My Little Girl Part 2 [END]

0
ff nc my little girl kyuhyun
Author : Ttaemyeon
Tittle : My Little Girl (2/2)
Category : NC21, Yadong, Chapter
Cast: Cho Kyuhyun
Han Se-Byul

If you believe that’s your love is true love, leave it with no doubt.
‘Cause true love will always wait for you.
Semua pelayan di rumah Cho Kyuhyun menyayangi Han Se-Byul.
Mereka menganggap Se-Byul seperti anak mereka sendiri. Maka saat Kim ahjussi pulang tanpa Se-Byul, mereka semua merasa sedih. Han Se-Byul di mata mereka adalah nona yang baik dan ceria, dan dia mencintai tuan mereka tanpa embel-embel melirik kekayaannya. Se-Byul juga tidak pernah marah dan sepertinya menganggap semua pelayan di rumah Kyuhyun sebagai keluarganya.

Dan yang mereka takutkan adalah, reaksi Cho Kyuhyun mengetahui kalau gadis kecilnya sudah tidak ada di rumah.
Saat terdengar deruman mobil di garasi, semuanya terbirit-birit memasuki kamar mereka masing-masing.
Mereka semua menjadi saksi hidup bagaimana Cho Kyuhyun menjadi terlihat lebih ‘hidup’ semenjak membawa seorang gadis dua tahun yang lalu. Tidak ada lagi Cho Kyuhyun otoriter dan diktator semenjak ada gadis itu. Maka mereka pun tidak dapat menerka, apa yang terjadi pada Cho Kyuhyun tanpa gadis itu.
-o0o-
Cho Kyuhyun melepas jasnya dan menyampirkannya di lengan. Ia mengernyit, kenapa rumah seperti sepi sekali.
Ia melirik jam tangannya. Sudah jam enam sore, tidak mungkin kalau Se-Byul masih tidur. Gadis itu benci sepi dan hening, kalau dia ada di rumah pasti dia menyalakan tape dengan lagu-lagu upbeat. Atau… gadis itu masih sakit? Masih merasa lemas?
Khawatir merambati relung hatinya. Bersalah, dan juga menyesal kenapa tadi dia tidak tinggal di rumah saja… tapi, wanita sialan itu juga harus dibereskan. Ia menghela napas lega, setelah enam bulan yang panjang, wanita murahan itu bisa takluk dan menunduk. Kyuhyun yang sedang berjalan cepat ke tangga, menangkap siluet Jung ahjumma di pantry. Ia berhenti. “Se-Byul sedang apa?”
Jung ahjumma meremas-remas ujung bajunya. Menatap Kyuhyun dengan sorot yang aneh.
Bibi itu sudah bekerja pada keluarganya semenjak dia berumur tujuh tahun, Kyuhyun juga membawa bibi dengan perangai lembut itu saat ia berhasil membangun rumahnya sendiri. Dua puluh delapan tahun berlalu, dia tahu persis kalau ahjumma menyembunyikan sesuatu darinya. Jung ahjumma tidak bisa berbohong padanya.
Jung ahjumma menggigit bibir bawahnya. “No-nona Se-Byul….”
-o0o-
Han Se-Byul menegaskan suaranya. “—pokoknya setelah ujian nasional minggu depan, aku mau ke London. Kau tidak usah khawatir, ada Choi Siwon disana.”
“tapi nona Han Se-Byul, dalam surat wasiat, kau sudah digariskan untuk kuliah di Universitas Seoul jurusan bisnis. Itu adalah mutlak, tidak dapat diganggu gugat.”
“terserah! pokoknya aku mau pergi dari Kor—YA!” Cho Kyuhyun dengan wajah murka, merampas ponsel genggam Se-Byul dan tanpa babibu melemparkannya ke dinding. Ponsel layar sentuh itu hancur tak berbentuk, layarnya retak dan mati total.
Se-Byul menatap tajam ke arah Kyuhyun. “Siapa yang memberitahumu aku ada disini?”
Cho Kyuhyun tidak menjawab apa-apa, serta merta menarik lengan Se-Byul kasar. Menyeret-nyeretnya dan saat mereka nyaris sampai ke pintu, entah kekuatan darimana Se-Byul menghempaskannya.
“Kau tidak bisa memperlakukanku semaumu!” Se-Byul membentak.
Gadis itu membuka pintunya sedetik kemudian. “Aku benci padamu dan aku muak melihat wajahmu! Pergi dari sini!”
Cho Kyuhyun dengan mudah menutup pintu kembali dan memenjarakan Se-Byul di pelukannya. Ia membenamkan wajahnya ke rambut Se-Byul. Awalnya gadis itu memberontak tapi ia terdiam saat merasakan bahunya basah. Cho Kyuhyun—menangis?
“Kau tahu. Aku hampir gila tidak menemukanmu dimana-mana—di rumah. Dan semua orang tidak mau memberitahuku. Kau tidak bisa begini padaku—“
Kyuhyun menangkup wajah Se-Byul. “—Dia, wanita itu, bukan siapa-siapa. Aku tidak pernah mengkhianatimu.”
Han Se-Byul menatap Cho Kyuhyun sinis. “Lalu apa? Rekan kerja? Oh, aku baru tau kalau meeting itu sekarang dilakukan di hotel pelacur murahan.”
Cho Kyuhyun menatap Se-Byul lelah. “Byul, kau harus percaya padaku. Dia hanya seseorang dari masa lalu.”
Masa—lalu?
“Dia… dulu, aku sempat mabuk berat dan tidak sengaja menidurinya. Dia hamil dan mengaku kalau itu anakku. Tapi semua sudah terbukti, anak itu bukan anakku.”
Kyuhyun menahan napas saat Se-Byul menghempaskan diri dari pelukannya. “Lalu tanda kissmark beberapa malam yang lalu itu? Digigit nyamuk?”
Cho Kyuhyun mengerang frustasi. “Itu—“
“Sudahlah. Kita selesai disini. Sekarang—“ Se-Byul menunjuk pintu apartemennya. “—Keluar.”
Kyuhyun berlutut. Membuat Se-Byul menganga, kaget.
Bahu dan dagunya bergetar. “Aku mohon, aku akan lakukan apa saja, asal kau tetap bersamaku. Di sampingku.”
Han Se-Byul diam, tidak tahu harus berlaku apa pada situasi seperti ini. Cho Kyuhyun tidak pernah seperti ini, Cho Kyuhyun yang ia kenal punya ego yang tinggi dan Cho Kyuhyun yang ia kenal tentu saja tidak akan sudi berlutut di lantai seperti sekarang.
Se-Byul mengulurkan tangannya. “Berdiri.”
Kyuhyun tersenyum sumringah, “Jadi, kita pulang?”
Se-Byul tidak bicara apapun, melainkan menarik Kyuhyun ke pintu. Cho Kyuhyun menganggap itu sama dengan jawaban iya. Maka Cho Kyuhyun menghela napas lega dan keluar dari apartemen Se-Byul.
Sampai di depan pintu, mereka berhenti. Kemudian Se-Byul menjulurkan tubuhnya, mengecup bibir Kyuhyun, sekali, dua kali.
Dia mengusap pipi Kyuhyun dengan sayang.
Cho Kyuhyun merasakan firasat aneh. Tapi dia terlena dengan belaian Se-Byul. Saat sadar, Se-Byul sudah dengan kilat menghilang di balik pintu apartemennya sendiri dan menutupnya. Tanpa sempat Kyuhyun menyela.
Kyuhyun menatap pintu itu dengan tatapan sakit. Sedetik kemudian dia menggedor-gedor pintunya. “Byul-ah, buka! Buka pintunya!”
Tapi Se-Byul hanya bisa menangis dan menyalakan tape dengan volume keras-keras.
-o0o-
Cho Kyuhyun memasuki rumahnya dengan lesu. Ia diusir sekuriti karena mengganggu ketenangan penghuni apartemen Se-Byul. Dan tentu saja, ia tidak berhasil membawa Se-Byul pulang.
Tanpanya, rumah sebagus apapun itu selayaknya tinggal di neraka. Tidak ada cahaya, tidak ada kehidupan, tidak ada kebahagiaan.
Salahnya adalah dengan menitipkan segalanya pada Se-Byul. Segalanya—hati, perasaan, cinta, kasih, sayang, logika, dan segala yang dia miliki. Maka saat Se-Byul tidak ada di sekitarnya, rasanya seperti… seperti… tak terpera bahkan rasanya.
Pria itu melemparkan diri ke ranjangnya. Merasakan sisa-sisa ‘Se-Byul’ yang ada disana. Aroma bebungaan yang tertinggal di bantal membuat pria itu semakin menenggelamkan penciumannya ke dalam sana. Mengkhayal dalam mimpi kalau dia sedang memeluk gadis kecilnya dan menyurukkan kepalanya ke lehernya. Bernapas disana.
Tapi pria itu kemudian berguling dan beranjak. Mengacak-acak rambutnya, dan menangis frustasi. Dia tidak bisa… Dia tidak tenang kalau tidak ada gadis kecilnya.
Apa dia sudah tidur? Nyenyak-kah? Dia makan dengan baik? Apakah dia tidak menyakiti dirinya sendiri? Pertanyaan-pertanyaan itu membuatnya gila. Otaknya rasanya mau meledak saja.
Maka ia meraih ponselnya, menekan sebuah rangkaian nomor. Membuat sambungan telepon.
“Pokoknya aku tidak mau tahu. Mulai dari hari ini, tolong hentikan seseorang dengan penerbangan ke New York atau kemana pun dengan nama Han Se-Byul. Informasi sisanya selengkapnya akan kukirimkan sekarang juga lewat faximile—“
Kyuhyun memijit keningnya frustasi. “Aku akan bayar berapapun, dan kau harus mengusahakan apapun agar tidak sampai lolos. Han Se-Byul benar-benar tidak boleh beranjak dari Korea satu senti pun.”
Dia kemudian tanpa memutuskan sambungan telepon, ponsel itu dilemparnya ke sembarang arah.
Mulutnya berdesis tajam. “Kalau kau tidak disisiku, maka kau tidak boleh kemana-mana, Byul-ah.”
-o0o-
Se-Byul membuka kacamata hitamnya dengan bar-bar. “Mwo?! Aku di black-list?”
“Ya, atas gugatan dari Cho Kyuhyun, pengadilan negara memutuskan nona Han Se-Byul sebagai tahanan negara.” Se-Byul lantas melotot. Apa? Tahanan negara?
“Aku bahkan tidak melakukan apapun pada lelaki itu. Ya, ahjussi, aku sudah bayar tiket!”
Pria paruh baya itu tetap menggeleng tegas. “Silahkan didiskusikan dengan yang bersangkutan. Dalam kasus ini hanya Cho Kyuhyun yang berhak memutuskan.”
Se-Byul menatap petugas bandara itu dengan galak lalu berbalik, marah.
Apa maunya Cho Kyuhyun itu?
-o0o-
Cho Kyuhyun menyemprotkan parfum Se-Byul ke seluruh ruangannya, dan dia tersenyum tenang.
Cinta miliknya lama-lama semakin lama terasa semakin mengerikan. Dia memiliki kebutuhan konsumtif akan segala sesuatu yang berhubungan dengan gadis kecilnya. Ya Tuhan, dia adalah pria dengan usia tiga lima dan mencintai seseorang selayaknya cinta remaja anak belasan tahun.
Dan pintu kamarnya menjeblak kasar. Han Se-Byul berdiri disana, menangis terisak-isak.
“Kau tidak mencintaiku! Kau tidak pernah mencintaiku!” Se-Byul berteriak dengan tangis di sela-selanya.
Kyuhyun mencelos dan menghampiri Se-Byul, berniat memeluk gadis itu saat Se-Byul lantas memberontak. “Kalau tidak mencintaiku, kenapa kau tidak lepaskan saja aku! Kau jahat sekali!”
Pria itu menarik Se-Byul ke sebuah sofa, kemudian menarik gadis itu ke pangkuannya. Mengusap tangis yang beruraian di wajahnya dan mengecup kedua pipinya yang basah.
Se-Byul merasa tenang berada di sekitar pria itu, dirinya sendiri pun merasa aneh. Dia tidak yakin akan mendapatkan ketenangan dan kenyamanan yang sama dari pria lain tapi dia berusaha melepaskan diri dari semua ini. Entah apa yang salah dengan otaknya.
“Kau cinta padaku?” tanya Se-Byul. Dan tanpa sempat Kyuhyun menjawabnya Se-Byul mencium bibirnya.
Dan Kyuhyun merasa lega. Setelah seminggu kesakitan tanpa gadis ini, kini dia dapat obatnya. Yakni kehadiran gadis itu sendiri.
Kedua bibir itu saling mengecup tanpa ampun, saling merasa tidak puas. Cho Kyuhyun merasakan tangan Se-Byul di rahangnya, sepertinya gadis itu memang punya ketertarikan khusus pada rahangnya. Setiap kali mereka berciuman, tangan mungil itu selalu bertengger disitu. Tapi pria itu sama sekali tidak keberatan, sentuhan kekanakan milik gadis kecilnya selalu membuat dirinya bergelenyar dan tidak merasa puas. Tidak pernah.
Ciuman itu berkembang banyak, terlalu banyak.
Cho Kyuhyun memapah Se-Byul untuk berdiri, mendorong tubuh yang tingginya hanya sebahunya itu ke dinding. Tetap menciumnya dengan serakah, dengan decakkan lidah dimana-mana. Kyuhyun menjauhkan wajahnya, menatap wajah Se-Byul yang sedang menutup mata dan pipinya yang merona, pasrah.
Maka dengan tidak sabaran Kyuhyun menarik kaus Se-Byul sampai sobek dan menjatuhkannya begitu saja. Seolah belum cukup dengan pemandangan telanjang dada, Kyuhyun juga melepaskan jins-nya. Membopong Se-Byul dengan sebelah tangan dan melemparkannya ke ranjang. Saat Se-Byul membuka mata, ia mendapati pemandangan yang tidak asing untuk dua tahunnya ke belakang. Langit-langit kamar dengan detail maskulin yang sangat Cho Kyuhyun dan tentu saja pemandangan Kyuhyun yang sekarang sedang melepaskan seluruh pakaiannya.
Se-Byul berlutut di ranjang dan memeluk Kyuhyun. Dengan segala rasanya, Se-Byul kembali mencium Kyuhyun. Menyesap bibir tebal yang tidak sabaran itu.
Dia pasti akan merindukan semua ini kelak.
-o0o-
Cho Kyuhyun berguling ke samping, dan sadar kalau ranjangnya sudah kosong.
Dia bangun sangat cepat sampai rasanya kepalanya pusing. Kyuhyun tanpa mengenakan pakaiannya membuka toiletnya, tapi Se-Byul tidak ada disana. Sembari mengenakan kimono tidurnya, dia melayangkan pandangannya. Menghela napas lega saat ada Se-Byul di balkon.
Dan Se-Byul menoleh saat terdengar suara derap kaki.
“Lega rasanya, pagi saat aku bangun, kau ada disini. Di kamarku.”
Se-Byul tersenyum, tapi dipaksakan.
Kyuhyun mencium sesuatu disini. “Byul, kau akan tinggal kan? Maksudku, kau tidak akan meninggalkan aku lagi kan?”
“Kalau kau cinta padaku. Kau tidak akan begini.” Se-Byul menatap Kyuhyun dengan lelah.
“Kalau kita memang jodoh, seberapapun jauhnya aku pergi. Aku akan tetap kembali disini.”
Dia mengecup bibir Kyuhyun. “Kita akan pasti tetap bersama.”
Cho Kyuhyun memalingkan wajahnya, rahangnya mengeras. “Tapi kenapa kau mau pergi? Wanita sialan itu bukan siapa-siapa, dan selamanya tidak akan jadi siapa-siapa! Kenapa kau tidak mau percaya!”
“Aku percaya.” Nada suara Se-Byul terdengar lelah.
“Lalu?”
“Kau tahu, kau tidak seharusnya mengemis-ngemis kehadiranku. Kau bisa tunjuk gadis sesukamu, mereka pasti mau kau kurung di istanamu ini. Tapi untuk sekarang, aku tidak mau.”
Se-Byul memegangi lengan Kyuhyun yang hendak meninggalkannya. Pria itu jelas meninggalkannya, Kyuhyun tidak mau mendengar kata apapun yang ingin disampaikan Se-Byul. Cho Kyuhyun tidak bodoh, maka Kyuhyun tahu kalau Se-Byul keras kepala dengan keinginannya: Meninggalkannya sendirian di Korea.
Han Se-Byul mengusap pipi Kyuhyun yang ototnya mengeras karena emosi. “Kau tahu, dua tahun yang kita lalui sama-sama ini indah. Sangat indah. Tapi tidak benar. Kau pikir meninggalkanmu buatku adalah hal mudah, ahjussi?”
Kyuhyun menatap Se-Byul dengan tatapan yang meremas ulu hati gadis itu. “Arraseo.”
Keduanya berpelukan. Cho Kyuhyun merangkulnya dengan sangat erat, berharap ia bisa menyimpan Se-Byul untuk dirinya sendiri. Tapi dia sadar, yang dia lakukan adalah egois dan ia harus melepaskan Se-Byul untuk kebahagiaan gadis itu. Kalau dia memang cinta, dengan seluruh hatinya, dia pasti memilih kebahagiaan Se-Byul daripada kehadiran gadis itu disisinya yang jelas-jelas membuatnya bersedih.
Dia akan coba, meski dia tahu ini adalah hal yang tidak mudah. Sama sekali.
“Kau benar, byul. Kalau jodoh, kau pasti akan kembali kesini. Bagaimana pun itu caranya.” Bisik Kyuhyun.
-o0o-
SE-BYUL POV
Three years has passed.
Usia dua puluh tahun itu tidak buruk, sungguh. Aku hanya baru saja meninggalkan usia belasanku yang indah.
Aku sudah lulus kuliah, lebih awal dari jangka waktu untuk lulus yang seharusnya dan dengan gelar summa cum laude. Silahkan tidak percaya, tapi di ijasah-ku memang tertulis begitu. Lalu kenapa kalau aku sudah lulus kuliah? Ya, tidak kenapa-napa, selain rasa-rasanya kewajibanku sudah datang. Kewajiban untuk kembali ke Korea.
Aku tidak akan munafik dengan mengatakan tiga tahun ini tidak bersama siapa-siapa. Maksudku, aku berhubungan dengan beberapa pria tapi semua pria itu hanya membuatku semakin menyesal. Menyesal karena kenapa dulu aku menuruti keinginan primitifku untuk meninggalkan dirinya. Kau tahu dengan jelas siapa dirinya, aku hanya tidak mau menyebut namanya saja.
Pria itu sudah tidak menghubungiku lagi, dan aku tidak punya keberanian sebanyak itu untuk menghubunginya duluan. Lalu kami seperti berakhir begitu saja, berakhir seperti dua orang asing yang tidak pernah mengenal. Dan naasnya, di tengah-tengah kerinduanku padanya, di salah satu kolom majalah Forbes memuat berita kalau Keluarga Cho itu membuat sebuah perjodohan terang-terangan yang menggemparkan seluruh masyarakat.
Calonnya adalah seseorang gadis dari keluarga Song. Haruskah kuperjelas? Nama gadis itu Song Qian atau Victoria Song atau aku lebih suka memanggilnya sundal. Ya, sundal atau gadis jalang, atau apalah itu.
Tapi aku merasa tolol, untuk apa aku membenci si sundal itu? Pria itu juga bukan siapa-siapaku.
Sudahlah. Sudahi saja pembahasan soal yang tadi.
Ngomong-ngomong, gerai ramyun di persimpangan jalan membuatku merasa lapar. Lagipula, sudah tiga tahun tidak makan ramyun betulan. Selama di London, jangan harap ada makanan Korea yang benar-benar ‘Korea’. Rata-rata makanan Korea disana rasanya hambar kalau dibandingkan dengan yang asli, jelas saja karena di sana mereka lebih sering menggunakan bumbu instan.
“Ahjussi, berhenti di depan sebentar.” Aku meraih dompetku dan turun dari taksi.
-o0o-
Bodohnya, aku lupa untuk meminta tolong pengacaraku untuk menyewa tukang bersih-bersih untuk apartemen dan aku berakhir bermukim di hotel. Sudah sehari berlalu dan katanya apartemenku belum bersih juga. Mana mungkin? Maka dari itu aku memutuskan untuk melihatnya sendiri hari ini.
Tanpa mengganti bajuku dengan mengenakan yang lebih normal, aku turun ke lobi. Lagipula piyamaku tidak buruk-buruk amat dan ditutupi mantel. Malas saja berganti baju kalau toh apartemenku cuma lima menit dari hotel ini.
Apartemen ini berubah cukup banyak. Mereka merombak banyak bagian dinding dan menggantinya dengan kaca, wallpaper tekstur yang dulunya berwarna ungu agak gelap sekarang berwarna broken white, dan beberapa ornamen juga diganti dengan yang lebih sederhana mengikuti tren zaman sekarang.
Sampai di lantai 18, aku menghampiri kamar 202.
Aku menekan finger-lock dan masuk. Dan keadaan di dalamnya membuatku terkejut.
Aku memang hanya menelepon jasa bersih-bersih dari taksi waktu itu, dan tidak sempat menyambangi apartemenku dulu. Tapi aku tidak tahu kalau sepertinya apartemenku ini dihuni oleh orang lain. Beberapa perabot yang tidak kukenal ada berdampingan dengan perabotku yang lama. Membuatku merasa kesal, aku bahkan tidak menjual atau menyewakan apartemenku. Lalu mana bisa mereka mengambil alih hak milikku begitu saja?
Baru saja aku mengangkat ponselku ke telinga, saat pintu terdengar terbuka.
Aku menoleh dan menganga. Pria di ujung sana juga menganga.
“Cho Kyuhyun?”
“Byul-ah?”
Ucap kami bersamaan.
-o0o-
AUTHOR POV
Cho Kyuhyun menjauhkan wajahnya dan Se-Byul terengah-engah. Pria itu, seperti tidak mau membuang sedetik waktu saja, membopong Se-Byul yang masih merasa kehilangan orientasi karena ciuman tiba-tiba dan bar-bar itu. Bukannya dia menolak atau apa, tapi bagi Se-Byul semua ini seperti kilasan memori beberapa tahun lalu.
Memori yang dia kira hanya berakhir sebagai memori dan tidak pernah bisa diulangi lagi.
Kyuhyun menjatuhkan Se-Byul ke atas kasur dan mereka berdua kemudian berbaring bersama. Berbaring saja, tanpa bicara atau apapun juga. Terlalu banyak pertanyaan, sehingga bingung untuk menanyakan yang mana duluan.
“Kau pulang dan tidak memberitahuku?” tanya Kyuhyun, pada akhirnya.
Se-Byul tersenyum miris. “Aku tidak ada kewajiban dan kau tidak punya hak untuk diberitahu. Lagipula itu takkan merubah apa-apa ‘kan? tidak akan mengembalikan apa yang pernah terjadi diantara kita.”
“Jadi kau sudah dengar?”
Han Se-Byul memutuskan untuk beranjak. “Tidak ada majalah bisnis yang tidak memberitakan soal anak bungsu keluarga bangsawan Cho yang akan segera mengakhiri masa bujang-nya.” Ucapnya dengan senyum ambigu.
“mereka jelas tidak mau tidak kedapatan profit dari berita bagus macam itu. Dan berita itu sudah setahun lewat, kenapa kau tinggal disini? Istrimu kan juga bukan orang ‘biasa’, tidak mungkin dia mau tinggal di apartemen kecil yang tidak ada mewah-mewahnya sama sekali macam ini?” gadis itu mengatakannya seolah sambil lalu, meski hatinya berdenyut-denyut berdarah-darah. Dia seharusnya summa cum laude di atas gelar teater atau peraktingan atau semacamnya, bukan atas gelar akuntansi.
Se-Byul berjalan keluar kamar dan ke ruang makan. Membuka kulkas, mengambil satu kaleng soda dan duduk di salah satu kursi di pantry.
“kau jelas-jelas cemburu.” Kyuhyun ikut duduk dengan tidak bisa menyembunyikan seringainya.
Gadis itu mendelik. “Siapa yang bilang padaku tiga tahun lalu kalau dia tidak bisa tanpa aku jadi aku tidak boleh meninggalkannya?”
“Itu tiga tahun lalu, bocah. Kau tidak tahu istilah, time flies, things change?” Kyuhyun menjawil hidungnya sembari tersenyum menggoda. Hatinya berbunga-bunga dan berguguran di saat yang bersamaan, pria itu baru saja bermaksud mengatakan kalau dia tidak mencintainya lagi.
Tapi Se-Byul berusaha menghibur diri kalau ini semua adalah bagian dari time traveler-nya, semua ini jelas-jelas kebiasaan mereka dulu. Mengobrol santai serta Kyuhyun yang suka sekali menggodanya, dan panggilan ‘bocah’ itu. Dan biarlah dia mencicipi masa-masa kesenangannya dulu, dan berpikir kalau Kyuhyun yang dulu sangat mencintainya sekarang pun masih mencintainya sebanyak dulu. Biarlah dia mengumbar senyum palsu sekarang dan menangis sampai bodoh di hotel nanti.
“Yah. Selamat saja kalau begitu.” Se-Byul turun dari bangkunya dengan susah payah. Pria itu mengganti bangkunya dengan bangku yang lebih tinggi dari bangkunya dulu, dia jelas kesusahan. Dia tidak bertambah tinggi selama tiga tahun kecuali dua senti yang tidak berarti.
Kyuhyun yang sadar Se-Byul kesulitan untuk turun lantas tergelak. “Kau masih sebahuku saja? Di London kau tidak minum susu?”
Han Se-Byul memukul lengan Kyuhyun dengan sepenuh hati. “Kau pikir aku senang dengat tinggiku yang minim ini? Kau yang paling tahu kalau usahaku tidak main-main untuk meninggikan badan.”
Se-Byul mencibir sementara Kyuhyun tertawa. Dan gadis itu yang merasa sudah tidak ada lagi alasan untuk tetap disini lantas berjalan ke beranda. “Kau mau kemana?” tanya Kyuhyun dengan nada was-was. Melihat Se-Byul berjalan ke arah pintu sementara dia berada di belakangnya menjadi trauma besar untuk Kyuhyun. Trauma ditinggalkan.
“Kembali ke hotel.” Lalu Se-Byul mengacungkan telunjuknya ke arah Kyuhyun. “Dan kau, cepat cari rumah baru atau kau yang tanggung biayaku menginap di hotel. Aku tidak punya anggaran untuk beli apartemen baru.” Se-Byul berdiri setelah menyelipkan kakinya ke sepatu keds-nya. Melambai dengan senyum yang dibuat sok cerah. “Dah. Sampai ketemu.”
Dan saat dia menekan kenop pintu, Kyuhyun memegangi lengannya. “Dasar bocah sok tahu. Aku tidak menikah.”
Dia membalikkan tubuh Se-Byul yang mematung. “Belum.” Ralatnya, “karena mempelai wanitanya sekarang sudah pulang, sepertinya tiga hari lagi aku bisa mengganti statusku.”
-o0o-
“Memangnya, kau tidak update berita kalau aku tidak datang ke acara pertunangan?” dan bibir yang baru saja berbicara itu kemudian mengecup tengkuk Han Se-Byul.
Se-Byul mendesah kecil dan merengut, sebal karena tubuhnya begitu sensitif atas sentuhan-sentuhan Cho Kyuhyun. “Annie.”
Mereka berdua duduk berpangku-pangkuan. Cho Kyuhyun dengan pakaian yang masih lengkap dan Se-Byul yang hanya memakai bra serta celana piyamanya. Saat Kyuhyun selesai mengatakan kalau dia tidak menikah dengan Victoria, pria itu dengan posesif menciumnya (lagi) dan mulai melakukan kebiasaan pemborosan-nya lagi seperti tiga tahun silam. Pemborosan dengan merobek sampai hancur baju Se-Byul tanpa mau membukanya secara konvensional.
Kyuhyun meremas dada Se-Byul. “Kau dua-puluh ‘kan tahun ini?”
“Kau tiga-delapan ‘kan tahun ini?” tanya gadis itu balik, dengan nada yang sama. Membuat Kyuhyun mendelik. “Yah, hanya saja aku pikir lingkar dada-mu bertambah beberapa senti? ‘Mereka’ terasa lebih besar.”
Se-Byul memukul kepala Kyuhyun. “Dasar sekali mesum tetap saja mesum!”
“Ya, biar mesum, aku tidak berkhianat pada siapa-siapa tiga tahun ini.”
“Mwo? Siapa yang berkhianat?”
Kyuhyun menggendong Se-Byul ke dalam gendongannya. Melotot, yang entah kenapa malah terlihat menggemaskan di mata Se-Byul. Pria itu punya mata tajam dengan bola kehitaman yang bulat, polos dan sangat jernih seperti anak-anak. Dan dia berharap, kalau mereka memang jodoh dan kesampaian menikah, ia ingin punya anak yang mewarisi mata Cho Kyuhyun.
“Memangnya aku tidak tahu kalau kau pacaran dengan empat pria di London sana?!?!”
Se-Byul mendengus. “Saat itu kita ‘kan sedang break, ahjussi.”
“Yah, apapun itu pembelaanmu, aku anggap kau berselingkuh. Bahkan kau berciuman dengan si negro itu di box telepon! Ya Tuhan, kekanakan sekali.”
Se-Byul diturunkannya di atas ranjang. Dan mereka duduk berhadapan di atas kasur dengan kedua wajah yang bersungut-sungut.
“Kau menyewa mata-mata? Dan Dennys tidak negro! Dia punya kulit cokelat yang bagus dan terlihat seksi.”
Kyuhyun makin naik pitam. “Kau tidak tahu kalau Forbes memasukanku sebagai jajaran 100 pria seksi? Dia negro, dan tidak ada apa-apanya dibandingkan denganku.”
“mwo? Kau? Seksi darimana?”
Dan Kyuhyun membuka bajunya, menampakan tubuhnya yang atletis dengan kulit putih pucatnya. Se-Byul lantas merona. “Ini memangnya tidak seksi, hah?”
“Yah! Pakai bajumu! Dasar mesum!”
-o0o-
Han Se-Byul merangsek masuk ke dalam kamar dan menenggelamkan dirinya di ranjang king-size yang sangat nyaman. Tanpa melepas sepatu, gaun, atau ornamen baju pernikahannya yang lain, dia memeluk guling dan tertidur.
Nyaris tertidur sebenarnya. Karena Kyuhyun masuk ke kamar dan mengganggu tidurnya.
Cho Kyuhyun berkacak pinggang melihat istrinya yang sepertinya sudah ‘tewas’ karena kelelahan. Senang rasanya, setelah segala tetek bengek pernikahan yang tidak sederhana, pria itu bisa menyematkan panggilan istri pada Se-Byul—akhirnya.
“Yah, Cho Se-Byul, kita masih ada acara malam pertama. Kau tidak boleh tidur dulu!”
Se-Byul dengan masih di posisi nyaman-nya, tanpa membuka mata dia berbicara. “Malam pertama kita sudah bertahun-tahun yang lalu, kau sudah pikun? Padahal umurmu baru tiga-delapan.” Gadis itu lalu dengan lincah beranjak tiba-tiba dan melotot pada Kyuhyun. “Dan, mana ada margaku ganti jadi Cho? Yang ada, kalau kita punya anak, baru namanya dengan marga Cho.”
Kyuhyun yang sudah melepas jasnya, lalu melonggarkan dasinya. “Ini bukan soal aturan marga, tapi aku hanya bermaksud melabeli istriku saja dengan margaku.”
Pria itu lalu duduk di samping Se-Byul yang sedang menatapnya tajam. “Kau mau apa?” tanya Se-Byul was-was melihat Kyuhyun yang menyeringai ke arahnya.
“Aku akan menyuruhmu untuk membalikkan badanmu.”
Se-Byul lalu berbalik. “Sudah? Lalu?”
Kyuhyun menurunkan retsleting gaun Se-Byul dengan mudah karena sekarang posisi Se-Byul memunggunginya. “Nah sekarang ayo buka bajumu. Cho Kyuhyun junior sudah tidak tahan menunggu.”
-o0o-
Kyuhyun meraih pinggang polos Se-Byul, agak mengangkatnya sedikit dan dia melepaskan orgasmenya. Untuk pertama kalinya, pria itu merasa lega saat pelepasannya. Tiga tahun lalu, kadang ia takut Se-Byul hamil. Bukan tidak menginginkan seorang anak, hanya saja saat itu Kyuhyun akan merasa sangat bersalah kalau Se-Byul harus berhenti sekolah karena mengandung, terlebih perbuatan mereka juga tidak dibenarkan oleh pihak manapun.
Ngomong-ngomong, Se-Byul terlihat sangat frustasi karena seks mereka yang ini.
Mungkin sudah lama, jadi Se-Byul harus membiasakan lagi dengan ukuran adik Kyuhyun yang tidak biasa. Gadis itu sering sekali mengerang, bukan lagi mendesah. Dia memejam matanya dan menggigit bibirnya. Mengingat semua itu membuat Kyuhyun yang berbaring di samping Se-Byul lantas melenguh.
Baru beberapa menit saja, tapi adiknya sudah tegang lagi dan rindu untuk membenamkan diri lagi. Dia memang mesum. Seperti apa yang sering dikatakan Se-Byul. Tapi dia ‘kan memang kodratnya harus begitu, dia laki-laki normal yang sangat mencintai gadis kecilnya.
“Byul.” Panggil Kyuhyun, terdengar setengah mengerang menahan nafsu. “Naik ke atasku.”
Kyuhyun menarik pinggang Se-Byul ke atasnya, dan gadis itu pasrah begitu saja. Dia masih terbawa arus sensasi orgasmenya. Kyuhyun yang bersandar ke headboard dengan posisi duduk membuat Se-Byul dapat mengulaikan kepalanya ke bahu itu. Kembali beristirahat disana.
“Kalau begini caranya, aku pasti cepat hamil.” Rutuk Se-Byul dengan berbisik tapi dia tidak menolak. Gadis itu meraih penis yang mengacung tegak di sela-sela selangkangan Kyuhyun. “Bagus kalau begitu. Memangnya kau tidak penasaran akan semenawan apa anak kita?” jawab Kyuhyun tidak fokus. Mau fokus bagaimana kalau tubuh ranum Se-Byul yang polos terpampang di hadapannya? Dia memang sudah hapal betul dengan lekukan-lekukannya. Tapi dia tidak pernah bosan. Selalu saja merasa dibodohi nafsu kalau Se-Byul ada di dekatnya, baik berpakaian maupun tidak.
“Kalau cantik pasti gen itu turun dariku.”
Kyuhyun mengulum bibir Se-Byul sekilas. “Yang jelas, kalau pendek pasti gen-nya darimu.”
Se-Byul meraih adik Kyuhyun dan meremasnya, menyalurkan kekesalannya. Kyuhyun sontak mendesah nikmat. “Ng-ngh.”
“Ayo kesal. Aku tidak keberatan kalau setiap kau kesal, kau melakukan service pada penisku.”
Se-Byul hanya bisa mendelik karena saat menyentuh urat-urat tegang penis Cho Kyuhyun, dia jelas juga sudah ikut terangsang. Dan saat gadis itu mempertemukan keduanya, dan menurunkan miliknya agar milik Kyuhyun bisa terbenam sepenuhnya, keduanya seperti hilang arah.
Se-Byul bergerak naik turun dengan bertumpu ke bahu Kyuhyun. Perlahan namun pasti, Kyuhyun mulai merosot dari posisi duduknya karena diambang kenikmatan surga seperti ini membuat tubuhnya lemas. Gerakan Se-Byul yang agak kagok dan perlahan, membuat pria itu bisa merasakan betul bagaimana rasa nikmatnya berada di dalam Se-Byul.
Cho Kyuhyun membuka matanya, di depannya payudara Se-Byul bergoyang kesana-kemari. Membuatnya gemas dan lantas meremasnya. Tersenyum puas saat Se-Byul mendesah karena ulah tangan nakalnya. Merasa Se-Byul tidak lagi mendesah karena tangannya, ia mengganti mulutnya untuk bekerja di dada ranum itu. Mengulum, menyedot, dan menggigit. Membuat gadis kecilnya mengerang sama puasnya dan meremasi rambutnya.
Di sela-sela kenikmatan dari segala arah, Se-Byul berhenti dari gerakannya. “Aku capek.” Ucapnya dengan merajuk. Membuat Kyuhyun tanpa tedeng aling-aling mendorong tubuhnya sampai terlentang, mengeluar-masukkan miliknya dengan tempo cepat yang kasar. Membuat Se-Byul menjerit-jerit, orgasme dan orgasme lagi.
Pria itu merasa semakin bergairah saat wajah Se-Byul merona alami karena ulah adiknya, berkeringat seksi sembari meneriak-neriakkan namanya dan kelihatan lemah tidak berdaya.
Dengan melihat pemandangan sebegitu menggugahnya, membuat Kyuhyun dengan mudah sampai di puncaknya.
Kyuhyun menjatuhkan diri di atas tubuh Se-Byul saat orgasme, menciumnya penuh-penuh. Merangkum wajah Se-Byul dengan tangannya. Sementara cairan orgasmenya menghantam rahim Se-Byul berkali-kali, sangat banyak. Saking banyaknya ada yang mengalir keluar dari milik Se-Byul karena tidak ada tempat lagi di dalamnya.
Kyuhyun mencium cepat bibir Se-Byul. “Kau masih kuat kalau satu ronde lagi?”
Se-Byul hanya bisa melenguh kelemasan.
-o0o-
EPILOG
Cho Hanna dan Cho Yeonghwan lantas berdiri saat Kyuhyun keluar dari kamar operasi. Wajah khawatirnya sudah pupus berganti dengan raut yang tidak terbaca.
“Bagaimana?” wanita paruh baya itu bertanya was-was.
Kyuhyun memeluk eomma-nya itu dan tertawa kesenangan. “Kembar. Laki-laki dan perempuan. Semua organ tubuhnya lengkap, tidak ada cacat satu pun.”
“Syukurlah.” Jawab kedua orang tuanya. Keduanya melongok ke pintu yang terbuka sedikit, “kami boleh masuk?” tanya mereka yang dijawab anggukan Kyuhyun.
Di dalam ruang operasi, Se-Byul dengan wajah lemas dan penuh keringat, tersenyum saat melihat mertuanya masuk ke dalam. Dokter dan beberapa suster perlahan menyingkir keluar, karena sudah tidak ada tindakan apa-apa lagi yang perlu dilakukan pada Se-Byul.
“Omo…” Cho Hanna tersenyum dengan mata berkaca-kaca melihat kedua cucunya.
“Lihat keduanya mirip sekali.” Komentar Ayah Kyuhyun sembari terkekeh.
Ibunya kemudian menahan napas dengan berlebihan. “Hidungnya dan  bibirnya jelas turun dari Cho Kyuhyun. Syukurlah, matanya mata Se-Byul ya. Kyuhyun punya mata yang kurang bagus.”
Kyuhyun berdecak. “Tapi jelas-jelas tingginya turun dariku. Kalau dari Se-Byul, mungkin cuma sebesar penggaris tiga puluh senti.”
Membuat kedua orang tuanya tertawa sementara Se-Byul mendengus meski masih lemas. Kyuhyun menatap Se-Byul yang mulai kehilangan kesadarannya karena lelah akan kontraksi dan persalinannya. Pria itu mencium keningnya dengan sayang.
“Terima kasih sudah kembali dan memberi semua kebahagiaan ini untukku.”
-FIN-

Fc Populer: