Sweet of Purple Part 1

0
ff nc donghae superjunior
Author :
Tittle : Sweet of Purple (Chapter 1)
Category : Romance, Comedy, Project 2th FNC
Cast : – Lee Donghae. – Shin Hyunni.
Other Cast : – Jung Seori – Hyunni’s mother
– Hyunni’s Grandmother – Find by yourself
“Saeng il Chukkaehamnida!!!!” Selamat ulang tahun untuk fnc. Selamat untuk ultah yang ke-2. Saran aku baca ff ini sambil dengar lagu D&E Still you dan BoA Who Are You biar dapat feelnya. Karena aku tulis ff ini sambil dengar 2 lagu itu.

***

“Hey!!! Dongie-ah! Turunlah! Kau bisa jatuh!” teriak cemas seorang gadis kecil dengan suara khas anak-anaknya yang sangat imut dan menggemaskan. Seoraang gadis kecil yang berumur 8 tahun yang memakai gaun lucu dan rambut yang dikepang dua ke depan, sedang melihat ke atas pohon apel yang tidak terlalu tinggi, namun cukup tinggi bagi gadis kecil seperti dia.
Dan benar saja, tepat setelah gadis kecil itu berteriak dari bawah. Pria kecil yang tengah mencoba meraih apel itu jatuh. Tangisan kecil mulai terdengar. Donghae kecil itu hanya menangis melihat darah di lututnya. Gadis itu pun dengan terburu-buru mendekati Donghae dan melihat keadaannya. Sungguh, gadis kecil itu tidak tega melihat sahabat baiknya menangis karena darah dari lututnya yang terluka. Segera ia mengeluarkan sebuah plester berwarna biru bermotif bintang kuning lalu segera menempelkannya di lutut Donghae. Donghae perlahan berhenti menangis saat melihat plester lucu itu.
“Sudah aku bilang itu berbahaya!”
“Aku hanya ingin mengambilkanmu apel itu, Hyunie ah.” sahutnya dengan isakkan kecil yang tampak menggemaskan.
“Dwaesseyeo, aku tidak suka apel! Sudah berapa kali aku bilang aku lebih suka anggur! Anggur lebih manis daripada apel.”
“Apa kau tidak bosan makan itu terus?”
“Aniyeo! Aku selamanya akan menyukai anggur!” Hyunni kemudian berdiri dan memberikan tangannya untuk membantu Donghae berdiri. “Kaja! Kita makan anggur saja di rumah Shim Ahjussi.”
“Ne! Kaja.”
Kedua anak lucu itu akhirnya berlari riang ke rumah seseorang yang bernama Shim, seorang pemilik pohon anggur. Hyunni dan Donghae memang sering masuk diam-diam ke belakang rumah pria itu untuk mengambil anggur dan memakannya diam-diam. Mereka tidak berani minta karena pemiliknya terkenal pelit karen pohon anggurnya sangat sedikit. Mereka punya jalan sendiri untuk masuk, padahal rumah itu sudah dipagari dengan kayu yang cukup tinggi tapi mereka selalu berhasil masuk karena mereka tahu  sudut pagar yang kayunya sudah patah dan membuat sebuah lubang yang hanya bisa dimasuki oleh anak-anak yang berbadan kecil seperti mereka.
Dan soal tertangkap? Mereka selalu hampir sering tertangkap mengambil anggur. Tapi syukurnya, badan mungil mereka dengan sigap selalu berhasil kabur. Terkadang juga mereka bertengkar memperebutkan anggur tersisa. Layaknya persahabatan mereka tidak ada apa-apa di depan semua anggur-anggur itu. Tapi mereka tidak pernah punya pertengkaran yang berarti. Layaknya mereka tidak bisa hidup tanpa bermain bersama setiap harinya.
“Hyunie-ah! Jika aku dewasa nanti, aku akan membuatkanmu kebun anggur yang sangat luas.” Donghae yang penuh dengan sari ungu anggur d isekitar bibirnya, merentangkan kedua tangan kecilnya dengan lebar membayangkan luas kebunnya kelak. “Jadi kita tidak perlu mencuri anggur lagi dan kau bisa mengambil juga memakan anggur sebanyak yang kau mau.”
“Jinja?!” teriak bahagia Hyunni yang tengah memperhatikan tingkah lucu Donghae.
“Ne.” sahut Donghae mengiyakannya lalu meyodorkan jari kelingkingnya kehadapan Hyunni. “Tapi kau harus berjanji sesuatu! Jika dewasa nanti, kau harus menikah denganku. Yakseok?”
“Yakseok!” Hyunni mengangguk pasti dan memberikan jari kelingkingnya lalu mereka berjanji untuk menepati janji mereka kelak. Donghae yang berjanji membuatkan Hyunni kebun anggur yang besar dan Hyunni yang berjanji akan menikah dengan Donghae jika dewasa nanti. Mereka hanyalah anak kecil yang tidak tahu apa arti sebuah janji jari kelingking. Dan sekarang, mereka telah berjanji di hadapan semua anggur Shim ahjussi. Sebuah janji yang mau tidak mau harus mereka tepati nantinya jika waktu itu sudah tiba.
“Kau harus menungguku, Hyunnie-ah.”
Keesokan harinya Hyunni menunggu Donghae untuk bermain seperti biasa. Dia menunggu di tempat yang sering ia gunakan untuk menunggu Donghae, yaitu sebuah rumah pohon untuk umum di pinggir danau. Tapi anehnya, hingga tengah hari Hyunni menunggu, Donghae tidak kunjung datang. Biasanya jika Donghae tidak bisa main, dia akan memberitahu Hyunni sehingga Hyunni tidak perlu menunggunya.
Dengan setia dan cemas, Hyunni terus menunggu hingga tidak terasa sudah mulai malam. Hyunni cukup sedih mengetahui Donghae tidak datang hari ini tapi dia tetap berusaha tersenyum karena dia tahu Donghae pasti punya alasan yang cukup bagus kenapa ia tidak datang hari ini.
Hyunni yang memutuskan pulang kembali ke rumah segera masuk ke ruang makan di rumahnya yang sederhana itu. Dia menyapa nenek dan ibunya yang tengah sibuk menyiapkan makan malam.
“Hyunni-ah, Dari mana saja kau?! Kau bermain sama siapa?” Tanya ibu yang melihat gadis kecil berkepang duanya telah duduk di kursi meja makan. Biasanya ibu dan neneknya tahu kalau dia bermain sama Donghae. Tapi kenapa hari ini mereka seperti tidak tahu itu?
“Hyunni-ah., Kau main sama siapa? Donghae sudah pergi. “ sahut neneknya sambil mengelus sayang rambut kepang Hyunni.
“Mwo?!”
“Tadi Donghae datang dan pamit karena dia dan keluarganya akan pindah ke Seoul. Katanya, orang tua Donghae ingin memberikan pendidikan yang berkualitas untuk Donghae hingga kuliah maupun kerja.” jelas ibu Hyunni yang membuat Hyunni tertegun. “Donghae meminta eomma menyampaikannya padamu karena dia takut pamit langsung padamu karena ia takut dia akan sedih.”
Sekali lagi nenek Hyunni yang seperti bisa membaca pikiran Hyunni. Dia kembali mengelus sayang kepala Hyunni yang masih terdiam seperti patung. Mengingat kemungkinan Donghae kembali sangat kecil membuat Hyunni murung.
Dan benar saja, sosok Donghae tidak terlihat lagi sejak hari itu. Rumah Donghae sekarang tampak seperti rumah hantu kosong. Hyunni bahkan sering menghabiskan waktunya duduk di teras rumah Donghae dari pagi hingga menjelang malam. Berharap ia melihat Donghae keluar dari dalam rumah. Tapi nihil. Hingga akhirnya Hyunni menyerah dan mulai melupakan Donghae kembali. Tapi ia tidak akan pernah lupa kenangan bahagia dan cerianya bersama Donghae. Hanya Donghae yang selalu menemaninya bermain disaat anak-anak lain tidak ingin mendekati Hyunni yang merupakan anak miskin. Sedangkan Donghae, datang dengan sendirinya kerumah Hyunni untuk mengajak Hyunni bermain setiap harinya. Padahal Donghae merupakan salah satu anak yang cukup berada di kota itu. Entah kenapa Donghae ingin bermain bersama gadis sederhana sepertinya. Donghae yang membuat masa kanak-kanaknya menjadi lebih hidup dan Hyunni benar-benar merasakan kegembiraan bersama Donghae. Dan sekarang dia sudah pergi…
***
20 tahun kemudian…
“Saengil chukkahamnida… Saengil chukkahamnida… saranghaneun Lee Donghae… Saengil chukkahamnida…” nyanyian itu berakhir dengan indah setelah seorang pria tampan langsung meniup lilin itu tepat jam 12 malam.
“Berapa umurku sekarang?” Tanya Donghae dengan polos yang fokus membereskan barang-barangnya ke dalam koper besar.
“Kau itu manusia atau bukan?!” kesal Hyukjae yang merupakan sahabat baru pertamanya saat pindah ke Seoul.
“Umurmu sekarang 29! Jangan pura-pura lupa hanya karena kau sudah hampir 30 tahun, dasar tua.” ejek Siwon secara tidak langsung yang tengah meletakkan kue ulang tahun Donghae ke atas meja.
“Seperti kalian tidak tua saja.” balas Donghae dengan kekehan.
“Kau jadi akan pindah kembali ke Mokpo?” tanya Hyukjae yang sibuk memakan kue ulang tahun orang lain. Donghae mengangguk pasti. “Biasanya kau pulang 6 bulan sekali jika diwaktu kosong, kenapa sekarang berbeda?”
“Jung Seori akan menangis selama seminggu.” tawa Siwon tiba-tiba pecah yang diikuti dengan tawa Hyukjae membayangkan jika itu benar terjadi.
Jung Seori adalah mantan pacar Donghae saat SMA. Awalnya Donghae pikir Seori gadis polos dan baik hati. Ternyata tidak, Seori malah selingkuh dengan pria lain dan meninggalkan Donghae karena pria itu lebih kaya dari Donghae. Pria seorang pewaris. Saat itu Donghae belum punya apa-apa seperti sekarang. Hal itu menjadi kegagalan pertama Donghae yang tidak ingin ia ulang lagi karena kesalahan kecil. Itulah kenapa Donghae takut memulai sebuah hubungan lagi. “Lebih baik kau segera mencari calon istri! Aku sudah punya pacar sedangkan Hyukjae punya tunangan dan kau?”
“Aku sudah punya istri.”
“Maksudmu benda bulat kecil berwarna ungu itu?” tanya Hyukjae dengan nada merendahkan mencoba untuk mengejek lelucon Donghae.
“Oh… come on… Donghae lupakanlah tentang anggur-anggurmu untuk sementara! Itu akan menghambatmu mencari kekasih, kau bisa mendapatkan gadis mana pun yang kau mau dengan hanya berkedip! Siapa yang tidak mau pada pria tampan seorang kaya raya sepertimu? Bahkan jika aku wanita, aku pasti sudah menggodamu! Hanya saja tingkahmu yang lebih memperhatikan anggur lebih dari gadis, membuat mereka kabur.” Nasehat Siwon.
“Kalian tahu? Ini sudah tengah malam!” Donghae bangkit menarik kedua tangan teman-temannya itu lalu mendorong punggung mereka berjalan dengan paksa ke arah pintu keluar apartemen mewahnya. “Jangan berkeliaran tengah malam! Kalian seperti namja mesum.”
“MWO?! HEY! LEE DONG…” teriak protes keduanya terputus saat Donghae telah menutup pintu apartemennya dengan tawa jahatnya sambil menepuk-nepukkan kedua telapak tangannya, layaknya baru membuang dua kantong sampah.
***
Donghae kembali dari Seoul ke Mokpo, Jeollanam-do. Kembali ke tempat dimana ia dilahirkan. Dongie yang menggemaskan sudah berubah menjadi Donghae yang tampan dan kaya raya. Wajah lucunya berubah menjadi wajah cassanova yang mempesona. Tubuhnya dulu yang sedikit gemuk dan pendek, kini berubah menjadi tubuh yang cukup berotot dan  hampir dua kali lebih tinggi dari yang dulu. Yang tidak berubah hanyalah hatinya. Hati seorang Lee Donghae tetap baik seperti dulu.
Sekarang, Donghae juga mempunyai kebun anggur yang merupakan kebun anggur terbesar di Korea Selatan. Semenjak lulus kuliah, Donghae mulai menjalankan usahanya untuk membentuk kebun anggur terbesar di kampungan halamannya. Dan hanya dalam kurun waktu 2 tahun, Donghae berhasil mewujudkannya. Bagaimana pun dia mencintai anggur seperti mencintai dirinya sendiri. Alasan lainnya karena ia ingin menepati janjinya. Dia masih ingat sebuah janji pada seorang gadis kecil yaitu membuat sebuah kebun anggur dan sekarang dia sudah menepatinya janjinya. Donghae tidak ingat lagi wajah gadis itu. Yang ia ingat hanyalah gadis itu sering memanggilnya Dongie. Hanya itu yang ia ingat. Dia bahkan tidak yakin apa gadis itu masih ingat padanya.
Dengan memakai setelan jas yang tampak berkarisma, dia memasuki kantornya. Dimana ia sering meninjau kemajuan kebunnya. Dua orang yang merupakan pegawai tetap Donghae datang dan menyambut kedatangan bos mereka.
“Bagaimana produk barunya?” tanya Donghae serius. Lalu seorang pegawai membawakan sebuah botol kaca yang berisi cairan dan menuangkannya ke sebuah gelas khusus.
“Silahkan dicoba.” pinta pegawainya sopan. “Ini produk terbaru Wine yang terbuat dari anggur-anggur di kebun kita, ini akan mulai dikenalkan bulan depan.”
Donghae pun meraih gelas yang berisi cairan ungu gelap itu dan meminumnya sedikit. Hanya untuk merasakan rasanya. “Bagus! Kerja yang bagus semuanya.” kedua pegawai itu tersenyum bahagia. “Bagaimana kemajuan kebunnya?”
Pegawai yang satunya pun memberikan sebuah data kemajuan kebun anggur Donghae. Data yang cukup membanggakan. Semakin maju setiap tahunnya. Namun kedua pegawai itu tiba-tiba berwajah sedikit cemburut mengingat sesuatu. “Tapi…”
Donghae langsung mendongakkan wajahnya menatap para pegawainya karena mendengar sebuah nada yang cukup tidak ia sukai.
“…Beberapa bulan ini terjadi pencurian anggur hampir setiap harinya, memang tidak banyak yang ia ambil… hanya saja jika itu terus terjadi mungkin akan berdampak bagi kebun kita.” sambung pegawainya itu dengan sedikit gugup mengetahui bosnya itu sangat membenci kata curi. Dan benar saja, wajah bersahabat Donghae tiba-tiba berubah drastis mengeluarkan aura hitam di sekelilingnya. Cukup membuat pegawai-pegawainya bergidik ngeri.
“Aku tidak mau tahu! kalian harus mengurusnya!” perintah Donghae tegas. “Kalian harus menangkapnya bagaimana pun caranya!”
***
Malam ini, Hyunni ingin kembali melancarkan aksinya seperti biasa. Semenjak nenek Hyunni jatuh sakit. Penderitaan mereka dari kemiskinan semakin bertambah. Sehingga pilihan terakhir yang ada hanyalah mencuri anggur dari kebun Lee Donghae. Hyunni tahu betul bahwa itu adalah kebun Lee Donghae. Siapa yang tidak mengenal kebun anggur besar itu? Setiap tengah malam, Hyunni mengambil anggur secukupnya untuk dijual demi menghidupi diri sendiri dan juga kedua orang tersayangnya. Apalagi kebun anggur itu berjarak sangat di dekat dari rumahnya, lebih tepatnya hampir bersebelahan. Lagipula Hyunni tidak merasa bersalah telah mencuri dan memakan anggur-anggur itu. Dia masih ingat kata-kata Donghae hari itu. Bahwa jika Donghae mempunyai kebun anggur, dia akan membiarkan Hyunni mengambil dan makan anggur sebanyak yang ia mau.
Hyunni berharap bisa bertemu lagi dengan Donghae. Walaupun kecil kemungkinannya bahwa Donghae masih mengingatnya. Setahunya, Donghae hanya pulang dua kali setahun itu pun hanya untuk dua hari. Tapi Hyunni juga minder bertemu Donghae karena dia takut, Donghae sudah berubah dan tidak mau bersama gadis miskin sepertinya.
Hyunni yang mengepang satu rambut panjangnya tahu, setiap jam satu malam. Pegawai akan selesai berjaga di kebun itu dan pergi istirahat. Di jam begitulah Hyunni biasa masuk diam-diam dan memetik anggur dan memasukkannya di keranjangnya.
Hyunni berjalan dengan pelan masuk ke dalam kebun itu saat dirasakannya sudah aman. Terus berjalan dalam kegelapan tanpa takut hingga menemukan buah yang ia cari. Cahaya remang dari lampu sekitar mempermudahnya memetik anggur dengan jelas. Hingga hanya butuh 15 menit memetiknya, Hyunni sudah mendapatkan cukup anggur untuk dijual besok.
“Aku hebat! Mungkin aku bisa jadi mata-mata.” pujinya pada diri sendiri melihat hasil yang ia dapatkan dengan tawa yang menggemaskan. “Oke! saatnya pulang, anggur-anggurku.”
Sebelum benar-benar pergi, ia kembali memetik jahil sebutir anggur dan memasukkannya ke mulutnya dengan kekehan lucu lalu melangkahkan kakinya untuk pergi menjauh dari kebun itu sebelum ketahuan pegawai lain. Tapi, belum sempat melangkahkan kaki sebanyak dua langkah, tiba-tiba kepang rambutnya menghentikannya. Dia pikir rambutnya tersangkut dipohon anggur namun ternyata tidak.
“Kau pikir kau mau pergi kemana?” suara itu membuat Hyunni tertegun menyadari dirinya telah tertangkap oleh salah satu pegawai yang tidak beristirahat. Hyunni berusaha lari tapi pria itu kembali menarik rambutnya sehingga ia tidak bisa lari. Sadis sekali pria itu! padahal Hyunni punya tangan yang bisa ia tarik. Tapi malah rambutnya yang terus ditarik.  “Kau tidak bisa pergi tanpa membayar terlebih dahulu, agassi.”
Dasar pelit! Runtuk Hyunni dalam hatinya. Ia pun menunduk dan berbalik untuk mengakui kesalahannya. Namun ia kaget saat mengetahui siapa yang telah mengangkapnya. Wajah tampan dan akrab menghiasi pandangannya. Ia membeku berusaha mengenali pria itu hingga Hyunni sadar siapa pria itu. “Lee Donghae?…”
***
“Jangan turunkan kakimu!” perintah tegas pria itu.
“Mian.”
Kini Hyunni berada di dalam kantor Lee Donghae. Mengangkat kedua tangannya di udara dengan satu kaki yang terangkat sambil sesekali terhuyung. Sudah hampir 30 menit dia terus begitu sebagai hukuman awalnya telah mencuri. Setiap kali Hyunni diam-diam menurunkan kakinya, Donghae langsung menegurnya padahal Donghae sibuk membaca sebuah majalah. Di jam dua malam begini?!
“Apa kau sudah senang?” Kesal Hyunni.
“Ok cukup!” Seketika Hyunni lega dan menghentikan hukuman. Lalu Donghae mengambil gagang telepon rumah yang ada di sampingnya. “Sekarang hukuman utamamu.”
“Apa yang kau lakukan?!”
“Memanggil polisi.” Jawab nada datar Donghae. Dengan secepat kilat Hyunni berlari merebut gagang itu sebelum Donghae menekan tiga angka resmi itu. Donghae langsung menatap Hyunni tajam karena tidak mau memberikan telepon itu kembali. “YAK! Kembalikan!”
“Andwaeyeo!” tolak Hyunni dengan wajah putus asa. “Aku sudah meminta maaf selama sejam penuh dan mengembalikan semua anggurmu lalu sekarang kau ingin memanggil polisi untuk menangkapku?! Kau gila!”
Donghae yang menatap tanpa iba langsung mengeluarkan ponsel canggihnya dari sakunya dan menaruhnya di telinganya. Memencet tiga angkat itu dan menunggu respon. Hyunni benar-benar putus asa melihat Donghae yang menelpon melalui ponselnya. Dia berlutut di samping Donghae yang menunggu panggilannya diangkat tanpa menengok ke arah Hyunni yang mulai menitihkan air matanya.
“Jebal… andwaeyeo.” lirih Hyunni dengan putus asa dan suara isakan kecil mulai terdengar serta mata bulatnya mulai memerah. “Keluargaku… tidak memiliki apa-apa selain diriku… nenekku sekarang jatuh sakit dan ibu sibuk merawat nenekku… aku satu-satunya tulang punggung mereka… dan hanya dari anggur-anggur sedikit ini kami hidup… jebal jangan lakukan itu… aku berjanji tidak akan memetik anggur di kebunmu lagi! Aku akan lakukan apapun agar kau tidak  melakukan itu.”
Donghae yang mendengar itu sedikit tertegun. Ia tidak  tahu bahwa masih ada manusia yang hidup sengsara seperti itu di lingkungannya. Dilihatnya wajah gadis itu. Jantung Donghae berdebar. Wajah gadis itu sangat cantik karena memerah menangis. Tidak  terasa muncul suara dari ponsel Donghae yang membuatnya sadar.
“Yobseyeo… ini kantor polisi… ada yang bisa saya bantu?” tanpa Donghae sadari, dia terus menatap wajah gadis manis itu yang tengah menundukkan wajahnya sesaat. “Yobseyeo… apa anda baik-baik saja?!… apa anda dalam bahaya?!… tolong katakan!”
Mendengar suara polisi yang panik membuat Donghae sadar. “Ah! Maaf, aku tadi hanya mau order pizza tapi salah pencet, maaf menganggu malam-malam begini.” Ucap Donghae beralasan. “Baiklah aku akan memberimu keringanan.” Ucap Donghae yang berhasil membuat isakan gadis itu terhenti dan menatap Donghae penuh terima kasih. “Tapi satu syarat!”
“Mwondae?”
“Seperti yang kau bilang tadi.” Sahut Donghae. “Kau akan melakukan apa saja yang kumau! Jadi mulai besok kau harus bekerja di kebunku tanpa gaji! Dan soal makan nenek dan ibumu… kau bisa membawa mereka menginap di rumah tengah kebun, orang-orang yang tinggal disana kami beri makan gratis setiap harinya karena mereka juga bekerja disini dan kau tidak  perlu menyuruh nenek dan ibumu bekerja, hanya kau saja.”
“Mwo? Tanpa gaji? Bagaimana dengan kebutuhan hidupku yang lain?”
Donghae menghela nafas. “ Dikasih hati malah minta jantung! Baiklah! Masa hukumanmu sebulan penuh ini! Aku tidak akan memberimu gaji mingguan sebulan penuh dan jika kau berhasil melewati sebulan itu tanpa masalah, aku akan mempertimbangkan untuk melepaskan dan memberimu gaji untuk bulan berikutnya! Bagaimana?!”
“Gamsahamnida! Gamsahamnida!” Hyunni bangkit dan membungkuk terus menerus seperti ia mengulang kata-katanya.
“Tapi kau harus melakukan apa semua yang aku katakan tanpa protes ataupun membantah! Atau tidak, kau harus menginap di penjara bertahun-tahun.” ucap Donghae tegas.
“Ne.” sahut Hyunni dengan hormat layaknya polisi lalu tertawa sebentar.
Donghae terhanyut akan tingkah manis Hyunni dan tidak  ia sangka, ia tersenyum melihat Hyunni yang lucu. Namun setiap kali melihat senyum Hyunni, Donghae tertegun serasa dia telah tenggelam di dalam senyuman Hyunni.
Sangat cantik.
Oh iya, wajah Hyunnni juga tampak akrab di mata Donghae. Siapa Shin Hyunni sebenarnya? Pikir Donghae.
***
“Annyeong, Bos!” teriak ceria Hyunni seperti hari-hari sebelumnya saat Donghae baru saja bangun. Betapa kagetnya Donghae saat ia membuka jendela kamarnya untuk menghirup udara pagi kebunnya tapi malah wajah cantik Hyunni yang melewati kata ceria membuatnya kaget. Ini sudah ketiga kalinya dalam minggu ini Hyunni mengagetkannya.
“KYYYAAAAA!!!” sedetik kemudian Hyunni malah berteriak keras menulikan setiap telinga umat manusia sambil menunjuk kearah Donghae.
Donghae yang mengikuti arah telunjuk Hyunni juga ikut tidak kalah kencang teriakannya. Bagaimana tidak? Donghae membuka jendela besarnya yang dapat menampilnya seperdua tubuhnya saat ia sedang telanjang. Bukan telanjang bulat! Hanya saja Donghae tidak memakai baju sehingga memperlihatkan otot bisep, abs dan dada bidangnya ke hadapan Hyunni. Untung saja Donghae memakai celana tidurnya. Jika tidak, dijamin Hyunni akan pingsan di tempat atau paling buruknya seranggan jantung hingga meningggal.
“Hey!! Apa kau tidak punya pekerjaan lain?!” teriak kesal Donghae yang tengah berusaha menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya.
Hyunni mengangkat tangan kanannya yang memegang selang air. “Aku sedang menyiram bunga sekitar rumahmu! Lihat! Tidak  peduli berapa banyak air yang kusiram mereka tetap saja mati!” Ucap Hyunni lalu menyemprot masuk air ke arah Donghae yang kesal. “Pergi pakai bajumu, namja byeontae!”
“MWO?!!!!” Karena melihat Donghae hanya bisanya marahnya, Hyunni sendiri yang akhirnya menutup tirai lalu jendela Donghae.
“Dongie ah, kau tidak berubah.” Gumam Hyunni setelah menutup semua jendela Donghae lalu tertawa kecil. “Kau masih ceroboh seperti dulu.”
“Apa Donghae belum mengingatmu?” Tanya nenek Hyunni dengan suara yang dipaksakan untuk keluar.
Sekarang mereka tinggal di rumah yang dibangun Donghae khusus untuk orang-orang seperti keluarganya yaitu orang yang kurang mampu. Dan Hyunni telah menceritakan kejadian yang menimpanya pada nenek dan ibunya. Dengan senang hati pun mereka berdua pindah ke rumah ini, bagaimana pun mereka tidak  punya pilihan lain seperti Hyunni yang bekerja tanpa gaji di kebun Donghae itu.
“Aku rasa tidak, halmeoni.” Sahut Hyunni dengan tidak  bersemangat.
“Ya… cukup sulit memang mengingat orang yang kau tinggalkan selama 20 tahun.” Sahut ibu Hyunni.
“Aku mengingatnya!” Ralat Hyunni dengan kesal.
“Halmeoni yakin Donghae akan mengingatmu suatu saat nanti.” Hyunni hanya merespon perkataan neneknya dengan helaan nafas dan senyum paksaan.
Sungguh Hyunni, cukup bimbang. Dia sangat ingin Donghae mengingatnya namun sepertinya tidak bisa. Sejak bertemu, Donghae memperlakukannya seperti orang asing. Hyunni sering mengerjai Donghae seperti saat masih anak-anak dulu namun Donghae tetap tidak mengingatnya. Mungkin bagi Donghae, Hyunni hanyalah kenangan yang tidak penting untuk diingat sehingga Donghae melupakannya dengan begitu mudah padahal mereka sudah bermain bersama sejak dulu.
Belum sempat Hyunni menghabiskan makanannya, salah seorang pegawai Donghae memanggilnya dan menyuruhnya menghadap ke Donghae saat ini juga.
“Dasar diktator!” gerutu Hyunni selama perjalanan yang sangat dekat itu. “Aku bahkan baru makan tiga suap.”
Donghae juga sedang tampak tidak  bersemangat duduk di kursi sofa kantornya. Dia merasa ada sesuatu yang sulit ia jelaskan yang berkaitan dengan gadis bernama Shin Hyunni itu. Wajah dan namanya sangat akrab. Ditambah email undangan yang masuk ke akun membuatnya semakin pusing untuk memikirkan jalan keluarnya. Dia tidak  bisa kabur, dia harus menghadapi itu. Hanya saja dia harus punya rencana yang baik dan sepertinya ini saat yang tepat untuk membuat Hyunni sedikit berguna untuk kehidupannya. Setidaknya begitulah pikiran Donghae.
“Kau memanggilku?” sahut Hyunni yang langsung duduk di kursi depan Donghae.
“Kau…” Donghae menelan ludah, gugup tidak  bisa melanjutkan kata-katanya.
“…harus menjadi tunanganku dan ikut denganku ke Seoul besok!”
To be continue…
***
Apakah rencana Donghae di balik menjadikan Hyunni tunangannya?
Apakah Donghae telah mengingat Hyunni?
Dan apakah  sebenarnya isi undangan yang masuk di email Donghae sehingga membuatnya kehilangan kata-kata?
Kalian akan mendapatkan jawabanya di Chapter kedua dari ff  ini “Sweet of Purple.”
***
Bagaimana? Masih mau baca selanjutnya? Semoga saja masih. Sengaja chapter pertama aku panjangin supaya puas bacanya hehehe~

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: