Triangel Part 3

0
ff nc kyuhyun triangel
Title : TRIANGEL [3th – Choise]
Author : Zaziepiet
Cast : Cho Kyuhyun
Lee Hyobin
Other Cast
Genre : Romance, sad, married life, NC 21, chapter
NO PLAGIAT PLEASE!!
By : ZaZiepiet
♥♥♥
Aroma cokelat panas menyambutku yang masih mengantuk. Jika aku terbiasa dengan aroma itu, kali ini aku mengernyit, baunya benar-benar  busuk. Dengan sigap aku melempar selimut dan berlari mencari toilet.

“Huekk… uhuk huekk…”
Cklekk
“Hyo-ah, gwenchana?” suara Kyuhyun terdengar dari belakangku membuatku menoleh dan aku menggeleng pelan.
“Perutku mual,” lirihku dan kembali memuntahkan isi perutku, atau lebih tepatnya hanya air liurku.
Kyuhyun menangkap pundakku dan menuntunku keluar kamar mandi. Mendudukkanku di pinggiran ranjang. Tangannya mengusap keringat yang mengalir di pelipisku, “Sudah mendingan?” tanyanya.
Aku mengangguk pelan. Seluruh tubuhku seakan kebas. Aku tidak peduli bahwa setelah beberapa hari –ah tidak, beberapa minggu tidak bertemu dengannya namun dia masih tetap bisa membuatku merasa nyaman.
“Ayo turun, kita sarapan.” Dengan lembut Kyuhyun kembali menuntunku.
Ada orang tua Kyuhyun yang sudah menunggu dengan tenang di meja makan saat aku turun dan bergabung dengan mereka. Aku menundukkan wajahku, entah kenapa aku merasa takut. Ditambah lagi tatapan aneh yang kudapat dari sosok wanita yang duduk di depanku, yang mungkin kakak perempuan Kyuhyun.
“Jadi, apa kau Lee Hyobin?” tanya wanita itu. Aku semakin menunduk dan mengangguk pelan. Apakah kakak Kyuhyun akan memarahiku? Menganggapku wanita murahan karena merebut Kyuhyun, yang bahkan akan bertunangan?
“Ahra-ya, kau membuatnya takut.” Suara bass Tn. Cho terdengar. Sangat persis intonasinya dengan cara bicara Kyuhyun.
Aku melirik kearah Noona-nya Kyuhyun, dia cemberut pada Tn. Cho, “Aku hanya bertanya, Appa.”
“Apa kau sudah merasa sehat, nak?” suara lembut dari Ny. Cho mengalihkan tatapanku lagi.
Aku mengangguk, “N-neh…” jawabku pelan. Ny. Cho tersenyum dan mulai memberiku berbagai macam hidangan yang ada di meja. “Makanlah yang banyak, kau begitu terlihat pucat. Ini…” Ny. Cho menyodorkan semangkuk sup rumput laut, “Sangat bagus untuk meredakan mual-mualmu.”
Aku menatap masakan yang di sodorkan Ny. Cho padaku. Perutku lapar, namun apa yang yang di katakan lain dengan nafsuku. Aku sedang tidak ingin memakan apapun.
“Makanlah…” itu Kyuhyun, dengan pelan dia menyendokkan satu sendok sup dan menyuapiku. Dengan menatapnya lama akhirnya aku membuka mulutku, menerima satu suapan darinya.
“Ekhm…” deheman Ahra Eonni membuatku menunduk lagi sambil mengunyah. Rasa masakan ibu Kyuhyun benar-benar lezat, namun aku tidak menyangka seenak apapun masakan ini tapi perutku menolaknya tetap saja akan membuatku mual.
Dengan tergesa aku bangkit dari dudukku sambil membungkam mulutku. Membuat semua orang menoleh padaku, termasuk Kyuhyun. Aku menatapnya seolah bertanya ‘Dimana toiletnya?’
“Aku antar,” singkatnya dan dia bangkit dan menggandengku menuju toilet. Di sana aku kembali memuntahkan isi perutku. Air mataku merebak, tidak kuat dengan sakit yang menyerang rongga dadaku akibat terus muntah.
“Kita ke dokter?” tanya Kyuhyun khawatir sambil memijat tengkukku. Aku menggeleng lemah, rasanya tubuhku sangat lelah. Aku hanya ingin memejamkan mata.
“Maaf…” gumamku menyesal. Ny. Cho pasti tersinggung dengan aku yang memuntahkan masakannya. Dan bukan itu saja, aku pasti merusak acara sarapan pagi keluarga Kyuhyun.
“Tidak perlu minta maaf, ayo kita kembali.” Jawab Kyuhyun, menuntunku─lagi. Kurasa aku benar-benar tidak punya tenaga apapun lagi.
“Kyu-ah, biarkan Hyobin kembali tidur saja. Lihatlah wajahnya yang sangat pucat.” Ny. Cho dengan khawatir menghampiriku.
“Tapi dia belum makan apapun, eomma.” Sangkal Kyuhyun. Aku tidak ingin makan apapun…
“Dia mengalami Morning Sickness Kyu, seperti saat eomma mengandungmu dulu. Biarkan dia istirahat, akan kubuatkan sesuatu untuknya nanti.”
“Nyonya…” lirihku,
“Heii, kenapa kau memanggilku seperti itu?” tanyanya tidak suka. “Panggil aku Eommonim, hm? Sebentar lagi kau akan menjadi puteriku.” Ucapnya dengan senyuman. Tangannya menggapaiku dan mengelus lembut pipiku. “Antarkan dia istirahat Kyu-ah.” Perintahnya pada sang putera.
“Terima kasih… eommonim.” Lirihku, entah kenapa aku begitu senang. Apakah aku diterima di sini?
***
“Apa yang kau pikirkan? Tidurlah,” Kyuhyun mengusap lembut rambutku, kami berdua dalam kamar Kyuhyun.
Aku menatapnya, “Kenapa ini bisa terjadi?” gumamku bertanya. Raut wajah Kyuhyun berubah. “Karena kita melakukannya, aku melakukannya.” Jawabnya.
“Kukira tidak akan terjadi apa-apa padamu setelah malam itu. Aku begitu khilaf dan takut, aku menghindarimu, takut jika kau membongkar apa yang terjadi antara kita.” Dia mengambil nafas, “Aku takut apa yang kulakukan terdengar ditelinga Jihyun, dan membuatnya sakit hati. Tapi… saat tahu bahwa kau tengah hamil, aku tidak tahu apa yang kupikirkan lagi, selain bertanggung jawab.”
Air mataku menetes. Dalam keadaan hingga seperti ini, Cho Kyuhyun masih tetap memikirkan perasaan Jihyun Sunbae. Tentu saja, mereka sepasang kekasih dan Kyuhyun mencintainya, terlebih mereka akan melangsungkan pertunangan. Kenyataan itu membuatku sakit.
“Haruskah aku menggugurkannya?” lirihku hampir seperti bisikan. Entah setan darimana hingga aku mengatakan hal sekejam itu.
Kyuhyun memandangku marah, “Jangan sekali-sekali kau melakukan hal itu Lee Hyobin.” Geramnya.
Aku menangis, “Tapi bagaimana Jihyun sunbae?  Bagaimana dengan kuliahku? Bagaimana dengan orang tuaku?” tangisku. “Kenapa aku menjadi gadis yang jahat? Merebut tunangan orang?”
Tangan Kyuhyun mengusap air mataku, “Kau mengetahuinya? Aku dan Jihyun akan bertunangan?” Tanyanya pelan, “Jangan menangis. Kita akan tetap menikah, aku akan bertanggung jawab.”
“Lalu bagaimana dengan hatimu?” tanganku menghempas tangannya yang ada di pipiku. “Kau tahu bukan? Bahwa aku mencintaimu? Apa kau memanfaatkanku saja? Apa itu yang ada dipikiranmu saat itu?” marahku, entah mengapa pemikiran itu muncul saja dan membuat darahku mendidih.
“Aku menyayangimu,” jawabnya menutup matanya lelah. “Aku menyayangimu dan begitu tahu kau mencintaiku membuatku begitu senang. Kau memberikan kasih sayang yang tidak kudapat dari Jihyun. Tapi aku hanya menyayangimu.”
Aku menutup mulutku, menahan isakanku. “Bodohnya aku,” tangisku. “Kau begitu jahat, oppa!” jeritku. Memukul-mukul dadanya dengan tangisan. “Seharusnya aku tidak pernah mencintaimu! Seharusnya aku tidak pernah bertemu denganmu!” dengan brutal aku memukulinya. Kyuhyun hanya terdiam, aku tahu dia juga terluka dengan keadaan ini. Tapi bagaimana denganku?
Aku masih 17 tahun. Dan aku sekarang dalam keadaan mengandung! Yang benar saja!
“Ahk!” ringisku tiba-tiba perutku melilit sakit. Tanganku berhenti memukul Kyuhyun, “Gwenchana?” tanyanya panik menatap wajahku yang meringis.
Aku menggeleng, mencoba menghalau tangan Kyuhyun yang menggapaiku. “Eunghh..!” erangku mencengkram perutku.
“Kita kerumah sakit!” putusnya. Dengan cepat dia mengangkat tubuhku dan menggendongku dalam pelukannya.
Sakitnya seperti kemarin. Aku hanya menahan dan menghembuskan nafasku yang mulai tesenggal, Kyuhyun berlari seperti bermaraton.
“Apa yang terjadi?!” Eommonim menghampiriku dan Kyuhyun dengan tergesa-gesa dan wajah panik. “Kyuhyun-ah!”
“Perutnya kembali sakit, Eomma.” Kyuhyun menjelaskan dengan suara takut. “Aku akan membawanya kerumah sakit.”
“Biar kupanggilkan Ahra.” Ny. Cho berjalan cepat menuju kamar Ahra Eonni.
“Apa sangat sakit?” Kyuhyun bertanya sambil mengusap pelipisku, “Maafkan aku.”
Lirihnya mengecup puncak kepalaku. Tidak beberapa lama Ahra eonni datang dan menatap diriku yang dalam gendongan Kyuhyun.
“Biar kuperiksa,” ucapnya, “Tidurkan dia di sofa.” Perintahnya dan Kyuhyun menurunkanku. Aku meringis saat tangan Ahra eonni menekan perutku, aku tahu itu lembut, tapi efeknya sakit padaku.
“Noona,” Kyuhyun menegur saat aku meringis.
“Dia tidak apa-apa. Hanya kram yang sering terjadi pada ibu hamil. Tapi kita harus benar-benar membawanya kerumah sakit jika dia kembali mengalami hal ini.” Ahra Eonni berkata. “Biarkan dia istirahat.” Tatapannya beralih padaku, “Jangan terlalu banyak pikiran, eoh. Tidak baik untuk bayimu, istirahatlah.” Dia tersenyum lembut padaku, dan aku mengangguk.
“Dan kau, Cho Kyuhyun. Nikahi dia secepatnya!” desisnya marah.
***
Aku tertidur dalam pelukan Kyuhyun siang itu dan terbangun saat matahari telah tenggelam. Perutku sudah tidak terlalu sakit. Aku bangkit dan keluar dari kamar Kyuhyun, menuruni tangga dan menuju dapur. Aku lapar, dan aku ingin sekali makan Jjajangmyun.
“Kau lapar?” suara itu hampir membuatku melonjak karena terkejut. “Ah, maaf jika eomma mengagetkanmu.”
“Anniyo Ny─Eomma,” aku menjawab gugup. Dua hari aku menginap disini dan aku sudah membuat keluarga ini kerepotan, dan itu membuatku merasa jika aku adalah beban baru dalam rumah ini.
“Kau lapar? Mau aku buatkan makanan?” tawarnya, menuntunku duduk di meja makan.
Aku menggeliat gugup, sebenarnya aku ingin─sangat ini Jjajangmyun. Tapi apa aku boleh mengatakannya?
“Katakanlah, aku tahu kau sedang ingin sesuatu.” Wanita itu tersenyum lembut. Aku menunduk.
“Jja–jjajngmyun… aku ingin makan Jjajangmyun, Eomma.” Lirihku malu.
Tidak kusangka Eommonim justru tertawa, “Hanya itu? Oh tentu saja, aku sangat yakin bayi itu adalah anak Kyuhyun. Mereka begitu mirip!” tawanya.
“Baiklah, satu mangkok Ramyun akan segera datang untuk calon cucuku.”
Beberapa menit kemudian semangkuk Ramyun telah tersaji di hadapanku. Aromanya begitu menggoda dan perutku sangat ingin segera dipuaskan. Dengan perasaan menggebu segera ku habiskan satu mangkok ramyun, seakan aku tidak memakan apapun berhari-hari.
Eommonim hanya mengamatiku yang sedang makan dengan rakus, wajahnya sumringah dan aku tidak memperdulikan maluku. Aku makan dengan lahap seakan-akan ini adalah makanan terlezat seumur hidupku.
“Eomma… aku mencium bau Jjjajangmyun.” Suara bass itu seketika menghentikanku yang asik  makan. Suara Kyuhyun.
“Kemarilah, ada Hyobin disini.” Panggil Eommonim. Dan Kyuhyun muncul dengan wajahnya yang bangun tidur. Tidur di mana dia?
“Lihatlah, bukankah kau juga menyukai jjajangmyun, ah lebih tepatnya menggilainya?” Eommonim bergurau sambil menunjukku.
“Kau memakan jjajangmyun? Dengan perut kosong?” Kyuhyun bertanya padaku, dengan terkejut. Tatapannya beralih pada Eomma, “Dia tidak memakan apapun dari kemarin eomma, dan sekarang memberinya semangkuk jjajangmyun?” keningnya berkerut menahan amarah.
“Ya! Dia lapar! Apa kau ingin terus menerus melihatnya muntah saat dia memakan makanan yang tidak dia dapatkan dari kemarin? Calon isterimu sedang mengidam Cho Kyuhyun.”
Kyuhyun tersentak lalu menatapku, “Benarkah? Kenapa kau tidak mengatakannya? Aku bisa saja membuatkannya untukmu.” ungkapnya lembut dan panjang lebar.
Aku menunduk, sedikit merona dengan kalimat calon isterimu. “Kau tidak bertanya,” lirihku.
Cho Kyuhyun mengambil duduk disebelahku, “Makanlah dengan kenyang eoh. Dengan begitu kau akan cepat sehat, dan kita akan segera menikah.”
“Heish anak muda jaman sekarang.” Gerutu Eomma, “Kurasa Tn. Cho membutuhkanku. Joah, aku akan kembali pada suamiku.” Riangnya melenggak pergi. Aku tersenyum melihat tingkah laku Ny. Cho, kurasa Ahra eonni yang mewarisi ibunya. Sedangkan Cho Kyuhyun, dia mewarisi segala apa yang dimiliki ayahnya.
Kami terdiam dengan tanganku yang mengaduk-aduk mangkok ramyun yang isinya tinggal sedikit. “Kenapa tidak dihabiskan? Bukankah kau masih lapar?”
Sekarang tidak.
“Aku kenyang,” jawabku.
“Kau harus banyak makan. Aku khawatir kau akan kehilangan nutrisi. Kau harus sehat, arra?” Kyuhyun berucap sambil menggenggam tanganku. Ada perasaan hangat saat dia melakukan hal seperti ini, namun begitu aku teringat dengan kenyataan yang sesungguhnya. Aku melepas dengan cepat genggaman tangannya.
Bukan aku ingin menjadi seorang yang egois, namun hati kecilku seakan ingin benar-benat dipuaskan. Aku ingin Kyuhyun mencintaiku. Dan keinginan itu begitu menusuk hingga kembali menbuat mataku memanas. Kenapa aku menjadi serig menangis?! Ah, mungkin hormon gila ini yang mempengaruhiku.
Kyuhyun terdiam sesaat. “Aku sudah membahasnya dengan Appa dan eomma.” Ucapnya. “Pertunanganku dan Jihyun akan dibatalkan, dan aku akan menikah denganmu.” Aku tahu ada rasa sakit saat Kyuhyun mengucapkan hal itu. Aku hanya terdiam mengaduk-aduk mangkok yang masih terisi seperempat Jjajangmyun.
“Seberapa pun aku mencoba mengubah kenyataan, namun yang kutemukan hanya kau benar-benar hamil dari benihku.” Lirihnya.
“Mianhae,” bisikku. Mataku memanas. Diposisi ini, seakan akulah tersangkanya. Aku yang merebut Kyuhyun dari tunangannya.
“Jangan meminta maaf.” Suaranya kembali dingin. “Semua telah terjadi, dan kita hanya akan memperbaikinya. Dengan aku menikahimu.”
Aku meringis, menahan desakan air mata yang akan tumpah. Jika Kyuhyun hanya mengkhawatirkan Jung Jihyun, maka aku mengkhawatirkan kedua orang tuaku, Eunhyuk oppa. “Orang tuaku…” suaraku tertelan, “Bagaimana orang tuaku?” tanyaku.
Kyuhyun mengusap kepalanya, “Aku akan menemui mereka besok, dan meminta restu dari mereka. Kau akan ikut bersamaku.”
Aku mengangguk, dan mendorong mangkuk yang kuaduk-aduk menjauh.
“Bolehkah aku tidur?” gumamku, aku tidak menatapnya.
Kurasakan Kyuhyun menoleh dan menatapku. “Akan kuantar,” ucapnya membantuku berdiri.
Dalam pelukan Kyuhyun yang hangat dan kecupan lembut di dahiku cukup membuatku kembali terlena dalam rasa kantuk. Dan tanpa kata-kata aku tertidur pulas dengan Kyuhyun yang menemaniku semalaman.
***
Aku menangis terisak-isak saat Eunhyuk oppa mengantam wajah tampan Kyuhyun  berkali-kali. Appa hanya menatap dengan ekspresi marahnya, dan eomma hanya diam mengalihkan pandangannya dari kami berdua.
“Kau benar-benar laki-laki brengsek! Sialan kau Cho! Teganya kau menghamili adikku! Bahkan umurnya masih tujuh belas tahun!!” teriaknya.
“Hentikan, Eunhyuk-ah.”
“Tidak, Appa. Namja ini harus di hajar hingga mati!”
“Oppa!” jeritku histeris.
“Hentikan!!” suara bentakan appa membuat semua menoleh padanya. Eunhyuk oppa dengan tidak rela melepaskan kerah Kyuhyun yang babak belur. Dengan segera aku memeluk Kyuhyun. Menangis di pelukannya.
“Menikahlah.” Suara Appa kembali terdengar. “Menikahlah, tapi jangan pernah kembali ke rumah ini.”
“Yeobo,” eomma seketika tersentak. Begitu dengan aku dan Kyuhyun.
“Appa…” isakku.
“Aboenim,” mohon Kyuhyun. “Jangan seperti ini,”
Pandangan appa tertuju pada Kyuhyun, “Beraninya kau memerintahku, bocah!” marahnya.
Kyuhyun menunduk, “Jeosonghamnida, aboenim.” Gumamnya.
“Pergilah! Menikahlah, aku memberi kalian restu. Namun,” Appa menghembuskan nafasnya kasar, “Jangan pernah kembali kerumah ini lagi. Kau bukan lagi puteriku.”
Aku membekap mulutku, dan eomma menjerit.
“Kau tidak bisa melakukannya, yeobo!” tangisnya. “Dia puteri kita! Bukan dia yang salah!”
Appa menutup matanya. “Pergilah!” dan berdiri dari kursinya. Menuju kamar.
Eunhyuk oppa menatap Kyuhyun dengan mata menyala. “Semua karenamu, sialan!” desisnya.
“Oppa…” tangisku, menuju dimana Eunhyuk oppa berdiri. “Mianhae…”
Dengan kaku Eunhyuk oppa akhirnya membalas pelukanku. “Kau akan tetap menjadi adikku, Hyo-ah. Princess kecilku. Menikahlah dan bahagialah.” Ucapnya mengecup dahiku. Aku mengangguk dan berpaling pada eomma.
“Eomma…” tangisku seakan menjadi semakin pecah.
“Kemarilah,” pintanya. Aku memeluk eomma dengan erat, menamgis dan meraung.
“Jangan menangis. Berapa usianya?” tanyanya lembut, dan mengelus perutku pelan.
Aku menghapus air mataku, “Satu bulan,” jawabku terisak pelan.
Pandanggan eomma tertuju pada Kyuhyun. “Aku percaya padamu untuk menjaga puteriku.” Ucapnya tajam. “Jangan pernah membuatnya terluka, lagi.”
Kyuhyun menatapku, dan kemudian mengangguk pada eomma. “Aku berjanji, eommonim.”
Kembali eomma menatapku, “Jagalah bayimu, arra. Eomma akan menelponmu sesekali.” Aku mengangguk dan sekali lagi, eomma mengelus pelan perutku dan memelukku lagi sebelum aku pergi dari rumah.
***
“Kau baik-baik saja,” tanya Kyuhyun saat aku hanya diam tanpa suara saat mobil kembali menuju rumah Kyuhyun, di Seoul.
Aku mengangguk tanpa menatapnya. Perasaanku tercampur aduk, di satu sisi aku lega bahwa kedua orang tuaku merestui, namun aku bukanlah lagi bagian dari mereka. Aku mengecewakan keluargaku. Dan di sisi lain bagaimana aku bisa menikah dengan Kyuhyun, yang kenyataannya masih menjadi milik Jihyun sunbae?
Apa yang harus aku lakukan? Aku bisa berakting seakan tak peduli dengan semua yang terjadi pada hidupku. Namun bagaimana dengan anakku?
Haruskah anakku tumbuh dengan hanya kasih sayang dariku? Haruskah anakku melihat bahwa ibunya bukanlah orang yang dicintai oleh ayahnya?
Pikiran seperti itu melingkari otakku, memerangkapku dengan jeruji besi sehingga aku tak menemukan jalan keluar. Yang kuinginkan sekarang, pergi tidur, tanpa mimpi dan berharap hari esok semuanya akan berakhir. Aku lelah.
“Bicaralah sesuatu.” Kyuhyun mengajakku berbicara.
“Aku hanya ingin tidur,” gumamku menjawabnya. Dia menghela nafasnya.
“Tidurlah,” desahnya.
Dan aku terlelap. Tanpa memperdulikan Kyuhyun lagi.
Aku terbangun dengan tubuhku sudah berada di kasur empuk milik Kyuhyun. Hari sudah malam dan aku menurunkan kakiku saat perasaan mual kembai menghantamku. Aku benci ini. Dengan cepat aku berlari dan memuntahkan air liurku.
“Huekk… huekk… uhuk…” rasanya aku sangat ingin mengakhiri semua ini.
Setelah beberapa menit mual menyiksa diriku, akhirnya aku selesai dan berjalan keluar kamar. Menuruni tangga saat suara keuarga Cho terdengar. Mereka sedang membahas sesuatu.
“Kenapa kau menjadi bajingan Cho Kyuhyun?!” suara Eommonim terdengar marah. “Kau menghamilinya, ingat itu! Disini kaulah yang bersalah!”
“Tapi Eomma, bagaimana dengan Jihyun?” suara Kyuhyun terdengar terluka, “Gadis itu bahkan hampir bunuh diri karena pembatalan pertunangan kami.”
“Jadi kau lebih memilih gadis itu daripada bayimu? Darah dagingmu sendiri?!” kali ini suara Ahra noona.
“Apa kau akan membiarkan anakmu menjadi anak haram yang di ejek oleh teman-temannya? Sedangkan kau bahagia sendiri dengan kehidupanmu? Apa itu yang kau harapkan, anakku?” suara dingin Tn. Cho menggema, “Hari ini aku memanggilmu anakku, karena aku yakin kau memang anakku yang kudidik untuk bertanggung jawab. Namun jika tidak, maka jangan pernah menyandang nama keluarga ‘CHO’ di depan namamu.”
“Appa…”
“Keluaga Cho tidak menarik kata-kata yang keluar dari mulutnya.” Suara Tn. Cho begitu wibawa dan aku dapat mendengar derapan langkahnya yang berjalan menjauh menuju kamarnya.
“Aku percaya bahwa kau anakku yang bertanggung jawab, Cho Kyuhyun.” suara Eommonim.
“Jika kau mengambil keputusan yang salah. Aku tidak sudi menjadi kakak mu lagi Cho Kyuhyun!”
Dan semua menjadi sunyi. Aku masih betah berdiri di anak tangga paling atas. Dan aku mendengar langkah Kyuhyun berjalan menaiki satu persatu anak tangga menuju atas.
Langkahnya berhenti saat Kyuhyun mendapati diriku berdiri di sana, “Kau tidak tidur?” tanyanya lembut. Aku menggeleng.
“Kau mendengar semuanya?” tanyanya lagi. Aku terdiam, kemudian mengangguk.
Nafasnya mendesah, “Mianhae,” gumamnya.
Aku menatapnya, “Wae?” tanyaku balik, “Kita berdua bersalah,” lanjutku “Jadi tidak ada kata maaf.”
Kyuhyun menatapku dalam, dan berjalan mendekat. “Ayo kita tidur.” Ajaknya meraih tanganku dan menggandengnya menuju kamar Kyuhyun.
Kembali aku berakhir dalam pelukannya. “Aku suka memelukmu,” gumamnya setelah mengecuk keningku. Aku terdiam. “Begitu nyaman dan aku tidak ingin melepaskannya.”
Begitu juga denganku.
Mataku terpejam, dan aku tenggelam dalam mimpiku.
“Selamat malam, Hyobin-ah.”
***
To Be Continue♥

Fc Populer: