Not Him But Me Part 1

0
not him but me kyuhyun ff nc
Not Him, But Me ( Destiny )
Author : @KyuVie
Title : Not Him, But Me ( Destiny ) Part 1
Genre : NC, Romance, Chapter
Cast :
• Ahn Vee
• Cho Kyuhyun
• Lee Donghae
Vie comeback again 😀
curcol was a little (?)
The first, thank for Flying Nc Fanfiction. Second, sorry for sequel The Scenario of Love, Vie cannot grant it. Thirdly, thanks to the readers. Fourthly, thanks for my sister.. to cover that you always create for me^^ And Not forget, for both my lover Kyuhyun&Eunhyuk.. thank you for always loves me.^ ckckk…

Ada satu pertanyaan readers yg bikin vie greget bgt pengen jawab. “Kenapa waktu kisseu, jino udah semester 6 terus Jae Na masih junior high school (SMP)?”
Vie dibilang gk masuk akal, diketawain sampe dibilang kocak gara² itu. Kalau mau hitung, tolong hitung baik².
Jino waktu masuk keluarga Lee emang umur 6 tahun. terus tinggal selama beberapa bulan di keluarga itu apa gk kalian hitung? selama masa kehamilan Ji yoo yg terhitung 9 bulan juga apa gk kalian hitung? Masa Jino 6 thn terus?! vie nulis juga pake otak kali.
Jino udah nyampe 7 thn waktu Jae Na lahir. Jae Na 12 thn, itu berarti Jino 19 thn. dan waktu Jae Na 17 thn itu artinya Jino 24 thn. Udah pernah ditulis juga Jino itu pintar pake BGT. IQ-nya mungkin mencapai 130+ (very superior/gifted) itu belum termasuk genius, kalau sampe Genius IQ 140> bisa² Jino ngalahin Edison dan Einstein -_-
Bagi anak kuliah, kalian pasti tau kalau kita bisa mencapai semester lebih cepat jika otak kita mampu. kemungkinan buat aku yg otaknya normal aja, bisa mencapai semester 6 diusia 20 tahun. Tapi vie salut, kalian sampe detail bgt. vie acungin jempol dehh! Tapi cuma mau kasih tau.. low mau cari² kesalahan itu yg teliti, biar vie gk balikin kesalahan itu. #ketawajahat pease 😀
Sebagai permintaan maaf karena vie udah bikin Kyuhyun dan Ahn Vee die di ff EunJi, vie buatin story mereka biar kalian gk kecewa dan sedih lagi. Kebetulan juga kemaren ada yg tanya kapan couple ini comeback? It’s time 😀
Mungkin story-nya bakalan terkesan mainstream, tapi vie tetap coba membuatnya terlihat berbeda. Whether successful or not (?)
Comment it’s up to you guys who read.
‘TYPO is a piece of Art.^^
******
-Bukan dia yang seharusnya berada disampingmu, tapi aku…
-Bukan dia yang seharusnya kau cintai, tapi aku…
-Bukan dia yang seharusnya kau pilih, tapi aku…
-Bukan dia yang menjadi takdirmu, tapi aku…
{ Destiny }
‘lepaskan aku jika begitu. Aku tidak bisa memberi bukti seperti itu padamu.’
‘Jadi itu mau mu? Baiklah, kau yang memintanya. INGAT itu!’
.
“kau yang buat aku memintanya, kau yang memaksaku untuk mengambil keputusan itu.”
Ahn Vee berguma lirih. Berguma pada dirinya sendiri layaknya orang bodoh. Tersenyum getir, begitu menyedihkan. Potongan kecil percakapannya dua minggu yang lalu dengan kekasihnya kembali terbesit.
Pria itu kekasihnya. Kekasih dua minggu yang lalu sudah ia tinggalkan. Dan di-dua minggu itu dia tersiksa dengan keadaannya sendiri.
Tangan Ahn Vee bergerak lagi, menghapus jejak air mata yang jatuh membasahi pipi. Dia menghela, menariknya kasar dalam waktu singkat. Sudah berapa lama dia seperti ini? Bahkan dia sudah sulit sekali bernafas akibat tangisannya yang tidak kunjung juga berhenti.
Penyesalan itu tiba-tiba kembali menyelimutinya. Seharusnya malam itu dia tidak mengatakan hal sebodoh itu. Seharusnya mereka tidak melakukan jenis perpisahan itu.
Bisakah dia memutar waktu kembali ke hari itu.
Hari dimana mulut dan emosinya tidak dapat ia kendalikan. Jika dia bisa, Ahn Vee benar-benar ingin memutarnya. Mengembalikan lagi pria itu disisinya.
“Nunna.”
Ahn Vee menghela lagi, menarik nafasnya. Kali ini dia lakukan agar suaranya terdengar normal dan tidak membuat adiknya curiga. Dia tersenyum, senyuman yang sebenarnyapun tidak terlihat oleh namja yang sekarang ada dibelakang tubuhnya.
“Wae?” Tanpa membalikan tubuhnnya yang terbaring diatas tempat tidur, Ahn Vee berusaha setenang mungkin menyauti adik laki-lakinya.
“Eomma sudah menunggumu diruang makan. Keluarlah.”
“Arra, aku akan segera keluar.”
“Cepatlah, kau bahkan belum makan sejak siang tadi.” Namja itu bicara dengan ekspresi datar miliknya yang khas. Berjalan menjauh meninggalkan ranjang setelah menyapaikan pesan eomma-nya, tapi tiba-tiba saja dia berhenti, tepat saat akan membuka pintu.
David kembali membalikan tubuhnya, menatap tubuh kakak perempuannya tanpa melihat wajah itu. “Berhenti menangis. Lupakan dia.”
Dan setelah kalimat tidak menyenangkan itu, David benar-benar keluar dari sana. Meninggalkan yeoja didalam sana yang saat ini justru merasa semakin terpukul. David berbicara tanpa merasa berdosa, tanpa berpikir akan seperti apa lagi perasaan yeoja ini. Kalimat tadi terdengar menyedihkan untuknya.
Benar, kau memang menyedihkan Ahn Vee.
_______
“Ini, makanlah yang banyak.”
Ahn Vee mendongak, dia cukup tersadar saat tiba-tiba sebuah lobak kimci mendarat dimangkuk nasinya. Dia menoleh kedepan, menemukan eomma-nya tersenyum. Ahn Vee membalas senyuman itu, bahkan begitu lebar hingga membuatnya justru terlihat aneh. Terutama dimata adiknya. Pria yang selalu bisa menembak dengan baik keadaannya.
“Ne eomma, gomawo.”
Kau melamun lagi gadis bodoh. Ahn Vee merutuk. Dia kembali menunduk, menatap lipatan kakinya sendiri diatas lantai kayu.
Sesuatu yang tak berguna.
Akhir-akhir ini dia memang sering melakukan itu. Melamun, merenung dan menangis. Mungkin lebih tepatnya setelah hubungannya dengan pria itu berakhir. Ahn Vee tidak lebih seperti gadis gila yang terus saja menyesali kejadian malam itu. Lagi-lagi dia harus menyalahkan waktu. Waktu yang sebenarnya tak bersalah.
“makanlah makanan berkarbohidrat dan berprotein.”
Ahn Vee kembali mendongak. Kali ini bukan pada eomma-nya. Melainkan David, pria yang baru saja berbicara. Pria yang bahkan saat ini sedang sibuk dengan nasinya sendiri. David berbicara padanya, Ahn Vee tahu itu, tapi pria itu bahkan tidak menoleh sama sekali. Selalu seperti itu.
“Berpura-pura terlihat bahagia bukankah butuh banyak tenaga.”
“Ne?”
*****
Korea disore hari dimusim gugur memang sangatlah menyenangkan. Di mana saat bunga dan daun-daun jatuh dengan begitu cantik ke tanah bagai hujan. Saat angin bertiup lembut membawa bunga dan dedaunan kesana kemari tanpa tujuan. Hujan bunga, bukankah seperti itu terlihat mengangumkan. Musim gugur bahkan di kenal dengan masa paling romantis.
Tak terasa Ahn Vee sudah melewati musim ini selama satu bulan. Itu artinya musim dingin akan segera tiba. Dibulan desember. Yang benar saja bahkan ini baru memasuki bulan oktober. Jadi itu artinya dia masih memiliki sisa waktu untuk menikmati musim ini selama dua bulan lagi.
Ahn Vee sangat menyukai musim gugur. Tapi dia tidak menyukai musim dingin, bahkan jika itu bulan kelahirannya sekalipun. Gadis itu tersenyum.
Senyuman getir yang mengantarkannya duduk dikursi kayu pinggir trotoran jalan setapak. Dibawah rindangnya pohon daun berwarna orange. Dia mengehela, hampir seperti putus asa.
Akan kemana lagi dia sekarang?
Sudah puluhan kali dia memasuki gedung-gedung dipenjuru seoul. Dari mulai yang terbesar, tertinggi, hingga terkecil. Tidak ada satupun dari gedung itu yang mau menerimanya untuk berada disana. Sesuatu yang mustahil sedang terjadi.
“Kenapa ini tidak berguna?” Ahn Vee menatap nanar pada map ditangannya. Map yang berisikan CV dirinya sendiri. “Aku bahkan lulus dengan IPK cukup baik di universitas itu. Kenapa? apa yang terjadi?”
Kenyataan tidak ada satupun perusahan yang mau menerimannya bekerja cukup membuat yeoja ini frustasi. Dia tidak hanya mengandalkan ijazah SMA, Ahn Vee adalah lulusan KAIST dengan IPK cukup baik. Lalu apa yang membuatnya tidak bisa mendapatkan pekerjaan.
“Apa aku harus kembali lagi menjadi waiter seperti saat kuliah dulu?”
Ahn Vee tersenyum getir. Dia seperti layaknya orang gila yang berbicara dengan map ditangannya sendiri. Bayangan saat dirinya bekerja sebagai pelayan di sebuah cafe kecil terbesit. “Lalu ini gunanya apa? lima tahun aku belajar, lalu itu berguna untuk apa?”
Itulah saat-saat tersulit hidupnya. Dimana anak-anak mahasiswa semester akhir harusnya lebih fokus dan lebih banyak belajar. Justru Ahn Vee harus mengabiskan sisa waktu senggang belajarnya untuk bekerja. Bekerja paruh waktu yang membuatnya tidak mendapatkan istrahat yang cukup.
Tapi apapun itu, akan Ahn Vee lakukan jika untuk kedua orang yang dicintainya. Ibunya dan adiknya.
Air matanya mengenang sudah siap untuk jatuh. Ahn Vee sudah tidak bisa menahannya lagi. Kepalanya menunduk, masih dengan mengeluarkan ucapan yang sama, yeoja itu terisak. Bahkan sekarang dia sudah tidak segan-segan memaki Tuhan.
Sebut saja dia kehilangan akal sehat.
Hidup seperti sekarang ini membuatnya benar-benar cukup terpukul. Tuhan seperti membebani cobaan yang begitu sulit untuk dia dipikul.
Hidupnya terlalu berubah derastis.
“Sudahlah. Menangispun tidak berguna.”
Mungkin mati lebih baik.
*****
Lagi. Pria itu kembali mengepalkan tangannya lagi. Rahangnya sudah terlihat mengeras, kepalan tangannya pada koran semakin membuat buku-buku jarinya terlihat semakin jelas dan memerah. Dia menggigit bibir bagian bawahnya sebelum membiarkan mulut itu terbuka untuk menghembuskan nafas. Matanya mendelik lagi, tempat kearah koran ditangannya. Sampai akhirnya benda itu melayang bebas terlempar entah kemana.
“Tuan__”
“Keluar.”
Sebelum diperintah dua kali, pria yang terlihat berumuran setengah abad itu menundukan wajahnya. Membungkuk memberi hormat. Pria itu baru saja masuk diruangan itu dan baru akan memberi beberapa laporan perusahan. Tapi belum sampai dua menit dia menginjakan kakinya disana, dia sudah harus benar-benar keluar meninggalkan pria muda yang merupakan bosnya sendiri.
Lebih baik dari pada menunggu sampai pria itu marah besar.
Namja itu bersadar dikursi kebesarannya, menekan pelipisnya yang terasa cukup berdenyut minta dipukul. Rasanya dia ingin sekali menjedotkan kepalanya sendiri ketembok saat ini juga.
Bila perlu sampai pecah, sampai tidak ada lagi kehidupan didalam tubuhnya.
Pria itu memutar kursinya dengan kesal hingga menghadap dinding kaca besar yang membuatnya bisa melihat jalanan dan gedung-gedung kota seoul.
Pria itu tersenyum getir.
Gedung-gedung yang berdiri kokoh bagai raksasa itu, hampir dari semua itu adalah miliknya. Lalu kenapa kehidupan pria ini tidak terlihat menyenangkan. Apa yang membuatnya terlihat seperti saat ini?
Harusnya dengan memiliki harta dan kekayaan yang melimpah, dia bisa hidup dengan senang. Segala keinginannya bisa terwujud.
Kau memang mendapatkan itu semua bodoh.
Tapi kenyataan jika dia tidak bisa menyangkal berita buruk tentang dirinya, dipenjuru negeri ini bahkan hampir di seluruh dunia, itu cukup membuat pria ini tidak bisa bernafas dengan tenang. Dia tidak hidup dengan baik.
Pria ini adalah bagian dari orang-orang yang merasa hidupnya tertekan.
“Aku sudah berusaha mengabaikannya, aku sudah berusaha menutup mata dan telinga.”
Disetiap kesuksesan yang dia dapat, maka akan ada pula berita itu. Lagi, dia harus mendengar berita itu lagi. Saat seorang pengusaha senang ketika dirinya kembali memenangkan tender dengan sangat mudah, menciptakan sesuatu yang baru dan luar biasa dalam dunia bisnis. Saat dimana dia seharusnya berbangga hati, justru itu semua tidak dirasakan olehnya.
Bagaimana tidak, ketika media memberitakan kesuksesannya berikut dengan berita dirinya yang menjijikan secara bersamaan.
Bukankah itu sudah sering sekali terjadi Tuan.
Tapi hati kecilnya masih saja tetap tidak bisa menerima kenyataan itu.
Haruskah dia menutup semua perusahan media masa agar tidak ada lagi yang memberitakan tentang dirinya.
“Apa gunanya semua ini?”
Harta, tahta, kekanyaan. Rasanya dalam sejarah, baru kali ini semua itu tidak berguna sama sekali.
Mungkin fakta itu hanya untuk dirimu.
“Tidak ada gunanya mengeluh seperti ini. Tidak merubah keadaan.”
Mungkin mati lebih baik.
*****
Masih kota yang sama, pagi yang sama, hati yang rasanya pun juga masih terasa sama.
Ahn Vee bergeges bangun dari tempat tidurnya. Meskipun fakta dirinya selalu gagal mendapat pekerjaan, yeoja ini tidak menyerah. Jika kemarin dia tidak mendapatkannya, maka hari ini dia akan mencoba lagi, dan meskipun hari ini dia tidak mendapatkannya juga, maka besok dia harus mencobanya lagi. Seperti itulah yang selalu Ahn Vee tetapkan pada dirinya sendiri.
Menurutnya sebuah keyakinan, tekat, dan usaha tidak akan pernah sia-sia jika dirinya tidak menyerah.
Lagi pula, dia memang tidak seharusnya menyerah. Jika dia tidak bekerja, lalu siapa yang akan memenuhi biaya hidupnya serta keluarganya sendiri.
Ibunya yang dari awal memang seorang wanita biasa yang dinikahi pria tampan dan sukses itu tidak bisa berbuat apapun. Wanita itu hanya seorang gadis desa biasa yang tidak sengaja bertemu dengan seorang pangeran. Pangeran yang membuat hidup wanita itu berubah dari seorang gadis desa miskin menjadi seorang putri.
Dan pangeran itu juga yang membuatnya kembali jatuh pada kehidupannya yang dulu.
Lalu dirinya? Ahn Vee adalah gadis yang terlahir dari pasangan itu. Hidupnya sejak kecil memang sangatlah menyenangkan. Memiliki apapun yang ia ingin tanpa harus bersusah payah mendapatkannya. Hanya tinggal meminta, maka dengan senang hati ayah-nya akan memberikannya. Dia memilik kedua orang tua yang luar biasa. Bertanggung jawab dan sangat penyayang. Ayahnya adalah yang terlembut dari semua pria.
Bahkan Ahn Vee juga memilik seorang adik yang membuat kebahagiannya semakin lengkap. Adik laki-laki yang usianya terpaut enam tahun tahun darinya. Ahn David, namja dingin dan begitu sangat menyebalkan. Pria itulah adiknya.
Ahn Vee sangat menyayangi pria itu. Ahn David.
Mereka hidup dengan bahagia. Tapi tidak sampai peristiwa itu tiba. Saat dimana Tuhan mengambil pria terlembutnya untuk naik keatas langit, saat dimana sesuatu yang buruk terjadi ketika ayahnya tiada. Saat hidupnya benar-benar harus berubah derastis. Membuatnya harus hidup terlontang lantung dan begitu menyedihkan. Saat dia….
Cukup. Kau tidak seharusnya mengingat semua itu.
Ahn Vee sudah siap dengan setelan bajunya yang simple namun terlihat sopan. Cukup baik untuk seorang wanita yang akan melamar pekerjaan. Dia melangkahkan kakinya keluar dari kamar kecil yang ditempatinya untuk tidur. Bahkan dulu kamarnya sebesar rumah ini.
Sekarang? lupakan. Dia tidak ingin menceritakan itu lagi.
“Kau akan pergi lagi?”
Baru satu sepatunya terpasang, Ahn Vee menoleh kebelakang, menemukan adiknya yang sepertinya akan bersiap pergi kesekolah.
Apa David harus berhenti sekolah setelah lulus? Apa dia tidak harus melanjutkan kuliah?
Pertanyaan itu selalu terbesit saat dirinya menatap David memakai pakaian seragam. Tidak, bukan hanya saat pria ini memakai seragam, bahkan saat David sedang belajar ataupun sedang menonton tv. Ahn Vee selalu memikirkan hal itu.
Dulu dia sering melihat David dan ayah-nya berbincang, walaupun David terlihat dingin dan hanya sedikit menanggapi. Tapi dia selalu ingat disetiap percakapan mereka, saat Ayah-nya selalu menanyakan pada anak laki-laki ini mengenai apa yang dia suka? Apa yang dia inginkan.
.
‘Setelah lulus Junior High school, kau akan melanjutkan sekolahmu kemana?’
‘Setelah lulus dari High school kau akan melanjutkan kuliahmu dimana?’
‘Bidang apa yang kau sukai?’
‘Lakukan dan pilih sesuai keinginanmu. Dengan begitu kau akan sangat senang melakukannya.’
.
“Nunna? Ahn Vee Nunna!!”
“Ne?”
“Kau melamun?”
Ahn Vee menghela, kepalanya menggeleng kecil. Dia menatap nanar adik laki-lakinya. “Tidak.”
Kau tidak boleh membuatnya berhenti sekolah hanya sampai High Shcool Ahn Vee. Tidak, pasti Appa akan sangat sedih melihat itu.
“Aku rasa kau memang melamun.”
David memakai sepatunya, mengabaikan kakak perempuannya yang sepertinya asik dengan dunianya sendiri. Dia sudah sampai diambang pintu, bersiap menggeser pintu itu agar terbuka.
“David~ah. ” David berhenti saat tangannya sudah berada diambang pintu. Laki-laki itu diam, menunggu nunna-nya kembali berbicara tanpa menoleh. “Kau__? Akan melanjutkan kuliahmu dimana?”
Tanpa menjawab, tanpa bergeming. Pria yang tingginya melebihi kakaknya itu berlalu begitu saja meninggalkan Ahn Vee.
Sepertinya kau tau apa yang namja itu rasakan.
Ahn Vee menghela lagi. Bergegas meninggalkan rumah dan kembali mencoba. Takdirnya, tidak seharusnya seburuk ini bukan? Mungkin hanya perlu sedikit bersabar, maka Tuhan akan memberikan takdir yang sebenarnnya.
Semoga hari ini dia akan mendapat pekerjaan.
______
Sore yang sama terjadi lagi. Bahkan suasana hati yang tidak kunjung berubah. Ahn Vee harus kembali kecewa. Hari inipun dia tidak mendapatkan apa yang diharapkan dan di doa-kannya pagi tadi sebelum keluar rumah. Yeoja ini harus kembali meratapi nasibnya. Nasib yang ia anggap begitu buruk.
Sepertinya seseorang mengutuk dirinya. Dia tidak hidup dengan baik sekarang.
Siapa?
Dia tidak memiliki musuh sejak kecil. Bahkan Ahn Vee adalah sosok yeoja yang sangat disukai teman-teman dan gurunya. Itu terbukti dengan beberapa dari mereka yang selalu menawarkan bantuan pada Ahn Vee, dan itu sudah terlalu sering. Terlalu sering hingga dia sendiripun merasa malu.
Saat bekerja paruh waktu di cafe, itu berkat salah satu temannya. Saat mendapat kontrakan dengan sewa murahpun, itu juga berkat temannya. Mereka sudah terlalu banyak membantu Ahn Vee dan keluarganya dalam bentuk apapun.
Sekarang Ahn Vee telah menyelesaikan kuliahnya, tidak seharusnnya dia kembali meminta bantuan mereka lagi. Tapi apa? bahkan sekarang Ahn Vee sangat begitu kesulitan.
Lalu apa ini kutukan dari Tuhan?
Dia salah apa?
Ahn Vee menyeka air matanya yang sudah jatuh, dia menangis lagi. Sesuatu yang akhir-akhir ini sering sekali dia lakukan. Tiada hari tanpa air mata. Sekarang dia adalah gadis yang lemah. Tidak seperti yang teman-temannya katakan dulu.
‘Kau yang terkuat Ahn Vee~ya.’
Aku sekarang yang terlemah. Bahkan aku yang tercengeng.
Tuhan, bolehkah aku mati saja…
______
Namja tinggi dengan balutan jas hitam, celana senada dipadu kemeja putih dibalik jas itu membuatnya benar-benar terlihat luar biasa sempurna untuk ukuran seorang manusia. Tidakah dia terlihat seperti seorang dewa. Dewa yang aneh mungkin.
Wajahnya yang terpahat sempurna, membuat ciptaan Tuhan yang satu ini terlihat jauh tidak manusiawi. Sudah dijelaskan, dia itu sangat teramat tampan dan tiada dua-nya. Tapi sesuatu harus kembali menyesali kesempurnaan itu.
Langkah kakinya yang terlihat luar biasa mempesona itu justru selalu dipadang aneh oleh kebanyakan orang yang sudah mengenalnya. Dan sekarang, langkah kaki itu justru terlihat memprihatinkan. Berjalan lunglai tidak seperti biasanya, wajahnya yang selalu terlihat dingin namun memikat itu kini terlihat begitu kacau.
Dia meninggalkan mobilnya begitu saja ditepi jalan, menyusuri langkah kakinya disepanjang jembatan hingga tepat ditengah jembatan itu sendiri. Pria itu berhenti.
Apa yang dia pikirkan?
Tubuhnya berbalik. Dia menemukan pembatas jembatan yang menghalangi jalan itu dari tingginya tempat ini, pria itu memegangnya. Menumpukan tangan dan tubuhnya sendiri pada pembatas itu. Dibawah sana, dia melihat adanya air yang begitu banyak. Sebuah sungai.
Apa jatuh dari sini bisa membuatnya mati?
Sepertinya pria ini mulai gila. Dia memang selalu ingin mengakhiri hidupnya, tapi sepertinya hari ini dia sudah berada pada titik ketidak warasan. Biasanya dia hanya akan mengucapkan ‘Mati’ dan kembali pada akal sehat.
Justru hari ini, dia bergerak terlalu jauh. Tubuhnya membawa dirinya ke tempat ini, tempat dimana dia ingin sekali mengakhiri hidupnya sendiri. Setidaknya jika dia mati, dia bisa bertemu dengan wanita itu. Pikirannya begitu bodoh.
Tuhan, tidak apakah aku menyerah dengan keadaan ini…
Itu sama sekali bukan dia. Namja yang selalu terlihat dingin angkuh penuh kuasa, saat ini sedang mengeluh bagai pria lemah. Tidak, mungkin dia lebih terlihat seperti seorang wanita.
Dia menatap datar pada genggaman tangannya yang mencengkram kuat sebuah majalah. Keputusannya semakin bulat dengan hanya menatap majalah itu saja. Sekarang dia sudah siap menaikan satu kakinya pada membatas besi. Tapi ekor matanya justru menangkap sesuatu yang membuatnya cukup terundang untuk menoleh.
Disana, dengan jarak kurang dari delapan meter. Dia bisa melihat seorang yeoja yang kedua kakinya sudah sampai berpijak pada tumpukan pertama pembatas besi.
Mungkinkah?
Tiba-tiba keinginannya untuk mendekati yeoja itu merasuk kuat. Tanpa berpikir dua kali, pria itu berjalan cepat bahkan berlari.
Sesuatu akan terjadi.. dan bagusnya dia berhasil mencengahnya. Mungkin belum benar-benar berhasil.
“Kya, lepaskan! biarkan aku jatuh.”
“Tidak, kau gila? Kau akan mati.”
“Aku memang ingin mati. Jebbal lepaskan tanganku.”
“Aku tidak akan melepaskannya. Aku akan menarikmu, jadi kau harus membantuku dengan tidak terus bergerak seperti itu.”
Dengan tangan satu bertumpu pada pembatas besi, dan tangan satunya lagi yang berusaha menarik gadis itu agar kembali naik. Pria itu berusaha keras memegang tangan yeoja itu agar tidak terlepas. Meskipun kenyataannya tangannya yang berpeganggan pada tangan gadis itu terus saja dipukul. Dia tetap bertahan.
“Jebbal.”
“Aku tidak ingin hidup.”
“Baiklah, jika kau ingin mati. Kita mati bersama.”
“Mwo? Kau gila!”
Pria itu mendelik setelah menatap cukup lama gadis dibawahnya. Gadis yang saat ini tertawa sinis kearahnya. Apa dia benar-benar harus melakukan itu? “Aku hanya tinggal melepaskan tangan kiriku dari pegangan besi ini, maka kita akan jatuh bersama.”
“Andwe, kau hanya perlu melepaskan tangan kananmu pada tanganku.”
“Aku tidak memberi pilihan itu.”
Dengan kekuatannya, dia kembali berusaha menarik gadis itu. Gadis yang sekarang terlihat berpikir dan diam itu cukup membuatnya mudah untuk menarik tubuh mungil gadis itu. Tidak bergerak dan meronta seperti tadi membuat pria ini berhasil membawa tubuh yeoja itu kembali naik.
Mereka terlentang di pinggiran jalan, nafas keduanya memburu menatap hamparan langit sore yang mulai terlihat jingga.
Apa tadi itu? Sesuatu yang gila?
Seseorang yang ingin bunuh diri justru menolong orang yang akan bunuh diri.
Kau mengangumkan. Apa sekarang kau mulai peduli pada kehidupan orang lain? Yang benar saja. Bagaimanapun kau tetaplah manusia yang memiliki hati. Akan lebih bodoh lagi jika tadi itu kau hanya diam saja dan membiarkan gadis ini loncat didepan matamu.
“Kau tidak seharusnya menolongku.”
Setelah berhasil mengatur nafas dan detakan jatungnya yang bekerja cukup ekstra, gadis itu bangun mencoba untuk duduk. Dia bergeser dari sana, menyandarkan tubuhnya pada pembatas besi. Begitupun dengan namja disampingnya, pria itu melakukan hal yang sama. Mereka duduk dalam satu jajar.
“Kau benar, seharusnya aku lebih memilih ikut jatuh bersamamu.”
Gadis itu menoleh, menatap pria disampingnya. Dan itu dilakukan juga oleh namja itu. Mereka saling melihat, tapi namja itu hanya melakukannya beberapa detik. Dia lebih memilih menatap lurus kedepan.
“Aku juga berniat untuk mengakhiri hidupku.”
Mata gadis itu melebar. Pernyataan datar pria disampingnya cukup mengejutkan. Jika begitu seharusnya tadi itu mereka mati bersama saja. Kenapa juga pria ini menolongnya?
“Tapi sepertinya itu mengerikan saat aku melihatmu akan loncat.”
Mereka kembali saling melihat. Pria itu memandang cukup lama gadis disampingnya.
“Aku sudah cukup putus asa dengan hidupku.”
Pria itu mengangguk mengerti menyauti pernyataan gadis itu. Itu juga yang dirasakan olehnya. Tidak aneh jika gadis ini berniat mengakhir hidupnya. Bukankah kau juga berniat melakukan hal yang sama.
“Putus dengan kekasihmu?”
Untuk pertama kalinya dalam sejarah. Pria ini menjadi pria yang ingin tahu urusan orang lain. Terlebih seseorang yang baru dikenalnya beberapa menit.
Ada apa denganmu?
Gadis itu menggeleng lemah. Tapi bukankah alasan itu juga yang menjadi salah satu keinginannya untuk mati. Bukankah dia memang putus dengan kekasihnya. Bahkan kau selalu menangisi pria itu hampir setiap malam.
“Masalah kehidupan yang rumit. Lebih tepatnya masalah ekonomi mungkin.”
Pria itu mengangguk. Dia cukup paham dengan masalah gadis ini. Terkadang hidup dalam kondisi seperti itu memang kerap sekali membuat manusia menyerah dan lebih memilih mengakhiri hidup.
“Kau?”
Pria itu kembali menoleh setelah tadi membuang wajahnya kembali kedepan. Dia kembali menatap gadis itu lagi.
“Apa alasan mu memilih mati?”
Tanpa menjawab pertanyaan gadis disampingnya, namja itu mengulurkan tangannya mengambil sebuah majalah yang ia lempar tak jauh dari tubuh mereka. Majalah itu refleks ia lempar saat akan meraih tangan gadis itu agar tidak jatuh.
Dia memberikan majalah itu pada yeoja disampingnya. Gadis itu terlihat cukup bingung, dia membutuhkan jawaban, bukan majalah. Apa pria ini tidak mengerti dengan ucapannya?
“Kau lihat itu.”
“Ini?”
Pria itu mengangguk. Dan gadis itu mengikuti perintah namja disampingnya. Dia melihat majalah itu, memperhatikan sampul depannya. Disana dia melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Gambar seorang namja.
“Bukankah ini kau?”
Pria itu mengangguk ragu. Apa dibelahan dunia ini masih ada orang yang tidak mengenal dirinya. Mustahil.
“Lalu?”
“Kau tidak bisa membaca?”
“Mwo?!”
Tidak lagi mempedulikan reaksi namja itu, dia kembali menyibukan matanya pada majalah. Sebuah kalimat pada cover majalah itu membuatnya terkejut setengah mati.
Bagaimana bisa ada berita yang seperti ini? Bahkan kalimat itu ditulis dengan huruf kapital. Seakan-akan memperjelas dan memastikan semua orang dapat membacanya, sekalipun itu orang rabun.
PENGUSAHA SUKSES TERNAMA KOREA BAHKAN DISELURUH PENJURU DUNIA KEMBALI BERHASIL MENGGEMPARKAN DUNIA PERINDUSTIAN DUNIA BISNIS.
PENGUSAHA YANG DIKENAL DENGAN STATUS GAY-NYA ITU BERHASIL MENCIPTAKAN SEBUAH PERINDUSTIAN BARU DALAM DUNIA BISNIS DAN BERENCANA AKAN MELAUNCHINGKAN HASIL KERJANYA DALAM WAKTU DEKAT INI.
PENGUSAHA MUDA ITU KEMBALI TERLIHAT BERJALAN DENGAN SEORANG PRIA. MEREKA TERLIHAT BEGITU MESRA LAYAKNYA PASANGAN KEKASIH PADA UMUMNYA.
“Ini? apa mereka membicarakan tentangmu?”
Pria itu menoleh. Menatap datar gadis di sampingnya yang sepertinya terkejut bukan main. “Menurutmu?”
Kejutan tambahan. Gadis itu mencelos tak percaya. Matanya mengerjab tanpa henti. “Sepertinya memang begitu.”
Sekarang dia mengerti satu hal. Alasan pria ini mencoba mengakhiri hidupnya. Ini jauh lebih mengerikan dari yang ia prediksikan. Pria ini lebih menyedihkan dari takdirnya. Sangat disayangkan, pria setampan ini harus hidup dalam dunia yang mengerikan.
Jadi apa seharusnya dia bersyukur sekarang? Tuhan masih memberikannya hati yang normal, perasaan yang baik-baik saja. Dasar gadis bodoh.
“Ahn Vee, Nama ku Ahn Vee.” Ahn Vee mengulurkan tangannya, dia tersenyum cantik. Cukup untuk membuat hati pria manapun meleleh. Tapi sepertinya tidak untuk namja disampingnya. Tentu saja. “Siapa namamu? Kita bisa menjadi teman bukan?”
“Teman?” Pria itu mengulangnya ragu. Apa dia baru saja diajak berkenalan oleh seorang gadis? Bahkan dia selalu mengabaikan mereka semua. Para wanita, menurutnya itu sangatlah tidak menarik.
“Mungkin menjadi teman bunuh diri tidak terlalu buruk.” Ahn Vee kembali tersenyum. Bahkan dia tertawa kecil dengan hasil lelucon yang ia anggap lucu itu.
Apa itu benar-benar terdengar lucu? Entahlah.
Ahn Vee hanya masih cukup terkejut saja dengan keadaan pria ini.
“Kau gila?”
“Aku rasa juga begitu. Jadi siapa namamu? mereka tidak mencantumkan namamu disini.”
“Kyuhyun, Cho Kyuhyun.”
“Ahh.. Kyuhyun~ah.”
“Kyuhyun~ah?”
“Wae? Bukankah seperti itu terdengar lebih akrab. Jadi Kyuhyun~ah, apa sekarang kita berteman?”
“TIDAK!! Tidak akan pernah.”
“Wae? Kya.. kau mau kemana? tunggu aku!! aku ikut denganmu, aku tidak punya uang untuk pulang, kau harus bertanggung jawab Cho Kyuhyun! Yakk!!!
To Be Continue….
“Kau harus menikahi seorang yeoja. Dengan begitu semua berita buruk tentangmu pasti akan dihapus.”
“Kau membiarkan aku pergi meninggalkanmu? Apa kau yakin?”
“Lalu, sekarang apa yang akan kau lakukan? Aku rasa semua perusahan di negara ini tidak akan ada yang mau menerimamu bekerja diperusahan mereka.”
“Mungkin ini akan terdengar gila, tapi kau boleh menganggap ini sebagai pekerjaanmu.”
“Apa?”
“Itu satu-satunya cara agar kau bisa keluar dari keadaan ini.”
“Sudah aku katakan, aku tidak akan pernah menikah, dengan siapun dan dengan gadis manapun.”
“Aku menidurinya.”
“Kau?”
—-TuT—-
See you in next part…

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: