And Suddenly Part 2

0
ff nc kyuhyun and suddenly romance
Author              : JH Mommy
Tittle                 : and… Suddenly…
Category          : NC 21, Married life, Romance
Cast                  : Cho Kyuhyun, Shin Hye Hee
Other Cast      : Lee Sungmin, Ahn Jae Hyun
P.S. Typo Everywhere
Berusaha menerima keadaan dirinya sebagai istri dari seorang pria yang sangat kaya, Hye Hee perlahan mulai bisa bergabung dengan kalangan sosialita yang menjadi perkumpulannya saat ini. Mau tidak mau ia tetap datang ke acara yang di lakukan setiap minggu itu.
Setiap minggu di tempat yang berbeda, Hye Hee merasa masuk ke dalam neraka paling panas ketika ia datang ke acara itu, namun ia juga tidak bisa menolak, karena Sungmin managernya akan mengosongkan waktu kerjanya ketika hari perkumpulan itu tiba.
Bahkan Sungmin dengan baik hatinya akan mengantarkan ia ke acara itu, lalu meninggalkan ia merana sendirian di acara itu. Lima kali datang ke acara perkumpulan sosialita itu, Hye Hee selalu seorang diri, tidak pernah ada Kyuhyun.
Tiga pertemuan sebelumnya Kyuhyun berada di luar negeri. Pertemuan yang keempat Kyuhyun ada di luar kota, dan pertemuan hari ini Kyuhyun mengatakan tidak bisa datang karena ia ada rapat penting dengan para pemegang saham yang datang dari New York.
Hye Hee tidak tahu bagaimana caranya mengatakan pada Kyuhyun, bagaimana malunya ia terus menerus menjadi sindiran para sosialita di grup mereka. Ia terus saja menjadi bahan olokan karena tidak pernah datang di temani suami. Ia harus menebalkan wajahnya untuk terus menjawab dengan kebohongan ketika para wanita usil bertanya tentang keharmonisan rumah tangganya dengan Kyuhyun.
Semenjak ia kembali bekerja, Kyuhyun terlihat berbeda dengannya. Pria itu jadi semakin tidak terprediksi. Terkadang ia terlihat penuh perhatian, namun kadang terlihat ketus dan tidak peduli padanya. Apa yang bisa ia katakan pada orang lain tentang kehidupan rumah tangganya yang seperti itu.
“Aku tidak akan datang hari ini.” Hye Hee membenamkan tubuhnya ke sandaran jok mobilnya. Ia sudah tidak tahan lagi terus menerus menjadi bahan perbincangan, dan terus menerus berbohong tentang bagaimana bahagianya menjadi istri seorang Cho Kyuhyun. Dari segi materi ia memang bahagia, namun dari segi perasaan ia tidak pernah merasa bahagia sedikitpun.
“Kita sudah sampai disini, lalu kau bilang tidak mau datang?” Sungmin bertanya sinis.
Hye Hee menekuk wajahnya, menyesali cepatnya roda mobil yang membawanya ke tempat acara sosialita itu di adakan. Mereka sudah berhenti di parkiran hotel bintang lima, dimana acara hari ini di adakan. Berhubung penyelenggaranya hari ini adalah DL group, yang merupakan salah satu pemilik hotel berbintang di Seoul, maka acara sosialita itu di laksanakan di hotel mereka.
“Kau tidak tahu bagaimana mereka terus mengolok-olokku, karena aku selalu datang sendirian.” Kata Hye Hee lemas dan tidak bersemangat. “Di dalam sana para istri selalu di temani suaminya, sedangkan aku…. Kyuhyun hanya menyuruhku masuk ke dalam kandang singa dan tidak berniat sekalipun untuk menemaniku.”
Embusan napas berat Sungmin, membuat Hye Hee beralih menatap pria itu. “Kau tidak punya jadwal hari ini karena aku sudah mengosongkannya untuk acara ini, lalu apa yang akan kau lakukan kalau kau tidak datang ke acara itu?”
“Aku bisa melakukan apapun, asal jangan datang ke acara ini.” Hye Hee menatap Sungmin memohon kemurahan hati managernya itu untuk mengikuti kemauannya kali ini.
“Tidak bisa.” Tukas Sungmin. “Kau tetap harus datang meskipun tanpa Kyuhyun. Kalau kau tidak datang hari ini, mereka akan tertawa karena ketidakhadiranmu.”
“Biar saja mereka menertawakanku, aku sudah tidak peduli, yang penting mereka tidak tertawa di depanku.” Hye Hee semakin menekankan tubuhnya ke dalam jok mobil. Benar-benar tidak ingin turun dan masuk ke dalam acara sosialita yang telah menunggunya.
“Lagipula aku bosan ke acara itu.” Hye Hee menambahkan. “Tidak ada yang bisa di banggakan dari acara itu.” Ia menunjuk ke arah bangunan hotel. “Di dalam sana, mereka hanya membahas saham yang naik dan turun, perhiasan, pakaian yang di rancang untuk diri mereka sendiri. Saling menjatuhkan, memuji berlebihan, aahhhh….. aku tidak suka.”
Sungmin menggeleng menolak keinginan Hye Hee, “Kyuhyun akan tahu kalau kau tidak datang ke acara itu.”
“Biarkan saja dia tahu, aku tidak peduli. Kenapa tidak dia saja yang datang ke acara itu, dia pasti lebih memahami pembicaraan teman sejenisnya.” Hye Hee melipatkan kedua tangannya di dada dengan kesal. Mendengar Kyuhyun akan mengetahui apapun yang akan ia lakukan, membuat rasa kesalnya semakin bertambah.
“Apa semua hal yang kulakukan harus di ketahui olehnya?” Mengalihkan wajahnya ke jendela mobil, Hye Hee bergumam sendiri. Ia tidak pernah menolak kalau Sungmin selalu melaporkan apapun pekerjaannya pada Kyuhyun, tapi untuk hari ini ia ingin merasakan bebas, tanpa mata-mata Kyuhyun yang selalu mengawasinya.
“Sudahlah jangan cemberut terus seperti itu.” Sungmin merapikan gaun merah yang di pakai Hye Hee. “Acaranya akan segera di mulai, lebih baik kita turun sekarang, agar aku bisa mengantarkanmu ke dalam.”
Menggunakan sisa waktunya, Hye Hee menatap Sungmin memohon dengan wajah memelas, berharap pria itu akan merubah pikirannya. Namun Sungmin menggeleng, melenyapkan segala harapannya agar tidak masuk ke dalam acara yang akan membunuh harinya.
***
Dentingan pintu lift terdengar seiring dengan pintu yang terbuka. Kyuhyun dan Jae Hyun juga beberapa pria asing keluar dari dalam kotak persegi tersebut. Setelah mengucapkan kata perpisahan, Jae Hyun kembali menghampiri Kyuhyun yang berdiri mengawasi kembalinya partner kerjanya, para pemegang saham yang berasal dari New York.
Pertemuan hari ini membahas bagaimana nasib kepemimpinan perusahaan Kyuhyun yang sedang berkembang pesat di Amerika. Kyuhyun sudah memutuskan kembali ke Korea, sementara para pemegang saham itu hanya percaya Kyuhyun yang memimpin perusahaan JH entertainment New York.
JH entertainment New York juga bergerak di bidang hiburan. Merupakan tempat bernaungnya para artis papan atas, memproduksi film-film berkualitas. Dan juga, JH entertainment New York menghasilkan majalah berpotensi. Bukan majalah yang menyediakan gosip murahan, namun majalah yang menyajikan beragam fakta, baik dunia hiburan, kehidupan para artis, sampai tekhnologi dan kesehatan.
Karena hal itulah, majalah yang di produksi oleh JH entertainment New York, menjadi salah satu majalah yang paling di minati masyarakat Amerika.
Kembalinya Kyuhyun ke Korea merupakan tantangan besar bagi para pemegang saham, karena tak ada seorangpun yang mampu menjalankan perusahaan itu sebaik Kyuhyun.
“Kau yakin aku bisa menangani perusahaan itu sebaik dirimu?” Tanya Jae Hyun sembari mengiri langkah Kyuhyun ke dalam ruangan Kyuhyun.
Tidak langsung menjawab, Kyuhyun membiarkan Jae Hyun berpikir sejenak dengan tanggung jawab besar yang baru saja di berikan pada pria itu.
“Aku yakin kau bisa melakukannya, hyung.” Setelah diam selama lima menit, Kyuhyun membuka suaranya. “Kau bisa menjalankan perusahaan ini dengan baik, jadi aku yakin kalau kau juga bisa menjalankan JH entertainment New York.”
“Aku bisa melakukannya, juga karena kau.” Jae Hyun bersandar di daun pintu ruangan yang baru saja tertutup, menatap Kyuhyun yang berdiri di depannya. “Kalau kau tidak terus menerus memantau pekerjaanku, memberi tahu apa yang harus dan tidak aku lakukan, aku tidak akan bisa.”
“Aku juga akan membantumu hyung, sama seperti saat aku di Amerika dulu.” Jawab Kyuhyun memastikan.
Jae Hyun mengembuskan napasnya pelan, berjalan meninggalkan depan pintu, lalu mengempaskan tubuhnya ke atas sofa. Kyuhyun memintanya memimpin JH entertainment New York, itu merupakan tugas yang sangat besar, dan ia merasa kalau Kyuhyun memberikan tugas yang sangat berat untuknya.
Jae Hyun bukanlah pria yang begitu mencintai pekerjaan seperti Kyuhyun, itulah sebabnya ia merasa tugas memimpin sebuah perusahaan itu sangatlah berat. Dulu saat Kyuhyun meninggalkan JH entertainment padanya, ia sempat tidak tahu harus memulai darimana. Namun berjalannya waktu ia mampu melakukannya, tentu saja dengan kontribusi Kyuhyun.
Dan sekarang setelah ia merasa sanggup menangani JH entertainment, Kyuhyun memberikan ia tantangan yang lebih besar, memimpin JH entertainment New York. Perusahaan itu bahkan lebih besar daripada JH entertaiment Korea saat ini.
Jae Hyun menggelengkan kepalanya, merasa bahwa Kyuhyun sudah salah memercayakan perusahaan sebesar itu padanya. “Aku rasa kau salah Kyuhyun-ah. Aku tidak akan sanggup memimpin JH entertainment New York.”
“Kau pasti bisa hyung.” Kyuhyun meyakinkan pria itu untuk menerima keputusannya.
“Kenapa tidak kau saja yang kembali kesana.”
Pertanyaan Jae Hyun membuat Kyuhyun berhenti memerhatikan jemarinya. Sejak tadi pria itu duduk di kursi kerjanya, menatap jemarinya sembari memikirkan hal lain.
Kyuhyun menarik wajah dari jemarinya, untuk melihat Jae Hyun yang sudah berjalan mendekat padanya. “Aku tidak bisa kembali kesana.” Katanya pelan, nyaris berbisik.
“Kenapa?” Tanya Jae Hyun, menopangkan kedua tangannya di atas meja Kyuhyun.
Kyuhyun menggelengkan kepalanya. “Aku tidak bisa kembali kesana hyung, karena….”
Bukannya melanjutkan ucapannya, Kyuhyun malah menatap wajah Jae Hyun.
“Karena kau tidak bisa meninggalkan istrimu, begitukan?”
Tebakan Jae Hyun benar, sangat benar hingga Kyuhyun tidak bisa menyangkal ucapan pria itu, yang ia lakukan hanyalah menganggukkan kepalanya.
Kyuhyun tidak pernah tahu, sejak kapan kepentingan istrinya menjadi kepentingan utama dalam hidupnya. Ia bisa saja kembali ke Amerika dan membawa Hye Hee, tapi itu sama aja ia menghancurkan karir yang saat ini perlahan kembali di bangun istrinya. Kyuhyun tidak terlalu suka jika Hye Hee  kembali bekerja, namun ia juga tidak tega menghancurkan kebahagiaan wanita itu. melihat Hye Hee begitu bahagia bisa kembali bekerja, membuat ia merasakan bahagia wanita itu.
“Aku tidak bisa menghancurkan mimpinya hyung.” Kyuhyun bergumam, pikirannya melayang pada satu wanita. “Dia begitu bahagia bisa kembali bekerja.”
Mendegar Kyuhyun berkisah tentang istrinya, Jae Hyun hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya maklum. “Arraseo, aku hanya perlu menerima semuanya dengan lapang dada. Ahh… memulai dari awal lebih tepatnya.”
Kyuhyun tersenyum melihat wajah pasrah Jae Hyun yang dengan berat hati menerima keputusan yang ia berikan pada pada pria itu. “Aku berjanji akan terus membantumu.”
“Awas saja kalau kau tidak melakukannya, aku akan pulang kemari dan meninggalkan semuanya.” Ancam Jae Hyun bercanda.
“Aku menunggu saat itu tiba, Ahn Jae Hyun.” Tantang Kyuhyun sambil tertawa dan melayangkan tinju kecilnya ke lengan Jae Hyun.
Jae Hyun menarik tubuhnya dari meja Kyuhyun, ketika mengingat sesuatu. “Kau sudah melihat majalah yang memuat pemotretan istrimu?” Tanya Jae Hyun.
Kyuhyun tidak merespons apapun, hanya diam.
“Kau harus melihatnya, sebentar aku ambilkan majalahnya.” Jae Hyun berputar-putar di ruangan Kyuhyun mencari majalah yang ia bawa namun lupa dimana ia letakkan. Jae Hyun menemukan majalah itu di salah satu lemari berkas Kyuhyun, lalu menyerahkannya pada pria itu.
“Bukalah, dan lihat betapa hebatnya istrimu.” Saran Jae Hyun dengan senyuman.
Kyuhyun menerima majalah itu tanpa minat. Ia belum pernah melihat hasil pemotretan istrinya selama ini. Ia tidak pernah melihat wajah wanita itu di dalam majalah atau di layar kaca, tidak pernah ia lakukan sekalipun.
“Kenapa hanya melihat sampulnya, bukalah.” Tidak sabar karena Kyuhyun terus menatap sampul majalah yang ia berikan, Jae Hyun membukanya untuk Kyuhyun.
Dengan perlahan Kyuhyun membalik halaman demi halaman yang menampilkan wajah istrinya. Wajah wanita itu terlihat sangat berbeda, terlihat lebih menonjol dari pada hari biasa ia melihat wanita itu. Wajah Hye Hee terlihat lebih menggairahkan, dengan pose dan ekspresi wajah yang menampakkan keindahan wanita itu. Di tambah dengan pakaian yang hampir menampakkan seluruh tubuh wanita itu. Ya, kesan seksi tentu saja tidak lepas dari label istrinya yang sebagai model.
Lembar demi lembar di perhatikan Kyuhyun dengan seksama, di beberapa foto Kyuhyun tidak protes, namun ketika melihat beberapa foto yang mengekspose bagian tubuh istrinya, Kyuhyun merasa jengkel, dan puncaknya adalah ketika ia melihat satu foto terakhir dimana Hye Hee berpose hampir berciuman dengan model pria.
003_zps4614de78
20120221_yeonhee_voguegirl_2
382779_150694058374573_844193508_n
jkgjkgj
yunho-lee-yeon-hee-3
“Apa ini?” Kyuhyun membanting majalah itu dengan kesal. “Kenapa harus berpose seperti itu?”
Jae Hyun tersenyum samar, mengambil majalah yang di banting Kyuhyun, dan membuka halaman yang membuat adik sepupunya itu kesal.
“Mereka terlihat sangat serasi ya.” Gumam Jae Hyun sambil melirik jail pada Kyuhyun.
Membalas tatapan jail Jae Hyun, Kyuhyun melotot garang pada pria itu.
“Aku hanya bercanda.” Jae Hyun mengibaskan tangannya di depan Kyuhyun. “Kau marah melihat istrimu berpose seperti ini?” Jae Hyun menunjukkan foto di dalam majalah itu.
“Jangan menunjukkannya padaku.” Dengan satu gerakan kuat, Kyuhyun menyingkirkan majalah itu dari hadapannya.
Jae Hyun tidak bisa untuk tidak tertawa melihat wajah kesal dan marah Kyuhyun, “Kau cemburu, eoh?” godanya.
“Menurutmu?”
“Wahh… tidak kusangka kau bisa cemburu juga.” Jae Hyun menahan tawanya, lalu melipatkan kedua tangannya. “Kenapa kau tidak menemani Hye Hee ke acara sosialita kalian?”
Kyuhyun menegakkan tubuhnya, melipatkan tangannya pada meja, “Aku sudah mengatakan kalau aku tidak datang hari ini, karena meeting dengan pemegang saham.”
“Kita sudah selesai meeting.” Sahut Jae Hyun. “Ayolah, sesekali tunjukkan perasaanmu padanya.”
Wajah Jae Hyun begitu serius menasehati Kyuhyun, ia mendongakkan wajahnya menatap wajah Jae Hyun.
“Aku tahu kau sudah tertarik padanya, ketika dia masuk ke dalam ruangan ini.” Kata Jae Hyun dengan kedipan mata nakal.
“Bahkan sebelum itu.” Gumam Kyuhyun menerawang.
“Kau sudah bertemu dengan Hye Hee sebelumnya?”
Kyuhyun mengangguk, namun tidak berniat mengatakannya pada Jae Hyun kapan sebenarnya pertama kali ia bertemu Hye Hee. Tidak di pungkiri, ketika melihat wajah polos Hye Hee bercermin di jendela mobilnya, Kyuhyun merasa tertarik pada wanita itu. Rasa tertarik itu semakin mendalam, ketika tanpa ia sangka Hye Hee menjadi mempelai wanita yang di pilihkan Jae Hyun untuknya.
“Sebaiknya kau pergi menemuinya, daripada hanya melamunkan wajahnya disini.”
Kyuhyun menarik dirinya dari bayangan beberapa bulan yang lalu tentang Hye Hee. Sudah dua bulan lebih ia dan Hye Hee menikah, tidak sekalipun ia menunjukkan perhatiannya secara terang-terangan pada wanita itu.
“Aku dengar dari Sungmin hyung, Hye Hee sangat tersiksa ketika harus datang ke acara itu.”
“Tersiksa?” Tanya Kyuhyun dengan dahi berkerut.
Jae Hyun mengangguk-angguk kecil. “Istrimu tidak suka acara seperti itu, apalagi Sungmin hyung bilang, kalau istrimu selalu menjadi perbincangan karena kau tidak pernah sekalipun datang bersamanya.”
Mendengar penuturan Jae Hyun, membuat perasaan Kyuhyun tidak nyaman. Ia menerima tawaran kelompok sosialita itu untuk mencegah agar istrinya tidak bosan, namun sepertinya Hye Hee tidak menikmati perkumpulan itu.
“Pergilah, aku bisa menyelesaikan pekerjaan yang tersisa.” Jae Hyun menyuruh Kyuhyun menuruti sarannya. Ia mengedikkan kepalanya ke arah pintu ruangan Kyuhyun. “Apa lagi yang kau pikirkan, ayo sana pergi.”
Tidak langsung menuruti saran Jae Hyun, Kyuhyun menunduk menatap kembali jemarinya, sejak tadi ia selalu merasa ada yang tidak tepat dengan jemarinya, dan akhirnya ia tahu apa yang tidak tepat itu.
Cincin. Sejak menikah ia tidak pernah memberikan Hye Hee cincin pernikahan. Ia dan Hye Hee tidak mengenakan cincin pernikahan.
“Aku akan pergi hyung.” Kyuhyun bergumam, dan menarik wajah dari jemarinya. “Tapi sebelum itu, aku akan membeli cincin terlebih dahulu.”
***
Karena Sungmin tetap menolak keinginannya, Hye Hee akhirnya turun dengan dengan sangat terpaksa dari dalam mobilnya. Wajahnya masih terus ia tekuk, dan tidak berniat sedikitpun untuk menunjukkan senyuman di wajahnya.
“Tersenyumlah, orang-orang akan ngeri melihat wajahmu.” Sungmin menyarankan dengan lembut.
“Biarkan saja, aku lelah terus menerus akting tersenyum.” Sahut Hye Hee ketus.
Memahami situasi hati Hye Hee yang tidak baik, Sungmin hanya melenguh dan tidak memaksa wanita itu lagi. Sungmin berjalan di samping Hye Hee yang sama sekali tidak peduli dengan dirinya sendiri saat ini.
Mereka akan masuk ke dalam gedung, namun ketika sampai di depan pintu hotel, Sungmin dan Hye Hee berhenti karena sosok pria yang sejak tadi mereka bicarakan berdiri disana.
Hye Hee tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya, melihat Kyuhyun tiba-tiba saja ada di depan pintu hotel, ia sejenak terperangah, namun hitungan detik berikutnya ketika pintu hotel terbuka secara otomatis, Hye Hee berlalu melewati Kyuhyun begitu saja, masuk ke dalam hotel meninggalkan Kyuhyun dengan wajah angkuh.
Melihat artisnya bertingkah tidak sopan pada atasannya, Sungmin merasa bertanggung jawab, ia mengejar Hye Hee untuk menahan langkah wanita itu. meskipun Hye Hee adalah istri Kyuhyun, Sungmin merasa apa yang sudah di lakukan wanita itu salah pada Kyuhyun.
“Ya, kenapa kau meninggalkan Kyuhyun.” Sungmin menarik lengan Hye Hee agar wanita itu berhenti.
“Aku tidak mengenalnya.” Hye Hee menggerakkan lengannya agar terlepas dari genggaman Sungmin.
“Jangan bertingkah kekanakan seperti ini,” Sungmin menasehati. “Kyuhyun sudah datang, kau seharusnya senang.”
Hye Hee melirik ke belakang, merasakan kehadiran Kyuhyun di belakang tubuhnya. “Aku sedang tidak ingin ditemani olehnya sekarang,” Hye Hee menghentakkan tangan Sungmin dari lengannya.
Sungmin menelan ludahnya berat, kemarahan Hye Hee semakin memuncak ketika melihat Kyuhyun, padahal sejak tadi wanita itu berharap kalau Kyuhyun bisa menemaninya hari ini.
“Biarkan aku berbicara dengannya.” Kyuhyun berujar dari belakang Hye Hee dan Sungmin.
Perlahan Sungmin melepaskan tangannya dari lengan Hye Hee, dan mengangguk setuju pada Kyuhyun. Ia memundurkan dirinya ke belakang memberikan tempat untuk Kyuhyun di samping Hye Hee.
“Angin apa yang membawa CEO super sibuk sepertimu hadir disini?” Hye Hee mencibir sangat pelan, saking pelannya Kyuhyun merasa kalimat itu menusuk. “Bukankah kau bilang ada rapat penting dengan pemegang saham?”
“Rapatnya sudah selesai, satu jam yang lalu.” Jawab Kyuhyun menatap wajah kelam Hye Hee. “Hari ini aku akan menemanimu.”
“Aku tidak perlu di temani, aku sudah biasa melakukannya sendiri.”
Kyuhyun menahan Hye Hee, dengan menggengam lengan bawah wanita itu kuat. “Kita pergi bersama.”
“Lepas.” Hye Hee menarik lengannya dari genggaman Kyuhyun. Ia tidak tahu kenapa ia bersikap seperti ini, namun hatinya mengatakan, kalau sesekali ia perlu memberikan pelajaran seperti ini pada Kyuhyun, agar pria ini lebih menghargai hubungan mereka.
“Tidak.” Kyuhyun berkeras, wajah datarnya sudah berubah mengeras karena Hye Hee menolak dirinya secara terang-terangan.
Masih tetap memberontak, Hye Hee berusaha menarik lengannya dengan gerakan samar, agar pertengkaran mereka tidak menjadi sorotan, karena beberapa orang mulai melihat pada mereka.
“Menarik lenganmu sekali lagi, kau tidak akan percaya dengan apa yang aku lakukan.” Kyuhyun mengancam dengan tatapan tajam, di balik kelopak matanya.
Hye Hee tersenyum pada orang yang lewat dan melihat pada mereka. Tanpa memerdulikan ancaman Kyuhyun, ia menarik lagi lengannya, dan sesuatu yang tidak pernah ia bayangkanpun benar-benar terjadi.
Kyuhyun menarik lengannya keras, hingga ia terhuyung pada pria itu dan dalam gerakan cepat Kyuhyun menyambar bibirnya, melumat bibirnya dengan kasar. Hye Hee tidak ingin membalas lumatan Kyuhyun, ia hanya memejamkan matanya membiarkan pria itu meluapkan emosinya di depan umum seperti saat ini.
Setelah membuat Hye Hee kehabisan napas, Kyuhyun melepaskan ciumannya, lalu beribisik di depan wanita itu. “Sudah kuperingatkan.”
Kyuhyun mengenggam telapak tangan Hye Hee lalu membawa wanita itu meninggalkan kerumunan orang yang menyaksikan ciuman mereka, termasuk Sungmin yang memilih membuang wajahnya ketika ciuman itu berlangsung.
***
Banyak hal-hal tak terduga yang terjadi dalam hidup Hye Hee. Dan semua hal tak terduga itu selalu datang dari suaminya, Cho Kyuhyun. Kyuhyun tak pernah menunjukkan kalau ia mendukung Hye Hee kembali pada dunianya, namun sesekali pria itu datang ke lokasi syuting dramanya atau pemotretannya.
Drama yang dibintanginya sukses, dan hal itu membuat karir Hye Hee melesat dengan sangat cepat, bukan hanya tawaran drama yang datang, tawaran menjadi model pakaian dan kosmetik juga datang padanya.
Karena Kyuhyun sering meninggalkannya, Hye Hee menerima semua pekerjaan yang datang padanya. Seperti saat ini, ia sedang melakoni syuting bagian akhir dari dramanya.
Hye Hee menatap tampilan dirinya di depan cermin tinggi, syuting baru saja selesai, ia masih mengenakan gaun pengantin yang ia gunakan untuk syuting.
“Aku tidak menyangka kau mau menjadi istri seorang pria tua bangka, dan parahnya kau menjadi istri mudanya.” Sungmin mengomentari peran yang di terima Hye Hee.
Hye Hee tersenyum di depan cermin mendengar komentar Sungmin tentang perannya.
“Tidak masalah, aku menyukai tantangan baru.” Hye Hee membalas komentar Sungmin mengenai perannya.
“Astaga apa bagusnya menjadi istri simpanan dan tertindas.”
Hye Hee berbalik menatap Sungmin langsung. “Itu lebih baik daripada menjadi istri yang menjadi pajangan di rumah, dan lebih baik lagi setidaknya ketika menjadi istri simpanan aku menikah menggunakan gaun pengantin.”
Sungmin mengikuti pandangan Hye Hee, menatap miris gaun pengantin yang di kenakan wanita itu. Sungmin mengerti maksud ucapan Hye Hee, pernikahannya dengan Kyuhyun memang akan terlihat mengerikan jika di bandingkan dengan pernikahan wanita itu dalam dramanya.
Menikah secara mendadak di atas kertas, tanpa pesta, tanpa persiapan, tanpa iringan pengantin, dan tanpa gaun pengantin.
***
Perlahan baik Kyuhyun maupun Hye Hee menginginkan kehidupan rumah tangga yang layak pada umumnya. Kyuhyun mulai sering pulang untuk menemui istrinya, bahkan sekarang setiap akhir pekan Kyuhyun akan tinggal di rumah.
Hye Hee merasa senang dengan perubahan dalam rumah tangga mereka. Semakin sering Kyuhyun berada di rumah, semakin besar kesempatannya memahami pria itu. Seringnya Kyuhyun di rumah juga membuat Hye Hee resah, karena waktu bertemu mereka yang semakin sering, Kyuhyun semakin gencar menuntut haknya sebagai suami.
Di beberapa kesempatan Hye Hee berhasil menolak keinginan pria itu dengan beralasan ia sedang datang bulan, atau sedang kelelahan. Namun kali ini ia tidak punya alasan lagi untuk menolak hak suaminya itu.
Bukan ia tidak ingin menjalankan kewajibannya sebagai istri, namun ada sesuatu dalam dirinya yang Kyuhyun harus tahu, namun ia belum siap mengatakannya pada Kyuhyun.
Hye Hee sedang menyusun perhiasan pemberian Kyuhyun ke dalam meja besar di ruang penyimpanan pakaian, Kyuhyun juga ada disana menyimpan sesuatu ke dalam kotak besi persegi yang di simpan di balik lemari tempat baju Kyuhyun di simpan.
“Apa yang kau lakukan?” Tanya Hye Hee ingin tahu. Ia tidak menghampiri Kyuhyun, hanya berdiri di depan meja sambil melirik Kyuhyun.
Tidak ada jawaban dari Kyuhyun. Di rundung rasa penasaran dengan kegiatan suaminya, Hye Hee menolehkan wajahnya pelan-pelan ke tempat Kyuhyun. Ia melihat Kyuhyun memasukkan beberapa amplop bersegel, kemudian kalau ia tidak salah lihat Kyuhyun juga memasukkan uang, dan yang membuat Hye Hee tercengang karena di dalam kotak itu juga ada perhiasan, dan uang yang sangat banyak.
“Dia menyimpan uang sebanyak itu di rumah.” Hye Hee membatin. Hye Hee menarik wajahnya dari tempat Kyuhyun, namun kembali lagi melihat pria itu, Kyuhyun sedang mengunci kotak besinya, memasukkan beberapa angka sebagai kunci.
Selesai mengunci kotak besinya, Kyuhyun menghampiri istrinya yang gugup. Wanita itu bergetar, tidak tahu kenapa wanita itu bergetar. Yang pasti Kyuhyun hanya ingin menikmati wanita itu sekarang.
“Aku sedang mengamankan aset kita, sayang.” Bisik Kyuhyun seduktif di telinga Hye Hee. Ia melingkari tubuh wanita itu, meniup leher yang di bayangi oleh anak rambut yang menjuntai.
“Hanya kau yang tahu dimana aku menyimpan aset terpenting perusahaan, bahkan Jae Hyun hyung sendiri tidak tahu.” Ucap Kyuhyun sambil melayangkan ciumannya ke leher putih Hye Hee.
“Kenapa kau mengijinkan aku mengetahuinya?” Hye Hee tergugup di awal kalimatnya, namun segera ia mengusai tubuhnya.
“Karena kau istriku. Tidak ada istri yang akan mengkhianati suaminya.” Masih terus menciumi Hye Hee, Kyuhyun menurunkan wajahnya ke bahu wanita itu, menarik pita pengikat gaun dengan giginya, hingga gaun itu jatuh menjuntai di dadanya.
Tertegun dengan ucapan Kyuhyun yang mempercayai dirinya sebagai istri, Hye Hee menutup kedua matanya. Antara terpancing dengan rayuan bibir Kyuhyun di lehernya, atau rasa bersalah karena ia telah mengkhianati Kyuhyun, bahkan sebelum pria itu menaruh kepercayaan padanya.
Meskipun matanya terpejam, Hye Hee tetap bisa merasakan gerakan bibir Kyuhyun yang terus menyusuri setiap senti kulitnya. Bibir hangat Kyuhyun sudah menuruni bahunya, dan sekarang mulai turun ke dadanya.
Remasan lembut di dadanya membuat Hye Hee menahan napasnya, perlahan ia membuka matanya, Kyuhyun sudah berpindah ke hadapannya, entah sejak kapan.
“Apa aku melakukannya terlalu kuat?” Tanya Kyuhyun saat menyadari Hye Hee menahan napas ketika ia meremas dada wanita itu.
Hye Hee menggeleng lambat.
Kembali Kyuhyun bekerja di dada Hye Hee, memijat dada wanita itu, dan bibirnya menemukan bibir Hye Hee. Melumatnya dengan lambat dan dalam.
Ketika Kyuhyun menciumnya,maka Hye Hee akan kehilangan seluruh tenaga dan pikiran rasionalnya. Ia selalu memasrahkan dirinya dalam ciuman lembut, hangat dan dalam Kyuhyun.
Pria itu selalu menciumnya dengan tepat, mengeksplorasi bibirnya dengan gerakan pasti. Menyapa lidahnya dengan gesit dan lincah, hingga ia tidak pernah lelah membalas ciuman pria itu.
Hye Hee sudah pasrah kali ini, biarlah Kyuhyun mengetahuinya, itulah yang ia pikirkan. Ia sudah siap menerima konsekuensinya kalau saja Kyuhyun tidak menerima apa yang telah terjadi pada dirinya.
Di tengah rasa puas dan mendambanya, karena ciuman, pijatan dan sapuan hangat napas Kyuhyun di kulitnya, Hye Hee harus menelan rasa kecewa yang sangat dalam, ketika Kyuhyun menghentikan kegiatan mereka, karena ketukan pintu kamar mereka yang terus menerus.
“Sialan.” Kyuhyun mengumpat. Melirik Hye Hee sekilas, Kyuhyun meninggalkan ruangan penyimpanan pakaian dengan kesal, untuk menemui si penganggu yang menunggu di luar pintu kamar.
Dada Hye Hee bergemuruh, tiba-tiba saja ia merasakan hampa yang luar biasa, ia tidak tahu apa penyebab kehampaan itu, tapi yang jelas rasa itu terjadi ketika Kyuhyun menjauh dari dirinya.
***
Dua jam sejak kepergian Kyuhyun, pria itu tidak juga kembali ke kamar mereka. Hye Hee berinisiatif menemui pria itu, namun ia tidak tahu kemana tepatnya Kyuhyun pergi.
“Anda mencari tuan, nyonya?” Pelayan wanita menunduk hormat ketika berbicara pada Hye Hee.
Hye Hee baru saja keluar dari kamarnya karena ingin mencari Kyuhyun. “Ya.”
“Tuan ada di perpustakaan nyonya,” pelayan wanita itu menunjuk perpustakaan yang berada di seberang kamar mereka. “Sepertinya tuan sedang marah besar.”
“Marah?” Hye Hee  mengutip ucapan pelayan itu.
“Seluruh rumah tidak akan berani bergerak ketika tuan marah nyonya, itu sebabnya saya hanya berdiri disini. Karena saat tuan mengamuk, kebetulan saya sedang membersihkan ruangan ini.”
Hye Hee menatap pelayan itu bersimpati. Kyuhyun mengamuk, ia tidak pernah melihat pria itu marah besar, belum lebih tepatnya.
“Apa kau tahu apa yang membuatnya mengamuk?” Hye Hee bertanya pada pelayan wanita itu.
“Maafkan saya nyonya, kami tidak di benarkan bercerita apapun masalah di rumah ini, apalagi menguping pembicaraan tuan.” Jawab pelayan wanita itu penuh sesal karena tidak bisa menjawab pertanyaan majikannya.
Hye Hee mengangguk, “Aku mengerti, kau boleh kembali ke kamarmu dan beristirahat sekarang sudah jam sepuluh malam.”
“Tapi nyonya, tuan…”
“Aku bisa mengatasinya.” Kata Hye Hee dengan senyum penuh percaya diri.
“Terimakasih nyonya.”
Setalah mendapat anggukan Hye Hee, pelayan wanita itu pamit kembali ke tempatnya untuk beristirahat.
Setelah pelayan wanita itu pergi, Hye Hee dengan ragu mendatangi Kyuhyun ke perpustakaan. Awalnya ia ingin berbalik dan  kembali kemarnya setelah ia berdiri di depan pintu berpelitur berwarna cokelat itu, namun dorongan dari dirinya memaksa ia untuk masuk, ia merasa kalau Kyuhyun membutuhkannya.
Hye Hee masuk tanpa mengetuk pintu perpustakaan, dan pemandangan di dalam ruangan cukup untuk membuatnya mengetahui seberapa besar kemarahan pria itu. Salah satu lemari buku sudah ambruk, hingga seluruh buku berserakan ke seluruh ruangan.
Meja tempat Kyuhyun duduk saat ini, sudah tidak berbentuk lagi, karena seluruh isi meja sudah terbang ke atas lantai. Kyuhyun sendiri, menangkup wajahnya ke atas meja, sebuah gelas berada di genggamannya.
Dengan perlahan Hye Hee mendekati pria itu, menyentuh bahu Kyuhyun dengan sentuhan yang sangat lembut, takut sentuhannya akan mengejutkan Kyuhyun. Kyuhyun minum, itu yang pertama kali ia tangkap ketika sudah berada di dekat pria itu.
Merasakan sentuhan lembut di bahunya, Kyuhyun menarik wajahnya dari atas meja, menatap Hye Hee penuh harap.
Hye Hee tidak mengerti maksud tatapan Kyuhyun padanya, namun ia tidak ingin repot-repot mengartikan tatapan itu saat ini, yang ingin ia lakukan saat ini adalah meringankan kemarahan pria itu.
“Dia mengkhianatiku.” Gumam Kyuhyun di pelukan Hye Hee. Hye Hee sudah menarik wajahnya dan menekankannya ke dada wanita itu.
Hye Hee tidak ingin bertanya siapa orang yang membuat pria itu mengamuk hingga begitu hebat, ia hanya diam menunggu sembari membelai rambut hitam Kyuhyun, memberikan ketenangan.
“Kepala pelayan Choi, selama ini dia mengkhianatiku.” Kyuhyun berujar sendiri tanpa Hye Hee minta. Melepaskan gelasnya, Kyuhyun melingkarkan lengannya ke perut Hye Hee. “Aku sudah menganggapnya seperti keluarga sendiri, tapi dia malah mengkhianatiku.”
“Apa yang di  lakukan kepala pelayan Choi?” Hye Hee berani bertanya, karena merasa Kyuhyun mulai terbuka dan tenang.
“Dia mengambil beberapa dokumen penting dari ruangan ini, lalu memberikannya pada perusahaan yang baru saja berdiri.” Jawab Kyuhyun, suaranya serak, karena habis berteriak marah.
“Darimana kau tahu kalau kepala pelayan Choi pelakunya?” Hye Hee tidak berhenti mengelus kepala Kyuhyun, karena hal itu membuat Kyuhyun semakin tenang.
“Aku sudah curiga padanya beberapa minggu ini, aku selalu kehilangan dokumen, cctv ruangan rusak sepertinya di sengaja, akhirnya aku menyuruh seseorang untuk mengawasinya, dan ternyata dugaanku tidak meleset, kepala pelayan Choi memang melakukannya, karena iming-iming posisi di perusahaan baru itu.”
“Lalu apa yang kau lakukan pada kepala pelayan Choi?”
“Aku memecatnya, mengusirnya dari rumah ini. Sebenarnya aku ingin memenjarakannya, tapi….”
Hye Hee menggeleng, melepaskan usapannya di kepala Kyuhyun, menangkup wajah pria itu, dan menatap Kyuhyun dalam. “Kau tidak akan melakukannya.”
“Ya, aku tidak bisa melakukannya, ketika mengingat kebaikannya selama ini.” Kyuhyun mengangguk lemas, ia marah pada kepala pelayan itu, tapi ia tidak bisa bersikap kejam dengan memasukkannya ke penjara.
“Aku benci dikhianati.” Kyuhyun menyandarkan lagi kepalanya ke perut Hye Hee. “Apalagi dengan orang terdekatku.”
***
Hye Hee terbangun karena deringan ponselnya. Mengerjapkan matanya, ia mencari-cari ponselnya yang berada di atas nakas dengan tangannya. Ia harus segera mengangkat panggilan tersebut agar tidak membangunkan Kyuhyun yang masih tertidur nyaman sambil memeluknya.
Sepanjang malam ini Kyuhyun seperti tidak ingin ia lepaskan. Setelah amarahnya mereda, Hye Hee mengajak pria itu tidur dan Kyuhyun menurutinya dengan mudah, namun Kyuhyun terus memeluknya hingga pagi ini.
Kyuhyun menggeliat di atas dadanya, sepertinya pria itu juga terganggu dengan deringan nyaring ponsel Hye Hee. Menurunkan kepala Kyuhyun dengan pelan ke atas bantal, Hye Hee  bangkit untuk mengamankan ponselnya.
Hye Hee mengangkat panggilannya, sambil berjalan menjauhi tempat tidur agar tidak menganggu tidur Kyuhyun, “Yeoboseyo.” Kata Hye Hee dengan suara serak.
“Lama tidak berjumpa, bagaimana kabarmu sayang.”
Kelopak mata Hye Hee membelalak lebar, begitu saraf pendengarannya mengetahui dengan jelas siapa pemilik suara di seberang telepon.
“Kau tentu masih mengingatku, kan?”
Hye Hee menelan ludahnya, lalu menurunkan ponselnya untuk melihat nomor si penelepon, panggilan dalam negeri.
Pria itu disini
Hye Hee menempelkan kembali ponselnya ke telinga. “Apa yang kau inginkan.” Tanyanya tanpa basa-basi. Ia sudah tahu tujuan utama pria itu meneleponnya.
“Tenang sayang, pelan-pelan saja jangan terburu-buru.” Pria di telepon itu tertawa, tawa yang sangat di benci Hye Hee.
Kyuhyun bergerak di atas tempat tidur, dan hal itu membuat Hye Hee marasa sangat khawatir. Ia membuka pintu kamar mandi, dan masuk ke dalam ruangan itu. ia tidak ingin Kyuhyun mendengar pembicaraannya.
“Aku tidak ingin bicara berlama-lama denganmu,” Ujar Hye Hee dengan nada bengis dan marah, “Katakan saja apa maumu.”
Pria itu kembali tertawa, membuat Hye Hee semakin merasa jijik dengan suara itu. Hanya mendengar suara pria itu saja ia sudah jijik, bagaimana kalau ia harus melihat wajah pria itu langsung.
Andreas, pria keturunan Korea-Spanyol yang menjadi kekasihnya ketika ia berada di London. Satu tahun mereka menjadi sepasang kekasih. Hye Hee begitu menggilai pria itu, namun ia masih bisa menahan dirinya dengan tidak memberikan apa yang Andreas minta, yaitu kesuciannya sebagai seorang gadis.
Suatu hari Andreas menjebaknya, membuatnya mabuk, lalu pria itu memperkosanya dalam keadaan tidak sadarkan diri. Hye Hee marah pada pria itu, yang memanfaatkan ketidaksadarannya untuk mendapatkan tubuhnya.
Namun bukannya menyesal atas tindakannya, Andreas malah memutuskan Hye Hee dan mengancam wanita itu dengan video rekaman yang telah pria itu buat ketika menyetubuhinya.
Awalnya Hye Hee tidak terpancing dengan ancaman pria itu. Sampai ketika Andreas mengirimkan foto dirinya dan Pria itu yang tidak menggunakan apapun. Di foto itu Andreas sedang mencium bibirnya. Melihat foto itu Hye Hee memercayai perkataan Andreas tentang video itu.
Andreas memerasnya, dengan ancaman akan membeberkan video mesum mereka pada awak media. Hye Hee tidak punya kekuatan untuk menolak Andreas karena karirnya terancam. Yang bisa ia lakukan adalah terus menuruti kemauan Andreas, mengirimkan apapun yang di minta pria itu, mulai dari kebutuhan harian Andreas, sampai uang bulanan yang jumlahnya tidak sedikit.
Semakin lama Hye Hee merasa bosan di perlakukan seperti sapi perah oleh pria itu. Akhirnya Hye Hee memilih menghilang dari jangkauan Andreas. Ia meninggalkan  karirnya yang cemerlang sebagai model di London, lalu kembali ke Korea.
Sepulangnya ia ke Korea, ia menemui Sungmin, mantan menagernya ketika ia masih menjadi model pemula di Korea. Awalnya Sungmin menerimanya dengan senang, namun karena ia tidak mau menerima satupun pekerjaan, Sungmin mulai muak dan jengah padanya, hingga akhirnya Sungmin menghantarkannya pada Kyuhyun.
Sungmin menawarkan pernikahan padanya, menikahi milyarder bernama Cho Kyuhyun. Awalnya pernikahan itu hanyalah status untuk menyelamatkan wajah pria itu dari media Korea. Namun seiring waktu yang berjalan, dan meningkatnya momen yang ia lewatkan dengan Kyuhyun, Hye Hee mulai kehilangan sebagian hatinya, karena ia mencintai Kyuhyun.
Hye Hee sadar bahwa ia sudah mencintai Kyuhyun. Tidak tahu kapan pastinya ia mencintai pria itu, namun ia yakin bahwa kini ia mencintai Kyuhyun, hal itulah yang membuat ia takut untuk mengakui keadaan dirinya pada Kyuhyun.
“…….. kemana saja kau selama ini? Apa kau kira dengan menghilang, aku tidak akan bisa menemukanmu?” Andreas lagi-lagi tertawa. “Kau salah manis, aku akan menemukan kemanapun kau pergi.”
Hye Hee tidak gentar mendengar Andreas yang menggeram. Ia sudah biasa dengan semua kebiasaan Andreas ketika mengancamnya.
“Katakan saja apa maumu.”
“Aku dengar kau menikah dengan Cho Kyuhyun.”
Hye Hee merasa tidak nyaman ketika Andreas menyebutkan nama Kyuhyun. Kalau saja ia ada di hadapan pria itu saat ini, ia akan menyumpal mulut Andreas agar pria itu tidak menyebutkan nama Kyuhyun.
“Masalah kita tidak ada hubungannya dengan suamiku.”
“Tentu saja ada manis.” Sahut Andreas cepat. “Kau menikahi pria kaya raya, tentu kau menikmati kekayaannya. Tapi aku bukan orang bodoh yang akan membiarkan wanita jalang sepertimu menikmati kekayaan pria bodoh itu sendirian.”
“Jangan menyebut suamiku seperti itu, karena aku tidak sudi mulut kotormu mengatakan sesuatu yang buruk tentang suamiku.” Hye Hee berdesis geram. Pegangan di ponselnya mengetat. “Kyuhyun pria yang seribu kali lebih baik di bandingkan dirimu.”
“Sepertinya kau sudah terbiasa menyebutnya suami.” Andreas berkomentar dengan nada geli. “Aku ingin bertemu denganmu.”
Hye Hee menarik napasnya kuat, “Dimana?”
“Temui aku di hotel tempatku menginap, aku akan mengirimkan alamatnya padamu.” Kata Andreas santai. “Jam dua siang, dan jangan lupa aku butuh seratus juta won sebagai oleh-oleh.”
“Seratus juta?” Hye Hee memekik kaget mendengar permintaan pria itu. Dan saat sadar ucapannya terlalu kuat, ia langsung menutup mulutnya. “Kau gila.”
“Terserah, kalau kau masih ingin rumah tanggamu dan karirmu aman, datang temui aku dan bawa uang itu.”
Andreas mematikan sambungan telepon setelah mengatakan keinginannya. Beberapa detik kemudian, pesan singkat masuk ke ponselnya, Andreas mengirimkan alamat hotelnya menginap.
Hye Hee mengacak rambutnya geram. Ia kembali terjebak dalam permaian Andreas, dan ia masih belum memiliki kekuatan untuk melenyapkan pria itu. Hye Hee menyisir rambutnya kasar, dan keluar dari kamar mandi, ia harus bersiap-siap untuk menemui Andreas.
“Telepon dari siapa?”
Hye Hee memekik terkejut saat Kyuhyun tiba-tiba saja muncul di depannya.
“Kau mengejutkanku.” Hye Hee menekan dadanya yang berdebar kencang. “Sungmin, menyuruhku ke kantor sekarang.” Jawabnya berbohong.
“Pekerjaan baru lagi?” Tanya Kyuhyun.
“Eum, pemotretan untuk kosmetik yang mensponsoriku.” Hye Hee mengucapkan kebohongannya dengan lancar, dalam hati ia merasa menyesal sudah membohongi Kyuhyun.
“Kenapa kau menjawab teleponnya di kamar mandi?” Kyuhyun menunjuk ke arah kamar mandi.
Hye Hee melirik kamar mandi, lalu menatap Kyuhyun lagi. “A… aku hanya tidak ingin membangunkanmu. Kau terlihat tidur sangat lelap setelah kemarahan semalam.” Hye Hee membelai lengan atas Kyuhyun.
Kyuhyun mengangguk, “Kalau mengingat kejadian semalam rasanya aku ingin marah kembali, tapi sepertinya aku sudah lebih baik.”
“Syukurlah, aku senang kau sudah membaik.” Ucap Hye Hee tulus, kalau ia mengingat bagaimana tersiksanya Kyuhyun karena dikhianati oleh orang kepercayaannya, ia merasa terluka.
“Kyuhyun-ah, bagaimana kalau suatu hari aku  mengkhianatimu?” Hye Hee tidak tahu kenapa tiba-tiba saja ia mengutarakan keinginan hatinya pada Kyuhyun. Ia penasaran dengan jawaban Kyuhyun, jika pria itu tahu tentang dirinya.
Kyuhyun menatap wajah Hye Hee, tanpa ekspresi apapun. “Kita lihat, apa kau berani melakukannya.”
***
Terpacu untuk segera menyelesaikan masalahnya dengan Andreas, Hye Hee menepati janjinya menemui pria itu jam dua siang di hotel tempat Andreas menginap. Namun sebelum menemui pria itu, ia terlebih dahulu menguras tabungan hasil kerja kerasnya beberapa bulan ini.
Sempat terlintas di pikirannya untuk  menggunakan uang pemberian Kyuhyun, namun ia langsung menyingkirkan pikiran itu, karena ia akan semakin mengkhianati suaminya dengan memberikan uang pemberian Kyuhyun pada pria brengsek seperti Andreas.
Senyuman culas Andreas menyambut Hye Hee, begitu pria itu membuka pintu kamarnya.
“Apa kabar sayang.” Andreas bergerak ingin mencium Hye Hee.
Dengan cepat Hye Hee mendorong pria itu menjauhi tubuhnya.
“Jangan berbuat kurang ajar, aku sekarang sudah menikah.” Katanya tajam, menatap marah dan jijik pada Andreas. Ia tidak membiarkan Andreas melihat sedikit saja cela untuk menyudutkan dirinya.
Andreas mendengus tidak suka, ia menatap penampilan Hye Hee, menilai wanita itu mulai dari ujung kaki hingga ujung rambut.
“Kau terlihat semakin cantik.” Katanya sambil menggaruk-garuk pipinya dengan telunjuk. “Apa karena kekayaan pria itu, yang mengubahmu?”
Hye Hee menepis kuat tangan Andreas yang menyentuh pipinya, “Jauhkan tangan kotormu! Aku tidak sudi menerima sedikit saja sentuhan dari pria brengsek sepertimu.”
Geram dengan semua penolakan Hye Hee, Andreas menarik wajah Hye Hee dengan paksa, menekankan jari-jarinya dengan kuat di kedua pipi wanita itu. “Jangan bertingkah seperti wanita suci,” desisnya.
“Setidaknya aku lebih baik daripada dirimu.” Ucap Hye Hee dengan susah payah, karena tekanan kuat di kedua pipinya. Hye Hee menutup kedua matanya, tidak ingin melihat wajah Andreas sedekat saat ini. Kerena melihat wajah Andreas dengan jarak dekat seperti saat ini, ia merasa jijik pada dirinya sendiri.
“Lepaskan!” Setelah mengumpulkan tenaganya, Hye Hee mendorong pria itu agar melepaskan cengkeraman di wajahnya, dan menjauhinya.
Andreas menyengir culas, “ Kau sudah berani sekarang.” Katanya.
“Itu uang yang kau minta.” Hye Hee melemparkan uang yang ia siapkan ke atas tempat tidur. “Jumlahnya seratus juta won.”
Andreas mengambil amplop berisi uang itu, memeriksanya sejenak, lalu tersenyum puas.
“Aku harap ini terakhir kalinya kau memerasku. Aku sudah tidak punya apa-apa lagi.” Hye Hee memerhatikan Andreas yang masih memeriksa uang pemberiannya. “Dan…. tolong berikan padaku kaset rekaman itu.”
Pandangan Andreas sontak terangkat dari uang di hadapannya, ia menatap Hye Hee dengan nyalang, seolah-olah ucapan wanita itu adalah kesalahan besar.
“Aku sudah memberikan apapun yang kau mau,” Hye Hee merasa tubuhnya mulai menegang karena takut dengan tatapan Andreas padanya. “Sebagai imbalannya tolong berikan rekaman itu padaku.”
Andreas tertawa terbahak mendengar permintaan Hye Hee. “Kau kira aku sebodoh itu?”
Gerekan refleks tubuhnya membuat Hye Hee melangkah mundur menjauhi Andreas.
“Dengan memberikan rekaman itu, aku akan kehilangan asetku yang berharga.”
“Aku sudah memberikan semua uangku padamu. Itu yang terakhir, aku tidak memiliki uang apapun lagi.”
“Kau punya suami kaya raya, kau bisa menggunakan uangnya sebanyak apapun, tanpa ia sadari.”
“Kau salah.” Hye Hee menyangkal. “Kyuhyun tidak pernah memberikan apapun padaku, dia tak pernah membiarkan aku menikmati hartanya sesuka hati.”
Andreas menatap wajah Hye Hee, mengamati raut wanita itu.
“Aku tidak berbohong.” Lanjut Hye Hee meyakinkan Andreas. Ia harus membuat pria itu percaya bahwa ia tidak pernah sedikitpun menikmati harta kekayaan Kyuhyun, agar pria bersimpati padanya. “Selama ini aku hanya menikmati apa yang sudah pelayannya berikan. A… aku….”
Mendadak Hye Hee tidak tahu harus mengatakan apalagi untuk membohongi Andreas, dan hal itu membuat pria itu curiga padanya.
Andreas mendekat, membuat Hye Hee kembali mundur menjauhi pria itu.
“Jangan coba untuk membohongiku, sialan!” Andreas mencengkeram lagi pipi Hye Hee, menambahkan nyeri di wajah wanita itu. “Aku tahu kau berbohong.”
“A…aku.. ti…tidak ber..bo…hong.” Hye Hee memaksa bernapas di tengah cengkeraman Andreas di pipinya. Ia berusaha melepaskan tangan Andreas dari wajahnya.
“Aku tidak akan pernah percaya dengan semua ucapanmu.” Andreas menambah tekanannya di pipi Hye Hee. “Kau ingin rekaman itu kan?”
Dengan susah payah Hye Hee mengangguk, “Ya.”
“Kalau kau ingin rekaman itu, kau haru memberikan aku satu miliyar won.” Bisik Andreas di wajah Hye Hee.
“Sa…satu miliyar?”
“Ya, satu miliyar won. Harga yang setimpal untuk rekaman itu. Kalau kau masih ingin rumah tangga dan karirmu selamat, berikan uang itu padaku satu minggu lagi.”
Andreas mengecup pipi Hye Hee, lalu melepaskan cengkeramannya dari wajah Hye Hee.
“Satu minggu lagi, aku tunggu kau disini dengan uangnya.” Andreas membelai bekas merah yang terlihat di pipi mulus Hye Hee. “Kalau kau tidak menurutinya….” Andreas menggerakkan tangannya ke leher Hye Hee, memeragakan gerakan memotong leher wanita itu.
TBC

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: