I Will Try Part 1

0
lee donghae ff nc
Title : I Will Try [ Part 1 ]
Author :
Cast :Lee Dong Hae | Lee Hyuk Jae | Moon Hyo Reen | Hyo Rim
Genre :Romance, AU, Chapter
Rate : PG – 17+
Jangan kau kira cinta datang dari keakraban yang lama dan pendekatan yang tekun.
Cinta adalah kesesuaian jiwa.~ Kahlil Gibran

“CUTT”
Untuk kesekian kalinya pria itu mengutuk dalam hati, lagi-lagi tidak mendapatkan take yang bagus sesuai seleranya. Pria itu meluapkan kekesalannya dengan cara melemparkan naskah yang sejak tadi berada dalam genggamannya, tidak perduli dengan tatapan setiap mata yang melihatnya dengan pandangan takut. Tangan terampilnya menghancurkan tatanan rapi rambut hitam tebalnya, erangan frustasi keluar dari bibirnya terdengar menakutkan, siapapun yang berada di tempat itu tidak ada yang berani membuka suaranya.
Jika bisa di hitung, ini sudah kesepuluh kalinya pengambilan scene yang di lakukan, terhitung, kurang lebih sejak lima jam yang lalu, dan hal itu membuatnya sangat lelah. Yang lebih  menyebalkan lagi, tidak ada satupun scene yang di perankan sang artis dapat memuaskan hasratnya sebagai seorang sutradara.
“Apa kalian tidak bisa membaca naskah yang ada? bisakah kalian berakting dengan baik?” suaranya naik beberapa oktaf, tidak seperti biasanya. Kemarahan begitu kentara menghiasi raut wajah pria itu. Sedangkan beberapa pemain yang berdiri di hadapannya hanya bisa menundukkan wajah, hening, tak ada satupun suara yang berani menjawab pertanyaan sang sutradara. Menjadi pemeran utama dalam project drama comedy memang tidak mudah untuk mereka.
Salah satu aktris terkenal bernama Shin Ensoo mencoba memberanikan diri membuka suaranya.“Mianhamnida kamdongnim, bisakah memberikan kami satu kali lagi kesempatan untuk mengulanginya?”
“Sudahlah Ensoo~shi, kita break saja. Aku akan mencoba mencari pemeran yang cocok untuk membintangi drama ini. Kau pulanglah.” Jawabnya acuh tak acuh, gadis itu terlihat seperti ingin menangis di tempatnya, namun sayangnya pria itu sudah tidak perduli dengan keberadannya.
“Donghae oppa,” ujar gadis itu lirih, lihat saja wajah memelasnya, siapapun tidak akan tega melihatnya, tapi  sayanganya hal itu justru membuat pria di depannya semakin murka.
“Berapa kali kukatakan!, jika sedang berada di lokasi syuting jangan memanggilku seperti itu. Kau mengerti!” Ensoo tersentak mendengar pekikan pria itu- Lee Donghae, sebelumnya Ensoo sama sekali tidak menduga akan mendapatkan respon semengerikan itu.
Kekesalan menyelimuti tubuhnya, merasa di rendahkan, Ensoo membalas ucapan Donghae dengan intonasi yang tidak kalah tinggi, “Ya! aku tau, kau memang sangat menyebalkan Lee Donghae~shi.” Tanpa berfikir dua kali, Ensoo melangkahkan kakinya meninggalkan Donghae yang masih tercenung di tempatnya. Pria itu  juga tidak menyangka jika gadis itu berani berteriak tepat di depan wajahnya.
Shin Ensoo-gadis itu telah mengenal sosok Lee Donghae sejak dulu, di umurnya yang ke-32, pria itu beralih profesi menjadi sutradara, setelah dua tahun lalu boyband yang digawanginya resmi dibubarkan. Sebut saja Super Junior, silahkan bertanya, siapa yang tidak mengenal sosok mereka semua? 13 pria tampan yang sangat di gilai para wanita bukan hanya di dalam negeri, bahkan hampir di setiap negara meraka memiliki fans fanatic yang disebut ELF.
Dulu saat masih bersama grupnya, Lee Donghae dikenal dengan sifatnya yang lembut sekaligus penyayang, terkadang pria itu juga sering memunculkan sifat kekanakan yang terlihat lucu dan sangat manis. Namun dibalik semua itu,  terpendam sebuah sifat yang pada umumnya memang dimiliki oleh kaum pria. Tegas dan perfectionis, kedua sifat itulah yang lebih mendominasi saat ini, dan sangat berguna untuknya saat ingin menghasilkan suatu karya, entah itu drama maupun film, hingga membuatnya sukses hingga sekarang.
Lee Donghae juga pernah berperan sebagai dirinya sendiri dalam sebuah Film berjudul “The Journey Of Super Junior” Film tersebut sengaja dibuat dan di dedikasikan untuk para ELF- sebutan untuk penggemar mereka, di akhir kisah perjalanan mereka sebagai Super Junior. Film itu juga yang membuat namanya semakin melambung di kancah perfilman Korea Selatan. Bahkan aktingnya pun hampir sebanding dengan Choi Siwon, rekan seperjuangan sekaligus dongsaengnya di Super Junior yang sudah lebih dulu merambah ke dalam dunia akting.
Sudah puluhan drama dan beberapa film yang dibintangi, membawa namanya dikenal menjadi actor populer. Namun ternyata sebutan aktor dan seorang penyanyi lantas tidak membuat seorang Lee Donghae berpuas diri. Pri itu membuka lebar jalannya dan merambah ke dunia sutradara, kesuksesannya terlihat ketika dia berhasil membuktikan beberapa drama dan film yang disutradarainya mendapat rating tertinggi di beberapa stasiun tv dan juga berhasil menyebet beberapa penghargaan di ajang Seoul Film Festival tahun lalu.
“Hae~ya.”Sebuah suara menyadarkan lamunan Donghae, seorang pria dengan setelan jas mahal berlabel merk ternama, berjalan menghampirinya, tatanan rambut dengan warna hitam kecoklatan milik pria itu terlihat sangat rapi  dan cocok dengan gesture wajahnya, membuatnya terlihat tidak kalah tampan dengan Lee Donghae.
“Hmmb.”Sahut Donghae sekenanya. Mulutnya sedang malas mengeluarkan banyak kata. Pria itu tidak mengacuhkan kehadiran seseorang yang kini sudah berdiri di hadapannya.
“Apa kali ini masih belum berhasil juga? aku rasa, Ensoo sudah memerankan karakternya dengan sangat baik. Lalu, apalagi yang kurang?” berbagai macam pertanyaan dari pria itu tertumpuk pada Donghae, tidak lupa dengan gerakan santainya pria itu menghempaskan tubuhnya pada kursi kosong, duduk di sebelah Donghae.
“Aku ingin akting yang benar – benar real, bukan yang dibuat – buat,  kau bisa lihat sendiri, bahkan set artisticnya sudah di atur sedemikian rupa. Tapi apa? Kurasa dia tidak bisa menjiwai perannya.”Terlihat frustasi, Donghae memijit pelipisnya seraya menutup wajahnya dengan telapak tangan.
“Lalu  apalagi rencanamu? apa kau tidak bosan! terus mengganti hampir lima belas orang pemain dalam drama ini. Ingat! target waktumu sudah tidak banyak lagi.” Desis pria yang tak lain adalah sahabatnya sendiri – Lee Hyuk Jae yang lebih dikenal dengan sebutan Eunhyuk. Dia kesal melihat tingkah over perfect seorang Lee Donghae, yang selalu menuntut kesempurnaan.
“Molla! bukankah ada kau yang akan membantuku?” dengan sengaja Donghae memasang raut wajah memelasnya, berharap Eunhyuk bersedia membantunya, meskipun pada kenyataannya  Donghae tidak perlu bersusah payah memasang raut wajah seperti itu karena Eunhyuk tidak akan pernah bisa menolak keinginan sahabatnya itu.
Jika dilihat-lihat sifat kekanakan Lee Donghae memang tidak pernah berubah apalagi menghilang,  tapi itu hanya terlihat oleh orang-orang terdekatnya saja.
“Kapan kau tidak merepotkanku! hach!” satu jari Eunhyuk sibuk mengetuk-ngetuk dagunya, pria itu terlihat sedang berfikir. “Sebenarnya aku ada satu kandidat yang bisa kau andalkan untuk memerankan cerita di dalam dramamu ini. Tapi…..” Eunhyuk sengaja menggantung ucapannya, membuat Donghae penasaran.
“Tidak ada kata ‘tapi. Kalau begitu cepat hubungi dan suruh dia besok datang ke lokasi syuting.”Eunhyuk ternganga lebar mendengar ucapan Donghae, apa dia tidak salah dengar? Baru saja Donghae memerintahnya begitu saja. Catat! dengan seenak hati. Apa profesinya kini beralih menjadi sekretaris Lee Donghae? oh! Katakan ini tidak benar. Dia memang akan membantu tapi tidak dengan cara demikian.
“Tsk!, Dengarkan dulu, aku bahkan belum selesai bicara.” Eunhyuk menjitak kepala Donghae, kesal. “Aku memang tau seseorang yang cocok, dan sesuai dengan seleramu untuk melanjutkan proyek drama ini, tapi sayangnya dia sudah lama mundur dari dunia keartisan, kurang lebih sejak tiga tahun lalu. Bahkan keberadaannya saat ini tidak ada yang tahu.” Jelas Eunhyuk panjang lebar diakhiri dengan desahan pasrah darinya.
“Lalu, kenapa kau mengusulkannya padaku? Bodoh!.” Tidak terima, Donghae membalas jitakan Eunhyuk di kepalanya tadi, jauh lebih keras tentunya.
“Yak! aku tahu itu mustahil, tapi pertimbangkanlah baik-baik. Kalau kau bisa membawanya kembali ke dunia entertain, apalagi kau berhasil membuatnya membintangi dramamu, aku yakin tidak hanya rating bagus yang akan kau dapatkan. Tapi juga tawaran lain yang lebih menggiurkan., impianmu untuk bisa merambah kancah Hollywood juga akan segera terwujud. Kau tau mereka dulu adalah aktris ternama papan atas. Menghilangnya mereka dari dunia hiburan ada alasan tersendiri dan sempat membuat heboh dunia entertain, aku yakin untuk saat ini tidak sedikit penggemar yang menanti-nanti kehadiran mereka kembali.” Jawab Eunhyuk sangat antusias, sesekali tangannya mengusap ujung kepala, meredakan hadiah yang diberikan Donghae barusan.
“Memangnya siapa yang kau maksud? Apa aku mengenalnya?” Tanya Donghae menatap Eunhyuk penuh harap.
Cengiran lebar Eunhyuk  mengiringi jawaban yang akan dia lontarkan. “Moon bersaudara.”
Entah kenapa cengiran lebar Eunhyuk otomatis membuat tubuh Donghae semakin lemas. Yang benar saja, apa dia tidak salah dengar? ini sama saja dengan memberi harapan palsu.
“Kau gila! si kembar Moon, ini tidak mungkin. Bukankah keberadaan mereka saja tidak ada satupun yang tahu, dan lagi apa kau lupa dengan isu keluarga mereka dulu ? Ah tidak! aku tidak berani mengambil resiko”
“Bodoh! apa kau tidak pernah menonton berita? itu hanya sebuah rekayasa dari kolega bisnis keluarga mereka. Banyak yang menyayangkan karena semuanya baru terungkap setelah kepergian ayah mereka akibat menanggung hukuman yang sebenarnya bukanlah kesalahannya.”Jawab Eunhyuk dengan senyum miris.
“Tapi, apa kau yakin mereka bersedia memulai lagi karier keartisannya ?” Tanya Donghae skeptis. “yang aku tahu, Moon bersaudara benar – benar sudah tidak ingin kembali ke dunia yang dulu membesarkan nama mereka sekaligus menghancurkan mereka.”
“Aish! Sejak kapan kau tidak berfikir memakai otak!” Eunhyuk melayangkan kepalan tangannya untuk kesekian kali pada kepala na’as Donghae.“Kau yang harus turun tangan dan membujuknya sendiri. Mungkin dengan wajah memelasmu itu siapa tahu mereka kasihan dan mau membantumu.”
Donghae geram mendengar penuturan Eunhyuk, menurutnya itu hanyalah omong kosong belaka, sama sekali tidak memberikan masukan. “Sialan kau!”
Keheningnya menyelimuti keduanya, Donghae tidak habis fikir dengan saran yang diberikan sahabatnya – Eunhyuk. Dia kira mengubah komitmen seseorang semudah membalik telapak tangan, oh! Jangan harap ini akan mudah, Donghae sama sekali tidak yakin dengan apa yang harus dia lakukan, bagaimana mungkin dia membujuk Moon bersaudara agar kembali ke dunia acting sedangkan keberadaan mereka saja dia tidak tahu.
“Sudahlah jangan terlalu banyak berfikir, cepat putuskan, bagaimana?” Eunhyuk tidak sabar menunggu jawaban Donghae.
“Apanya yang bagaimana? ini hanya omong kosong. Lagipula kita tidak tahu dimana keberadaan mereka sekarang?”
“Kau tenang saja. Aku tahu dimana mereka.” Sahut Eunhyuk seraya memamerkan senyum kemenangannya. Sukses membuat mulut  Donghae menganga lebar hingga nyaris menjatuhkan rahangnya.
“Kau……..?”
***
Gadis itu diam tanpa suara, duduk di kursi rotan yang terletak di beranda rumah bergaya tradisional Korea. Sesekali tangannya sibuk membolak-balik lembaran koran edisi pagi hari ini, Bola matanya memindai setiap huruf yang tercetak di atasnya, rambut ikal panjangnya menari-nari mengikuti terpaan angin pagi yang menyejukkan. Gadis itu membuang nafasnya lelah, ini sangat membosankan, menurutnya tidak ada satupun yang menarik. Koran di tangannya hanya berisi berita gosip murahan, tidak layak menjadi konsumsi publik.
Sejenak dia tertegun melihat sebuah judul berita yang menjadi Headline News tercetak dengan huruf kapital berwarna hitam tebal,
“SUTRADARA TERKENAL LEE DONGHAE, SUDAH MEMILIKI TUNANGAN.”
Dilansir salah satu majalah Seoul News, dikabarkan bahwa Lee Donghae sutradara muda terkenal itu sudah memiliki tunangan. Kabar ini di perkuat dengan Lee Donghae yang berkali – kali mengupload beberapa foto liburannya yang disampingnya terdapat bayangan seorang gadis yang di duga dia adalah aktris terkenal Seoul –  Shin Ensoo. Memang telah di kabarkan sejak beberapa tahun terakhir ini mereka terlihat  dekat setelah menjalin kerjasama dalam drama “Handsome Daddy and His Daughter” ini. Tapi sampai kabar ini beredar belum ada konfirmasi dari pihak Lee Donghae maupun management dari Shin Ensoo.
Gadis itu mendengus membaca kabar berita tersebut, Lee Donghae. Nama yang hampir selama lima tahun ini tertanam indah di dalam hatinya. Mereka sempat bergelut  di dunia yang sama, besar pula kemungkinan pertemuan bagi mereka. Tapi sayang sekali fakta yang terjadi tidak seperti apa yang diharapkan, meskipun sama-sama bergelut di dunia keartisan, tidak sekalipun mereka pernah bertemu secara pribadi maupun dalam suatu acara yang sama. Kenyataan itulah yang membuat gadis itu kesal, dia merasa semuanya gagal tak berguna, apalagi sejak kejadian itu. Dia sadar, ternyata mengagumi seorang pria secara diam-diam benar-benar membuatnya lelah. Dan hingga kini perasaan itu masih saja membuat hatinya sesak.
Gadis itu, sebut saja dia- Moon Hyorim.
Hyorim bangkit dari duduknya, masuk ke dalam rumah, melempar sembarangan koran yang dipegangnya, lalu berjalan ke arah kamarnya. Sekilas  memori otaknya kembali memutar kenangan saat pertemuan pertama antara dirinya dengan pria yang diam–diam mampu mengambil hatinya pada pandangan pertama. Mirisnya hingga saat ini pria itu masih saja memenjara hatinya.
Suara pintu  bergeser membuyarkan lamunannya, membuat kepalanya menoleh saat mencium aroma sedap dari arah luar.
“Hyo Rim~ah,  kajja kita makan.”
Hyorim berdiri malas-malasan, berjalan keluar kamar lalu duduk di kursi berhadapan dengan saudaranya. Gadis itu merasa seolah sedang menghadap pada sebuah cermin, sesaat dia berfikir jika orang-orang yang tidak mengenal mereka mungkin tidak akan bisa membedakan keduanya. Lihat saja! Moon Hyorim dan Hyoreen memang kembar identik. Hanya model rambut saja yang membedakan. Keduanya lahir hanya berselisih waktu  10 menit, Hyo Reen yang terlahir lebih dulu.
“Ahh! Ramen lagi. Apa kita harus setiap hari memakan ramen seperti ini?” Hyo Rim mendengus, namun tetap saja tangannya dengan lincah bergerak mengambil sumpit , memasukkan ramen ke dalam mulutnya.
“Mianhae, hasil dari bekerja di kebun Paman Go kemarin hanya bisa untuk membeli beberapa bungkus ramen dan juga keperluan mandi.” Hyoreen bersuara, memberi alasan pada saudara kembarnya, gadis itu menundukkan kepalanya sedih. merasa tidak nyaman karena tidak bisa menyajikan sesuatu yang enak untuk mereka.
“Ne, aku tau, mungkin kita harus lebih giat lagi untuk mencari uang. Fighting!.” Hyorim tersenyum manis berusaha menangkan saudaranya, tapi tetap saja raut kesedihan masih terpancar di dalam matanya. Dan Hyoreen menyadari itu namun dia tetap diam seolah tak menyadarinya.
“Geure! Fighting.” Hyoreen mengepalkan salah satu tangannya.“Cah! Sekarang kita makan dulu.” tangannya kembali sibuk mengaduk ramen di dalam mangkuknya.
Keduanya makan dalam diam, menikmati ramen masing-masing. Tidak sengaja pandangan mata Hyoreen menangkap sesuatu yang tidak jauh dari tempat mereka.
“Rim-ah, apa kau baru saja membaca koran itu?”  jari telunjuk Hyoreen  mengarah pada lembaran koran yang terlihat berserakan di bawah kaki meja makan mereka.
“Ne.” Jawab Hyorim pelan seraya menundukkan wajahnya.
Mendesah pasrah melihat jawaban dan wajah murung saudaranya. “Apa kau membaca berita tentang Lee Donghae lagi?” Tanya Hyoreen seraya menyipitkan matanya. Gadis itu tidak suka jika di tempat baru mereka ini masih ada sesuatu yang berhubungan dengan masa lalu kehidupan kelam mereka.
Mendengar pertannyaan demikian membuat Hyorim mendongakan wajahnya. menatap pada Hyoreen-saudara kembarnya.  Yah, harus di akui bahwa Hyoreen lah satu – satunya yang tahu tentang perasaannya terhadap Donghae. “Ne.”
“Sudah berapa kali aku katakan, lupakan dia Rim-ah. Dunia kita dan dia sudah berbeda. Saat ini kau hanyalah gadis biasa. Sedangkan dia?” Ucap Hyoreen miris mengingat nasib mereka berdua.
“Tapi Reen~ah……?”  Hyorim berujar lirih, tak sanggup melanjutkan perkataannya..
“Sudahlah, lupakan saja. Aku akan bersiap berangkat ke tempat madam Young. Kau, selesaikanlah makanmu.” Hyo Reen beranjak dari duduknya, mengabaikan ramen yang masih tersisa seperuh di dalam mengkuknya, gadis itu berjalan mendekati pintu keluar, meninggalkan Hyorim sendiri di rumah dengan perasaan gundah.
“Mianhae.” Bisik Hyorim pelan saat tubuh Hyo Reen menghilang di balik pintu.
***
Malam ini, entah kenapa langkah kaki Donghae menyeret tubuhnya pergi ke tempat yang dulu memiliki kenangan indah, sebagai saksi perjuangannya meraih kesuksesan saat bersama Super Junior. Donghae melangkahkan kakinya dengan gontai, masuk ke dalam lift yang akan membawanya ke lantai 11 tujuannya.
Hari ini bisa disebut sebagai hari yang tidak menyenangkan bagi seorang Lee Donghae, pria itu merasakan kepalanya semakin pening  akibat pertemuannya  beberapa saat lalu dengan Produser – Lee Suk Jang, yang bertanggung jawab pada project drama komedi terbarunya. Sang Produser memberikan kesempatan dan tenggang waktu pada Donghae, dalam jangka satu bulan pria itu  harus bisa segera mendapatkan pemain utama dan juga memulai syuting serta penayangan episode perdananya.
Wajahnya terlihat semakin di tekuk saat tubuhnya sudah sampai di depan pintu apartemen Super Junior. Akibat kesibukan dari masing-masing member apartemen tersebut sudah jarang berpenghuni, banyak diantara mereka lebih memilih tinggal di rumah masing-masing ataupun menyewa unit sendiri, kendati demikian tidak jarang dari mereka yang sering mengunjungi tempat tersebut untuk ajang saling berkumpul bersama, bernostalgia dengan kenangan-kenangan mereka dahulu saat masih tinggal bersama, itulah alasan mengapa apartemen tersebut masih tetap di biarkan begitu saja.
Donghae menekan beberapa kombinasi angka pada key password yang tidak pernah berganti dan sudah ia hafal diluar kepala. Pria itu sedikit terkejut ketika menyadari banyaknya sepatu yang berserakan di depan dekat pintu. Donghae penasaran siapa saja yang ada di dalam ruangan tersebut.
Membuka pintu secara perlahan, langkah kaki pria itu berjalan semakin ke dalam, Donghae menyampukan pandangannya ke sekeliling, terlihat sepi. malas berfikir panjang ia melanjutkan langkahnya  menuju ke sebuah kamar yang dulu pernah di tempati sahabatnya-  Eunhyuk.
Sebelum masuk ke dalam kamar tersebut, Donghae menyadari jika televisi flasma 40 inc yang menempel di dinding sedang menyala, tapi anehnya pria itu tidak melihat satupun batang hidung manusia lain di dalam ruangan tersebut. Malas berkeliling, dia berfikir mungkin mereka ada di salah satu ruangan. Tidak memperdulikan itu, jemari Donghae meraih kenop pintu, membuka lebar kamar Eunhyuk, belum sempat melangkahkan keki kedalam pria itu dikejutkan oleh suara riuh yang berasal dari arah berlawanan dengannya.
“Ternyata kau juga datang kesini Hae, mengapa tidak membalas pesan kami?” sebuah suara membuat Donghae dengan terpaksa memutar kepalanya ke arah lain, pria itu berjalan mendekat ke arah Donghae.
“Eoh! sejak kapan hyung ada disini? aku mengira dorm sedang sepi, maaf ponselku mati, aku lupa men-chargernya.” Jawab Donghae santai pada Hyung tertuanya – Leeteuk.  Donghae mengurungkan niatnya yang akan masuk ke dalam kamar, kini langkah kakinya menuju pada sofa empuk yang berada di depan televisi flasma.
“Bukan hanya aku yang disini, ada semuanya kecuali Sungmin, Siwon dan Kangin, mereka sedang sibuk dengan pekerjaannya . Apa kau tidak melihat banyak sepatu di luar sana?” Leeteuk menunjuk pintu dengan dagunya, lalu mengikuti langkah Donghae, kemudian menghempaskan tubuhnya di samping pria itu.
Donghae malas menanggapi pertanyaan hyungnya, pria itu terlihat lelah, sejak tadi jari-jari tangannya tidak berhenti memijit pelan pelipisnya. Rencananya ingin menenangkan diri di dorm gagal sudah. Donghae mengutuk dalam hati akibat pilihannya sendiri yang tidak tepat, mengapa tadi dia tidak pulang ke apartemennya sendiri saja? kini dengan terpaksa Donghae harus bertemu dengan para hyung dan dongsaengnya, sedangkan fikirannya saat ini sedang kacau, oh! jangan salahkan Lee Donghae jika sebentar lagi pria itu akan mengamuk, melampiaskan kekesalannya.
Terdengar suara pintu berdecit terbuka, dari arah jarum jam 2, disana terdapat sebuah kamar yang dulu pernah ditempati sang magnae – Kyuhyun dan hyungnya –Sungmin, Donghae berusaha membuang jauh-jauh rasa kesalnya, menata kembali raut wajahnya agar terlihat biasa saja,  lalu menolehkan kepalanya, dia sudah tau siapa saja yang akan keluar dari dalam kamar tersebut. Sudah pasti semua member kecuali Leeteuk yang sudah duduk manis di sampingnya. Mereka saling berebut ingin segera keluar dari kamar tersebut, entah keributan apa yang sudah terjadi di dalam sana. Pemandangan seperti itu membuat mood Donghae perlahan sedikit membaik, dia merindukan moment-moment seperti ini, saat mereka masih berkumpul bersama.
“Lihat! Donghae juga ada disini, sejak kapan kau datang??” Yesung yang pertama kali menyadari kehadiran Donghae, pria itu bertannya tanpa menatap lawan bicaranya, seperti biasa, mata dan tangannya selalu sibuk dengan ponsel miliknya, mencari-cari foto selfie terbaiknya untuk di upload ke dalam semua akun SNS yang dia  miliki.
“Baru saja sampai hyung.” jawab Donghae tidak acuh.
“Sepertinya kita harus mengabadikan moment ini!” seru Yesung dengan gaya absurdnya, siap berpose, berdiri membelakangi Donghae dan Leeteuk, mengarahkan kamera depannya pada mereka. Belum sempat terdengar suara jepretan foto, terdengar suara lain yang mengintrupsi kegiatan mereka.
“Yak! Lee Donghae. Kebetulan kau disini. Sejak tadi aku menghubungimu, kenapa tidak kau angkat, bodoh!.” Teriak Eunhyuk tidak terima, pria itu berjalan menghampiri mereka, seraya menggenggam susu strobery dan menyeruputnya dengan antusias. Langkah Eunhyuk di ikuti oleh Kyuhyun, Heechul, Ryeowook dan Shindong, mereka berempat terlihat senang bisa berkumpul lagi seperti saat ini,
“Kalau kau mau pinjam uang, tidak ada.” Jawab Donghae sekenanya. membuat semua orang di dalam ruangan itu menggelakkan tawa, Donghae memang masih mengingat dengan jelas seperti apa kebiasaan sahabatnya tersebut.
Eunhyuk geram mendengar pernyataan Donghae, sedangkan Leeteuk, Yesung dan yang lainnya hanya bisa terkikik geli melihat pasangan tersebut, sebutan EunHae hingga kini memang masih melekat untuk mereka. “Yak! Kau pikir aku tidak punya uang. Aish, mulutmu sekarang lebih mengerikan daripada Kyuhyun. Tsk! padahal aku hanya ingin memberimu kabar terbaru tentang Moon bersaudara.” Teriak Eunhyuk tepat di depan wajah tampan Lee Donghae.
“MWO!!” Teriak yang lainnya serentak, benarkah itu? mereka semua tercenung mendengar pernyataan Eunhyuk tentang Moon bersaudara. apa mungkin salah?
Kyuhyun yang tidak terima namanya ikut terseret ke dalam obrolan mereka, mulai membuka suaranya. “Hei! kenapa kau membawa-bawa namaku hyung? namun rasa penasaran jauh lebih mendominasi, “Lalu apa yang kau maksud adalah Moon bersaudara yang telah lama vakum dari dunia entertain?”  tanyannya dengan raut penasaran akibat pernyataan Eunhyuk barusan.
“Hyung, apa kau ingin bekerja sama dengan mereka dalam projectmu?” Tanya Kim Ryeowook ikut menambahi pertannyaan yang sudah di ajukan sang magnae, entah karena alasan apa, matanya terlihat berbinar bahagia.
“Entahlah, kalian tidak usah tau?” jawab Eunhyuk cuek.
“Itu tidak akan mudah.” kali ini Heechul ikut menyuarakan pendapatnya. Sedangkan Shindong kembali sibuk dengan camilan di tangannya, dan Yesung yang acara fotonya barusan sempat terganggu kini melakukan selfie seraya menarik Leeteuk yang berada di sampingnya.
Kyuhyun mempoutkan bibirnya, kesal karena pertanyaannya tidak ditanggapi, lihat saja pria itu semakin aneh dengan ekspresi demikian, apa dia tidak sadar di umurnya yang hampir mencapai kepala 3 itu justru membuat tingkahnya semakin kekanakan.
“Aku sendiri tidak yakin hyung.” jawab Donghae seraya menghembuskan nafasnya lelah.
“Kalau memang benar aku akan jadi orang pertama yang akan selalu menonton drama terbarumu tanpa jeda. Kalau perlu aku akan streaming kalau ada show di luar negeri. Kau kereeen! hyung.” ujar Ryeowook penuh semangat.
Eunhyuk dan Donghae hanya memutar malas bola mata mereka melihat kelakuan dongsaeng imutnya ini. Ryeowook memang masih saja terlihat sama seperti dulu. Donghae mengalihkan pandangannya pada Eunhyuk, menatapnya  tajam seolah mempertegas bahwa apa yang dikatakannya bukan harapan palsu.
Seolah tahu apa yang sedang dipikirkan sahabatnya, Eunhyuk mengeluarkan secarik kertas dari dalam saku kemejanya lalu memberikannya pada Donghae. Sedangkan Donghae hanya diam, menatap bingung secarik kertas yang ada di tangannya saat ini. dia melayangkan tatapan mata pada Eunhyuk  yang mengisyaratkan pertanyaan,  apa-ini?
Eunhyuk yang mengerti tatapan mata Donghae langsung menjawab rasa penasaran pria itu. “Alamat Moon bersaudara, kau bisa pergi sekarang juga kalau mau.”
Donghae melebarkan bola matanya mendengar penuturan Eunhyuk, kali ini semua orang yang ada di ruangan tersebut mulai mengerti apa yang dibicarakan keduanya, tanpa mereka bertanya lagi. Namun semuanya tetap diam, tak ada yang berani menyela.
“Kau yakin ini alamatnya Hyuk-ah? bukankah tempat ini lumayan jauh dari Seoul. “ Ucap Donghae nanar menatap sahabatnya dan member lain yang juga menatap mereka berdua dengan raut wajah penasaran yang dibuat berlebihan.
“Kau benar, masih ingat kan? mereka telah bersembunyi lama sejak kejadian itu. Memang dimana lagi kalau bukan di tempat yang jauh dari Seoul, yang mereka inginkan pastinya tidak ada satu orangpun yang mengenal.” Jawab Eunhyuk yakin dengan spekulasi yang dibuatnya sendiri.
Donghae menghembuskan nafasnya pasrah melihat semua member dan juga Eunhyuk menantinya dengan tatapan penuh harap. Rencananya drama ini akan di targetkan untuk masuk sampai ke festival drama di Busan. Bahkan lokasi syutingnya pun tidak hanya di sekitar korea tapi ada beberapa adegan di ambil di pulau dewata Bali.
“Tapi juga akan membantuku mencari alamatnya bukan?” Tanya Donghae  dengan tatapan penuh harap pula.
“Astaga hyung! kenapa kau selalu meminta si monyet yadong itu mememanimu? sebagai lelaki seharusnya kau berani pergi sendiri, hmm! aku rasa alasan itulah yang membuatmu belum memiliki kekasih hingga sekarang, kau terlalu  bergantung pada orang lain.”
Siapa lagi orang yang berani mengatakan hal tersebut secara terang-terangan jika bukan magnae mereka, jemari Kyuhyun memang sibuk dengan PSP tapi otak dan fikirannya juga bereaksi mendengar pembicaraan dua orang tersebut, hingga dia bisa menimpali ucapan Donghae dengan mulut tajamnya.
“Diam kau magnae! urus saja kekasihmu itu, Donghae mengendikkan dagunya pada PSP yang dipegang Kyuhyun. Pria itu hanya menampilkan cengiran lebarnya lalu kembali fokus pada permainnya. ”dan lagi, tumben sekali kalian berkumpul disini?” Tanya Donghae skeptis. tentu saja dia tau seperti apa kesibukan pribadi mereka semua saat ini, jarang sekali mereka memiliki waktu yang banyak untuk bisa berkumpul bersama.
“Eunhyuk yang meminta kami datang untuk memberimu semangat dalam menyelesaikan project drama terbarumu itu.” ujar Shindong menanggapi pertannyaan tidak yakin dari Donghae.  “karena dia juga menjanjikan makanan yang banyak untuk kami, maka dengan senang hati akupun datang” imbuh shindong lagi dibumbui cengir lebar dengan mulut penuhnya yang berisi camilan.
“Seharusnya kalian tidak perlu repot-repot seperti ini.”
“Itu tidak masalah bagi kami hyung, lalu kapan kau akan menemui Moon bersaudara itu?” Tanya Ryeowook dengan nada masih bersemangat dan tetap  antusias.
“Aku belum tau pasti, beberapa hari ini, banyak hal yang harus aku urus.” Ryeowook menganggukkan kepala mendengar jawaban skeptis Donghae.
“Eunhyuk~ah!”
Eunhyuk sangat mengerti maksud Donghae memanggil namanya dengan nada seperti itu. “Aku sibuk, berangkatlah sendiri. lagipula aku sudah memberimu alamatnya, kau bukan anak kecil lagi, tidak akan mungkin tersesat.” untuk kali ini saja Eunhyuk ingin menolak permintaan Donghae. Kita lihat saja, apakah benar Eunhyuk berpegang teguh pada keinginannya tersebut.
***
“Reen~ah! bangunlah. Ini sudah hampir tengah malam.” Hyorim melirik jarum jam yang menempel pada dinding, waktu menunjukkan tepat pukul sepuluh malam. “tidurlah di kamar, apa kau tidak kedinginan tidur di atas karpet tipis seperti ini?” gadis itu terus berusaha membangunkan saudaranya. “Astaga! kenapa kau tidur seperti orang mati begini.” Dengus Hyorim  kesal, karena tidak berhasil membangunkan saudara kembarnya.
“Aish! biarkan aku tidur  disini sebentar lagi. Kau tahu rasanya punggungku seperti akan  patah dan kakiku terasa mati rasa, sulit digerakkan, aku tidak sanggup berdiri.” Ujar Hyoreen masih dengan memejamkan matanya. kening gadis itu mengernyit, seperti sedang merasakan sakit yang berlebihan.
Jujur, Hyorim sangat tidak tega mendapati saudaranya yang terlihat begitu kelelahan akibat bekerja seharian. Namun dia lebih tidak tega lagi jika membiarkan Hyoreen tidur dilantai seperti ini hingga pagi. Dulu, dia dan Hyoreen  tidak pernah berpikir sedikitpun untuk melakukan pekerjaan yang menurut mereka tidak sepantasnya di lakukan. Tapi, sekarang betapa dia sangat menghargai setiap pekerjaan yang dapat menghasilkan uang bagi mereka.
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Hyorim,  gadis itu beranjak dari duduknya, meninggalkan Hyoreen yang terlihat masih nyaman dalam tidurnya, dia melangkahkan kedua kakinya mendekati pintu kayu, rumah yang mereka tempati.
Sementara Hyoreen yang merasa tidurnya sudah terganggu, membuka matanya cepat, lalu diam-diam beranjak dari posisinya, berjalan perlahan mengikuti langkah Hyorim dari belakang, gadis itu  merasa penasaran, siapa yang berani bertamu hampir tengah malam seperti ini, mengganggu saja! rutuknya dalam hati.
Siapa yang bertamu malam-malam begini, Hyorim bergumam lirih. “Nuguseyo?” Teriak Hyorim seraya membuka pintu rumahnya sedikit, kepalanya mengintip sedikit keluar.  seketika itu juga tubuhnya menegang kaku seperti tersengat ribuan volt aliran listrik. Efek dari apa yang gadis itu lihat sangat mengerikan memang.
Dengan gerakan cepat gadis itu membuka lebar pintu rumahnya, saat ini tepat di hadapannya, hanya berjarak beberapa meter saja, berdiri dua orang pria, dengan tampang kusut, rambut acak-acakan, kemeja yang tertarik dari celana, mereka terlihat mirip seperti orang yang sedang tersesat, tidak tau arah pulang dan sedang kebingungan ingin meminta bantuan. Tapi sayang sekali, bukan itu yang membuat detak jantung Hyorim  bekerja dua kali lipat tidak seperti bisanya.
Hyorim seperti bermimpi, melihat salah satu diantara mereka sangat mirip dengan seseorang, benarkah itu dia? gumam Hyorim pada dirinya sendiri, dia masih tidak yakin dengan pemandangan di depan matanya. Beberapa kali Hyorim mengerjabkan matanya, ingin memastikan, namun apa yang dia lihat tetap sama, pria itu masih berdiri di depannya dengan tatapan yang sulit di artikan.
Hyoreen penasaran siapa yang datang kerumah mereka malam-malam begini. Gadis itu mengernyitkan kening saat melihat Hyorim hanya terdiam mematung di depan pintu, tidak mempersilahkan tamu mereka masuk ke dalam, dia berjalan semakin mendekat, Hyoreen belum bisa melihat  ke arah luar pintu  karena tertutupi tubuh Hyorim. “Siapa yang datang Rim~ah? Hyorim memalingkan wajahnya kebelakang saat mendengar suara Hyoreen.
Seketika itu juga Hyoreen membulatkan kedua matanya, ketika pemandangan dua orang pria  yang berdiri di depan pintu menyapa penglihatannya.
Dengan senyum yang sedikit dipaksakan. salah satu diantara mereka mulai membuka suara. “Annyeong.”  sapa pria itu yang tak lain adalah Eunhyuk seraya mengandalkan keampuhan gummy smilenya.
Tapi sayang sekali, hal itu tidak berpengaruh sedikitpun pada dua orang gadis yang masih mematung di depan mereka. Diam tak ada suara, hanya kerutan bingung yang terlihat di wajah mereka.
Merasakan atmosfir tidak nyaman di antara mereka, membuat pria lain yang berdiri di samping Eunhyuk ikut mengerutkan  keningnya bingung. Pria itu- Lee Donghae, dia sangat sadar, memang tidaklah pantas mereka datang di jam seperti ini, tapi keadaan yang memaksa mereka.
Eunhyuk menyadari situasi tidak mengenakan diantara mereka, pria itu berusaha membuat atmosfir canggung yang melingkupi sedikit menghilang, dengan cara memberanikan diri membuka suaranya lagi, “apa kalian tidak menawarkan seorang tamu untuk duduk, maaf karena kami bertamu pada jam yang tidak tepat?” tanya Eunhyuk spontan sekaligus meminta maaf karena kehadiran mereka yang sudah pasti sangat mengganggu kedua gadis tersebut.
Hyorim sadar dengan kebodohannya yang membiarkan begitu saja tamu mereka berdiri di luar, dia merespon perkataan Eunhyuk dengan cepat, “maaf, kami hanya kaget saja, mari silahkan masuk.” ujarnya sedikit gugup, gadis itu masih  tidak menyangka dengan kedatangan seorang Lee Donghae,  pria yang sering menghantui fikirannya.
Hyoreen yang masih diam hanya mengamati kedua pria itu, masuk ke dalam rumahnya. dalam hati gadis itu bertanya-tanya, apa gerangan maksud kedatangan mereka, lihat saja! apalagi ini sudah malam, sebenarnya apa yang mereka inginkan? entah kenpa, Hyoreen  merasakan ada sesuatu yang akan terjadi akibat  kehadiran dua pria tersebut, dan satu lagi! yang menjadi pertanyaan paling mendasar adalah darimana mereka tau tempat tinggalnya bersama Hyorim, gadis itu tidak pernah sedikitpun berfikir bahwa orang-orang dari masa lalunya akan datang menemui mereka di tempat ini.
“Kami tidak punya kursi. Ini hanya rumah kecil, jika kami membelinya maka akan terasa semakin sempit.”  Ujar Hyoren dingin saat menyadari pria itu – Lee Donghae bingung mencari tempat duduk, dan terlihat keberatan membawa tas ranselnya.
Donghae merasakan salah satu diantara mereka sangat tidak menyukai kedatangannya. terutama gadis itu, pandangan mata Donghae menatap lekat pada gadis yang kini berdiri tidak jauh darinya dengan tangan saling melipat di depan dada. “Tidak usah khawatir kami bisa duduk dimana saja”. terlihat tidak perduli, Donghae menjatuhkan tubuhnya, duduk di atas karpet tipis yang terbentang di atas lantai. Di ikuti pula oleh Eunhyuk.
Donghae tidak habis pikir, kenapa gadis itu  terlihat sangat enggan dengan keberadannya, mungkinkah dia sudah bisa membaca niat kedatangan mereka berdua ke rumahnya?
“Maaf, kalian harus duduk di lantai seperti ini.” ujar Hyorim seraya  menundukkan kepalanya, gadis itu merasa sungkan dengan kondisi tempat tinggal mereka sekaligus sifat  saudaranya yang terlihat sangat  tidak perduli dengan kehadiran mereka.
Kedua pria itu duduk di hadapan Hyorim sementara Hyoreen sudah menghilang pergi entah kemana. Hyorim yang menyadari ketidaksukaan saudaranya atas kedatangan kedua pria tersebut hanya bisa  menghela nafas lesu.
“Sekali lagi aku minta maaf.”.
Donghae dan Eunhyuk terdiam seraya mengerutkan keningnya, mereka bingun dengan situasi tersebut. Bukankah seharusnya disini mereka berdua yang lebih tepat mengucapkan kata maaf? bertamu hampir tengah malam, pada rumah dua orang gadis, apa itu bisa dikatakan sopan? bersamaan. mereka tidak mengerti permintaan maaf atas kesalahan apa yang diucapkan gadis tersebut.
“Itu tidak menjadi masalah, seharusnya kami yang meminta maaf karena datang malam-malam seperti ini, jika saja mobil kami tidak bermasalah, mungkin tidak akan seperti ini jadinya.” jelas Eunhyuk panjang lebar.
“Kalian tidak usah khawatir, aku bisa mengerti, aku hanya merasa kurang nyaman atas sikap saudaraku terhadap kalian, tolong di maklumi, sifatnya pada orang asing memang sering seperti itu.”
“Tidak perlu meminta maaf. Itu wajar saja, sepertinya  kedatangan kami  memang membuatnya sedikit terganggu.” Jawab Donghae merasa tidak enak. “eemmb! maaf sebelumnya, kami tidak bisa membedakan kalian, kalau boleh tau siapa yang Hyoreen dan Hyorim? Tanya Donghae dengan raut wajah penasaran, sejak tadi pertanyaan tersebut terus menggantung di kepalanya, ini semua akibat perlakuan gadis yang tidak mengacuhkannya tersebut, sebenarnya dia itu Hyoreen atau Hyorim, kenapa sifat mereka sangat berbeda sekali? ahh! mungkin seperti itulah memang saudara kembar, gumam Donghae dalam hati.
“Ah iya! maaf telah membuat kalian bingung, aku Moon Hyorim.” telunjuk gadis itu mengarah pada dirinya sendiri. “dan yang tadi saudaraku, Moon Hyoreen, dia kakakku, kami lahir hanya berselisih waktu 10 menit.” Donghae dan Eunhyuk serentak ber-oh ria mendengar penjelasan Hyorim.
Baru saja dibicarakan, gadis itu – Hyoreen, masuk membawa nampan berisi minuman dan menaruhnya di hadapan kedua pria tersebut. Dia duduk disamping Hyorim, masih tetap diam, sama sekali tidak berminat mempersilahan tamunya untuk minum terlebih dulu, meskipun dia sendiri yang membuatnya.
“Silahkan diminum.” Hyorim mempersilahkan dengan ramah. Membuat Eunhyuk diam-diam tersenyum sendiri, dia terkesima dengan kelembutan gadis itu.
Belum sempat Donghae dan Eunhyuk menyentuh gelas minumanya, sebuah suara lebih dulu menginstrupsi gerakan mereka. “Katakan apa tujuan kalian datang kesini, haruskah aku membiacarakan tentang sopan santun, mengingat kalian datang malam-malam seperti ini?” ujar Hyoreen dengan nada tegas dan terkesan dingin, gadis itu secara terang-terangan menunjukkan rasa tidak sukanya terhadap kehadiran dua pria di depannya.
“Sebelumnya kami minta maaf, kedatangan kami di malam hari seperti ini sudah mengganggu kenyamanan kalian, kami sangat bersyukur karena masih bisa menemukan rumah kalian, ini semua karena bantuan salah satu warga yang mengantar kami sampai ketempat ini,  mobil kami sempat mogok, membuat perjalan kami tertunda, karena itulah kami terlambat sampai disini, kami tidak punya rumah tujuan lain kecuali hanya kalian, ahhh ya! kami juga belum memperkenalkan nama kami secara resmi, aku Lee  Donghae dan ini temanku Lee Hyuk Jae, kalian bisa memanggilnya Eunhyuk.”
Hyoreen menanggapi ceramah panjang lebar Donghae dengan satu alis terangkat, gadis itu masih belum membuka suaranya. Membuat Donghae harus menyabarkan diri menghadapi sikap tidak acuh gadis tersebut. Jika boleh jujur pria itu sudah merasa gerah berada di tempat ini, namun sayangnya dia masih mengingat tujuan utamanya, dia meyakinkan diri sendiri dengan mantera ‘aku pasti berhasil’ yang terus digumamkannya dalam hati, jika bukan karena itu dia pasti sudah mengangkat kakinya jauh-jauh pergi dari rumah tersebut.
“Tentu saja kami mengenali kalian, sang sutradara yang selalu sukses dengan berbagai filmnya, selamat atas kesuksesanmu tuan Lee Donghae~shi.” sangat berbeda dengan tanggapan Hyoreen,  Hyorim justru berkata ramah dengan senyuman yang mengembang ditujukan pada pria tersebut. Eunhyuk sebagai pengantar Donghae hanya bisa diam tidak mampu menyuarakan apapun, benar ini memang kewenangan Lee Donghae, jadi hanya pria itu yang akan berbicara.
“Cepat katakan apa tujuan utama kalian datang kerumah kami? jika memang hal itu tidaklah penting, aku rasa labih baik kalian cepat angkat kaki dari rumah kami sekarang juga!”  tajam dan menusuk. Seolah paham akan maksud dari tujuan seorang Lee Donghae datang ketempat tinggalnya. Hyoreen tidak mau menerima alasan apapun yang akan di katakana pria tersebut.
To Be Continued

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: