[Twoshoot/NC17/KyuMi] Lullaby of Mine

0
lullaby kyuhyun
Tittle : LULLABY
Author : Kenzeira
Cast : Cho KyuHyun – Lee SeungMi
Category : Implisit NC-17; Yadong; Romance; Psychological; Tragedy; Noir; Chapter; Twoshot; Alternate Reality
Terinspirasi dari Like as the Time Will Come When it Will Rain karya Kunieda Saika
Chapter I : Lullaby of Mine
Hujan turun. Deras. Curahannya mengenai genteng, menimbulkan efek bunyi tik tak.
KyuHyun tengah berdiri, tubuh bersandar pada pagar balkon. Arah pandangan tertuju pada undakan jalan di bawah sana serta sepuluh anak tangga dari susunan bebatuan keras berlapis semen. Partikel asap nikotin menguar ke udara, keluar bersamaan dari lubang hidung dan mulut. Sudah satu jam, hujan masih enggan berhenti.

 Ia menghisap sebatang rokok lagi, rokok terakhir yang dimilikinya. Kini, KyuHyun memandang langit. Betapa hitam, serupa ruang di hatinya. Ia terbatuk, namun tetap melanjutkan merokok.
Hidup di kota kecil dengan penduduk ramah membuatnya muram. Ini tidak seperti tempat yang layak untuk seorang bajingan sepertinya. Ia dibuai oleh kehangatan yang ada, membuatnya lupa identitas sendiri. Seperti pecundang, ia hanya bisa melarikan diri.
Seekor anjing berlari dan melompat-lompat di undakan pertama, tubuhnya basah. Sesekali anjing itu menggonggong, seolah menemukan sesuatu di sana. Namun kemudian anjing itu menyingkir juga, pergi ke suatu tempat yang bisa melindunginya dari tusukan hujan.
Sigaret memendek. Tak ada lagi stok dalam kantung celana.
Bermukim di perbukitan membuat KyuHyun malas pergi ke mana-mana. Jalanan menanjak dan menurun, membuat ia mudah lelah. Hanya ada beberapa tanjakan yang sudah dijadikan tangga, termasuk jalan menuju rumahnya—rumah paling atas dan paling kecil namun paling indah untuk sekadar memandang kota tengah malam, meski yang tampak hanya ladang serta pesawahan luas tanpa lampu-lampu menyolok mata.
Rokok terakhir telah habis dihisap. KyuHyun menghela napas. Hujan belum berhenti jua.
Ia masuk ke dalam rumah, meraih payung transparan dan memutuskan untuk menuruni bukit demi sebungkus rokok. Sepatu menginjak genangan air, turut menimbulkan bunyi di antara suara-suara hujan. KyuHyun hendak menuruni sepuluh anak tangga pertama tatkala matanya menangkap sesosok tubuh tergeletak tiada daya di bawah sana, tepat di tempat anjing menggonggong lima menit lalu.
KyuHyun turun pelan, memastikan tubuh itu tak bergerak atau mengejutkannya. Ia berdiri di samping tubuh yang tergolek lemah itu. Sepatunya mendorong-dorong pinggang dari tubuh tersebut hingga bereaksi. Mula-mula KyuHyun kira laki-laki kisaran tiga belas tahun, ternyata perempuan muda. Perempuan itu bangkit dengan lenguhan di bibir, lalu menengadah, memandang wajah KyuHyun yang menunduk, turut memandang.
“Aku … tidak bisa berjalan,” katanya tanpa ditanya.
KyuHyun bergeming. Arah pandangan tertuju pada kaki kanan si perempuan yang lecet dan berdarah—juga pelipisnya. Perempuan itu tampak seperti tak berasal dari kota ini. Wajahnya oriental, kebingungan tercetak jelas.
“Bagaimana kau bisa ada di sini?”
Si perempuan terdiam, tak bisa menjawab. Sebab, segalanya tiba-tiba kosong. Perempuan itu lalu menggeleng. “Aku tidak tahu.”
“Apa kau mengenalku?”
Si perempuan semakin bingung dan bertanya balik. “Apakah kita pernah bertemu?”
Sepasang mata KyuHyun sedikit melebar. Ia lalu berjongkok, menggeser payung ke arah perempuan itu. Dua pasang mata saling menatap, mencari kebenaran, menelisik lebih dalam. KyuHyun kemudian memberi punggung, si perempuan mengerti lalu meraih bahunya, melingkarkan tangan di leher dan bersandar di punggungnya. Payung transparan digenggam tangan pucat si perempuan sementara kedua tangan KyuHyun menopang tubuh si perempuan di belakang.
KyuHyun menggendongnya, menaiki sepuluh anak tangga dan membawa pulang, menanggalkan niat membeli sebungkus rokok, mengabaikan sebilah pisau yang tersimpan rahasia di balik rerumputan. Selalu ada cara menghentikan niat awal melalui serangkai peristiwa.
.
Kenzeira’s Storyline
.
Sore itu tatkala hujan reda, hidup tiba-tiba serupa filem dokumenter dengan efek hitam putih coklat. KyuHyun melihat perempuan itu, tengah duduk di bawah jendela dengan rok putih penuh noda. Pandangan si perempuan tertuju ke luar, barangkali memperhatikan kota kecil ini berikut ladang serta pesawahan dan bertanya-tanya mengenai keberadaannya yang membingungkan.
KyuHyun menghampiri pelan dengan baki di tangan. Si perempuan menoleh. Tanpa kata, KyuHyun meraih kaki perempuan itu, mengompresnya dengan air hangat lalu ditetesi antiseptik. Ringisan terdengar dan ia tak peduli.
“Siapa namamu?” tanya si perempuan.
“KyuHyun. Cho KyuHyun.”
Hening sesaat. Tangannya kali ini berpindah menuju pelipis dan melakukan hal yang sama seperti pada luka di kaki kanan.
“Tahukah kau siapa aku?”
KyuHyun menghentikan gerakan. “Siapa kau?”
Perempuan memandang penasaran. “Katakan sesuatu. Apapun, tentangku.”
“Aku tidak tahu siapa kau.”
Perempuan mengerjap. Bibir tipisnya terbuka sedikit, lalu suara lirih terdengar. “Aku tidak tahu siapa aku.”
KyuHyun melanjutkan mengobati bagian pelipis si perempuan. “Bagus,” katanya, lalu meneruskan. “Aku pun sebenarnya tidak tahu siapa aku ini.”
“Kau KyuHyun dan kau tahu siapa dirimu.”
Ia sudah selesai. Kapas beserta antiseptik kembali disimpan di atas baki. Ia berdiri, hendak pergi. Namun tangan si perempuan menahannya. Dua pasang mata kembali saling menatap.
“Aku siapa?”
KyuHyun sudah menduganya dari awal. Perempuan ini hilang ingatan.
“Kau bertanya padaku?”
“Kau tidak tahu.”
“Ya.”
Perempuan itu menunduk. Rambut panjangnya tergerai, menghalangi wajah. KyuHyun melangkah, tapi perempuan itu masih menahan tangannya.
“Beri aku nama.” Si perempuan meminta.
KyuHyun menyerah. Ia menyimpan baki di sembarang tempat, lalu duduk berhadapan dengan perempuan itu. Tangannya menyentuh pipi si perempuan. Begitu putih, lembut dan halus. Wajahnya sempurna, seperti terpahat dengan segenap rancangan dan ide-ide brilian para malaikat serta setan. Sepasang mata bulat dengan kelereng hitam yang besar dan cantik, juga hidung bangir. Segalanya sempurna. Barangkali yang berantakan adalah hidupnya.
“SuMin.”
“SuMin?”
KyuHyun menggeleng. Lalu kembali berpikir. Si perempuan berkedip, mengibaskan helai-helai bulu mata yang centrik. KyuHyun tersenyum samar—nyaris tak terlihat—kemudian mengusap puncak kepala si perempuan.
Katanya. “Namamu SeungMi.”
“SeungMi?”
KyuHyun mengangguk. Perempuan itu tampaknya senang dengan nama pemberian darinya. SeungMi. Seung untuk kemenangan dan Mi untuk cantik. Perpaduan yang cocok untuk menamai perempuan berwajah sempurna di hadapannya ini. SeungMi tersenyum lebar.
Benar.
Segalanya serupa film dokumenter hitam putih coklat. Waktu yang bergerak lambat, langit berasap, mengepul hitam berbau belerang, tumpukan karung berisi tanah di sepanjang medan pertempuran dan baku tembak serta mayat-mayat bergelimpangan.
KyuHyun kehilangan daya, sesaat seperti selamanya. SeungMi menari-nari, wajahnya terlalu ceria, memenuhi kepala juga dada. Barangkali sengaja dipahat sedemikian rupa.
Hidup berjalan keluar jalur. Terlalu banyak modifikasi serupa dongeng Putri Cantik dan Pangeran Tampan. Efek noir memenuhi cerita cinta yang manis, yang tidak diletakan di tempat yang benar. Tapi waktu tetap berjalan, merangkak pelan, merambat meninggalkan jejak dua pasang kaki berdekatan. Mereka ingin menikmati waktu lebih banyak, meneguknya rakus hingga tandas. Dia ingin selamanya, begitupun si perempuan—walau harus menghapus jejak kaki lampau yang barangkali mampu meniadakan harapan.
KyuHyun maupun SeungMi menikmati hari-hari yang indah. Mereka berjalan beriringan, pergi ke sembarang tempat, menyicipi makan malam di balkon yang menghadap ke ladang dan pesawahan di bawah sana, bergurau di tepi jembatan, berciuman, bercinta.
Seperti saat ini.
SeungMi tergeletak tiada daya di atas lantai kayu mahoni. Peluh muncul ke permukaan kulit, membikin segalanya menjadi lengket. KyuHyun bergerak lambat di atasnya. Sepasang mata cokelat tua menilik liar, merekam segala yang tertangkap: keindahan bidadari tanpa busana, tersesat di sekitar rumahnya. Betapa ekstase.
Akan tetapi, dalam adegan liar dan dewasa itu, terselip keraguan maha besar, keraguan yang tersimpan rapi dalam rongga hati yang gelap dan pengap. Akan ada katastrofa di antara cinta baru mekar itu. KyuHyun berhenti sejenak, SeungMi diam memandang. Kedua adam dan hawa terengah-engah. Rekaman hitam putih terlintas bolak-balik serupa pesawat ulang-alik: pembunuhan, sorot mata penuh luka, senyuman ganjil dan ciuman antar dua pria. Gangwon.
KyuHyun kehilangan hasrat. SeungMi meraih, bibir tipisnya melengkung, menciptakan segaris senyum.
“Aku milikmu,” katanya. “Barangkali di suatu masa aku adalah perempuan bersuami, tapi, KyuHyun-ah, malam ini aku milikmu—jika itu yang selalu kau khawatirkan, kau ragukan.”
KyuHyun menggeleng, lalu menangkup pipi SeungMi, mendekatkan kemudian mencium, melumat dan bermain lidah, melanjutkan kembali kegiatan yang sempat terhenti.
Mereka melakukan apa yang dilakukan sebelum berperang menghadapi kenyataan, bersitatap dengan segenap bentuk kehancuran.
Sekarang, mereka tengah menyesap manis madu kehidupan. Sedang pisau di rerumputan dibiarkan diam tak berpindah, mulai berkarat akibat tusukan hujan dan hantaman panas matahari.
to be continued
%d blogger menyukai ini: