[Oneshoot/NC17/Kyuhyun] I Can’t be Without You

0
ff nc kyuhyun I can't be without you
Tittle : I Can’t be Without You
Author : CA2MS
Cast : Cho Kyu Hyun
Park Ha Ra (OC)
Ahn Jae hyun
Lee Shin Hee (OC)
Kang Min Hyuk
Category: Oneshoot, NC17, Romance
Note    : Annyeong…. Saya kembali dengan ff baru saya. Ff ini gak ada hubungannya sama ff yang sebelumnya ‘Future for Love’. Dan maaf bagi readers yang minta sequel saya tidak bisa mengabulkannya.

Sebelumnya saya ucapkan “Selamat Tahun Baru 2015″ semoga semua harapan dan cita-cita dapat terkabulkan di tahun ini.
Baiklah, jangan terlalu lama cuap-cuapnya. Nanti bias-bisa kalian bosan.
Selamat membaca…..maaf jika ceritanya kurang berkesan untuk kalian.
***
HaRa POV
Apa terlalu berlebihan jika aku mengatakan namja ini gila? Bagaimana tidak? Dia datang ke kelasku hanya untuk mengantarkan bekal untukku. Namja itu bernama Cho Kyu Hyun. Dia termasuk teman dekatku yang paling menyebalkan dan sesaat bisa saja berubah menjadi romantis kepadaku seperti seorang kekasih.
“Hara-ya berhentilah menatapku seperti itu.” Dia terlihat sebal karena aku terus saja menatapnya dengan tatapan membunuh.
“Aishh.. berhentilah datang ke kelasku. Kau tau? Kau selalu membuat kegaduhan di kelasku.” Aku mendengus sebal untuk kesekian kalinya.
Saat ini kami berada di taman sekolah dan duduk dibawah pohon yang cukup rindang. Aku tau kemanapun kami pergi pasti ada beberapa pasang mata yang menatap kami. Bukan, lebih tepatnya menatapku seakan-akan mereka ingin memangsaku. Dan semua hal itu hanya karena seorang Cho Kyu Hyun.
“Ra-ya mian.”
Mendengarnya mengucapkan hal yang sama setiap kali berbuat salah membuatku memutar bola mata malas.
“Sekarang kajja kita makan.” Kyuhyun menyuapiku sepotong roti rasa coklat kesukaanku.
Jika seperti ini dia memperlihatkan sisi romantisnya. Tapi tetap saja aku tak suka jika dia sering bersikap seperti ini.
“Kyuhyun dengarkan aku.” Ku tatap Kyuhyun lekat dan menarik nafas sebentar.
“Kyuhyun berhenti bersikap seperti ini padaku. Aku tau kau tunanganku, tapi hal itu hanya kita, Shinhee, dan Minhyuk yang tau. Aku tidak ingin orang lain tau hal ini. Jadi aku mohon bersikaplah seperti kau bersikap pada yeoja-yeoja lainnya. Kyuhyun yang dingin, cuek, dan bermulut pedas itu lebih menyenangkan untukku. Bisakah kau melakukannya untukku? Kumohon Kyuhyun-ah” ucapku panjang lebar dengan mimik memohon.
Kyuhyun terdiam mendengar ucapanku. Hal itu mampu membuatku merasah bersalah. Apa aku menyakitinya? Aku benar-benar tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya ingin bersekolah dengan tenang. Benar, hanya itu.
Tak lama kemudian Kyuhyun bergerak dan menghembuskan nafas kasar.
“Baiklah. Sesuai permintaanmu, aku akan besikap dingin, tak acuh, dan bermulut pedas. Mulai sekarang saat di sekolah kau bukan siapa-siapa bagiku. Anggap saja sekarang kita tidak saling mengenal.” Setelah kata-kata itu keluar dari mulut Kyuhyun, dia berdiri dan melangkah menjauh.
Baru beberapa langkah Kyuhyun pergi, dia membalikan tubuhnya dan menatapku tajam.
“dan mulai hari ini aku tidak akan menjemputmu atau mengantarkanmu pulang lagi. Statusmu sebagai tunanganku, biarkan tetap tersimpan hanya sebagai status kita berdua.” KyuHyun kembali melanjutkan langkahnya.
Aku masih tertegun dengan ucapannya tadi, apa aku menyakitinya terlalu dalam? Aku benar-benar tidak tau harus berbuat seperti apa sekarang. Melihatnya sepeti itu membuat diriku merasa bersalah.
Ku tatap kembali roti yang ia bawakan tadi untukku.
‘Apa ini juga bekal terakhir yang KyuHyun bawakan untukku?’
***
Saat aku masuk kedalam kelas dengan langkah gontai, tiba-tiba Shinhee menghampiriku dan duduk di sebelahku.
“Apa yang terjadi pada kalian berdua? Aku dengar dari anak-anak lain kalau kalian bertengkar di taman tadi?” tanya Shinhee padaku.
“Hee-ya sepertinya aku menyakiti perasaan Kyuhyun.” Kataku sambil menunduk tanpa menatap ShinHee.
“Ada apa? Apa yang kau katakan pada Kyuhyun?”
Aku menceritakan semua kejadian di taman sekolah tadi secara keseluruhan pada ShinHee tanpa mengurangi atau menambahkannya sedikitpun. Setelah kata terakhir keluar dari bibirku tiba-tiba ShinHee berdiri dan menggebrak meja.
“Kau sudah gila HaRa-ya?” bentaknya.
“Hee-ya tenanglah. Banyak orang yang melihat.” Minhyuk yang notabennya kekasih ShinHee mencoba menenangkannya.
Aku tidak tau sudah berapa lama Minhyuk berada di sini. Aku mengangkat kepala sebentar dan mengedarkan mataku ke penjuru kelas kemudian kembali menunduk takut. Benar, sekarang seisi kelas menatap kami.
“Minhyuk-ah dia….. aishh.”dengus ShinHee dan melangkah keluar kelas.
“Hara-ya berdirilah. Mari kita selesaikan masalah ini.” Ucap Minhyuk menuntunku keluar kelas.
Saat MinHyuk menggiringku ke taman sekolah, tanpa sengaja kami berpapasan dengan KyuHyun. Ia berhenti sebentar dan menatap kami. Aku balik menatap namja itu, sekarang ia tak menampakkan ekspresi apapun kecuali wajah dinginnya. Sepertinya Kyuhyun benar-benar membuktikan perkataannya.
“Kyu-” Saat aku ingin membuka percakapan, dengan angkuhnya namja itu pergi meninggalkan kami.
“KyuHyun tunggu.” MinHyuk berteriak menghentikan langkah kaki Kyuhyun.
Namja itu menoleh.
“Kita harus bicara.” Kata MinHyuk.
“Tidak ada yang ingin aku bicarakan.” Jawab KyuHyun dan kembali meneruskan langkahnya.
Perkataannya mampu membuatku merasa kecewa. Dadaku rasanya sesak, nafasku mulai tidak beraturan, air mataku mulai menetes dengan sendirinya di pipiku dan sekarang badanku lemas. Ketika tubuhku mulai ambruk, seseorang di belakangku menahan tubuhku. MinHyuk menahan tubuhku yang lama-kelamaan tak sadarkan diri dan gelap.
***
Mataku terasa berat, aku mencoba mengerjapkan mataku secara berlahan. Bahkan kepalaku juga terasa pusing, badanku lemas tak bertenaga. Aku membuka mata perlahan dan mencoba menyesuaikan dengan cahaya lampu yang masuk ke retina mataku.
Hal pertama yang aku lihat adalah eomma yang tertidur di sampingku. Saat diriku mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan ini, aku merasa mengenal tempat ini. Ya… ini rumahku, kamar tidurku.
Berlahan aku kembali memejamkan mataku yang masih terasa berat. Aku tidak tau kenapa tiba-tiba sekarang diriku sudah berbaring nyaman di tempat tidurku ini. Mungkin nanti akan ku tanyakan pada eomma.
***
Aroma susu coklat kesukaanku memenuhi alam mimpiku. Semakin aku menghirupnya, semakin kuat aroma itu. Ini seperti nyata, bukan hanya mimpi.
Kubuka mataku dan benar saja eomma sedang duduk di sisi kiri tempat tidurku dengan membawa segelas susu coklat kesukaanku.
“Eomma.” Kataku lirih.
“Bagaimana keadaanmu sayang?” Tanya eomma dengan senyum indahnya.
“sudah lebih baik.” Jawabku.
Decitan pintu menengahi percakapanku dengan eomma. Kami sama-sama menoleh kearah pintu yang berlahan-lahan mulai terbuka.
Itu appa, pria paruh baya dengan wajah gagah dan menawan. Aku tersenyum padanya dan appa memandangku.
“Sayang bagaimana keadaanmu?” Tanya appa.
“Dia baik yeobo.” Eomma menyahuti pertanyaan appa.
“Jika sudah merasa baikan segeralah turun dan makan bersama.” Ajak appa.
“ne.” jawabku.
Setelah mendengar jawabanku appa tersenyum dan pergi meninggalkan kamarku. Eomma menuntunku untuk bangun dan memberikan segelas susu coklat yang di bawanya tadi.
“Eomma, siapa yang mengantarkanku pulang?” tanyaku pada eomma.
Aku berharap eomma akan mengatakan ‘KyuHyun’ orang yang mengantarkanku pulang.
“MinHyuk dan ShinHee yang mengantarkanmu pulang sayang.” Ucap eomma lembut.
Ku helah nafas sebal. Bagaimana mungkin KyuHyun benar-benar tidak memperdulikanku.
“Sayang eomma ingin bertanya sesuatu padamu.”
“ne. Mwo?”
“Apa kalian bertengkar? Kemarin malam saat kau masih tidak sadarkan diri KyuHyun datang dan mengatakan untuk tidak membahas tentang rencana masa depan kalian. Dia ingin kalian bisa fokus untuk sekolah dan Kyuhyun bilang ia akan bersikap seperti biasa padamu. Eomma merasa ada yang terjadi pada kalian.” Jelas eomma.
Aku kembali menunduk dan menggelengkan kepala berlahan.
“ molla eomma.”
“Ya sudah lupakan. Kajja kita makan, appa pasti sudah menunggu kita.”
Eomma menuntunku untuk berdiri dan membawaku ke kamar mandi untuk membasuh wajah agar sedikit terlihat lebih segar.
Sesampainya kami di ruang makan appa menyambut dengan seulas senyum. Selanjutnya kami makan dengan keadaan tenang.
***
Sudah dua minggu ini KyuHyun tidak menjemput atau mengantarku lagi. Di sekolah dia juga tidak bicara atau bahkan menoleh padaku sekalipun. Aku benar-benar merasa kesepian meski masih ada MinHyuk dan ShinHee yang menemaniku. Mereka sudah tidak marah lagi padaku dan mencoba untuk menghargai apa yang aku lakukan. Hal yang membuatku lebih tidak bersemangat lagi yaitu siswa-siswi di sekolah ini terus menanyakan tentang apa hubungan kami sebenarnya. Aku hanya akan menjawab pertanyaan mereka dengan gelengan saja.
Hari ini ku bulatkan tekatku untuk menemui KyuHyun dan meminta maaf. Ditanganku sudah ada paper bag berwarna coklat yang berisikan sepasang sepatu berwarna hitam. Warna kesukaannya. Aku memutuskan untuk memberinya sepasang sepatu untuk tanda permintaan maafku.
Tinggal beberapa langkah lagi aku akan sampai di depan pintu masuk kelas KyuHyun. Tiba-tiba ada seseorang yang berdiri di hadapanku. Ku dongakkan kepala untuk melihat siapa yang berada di hadapanku ini.
Kesan pertama yang ku dapatkan adalah wajah tampan dan mata yang sipit. Tapi, jika dilihat-lihat ini kali pertama aku melihat namja ini. Apa dia murid baru?
“Anyeong.” Sapanya.
Aku tersenyum kiku dan menundukkan kepala sebagai balasan atas sapaannya tadi.
“Apa kau juga murid kelas ini?” Tanya namja itu.”
“hah? a…anio. aku murid kelas 3-5. Apa kau murid baru?” aku balik bertanya pada namja di depanku.
“Ne. Kau benar. Aku murid baru dan aku akan masuk ke kelas ini. Eh? HaRa-ssi senang berkenalang denganmu.” Aku melihatnya sekilas sedang memandangi name tag ku.
“ne. Aku juga. Emm..?” aku melirik badannya mencari name tag miliknya. Namun sepertinya namja ini belum memiliki name tag.
“Ahn Jae Hyun. Itu namaku. Aku belum memasang name tagku.” Ujarnya.
“oo. JaeHyun-ssi sepertinyaaku harus pergi.” Pamitku padanya dan aku melihat ia mengangguk.
Aku sedikit bergeser untuk melewati tubuh JaeHyun yang cukup tinggi itu. Namun saat aku baru saja maju beberapa langah setelah bergeser tadi, aku sudah melihat KyuHyun yang berdiri di depan pintu dan menatap kearahku. Apa dia tadi melihat aku bertegur sapa dengan Jaehyn?
Aku berjalan mendekatinya.
“Kyu…” ucapku lirih yang terpotong saat melihat KyuHyun melangkah pergi melewatiku.
Aku membeku melihatnya hingga tangan seseorang menyentuh pundakku.
“Gwenchana?” Tanya JaeHyun. Ternyata namja itu belum pergi sedari tadi.
“ne. Gwenchana.” Jawabku sambil berlalu meninggalkan kelas KyuHyun.
Di dalam kelas aku terus berfikir, bagaimana caranya untuk meminta maaf pada KyuHyun tanpa namja itu harus terus menghindariku.
Tanpa ku sadari kedua sahabatku sudah duduk di depanku sambil menopang dagu mereka.
‘Sejak kapan mereka disini?’ fikirku.
Aku ikut memandangi mereka ketika mereka memandangiku.
“Apa?”
“Hah?”
“Aishh…molla.”
“Apa yang kalian lakukan? dengan tiba-tiba bertanya ‘apa’ padaku?”
Belum sempat mereka menjawab pertanyaanku, bel masuk telah berbunyi. Dengan segera mereka kembali ke tempat duduk masing-masing begitu pula murid-murid yang lain.
Selama berlangsungnya proses belajar-mengajar aku benar-benar tidak bisa memfokuskan fikiranku. Bahkan tak satupun materi yang di terangkan masuk ke otakku.
***
Berkali-kali aku mendengus kasar, hampir 30 menit aku menunggu kedatangan bus di halte dekat sekolahku. Sempat terlintas di benakku untuk pulang dengan berjalan kaki saja. Tapi aku urungkan karna jarak rumah dan sekolah cukup jauh.
Kulirik kiri-kananku sudah tidak ada siapapun di sini. Tadi aku memang pulang sedikit terlambat dari biasanya hari ini. Karena itulah saat aku kemari halte ini sudah kosong.
Aku baru menyadari sesuatu. Kupukul sedikit keras dahiku dan setelahnya aku menunduk lemas. Bagaimana aku bisa lupa kalau bus itu tidak akan datang lagi. Bus dengan jurusan menuju rumahku hanya akan lewat sekali pada sore hari.
Dengan lemas ku paksakan kakiku melangkah meninggalkan halte.
Yeoja secantik diriku, malam-malam begini hanya berjalan sendirian tanpa siapapun yang menemani. Tampak menyedihkan.
Ku teruskan langkahku sambil menendang-nendang batu kecil ataupun kaleng yang aku temukan.
TIIIINNN
Suara klakson mobil terdengar oleh telingaku. Kutolehkan wajahku menuju asal suara tersebut. Mobil sport berwarna merah berlahan berhenti di sampingku. Kaca mobil sebelah kiri terbuka hingga aku dapat melihat siapa pengemudinya.
Ahn Jae Hyun. Bukannya namja itu murid baru di kelas KyuHyun? Kenapa ia belum pulang bahkan ini sudah pukul 8 lewat 15 menit.
“Kau Park Ha Ra kan? Kajja naik ke mobilku. Aku akan mengantarmu pulang.” Ucapnya diiringi senyum yang tersemat indah di bibirnya.
“Ah? JaeHyun-ssi tidak usah. Aku bisa jalan kaki sendiri untuk pulang.” Aku agak sungkan menerima tawarannya karena kami baru saling mengenal.
“Kau lihat? Ini sudah malam. Jika kau pulang sendiri dengan berjalan kaki, aku rasa itu sedikit berbahaya.” Apa yang di ucapkan JaeHyun memang benar. Bahkan baru berjalan bebeerapa langka di tengah malam saja aku sudah ketakutan. Apa lagi aku harus berjalan jauh sendirimenuju rumahku??
“Bagaimana dengan dirimu? apa aku bisa mempercayaimu?” namja itu terkekeh geli.
“Kau fikir aku bisa memanfaatkan situasi disaat seperti ini? Aku tidak serendah itu nona.” dia masih terkekeh kecil.
Aku hanya bisa mendengus dan memperhatikan namja didepanku yang masih terkekeh. Entah kenapa aku dengan mudahnya mempercayai namja ini. Sepertinya JaeHyun memang orang yang baik.
“Sudah jangan memandangiku terus. Kajja kuantar pulang.”
Tanpa penolakan kembali, aku melangkah ke sisi kanan mobil dan membuka pintu penumpang di samping JaeHyun.
“Dimana rumahmu?” pertanyaan JaeHyun membuatku menoleh dan menatap namja itu.
Setelah aku mengatakan dimana alamat rumahku, mobil mewah JaeHyun melesat membelah sepinya jalan di Seoul.
Aku tersenyum ketika mengingat candaan ataupun cerita yang JaeHyun sampaikan tadi. Aku benar-benar yakin dia namja yang baik dan lucu. Sangat berbanding terbalik dengan seorang Cho KyuHyun.
Setelah kepergian JaeHyun beberapa menit yang lalu, aku segera melangkah memasuki rumahku ini. Eomma sudah menyambut kedatanganku bersama appa.
“Sayang kau baru pulang?” tanya eomma.
“Kenap hari ini terlambat?” appa ikut bertanya padaku.
“Mianhae. Tadi aku tertinggal bus dan aku lupa kalau bus hanya akan berhenti sekali di sore hari hingga aku baru menyadari 30 menit kemudian.” jawabku.
Eomma melangkah mendekatiku dan memelukku.
“Tapi kau baik kan?”
“Eomma tenang saja. Anakmu ini orang yang hebat.”
“Kau tau? appa dan eommamu ini sangat cemas.”
“Sudahlah yeobo. Biarkan anakmu ini beristirahat terlebih dahulu.”
“Baiklah.”
***
Sudah beberapa hari ini di setiap pagi JaeHyun akan datang untuk menjemputku. dan aku rasa aku tidak memiliki alasan untuk menolak ajakannya untuk berangkat bersama.
Bahkan hari ini, JaeHyun menemaniku keperpustakaan untuk meminjam beberapa buku.
Sebelum aku meminjam buku, terlebih dahulu aku harus memilah-milah buku mana yang akan aku pinjam.
JaeHyun dengan semangat membantuku. Namja itu tampa bersemangat jika berkaitan denganku.
‘Apa JaeHyun menyukaiku?’ belakangan ini aku selalu berfikir tentang hal itu. Namun selalu ku tepis.
Tidak mungkin jika JaeHyun menyukaiku. Itu terlalu menghayal. Aku bahkan tidak sebanding dengan yeoja-yeoja yang pernah ia ceritakan. Katanya, ia pernah di jodohkan dengan beberapa yeoja kelas atas namun ia menolaknya.
Tanpa ku sadari, aku sudah terlalu lama memandangi wajah tampan JaeHyun. hingga suara deheman yang berasal dari sebelahku mampu membuatku kembali kedunia nyata.
Aku menoleh. Mataku melebar dengan sendirinya, menandakan betapa terkejutnya aku saat menyadari siapa yang ada di sampingku sekarang.
“Oh? Cho Kyu Hyun, kau juga di sini? sejak kapan?” JaeHyun betanya pada KyuHyun dengan senyum yang terukir di bibirnya.
“Aku rasa sudah lama. Mungkin sebelum yeoja ini menatapmu penuh dengan kekaguman.” jawab KyuHyun dengan terus memandangku.
JaeHyun iku mengalihkan pandangannya kepadaku. Aku jadi salah tingka di tatap dua namja yang sama-sama mempesona ini.
Aku berdoa agar Tuhan menghadirkan seseorang agar menghilangkan suasana yang tidak menyenangkan sama sekali ini. Bahkan sekarang aku terlihat seperti seorang kekasih yang ketahuan berselingkuh.
“Hara-ya, sedang apa kau disini?” Suara MinHyuk memecahkan suasana buruk yang sedang terjadi padaku ini.
Aku bersyukur, benar-benar bersyukur. Tuhan mendengarkan permohonanku.
“MinHyuk-ah? Kebetulan kau ada di sini. Aku ingin berbicara sesuatu padamu.” Aku segera berdiri dan menarik pergelangan tangan MinHyuk agar namja itu mengikuti aku.
Di luar perpustakaan aku berhenti dan menghela nafas lega. Kutatap wajah MinHyuk yang masih terlihat kebingungan.
“Dimana ShinHee?” tanyaku.
Dahi MinHyuk semakin mengerut.
“Apa kau mengajakku kesini hanya untuk bertanya dimana ShinHee?” dia balik bertanya padaku.
“Anio. Tapi ada yang ingin aku katakan pada kalian berdua tentang….”
“Ada apa ini?” Perkataanku terpotong dengan kehadiran ShinHee.
Aku dan MinHyuk sama-sama menoleh kearah ShinHee yang sedang melangkah menghampiri kami.
“ShinHee, kebetulan kau disini. Aku ingin mengatakan sesuatu, tidak. Lebih tepatnya bertanya sesuatu pada kalian.”
“Kalau begitu kita bicarakan ditaman sekolah saja.” kata ShinHee.
Kami bertiga berjalan menuju taman sekolah yang tidak terlalu ramai. Duduk di bawah pohon yang cukup rindang. Teman favorite kami sekaligus tempat dimana awal mula hubunganku dengan KyuHyun berantakan.
“Ada apa?” MinHyuk terlihat sangat penasaran dengan apa yang ingin aku tanyakan.
“MinHyuk-ah, ShinHee-ya, tadi aku pergi keperpustakaan untuk meminjam buku. JaeHyun, murid baru di kelas KyuHyun yang belakangan ini sedang dekat denganku menemaniku ke perpustakaan. Dengan tanpa sengaja aku mengagumi wajah JaeHyun yang berada tepat di depanku hingga aku melupakan sekelilingku. Dan disaat itu pula, KyuHyun memergokki aku yang tengah menatap JaeHyun. Aku benar-benar kebingungan untuk menjelaskan pada mereka berdua hingga kau datang MinHyuk-ah.” di akhir kalimat, aku menunduk lemas. Menyadari betapa bodohnya diriku yang terlalu terpesona dengan JaeHyun.
“Kau menyukai JaeHyun?” alih-alih menjawab ShinHee malah bertanya kembali.
“Aku tidak tau. Tapi aku rasa tidak.” jawabku.
“Lalu kenapa kau menatapnya seperti itu?” MinHyuk ikut bertanya.
“Aku hanya mengagumi JaeHyun. Namja itu sangat sempurna, berbading terbalik dengan seorang Cho KyuHyun itu. Tapi tetap saja aku lebih menyukai KyuHyun.” ku kerucutkan bibirku.
“Ahh jadi kau masih jatu dalam pesona seorang Cho KyuHyun? Kalau begitu kejar dia. Kenapa malah berpaling pada si JaeHyun itu.” Perkataan MinHyuk memang ada benarnya juga.
Tiba-tiba terbesit di otakku ide-ide yang agak gila untuk mendapatkan perhatian KyuHyun kembali.
“Kalian. Aku pergi dulu.” Pamitku pada sepasang kekasih yang keheranan melihat tingkah lakuku.
Perpustakaan adalah tujuanku saat ini. Aku harus kesana dan menjelaskan semuanya pada KyuHyun agar namja itu tidak salah paham. Namun sesampainya di sana yang kulihat Hanya JaeHyun yang sedang membereskan buku-buku yang akan ku pinjam tadi.
“Ahh kau lama sekali. Aku fikir kau tidak akan kembali ke sini. Kalau begitu tunggu sebentar aku akan mengembalikan buku-buku ini.” JaeHyun tersenyum dan melangkah menuju rak-rak yang berjajar rapi.
Namja itu terlalu suka tersenyum. Tanpa ambil pusing, ku dudukan diriku ditempat dudukku tadi.
“Novel? Apa JaeHyun menyukai novel?” aku sedikit terkejut saat menemukan salah satu novel terbaru dari penulis ternama berada di atas meja.
“HaRa-ya, novel itu milikmu.”
Sejak kapan JaeHyun berdiri disampingku? dan apa maksud perkataannya tadi. Ku kerutkan keningku untuk mewakili semua pertanyaanku.
“KyuHyun menitipkan buku itu padaku. Katanya, kau sangat suka membaca novel dan itu adalah novel keluaran terbarudengan penulis favoritemu.” jelas JaeHyun.
Sekarang aku lebih terkejut. Bagaimana bisa KyuHyun masih memperhatikanku. Bahkan yang aku tahu dia sekarang sedang marah padaku.
“JaeHyun-ah aku harus pergi.” pamitku pada JaeHyun. Setelahnya aku berlari keluar perpustakaan untuk mencari KyuHyun.
“Hara-ya bagaimana dengan buku-buku ini?” aku tak mengindahkan perkataan JaeHyun dan lebih memilih meneruskan perjalananku untuk mencari KyuHyun.
Ku telusuri lorong-lorong jalan menuju kelas KyuHyun. Saat aku sampai dikelas KyuHyun, aku tak menemukannya di sana. Aku bertanya pada teman-teman sekelasnya, tapi mereka nampaknya juga tidak mengetahui dimana KyuHyun sekarang.
Di taman, mungkin KyuHyun sekarang berada di sana. Biasanya jika dia sedang bosan dia akan pergi ke taman. Ku lanjutkan langkahku menuju taman sekolah. Disana aku juga tak bisa menemukan keberadaan KyuHyun.
Tanpa kata putus asa, aku terus mencari dimana namja itu berada. Bahkan aku tak memperdulikan keringat yang mulai menetes di dahiku, karena terus berlari menelusuri sekolah yang bisa di bilang luas ini.
Sekarang, dimana lagi aku harus mencari KyuHyun? Aku menyerah dan memili kembali ke kelasku.
Saat aku berbalik tubuhku tanpa sengaja membentur sesuatu yang cukup keras. Segera ku dongakkan kepalaku menatap siapa yang baru saja ku tabrak.
Cho Kyu Hyun. Namja itu memandangku dingin. Aku tersenyum dan segera ku peluk tubuh tegap namja di hadapanku ini.
“KyuHyun-ah Mianhae.” ucapku lirih.
KyuHyun tak membalas ucapanku ataupun pelukanku. Aku rasa namja ini benar-benar sedang marah.
“KyuHyun-ah aku bisa menjelaskan semuanya.” kataku masih dengan memeluk KyuHyun.
Murid-murid yang berlalu-lalang berhenti ketika melihat kami sedang berpelukan. Tidak. Lebih tepatnya aku yang memeluknya.
Tubuh KyuHyun berlahan bergerak untuk melepaskan pelukanku. Namja itu menatapku beberapa waktu hingga ia pergi begitu saja tanpa berkata apapun padaku.
Tak perlu pikir panjang lagi, aku segera berlari mengejar KyuHyun. Ku lihat ia masuk kedalam mobil dan menyalakan mesinnya. Namja itu pergi dengan mobil sport putih dan meninggalkan area sekolah.
Lagi, lagi, dan lagi. Untuk kesekian kalinya aku tidak dapat menyimak semua pelajaran yang diberikan pada hari ini. Fikiranku sedang dipenuhi oleh seorang Cho KyuHyun.
Berulang kali ShinHee menyenggol siku ku. Dia selalu menyadarkanku ketika kedua mata songsaenim menatapku.
***
Sepulang sekolah, aku memutuskan untuk mampir kerumah keluarga Cho dengan menaiki bus dan sedikit berjalan kaki. Tadi JaeHyun sempat mengajakku pulang bersama, tapi aku menolaknya. Aku beralasan kalau hari ini eomma akan menjemputku. Kalau tidak begitu bagaimana mungkin aku bisa mampir kerumah keluarga Cho.
Kudengar kemarin calon eomma dan appa mertuaku beangkat ke Australia untuk berlibur bersama. Dan aku yakin kalau hari ini KyuHyun dirumah sendiri. AhRa eonni pasti masih sibuk dengan skripsinya.
Saat aku berada di depan rumah mewah milik keluarga Cho, satpam segera membukakan gerbang untukku dan mempersilahkan aku masuk. Mungkin dia sudah menganggap aku bagian dari keluaga Cho.
Didepan pintu yang menyimpan berjuta pesona, tempatku berdiri sekarang. Tangan kananku terulur untuk memencet tombol intercome.
Suara yeoja terdengar merdu olehku. Ini seperti suara AhRa eonni. Apa dia ada di rumah?
“Ini aku. Park Ha Ra” jawabku saat AhRa eonni menanyai ku.
“Ah… adik ipar.” AhRa eonni memelukku saat ia tau aku yang datang dan segera membukakan pintu untukku.
“Long time no see.” Katanya sok Inggris.
“Ya eonni. Aku bahkan sangat merindukanmu.”
“Kalau begitu kajja masuk.” ajak AhRa eonni.
Baru satu langkah kakiku memasuki kediaman keluarga Cho, aku sudah terperangah dengan keadaan rumah yang sudah seperti serpihan kapal yang pecah. Aku melihat para pelayan sedang sibuk membersikan pecahan-pecahan beling dengan hati-hati.
“Eonni, ada apa ini?” tanyaku pada AhRa eonni.
“Kau tau? beberapa waktu yang lalu KyuHyun datang dengan wajah yang memerah dan mengamuk sejadi-jadinya. Bahkan tidak ada seorangpun yang dapat menenangkannya.” jelas AhRa eonni.
“Lalu dimana KyuHyun sekarang eonni?”
“Aku rasa dia sedang berada dikamarnya.”
“Boleh aku kesana?”
“Yaak adik ipar kenapa kau bertanya padaku? Kau ini calon istrinya. Lalu apa alasanku untuk melarangmu?” AhRa eonni sedikit terkekeh.
Ku ucapkan kata terimakasih kepada AhRa eonni dan segera pergi ke kamar KyuHyun.
Rumah ini benar-benar dihancurkan oleh KyuHyun. Bahkan aku harus berjalan dengan sedikit berjinjit menuju kamar namja itu. Banyak pecahan-pecahan keramik yang berserakan.
Aku rasa sekarang namja itu selain pemarah juga ternyata sudah gila.
Didepan pintu kamarnya, aku segera mengetuk pintu. Tapi tak ada satupun jawaban dari dalam. Ku coba memutar gagang pintu dan membukanya.
Berhasil. Namja itu tak mengunci pintunya.
Kamar ini sangat gelap. bahkan cahaya rembulan tak dapat masuk. sedikit pengap meski tempat ini dingin. Aku berjalan berlahan mencari sakelar lampu.
KLIKK
Terang. Lampu sudah ku nyalakan dan aku kembali terkejut dengan keadaan kamar ini. Biasanya kamar ini akan tampak rapi dan maskulin seperti pemiliknya. Namun tidak untuk saat ini.
Ku edarkan mataku ke penjuru ruangan ini. Ketika tatapan kami bertemu, badanku sempat menegang. Namja itu sedang duduk di sofa dekat jendela kamar yang tertutup gorden.
Tangannya tampak terluka. banyak darah mengalir, wajahnya yang pucat, dan rambut yag berantakan dengan masih menggunakan seragam sekolah. KyuHyun terlihat mengenaskan.
Aku kumpulkan keberanian untuk mendekatinya dan duduk disamping KyuHyun.
“KyuHyun-ah, jeongmal mianhae. Kau salah faham. Aku dan Jae Hyun hanya berteman. Ya.. aku akui, JaeHyun memang tampan, kaya, pintar dan baik. Tapi aku rasa itu tidak mempengaruhi perasaanku padanya yang hanya sekedar perasaan kagum. Aku mengagumi kesempurnaan JaeHyun. Tapi segala rasa sayang dan cintaku masih atas namamu.” Jelasku.
KyuHyun masih diam dengan memejamkan matanya. Sepertinya dia menhan sesuatu.
Dia mengusap wajahnya kasar dan mendengus.
“Aku harus mati-matian menjauhimu dan berpura-pura mengabaikanmu dan kau malah dengan mudah berbaling pada namja itu. Apa kau tau seberapa sakitnya perasaanku? bahkan aku selalu melihatmu dijemput dan diantar olehnya. Aku harus bagaimana sekarang?” KyuHyun mencengkram rambutnya kuat-kuat. Meluapkan segala rasa emosinya.
“Kyuhyun-ah…” namja itu menoleh.
CUP…. “mianhae”
CUP…..”mianhae”
CUP…..”Jeongmal mianhae.”
Tiga kali ciumanku di bibirnya, membuat KyuHyun tegang. Hingga 5 menit kemudian ia meraup bibirku dan menekan leher belakangku agar ciuman kami semakin dalam. KyuHyun menyesap perlahan bibir bawahku. Ia terus menciumku hingga aku hampir tak sadarkan diri karena kehbisan nafas saat berciuman.
KyuHyun melepaskan ciumannya membuatku dapat kembali menghirup udara.
Aku kira semua akan berakhir di sini. Tapi itu hanya pemikiranku yang salah. KyuHyun mendudukkanku dalam pangkuannya. Bibirnya berlahan mengarah keleherku. Memberi kecupan-kecupan basah dan sesekali menyesapnya hingga tanda merah keunguaan tercipta di leherku.
Tangan KyuHyun juga mulai usil dengan sesekali meremas-remas kecil payudaraku. Tangan satunya lagi digunakan untuk membuka seragam sekolahku.
Kesulitan membukanya, KyuHyun lebih memilih menelusupkan tangannya kedalam bajuku dan menangkup payudaraku. Meremasnya bersamaan dengan tempo yang lumayan kencanga. Hingga membuat nafasku tersengal.
“Ahh…” desahanku keluar begitu saja.
KyuHyun mengeluarkan kedua payudaraku dari tempatnya dan memandanginya dengan muka mesum.
Aku memukul pelan dadanya. Apa dia tidak tau aku malu?
“KyuHyun-ah jangan melihat seperti itu.” protesku.
Tanpa memperdulikan perkataanku, KyuHyun mendekatkan bibirnya ke puncak payudaraku. Menjilat-jilat seperti anak anjing yang sedang menyusu. Dia menghisap kuat payudara kananku dan memilin payudara kiriku.
“ahhh…aa..aahh.” desahku nikmat.
Sedari tadi aku sama sekali tak melawan ataupun menolak perlakuannya padaku. Itu semua karena aku percaya padanya dan juga karena dia melakukannya dengan lembut.
KyuHyun terus mengencangkan hisapannya hingga terdengan suara decakan bibitnya.
“Ahhh.. Kyu..hhyu..nnn..ahhh.”
“Nhee…ashh?”
“Ahh.. te..shhh..ruskan…ahh…”
Dia terus menghisap payudaraku, hingga aku rasa bagian bawah tubuhku sudah basah. Bahkan aku rasa milik KyuHyun sudah berdiri sempurna.
TOKK TOKK TOKK TOKK
Suara ketukan pintu membuat kami berdua terkejut. Aku segera bangkit dari pangkuan KyuHyun dan merapikan seragamku. KyuHyun terlihat kesal dengan seseorang yang mengtuk pintu tadi.
Ia mendengus sebal. Sekarang tatapannya tampak sudah mulai melembut. Ia menoleh kearaku dan tersenyum.
“Aku memaafkanmu. Dan aku menyukai hal tadi.” mendengar ucapan terakhir KyuHyun membuat wajahku merah seperti kepiting rebus.
KyuHyun terkekeh dan menuntunku kearah pintu yang terus berbunyi. Ia merangkul pingganggku erat.
“Noona. Kau? aishh benar-benar pengganggu.” ucap KyuHyun selah tau siapa yang mengetuk pintu tadi.
“Mwo? aku hanya khawatir adik iparku ini akan jadi sasaran amukanmu itu.” elak AhRa eonni
“Apa? aku tidak menyakitinya. Apakah kau tau? beberapa menit lalu kami melakukan adegan romantis dan kami harus berhenti karena dirimu.”
Aishh namja ini apa yang baru saja ia katakan? Kenapa namja ini suka sekali membuatku malu?
“Benarkah?” AhRa eonni terkejut dan itu membuat pipiku semakin memerah.
“Ya sudah lanjutkan kalau begitu.” AhRa eonni pergi meninggalkan kami berdua kembali.
“Ahh akhirnya noona pergi juga. HaRa-ya kajja kita lakukan lagi.” Ku jitak kepala mesum KyuHyun agar namja itu berhenti membayangakan hal-hal yang fulgar.
“Lakukan saja pada bantalmu itu. Sekarang aku ingin pulang. Kalau tidak, eomma pasti akan khawatir.”
“Kalau begitu kajja aku antar”
***
Pagi ini di hari minggu, JaeHyun mengajakku berjalan-jalan di sekitar taman dekat rumahku. Awalnya aku ingin menolak, tapi dia bilang ada yang ingin dia katakan. Jadi, aku menyetujuinya.
Aku sudah tampak rapi untuk berjalan-jalan pagi di sekitar taman. Meskipun bukan bersama KyuHyun, aku harus tetap menjada penampilanku. Bukankah itu kewajiban seorang yeoja???
Sebelum berjalan-jalan di sekitar taman, kami lebih dulu bertemu di salah satu restoran. Kami duduk berhadapan dan memesan secangkir teh hangat.
“Ada apa JaeHyun-ah?” tanyaku.
“Baiklah. Aku sedikit gugup, tapi aku akan mengatakannya.”
Aku mengkerutkan dahi tanda tak mengerti.
“Aku mencintaimu Hara-ya.” lanjutnya.
Terkejut. Jadi hal ini yang ia katanlkan padaku?
Bahkan dia seperti berharap banyak padaku. Ia memandangku dengan senyum yang melebar.
“Mianhae JaeHyun-ah. Aku…aku tidak bisa menerimanya.” senyum lebar di wajahnya tadi menghilang begitu saja.
“JaeHyun-ah, sebenarnya aku dan KyuHyun. Kami sudah bertunangan. Jadi maafkan aku. aku benar-benar tidak bisa.”
JaeHyun terdiam sejenak. Tak lama kemudian, senyum itu kembali terukir di bibirnya.
“Tak apa. Kau tenang saja, kita masih bisa berteman bukan?”
Pertanyaan JaeHyun ku jawab dengan anggukan setuju.
Selanjutnya kami mengobrol dan berjalan-jalan di taman seperti rencana awal. Seakan-akan hal tadi tidak pernah terjadi di antara kami.
***
“KyuHyun-ah ini untukmu.” aku menyodorkan sekotak roti coklat kepada KyuHyun.
Namja itu tersenyum dan menuntunku untuk ikut duduk di sampingnya. Sekarang kami sedang berada di kantin sekolah.
KyuHyun membuka penutup kotak dan mengambil sepotong roti coklat itu. Alih-alih memakannya, KyuHyun malah menyuapkan padaku.
Aku menerimanya dengan senang hati. Namun tiba-tiba bahu kiriku di dorong keras oleh seseorang hingga hampir saja aku terjatu jika tidak KyuHyun tolongi.
“Apa yang kau lakukan pada KyuHyun-ku Hah?” teriak yeoja yang mendorongku tadi.
Apa yeoja ini gila? tiba-tiba mendorongku dan meneriakiku? bahkan apa yang dia katakan tadi? ‘KyuHyun-ku’ ?
Sejak kapan KyuHyun jadi miliknya.
“Byun Baek Hee jangan nerteriak.” balasku.
“Kau yeoja gila. Tutup mulutmu dan jangan dekati KyuHyun-ku.” katanya ketus.
Benar-benar sangan percaya diri yeoja ini. Bahkan dia dengan lantangnya mengatakan KyuHyun adalah miliknya.
Jelas-jelas KyuHyun belum pernah mengatakan apapun tentang perasaannya dan yeoja ini sudah mengklaim Kyuhyun miliknya.
“Cepat berdiri dan pergi.” caci BaekHee padaku.
Yeoja itu menarik lenganku kasar. Aku meringis sakit saat BaekHee mencengkram lenganku kuat.
“BaekHee , apa yang kau lakukan hah?” KyuHyun menyentakkan tangan BaekHee yang tadi mencengkram lenganku.
“KyuHyun-ah aku tidak suka jika dia terlalu dekat denganmu” BaekHee terlihat kesal dengan perkataan KyuHyun.
“Apa urusannya denganmu? Bahkan kau juga tak memiliki hubungan apapun denganku.” Ucap KyuHyun ketus.
” KyuHyun-ah kenapa kau mengatakan hal seperti itu?” BaekHee menundukkan wajahnya. Sepertinya dia sedang menahan air matanya.
Aku masih terlalu bingung dengan apa yang terjadi. Mengedarkan pandangan ke sekeliling kami adalah pilihan yang tepat untukku. Mataku mengerjap-ngerjap cepat dan bergerak gelisa. Aku benar-benar malu sekarang. Semua pasang mata disini sedang menatap kami penuh tanda tanya.
Aku menatap KyuHyun yang masih terlihat geram pada BaekHee.
“KyuHyun-ah, bisakah kita pergi?” tanyaku pada KyuHyun.
“Tunggu Hara-ya.” jawabnya dengan memandangku sekilas.
” Dengar. Bukan hanya kau Byun Baek Hee, tapi kalian semua.” Telunjuk KyuHyun mengarak kepenjuru kantin.
“Kalian dengar baik-baik. Mulai sekarang, jangan ada satu orangpun yang mengganggu Hara. Apa lagi melukainya. Jika ada yang berani melukai Hara-ku maka dia akan berhadapan denganku.” Aku tersentak kaget mendengar perkataan KyuHyun.
Begitu juga BaekHee, dia tampak sangat terkejut. Dahinya mengkerut dan matanya menyipit.
“KyuHyun-ah apa maksudmu? Kenapa kau mengatakan hal seperti itu?” BaekHee menyeka air matanya yang tadi sempat terjatuh.
“Apa kalian tau bahwa Park Ha Ra adalah tunanganku?”
Omo.. apa yang baru saja KyuHyun katakan? Dia mengatakan status kami, benarkah?
“Hara-ya kajja kita pergi.” KyuHyun membimbingku keluar dari area kantin. Meninggalkan murid-murid disana yang masih terkejut.
Saat perjalanan keluar kami berpapasan dengan JaeHyun. Namja itu menatapku tanpa ekspresi. Aku rasa dia juga mendengar apa yang KyuHyun katakan tadi.
***
“Kenapa kau melakukannya KyuHyun-ah?” tanyaku setelah kami sampai di taman sekolah.
“Mwo? kau tak senang hah?” KyuHyun menaikan nada suaranya.
“Kenapa kau membentakku?” Aku ikut terbawa emosi setelah mendengarkan bentakan KyuHyun.
“Mian Hara-ya. Aku hanya terbawa emosi. Aku tidak bermaksud membentakmu Hara-ya. Kau tau bukan, betapa besar rasa cintaku padamu? Dan tadi aku tidak bisa mengontrol emosiku saat BaekHee menyakitimu.” Kedua telapak tangan KyuHyun membingkai wajahku.
“Ya aku tau.” Jawabku bersamaan dengan pelukan KyuHyun di tubuhku.
Kami larut dalam pelukan hangat ini. Hingga suara deheman menghentikan aksi peluk-memeluk antara aku dan KyuHyun.
“Ehemm.”
” Apa yang kalian lakukan?”
***
Semenjak hari itu, hubungan kami membaik. KyuHyun kembali seperti KyuHyun-ku yang dulu. Perhatian, ramah dan penuh kasih sayang.
MinHyuk dan ShinHee juga selalu menjadi sahabat terbaik kami.
Tahun ini adalah tahun terakhir kami di Senior High School. Kami berempat memutuskan untuk fokus pada ujian-ujian yang akan segera kami dapatkan.
Sementara hubunganku dan JaeHyun tidak terlalu baik. Setelah kejadian itu, namja sempurna itu sedikit demi sedikit mulai menjauhiku. Aku tidak tau alasan pastinya.
Memang semua tidak harus berakhir dengan penuh kebahagiaan. Terkadang kita harus merelakan salah satu pergi untuk memperbaiki hal yang lain.
Kisahku ini tidak terlalu buruk untuk menjadi kenanganku di masa remaja.
Aku menyukai segalanya yang sudah terjadi.
END….

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: