Triangel Part 2

0
triangel ff nc kyuhyun
Title :TRIANGEL [2nd – Who’s Fault?]
Author : Zaziepiet
Cast : Cho Kyuhyun
Lee Hyobin
Other Cast
Genre : Romance, sad, married life, NC 21, chapter
NO PLAGIAT PLEASE!!
By : ZaZiepiet
♥♥♥
Mataku terbuka saat sinar matahari menerobos dan menyilaukan mataku. Sesaat aku seakan kehilangan ingatan apa yang terjadi semalam, tubuhku beranjak bangun saat rasa nyeri menghampiriku dengan begitu cepat. Membuatku meringis sakit. Dan itu menyadarkanku bahwa semalam bukanlah mimpi.

“Kau sudah bangun,” Suara dingin itu menyapaku. Kyuhyun tengah berdiri membelakangi jendela. Tubuhnya telah rapi dengan pakainnya yang kemarin. Wajahnya begitu dingin, dan membuat hatiku jatuh.
“Aku akan kembali, hari ini tidak usah masuk kerja. Aku akan mengijinkamu pada Yesung Hyung. Istirahatlah.” Ucapnya dan berjalan menjauh dari apartemenku.
Mataku memanas. Apa yang telah kulakukan semalam? Begitu bodohnya aku menyerahkan harta yang seharusnya kujaga baik-baik, dan apa sekarang? Kyuhyun meninggalkanku dengan keadaan yang begitu menjijikkan. Tubuh polos dengan hanya dibalut selimut.
Dengan gemetar aku menyingkirkan selimut yang membalutku. Disana, tercetak jelas noda darah dan cairan putih yang mengering. Hasil kegiatan nistaku semalam. Aku mengernyit dan kemudian merasa jijik pada diriku.
Apa yang terjadi selanjutnya pada diriku?
Isakanku keluar dengan keras dan aku hanya bisa menangis pagi ini. Menangis dan menangis atas kebodohan yang kulakukan.
Tuhan, maafkan aku.
Suara deru mobil Kyuhyun perlahan menghilang dari apartemenku. Ia telah pergi. Dengan masih terisak aku melangkah turun dari tempat tidur. Meringis saat bawah tubuhku merasakan nyeri.
Hatiku mencelos.
Aku bukan perawan lagi.
Dan orang yang mengambilnya bahkan tak mengatakan apapun selain pergi begitu saja setelah mengambil milikku. Sungguh ironis bukan hidupku? Di saat gadis seumuranku bahagia dengan kekasih mereka, mencintai dan dicintai. Namun tidak denganku. Aku bahkan hanya menjadi yang mencintai, tanpa status apapun. Dan yang terburuk, aku bahkan menyerahkan sesuatu, yang seharusnya kuberikan pada suamiku kelak.
Sekarang apa? Aku bahkan tidak tahu lagi apa yang aku lakukan di kedepannya. Otakku membeku, perasaan jijik dan penuh dengan penyesalan mendominasi hati dan pikiranku. Kenapa aku begitu bodoh!
Air mataku bahkan tidak mau berhenti saat aku telah selesai membersihkan tubuhku dari segala sentuhannya. Bahkan meskipun aku menggosok sekeras apapun, tubuhku tidak akan pernah kembali bersih.
Aku gadis kotor.
Menangis. Menangis dan menangis.
Aku bisa gila, Tuhan…
***
Kurasa aku benar-benar menjadi gila. Aku bahkan tidak masuk selama seminggu dengan tanpa surat ijin atau memberi kabar apapun kepada bosku. Yang aku ingat Kyuhyun hanya mengijinkanku satu hari, namun yang kulalui melebihi dari dua puluh empat jam.
Ponselku berkali kali berbunyi namun aku mengabaikannya. Banyak sekali pesan suara masuk, dan yang terbanyak adalah dari Yesung oppa. Namja yang menjadi bosku berulang kali mengirimiku voice mail, dan tidak ada satupun yang ku respon.
Aku benar-benar tidak semangat hidup. Yang kulakukan hanyalah makan, tidur, mandi. Berulang ulang tanpa ada tujuan yang pasti. Sesekali aku terbangun tengah malam dan menagis saat mengenang malamku bersama Kyuhyun. Namja itu bahkan sama sekali tidak menanyakan kabarku, dalam puluhan panggilan tak terjawab, ratusan pesan tidak ada salah satupun dari namja itu.
Jika mencintainya menjadi sebuah kesalahan, maka semua yang terjadi padaku adalah kesalahan. Namun siapa? Apakah aku yang salah karena mencintainya?
Aku membencinya, semua pemikiran itu. Seharusnya aku tidak mencintainya bukan? Seharusnya aku mengubur dalam-dalam. Seharusnya aku tidak pernah bertemu dengannya.
Tapi…
Kenapa aku begitu bodoh!
Bahkan ketukan yang sedari tadi terdengar, berkali-kali bunyi bel berdengung aku tetap diam di tempatku. Menatap layar televisi yang menyala, tanpa berniat menontonnya dengan benar.
“Lee Hyobin, kau ada di dalam?” suara itu kembali terdengar untuk kesekian kalinya siang ini. Aku tahu itu siapa. Yesung oppa.
“Aku tahu kau ada di dalam. Keluarlah. Apa kau baik-baik saja? Apa sedang sakit?”
Kenapa dia ada disini? Biarkan aku sendiri!
Lelah dengan keberisikan, akhirnya dengan  berat hati kakiku melangkah menuju pintu. Memutar kenop dan aku melihatnya. Yesung oppa berdiri di depan pintu. Raut wajahnya menunjukkan kekhawatiran, dan sesaat begitu lega saat pintu terbuka.
“Astaga, syukurlah.” Desahnya. Aku menatapnya datar.
“Apa kau baik-baik saja? Kau tidak memberi kabar kepadaku. Ini satu minggu kau sama sekali tidak masuk kerja. Tanpa kabar dan seakan hilang ditelan bumi.” Cercanya. Aku tahu dia cerewet, tapi aku tidak menyangka namja berkepala tiga ini akan mirip seperti ahjumma ahjumma yang sering kutemui di pasar. “Jika kau sakit, setidaknya hubungilah aku.” Lanjutnya.
Ya, aku sakit. Sakit hati dan sakit otak. Tubuhku tak layak untuk di tunjukkan lagi di hadapan kalian semua. Aku tidak pantas menjadi gadis lagi, aku kotor. Tidak pantas berteman dengan kalian-kalian yang menjunjung moral dan agama.
Karena aku telah rusak.
Air mataku menggenang, “Gwenchana.” Balasku berbisik. “Mungkin aku ingin keluar saja dari Caffe mu, oppa.” Ucapku. Dan dengan aku keluar, maka aku tidak akan pernah lagi bertemu dengan Kyuhyun. Yesung oppa menatapku terkejut.
“Ya! Apa yang kau bicarakan?! Jika kau keluar bagaimana kau menghidupi dirimu selama sekolah disini? Bukankah orang tuamu menitipkan dirimu padaku agar kau tetap bisa kuliah dan mencari uang untuk biayamu. Aku sendiri yang meg-iyakan permintaan oppa mu waktu itu.”
Aku menutup mataku. Sangat sesak. Oppa, Eunhyuk oppa. Kakak laki-laki yang begitu kucintai. Bagaimana aku bisa mengecewakannya yang begitu menyayangiku?
“Tapi… aku tidak ingin bekerja lagi, oppa.” Lirihku. Dan pecah, air mataku menetes perlahan. Yesung oppa tersentak dan menangkup wajahku.
“Kau menangis? Hei, ada apa?” tanyanya. “Bolehkah aku masuk? Kurasa membicarakannya di dalam lebih baik.” Sarannya. Aku baru menyadari bahwa kami masih berada di depan pintu apartemenku, dan dalam keadaan aku menangis seperti anak kecil.
Beberapa menit aku habiskan dengan menangis di hadapan Yesung oppa. Namja itu dengan sabar menunggguku selesai menangis tanpa menjedanya sekalipun.
“Kau bisa cerita padaku, Hyo.” Ucapnya sekali lagi setelah aku berhenti menenteskan air mata.
Aku menggeleng pelan. Haruskah aku menceritakannya?
Aku malu…
Bagaimana jika Yesung oppa menganggapku gadis murahan setelah aku menceritakan kejadian itu? Bagaimana jika Yesung oppa mengadukan pada Eunhyuk Oppa dan kedua orang tuaku? Dan yang terburuk, bagaiamana jika Yesung oppa menjauhiku?
Apa yang harus kulakukan?
“Maafkan aku, oppa.” Gumamku menyesal. Tidak. Tidak untuk sekarang. “Aku hanya ingin sendiri. Tolong, biarkan aku menyimpannya untuk diriku sendiri.” Lirihku.
Yesung oppa menatapku dalam, kemudian mengangguk pelan. “Aku tahu.” Sahutnya. “Tapi, kau akan tetap bekerja di Hand and Gretel. Aku tidak ingin kau berhentikerja karena masalahmu ini. Mau makan apa kau jika tidak bekerja?” tuturnya. Adakalanya Yesung oppa seperti sosok Appa di mataku.
“Arraseo…” sahutku lemah.
“Istirahatlah. Aku akan kembali ke caffe.” Yesung oppa berdiri dan berjalan menuju pintu. “Oh,” namja itu merogoh saku celananya, dan menyerahkan sesuatu padaku, “Ini untukmu.”
Engagement Party
Cho Kyuhyun
and
Jung Jihyun
“Cho Kyuhyun akan bertunangan dengan kekasihnya akhir bulan ini. Sekian lama mereka berpacaran akhirnya memutuskan ke jenjang yang lebih jauh. Aku jadi iri,”
Aku tidak peduli dengan apa yang dibicarakan oleh Yesung oppa. Yang kutahu sekarang adalah, pandanganku memburam karena genangan yang ingin meluncur dari mataku. Dadaku sesak. Apa lagi ini? Cho Kyuhyun? Akan bertunangan?
Ini mimpi bukan?
Kuharap iya. Kakiku seolah tidak bisa menompang tubuhku sendiri. Bahkan Yesung oppa yang berpamitan pergi aku tak peduli. Dan seketika tangisku terdengar. Aku menangis terisak keras, membuang kartu undangan Kyuhyun.
Tuhan…
Haruskah aku mengakhiri semuanya?
Kenapa begitu banyak pesakitan yang hadir dalam hidupku?
Aku terbangun dengan kepalaku terasa berat. Gejolak dalam perutku sangat mengganggu hingga aku harus rela berlari terhuyung kedalam kamar mandi. Dan muntahanku keluar. Hanya sebatas air liur namun sangat menganggu, ini hari kedua aku mengalami muntah-muntah setelah seminggu lalu Yesung oppa mengabari hal itu. Bahwa Cho Kyuhyun akan bertunangan.
“Hueekk…uhuk… sial!” desahku pahit. Mataku menatap bayanganku di cermin. Begitu pucat dan kantung mata yang terlihat jelas. “Aku benar-benar sakit,” gumamku.
Dan aku harus bekerja hari ini. Setelah Yesung oppa mendatangiku, aku kembali bekerja. Meskipun aku hanya sebagai penjaga kasir, karena Yesung oppa mengetahui keadaanku maka aku tidaklah harus berjalan kesana-kemari melayani tamu. Meskipun terlihat bahwa Yesung oppa tidak adil, namun aku tidak peduli. Aku hanya meng-iyakan semua perintahnya.
Dan aku tidak bertemu lagi dengan Cho Kyuhyun. Entahlah, dimulai aku kembali beraktifitas lagi. Aku sama sekali tidak menemuinya, ataupun menemukan batang hidungnya sekalipun. Ia seolah menghilang. Dan aku? Aku tidak peduli lagi dengannya. Mencoba melupakan semua kesakitan yang dia berikan padaku. Kuharap semua berhasil… usahaku untuk melupakannya.
Aku pulang dengan perasaat sakit luar biasa menyerang perutku. Rasa mual begitu mendominasiku akhir-akhir ini. Dan yang keluar dari muntahanku hanya air liur, akan tetapi hal itu terus terulang-ulang dan membuatku sangat lemas. Berjalan pelan kearah apotik, aku membeli beberapa paracetamol dan obat penghilang rasa mual.
Kembali aku memuntahkan air liurku, namun kali ini dengan rasa pahit luar biasa karena sebelumnya aku telah meminum obat. Sungguh, ini sangat menyusahkan. Aku ingin memakan Jjajangmyun. Tapi aku tidak punya tenaga untuk bangkit dari tidurku.
“Eomma…” desahku setelah memuntahkan obat yang telah kutelan. Aku membutuhkan eomma. Saat dulu, ketika aku sakit eomma pasti akan merawatku. Mengusap-usap kepalaku agar aku cepat tertidur. Aku merindukan eomma.
Air mataku merebak saat mengingat bahwa aku telah mengecawakan orang tuaku. Aku tak bisa membayangkan bagaimana reaksi eomma dan appa jika mengetahui yang sebenarnya, apa yang telah dilakukan puterinya ini. Aku mempermalukan mereka sebagai orang tua. Aku menangis hingga rasanya mataku memanas, dengan rasa lelah dan kebas dalam tubuhku aku jatuh tertidur.
***
Pagi hari aku kembali menjalani aktifitasku. Seminggu aku telah menjalani hari-hariku dengan normal. Terkecuali kegiatan harianku yang muntah setiap pagi yang begitu menyiksa. Mencoba mengabaikan berita bahwa si brengsek yang aku cintai, Cho Kyuhyun akan bertunangan akhir bulan ini. Yang artinya seminggu dari sekarang.
“Selamat datang!” sapaku pada tamu yang mulai berdatangan.
“Coffe latte satu, dan sepotong cake cokelat.” Pesan gadis yang ada di depanku. Aku tersenyum dan mencatat pesanannya.
“1500 won,” totalku, gadis itu menyerahkan beberapa uangnya dan mulai berjalan menuju mejanya.
Cafe cukup ramai hingga menjelang siang. Meskipun aku hanya menjadi penjaga kasir, namun cukup melelahkan dengan kondisiku yang agak rewel.
“Hyo-ah, bisakah kau menolongku?” Haneul berdiri di depanku dengan tatapan memelas. Dia terlihat lucu, “Wae?” tanyaku.
“Bisakah kau mengantarkan pesanan meja 12 itu?” tunjuknya pada segerombol laki-laki yang tengah mengobrol. “Aku ingin ke kamar kecil, sungguh aku tidak bisa menahannya.” Melasnya.
“Baiklah,” anggukku, setengah tertawa.
“Kau memang baik!” serunya dan berlari menuju kamar kecil.
Aku tahu Haneul masih mengincarku dengan berbagai pertanyaan yang ada dipikirnnya. Namun aku terus menolak mengatakan hal yang terjadi padaku. Belum saatnya Haneul tahu.aku akan memberithunya nanti.
Bunyi ting dari arah pantry membuatku tahu bahwa pesananya telah siap. Aku berjalan menuju pantry setelah sebelumnya mengambil sebuah tray.
“Sial!” desisku menatap makanan yang ternyata sangat banyak. Ada kurang lebih lima piring yang berisi penuh makanan, mekipun bukan untuk pertama kalinya. Tapi dengan keadaanku yang sedang rewel pesanan di depanku begitu sangat menyiksa. Bisa kau bayangkan betapa beratnya mereka? Saat piring kosong saja sudah berat apalagi dengan penuh makanan, lebih dari lima piring pula. Astaga!
“Kau bisa melakukannya!” semangat pada diriku sendiri. Aku mulai menata dan aku hanya berhasil menata empat dari sekian piring di depanku dalam satu tray. Baiklah, aku akan kembali dan membereskan sisanya. Dengan perlahan aku mengangkatnya, dan menompangnya di bahu kiriku.
“Ahk!” ringisku saat serangan nyeri seketika datang dari dalam perutku. Dengan cepat aku kembali menurunkan tray ku. Mengambil nafas, dan kembali mengangkat mereka.
Langkahku sangat cepat menuju meja 12 itu, aku ingin segera membebaskan sakit di perutku. Nafasku  tersenggal saat aku mulai menyajikan makanan di meja.
“Nona? Gwenchana?” tanya salah seorang namja yang duduk di samping aku berdiri, dia menyadari aku yang tersenggal dengan keringat yang menetes deras.
Aku tersenyum, dan mengambil nafas, “Gwenchana,” dan aku  kembali berjalan ke arah pantry.
Di pesanan yang kuantar kedua kali, aku telah mencapai batas maksimalku. Nafasku seolah sangat sulit diatur, nyeri di perutku sangat menyiksa. Dan aku melihatnya, Cho Kyuhyun. Tengah berdiri tegap menyapa para tamu di depan kasir.
“Nona, anda sedang sakit.” Kembali namja yang baik hati itu membantuku. Aku tersenyum dan berkata tidak apa-apa.
Dan pandanganku dengan Cho Kyuhyun bertemu.
Aku berkeringat dingin. Tanganku menangkup perutku yang amat nyeri. Aku mengernyit saat tiap langkah aku berjalan nyeri diperutku seakan bertambah.
“Hyo-ah..”
“Nona..”
Panggilan yang tertuju padaku terasa menggema. Pandanganku memburam dan yang terakhir kuingat sebuah teriakan sesaat sebelum aku melayang dan tenggelam dalam kegelapan.
***
Aku terbangun dalam ruangan serba putih. Bau obat begitu kental dan menyatakan bahwa aku tengah berada di rumah sakit.
“Apa yang kau lakukan?! Kau brengsek Cho Kyuhyun!!” suara teriakan Haneul sangat keras hingga membuatku penasaran,
“Kau tahu dia mencintaimu! Tapi apa yang kau lakukan padanya?! Memanfaatkan cintanya begitu?! Lihat sekarang akibat perbuatanmu! Lee Hyobin hamil! Apa yang ada di pikiranmu astaga!! Jika dari awal kau tidak mencintainya seharusnya kau menjada jarak dengannya!!”
Aku menutup mulutku saat kalimat kemarahan Haneul menyentakku.
Hamil?
Aku?
“Andwae!” pekikku. Air mataku menggenang kemudian meluncur deras. “Andwae!!” ulangku terus menerut. Tubuhku merosot posisi duduk dan menangis keras. Suara pintu terbuka dan menampakkan sosok Kyuhyun dengan tatapannya yang seolah tak percaya.
“Apa yang kau lakukan padaku oppa?” isakku. Air mataku tak berhenti mengalir dan semakin deras. Haneul mendekat dan memelukku erat, menenangkanku. “Haneul-ah,” tangisku.
“Gwenchana, gwenchana. Semuanya akan baik-baik saja.” Lirihnya ditelingaku.
Aku menangis dalam pelukan Haneul yang terus mengatakan ‘Tidak apa-apa’ dan menenangkan diriku.
Kyuhyun masih berdiri mematung di depan pintu. Aku tahu dia juga shock. Begitu juga denganku. Apa yang harus kulakukan?
Tuhan…
Untuk pertama kalinya aku berharap aku akan mati detik ini juga. Apa yang akan terjadi setelah ini? Apa yang akan dikatakan orang-orang padaku jika mereka tahu? Bagaimana dengan orang tuaku? Dan bagaimana dengan aku yang akan membesarkan bayi yang ada di dalam perutku?
Tatapanku menerawang jika saja saat itu aku tidak meng-iyakan permintaan Kyuhyun saat menginap di rumahku. Andai saja aku lebih pintar membedakan mana cinta dan mana nafsu semata. Andai saja… jika aku tidak mencintai Kyuhyun. Semua hal ini tidak akan terjadi.
“Kita akan menikah. Aku akan bertanggung jawab.” Suara Kyuhyun terdengar penuh dengan pesakitan. Wajahnya penuh dengan beban.
Apa yang kudengar? Aku tidak tau harus mengatakan apa? Dengan hanya menatapnya, air mataku kembali mengalir.
Kyuhyun mendekatiku, mengambil tanganku dan menggenggamnya. “Kita akan  menikah. Aku akan bertanggung jawab atas semuanya.” Ucapnya padaku.
“Jihyun Eonni,” lirihku dengan air mata. Sesuatu yang tajam menusuk hatiku saat membayangkan bagaimana reaksi kekasih Kyuhyun saat mengetahui hal ini.
Kyuhyun terdiam. Matanya menatapku dalam, “Tidak apa-apa. Aku akan bicara padanya. Yang terpenting, kita akan menikah. Bagaimanapun, janin yang ada dalam perutmu adalah anakku, darah dagingku.” Yakinnya.
Aku memejamkan mataku, yang ingin kulakukan sekarang hanya menyendiri. Aku ingin mengosongkan pikiranku. Tangan Kyuhyun mengusap pipiku, mengahpus air mataku dan mengecup puncak kepalaku. Kosong, aku tidak tahu harus ber ekspresi seperti apa.
Kyuhyun membawaku pulang ke rumahnya setelah meyakinkan Haneul bahwa aku akan baik-baik saja bersamanya. Dan dia dengan wajah tegasnya mengatakan kepada orang tuanya bahwa akan menikahiku, karena aku telah mengandung benihnya. Semua yang tejadi seakan bayangan gambar tanpa suara. Hanya sedikit yang dapat kutangkap, pikiranku tak bersamaku. Namja yang kukira adalah appa Kyuhyun dengan tatapannya yang menyala mendekati puteranya dan menampar Kyuhyun begitu keras. Aku tidak sadar bahwa air mataku mengalir, namun hal yang kutahu, ibu Kyuhyun menghampiriku dan memelukku. Dan aku kembali menangis dengan terisak.
“Tidurlah,” ucap Kyuhyun saat menyuruhku tidur di kamarnya. Tanpa memperdulikan ipinya yang memar bekas tamparan Tn. Cho, ia masih tersenyum lembut padaku. Dengan pasrah aku menuruti kemauan orang tua Kyuhyun yang menyuruhku beristirahat di rumah mereka.
“Hei,” Kyuhyun mengusap pipiku.
“Tidurlah Hyo,” pintanya lembut. Aku menatapnya dan dia membalas dengan senyuman getir. Mengecup kepalaku dan dia pergi meninggalkan aku yang ada di kamarnya. Dengan perlahan, aku mulai memejamkan mataku dan semuanya menggelap.
To Be Continue♥

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: