanya dia satu-satunya orang yang kupercaya. Ya, dia tidak kan bicara pada siapapun mengenai hal ini. Kini aku tau Daehyun diam-diam sedang mengawasiku. Kalau bukan karena ini jam 2 malam, aku akan menyeret Daehyun untuk keluar.
            “Berhenti melirik kemari.” Ujarku dengan tangan yang melempar bantal pada kasur di sebrang, tempat dimana Daehyun berbaring. Sura yang duduk di atas kasurku ikut menoleh pada Daehyun, tapi setelah itu fokus kembali membuat origami. Sura seperti tidak peduli pada sekelilingnya.
            “Sudah terlalu malam, bawa Sura kembali ke kamarnya.” Ujar Daehyun. Mengganggu saja.
            “Sura, apa kau mengantuk?” Tanyaku. Dia tidak mendengarku. “Sura?”
            “Bagaimana caranya membuat binatang lain?” Tanya Sura padaku. Ini yang tidak kusuka. Ketika Sura sibuk dengan barangnya sendiri.
            “Kau mengantuk?” Tanyaku lagi.
            “Uh, tidak. Kenapa?” Aku menggelengkan kepalaku, lalu kembali melirik Daehyun.
            “Kau yang cepat tidur, jangan menggangguku.” Ujarku pada Daehyun. Daehyun mencibirku, lalu membalikkan badannya menghadap pada tembok. Seharusnya dia begitu sedari tadi. Kini kembali fokus pada Sura. Aku tidak mau jika malam ini perhatiannya terus fokus pada origami, bukannya padaku, maka kuambil origami itu dari tangannya.
            “Ya~” Dia berusaha mengambil origami itu dari tanganku.
            “Waktumu tidak lama, sebentar lagi kau harus tidur.” Kataku.
            “Besok hari libur.”
            “Tapi kau punya kelas tambahan, bukan?” Ya, meskipun hari libur, anak-anak seperti Sura mempunyai kelas khusus. Sura cemberut karena aku mengingatkannya.
            “Baiklah, aku kembali ke kamar.”
            “Okay.”
            “…..antar aku.” Aku tertawa kecil karena dia pun merasa takut.
            “Aku akan mengantarmu kalau kau menciumku.” Kataku jahil. Tapi dengan cepat Sura mengecup bibirku. Kulihat lagi wajahnya datar-datar saja. Benar-benar. “Sering-sering lakukan itu, Sura. Kajja.”
***
21-11-06
            Baru pernah kuintip kelas khusus di hari libur. Sebelumnya aku tidak pernah merasa tertarik. Mereka belajar, tapi cara belajar mereka seperti anak SD. Meskipun rata-rata diantara mereka memiliki otak yang cerdas, tapi mengapa mereka masih perlu pembelajaran seperti ini? Aku tidak mengerti. Kulihat Sura, dia tampak menikmati pembelajarannya. Senang rasanya melihat dia merasa nyaman.
            Menunggu Sura selesai dengan kelasnya, itu yang kulakukan. Aku ingin mengajaknya pergi jalan-jalan karena ini hari libur. Kupikir akan menyenangkan.
            “Himchan!” Kaget karena Sura memanggilku begitu nyaring. Aku hanya takut orang lain akan memperhatikan kami. Semoga mereka tidak berpikir macam-macam. Kami teman sekalas, wajar kalau kami saling mengenal dan agak dekat. Ya, semoga mereka berpikir seperti itu. “Aku diberi buku baru.” Lapornya padaku.
            “Ya, kita bicarakan itu nanti.” Kataku yang langsung menarik tangan Sura untuk keluar dari area sekolah.
***
            Aku senang karena Sura terlihat senang sekali. Dengan lahapnya dia memakan crape dan ice cream yang kubelikan secara bergantian. Aku dapat tertawa hanya dengan melihat tingkahnya. Bagaimana caranya agar aku dapat terus seperti ini dengannya? Aku mulai memikirkannya, tapi belum dapat jawaban.
            “Habis!” Serunya. Dia sudah menghabiskan keduanya. “Himchan, aku ingin ice cream lagi.” Pintanya. Tubuh kurusnya ternyata tak berarti apa-apa. Dia gemar sekali makan. Akhirnya kubelikan lagi 1 cone untuknya.
            “Sambil pergi ke taman? Bagaimana?” Tawarku. Sura mengangguk semangat. Dia menerima gandenganku, tangan satunya memegang cone ice cream. Berjalan menuju taman dengan senyum yang tak memudar juga. “Kau suka ice cream?” Tanyaku.
            “Sangat suka.”
            “Kau lebih menyukai ice cream atau aku?”
            “…..” Sura diam, sejenak memandangku. “Apa rasamu?” Aku tertawa kecil karena pertanyaannya.
            “Bukankah kau sudah pernah mencobanya? Lebih enak dari ice cream strawberry-mu.”
            “Ah, tidak.”
            Menyebalkan…….
            “Kau akan menyesal karena mengatakan itu.” Kataku. Dia tidak meresponku, tetap asik menjilati ice creamnya. “Sura,” Panggilku. Tetap tidak merespon karena sibuk melihat hidungnya sendiri yang terkena ice cream. Aku pun membungkuk padanya dan menjilat ice cream di hidungnya. “Ice cream ini ternyata lebih enak dari pada kau.” Kataku.
            “Yak!” Sura memukulku, aku hanya tertawa. Semakin lama semakin menyenangkan ketika dapat bercanda dengannya.
            TUK!
            Sakit. Seseorang melemparku sesuatu dari belakang. Kaleng minuman. 
            “Himchan, temanmu?” Tanya Sura yang lebih dulu menoleh ke belakang. Aku pun menoleh ke belakang dan….mati aku.
***
            Dia menangis di hadapanku dan Sura. Sura bersembunyi di belakangku. Dia terlihat sangat ketakutan setelah Yura marah besar padanya. Begini akibatnya jika menyembunyikan sesuatu. Pada akhirnya akan ketahuan. Aku tak tau apa yang harus kuperbuat. Rasa takut yang Sura alami berbeda dari orang lain. Ya, orang sepertinya sangat sensitive jiga dibentak. Aku tidak tega pada keduanya.
            Yura jika sudah mengamuk, seperti biasa kamarku hancur berantakan. Tidak tau apa yang harus kujelaskan padanya.
            “Kau sudah menciumnya, lalu apa lagi yang sudah kalian lakukan di belakangku?!” Yura kembali berteriak. Dia pikir tadi aku mencium Sura, tapi…kenyataannya aku pernah melakukan hal yang lebih dari itu. “Mengapa harus dia, huh?! Apa kau sudah gila bermain dengan anak autis sepertinya?!”
            Aku benci jika Yura sudah seperti ini. Aku menoleh ke belakang, Sura menatapku takut.
            “Uh, Su–………………………………” Belum sempat bicara padanya, tapi Sura pergi. Dia keluar dari kamarku.
            BRAK!
            Lagi, Yura melempar ponselnya ke arah pintu setelah Sura pergi keluar.
***
22-11-06
            PLAK!
            Jelas mataku membulat ketika melihat Yura menampar Sura di depan mataku. Aku segera berlari dan menarik Yura untuk menjauh dari Sura.
            “Berhentilah bersikap seolah semuanya baik-baik saja!” Bentak Yura pada Sura.
            “Apa yang kau lakukan?!” Bentakku kesal.
            “Apa kau tau betapa mengesalkannya ketika dia bersikap seolah semua ini tak ada hubungannya dengannya?! Meminta maaf padaku saja tidak! Bahkan dia tidak mengucapkan sepatah katapun dari kemarin. Apakah itu pantas?!”
            “Bukankah aku sudah meminta maaf padamu? Ini salahku, seharusnya kau tumpahkan semua kekesalanmu padaku! Dia berbeda, tidak bisakah kau berpikir?”
            “Dan kau masih membelanya! Ini semua salahmu, mengapa membuat seolah aku yang jahat di sini?!”
            Kepalaku rasanya mau pecah karena teriakan dari mulut Yura. Mataku mencoba mencari Sura, tapi…..dia hilang.
***
23-11-06
            Aku diam, memikirkan apa yang akan terjadi jika semua orang tau Sura mengurung diri seharian hanya karena kesalahan bodohku. Yura pun sama denganku. Dia diam melihat para guru sibuk mencari cara agar Sura mau keluar dari kamarnya.
            “Apa tidak akan apa-apa jika kita dobrak saja pintunya?” Tanya Hwangmi seonsaengnim pada salah satu penjaga di sekolahku. Mereka sama sekali tidak bisa mencari tahu keadaan di dalam karena Sura mengahlangi seluruh lubang angin di kamarnya dengan sesuatu yang sulit ditembus, entah apa itu. Semua sangat khawatir, terlebih aku. Aku ingin bicara, tapi mengapa sangat sulit? Pecundang.
            “Ya, lebih baik dobrak saja.” Jawab penjaga sekolah itu. Jantungku tak hentinya memacu cepat. Benar-benar takut untuk menebak apa yang terjadi di dalam. Bagaimana keadaan Sura?
            BRUK!
            Penjaga itu mendobraknya sekali. Belum berhasil.
            BRUK!
            Ah, rasanya jantungku mau meledak akibat bunyi dobrakan itu.
            BRAK!
            Terbuka! Dengan cepat aku berlari masuk sebelum orang lain masuk. Dia, Sura, hanya duduk di atas lantai, membelakangi kami semua. Kepalanya tertidur di atas kasurnya. Apa yang dia lakukan?
            “Sura?” Hwangmi seonsaengnim menabrakku, menghampiri Sura. Ia menarik satu sisi bahu Sura dan…..
            Semua salahku.
***
            Hari ini juga aku meminta ayahku untuk memindahkanku ke sekolah lain. Aku tidak bisa tinggal di tempat ini lagi. Perasaanku kacau balau setelah melihat keadaan Sura. Lebih dari buruk. Sura memutuskan nadinya sendiri dengan cutter. Darah yang bercucuran di lantai itu membuatku takut untuk membayangkan apa yang yang terjadi pada Sura sebelumnya. Bodohnya kami semua terlambat menyelamatkan Sura hanya untuk berpikir ‘apa tidak apa-apa jika didobrak saja pintunya?’
            “Aku menyesal.” Ucap Yura lirih. Mungkin dia pun takut. Semua tidak akan terjadi bila aku tidak mendekatinya dan melakukan hubungan yang lebih sementara aku masih memiliki Yura. Bukan kesalahan Yura seutuhnya. Aku hanya berharap kini Yura dapat membedakan cara bicaranya pada orang-orang yang kekurangan seperti Sura.
            Dia memiliki rasa takut yang berlebihan jika seseorang membentaknya. Bahkan untuk masalah kali ini lebih sakit dari sebuah bentakan. Perasaan. Membohongi Sura tentang hubunganku dengan Yura, dan saat itu Sura telah mengetahui segalanya. Aku tidak pernah tau apa yang Sura pikirkan. Bagaimana perasaannya saat itu? Apa dia berpikir bahwa aku hanya mempermainkannya? Aku tidak dapat membayangkannya.
            Aku dan Yura terus menutupi tekanan apa yang Sura alami. Terlalu takut untuk mengungkapkannya. Pengecut. Mungkin selamanya kami akan diselimuti rasa bersalah.
-END-

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: