Marriage Lesson Part 3 (END)

1
marriage 2 lesson ff nc
Author : Park Jinhee a.k.a Olivia Kim
Title : Marriage Lesson 3
Category : NC-21, Yadong, Romance, Chapter
Cast : Do Kyungsoo, Hwang Shin Joo (OC) as Author/Reader
Support Cast: EXO, OCs, Shin Minah
basa-basi :
WARNING : NC21 Kyungsoo melakukan adegan ini dan itu, yang suka silahkan baca, dan yang tidak sebaiknya jangan. Peringatan di awal, tidak ada protes/bash di akhir.

TYPO, NO EYD, FF Asal bunyi.
FF Ini pernah aku post di akun facebook ku (Park Jinhee) pada tanggal 20 Desember 2013 dan di akun WordPressku (blackpearl94.wordpress.com) pada tanggal 19 Desember 2014 dari chapter 1 – selesai. Silahkan bagi yang mau mampir ke Blackpearl94.wordpress.com dan baca FF lain di sana.
No Plagiat, No Bash, No Silent Reader
Happy Reading!
~♥♥♥~
ᴥ♥ᴥ♥ᴥ
“Aaah.. Akhirnya kita tiba di rumah juga.” Seru Shin Joo sembari merenggangkan otot-ototnya saat ia dan Kyungsoo baru saja turun dari mobil pengantin mereka, masih lengkap dengan segala attribute pernikahan yang tadi keduanya kenakan.
“Kajja.” Kyungsoo mendahului langkah istrinya masuk ke dalam rumah orang tuanya. Ya, untuk sementara ini mungkin mereka akan tinggal di rumah orang tua Kyungsoo.
Pintu terbuka, Shin Joo memandangi rumah mertuanya dengan kagum. Memang ini baru pertama kalinya ia kesini. Rumah yang sejuk type minimalis dengan lapisan kayu di beberapa bagian serta di lantai ruang tamunya, membuat rumah besar tersebut terasa begitu menyatu dengan alam. Di dekat dengan sofa ada rak besar yang sepenuhnya terisi oleh piala-piala penghargaan, dapat di pastikan piala-piala itu milik Kyungsoo, KyungBi dan KyungGi.
Saat Shin Joo masih melihat-lihat rak piala tersebut, eomma Kyungsoo tiba-tiba datang mendekati keduanya.
“Aigoo, kalian sudah datang. Aah, pasti melelahkan sekali dengan gaun pengantin seperti itu. Mandi dan berganti baju lah dulu.. Eomma sudah menyiapkan kamar untuk kalian, ada kamar mandi juga di dalamnya. Setelah mandi kalian bisa turun untuk makan siang. Kyung Gi sudah menyiapkan masakan Jepang yang sempat ia pelajari saat kuliah disana.” Tutur eomma Kyungsoo panjang lebar. Sedikit membuat Shin Joo dan Kyungsoo terkejut menyadari bahwa mereka akan berbagi kamar.
Setelah eomma kembali ke belakang, keduanya saling berpandangan lalu salah tingkah. Entah, malu mungkin.
Kyungsoo mendahului langkah istrinya menuju kamar sekaligus menyembunyikan raut salah tingkahnya. Shin Joo mengikuti langkah Kyungsoo menaiki tangga menuju ke lantai dua.
“Apakah sebelumnya ini kamarmu?” Tanya Shin Joo begitu memasuki kamar Kyungsoo yang besar, dengan rak buku yang masuk ke dalam dinding kamarnya membuat ruangan tersebut terasa lebih luas. Di tepi tempat tidur terdapat pintu kaca yang luas dengan tirai berwarna cream yang saat ini setengah terbuka, menampakkan balkon dan pemandangan luar yang indah.
“Ya, kau ingin langsung mandi?” Kyungsoo balik bertanya yang segera dijawab anggukan oleh istrinya.
“Baiklah kalau begitu, aku akan menunggu di luar. Mandilah.” Ujarnya kembali salah tingkah. Shin Joo memandangi langkah suaminya yang kini beranjak melangkah keluar.
“Engh.. Oppa?” Panggil Shin Joo menghentikan langkah Kyungsoo. Namja itu berbalik badan dan mendapati Shin Joo berdiri di depan Cermin sambil berusaha membuka resleting gaun pengantinnya yang ada di belakang. Ia tampak kesusahan.
“Bisa kau bantu?” Pinta Shin Joo tanpa banyak pikir lagi.
Glek
Kyungsoo membulatkan mata dan menelan ludahnya susah payah. Shin Joo benar-benar membuat namja itu salah tingkah. Membuat Kyungsoo tidak percaya bahwa ia harus melakukan ini dan itu yang diluar akal sehatnya. Sungguh saat acara pernikahan tadi, Kyungsoo pun memberikan ciuman itu di luar kendalinya. Shin Joo seolah memacu adrenalin Kyungsoo untuk berbuat lebih dan lebih sebagai seorang suami.
Dengan ragu namja itu mendekati istrinya yang berdiri membelakanginya. Tampak Shin Joo yang masih berusaha menggapai resletingnya di bagian belakang. Gaun tersebut memang dipasangkan oleh penata rias Shin Joo, sehingga untuk melepas pun, Shin Joo tidak mungkin bisa melepasnya sendiri.
“Rambutmu menutupi resletingnya..”
Shin Joo terdiam. Ia bahkan tidak bergerak dan menahan nafasnya.
Debar jantungnya seolah membuncah saat ia merasakan tangan Kyungsoo perlahan menyibakkan rambutnya yang panjang ke depan.
Kini punggung putih mulus Shin Joo terekspos. Dan Kyungsoo lah orang pertama – setelah penata rias yang melihatnya.
Shin Joo memiringkan kepalanya, menanti pergerakan yang akan dilakukan Kyungsoo selanjutnya.
Glek
Sekali lagi Kyungsoo menelan ludahnya susah payah. Untuk pertama kali dalam hidupnya ia melihat secara langsung punggung polos seorang gadis cantik, terlebih lagi hal itu dilihatnya di kamar sendiri.
Matanya kini beralih melihat wajah Shin Joo yang menoleh ke belakang, dan menantinya.
Kyungsoo sedikit membungkuk untuk mencari resleting gaun pengantin Shin Joo yang memang kecil berwarna serupa dengan gaun tersebut. Membuatnya susah ditemukan.
Entah mengapa, walaupun sudah menahannya, nafas Kyungsoo terasa begitu kencang. Nafas hangat tersebut berhembus keluar dari hidungnya, menyentuh permukaan kulit punggung Shin Joo menimbulkan rasa geli bagi sang pemilik punggung.
Shin Joo memejamkan matanya rapat-rapat sambil menggenggam erat tangannya sendiri, berusaha untuk tidak mengeluarkan reaksi apapun hingga Kyungsoo berhasil menurunkan resletingnya.
Sepertinya Kyungsoo telah berhasil menemukan resleting gaun yang di kenakan istrinya. Dengan perlahan namja itu menarik turun resleting tersebut hingga kini hampir seluruh permukaan punggung Shin Joo terekspos.
Shin Joo menjilat bibirnya sendiri yang kering. Gadis itu sedikit menoleh ke belakang,
“Gomawo oppa.” Ucapnya lirih.
Kyungsoo yang tersadar mengangguk,
“Sekarang mandi-lah. Aku akan menemui noona ku dulu selagi kau mandi.” Ujarnya sebelum akhirnya berbalik badan dan melangkah pergi meninggalkan kamar dan istrinya.
Jbert !
Pintu kamar tertutup dari luar seiring dengan Shin Joo yang menghembuskan nafasnya lega. Gadis itu memegang dadanya sendiri dimana di dalamnya jantungnya masih berdebar begitu cepat. Ia menepuk-nepuk wajahnya sendiri. Anni. Dia tidak boleh berpikiran macam-macam untuk saat ini. Kyungsoo adalah namja pintar dimana ia tidak akan mengambil resiko dengan melakukan hal lebih yang mungkin menurut namja itu tidak sepantasnya dilakukan oleh pasangan muda seperti mereka, terlebih jika mengingat mereka masih berada di bangku SMA.
Dengan malas Shin Joo yang sudah berganti dari pakaian pengantin dengan handuk mandinya berjalan menuju ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar Kyungsoo. Dan woah..
“Apa ini?” Di dalam kamar mandi Shin Joo mendapati sebuah bingkisan besar yang tergeletak diatas toilet yang tertutup.
“Untuk Hwang Shin Joo.” Gadis itu mulai membaca secarik kertas yang terdapat di dalam bingkisan tersebut.
“Hai adik iparku ^^, selamat atas pernikahanmu. Eonni bawakan perlengkapan mandi, ada scrub bunga sakura, ada milk bath, esens buah-buahan dan lain-lain, pakailah. Kyungsoo pasti akan menyukai aromanya. Kkk~” Shin Joo tersenyum malu membacanya. Mwo? Apa-apaan eonni ini? Kekehnya dalam hati.
Gadis itu mengeluarkan satu per satu botol yang ada di dalam bingkisan tersebut lalu membacanya satu persatu. Dengan penasaran tangannya menuangkan beberapa cairan dari botol-botol tersebut ke dalam bath tubenya yang sudah berisi air. Ia memainkan air tersebut dengan tangannya hingga berbusa sebelum akhirnya melepas handuknya dan masuk ke dalam bath tube tersebut. Ini bukan pertama kali bagi Shin Joo untuk berendam dan melakukan perawatan seperti ini. Profesinya sebagai model menuntutnya untuk terus merawat tubuhnya dengan baik, setidaknya setu minggu dua kali Shin Joo melakukan hal seperti ini di rumahnya sendiri. Gadis itu memejamkan matanya, merengkangkan otot-ototnya yang lelah. Aroma dari cairan-cairan yang ia masukkan untuk keperluan mandinya begitu membuatnya tenang. Rasanya Shin Joo ingin menghabiskan harinya dengan tidur berlama-lama di bath tube tersebut, namun ia ingat bahwa saat ini keluarganya pasti sedang menunggu. Jadi ia memutuskan untuk tidak membuang-buang waktu dengan mandi mewah seperti yang biasa ia lakukan.
Lima belas menit kemudian, Shin Joo keluar dari kamar mandi dengan berbalut handuk. Gadis itu menghampiri bingkisan yang ada di tepi ranjangnya. Bingkisan yang ia tahu dari sahabat-sahabatnya. Mereka bilang, hadiah mereka akan mempercantik Shin Joo nantinya.
Dengan penasaran Shin Joo membuka bingkisan tersebut, dan..
“APA?!!” Gadis itu mendecak tidak percaya menemukan dua pasang bikini di dalamnya. Dengan gusar di letakkannya dua pasang bikini tersebut begitu saja di atas tempat tidur sebelum tangan satunya kembali menemukan lingerine berwarna putih tipis yang sangat minim. Shin Joo membentangkan lingerine tersebut dan bergumam tidak percaya.
“Apa-apaan mereka ini. Aishh…” Dengan kesal ia kembali memasukkan hadiah-hadiah yang dianggapnya konyol tersebut ke dalam tas bingkisan yang tadi di bukanya.
Bicara mengenai hadiah konyol, Shin Joo baru ingat bahwa ia pergi tanpa membawa sepotong pakaianpun yang seharusnya ia kenakan seusai mandi. Gadis itu terdiam berpikir keras. Jika untuk dalaman, bukan masalah Shin Joo memakai bikini tersebut. Namun untuk menutupi tubuhnya?
Iseng-iseng gadis itu memakai satu dari dua pasang bikini yang di terimanya sebagai hadiah pernikahan tersebut. Yang satu berwarna biru tua, dan yang satu berwarna putih. Shin Joo memilih yang berwarna putih karena dianggapnya senada dengan warna lingerine yang akan dipakainya juga.
Shin Joo membulatkan matanya saat melihat bayangan dirinya di cermin yang dilihatnya. Tangannya meraba-raba tubuhnya sendiri yang tampak begitu terekspos. Lingerine yang dikenakannya bahkan tidak menutupi belahan dada serta paha atasnya. Ini benar-benar tidak bisa dibiarkan. Setelah memutar otaknya beberapa saat, Shin Joo memutuskan untuk meminjam kaos dan celana pendek milik suaminya sebab setelah ini ia akan turun dan menemui keluarga barunya. Jelas tidak mungkin ia pergi dengan memakai lingerine seperti itu, kecuali jika ia akan berdiam diri di kamar, dimana hanya akan ada ia dan Kyungsoo – suaminya di sana.
ᴥ♥ᴥ♥ᴥ
“Nah itu dia akhirnya menantu kita turun, ayo makan dulu.” Gumam eomma Kyungsoo sambil menata piring diatas meja makannya.
“Ya, ibu, maaf lama. Tadi aku tidak membawa baju ganti sehingga aku meminjam baju Kyungsoo oppa dulu.” Jelas Shin Joo yang lalu duduk di sebelah suaminya.
Gadis itu melirik ke sebelah dan tersenyum malu saat tanpa sengaja kedua matanya bertemu pandang dengan kedua mata Kyungsoo yang kini pemiliknya terlihat salah tingkah.
“Oppa, aku pinjam baju mu dulu, ya.” Bisik Shin Joo di sebelah telinga Kyungsoo. Aroma tubuh Shin Joo yang begitu wangi membuat Kyungsoo terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk. Entah mengapa setiap mencium aroma tubuh Shin Joo atau bahkan aroma parfumnya pun, Kyungsoo merasakan darahnya mengalir lebih cepat, jantungnya berdegup lebih keras sering dengan nafasnya yang tiba-tiba memburu.
Namja itu mengalihkan pandangannya menuju ke meja makan untuk membuang sekaligus menyembunyikan perasaan aneh yang mengusiknya kesekian kalinya muncul mengganggunya itu.
“Emm, jadi apakah besok kalian akan langsung kembali masuk ke sekolah?” Tanya Kyung Gi memulai pembicaraan mengingat tanggal merah di kalender hanya ada satu yaitu hari ini.
Kyungsoo menganggu mengiyakan,
“Aku harus kembali ke laboratorium besok sebab ada pengamatan 1 x 24 jam yang harus ku lakukan.” Terangnya.
“Kau? Bagaimana denganmu, Shin Joo?” Kini Kyung Gi memfokuskan pandangannya ke gadis yang tengah menyendok nasi dari piringnya itu.
Dengan santai, Shin Joo menjawab,
“Entah eonni, mungkin besok manager akan memintaku melakukan pemotretan yang tertunda hari ini.”
“Aah, begitu. Aigoo kalian suami istri yang sama-sama sibuk, ne? Lalu kapan kalian akan berlibur? Aku punya voucher berlibur yang sayang jika di lewatkan..” Ujar Kyung Bi yang diikuti anggukan eommanya.
“Dalam waktu dekat ini mungkin tidak akan ada libur, noona. Kegiatan kami di sekolah sangat banyak, sepertinya kami tidak bisa berlibur.” Kyungsoo segera menjawab tegas dan itu menyebabkan semua mata kini tertuju padanya.
Shin Joo sedikit tersedak mendengar ucapan suaminya itu. Sebegitu sibuknya kah ia? Tidak ingin terlihat kecewa, Shin Joo menambahkan,
“Dan mungkin aku juga sibuk dengan jadwal pemotretanku, eonni. Maafkan aku..”
Kini Kyungsoo berganti memandang Shin Joo yang tengah menunduk. Sepertinya ia telah membuat istrinya itu kecewa dengan apa yang baru saja ia ucapkan.
“Ah, kenapa harus meminta maaf? Teman kuliahku selalu memberiku voucher liburan secara cuma-cuma sebab ia adalah anak dari pemilik agen pariwisata terbesar di Jepang yang melayani untuk liburan ke seluruh berbagai negara. Aku bisa memberikannya sewaktu-waktu begitu kalian sudah longgar.” Terang Kyung Gi sebelum memasukkan sendok nasi ke dalam mulutnya.
“Oh ya, eonni. Ngomong-ngomong terimakasih untuk hadiahmu.” Ujar Shin Joo malu-malu, membuat Kyung Gi terkekeh senang.
“Kau sudah memakainya?” Tanya Kyung Gi diikuti anggukan Shin Joo. Keduanya lalu sama-sama tertawa. Tawa yang sama sekali tidak akan dimengerti oleh Kyungsoo mengapa.
“Ngomong-ngomong, apakah kalian sudah pernah berkunjung ke rumah baru kalian? Itu hadiah spesial dari appa dan eomma bagi pernikahan kalian. Letaknya ada di pinggiran kota Seoul, sedikit jauh memang dari sekolah, namun mungkin kalian bisa berkunjung kesana untuk sekedar menghabiskan weekend.” Ujar eomma Kyungsoo tiba-tiba, dan itu sedikit membuat Shin Joo tersedak. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa mertuanya bahkan menyiapkan rumah untuknya dan Kyungsoo.
“Rumah?” Ulang Shin Joo tak percaya.
“Ya, rumah. Dekat dengan rumah nenek Kyungsoo.” Tambah eommanya lagi.
Kini Shin Joo dan Kyungsoo saling melirik, Shin Joo menatap Kyungsoo dengan tatapan yang seolah menanyakan,
‘Mengapa kau tidak memberitahu sedikitpun mengenai rumah?’
“Astaga eomma, kenapa repot sekali?” Shin Joo mengalihkan fokus.
“Itu sudah eomma dan appa siapkan sejak kalian dijodohkan, tapi kami memang sengaja tidak memberitahu Kyungsoo mengenai ini. Kau suka?” Eomma balik bertanya dan itu memberi kejelasan kepada Shin Joo bahwa Kyungsoo dan ia sama-sama baru tahu mengenai rumah itu hari ini.
“Tentu saja suka, eomma. Gamsahamnida. Kami akan berkunjung ke san..”
“Week end ini dan week end depan aku tidak bisa pergi,” Kyungsoo memotong ucapan Shin Joo sebelum ibunya sempat menanggapi lebih dan lebih mengenai liburan. Dapat dilihat dengan jelas dari wajah Shin Joo jika gadis itu benar-benar kecewa. Baiklah, untuk liburan panjang Kyungsoo sudah menolaknya, dan bahkan liburan yang hanya berlangsung selama dua hari di sabtu dan minggu pun Kyungsoo tidak berencana untuk menggunakannya dengan Shin Joo.
Shin Joo kira semua akan menjadi begitu indah dan dapat dilakukan dengan mudah setelah pernikahannya berlangsung, namun ternyata… Suaminya sendiri sepertinya tidak menginginkan relasi yang lebih dengannya.
Setelah mendengaran penuturan Kyungsoo, Shin Joo tak lagi berniat untuk memandang ke sebelah, memandang Kyungsoo. Ia tidak ingin mereka bertatap muka lagi baik secara sengaja atau tidak. Shin Joo tidak ingin Kyungsoo melihat raut wajah kecewanya jika nanti mereka bertatapan.
Tanpa pikir panjang lagi, Shin Joo tersenyum dan berkata,
“Kyungsoo oppa memang sangat sibuk eomma. Aku akan pergi besama eomma, appa, dan Kyung Bi jika memang Kyungsoo oppa tidak bisa menemani.” Ucapannya lepas begitu saja. Biarlah setelah ini Kyungsoo berpikir apa tentangnya, namun ia hanya tak ingin terlihat kecewa dan marah yang sungguh kekanak-kanakan.
Shin Joo kembali menunduk dan memandang makanannya dengan tatapan kosong, mencoba meredam kekecewaannya sendiri. Tanpa ia sadari, sepasang mata bulat milik Kyungsoo sedang meliriknya, tatapan sepasang mata itu seolah mengerti bahwa ia bersalah memang telah mengecewakan istrinya. Tatapan sepasang mata yang seolah mengerti bahwa saat ini Shin Joo tengah kecewa walaupun gadis itu bersikap seolah dirinya sama sekali tidak keberatan.
Kyungsoo kembali menatap piringnya, dalam angan ia berpikir, mungkin nanti ia akan menjelaskan kepada istrinya tentang alasan Kyungsoo menolak semua liburan tersebut. Kyungsoo yang baru saja merasakan bahagianya menikah tidak ingin merusak kebahagiaan antara ia dan istrinya tersebut dengan membiarkan Shin Joo kecewa terlalu lama dengan dirinya. Kyungsoo tidak akan membiarkan kekecewaan itu membelenggu dan nantinya akan menimbulkan jarak diantara keduanya.
ᴥ♥ᴥ♥ᴥ
Hari ini begitu melelahkan bagi Shin Joo dan Kyungsoo dimana mereka belum sempat beristirahat sama sekali. Rekan-rekan dokter appa Kyungsoo terus berdatangan ke rumah untuk memberikan selamat kepada pernikahan Kyungsoo sehingga mau tak mau keduanya harus menyambut tamu-tamu tersebut.
Menjelang pukul 21.00 KST, rumah tersebut mulai sepi. Tak ada lagi tamu yang datang berkunjung. Shin Joo melangkahkan kakinya malas menuju ke kamarnya di lantai dua, mendahului Kyungsoo yang masih menutup pintu. Namun sebelum Shin Joo menaiki tangga, Kyungsoo berpesan kepada istrinya tersebut,
“Jika kau lelah istirahatlah dulu, aku masih harus mengerjakan laporan di ruang belajarku.”
Seolah mengerti bahwa di saat hari pertama setelah mereka menikah pun, Kyungsoo masih saja sibuk, Shin Joo hanya mengangguk dan bergegas menuju ke kamarnya.
Jbret!
Gadis itu menutup pintu kamar dari dalam dan menghempaskan tubuhnya di ranjang besar milik Kyungsoo. Melelahkan. Benar-benar melelahkan.
Mungkin malam ini tidak akan terjadi apapun, Kyungsoo masih sibuk dengan laporannya dan Shin Joo pun tak berharap lebih.
Entah mengapa walaupun lelah, gadis itu tidak kunjung memejamkan matanya. Merasa bosan karena sedari tadi hanya berguling-guling, gadis itu membuka kado pernikahan yang ia sadari belum ia buka sepenuhnya. Tadi siang ia hanya membuka kado dari Yonhee, dan sekarang tangannya tergerak untuk membuka kado dari Kwang Gi dan Eunjae.
Dengan semangat ia membuka kado dari Eunjae, berharap menemukan sesuatu yang berbeda.
Shin Joo mengambil hadiah dari dalam kotaknya dan membentangkan hadiah tersebut di depannya.
“astaga..”  Hanya itu yang bisa digumamkan Shin Joo dalam hati dengan bibir terbuka. Entah apa yang meracuni pikiran Eunjae dan Yonhee sehingga keduanya memberikan bikini dan lingerine kepada Shin Joo. Dengan geram gadis itu membuang begitu saja kado dari Eunjae dan kini beralih ke hadiah dari Kwang Gi.
Ia berharap Kwang Gi memberikannya baju tidur yang nyaman dan hangat sekalipun saat ini Shin Joo merasa kepanasan. Namun sepertinya ia salah berharap kepada Kwang Gi, sahabatnya yang paling gila itu justru hampir membuatnya meledak marah karena memberikan celana dalam super mini, atau bisa di sebut G-string sebagai hadiah pernikahannya.
Mereka gila. Semua sahabatnya gila. Apa yang ada di pikiran mereka saat memberikan semua ini untuk Shin Joo?
Ponsel Shin Joo bergetar tiba-tiba. Dengan malas gadis itu meraih ponselnya dan membaca pesan yang ia dapat. Dari Eunjae. Pesan tersebut berbunyi,
“Shin Joo-ah, kau sudah menerima hadiahku? Kkkk~ bagus kah? Pas kah? Coba lah ne, jika sudah beritahu aku bagaimana pendapatmu.”
Membaca itu Shin Joo mendecak tidak percaya. Dengan geram gadis itu melempar kembali ponselnya ke tempat tidur.
Dibukanya lagi kado dari Eunjae, sebelum akhirnya ia bentangkan lagi lingerine hitam tersebut ke udara untuk ia perhatikan lebih. Memang bagus, dan terlihat mahal, seperti selera Shin Joo. Haruskah ia mencobanya?
Shin Joo beranjak untuk sedikit membuka pintu kamarnya, kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan memastikan keadaan di sekitar kamar tersebut. Setelah dirasa aman karena seluruh penghuni rumah sepertinya telah tidur dan Kyungsoo sepertinya masih sibuk dengan laporannya, gadis itu menutup kembali pintu kamar tersebut. Merasa tidak ikut memiliki kamar, Shin Joo memutuskan untuk tidak menguncinya.
Shin Joo kembali memandangi bingkisan yang tergeletak di tepi kamarnya sambil tersenyum. Benar juga, daripada bosan sendiri di kamar tanpa tahu harus melakukan apa, mungkin sebaiknya ia mencoba satu per satu hadiah dari sahabat-sahabatnya itu.
Shin Joo mencoba bikini berwarna hitam dari Eunjae serta merta mengenakan lingerine hitam transparan yang memang satu paket dengan bikini tersebut. Gadis itu memandangi dirinya di depan kaca kamar Kyungsoo.
Eunjae memang gila. Ia memberikan lingerine yang dominan bertali-tali di bagian belakang punggungnya, sekali lagi mengekspos punggung Shin Joo yang indah.
Namun ligerine dan bikini tersebut terasa begitu nyaman bagi Shin Joo terutama di udara malam yang panas seperti ini. Gadis itu beralih ke tempat tidurnya lagi dan meraih ponselnya untuk membalas pesan Eunjae.
“Yak, kau gila. Kenapa kau memberiku benda ini? Tapi sungguh ini sangat nyaman dipakai. Kkk~ gomawo.” Begitulah isi pesannya.
Shin Joo kembali meletakkan ponselnya begitu saja, kali ini ia berjalan mendekati rak buku Kyungsoo yang unik. Semuanya tertata rapi di dalam dinding. Dari semua buku, entah mengapa Shin Joo tertarik dengan sebuah buku yang tak terlalu besar yang sepertinya itu adalah sebuah novel.
Gadis itu mangambil lepas buku tersebut dari rak nya dan mulai membuka-buka isinya, masih dengan berdiri di depan rak, membelakangi pintu kamarnya. Seolah terlarut dalam bacaan, Shin Joo terus membacanya bahkan sampai ia lupa bahwa ia masih memakai lingerine.
ᴥ♥ᴥ♥ᴥ
Kyungsoo melirik jam pada dinding di ruangan pribadinya, ruangan yang dikhususkan untuknya belajar, mengerjakan tugas, dimana semua tugas-tugas pentingnya tersimpan rapi di sana.
Sekarang sudah jam 23.00 KST, ia merasa sudah terlalu lama ia meninggalkan istrinya dengan segala macam kesibukan hari ini. Ia bahkan baru teringat bahwa ia belum menjelaskan kepada Shin Joo mengenai alasan mengapa ia menolak liburan tadi. Namun sepertinya Kyungsoo telah melewatkan kesempatan itu. Mungkin ia akan meminta maaf dan menjelaskannya besok, ia tidak mungkin membangunkan istrinya yang sudah pasti tertidur karena kelelahan seharian ini.
Namja itu beranjak keluar dan menutup ruang belajarnya menuju ke kamarnya sendiri di lantai dua. Ia merapatkan telinganya ke daun pintu kamar, memastikan apakah Shin Joo sudah tidur atau belum. Setelah dirasanya sepi, perlahan ia membuka pintu kamarnya dan sedikit terkejut mendapati tempat tidur yang kosong.
Kyungsoo melebarkan pintu kamarnya dan mendapati Shin Joo sedang berdiri membelakanginya. Baguslah jika Sin Joo belum tidur, itu berarti bahwa Kyungsoo dapat meminta maaf pada istrinya itu malam ini.
Ckleerk..
Tersengar suara pintu kamar yang dilebarkan dari luar, Shin Joo terkejut dan menoleh ke asal suara tanpa memutar badannya. Rupanya Kyungsoo telah kembali dari mengerjakan tugasnya.
“Kau belum tidur?” Tanya Kyungsoo sembari menutup pintu kamar kembali. Terdengar langkah namja itu berjalan mendekatinya. Mendekati Shin Joo yang masih berdiri mematung membelakanginya sambil membawa sebuah buku yang tadi dibacanya.
Shin Joo menoleh sekilas lalu menggeleng. Tiba-tiba gadis itu teringat bahwa ia hanya mengenakan lingerine tipis dan bikini saat itu. Saat ia hendak berlari ke tempat tidur untuk menutupi tubuhnya dengan selimut, tiba-tiba
Grep…
Ia merasakan kepala Kyungsoo berada di sebelah kepalanya, dagu Kyungsoo menopang di atas pundak gadis itu.
“Maafkan aku, apakah kau marah?” Kyungsoo berbisik pelan di telinga Shin Joo seraya menyibakkan anak rambut istrinya itu.
Deg deg deg deg deg deg
Glek~
Shin Joo menelan ludahnya susah payah, apa yang harus ia lakukan saat ini? Mengapa tiba-tiba Kyungsoo bersikap begini terhadapnya? Seolah tidak mampu berpikir jernih lagi, Shin Joo hanya menggeleng kecil tanpa menjawab pertanyaan Kyungsoo.
“Maafkan aku, aku bukannya tak ingin berlibur denganmu, namun harus ku beritahukan kepadamu, profesor Han kemarin memberitahuku, bahwa di kelas kita ada program akselerasi, dimana akan diambil 20 siswa peringkat teratas saja untuk dimasukkan ke program tersebut. Aku berpikir kita bisa mengikutinya, sebab kita akan lulus lebih cepat satu tahun daripada kelas regular. Dengan lulus yang lebih cepat, maka waktu berlibur kita akan lebih banyak nantinya. Kau mengerti, kan?” Jelas Kyungsoo panjang lebar.
Shin Joo hanya menunduk dan mengangguk mendengarkan. Entah mengapa ia merasa ucapan suaminya itu benar. Semakin cepat lulus, bukankah memang semakin baik? Semakin banyak juga waktu yang bisa mereka gunakan bersama nantinya.
“Jika kau setuju, kita akan mendaftar besok, namun sebagai gantinya, kita tidak memiliki waktu berlibur yang cukup hingga nanti kita lulus. Aku tidak ingin mengecewakanmu dengan mengatakan aku bisa berlibur denganmu tanpa mengetahui kepastian apakah aku benar-benar bisa atau tidak. Aku minta maaf..” Ucapan Kyungsoo benar-benar membuat Shin Joo mengerti dan berhasil menghapus kekecewaan yang sempat ia rasakan tadi.
Gadis itu tersenyum tipis, bersyukur memiliki suami yang benar-benar baik seperti Kyungsoo.
Shin Joo memiringkan sedikit kepalanya lalu berkata,
“Aku ingin mengikuti kelas akselerasi itu denganmu, aku juga ingin lulus lebih awal dan libur lebih lama bersamamu nantinya. Aku sudah tidak marah, tapi kau mau kan membantuku untuk bisa masuk ke kelas tersebut?” Tanya Shin Joo lirih.
“Kita akan belajar bersama setelah ini, aku akan membantumu.” Jawab Kyungsoo diikuti anggukan Shin Joo.
Entah apa yan mendorong Kyungsoo saat ini, perasaan bahagia mungkin? Namja itu mengecup bahu polos istrinya.
“Terimakasih.. Terimakasih karena tidak marah dan memaafkanku, terimakasih karena telah memahamiku..” Gumam Kyungsoo lirih sebelum akhirnya mengecupi kembali bahu Shin Joo.
Terimakasih, telah membuat hari spesial ini indah, Hwang Shin Joo~
“…” Shin Joo tak menjawab ucapan suaminya. Ia sibuk memejamkan mata dan menahan nafasnya yang memburu. Kyungsoo benar-benar membuatnya hampir gila dengan mengecupi bahunya berkali-kali.
Shin Joo memalingkan wajahnya dari Kyungsoo, berusaha menyembunyikan raut wajahnya yang mungkin saat ini memerah. Tanpa sadar gadis itu menggigit bibir bawahnya sendiri saat merasakan bibir basah Kyungsoo menyentuh kembali bahunya. Nafas Kyungsoo berhembus menyapu sekitar leher dan bahu Shin Joo membuat gadis itu semakin bergidik geli.
Kyungsoo mengangkat bibirnya dari permukaan bahu Shin Joo, tangannya lembut menyibakkan rambut hitam panjang istrinya itu.
Kembali dikecupinya bahu Shin Joo yang sudah sepenuhnya tak terhalang rambut tersebut, kini ciumannya merambat keatas menuju ke leher mulus milik Shin Joo membuat sang pemilik leher semakin merapatkan matanya yang tertutup.
Kyungsoo meraih dagu mungil istrinya dan menariknya untuk mempertemukan kedua wajah mereka.
Namja itu menarik lepas bibirna dari leher Shin Joo dan memandangi wajah istrinya yang kini matanya terpejam itu. Mata yang terpejam dengan bibir bawah yang tergigit seolah menanti pemberian yang lebih dan lebih.
Mengikuti apa yang dirasakan istrinya, Kyungsoo menelan ludahnya yang kelu, menjilat bibirnya yang tiba-tiba terasa kering dan mulai meredupkan matanya. Perlahan namja tu mendekatkan wajahnya ke wajah Shin Joo yang matanya masih terpejam. Semakin lama mata tersebut terpejam semakin rapat saat Shin Joo merasakan untuk kedua kalinya nafas Kyungsoo yang berbenturan dengan nafasnya.
Nafas yang masih sama. Nafas wangi yang beraroma mint.
Kyungsoo semakin meredupkan matanya saat ia sudah bisa merasakan hangatnya nafas Shin Joo di permukaan bibirnya.
Kyungsoo mengecup sudut bibir Shin Joo bersamaan dengan matanya yang terpejam. Shin Joo melepaskan bibir bawahnya yang tergigit, membiarkan bibirnya terbuka untuk menyambut ciuman dari Kyungsoo yang kini mulai merambat dari sudut ke tengah bibirnya.
Keduanya terdiam, terpejam merasakan sensasi sentuhan bibir mereka untuk yang kali kedua.
Kyungsoo mengangkat tangannya kembali, kali ini tangan tersebut memegangi kepala Shin Joo, menjaga agar istrinya tersebut tidak berpaling.
Kyungsoo mulai membuka bibirnya, mengecup bibir Shin Joo yang juga sedikit terbuka, menyambut kecupan yang diberikan oleh suaminya. Shin Joo mengulum bibir Kyungsoo yang berada diantara bibirnya, menghisap dan kembali melepaskannya mengikuti pergerakan yang dilakukan suaminya itu.
Indah. Keduanya terpaut dalam suasana menyenangkan yang diberikan satu sama lain. Ciuman kedua yang masih sama indahnya dengan ciuman pertama yang mereka rasakan tadi saat acara pernikahan berlangsung. Bahkan mungkin ciuman ini terasa lebih indah karena henya mereka berdua yang tahu, dimana mereka saling berinteraksi memberikan lebih dan lebih dalam ciuman tersebut, membuatnya terasa semakin indah.
Perlahan Kyungsoo menarik lepas bibirnya, kedua mata mereka terbuka. Sungguh, Kyungsoo belum pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya. Ia bahkan tidak tahu bahwa perasaan yang dirasakannya mampu menuntun dirinya melakukan ini semua.
Semua kegiatan yang dilakukannya begitu saja berdasarkan adrenalin yang terus terpacu dari dirinya begiu saja saat ia berada di dekat Shin Joo.
Kyungsoo menatap tajam ke dalam mata sayu milik Shin Joo. Begitu terfokusnya ia kepada wajah Shin Joo hingga ia baru menyadari bahwa istrinya hanya mengenakan lingerine tipis saat ini.
Namja itu kembali menelan ludahnya saat ia tak sengaja melihat punggung mulus Shin Joo yang ditutupi oleh tali-temali hitam tipis yang kini terekspos karena Kyungsoo telah menyibakkan semua rambut Shin Joo ke depan.
Bagaimanapun Kyungsoo juga seorang namja normal yang pasti akan merasa penasaran dan terangsang saat melihat istri sendiri berpakaian seperti yang dikenakan Shin Joo saat ini.
“Apakah kau sengaja memakainya?” Kyungsoo kembali merapatkan kepalanya ke bahu Shin Joo.
Gadis itu menggeleng perlahan,
“Anni.. Aku rasa malam ini udara begitu panas. Apakah kau tidak merasakannya?” Shin Joo bertanya ragu, takut jika Kyungsoo akan menjawab berbeda dengannya dan kembali menyuruh gadis itu memakai pakaian normalnya sebelum akhirnya mengajak Shin Joo tidur tanpa menyelesaikan kegiatan yang telah mereka mulai sebelumnya.
Kyungsoo berbisik pelan di telinga Shin Joo,
“Panas?” Ulangnya.
Shin Joo mengangguk ragu. Ia benar-benar takut jika..
“Kalau begitu yang kita rasakan sama. Ayo kita keluar.” Ujar Kyungsoo dan menuntun langkah istrinya menuju ke balkon kamarnya, tanpa peduli bahwa Shin Joo masih belum selesai terkejut saat itu.
“T..tapi oppa.. Aku hanya memakai ini, bagaimana jika..”
“Hanya aku, suamimu yang melihatnya, sebab tidak akan ada yang bisa melihat kita di balkon ini.”
Kyungsoo membuka pintu kaca balkonnya dan kembali menuntun langkah Shin Joo hingga keduanya merapat pada pagar balkon tersebut.
Masih dengan posisi yang sama, Kyungsoo kini mengecupi pipi Shin Joo. Sementara gadis itu hanya terdiam sambil memejamkan matanya, merasakan sentuhan-sentuhan pada setiap insh wajahnya yang diberikan oleh bibir Kyungsoo.
Namja itu menarik lepas kembali kecupannya sebelum akhirnya berbisik,
“Kau keberatan jika aku melanjutkannya?” Tanyanya.
Seolah sudah terbawa suasana, Shin Joo lagi-lagi tak menjawab, hanya menggeleng, pertanda bahwa ia tidak keberatan dengan apa yang dilakukan Kyungsoo padanya.
Kyungsoo tersenyum tipis sebelum akhirnya kembali meredupkan mata dan mendaratkan bibirnya pada bibir Shin Joo, membuat bibir mereka saling bertautan. Keduanya bahkan seolah lupa bahwa seharusnya mereka beristirahat karena besok pagi keduanya harus sekolah.
“Mmhh..” Desah Shin Joo saat Kyungsoo menarik leher gadis itu untuk lebih memperdalam ciuman mereka.
Sreet~
Tanpa sadar Shin Joo menggelanyutkan sebelah tangannya di leher Kyungsoo, mempersingkat jarak diantara mereka.
Tiba-tiba..
Tok tok tok..
“Hyung.. Aku mimpi buruk.” Terdengar suara Kyung Bi di depan pintu kamar mereka. Dengan cepat keduanya melepaskan tautan ciuman mereka dan sempat salah tingkah untuk beberapa detik.
Merasa tidak mungkin mengajak atau membiarkan Shin Joo yang berpakaian seperti itu untuk menemui Kyung Bi, Kyungsoo memutuskan untuk menemui Kyung Bi sendiri.
“Tunggu disini.” Gumam Kyungsoo sesaat sebelum menghampiri pintu untuk menemui dongsaengnya itu.
Pintu terbuka, tampak Kyung Bi berdiri di depan kamar Kyungsoo dengan raut wajah ketakutan.
“Kau mimpi buruk?” Tanya Kyungsoo sembari menutup pintunya dari luar diikuti anggukan Kung Bi. Namja itu menuntun langkah Kyung Bi menuju ke kamarnya yang berada beberapa meter dari kamar Kyungsoo.
Kyung Bi memeluk guling saat ia telah kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
“Hyung, apakah Shin Joo nona sudah tidur? Apa yang kalian lakukan di dalam kamar?”
Deg!!
Kyungsoo membulatkan matanya tidak percaya. Entah bagaimana dongsaengnya bisa bertanya seperti itu.
Kyungsoo menjawab pertanyaan Kyung Bi setenang mungkin,
“Ia sudah tertidur, Kyung Bi.. Sekarang kau tidurlah..” Ujarnya berbohong.
Sementara itu di kamar Kyungsoo, masih diatas balkon, Shin Joo termenung sambil meraba bibirnya sendiri yang kini terasa lengket. Lengket atas saliva keduanya yang tertukar saat berciuman tadi. Pikiran Shin Joo melayang, berkhayal dan bertanya-tanya bahwa Kyungsoo telah melakukan semua itu padanya. Gadis itu berandai-andai tentang apa yang akan terjadi setelah ini.
Ckleek~
Seolah tak membiarkan Shin Joo menunggu terlalu lama, Kyungsoo kembali dari kamar Kyun Bi dan kali ini menutup sekaligus mengunci pintu kamarnya.
Shin Joo menoleh sejenak lalu tersenyum ke arah Kyungsoo sebelum akhirnya pandangannya kembali tertuju ke pemandangan di depannya di atas balkon.
Kyungsoo berdiri di belakang Shin Joo dan berbisik,
“Bisakah aku kembali melanjutkannya?” Tanyanya lirih.
Shin Joo tersenyum tipis sebelum akhirnya mengangguk.
Kyungsoo menyibakkan kembali rambut panjang Shin Joo yang menutupi punggungnya, kali ini namja itu mengecupi bagian belakang tubuh istrinya itu, mulai dari tengkuk, terus turun ke bawah hingga ke punggung.
“Mmmhhh..” Shin Joo menahan desahan yang keluar dari bibirnya saat merasakan sapuan basah bibir Kyungsoo yang mengecupi punggungnya. Rasanya sungguh geli, hangat, lembut, dan menyenangkan. Shin Joo memejamkan matanya rapat-rapat dan menggigit bibir bawahnya kembali.
Dapat dirasakan olehnya bahwa saat ini Kyungsoo mulai melepas tali temali pada bagian belakang lingerine Shin Joo, membuat lingerine tersebut mengendor begitu saja dari tubuh gadis itu.
Tali terakhir berhasil di lepas Kyungsoo, dan saat ini tampak punggung mulus Shin Joo yang sepenuhnya terbuka.
Tidak menunggu lama lagi, Kyungsoo mengecupi punggung polos tersebut, menyapu seluruh permukaannya membuat pemiliknya mendesah geli. Sesekali ciuman Kyungsoo berubah menjadi hisapan-hisapan kuat yang menimbulkan bercak merah pada punggung Shin Joo.
“Aakhh…” Pekik Shin Joo saat ia merasakan Kyungsoo mengigit bahunya dengan mesra, mengulumnya, menghisapnya dan kembali meninggalkan bercak merah disana.
Merasa lingerine yang dipakainya semakin mengendor dan hampir jatuh, Shin Joo menggunakan tangannya untuk memegang erat lingerine tersebut agar tetap menghalangi buah dadanya yang sudah sedikit terlihat.
Kyungsoo merambatkan kecupannya kembali menuju ke leher samping Shin Joo, merasakan wangi aroma tubuh istrinya yang unik.
Shin Joo menggerakkan kepalanya, menggeliat ke kiri dan ke kanan mengikuti pergerakan ciuman suaminya.
Ini benar-benar nikmat dan memabukkan.
Tanpa memindah kecupannya, Kyungsoo memutar balik tubuh Shin Joo sehingga kini keduanya saling berhadapan.
Shin Joo mengalungkan kedua tangannya di leher Kyungsoo, memeluk erat namja itu, menyempitkan jarak diantara keduanya.
Kecupan Kyungsoo kini merambat ke leher bagian depan Shin Joo terus merambat ke atas hingga kembali pada dagu dan bibir mungil istrinya itu.
“Emmhh..”
“Mmhhh..”
“Hhhmmhh”
Desahan terus terdengar dari keduanya saat lidah mereka saling bertemu, bibir mereka saling menghisap, dan saliva mereka saling bertukar.
Tanpa melepaskan ciuman dan pelukan tangan Shin Joo di lehernya, Kyungsoo mengangat tubuh ramping Shin Joo dan menggendongnya bridal style menuju ke dalam kamar dan merebahkan tubuh gadis itu di atas tempat tidurnya.
Tampak lingerine yang dikenakan Shin Joo benar-benar melorot dari tempat semestinya memperlihatkan kedua buah dadanya yang cukup besar dan sintal hanya berbalut bra bikini hitam.
Kyungsoo menarik lepas ciumannya dari bibir Shin Joo dan beralih mengulum daun telinga Shin Joo. Entah darimana Kyungsoo mendapat semua pelajaran ini, namja itu hanya mengikuti nalurinya sebagai lelaki yang tak ingin mengecewakan pasangannya.
“Aaah.. Oppaah..” Desah Shin Joo geli ketika ciuman Kyungsoo merambat turun ke buah dada Shin Joo.
Namja itu memperlakukan buah dada Shin Joo sama seperti bagian tubuh Shin Joo yang lainnya. Dikecupnya, di hisapnya, di gigitnya kecil hingga kembali membentuk bercak merah disana.
“Eunggghh..” Shin Joo mengerang sembari menjambak lembur rambut Kyungsoo saat ia rasakan jemari Kyungsoo masuk ke dalam bra bikininya dan menemukan nipplenya di sana.
Shin Joo merasakan hampir gila saat Kyungsoo mempermainkan nipplenya dengan jari-jarinya di balik bra tersebut.
Merasa kurang leluasa dengan aktivitasnya, Kyungsoo menggerakkan tangannya untuk menarik lepas bra yang dikenakan Shin Joo dan menyingkirkan bra tersebut ke tepian ranjang yang cukup jauh dari tempat keduanya.
Kembali memejamkan mata, Kyungsoo mencium gundukan yang sudah tak terhalang sehelai benangpun tersebut, melumatnya, dan menghisapnya kuat. Namja itu menggeser sedikit kecupannya hingga kali ini berada di puncak buah dada Shin Joo, mengecup lagi, mengulum lagi, dan menghisap lagi kuat-kuat.
“Ahh nggghhh..” Shin Joo menggigit bibr bawahnya kuat-kuat merasakan nikmatnya perlakuan Kyungsoo pada nipplenya.
Selesai dengan dada kanan Shin Joo, namja itu beralih pada dada kiri istrinya dan memberikan perlakuan yang sama.
Kyungsoo merasa akal jernihnya telah hilang, nafsu telah menuntunnya pada kebutaan untuk melakukan lebih dan lebih.
Setelah kelar dengan kedua buah dada Shin Joo, dengan sekali gerakan namja itu menarik lepas kaos yang dikenakannya, menunjukkan dada kurusnya yang bidang dan terbentuk.
Dengan nafas terengah engah di dekatkannya kembali wajahnya dengan wajah Shin Joo. Namja itu kembali mencium bibir istrinya, melumat dan menghisapnya kuat, menyalurkan perasaan yang membuncah dari dalam dirinya.
Shin Joo menyambut ciuman suaminya dengan intensitas yang sama dengan yang diterimanya. Tangannya tergerak turun membelai tubuh Kyungsoo, mulai dari bahu, dada, hingga perut bidang namja itu.
Shin Joo meraih ikat pinggang yang dikenakan Kyungsoo dan mencoba membukanya, mencoba mengendorkan celana yang sepertinya sedikit menghalangi aktivitas Kyungsoo tanpa melepas ciuman mereka.
Terdengar resleting Kyungsoo yang terbuka, membuat namja itu menghentikan sejenak aktivitasnya. Masih dengan nafas yang memburu, Kyungsoo melanjutkan pekerjaan Shin Joo dengan melepas celananya sendiri, menyisakan boxer hitam di tubuhnya.
Kyungsoo mengambrukkan tubuhnya di atas tubuh Shin Joo kembali, menggigiti dan menghisap lembut bahu gadis itu menambahkan kembali jejak merah di sana.
“Hhhmmhh.. Apakah kau percaya padaku?” Ia berbisik di sela kecupannya.
“Aaahh.. H’mm” hanya itu yang keluar dari bibir Shin Joo sebagai persetujuan dari pertanyaan suaminya tersebut.
Kyungsoo kembali melumat bibir Shin Joo dengan tangannya yang kini mulai menurunkan celada dalam dan lingerine Shin Joo yang masih tersisa di tubuhnya.
Tangan Kyungsoo memegang kaki ramping Shin Joo, mencegahnya untuk tidak menutup.
“Aaahh~” desahan nafas Shin Joo meluncur begitu saja saat dirasakannya jari Kyungsoo menyentuh bagian tersensitifnya.
Sekali lagi, seberapa jenius polosnya Kyungsoo mengenai cinta dan sex, ia tetaplah seorang laki-laki normal yang akan merasa terangsang dan menyukai nikmatnya bercinta dimana hal itu membuat nalurinya menuntun dirinya untuk melakukan hal-hal menyenangkan. Menyenangkan seperti membuat Shin Joo mendesah dan memejamkan matanya menahan nikmat contohnya.
“Ngghh.. Oh.. Oppa.. Ahh..”
Kyungsoo senang memainkan jemarinya di miss v Shin Joo, dimana ia dapat mendengarkan suara desahan merdu istrinya itu, membuat gairahnya semakin memuncak.
Penasaran dengan bagaimana rasanya apabila juniornya yang menggantikan pekerjaan jemarinya tersebut, Kyungsoo menurunkan boxernya dan menariknya lepas, menampakkan juniornya yang sudah berdiri menegang.
Kyungsoo menarik tangan lentik Shin Joo dan menuntun tangan itu untuk menyentuh juniornya yang sudah sangat keras.
“Enggghhh..”
Desahan pertama Kyungsoo lepas saat untuk pertama kalinya ia merasakan sentuhan seorang gadis di permukaan juniornya.
Sama halnya dengan yang dilakukan Kyungsoo, Shin Joo mengikuti nalurinya untuk melakukan lebih demin mendengar kembali erangan nikmat suaminya itu.
“Aaahh Shin Joo-ah..ah..” Desahan itu kembali meluncur saat tangan Shin Joo meremas junior milik Kyungsoo yang semakin mengeras. Entah mengapa desahan yang keluar dari bibir suaminya itu terdengar begitu seksi di telinga Shin Joo.
Gadis itu meremas, mengocok dan memijit batang junior Kyungsoo hingga menegang sempurna.
“Mmhhhh.. Ahh..” Desah Kyungsoo untuk kesekian kali. Merasa semakin tidak tahan dengan nafsu yang sudah menguasainya, Kyungsoo menarik lepas Juniornya dari tangan Shin Joo dan kini memposisikan dirinya berlutut diantara kedua paha Shin Joo.
“Euungghhh…” desah keduanya nikmat saat kedua titik sensitif mereka bersentuhan.
“Aahhkk!” Pekik Shin Joo saat sesuatu yang tak lain adalah junior Kyungsoo mencoba menerobos lubang miss V nya.
“Oppah.. Enghh.. Ahhmm” Shin Joo mermbuka mulutnya, merintih kesakitan.
Kyungsoo mengambrukkan tubuhnya menimpa Shin Joo seolah memberikan bahunya untuk digigit oleh istrinya demi menahan rasa sakit tersebut.
Mengerti maksud Kyungsoo, Shin Joo menggigit pundak Kyungsoo sedikit keras, jarinya yang berkuku rapi mencengkram erat punggung Kyungsoo yang basah akan keringat.
“Aaakhhh..” Desah Kyungsoo sakit sekaligus nikmat, ia merasakan perih pada bahunya yang digigit keras oleh Shin Joo, namun namja itu tahu, perih yang dirasakan Shin Joo pasti jauh lebih menyakitkan daripada yang ia rasa.
“Engghh akh.. Hiks..” Shin Joo menringis kesakitan dengan bibirnya yangbergantian menggigit bahu dan leher Kyungsoo sementara tangan satunya menjambak kasar rambut namja itu seolah memberi tahu betapa sakitnya yang ia rasakan di bawah sana.
“Mianhae..hhhh..mianhae..tahan sebentar lagi..” Bisik Kyungsoo terengah di sebelah telinga Shin Joo. Gadis itu mengangguk, memejamkan matanya erat dan
“Aahhhkkk!!”
Pekiknya cukup keras saat ia merasakan perih yang begitu menyakitkan di dalam vaginanya.
Kyungsoo mendekatkan wajahnya, menawarkan ciuman kepada istrinya itu. Shin Joo yang notabene kesakitan segera meraup bibir Kyungsoo dan menggigitnya demi menyalurkan rasa sakit yang ia rasakan.
Walaupun sakit akibat gigitan dan jambakan Shin Joo, Kyungsoo yang kali ini memejamkan matanya sambil melumat bibir Shin Joo tidak pernah berpikir bahwa seks bisa senikmat ini.
“Enggh..” Desah Shin Joo di sela ciuman mereka saat dirasakannya tangan Kyungsoo meremas buah dadanya.
Tanpa melepaskan ciuman mereka, perlahan Kyungsoo menarik keluar juniornya yang sudah masuk sempurna kedalam miss v Shin Joo, menyisakan ujung kepalanya disana dan
“Aakhh!” Pekik Shin Joo tertahan saat Kyungsoo kembali melesakkan juniornya masuk.
Hal yang sama diulanginya berkali-kali sampai dirasanya Shin Joo mulai terbiasa dengan keberadaan juniornya yang cukup besar di dalam sana.
Kyungsoo menarik lepas ciumannya dengan Shin Joo dan kini berganti posisi memeluk tubuh istrinya tersebut.
Dengan sekali gerakan, Kyungsoo menggenjot juniornya keluar masuk miss v Shin Joo, membuat pemiliknya merasakan sensasi yang tak bisa dinalar dengan kata-kata.
Nikmat, perih, ngilu, geli.
“Aahh.. Ah.. Eungghh.. Emhh.. Oppah..”
“Hahh ahh.. Ahh ngghh..”
“Mmmmmhhh mcchh.. Shh.. F..faster..hhhh..”
Mengerti apa ang diinginkan istrinya, Kyungsoo mempercepat gerakan juniornya untuk keluar masuk di bawah sana, berkali-kali Kyungsoo merasakan nikmat yang luar biasa saat juniornya terasa dihisap kuat oleh miss v Shin Joo yang sempit. Di bawah sana, sepertinya junior Kyungsoo dipijat, dihisap, dikocok oleh miss v Shin Joo yang semakin basah. Begitu pula dengan apa yang dirasakan Shin Joo. Miss v nya terasa diaduk, diobok-obok dimanjakan dan diberi service memabukkan oleh kocokan junior suaminya di bawah sana.
“Aaah.. Ah.. Oppah.. Nikmat.. Ngghh..” Rancau Shin Joo yang sudah kehilangan akal sehatnya itu.
Menyalurkan nikmat yang dirasakannya, Shin Joo mengecupi leher suaminya sambil sesekali menghisapnya lembut, meninggalkan sedikit bercak merah disana. Ia tidak ingin terlalu mengekspos tanda merah kepemilikannya di leher Kyungsoo mengingat besok Kyungsoo harus pergi ke sekolah dan bertemu dengan teman-temannya.
“Aaahhh..ahh..mmhhh..”
“Aahh..oppaah.. Ahhh.. Thanks.. Inih.. Ah.. Nikmat..” Shin Joo semakin merancau tidak jelas manakala dirasakannya sesuatu ingin keluar dari dalam miss v nya, mewakili rasa nikmat yang melandanya.
“Ngghh ooh.. Hwang Shin Jooh..”
“Aahkk oppah.. Akhu..aakhh akhuu mau ke..luar ooppah..”
Kyungsoo mempercepat genjotannya, dan kali ini namja itu kembali meremasi kedua buah dada Shin Joo yang sepertinya begitu ia sukai.
“Ooh.. Aaah..”
Remasan Kyungsoo semakin kasar dan keras seiring dengan rasa nikmat yang semakin menjalar di rubuhnya. Ia terus meremas buah dada tersebut, membuat sang pemilik mendesah sakit sekaligus nikmat.
“Aaahh.. Ah.. Ooh.. Dearhhh.. Mmmhh..” Desahan terus meluncur dari bibirnya, mengimbangi desahan yang keluar dari bibir Shin Joo.
“Aaah oppah.. Ak..aku kel..keluarhh..” Tubuh Shin Joo menegang nikmat, bibirnya terbuka lebar dan matanya terpejam merasakan sensasi memabukkan saat miss v nya mengeluarkan cairan cinta pertama Shin Joo untuk Kyungsoo.
“Ngghh.. Ahh.. Aku juga.m emhhh.mm..m” Kyungsoo meremas keras buah dada Shin Joo dengan mata terpejam dan bibir yang terbuka, merasakan nikmat luar biasa
“Aaah.. Ahh.. Shin.. Ah.. Joohh..”
Blurr~
Dapat dirasakan cairan sperma hangat dari Kyungsoo yang menembur ke dalam ruang vagina istrinya.
Nikmat. Sungguh nikmat. Pengalaman seks yang nikmatnya jauh diluar dugaan masing-masing. Kini keduanya tahu bagaimana rasa bercinta, terlebih dengan pasangan yang sudah terikat jalinan pernikahan seperti ini. Kenikmatan yang jauh terasa lebih bebas dan tanpa beban, kenikmatan yang jauh terasa lebih saling memiliki karena tahu bahwa mereka ditakdirkan untuk bersama dan melakukan semua kegiatan cinta ini. Kenikmatan yang mungkin akan mereka rangkai bersama kembali dengan lebih dan lebih suatu saat nanti. Kenikmatan yang bukan hanya sekedar nikmat tapi juga yang akan menuntun hubungan mereka menjadi lebih dekat dan bahagia.
Brukk~
Kyungsoo merebahkan tubuhnya di sebelah Shin Joo setelah melepas kontak diantara mereka. Keduanya saling bertukar pandang dan tersenyum.
“Terimakasih oppa, aku mencintaimu.”
Bisik Shin Joo lirih.
Untuk pertama kalinya Shin Joo berani mengungkapkan secara langsung apa yang ia rasakan terhadap Kyungsoo selama ini.
Kyungsoo terdiam memandang istrinya yang tampak tersenyum dan terengah kelelahan. Secara berani istrinya telah mengungkapkan prasaan kepadanya.
Namja itu berpikir sejenak. Saranghae?
Jadi perasaan indah yang selama ini ia rasakan memang benar adalah cinta? Jika boleh memikirkan logika, sejak kapan Kyungsoo jatuh cinta pada istrinya itu?
“I love you too.”
Untuk pertama kalinya dalam hidup Kyungsoo ia menyatakan cinta kepada seorang gadis. Dan itu adalah istrinya sendiri. Kini namja itu semakin yakin bahwa perasaan yang selama ini ia rasakan saat bersama Shin Joo adalah benar-benar cinta.
Thanks to my wife~
Terimakasih karena kau telah menuntunku kepada apa itu cinta yang selama ini tak pernah ku ketahui kepastiannya. Terimakasih karena kau yang membangkitkan debar di jantungku untuk pertama kalinya dan membuatku merasakan apa itu bahagia. Aku tak tahu sejak kapan aku merasakannya, tapi aku tahu, aku telah jatuh cinta padamu, istriku. Terimakasih kau telah membuat segalanya terasa lebih indah dan hidup.
Aku mencintaimu. Ya, benar. Aku memang mencintaimu.
ᴥ♥ᴥ♥ᴥ
Kriiiing!
Kyungsoo dan Shin Joo berlari menuju ke kelas mereka bersamaan dengan suara bel tanda yang berbunyi. Keduanya bangun terlambat karena kelelahan. Karena posisi duduk yang berubah-ubah di dalam kelas, kali ini Kyungsoo duduk di belakang Shin Joo. Merasa ada yang berubah dari posisi sebelumnya, Shin Joo menoleh ke belakang dan mendapati Kyungsoo yang ternyata juga sedang memandang ke arahnya. Keduanya sama-sama tersenyum malu dan bahagia.
“Fighting!” Shin Joo berseru kecil menyemangati suaminya itu. Sementara Kyungsoo hanya memberikan winknya untuk Shin Joo. Asal Shin Joo tahu, meskipun hanya sebuah wink, itu adalah pertama kalinya Kyungsoo memberikan wink kepada seroang gadis, dan gadis itu adalah Shin Joo, gadis yang telah menguasai perasaannya saat ini.
Tap tap tap
Miss Suzan memasuki ruang kelas dan berhenti sejenak, mengedarkan pandangannya.
“Kyungsoo and Yixing, please go and meet Han Professor at laboratory now.” Ucapnya.
Beberapa saat kemudian Kyungsoo dan Yixing beranjak dari tempat duduk mereka sambil membawa keperluan laboratorium masing-masing.
Sepeninggal kedua namja tersebut, miss Suzan segera memberikan lembaran kepada murid-murisnya.
“Give to your friends” ucapnya menyuruh deretan terdepan untuk melakukan estafet lembaran tersebut ke belakang.
Sreek
Seorang gadis berkacamata kuda dan berambut kepang dua menyalurkan kertas ke orang yang duduk di belakangnya, Shin Joo.
“Gomawo.” Ucap Shin Joo yang tidak dipedulikan oleh Min Ah, gadis berkaca mata itu.
Namun entah mengapa Min Ah tidak segera membalik tubuhnya kembali ke depan. Gadis itu menatap sesuatu pada Shin Joo. Tentu saja Shin Joo menatapnya balik dengan keheranan.
“Hwang Shin Joo? Ada apa dengan bercak merah di lehermu?”
Apa?
Bercak merah? Astaga! Shin Joo membulatkan mata dan menahan nafas. Ini adalah tanda kepemilikan Kyungsoo yang ia berikan padaku, bagaimana bisa terlihat dengan jelas? Bagaimana Min Ah bisa mengetahuinya? Apa yang harus ia katakan kepada Min Ah atas semua ini?
Sementara itu di laboratorium, kejadian yang sama juga terjadi.
Kyungsoo merapihkan kerah jas laboratoriumnya sebelum akhirnya berjalan memasuki laboratorium kima bersama Yixing.
Namja itu mendahului Yixing menuju ke dalam laboratorium namun sebelum ia beranjak lebih jauh, Yixing telah berhasil menghentikan langkahnya.
“Kyungsoo, kenapa ada bercak merah di lehermu? Apakah kau baru saja bercinta?”
Deg!!!
“N..nde?”
ᴥ♥ᴥ♥ᴥ
END/
Berharap Kau Tersenyum saat membaca ini, sama halnya dengan aku yang tersenyum saat menulisnya.

Fc Populer: