Sweet of Purple Part 4 [END]

0
Author : Shan Shine
Tittle : Sweet of Purple (Chapter 4 END)
Category : Romance, litte Comedy, Project 2th FNC
Cast : – Lee Donghae. – Shin Hyunni.
Other Cast : – Jung Seori – Hyunni’s mother
– Hyunni’s Grandmother – Find by yourself
“DONGIE AH!!!”
 Donghae langsung terlonjat kaget dari kasur setelah mendengar teriakan itu lagi di kepalanya.
“Akhhh.” Ia merasakan sakit di tangan kirinya saat ia bangun tadi. Tangannya sudah dalam keadaan diperban.

“Hati-hatilah Lee Donghae! Tanganmu masih terkilir.” ucap pria tua itu.
“Aku dimana? Dan siapa ahjussi?” Tanya Donghae bingung melihat ruangan yang tidak ia kenali itu.
“Kau tidak  mengenalku? Kau ada dirumahku.” tawa pria tua itu mulai terdengar. “Ya itu sudah 20 tahun lalu kau pasti sudah tidak  mengenaliku Hahaha tapi aku tetap mengingatmu dengan baik! Tadi kau jatuh dari atas pohon dan Hyunni menyuruhku merawatmu.”
“Hyunni?”
Pria tua itu membantu Donghae untuk duduk bersama di belakang rumahnya yang memiliki suasana damai. Donghae sudah di suguhkan sebuah kopi dan biskuit. Duduk santai bersama pria tua itu yang juga menikmati kopinya dan hari sudah menjelang sore. Lama sekali ia pingsan. Sadar Donghae. Kemudian Donghae ingat ternyata tadi ia jatuh dari pohon besar dan hampir mematahkan tangannya. Untung saja hanya terkilir sedikit.
Dan saat melihat pekarangan itu, Donghae langsung teringat sesuatu. Dia selalu pergi kesini dulu tapi dia tidak  ingat pasti tempat apa ini. Yang penting dia dapat merasakan bahwa ia sering berada disini. Sepertinya sudah sangat lama ia tidak  ketempat ini.
“Dulu, kau sering menyelinap masuk ke sini bersama Shin Hyunni untuk memakan anggur-anggur yang kutanam dulu.” jelas pria itu dengan tawa yang mengembang mengingat masa-masanya dulu bersama Donghae yang selalu saling berkejaran di pekarangannya yang besar itu.
“Shim ahjussi?”
“Ne, ini aku.” Sahutnya penuh senyuman. “Kau sudah tumbuh besar! Kau semakin tampan saja…. Kau bahkan sangat sukses sekarang.”
“Gamsahamnida.”
“Bagaimana dengan Shin Hyunni?” Donghae tertegun mendengar nama itu. “Kalian masih berteman? Dia juga menjadi sangat cantik dan baik sekarang, dia sering membawakanku anggur dari kebunmu karena merasa bersalah selalu mencuri anggurku dulu.”
“Hmm… ahjussi benar. Dia semakin cantik sekarang.” Mereka berdua tersenyum bersama.
“Apa dia sudah menepati janjinya?” tanya Shim ahjussi yang membuat Donghae bingung. “Bukannya dia pernah berjanji akan menikahimu jika kau sudah punya kebun anggur? Aku mendengar itu saat akan menangkap kalian karena mencuri anggur lagi tapi aku urungkan niatku melihat suasana yang sangat bahagia hari itu.”
Donghae langsung mengeluarkan senyuman mematikannya. Lebih seperti senyuman iblis. “Benarkah dia berjanji itu?” Shim ahjussi mengangguk pasti.
Donghae langsung berdiri dan pergi.
“Kau mau kemana?”
“Menjemput calon istriku.”
“Kau tahu dia dimana?” Donghae menggeleng.
“Dia di rumah pohon! dai selalu berada disana seperti menunggu seseorang! Kau tahu itu dimana?”
Donghae tersenyum. “Tentu saja! Aku ingat betul tempatnya.”
Donghae yang masih dalam keadaan tangan yang diperban mulai berlari mencari tempat itu. Menyusuri jalan yang sudah ia ketahui betul letaknya.
Donghae tersenyum melihat rumah pohon yang masih persis seperti dulu. Dia dapat melihat Hyunni yang sedang tertidur pulas diatas sana. Donghae kesal, bagaimana bisa gadis itu tertidur pulas diaatas sana padahal dia tahu bahwa dirinya sedang tersiksa jatuh dari pohon. Donghae pun mencari cara agar membangunkan Hyunni.
Donghae mengambil batu yang sangat kecil lalu melemparnya naik ke atas pohon tapi tidak  ada respon. Donghae semakin kesal. Dia mencari batu yang sedikit besar untuk dilempar ke atas tapi masih tidak  ada pergerakan. Donghae semakin kesal dan mencoba melempar batu yang sedikit lebih besar lagi namun terhenti karena ia melihat orang yang berada di atas sana mulai bergerak.
“Apa yang kau lakukan?” Donghae berbalik dan kaget melihat Hyunni yang tengah berdiri di belakangnya memandanginya dengan bingung dan datar.
Donghae dengan takutnya mulai berbalik perlahan ke atas dan mendapati orang yang ia ganggui telah bangun. Seorang pria yang memandang marah ke Donghae. “Itu bukan kau?” tanyanya gugup pada Hyunni.
“Kau bodoh! Mana mungkin aku punya badan sebesar itu!”
“Hei! Kau yang melempar batu?!” teriak pria itu dari atas Donghae menggeleng cepat. “Awas kau!”
***
Donghae dan Hyunni tengah duduk di dekat danau. Hyunni tidak  berhenti tertawa keras membuat Donghae kesal melihatnya. Donghae menceritakan tentang kejadian tadi kalau dia mau mengerjai Hyunni dan sejak itu hingga sekarang Hyunni terus tertawa tapi Donghae juga bahagia melihat tawa itu. Dia merasa Hyunni yang lama kembali. Entah apa yang membuat Hyunni berubah tapi Donghae tidak  peduli. Dia senang melihat tawa bahagia Hyunni kembali.
Hyunni sudah tidak lagi menghindari Donghae. Dia pikir menghindari Donghae adalah cara yang salah. Dia tidak  seharusnya marah jika melihat Donghae ciuman hari itu. Bagaimana pun jika Donghae masih mencintai Seori. Hyunni akan menerimanya. Karena itulah kebahagian Donghae. Dia hanya perlu mendukung semua keputusan sahabat kecilnya itu. Setidaknya itulah yang selama ini Hyunni pikirkan.
“Hyunnie-ah.” Panggil lembut Donghae dengan senyuman menawan, menatap Hyunni penuh arti.
Hyunni langsung terdiam dan membalas menatap Donghae dengan tidak percaya. “Kau mengingatku?”
“Tentu saja.”
“Benarkah?”
“Kenapa kau tidak  bilang bahwa kita adalah sahabat.”
“Aku hanya takut saja kau sudah berubah.”
“Aku tidak  pernah berubah.”
“Geundae… bagaimana tanganmu? Apa sakit?” Tanya Hyunni mengalihkan pembicaraan saat melihat tangan Hyunni yang diperban.
Tapi Donghae malah membuang muka dan mempoutkan bibirnya layaknya anak kecil yang lucu. “Kau jahat! Tidak menolongku.”
“Aku sudah menyuruhmu turun dari tadi.”
“Tapi kau tidak menangkapku saat jatuh.”
Hyunni memukul tangan kiri Donghae sehingga Donghae meringis. “Kau pikir aku superman? Bisa terbang dan menangkapmu? kau pikir aku punya kekuatan?”
Chup~
Hyunni lagi-lagi dibuat diam oleh Donghae dengan ciumannya yang tiba-tiba. Donghae langsung mengecup bibir Hyunni cepat membuatnya diam dan berhasil, Hyunni sekarang membeku seperti manusia salju. Donghae tertawa melihat tingkah Hyunni yang sangat menggemaskan.
“Apa sebegitu manisnya bibirku hingga kau terpesona seperti itu.” goda Donghae.
PLETAKKK
Hyunni mendaratkan sentilannya ke dahi Donghae yang sukses membuatnya kembali meringis. Donghae bingung, apa hobi Hyunni hanya membuatnya tersiksa secara fisik? Donghae manatap Hyunni tajam tapi tatapan Hyunni lebih tajam lagi. “Kau mencuri ciuman keduaku.”
“Aniyeo! Aku mencuri ciuman ketigamu.” Rralat Donghae penuh percaya diri.
“Apa maksudmu?” Hyunni langsung membulatkan matanya. “YAK! Kau pernah mencuri ciuman pertamaku diam-diam?!”
“Makanya jangan suka tidur di mobil, kau tidak tahu apa isi pikiran pria.” Sahutnya enteng.
“Pantas saja mukamu mesum saat aku baru bangun hari itu.”
“MWO?!” Donghae tidak  terima. “Kau cari mati denganku? Aku terima jika kau bilang diktator, ungu dan ikan tapi mesum! Aku tidak  terima!!”
“Donghae byeontae namja!” tantang Hyunni.
“Kau benar-benar ingin mati rupanya! Kau ingin aku mengambil ciuman keempat, kelima dan seterusnya hingga kau tidak  bisa menghitungnya lagi?” Hyunni langsung diam bergidik ngeri. Dia tahu Donghae adalah orang yang menepati kata-katanya. Membuat kebun anggur yang besar saja ia tepati, bagaimana dengan hal kecil itu.
Melihat Hyunni yang terdiam karena takut membuatnya terkekeh kecil. “Jika kau terus mengumpatku, aku akan jamin malam pertama kita akan segera terjadi sebelum kita menikah.”
Hyunni membuka mulutnya tidak percaya apa yang didengar. Bukan karena mendengar kata-kata vulgar Donghae, melainkan kata pernikahan. Hyunni heran sekaligus kaget mendengar itu. Dia sadar sekarang, Donghae sudah mengingat namanya dan masa lalu tentangnya. Dia pasti sekarang sudah mengingat janji itu juga. Seketika tubuh Hyunni menegang.
“Kau tidak  merasa kau melupakan sesuatu?” Hyunni semakin terpojokkan dengan pertanyaan itu.
“Aniyeo.”
“Jangan pura-pura lupa! Aku sudah menepati janjiku untuk membuat kebun anggur besar, sekarang giliranmu.” ucap Donghae dengan mata memandang tajam.
“Bagaimana dengan Seori?!” ucap Hyunni gugup.
Donghae menjadi bingung. “Ada apa dengan Seori?”
“Bukannya kau kembali bersama?”
“Siapa bilang?!” ralat Donghae. “Apa selama ini kau marah dan menghindariku karena mengira aku kembali pada Seori? mana mungkin! Jadi ternyata benar selama ini kau menyimpan perasaan padaku?!”
Bulatan merah padam pun muncul di sekitar pipi. Donghae menganggap rona pipi itu sebagai tanda jawaban iya. Melihat tatapan Donghae yang mengintimidasinya membuatnya semakin malu mengetahui bahwa ia marah dengan alasan yang konyol. Bagaimana pun seorang gadis juga merasakan apa yang ia rasakan jika melihat pria yang mereka sukai berciuman bersama gadis lain. Walaupun mereka tidak  punya hubungan apa-apa, pasti semua gadis juga akan sedih dan kesal.
Donghae meraih satu tangan Hyunni dan menggenggamnya erat seakan Hyunni bisa pergi kapan saja. “Saranghae.”
Kata-kata itu seperti mimpi yang paling indah yang pernah ia dengar. Sorotan mata dan hangatnya genggam erat di tangan Donghae membuat Hyunni yakin, Donghae mengatakan yang sebenarnya padanya.
“Kita akan menikah bulan depan, saat tanganku sudah baikan.” ucap Donghae yang seperti perintah.
“MWO?! Kalau aku tidak mau?!” tantang Hyunni yang kesal melihat Donghae melamarnya tanpa ada kesan romantis sama sekali.
“Itu bukan permintaan! Itu perintah.”
“Aku sudah tidak dalam masa hukumanmu lagi!”
“Aku bilang aku melepaskanmu jika kerjamu bagus dan tidak membuat masalah.” Jelas Donghae.
“Kerja ku bagus! Aku bahkan membuat bunga-bunga di sekitar rumahmu yang mati kembali hidup!” kesal Hyunni.
“Tapi kau membuat banyak masalah.”
“Masalah apa?! Kebunmu baik-baik saja.”
Donghae menatap Hyunni dengan ganas dan mulai menghitung sesuatu. “Masalahmu, selama kau dihukum. Kau tidak  pernah sopan padaku, kau mengumpatku, menyumpahiku, mengerjaiku dan…” Donghae memotong perkataannya. “Juga membuatku frustasi karena memikirkanmu.”
“Baiklah! Aku menuruti perintahmu! Tapi bisa tidak kau mengulang kata itu? Kata saranghae.”
Donghae menggeleng. “Malas.”
“Jebal.”
Donghae kemudian menunjuk pipinya. Meminta ciuman pada Hyunni, Hyunni pun hanya bisa menghela nafasnya kemudian mendekatkan wajah tapi saat bibirnya hampir menyentuh pipi Donghae, Donghae langsung membalikkan wajahnya sehingga Hyunni kembali mengecup bibir Donghae.
“Penipu!”
“Saranghae.”
***
Hyunni kembali ke kebun Donghae. Merawat kebun Donghae bukan karena perintah Donghae melainkan kemauannya sendiri. Dia sudah jatuh cinta dengan kebun itu padahal Donghae menyuruhnya tidak usah terlalu memaksakan diri untuk merawat kebun itu. Bagaimana pun Donghae tidak  ingin melihat calon istrinya berkerja terlalu berat.
Hyunni seperti biasa, menyiram  bunga di sekitar rumah Donghae. Sambil menunggu Donghae keluar dari jendela kamarnya. Dan benar saja, tidak  selang lama Donghae keluar bersama senyum konyolnya yang mengembang hingga memenuhi wajahnya. Menatap Hyunni yang tengah menyiram bunga dengan tatapan penuh cinta.
“Barusan kau rapi di pagi hari, biasanya kau berantakan.” ejek Hyunni.
“Wae? Kau lebih suka melihatku telanjang di pagi hari?” kata Donghae salah tangkap dalam ucapan Hyunni.
“Aniyeo! Bukan begitu.”
“Baiklah jika kau tidak tahan ingin melihat tubuh sempurnaku, aku akan menunjukkannya.” Dengan tatapan yang menjijikkan Donghae mulai melepas satu persatu kancing bajunya hingga habis dan langsung membuka bajunya menampilkan tubuhnya yang sempurna. Namun bukannya kagum, Hyunni menatap ngeri kelakuan kekasihnya itu. Dengan cepat Hyunni langsung menutup gorden dan juga jendela.
“Hey! Kenapa kau harus malu melihatnya!” teriak Donghae dari dalam. “Tidak  lama lagi kau akan melihatnya dengan jelas semuanya.”
Hyunni hanya ingin muntah mendengar kata-kata Donghae yang semakin hari semakin vulgar. Hyunni hanya bisa tertawa, dia mencintainya. Mencintai Donghae yang selalu menghiburnya dan membuatnya tertawa seperti ini.
“Saranghae, Dongie ah.” Gumam Hyunni.
***
Sebulan kemudian…
Matahari bersinar terang memasuki jendela rumah besar itu. Jam dinding kamar itu sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Namun Lee Donghae masih tidur dengan pulasnya. Dia pasti sangat lelah. Baru menyelesaikan resepsi pernikahan pada jam 1 malam karena tamu yang banyak. Hyunni saja bahkan hampir pingsan semalam saking lelah berada di pesta pernikahannya sendiri. Bagaimana pun ini hari pertama mereka menjadi sepasang suami istri. Mereka harus menikmatinya.
Donghae perlahan membuka matanya karena silaunya matahari siang dan hal pertama yang menyambut penglihatannya adalah sosok seseorang yang masih tertidur pulas membelakanginya. Tampaknya orang itu juga silau pada matahari siang itu sehingga ia menenggelamkan seluruh tubuh hingga kepalanya ke dalam selimut.
“Kau masih tidur rupanya, jagi ah.” Bisik Donghae lembut.
Donghae pun menarik orang yang merupakan istri sahnya kedalam pelukannya. Memeluknya dari belakang dan berusaha tidak  membangunkannya. Dia mendekapnya dengan erat membuat Donghae semakin tidak mau bangun. Akhirnya sekarang dia bisa memeluk istrinya dengan sangat dekat seperti ini karena Hyunni sekarang sah menjadi istrinya dan apa pun yang Donghae lakukan. Semua benar.
Tapi ada yang aneh pada Hyunni pagi ini. Apa ini efek dari kelelahan? Pikir Donghae. Donghae terus meraba dan menyentuh bagian yang membuatnya merasakan keanehan. Orang yang berada dalam pelukan Donghae mulai terbangun karena gangguan tangan Donghae. Dia kesal karena pagi-pagi begini dia harus terganggu saat tidur. orang itu sadar apa yang dilakukan Donghae padanya. Sehingga ia kaget dan bangun. Donghae yang juga menyadarinya sekarang ikut terlonjat dari tempat tidur dan saling menatap satu sama lain.
“KKKKYYYYYYYAAAAAAAA!!!!!” teriak keduanya.
Pintu kamar pun langsung terbuka dan betapa kagetnya Donghae. Melihat Hyunni yang masuk di kamarnya bersama Songin. Dia berbalik dan mendapati Eunhyuk berada di sampingnya, di tempat tidurnya tengah menatap Donghae dengan ngeri, sedangkan Hyunni dan Songin menatap Donghae dan Eunhyuk dengan cemas.
“Ada apa?!” Tanya Hyunni dan Songin bersama seperti orang yang menghadapi bom atom.
“Sedang apa kalian disini?!” kesal Donghae lalu menatap Eunhyuk. “Sedang apa kau di kamarku?!”
“Oppa, tadi pagi sekali mereka datang dari Seoul untuk berkunjung dan Eunhyuk oppa bilang dia ngatuk menyetir semalamannya, karena kamar tamu berantakan jadi aku menyuruh Eunhyuk oppa tidur di kasur bersamamu untuk sementara.” Jelas Hyunni polos.
“Kenapa kau berteriak?!” Tanya Songin kesal pada Eunhyuk.
Eunhyuk pun langsung turun dan berlari kearah tunangannya sambil menutup badannya bagian atasnya. Lebih tepatnya dadanya.
“Songin-ah! Donghae memelukku dan terus-terus meraba dadaku! Dia melecehkanku!” Kata Eunhyuk penuh frustrasi lalu menatap Hyunni. “Hyunni-ah, Suamimu sangat mesum melebihi aku! Hati-hatilah jika kau tidur bersamanya! Kau tidak akan bisa tidur!” kata Eunhyuk lagi dan berlari keluar dari kamar Hyunni dengan ketakutan.
Hyunni yang mendengar itu langsung meledak tertawa, membayang hal yang telah dilakukan suaminya pada sahabatnya sendiri. Seorang pria.
“Aku pikir itu kau.” Jelas Donghae polos seperti anak kecil pada Hyunni yang tetap tertawa.
Songin menggeleng-geleng melihat tingah orang-orang di rumah itu. “Hyunni-ah. Sepertinya keluargamu akan sangat seru, jaga keluargamu baik-baik.” Sahutnya menepuk-nepuk bahu Hyunni yang tertawa lalu keluar dari kamar Hyunni.
“hahaha Ne. eonnie.”
“Pantas saja dadanya rata.” Sahut Donghae polos yang lalu menatap Hyunni dengan tatapan yang selalu Hyunni takutkan. “Jagi-ah, kita tidak  melakukan malam pertama semalam, bagaimana jika kita lakukan saja sekarang. Ne?”
Hyunni yang mendengar itu langsung berhenti tertawa dan menatap suaminya dengan tatapan ingi membunuh karena tidak  percaya Donghae mengatakan hal seperti itu saat ada tamu dirumah mereka. Hyunni pun mengambil bantal sofa di dekatnya dan melemparkannya ke wajah Donghae.
“Dasar Ikan Yadong!!”
The End…

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: