Beautiful Wedding Part 1

0
Tittle                            : Beautiful Wedding Part 1
Author                         : Chiezchua
Main Cast                    : Cho Kyuhyun, Park Hyo Reen
Category                   : Romance, Marriage Life, Chapter, NC 21+
Disclaimer                   : This Story Is Mine, Pure My Imagination, All Right Reserved, No  Plagirism. No Copying Without Permission.
Hai hai masih inget gak sama FF Sweet Honeymoon yg pernah posting juga di blog ini?, kali ini aq bawa before story KyuReen pas Pernikahan mereka, FF ini juga sudah pernah aku posting di wep pribadiku ya.

Sebelumnya maaf kalau baca story ini mungkin kalian agak bingung sama alurnya soalnya disini hanya menceritakan Part saat pernikahan mereka saja. Jika berkenan kalian bisa menemukan story mereka yang lain  di wep pribadiku chievachiezchua.wordpress.com .  Semoga ada yang suka dengan ff ini,  kalau tidak suka mohon jangan bash, cukup tekan tombol back saja. Ok! terimakasih.
Sorry for typo and Happy Reading!!
You mean so much to me, I want the world to see,
I love you best explains how I feel for you. ~ Because Of You ‘Keith Martin’
Kau sangat berarti bagiku, Kuingin seluruh dunia tahu .
Kalimat ‘aku mencintaimu’ sungguh mewakili perasaanku padamu.
***
11 Februari 2014
Hyo Reen Side
‘Menikah’. Satu kata familiar yang sudah pasti sangat didambakan oleh kebanyakan gadis di dunia ini. Tidak ada satupun diantara mereka yang dapat mengingkari perasaan bahagia ketika menyambut moment indah tersebut. Setidaknya itulah persepsi yang aku tahu dari sebagian besar orang yang pernah merasakannya.
Sebuah pertanyaan menjadi ganjalan dalam hatiku. Mungkinkah apa yang mereka rasakan sama dengan apa yang kurasakan saat ini?
Entahlah!, aku tidak tahu dan tidak mau tahu. Aku tidak bisa menggambarkan semuanya dengan cukup jelas, apa yang aku rasakan saat ini hanyalah perasaan ‘Takut’. Takut jika pilihanku ini adalah sebuah kesalahan, Takut dengan kenyataan yang akan kuhadapi di kemudian hari.
Sial! Mengapa tanganku tidak berhenti bergetar. Jemariku mencengkram kuat lipatan gaun yang berada di kedua sisi tubuhku, berusaha keras meredakan perasaan gugup yang kian mendera ini.
Tapi aku merasa sedikit bersyukur karena hanya aku sendiri di dalam kamar ini setelah beberapa orang penata rias yang membantuku sudah keluar sejak beberapa menit yang lalu.
Menghirup nafas dalam seraya memejamkan mata, mengisi penuh rongga dadaku yang terasa semakin menyempit akibat minimnya pasukan udara yang masuk, kemudian menghembuskanya secara perlahan. Menormalkan kembali detak jantungku yang hampir  mencapai taraf mengkhawatirkan akibat terlalu sering mendapatkan kejutan darinya. Bodoh!, kenapa bisa segugup ini?. Ya! Tuhan, Jangan biarkan aku mempermalukan diriku sendiri saat di depan altar nanti. Aku pensaran bagaimana sensasi ketika nanti jemari tanganku bertemu dan saling menggenggam dengan jemari miliknya?
“Tch!” Aku menggeleng perlahan. “Sangat lucu”. Seharusnya aku tidak perlu takut dengan hal-hal yang tidak layak untuk di takutkan. Mengingat sejauh ini, semuanya telah berjalan lancar tanpa perlu aku ikut campur di dalamnya.
Aku menghitung dalam hati. Tepat satu minggu lebih satu hari setelah kalimat ‘iya’ meluncur dari sela bibirku. Dan kini semuanya telah berada di depan mata.
Sebelumnya aku tidak tahu menahu sama sekali mengenai persiapan pernikahan kami, karena beberapa hari ini, aku disibukkan dengan pekerjaan baru sekaligus terakhirku.
Selama aku menyiapkan segala sesuatu untuk pernikahan kita dalam waktu seminggu ini, kau aku bebaskan untuk bekerja, tapi nanti setelah kita menikah., aku ingin kau hanya ada dirumah dan menungguku pulang. Arra!
Bisa kalian bayangkan sendiri bagaimana mengerikannya hidupku kelak, Kyuhun dengan mudah mengatakan semua keinginanya tanpa bertanya lebih dulu apakah aku bersedia mengikuti keinginanya atau tidak. Sialnya, aku tak memiliki kuasa apapun untuk menolaknya, dan hal itulah yang membuatku semakin terjerat di dalam kuasanya. Pria ini sukses membuat hatiku terombang-ambing seolah memang tidak ada pilihan lain selain aku harus mengikutinya. Apapun yang Kyuhyun lakukan Apapun yang Kyuhyun lakukan padaku, selalu berhasil membuatku terharu sekaligus geram. ‘Terharu’ dengan semua perhatian yang ia berikan. ‘Geram’ dengan kenyataan bahwa aku tidak mampu melakukan apapun untuk membalasnya.
Dalam rentan waktu sedemikian singkatnya, pria itu ternyata sanggup menyiapkan segalanya sendiri. Mulai dari gaun pengantin serta pesta pernikahan dengan segala kemewahannya, entah bagaimana cara ia melakukan itu semua, membayangkannya saja sudah membuat kepalaku pening, belum lagi jutaan dollar yang harus ia keluarkan untuk membiayai ini semua, membuatku semakin terlihat tidak berguna. Sungguh aku tidak pernah menyangka. Bahkan dalam mimpi pun aku tidak pernah mengalaminya. Semua ini terjadi di luar ekspektasiku.
Aku mematut tubuhku di depan cermin besar, merasa asing dengan diriku sendiri. Seharusnya gadis biasa sepertiku tak sepantasnya memakai gaun seindah ini, gaun berwarna putih ini begitu elegan dan terlihat sangat pas membalut setiap lekukan tubuhku, bagian atasnya tanpa lengan dihiasi tiara yang dibentuk menyerupai kelopak bunga sedangkan bagian bawahnya menjuntai lebar kebawah sampai mata kaki, gaun ini semakin terlihat memukau dengan lapisan Lace yang dipenuhi Luxury Diamond pada permukaannya.
Aku malihat kalung berlian pemberian ibu Kyuhyun seminggu yang lalu, kini telah melingkar sempurna di leherku berhiaskan kilauan permatanya yang semakin membuatku tak mengenali diriku sendiri. Ya! Tuhan bagaimana pandangan orang-orang nanti saat melihatku?, fikiranku kembali melayang mengingat saat itu.
Kau adalah wanita pertama yang dibawa Kyuhyun kepada kami.
Dan kami percaya bahwa kau wanita yang baik dan bisa menjaga satu-satunya putra kami.
Berbahagialah dengannya. Terimalah kalung ini, karena kau sebentar lagi akan menjadi bagian dari keluarga. Jagalah baik-baik karena benda itu adalah warisan turun-temurun dari keluarga kami.
 Dan jangan lupa, secepatnya berikanlah kami cucu.
Kalimat-kalimat seperti itulah yang sering berputar-putar di dalam otakku sejak Kyuhyun mengajakku bertemu dengan kedua orang tuanya tepat satu hari setelah ia melamarku secara pribadi. Tentu saja pada saat itu aku menampakkan wajah paling bodohku dengan mulut ternganga takjub akibat ungkapan-ungkapan tak terduga yang kudengar langsung dari ibu Kyuhyun, aku tidak pernah menyangka, secepat itu mereka semua menerimaku dengan tangan terbuka, masuk ke dalam bagian keluarga mereka. Semua itu membuatku terharu dan tentu saja merasa sangat bahagia.
Satu hal yang tidak pernah kuduga sebelumnya, bahwa pernikahan ini berlangsung di Busan, tempat dimana aku dulu tinggal. Hal ini tentu saja membuatku mengingat semua masa-masa kelam yang pernah kulalui, namun dengan sudut pandang yang berbeda. Dan apa yang kualami saat ini semakin membuatku bersyukur karena aku tidak lagi mengalami masa-masa sulit itu.
Aku merasa seolah menjadi Cinderella yang bertemu dengan Pangerannya lalu hidup bahagia. Mungkin seperti itulah takdir hidup dalam sebuah dongeng. Namun aku tidak yakin dengan itu semua sebelum melewatinya lebih jauh. Karena takdir tidak selalu indah bukan, tapi bolehkan aku meminta agar Tuhan selalu memberikan takdir indahnya pada kehidupan kami kelak. Semoga saja.
Aku ingin menikahimu sekaligus meminta restu pada kedua orang tuamu dan keluargamu yang lainnya.
Itulah alasan Kyuhyun saat ia memberitahukan padaku dimana tempat pernikahan kami akan dilaksanakan. Tentu saja aku tidak akan bisa menolak keinginannya. Karena dia pula saudara ibu dan ayahku kembali menganggapku ada, mereka semua bersikap baik padaku, tidak seperti dulu.
Kemarin ia baru saja meminta restu pada kedua orang tuaku di depan pusara mereka. Membuatku semakin terharu karena belum pernah ada lelaki manapun yang menginginkanku sedalam ini. Sebenarnya apa yang ia lihat dariku?, selama ini aku merasa tidak pernah ada orang yang benar-benar perduli padaku kecuali sahabatku sendiri ‘Shin Rae In’. Sahabat yang selalu ada untukku dan aku sangat menyayanginya.
“Yak! Sampai kapan kau akan melamun Reen-ah?”
Aku menoleh kebelakang dan mendapati Rae In yang sedang melongokkan kepalanya di balik pintu. Sahabatku ini memang selalu muncul di saat aku membutuhkannya tanpa diminta sekalipun, dan tentu saja di hari spesial ini aku mengundangnya secara istimewa. Perlahan ia masuk dan berjalan mendekatiku. Aku terkikik geli mendapati wajah geramnya.
“Dalam pantulan cermin saja aku bisa melihat dengan jelas wajah murammu itu, sebenarnya apa yang sedang kau fikirkan eoh?, bukankah seharusnya kau bahagia bisa menikah dengan pria tampan sekaligus CEO kaya raya itu, Tch! Jujur saja kau sangat iri padamu, tapi aku akan ikut bahagia jika melihatmu bahagia. Jadi berhentilah menekuk wajah cantikmu itu. arrasso!. Ahhh satu lagi! Lain kali aku ingin kau merekomendasikanku agar bisa bergabung di perusahaannya, mungkin aku bisa menjadi sekretaris pribadinya.” Rae In tersenyum riang tanpa dosa. Sepertinya ia memang sengaja ingin menggodaku. Aku memutar bola mataku malas jika Rae In sudah membicarakan keinginan konyolnya itu, sudah berapa kali ia mengatakan hal itu padaku sejak pertemuan kami kemarin lusa. Mungkinkah pekerjaan sebagai editor naskah dari perusahaan penerbitan ternama belum cukup untuknya.
Baiklah, karena tidak ada pilihan lain, maka sekarang aku akan mengakui pada kalian fakta yang paling mengejutkan saat bertemu dengan keluarganya, fakta bahwa Cho Kyuhyun merupakan putra tunggal dari Cho Young Hwan, sekaligus pewaris utama CH Finacial Group. Saat ini ia telah berhasil menduduki kursi pimpinan tertinggi di perusahaan tersebut, serta berkat kerja kerasnya pula CH Financial Group berhasil menempati urutan ketiga perusahaan terbesar di Korea Selatan. Beroperasi secara internasional dalam bidang investasi dan perbankan dengan struktur manajemen modern dari beberapa variasi sektor seperti Real State, Perhotelan, serta Departemen Store, Asetnya berfaliasi dengan 90 perusahaan dibawahnya dengan nilai keseluruhan yang berkisar 85 milliar dollar. Kalian bayangkan sendiri batapa kayanya seorang Cho Kyuhyun, dan fakta mencengangkan inilah yang seketika mampu meruntuhkan kepercayaan diriku, membuat nyaliku semakin memudar dan tidak yakin dengan pernikahan ini.
Mengapa ia memilihku?, bukankah seharusnya ia berkencan dengan wanita-wanita terhormat dari kasta yang sama dengannya, karena tentu tidak ada satupun hal kecil yang bisa ia banggakan dari gadis biasa sepertiku. Pertanyaan-pertannyaan seperti itulah yang sering pula menghantui fikiranku. Sekaligus membuatku takut jika suatu saat nanti ia pergi meninggalkanku. Aku tidak ingin merasakan betapa sakitnya ditinggal sendiri untuk yang kedua kalinya setelah kepergian kedua orang tuaku, Ya! Tuhan, sampai sejauh mana ia akan bertahan denganku?
‘Jangan bodoh Park Hyo Reen!’ Sisi lain diriku membuatku tersadar, tidak seharusnya aku berfikir sejauh itu, jika setiap hari aku memikirkan hal yang belum tentu benar adanya dapat dipastikan wajahku akan berkerut sekaligus cepat menua. Faktor pendukung paling utama yang mungkin saja membuat Kyuhyun semakin cepat pula berpaling dariku. ‘Secepat’ saat ia memintaku agar berada di sampingnya. Aku menggeleng kuat, tubuhku bergidik ngeri membayangkan kemungkinan buruk itu.
“Yak!, kau melamun lagi.” Rae In mendengus tidak suka seraya memalingkan wajahnya ke arah lain.
“Aku hanya merasa tidak yakin.” Jawabku kemudian, berusaha mendapatkan kembali perhatiannya.
“Kau tidak yakin membiarkan suamimu, ahh!, kalian belum resmi, maksudku calon suamimu memiliki sekretaris cantik sepertiku, apa kau cemburu?, apa kau takut ia akan berpaling darimu?.” Rae In terkekeh semakin lebar. Ia merasa telah sukses menggodaku, padahal tidak sama sekali.
“Bukan begitu, maksudku…. “ aku tidak tahu harus menjelaskan bagian mana lagi padanya. Karena hampir semuanya telah aku ceritakan saat kami bertemu di sebuah cafe dua hari yang lalu. Dan untuk keinginan konyolnya itu aku tidak menanggapinya serius, karena aku tahu ia hanya bercanda.
“Sebenarnya aku tahu, kau pasti sedang terkena Pra Wedding Syndrom.”
“Mwo?, Ahhh! Sudahlah, aku tidak mengerti dengan istilah seperti itu!”
“Tapi kau……..”
“Hyo Reen-ah”
Belum sempat Rae In meneruskan ucapannya, terdengar suara lain yang mengintrupsi perbincangan kami. Aku menoleh kesamping dan mendapati ayah mertuaku telah berdiri di depan pintu dengan gagahnya menggunakan setelan jas armani yang membuatnya terlihat lebih muda. “Ne aboenim.”
“Sebentar lagi prosesi pemberkatan akan segera dimulai, kita harus bersiap-siap”
***
Haeundae Beach, Busan.
Kyuhyun Side
Menjadikannya milikku mulai saat ini dan seterusnya tanpa mengenal batasan waktu. Itulah keyakinan kuat dalam diriku. Tidak ada lagi kata kemarin, besok, maupun lusa dalam fikiranku, yang ada hanyalah hari ini. Hari terpenting dalam hidupku, Hari dimana aku akan meresmikan Park Hyo Reen menjadi milikku sepenuhnya. Aku tidak ingin menundanya lebih lama lagi. Aku bukanlah tipe orang penyabar, kalian tahu sendiri akan hal itu bukan.
Heundae beach terlihat begitu mempesona dengan hamparan luas berwarna biru jernih dihiasi awan putih bersih yang menggantung di atasnya. Beberapa objek menawan itulah yang akan menjadi saksi bisu janji suci pernikahan yang akan kami ucapkan. Di iringi suara-suara merdu deburan ombak menghantam karang, yang nantinya akan menjadi melodi terindah saat Hyo Reen berjalan anggun menghampiriku di depan altar. Bagaimana nanti saat ia berdiri di sampingku?, saat aku menggenggam tangannya?, saat aku mengecup lembut bibir ranumnya di depan semua tamu undangan setelah pemberkatan selesai dilakukan? Ya Tuhan! Hanya membayangkannya saja sudah membuatku tidak sabar ingin segera memilikinya saat ini juga.
Mungkin kalian ingin tahu alasan terpenting mengapa aku memilih tempat ini?
Sangat klise sebenarnya. Selain ingin lebih mengenal keluarganya dan meminta restu langsung kepada orang tuanya, alasan utamaku yakni ingin menegaskan fakta, bahwa ia tidak akan pernah merasa kesepian lagi di tempat yang sama, tempat dimana dulu ia pernah tinggal. Karena pada kenyataannya, mulai saat ini aku akan selalu bersama Hyo Reen, tidak perduli dimanapun dan kapanpun. Aku sudah berjanji akan membahagiakannya, kami akan menulis bersama-sama lembaran baru cerita kehidupan yang penuh warna sekaligus mengukir moment–moment terindah untuk kami berdua di setiap kesempatan. Aku yakin semua impian-impian indah tersebut akan segera terwujud dalam waktu dekat.
Aku melihat beberapa tamu undangan sudah hadir memenuhi deretan kursi putih berhiaskan pita berwarna pink yang berjejer rapi di depanku. Pesta ini memang tidak terlalu besar, karena aku tidak memiliki banyak waktu untuk menyiapkannya. Tidak ada media yang meliput acara ini. hanya pihak keluarga kami dan orang-orang terdekatku, serta beberapa perwakilan staf yang bekerja di perusahaanku. Begitu pula dengan Hyo Reen yang hanya mengundang beberapa teman dekatnya saja.
Kulirik Rolex berwarna perak yang melingkar sempurna di pergelangan tanganku, kudapati arah jarum menunjukkan pukul lima belas kurang sebelas menit. Sepuluh menit lagi acara ini akan segera dimulai, Shit! aku sudah tidak sabar ingin melihat Hyo Reen dengan balutan gaun pengantinnya.
.
.
.
.
Apa yang aku tunggu kini sudah di depan mata. Hyo Reen dengan balutan gaun pengantinnya terlihat begitu indah. Sial! pesonanya yang jauh diatas normal itu berimbas buruk pada lensa mataku yang tidak bisa melihat dengan benar pada objek lain selain dirinya. Mengapa hanya dia yang terlihat begitu jelas, sedangkan yang lainnya seolah buram akibat tersamarkan oleh pesona yang terpancar dari tubuhnya. Suara dentingan piano mengiringi langkahnya berjalan menuju altar tempat di mana aku menunggunya saat ini.
Ya! Tuhan, mengapa jarak yang terhitung beberapa meter saja terasa begitu lama bagiku. Hyo Reen memperlihatkan senyum memikatnya padaku saat jarak diantara kami semakin dekat.
Angin berhembus ringan menyebabkan helaian rambutku menari-nari tidak beraturan sekaligus sedikit menyamarkan butiran keringat dingin yang menghiasi pelipisku. Jika boleh memilih, aku ingin saat ini juga berjalan menghampirinya lebih dulu dan membawanya sendiri menuju altar tanpa perlu mematung disini layaknya orang bodoh dan merasa sangat gugup seperti sekarang.
Ayah tersenyum bahagia saat berdiri tepat di depanku seraya mengulurkan tangan Hyo Reen padaku. “Berbahagialah untuk kalian berdua.”
“Ne, Aboeji.” aku menyambutnya dengan senang hati. Menggenggam jemari Hyo Reen begitu erat, bersumpah di dalam hati tidak akan pernah melepaskan apa yang akan menjadi milikku sampai kapanpun. Kurasakan telapak tangannya begitu dingin dan berkeringat, Ya! Tuhan benarkah ia segugup ini?, ternyata apa yang ia rasakan tidak jauh berbeda denganku.
“Baiklah, kita mulai acara pemberkatan ini.” suara pendeta mengalihkan perhatiannku yang awalnya hanya terfokus pada Hyo Reen.
“Saudara Cho Kyuhyun, apa kau sungguh dengan ikhlas hati berkenan meresmikan perkawinan ini dengan Park Hyo Reen, bersedia mengasihi dan menghormatinya, menjadi pendamping hidupnya di saat susah maupun senang serta menjadi ayah yang baik bagi anak-anak yang dipercayakan Tuhan kelak sampai maut memisahkan kalian berdua?”
“Ne, saya bersedia.” Terdengar jelas dan begitu mantab, tidak ada sedikitpun nada keruguan yang terselip di dalam kalimatku. Aku merasa bahagia tentu saja. Tidak ada satupun hal menarik lainnya yang mampu ditukar dengan kebahagiaanku saat ini.
“Saudari Park Hyo Reen, apa kau sungguh dengan ikhlas hati berkenan meresmikan perkawinan ini dengan Cho Kyuhyun, bersedia mengasihi dan menghormatinya, menjadi pendamping hidupnya di saat susah maupun senang serta menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya yang dipercayakan Tuhan kelak sampai maut memisahkan kalian berdua?”
“…….”
Hening, tidak ada satupun kata yang terlontar dari bibir Hyo Reen, setelah pendeta menyelesaikan serangkaian kalimatnya. Ya! Tuhan ada apa ini, mengapa ia diam saja?, mungkinkah ia masih merasa ragu padaku?, aku meremas jemari Hyo Reen, semakin mengeratkan genggaman tanganku pada jemarinya, berusaha meyakinkannya bahwa ini semua bukanlah kesalahan yang patut ia takutkan, aku sudah berjanji akan selalu membahagiakannya. Sorot matanya menghujam penuh ke arahku seolah mencari keyakinan akupun membalasnya dengan anggukan ringan.
“Baiklah saya ulangi sekali lagi.”
“Saudari Park Hyo Reen……. “
“Ne, saya bersedia.” Potong Hyo Reen cepat sebelum pendeta menyelesaikan serangkaian kata yang sama dengan sebelumnya. Perasaan lega membuncah dalam hatiku, memberi kesejukan tersendiri di setiap sel-sel bagian tubuhku yang sempat menegang sebelumnya.
Akhirnya Hyo Reen telah resmi menjadi milikku. Aku tersenyum lebar mendapati pipi meronanya akibat ulahku sendiri yang tidak henti-hentinya menatap wajahnya. “Terimakasih.” Gumamku nyaris tak terdengar, tapi kurasa Hyo Reen masih mengerti dengan apa yang kumaksud, ia pun ikut tersenyum membalasnya.
“Baiklah dengan ini saya nyatakan kalian berdua telah sah sebagai suami istri dimata Tuhan, Hukum dan Negara. Dipersilahkan bagi kedua mempelai saling bertukar cincin dan mempelai pria diperbolehkan mencium istrinya.”
Sebelum prosesi ini berlanjut, aku ingin menegaskan kembali pada dunia, dan mengucapkan kembali janji suci pernikahan secara pribadi pada istriku di hadapan para undangan yang hadir. Aku menarik pinggang Hyo Reen, mengikis jarak diantara kami, membuat tubuhnya semakin menempel padaku. Kami menghadap para undangan yang terlihat begitu antusias melihat pasangan pengantin baru yang terlihat begitu mesra. Mungkin seperti itulah spekulasi sebagian besar diantara mereka.
“Hari ini, dan di tempat ini aku Cho Kyuhyun telah menjadikan Park Hyo Reen sebagai istriku, aku akan membuatmu menjadi wanita paling istimewa dalam hatiku, hanya kaulah yang akan menjadi prioritas dalam hidupku, mencurahkan segala waktu yang kumiliki hanya untukmu, merajut mimpi bersama menciptakan memori-memori indah disetiap perjalan hidup kita. Aku berjanji akan membuatmu bahagia bersamaku, membuatmu selalu tersenyum dan merasa nyaman berada di sampingku, aku akan memberikan semua yang terbaik untukmu, tidak perduli seberapa sulit jalan yang akan kita lalui bersama, aku berjanji akan selalu berada di sampingmu, aku akan tetap bertahan karena kaulah tempatku berkeluh kesah dan berbagi rasa suka maupun duka. Menghabiskan waktu bersama putra putri kita kelak, mengawasi perkembangan mereka hingga suatu saat nanti kau dan aku telah menua, tidak perduli setiap perubahan yang akan terlihat pada diri kita, dengan tubuh ringkih dan rambut memutih aku berjanji akan tetap menyayangimu dalam keadaan susah maupun senang hingga maut yang akan memisahkan.”
Selesai mengucapkan sumpah janji suci, aku meraih jemari Hyo Reen, kemudian memasangkan cincin bertahta berlian pada jari manisnya, sebagai lambang pengikat diantara kami. Aku melihatnya hampir menangis, tangis bahagia mungkin, bola matanya berkaca-berkaca. Aku menghapus jejak cairan bening yang hampir saja tumpah pada sudut –sudut matanya. “Sekarang giliranmu.”
“Aku Park Hyo Reen, hari ini telah menerima Cho Kyuhyun menjadi suamiku. Aku berjanji akan menjadi istri yang baik untukmu, membuatmu tidak pernah menyesal karena telah memilihku menjadi ibu dari anak-anakmu. Aku akan mengabdikan seluruh hidupku hanya untukmu, mencurahkan segala kasih sayang yang kumiliki seutuhnya. Aku berharap semua kebahagiaan ini tidak cepat berakhir dan mampu bertahan hingga berpuluh-puluh tahun lamanya. Aku berjanji kan menjadi istri yang bisa kau banggakan untuk saat ini dan seterusnya hingga maut memisahkan kita.”
Rentetan kalimat-kalimat sederhana yang Hyo Reen ungkapkan sukses membuat hatiku berdebar, aku tidak menyangka semua itu berefek sangat buruk pada kesehatan tubuhku. Ya Tuhan! jika seperti ini aku akan semakin mencintainya. Kurasakan Hyo Reen meraih jemariku kemudian memasangkan cincin serupa pada jari manisku. Aku tersenyum bahagia mendapati benda sakral tersebut telah melingkar sempurna pada jemariku. Dan fakta bahwa Park Hyo Reen yang memasangkannya semakin membuatku bahagia.
Kami berdiri berhadapan, saling memandang satu sama lain. Melingkarkan lenganku pada pinggulnya, kembali merapatkan tubuhnya padaku. Jemariku yang lain berlarian mengusap permukaan pipinya yang terasa begitu halus ditelapak tanganku. Tatapan matanya terlihat begitu pasrah, mungkin ia terhipnotis dengan sorot mataku yang menghujam penuh padanya. Bulu mata lentik membingkai sempurna kelopak matanya. Bibir ranumnya sedikit terbuka seolah ingin menggodaku untuk segera merasakan bagaimana nikmatnya benda kenyal tersebut. Hanya melihat bibir sensualnya saja mengakibatkan gairahku naik hingga ubun-ubun, membuatku tidak sabar dan segera menempelkan bibirku pada bibirnya. Tidak ada waktu hanya untuk menempel saja, di detik berikutnya aku melumat bibir atasnya serta menggigit bibir bawahnya. Ia membalas ciumanku, menghisap pelan bibir atasku, kurasakan lengannya melingkar pada leherku. Otomatis membuatku semakin memperdalam ciuman kami. Sangat ‘manis’ membuatku merasa enggan untuk melepasnya. Melupakan fakta bahwa tidak hanya ada kami berdua di tempat ini.
Ya Tuhan! dia sudah menjadi milikku. Aku meyakinkan diriku sendiri, kami masih bisa melakukannya kapan saja tidak ada batasan waktu. Berusaha keras meraup segala kesadaranku, dengan perlahan mencoba melepas tautan kami. Aku melihat tatapan mata Hyo Reen sedikit kecewa karena aku yang melepasnya lebih dulu. Mungkinkah ia juga lupa bahwa ada banyak pasang mata yang sedang memperhatikan kegiatan kami saat ini.
“Cho Hyo Reen, aku tahu kau ingin melakukannya lebih lama lagi, tapi ingatlah semua orang sedang memandang kita saat ini, jadi kumohon bersabarlah hingga malam nanti.”
Baru saja menyelesaikan kalimatku, seketika itu juga aku mendapati rona merah di kedua pipi Hyo Reen, membuatku semakin gemas dan inngin segera memakannya saat ini juga. Gadisku ini benar-benar sukses membuat pertahananku runtuh seketika. Kurasakan sesuatu di bawah sana terasa semakin sesak, semoga saja ia dapat bertahan hingga nanti malam.
***
Hyo Reen Side
Mentari mulai tergelincir dari singgasananya, memancarkan bias berwarna oranye di ufuk barat. Di ikuti hamparan luas langit yang semula membiru kini hampir menggelap sepenuhnya. Malam mulai beranjak seiring dengan bermunculannya kilauan-kilauan kecil yang menggantung di atas sana, seolah mereka sedang ikut meramaikan suasana di pantai ini. Semilir angin di sore hari terasa seperti memberikan kesejukan dan kenyamanan tersendiri bagi siapapun yang merasakannya.
Setelah pemberkatan usai beberapa jam yang lalu, saat ini acara berlanjut pada pesta resepsi untuk menjamu para tamu undangan yang sudah hadir. Aku tidak menyangka bahwa Kyuhyun lebih memilih konsep Wedding Place Outdoor seperti ini, hampir keseluruhan properti didominasi warna putih dengan dihiasi lampion-lampion berwarna kekuningan yang menggantung di atas sebagai pencahayaannya, entah mengapa bagiku semua ini terlihat begitu elegan. Aku tidak pernah membayangkan pesta seindah ini terjadi saat pernikahanku.
Pada setiap meja sudah disiapkan berbagai macam hidangan lezat khas masakan pantai, yang bisa dinikmati kapan saja oleh tamu undangan sambil menikmati pemandangan laut di sore hari yang nampak memukau.
Hari yang cukup melelahkan membuat tubuhku serasa ingin limbung. Hampir saja aku menanggalkan high hels menyebalkan ini kalau saja tidak ada beberapa tamu penting Kyuhyun yang ternyata baru sempat memunculkan batang hidungnya di pesta pernikahan kami ini. menggumamkan kata ‘kami’ entah mengapa membuatku sangat bahagia, seperti ada sesuatu yang membuncah dalam hatiku namun tak bisa ku ungkapkan. Mungkin kenyataan bahwa aku sudah tidak sendirianlah yang membuat bibir ini tidak berhenti tersenyum apalagi disaat kedua orang tua Kyuhyun memberikan ucapan selamatnya yang tulus pada kadan juga para tamu undangan yang memberikan selamat serta do’a nya untuk kelangsungan pernikahan kami. Rasa bahagia itu benar-benarsudah tidak sanggup aku gambarkan lagi.
“Ya! Cho Kyuhyun.”
Terdengar suara dengan intonasi yang cukup tinggi menyebut nama Kyuhyun. Aku melihat seorang pria tampan sedang melambaikan tangannya dari jarak beberapa meter di depan kami. Ia berjalan dengan santai mendekati kami, mengabaikan tatapan kagum para wanita yang sedang duduk dengan mulut ternganga melihat pesonanya.
Aku masih bisa mendengar bisikan Kyuhyun sesaat sebelum pria itu berdiri tepat di hadapan kami. “Jangan pernah terpesona dengan pria amis itu.” Dan aku tidak mengerti apa yang ia maksud.
Pria itu melayangkan tinjunya pada bahu Kyuhyun, mungkin memang seperti itu cara mereka memberikan salam saat bertemu. “Kau benar-benar mengejutkanku, tapi tentu saja aku sangat bahagia mendengar berita pernikahanmu yang tidak biasa ini, kupikir kau tidak akan menikah selamanya” Ujarnya dengan senyum yang mengembang di kedua sudut bibirnya.
“Sialan kau.” Umpat Kyuhyun tidak terima, benarkah apa yang aku dengar ini, bukankah itu menandakan bahwa selama ini belum ada satupun wanita yang pernah dekat dengan Kyuhun. Tch! Jangan berfikir terlalu jauh Park Hyo Reen.
Pria itu menguarkan senyumannya lebih lebar. “Berhentilah tersenyum, kau bisa membuat mereka semua pingsan akibat ulahmu.” Dengus Kyuhyun tidak suka tapi justru membuat pria itu semakin terkekeh, padahal Kyuhyun sama sekali tidak berniat untuk memujinya. Aku hanya bisa menatap keduanya dalam diam.
“Bagimana jika istrimu nanti yang pingsan saat melihat senyumanku.” Pria itu memamerkan senyum mempesonanya seraya mengulurkaan tangannya padaku. “Aku Lee Donghae, teman dekat suamimu, sekaligus menjabat sebagai General Manager di perusahaannya.”
Aku menyambut uluran tangan Lee Donghae dan membalas senyumannya. “Park Hyo Reen.” Aku bisa mendengar Kyuhyun mendengus di sampingku. “Cho Hyo Reen.” Ralat Kyuhyun cepat dan aku hanya mampu menganggukkan kepalaku.
“Sudah cukup, jika terus menggodanya aku pastikan jabatanmu besok akan segera melayang.” Kyuhyun menarik tanganku kemudian melingkarkan pada pingangnya. Mencoba menegaskan bahwa aku hanyalah miliknya.
“Santai bung, aku tidak akan merebutnya, kcuali dia sendiri yang memilihku.” Kyuhyun semakin mendelik kearahnya. Membuatku terkikik geli mendapati suamiku yang sedang cemburu seperti ini, terlihat sangat berlebihan karena sudah jelas Donghae sengaja hanya ingin menggodanya. Membuatku mengingat Rae In saat ia menggodaku. Yach! Mereka terlihat mirip. Ngomong- ngomong dimana ia sekarang.
“Park Hyo Reen.”
Menolehkan kepalaku kesegala arah, mencari-cari sumber suara yang memanggil namaku. Dan see, aku mendapati Rae In dari arah samping sedang melangkahkan kakinya mendekat ke arah kami dengan tangan kanannya yang membawa sepiring penuh makanan. Ya! Tuhan hoby makan sahabatku ini benar-benar menghawatirkan, tapi anehnya berat tubuhnya tidak pernah bertambah, selalu proposional.
“Ingat nona Shin, temanmu ini sudah menjadi istriku sekarang, jadi kuharap kau bisa mengganti marganya.” Ujar Kyuhyun saat Rae In sudah berada di hadapan kami.
“Ahh! Ne, ma’af aku lupa jika ia sudah menjadi istrimu tuan Cho.” Senyum tanpa dosa itu kembali menghiasi bibir Rae In. Sebelah tangannya yang lain terulur menjabat tangan Kyuhyun sesaat.
“Dan kau Cho Hyo Reen.” Rae In sedikit meninggikan intonasinya saat menyebut nama dan marga baruku, sengaja ingin menegaskan pada Kyuhyun bahwa ia tidak salah bicara lagi. “Aku sangat bahagia akhirnya kau memiliki pendamping hidup yang selalu menjagamu,” Rae In berusaha memeluk tubuhku dengan sebelah tangan sedangkan tangannya yang lain masih sibuk menggenggam piring makanannya. “Berbahagialah.” Gumam Rae In dalam pelukanku dan aku mengangguk sebagai jawabanya. “Cepatlah menyusul.” tambahku lagi. Rae In merenggangkan pelukannya, kemudian mendelik ke arahku. “Kau tahu sendiri belum ada satupun pria yang mendekatiku.”
“Bagimana jika aku yang mendekatimu.” Terdengar suara yang menanggapi perkataan Rae In. Dan ternyata pria bernama Lee Donghae masih tetap setia berdiri di dekat kami, memperhatikan kami serta menanggapi penyataan Rae In tanpa ada yang menyuruh.
Rae In menoleh ke arah Donghae, pandangan matanya menyipit, tersirat penuh ketidakpercayaan. “Maaf tuan aku tidak mengenalmu.”
“Sepertinya kalian cocok.” Sahut Kyuhyun ikut menimpali, akupun mengiyakan namun sedikit ada rasa ragu. Di lihat sekilas Rae In memang sangat cocok dengan Donghae, tapi sayangnya aku belum mengenal dengan baik pria itu. jangan sampai Rae In yang polos termakan begitu mudah dengan bualannya.
“Ya! kalian pengantin baru, berhentilah menggodaku.” Rae In membalikkan tubuhnya bersiap meninggalkan kami. Sesaat kemudian ia kembali menolehkan kepalanya. “Ahhh! Satu lagi, aku ucapkan terimakasih banyak karena makanan disini sungguh nikmat, membuatku tidak rela jika meninggalkannya.” Rae In mengacungkan piringnya. Aku terkikik geli melihat tingkah absurd sahabatku.
“Kalau begitu kau tidak boleh meninggalkanku juga nona, kita belum selesai berkenalan.” Donghae berlari menjejeri langkah Rae In, sepertinya pria itu bersungguh-sungguh ingin mendekati sahabatku. ‘Tertarik pada pandangan pertama’. Mungkinkah semua pria seperti itu?”
“Tergantung.” Jawab Kyuhyun seraya mengendikkan bahunya. Jujur saja aku tidak puas dengan jawaban yang ia berikan. Belum sempat aku menyuarakan protes, Kyuhyun sudah membuka suaranya kembali.
“Ada sesuatu yang akan kutunjukkan padamu, duduklah diam disini.”
To Be Continued

Fc Populer:

  • nova lukita sari

    ko part 2 nya ga ada ya ?

%d blogger menyukai ini: