And Suddenly Part 1

0
and Suddenly Part 1 kyuhyun ff nc
Author             : JH Mommy
Tittle                 : and… Suddenly…
Category          : NC 21, Married life, Romance
Cast                 : Cho Kyuhyun, Shin Hye Hee
Other Cast       : Lee Sungmin, Ahn Jae Hyun
Kriiiingg…. Kriinnggg….. Kriiingggg….
Suara nyaring telepon ruangan itu kembali berbunyi untuk yang ketiga kalinya, namun tidak berhasil membuat seseorang yang sedang terlelap di dalam kamar itu terbangun. Gadis itu semakin menggulung tubuh mungilnya dalam selimut lila tebal miliknya, mengabaikan suara telepon yang sudah mengusik tidur nyamannya.

“Shin Hye Hee!!!” Suara pria terdengar membentak di pesan suara telepon, “Kalau sampai sepuluh menit lagi kau tidak sampai di kantor, aku akan datang ke apartemenmu, menarik rambutmu hingga kau turun dari tempat tidurmu!” Sambung pria itu dengan ketegasan yang tidak terbantahkan.
Hye Hee membuka kelopak matanya terkejut, seketika rasa mengantuknya hilang karena ultimatum yang di dengarnya dari pesan suara itu. Mengerjapkan mata untuk mengembalikan kesadarannya, Hye Hee segera berlari menuju kamar mandinya.
Pesan suara itu dari managernya, Lee Sungmin, pria yang mampu bersifat feminin dan maskulin dalam waktu bersamaan. Jika pria itu sudah memberikan ancaman seperti itu, Hye Hee harus waspada, karena seorang Lee Sungmin selalu serius dengan semua ucapannya.
“Aaww…!!” Hye Hee mengerang memegangi tulang keringnya yang tidak sengaja menabrak kusen pintu kamar mandi karena ia tergesa.
Hye Hee menatap jam dinding di kamarnya, lalu meringis geram. “Aiisss Jinjaa….” Waktunya tidak banyak hanya sepuluh menit dan ia belum melakukan apapun. Hye Hee masuk ke dalam kamar mandi, menggosok giginya, membasuh wajahnya dengan cepat. Sebenarnya ia sangat ingin membasahi tubuhnya di dalam bak mandi panjang yang di penuhi dengan wewangian yang dapat membuat tubuhnya rileks, tapi waktu singkat yang di berikan Sungmin tidak memungkinkan ia untuk melakukan itu.
“Lee Sungmin, Jinjja….” Sambil menggerutu, gadis itu melap kasar wajahnya dengan handuk, lalu menarik celana jeansnya yang tersampir di lengan sofa, menyambar salah satu kemejanya yang berada di atas tempat tidur, tidak ada waktu untuk berdandan.
Tersisa lima menit dari waktu yang di berikan Sungmin padanya, Hye Hee mengacak rambutnya karena kalut. Berlari ke depan meja riasnya, gadis itu memoleskan sedikit bedak, dan pewarna bibir. Ia berputar sejenak di dalam kamar apartemennya, mencari sesuatu.
“Itu dia.” Serunya menunjuk pada kunci mobil yang berada di karpet lantai kamarnya. Hye Hee membuka pintu kamarnya, namun sebelum meninggalkan ruangan itu, ia menatap miris kamarnya sejenak. Kamar itu benar-benar mengenaskan. Semua barang terletak tidak pada tempatnya. Pakaian kotor dan pakaian dalam tersampir  di mana saja, sepatu dan bungkus makanan berserakan di lantai kamar.
Hye Hee menggeleng, kemudian menutup kamarnya yang menyedihkan. Bukan hanya kamarnya yang menyedihkan, seluruh ruangan di dalam apartemennya juga sama menyedihkannya, kotor dan berantakan. Hye Hee bergegas keluar dari apartemannya, meninggalkan seluruh ruangan berantakan itu, tanpa berniat untuk membereskannya.
***
“Ya..! dimana kau!?”
Hye Hee mengernyit, menjauhkan ponsel dari telinganya karena teriakan Sungmin. Mendekatkan kembali ponsel ke telinganya, ia menjawab. “Aku sudah di parkiran kantor.”
“Kuberi kau waktu dua menit untuk sampai kesini.” Sungmin memutuskan panggilan sebelum Hye Hee sempat membantahnya.
“Apa dia pikir aku ini superman, yang bisa terbang ke dalam kantor dalam waktu sesingkat itu.” Rutuk Hye Hee, mencibir ke layar ponselnya. Setelah memasukkan ponsel kembali ke dalam saku jeansnya, dan membuka sabuk pengamannya, ia keluar dari mobil, membanting pintu mobilnya dengan keras, melampiaskan kekesalannya.
Berlari menuju gedung kantornya, Hye Hee baru menyadari bahwa ia belum merapikan rambutnya. “Aaiisss… ck…” Berdecak kesal, ia membuka ikatan asal rambutnya yang berantakan. Hye Hee bercermin di jendela mobil yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri, menyisir rambutnya menggunakan jari-jari kurusnya. Setelah merasa cukup rapi, ia kembali berlari menuju gedung kantornya.
***
Pria itu tersenyum dari dalam mobilnya, ketika seseorang dengan tidak tahu malunya bercermin di jendela mobilnya. Ia bisa melihat apapun yang di lakukan semuanya di luar mobilnya, namun orang tidak akan tahu, bahwa ia masih berada di dalam mobil itu, karena kaca mobilnya yang cukup gelap.
“Sajangnim, apa saya harus….”
“Tidak perlu.” Potong pria itu, mengerti dengan ucapan supirnya yang ingin mengusir orang yang sedang  bercermin di jendela mobilnya. “Biarkan saja.” Gumamnya. Pria itu mendekatkan wajahnya dengan wajah gadis yang bercermin di luar jendela mobilnya. Tanpa ia sadari kedua sudut bibirnya tertarik, melihat ekspresi polos gadis itu.
Deringan ponselnya membuat pria itu berhenti memerhatikan gadis itu. Bergegas, ia mengeluarkan ponsel yang berada di saku bagian dalam jasnya.
“Kyuhyun-ah, kau sudah sampai?”
Kyuhyun, pria itu tersenyum mendengar suara sepupunya di dalam telepon. “Aku sudah di depan kantor hyung, tapi sesuatu menahanku.” Ujarnya tersenyum. Ia menoleh kembali ke jendela, untuk melihat wajah gadis itu, namun terpaksa menarik napas putus asa, karena gadis itu sudah tidak lagi berada disana.
“Kau kenapa? Apa ada sesuatu yang terjadi?” Pria di telepon bertanya khawatir.
“Aniya, Hyung.” Kyuhyun menggeleng. “Aku akan masuk ke dalam sekarang.” Menurunkan ponselnya, ia kembali menatap ke luar jendela, sebagian dari dirinya berharap gadis itu masih disana.
Pintu mobil dibuka oleh supirnya, Kyuhyun melangkah keluar dari dalam mobil, lalu merapikan jasnya yang berkedut.
“Sudah lama sekali.” Gumamnya, memandang seluruh bangunan kokoh dan modern di hadapannya.
“Apa perlu saya antar anda ke dalam sajangnim?” Tanya supirnya.
Kyuhyun menurunkan pandangannya pada supirnya, dan tersenyum. “Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri. Bagaimanapun, aku yang membangun gedung ini, dan aku masih hafal jumlah setiap anak tangganya.”
Supir itu mengangguk patuh. “Saya mengerti sajangnim. Kalau anda membutuhkan saya, saya ada disini.”
Kyuhyun melangkah masuk ke dalam gedung yang sudah tiga tahun ini ia tinggalkan. Selama tiga tahun ini ia berusaha mengembalikan kepercayaan dirinya terhadap dunia hiburan Korea, setelah tiga gali gagal melangsungkan pernikahan.
Ia memang bukan seorang artis, namun segala tindak tanduknya akan selalu sorotan utama media Korea Selatan. Karena ia adalah Cho Kyuhyun, CEO termuda yang berhasil memimpin JH entertainment, menjadi perusahaan entertainment terkemuka di Korea Selatan. Namun keberhasilannya di dunia bisnis, tidak sebanding dengan kehidupan asmaranya.
Cho Kyuhyun, sudah tiga kali gagal melangsungkan pernikahannya. Dan hal terparah yang terjadi adalah, rencana pernikahannya yang terakhir. Pengantin wanitanya, tidak datang di hari pernikahan mereka, meninggalkan ia dalam ketidakpastian, menunggu wanita itu sepanjang hari.
Dan karena luka itulah, ia meninggalkan Korea, beserta dengan seluruh bisnisnya. Memercayakan perusahaannya pada sepupunya, Ahn Jae Hyun. Kyuhyun bersembunyi dari hingar bingar hiburan Korea. Tidak benar-benar bersembunyi sebenarnya, karena saat ia terbang ke tempat persembunyiannya di New York, pria itu menjalin kerja sama dengan salah satu perusahaan entertaiment terkemuka, dan membuka perusahaannya yang baru disana.
“Hyung.” Kyuhyun melebarkan kedua tangannya, begitu sosok kakak sepupunya itu berdiri menyambutnya di dalam ruangan miliknya.
“Welcome back brother.” Jae Hyun melingkarkan kedua tangannya di tubuh Kyuhyun, menepuk punggung pria itu pelan.
“Bagaimana perjalanannya?” Jae Hyun melepaskan pelukan mereka.
“Biasa saja.” Jawab Kyuhyun. Kyuhyun menyapu seluruh ruangannya dengan pandangan. “Tidak ada yang berubah.”
“Ada.” Sahut Jae Hyun merujuk ucapan Kyuhyun.
Kyuhyun menatap sepupunya itu ragu, “Semuanya masih sama hyung, mejaku masih tetap disini. Lalu tanaman itu juga masih tetap berada di sudut ruangan itu. Sofanya masih berwarna abu-abu dengan bentuk yang sama, gantungan jas juga  masih ada disini. Apanya yang berubah?”
“Fotomu dan Jin Yi, aku membuangnya.” Jae Hyun tersenyum miring, menatap menunggu reaksi Kyuhyun.
Kyuhyun menatap sepupunya itu, kemudian tertawa, dan Jae Hyun juga ikut tertawa. “Kalau kau tidak membuangnya, itu sama saja kau mencari ribut denganku hyung.”
Jae Hyun tidak bisa berhenti tertawa, “Aku kira kau akan marah jika aku membuang fotomu dengannya.”
Kyuhyun menggeleng, “Aku malah berterimakasih hyung.”
Jin Yi, calon istrinya yang terakhir. Wanita yang meninggalkannya di depan altar, menanti kehadiran wanita itu sepanjang hari, namun wanita itu tidak pernah hadir. Hanya sebuah pesan singkat yang di kirimkan wanita itu, mengatakan bahwa wanita itu tidak bisa hidup dengannya, pria yang begitu mencintai pekerjaan.
Jae Hyun mendekati telepon di meja kerja Kyuhyun, menekan panggilan cepat sekretarisnya. “Bawakan dua gelas espresso kemari, sekarang.”
“Ne sajangnim.”
Kyuhyun membalik tubuhnya, agar berhadapan dengan Jae Hyun. “Kau sudah menemukannya?”
Jae Hyun menggerakkan bahunya ringan. “Aku sudah menunjuk seseorang yang mungkin pantas, tapi belum menerima persetujuan dari mereka.”
Pintu ruangan di ketuk, dan seorang gadis berumur sekitar empat puluh tahunan masuk sambil membawa nampan, dengan dua gelas yang mengepul. “Maaf sajangnim, ini pesanan anda.”
Jae Hyun dan Kyuhyun mengangguk bersamaan.
Wanita itu meletakkan minuman yang di bawanya ke atas meja. “Ada lagi yang bisa saya bantu sajangnim?” Tanyanya.
“Tidak terimakasih.” Jawab Jae Hyun.
“Kalau begitu saya permisi.” Wanita itu mundur perlahan, dan keluar dari ruangan.
“Sambil menunggu keputusan dari mereka, lebih baik kita menikmati espresso ini.” Jae Hyun menggiring Kyuhyun duduk di sofa, menarik salah satu gelas dan meneguknya.
“Kapan keputusannya, hyung?” Tanya Kyuhyun, kemudian menyesap espressonya.
“Aku memberikan mereka waktu sampai jam makan siang, kita tunggu saja.”
***
Hye Hee menarik napasnya dalam lalu mengembuskanya banyak-banyak, rasanya paru-parunya penuh, karena terus tergesa mulai dari apartemen hingga sampai ke dalam ruangan managernya.
“Kau terlambat sepuluh menit, tiga puluh dua detik, Shin Hye Hee.” Sungmin berbicara sambil melihat jam tangannya, tanpa melihat Hye Hee.
Hye Hee membungkuk menumpukan kedua lengannya di atas lutut, menatap getir managernya itu. “Ahkhu….” Ia menarik napas dalam tersendat, “Ssuudahh…. berusaha secepat mungkin. Aku bersumpah hanya mencuci wajahku, dan mengendarai mobilku secepat mungkin. Kau kira jarak apartemenku dan kantor ini dekat?”
Sungmin tidak memerdulikan keadaan Hye Hee yang belum sepenuhnya tenang. Dengan kedua tangan terlipat di dadanya, pria itu duduk melipatkan kaki di sofa ruangannya. “Kau tahu, kau sudah membatalkan kontrak drama yang seharusnya kau perankan. Kau tahu kenapa kontrak itu di batalkan?”
Hye Hee menegakkan tubuhnya, menelan ludahnya berat. “Aku tahu.” Jawabnya.
“Dan itu semua karena kau terlambat.” Sungmin menilai tampilan gadis itu dari atas hingga ke bawah, dan menggeleng muram melihat penampilan gadis itu. “Kali ini apalagi yang membuatmu terlambat? Aku sudah mengatakannya dengan jelas padamu, bahwa pagi ini kau ada pertemuan dengan produser sebuah drama.”
Hye Hee terlihat tidak acuh, menyambar segelas air mineral, meneguknya hingga tandas. Tenggorokannya kering, dan ia tidak bisa mengatakan apapun dengan keadaan seperti ini. “Aku benar-benar lupa, dengan janji itu.”
“Lupa atau berpura-pura lupa?”
“Pura-pura lupa.” Kata Hye Hee berdeham, melonggarkan tenggorokannya.
Gelengan kepalanya menandakan betapa Lee Sungmin begitu frustasi dengan artis asuhannya yang satu ini. “Kau tahu, bagaimana aku membujuk produser itu agar mau menerimamu sebagai bintang utama di dramanya?”
“Aku tahu, dan aku minta maaf karena sudah mengecewakanmu.” Hye Hee menyandarkan tubuhnya di meja Sungmin.
“Sudah enam bulan sejak kepulanganmu ke Korea, hanya satu pekerjaan yang sukses kau kerjakan dan itu hanya sebagai cameo di salah satu film.” Sungmin masih menatap Hye Hee dengan tatapan menilai. “Sebenarnya apa yang terjadi denganmu?”
Hye Hee menggerak-gerakkan kepalanya ringan, terlihat tidak peduli dengan omelan Sungmin.
“Tiba-tiba kau menarik dirimu dari dunia model yang sudah melambungkan namamu, meninggalkan London dan kembali ke Korea. Aku kira kau ingin berkarir disini, tapi ternyata….” Sungmin mengembuskan napas kesal. “Apa kau ingin kembali ke London dan memulai lagi karirmu disana? Kalau  kau mau, aku akan membantumu untuk….”
“Aku tidak akan kembali kesana.” Tukas Hye Hee, memotong ucapan Sungmin, “Tidak akan.”
Sungmin menelan kembali ucapan yang sudah berada di ujung lidahnya.
“Aku butuh waktu.” Hye Hee menunduk, menyembunyikan mimik wajahnya. Ia takut kalau Sungmin melihat wajahnya saat ini, pria itu akan mengetahui beban perasannya saat ini.
“Sejak awal kau selalu mengatakan hal itu. waktu apa yang kau butuhkan? Kau tidak punya waktu lagi Shin Hye Hee, seluruh tunggakanmu tidak memerlukan waktu untuk segera di lunasi.”
Hye Hee mengangkat wajahnya seketika, “Maksudmu?”
Sungmin melemparkan beberapa amplop ke atas meja, “Seluruh tagihanmu yang menunggak.”
Hye Hee melangkah mengambil salah satu amplop di atas meja di hadapan Sungmin.
“Pembayaran cicilan apartemen, mobil, belanja bulanan, tagihan club tempat kau minum, dan beberapa tagihan tidak jelas lainnya.”
Hye Hee menggosok wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
“Kau harus ingat, kau sudah tidak memiliki uang sepeserpun di tabunganmu. Aku tidak tahu kemana kau menghabiskan seluruh hasil kerja kerasmu selama ini.”
“Sepeserpun?” Tanya Hye Hee terkejut, ketika mengetahui baha ia sudah memiliki uang sepeserpun lagi.
“Kau terus mengambil uang dengan jumlah yang banyak, dan kau tidak melakukan sesuatu untuk membuat tabungan tetap terisi.” Sungmin membuka amplop putih yang masih bersegel. “Lihat, kau sudah menunggak cicilan apartemen selama tiga bulan.” Sungmin menunjukkan kertas peringatan yang dikirimkan pihak apartemen padanya.
Hye Hee menerima surat itu dan membacanya, dan baru menyadari bahwa selama tiga bulan ini ia tidak pernah membayar cicilan apartemennya.
“Dan ini.” Sungmin menyerahkan surat yang lainnya, yang baru ia buka. “Cicilan mobil yang baru satu kali kau bayar.”
Hye Hee menarik surat itu, dan membacanya dengan resah. Begitu banyak yang harus ia tutupi saat ini, dan ia tidak memiliki apapun untuk menutupi semua utangnya.
“Kalau kau terus seperti ini, aku bisa menjamin, dalam waktu satu bulan kau akan hidup sebagai gelandangan.” Kata Sungmin prihatin.
“Aku tidak menyangka akan sebanyak ini.” Hye Hee mengangsurkan dua surat yang di pegangnya.
“Itu masih sebagian, kau masih punya banyak tagihan yang lainnya.” Sungmin mengarahkan matanya pada amplop-amplop yang belum terbuka.
Mengikuti gerak mata Sungmin di atas meja, Hye Hee mengembuskan napasnya lemah. “Apa yang harus aku lakukan?’ Gumamnya, bingung. Selama ini begitu larut dalam masalahnya, hingga tidak menyadari apa yang sudah terjadi dengan hidupnya sendiri. “Hubungi produser itu, dan katakan padanya aku menerima tawarannya.”
Sungmin menggeleng enggan. “Dia sudah tidak mau lagi menerimamu, kau seharusnya melihat bagaimana marahnya dia karena kau tidak mengacuhkannya pagi ini.”
Hye Hee menjambak rambut depannya, memikirkan kebodohan yang  sudah ia lakukan pagi ini. Seandainya saja ia mengikuti kata hatinya, mungkin pagi ini ia sudah menandatangani kontrak yang akan membantunya, tapi ternyata ia lebih mengikuti kemauan setan di dalam dirinya.
“Kau tidak bisa menemukan satu pekerjaan untukku?” Hye Hee menyentuh lengan Sungmin, “Aku mohon temukan sebuah pekerjaan untukku, apa saja aku mau. Berperan sebagai orang gila sekalipun aku mau.” Hye Hee memohon.
“Tidak ada pekerjaan yang bisa kuberikan padamu saat ini. Satu-satunya kesempatan yang kau punya, kau buang begitu saja.”
Tangan Hye Hee terlepas dengan lemas dari lengan Sungmin. Tidak ada pekerjaan untuknya, lalu bagaimana ia akan membayar seluruh tagihannya. “Tidak satupun?” ulangnya memastikan.
Sungmin menjawab dengan gelengan simpati. Namun gerakan kepalanya berhenti mendadak, saat ia mengingat sesuatu. “Aku masih ada sebuah penawaran untukmu.” Gumamnya bersemangat.
Melihat semangat Sungmin yang mendadak, Hye Hee juga merasakan semangat itu pada dirinya.
Sungmin bangkit dari duduknya mencari sesuatu di atas meja kerjanya, dan ia menemukan map transparan itu di bagian teratas laci mejanya. Sungmin membawa map itu ke hadapan Hye Hee. “Ini satu-satunya hal yang bisa menyelamatkanmu sekarang.”
Hye Hee menarik map pemberian Sungmin dengan semangat penuh, membuka map itu dan membacanya. “Apa maksudnya ini.” Gumamnya masih membaca baris kalimat yang belum selesai ia baca. “Menikah?” Tanyanya sambil mendongakkan wajahnya menatap Sungmin.
“Ya.” Anggukan kepala Sungmin, memperjelas jawaban Singkatnya.
Dan Hye Hee menatap pria itu dengan tatapan kosong, tangannya yang memegang map itu, turun tanpa sadar ke atas meja.
***
“Kenapa mendadak kau ingin menikah?” Jae Hyun bertanya, tatapannya tertumbuk fokus pada Kyuhyun yang duduk di sofa seberangnya. “Dan parahnya, kau menyuruhku mencarikan calon pengantinmu. Kenapa tidak kau saja yang mencarinya?”
“Di usiaku yang sekarang, apa salah kalau aku ingin menikah?” Kyuhyun balik bertanya jail, “Aku tidak sepertimu hyung, yang tidak ingin menikah.”
“Aku bukan tidak ingin menikah, tapi tidak dalam waktu dekat ini, kebebasanku sangat mahal, jika harus di tukar dengan pernikahan.” Jae Hyun menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa yang lembut.  “Aku serius, kenapa tiba-tiba ingin menikah?”
“Kau tidak membaca artikel yang beredar saat ini, aku tidak tahu dari mana semua gosip ini berawal, tapi salah satu majalah memuat berita yang tidak benar tentangku, hyung.”
“Berita tentangmu?” Jae Hyun mengeryit dalam. “Tidak ada berita apapun tentangmu sejak tiga tahun yang lalu, ketika kau batal  menikah…. kembali.” Jae Hyun menekankan kata terakhirnya.
“Ternyata berita itu tidak berhenti di masyarakat hyung, pemburu berita selalu bertanya-tanya kenapa aku selalu gagal menikah, dan akhirnya…”
“Mereka mengatakan bahwa kau pria arogan yang ringan tangan, sehingga tidak ada satu orang pun gadis yang ingin menjadi istrimu?” Sambung Jae Hyun menyelesaikan ucapan Kyuhyun.
“Bahkan ada yang mengatakan kalau aku ini seorang gay,” Kyuhyun mengangguk menganggukkan kepalnya tanpa minat, “Aku lelah, selalu di bayangi dengan berita itu, kau tahu sendiri aku bukan pria seperti itu.”
“Kau memang bukan pria ringan tangan dan arogan, apalagi gay” Kata Jaehyun pelan, lalu melanjutkan. “Tapi kau pria penggila kerja, yang terlalu mengesampingkan segala hal. Jin Yi wanita terakhir yang sangat sabar menghadapimu, tapi pada akhirnya, ia menyerah ketika pernikahan kalian sudah di depan mata.”
Kyuhyun merenungkan ucapan Jae Hyun. Ia memang begitu mencintai pekerjaannya, ia selalu menggunakan semua waktunya untuk bekerja, dua puluh jam yang ia punya dalam sehari tidak pernah cukup, dan tujuh hari dalam seminggu selalu ia gunakan untuk bekerja. Yang ada di dalam kepalanya hanya kerja, uang, saham, keuntungan, kerugian dan segala hal yang berhubungan dengan bisnis.
“Kalau kau terus begini, tidak akan ada wanita yang tahan denganmu.” Gumam Jae Hyun dalam keheningan mereka.
“Itu sebabnya aku memintamu mencarikan istri untukku. Aku tidak butuh istri yang penurut, yang selalu menungguku di rumah atau memberikan perhatian berlebih padaku. Aku hanya butuh…”
“Istri yang akan kau tunjukkan ke hadapan media, bahwa Cho Kyuhyun, akhirnya menikah. Begitu, kan?”
“Ya, seperti itu.” Sahut Kyuhyun dengan petikan jari setuju.
Jae Hyun mengembuskan napasnya, mengangguk paham dengan situasi adik sepupunya. “Aku sudah memberikan penawaran pada Sungmin hyung.”
“Sungmin hyung?”
“Eoh.” Jae Hyun mengangguk. “Kau ingatkan, salah satu manager terbaik di gedung ini.”
Jae Hyun kembali berbicara begitu Kyuhyun mengangguk, “Dua hari yang lalu aku tidak sengaja bertemu dengannya, dan kami berbicara sejenak. Sungmin hyung sedang pusing menghadapi salah satu artisnya.”
“Tidak biasanya dia seperti itu. Sungmin hyung selalu bisa mengendalikan artis asuhannya sebaik mungkin.” Kyuhyun bergumam mengingat. Ia begitu mengakui pekerjaan seorang Lee Sungmin, pria itu sangat bertanggung jawab dengan semua artisnya.
“Gadis ini baru saja kembali dari London enam bulan yang lalu. Sebelumnya ia model terkenal di London. Tidak ada yang tahu, apa yang membuatnya mundur dari dunia model London, dan kembali ke Korea.”
Jae Hyun mengambil sesuatu dari saku jas bagian dalamnya. “Namanya Shin Hye Hee.” Jae Hyun menunjukkan foto yang di pegangnya pada Kyuhyun. “Saat ini gadis itu tidak mau menerima pekerjaan apapun, padahal banyak sekali rumah produksi yang ingin bekerja sama dengannya.”
Kyuhyun mengutip foto itu dari atas meja, mengamati wajah menawan wanita bernama Shin Hye Hee itu. “Cantik.” Gumamnya.
“Karena dia tidak pernah mau menerima pekerjaan apapun, Sungmin hyung gusar, saat ini gadis itu memiliki utang yang sangat banyak.” Jaehyun melonggarkan dasinya, dan melirik jam tangannya. “Kukatakan pada Sungmin hyung, kalau kau bersedia membayar semua utangnya, asal dia bersedia menjadi istrimu, dalam batas waktu yang tidak di tentukan.” Jae Hyun melirik Kyuhyun dari balik kelopak matanya, dan  menyeringai.
Kyuhyun membalas lirikan licik kakak sepupunya dan ikut menyeringai.
***
“Aku tidak mau.” Hye Hee membantingkan map yang sudah terletak di atas meja. “Ini bukan menyeselaikan masalah, tapi menambah masalah baru.”
“Hanya ini yang bisa membantumu. Kau sendiri yang sudah membuang semua kesempatanmu untuk mendapatkan uang.” Sungmin berkeras memaksa Hye Hee setuju dengan usulannya. “Jae Hyun berjanji akan membayar semua utang-utangmu, bahkan akan melunasi pembayaran apartemen dan mobilmu, jika kau bersedia menikah dengan adik sepupunya.”
“Tapi aku tidak mau menikah!” Kata Hye Hee sedikit membentak. “Bagaimana mungkin aku menikah secara mendadak, dan parahnya aku tidak mengenal pria yang akan kunikahi!”
“Kyuhyun CEO perusahaan ini dan kau tidak perlu mengenalnya secara pribadi. Kyuhyun hanya butuh seorang istri sebagai pembuktian pada media Korea, bahwa ia bisa menikah, dan membuktikan bahwa semua tudahan pers tentangnya selama ini adalah salah.”
Kerutan di dahi Hye Hee membanyak, menganalisa maksud ucapan Sungmin.
Menyadari pertanyaan yang tidak terlontar dari wajah Hye Hee, Sungmin menambahkan. “Kyuhyun sudah tiga kali gagal menikah,” Katanya dengan embusan napas, “dan karena itu pers selalu beranggapan kalau ia adalah pria arogan yang ringan tangan, sehingga tidak ada seorang wanita pun yang sanggup hidup sebagai istrinya.”
Hye Hee tertawa mendengus, “Jadi sekarang kau melemparkanku pada pria ringan tangan, yang memiliki kekayaan berlimpah, begitu?”
“Kyuhyun bukan pria seperti itu, demi tuhan aku berani bersumpah.” Kata Sungmin meyakinkan.
“Lantas kenapa dia selalu gagal, kalau bukan karena kebiasaan buruknya itu?” Hye Hee bertanya mengintimidasi.
“Kyuhyun memiliki kebiasan buruk yang lain. Dia begitu menggilai pekerjaannya, tidak pernah sekalipun dalam pikirannya memikirkan hal selain pekerjaan.” Sungmin menatap Hye Hee  pasrah, ia sudah memberikan jalan keluar untuk masalah wanita itu, dan menyerahkan keputusannya pada wanita itu. “Wanita normal tidak akan suka memiliki suami yang hanya peduli dengan pekerjaan, dan melupakan keluarga. Itu sebabnya semua calon istri Kyuhyun meninggalkannya.”
Gerakan dada Hye Hee meringan, diikuti oleh emosinya yang mulai mereda, mendengar penjelasan lain dari Sungmin.
“Kau bukan wanita yang mengharapkan keluarga, dan Kyuhyun juga begitu. Kalian berdua bisa saling memanfaatkan. Kyuhyun memanfaatkanmu sebagai istrinya, dan kau bisa memanfaatkan Kyuhyun untuk menutupi seluruh utangmu.”
Sungmin memandang perubahan wajah Hye Hee, bangkit dari sofa, mengambil kembali map transparan yang menjadi perdebatannya dengan Hye Hee. “Terima saja, aku yakin ini akan berhasil.”
Hye Hee melirik map di tangan Sungmin, dan mengambilnya ragu. “Aku… harus memikirkannya.”
“Tidak ada waktu untuk memikirkannya, ini kesempatan emas.” Sungmin menekankan
“Meskipun begitu, aku tetap harus memikirkannya.” Hye Hee memejamkan matanya dan bernapas pelan. “Beri aku waktu satu bulan untuk memikirkannya.”
“Satu bulan?” Kedua mata Sungmin membulat histeris, dan ia menggeleng. “Kalau kau berpikir selama itu, maka kesempatan emas itu akan di lemparkan pada orang lain.”
“Dua mingggu.” Hye Hee menawar.
Sungmin tetap menggeleng, “Kau hanya punya waktu sampai jam makan siang selesai.”
“Astaga, secepat itu?” Hye Hee refleks menarik lengan Sungmin yang mengenakan jam tangan, karena ia tidak mengenakan jam tangan. “Hanya dua jam?”
Sungmin mengangguk.
Hye Hee menggeleng gugup. “Ini tidak bisa.” Katanya panik. “Ini permainan seumur hidup dan kau memberikan aku waktu dua jam untuk memutuskannya?”
“Seharusnya kau punya waktu lebih lama, andai kau datang lebih cepat.” Sahut Sungmin tidak peduli.
Baru saja Hye Hee akan mendebat Sungmin, seseorang  masuk dengan tergesa ke dalam ruangan mereka.
“Hye Hee-ssi beberapa petugas sedang berusaha menaikkan mobilmu ke atas mobil pengangkut.”
“Mwo!?” Hye Hee dan Sungmin menyahut bersamaan.
“Petugas itu bilang, mereka terpaksa menarik mobilmu, karena kau tidak membayar……”
Mengabaikan pria yang masih berbicara memberikan informasi itu, Sungmin dan Hye Hee berlari menerobos pria yang berdiri di depan pintu.
***
Mobil sedan metalic itu dengan terpaksa harus berpindah tempat ke atas mobil pengangkut, dan sang pemilik hanya bisa menatapnya pasrah.
“Silakan tandan tangan disini.” Pria yang menjadi petugas penarikan mobil itu, menyerahkan kertas yang harus di bubuhi tandan tangan persetujuan.
Hye Hee menatap lemas kertas yang di serahkan padanya, dan menggoreskan tanda tangannya.
“Anda bisa mengambil kembali mobilnya, ketika anda sudah melunasi cicilan yang tertunda.”
Petugas itu membungkuk sebelum meninggalkan Hye Hee yang masih belum rela melepaskan  mobilnya di tarik dengan mobil pengangkut.
“Hari ini mobil, apa kau tahu apa yang akan terjadi besok?”
Hye Hee memutar wajahnya ke kanan, tempat Sungmin tertawa mengejek padanya.
“Bisa saja besok kau di usir dari apartemenmu. Ingat waktumu dua jam untuk memutuskan masa depanmu.” Sungmin mengingatkan kembali tawaran pernikahan itu.
Memandang landscap yang ada di hadapannya, Hye Hee memutar semua masalahnya di dalam kepala. Pekerjaan yang di berikan Sungmin sangat mengggiurkan, menikahi pria kaya yang notabene CEO perusahaan entertainment tempatnya bekerja, dengan janji menggiurkan pria itu yang akan membayar semua utangnya dan juga melunasi pembayaran mobil dan apartemennya. Ia juga tidak akan kekurangan materi jika menjadi istri pria kaya raya itu.
Tapi tidak semudah itu ia langsung setuju, setidaknya pria yang akan menjadi suaminya harus tahu kondisinya saat ini. Hye Hee mengggeleng, tidak, ia tidak mungkin mengatakan hal itu. kalau sampai ia mengatakan hal yang selama ini membuat ia menarik diri dari dunia hiburan, maka iming-iming indah itu juga akan lenyap dari genggamannya. Namun menutupinya juga tidak adil untuk pria itu.
Kedua telapak tangannya mengerat, ia harus punya keputusan, ia harus memastikan masa depannya, setidaknya sampai kondisi keuangannya kembali normal.
“Aku menerimanya.” Hye Hee melepaskan kata itu dengan berat dari tenggorokannya.
Terperanjat kaget dan senang, Lee Sungmin melompat berdiri di depan Hey Hee, “Apa aku tidak salah dengar?”
Hye Hee menatap wajah sumringah manajernya, dan mengangguk samar. “Ya, aku akan menerimanya.” Ia sudah memutuskannya, menerima tawaran itu, dan menutupi keadannya saat ini, nanti begitu kondisi keuanganya sudah membaik, barulah ia akan mengatakannya pada pria itu, kalaupun akhirnya pria itu akan menceraikannya karena masalah itu, ia akan menerimanya.
“Kalau begitu kita temui mereka sekarang.” Ajak Sungmin bergembira. Pria itu terus tersenyum manis. “Tapi sebelumnya, kita harus memperbaiki penampilanmu dulu.” Sungmin menurunkan pandangannya di seluruh tubuh Hye Hee. “Kau tidak terlihat seperti seorang model.”
Hye Hee menurunkan pandangan pada dirinya sendiri, ia baru menyadari dengan semua yang ia kenakan. Celana jeans longgar, tanktop dan kemeja kusut, dan parahnya ia hanya mengenakan sandal jepit kamarnya.
“Ini karena kau menyuruhku bergegas.” Rutuk Hye Hee.
“Sudah tidak ada waktu, kau harus mandi dan berpakain yang layak.” Sungmin menarik tubuhnya masuk kembali ke dalam gedung kantor.
***
Meremas-meremas tangannya karena resah, Hye Hee tidak berhenti mendesah. Tangannya dingin, ia masih belum sepenuhnya yakin dengan  keputusan ini, tapi ia juga sudah menyetujuinya.
“Tenangkan dirimu,” Sungmin berbalik menatapnya, mereka sudah berhenti di depan pintu berpanel mewah. “Kau sudah mengambil keputusan yang tepat.”
Rangkulan tangan Sungmin, sedikit mengurangi gugup Hye Hee. Sungmin membuka pintu di hadapan, yang sebelumnya di ketuk oleh pria itu.
“Hyung, aku kira kau tidak akan datang.”
Suara seorang pria menyambut mereka, Hye Hee tidak berani mengangkat wajahnya untuk melihat.
“Tidak mungkin aku ingkar janji, Jae Hyun-ah.” Tersenyum sumringah, Sungmin melepaskan rangkulan tangannya dari Hye Hee, dan menjabat tangan Jae Hyun.
“Lama tidak bertemu hyung.”
“Cho Kyuhyun.” Sungmin meninggalkan Hye Hee, untuk memeluk Kyuhyun. “Bagaimana kabarmu? Kau semakin tampan saja.”
Kyuhyun tertawa kecil, “Aku baik hyung.”
“Aku senang kau kembali.” Ucap Sungmin tulus.
“Aku juga senang bisa kembali hyung. Dan sangat bahagia karena kau membawa wanita cantik kemari untuk menyambutku.” Kyuhyun menatap Hye Hee yang masih saja menundukkan wajahnya.
Paham dengan ucapan Kyuhyun, Sungmin mendekat kembali pada Hye Hee. “Hye Hee-ya, kenalkan ini Jae Hyun dan Kyuhyun.”
Dengan gerakan pelan Hye Hee mengangkat kepalanya. Di hadapannya berdiri dua orang pria tampan. Keduanya sama-sama memiliki kulit yang sangat putih.
“Ahn Jae Hyun.”
Pria pertama mengulurkan tangannya pada Hye Hee. Pria ini tampan, wajahnya oval, dengan ujung dagu yang meruncing, bibir lebar sensasional, hidung kecil lurus, dan sudut-sudut rahangnya terlihat sangat jelas.
“Shin Hye Hee.” Hye Hee membalas uluran tangan Jae Hyun, dan memberikan senyum perkenalan pada pria ini.
“Dan ini….”
“Aku Cho Kyuhyun.” Tidak memerlukan Sungmin mengenalkan dirinya, Kyuhyun mengambil tempat persis di depan wajah Hye Hee, tangan kanannya terulur ingin menjabat.
Hye Hee tidak bisa mendeskripsikan pria yang satu ini. Wajahnya tampan seperti Jae Hyun. Mereka memiliki bentuk wajah yang sama, oval dengan ragu runcing yang indah. Namun ada beberapa hal yang membuat Kyuhyun berbeda, hidung Kyuhyun sedikit lebih besar dari milik Jae Hyun, namun sangat indah, mata pria itu berwarna cokelat tua hangat. Bibir pria itu penuh mengisi bagian bawah wajahnya.
Menelan ludahnya karena gugup, Hye Hee membalas uluran tangan Kyuhyun. “Shin… Hye Hee.” Kemudian menundukkan kembali wajahnya. Ia tidak tahan melihat wajah rupawan itu begitu dekat di wajahnya.
Merasakan tangan lembut wanita itu di tangannya, Kyuhyun meremasnya. Matanya masih menatap wanita itu lekat. Gaun lace putih berlengan panjang, menutupi seluruh lengan kurus wanita itu, dan panjang gaun itu hanya sebatas bagian atas lutut wanita itu, sederhana namun tidak mampu menutupi keindahan yang tidak sederhana pada wanita itu.
Ketika Hye Hee mengangkat kembali wajahnya, Kyuhyun menyipitkan matanya menatap Hye Hee, dan menyadari bahwa wajah itu adalah wajah wanita yang berhasil membuatnya tersenyum pagi ini.
“Senang berkenalan denganmu, Hye Hee-ssi.” Kata Kyuhyun tersenyum manis penuh rahasia.
“Bagaimana kalau kita duduk, akan lebih nyaman jika kita berbicara sambil menikmati minuman dingin mungkin.” Jae Hyun memecah keheningan yang tercipta karena tatapan Hye Hee dan Kyuhyun.
Kyuhyun tersadar dan melepaskan remasan tangannya pada Hye Hee. Jantungnya berdesir, sesuatu terjadi pada jantungya, ketika mata cokelat Hye Hee menatapnya. Rasa ingin memiliki gadis itu begitu kuat ia rasakan saat tangannya meremas telapak tangan lembut itu.
“Kau ingin minum sesuatu Hye Hee-ssi?” Jae Hyun menawarkan, sambil mengajak Hye Hee untuk duduk di sofa.
“Tidak perlu,” Tolak Hye Hee. “Dan tolong, jangan bersikap formal kepadaku, aku…”
“Ah.. baiklah…” Jae Hyun mengambil posisi duduknya di sofa tunggal, Kyuhyun di sofa sebelah kanannya, sedangkan Hye Hee duduk di samping Sungmin.
“Aku rasa kita tidak perlu berbasa-basi, semuanya tentu sudah mengetahui dengan jelas apa maksud dari pertemuan kita saat ini.” Jae Hyun  memulai pembicaraan mereka. Ia menatap satu persatu orang yang duduk di hadapannya.
“Hye Hee-ssi, ah maksudku Hye  Hee, kau sudah membaca kertas yang ada di dalam map itu kan?” Jae Hyun bertanya pada Hye Hee.
Hye Hee mengangguk, “Nde, aku sudah membacanya.”
“Bagus, jadi aku tidak perlu menjelaskannya dari awal.” Sahut Jae Hyun puas. “Ada yang ingin kau sampaikan Kyu, sebelum aku menjelaskan langkah selanjutnya, pada calon pengantinmu?” Jae Hyun  mengerling nakal pada Kyuhyun.
Kalau hanya mereka berdua di ruangan itu, mungkin Kyuhyun sudah tersenyum lebar mendapatkan godaan dari sepupunya itu, namun saat ini mereka berada di pertemuan serius. “Tidak.” Jawabnya disertai gelengan kepala. “Lanjutkan saja, aku hanya akan menambahkan jika perlu.”
Semua mata mengarah pada map transparan yang sama seperti yang Hye Hee  baca saat di ruangan Sungmin tadi, namun saat ini map itu terlihat lebih tebal.
Tangan cekatan Jae Hyun mengeluarkan kertas-kertas dari dalam map, memilahnya kemudian membaca salah satu yang di carinya.
“Ini kertas yang tadi kau baca, kan?” Jae Hyun menunjukkannya pada Hye Hee, dan wanita itu mengangguk. “Disini tertulis kalau kau setuju menikah dengan Kyuhyun, kalian akan menikah secepatnya dan Kyuhyun akan memenuhi apapun yang menjadi tanggunganmu, termasuk utangmu.”
Hye Hee seperti kehilangan seluruh mukanya ketika Jae Hyun menyebutkan soal utangnya, namun kebenaran tidak akan bisa ia sembunyikan. Dan ia sudah tidak punya apapun lagi untuk menyelamatnya wajahnya.
Jae Hyun meletakkan kertas yang di pegangnya, membongkar lagi kertas di dalam map. “Ini surat pernikahan yang dibawa Kyuhyun dari kantor catatan pernikahan New York,” Jae Hyun meletakkan kertas berlabel bendera Amerika serikat itu di atas meja, hingga semua orang bisa melihatnya dengan jelas.
“Kertas ini sudah sah, ketika kalian menandatangani surat nikah ini, maka status kalian sah menjadi suami istri, dengan aku dan Sungmin yang menjadi saksinya.”
“Ba…bagaimana bisa?” Tanya Hye Hee gagap.
“Kyuhyun sudah mendaftarkan pernikahan kalian di Amerika,” Jae Hyun tersenyum bangga pada kemampuan negosiasi sepupunya yang mampu melakukan apapun. “Sebenarnya tidak benar-benar mendaftarkan, karena disini nama kedua mempelainya masih kosong.” Jae Hyun menunjuk bagian kosong pada nama kedua mempelai.
“Tapi keabsahan kertas ini tidak perlu di pertanyakan, begitu kalian menandatanganinya, maka aku akan segera mengirim kertas ini kembali ke Amerika, untuk diperbarui kembali.”
Jae Hyun mengambil kertas yang lainnya lagi, kertas kali ini tercetak dengan huruf hangul, dan juga bendera Korea Selatan terletak di kedua sudutnya.
“Dan ini surat pernikahan negara kita, Korea Selatan.” Ucap Jae Hyun lambat. “Aku baru saja mengambil surat ini dari kantor catatan pernikahan.”
Hye Hee tidak mengerti kemana sebenarnya arah pembicaraan mereka saat ini. Di hadapannya saat ini ada dua surat pernikahan, yang berasal dari negara berbeda.
“Aku tidak mengerti, kenapa harus ada dua surat pernikahan?” akhirnya ia menyuarakan kebingungannya.
Jae Hyun tersenyum maklum, “Surat ini dibuat delapan bulan yang lalu,” Ia mengangkat surat pernikahan yang berasal dari Amerika, “Jadi berdasarkan surat ini, kalian sudah menikah sejak delapan bulan yang lalu.”
“Dan ini.” Jae Hyun menunjuk surat pernikahan yang yang berasal dari Korea, “Di surat ini, kalian baru saja mendaftarkan kembali pernikahan kalian di  Korea, hari ini.”
“Jadi aku harus menandatangani kedua surat ini?” Tanya Hye Hee, menunjuk kedua surat yang di hadapankan padanya.
“Yap benar sekali.” Sahut Jae Hyun dengan jentikan jarinya. “Ini bertujuan mencegah timbulnya skandal baru. Mungkin beberapa saat yang lalu beberapa wartawan pernah melihatmu  berada disini, dan juga hal ini untuk membantu membersihkan nama adikku.”
Hye Hee menarik wajahnya dari kedua surat pernikahan itu, menatap Kyuhyun yang duduk di seberangnya.
“Sungmin hyung tentu sudah mengatakan padamu gosip yang selalu membayangi Kyuhyun. Dengan pengakuan kalian yang sudah menikah selama delapan bulan, para wartawan akan segera merubah pikiran mereka tentang adikku.”
“Lalu bagaimana caranya mengatakan pada wartawan?” Sungmin membuka suara.
“Kita akan melakukan konferensi pers, tentang kepulangan Kyuhyun beserta istrinya. Dan disana, Kyuhyun dan Hye Hee akan menjelaskan semua rencana kita ini.” Jae Hyun mengulum senyum masygul, merasa semua rencananya akan berjalan sempurna.
“Jadi yang perlu kalian lakukan saat ini adalah menandatangani surat pernikahan ini.”
Mengambil bolpoin yang sudah tersedia, Jae Hyun menuliskan nama Hye Hee dan Kyuhyun di kolom yang masih kosong di kedua surat pernikahan itu, lalu menuliskan namanya sendiri dan nama Sungmin di kolom saksi.
Jae Hyun meluruskan surat itu kehadapan Kyuhyun terlebih dahulu, “Tandatangani.” Suruhnya.
Tanpa menunggu lama, Kyuhyun langsung menandantangani kedua surat pernikahannya.
Jae Hyun menyerahkan surat yang telah ada tanda tangan Kyuhyun pada Hye Hee, “Sekarang giliranmu.”
Hye Hee menggenggam bolpoin di tangannya kuat. Tangannya berkeringat dan dingin. Ia masih belum yakin dengan keputusan gilanya ini. Namun pada akhirnya, ia menandatangani surat itu. dan setelah itu Jae Hyun dan Sungmin bergantian membubuhkan tanda tangan mereka.
“Berdasarkan kedua surat ini, kalian sudah sah sebagai suami istri.” Jae Hyun mengangkat kedua surat pernikahan itu dan menunjukkannya pada Kyuhyun, Hye Hee dan Sungmin. “Jadi bergaullah layaknya suami istri,” Kata Jae Hyun menambahkan jail.
“Tunggu, aku tidak melihat adanya surat kontrak dari tadi.” Protes Hye Hee.
Jae Hyun dan Kyuhyun menatap ia bersamaan.
“Maksudku surat kontrak pernikahan, seperti tidak adanya sentuhan atau sebagainya.”
“Tidak akan ada surat kontrak, Hye Hee-ssi.” Kyuhyuh menyahut, matanya menatap serius. “Kita akan menjalani kehidupan rumah tangga seperti seharusnya suami istri.” Kata Kyuhyun dengan jelas dan tidak terbantahkan.
***
Hari itu juga konferensi pers dilakukan di hall JH entertainment. Di dampingi Kyuhyun, Jae Hyun dan Sungmin, Hye Hee masuk ke dalam hall tempat konferensi berlangsung. Ia masih tetap menggunakan gaun putihnya, Kyuhyun juga tetap dengan jas abu-abunya.
Semuanya terasa begitu cepat. Hye Hee merasa dunianya berputar dengan kecepatan yang sangat luar biasa hari ini. Kehilangan peran dalam drama barunya, penarikan mobilnya secara paksa dan yang terakhir ia menikah dengan pria kaya raya.
Kepalanya pusing memikirkan hal-hal yang terjadi diluar pemikirannya. Dan ia merasa semakin pusing begitu pintu hall terbuka. Suara dan kilatan lampu kamera langsung memenuhi seluruh ruangan, mengambil sepasang objek yang menjadi berita utama sore ini.
Ruangan itu di penuhi kursi dan meja, dan sebuah podium yang juga diisi oleh meja dan kursi. Seorang pengawal menuntun mereka ke meja yang ada di atas podium, sementara para wartawan berada di meja yang ada di bawah podium.
Begitu di umumkan tentang kepulangan Kyuhyun, seluruh pemburu berita di Korea berlomba-lomba datang untuk menyambut pria itu, di tambah lagi dengan gosip pernikahannya yang tidak pernah terendus siapapun.
Acara konferensi pers itu di buka oleh seorang wanita perwakilan dari JH entertainment, setelah memberikan beberapa sambutan dan peraturan apa saja yang bisa di lakukan para wartawan, wanita itu mempersilakan Kyuhyun dan Hye Hee untuk memberikan keterangan.
“Selamat sore semuanya, lama tidak berjumpa.” Kyuhyun memulai pidatonya.”Aku harap sore ini kalian semua sedang bahagia, seperti aku yang sangat bahagia karena bisa pulang kemari dan mengenalkan istriku kepada kalian semua.”
Ucapan Kyuhyun mengundang gelak tawa para wartawan, begitu juga dengan dirinya sendiri. Kyuhyun melirik wanita di sampingnya, Hye Hee menarik paksa bibirnya tersenyum.
“Maaf karena tidak pernah mengatakan pada kalian tentang pernikahanku, dan tiba-tiba saja aku kembali dengan istriku.” Kyuhyun merangkul bahu Hye Hee, membuat gadis itu terpaksa semakin menarik bibirnya untuk tersenyum lebih lebar pada media. “Sebagai permintaan maafku, kalian bisa bertanya apapun padaku, tapi tidak dengan malam pertamaku bersama istriku.”
Wartawan di ruangan itu kembali tertawa karena guyonan Kyuhyun. Bukan hanya wartawan yang tertawa, Jae Hyun dan Sungmin juga tertawa.
Seorang wartawan kurus berkacamata mengangkat tangannya, dan berdiri di depan mejanya. “Kyuhyun-ssi, boleh aku tahu kapan kalian menikah?”
“Siapa lagi yang ingin bertanya? Aku akan menjawab semua pertanyaan kalian secara sekaligus, jadi kalau ada yang ingin bertanya, kalian bisa menanyakannya.” Kyuhyun menantang seluruh wartawan di depannya.
Seperti melemparkan gula ke sarang semut, seluruh wartawan itu berlomba-lomba melayangkan pertanyaannya.
“Dimana kalian menikah?”
“Kenapa kalian tidak mengatakan pada media tentang pernikahan kalian. Dan kenapa kalian tidak melakukan pesta yang besar untuk pernikahan?”
“Aku dengar istrimu seorang model internasional, dimana kalian saling bertemu, dan apa kau tidak keberatan dengan pekerjaan istrimu?”
“Dari informasi yang kudapat, istrimu sempat akan terlibat dengan beberapa rumah produksi di Korea untuk sebuah drama, apakah selama ini istrimu berada di Korea?”
“Apa kalian menikah karena saling mencintai, atau hanya sebuah bisnis pernikahan saja?”
Hye Hee meringis mendengar banyaknya pertanyaan yang terlontar, diliriknya Kyuhyun, pria itu tampak sangat tenang, dan terus tersenyum kepada para wartawan yang bertanya, tidak ada kerutan resah di wajah pria itu.
Seluruh wartawan sudah selesai memberikan pertanyaan, dan kini giliran Kyuhyun yang memberikan jawaban.
“Seperti yang aku katakan tadi, aku akan menjawab semua pertanyaan kalian secara bersamaan.” Kyuhyun menoleh pada Hye Hee, lalu melirik ke bawah, dimana tangan Hye Hee kaku di atas meja.
Kyuhyun meremas tangan Hye Hee, berusaha menampakkannya pada wartawan. “Ini istriku, namanya Shin Hye Hee, beberapa dari kalian mungkin sudah mengenalnya. Ya, istriku memang seorang model, dia seorang model di London, namun sejak enam bulan yang lalu istriku berhenti dari dunia model London.”
Hening sejenak, Kyuhyun menarik napasnya lalu melanjutkan. “Kami bertemu satu tahun yang lalu, saat aku menghabiskan malam tahun baruku di London. Aku tertarik dengannya, dan kalian pasti tahu apa yang bisa dilakukan pria kaya dan tampan sepertiku.”
Wartawan tertawa, Kyuhyun kembali berguyon untuk mencairkan suasana.
“Aku mendekatinya yang saat itu sedang duduk di salah satu kafe bersama teman-temannya. Dan tanpa malu aku langsung meminta kontaknya, agar aku bisa menghubunginya. Dan sepertinya istriku juga sudah terpesona padaku, makanya dia memberikan aku nomor kontaknya begitu saja.” Lanjut Kyuhyun setelah tawa terhenti, dan ruangan kembali hening mendengarkan penuturannya.
“Sejak saat itu kami menjadi dekat, dan berpacaran, tapi setelah empat bulan bersama, aku merasa tidak aman membiarkan gadis cantik seperti dia tanpa pengikat, maka aku memutuskan melamarnya, dan ia menerima lamaranku. Akhirnya kami menikah. Sampai hari ini pernikahan kami sudah berjalan delapan bulan.”
Senyuman bahagia terlihat begitu alami di wajah Kyuhyun, seolah-olah semua ucapan yang di katakannya memang benar terjadi. Sementara Kyuhyun tenang, Hye Hee merasa jantungnya melompat-lompat di dalam rongga paru-parunya, bagaimana bisa pria ini mengarang cerita yang begitu apik, batinnya.
“Satu bulan setelah menikah istriku berhenti dari pekerjaannya sebagai model di London, dan ikut denganku di New York, namun karena terbiasa berada di depan kamera dia tidak tahan terus berada di rumah, dan hanya menanti suami tampannya ini pulang. Istriku tertarik dengan industri hiburan Korea, jadi dia mencoba untuk ambil bagian di dunia hiburan Korea, karena aku belum bisa meninggalkan New York, istriku terpaksa harus melakukan perjalanan pulang pergi Korea, New York. Dan aku beruntung tidak ada peran yang menarik minat istriku selama ini, hingga ia tidak perlu berlama-lama meninggalkanku.”
“Mulai hari ini aku akan kembali menetap di Korea, mengambil alih kembali perusahaanku, dan tentu saja bersama istriku. Kami kembali mendaftarkan pernikahan kami di Korea. Karena aku dan istriku orang Korea, kami juga ingin pernikahan kami tercatat di Korea. Dan masalah pesta pernikahan, kami memang tidak pernah melaksanakannya secara besar-besaran. Satu-satunya pesta yang kami lakukan hanya makan malam bersama beberapa sanak saudara. Tapi kami berencana akan  melaksanakan pesta yang meriah, mungkin dalam waktu dekat ini, kalau istriku memintanya, aku akan membuatkan pesta yang sangat indah untuknya.”
Jae Hyun berdiri dan menepuk tangannya untuk meramaikan kembali ruangan yang masih senyap, dan karena hal itu seluruh orang termasuk Kyuhyun dan Hye Hee berdiri dan bertepuk tangan.
Suara jepretan kamera kembali terdengar, karena fotograper kembali bekerja mengabadikan momen.
“Kyuhyun-ssi, bisa tunjukkan pada kami satu saja pose romantis kalian?” pinta seorang wartawan.
“Tentu saja.” Jawab Kyuhyun cepat. Ia menarik bahu Hye Hee, mengarahkan wanita itu ke hadapannya, dan mencium wanita itu dengan keintiman di depan seluruh awak media.
“Huuuuu….”
Teriakan kagum dan kaget langsung terdengar, dan para fotograper bergegas mengabadikan  momen itu dari jarak yang sangat dekat.
Hye Hee membelalakkan matanya, rasa lembut dan hangat yang tiba-tiba saja dirasakan di bibirnya begitu mengejutkan. Tanpa aba-aba, tanpa peringatan, pria itu melumat bibirnya. Hye Hee meremas kedua tangannya, mengurangi gugup. Intensnya lumatan di bibirrnya, membuat seluruh saraf di tubuhnya menegang.
Kedua tangan Kyuhyun menangkup wajahnya, memiringkan wajahnya, hingga ciuman mereka terlihat lebih jelas pada wartawan. Mau tidak mau Hye Hee memejamkan matanya, merilekskan tubuhnya, menerima ciuman Kyuhyun, agar semuanya terlihat alami dimata pers.
Ciuman mereka terlepas, Hye Hee dan Kyuhyun sama-sama terengah. Kyuhyun begitu menikmati ciumannya pada wanita itu, sesuatu yang tidak sangka ia rasakan.
“Aku rasa ciuman tadi sudah lebih dari cukup momen kemesraan kami yang bisa kalian abadikan. Dan maaf kalau ciuman itu terlalu lama, aku tidak pernah bisa menahan diriku, jika sudah mencium istriku.” Kyuhyun tertawa begitu juga semua yang mendengarkan ocehannya.
Kyuhyun menggenggam tangan Hye Hee, wanita itu masih belum sadar dari syoknya. “Konferensi pers ini aku tutup, sampai bertemu di lain kesempatan.” Kyuhyun membungkuk, dan Hye Hee mengikut karena tangan mereka yang saling terkait. Kemudian Kyuhyun membawa wanita itu keluar dari hall tersebut.
***
Pasangan baru itu sampai di halaman rumah bergaya klasik modern, milik Kyuhyun. Hye Hee menatap kagum bangunan mewah di depannya. Rumah itu berwarna bata yang terang, seluruh dindingnya di cat mengkilap, jendela-jendela besar terdapat di setiap sisi dinding bangunan.
Begitu mereka turun dari mobil, Hye Hee tidak bisa mengetahui berapa banyaknya pelayan yang menyambut mereka, semuanya menundukkan kepala mereka hormat.
“Ini rumahku.” Kata Kyuhyun tersenyum, sudut matanya menangkap Hye Hee yang menatap kagum rumahnya. “Rumah kita.”
Hye Hee membalikkan wajahnya pada Kyuhyun.
“Apa aku salah menyebutkannya rumah kita?”
“Aku rasa itu terlalu berlebihan, rumah ini rumahmu Kyuhyun-ssi.” Jawab Hye Hee menunduk sungkan.
“Mulai sekarang rumah ini juga rumahmu,” Kyuhyun mengangkat tangannya ke depan, kepada para pelayan yang masih menunduk hormat pada mereka. “Beserta seluruh pelayan yang aku miliki, mereka juga pelayanmu.”
“Ta…”
“Ayo, kubawa kau mengelilingi istana kita.”
Hye Hee tidak bisa menyelesaikan ucapannya, karena Kyuhyun sudah memotongnya, menarik tangannya dan membawanya masuk.
“Selamat datang tuan, bagaimana kabar anda?” Pelayan pria yang masih terlihat sangat muda menyambut mereka, berdiri di depan para pelayan yang lainnya.
“Kabarku baik, kepala pelayan Choi.” Kyuhyun menganggukkan kepalanya, menerima semua hormat para pelayannya. “Kenalkan ini istriku, dia yang akan menjadi nyonya di rumah ini, mulai sekarang.”
“Kami sudah mendengar kabar bahagia itu tuan, dan kami turut bahagia atas anda.” Kepala pelayan Choi kembali menundukkan wajahnya, mengangkat wajahnya kembali, pria itu tersenyum sopan pada Hye Hee. “Selamat datang di rumah nyonya, semoga anda selalu bahagia.” Ucapnya tulus.
Hye Hee membalas ucapan tulus kepala pelayan Choi dengan senyuman yang tulus juga. “Terimakasih, kepala pelayan Choi.”
“Sebagai permulaan, apa anda ingin kami menyiapkan sesuatu?” Tanya kepala pelayan Choi pada Hye Hee.
Hye Hee menggeleng, “Tidak perlu, kami baru saja selesai makan malam, jadi aku rasa aku hanya ingin beristirahat.”
“Apa anda ingin kami menyiapkan air hangat untuk anda?”
“Oh tidak perlu.” Hye Hee menolak. “Aku bisa melakukannya sendiri.”
“Lagipula, malam ini aku hanya ingin berdua dengan istriku.” Sahut Kyuhyun. “Pastikan tidak ada seorangpun yang mengganggu kami, kau paham?” Titah Kyuhyun pada kepala pelayan Choi.
“Saya mengerti tuan.” Kepala pelayan Choi menunduk mengerti.
Setelah perkenalan singkat itu, Kyuhyun membawa Hye Hee masuk ke dalam rumah mewah pria itu. Kembali Hye Hee harus terpukau dengan kekayaan yang di miliki Kyuhyun. Rumah itu bukan hanya terlihat mewah dari luar, tapi juga interior ruangan itu tidak mampu ia gambarkan dengan apapun.
Indah, mewah, elegan dan berkelas, Hye Hee tidak tahu, kata apalagi yang bisa ia katakan untuk menggambarkan indahnya isi dalam rumah itu. Kyuhyun membawanya menaiki tangga. Lantai tangga seluruhnya tertutupi oleh karpet berwarna biru, pegangan tangga tertutup oleh beledu yang sangat lembut, dan hebatnya tidak ada setitik debu yang berada di beledu lembut itu.
Begitu terpesonanya dengan tangga yang ia lewati, Hye Hee tidak sadar bahwa mereka sudah sampai di lantai dua rumah itu. Kyuhyun membuka sebuah pintu, dan menampakkan ruangan yang sangat besar.
“Ini kamar kita.” Kyuhyun menunjukkan kamar tidur mereka.
Belum habis rasa kagumnya dengan tatanan indah isi rumah Kyuhyun, ia harus kembali terpukau dengan interior kamar di hadapannya saat ini. Kamar itu luas, sangat luas malah, sampai Hye Hee berpikir kamar itu seluas lapangan sepak bola.
Tempat tidur besar, berpanel kayu putih gading dengan ukiran-ukiran rumit berada di tengah ruangan. Lemari berwarna senada dengan tempat tidur setinggi kakinya di susun sepanjang sudut di timur kamar. Kaca rias yang juga berwarna putih dan berukiran rumit di letakkan sekitar tiga meter di depan tempat tidur.
Empat buah sofa kecil dan satu sofa panjang di susun tepat di depan televisi berlayar datar, sebuah meja kaca di letakkan di tengah-tengah sofa itu. dan tidak jauh dari televisi ada sebuah lemari tinggi yang Hye Hee yakini sebagai kulkas.
Di dalam ruangan itu sendiri ada dua pintu yang  Hye Hee tidak tahu, ruangan apa yang di sembunyikan oleh pintu itu. Seluruh desain ruangan itu berwarna putih gading, dan Hye Hee sangat menyukainya.
“Pintu yang di sebelah kanan, itu kamar mandi.” Terang Kyuhyun, mengikuti arah tatapan Hye Hee pada kedua pintu yang lain. “Dan pintu yang di sampingnya, itu ruang penyimpanan pakaian.”
“Sebesar itu?” Tanya Hye Hee.
Kyuhyun mengangguk, “Saat ini ruangan itu baru terisi oleh pakaianku saja, dan hanya beberapa pakaian tidur yang disediakan untukmu. Tapi besok aku akan meminta beberapa desainer untuk membuatkan pakaian apapun yang kau inginkan, dan kau bisa mengisi seluruh lemari yang di sediakan untukmu.”
“Tidak perlu, aku bisa mengambil pakaianku dari apartemen.” Hye Hee menggelengkan kepalanya.
“Kau boleh mengambil pakaianmu, tapi aku tetap akan menyuruh desainer untuk membuat baju untukmu.” Kyuhyun memutuskan dengan enteng. Pria itu membuka jasnya, dan menyangkutnya di sangkutan jas yang ada di samping pintu kamar.
Tiba-tiba saja Hye Hee merasa gugup melihat pria itu membuka jasnya, melonggarkan dasi, lalu membuka dua buah kancing teratas kemejanya.
“Kau ingin membersihkan diri?” Kyuhyun bertanya.
Tak bisa menjawab Hye Hee hanya menunduk, dan bergerak-gerak tidak jelas.
“Aku akan mandi lebih dulu.” Kyuhyun mengambil handuk yang sudah di sediakan di atas lemari, “Kalau kau ingin bertukar pakaian, kau bisa mengambilnya di ruangan itu, karena aku sudah menyuruh pelayan menyiapkan beberapa gaun tidur untukmu.”
Kyuhyun masuk ke dalam kamar mandi, dan Hye Hee langsung melemaskan bahunya yang menegang. Mengembuskan napas leganya, Hye Hee membuka kulkas, dan menemukan air mineral. Setelah meneguk air dingin itu, Hye Hee tidak bisa menahan rasa penasarannya dengan ruangan penyimpanan pakaian.
Ruang pakaian itu di isi oleh lemari yang di tanam di dinding mengelilingi seluruh ruangan. Ruangan itu sendiri juga tidak kalah besarnya dengan kamar mereka. Hye Hee bisa melihat seluruh pakaian Kyuhyun tergantung dan terlipat rapi. Ia tidak bisa memprediksi banyaknya pasangan jas milik pria itu, dan pakaian kasual lainnya.
Setelah rentetan panjang susunan pakaian, Hye Hee menemukan lemari yang berisi seluruh sepatu pria itu. ia juga tidak bisa mengitung banyaknya sepatu yang dimiliki Kyuhyun.
Mengisi ruangan di tengah lemari tanam itu, sebuah meja besar di buat. Meja itu ternyata tempat penyimpanan seluruh aksesoris milik Kyuhyun, mulai dari jam tangan, dasi, kacamata dan aksesoris lainnya.
Hye Hee berpikir, ia yang seorang model saja tidak mempunyai pakaian dan pernak pernik sebanyak milik Kyuhyun. Tapi pria itu memiliki segala sesuatu yang sangat berlebihan.
Akhirnya Hye Hee menemukan lemari yang menyimpan gaun tidurnya. Kyuhyun mengatakan hanya beberapa, tapi kenyataannya lemari itu telah terisi penuh oleh gaun tidurnya. Hye Hee mengambil gaun tidur putih yang menarik minatnya. Gaun tidur itu terasa sangat lembut, dengan renda yang menutupi tepian atas gaun.
“Tidak akan ada surat kontrak, Hye Hee-ssi. Kita akan menjalani kehidupan rumah tangga seperti seharusnya suami istri.”
Kalimat Kyuhyun tiba-tiba saja terlintas di kepalanya, dan ia teringat perbincangan mereka sebelum konferensi pers itu.
“Aku tidak pernah mengatakan tentang adanya kontrak antara kita. Yang aku katakan hanyalah tentang pernikahan. Meskipun kita hanya menikah di atas kertas seperti ini, kau tetaplah istriku, dan aku tidak membutuhkan istri dalam hitungan tahun atau bulan.”
“Jadi sampai kapan kita akan menikah?” Tanya Hye Hee ragu, ia merasa ngeri melihat mata Kyuhyun.
“Selayaknya orang menikah dan tidak ada perpisahan, karena aku membenci perpisahan. Aku tidak pernah berpikir ini sebuah permainan, ketika memutuskan untuk menikah aku serius, dan aku bisa melakukan apa saja padamu sebagai istriku, termasuk tidur denganmu.”
Saat itu Kyuhyun berkata dengan serius, hingga Hye Hee tidak berani membuka suaranya. Ia yang terlalu bodoh, dan tidak bertanya sejak awal. Mengingat semua ucapan Kyuhyun, Hye Hee bergidik. Ia mengembalikan gaun itu dan mengurungkan niatnya bertukar pakaian.
Keluar dari dalam ruang pakaian, Hye Hee mencoba nyamannya ranjang besar itu, dan ia merasakan kenyamanan. Hye Hee menyapa permukaan lembut tempat tidur dengan telapak tangannya, membuat ia  merasakan kantuk.
Hye Hee sempat ragu untuk berbaring di ranjang empuk itu, tahu kalau Kyuhyun juga akan tidur disana bersamanya. Tapi ide jahat terlintas di kepalanya, kalau ia tidur lebih dulu Kyuhyun tidak akan berani melakukan sesuatu padanya.
Segera Hye Hee masuk ke dalam selimut hangat, menutupi seluruh tubuhnya hingga hanya menyisakan kepalanya. Hye Hee memejamkan matanya, mencoba terlelap untuk melepaskan seluruh kejadian hari ini tanpa berniat mengganti pakaiannya.
Selesai membersihkan tubuhnya dan berpakaian, Kyuhyun berniat ingin menyuruh istrinya itu mandi, namun saat melihat wanita itu sudah terlelap bahkan tidak menukar pakaiannya, Kyuhyun mengurungkan niatnya.
Ia tersenyum, dan mengulurkan tangan membelai sisi wajah yang tidak tertutup. “Shin Hye Hee. Istriku” Gumamnya tertawa.
***
Paginya Hye Hee bangun dengan tubuh segar dan bersemangat. Menggeliat dan bangkit dari tidurnya, Hye Hee tidak menemukan sosok Kyuhyun.
Apa dia sudah bangun?
Hye Hee turun dari ranjang, membuka tirai dan merasakan udara sejuk yang masuk dari celah-celah jendela.
“Kau baru bangun?”
Hye Hee tidak tahu kapan Kyuhyun masuk ke dalam kamar, pria itu sudah rapi dengan kemeja merah dan dasi berwana hitam. Rambutnya di sisir menyamping, menampakkan dahi indahnya.
“Eum, baru saja.” Jawab Hye Hee singkat.
Lima orang pelayan masuk, masing-masing dari mereka mendorong rak yang berisi pakaian. Pelayan itu menunduk pada Hye Hee kemudian kembali mendorong rak itu dan masuk ke dalam ruang penyimpanan pakaian.
“Itu pakaian yang di ambil dari apartemenmu.” Kyuhyun  menerangkan.
“Bagaimana kau tahu pasword apartemenku?”
“Sebaiknya kau mandi, aku akan menjelaskan semuanya setelah kau selesai. Aku tunggu kau di  bawah.” Kyuhyun keluar kembali dari kamar tanpa menjawab pertanyaannya.
***
Suasana lantai bawah begitu sepi, tidak ada suara yang terdengar, hanya para pelayan saja yang terlihat bekerja membersihkan setiap rumah dan mereka melakukannya tanpa suara.
Seorang pelayan wanita membungkuk menyambut Hye Hee yang baru saja turun, “Selamat pagi nyonya, apa tidur anda nyenyak?” tanya pelayan itu.
“Selamat pagi.” Balas Hye Hee tersenyum pada pelayan itu. “Tidak pernah lebih baik.” Lanjutnya.
“Syukurlah kalau begitu.” Pelayan wanita bertubuh gemuk itu mendesah lega. “Saya kepala koki di rumah ini nyonya, anda bisa memanggil saya May.”
“Senang berkenalan denganmu May.” Berkenalan kembali dengan orang baru di rumah besar itu membuat Hye Hee senang, setidaknya dari beberapa pelayan di rumah itu, ada beberapa yang bisa di ajaknya mengobrol, suatu saat nanti.
“Anda ingin memakan sesuatu pagi ini nyonya?” May menunduk sambil berbicara pada Hye Hee.
“Kau belum mengatakan padaku dimana ruang makannya.” Hye Hee mengabaikan pertanyaan May, dan bertanya dimana ruangan makan rumah itu.
“Mari saja antar anda nyonya, tuan sudah menunggu anda.”
May mengarahkan Hye Hee ke ruang makan, yang letaknya lumayan jauh dari tangga utama. May benar, Kyuhyun sudah berada disana, pria itu melipatkan salah satu kakinya di atas paha, sambil membaca koran pagi ini.
Menyadari kehadiran Hye Hee, Kyuhyun menurunkan korannya. “Disini.” Kyuhyun menarik kursi di samping kanannya.
Ruang makan itu diisi oleh meja makan panjang, dengan dua belas bangku. Di atas meja sudah tersedia sup asparagus, sandwich berisi sayur dan buah-buahan, kemudian roti bakar, susu, jus dan kopi yang mengepul.
Begitu ia duduk, Kyuhyun mendorong kursinya, dan May datang menghampirinya. “Apa yang anda inginkan nyonya, saya akan membuatkannya.”
Hye Hee menggeleng tersenyum pada wanita itu. “Aku bisa memakan apa saja, berikan saja aku sandwich dengan buah-buahan itu.”
“Baik nyonya, akan saya buatkan.”
Pelayan yang sejak tadi tidak terlihat, tiba-tiba saja datang menyiapkan makanan yang di perlukan Hye Hee, meletakkannya di depan wanita itu. Hye Hee yang tidak biasa menerima perlakuan se-khusus itu, hanya bisa diam dan bingung.
“Apakah ini tidak terlalu berlebihan?” Hye Hee meringis pada Kyuhyun.
Pria itu tersenyum dan menggeleng. “Ini masih belum seberapa, kau harus menyiapkan dirimu untuk hal yang lebih lagi.”
Tertarik dengan cerahnya warna orange jus di dalam gelas, Hye Hee meneguknya berulang kali, lalu menikmati sandwichnya. Kyuhyun juga menikmati sup asparagusnya. Setelah hening yang lama karena proses makan mereka, Kyuhyun mengangsurkan map hitam kepada Hye Hee.
“Apa ini?” Hye Hee menyentuh map hitam itu.
“Bukti pelunasan apartemen dan mobilmu.”
Hye Hee membuka amplop itu dengan cepat, membacanya dengan teliti dan matanya membelalak tidak percaya. “Kau benar-benar melunasinya?”
“Aku tidak akan ingkar janji,” Jawab Kyuhyun. “Anggap saja itu hadiah pernikahan, saat ini mobilmu sudah ada di dalam garasi, kau bisa memeriksanya.”
“Terimakasih Kyuhyun-ssi…”
“Kyuhyun.”
“Ah.. ne Kyuhyun, aku benar-benar berterimakasih atas kebaikanmu.” Hye Hee menyelipkan rambutnya yang jatuh menutupi pandangannya dengan Kyuhyun. “Aku tidak tahu bagaimana caranya membalas semua ini.”
“Istrimu adalah tanggungjawabmu, apapun masalah dan kesulitan yang dialamu istrimu, maka masalah dan kesulitan itu juga milikmu, begitu juga sebaliknya. Apa kau tidak pernah mendengar itu?” Kata Kyuhyun, dengan tatapan menelisik.
“Tapi aku bukan istri sungguhan untukmu, aku hanya…”
“Apapun pendapatmu, kau tetap istriku, dan aku suamimu. Seperti kodratnya istri harus mendengarkan semua kata suami.” Kyuhyun menggeser bangkunya dan berdiri. Dan begitu ia berdiri pelayan langsung datang menghampiri pria itu. “Jadi istriku, yang harus kau lakukan hanya diam dan menerima, jangan membantah apa yang sudah suamimu berikan.”
Hye Hee menutup map di tangannya, mengalihkan wajahnya dari Kyuhyun. Ia tidak bisa menebak apa yang akan di lakukan Kyuhyun. Pria itu begitu misterius untuknya, wajar saja mereka baru mengenal belum lebih dari 24 jam.
“Pagi-pagi tadi aku menyuruh supir dan pelayan membawa seluruh pakaianmu yang ada di apartemen kemari, dan kuncinya aku meminta petugas keamanan apartemen untuk membukanya.”
Hye Hee mendongakkan wajahnya agar bisa melihat wajah Kyuhyun yang sudah berdiri. Apakah uang bisa memudahkan segala urusan pria itu, hingga petugas keamanan apartemennya dengan mudah memberikan kunci pada pria itu.
“Apartemen itu tetap atas namamu, aku tidak akan  menukarnya.” Kyuhyun mengangkat kedua lengannya, dan para pelayannya langsung memasangkan jas di tubuh pria itu. “Jangan lupa, hari ini kau ada janji dengan desainer yang akan menjahit bajumu, aku sudah menyuruh mereka datang kemari, persiapkan dirimu.” Kyuhyun mengecup puncak kepala Hye Hee sejenak, lalu pria itu keluar dari ruang makan diikuti beberapa pelayannya.
Baru beberapa jam ia bersama Kyuhyun, tapi setiap kali bersama Kyuhyun, Hye Hee selalu merasa tubuhnya menegang, apalagi jika pria itu berbuat sesuatu yang sangat tidak terduga, seperti ciuman di kepalanya barusan, membuat seluruh ototnya menegang.
***
Ia tidak pernah menyangka suatu hari akan menikah dan menjadi nyonya dari suami kaya raya. Tapi kesempatan itu datang tanpa terduga. Satu bulan sudah ia menikah dengan Kyuhyun dan tinggal di rumah besar yang di penuhi para pelayan, sehingga tak ada satupun pekerjaan yang bisa ia lakukan.
Hye Hee pernah mengendap masuk ke dapur untuk menemui May, dan penasaran ingin mencoba sesuatu yang bisa ia masak untuk dirinya sendiri, tapi yang terjadi seluruh pelayan di dapur malah menghalanginya.
“Biarkan aku mencobanya, aku penasaran membuat pie cokelat yang biasa kau sajikan.” Hye Hee menarik apron, dan memakainya untuk dirinya sendiri. “Aku berjanji tidak akan membuat masalah.”
“Nyonya, aku mohon, anda tidak seharusnya berada disini, disini sangat bahaya.” May menahan tangan Hye Hee yang sudah mulai memegang panci pemanas.
“Tidak akan bahaya kalau kau membantuku,” Hye Hee menepis tangan May, “Ayolah May, kau harus mengajarkannya padaku.”
“Tapi nyonya tuan melarang anda bekerja, dan kami sudah di perintahkan untuk menjaga keselamatan anda.” May tetap berkeras menolak.
“Kyuhyun sedang tidak di rumah, dan aku berjanji tidak akan mengatakan apapun padanya.” Hye Hee menatap seluruh pelayan di dekatnya satu persatu, “Dan kalian juga tidak akan mengatakan apapun.” Suruhnya bersekongkol.
“Maafkan kami nyonya, kami tidak bisa membiarkan anda melakukan hal itu.” Seluruh pelayan termasuk May, berlutut di bawah kakinya.
“Kami akan kehilangan pekerjaan, jika kami membiarkan anda berada disini.” May menunduk penuh sesal.
Rasa semangat yang tadi ia rasakan hilang, begitu seluruh pelayan berlutut dan memohon agar ia segera pergi dari dapur itu. Meletakkan kembali panci yang sudah di pegangnya, Hye Hee juga melepaskan apronnya, dan berjalan keluar dari dapur dengan lemas.
Rasa bosan itu sudah memasuki taraf akut, dan ia tidak bisa lagi menoleransi kebosanan itu. Satu bulan sudah ia hanya diam di rumah, dan sesekali keluar untuk menemui Sungmin, menuntut pria itu memberikan pekerjaan padanya, namun tidak pernah ada hasil.
Menikah dua hari, Kyuhyun sudah meninggalkannya keluar negeri, pria itu terus saja melakukan perjalanan luar negeri, hingga tidak ada waktu ia bisa memahami pria itu. Meskipun tidak di harapkan, Hye Hee ingin agar dirinya bisa sedikit saja memahami pria itu, tapi sepertinya Kyuhyun tidak pernah membiarkan ia melakukan hal itu.
***
“Ini.”
“Apa ini?” Tanya Hye Hee pada Sungmin, menilik kertas di tangannya.
“Itu perkumpulan para pengusaha dan petinggi perusahaan di Korea. Grup iru hanya diisi oleh mereka yang sudah menikah, karena kau dan Kyuhyun sudah resmi menikah, kalian di undang menjadi member di grup itu.” Terang Sungmin.
“Aku tidak mau.” Hye Hee meletakkan kertas itu ke atas meja kerja Sungmin. “Kau tahu aku tidak suka acara sosial seperti itu.”
Sungmin bersandar di pinggiran meja, melipatkan tangannya nyaman di dada. “Kau tidak bisa menolaknya, karena Kyuhyun sudah menerimanya.”
“Kapan Kyuhyun menerimanya?”
“Satu minggu yang lalu sebelum dia berangkat ke Jepang. Kyuhyun merasa hal itu akan membantumu menghilangkan bosan.” Sungmin memungut surat itu, dan membacanya lagi, “Ternyata suamimu sangat perhatian.”
“Dia tidak benar-benar seperti itu. Kyuhyun hanya merasa tidak enak padaku.” Komentar Hye Hee menyangkal.
“Tapi Kyuhyun benar-benar serius saat mengatakannya.” Sungmin menggaruk ujung dagunya. “Dia khawatir kau akan mati bosan jika terus menerus di rumah tanpa bekerja, tanpa teman-teman. Dengan bergabung di grup sosial seperti itu, kau akan memiliki waktu bertemu orang lain, meskipun hanya satu minggu sekali.”
“Seharusnya dia bertanya dulu, apakah aku memerlukan grup sosial yang sudah kupastikan pertemuan itu akan sangat membosankan, karena hanya membicarakan saham, uang, perhiasan, perjalanan keliling dunia yang mengesankan, dan blablabla…” Hye Hee menekuk bibirnya tidak tertarik. Membayangkan pertemuan itu dalam kepalanya saja, membuat ia tidak nyaman, bagaimana jika ia benar-benar berada disana.
“Dan seharusnya kau juga menghargai usaha suamimu, di tengah jadwalnya yang padat dia masih sempat memikirkan kebosananmu.” Sungmin berujar di depan wajah Hye Hee, lalu menarik lagi tubuhnya menjauh, “Lagipula acara itu tidak jauh berbeda dengan kehidupanmu sebagai model di London.”
“Itu berbeda, kami memang berkumpul tapi tidak pernah membicarakan saham dan membanggakan harta kekayaan keluarga, yang kami bicarakan selalu tentang desain dan kehidupan sebagai model.”
“Tetap saja itu sebuah perkumpulan.” Tukas Sungmin.
“Tapi itu berbeda.” Hye Hee berkeras tidak setuju dengan Sungmin.
Sungmin tertawa dengan kekerasan Hye Hee menolak pendapatnya. “Tetap saja, aku menghargai usaha Kyuhyun untukmu. Apakah kau tidak berniat mengatasi kebosananmu sendiri?”
“Tentu saja aku berniat. Aku sudah berusaha melakukan sebuah pekerjaan di rumah itu, tapi tidak ada satu hal pun yang bisa aku lakukan. Aku merasa berat badanku bertambah selama tinggal disana.” Hye Hee menarik otot lengan atasnya, “Lihat lenganku bertambah besar.”
Sungmin menutup mulutnya dan tersenyum tertahan, “Bukan melakukan pekerjaan maksudku, tapi yang lain.”
“Yang lain?” Hye Hee mengertukan kedau alisnya, “Maksudmu?”
Sungmin mendekatkan tubuhnya dengan Hye Hee, hingga wajah pria itu jelas di wajah Hye Hee, “Apa kau tidak berencana mengandung anak Kyuhyun?”
Mendengar ucapan Sungmin, Hye Hee mengerutkan bibirnya kesal, dan mendorong wajah pria itu  menjauh, “Ya, apa yang  kau pikirkan?”
Sungmin menggosok dahinya meringis, “Kau kan sudah menikah dengannya, wajar kalau aku bertanya seperti itu.”
Mengandung anak Kyuhyun, astaga berpikir tentang itu saja ia tidak pernah apalagi berencana. Dan bagaimana ia bisa mengandung, kalau selama ini ia dan Kyuhyun tidak pernah melakukan apapun. Pria itu memang sering menciumnya, tapi hanya ciuman.
Terakhir kali mereka berciuman, Kyuhyun memang melakukan lebih dari ciuman. Pria itu menyentuhnya di beberapa tempat, beruntung ia bisa menolak pria itu dan mengendalikan ciuman mereka.
“Lagipula kalau kau mengandung dan melahirkan anaknya, kau tidak akan merasa bosan.” Sungmin menambahkan dengan nada kesal. Ia sudah berpindah ke sofa di ruangannya.
“Kebosananku akan berakhir kalau kau memberikan aku pekerjaan.” Jawab Hye Hee ketus. “Aku sudah memintamu mencarikan aku pekerjaan, tapi tidak ada satupun pekerjaan yang kau berikan padaku.”
“Bukan aku yang tidak memberikan pekerjaan padamu.” Ujar Sungmin membela diri. “Banyak rumah produksi dan produser yang ingin bekerja sama denganmu, apalagi setelah mereka melihat beberapa hasil foto dan iklanmu, mereka sangat tertarik padamu.”
“Lalu kenapa tidak satupun yang kau berikan padaku?” Potong Hye Hee.
“Posisimu sebagai istri Cho Kyuhyun yang membuatnya. Mereka takut menawarimu pekerjaan dengan bayaran yang tidak sesuai untukmu.”
Masalah baru muncul  setelah pengumuman pernikahan mereka. Hye Hee berpikir ia akan mendapatkan pekerjaan dengan mudah mengingat posisi suaminya, namun karena hal itu pulalah tidak ada satu rumah produksi pun yang berani menawarkan kerja sama dengannya.
Mereka terlalu takut, memberikan pekerjaan dengan bayaran yang tidak setimpal pada istri seorang CEO terkaya di Korea.
“Aku  ingin memiliki sebuah proyek, apapun itu.” Hye Hee memohon pada manajernya.
“Tapi mereka tidak berani.” Sungmin menghela napas lelah, karena Hye Hee terus saja merongrongnya.
“Aku dengar ada sebuah rumah produksi yang menawarkan drama padaku.”
Sungmin menatap Hye Hee dengan tatapan lelah, “Aku yakin kau tidak akan suka dengan peran yang di tawarkan.”
“Aku akan  menerimanya, peran apapun itu.” Hye Hee memaksa.
“Aku tidak mengerti apa yang terjadi padamu. Beberapa minggu yang lalu sebelum Kyuhyun menikahimu, kau tidak mau menerima tawaran pekerjaan apapun, lantas kenapa sekarang kau sangat ingin bekerja?”
“Aku bosan terus menerus berada di rumah.”Hye Hee beralasan. Tentu saja bukan hanya bosan alasan ia benar-benar ingin bekerja, ia membutuhkan uang untuk mengembalikan seluruh yang Kyuhyun berikan padanya, bagaimanapun, ia merasa tidak nyaman dengan banyaknya hal yang di berikan Kyuhyun padanya. “Lagipula, ini duniaku, aku tidak benar-benar bisa meninggalkannya.”
Sungmin menggeleng diiringi embusan napas lemah.
“Dan Kyuhyun tidak pernah melarangku bekerja. Sejak awal kau tahu, pernikahanku dan Kyuhyun hanya formalitas semata.” Hye Hee mendorong kursi putar milik Sungmin, “Sekarang berikan padaku, naskah itu.”
“Ada di dalam laciku.” Tunjuk Sungmin dengan kepalanya.
Hye Hee membongkar laci teratas di meja Sungmin, dan mendapatkan apa yang dicarinya. Hye Hee membaca naskah skenario di tangannya, membolak balik halaman skenario itu. “Katakan pada produsernya, aku menerima peran ini.” Katanya setelah selesai membaca.
“Kau serius?” Sungmin mendelik tidak yakin. “Kau sudah tahu kan peran yang di tawarkan padamu. Kau akan menjadi istri kedua yang selalu tertindas.”
Hye Hee mengangguk lambat-lambat.
“Itu bukan karakter kesukaanmu, menjadi yang tertindas, kenapa kau menerimanya?”
“Tidak ada salahnya mencoba sesuatu yang baru.” Hye Hee memasukkan skenario itu ke dalam tas tangannya, dan berjalan menuju pintu ruangan Sungmin. “Katakan padaku kapan syutingnya akan di mulai, dan juga….”
“Bayarannya.” Sambung Sungmin.
“Benar sekali.” Sahut Hye Hee sumringah. “Aku harus pulang, Kyuhyun pulang hari ini dari Jepang, walaupun tidak di harapkan, tapi aku merasa tidak ada salahnya menampakkan wajahku ketika dia sampai di rumah.”
“Pulanglah, kau hanya membuatku semakin pusing berlama-lama disini.” Usir Sungmin.
Hye Hee menanggapi pengusiran Sungmin dengan tertawa senang. “Sampai jumpa Lee Sungmin.” Katanya sambil melayangkan sebuh ciuman pada pria itu.
“Wanita gila.” Balas Sungmin tertawa.
***
Wanita itu bergerak lincah mengiris sayuran, lalu memasukkannya  ke dalam panci yang berisi air kaldu mendidih.
“Seperti ini, May?” Tanyanya sambil memasukkan potongan lobak yang baru saja selesai ia rajang.
May kepala koki di rumah besar itu mengangguk takut, “Ya nyonya.” May mengangkat tangannya ingin menahan tangan majikannya.
“Jangan bergerak May, atau aku akan mengikatmu.” Ancam wanita yang menjadi majikannya itu.
“Nyonya…” May mendesah lemas ketakutan. “Aku mohon kembalilah ke kamar anda, atau anda bisa menonton televisi, sesuatu yang tidak membahayakan anda.”
Wanita muda itu menggeleng di depan panci sup nya, menghirup wangi masakan yang sejak tadi ia coba buat. “Aku sudah bosan menonton televisi.”
“Tapi sebentar lagi tuan akan pulang. Tuan akan marah jika saya membiarkan anda berada disini.”
Hye Hee tidak peduli dengan ucapan memohon May agar ia segera pergi meninggalkan dapur itu. Tentu saja ia tidak akan melakukan hal itu, ini pertama kalinya ia berhasil melakukan sebuah pekerjaan, meskipun hanya memasak sup sederhana, dan tentu saja dengan bantuan May, ia akan sangat bangga jika masakan itu bisa selesai di tangannya.
“Kyuhyun tidak akan pulang sebelum aku selesai memasak ini.” Hye Hee mengambil kuah supnya, lalu menyodorkannya pada May, “Bagaimana rasanya?”
May mengambil sendok itu dan mencicipi masakan Hye Hee. “Rasanya enak, anda berhasil membuatnya nyonya.”
“Jinjja?” Hye Hee berlonjak senang, mengambil kembali sedikit kuah sup dan merasainya sendiri. “Aahhh… benar-benar enak.” Gumamnya puas. “May, kau harus makan sup buatanku.”
“Tapi nyonya….”
“Kau berani membantahku?”
May menunduk dan mengangguk, “Baiklah nyonya.”
Hye Hee tersenyum puas karena May menuruti kemauannya, meskipun melalui paksaan.
“Nyonya, anda baru saja pulang, apa anda tidak lelah.” May masih belum kehabisan cara memaksa majikannya itu untuk meninggalkan dapur yang menjadi ranah kerjanya. Sayangnya harapannya untuk mengusir majikannya itu punah, ketika wanita muda itu menggeleng.
“Sama sekali tidak.” Jawab Hye Hee mengiris daun seledri dan tomat yang akan ia gunakan untuk menghias supnya. “Sudah lama aku tidak mengerjakan pekerjaan seperti ini. Meskipun tidak bisa memasak, aku ingin belajar.”
“Tapi kuku dan tangan anda akan rusak, kalau anda memasak.” May menyerahkan mangkuk wadah untuk sup yang sudah matang.
Hye Hee mengangkat telapak tangannya yang terbuka, dan memerhatikan tangannya seksama. “Tidak terjadi apa-apa pada tanganku.”
Hye Hee menerima mangkuk dari May, mengaduk dan menghirup kembali aroma sup buatannya.
“Nyonya, tuan sudah kembali.”
Hye Hee berbalik mendengar kepulangan suaminya dari pelayan yang datang mengabarkannya padamu.
May dengan segera menyambar mangkuk yang berada di tangan Hye Hee. “Nyonya, berikan ini pada saya, biar saya menyusunnya untuk anda.”
Meskipun tidak rela menyerahkan pekerjaannya yang terakhir pada May, akhirnya Hye Hee menyerah. Ia membuka apron, lalu mencuci tangannya dan bergerak ke ruang depan menemui Kyuhyun.
***
Kyuhyun tidak tahu kenapa, rasanya ia ingin segera sampai di rumahnya dan melihat wajah wanita itu berdiri menyambutnya. Ia tidak pernah berpikir akan merasakan hal seperti ini, tapi dorongan dalam hatinya membuat ia begitu bergegas ingin segera sampai dirumah dan menatap wajah istrinya.
Perjalan dari bandara menuju rumahnya terasa begitu lama, dan begitu mobilnya berhenti, Kyuhyun segera keluar dan masuk ke dalam rumah dengan tergesa.
Wajah itu tidak terlihat di ruangan depan rumahnya. Hanya para pelayan yang menunduk menyambutnya. Sejenak rasa kecewa memenuhi dirinya, Kyuhyun menyadari bahwa ia konyol sudah bersikap seperti itu.
“Kau sudah pulang?”
Senang, rasa itu memenuhi tubuhnya, saat indra pendengarannya menangkap suara yang ingin ia dengar. Kyuhyun berbalik untuk melihat wanita itu. Hye Hee terlihat keluar dari bagian belakang rumah, diikuti beberapa pelayan di belakangnya. Wanita itu hanya mengenakan kaus putih polos, dengan celana sangat pendek, dan rambut cokelatnya di ikat seluruhnya ke atas menampakkan leher putihnya yang di lengketi anak rambut yang tidak terikat.
“Aku kira kau akan sampai beberapa jam lagi.”
Sejenak Kyuhyun tidak bernapas ketika Hye Hee menghapirinya, menarik tas kerjanya lalu menyerahkannya pada pelayan yang sudah siap menunggu.
“Pekerjaanku lebih cepat selesai.” Jawab Kyuhyun setelah bernapas.
“Kebetulan sebentar lagi  makan malam, aku baru saja selesai memasak sup, kau mau mencicipinya?”
Dahi Kyuhyun berkerut, ia menatap seluruh pelayan yang berdiri di belakang Hye Hee.
Hye Hee membalik wajahnya mengikuti Kyuhyun menatap pelayan yang berdiri di belakangnya, May berlari lalu berdiri di depan seluruh pelayan dan menunduk.
“Kau memasak?” Tanya Kyuhyun masih menatap seluruh pelayan.
Hye Hee sadar akan tatapan Kyuhyun pada pelayan di belakangnya, termasuk pada May, karena pria itu menatap May lebih lama. “Aku yang memaksa.”
Kyuhyun menarik pandangannya dari pelayan dan menatap Hye Hee.
“Aku ingin belajar memasak, dan memaksa May untuk mengajarkan aku membuat beberapa makanan.” Jelas Hye Hee dengan wajah puas. “Kau harus mencicipi makanan yang aku buat, tapi sebelumnya kau harus membersihkan dirimu terlebih dahulu.”
Menghindari Kyuhyun melakukan introgasi pada pelayannya, Hye Hee menarik lengan Kyuhyun dan membawa pria itu ke kamar mereka.
Sampai di kamar Kyuhyun melepaskan dirinya dari rangkulan Hye Hee, lalu mencengkeram kedua  lengan atas Hye Hee, menghadapkan wanita itu padanya.
“Kau marah karena mereka membiarkan aku bekerja?” Tanya Hye Hee. “Aku mohon jangan marah pada mereka, apalagi  May, aku hanya bosan tidak bisa melakukan sesuatu, itu sebabnya aku…”
Hye Hee tidak sempat menyelesaikan ucapannya, karena Kyuhyun sudah menutup bibirnya dengan bibir pria itu. Kyuhyun mendorong Hye Hee hingga menempel di dinding kamar, melumat bibir wanita itu rakus.
Melihat minimnya pakaian yang di kenakan Hye Hee, leher terekspose yang di tutupi anak rambut yang menempel karena keringat, membuat hasrat Kyuhyun semakin tidak tertahankan.
Sudah biasa dengan ciuman Kyuhyun yang mendadak, Hye Hee berusaha mengimbangi ciuman intim pria itu. Ia menikmati setiap saat Kyuhyun menciumnya. Manis bibir Kyuhyun, dan gesitnya pagutan Kyuhyun sudah menjadi kebutuhan untuk Hye Hee.
Kyuhyun merasa ciuman itu belum cukup memuaskannya. Ia menarik wajah wanita itu agar semakin mendekat, menyatukan bibir mereka, memperdalam pagutan yang sudah sangat ia nantikan.
Ketika Hye Hee sudah melingkarkan tangan di lehernya, tangan Kyuhyun bergerak meninggalkan wajah Hye Hee, turun ke bawah dan masuk ke balik kaus putih Hye Hee. Membelai perut rata wanita itu, membuat gerakan melingkar di kulit perut Hye Hee. Dengan perlahan jari-jari nakal Kyuhyun, naik semakin ke atas dan masuk ke dalam bra yang menutupi dada Hye Hee.
Sambil mencium, tangan Kyuhyun memberikan remasan kecil di dada Hye Hee. Jika tangan kanan Kyuhyun memberikan pijatan dari dalam, maka tangan kiri Kyuhyun ia gunakan untuk memijat dari luar. Kyuhyun merasa sedikit demi sedikit hasratnya tercapai.
Hye Hee tidak mampu menampik nikmatnya sentuhan di tubuhnya oleh tangan ahli Kyuhyun. Ia ingin memberontak, agar Kyuhyun membebaskannya, sebelum hal yang lebih lanjut terjadi, namun sepertinya otaknya tidak bisa memerintahkan tangannya untuk mendorong pria itu menjauh, yang terjadi malah ia pasrah di bawah kungkungan pria itu.
Di pikirannya Hye Hee sudah mengatakan untuk berhenti sebelum mereka melanjutkan kenikmatan ini ke tahap yang lebih dalam, Kyuhyun akan tahu rahasianya jika mereka melakukan hal itu, sementara ia belum siap memberitahukan hal itu pada Kyuhyun.
Hye Hee menggerakkan tangannya dengan susah payah melawan rasa nikmat dan mendorong Kyuhyun, namun yang terjadi pria itu malah menahan tangannya di dada, dan semakin dalam melumat bibirnya dan semakin menambah intensitas pijatan di dadanya.
Hye Hee mengucapkan syukur ketika suara deringan ponselnya dan ponsel Kyuhyun terdengar bersamaan. Hye Hee segera melepaskan ciuman mereka, dan mendorong dirinya menjauh.
“Ponsel.” Kata Hye Hee dengan napas tersengal-sengal.
“Arrggghh…” Kyuhyun menarik rambutnya kesal karena terhentinya permainan awal mereka, hal yang susah untuk memulainya kembali.
Karena ponselnya terus saja berdering, akhirnya Hye Hee mengambil benda yang ia letakkan di atas meja kaca di depan sofa televisi.
“Yeoboseyo…” Hye Hee melirik Kyuhyun yang menjauh dan mengangkat panggilan miliknya sendiri. “Bagaimana kau sudah menghubungi produsernya?” Hye Hee langsung bertanya, panggilan itu dari Sungmin manajernya. “Jinjja, arra besok pagi aku akan datang ke kantor. Langsung syuting? Tidak masalah aku setuju. Eoh sampai bertemu besok.”
Hye Hee menggenggam ponselnya dan melompat rendah dengan senang. Sungmin baru saja mengabarkan bahwa ia bisa membintangi sebuah drama baru. Ia sudah membaca skenarionya dan setuju dengan peran yang di ajukan. Akhirnya setelah sekian lama ia akan kembali kelayar kaca.
“Kelihatannya kau sangat senang?”
Hye Hee tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya. Ia membagi senyuman bahagianya pada Kyuhyun. “Aku dapat peran di sebuah drama,” ujarnya.
Kyuhyun mengerut tidak senang. “Kau akan bekerja lagi?”
Hye Hee mengangguk angguk cepat. “Aku dapat sebuah peran yang berbeda kali ini. Ahh sepertinya menyenangkan menjadi seseorang yang tertindas.”
Hye Hee berharap kalau Kyuhyun akan memberikan ucapan selamat padanya, tapi ternyata pria itu hanya menatapnya datar.
“Kau tidak akan mengucapkan selamat padaku?”
“Apa uang yang kuberikan tidak cukup, hingga kau harus kembali bekerja?” tanpa menjawab pertanyaan Hye Hee, Kyuhyun kembali bertanya.
“Uang, maksudmu?” Hye Hee mengernyit tidak tahu dengan maksud ucapan Kyuhyun.
Kyuhyun membuka salah satu laci di nakas tempat tidur mereka. “Ini buku tabungan atas namamu.” Kyuhyun mencampakkan buku kecil itu ke atas meja.
Menatap buku itu sejenak, Hye Hee membungkuk dan memungut buku itu dari atas meja. Seketika mata Hye Hee membelalak sempurna melihat banyaknya jumlah nominal yang tercetak di atas kertas itu. “I…ini…”
“Mulai sekarang setiap bulan aku akan mengirimkan uang sebanyak itu ke dalam tabunganmu. Uang itu untuk keperluanmu selama satu bulan, kau bisa menggunakannya sesukamu.” Kyuhyun membuka kemejanya dengan emosi, merasa gerah dengan sesuatu yang tidak ia tahu apa. Ia kesal karena permainan mereka yang di paksa berhenti dan kesal karena mengetahui Hye Hee akan kembali bekerja, keduanya itu membuat kepalanya ingin meledak marah.
“Ta…tapi…”
“Dan harus kau tahu, uang itu hanya untukmu bukan untuk keperluan rumah tangga. Keperluan rumah tangga aku sudah memercayakannya pada kepala pelayan Choi.”
Kyuhyun meninggalkan Hye Hee yang masih memandangi buku tabungan di tangannya dan masuk ke dalam kamar mandi.
Begitu bingung dengan banyaknya nominal yang ada di hadapannya, Hye Hee menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. “Lima puluh juta won?” Gumamnya membaca ulang jumlah nominal di buku tabungannya.
Hye Hee merasa ia bermimpi, ia membuka halaman depan buku tabungan itu untuk memastikan sesuatu, dan ternyata Kyuhyun tidak bercanda dengan ucapannyannya. Buku tabungan itu memang atas namanya.  Dan Kyuhyun akan memberikan lima puluh juta won setiap bulannya.
“Lima puluh juta won?” Ia menepuk dahinya dan bergumam berulang kali.
 ***TBC***

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: