All Of Sudden (Seq And… Suddenly)

0
All Of Sudden (Seq And… Suddenly) ff nc kyuhyun

Author              : JH Mommy
Tittle                 : All Of Sudden
Category          : NC 21, Married life, Romance
Cast                  : Cho Kyuhyun, Shin Hye Hee
__000__
P.S. Typo’s Everywhere
Gerakan jemari para pemburu berita seperti tidak bisa berhenti untuk terus menekan tombol pada kamera meraka. Berulang kali mereka terus menekan tombol di kamera, bahkan sebelum objek yang ingin mereka tangkap gambarnya menampakkan wujudnya.

Setiap tekanan pada tombol kamera akan mengahasilkan suara jepretan dan kilat cahaya yang menyilaukan mata. Namun kedua sosok yang turun dari mobil mewah mereka lebih menyilaukan daripada kilatan lampu kamera tersebut.
Begitu kedua sosok yang paling di tunggu dalam acara itu menunjukkan wujud mereka, para pemburu berita semakin bersemangat menekan tombol kamera mereka seperti tidak ingin kehilangan momen setiap pergerakan kedua insan itu.
Sepasang suami istri itu, Cho Kyuhyun dan istrinya Shin Hye Hee akhirnya menampakkan wajah mereka secara nyata kehadapan media yang sudah tidak sabar untuk mengambil wajah mereka. Apalagi malam ini Hye Hee merupakan bintangnya. Karena malam ini adalah malam pemutaran perdana film ketiga yang di bintangi Hye Hee dalam satu tahun.
Karir wanita itu benar-benar melejit begitu skandal masa lalunya terungkap dan di bersihkan oleh suaminya, Cho Kyuhyun. Kini Hye Hee adalah aktris yang begitu di tunggu karyanya di industri hiburan Korea Selatan.
Kyuhyun tampak begitu tampan dalam balutan tuxode hitamnya. Sebuah dasi kupu-kupu berwarna biru menjadi hiasan kecil di lehernya. Sedangkan wanita di sampingnya, Shin Hye Hee mengenakan gaun malam panjang tanpa lengan berwarna ungu muda, di padukan dengan kalung berlian yang melingkari leher indahnya dan anting berwarna senada dengan gaunnya. Rambut wanita itu di biarkan tergerai dan di buat bergelombang. Hye Hee tampak luar biasa malam ini.
Sambil menggenggam erat tangan istrinya, Kyuhyun melangkah dengan bangga di lantai yang sudah di lapisi karpet tebal berwarna merah. Sebelah tangannya yang lain ia gunakan untuk melambai pada kamera yang terus saja mengambil gambar mereka. Begitupun Hye Hee, ia juga melambaikan tangannya, tersenyum dan membungkuk pada awak media dan penggemar yang terus meneriakkan namanya.
“Cho Kyuhyun-ssi, bagaimana tanggapan anda tentang film ketiga istrimu kali ini?” Seorang pewarta bertubuh kurus dan ceking melontarkan pertanyaannya pada Kyuhyun begitu Kyuhyun dan Hye Hee berhenti di tengah karpet merah yang menjadi jalan utama mereka malam ini sebelum masuk ke dalam gedung pemutaran film perdana Hye Hee.
“Seperti biasa, aku selalu mengagumi semua hasil karya istriku.” Jawab Kyuhyun dengan senyuman bangga. Ia menarik tangan Hye Hee, lalu mengeratkan genggaman mereka.
“Apa kau tidak cemburu dengan jadwal istrimu yang begitu padat?” tanya wartawan yang lain.
Kepala Kyuhyun menggeleng, senyuman bangga terus ia tunjukkan. “Aku tidak pernah merasa cemburu pada apapun. Pada jadwal maupun lawan mainnya, karena aku tahu hati istriku hanya untukku.”
“Hye Hee-ssi, apakah selama ini suamimu pernah melarangmu melakukan kegiatan di industri hiburan?” seorang wartawan wanita berkacamata bulat bertanya pada Hye Hee.
“Aku begitu beruntung. Selama hampir dua tahun kami menikah Kyuhyun tidak pernah melarangku melakukan pekerjaan apapun.” Hye Hee menoleh pada suaminya, tersenyum penuh syukur pada pria yang juga tersenyum sayang padanya. “Dia benar-benar suami yang luar biasa untukku. Aku beruntung menikah dengannya.”
Pengakuan Hye Hee mendapatkan kecupan singkat dari Kyuhyun, dan hal itu semakin membuat para pewarta semangat mengabadikan momen romantis tersebut.
“Selama kalian menikah apa pernah kalian bertengkar karena sibuknya jadwal yang kalian berdua miliki?” wartawan wanita tadi bertanya lagi.
“Setiap pasangan menikah pasti bertengkar. Karena pertengkaran itu sendiri bumbu dari sebuah pernikahan.”  Kata Kyuhyun santai, “bohong jika pasangan menikah tidak pernah bertengkar.”
“Meskipun kami bertengkar, kami selalu menemukan jalan untuk memperbaiki pertengkaran kami.” Ujar Hye Hee menyambung ucapan suaminya. “Dan biasanya setelah bertengkar maka kami akan merasa semakin mesra.” Tutupnya dengan wajah merona malu.
Setiap mata yang memandang akan merasa iri dengan keromantisan yang di tunjukkan pasangan itu. keduanya sama-sama menawan. Kyuhyun yang tampan serta Hye Hee yang begitu cantik, dan kehidupan rumah tangga mereka terlihat begitu natural di hadapan publik. Mereka memperlihatkan ke romantisan yang sewajarnya bukan sesuatu yang sengaja di buat-buat untuk menunjang popularitas mereka.
Setiap pertanyaan yang di lontarkan akan segera mendapatkan jawaban yang memuaskan bahkan mampu menimbulkan tawa di antara pada pemburu berita itu, sampai seorang pewarta menanyakan sebuah pertanyaan yang membuat seluruh orang terdiam karena rasa ingin tahu.
“Kalian sudah hampir dua tahun menikah, dan sampai saat ini belum ada tanda kalau Hye Hee-ssi akan segera memberikan keturunan.” Ujar wartawan itu, raut wajahnya begitu penasaran dengan jawaban yang akan ia dengar dari pasangan di depannya. “Apakah kalian memang sengaja menunda memiliki keturunan, karena saat ini Hye Hee-ssi sedang berada di puncak popularitas?”
Pertanyaan itu seperti bom yang di lemparkan ke tengah-tengah mereka.  Karena baik Kyuhyun maupun Hye Hee terdiam secara bersamaan, menatap kosong pada kumpulan pemburu berita di hadapan mereka.
Kediaman Kyuhyun dan Hye Hee di gunakan oleh para wartawan yang memang sangat penasaran dengan hal itu. Dan mereka semakin gencar melontarkan pertanyaan pada Kyuhyun dan Hye Hee.
“Aku sempat mendengar bahwa kau memiliki masalah dengan kesuburanmu, apakah itu benar Kyuhyun-ssi?” Wartawan berkepala botak dan bertubuh cukup gempal bertanya dengan serius.
“Apakah hal ini ada hubungannya dengan masa lalumu yang mengatakan kalau kau bukanlah laki-laki seutuhnya?” tanya wartawan yang lainnya, berusaha membongkar berita masa lalu Kyuhyun sebelum ia menikah dengan Hye Hee, dimana saat itu ia di katakan sebagai pria yang  menyukai sesama jenis.
“Hal itu tidak benar.” Hye Hee langsung menyela begitu seseorang berusaha membongkar cerita masa lalu Kyuhyun yang tidak benar. “Suamiku benar-benar seorang pria. Aku bisa menjamin hal itu.” Tandasnya.
“Lantas kenapa sampai saat ini kau belum memberikan penerus untuk JH Entertainment?”
“Kenapa aku belum memberikan keturunan sampai saat ini tidak ada hubungannya dengan masa lalu suamiku.” Jawab Hye Hee  lantang. “Tidak ada unsur sengaja menunda keturunan atau apapun, aku dan Kyuhyun sangat berharap hadirnya seorang anak di dalam keluarga kecil kami.”
“Kami terus berusaha untuk mendapatkan keturunan.” Sela Kyuhyun. “Kapanpun kami memiliki waktu, maka kami akan menggunakannya untuk memperoleh keturunan. Bahkan kami bisa melakukannya berkali-kali dalam satu kali kesempatan.” Kyuhyun tertawa karena leluconnya sendiri lalu seluruh yang mendengar termasuk wartawan di depan mereka juga ikut tertawa. “Tapi mungkin Tuhan belum mempercayakannya pada kami. Aku berharap kalian sedikit bersabar menanti kami memberikan seorang penerus untuk JH Entertainment.”
Lalu setelah selesai dengan ucapannya, Kyuhyun menggiring Hye Hee segera masuk ke dalam gedung pemutaran filmnya, meninggalkan para wartawan yang masih ingin menanyakan banyak hal pada mereka. Namun Kyuhyun sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi di depan para wartawan dan mendengar pertanyaan yang hanya akan memancing amarahnya saja.
Pertanyaan wartawan mengenai keturunan dan berita bohong masa lalunya hampir membuat ia kehilangan kendali, untungnya Hye Hee segera menyela dan memberikan jawaban sebelum ia meledak marah.
***
Pukul dua dini hari Kyuhyun dan Hye Hee tiba di rumah mewah mereka. Setelah pemutaran film yang sangat sukses karena banyaknya respons positif yang mereka terima, Kyuhyun dan Hye Hee melibatkan diri mereka di pesta perayaan pemutaran film tersebut. Dan baru pulang setelah pesta perayaan selesai.
Namun suasana hati Kyuhyun sangat buruk. Pria itu terus diam dalam perjalan mereka pulang ke rumah. Bahkan Hye Hee cukup yakin kalau Kyuhyun tidak menikmati pesta perayaan tadi.
“Ada yang  mengusik pikiranmu?” tanya Hye Hee, memeluk punggung Kyuhyun dan menyandarkan wajahnya di bahu pria itu. “Jangan dengarkan apa yang di katakan wartawan tadi, mereka sengaja melakukannya untuk membuatmu terlihat buruk.”
Kyuhyun berbalik melepaskan pelukan Hye Hee di bahunya. Ia meremas bahu wanita itu lembut. “Tapi aku memang merasa buruk.” Gumamnya, gurat frustasi tampak jelas di matanya.
“Kau tidak seburuk itu sayang.” Hye Hee membelai sudut kanan bibir Kyuhyun. “Malah kau yang terbaik.”
Kyuhyun menggeleng tidak setuju. “Aku rasa mereka benar, ada sesuatu yang salah denganku, makanya sampai saat ini kau belum hamil.”
Sebuah perasaan bersalah menyerang Hye Hee langsung ke dalam hatinya yang paling dalam. Kyuhyun menyalahkan dirinya sendiri karena tidak mampu membuat ia mengandung anak pria itu.
“Kau tidak berhak menyalahkan dirimu sendiri.” Kata Hye Hee berusaha meredakan rasa bersalah Kyuhyun. “Dalam hal ini aku juga terlibat. Bagaimana kalau ternyata aku yang bermasalah?”
Helaan berat napas Kyuhyun mengenai wajah Hye Hee. Pria itu menatap lurus wajah istrinya yang terus tersenyum menenangkan padanya. “Aku rasa sudah saatnya kita berkonsultasi mengenai masalah ini.”
“Konsultasi?” Hye Hee menyadari nada suaranya yang gugup, hingga menimbulkan kernyit bertanya di wajah Kyuhyun. “Kita akan melakukannya, jika memang di perlukan.”
“Ya hal itu memang diperlukan.” Kyuhyun merapatkan jarak mereka, mengkungkung kedua wajah Hye Hee dengan kedua telapak tangannya, menarik wajah wanita itu ke atas, lalu melumat bibir wanita itu dalam. “Aku membutuhkan seorang anak dalam keluarga kita. Bukan hanya sebagai pembuktian kepada media bahwa aku ini pria sejati, tapi aku juga ingin melihat bagaimana wajah seorang penerusku.”
Dan Kyuhyun kembali melanjutkan ciuman mereka yang terlepas beberapa detik lalu, menekankan mulutnya ke dalam mulut Hye Hee, mencium bibir atas dan bawah wanita itu secara bergantian. Menyusupkan lidahnya begitu Hye Hee membuka mulutnya, membelai ke dalam mulut wanita itu dengan lidah nakalnya.
Hye Hee tidak pernah bisa menolak ciuman Kyuhyun, bukan hanya ciuman, ia juga  merasakan gairah pria itu yang begitu membutuhkan dirinya. Tak mau membuat Kyuhyun semakin kecewa, Hye Hee menarik kepala pria itu, menekankan ciuman mereka semakin dalam, membelai ujung rambut Kyuhyun di sekitar leher pria itu, memberikan respons yang positif.
“Aku ingin melakukannya sepanjang malam ini.” Bisik Kyuhyun sembari menyeringai, lalu mendorong tubuh Hye Hee ke atas ranjang mereka.
***
Setelah memastikan bahwa Kyuhyun tertidur akibat kelelahan karena percintaan yang mereka lakukan sepanjang sisa malam, Hye Hee berusaha menarik tubuhnya untuk bangun dari pelukan Kyuhyun.
Perlahan ia menggeser tangan Kyuhyun yang memeluk tubuhnya, lalu bangkit dari atas tempat tidur mereka, mengambil kemeja Kyuhyun yang berada di lantai lalu berjalan ke dalam kamar mandi. Di dalam kamar mandi, Hye Hee membuka lemari tempat ia menyimpan semua perlengkapan mandinya, mengeluarkan sebuah botol kaca berwarna cokelat, membuka botol tersebut dan mengeluarkan dua buah pil dari dalamnya. Hye Hee menelan pil itu sekaligus, lalu mengambil air dari wastafel menggunakan telapak tangannya untuk mendorong pil itu masuk ke dalam kerongkongannya.
Botol di tangan Hye Hee bergetar, karena tangannya yang bergetar sambil memegang botol itu. Ia merasa bersalah setelah meminum pil dari dalam botol itu, tapi ia juga tidak bisa menghentikan dirinya untuk melakukan itu. setidaknya untuk saat ini, ia belum siap dengan risiko yang di terimanya jika ia tidak meminum pil tersebut.
Hye Hee kembali memasukkan botol itu ke dalam lemari miliknya, menyembunyikannya di balik botol vitamin rambutnya, untuk menyamarkan botol itu. beruntung lemari perlengkapan mandi miliknya dan Kyuhyun berbeda hingga Kyuhyun tidak pernah mengetahui tentang botol itu meskipun ia telah mengkonsumsinya selama pernikahan mereka, meskipun begitu ia tidak mau menghadapi masalah dengan tidak menyembunyikan letak botol tersebut.
***
“Kau sudah bertemu Kyuhyun?” Tanya Sungmin begitu Hye Hee terlihat di dalam kantornya. “Sejak tadi Kyuhyun mencarimu.”
“Belum, aku baru selesai menyusun jadwalku dengan produser Jang.” Hye Hee meletakkan map di atas meja Sungmin. “Ini jadwal meet and great bersama penggemar. Tidak semua event bisa kuikuti, karena beberapa jadwal terbentur dengan jadwal pemotretanku.”
“Kenapa kau melakukan penyusunan jadwal tanpa mengatakannya padaku?” Sungmin meraih map yang berisikan jadwal Hye Hee, dan mulai membacanya.
“Aku sudah mencarimu tadi, tapi Shin Young bilang kau sedang rapat dengan Kyuhyun dan beberapa manager lainnya.”
Hye Hee diam dan membiarkan Sungmin membaca jadwal yang telah ia susun sendiri tanpa di dampingi pria itu.
“Dari sepuluh event yang di rencanakan, kau hanya bisa menghadirinya lima kali.” Sungmin bergumam masih terus membaca. “Ada berapa pemotretan yang akan kau lakukan bulan ini?”
“Shin Young-ah.” Hye Hee berteriak memanggil asistan pribadinya. “Berapa pemotretan lagi yang harus aku lakukan bulan ini?” tanyanya begitu gadis asistan pribadinya itu masuk ke dalam kantor Sungmin.
“Hye Hee eonnie punya enam kali pemotretan lagi.” Shin Young membuka buku catatan jadwal miliknya. “Pemotretan untuk Smoothy kosmetik di lakukan selama satu minggu, karena tempat pemotretan yang di lakukan di luar daerah, lalu pemotretan untuk majalah Allure di lakukan di Incheon, pemotretan untuk sponsor perusahaan di lakukan di….”
“Sudah-sudah kau tidak perlu menjelaskan semuanya.” Potong Sungmin merasa bosan dengan penjelasan Shin Young. “Kapan pemotretan di luar daerah itu akan di lakukan?”
Shin Young memeriksa lagi catatannya. “Lusa aku dan Hye Hee eonnie harus segera berangkat.”
“Dimana tempatnya?” Tanya Sungmin lebih memastikan.
“Pulau Hongdo.”
Jawaban terakhir Shin Young memuaskan Sungmin, lalu ia segera menyuruh gadis itu keluar dari kantornya.
“Apa kau tidak terlalu banyak menerima pekerjaan?” Sungmin bertanya setelah Shin Young keluar.
“Bukankah biasanya juga seperti itu?”Hye Hee melontarkan kembali pertanyaan pada Sungmin.
“Ya, tapi…” Sungmin menarik napas, dan mengembuskannya perlahan. “Apa kau dan Kyuhyun tidak ingin memiliki waktu lebih banyak untuk… ya kau tahu maksudku, kan?”
“Untuk bercinta agar kami memiliki anak begitu?” ujar Hye Hye Hee blak-blakkan.
“Apa kau tidak bisa mengatakannya dengan lebih halus?” wajah Sungmin berkerut mendengar ucapan terus terang Hye Hee.
Hye Hee terlihat di peduli dengan kerutan di wajah Sungmin tentang perkataannya. Wanita itu mengambil ponselnya, memeriksa pesan ataupun telepon yang tidak terjawab olehnya.
“Cobalah mengurangi jadwalmu, dan pergi berbulan madu dengan Kyuhyun.” Sungmin menyarankan. “Siapa tahu bulan madu kalian kali ini akan membuahkan hasil.”
“Tidak selama aku masih meminum obat itu.” ucap Hye Hee dalam hati. “Akan aku pikirkan.” Katanya masih terus memeriksa pesan di ponselnya.
“Aku membaca kejadian di red karpet saat pemutaran filmmu saat itu, dan aku rasa pertanyaan wartawan itu begitu keterlaluan. Tidak seharusnya mereka mengungkit masa lalu Kyuhyun yang jelas-jelas tidak benar.”
Telunjuk Hye Hee berhenti menyentuh layar sentuh ponselnya setelah mendengar ucapan prihatin Sungmin untuk suaminya.
“Kyuhyun baik-baik saja, tidak perlu khawatir.” Hye Hee memaksakan senyumannya. “Kami sudah membicarakannya berulang kali. Kau tenang saja.”
“Baiklah…” Sungmin menganggukkan kepalanya, menyadari bahwa Hye Hee tidak suka dengan pembicaraan mereka. “Aku yakin kau dan Kyuhyun sudah memiliki jalan keluarnya.”
Senyum terpaksa kembali Hye Hee tunjukkan untuk menutup pembicaraan mereka.
***
“Sial, bagaimana mungkin aku bisa lupa membelinya.” Berulang kali Hye Hee mengumpat sambil memegangi botol obat di tangannya. “Tidak seharusnya aku lupa.” Ujarnya panik. Sambil memegang botol di tangannya, ia berjalan mondar mandir di dalam kamar mandi, berpikir bagaimana caranya ia mendapatkan obat itu malam ini.
Kyuhyun sedang berada di rumah, tidak mungkin ia keluar sekarang juga untuk membeli obat tersebut, dan lagi pula obat itu bukanlah sembarang obat yang bisa ia beli tanpa resep dari dokter. Kesal dengan kelalaiannya, Hye Hee menjambak rambutnya sendiri. Malam ini Kyuhyun akan memaksanya bercinta sepanjang malam, tanpa membiarkan ia bernapas tenang sejenak.
Semenjak kejadian di pemutaran filmnya waktu itu, Kyuhyun semakin gencar bercinta dengannya, kapanpun pria itu memiliki waktu, ia akan memaksa Hye Hee melayaninya.
Ketika Hye Hee berbalik membelakangi pintu kamar mandi, Kyuhyun masuk ke dalam kamar mandi. “Sayang apa yang kau lakukan?”
Tubuh Hye Hee refleks berputar ke arah depan karena terkejut dengan sapaan Kyuhyun.
“Kau sakit?” Kyuhyun mendekat lalu meletakkan punggung telapak tangannya di dahi Hye Hee.
“Bukan, a….aku baik-baik saja.” Jawabnya dengan mengendalikan rasa gugup, takut dan terkejutnya.
Kyuhyun mendesah lega. “Syukurlah, aku kira kau sakit karena kelelahan.” Mata Kyuhyun menatap lekat wajah Hye Hee, memperbaiki tatanan rambut wanita itu, menyingkirkan poni yang berantakan dari dahi Hye Hee.
Hye Hee berusaha menarik mulutnya untuk tersenyum pada Kyuhyun, tapi entah kenapa rasanya ia sulit melakukan hal itu. “Kau sudah selesai bekerja?” tanyanya.
“Sudah.” Jawab Kyuhyun, telapak tangan besarnya masih terus memperbaiki rambut Hye Hee. “Dan aku sudah siap untuk pekerjaan berikutnya.” Ia mendekatkan bibirnya di telinga Hye Hee. “Bercinta denganmu.” Bisiknya seduktif.
Tubuh Hye Hee meremang lemah mendengar bisikan itu, ia sudah menebak tujuan Kyuhyun menyusulnya ke dalam kamar mandi, karena pria itu akan segera menuntut haknya. Hye Hee akan dengan senang hati melayani pria itu jika botol obat di dalam tangannya saat ini berisi, namun botol itu kosong. Dan hal itu membuat ia berat untuk memenuhi kewajibannya.
Kyuhyun tidak sabar menunggu hingga mereka keluar dari kamar mandi untuk menciumi Hye Hee. perlahan pria itu mulai menjalankan aksinya. Ia menciumi Hye Hee, mulai dari pipi Hye Hee, lalu turun ke leher Hye Hee. Mengecap rasa di seluruh permukaan leher wanita itu, membuat Hye Hee dengan terpaksa mendongakkan lehernya karena Kyuhyun terus menyurukkan wajahnya ke bawah lehernya.
Mengecup, membasahi leher Hye Hee dengan salivanya, kemudian menghisapnya pelan. Pekerjaan itu begitu menghanyutkan bagi Kyuhyun. Tangan Kyuhyun menarik tangan Hye Hee agar memeluk tubuhnya, dan sesuatu di tangan Hye Hee membuat ia membuka matanya untuk melihat ke dalam genggaman tangan Hye Hee. “Botol apa ini?”
“Hanya botol vitamin biasa.” Hye Hee menarik tangannya secepat mungkin dari genggaman Kyuhyun, lalu membuang botol di tangannya ke dalam tong sampah.
Pandangan Kyuhyun jatuh pada botol yang teronggok di dalam tong sampah tersebut dengan rasa sedikit curiga. “Kau yakin itu hanya vitamin biasa?” Kyuhyun membungkuk untuk memungut botol itu, namun Hye Hee segera menahannya.
“Itu hanya vitamin untuk daya tahan tubuhku.” Cegah Hye Hee sebelum Kyuhyun sampai mengutip kembali botol obatnya. “Akhir-akhir ini aku begitu mudah terkena flu.”
“Oh begitu. Kau harus terus memperhatikan kesehatanmu nyonya besar.” Kyuhyun kembali berdiri dan langsung menarik Hye Hee ke tubuhnya. “Aku sudah tidak sabar, ayo kita lanjutkan pekerjaan kita. “ Katanya dan langsung mencium Hye Hee dengan keras.
***
Hye Hee benar-benar tidak bisa menikmati percintaan mereka malam tadi. Hatinya terus di liputi perasaan khawatir. Hingga paginya ia bangun sangat cepat, dan langsung menelepon dokter kandungan yang selama ini meresepkan obat kontrasepsi itu padanya. Hye Hee mengutip kembali botol obat yang sudah di buangnya, meremas botol itu kuat. Setelah ini ia harus segera membuang botol itu jauh dari rumah.
“Apa kau bilang, kau sedang di Singapura?” teriaknya tidak sadar setelah mengetahui keberadaan dokternya saat itu. “Aku kehabisan obatku, dan kau sedang di luar negeri. Lalu bagaimana aku mendapatkan obat itu tanpa resep darimu.”
Rasa gelisah semakin menyelimuti Hye Hee, hingga ia tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang di katakan dokternya itu. “Kapan kau pulang? Apa? Minggu depan?” lagi-lagi ia berteriak di dalam kamar mandinya. “Aku tidak mungkin menunggu selama itu. Aku dan Kyuhyun baru saja bercinta tadi malam, dan aku tidak punya obat penawarnya. Kau tahu sendiri bagaimana gencarnya Kyuhyun akhir-akhir ini, aku akan segera hamil jika aku tidak meminum obat kontrasepsi itu!”
Dan seluruh organ dalam tubuh Hye Hee berhenti bekerja selama beberapa detik ketika ia berbalik dan menemukan Kyuhyun berdiri di belakangnya. Entah sejak kapan pria itu masuk ke dalam kamar mandi dan entah sudah berapa banyak yang Kyuhyun dengar dari pembicaraannya.
Tangan Hye Hee seperti kehilangan seluruh tulangnya, hingga ponsel di telinganya jatuh begitu saja menghantam lantai. “Kyu… k… kau…” menatap wajah tidak bersahabat Kyuhyun yang menatapnya, cukup menjelaskan bahwa Kyuhyun sudah mendengar terlalu banyak dari pembicaraannya, bahkan mungkin Kyuhyun mendengar semua pembicaraannya.
Perlahan tapi pasti Kyuhyun mendekati Hye Hee. setiap langkah kaki pria itu menjadi ancaman untuk Hye Hee. Wanita itu mundur menjauhi Kyuhyun, namun langkah Kyuhyun lebih cepat hingga pria itu bisa segera menggapainya. “Apa yang baru saja kau katakan di telepon tadi?”
“Kyu…a…aku…” ucapan Hye Hee terputus-putus. “Aku akan mengatakan semuanya padamu…”
“Obat kontrasepsi katamu?” suara Kyuhyun pelan, namun mampu membuat Hye Hee bergidik takut. “Jadi selama ini kau mengkonsumsi obat terkutuk itu?” Suara Kyuhyun meledak di dalam kamar mandi mereka.
Hye Hee bergetar ketakutan di bawah tatapan mengintimidasi Kyuhyun. Teriakan kemarahan pria itu semakin membuat ia kehilangan nyali.
“Apa kau tahu apa yang sudah kau lakukan dengan meminum obat ini?” Kyuhyun merampas paksa botol obat di tangan Hye Hee. “Karena obat sialan ini, kau membuat aku seperti pria mandul bodoh yang selalu di tipu oleh istrinya sendiri.”
“Kyu aku tidak bermaksud seperti itu.” Hye Hee berusaha menyentuh Kyuhyun, namun ia urungkan karena Kyuhyun menatap tajam pergerakan tangannya yang akan menyentuh pria itu.
“Lalu apa tujuanmu meminum obat ini?” botol di dalam tangannya Kyuhyun dekatkan ke depan mata Hye Hee. “Obat ini membuat aku di hujat oleh banyak orang karena mereka berpikir aku pria mandul yang tidak bisa menghamili istriku sendiri!” Kyuhyun membanting botol obat itu sekuat tenaganya ke lantai kamar mandi, hingga serpihan botol kaca itu terserak ke seluruh lantai kamar mandi.
“Dengarkan aku dulu.” Hye Hee menarik kedua bahu Kyuhyun. “Aku tidak pernah berniat membuatmu menjadi seperti itu, aku bersumpah.” Bibir Hye Hee bergetar hingga ia sulit mengumpulkan setiap kata-katanya. “Aku meminum obat itu karena aku belum siap, jika aku  memiliki anak.”
“Belum siap katamu?” Kyuhyun tertawa dingin. “Lalu bagaimana dengan aku? Apa kau pernah memikirkan bagaimana perasaanku?”
“Aku tahu kau sangat ingin memiliki anak, tapi aku tidak bisa meyakinkan diriku sendiri kalau aku akan sanggup memiliki anak.”
Kyuhyun melepaskan tangan Hye Hee secara kasar dari bahunya. “Kau hanya memikirkan dirimu sendiri Shin Hye Hee, kau egois.” Kyuhyun menekankan setiap ucapannya. “Kau tahu aku sampai mengira bahwa aku benar-benar mandul. Aku sudah hampir gila memikirkan bahwa aku adalah pria gagal, yang tidak akan bisa menghasilkan keturunan!”
Hye Hee sering mendengar dari karyawan di kantor Kyuhyun maupun pelayan di rumah mereka bagaimana mengerikannya Kyuhyun, ketika pria itu marah. Tapi melihat Kyuhyun marah langsung di hadapannya, ini adalah pengalaman pertama yang Hye Hee bersumpah tidak ingin melihatnya lagi di sisa hidupnya.
Pria itu benar-benar mengerikan. Mata Kyuhyun tajam, hingga mampu menembus jantung Hye Hee, membuat organnya itu nyeri setiap kali berdetak. Wajah Kyuhyun merah karena amarahnya, tangan-tangan kekar Kyuhyun yang biasanya memeluk tubuhnya dengan lembut, kini terasa kasar dan panas.
“Kyu… aku… aku tidak pernah berniat membuatmu seperti itu.” Tidak tahu sejak kapan Hye Hee menyadari dirinya sudah terisak.
“Kau memang tidak berniat, tapi kau sudah melakukannya.” Ucap Kyuhyun telak.
Hye Hee kembali menarik tangan Kyuhyun, menggenggam tangan pria itu dengan kedua tangannya. “Semuanya terjadi begitu tiba-tiba di hidupku. Pertemuan kita, pernikahan kita lalu perasaan cinta kita.” Dengan air mata yang membayangi penglihatannya, Hye Hee menatap Kyuhyun dengan penuh harap. “Karena semuanya sangat tiba-tiba, aku begitu takut pada diriku sendiri jika aku juga memiliki anak dalam waktu yang sangat cepat. Aku tidak yakin kalau aku bisa menjadi seorang ibu. Aku tidak tahu bagaimana caranya menjadi ibu, aku tidak tahu bagaimana caranya merawat anak. Aku… aku…”
“Kita bisa melakukannya bersama.” Sela Kyuhyun pelan. “Seharusnya kau bertanya padaku, bagaimana jika akhirnya kau hamil, agar kita bisa memikirkan masalahnya bersama dan menemukan jalan keluarnya bersama.” Kyuhyun tertawa pelan, kecewa, marah menumpuk dalam tawanya. “Tapi yang terjadi  kau  malah meminum obat kontrasepsi dan membuat aku terlihat seperti pria mandul yang malang.”
Tangis Hye Hee semakin deras. Ia menggenggam tangan Kyuhyun dan memeluknya di dadanya. Penyesalan begitu mendalam ia rasakan. Ia tidak menyangka bahwa Kyuhyun begitu terpuruk karena kesalahan yang ia buat. Kyuhyun merasa dirinya bukan pria normal, dan Kyuhyun menyalahkan diri sendiri untuk hal itu.
“Maafkan aku, aku mohon maafkan aku.” Kata Hye Hee dalam tangisnya. “Aku salah, aku tidak tahu kalau tindakanku akan menyakitimu begitu dalam.”
“Kau egois Shin Hye Hee kau egois.” Kyuhyun menarik tangannya dari kungkungan Hye Hee, meninggalkan rasa hampa pada wanita itu.
Kepala Hye Hee menggeleng dan yang bisa ia lakukan hanyalah menangis penuh penyesalan.
“Kau sudah merusak kepercayaan yang aku berikan padamu.” Mata Kyuhyun memerah karena ia juga menahan tangisnya sendiri. Rasa sakit begitu menusuk dadanya. Selama ini ia begitu menyalahkan dirinya sendiri, menuduh dirinya sendiri pria mandul. Hingga ia merasa malu pada Hye Hee. karena sekeras apapun ia mencoba, tetap saja Hye Hee tidak pernah hamil. Tapi ternyata seluruh perasaan itu timbul karena ke egoisan istrinya. Kyuhyun tidak bisa menutupi kekecewaan dalam dirinya.
“Aku kecewa padamu, sangat.” Ucap Kyuhyun menurunkan pandangannya dari wajah Hye Hee, karena ia tidak bisa terus melihat wajah menangis dan menyesal wanita itu. Ia cukup marah untuk memaafkan Hye Hee begitu saja. Karena wanita itu sudah melukainya terlalu dalam. Kyuhyun memungut ponsel Hye Hee yang tergeletak di lantai, lalu keluar dari kamar mandi mereka meninggalkan Hye Hee yang terus menangis meratapi kesalahannya.
***
Seminggu kemudian Kyuhyun menemui dokter kandungan yang menjadi tempat konsultasi Hye Hee selama ini. Ia berhasil mendapatkan nomor ponsel dokter itu dari ponsel Hye Hee yang ia ambil setelah pertengkeran mereka. Kyuhyun segera menelepon dokter itu dan mengatur pertemuan mereka setelah dokter yang bernama Choi Yi Ra itu  kembali dari perjalanan luar negerinya.
“Jadi obat apa yang sudah kau berikan pada istriku?” tanya Kyuhyun tanpa basa basi begitu mereka bertatap muka.
“Sebelumnya aku minta maaf padamu.” Ujar Yi Ra penuh sesal. “Aku sudah memperingatkan Hye Hee untuk tidak meminum obat itu, tapi dia bersikeras.”
“Aku tidak butuh permintaan maaf ataupun penjelasan darimu.” Kata Kyuhyun datar, sedatar wajahnya saat ini. “Yang aku butuhkan jawaban dari pertanyaanku sebelumnya.”
Dokter wanita itu mengkerut ngeri dengan ucapan Kyuhyun. “Lovonogestrel, pil kontrasepsi darurat.”
“Jelaskan.” Suruh Kyuhyun.
“Pil itu di konsumsi paling lambat 72 jam setelah berhubungan suami istri. Hye Hee meminum pil itu karena ia tidak mungkin memintamu menggunakan pengaman saat kalian berhubungan.” Yi Ra memberanikan dirinya menatap wajah Kyuhyun yang saat ini siap untuk menerkam apapun yang ada di hadapannya.
“Jadi itu alasan kenapa dia selalu bangun setelah kami bercinta?” Kyuhyun bergumam pada dirinya sendiri. Ia baru menyadari kenapa selama ini Hye Hee selalu berusaha bangun setelah percintaan mereka, selama ini ia hanya berpikir Hye Hee butuh ke kamar mandi bukan meminum obat laknat itu.
Dokter wanita di hadapan Kyuhyun mengangguk membenarkan.
“Berengsek.” Kyuhyun mengepalkan telapak tangannya marah. Ia menemui Yi Ra karena ingin mengetahui obat yang sudah di minum istrinya, namun semakin ia tahu semakin ia merasa marah.
“Aku benar-benar minta maaf.” Yi Ra kembali meminta maaf pada Kyuhyun, setulus hatinya. “Aku tidak tahu kalau masalahnya akan menjadi seberat ini.”
Kyuhyun mengabaikan permohonan maaf dokter itu begitu saja. Ia takut jika ia bersuara maka sesuatu yang buruk akan terjadi. Ia bisa saja memaki Yi Ra karena bagaimanapun pertengkeran mereka tidak akan terjadi jika Yi Ra tidak menuruti kemauan Hye Hee. Namun akhirnya Kyuhyun membuka suaranya sebelum ia meninggalkan Yi Ra. “Seharusnya kau tidak pernah memberikan istriku pil laknat itu.”
***
Kemarahan adalah sesuatu yang sangat sulit untuk Kyuhyun kendalikan. Apalagi kemarahan yang ia rasakan saat ini begitu menghancurkan hati dan harga dirinya sebagai seorang pria. Namun di balik kemarahannya itu, Kyuhyun tidak bisa menyembunyikan kerinduannya pada Hye Hee. ia merindukan hangat tubuh wanita itu, rasa tubuh Hye Hee di tubuhnya, rasa manis bibir Hye Hee dan inti utama dari keselurahan adalah ia rindu rasa percintaan mereka.
Sudah lebih dari dua minggu ia tidak menyentuh Hye Hee, tidak merasakan kulit wanita itu pada kulitnya. Mengingat hal itu membuat ia mengerang karena ia harus menahan hasrat pada istrinya sendiri.
Jam di kantornya sudah menunjukkan pukul dua belas malam, namun Kyuhyun tidak berniat untuk segera pulang. Ia benci mengakui dirinya begitu lemah jika sudah berhadapan dengan Hye Hee. Seandainya wanita tahu bagaimana ia menahan dirinya agar tidak menarik wanita itu kedalam pelukannya dan mengajaknya bercinta sepanjang malam. Tapi tidak, ia tidak akan melakukan itu, karena ia masih begitu marah pada Hye Hee.
Malam ini Kyuhyun kembali menghindari Hye Hee, dengan lagi-lagi tidak pulang ke rumah mereka. Ia lebih memilih menginap di hotel daripada pulang ke rumah dan menyaksikan istrinya tidur tapi tidak bisa menyentuhnya. Bukan tidak bisa, tapi harga dirinya sebagai pria yang terluka melarangnya melakukan itu.
Sementara itu di kamarnya yang besar Hye Hee merasakan hampa yang begitu besar. Lagi-lagi malam ini Kyuhyun tidak pulang. Semenjak pertengkaran mereka, Kyuhyun benar-benar menghindari dirinya. Kyuhyun tidak pernah lagi meneleponnya, mengiriminya pesan bahkan saat mereka bertemu dengan sengaja Kyuhyun tidak mau melihatnya.
Tidak ada yang bisa Hye Hee lakukan selain menangis. Ia menangisi kebodohannya yang sudah membuat Kyuhyun kecewa padanya. Dan kekecewaan yang ia berikan pada Kyuhyun tidak akan termaafkan. Ia sadar akan hal itu.
Malam ini ia akan kembali sendiri di dalam kamar mereka. Tanpa Kyuhyun yang akan memeluknya, dan mengajaknya bercinta seperti malam-malam indah yang dulu mereka miliki.
Hye Hee tertidur akibat kelelahan menangis dan paginya ia terbangun dengan mata yang bengkak. Namun ia tidak peduli dengan matanya yang  bengkak. Hye Hee tetap datang ke kantor, menemui Sungmin untuk membahas jadwal kerjanya.
“Apa yang terjadi dengan matamu?” Sungmin berseru terkejut begitu Hye Hee muncul di kantornya dengan mata sembab dan wajah wanita itu tidak berwarna. “Kau menangis?”
“Sepanjang malam.” Sahut Hye Hee murung.
“Kau bertengkar dengan Kyuhyun?” tebak Sungmin.
Hye Hee mengangguk. “Sudah lebih dari dua minggu.” Jawabnya, ia belum menceritakan pada Sungmin tentang pertengkarannya dengan Kyuhyun, karena ia tahu Sungmin akan memarahi dirinya. Tapi sepertinya kali ini ia tidak akan bisa mengelak lagi.
“Kalian bertengkar selama itu?” Sungmin bertanya tidak percaya. “Masalah apa?”
Hye Hee mendesah pasrah, mengambil tissue dari atas meja Sungmin, ia menyeka sudut-sudut matanya yang basah dan mulai menceritakan masalahnya pada Sungmin.
“Kalau itu yang kau lakukan, aku sepenuhnya mendukung Kyuhyun.” Kata Sungmin setelah mendengar cerita panjang Hye Hee tentang pil kontrasepsi yang menjadi pertengkaran wanita itu dengan suaminya. “Perbuatanmu benar-benar melukai harga dirinya sebagai pria.”
“Aku tahu, aku tahu.” Hye Hee membenarkan. Wanita itu terisak di sandaran sofa ruangan kerja Sungmin.
“Tidak ada gunanya kau menangis, tidak menyelesaikan apapun.” Komentar Sungmin tak acuh. “Bahkan aku bukanlah pria yang kau sakiti, tapi aku bisa merasakan bagaimana hancurnya Kyuhyun saat ini.” Sungmin menggeleng kesal. “Coba kau bayangkan, Kyuhyun sampai berpikir bahwa dia pria mandul.”
“Tidak ada yang bisa kulakukan selain menangis.” Timpal Hye Hee, ia juga lelah dengan keadaanya saat ini. “Aku ingin mengajak Kyuhyun berbicara, meminta maaf padanya, tapi dia melihatku saja enggan.”
“Pria akan susah memaafkan orang yang sudah merusak harga dirinya.” Sungmin menatap wanita yang menangis di depannya. “Apalagi jika hal itu di lakukan oleh istrinya sendiri.”
“Aku tahu Lee Sungmin.” Hye Hee menarik wajahnya dari bahu sofa. “Kau tidak perlu mengulanginya terus menerus.”
“Pulanglah, kau tampak mengerikan.” Kedua bahu Sungmin bergerak samar. “Tidak ada yang bisa kau lakukan dengan wajah bengkak seperti itu. aku akan mengatakan pada fotografer bahwa kau sedang sakit dan akan menyusun ulang jadwalmu.”
“Apa kau juga marah padaku?” tanya Hye Hee.
“Aku tidak punya hak untuk marah padamu.” Sungmin menarik napas dalam. “Aku hanya cukup terkejut dengan tindakanmu, dan sebagai temanmu aku ingin kau tahu bahwa kau salah, dan aku ingin kau berusaha memperbaiki kesalahanmu, sebelum Kyuhyun melakukan sesuatu yang akan membuatmu menyesal karena telah melukai harga dirinya.”
Entah kenapa ucapan Sungmin membuat Hye Hee takut. Ia sempat memikirkan hal mengerikan yang akan Kyuhyun lakukan untuk melampiaskan rasa marah dan kesalnya. “Apakah mungkin pria yang sudah menikah tidur dengan wanita lain karena kecewa pada istrinya?” tanpa sadar Hye Hee mengeluarkan isi pikirannya.
“Kenapa tidak mungkin. Hal itu sah-sah saja.”
Kepala Hye Hee mendongak kaku kepada Sungmin yang berdiri di hadapannya, dan ia langsung menggeleng. Ia tidak ingin Kyuhyun sampai melakukan hal itu. ia tidak bisa membayangkan suaminya mencari wanita lain yang bersedia mengandung anak pria itu lalu meninggalkan dirinya.
“Sebelum kau berpikir terlalu jauh, lebih baik kau berpikir bagaimana caranya memperbaiki hubungan kalian. Menarik kembali suamimu ke atas ranjang bersamamu, bukan ke atas ranjang wanita lain.”
Sebuah bantal sofa melayang ke wajahnya begitu Sungmin selesai dengan ucapannya. Hye Hee melemparkan bantal itu tempat ke wajahnya dengan keras, dan setelah itu wanita itu pergi begitu saja. Sungmin tertawa pelan, karena berhasil membuat Hye Hee menyesal dengan tindakannya.
***
Sudah hampir satu bulan dan Kyuhyun masih belum mau berbicara padanya, tidak ada interaksi yang mereka lakukan selama itu. Bahkan saling melirik pun tidak. Lebih tepatnya Kyuhyun yang tidak ingin melirik padanya.
Hye Hee baru saja selesai melakukan syuting iklan untuk kosmetik yang dibintanginya. Syuting yang sudah berlangsung selama dua hari itu selesai lebih cepat dari yang ia perkirakan. Dan Hye Hee tidak memiliki rencana apapun untuk menghabiskan sisa sorenya hari ini.
Mengambil ponselnya dari dalam tas, Hye Hee membuka aplikasi pesan dan mencari nama suaminya. Hari ini ia belum mengirimkan pesan untuk Kyuhyun. Meskipun Kyuhyun marah dan tidak akan membalas pesannya, namun ia selalu mengirimi Kyuhyun pesan untuk memberitahu suaminya apa yang sedang ia kerjakan setiap harinya dan ia tahu kalau pria itu pasti membaca setiap pesan yang ia kirim.
Sayang kau sudah selesai bekerja? Apa kau melewatkan makan siangmu dengan baik? Aku baru selesai syuting dan tidak mempunyai tujuan apapun setelahnya. Apa kau mau kalau aku menemui di kantor lalu kita pergi berjalan-jalan sebentar?
Pesan sudah ia kirimkan, dan setelah lima menit menunggu tidak ada suara notifikasi yang masuk ke ponselnya. Hye Hee memutar-mutar ponselnya lalu kembali mengetikkan pesan.
Ini hari ke 24 kau marah padaku, apakah aku benar-benar tidak bisa dimaafkan? Aku sudah berulang kali mengatakannya padamu kalau aku menyesal, dan aku mohon maafkan aku. Aku masih menunggu sampai kau siap memaafkan aku, dan selama menunggumu memaafkan aku, aku akan selalu mengganggumu dengan semua pesanku, karena aku terlalu takut untuk berbicara di depanmu, dengan caramu yang menatapku seperti itu.
Aku mencintaimu, selalu.
Seseorang menepuk bahunya, membuat Hye Hee berbalik setelah memasukkan ponselnya ke dalam tas. “Kerja yang bagus, Hye Hee-ssi.” Produsernya Kang Sung Joon menghampiri Hye Hee serta menjabat tangan wanita itu. “Kau selalu bisa membuat pekerjaan kami lebih cepat dari seharusnya. Kau benar-benar aktris yang profesional, aku selalu puas bekerja sama denganmu.” Puji Sung Joon jujur pada Hye Hee.
Pujian itu membuat Hye Hee merasa di hargai sebagai seorang aktris. Ia membungkuk sebagai rasa terima kasihnya. “Bukan hanya aku produser, tapi karena kerjasama kita sebagai tim yang baik.”
“’’Heumm… kau benar.” Gumam Sung Joon menepuk bahu Hye Hee sekali, lalu berpamitan. “Aku ucapkan terimakasih untuk kerja samanya, dan semoga kita mempunyai kerjasama yang lebih banyak lagi kedepannya.”
“Aku selalu menunggu panggilan syuting darimu.” Canda Hye Hee yang di iringi tawa ringan wanita itu, dan mengangguk ketika produser itu keluar dari kamar gantinya.
Begitu Kang Sung Joon pergi, Sungmin datang menemui Hye Hee sambil membawa sebuah kantongan kertas berwarna hijau tua dengan tulisan merek pakaian terkenal di depannya. “Kau sudah selesai berganti pakaian?”
Hye Hee mengangguk, dan kembali memasukkan beberapa perlengkapannya yang ada di atas meja rias ke dalam tas.
“Ini ada kenang-kenangan dari pemotretan hari ini.” Sungmin meletakkan kantongan kertas itu ke atas meja rias Hye Hee dan segera di ambi wanita itu, untuk memeriksa isinya.
“Lingerie?” Gumamnya setelah melihat dengan jelas isi kantongan tersebut.
Sungmin mengintipkan kepalanya ke dalam kantongan di tangan Hye Hee, lalu berujar. “Kau bisa menggunakannya untuk merayu suamimu.”
Hye Hee menurunkan kantongan itu ke sisi tubuhnya. “Kalau lupa, aku adalah wanita menikah yang sudah 24 hari tidak pernah di sentuh oleh suamiku.” Tandasnya tanpa rasa humor sedikitpun.
“Ya kalau begitu kau bisa menyimpannya sampai Kyuhyun mau menyentuhmu lagi.” Sungmin terkikik geli, menutup mulutnya agar tidak tertawa terlalu kuat karena Hye Hee memelototi dirinya dengan geram. “Ah ya, apa kau tahu kalau Kyuhyun ke Jepang?”
“Jepang?” Ulang Hye Hee terkejut. “Aku tidak tahu.” Gumamnya sambil merenung. Sebesar itukah Kyuhyun marah padanya, sampai pria itu tidak memberitahukan perjalanan pria itu ke luar negeri padanya. Apakah ia benar-benar tidak bisa di maafkan. Lalu untuk apa Kyuhyun pergi ke Jepang? Apakah pria itu akan menemui wanita lain selama pria itu berada disana. Apakah Kyuhyun akan mencari wanita yang bersedia mengandung anak pria itu? Itukah tujuan Kyuhyun pergi ke Jepang.
Tapi kalau hanya ingin mencari wanita yang bersedia mengandung anaknya, mengapa Kyuhyun harus ke Jepang. Bukankah di negara mereka juga akan banyak wanita yang bersedia menjadi simpanan pria itu.
Pikiran buruk itu segera Hye Hee halau dari pikirannya. Ia tidak mau pikirannya yang tidak sehat semakin membuat hubungan pernikahannya tidak sehat.
“Aku mau pulang.” Katanya lemas. Pantas saja Kyuhyun tidak membalas pesannya, mungkin Kyuhyun sedang berada di pesawat atau Kyuhyun sedang melakukan rapat hingga tidak membalas pesannya. Kyuhyun di Korea ataupun di Jepang sebenarnya tetap saja pria itu tidak akan membalas pesannya. Hye Hee mendesah pasrah.
“Kau yakin ingin pulang, tidak ingin pergi ke suatu tempat dulu?”
Hye Hee sudah kehilangan semangatnya untuk berjalan-jalan hari ini. Ia menggeleng sekali pada Sungmin lalu berjalan dengan lemas keluar dari ruang gantinya.
***
“Aku sedang tidak ingin di ganggu, jadi tolong jangan panggil aku untuk hal apapun.” Titah Hye Hee pada May kepala dapur di rumahnya. “Aku juga tidak ingin kalian memanggilku untuk makan malam, karena aku tidak ingin makan apapun. Dan minum apapun.” Tambahnya sebelum May sempat membantahnya dengan menawarkan makanan atau minuman yang bisa di siapkan untuknya dalam waktu secepat mungkin.
“Tapi nyonya, sepertinya anda butuh memakan sesuatu.” May menentang sedikit dari titah Hye Hee. Bagaimanapun ia bertanggung jawab penuh untuk memenuhi kebutuhan makanan Hye Hee. “Anda terlihat semakin kurus nyonya.”
Hye Hee memeriksa tubuhnya dengan melihat kedua lengannya secara bergantian dan ia mengakui perhatian May pada tubuhnya. Ia memang terlihat semakin kurus. “Terimakasih atas perhatianmu May, tapi aku benar-benar tidak ingin makan.”
“Tapi tuan akan marah jika tahu kalau anda sering melewatkan makanan anda nyonya.”
Mendengar Kyuhyun yang peduli tentang dirinya Hye Hee merasa hatinya terenyuh. Tapi bukan perhatian seperti itu yang ia butuhkan saat ini, ia butuh Kyuhyun langsung yang mengatakan hal itu padanya.
“Kalau begitu jangan katakan apapun padanya.” Ujarnya singkat lalu berjalan lesu menaiki tangga menuju kamarnya. Kepergian Kyuhyun ke luar negeri benar-benar membuat ia kehilangan semangat untuk menghabiskan sisa harinya. Padahal ia sudah berkhayal kalau sore ini ia bisa menemui Kyuhyun di kantor dan mengganggu pria itu. Tapi khayalan hanya akan berada dalam khayalan, karena pada akhirnya ia akan mendekam di dalam kamarnya.
Sampai di kamar Hye Hee membuang semua yang ada di tangannya ke atas sofa. Membuka kardigan abu-abunya dan membuangnya juga ke atas sofa. Kemudian ia mematut dirinya ke depan cermin rias miliknya. Memeriksa seluruh keadaan tubuhnya melalui bantuan cermin.
Hye Hee berputar ke kanan dan kiri untuk melihat setiap sisi tubuhnya. Tulang bahunya semakin terlihat menonjol, tulang selangkanya yang biasanya terlihat menawan kali ini terlihat mengerikan karena semakin menjorok keluar. Blus dengan tali halus putihnya juga ia buka dan membuangnya ke atas meja riasnya. Hye Hee memeriksa dadanya yang juga mengecil menurutnya dan perutnya yang bahkan terlihat cembung.
“Makan dua porsi bibimbap akan segera menambah berat badan.” Ujarnya sembari melepas celana pendeknya menampakkan paha kurusnya yang mulus. “Bukan masalah yang cukup serius.”
Teringat dengan kado yang di dapatnya hari ini, Hye Hee berlari mengambil kantongan hijau yang ia buang ke atas sofa. Membongkar isinya dan segera mencoba pakaian tidur itu. Sepasang pakaian dalam berwarna merah tua polos dan jubah berwarna merah tua yang transparan sudah terpasang di tubuhnya. Tersenyum puas di depan cermin, dengan hadiah yang di dapatnya.
“Sepertinya mereka cukup tahu seleraku.” Ia bergumam puas dengan pakaian seksi yang di kenakannya itu. Tapi kemudian rasa  puas itu berubah menjadi kesal ketika pikiran bahwa percuma saja ia mengenakan pakaian seksi seperti ini  jika tidak ada Kyuhyun.
Baru saja ia akan membuka pakaian tidur seksi itu, pintu kamarnya terbuka dan Hye Hee menggeram tidak suka.
“Bukankah sudah kukatakan kalau aku tidak ingin di ganggu.” Hye Hee berkata ketus dan berbalik dengan wajah tidak suka ke arah pintu. Dan sosok yang berdiri di depan pintu kamarnya membuatnya  menyesal telah mengatakan hal seperti itu. “Kyu, aku kira May yang membuka pintunya.” Dengan gerakan kikuk Hye Hee menarik jubah merahnya menutupi tubuh bagian depannya. Setitik rasa senang terbit di dalam hatinya.
Kyuhyun memasuki kamar dengan mengalihkan matanya dari Hye Hee. Ia tidak bisa mempercayai dirinya jika ia terus melihat ke arah wanita itu, apalagi saat ini wanita itu hanya mengenakan pakaian tipis sebagai penutup tubuhnya. Kyuhyun melewati sofa yang berantakan karena pakaian Hye Hee, dan melewati wanita itu yang masih berdiri tegang di depan meja rias.
“Kau sudah pulang dari Jepang?”
Hye Hee bertanya dan hal itu membuat Kyuhyun kehilangan sedikit kendali diri. Ia ingin diam dan mengabaikan wanita itu begitu saja, tapi entah kenapa yang terjadi malah ia berhenti melangkah tepat tiga langkah di depan Hye Hee.
“Aku tidak jadi pergi.” Kyuhyun menutup matanya untuk mengembalikan pikiran lurusnya. Bahkan sekarang pikirannya sudah berbelok, karena ia menjawab pertanyaan Hye Hee. Hal yang tidak pernah ia lakukan selama hampir satu bulan terakhir, berbicara dengan Hye Hee.
Mendengar Kyuhyun menjawab pertanyaannya membuat Hye Hee bersemangat. Wanita itu dengan pelan mendekati Kyuhyun. “Kau sudah makan malam?” satu pertanyaan lagi dan ia masih berharap kalau Kyuhyun akan menjawabnya lagi. Sebuah permulaan yang bagus untuknya.
Napas Kyuhyun memberat. Pikiran memeluk Hye Hee saat ini, mengeyahkan pakaian yang di pakai istrinya, menyentuh setiap lapisan kulit wanita itu, mencium bibir merahnya yang merekah, menyapukan seluruh lidahnya di tubuh wanita itu, semuanya berkumpul di dalam kepalanya begitu cepat. Napas Kyuhyun berat, ia tidak bisa berdiri lebih lama lagi di dekat Hye Hee. Jika keadaan mereka tidak sedang bertengkar ia tidak akan menahan dirinya sekuat ini.
“Kyu…”
Dan sentuhan Hye Hee di bahunya benar-benar membuat pertahanannya hancur menjadi debu tak berarti apapun. Kemarahannya menguap begitu saja. Kyuhyun memutar tubuhnya cepat, menarik wanita itu dan langsung mencium Hye Hee dengan keras dan dalam. Tubuh Hye Hee menegang dalam ciuman rakusnya. Ia membelai wajah wanita itu kasar, mengacak rambut yang terjurai di belakang kepala Hye Hee, menarik kepala wanita itu yang membuat mulut Hye Hee semakin masuk ke dalam mulutnya.
Kyuhyun melumat habis bibir Hye Hee, menyusupkan lidahnya secara liar yang di sambut Hye Hee dengan ciuman yang tak kalah liar. Keduanya begitu mendambakan ciuman itu, hingga tidak ada yang ingin melepaskan ciuman itu. Sama seperti Kyuhyun, Hye Hee juga merasa bahwa bibir Kyuhyun tidak cukup tepat di bibirnya, hingga ia menarik kepala pria itu agar semakin bisa merasakan bibir Kyuhyun yang terus melumat bibirnya.
Kerinduan Kyuhyun bukan hanya di bibir wanita itu saja. Ia juga ingin menyapa bagian yang lain dari tubuh Hye Hee. Meninggalkan bibir Hye Hee, Kyuhyun menyapa pipi hingga leher Hye Hee dengan lidahnya, dan berhenti ketika ia sampai di lekukan dada Hye Hee. Kyuhyun mengecup lekukan itu lama, menggoda dengan ujung lidahnya yang lembut.
Sambil terus mencium, Kyuhyun mendorong Hye Hee menuju tempat tidur mereka. Dan  langsung menyusul Hye Hee ke atas tempat tidur begitu wanita itu terlentang tidak berdaya di atas ranjang. Kyuhyun kembali menangkap bibir Hye Hee, menarik pinggul wanita itu ke atas, dan menggesekkannya dengan pusat tubuhnya yang sudah mengeras di balik celana panjangnya.
Perlakuan itu menimbulkan geraman nikmat di tenggorokan Hye Hee. Hal kecil yang memicu seluruh sel di tubuhnya bereaksi tidak biasa. Kyuhyun tersenyum ketika menyadari bahwa tindakannya membuat Hye Hee begitu lemah dibawahnya. Ia tahu wanita itu begitu rindu untuk ia  masuki sama seperti dirinya yang begitu rindu untuk segera memenuhi wanita itu.
Kyuhyun terus mencium dan menggoda Hye Hee dengan gesekan di pusat tubuh mereka yang masih berbalut pakaian membuat Hye Hee mengerang menahan rasa nikmat di pusat tubuhnya. Seluruh sarafnya bekerja mengantarkan gelenyar nikmat ke seluruh sel tubuhnya.
Merasa terganggu dengan jubah tidur Hye Hee, Kyuhyun menarik paksa jubah itu keluar dari tangan Hye  Hee.
“Aku baru saja mendapatkan gaun itu.” Protes Hye Hee karena Kyuhyun hampir merusak jubah merahnya.
Kyuhyun menyeringai, membuka jasnya dan membuangnya ke lantai, menarik dasi dan kemeja dari tubuhnya. “Siapa yang peduli, aku bisa membelikanmu lebih dari pada itu.” Kembali ia menunduk untuk mencium Hye Hee, dengan tangan yang bekerja membuka celananya. Dan setelah seluruh pakaiannya terlepas, Kyuhyun mengubah kerja telapak tangannya dengan memijat dada Hye Hee keras, yang berhasil menimbulkan teriakan nikmat dari wanita itu.
Lagi-lagi Kyuhyun bersikap kasar pada pakaian dalam wanita itu. Tidak ingin repot membuka bra Hye Hee, Kyuhyun menariknya hingga lepas dan segera mendaratkan mulut panasnya di puncak yang sudah mengeras itu. Warna merahnya membuat Kyuhyun tidak bisa menahan diri untuk segera mencicipi kenikmatan yang akan ia dapatkan.
Kyuhyun mengulumnya dengan rasa lapar yang tidak ingin merasa di puaskan. Merasakan kenikmatan dada Hye Hee secara bergantian, membasahi dada wanita itu dengan salivanya, lalu menghisapnya dalam.
“Kau semakin kurus.” Wajah Kyuhyun terangkat dari dada Hye Hee, agar ia bisa menunjukkan pada wanita itu bahwa ia tidak menyukai keadaan fisik istrinya saat ini.
“Aku kehilangan selera makanku.” Hye Hee bersemu senang dengan perhatian Kyuhyun pada dirinya. “Aku merasa sangat bersalah padamu,”
“Bukan berarti kau menyiksa dirimu sendiri.” Kyuhyun menatap kesal Hye Hee di bawahnya. “Apapun yang terjadi di antara kita aku tidak akan mengizinkan kau menyiksa dirimu sendiri, cukup aku yang tersiksa.”
Hye Hee mendapatkan Kyuhyunnya kembali, Kyuhyun yang begitu posesif dan perhatian padanya. Dan kebahagiaan kembali menyelimuti dirinya. “Kali ini biarkan kita sama-sama tersiksa.” Di akhir kalimatnya, Hye Hee mencium suaminya dengan rasa rindu yang ingin ia tunjukkan pada Kyuhyun. Ia ingin Kyuhyun merasakan betapa ia menyesal dan merindukan pria itu sampai rasanya ia akan gila.
Dan ciuman yang di mulai Hye Hee,  mendapatkan respons yang memang di inginkan oleh wanita itu. Kyuhyun tidak hanya mencium bibirnya, namun seluruh tubuhnya, dan kembali pada ciuman lama di dada wanita itu. Membelai pucak dada yang menegang, menekannya sebanyak mungkin ke dalam mulutnya, dan memijatnya dengan memutar.
Lama tidak merasakan sentuhan Kyuhyun, membuat Hye Hee merasakan tusukan di setiap tubuhnya. Kepalanya berdenyut karena rangsangan nikmat yang di rasakan tubuhnya. Ia berteriak menjabarkan rasa nikmatnya dalam teriakan yang teredam.
Hye Hee berusaha menggapai Kyuhyun yang masih bekerja di dadanya, mempermainkan puncak dada kanannya dengan jemari dan dada kirinya menjadi santapan lezat mulut pria itu. Rangsangan pada dadanya tidak bisa lagi Hye Hee tahan, kenikmatan itu begitu menyisaknya. Hye Hee menarik tubuh Kyuhyun agar berhenti menyiksanya dengan kenikmatan di dadanya, mencari-cari mulut Kyuhyun dengan bibirnya dan melumatnya dengan cepat.
Napas Kyuhyun begitu panas menyentuh wajah Hye Hee. Pria itu bernapas cepat dan berat dan dalam ciuman mereka. Lagi, Kyuhyun meninggalkan ciuman mereka dan turun menciumi leher, melewati dada dan berhenti di perut rata Hye Hee. Sambil menciumi perut Hye Hee, Kyuhyun menurunkan celana dalam wanita itu, semakin ia menarik turun celana dalam Hye Hee, semakin ciumannya ia turunkan hingga ia sampai pada tujuannya.
Ciuman Kyuhyun ia tahan di tulang kemaluan Hye Hee, menyapukan panas napasnya di lekuk itu, dan menggerakkan bibirnya secara pelan membelai lembah kenikmatan wanita itu. Mulanya Kyuhyun memberikan ciuman pelan sebagai rangsangan awal, namun begitu Hye Hee berteriak menyerukan namanya dan merintih dalam kenikmatan, Kyuhyun menenggelamkan seluruh mulutnya di pusat tubuh Hye Hee.
Lidah Kyuhyun bekerja membelah pusat tubuhnya dan Hye Hee benar-benar akan meledak oleh kenikmatan itu. Ia menarik bantal di kepalanya untuk meredam jeritannya. Ia tidak bisa menahannya lebih lama lagi, hingga akhirnya pelepasan nikmat itu meledak di pusat tubuhnya dengan mulut Kyuhyun yang masih terus menyapanya.
Kyuhyun merasakan kepuasan didirinya setelah berhasil membuat istrinya meledak di dalam mulutnya dan Hye Hee menjeritkan namanya. Puas dengan pekerjaannya di pusat tubuh Hye Hee, Kyuhyun mendaki lagi tubuh istrinya yang terlentang lemah di bawahnya.
Hye Hee  meraih wajah Kyuhyun yang melengkung di atasnya, membelai wajah pria itu sebentar dan kembali menciumnya untuk menyalakan kembali gairah mereka. Undangan Hye Hee di terima Kyuhyun dengan senang hati, ia melumat lagi bibir wanita itu yang sudah membengkak karena ulah bibirnya.
“Aku benar-benar merindukanmu.” Ujar Hye Hee dengan napas yang memburu karena gairahnya sudah kembali.
“Begitupun denganku.” Kyuhyun menutup mulut Hye Hee dengan mulutnya, menarik pinggul wanita itu dan segera menyatukan tubuh mereka dengan tusukan keras yang membuat tubuh Hye Hee terdorong ke atas.
“Ohh…” erang Hye Hee lega. Akhirnya ia bisa merasakan kembali Kyuhyun memenuhi tubuhnya. Akhirnya kekosongan itu berakhir, digantikan dengan penuh yang begitu menggoda.
Pinggul Kyuhyun mulai bergerak, membentur pusat tubuh Hye Hee yang di awali dengan gerakan pelan dan dalam, namun semakin banyak Kyuhyun bergerak, semakin cepat tusukan yang di berikan pria itu di tubuhnya.
Cepat dan keras pergerakan Kyuhyun begitu stabil. Pria itu membelainya dengan cara yang begitu Hye Hee rindukan. Hye Hee melingkarkan kedua kakinya di pinggang Kyuhyun, agar tusukan Kyuhyun semakin terasa di dalam tubuhnya, menarik tubuh Kyuhyun agar menciumnya dan mempermainkan dadanya yang masih terus menantikan tangan hangat Kyuhyun untuk memijatnya.
Dan Kyuhyun melakukan itu, apapun ia lakukan untuk memuaskan istrinya, memberikan seluruh yang ia punya demi memenuhi gairah istrinya dan gairahnya sendiri. Ciuman dan pijatan di dada Hye Hee tidak membuat tusukan Kyuhyun berubah. Ia terus bergerak dengan tempo yang sama, menyapa liang Hye Hee dengan kerinduan yang begitu dalam.
Melampiaskan gairah yang selama ini ia tahan  karena kemarahannya, namun sekarang ia tidak menahannya lagi, ia ingin melepaskan segala tumpukan gairah yang selalu membuat kepalanya hampir pecah. Nama Hye Hee berhasil keluar dari erangan Kyuhyun.
Puncak kenikmatan itu menguasai Kyuhyun, ia akan segera melebur dalam kehangatan tubuh Hye Hee. “Sayang… aku mencintaimu.” Dan sebuah pergerakan yang kencang dan keras Kyuhyun lesakkan di susul oleh ledakan kenikmatan yang di tumpahkan di dalam tubuh Hye Hee, Kyuhyun masih terus bergerak hingga akhirnya Hye Hee menyusul pria itu menyambut pecahan kenikmatannya sendiri.
Rasa hangat membanjiri keduanya, terutama Hye Hee. Ia bisa merasakan cairan Kyuhyun yang menjalar di dalam tubuhnya, dan ia memejamkan matanya untuk merasakan pergerakan hangat di dalam tubuhnya.
Segera Kyuhyun melepaskan kontak tubuh mereka, dan melemparkan tubuh berkeringatnya di sebelah Hye Hee. Jantungnya masih bekerja keras setelah pertempuran panjang mereka di atas ranjang, dan keringat terus menbanjiri tubuhnya. Ia begitu lelah dengan percintaan panjang mereka. Namun ia masih bisa merasakan ketika Hye Hee akan bangkit dari atas ranjang.
“Kau tidak boleh pergi kemanapun.” Tangan Kyuhyun refleks terangkat melingkari perut Hye Hee. “Aku tidak akan mengizinkanmu membunuh  bibitku lagi.”
Hye Hee tersenyum mendengar nada protektif dalam suara Kyuhyun. Namun ia tetap bergerak, memindahkan posisi tidurnya menghadap suaminya. “Aku hanya ingin berbalik, untuk melihat wajahmu.”
Mata Kyuhyun terbuka dan senyuman Hye Hee menyambutnya. Wanita itu berkeringat, dan telanjang di depannya. Lalu Hye Hee menyentuh wajahnya dengan kelembutan telapak tangan wanita itu. “Kau tahu semuanya terlalu sulit untukku.” Suara Kyuhyun serak. Ia berdeham pelan. “Aku marah karena perbuatanmu, tapi aku juga menyiksa diriku sendiri dengan tidak mengacuhkanmu.”
Bibir Hye Hee mengecup bibir Kyuhyun setelah suaminya selesai bicara. “Aku juga sama tersiksanya denganmu.” Ibu jari Hye Hee membelai sudut bibir Kyuhyun. “Aku benar-benar bersalah padamu dan aku tidak berharap kau memaafkanku dengan cepat. Tapi aku tidak bisa menutupi ketakutanku, kalau kau akan mencari wanita lain yang bersedia mengandung anakmu.”
Telunjuk Kyuhyun menempel di bibir Hye Hee, memaksa wanita itu berhenti bicara. “Aku tidak akan pernah melakukan perbuatan rendah itu.” Bola mata Kyuhyun bergerak mengamati wajah berkeringat istrinya. “Aku tidak butuh wanita lain untuk mengandung anakku, aku hanya butuh kau yang mengandung dan melahirkan anak-anakku.”
“Dan aku mau melakukannya.” Kata Hye Hee dengan keyakinan dalam suaranya.
Dan keyakinan Hye Hee, Kyuhyun buktikan dengan kesungguhan di dalam mata wanita itu. “Kau yakin dengan keputusanmu.”
Kepala Hye Hee bergerak mengangguk, “Aku ingin menjadi ibu. Ibu dari anak-anakmu.” Lalu ia menutup ucapannya dengan  mencium Kyuhyun, dan memaksa pria itu untuk mengulang kembali percintaan mereka.
***
Lima minggu setelah hubungan mereka membaik, Hye Hee seperti memulai rumah tangga yang baru dengan Kyuhyun. Karena kisahnya dengan Kyuhyun semakin mesra. Kyuhyun semakin menunjukkan betapa pria itu begitu mencintainya.
Setelah berbaikan mereka kembali berbulan madu, melakukan perjalanan  ke Itali selama dua minggu. Tiada hari yang mereka lalui tanpa bercinta. Di manapun dan kapanpun mereka ingin, mereka akan bercinta. Saling memuji, melontarkan kata cinta dan memuja.
Dan pagi  ini setelah percintaan yang mereka lakukan sebanyak  tiga kali malam tadi, Hye Hee bangun dengan sebuah perasaan baru yang ingin ia akui. Untuk itu setelah mandi dan mengenakan gaun abu-abu sebatas lututnya, Hye Hee berdiri dengan tangan gemetar di depan cermin wastafel kamar mandinya.
Air masih menetes dari rambutnya yang basah, dan matanya tidak bisa bergerak dari alat tes kehamilan di tangannya. Dua menit yang terasa seperti dua jam, ia menunggu dengan perasaan tidak tenang. Dan setelah dua menit yang panjang, Hye Hee melompat di luar sadarnya ketika tanda positif terlihat jelas di alat tes kehamilan itu.
Tidak bisa menahan dirinya, Hye Hee keluar dari kamar mandi dan menghampiri suaminya yang masih tertidur. “Sayang…” panggil Hye Hee manja. Ia menggoyang-goyang bahu telanjang Kyuhyun.
“Heum…” gumam Kyuhyun dengan mata yang masih terpejam, namun tangannya bergerak menyentuh lengan mulus Hye Hee di bahunya. Kesegaran tubuh Hye Hee memancing indranya segera bekerja.
“Sayang bangun…” Hye Hee semakin kencang membangunkan Kyuhyun.
Mata Kyuhyun ia  buka  perlahan, dan menarik napasnya dalam melalui hidung mancungnya. “Ada apa, heum?” telapak tangannya terus membelai lengan mulus Hye Hee di punggungnya.
“Aku ada hadiah untukmu pagi ini.” Dengan tidak sabar Hye Hee menyerahkan alat tes kahamilan di tangannya pada Kyuhyun,
Kyuhyun memaksa tubuhnya untuk duduk dan bersandar di kepala ranjang, menarik selimut menutupi tubuh bawahnya. “Apa ini?” Tanyanya sambil mengambil alat tes kehamilan itu.
Hye Hee hanya tersenyum dan tidak menjawab, membiarkan Kyuhyun memahami sendiri hasil yang ada di alat tes kehamilan itu.
“Astaga…ini…ini…” Kepala Kyuhyun terangkat dari alat di tangannya dan memandang penuh minat pada Hye Hee. “Aku tidak salahkan?” Tanyanya setelah paham dengan tanda positif di alat tes kehamilan itu.
Hye Hee menggeleng dengan senyuman panjang.
“Aku tidak salah, kalau mengira sekarang kau sedang hamil.”
“Tidak, aku memang sedang hamil.” Jawab Hye Hee menarik tangan Kyuhyun menyentuh perutnya.
“Oh… ini…  ini benar-benar luar biasa, sayang.” Kyuhyun menekankan tangannya di perut Hye Hee, lalu memeluk tubuh wanita itu erat. Hatinya di penuhi dengan kebahagian yang tidak bisa ia ungkapkan dengan apapun. Ia tidak tahu bagaimana cara menggambarkan kebahagiannya, yang bisa lakukan hanyalah memeluk istrinya dengan erat. “Ini pagi terindah dalam hidupku.”
“Aku juga,” Hye Hee membalas pelukan Kyuhyun dengan erat juga, tersenyum lebar di punggung telanjang suaminya. Ia tidak tahu kenapa ia bisa begitu bahagia dengan kehamilannya, padahal beberapa bulan yang lalu ia begitu takut dengan kata itu. Namun sekarang setelah kehidupan itu berada di dalam rahimnya, ia begitu bahagia apalagi setelah melihat wajah bahagia Kyuhyun ia semakin merasa menjadi wanita yang sangat di cintai. “Aku bahkan sempat tidak percaya jika akhirnya aku mengandung anakmu.”
Kyuhyun menarik Hye Hee dari pelukannya, namun tidak melepaskan wanita itu dari tangannya. “Ya kau sedang mengandung anakku.” Lalu memeluk lagi wanita itu dengan lebih erat lagi. “Anakku, anak kita.” Ujarnya penuh rasa syukur. “Aku akan jadi ayah, aku akan jadi ayah.” Teriaknya lalu tertawa bahagia dengan terus memeluk Hye Hee.
Dan sembilan kemudian seorang penerus yang begitu Kyuhyun harapkan lahir dengan selamat. Seorang bayi laki-laki yang begitu tampan, dengan seluruh ciri Kyuhyun yang menempel begitu jelas di wajah bayi Kyuhyun.
Mulai dari mata, hidung, bibir dan warna kulit putih pucat milik Kyuhyun juga ada pada bayi laki-laki itu. Bayi laki-laki yang paling di tunggu, dan di pastikan menjadi bayi yang akan di lingkupi dengan kasih sayang dan kemewahan yang tidak akan di ragukan lagi.
“Siapa nama bayinya?” Sungmin memandang gemas bayi Hye Hee dan Kyuhyun.
Bayi itu sedang tertidur di dalam kamar kedua orang tuanya. Dengan Hye Hee dan Kyuhyun yang terus berada di sampingnya. Hye Hee baru saja meninggalkan rumah sakit setelah tiga hari di rawat setelah proses operasi untuk melahirkan bayinya.
“Ji Hwon.” Jawab Kyuhyun tanpa melepaskan kontak matanya dari bayinya. “Cho Ji Hwon.” Ujarnya lagi lebih menjelaskan nama putranya.
“Apakah itu di ambil dari JH entertainment?” Sungmin berkomentar.
“Kyuhyun menyiapkan nama untuk putra kami, bahkan ketika dia mendirikan perusahaanya.” Kata Hye Hee bercanda namun ternyata hal itu langsung di benarkan oleh Kyuhyun.
“Dari mana kau tahu?” Kyuhyun mendongak untuk melihat istrinya. “Aku memang membuat nama Ji Hwon ketika aku mendirikan perusahaan, dan sekarang aku benar-benar memiliki Ji Hwon-ku.” Sebuah ciuman sayang Kyuhun berikan di pipi mungil putranya.
“Yah kalau begitu kau beruntung.” Sungmin tersenyum senang untuk keluarga kecil baru itu. “Kalau begitu aku  pulang dulu, dan tolong katakan padaku kapan kalian akan melakukan konferensi  pers tentang kelahiran pangeran kalian.”
“Aku akan memberitahumu setelah Ji Hwon cukup kuat untuk menghadapi sorotan lampu kamera.”
Sungmin dan Hye Hee saling melihat satu sama lain, dan bersama-sama melihat pada Kyuhyun yang terlihat tidak bisa lepas dari putranya. Hye Hee meminta pengertian Sungmin untuk ucapan dan tingkah Kyuhyun dengan tatapan matanya, dan Sungmin memahaminya dengan anggukan kepalanya.
“Aku permisi.” Katanya meninggalkan kamar Kyuhyun dan Hye Hee.
Setelah Sungmin keluar dari kamar mereka, Hye Hee mengangkat Ji Hwon ke dalam gendongannya dengan sangat hati-hati, karena ia tidak ingin melukai bayinya.
“Aku adalah pria paling bahagia di dunia.” Kyuhyun membantu Hye Hee membawa Ji Hwon ke dalam gendongan istrinya, lalu duduk di sisi wanita itu, mencium dahi Hye Hee lama.
“Dan aku adalah wanita paling bahagia di dunia.” Hye Hee meresapi ciuman sayang Kyuhyun di dahinya. Lalu kedua matanya menatap bayi mungil yang menggeliat dengan mata yang perlahan terbuka dan melihat kedua orang tuanya.
“Dan dia akan menjadi bayi paling sempurna dan bahagia di dunia.” Telunjuk dan ibu jari Kyuhyun mengenggam telapak tangan mungil Ji Hwon. “Cho Ji Hwon.” Tutupnya dengan rasa takjub karena bayi di genggamannya.
***FIN***
Just A short story guys ^^
Cuma cerita selingan di sela-sela kegiatan. semoga kalian suka 😉
Aku udah lama ngak nulis, jadi kalau ceritanya aneh, ngawur atau apapun itu mohon di maafkan. Penggunaan bahasa dan tanda baca yang tidak tepat juga mohon di maafkan. dan yang paling penting typo nya wkwkwkwk
Kritik dan saran selalu di tunggu ^^
see ya…

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: