Come Back To Me Part 2/2 (END)

0
Come Back To Me Part 2/2 (END)
Author                  : Banana
Title                       : Come Back To Me
Category              : NC21, Romance
Cast                       :
Shin Dong Wook  (B1A4 CNU)
Baro B1A4
Kang Si Hyun
@@@
Aku tidak berbicara apapun, tidak ingin mengeluarkan suara sedikitpun, aku memandang keluar jendela, airmataku masih belum bisa berhenti. Aku merasa sangat bersalah, untuk kesekian kalinya Baro menjadi penanggung dari semua masalahku. Berada di mobil ini bersama seseorang yang sangat kubenci membuatku lebih membenci diriku sendiri, seandainya aku tidak pernah menerima lamaran itu mungkin Baro tidak akan menanggung semua rasa malu ini.
“semua barangmu sudah pindah ke rumahku, hal pertama yang harus kau lakukan adalah membersihkan diri karena aku ingin membakar gaun indahmu itu.” Tangisku makin menjadi, nafasku memburu, aku yakin dia bisa melihat jelas pundakku yang naik turun menahan tangis, sialan.
“berhenti menangis, itu tidak akan membantu apapun Sihyun” oh tuhan, kuharap bumi menelan mobil ini sekarang juga.
Kami sampai di rumahnya, rumah keluarganya. Tunggu apa lagi yang harus kuhadapi, apa dia lupa jika ayahnya sangat membenciku. Aku masih terdiam saat dia membuka pintu dan menarik tanganku keluar, aku menahannya, dia berbalik menatapku dengan dingin, tidak suka dengan perlawananku.
“aku ingin pulang” dia menggigit bibir bawahnya dan mendesah frustasi, dia harusnya tidak menunjukan raut seperti itu karena aku yang paling frustasi disini.
“apa kau tidak bisa mendengar apa yang kukatakan tadi? Semua barang-barangmu sudah ada di rumah ini, dan apartmen yang kau tinggali baru saja terjual saat kau sibuk berdandan untuk pernikahanmu” apa? Aku tidak salah dengar, siapa sebenarnya pria di hadapanku ini. Aku tidak percaya dia bisa melakukan semua itu, dia sudah merencanakan semuanya dari awal. Dia sangat suka memonopoli-ku.
“baiklah, berikan aku uang hasil penjualannya, kau pikir aku mau tinggal satu atap denganmu?” suaraku meninggi, aku menghempaskan tanganku agar terlepas darinya, dia menunjukan raut marah padaku, tapi aku lebih marah padanya.
“kenapa kau belum juga mengerti Sihyun, jangan mempersulit keadaan”
“KAU YANG MEMPERSULITKU BRENGSEK!” aku meneriakinya, memakinya dengan lantang, aku ingin mengeluarkan umpatan lain tapi suaraku tertahan di tenggorokan dan aku kembali menangis. Wajahnya melembut dan ingin menyentuh wajahku tapi aku menepisnya dan menampar wajahnya dengan kencang hingga tanganku terasa sakit.
Dia diam dan terlihat menerima tamparanku, bahkan tamparan tidak cukup untuk menyembuhkan luka-ku, lubang di hatiku justru lebih membesar. Tanpa peduli apa yang akan di lakukannya, aku berbalik dan berjalan menjauh, aku berjalan cepat dan lupa jika aku memakai gaun panjang dan sepatu hak tinggi yang membuatku seperti anak kecil belajar berjalan.
Aku merasakan tanganku di pagang, tapi aku tidak peduli dan berusaha melepaskan genggaman tangannya. Tapi dia menghentakan tanganku membuatku terpaksa mengahadap kearahnya, dia langsung menaruh tubuhku di pundaknyam, menggendongku dengan paksa memasuki rumahnya.
Aku yakin dia menulikan telinganya dengan jeritanku meminta untuk di lepaskan, kami sudah memasuki rumahnya, beberapa pelayan menunduk hormat dan tidak terlihat kaget dengan pemandangan di depan mereka. Dongwook membawaku kesebuah kamar besar dan mengunci pintunya.
Sebelum menurunkanku dia melepas sepatu yang kupakai, setelah aku turun dari gendongannya dia langsung membalikkan tubuhku, aku meronta untuk menjauh darinya tapi tanganya sangat cepat karena sekarang resleting gaunku sudah terlepas, dia menurunkan gaunku, aku berusaha berbalik ingin mendorongnya tapi dia mendorongku lebih dulu ke kasur, gaun itu lolos dari kakiku. Aku tak bisa menyembunyikan keterkejutanku atas kelancangannya padaku.
“kau tidak memberikanku pilihan lain Sihyun, sekarang kau bersihkan tubuhmu atau aku yang kaan membantumu untuk membersihkan diri.”
Kenapa dia tidak bisa merasakan kesakitanku, aku terduduk dan menunduk, kepalaku sangat pening dan dadaku sesak. Entah kenapa kali ini rasa sesak di dadaku sangat menyakitkan hingga aku sulit bernafas, aku bersusah payah mendapatkan oksigen. Dongwook berlutut di hadapanku dan menangkup wajahku, aku bisa mendengar suaranya memanggilku dengan khawatir tapi kepalaku terasa berputar dan pandanganku menghitam, yang kuingat aku tidak bisa membuka mataku lagi.
@@@
Mataku terasa sangat berat, kepalaku masih seperti berputar-putar, aku mencoba menatap ke atap putih diatas tempatku berbaring, dimana aku. Sepertinya ini bukan kasurku. Aku menyerngitkan keningku, bagus sekali ternyata semua ini bukan mimpi. Aku berada di rumah mantan suamiku yang kejam.
Aku duduk melihat keseluruh isi kamar itu, lalu aku melihat diriku sudah berbalut piyama sutra yang hangat, dan sepertinya tubuhku sudah bersih, pria sialan itu yang membersihkanku? Andai aku berani untuk melakukan pembunuhan makan aku pasti akan membunuhnya saat ini juga.
“nyonya, anda sudah siuman. Dokter akan akan sebentar lagi untuk mengecek keadaannya anda” aku menatap perempuan paruh baya yang sudah bisa di pastikan adalah pelayan di rumah ini. Dia membawakanku makanan dan susu.
“anda harus makan untuk memulihkan keadaan anda.” Dia menaruh makanan itu di samping kasurku.
“bawa pergi, aku tidak ingin makan.”
“tapi nyonya, tuan bilang anda harus makan jika sudah siuman”
“kenapa? Dia takut aku mati kelaparan?”
“nyonya tolong makanlah untuk kesehatanmu”
“aku bilang bawa pergi”
“tapi nyonya tuan akan marah…”
Aku mengayunkan tanganku kearah makanan itu, semuanya jatuh ke lantai indah kamar ini. Dia terlihat syok dengan aksiku, aku merasa menyesal membuatnya takut tapi aku sangat marah. Kepalaku kembali pening, tubuhku masih lemah.
Dia merapikan kekacauan yang kubuat, sial. Aku kasihan melihatnya seperti itu. Harusnya aku tidak usah menumpahkan semua makanan itu. Aku memegang keningku dan memejamkan mata, pikiranku sangat kacau. Saat aku membuka mataku, kulihat beberapa pelayan datang membersihkan tumpahan makanan itu dan pecahan kaca dari gelas dan piring itu.
Aku melihat seseorang yang tidak ingin kulihat masuk, dia mengisyaratkan pelayannya untuk cepat dan meninggalkan kami berdua disini. Setelah itu dia menutup pintu kamar ini. Aku memalingkan wajahku menatap lantai yang sudah bersih kembali.
Dia menghampiriku dan duduk di depanku, aku menarik kakiku agar tidak menyentuhnya, berada satu ruangan dengannya saja sudah membuatku muak. Dia kembali mendesah panjang, aku tidak memalingkan mataku sedikitpun untuknya.
“sejak kapan kau punya anemia? Tensi darahmu sangat rendah, kau juga terkena panic shock kemarin” aku memutar bola mataku kearahnya dengan tajam, masih belum bicara.
“dengar, aku… aku minta maaf untuk perbuatanku selama ini. Aku benar-benar menyesal, dan aku ingin memperbaiki semuanya” aku tersenyum meremehkannya.
“apa yang akan kau perbaiki?”
“semuanya Sihyun, kehidupan kita berdua, aku akan melakukan apa saja untuk hidup kita kedepannya”
“hidup kita? Kehidupan yang mana yang kau maksud, setauku justru kau yang sudah mengambil kehidupanku. Kebahagiaanku dan… bayiku” aku menguatkan hatiku agar tidak meneteskan airmata di depannya, rahangnya mengeras mendengar kalimat datarku, terlihat terpukul.
“kehidupan kita kedepannya? Tidak akan ada kehidupan selanjutnya untuk kita Dongwook-si, aku mengambil semuanya. Aku tidak bisa menjadi seorang wanita sempurna lagi. Aku tidak lebih dari sekedar sampah!” nadaku meninggi, dia mendekat dan ingin meraihku tapi aku menepisnya.
“jangan berani mendekatiku!”
“Sihyun, aku benar-benar minta maaf”
Mengumpat bukan kebiasaanku tapi mulutku tidak bisa mentoleransi pria ini, aku gagal menahan airmataku. Dia berulang kali berusaha menenangkan ku, aku mendorongnya menjauh, tapi tubuhku masih terlalu lemah untuk melawan. Pada akhirnya aku berada di pelukannya, dia merangkulku dengan erat dan hangat, seperti dulu.
“aku mencintaimu Sihyun, aku benar-benar menyesal, tapi aku sangat mencintaimu. Aku tidak bisa kehilanganmu lagi” nafasku tercekat, dia berbisik begitu lembut di telingaku, tapi detik berikutnya air mataku keluar lebih banyak. Aku menangis sejadi-jadinya, tanganku berada di antara kami, masih berusaha mendorongnya agar tidak menyentuhku.
“jangan sentuh aku brengsek” aku memakinya dengan suara lemah, dia mengelus kepalaku dengan lembut, tidak aku tidak membutuhkan ini. Aku benci semua perlakuannya padaku, mengingatkan kebersamaan kami dulu, dulu!.
“kau bisa memakiku sepuasnya, tapi aku tidak akan melepaskanmu, tidak akan pernah”
@@@
Bagus, aku tidak berbeda jauh dengan narapidana yang di penjara di pulau terpencil. Dia benar-benar serius untuk tidak membiarkanku pergi, aku tidak bisa keluar dari rumah ini. Aku bisa melangkah kepenjuru rumah ini semauku tapi tidak untuk di luar rumah, bahkan tidak lebih dari lima meter mendekati pintu keluar rumahnya. Aku juga bisa melihat bodyguardnya yang setia menjaga pintu keluar, jendela? Sayangnya semua jendela di rumah ini di setting untuk tidak membiarkan perampok masuk, balkon? Kamarku berada di bawah jadi tidak ada balkon. Pintu belakang? Di kunci rapat-rapat dan kuncinya di pegang pelayan rumah ini yang tentu saja lebih menuruti majikannya.
Sudah sebulan ini tidak bisa merasakan sinar matahari langsung, tidak ada alat komunikasi apapun yang bisa kugunakan, aku seperti di isolasi dari dunia luar. Kerjaku hanya tidur, makan, yah untuk belakangan ini. Dan tumpukan buku yang sebenarnya membosankan. Aku juga tidak pernah banyak bicara setelah sakit, Dongwook sendiri jarang pulang. Terakhir pertemuan kami saat aku sakit. Dia pergi sampai sekarang, itu lebih baik. Aku kira aku bisa kabur kapan saja karena dia tidak bisa mengawasiku. Nyatanya itu hanyalah imajinasiku.
Bagaimana kabar Baro sekarang? Aku benar-benar ingin menghubunginya dan menjelaskan semuanya secara diam-diam dari Dongwook, tapi tidak ada yang bisa kugunakan untuk menghubunginya. Computer di rumah ini tidak di pasangkan internet, well, mungkin karna ada aku dirumah ini.
“selamat datang tuan, semoga perjalanan anda menyenangkan.”
Jantungku berdegub cepat begitu mendengar sapaan ramah barusan, pria itu sudah pulang? Aku cepat-cepat melangkah ke kamar, dan mengunci pintunya. Kuharap dia tidak berniat melihatku, kuharap dia terlalu lelah sekarang dan lebih memilih pergi ke kamarnya sendiri.
Tapi kenop pintu di depanku bergerak naik turun menandakan ada orang yang berusaha membukanya dari luar, kenop itu berhenti bergerak. Mungkin dia berubah pikiran. Tidak sampai satu menit aku mendengar suara kunci berputar dari luar, pintu ini bisa di kunci dan di buka dari dua arah, sial!
“tidak menyambutku?” aku menatap dingin ke arahnya, dia bersandar di pintu setelah berhasil membuka lebar pintu kamar ini.
“carilah pelacur yang bisa menyambutmu dengan suka rela, dan cepat lepaskan aku brengsek. Aku bukan narapidana yang kau kurung semaumu.” Dia tersenyum, lagi dan itu sangat menjengkelkan.
“kau memang bukan narapidana, karena kau tidak di kurung di jeruji besi dengan kamar kecil yang kotor”
“aku bahkan sudah merasa kotor saat menginjakkan kakiku di rumahmu” senyumnya menipis dan menghilang, dia menyisir rambutnya dengan jemarinya dengan gerakan sedikit kasar.
“jangan membuatku hilang kesabaran, atau aku akan memberikan teguran keras padamu”
Tatapannya menajam, dan entah kenapa membuatku lebih emosi. Aku membuang pandanganku dan berniat melangkah jauh darinya.
@@@
“mungkin kau harus belajar sopan santun lebih dulu, berhubungtan dengan pria itu membuatmu sangat tidak sopan sekarang” Dongwook menarik tangan Sihyun dan menutup pintu kamar dengan kencang, dengan cepat punggung gadis itu menyentuh pintu, tangannya terkunci di kedua atas kepalanya.
“apa kau tau betapa tersiksanya aku merindukanmu” tangan kanan Dongwook yang bebas meraih dagu gadis itu yang dengan cepat menghindarkan sentuhan tangan itu.
“cepat lepaskan aku brengsek.”
“well….” Kali ini tangan pria itu meraup dagunya, memberikan ciuman paksa, Sihyun berusaha memberontak, kakinya menendang paha Dongwook agar menjauh. Dan hal itu menjadi kesempatan Dongwook untuk menyelipkan pahanya diantara kaki Sihyun, menekan daerah intim wanita itu dengan paha kekarnya.
Sihyun terperanjat, matanya membesar tidak menyangka dengan perlakuan Dongwook. Bahkan tangan pria itu sudah berada di dadanya. Menekan puncak payudara gadis itu dengan ibu jarinya. Sihyun meraung, bukan menikmati tapi menolak semua sentuhan itu. Dongwook melepaskan ciumannya, tersenyum melihat gadis itu terangah meraup oksigen. Dan dengan cepat pria itu melepaskan semua sentuhannya, keluar dari kamar itu tanpa sepatah katapun, sihyun mematung di tempatnya. Tangannya mengepal kuat dan air matanya mulai menggenang.
“sialan”
@@@
“cari tahu semua alamat rumah atau apartement-nya. Semakin cepat kau dapatkan semuanya semakin besar bayaran yang aku akan bayar padamu.” Baro menautkan jari-jari tangannya, alisnya saling bertautan. Wajahnya terlihat sangat geram. Dia benar-benar kehilangan informasi tentang Sihyun bahkan apartement gadis itu sudah kosong sejak lama.
Dia benar-benar yakin jika dia haru melakukan sesuatu untuk Sihyun, dia yakin jika sihyun meninggalkannya karena terpaksa, dan semua ini ulah lelaki brengsek itu. Tidak cukupkah dia membuat Sihyun menderita selama ini.
“saya mengerti” pria yang masih remaja itu membungkuk hormat sambil berlalu dari ruang kerja Baro.
Baro menyandarkan punggungnya ke kursi kerjanya, memijit keningnya dengan jemarinya. Harusnya semua tidak serumit ini. Andai saja pria itu tidak pernah muncul lagi mungkin dia sudah bahagia dengan sihyun dengan rumah tangga mereka yang hamper tercapai. Reflex tangannya menyapu seluruh mejanya jika berkas, laptop dan barang lainnya berserakan ke lantai.
“sepertinya kau hampir gila, Baro-ssi” baro melihat tamu tak di undangnya dengan tajam.
“siapa kau?”
“yakin kau tidak mengenalku?”
“aku tidak menerima pertemuan apapun hari ini jadi tolong pergi dari ruanganku.”
Tamu itu hanya tersenyum sambil menyampirkan rambutnya kebelakang dengan gerakan pelan.
“tolong keluar sebelum aku menyuruh penjaga menyeretmu keluar.”
“waw, Baro-ssi itu bukan cara yang baik untuk menyambut calon partnermu.” Baro memejamkan matanya, dia benar-benar tidak ingin bertemu siapapun sekarang. Dengan sabar diamenghembuskan nafas pelan dan memasang wajah tegas pada tamunya.
“aku tidak mengenalmu nona, jadi tolong pergi.”
“kau tidak mengenali sepupumu sendiri?”
@@@
“tandatangan”
“apa ini”
“surat kontrak, aku sudah mengajukan pernikahan kita, dan ini..’
“aku tidak mau”
Dongwook menatap gadis di depannya dengan sabar,dia menghusap dagunya dan mencoba menjelaskan surat apa yang ada di antara mereka.
“sudah kubilang jika kita harus menikah, dan kau tidak boleh menolak. Tapi kau selalu menolak jadi aku membuatnya lebih ringan. Ini adalah surat kontrak pernikahan kita. Kita akan menikah kontrak selama satu tahun. Setelah satu tahun kau bisa memutuskan untuk berpisah atau terus melanjutkan pernikahan kita. Satu tahun adalah waktu untukku merenung dengan pernikahan kita dan kupastikan kau tidak akan memutuskan untuk menceraikanku.”
“dan kau pikir dengan perjanjian seperti itu membuatku tertarik? Tidak perlu menunggu satu tahun karena aku ingin meninggalkan tempat ini sekarang juga”
“……. Dengar Sihyun, aku tidak bisa melepaskan kesempatan untuk hidup bersamamu lagi. Aku sudah membuat ini lebih mudah bagimu, kau tahu akibatnya bukan jika kau menolak pernikahan ini”
“kenapa kau selalu mengancamku, bukankah aku sudah membatalkan eprnikahanku dengan Baro?”
Dongwook menatap sihyun dengan serius, dia mengeluarkan ponselnya, gadis itu mengerutkan keningnya, siapa yang ingin pria itu hubungi di tengah argumentasi serius mereka.
“Manager Han, kau ingat direktur muda dari perusahaan yang kuceritakan padamu?” Dongwook melirik Sihyun yang masih menatapnya heran.
“bisa kau urus semuanya? Lakukan seperti biasanya, kalau perlu hingga dia tinggal di jalanan.”
Sihyun punya insting yang tidak baik, dan sepertinya dia tahu siapa yang di maksud Dongwook.
“namanya? Aku hanya tahu jika dia di panggil Baro, selebihnya aku percayakan padamu, tunggu sebentar….” Dongwook menjauhkan ponselnya dari telinganya, dia tersenyum menatap Sihyun.
“tandatangan atau aku…..”
“kau benar-benar brengsek, jangan pernah berani menyakitinya…”
“manager Han, tolong kau urus semuanya. Aku tunggu kabar darimu secepatnya.” Dongwook menutup panggilan itu, dia merapikan surat perjanjian yang masih belum tersentuh Sihyun. Tidak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya. Sihyun terlihat bingung, dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Baro sudah cukup terluka dengan hubungan mereka, dan harusnya dengan meninggalkan Baro, itu bisa membuat Baro hidup dengan tenang.
“tunggu…” sihyun menggenggam tangan Dongwook yang hendak pergi dari kamarnya.
“aku setuju… aku setuju, jadi tolong jangan sakiti Baro” rahang pria itu mengencang, sepenting itukah peran Baro bagi Sihyun hingga dia rela melakukan apa saja untuknya.
“tandatangai surat ini” Dongwook meletakan kembali surat itu di kasur, menunggu sihyun menandatanganinya. Tangan gadis itu gemetar, dan lagi-lagi Dongwook harus melepas nafas berat melihat gadis itu menangis.
“sial” Dongwook bergegas keluar dari kamar itu, dia tidak bisa lebih lama melihat Sihyun menangis, namun dia member peringatan jika gadis itu harus tandatangan sebelum jam makan malam.
@@@
“Dongwook apa yang kau lakukan..”
“ssshhh jangan menggangguku”
“satu-satunya yang mengganggu disini adalah kau”
“diam dan kembali tidur”
“mana bisa aku tidur jika aku menelanjangiku begini” pria itu tersenyum geli, dia memang sedang berusaha melepas pakaian istrinya, sihyun tidak pernah memakai bra saat tidur, dan sangat jarang memakai lingerie jika bukan Dongwook yang memaksa istrinya untuk tampil seksi. Dongwook berusaha melepas piyama istrinya di mulai dengan celana terlebih dahulu, sihyun tertawa geli melihat tingkah suaminya, namun tawa itu dengan cepat tergantikan desahan saat daerah intimnya bersentuhan dengan sesuatu yang basah, masih dengan celana dalam tipisnya, Dongwook mengulum kewanitaannya dengan gerakan perlahan. Sontak kakinya merapat karena tubuhnya mengejang, tapi tangan suaminya langsung membuka lebar pahanya.
“masih ingin tidur?” Tanya Dongwook sambil tersenyum. Pipi istrinya merona karena tengah terangsang dan menahan malu. Terlihat lucu dan manis, belum puas menggoda Dongwook menekan ibu jarinya di kemaluan istrinya, memutar perlahan sesuatu kecil yang menonjol di sana. Sihyuyn kehilangan kendali dan mendesah lagi. Tangannya meremas bantal dengan kuat seiring gerakan jari Dongwook yang semakin tak beraturan di daerah intimnya.
“aahh.. cukup aakkhh…”
“kenapa?”
“aahh… aa..”
“aku Tanya kenapa?” Sihyun mendesah lepas saat jari Dongwook berhenti bermain di tubuhnya.
“kau tau aku tidak pernah bisa berhenti” Sihyun menatap suaminya yang merangkak naik ketubuhnya, membuka kancing piyamanya. Celana dalamnya sudah basah di bawah sana akibat ulah Dongwook, tubuh atasnya bahkan sudah polos, rambutnya sudah berantakan tak beraturan akibat gerakan kepalanya sendiri karena menikmati permainan suaminya.
“kau sangat seksi” Dongwook berbisik di telinganya, membuat suhu tubuhnya semakin panas.
“aahh..” tangan Dongwook menyusuri leher, dada dan perut Sihyun dengan pelan. Menciuman bibir istrinya dengan hangat, Sihyun meletakan tangannya di belakang leher Dongwook, mulai membalas panggutan bibir suaminya.
Dongwook melepas ciuman tiba-tiba hingga terdengar suara kecupan yang cukup ringan, pria itu menjilat menggigit bibirnya sendiri sambil menatap Sihyun dengan tatapannya yang terbakar gairah, membuat sihyun menelan salivanya sendiri, mengamati gerakan suaminya yang membuat darahnya kembali memanas, Dongwook melepas baju tidurnya sendiri, dia kembali membungkuk dan mencium Sihyun, lebih intens dan bergairah. Dan tiba-tiba melepas kembali ciuman mereka yang membuat sihyun menggeram pelan.
“aahh Shin..” tubuh gadis itu bergerak gelisah, kewanitaannya berkedut pelan saat puncak dadanya tersapu oleh lidah hangat Dongwook, tangannya menekan kepala Dongwook saat pria itu menghisap puncak dadanya dan memainkan lidahnya di sana.
“nngghh.. ber.. henti… menggodaku.. aahhh”
Dongwook menulikan telinganya dan tetap menghisap puncak dada istrinya hingga mengeras, tangannya bergerak masuk kedalam celana dalam Sihyun dan memasukan dua jarinya ke tubuh istrinya, sihyun mengerang tertahan.
Awalnya jarinya hanya bergerak keluar masuk, namun sekarang jarinya mengaduk seluruh bagian intim sihyun dengan tidak sabar, ibu jarinya bahkan ikut bermain di klitorisnya.
“aaahh… cukup.. aku.. nngg..”
“tahan sebentar lagi sayang, masih belum waktunya”
Dongwook kembali meraup bibir ranum istrinya, tangannya masih aktif di bawah sana, dia bbisa merasakan isrtinya yang makin menyempit dibawah sana, tapi Dongwook belum puas. Dia memasukan jarinya lebih dalam. Tangan Sihyun meraih tangan pria itu yang berada di dalam tubuhnya.
“nngg… aku tidak kuat… mmhh..”
“aku tidak bisa dengar”
“aahh.. Shin, cukup aahh…” Sihyun menatap Dongwook dengan pandangan yang sanggup membuat pria itu menjadi gila, tanpa pikir panjang Dongwook melepaskan celana dalam istrinya, dan memasukan miliknya dengan sangat perlahan kedalam tubuh istrinya.
Sihyun mengerang tak tertahankan. Walau belum sepenuhnya tubuh mereka bersatu namun dorongan pelan itu sanggup membuat Sihyun mencapai puncaknya. Dongwook memandang wajah istrinya yang tengah terangsang hebat itu, sungguh cantik dan menggoda.
Miliknya masih belum masuk sepenuhnya hingga sihyun selesai mengalami puncaknya, nafas Sihyun memburu dan dia terpejam, seakan lupa jika suaminya belum selesai di bawah sana.
“sudah lelah? Kita belum memulai apapun.” Dengan satu hentakan Dongwook memenuhi tubuh Sihyun, gadis itu mendesah kencang dan matanya sontak terbuka, dia melihat pria itu menggigit bibirnya lagi, ini sangat buruk.
Tangan sihyun meraih pipinya, mencium suaminya penuh hasrat, sementara pinggul Dongwook bergerak mundur dengan perlahan lalu mendorong kuat tubuh istrinya.
“aahhh… jangan begitu… aahhhh” sihyun meremas pundak Dongwook, desahannya semakin menjadi saat Dongwook terus menerus melakukan gerakan itu berulang kali, sangat menyiksa.
“kukira… kau suka” Dongwook berhenti bergerak, Sihyun mengerang protes, dia menatap Dongwook dengan kesal, kenapa pria ini suka sekali menggodanya.
“atau kau lebih suka berada di atasku?” Tanya Dongwook, lebih menggoda tepatnya.
“kenapa tidak” Sihyun membalik posisi mereka dengan cepat, wanita ternyata punya tenaga yang cukup kuat saat melakukan hubungan intim. Dongwook sedikit terkejut, jarang sekali Sihyun ingin berada di atasnya, bahkan hanya dua kali di itung dengan yang satu ini.
“kau suka bermain bukan?” Sihyun berbisik menggoda, membuat suaminya terengah semakin bergairah. Dengan perlahan Sihyun bergerak diatasnya, tangan gadis itu menopang di dada Dongwook.
Kepalanya terangkat karena kenikmatan yang di buatnya sendiri, Dongwook menyentuh leher istrinya, membelainya sampai kepuncak dada istrinya, sihyun mengerang nikmat. Gerakannya semakin cepat, sementara Dongwook hanya bisa ikut menikmati permainan Sihyun, dia meremas bokong istrinya, membantu istrinya bergerak lebih cepat.
“aahhh… nnghhh…. aa..”
“lebih cepat.. ahhh”
“apa? Aahhh” Sihyun menatap suaminya, berpura-pura tidak mendengar permintaan Dongwook.”
“lebih aahhh cepat… aku akan… ooohh” Sihyun berhenti bergerak, membuat pria itu mendecak.
“kau akan apa?” sial, apa wanita ini berniat membalas dendam dengan mempermainkannya.
“Sihyun jangan menggodaku” gadis itu tersenyum kecil, dia membungkuk dan mencium bibir suaminya.
“sabar..” Dongwook mengerang, gadis itu mencubit puncak dadanya dengan lembut, lalu menghisap lehernya juga.
“Sihyun tolong..”
“sebentar”
Puas membuat tanda kepemilikan dia leher suaminya, Sihyun kembali menggerakan pinggulnya, membuat erangan erotis lain keluar dari bibir mereka berdua
“ngghh seperti ini? Mmmhh…”
“aaahhh… aku… akan…” Dongwook ikut menggerakan tubuhnya, membuat sesuatu di bagian intim Sihyun lebih sensitive. Sihyun bisa merasakan bagian tubuh Dongwook membesar dan mengeras di dalam sana.
“aahh.. Sihyun..” Dongwook mengerang keras, kesal karena lagi-lagi istrinya berhenti di saat-saat terakhir. Tapi sesaat kemudian Dongwook merasakan sesuatu, Sihyun baru mendapatkan puncaknya lagi, dan beberapa saat kemudian tubuh istrinya jatuh kepelukannya.
“kau membuat kesabaranku habis” pria itu mengelus rambut istrinya.
“baiklah giliranku.” Dengan cepat dia kembali membalikan posisi, Sihyun sudah terlihat sangat pasrah.
“aaahhh.. tunggu.. aahhhh jangan terlalu cep.. aahhhh”
Dongwook tidak bisa menunggu lagi, sedangkan Sihyun kewalahan menerima serangan suaminya. Terlebih karena dia sudah mencapai puncak dua kali, antara lelah namun nikmat benar-benar menyiksanya.
Dongwook mencium bibirnya dan bermain dengan puncak dadanya, membuat kepalanya sedikit pening.
“aaahhh… Shin… aahhh…”
“tahan sebentar sayang nngghh…”
“ngghh… aku tidak aaahhhh…”
Kepalanya bergerak ke kanan dan kiri, Sihyun meremas sprei dengan kuat. Bukan hanya cepat tapi dorongan tubuh Dongwook menjadi lebih tajam. Terlebih lagi pria itu mendesah persis di samping telinganya. Bahkan AC kamar mereka seperti tak berfungsi sama sekali.
“nggghhhhhh!…..” erangan panjang Dongwook di sertai hentakan kuat di tubuhnya mengakhiri kegiatan mereka, nafas keduanya sama-sama memburu. Sihyun seperti tak punya tulang. Hanya terkulai lemah.
“kau… berat” Dongwook tertawa kecil dan bangun dari tubuh istrinya, dia berbaring di samping Sihyun.
“wow, sepertinya malam ini berbeda” Dongwook menerawang, dia melihat kearah istrinya yang memejamkan mata, tertidur begitu saja.dia tersenyum dan menarik istrinya ke dalam pelukannya. Dia memejamkan matanya sambil tersenyum.
Dan di waktu yang sama pria itu membuka matanya, terbangun dari mimpinya. Mimpi tentang Sihyun yang selalu menghantuinya selama bertahun-tahun.
“sial, kali ini kenapa harus memimpikan hal erotis seperti itu” ini buruk mengetahui fakta jika dia takut tidak bisa mempertahankan tembok pertahanannya untuk tidak menyakiti Sihyun dengan sentuhannya karena saat ini gadis yang baru saja dia mimpikan sangat membenci dirinya.
Alih-alih merasa terangsang dengan mimpinya barusan, pria itu justru merasakan kepedihan yang dalam. Dia bangun dari tempat tidurnya, menunduk sebentar hingga dia memutuskan berjalan kea rah kamar Sihyun, dia ingin melihat gadis itu yang sedang tidur.
Wajah Sihyun yang tertidur adalah salah satu favorite pemandangannya di dunia ini, dengan pelan dia membuka pintu kamar sihyun agar tak menimbulkan suara yang membuat gadis itu terbangun. Tapi langka kakinya tidak memasuki kamar itu, dia terdiam di balik pintu yang baru terbuka sedikit.
Gadis itu tidak tertidur, sihyun terduduk di atas tempat tidurnya dengan memeluk lutut, wajahnya terlihat menyedihkan. Ini sudah pukul satu malam dan gadis itu masih membuka matanya, sihyun yang dia kenal dulu tidak pernah tidur lewat dari jam sepuluh malam.
Kemudia dia melihat butiran air turun dari mata gadis itu, dadanya terasa di hantam palu beton besar. Dia harus menyaksikan Sihyun yang terus menangis karena terluka olehnya. Gadis yang ingin dia bahagiakan justru harus merasakan luka yang dalam.
Sihyun menutup wajahnya dengan telapak tangan, Dongwook menghentikan niatnya untuk memeluk gadis itu. Dia bersender di tembok samping pintu kamar itu, meletakan kedua tangannya di kepala dengan frustasi.
“apa yang sudah kulakukan”
END –

Fc Populer:

  • Anonim

    NGengantung banget thor XD suka suka .. wajib sequel