You are… Part 1

0
ff nc 21 kyuhyun ri young
Author : BlossomRi
Tittle : You are… part 3
Category : Romance, Chapter, 21+
Cast : Cho Kyuhyun – Man Ri Young
Other Cast : Lee Donghae, Lee Hyuk Jae

Author’s Note : Hai hai… Selamat hari jadi wp FNC yang ke dua ^^ Tidak berharap lebih pada ff ini, hanya berharap bisa menghibur pembaca 😀

Ri Young berjalan tergesa memasuki sebuah reastaurant bergaya Eropa ditemani Eunhyuk yang berjalan di sampingnya. Sebenarnya, ia hanya ingin mengimbangi langkah kaki Eunhyuk yang jauh lebih lebar daripada langkah kakinya.

“Eunhyuk-ssi, sebelumnya.. aku minta maaf.” Ri Young menggigit bibir bawahnya. “Aku datang dengan tangan kosong. Maaf…”

Eunhyuk tersenyum. “Kehadiranmu adalah kado untuk kami. Jangan sungkan. Memangnya kita anak-anak yang haus akan kado? Ayo.” Eunhyuk menarik tangan Ri Young.

Saat sampai di dalam restaurant, Eunhyuk dan Ri Young melihat Donghae melambaikan tangannya dengan senyum sumringah. Kyuhyun juga ada disana, tetapi ia tak menyadari kehadiran Ri Young yang kini tengah berjalan di belakang Eunhyuk.

“Akhirnya kalian datang juga..” seru Donghae.

“Kau…” Kyuhyun akhirnya menyadari kehadiran Ri Young yang kini sudah menggeser posisinya menjadi berdiri disamping Eunhyuk. “Kenapa kau kesini?” Kyuhyun kembali menyuarakan ketidaksukaannya. Kyuhyun bahkan menatap heran pada penampilan Ri Young. Benar-benar penampilan luar biasa, jauh dari kesederhanaan. ‘Mungkin Eunhyuk hyung sudah memolesnya habis-habisan.’

“Kami mengundangnya. Jadi, bersikap sopanlah dengan tamu undangan kami.” Eunhyuk terlihat merangkul Ri Young dan hal itu sukses membuat Kyuhyun mendesis tidak suka. “Kenaapa? Tidak suka?” tanya Eunhyuk.

“Aku tidak suka ada pencuri anggurku disini!”

“Begitu?” tanya Ri Young gamang. Ini hal yang paling menyakitkan hatinya. Kembali dipanggil sebagai pencuri. Oh… sangat menyesakkan. “Kalau begitu, aku permisi. Aku juga merasa tidak nyaman. Ini tidak pantas untukku.”

Donghae berdiri dan langsung menarik tangan Ri Young. “Kami mengundangmu, bukan Kyuhyun. Jangan dengarkan ucapan dia.” Eunhyuk terkekeh melihat ekspresi naik pitam yang Kyuhyun tunjukkan. Ini pertama kalinya Eunhyuk maupun Donghae menentang Kyuhyun dengan sangat jelas.

“Ayo mulai acaranya….” seru Eunhyuk senang.

Kyuhyun sambil mendumal mulai menyalakan lilin yang tertancap di tart berwarna biru yang ada di atas meja. Eunhyuk dan Donghae tertawa riang. Bahkan, hal itu sukses membuat Ri Young menggelengkan kepalanya.

“Terima kasih sudah menjadi saudara kembarku,” ucap Eunhyuk dan Donghae bersamaan.

Ri Young mengernyitkan keningnya. Mereka berdua bahkan tidak ada kemiripan sedikitpun. “Apa mereka benar-benar saudara kembar?” bisik Ri Young pada Kyuhyun yang terlihat melipat tangannya di depan dada.

“Jangan pedulikan omongan mereka. Mana ada saudara kembar seperti mereka? Bagai lagit dan bumi. Hah… konyol.”

Ri Young menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Setelah itu, ia langsung bertepuk tangan saat Donghae dan Eunhyuk meniup lilin secara bersama.

“Bisakah kalian segera selesaikan acara romantis-romantisan kalian? Aku ingin segera minum!” keluh Kyuhyun yang menatap malas kearah mereka berdua.

“Minumlah dulu,” balas Donghae. “Ri Young-ssi, kau juga. Tidak apa-apa. Pesan apapun, kami yang akan membayarnya,” lanjut Donghae.

Ri Young mengamati Kyuhyun yang tengah meneguk segelas wine. Ia mengernyit, ‘apa tidak apa-apa jika aku meminum ini? eomma dan halmeoni bisa mencurigaiku. Bisa-bisa mereka mengira aku hanya kelayapan dan bergaul dengan tidak baik.’

“Kenapa? Kau juga mau?” Ri Young mengerjapkan matanya beberapa kali saat Kyuhyun menangkap basah dirinya tengah memperhatikan pria itu.

“Em… apa tidak ada soju?” tanya Ri Young polos.

Hal itu mengundang gelak tawa mereka yang ada disana. Bahkan seorang Cho Kyuhyun yang sejak tadi menunjukkan ekspresi kelamnya, kini bisa tertawa lepas. “Nona, kami tidak menyediakan soju. Restaurant di hotel ini didesain gaya Eropa, jadi hanya ada wine, bukan soju.” Eunhyuk mencoba menjelaskan dengan hati-hati.

“Oh begitu, maaf karena ketidak tahuanku.” Ri Young bahkan masih menunjukkan ekspresi polosnya.

“Kau benar-benar memalukan!” keluh Kyuhyun.

Kyuhyun kemudian memesan satu jenis wine lain. Tak lama, wine pesanannya diantar dan Kyuhyun dengan santai menengguk wine tadi segelas demi segelas. Ri Young hanya memperhatikan kerakusan Kyuhyun sembari beberapa kali menelan ludahnya.

“Cobalah,” Donghae menyodorkan segelas wine  pada Ri Young.

“Terima kasih.” Ri Young hanya menerimanya tanpa berniat untuk segera meminum segelas wine yang Donghae berikan.

“Kenapa?” Eunhyuk mengernyitkan keningnya.

“Apa Kyuhyun-ssi akan menghukumku jika aku menyentuh hal-hal yang berbau anggur?” akhirnya Ri Young menyuarakan isi hatinya.

Donghae dan Eunhyuk terkejut. Kyuhyun tergelak dan sejenak menghentikan acara minumnya. “Ini bukan anggurku! Aturanku berlaku jika kau menyentuh anggur-anggurku, bukan segala macam anggur!” akhirnya Kyuhyun menjawab pertanyaan besar yang dilontarkan Ri Young.

“Sudah dengar sendiri bukan dari Kyuhyun, silahkan diminum.” Donghae benar-benar memperlakukan Ri Young dengan sangat manis. Hal itu mampu membuat pipi Ri Young bersemu merah.

Mereka terus bercengkrama. Sekedar bercerita sambil minum sampai bercanda hingga tertawa terbahak. Kyuhyun bahkan sudah menghabiskan 3 botol wine dan sekarang hampir botol keempatnya, padahal Ri Young hanya meminumnya segelas saja.

“Lebih baik kita pulang. Kalian sudah sangat mabuk.” Ri Young mencoba memperingatkan ketiga pria di sekitarnya.

Eunhyuk menatap Donghae. “Iya, Donghae-ya. Lebih baik kita pulang. Ayo, sebelum aku ikut mabuk sepertimu.” Kepala Donghae bahkan beberapa kali terantuk saking dikuasai minuman beralkohol itu. “Kyu… hentikan minummu.” Selepas mengatakan itu semua, Eunhyuk menarik Donghae dan memapah saudara sepanti asuhaan dengannya itu.

Eunhyuk sesekali menggumam tak jelas. “Bisa-bisanya kalian mabuk wine dan kau Lee Donghae, kau sukses merusak rencana kita. Ckckck.” Eunhyuk mendumal itu disamping telinga Donghae sehingga Ri Young tak dapat mendengar dengan jelas.

“Ri Young-ssi, sepertinya aku sedikit mabuk dan Donghae benar-benar mabuk. Bisakah kau merawat Kyuhyun untuk kami? Aku akan pesankan kamar hotel di samping. Kau bisa pulang setelah mengantar Kyuhyun ke kamar yang sudah aku pesan atau kau bisa menginap jika mau. Aku bisa memesankan satu untukmu. Gratis, tenang saja. Bagaimana?”

“Untuk menginap disini, sepertinya saya tidak mungkin melakukannya. Tapi, untuk mengantar Kyuhyun-ssi, saya bisa.” Ri Young menganggukkan kepalanya. “Aku akan pesankan kamar atas nama Lee Hyuk Jae. Tolong sekali. Maaf merepotkan.” Eunhyuk dengan wajah memerah karena pengaruh alkohol, terlihat berusaha keras mempertahankan kesadarannya.

“Baik Eunhyuk-ssi. Kalau kau juga mabuk, lebih baik menelpon taksi saja.”

“Tidak, terima kasih.” Eunhyuk tersenyum. “Terima kasih karena sudah datang dan mau membantu adik kecil kami. Ah.. dan jangan kembalikan barang-barang yang kau pakai, anggap saja itu sovenir karena telah menghadiri acara ulang tahun kami.”

Ri Young tersenyum dan mengangguk. Eunhyuk berjalan keluar dari restaurant dengan sempoyongan karena cukup berat menahan berat badan Donghae. Melihat ia hanya tinggal seorang diri dengan Cho Kyuhyun, Ri Young hanya menghela napas. ‘Pekerjaan berat. Semangat!’ keluh Ri Young dalam hatinya.

“Kyuhyun-ssi, sadarlah sebentar. Tegakkan kepalamu..” Ri Young mencoba membangunkan Kyuhyun bahkan ia mencoba memberanikan diri menggoncangkan tubuh Kyuhyun.

***

Pagi menjelang, Kyuhyun terbangun dengan kepala yang terasa sangat pusing. Tersadar dengan suasana sekitarnya yang asing, Kyuhyun mengedarkan pandangannya. Tak ada seorangpun disana. Namun, ia merasakan sesuatu yang aneh. Sangat aneh. Sejenak Kyuhyun mengulat dan merenggangkan otot-otot tubuhnya, hingga akhirnya ia menemukan bercak darah di sprei warna putih yang ia tempati.

“Apa ini?” kejut Kyuhyun dan ia langsung menemukan kesadaran penuhnya.

Ia menatap kondisi tubuhnya dan ya… hal yang memperkuat dugaannya semakin memperjelas semuanya. Ia tak mengenakan apapun. Pakaian yang ia gunakan semalam sudah meninggalkan tubuhnya.

“Ya Tuhan… aku melakukannya dengan siapa? Kenapa dia pergi begitu saja? Ini pengalaman pertama ku dan… dia..” gumam Kyuhyun sembari menatap bercak-bercak darah yang tak bisa dibilang sedikit itu.

Segera Kyuhyun bergegas. Ia memungut pakaian-pakaiannya yang teronggok dilantai. Sialnya, ia tak menemukan jas cokelat yang semalam ia kenakan. Kepalanya ia tolehkan kesana kemari dan hasilnya tetap nihil. “Mungkin gadis itu yang membawanya…” gumam Kyuhyun pasrah.

Kyuhyun segera merogoh saku celana untuk mencari ponsel hitam miliknya. Dan kembali terkena kesialan, ponsel itu sama sekali tak menyala. Kyuhyun berkali-kali mencoba menekan tombol on dan tetap tak ada perubahan pada layarnya. “Sial!” rutuk Kyuhyun.

“Ini hotel milik Eunhyuk hyung dan Donghae hyung.” Kyuhyun berdecak saat menyadari hal itu. Akhirnya ia mengurungkan niatnya untuk menuju resepsionis. Kyuhyun-pun berjalan meninggalkan hotel D&E setelah menghentikan taxi.

***

Sesampainya di depan rumah, Ri Young masih nampak murung. Ia bahkan mencoba berjalan dengan normal walau hampir sekujur tubuhnya merasa sakit. Saat ia akan mengetuk pintu, puntu di depannya itu sudah terbuka dari dalam.

“Darimana saja?”

Ri Young gelagapan saat neneknya yang membukakan pintu. “Halmeoni…” hanya panggilan itu saja yang mampu Ri Young lontarkan. Keringat dinginnya semakin merembes keluar dan hal itu mampu menarik kecurigaan sang nenek.

“Jangan-jangan kau…” gumam sang nenek saat ia melihat penampilan Ri Young yang dapat dikatakan sangat berantakan dengan jas yang tersampir dipundak dan pakaian mahal yang baru ia lihat. “Ikut aku ke kamar! Jangan sampai ibumu tahu.”

Ri Young tertunduk, tetapi ia patuh dan mengikuti neneknya dalam diam. Saat sampai di kamar yang biasa ia dan neneknya tempati, Ri Young diminta duduk di sudut ruangan oleh wanita paruh baya itu. Hal ini mengingatkan Ri Young akan masa kecilnya saat ia baru saja ketahuan melakukan kesalahan. Neneknya akan seperti ini, menghukumnya di sudut ruangan agar Ri Young kecil dapat memikirkan kesalahan apa yang ia perbuat, apa dampaknya dan bagaimana mengatasinya. Namun, bayangan saat ayahnya memukul betis atau telapak tangannya dengan rotan kembali terngiang dan hal itu sukses menarik memori saat ia juga dihukum oleh Kyuhyun dengan cara yang sama. “Tidak…” gumam Ri Young panik.

“Ri Young-ah…” nenek mencoba menggoncangkan tubuh Ri Young agar cucu satu-satunya itu sadar. “Halmeoni disini. Tenanglah. Jangan sampai ibumu tahu.”

Air mata Ri Young berderai. Wajahnya ia telungkupkan pada kedua telapak tangannya dan terisak lirih. “Halmeoni, maafkan aku…” bisik Ri Young disela tangisnya. Sesekali ia tersedak bahkan terbatuk akibat tangisnya sendiri.

“Apa yang telah terjadi?” mata sang nenek mulai berair. Namun, rasa cemasnya tak dapat ia bagi.

“Maaf… maaf…”

PLAK

Ri Young mendapatkan satu pukulan di kepala dari neneknya. Walau kepalanya berdenyut, Ri Young tak dapat mengeluh atau menolak, ia hanya tahu cara menangis saja sekarang. “Aku tidak butuh permintaan maaf untuk sekarang ini. Katakan, ada apa?!” bahkan nenek kini sudah menggoncang-goncangkan tubuh Ri Young.

“Halmeoni… huks… aku… melakukannya…”

“Apa? Melakukan apa? Ha? Katakan dengan jelas!”

“Aku.. aku… diperkosa…”

Mendengar itu, wanita renta itu terduduk. Tatapannya berubah kosong walau menunjuk kearah cucunya. “Ya Tuhan… cucuku…” tangis pilu itu terdengar sangat menyedihkan. Nenek segera menarik Ri Young ke dalam pelukannya. “Dosa apa yang telah kami lakukan padamu hingga tak termaafkan, Tuhan?”

“Halmeoni… aku takut… aku…” Ri Young bahkan terbata. Ia semakin memeluk erat tubuh rapuh neneknya dengan isakan yang menguar.  “Aku… aku tidak bermaksud apa-apa. Aku.. aku berusaha membantunya…”

“Siapa pria bejat itu?”

Nenek melepaskan pelukannya pada Ri Young dan Ri Young menggelengkan kepalanya. Mendengar dari nada bicara neneknya saja, ia dapat menangkap kemurkaan yang teramat jelas. Ia tak ingin neneknya akan menemui Kyuhyun dan meminta pertanggung jawaban pria itu. Cukup. Ri Young sudah berjanji pada dirinya sendiri jika ia tak akan pernah menemui Cho Kyuhyun lagi. Ia sudah dinodai oleh pria itu, tak ingin mendengar cercaan dari pria berlidah tajam yang bernama Cho Kyuhyun.

“Mungkin, jika aku mengatakannya, halmeoni tak akan berani menemuinya.” Ri Young mencoba menguatkan dirinya. Ia tak ingin menyebut nama itu. “Dia pria kaya yang memiliki kuasa. Dia… dia pasti akan menuduhku macam-macam.”

“Apa maksudmu? Kau merayunya?”

Ri Young menggelengkan kepalanya dan langsung meraih kedua tangan neneknya. “Sungguh… aku tak seperti itu. Halmeoni.. percayalah padaku.” Ri Young sesekali menyeka air matanya. “Dia… saat itu mabuk.”

“Kau bodoh atau apa? Kenapa mendekati orang mabuk?”

“Halmeoni, aku menolongnya. Saudaranya memintaku mengantarkannya. Sungguh. Aku tidak berpikir jika ini akan terjadi.”

“Ya Tuhan… kenapa kau sangat polos dan bodoh?”

Ri Young hanya mampu menundukkan kepalanya. Ia benar-benar bingung dengan segala hal yang berkelebat di kepalanya.

“Halmeoni…” belum sempat Ri Young melanjutkan kalimatnya, ketukan pintu mengalihkan perhatian mereka.

Nenek serta Ri Young bergegas menuju kearah pintu. Dalam hati, Ri Young terus berdoa agar bukan seorang Cho Kyuhyun yang tengah dibalik pintu rumahnya. “Pembeli tanah,” bisik neneknya saat mengintip dari jendela. Segera sang nenek membukakan pintu.

“Annyeonghaseyo nyonya Man, seperti perjanjian yang telah kita sepakati, nyonya Man. Bagaimana? Apa anda sudah memutuskan untuk menjual tanah dan rumah ini?” pria itu terlihat cukup ramah dan tak terlihat seperti sosok yang menyeramkan. Dibelakangnya, ada seorang pria berjas yang berpenampilan sangat rapi, mungkin notaris atau apa.

Ri Young menatap penuh tanya kearah neneknya. “Halmeoni, kenapa halmeoni  tak memberi tahuku?” mendengar pertanyaan Ri Young itu, sang nenek tersenyum.

“Kau sudah bekerja sangat keras. Aku tak ingin membuatmu banyak pikiran. Karena kau sudah mendengarnya, apa kau setuju untuk menjual rumah ini? Kita bisa pindah ke desa, tanah kakekmu. Uang hasil penjualan tanah ini bisa kita gunakan untuk pengobatan ibumu dan modal untuk kita hidup.”

“Tapi halmeoni…”

Sang nenek menggeleng, mencoba membuat Ri Young diam. “Tuan Kang, silahkan masuk. Saya akan ambilkan surat-suratnya terlebih dahulu.” Pria bermarga Kang itu terlihat tersenyum dan mengangguk.

“Ini surat-suratnya…” nenek Man datang dan langsung meletakkan beberapa map keatas meja. Setelah berunding cukup lama, akhirnya mereka membuat kesepakatan dan tuan Kang memberikan sejumlah uang yang disepakati pada nenek Man.

Ri Young menatap neneknya penuh keterkejutan. “Halmeoni…” sang nenek langsung menggenggam tangan Ri Young agar gadis itu tak melanjutkan kata-katanya.

“Sangat sedih mendengarnya. Kalian sudah aku anggap sebagai keluarga. Memangnya nyonya Man dan sekeluarga akan pindah kemana?” tanya tuan Kang dengan raut sedih.

“Kami akan pindah ke desa. Ada pekerjaan disana.”

Ri Young menoleh kearah neneknya. Benar-benar bingung dengan kondisi sekarang. Tak lama, tuan Kang berpamitan. Tinggallah Ri Young dan nenek Man di ruang depan. “Halmeoni… memangnya halmeoni yakin akan meninggalkan segala kenangan halmeoni bersama harabeoji dan appa?” Ri Young menatap sedih kearah neneknya. Ini keputusan berat. Banyak kenangan telah mereka ukir disini dan ia sadar, sebentar lagi ia akan meninggalkan tempat ini. “Halmeoni, desa mana? Aku benar-benar lupa dengan kampung halaman harabeoji. Aku bisa semakin gila…”

“Tidak usah menjadikan kenangan sebagai penghambat. Kontrak kerjaku di pabrik suda habis. Mana ada orang yang mau mempekerjakan nenek tua sepertiku? Apalagi, sekarang kau tengah ditimpa musibah. Aku beri pilihan, meminta pertanggung jawaban pria itu atau ikut pindah ke desa?”

Ri Young terdiam. Mungkin benar apa yang dikatakan neneknya. Tapi, untuk pilihan yang berat itu, Ri Young harus berpikir cukup lama sebelum ia akhirnya memutuskan untuk ikut pindah bersama ibu dan neneknya. Meninggalkan Kyuhyun adalah keinginan utamanya sekarang.

“Halmeoni, maafkan aku.” Ri Young menunduk. Cukup lama ia berpikir, kemudian ia kembali menatap neneknya. “Ayo kita beres-beres. Kemanapun itu, kita harus pergi. Ayo kita bangunkan eomma dulu.”

Nenek Man mengangguk.

***

“Kyu… dimana Ri Young? Kenapa ia tidak ke ladang?” Eunhyuk yang baru saja datang langsung menghampiri Kyuhyun. Sesekali ia memberi kode pada Donghae.

Kyuhyun masih menekuk mukanya. Benar-benar ingin meledakan semuanya pada kedua pria dihadapannya ini. “Kenapa kalian meninggalkanku dengannya?” tanya Kyuhyun dengan suara tertahan.

“Ikan nemo ini mabuk berat semalam, aku juga setengah mabuk. Bagaimana bisa aku mengantarmu? Lagipula Ri Young ada disana, tidak ada salahnya bukan?” Eunhyuk masih menunjukkan raut santainya.

“Eum, kau harus membayar kebaikannya dengan menggajinya. Lupakan kerja tanpa bayar itu. Kasihan dia.” Ini pertama kalinya Donghae bersuara saat sudah sampai di depan Kyuhyun.

Kyuhyun segera menyeret kedua pria yang sudah ia anggap sebagai saudara itu ke tempat yang cukup jauh dari ladang. “Kalian mendorongku membuat masalah!” geram Kyuhyun. Donghae dan Eunhyuk saling berpandangan dan menunjukkan ekspresi bingung.

“Apa?”

“Hyung… sepertinya semalam kami… melakukannya…”

Mata Donghae dan Eunhyuk melebar sempurnya. “Me… melakukannya… seperti ini…?” Eunhyuk memperagakan maksud ‘ini’ dengan tangan yang meraba-raba tubuhnya sendiri. Tatapan mereka kemudian sangat jelas mengantisipasi kearah Kyuhyun.

“Ya…” mendengar jawaban Kyuhyun itu, Eunhyuk dan Donghae langsung menutup mulut mereka secara kompak. “Aku harus bagaimana hyung? Aku benar-benar bingung.”

“Bagaimana? Kamu tanya bagaimana?”

“Tanggung jawab Kyu!”

Donghae dan Eunhyuk bergantian meneriaki Kyuhyun.

“Tidak. Aku tidak bisa, hyung.” Kyuhyun semakin pucat saja. Hal yang terjadi itu diluar batas kesadarannya. Mana mungkin mereka langsung menyuruhnya untuk bertanggung jawab? “Hyung, kau tahukan jika dia itu pencuri? Manusia paling rendah karena telah mencuri anggurku?”

“Ya Tuhan, Kyu… aku kecewa denganmu!” Eunhyuk langsung berjalan meninggalkan Kyuhyun ditempatnya berdiri.

Donghae melangkah maju agar lebih dekat dengan Kyuhyun. “Aku yakin kau masih punya hati. Tolong pikirkan baik-baik dan dengan matang. Apa semalam kalian melakukannya dengan alat pengaman?” Kyuhyun menggelengkan kepalanya. “Dia bisa hamil, Kyu. Kamu bisa berpikir tenang untuk dirimu sendiri, tapi dampaknya akan diterima oleh Ri Young. Bagaimana kalau dia hamil? Itu anakmu Kyu…” setelah itu, Donghae mengikuti Eunhyuk yang berjalan meninggalkan perkebunan anggur milik Kyuhyun.

***

Dua minggu berlalu. Ketidak hadiran Ri Young tak membuat Kyuhyun terpikir untuk mencarinya. Ia paham akan situasi ini. Dan lagi, kini ia juga tengah menimanng-nimang pilihan, bertemu dengan Ri Young dan bertanggung jawab atau bertemu dengan Ri Young kemudian meminta gadis itu melupakan semuanya.

“Putraku…” suara riang itu menyadarkan Kyuhyun.

Kyuhyun menoleh dan menemukan ibunya berjalan terburu kearahnya. Pelukan langsung Kyuhyun terima setelah itu. “Aigo… putraku yang tampan semakin tampan saja. Oh.. kau sepertinya kehilangan berat badanmu. Apa kau memiliki masalah?” tanya sang ibu.

“Eomma, kenapa kemari? Sendiri?”

“Mengunjungimu. Tentu saja tidak. Ayahmu sedang berkeliling di luar perkebunan.”

Kyuhyun hanya menganggukkan kepalanya. Ia kemudian mengajak ibunya mencari tempat duduk dan berteduh. Terik sinar matahari di siang ini cukup menyengat.

“Kyu… eomma ingin menyampaikan sesuatu.”

Kyuhyun menoleh. Detak jantungnya berdegup sangat kencang. Ibunya adalah sosok yang sangat peka terhadap hal-hal yang menimpanya ataupun kakak perempuannya. Ia takut jika ibunya akan tahu  perkara dirinya dengan gadis bernama Man Ri Young.

“Em… eomma bermimpi jika ada gadis cantik berambut panjang yang sedikit bergelombang di bagian bawahnya, tengah tersenyum cerah. Dan yang eomma takjub, gadis itu kemudian memangku bintang.”

Kyuhyun gelagapan dan menoleh kearah sang ibu. Ia cukup tahu dengan mitos-mitos lama yang masih dipercaya. “Eomma, untuk apa kau menceritakannya padaku? Mimpi seperti itu menandakan gadis itu tengah hamil kan?”

Sang ibu mengangguk mantap.

“Aku tidak tertarik dengan cerita itu.”

“Tapi kau ada disampingnya. Kau juga menyaksikannya.”

Mata Kyuhyun melebar. Ia terkejut setengah mati mendengar itu. ‘Apa jangan-jangan Ri Young benar-benar hamil?’ batin Kyuhyun gundah. Tatapan menyelidik sang ibu cukup mengintimidasinya. “Eomma, kenapa menatapku seperti itu?” tanya Kyuhyun gugup.

“Jangan-jangan kau sudah sering melakukannya dengan kekasihmu. Jujurlah pada eomma.” Sang ibu semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Kyuhyun. “Ayolah.. kakakmu juga sudah menikah. Kau kapan? Usiamu juga hampir 30 tahun. Nikahi saja dia.”

“Eomma…”

***

Ri Young beserta nenek dan ibunya terlihat sudah bisa akrab dengan tetangga-tetangga barunya. Walaupun mereka tinggal di rumah yang lebih kecil dari rumah yang dulu, tetapi hal itu setidaknya membuat Ri Young lebih lega. Seperti siang ini, ia berjalan sembari mengobrol dengan tetangganya yang usianya terlihat seusia ibunya. Ri Young berencana untuk mengantarkan makan siang pada para buruh di ladang buah kesemek.

“Berdiamlah disini sebentar,” ucap seorang wanita yang seusia dengan nenek Man pada Ri Young.

“Ya, halmeoni.”

Ri Young kemudian duduk di atas tikar yang memang sudah disiapkan oleh para pekerja yang akan istirahat. “Dimana Ryeowook? Dia membantumu memasakkan?” mendengar itu, Ri Young mengedarkan pandangannya.

“Iya halmeoni, tadi Ryeowook oppa di belakangku. Dia membawa cukup banyak makanan sehingga sedikit kerepotan. Ryeowook oppa pasti membantuku, bukankah memasak adalah kegemarannya? Dia bahkan memasak hampir semua masakan yang akan kita makan. Ah.. rasanya aku memakan gaji buta,” papar Ri Young dengan senyum malu.

“Ei… gaji buta dari mana? Ri Young bahkan meracik hampir semuanya, aku hanya mencuci sayur saja. Jangan suka merendahkan diri, Ri Young-ah.” Pemuda bernama Ryeowook itu akhirnya sampai dan langsung menanggapi pernyataan Ri Young.

Ryeowook sesekali menyeka keringatnya. Namun, disela itu, ia menatap Ri Young yang tersenyum kearahnya. Melihat senyum Ri Young, Ryeowook terpancing untuk ikut menerbitkan lengkungan di bibirnya. “Semakin hari, wajahmu terlihat bersinar,” puji Ryeowook tiba-tiba.

Senyum Ri Young mendadak sirna, berganti menjadi lengkungan canggung. “Ryeowook benar, Ri Young memiliki aura yang sangat cerah. Mampu membuat kami merasa lebih santai hanya melihat wajahnya saja.”

“Halmeoni Kim berlebihan sekali.”

“Ei… aku senang melihat kalian bisa sangat dekat walau baru mengenal beberapa hari yang lalu,” ucap nenek Man.

“Halmeoni, kami sudah mengenal lebih dari seminggu. Kami juga bekerja bersama, jadi kami harus dekat. Iya kan?” Ri Young tersenyum dan mengangguk. “Ayo kita antar makanan pada ibumu,” ajak Ryeowook.

Mereka kemudian berpamitan dan berjalan pergi. Ryeowook bahkan menggandeng tangan Ri Young karena jalan di depan mereka adalah jalan menurun yang cukup curam. Hal itu benar-benar disaksikan oleh para nenek yang tengah istirahat. “Lihatlah, sepertinya mereka serasi. Baru kali ini aku melihat cucuku sangat dekat dengan seorang gadis. Biasanya dia hanya sibuk di dapur. Kekhawatiranku mulai hilang,” ucap nenek Kim, nenek dari Ryeowook.

“Jodohkan saja mereka. Ri Young sangat cantik dan baik, mereka tampak serasi.” Kali ini giliran nenek Lee yang berbicara.

“Kalian terlalu memuji cucuku. Dia anak yang nakal. Rugi sekali jika Ryeowook mempersunting gadis sepertinya.” Nenek Man terlihat risih dengan itu. Ia sangat tahu bagaimana masa lalu Ri Young dan ia tak ingin menjebak Kim Ryeowook untuk menikahi cucunya yang sudah pernah diperkosa.

“Ei.. kau terlalu merenndahkan cucumu.”

“Ri Young itu bunga desa baru disini setelah beberapa tahun lalu Jiyeon menikah dan ikut suaminya ke Seoul, kami tak memiliki bunga desa lagi.”

***

Malam ini, kedua orang tua Kyuhyun memilih menginap di rumah milik Kyuhyun pribadi. Dan itu membuat Kyuhyun sukses olah raga jantung hampir seharian. Ia bahkan tak melihat kedua sahabatnya hari ini. Ya, semenjak Ri Young tak bekerja lagi di ladang, Donghae dan Eunhyuk jarang mengunjungi ladang.

“Ayolah kenalkan eomma pada kekasihmu…” nyonya Cho terus saja merengek pada Kyuhyun.

“Eomma…” keluh Kyuhyun.

Kyuhyun akhirnya mendudukkan diri di atas sofa yang terletak di ruang tamu. Sang ibu masih setia menempel pada Kyuhyun, berharap jika anaknya itu segera mengenalkan calon menantu untuknya yang ia yakini kini tengah hamil. Tuan Cho terlihat duduk santai sambil memperhatikan ulah ibu dan anak itu.

“Turuti saja keinginan ibumu, Kyu. Usiamu juga sudah cukup untuk menikah, pekerjaan juga bisa dibilang memadai, apa lagi?” tuan Cho mulai bersuara. Mendengar ucapan tuan Cho, nyonya Cho mengangguk antusias.

“Appa, eomma, aku belum punya kekasih.”

Nyonya Cho menatap penuh selidik kearah putranya. “Jangan berbohong. Mimpi eomma sangat jelas. Kyu… jangan buat gadis itu menanggungnya seorang diri. Gadis itu hamil Kyu. Kau disampingnya dan melihat ia tengah memangku bintang. Dia cantik di mimpi eomma.”

“Tapi dia pencuri anggurku!”

Tuan dan nyonya Cho terlihat sangat terkejut dengan jawaban spontan Kyuhyun itu. Kyuhyun keceplosan dan itu terllihat jelas. Kini, pria berbadan tak begitu tambun itu menutup mulutnya.

“Maksudmu apa? Ha?” nyonya Cho berdiri di depan Kyuhyun.

“Aish!” rutuk Kyuhyun karena kesalahannya.

“Cho Kyuhyun!”

“Dia itu hanya wanita miskin yang mencuri anggur-anggurku untuk di jual!”

Nyonya Cho menyipitkan mata kearah Kyuhyun. “Lalu, kau menggunakan kesalahannya untuk menikmati tubuhnya? Ya Tuhan… Cho Kyuhyun! appa dan eomma tak pernah mengajarimu untuk menjadi pria kurang ajar seperti itu!”

“Aku tidak sengaja! Aku tidak sadar. Aku mabuk.” Tuan Cho tak dapat berkata apa-apa mendengar perdebatan ibu dan anak itu. Namun, ekspresinya sangat jelas menggambarkan jika ia sangat marah pada seorang Cho Kyuhyun. “Dia juga tidak lagi menemuiku. Kami hanya sekali melakukannya, tidak mungkin dia hamil!”

“Dimana rumahnya?”

Kyuhyun menatap ayahnya tak percaya. Kini ayahnya sudah berdiri tegap, menatap murka kearahnya. “Appa..”

“Antarkan kami ke rumahnya! Keluarga kita adalah keluarga yang bertanggung jawab!”

Mendengar itu, nyonya Cho langsung mendorong tubuh Kyuhyun. Ini adalah salah satu kemurkaan terparah dari suaminya. “Lebih baik segera antarkan kami sebelum ayahmu merusak kebun anggur kebanggaanmu,” bisik nyonya Cho.

Kyuhyun dan kedua orang tuanya sudah berhenti di depan sebuah rumah kecil yang sangat sederhana. Kaki tuan Cho melangkah lebar dan berhenti tepat di depan pintu. Mengetuk pintu tak terlalu keras.

“Annyeonghaseyo…” sapa seorang wanita yang terlihat mengantuk. Wanita itu baru saja membukakan pintu dan terkejut dengan kehadiran tuan Cho yang menggunakan jas mahalnya.

“Kyuhyun…” panggil tuan Cho agar Kyuhyun segera mendekat.

Kyuhyun dengan langkah diseret, terlihat berat untuk mendekat tetapi tetap mendekat. “Bibi, apa Ri Young ada?” tanya Kyuhyun sopan. Nyonya Cho juga menunjukkan senyum ramahnya pada wanita tadi.

“Maaf? Ri Young?”

“Ya..”

“Di rumah ini tidak ada yang namanya Ri Young.” Tuan Cho langsung mengarahkan tatapan tajam kearah Kyuhyun. Ia mulai curiga pada putranya itu. “Oh… mungkin dia penghuni rumah ini yang dulu.”

“Apa? Maksudnya?” nyonya Cho mencoba mencari tau.

“Saya dan suami saya baru saja pindah kemari sekitar seminggu yang lalu. Mungkin yang anda cari adalah penghuni sebelumnya. Anda bisa mengunjungi tuan Kang, pemilik rumah kontrakan ini.”

Kyuhyun menunduk. Ayah dan ibunya saling beradu pandang. “Bolehkan anda memberi kami alamat pemilik rumah ini?” tanya nyonya Cho dengan sopan. Wanita tadi mengangguk dan langsung memberitahukan alamat tuan Kang. “Terima kasih atas infonya.”

Setelah itu, mereka berpamitan dan suasana mencekam semakin terasa. “Mungkin dia pergi untuk menjauhimu. Kau benar-benar tak berguna, Cho Kyuhyun!” maki sang ayah.

“Ya Tuhan… kepalaku pusing memikirkan ini. Bisa-bisa aku tidak akan pernah bertemu dengan cucuku.”

“Eomma!”

Langkah kaki mereka berhenti di depan rumah yang memiliki halaman cukup luas. Tuan Cho kembali berjalan di depan. Pria paruh baya itu menekan bel dan tak lama sang pemilik rumah membukakan pintu. “Apa benar ini kediaman tuan Kang?” tanya tuan Cho.

“Ya, benar. Saya sendiri. Mari masuk..”

“Maaf mengganggu malam-malam, kami hanya sebentar saja.” Tuan Cho kemudian memberi perintah kepada Kyuhyun melalui tatapan matanya.

“Apa tuan mengenal Man Ri Young?”

“Ya.”

“Apa anda tahu mereka pindah kemana?”

Tuan Kang menelisik dandanan keluarga Cho ini. Rasanya aneh, tetapi ia tetap mencoba mengingat-ingat dialognya dengan nenek Man beberapa waktu lalu sebelum mereka menjual rumah. “Yang saya tahu, mereka pindah ke desa. Hanya itu saja.”

“Tidak menyebutkan tepatnya?”

“Tidak.”

“Baiklah kalau begitu, terima kasih.” Tuan Cho kemudian berpamitan dan kembali ke rumah Kyuhyun.

Dalam perjalanan pulang yang hanya berjalan kaki, mereka bertiga sibuk dengan pemikiran masing-masing. Tak lama, nyonya Cho menunjukkan sedikit senyumnya. “Kau harus menemukan gadis itu bagaimanapun caranya. Aku tidak mau menelantarkan cucuku!”

“Dia belum tentu hamil, appa!”

“Bahkan mimpi ibumu sangat jelas. Saat Ahra akan dilamar, ibumu juga memimpikan banyak pertanda jika salah satu diantara kalian akan menikah. Jangan mengelak! Atau ladang anggurmu aku bakar!”

“Appa!”

***

Ri Young memulai paginya dengan membersihkan rumah kecil yang ia dan dua orang tersayangnya tinggali. Ibunya nampak duduk di atas kasur lipat yang ada di kamar mereka. Ya, mereka tidur dalam satu kamar. Mereka bertiga.

“Sepertinya, ada sesuatu yang berbeda darimu,” ucap sang ibu yang membuat Ri Young menoleh.

Ri Young berpikir sejenak. Ia melihat tubuhnya melalui pantulan kaca kecil di kamar itu. “Benarkah, eomma? Apa aku terlihat semakin hitam? Gemuk? Kurus? Atau lusuh?” tanya Ri Young bertubi-tubi.

Sang ibu hanya tersenyum dan menggeleng. “Kau terlihat bersinar.” Jawaban itu membuat Ri Young tersenyum canggung. Ia bukannya tidak suka, ia hanya merasa canggung saja mendapat pujian padahal biasanya ia sering dihina.

“Eomma, sebentar lagi tabunganku akan cukup untuk biaya operasi eomma. Apa eomma sudah siap?” tanya Ri Young dengan nada penuh kehati-hatian.

Nyonya Man menatap penuh rasa bersalah kearah putrinya. Ia selalu merasa sedih jika mengingat hal itu. “Bisakah kau memikirkan dirimu sendiri? Eomma sudah cukup tua untuk tinggal di dunia ini. Simpan ginjalmu dengan baik.”

“Eomma…”

“Eomma bahkan sudah lelah meminum obat-obat ini.” Nyonya Man kemudian menunjukkan tumpukan obat yang harus ia konsumsi.

“Eomma pasti belum meminumnya, aku ambilkan air putih dulu.”

Sebelum Ri Young beranjak dan meletakkan sapu di tangan kanannya, nenek Man sudah masuk dengan segelas besar air putih. Setelah menerima uluran gelas dari mertuanya, nyonya Man membuka salah satu bungkus obat.

‘Hoek…’

Ri Young menutup mulutnya saat rasa mual itu menyerangnya. Ia langsung berlari keluar kamar menuju kamar mandi. “Apa dia sakit, eommonim?” tanya nyonya Man pada sang mertua. ‘Apa dia hamil?’ pertanyaan itu mengusik batin nenek Man hingga akhirnya wanita renta itu mengejar Ri Young.

‘Hoek..’

Suara Ri Young terdengar sangat jelas. Ia berusaha memuntahkan isi perutnya tetapi tidak ada yang keluar sedikitpun. Nenek Man mencoba memijat tengkuknya dan tak menghasilkan apapun. Mual yang Ri Young rasakan tetap mendera, tetapi hanya ludah saja yang terus keluar.

“Mungkin kau hamil.”

“Halmeoni…” pernyataan nenek Man itu membuat Ri Young semakin pucat saja.

“Apa? Hamil? Ri Young-ah.. kau hamil?”

To Be Continued

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: