And Suddenly Part 3

0
ff nc kyuhyun And Suddenly Part 3 romance
Author             : JH Mommy
Tittle                 : and… Suddenly…
Category          : NC 21, Married life, Romance
Cast                 : Cho Kyuhyun, Shin Hye Hee
Other Cast       : Lee Sungmin, Ahn Jae Hyun
Cerita sebelumnya….
“Aku tidak akan pernah percaya dengan semua ucapanmu.” Andreas menambah tekanannya di pipi Hye Hee. “Kau ingin rekaman itu kan?”
Dengan susah payah Hye Hee mengangguk, “Ya.”
“Kalau kau ingin rekaman itu, kau haru memberikan aku satu miliyar won.” Bisik Andreas di wajah Hye Hee.

“Sa…satu miliyar?”
“Ya, satu miliyar won. Harga yang setimpal untuk rekaman itu. Kalau kau masih ingin rumah tangga dan karirmu selamat, berikan uang itu padaku satu minggu lagi.”
Andreas mengecup pipi Hye Hee, lalu melepaskan cengkeramannya dari wajah Hye Hee.
“Satu minggu lagi, aku tunggu kau disini dengan uangnya.” Andreas membelai bekas merah yang terlihat di pipi mulus Hye Hee. “Kalau kau tidak menurutinya….” Andreas menggerakkan tangannya ke leher Hye Hee, memeragakan gerakan memotong leher wanita itu.
The Story Began….
“Pemotretannya sudah selesai?” Kyuhyun tidak sengaja melihat Sungmin di pintu masuk gedung JH entertainment. Ia akan keluar untuk melakukan meeting, sementara Sungmin baru saja masuk ke dalam gedung.
“Pemotretan apa?” Sungmin menggumam bertanya.
“Hye Hee bilang hari ini ada pemotretan untuk kosmetik yang mensponsorinya?”
“Aahh….. pemotretan itu….” Sungmin mengangguk angguk tidak jelas, bola matanya bergerak-gerak menghindari pandangan Kyuhyun. “Kami baru saja selesai.” Sungmin mengakhiri kalimatnya dengan senyuman panjang yang ia paksakan.
Kyuhyun menatap Sungmin dengan dahi berkerut, terlalu aneh melihat gelagat manager istrinya itu. Sungmin seperti menutupi sesuatu. “Lalu dimana Hye Hee sekarang?”
“Eoh… Hye Hee dia…” Sungmin menggaruk-garuk kepalanya berpikir. Ia baru saja datang dan mendapat pertanyaan tentang Hye Hee langsung dari Kyuhyun. Seingatnya ia dan Hye Hee tidak memiliki pekerjaan apapun hari ini.
“Aku disini.” Hye Hee menarik napas panjang sehabis berlari, menghampiri Kyuhyun yang menanyakan keberadaannya. Ia baru saja sampai di gedung  itu dan langsung langsung berlari begitu melihat Kyuhyun berbicara dengan Sungmin.
Sungmin menghela napasnya lega dengan kehadiran Hye Hee membebaskan ia dari interogasi Kyuhyun. Ia sudah kehilangan akal untuk menjawab pertanyaan Kyuhyun mengenai keberadaan wanita itu yang sama sekali tidak ia ketahui sebelkumnya, karena Hye Hee tidak mengatakan apapun padanya.
Hye Hee melayangkan senyuman hangat pada Kyuhyun. “Kenapa mencariku?”
Memerhatikan Hye Hee sudah menjadi rutinitas yang tidak pernah Kyuhyun sadari. Namun saat ia melihat wanita itu setelah berpisah beberapa saat, ia akan langsung memerhatikan tampilan Hye Hee terlebih dahulu.
Seperti saat ini, ia tidak berniat menjawab pertanyaan wanita itu, karena matanya menangkap warna merah yang tidak wajar di wajah Hye Hee.
“Apa yang terjadi padamu?” Tangan Kyuhyun terulur ingin menyentuh pipi Hye Hee.
Trauma beberapa saat lalu, membuat Hye Hee tanpa sadar menjauhkan wajahnya saat Kyuhyun akan menyentuh wajahnya.
Kyuhyun tidak berniat berhenti menyentuh wajah Hye Hee, meskipun wanita itu bergerak menghindar. “Apa yang terjadi pada wajahmu?” Kyuhyun memerhatikan warna merah itu, lalu beralih menatap Sungmin.
Sama seperti Kyuhyun, Sungmin juga terkejut dengan warna merah di pipi Hye Hee. Dan semakin terkejut dengan tatapan bertanya Kyuhyun padanya.
Hye Hee tidak menyadari akibat cengkeraman Andreas ternyata meninggalkan bekas di pipinya. Ia memutar otaknya untuk memberikan jawaban yang masuk akal untuk Kyuhyun.
“Aku tidak sengaja menabrak tiang lampu sorot,” Hye Hee menyahut, membebaskan Sungmin dari tatapan mengintimidasi Kyuhyun. Ia melirik Sungmin yang memucat, lalu menyentuh tangan Kyuhyun yang ada di pipinya. “Aku sedang berlari saat akan menukar pakaian, dan tidak menyadari keberadaan lampu sorot di dekatku. Aku menabraknya, untung Sungmin menarikku, hingga hanya ujung lampu yang mengenai pipiku.”
Jemari Kyuhyun bergerak lembut di pipi Hye Hee, hingga Hye Hee merasa nyaman hanya dengan sentuhan ringan Kyuhyun yang seperti itu.
“Lain kali kau harus lebih berhati-hati.” Gumamnya lembut.
Hye Hee mengangguk mematuhi, dan tersenyum.
“Dan tolong, aku tidak ingin hal seperti ini terjadi pada istriku lagi.” Kyuhyun berujar memperingatkan pada Sungmin.
“Y…ye…” Sungmin mengangguk.
“Kau akan pergi?” Hye Hee bertanya pada Kyuhyun. Ia memandangi iringan di belakang Kyuhyun yang berisikan para petinggi JH entertainment dan juga beberapa asisten Kyuhyun.
Kyuhyun mengangguk, “Aku harus menyelesaikan kontrak kerjasama yang belum sempat di siapkan Jae Hyun hyung, sebelum dia berangkat ke Amerika kemarin.”
“Pergilah selesaikan pekerjaanmu. Aku akan pulang sebentar lagi.”
Meski enggan, Kyuhyun melepaskan tangannya dari wajah Hye Hee. “Sampai bertemu… di rumah.” Aneh. Kyuhyun merasa aneh dengan kata-kata itu, tapi ia juga ingin mengucapkannya.
“Aku tunggu kau di rumah.” Hye Hee tersenyum membalas ucapan Kyuhyun. Pria itu ingin ia menunggunya di rumah, itulah makna tidak terucap dari ucapan Kyuhyun. Dan ia sangat senang mendengarnya.
***
Sungmin menarik lengan Hye Hee, membawa wanita itu dengan terburu-buru ke dalam ruangannya.
“Ya… pelan-pelan, kau bisa mematahkan tanganku.” Hye Hee mengumpat, dan tidak melawan saat Sungmin menarik lengannya.
“Darimana saja kau?” Tanya Sungmin setelah melepaskan tangan Hye Hee tiba-tiba, hingga wanita itu terhuyung. “Kau bilang pada Kyuhyun kalau kau ada pemotretan, kenapa kau berbohong padanya?”
Hye Hee menyapu-nyapu lengannya dengan telapak tangan, dan tidak menjawab pertanyaan Sungmin.
“Apa yang sedang kau tutupi dari Kyuhyun?” Tanya Sungmin. Ia tahu kalau Hye Hee sedang menyembunyikan sesuatu. “Dan parahnya kau membawa namaku untuk membohonginya.”
Hye Hee mengangkat kelopak matanya, menatap wajah Sungmin dengan takut dan ragu. Ia harus menceritakan masalahnya ini pada Sungmin, karena cuma pria ini yang bisa menolongnya.
“Aku terpaksa berbohong pada Kyuhyun, karena….. ada sesuatu yang aku tidak ingin Kyuhyun ketahui.”
Sungmin menatap Hye Hee dalam dari balik kelopak matanya sambil menekuk bibirnya.
“Aku tidak ingin Kyuhyun tahu tentang masa laluku.” Ujar Hye Hee, kemudian menarik napasnya dalam dan mengembuskannya secara perlahan. “Aku punya masa  lalu yang kelam.” Tatapan mata Hye Hee menyendu. “Dan sangat memalukan, untuk di ceritakan.”
“Kau bisa menceritakannya padaku.” Tukas Sungmin pelan, namun meyakinkan.
Hye Hee melirik Sungmin ragu, menimbang sejenak dan pada akhirnya ia menceritakan semua kisahnya pada Sungmin. Pertemuannya dengan Andreas, lalu jalinan kasih mereka, dan kisah terkelam dalam hidupnya, yaitu saat Andreas mengaku telah memperkosanya, dan membuat video rekaman tentang hubungan mereka malam itu.
Andreas yang selalu memerasnya, karena video rekaman itu, hingga ia muak menjadi sapi perah pria itu, dan melarikan diri kembali ke Korea, meninggalkan London dan nama besarnya sebagai model.
“……. dan sekarang Andreas kembali memerasku. Dia meminta uang satu miliyar won, untuk kaset rekaman itu.” Hye Hee tertunduk lemas setelah mengakhiri kisahnya.
“Jadi kau… astaga…” Sungmin mendesah keras setelah menyadari kenyataan tentang diri Hye Hee. “Apa Kyuhyun tahu tentang keperawananmu?”
Hye Hee menggeleng lambat, “Kyuhyun belum mengetahuinya, karena…. selama ini kami tidak pernah melakukan hubungan seperti itu.”
“Ya Tuhan.” Sungmin menggeleng tidak percaya dengan kenyataan yang baru saja ia dengar dari wanita yang selalu bermartabat di matanya. “Kau yakin kau sudah melakukannya dengan… siapa nama pria brengsek itu?”
“Andreas.”
“Ya dengannya. Kau yakin dia sudah….. eum memperkosamu?”
Hye Hee menarik satu persatu jari tangannya, untuk mengurangi gugup dan takut yang saat ini ia rasakan. “Aku tidak tahu. Aku mabuk dan saat bangun aku tidak mengenakan sehelai benangpun.”
“Bagaimana kau bisa tidak tahu.” Intonasi suara Sungmin sedikit meningkat. Ia menggeleng frustasi. “Apa kau tidak merasakan sesuatu yang aneh pada dirimu setelah hari itu?”
“Tidak ada.” Hye Hee menggeleng, dan mencoba mengingat sesuatu yang aneh pada dirinya, dan memang tidak ada. “Aku tetap datang bulan seperti biasanya. Aku tidak hamil.”
“Bukan itu maksudku.” Sungmin membantah kesal ucapan Hye Hee yang tidak mengerti maksud ucapannya. “Maksudku, apa kau tidak mengingat rasa percintaan kalian, atau kau merasa….. ah sudahlah.” Sungmin mengibaskan tangannya di udara, karena merasa kesal tidak bisa menyampaikan maksud ucapannya.
“Kenapa kau tidak mengatakannya pada Kyuhyun?” Tanya Sungmin. “Tentang keadaanmu.”
“Aku sudah berusaha mengatakannya pada Kyuhyun, namun selalu gagal.” Suara Hye Hee bergetar. “Tadi malam juga aku sempat akan mengatakannya, namun aku mengetahui sesuatu tentang diri Kyuhyun, yang membuat aku takut untuk jujur padanya.”
“Tentang?”
“Kyuhyun…” Hye Hee menatap wajah Sungmin. “Dia tidak suka di khianati. Sementara aku sudah mengkhianatinya, jauh-jauh hari sebelumnya.”
“Kau tidak bermaksud seperti itu padanya.” Kata Sungmin lebih lembut dari sebelumnya.
“Bagaimanapun aku tetap salah karena sudah menerima tawaran menikah tanpa mengatakan tentang diriku terlebih dahulu.”
“Aku juga bersalah karena sudah memaksamu saat itu.” Sahut Sungmin menyesal.
“Tapi saat itu posisiku sedang terjepit, aku butuh uang untuk membayar semua utangku.” Hye Hee mendesah keras. “Karena Andreas aku kehilangan tabungan dan karirku. Aku tidak bisa menerima pekerjaan darimu, karena aku takut dia akan tahu keberadaanku.”
“Dan sekarang dia tahu dimana kau berada.” Gumam Sungmin.
Hye Hee mengangguk lemas.
“Apa rencanamu sekarang?”
“Aku tidak tahu.” Hye Hee bergumam dengan gelengan kepala pasrah. “Andreas hanya memberikan aku waktu satu minggu.”
“Kenapa kau tidak melaporkan kasus ini ke polisi?” Sungmin menyarankan.
“Melaporkannya ke polisi, sama saja mengakhiri hidupku.” Tukas Hye Hee lemas tak bertenaga. “Lebih baik aku melemparkan diriku ke dalam jurang, daripada melaporkan masalah ini ke polisi dan membiarkan media tahu tentang diriku.”
“Satu miliyar won itu jumlah yang sangat banyak. Aku bahkan belum pernah memiliki uang sebanyak itu.”
Hye Hee menatap wajah lesu Sungmin setelah mendengar masalahnya. Uang satu miliyar itu memang sangat banyak, sama seperti yang Sungmin katakan, mengumpulkan uang sebanyak itu dalam waktu satu minggu bukanlah hal yang gampang, kecuali ia bisa mengambil uang di rekening Kyuhyun tanpa di ketahui oleh pria itu, dan hal itu sungguh sangat mustahil.
Hye Hee menepuk-nepuk dahinya pelan, berpikir untuk solusi masalahnya. Hidupnya benar-benar di ujung tanduk saat ini. Ia memilah dan membuang beberapa solusi yang melintas di kepalanya. Hye Hee membuka matanya cepat ketika bayangan kotak besi melintas di dalam kepalanya.
Hye Hee menggeleng untuk menepis pemikiran itu. ia kembali menatap Sungmin, dan berujar. “Apa kau tidak bisa meminjamkan padaku?”
Sungmin menatap wanita itu ragu, “Uang satu miliyar?”
Hye Hee mengangguk tanpa ragu.
“Bukankah sudah kubilang kalau aku tidak pernah memiliki uang sebanyak itu?”
“Kau bisa meminjamnya pada perusahaan.” Hye Hee memelas.
“Kau lupa kalau suamimu pemilik perusahaan ini? Kenapa bukan kau saja yang meminta padanya.”
“Terimakasih atas saranmu, Lee Sungmin.” Gerutu Hye Hee. Ternyata membahas masalahnya dengan Sungmin tidak  menemukan pencerahan, ia malah semakin buntu. “Ahhh kurasa aku akan mati sebentar lagi.” Hye Hee memegang kepalanya kuat-kuat lalu menggeleng-gelengkannya.
“Sebelum kau mati sebaiknya kau menyelesaikan dulu semua kontrak yang sudah kau tandatangani.”
Hye Hee mencibir kesal karena Sungmin menunjukkan sikap tidak prihatin padanya.
“Sebaiknya aku pulang saja.” Hye Hee melepaskan kungkungan kepalanya, dan mencoba bernapas ringan. “Aku sudah berjanji akan menunggu Kyuhyun di rumah.”
“Pulanglah.” Suruh Sungmin lembut. “Aku akan berusaha untuk membantumu, semampuku.”
Hye Hee tahu, Sungmin tidak akan meninggalkannya dalam masalah pelik ini. Ia tidak pernah salah menjadikan pria ini manager sekaligus sahabatnya. “Thanks.” Hye Hee tersenyum kecil.
***
Dengan senyum merekah Hye Hee menyusun makanan yang baru saja selesai ia buat dengan tangannya sendiri, tentunya setelah bersitegang dengan May, karena kepala dapur itu menghalanginya untuk membuatkan sesuatu yang spesial untuk suaminya.
“Nyonya biarkan saya yang menyelesaikannya.” May  mengikuti Hye Hee yang masih sibuk menata meja makan.
“May, ternyata melakukan hal kecil ini sangat menyenangkan.” Tidak menanggapi ucapan May, Hye Hee malah semakin sibuk dengan tatanan meja makannya. “Aku tidak menyangka, memasak sesuatu untuk suami itu adalah hal yang sangat luar biasa.”
Hye Hee menatap tatanan meja makannya, dan tersenyum puas dengan hasilnya. “Haahh… sepertinya di masa depan aku harus lebih sering melakukan ini.” Gumamnya.
“Anda benar nyonya, terkadang ada saatnya seorang istri memberikan pelayanan khusus untuk suaminya. Contohnya dengan menyiapkan makan malam sederhana seperti ini.” Sahut May tersenyum
Hye Hee menoleh pada May, dan tersenyum karena wanita itu setuju dengan ucapannya.
“Lalu kenapa kau mencoba menghalangiku sejak tadi?” Ujarnya lembut.
“Maafkan saya nyonya, saya hanya menjalankan perintah yang di berikan tuan.” May menunduk penuh sesal.
“Its okay may, kau hanya berusaha menjadi seseorang yang setia untuknya dengan menuruti perintahnya.” Hye Hee mengelus punggung tangan May, dan tersenyum tulus pada wanita itu. “Aku harap di masa depan, kau akan selalu menjunjung kesetiaanmu padanya.”
Jangan mengkhianatinya seperti aku
Hye Hee menambahkan di dalam hati.
“Akan selalu saya lakukan nyonya.” Kata May masih dengan kepala yang menunduk.
“Nyonya tuan sudah sampai.”
Kepala Hye Hee mendongak penuh harap saat seorang pelayan mengabarkan kedatangan Kyuhyun. Ia sudah tidak sabar menanti tanggapan pria itu tentang hasil masakannya malam ini.
Hye Hee meninggalkan meja makan untuk menyambut Kyuhyun di ruang depan rumah dengan senyum tidak sabar.
Melihat wanitanya menanti dirinya, membuat dada Kyuhyun mengembang bahagia. Ia tidak tahu kenapa, hanya dengan melihat siluet Hye Hee saja, ia bisa begitu senang.
“Bagaimana rapatnya?” Tanya Hye Hee begitu Kyuhyun ada di depannya. Ia mengambil tas kerja Kyuhyun, lalu membantu pria itu membuka jasnya.
“Berjalan dengan baik.” Jawab Kyuhyun, lalu melayangkan ciuman singkatnya di dahi wanita itu.
Setiap pelayan yang melihat keharmonisan itu, langsung membuang muka mereka.
Hye Hee memejamkan matanya menikmati ciuman singkat Kyuhyun. Interaksi singkat namun sangat berkesan untuknya. Ia ingin merasakan kehangatan ini lebih lama.
“Syukurlah.” Gumam Hye Hee, membuka matanya dan tersenyum hangat pada Kyuhyun.
Setelah ciuman singkat di dahi, Kyuhyun lanjut mengecup bibir Hye Hee, menyesapnya singkat. Seperti melupakan para pelayan yang berada di sekitar mereka.
“Aku membuatkan makan malam untukmu.” Kata Hye Hee penuh semangat. “Kau harus mencobanya dan memberikan penilaian pada masakanku.”
“Kau yang memasak?”
“Eoh.” Hye Hee mengangguk cepat. “Kau mau mandi lebih dulu, atau makan?”
“Kalau aku mandi makanannya akan dingin.” Kyuhyun bergumam, melirik menggoda pada Hye Hee yang sedang menanti jawabannya. “Aku akan makan lebih dulu.”
Hye Hee menyeringai puas dengan putusan Kyuhyun, sesuai harapannya. “Ayo.” Ia menarik tangan Kyuhyun penuh semangat ke arah ruang makan.
“Apa yang kau masak?” Tanya Kyuhyun.
“Aku tertarik untuk belajar membuat Dakjuk.” Hye Hee membuka tutup mangkuk porselen, yang kemudian mengeluarkan asap dan aroma makanan yang cukup menggiurkan. “Aku kurang berpengalaman dengan masakan Korea, jadi aku tidak tahu bagaimana rasanya.”
Kyuhyun menatap penuh minat makanan yang di masak dengan campuran ayam dan nasi itu. Mengambil sendok yang sudah di sediakan di sisi kanan mangkuk, Kyuhyun segera mencicipi makanan tersebut.
“Otte?” Tanya Hye Hee penasaran, dengan memajukan wajahnya mengawasi.
Kyuhyun tidak langsung menjawab, setelah suapan pertamanya habis, Kyuhyun mengambil sedikit kimchi, meletakkannya di atas sendok yang sudah terisi kembali dengan Dakjuk, dan memasukkannya ke dalam mulut.
“Bagaimana rasanya?” desak Hye Hee.
Tersenyum, Kyuhyun menyuapkan makanan itu ke dalam mulut istrinya secara paksa.
“Aku menanyakan pendapatmu, kenapa malah menyuapiku.” Protes Hye Hee sambil menyeka sudut-sudut bibirnya dari sisa makanan.
“Itu karena aku ingin kau mencicipi enaknya masakan istriku.” Ujar Kyuhyun tersenyum. Ia menyuapkan kembali makanan itu ke dalam mulutnya, menikmati setiap campuran rasa di dalam mulutnya.
Wajah Hye Hee merona merah mendengar pujian Kyuhyun untuknya, dan ia tertunduk menyembunyikan wajah bersemunya.
Kyuhyun melirik Hye Hee yang tersipu, dan menyukai hal itu. “Kau tidak makan?”
Hye Hee menggeleng, “Aku sedang melakukkan diet, besok aku ada pemotretan.”
“Kau tidak perlu menyiksa dirimu sekeras itu.” Komentar Kyuhyun. “Kalau kau tidak nyaman dengan pekerjaanmu, kau bisa berhenti melakukannya. Aku tidak pernah memintamu untuk bekerja.”
“Aku menyukainya.” Kata Hye Hee. “Sudah kukatakan ini duniaku.”
Tidak ada komentar lagi dari Kyuhyun, ia kembali melanjutkan makannya, sementara Hye Hee duduk di sampingnya menyaksikan ia makan.
“Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu.” Kyuhyun mengakhiri kesunyian di antara mereka setelah menghabiskan makan malamnya.
Hye Hee menegakkan duduknya, menopang tubuhnya dengan kedua tangan yang terlipat di atas meja, menunggu kelanjutan ucapan Kyuhyun.
Kyuhyun ragu dengan kalimat yang akan ia utarakan, tapi ia merasa bahwa hal itu perlu ia lakukan untuk perbaikan kualitas hubungan mereka.
“Aku tahu hubungan kita di lakukan karena sebuah keterpaksaan.” Setelah memenangkan perdebatan dengan hatinya, Kyuhyun membuka suara. “Kau terpaksa menikah denganku karena tekanan keadaanmu saat itu dan aku membutuhkan istri sebagai status. Aku kira semuanya akan berjalan seperti pikiranku, tapi seiring berjalannya waktu, satu dua hal berubah.”
Merasa kaget dengan pembahasan Kyuhyun yang secara mendadak tentang hubungan mereka, Hye Hee menelan salivanya berat. Ia tidak menyangka akan menghadapi perbincangan yang seperti ini dengan Kyuhyun.
“Aku menyadari perubahan besar dalam hidupku selama kita menikah. Aku yang dulunya begitu menggilai pekerjaanku, perlahan mulai menguranginya. Aku selalu ingin pulang, dan menyaksikanmu menantiku, hal yang tidak pernah aku harapkan terjadi pada hidupku.” Kyuhyun menarik tangan kanan Hye Hee, hingga tumpuan wanita itu terlepas. “Aku masih belum tahu dengan perasaanku, tapi satu hal yang pasti, aku ingin kita memulainya dari awal dengan cara yang lebih masuk akal…. denganmu.”
Tubuh Hye Hee mendingin hingga ke ujung jari-jarinya. Ia senang Kyuhyun ingin memperbaiki hubungan mereka, memulainya dengan cara yang lebih baik dari pertemuan awal mereka, tapi ia juga gundah karenanya.
“Kau dan aku tidak saling mengetahui satu sama lain, tapi mulai sekarang aku berharap kita berdua bisa saling belajar untuk memahami apa yang kau dan aku suka, dan tidak sukai.”
Kyuhyun menggenggam telapak tangan Hye Hee yang dingin, menggosok punggung telapak tangan Hye Hee dengan ibu jarinya. “Apa kau mau memperbaikinya?”
Kalau saja saat ini Hye Hee tidak tertekan karena masalahnya, ia akan langsung mengatakan keinginannya dengan lantang. Ya, ia sangat ingin hubungannya dengan Kyuhyun membaik, berjalan dengan seharusnya. Namun tuntutan dan ancaman Andreas membuat ia tidak mampu bersuara. Tenggorokannya tercekat ucapannya sendiri.
“Aku tidak akan memaksamu untuk memberikan kewajibanmu sebagai seorang istri, aku tahu kau belum siap, dan mengerti kenapa kau selalu menghindarinya setiap kali aku mencoba memintanya darimu.” Kata Kyuhyun, ia mencondongkan tubuhnya mendekat pada Hye Hee. “Aku akan menantinya, sampai kau siap. Itulah kenapa aku ingin kita memulainya dengan cara yang benar, agar kau percaya padaku.”
Aku siap memberikannya padamu, aku hanya takut kau kecewa pada diriku
“Apa kau percaya padaku?” Pertanyaan pertama yang Hye Hee lontarkan setelah pengakuan Kyuhyun.
Kyuhyun menarik tangan Hye Hee, dan  memeluknya di dada. “Tentu saja aku percaya padamu.”
“Kenapa?”
“Karena aku ingin percaya padamu.” Gumam Kyuhyun. “Dan aku berharap suatu saat kau juga percaya padaku.”
Aku percaya padamu
“Awalnya terlalu sulit untukku memercayai siapapun, setelah ketiga  wanita yang aku percayai meninggalkanku, dan kepala pelayan Choi membohongiku, tapi aku berdamai dengan hatiku, dan berusaha membangun kepercayaanku padamu.”
Seharusnya kau tidak melakukannya
“Kau mau ‘kan memperbaiki hubungan kita?” Tanya Kyuhyun penuh harap.
Ya aku mau
“Aku berjanji akan membuatmu percaya bahwa kau tidak salah menikah denganku.” Sorot mata Kyuhyun memancarkan kesungguhan dari dalam hatinya. Dan Hye Hee bisa merasakannya.
Tubuhnya gemetar, Kyuhyun tidak mengungkapkan rasa cinta padanya, hanya keinginan untuk memperbaiki hubungan mereka, tapi ia sudah bereaksi seperti ini.
Ya aku sangat bersyukur menjadi istrimu
Kata demi kata hanya terkumpul di dalam tenggorokannya, tanpa mampu Hye Hee ucapkan. Ia begitu ingin Kyuhyun mendengar jawabannya, tapi jika ia mengatakannya, sama saja ia menambah daftar kesakitan yang akan ia berikan pada Kyuhyun.
Ia hanya wanita yang akan menyakiti Kyuhyun, sama seperti kepala pelayan Choi dan ketiga mantan kekasih pria itu terdahulu.
Kyuhyun mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, dan memasukkannya ke dalam jemari lentik Hye Hee.
“Ini tanda awal hubungan kita.” Kata Kyuhyun menunjukkan cincin permata yang di sematkannya ke dalam jari wanita itu. “Kita tidak memiliki cincin pernikahan, jadi anggaplah cincin ini sebagai cincin pernikahan kita.”
Hye Hee menyentuh cincin yang baru saja melingkari jari manisnya. Cincin itu terlihat sangat indah, batu permatanya berpendar di bawah sinar cahaya lampu.
“Terimakasih.” Gumam Hye Hee setelah mengusai dirinya. “Terimakasih karena sudah percaya padaku, aku akan berusaha percaya padamu, dan aku mau memulainya dari awal… denganmu.”
Kyuhyun menarik tubuh Hye Hee ke dalam dekapannya, memeluk wanita itu dengan rasa senang dan syukur. Hye Hee menerimanya, dan bersedia percaya padanya.
Hye Hee tersenyum miris di bahu Kyuhyun. Ia bahagia, namun ia juga merasakan sakit karena harus membohongi Kyuhyun untuk yang kesekian kalinya.
***
Hye Hee mendesah dalam dan berat. Ia baru saja melakukan hal yang selalu selalu ia lakukan, membuat video pengakuan di ponselnya. Setiap kata yang tidak bisa ia sampaikan pada siapapun akan ia ungkapkan di dalam video tersebut. Karena dengan melakukan hal seperti itu, ia akan merasa hatinya lebih lapang.
Waktu perjanjiannya dengan Andreas semakin dekat, hanya tersisa empat hari lagi. Sejauh ini ia belum mengumpulkan setengah dari uang yang di minta pria itu. ia sudah meminta bantuan dari teman-temannya sesama model di London, namun tetap saja belum cukup untuk menebus rekaman itu pada Andreas.
Hye Hee sadar ia bodoh jika menuruti kemauan pria itu, memberikan uang yang di minta Andreas, sama saja menenggelamkan dirinya pada masalah yang lebih pelik lagi. Namun ia tidak punya pilihan lain, ia berharap besar Andreas akan menepati ucapannya.
Hye Hee sudah tidak peduli dengan karirnya, yang paling penting saat ini adalah kelanjutan hidupnya dengan Kyuhyun.
Layar ponsel Hye Hee menyala karena sebuah pesan yang ia terima. Menggeser tombol kunci pada layar sentuh ponselnya, ia langsung tersenyum begitu melihat nama si pengirim pesan. Pesan dari Kyuhyun.
Apa yang sedang kau lakukan? Hari ini begitu banyak pekerjaan, dan aku sangat lelah L
Masih dengan tersenyum setelah membaca pesan pria itu, segera Hye Hee mengetik balasan pesan untuk Kyuhyun.
Aku sedang menunggumu pulang J. Apa ada sesuatu yang bisa aku lakukan untuk membantu?
Satu menit pesan Hye Hee terkirim, ia sudah menerima balasannya kembali dari Kyuhyun.
Jangan menungguku, aku akan pulang sangat larut. Dan jangan lakukan apapun, cukup duduk manis di rumah dan tidur lebih awal.
Hye Hee mencibir kesal dan senang membaca pesan Kyuhyun. Kyuhyun begitu perhatian pada dirinya, namun untuk diri pria itu sendiri, Hye Hee merasa kalau Kyuhyun tidak begitu perhatian dengan tubuhnya.
Baru saja ia akan mengetik balasan untuk membantah pria itu, sebuah pesan kembali masuk ke dalam kotak pesan ponselnya.
Jangan membantah, aku tidak suka. Lakukan seperti yang aku katakan, tidur lebih awal dan jangan menungguku. Aku merindukanmu J
Belum sempat ia mengetikkan apapun, Kyuhyun seperti tahu bahwa ia akan membantah. Hye Hee mendesah berat, sebanyak inikah Kyuhyun memahami dirinya.
Aku akan tetap menunggumu dalam tidurku
Semangat J
Karena tidak punya pilihan untuk membantah, hanya satu kata penyemangat yang ia kirimkan untuk pria itu. Meskipun masih terlihat kaku, tapi perhatian kecil mulai Kyuhyun tunjukkan pada Hye Hee, dan dari perhatian kecil itulah, hubungan mereka semakin terlihat erat.
Tiga hari semenjak keinginan Kyuhyun untuk memperbaiki hubungan, Kyuhyun benar-benar  menunjukkan maksudnya dengan sangat baik. Ia memerhatikan Hye Hee, mulai dari hal paling kecil seperti makanan apa yang di makan wanita itu dan perhatian kecil lainnya.
Hye Hee meletakkan ponselnya ke atas ranjang, lalu menggosok wajahnya gusar. Ia masih di pusingkan dengan uang tebusan yang di minta Andreas. Sejak semalam bayangan kotak besi persegi terus saja membayanginya.
“Tidak, tidak bisa.”
Hye Hee menegaskan pada dirinya sendiri bahwa pikirannya itu salah.
“Aku tidak mungkin mengambil uangnya.”
Bisik Hye Hee di kegelapan kamarnya. Namun dorongan jahat begitu kuat dari dalam dirinya. Ia harus melakukan apa yang ada di hati dan pikirannya.
Kalah dengan kejahatan dalam dirinya, Hye Hee beranjak dari atas ranjang lalu melangkah dengan langkah lugas ke dalam ruang pakaian.
Langkah Hye Hee melambat seiring mendekatnya jarak benda yang menjadi perdebatan dalam dirinya. Hye Hee menekuk tubuhnya ke lantai, menumpukan tubuhnya di kedua lutut lalu menggeser lemari pelindung yang menyembunyikan lemari besi persegi.
Tangan Hye Hee terulur ke tempat papan tombol, mencoba memercayai penglihatannya saat ia melihat Kyuhyun membuka lemari itu. Hye Hee menekan enam digit angka yang ia yakini benar, berdasarkan penglihatannya saat itu.
Hye Hee tidak tahu arti dari angka yang ia tekan, yang jelas begitu angka terakhir ia tekan, suara alarm lemari berbunyi singkat, secara perlahan pintu lemari itu terbuka.
Hye Hee mengembuskan napasnya yang sejak tadi ia tahan, lalu tubuhnya jatuh seluruhnya ke atas karpet yang melapisi lantai. Hye Hee merasa tubuhnya bergetar, apa yang ia butuhkan saat ini, ada di depan matanya. Ia tinggal melakukan apa yang sisi jahat dalam dirinya katakan, lalu semuanya selesai.
Hye Hee menggelengkan kepalanya menolak keinginan jahat itu. namun sebuah suara baru muncul kembali dalam pikirannya, masalahnya akan segera selesai dengan ia mengambil seluruh uang dan emas yang ada di dalam kotak besi itu.
Hye Hee merasa pening dengan perdebabatan di dalam dirinya. Ketika sisi baiknya melarangnya melakukan itu, sisi jahatnya memaksanya melakukan hal yang ia ketahui sangat tidak manusiawi, namun Hye Hee sadar bahwa saat ini sisi jahat dirinyalah yang benar, ia membutuhkan uang dan perhiasan itu untuk menuntaskan masalahnya dengan Andreas.
Setelah lelah berperang dengan dua jiwa yang berlawanan dalam dirinya, Hye Hee menegangkan tangannya ke dalam kotak besi itu, mengeluarkan uang dan perhiasan dari dalam  kotak besi itu, lalu menatapnya penuh kemenangan.
***
Pintu kamar berwarna putih itu di geser dengan perlahan, lalu dengan langkah sangat pelan pria itu masuk ke dalam kamar dan menutup kembali pintu kamarnya dengan sangat lembut.
Meskipun langkah kakinya teredam oleh karpet tebal yang melapisi seluruh lantai kamarnya, Kyuhyun tetap berjalan dengan pelan, menghampiri ranjang dimana istrinya sedang bergelung damai di dalam selimut.
Kyuhyun naik ke atas ranjang, merebahkan dirinya di samping Hye Hee yang tertidur nyaman. Hari ini sangat lelah, pekerjaannya begitu banyak hingga ia baru bisa meninggalkan kantornya pukul dua pagi.
Tapi seluruh rasa lelahnya hilang, hanya melihat wajah malaikat milik wanita yang sedang tertidur di sampingnya. Kyuhyuh menarik tubuh Hye Hee ke dalam pelukannya, mendekap wanita itu memejamkan matanya, menikmati wangi dan hangat tubuh Hye Hee.
Hye Hee tersentak saat tiba-tiba saja tubuhnya tertarik, lalu di dekap dengan tangan-tangan besar dan hangat.
“Kau baru pulang?” Gumam Hye Hee setalah mengenali sosok yang mendekapnya dalam gelap.
Kyuhyun mengangguk di atas kepala Hye Hee. “Heum… baru saja.” Tangan Kyuhyun bergerak membelai rambut panjang Hye Hee, lalu mengecup puncak kepala wanita itu.
Hye Hee menarik sedikit kepalanya untuk melihat pakaian yang di kenakan Kyuhyun. “Kau tidak menukar pakaianmu?” Tanyanya menarik kemeja kerja yang sudah keluar dari dalam celana.
Kyuhyun menggeleng. “Aku hanya ingin memelukmu… seperti ini.” Jawab Kyuhyun, mendaratkan kembali ciumannya di kepala Hye Hee, dan terus membelai rambut yang tergerai.
“Kau harus mandi agar lebih segar.” Hye Hee berusaha menarik diri dari kungkungan Kyuhyun, namun Kyuhyun tidak mau melepaskannya. “Biarkan aku menyiapkan air hangat untukmu.”
Kyuhyun menatap wajah Hye Hee lekat, dan menggeleng pelan. “Aku tidak butuh mandi.”
“Akan lebih baik kalau kau sudah mandi dan makan sesuatu.” Kata Hye Hee keras kepala. Ia menggeliat agar Kyuhyun mau melepaskan pelukannya.
Tangan Kyuhyun mencengkeram bahu Hye Hee kuat, agar wanita itu tidak bisa melepaskan diri dari pelukannya, lalu meraup bibir Hye Hee dan menyesapnya, memaksa wanita membalas ciumannya.
Kyuhyun memagut bibir Hye Hee dengan cepat, dan hati-hati. Pelukannya semakin erat, hingga tubuh Hye Hee benar-benar menempel di tubuhnya.
“Ini akibatnya kalau kau terus menyuruhku mandi.” Gumam Kyuhyun tersenyum setelah melepaskan ciuman mereka. Ibu Jari Kyuhyun mengelus permukaan bibir Hye Hee yang basah. “Malam ini aku tidak ingin mandi atau apapun, aku hanya ingin tidur sambil memelukmu, kelinci kecilku.”
Tubuh Hye Hee terangkat dengan mudahnya, hingga ia sudah berpindah ke dalam pelukan Kyuhyun seluruhnya, tidak lagi berada di atas bantalnya, melainkan lengan Kyuhyun. Hye Hee menenggelamkan kepalanya di dada pria itu, merasa hangat dan terlindungi dalam pelukan Kyuhyun. Ia memejamkan matanya menikmati rasa nyaman itu.
“Sekarang tidurlah.” Suruh Kyuhyun dan mulai memejamkan matanya sendiri, lalu tenggelam dalam tidurnya.
***
“Dua ice coffee.”
“Terimakasih.” Setelah membayar dan mengucapkan terimakasih, Sungmin membawa dua cup ice coffeenya ke meja di mana Hye Hee menunggunya.
Wanita itu terlihat tidak begitu bersemangat hari ini. Meskipun ia menutupi kedua matanya dengan kacamata hitam, tidak bisa menutupi kegundahan di wajah wanita itu.
“Ini.” Sungmin meletakkan salah satu cup di meja depan Hye Hee.
“Kenapa ice coffee? Bukankah tadi aku minta caramel chocolate?” Protes Hye Hee begitu melihat jenis minuman yang ia terima berbeda dengan yang ia minta pada Sungmin.
“Minum saja.” Gerutu Sungmin. “Kau harus ingat kau sedang diet, masih ada pemotretan setelah ini.”
Dengan bibir berkerut-kerut kesal, Hye Hee tetap meminum ice coffenya.
“Seharusnya kau bersyukur aku tidak membelikanmu air mineral.”
“Kalau hanya air mineral, kau tidak perlu repot-repot mengajakku kemari.” Balas Hye Hee setelah menyeruput sedikit ice coffeenya.
“Dasar, gadis keras kepala.” Cibir Sungmin sambil tertawa kecil, lalu menutup mulutnya secara cepat. “Aku lupa, kau  bukan seorang gadis lagi sekarang.” Bisiknya mengejek.
“Ya.” Hye Hee melayangkan tas tangannya ke bahu Sungmin, lalu melihat ke sekitar cafe tempat mereka melewatkan istirahat siang itu.
“Wae? Orang tidak akan terkejut jika kau bukan seorang gadis lagi, kau ini perempuan yang sudah menikah.” Sungmin ikut melihat ke seluruh ruangan cafe, dan tidak ada seorangpun yang melihat ke arah mereka. Sungmin mendekatkan wajahnya, lalu menutupi salah satu sisi wajahnya dengan telapak tangannya, dan berbisik pelan di depan Hye Hee, “Tapi mereka akan terkejut jika tahu bagaimana kau kehilangan kegadisanmu.”
“Lee Sungmin jinjja….” Hye Hee menggeram kesal, dan dengan sadar memukuli lengan pria itu dengan tas tangannya, hingga pria itu memohon ampun.
“Ya, ya, hentikan, itu sakit.” Sungmin menarik tubuhnya menjauhi pukulan Hye Hee. “Oke, oke aku tidak akan mengatakan apapun lagi.” Ujarnya menyerah.
Hye Hee menarik napasnya dalam, menormalkan debaran jantungnya yang bekerja keras setelah memukul Sungmin. Terang saja tindakan mereka barusan menimbulkan rasa penasaran pengunjung cafe,  Hye Hee menunduk meminta maaf pada pengunjung cafe yang terganggu dengan keributan mereka, begitu juga dengan Sungmin.
“Kau ini, apa tidak bisa bersikap sedikit lebih lembut? Kau harus ingat, kau itu seorang publik figure, dan juga istri seorang pengusaha berpengaruh di Korea Selatan.” Sungmin menggerutu, mengelus bahunya yang nyeri karena pukulan Hye Hee.
Hye Hee mencibir menanggapi omelan Sungmin, ia menyisir rambutnya dengan jari, lalu menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, dengan kedua tangan terlipat di atas perutnya.
“Ya, aku hanya bercanda,” Sungmin menyenggol kaki Hye Hee, “Kau marah?”
Hye Hee menggeleng, “Aku sedang tidak ingin bercanda.” Jawabnya lemas, memandang keluar cafe dari dinding kaca di sampingnya.
“Mianhe, aku hanya berniat menghiburmu.”
Hye Hee menarik wajahnya dari jalanan di luar, menatap Sungmin. “Aku tahu, hanya saja perasaanku benar-benar kacau sekarang.”
Sungmin mengerti apa yang membuat artis asuhannya itu begitu murung hingga tidak memiliki semangat sama sekali. Hingga tidak bisa mengerjakan pekerjaannya dengan baik. Padahal biasanya Hye Hee begitu bersemangat ketika berada di lokasi syuting ataupun pemotretan. “Kau belum mendapatkan uangnya?”
Hye Hee menggeleng. “Setengahnya pun belum.” Jawabnya diiringi desahan frustasi.
“Aku bisa memberikanmu pinjaman,” Sungmin mengajukan penawaran. “Tapi aku rasa tidak akan cukup untuk menutupi kekurangannya.”
“Tidak perlu.” Tolak Hye Hee. “Aku sudah terlalu merepotkanmu, dan aku tidak bisa menerima bantuanmu lagi.”
“Hey, kita ini teman.” Sungmin menggenggam tangan Hye Hee yang baru saja berpindah ke atas meja.
“Justru karena kita teman.” Hye Hee balas memegang tangan Sungmin. “Aku akan semakin bersalah, jika terus menerus menyusahkanmu.”
“Lalu bagaimana kau akan menutupi kekurangannya?”
Hye Hee melepaskan tangannya yang berada di atas tangan Sungmin. “Aku belum tahu, tapi…”
“Tapi…?”
“Aku….”
“Ponselmu.” Sungmin menyela ucapan Hye Hee, begitu melihat layar ponsel wanita itu menyala.
Hye Hee baru merasakan ponselnya bergetar di atas meja setelah pemberitahuan dari Sungmin. Panggilan dari Kyuhyun.
“Suamiku?” Ejek Sungmin ketika melihat nama Kyuhyun di layar panggilan Hye Hee. “Menjijikkan sekali.” Ujarnya tertawa.
“Diam kau.” Balas Hye Hee ketus, menutupi rasa malunya. Ia segera mengambil ponsel itu dari atas meja dan menjawab panggilan Kyuhyun.
“Kau dimana?” Kyuhyun langsung menanyakan keberadaan dirinya begitu ia mengangkat panggilan pria itu.
“Sedang beristirahat bersama Sungmin.” Jawab Hye Hee, tersenyum mendengar nada protektif dalam suara Kyuhyun. “Kau sendiri?”
“Aku baru selesai makan siang.” Jawab Kyuhyun, lalu melihat jam tangannya. “Sebentar lagi aku ada rapat.”
“Rapat?” Ulang Hye Hee. “Aku rasa kau akan sampai malam di kantor.”
“Aniya.” Kyuhyun langsung menjawab cepat. “Justru aku meneleponmu untuk membuatkanku makan malam seperti kemarin.” Ujar Kyuhyun dengan nada malu tertahan, membuat Hye Hee tersenyum mendengar suara pria itu.
“Kau mau makan malam buatanku lagi?” Tanya Hye Hee memastikan.
“Eoh… aku mau.”
“Akan aku buatkan.” Kata Hye Hee bersemangat.
“Tapi… kau sedang pemotretan, apa sebaiknya…”
“Aku akan selesai sebelum pukul lima sore,” Potong Hye Hee, “Dan begitu selesai, aku akan langsung pulang untuk membuatkanmu makan malam yang enak.”
Kedua sudut bibir Kyuhyn tertarik, hingga menampakkan senyuman malu yang memikat. “Baiklah, aku akan pulang begitu rapatku selesai, aku janji ini tidak akan lama.”
“Arra… sampai bertemu di rumah…” Hye  Hee ingin mengatakan satu kalimat lagi, namun entah mengapa lidahnya kelu, dan ia begitu sungkan untuk mengatakannya. sampai saat ia akan menutup panggilan mereka, Kyuhyun memanggilnya lagi. “Eum…”
“Aku merindukanmu, dan sampai bertemu di rumah.” Dan Kyuhyun langsung mematikan panggilan mereka, meninggalkan Hye Hee yang masih terdiam dengan buncahan rasa bahagia di dalam dadanya  mendengar kalimat rindu dari pria itu.
“Hoy..” Sungmin menjentikkan ibu jarinya di depan Hye Hee, menyadarkan wanita itu dari atmosfir yang baru di rasakannya. “Kenapa kau tersenyum?”
Hye Hee menggeleng malu, namun tetap tidak bisa berhenti untuk tersenyum. “Sungmin-ah.”
Sungmin diam menanti cerita wanita itu.
“Kemarin malam Kyuhyun meminta, atau lebih tepatnya mengajakku untuk memperbaiki hubungan kami.”
“Dan aku yakin kau menerimanya.” Timpal Sungmin. “terlihat dari wajahmu saat mengangkat panggilannya.”
Dengan gerakan lambat Hye Hee menganggukkan kepalanya. “Aku tidak tahu kenapa, tapi aku benar-benar bahagia saat Kyuhyun ingin memulainya dengan lebih baik, dan Kyuhyun juga tidak menuntut kewajibanku sebagai istrinya, kau pahamkan?”
Sungmin mengangguk, “Tapi kalian tidak bisa benar-benar memulai semuanya dari awal, kalau kau tidak menceritakan rahasiamu padanya.”
Seketika senyuman Hye Hee lenyap, dan berganti menjadi wajah tegang, dan cemas. “Kau benar.” Ucap Hye Hee merenung. “Awalnya aku tidak ingin menerima permintaan Kyuhyun, awalnya aku hanya diam, tapi…” Hye Hee menyentuh cincin berlian yang melingkar di jari manisnya.
“Cincin itu dari Kyuhyun?” Sungmin melihat gerakan tangan Hye Hee yang menyentuh berlian itu.
“Kyuhyun memberikannya sebagai cincin pernikahan kami, kau tahu pasti bahwa kami tidak memiliki cincin pernikahan.” Ujar Hye Hee menatap nanar cincin pernikahan pemberian Kyuhyun yang baru berumur satu hari.
“Kalau kau berniat memulainya dari awal, benar-benar dari awal,” Ujar Sungmin dengan penekanan, “Kau harus menceritakan semua rahasiamu pada Kyuhyun, semuanya tanpa terkecuali, itu baru namanya memulai dari awal.”
“Lalu bagaimana kalau Kyuhyun tidak terima dengan semua masa laluku? Terutama dengan kondisiku saat ini? Aku takut Sungmin-ah.” Kata Hye Hee ketakutan.
Sungmin mengumpulkan kedua tangan Hye Hee di atas meja, lalu mengenggamnya. “Percayalah, jujur itu lebih baik daripada terus menerus menutupi kebohongan. Mau sampai kapan kau akan terus diam, menutupi kondisimu. Lalu mau sampai kapan kau akan menahan kewajibanmu sebagai istri, dengan terus menerus berdalih bahwa kau belum siap.”
Hye Hee menunduk dan menggeleng. “Aku tidak bisa Sungmin-ah.”
“Kau pasti bisa, aku yakin.” Ucap Sungmin memberikan kekuatan. “Apa kau mau hubungan yang baru kalian mulai di tutupi dengan kebohongan selamanya? Mau sampai kapan kau bertahan dengan segala kebohongan ini? lebih baik Kyuhyun mengetahuinya saat ini, daripada nanti ketika perasaan kalian semakin mendalam, maka rasa sakit itu juga akan semakin dalam.”
Hye Hee melepaskan tangannya dari genggaman Sungmin, dan menggeleng tidak menerima saran pria itu.  “Aku tidak akan pernah membiarkan Kyuhyun tahu tentang masa laluku, apalagi dengan kondisiku.”
“Lalu bagaimana kau akan terus menutupinya dari Kyuhyun? Tidak mungkin selamanya Kyuhyun bisa mengendalikan nafsunya, suatu saat dia pasti akan menuntutnya darimu.” Sungmin menghela napas pelan. “Kau harus ingat, Kyuhyun itu pria normal.”
“Aku akan mengakhiri segalanya.”
“Maksudmu?” Sungmin melebarkan matanya, terkejut mendengar pernyataan Hye Hee. Perasaan buruk melandanya.
“Uang itu, aku sudah mendapatkannya.” Hye Hee menatap Sungmin. “Kyuhyun menyimpan sebuah brankas di rumah kami, di dalam brankas itu ada uang, emas dan surat-surat penting. Aku akan mengambil uang dan emas milik Kyuhyun, dan memberikannya pada Andreas.”
“Jangan Gila!!!” Sungmin menggebrak meja mereka, mendekatkan wajahnya dengan Hye Hee. “Jangan membuat sesuatu yang membahayakan nyawamu Shin Hye Hee.” Bisik Sungmin penuh peringatan.
“Aku sudah tidak punya apapun yang bisa aku banggakan sebagai seorang wanita, lalu untuk apa aku bertahan?” Hye Hee menyeka air mata yang terbit di pelupuk matanya melalui celah kacamata hitamnya. “Keadaan ini benar-benar menjepitku.” Ujarnya terisak. “Kyuhyun menawarkan masa depan yang cerah padaku, tapi aku tidak akan sanggup ke masa itu. Kyuhyun akan segera tahu keadaanku, dan aku tidak siap menerima penolakannya pada diriku.”
“Sementara itu disisi yang lain, Andreas mendesak dan mengancamku, lalu aku harus bagaimana?” Hye Hee melepaskan kacatamanya, matanya sudah basah oleh airmata. “Aku mencintai Kyuhyun Sungmin-ah, aku mencintainya.” Hye Hee menangis dengan pilu, mengabaikan pandangan para pengunjung cafe yang menatap ingin tahu ke arah mereka.
Melihat tangisan Hye Hee yang begitu kencang, Sungmin menggeser kursinya ke sisi wanita itu, menyandarkan kepala Hye Hee ke bahunya, dan membelai bahu wanita itu. “Mianhe, aku tidak tahu kalau kau begitu tertekan dengan keadaan ini.”
Hye Hee melampiaskan rasa penuh dalam dadanya dengan menangis sepuasnya di bahu Sungmin. Ini yang ia butuhkan saat ini untuk melepaskan rasa sesak yang menghimpitnya.
“Percayalah, akan ada jalan keluar terbaik, jangan melakukan sesuatu dengan gegabah.” Sungmin menasehati sambil terus membelai bahu Hye Hee, memberikan ketenangan untuk wanita itu.
Hye Hee memejamkan matanya dan semakin  menyembunyikan wajahnya ke dalam pelukan Sungmin, ia tidak punya pilihan lain. Rencananya tadi adalah rencana terakhir yang akan ia lakukan, dan akan segera ia lakukan, karena waktunya hanya tinggal besok, dan besok semuanya akan selesai. Besok ia tidak akan perlu lagi merasakan himpitan perasaan yang terus menerus mendera.
***
“Apa yang sedang kau lakukan?” Kyuhyun mengejutkan Hye Hee dengan tiba-tiba memeluk tubuh wanita itu dari belakang dan menyandarkan kepalanya di bahu Hye Hee.
Hye Hee berjingat terkejut, tubuhnya menegang menerima rangsang kaget yang mendadak. “Aku… baru saja merapikan beberapa pakaian.” Jawab Hye Hee perlahan mengembuskan napasnya.
Kyuhyun baru saja pulang, dan tidak menemukan Hye Hee menantinya di ruang depan rumah seperti biasa. Ketika May mengatakan bahwa istrinya itu ada di dalam kamar mereka, Kyuhyun langsung berlari menuju kamar untuk menemukan Hye Hee.
Begitu sampai di kamar, Kyuhyun ingin langsung masuk dan memeluk Hye Hee, namun ia berhenti ketika melihat pintu ruang pakain terbuka, dan Hye Hee bergerak kesana kemari seperi melakukan sesuatu.
Kyuhyun hanya diam dan memerhatikan tingkah aneh istrinya. Sesekali Hye Hee melihat ke belakang seolah-olah akan ada yang melihatnya. Kyuhyun diam dan terus memerhatikan Hye Hee yang sepertinya menyembunyikan sesuatu. Namun ia segera menepis rasa curiganya, keyakinan bahwa ia sudah memercayai wanita itu menguat.
Kyuhyun langsung menyembunyikan dirinya, ketika Hye Hee akan keluar dari ruangan pakaian. Dan begitu Hye Hee menutup pintu ruang pakaian, ia langsung mengejutkan wanita itu dengan pelukan.
“Kapan kau datang?” Tanya Hye Hee, ia menggengam tangan Kyuhyun yang melingkar di perutnya dan mulai mengendurkan tubuhnya.
“Baru saja.” Kyuhyun mencium sela antara bahu dan leher Hye Hee. “Kau sudah makan malam?”
“Belum. Aku menunggumu.” Hye Hee berbalik hingga pelukan Kyuhyun terlepas. “Kau?”
Kyuhyun menjawab dengan gelengan kepala. “Aku kan sudah bilang ingin makan malam masakanmu.”
“Bagus, aku benar-benar ingin makan malam denganmu.” Ucap Hye Hee tersenyum.
“Aku juga.” Kyuhyun balas tersenyum, lalu menarik cepat senyumannya, hingga berkerut sedih.
“Apa terjadi sesuatu?” Tanya Hye Hee begitu melihat wajah Kyuhyun yang berubah dengan cepat.
Kyuhyun menggeleng, “Tidak ada yang serius, hanya saja besok aku harus ke New York… untuk satu bulan mungkin.”
“Untuk apa? Kenapa lama sekali?”
Kyuhyun membuang napasnya berat dan menggeleng. “Jae Hyun hyung kesulitan menjalankan perusahaan, dan para pemegang saham mulai melakukan protes dengan kinerja Jae Hyun hyung. Aku harus kembali kesana, meredakan keresahan para pemegang saham, membuat mereka yakin dengan Jae Hyun hyung, dan membantu Jae Hyun hyung untuk beberapa waktu.”
Hye Hee membelai wajah Kyuhyun perlahan, “Kau kelihatannya tidak begitu senang harus kembali kesana.”
Telapak tangan Kyuhyun menangkup tangan Hye Hee yang berada di pipinya. “Tentu saja.” Ujarnya bersungut. “Aku harus meninggalkanmu selama satu bulan, bahkan bisa lebih.”
“Kalau kau tidak bisa kembali, aku yang akan menemui kesana.” Kata Hye Hee tersenyum kecil. “Tentu saja, saat aku tidak punya jadwal.” Ia menambahkan.
“Apa tidak masalah?”
Hye Hee menggeleng, “Tidak akan ada masalah, percaya padaku.” Hye Hee menambahkan satu lagi tangannya ke pipi Kyuhyun, membelai wajah lelah pria itu.
Kyuhyun mengenggam kedua tangan Hye Hee di wajahnya, kemudian menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya. Memeluknya sangat erat, membelai punggung Hye Hee mendatar.
“Hahh… aku merasa sangat berat melakukannya.”
“Semuanya akan baik-baik saja, percaya padaku.” Gumam Hye Hee di punggung Kyuhyun. Ia memeluk pria itu tak kalah erat dengan pelukan yang ia terima dari Kyuhyun.
Pelukan itu berlangsung cukup lama, seolah keduanya sama-sama tidak ingin melepaskan pelukan mereka. Hye Hee tersenyum dalam pelukan Kyuhyun. Ia bersyukur malam ini ia masih bisa menikmati hangatnya pelukan pria itu, merasakan perasaan di butuhkan.
Tanpa Hye Hee sadari air matanya mengalir, segera ia menghapusnya sebelum air matanya membasahi jas kerja Kyuhyun. Ia memaksakan tersenyum, dan semakin erat memeluk Kyuhyun.
Besok adalah hari dimana ia akan mengakhiri semua penderitaannya. Awalnya ia tidak tahu bagaimana caranya menemui Andreas dan menyelesaikan semuanya tanpa di ketahui oleh Kyuhyun. Tapi ia bersyukur besok Kyuhyun akan pergi, itu  berarti langkahnya akan semakin mudah.
Sepertinya Tuhan benar-benar ingin aku pergi dari hidupmu
Hye Hee tidak tahu apakah ini kebetulan, atau memang Tuhan benar-benar ingin ia pergi meninggalkan Kyuhyun, sebelum pria itu tahu perasaannya. Namun yang jelas, Tuhan telah mempermudah rencananya.
Kyuhyun melepaskan pelukan mereka, dan  menggenggam kedua tangan Hye Hee.
“Ayo kita makan malam, sesuai permintaanmu aku memasak malam ini, dan aku harap kau menyukainya.” Hye Hee tersenyum lebar, seolah-olah ia tidak pernah menangis, menyembunyikan rasa sakitnya serapat mungkin.
***
Pria itu tidak berhenti menatap wajah istrinya. Sudah sejak tiga puluh menit yang lalu Kyuhyun hanya menatap wajah Hye Hee sambil mengenggam kedua telapak tangan wanita itu erat.
Pagi ini Kyuhyun akan berangkat Ke New York. Hye Hee sudah mempersiapkan segala kebutuhan yang di perlukan pria itu. Tidak banyak yang ia siapkan, tidak ada pakaian, ataupun pernak-pernik sesuatu yang akan pria itu kenakan, karena hal itu sudah tentu di persiapkan oleh pelayan pribadi pria itu.
Lagipula Kyuhyun kembali ke New York, negara yang selama ini pria itu tempati sudah pasti ia juga akan kembali ke rumah dimana koleksi pakaian yang ia miliki tidak jauh lebih banyak dari yang ada di rumah mereka saat ini.
Karena tidak banyak yang bisa ia kerjakan untuk kepergian suaminya, Hye Hee hanya bangun lebih cepat, menentukan setelan jas yang akan Kyuhyun kenakan pagi ini untuk keberangkatannya, dan membuatkan pria itu sarapan sederhana.
Sementara Kyuhyun terus mengenggam tangannya, Hye Hee tidak mampu mengendalikan rasa malunya. Ia terus saja bergerak gelisah, mengalihkan rasa malunya karena tatapan hangat Kyuhyun, padahal pria itu tidak bergerak sedikitpun saat menatapnya.
“Wajahku akan meledak jika kau terus menatapku seperti itu.” Helaian rambut Hye Hee sengaja ia turunkan untuk menutupi wajahnya, karena ia sudah tidak tahan dengan tatapan Kyuhyun yang menghanyutkan.
“Jangan di tutupi.” Tangan Kyuhyun bergerak cepat menjauhkan helaian rambut halus wanita itu. “Aku tidak bisa melihat ini.” Telunjuk Kyuhyun menekan tulang pipi Hye Hee, dimana warna merah merona menonjol disana.
“Kau sudah melakukannya sejak tiga puluh menit yang lalu, aku benar-benar malu.” Telapak tangan Hye Hee terangkat menutupi wajah malunya.
Tingkah malu-malu wanita itu semakin membuat Kyuhyun gemas, ia tertawa lalu menarik telapak tangan Hye Hee kembali dalam genggamannya.
“Kau harus mengizinkan suamimu ini melihat wajahmu lebih lama,” Kyuhyun menyentakkan tangan Hye Hee hingga tubuh wanita itu limbung ke arahnya. “Apa kau tidak kasihan, begitu aku meninggalkan rumah ini aku tidak akan bisa melihat wajahmu lagi.”
Perlahan Hye Hee membuka matanya yang ia tutup beberapa saat, dan menatap Kyuhyun dengan kehangatan yang sama seperti yang pria itu tunjukkan padanya. “Kita akan segera bertemu kembali, minggu depan jadwalku kosong, dan aku akan menemui kesana.”
“Nah itu dia, aku harus menunggu satu minggu lagi untuk bisa melihatmu, maka biarkan aku melihatmu sedikit lebih lama pagi ini.”
Hye Hee begitu menyukai senyuman Kyuhyun pagi ini. Pria itu tersenyum sumringah, dengan tatapan penuh kehangatan, sehangat telapak tangan pria itu yang menggenggamnya.
“Kau akan terlambat.” Hye Hee mengingatkan.
“Aku pergi dengan pesawat pribadiku, kenapa aku harus takut terlambat.” Bantah Kyuhyun, dengan tangannya semakin erat mengenggam tangan Hye Hee.
“Kau memang mengenakan pesawat pribadimu, tapi bukan berarti kau bisa memundurkan jadwal yang sudah di sepakati.” Hye Hee menarik tangannya agar terlepas dari tangan Kyuhyun, ia mendekatkan tubuhnya dengan Kyuhyun, membelai jas abu-abu pria itu. “Bukankah jadwal kedatanganmu juga sudah di prediksikan? Kalau kau terlambat, kasihan para investor yang harus menunggu kedatanganmu lebih lama.”
“Haahh… kau benar.” Kyuhyun bernapas gusar. Tangannya terangkat melingkari pinggang Hye Hee. Kyuhyun merundukkan wajahnya mengamati apa yang sedang Hye Hee lakukan pada dirinya. Wanita itu masih sibuk membelai jasnya, kemudian merapikan kembali dasinya yang sudah terjalin rapi.
Leher Kyuhyun semakin merunduk, menyebabkan wajahnya semakin dekat dengan Hye Hee, hingga ia bisa meraup bibir segar wanita itu. Mencumbunya lembut dan perlahan, di mulai dari bibir bagian atas, kemudian pindah pada bibir bawah.
Hye Hee melebarkan matanya menatap Kyuhyun yang merunduk di atasnya. Kesegaran napas pria itu menyapa wajahnya, menimbulkan kehangatan pada pipinya.
Dagu Hye Hee terangkat, dan Kyuhyun memiringkan kepalanya mencium kembali bibir Hye Hee dari arah yang berbeda, merasakan kehangat bibir Hye Hee dari sisi yang berbeda. Salah satu tangan Kyuhyun meremas pinggang wanita itu lembut, membuat Hye Hee melenguh di sela ciuman mereka, dan meremas sendiri tangannya yang berada di dada Kyuhyun.
Ciuman itu berakhir dengan desahan berat dari keduanya. Nafsu Kyuhyun tidak ingin ia mengakhiri ciuman mereka, namun logika dan akal sehatnya masih mampu mengendalikan nafsunya.
“Aku benar-benar menyesal harus mengakhiri ciuman ini.” Kyuhyun menyatukan dahi mereka dan terkekeh. “Tapi aku tidak bisa menjamin keselamatanmu, kalau aku terus melanjutkannya.”
Tawa halus Hye Hee terdengar menyahuti candaan Kyuhyun. Saat Kyuhyun akan menarik wajahnya, Hye Hee melemparkan tubuhnya ke dalam pelukan pria itu, memeluk Kyuhyun erat, dan menyandarkan kepalanya di dada Kyuhyun, merasakan hentakan jantung pria itu.
Kyuhyun membalas pelukan Hye Hee dengan senang hati. “Kita akan bertemu satu minggu lagi ‘kan?” Tanya Kyuhyun di akhiri dengan kecupan di kepala Hye Hee.
Gerakan halus kepala Hye Hee di dada Kyuhyun menjadi jawaban wanita itu. Hye Hee menutupkan matanya, ia takut kalau ia terus membuka matanya ia akan menangis, hal yang sangat ingin ia hindari saat ini. Ia tidak ingin  menangis, setidaknya tidak saat Kyuhyun masih ada dalam pelukannya.
Ingin rasanya ia mengatakan pada Kyuhyun apa yang ada dalam hatinya saat ini. Masalahnya, kesedihannya, dan rasa cintanya. Namun semakin ia ingin, semakin sulit kalimat itu mengalir dari mulutnya. Ia menjanjikan akan menemui pria itu satu  minggu dari sekarang, namun ia sendiri tidak yakin apakah saat itu ia akan bisa memenuhi janjinya.
Akhirnya, setelah berhasil menenangkan sedikit perasaanya, Hye Hee melepaskan pelukannya dan menyunggingkan senyuman di tengah kegundahan hatinya.
“Aku rasa aku terlalu berlebihan.” Kata Hye Hee tersenyum, namun sedikit air matanya terbit di pelupuk matanya, dengan cepat ia menghapus cairan bening itu. “Aiss… aku benar-benar berlebihan.” Rutuknya pada diri sendiri.
“Aku senang kau menangisi kepergianku.” Ujar Kyuhyun, dengan ibu jarinya ia mengusap sisa air mata yang ada di wajah Hye Hee. “Dengan melihat kau menangis, membuat aku tahu bahwa kau sedih aku akan meninggalkamu, dan sebagai jaminan juga bahwa kau akan datang menemuiku minggu depan.”
Air mata Hye Hee semakin tidak bisa terkendali, dengan mata berkaca-kaca Hye Hee menatap Kyuhyun lekat. Seandainya pria ini tahu apa yang sudah ia lakukan, apakah ia akan tetap bersikap begitu hangat padanya, pikir Hye Hee.
“Sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu.” Kata Hye Hee setelah mengalahkan emosinya sendiri. Ia menurunkan pandangannya, melihat jemari Kyuhyun yang dengan lembut menyeka air matanya. “Tapi aku tidak bisa mengatakannya saat ini.”
“Gwenchana, aku akan menunggunya sampai kau bersedia mengatakannya padaku.” Jawab Kyuhyun tersenyum tulus. Tidak ada sedikitpun pancaran curiga dari mata pria itu.
Melihat ketulusan tatapan Kyuhyun, membuat Hye Hee semakin berani dan kuat.
“Kalau minggu depan aku berhasil menemuimu, aku akan menceritakan semuanya padamu, dan juga….”
Hye Hee terlihat ragu dengan kalimat terakhir yang akan ia katakan.
“Dan juga…” Ia kembali bergumam dengan nada suara yang jelas sarat akan keraguan.
Kyuhyun tetap sabar menunggu lanjutan kalimatnya. Pria itu mengeringkan sisa air mata yang sudah tidak lagi mengalir, membelai pinggiran wajah Hye Hee dengan lembut.
“Dan juga…?” Akhirnya Kyuhyun bertanya karena penasaran dengan nada ragu istrinya itu. Ia menatap Hye Hee lekat namun lembut. “Katakan sayang.”
Ungkapan sayang Kyuhyun seperti memberikan energi untuk Hye Hee. dengan yakin Hye Hee menyentuh wajah Kyuhyun, menatap pria itu dengan keyakinan penuh.
“Kalau minggu depan aku berhasil menemuimu, aku akan menceritakan semuanya padamu. Meskipun setelah aku menceritakannya padamu kau akan merubah pandanganmu terhadapku, aku tidak akan peduli lagi. Tidak peduli apa kau akan menolakku atau membuangku, aku tetap akan datang padamu, menghambakan diriku padamu, dan berjanji akan menyerahkan seluruh yang ada pada diriku padaku.”
Perasaan lega sedikit menyambangi dada Hye Hee, dan itu berdampak dengan terbitnya senyuman tulus di wajahnya. Ia membelai wajah Kyuhyun, lalu mengecup bibir pria itu.
Kyuhyun menyambut kecupan Hye Hee, mereka saling bertukar kecupan kemudian melepaskannya dengan lambat.
“Aku akan menunggunya, saat dimana kau menyerahkan semuanya padaku.” Gumam Kyuhyun.
***TBC***

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: