Marriage Lesson Part 1/3

1
marriage lesson ff nc
Author : Park Jinhee a.k.a Olivia Kim
Title : Marriage Lesson 1
Category : NC-21, Yadong, Romance, Chapter
Cast : Do Kyungsoo, Hwang Shin Joo (OC) as Author/Reader
Support Cast: EXO, OCs, Shin Minah
basa-basi :
FF tanpa konflik yang menceritakan tentang “seperti apa sih indahnya kehidupan setelah menikah itu?”Karena FF ini bener-bener gak ada konfliknya mungkin bacanya bakal bosen, nggak nge feel atau apalah~ maaf TT karena ini juga masih proses belajar bikin FF beginian tidak ada keharusan untuk membaca, tapi bagi yang udah terlanjur baca tolong commentnya yaa~ hehehe

FF Ini pernah aku post di akun facebook ku (Park Jinhee) pada tanggal 20 Desember 2013 dan di akun WordPressku (blackpearl94.wordpress.com) pada tanggal 19 Desember 2014 dari chapter 1 – selesai. Silahkan bagi yang mau mampir ke Blackpearl94.wordpress.com dan baca FF lain di sana.
No Plagiat, No Bash, No Silent Reader
Happy Reading!
~♥♥♥~
Sreet~
Semua mata tertuju pada gadis yang berdiri di depan kelas itu. Tertuju pada gadis cantik, tidak hanya cantik, super cantik dengan rambut panjang dan seragam sekolah model casualnya. Gadis itu tersenyum ala kadarnya sebagaimana semestinya.
Beberapa orang dari deretan bangku tengah saling berbisik.
“Bagaimana bisa murid dari kelas D—kelas yang cukup rendah bisa masuk ke kelas berprestasi seperti ini?”
“Aku dengar ia telah membawa nama baik sekolah dengan kemampuan akting dan menarinya.” Bisik yang lainnya.
“Ooh~ jadi tidak perlu memiliki otak pintar untuk masuk ke kelas ini. Aku rasa prestasinya di bidang seni cukup bisa membuatnya bertahan di sekolah sebagus ini” Sahut yang satunya.
Hwang Shin Joo adalah siswi terakhir yang masuk ke kelas berprestasi yang dalam satu kelas hanya berisi 40 orang jika dibanding dengan kelas regular yang satu kelasnya mencapai 60 orang. Siswi terakhir? Ya, karena ia memiliki banyak pertimbangan untuk sebelumnya dimasukkan ke dalam kelas tersebut.
Hwang Shin Joo adalah siswi dari kelas 2 D dimana ia memiliki kemampuan intelektual rata-rata, jauh dibawah siswa siswi yang berada di kelas prestasi seperti beberapa siswi yang berbisik tadi.
Begitu banyak penghargaan Shin Joo dalam dunia aktig dan tari, membuat gadis itu digelari sebagai siswi berprestasi non akademik oleh sekolahnya. Dan itulah yang membuat ia berhasil masuk ke dalam kelas berprestasi.
Seorang pemuda yang duduk di deretan bangku belakang melirik cuek terhadap Shin Joo yang berjalan melewatinya lalu kembali berkutat dengan buku fisikanya. Rupanya Kyungsoo-pemuda itu mendapatkan tetangga baru ~ Shin Joo duduk tepat di belakangnya.
Deg deg deg deg ~
Entah perasaan apa ini, jantung Kyungsoo berdebar lebih keras ketika Shin Joo melewatinya. Seumur hidupnya, Kyungsoo hanya menghabiskan waktunya dengan buku-buku dan hal-hal yang dianggapnya masuk dalam logika. Sementara perasaan ini? Perasaan yang diluar logika, tidak bisa dinalar dengan apapun. Kyungsoo bahkan tidak mengerti mengapa ia begitu sulit berkonsentrasi kembali dengan hukum archimedesnya saat ia tak sengaja mencium aroma wangi dari Shin Joo yang lewat.
Walaupun begitu, pemuda itu tetap berlagak cuek. Ia bersikap seolah tak ada yang tidak wajar. Ia kembali menatap lekat buku fisikanya walaupu ia sadar, ia hanya sedang berpura-pura membaca untuk menutupi kegelisahan aneh yang muncul dari dirinya.
Apa ini? Tidak. Kyungsoo yakin ia hanya sedikit nervous dengan keberaaan calon istrinya itu. Tunggu calon istri? Ya, beberapa hari lagi Kyungsoo dan Shin Joo akan menikah karena perjodohan dari orangtuanya. Keduanya tidak saling kenal, namun saling tahu satu sama lain. Shin Joo mengetahui Kyungsoo yang begitu terkenal akan kepandaian akademik dan berbagai olimpiade ilmu pengetahuan yang dimenangkannya. Kyungsoo yang selalu berada di kelas A dengan namanya yang selalu berada di list nomor satu dari beratus-ratus siswa lainnya. Sementara Kyungsoo sendiri hanya sekedar pernah melihat Shin Joo yang berlatih dance dengan teman-temannya. Kyungsoo tidak begitu memperhatikan gadis itu. Ia hanya sekedar tahu bahwa gadis yang begitu terkenal di kalangan remaja itu sebentar lagi akan menjadi istrinya.
Grep~
Shin Joo duduk di bangkunya di kelas berprestasi. Ia duduk di bangku paling belakang, dan oh~ yang benar saja? Ia duduk di belakang Kyungsoo — pemuda yang beberapa hari lagi akan menjadi suaminya.
Shin Joo memandang Kyungsoo yang membelakanginya tanpa berkedip sedikitpun. Begitu tenang, begitu dingin, begitu membuat Shin Joo penasaran.
Ssrrr~
Angin berhembus melalui jendela dan ventilasi udara ruang kelas Shin Joo, membuat gadis itu memejamkan matanya, menajamkan indra penciumannya dan menikmati aroma wangi Kyungsoo yang terbawa angin ke belakang. Aroma maskulin yang begitu menenangkan. Menimbulkan sesuatu yang sudah dapat dimengerti oleh Shin Joo, perasaan berdebar-debar, perasaan yang begitu menusuk jantungnya bahkan walau ia hanya menghirup aroma parfum Kyungsoo.
Ia tahu, ia sedang nervous mengenai pernikahannya yang tinggal beberapa hari lagi. Pernikahan yang tidak diminta olehnya, juga tidak ditolaknya.
Shin Joo tahu, banyak pemuda yang menginginkan dirinya di luar sana. Jongin, mantan kekasih Shin Joo yang hingga saat ini terus mengajaknya untuk berbalikan. Suho, senior Shin Joo yang terus perhatian kepadanya. Kris, teman dekat Shin Joo yang kadang errr~ sedikit mesra terhadapnya.
Shin Joo tahu, pasti akan banyak yang protes dengan pernikahan ini. Shin Joo tahu, pasti akan banyak yang bertanya dan tidak setuju. Tapi bukan Shin Joo namanya jika ia menolak sebuah tantangan. Ya, baginya menikah dengan Kyungsoo adalah sebuah tantangan. Ia sudah bosan dengan pemuda tampan dan populer seperti Jongin. Ia tidak pernah tertarik dengan Suho dan segala perhatiannya yang tak jauh dari ‘uang’. Ia juga tidak pernah menganggap serius hubungannya dengan Kris yang hanya bermain-main saja.
Baginya Kyungsoo adalah suatu tantangan, bukan untuk hanya sekedar di coba, namun untuk dijaga. Ia telah menerima perjodohan ini, tantangan baginya adalah membuktikan bahwa ia menerima perjodohan ini bukan untuk main-main seperti yang selama ini gadis itu lakukan. Tantangan terbesarna adalah saat nanti ia akan mengenal suaminya lebih dalam lagi, dan pada suatu hari nanti keduanya akan saling jatuh cinta.
~♥♥♥~
Penat.
Itulah yang dirasakan Shin Joo sejak ia berada di dalam kelas prestasi dimana semua muridnya belajar, belajar dan belajar.
Ia sedikit kesulitan memahami rumus-rumus fisika yang asing baginya. Asing karena Shin Joo tidak pernah tertarik mempelajarinya. Tapi tidak untuk kali ini dan seterusnya. Dihadapanya ada seorang lelaki pandai yang akan menjadi suaminya. Shin Joo akan meminta calon suaminya itu mengajari rumus-rumus fisika yang rumit, sekaligus pendekatan tentunya~.
“Ehem! Min Songsaenim~!”
Sreet
Semua mata tertuju pada deretan bangku terbelakang. Shin Joo disana, mengangkat tangan dan tersenyum.
“Ya, ada apa Hwang Shin Joo?” Tanya Min Songsaenim.
Shin Joo kembali berdehem sebelum akhirnya berkata,
“Aku sedikit kesulitan dengan pelajaran ini, dan aku rasa Kyungsoo-ssi bisa membantuku belajar. Bolehkah aku duduk di sebelahnya untuk berdiskusi mengenai pelajaran ini?” Tanya Shin Joo yakin.
Kyungsoo membulatkan matanya yang sudah bulat.
Ia bahkan menghindar untuk berdekatan dengan Shin Joo untuk menghilangkan nervous yang sedaritadi melandanya. Namun dengan yakin dan percaya dirinya calon istrinya itu justru meminta untuk duduk di sebelahnya.
Kyungsoo memejamkan matanya, mencoba menenangkan dan meyakinkan dirinya bahwa ia pasti bisa bersikap biasa terhadap Shin Joo. Ia akan tetap menjadi Kyungsoo yang seperti biasanya. Tanpa perubahan sikap sedikitpun.
“Begitu? Silahkan.” Jawab Min Songsaenim yang langsung di jawab dengan senyuman dan anggukan kepala oleh Shin Joo.
Sreet
Bruk!
Shin Joo menjatuhkan tubuhnya di sebelah Kyungsoo yang masih berpura-pura mengerjakan latihan soal-soal fisika.
Walaupun diam, keduanya merasakan debar jantung yang menggebu dari milik mereka masing-masing.
“Hai, calon suamiku~” sapa Shin Joo lirih, dan itu spontan membuat Kyungsoo sedikit tersedak.
“Ada apa?”
“Aku sama sekali tidak paham pelajaran ini. Bisakah kau mengajariku?” Tanya Shin Joo manja sambil menunjuk bukunya yang terbuka.
“Bagian mana yang kau idak mengerti?” Kyungsoo menelan ludahnya dan sebisa mungkin menahan nafasnya yang berhembus kencang seiring dengan detak jantungnya.
Sial!
Perasaan macam apa ini?
Pemuda itu mengutuk kesal.
“Semua.” Jawab Shin Joo tanpa ragu.
“Apa?”
“Ya, semua. Aku tidak mengerti sedikitpun, maka dari itu ajari aku.”
Kyungsoo memandang Shin Joo dengan tatapan bingung. Baiklah, ia adalah calon suami yang baik, ia adalah pemuda pintar yang akan mengajari gadis di depannya ini banyak hal. Bukan hanya fisika, tapi mengenai begitu banyak hal yang akan keduanya hadapi bersama nantinya walaupun Kyungsoo sendiri tak tahu, hal apa saja itu.
Kau bisa, Kyungsoo.
Sedari tadi Kyungsoo menerangkan ini dan itu, Shin Joo tak berhenti menatap wajahnya. Bukan buku yang berisi penjelasan dari Kyungsoo lah yang mencuri perhatiannya, melainkan wajah Kyungsoo yang tiba-tiba – baru ia sadari ternyata — tampan.
Shin Joo tersenyum-senyum sendiri memandangi wajah calon suaminya itu, memandangi pemuda yang begitu serius dan sungguh-sungguh dalam mengajarinya. Benar-benar calon suami yang baik.
“Apakah kau sudah paham?” Tanya Kyungsoo membuyarkan lamunan Shin Joo.
“Ah, ya?” Shin Joo tak mengerti, ia tidak fokus sedari tadi.
Kyungsoo menarik nafas dalam sebelum mengulangi pertanyaannya.
“Kau sudah paham?”
Shin Joo menggeleng polos.
“Kau tidak mendengarkan penjelasanku sedari tadi?” Tanya Kyungsoo geram.
Shin Joo tersenyum lebar.
“Oppa, sebentar lagi aku menjadi istrimu, kau bisa mengajariku setiap waktu nanti jika kita sudah bersama~” ujar gadis itu dan langsung membuat Kyungsoo kaku mendengarnya.
Jantungnya kembali berdebar kencang, keringat dingin membasahi keningnya, namun terus ia berusaha bersikap biasa saja.
“Aku mengerti, tapi sampai kapan aku akan mengajarimu hal yang sama? Masih banyak yang akan kita lakukan dan pelajari bersama nantinya, bukan hanya sekedar pelajaran fisika seperti ini..” Gumam Kyungsoo tenang.
Perkataan yang langsung membuat hati Shin Joo meleleh, membuat gadis itu terbang. Ia bukan seorang gadis yang mengharapkan masa pernikahan di usianya yang masih muda, namun ia sudah dapat melihat bahwa pernikahannya akan seindah dengan apa yang ia rencanakan, pernikahan dengan pria yang tepat, yang ia inginkan, yang mampu membuat jantungnya berdebar-debar –Do Kyungsoo.
Tidak ingin berlarut dalam perasaan melayang yang diciptakan oleh Kyungsoo, Shin Joo kembali bertanya.
“Memang nanti apa yang akan kita pelajari bersama?”
Okee, ini pertanyaan yang sedikit ‘menjerumus’ dan Shin Joo memberanikan diri bertanya kepada Kyungsoo yang kepribaiannya tidak diketahui sepenuhnya oleh Shin Joo.
Kyungsoo menatap heran ke arah gadis di sebelahnya itu.
Ia mengulang pertanyaan Shin Joo dalam benaknya,
‘Apa yang akan kita pelajari bersama?’ Pemuda itu menygernyitkan dahinya. Apa lagi memangnya?
“Tentu saja bab dari pelajaran lain yang masih banyak untuk harus kita pelajari. Memangnya ada hal lain?” Tanya Kyungsoo polos.
Shin Joo tercengang, ternyata Kyungsoo begitu polos. Namun gadis itu segera meralat pendapatnya. Kyungsoo begitu polos atau.. Kyungsoo tidak tertarik untuk melakukan sesuatu istimewa dengan Shin Joo saat keduanya menikah nanti?
Entahlah, semua tidak bisa sembarangan di tebak. Baik Shin Joo maupun Kyungsoo tidak ada yang keberatan dengan perjodohan ini. Keduanya punya latar kehidupan berbeda dan masa lalu masing-masing. Banyak yang belum mereka ketahui satu sama lain, termasuk bagaimana perasaan keduanya sebenarnya.
~♥♥♥~
Shin Joo menyedot lemon tea dari gelasnya kuat-kuat lalu mendesah lega.
Bruk~
Gadis itu menghempaskan tubuhnya di sofa kantin sekolah. Di sebelahnya sudah ada tiga orang lain yang setia menemaninya. Teman-teman Shin Joo.
“Apakah begitu melelahkan belajar di kelas prestasi?” Tanya Eunjae yang heran memandang Shin Joo yang tampak begitu kelelahan.
Shin Joo hanya mengangguk, tanpa membuka matanya yang tertutup.
“Yaak, apakah kau satu kelas dengan anak-anak yang super pandai di sekolah ini, eoh?” Tanya Yonhee yang lagi-lagi hanya dijawab anggukan oleh Shin Joo.
“Lalu.. Kau duduk di sebelah mana?” Tanya Kwang Gi.
“Di belakang, di mana lagi memangnya.” Jawab Shin Joo asal.
Sret sreet~
Gadis yang baru saja membuka matanya itu tampak salah tingkah saat dilihatnya sosok Kyungsoo berjalan memasuki kantin dengan teman-temannya.
“Ada apa denganmu?” Tanya Eunjae heran melihat tingkah aneh Shin Joo.
“…” Shin Joo tidak menjawabnya, pandangan matanya sibuk mengikuti sosok yang sedari tadi memenuhi pikirannya. Ya, sosok itu sedang bercanda dengan teman-temannya di ujung kantin.
Aigoo~ senyumnya begitu manis, dan setelah ini, semuanya akan menjadi milik Shin Joo.
“Siapa yang kau lihat?” Kwang Gi ikut penasaran.
“Calon suamiku.”
BRAKK !!
Eunjae, Yonhee dan Kwang Gi sontak menggebrak meja di depan mereka.
“APA? CALON SUAMI?!!” Seru mereka tidak percaya, sementara Shin Joo sendiri terlihat kebingungan menahan malu.
“Yak! Kenapa kalian berteriak? Bagaimana jika dia mendengar?” Shin Joo tampak tengah berusaha menyembunyikan wajahnya. Takut-takut jika Kyungsoo mendengar apa yang sedang ia dan teman-temannya bicarakan.
Untungnya kantin siang itu cukup ramai. Kyungsoo yang berada di pojok tidak akan mendengar apa yang baru saja diteriakkan oleh teman-temannya.
“Kau mau menikah? Dengan siapa humm?” Tanya Eunjae penasaran.
“Akan ku beri tahu, tapi jangan berteriak!” Ancam Shin Joo kesal.
“Ya ya ya, cepat katakan. Palli palli!” Seru Kwang Gi tidak sabar.
Shin Joo mengedarkan pandangannya sejenak, memastikan keadaan di sekitarnya tenang.
“Do Kyungsoo.” Bisiknya.
BRAKK!!
“APA?!! KYUNGSOO?!!”
Kejadian yang sama kembali terulang. Kali ini Shin Joo menyembunyikan wajahnya di balik bantal sofa kantinnya. Ia benar-benar malu!
Telinga Kyungsoo cukup peka unuk mendengar jika ada seseorang menyerukan namanya walaupun dengan radius beberapa meter jauhnya.
“Kyungsoo, kenapa mereka meneriakkan namamu?” Tanya Yixing sambil menunjuk Shin Joo dan teman-teman.
Deg!
Kyungsoo terdiam. Ternyata yang menyerukan namanya adalah Shin Joo dan teman-temannya. Apakah Shin Joo telah menceritakan tentang perjodohan mereka kepada teman-temannya?
Kenapa?
Harusnya Shin Joo menjaga rahasia ini baik-baik, sebab Kyungsoo tahu, Shin Joo begitu populer. Ia tahu Shin Joo bisa saja kehilangan reputasi baiknya saat berita ini tersebar. Perjodohan ini, biarlah hanya Kyungsoo dan Shin Joo yang tahu. Tapi sepertinya teman-teman Shin Joo sudah mengetahuinya. Gadis itu benar-benar menyita banyak energi dari pikiran Kyungsoo.
“Kyungsoo, siapa yang kau pandangi?” Tanya Yixing heran. Kyungsoo terkesikap, tersenyum lalu menggeleng. Ia kembali terfokus pada teman-temannya walaupun sesekali melirik ke arah Shin Joo, hanya sekedar ingin tahu – apa yang calon istrinya itu sedang lakukan.
Keadaan kembali tenang setelah Shin Joo memaki temannya satu per satu.
“Shin Joo, kau yakin menerimanya? Kau tidak takut kehilangan penggemarmu?” Tanya Yonhee setengah berbisik.
Shin Joo tersenyum lebar sambil menggelengkan kepalanya cuek.
“Kau bodoh, mana mungkin aku takut kehilangan penggemar demi suami sendiri?” Jawabnya asal.
“Memangnya kau menyukainya?” Tanya Kwang Gi yang langsung diikuti anggukan oleh yang lain.
Shin Joo menatap kesal kearah teman-temannya yang sungguh ingin tahu.
“Tentu saja aku menyukainya. Kalau aku tidak menyukainya, mana mungkin aku bersedia dijodohkan dengannya.”
Sreet~
“Yak, Shin Joo.”
Gumam Eunjae sambil memandang ke arah belakang Shin Joo.
“Apa? Kurang jelas?” Tanya Shin Joo sedikit kesal.
“Bukan itu, tapi~” Eunjae tampak menunjuk sesuatu di belakang Shin Joo.
Karena penasaran Shin Joo dengan cepat menoleh ke arah belakangnya dan
Deg!!
Tampak Kyungsoo sedang berdiri membelakaninya – mengantri untuk membayar di kasir.
Suara Shin Joo cukup keras. Dapat dipastikan Kyungsoo mendengar semua yang dibicarakannya dengan teman-temannya.
Yak! Kau bodoh Hwang Shin Joo!
Shin Joo beranjak berdiri, memutar badannya dan menatap Kyungsoo yang membelakanginya. Ia yakin. Sangat yakin bahka Kyungsoo pasti mendengar apa yang diucapkannya tadi.
Ah bagaimana ini?
Shin Joo menggigit bibr bawahnya bingung. Kyungsoo pasti marah karena Shin Joo sembarangan menceritakan tentang perjodohan mereka. Bagaimana ini? Haruskah Shin Joo meminta maaf?
Shin Joo memandang punggung Kyungsoo dari belakang. Ya, sepertinya ia harus meminta maaf pada calon suaminya itu.
Tanpa bas-basi Shin Joo mengambil seribu langkah mendekati Kyungsoo dan—
Refleks tangannya merangkul manja lengan Kyungsoo.
“Maaf..” gumamnya.
Kyungsoo mematung seketika, perlahan tanpa mengubah posisinya, pemuda itu melirik ke sampingnya. Tampak Shin Joo tengah merangkul tangannya dengan mesra, dan itu membuat Kyungsoo…
Deg deg deg deg
Kyungsoo berharap Shin Joo tidak mendengar debar jantungnya yang begitu kencang saat ini.
Glek~
Pemuda itu menelan ludahnya yang begitu kelu. Ia menenangkan dirinya sebelum berkata,
“Maaf untuk apa?”
Shin Joo melepas rangkulannya, memandang Kyungsoo dengan tatapan bingung.
Jadi? Kyungsoo tidak marah? Jadi Kyungsoo tidak mendengar apa yang di bicarakannya?
Ahhh Tuhaan!! Syukurlah kalau begitu~
Shin Joo mengedarkan pandangan ke sekelilingnya dan baru menyadari bahwa ia dan Kyungsoo tengah menjadi pusat perhatian dari seisi kantin siang itu.
Shin Joo menepuk bahu Kyungsoo lembut.
“Ahahaa, tidak apa-apa oppa, aku memang sedang belajar akting meminta maaf karena aku mendapatkan peran antagonis di sebuah film~” jawab Shin Joo asal sembari melangkahkan kakinya mundur, meninggalkan Kyungsoo yang masih menatapnya heran. Shin Joo membohongi Kyungsoo serta alih-alih membohongi seisi kantin supaya mereka tidak salah paham dan menyebarkan gosip yang tidak-tidak mengenai dirinya dan Kyungsoo.
Gadis itu terus berjalan mundur sehingga tidak tahu bahwa di belakangnya ada sebuah anak tangga.
Bruuk!
Sebelum sempat terjatuh, Kyungsoo menangkap tubuh Shin Joo dengan sigap.
Keduanya terdiam dalam mata yang saling bertatapan.
Kali ini debar jantung milik Shin Joo lah yang begitu kencang saat dimana untuk pertama kalinya ia merasakan pelukan hangat Kyungsoo. Okee, Shin Joo mengakui ini memang norak, tapi beginilah adanya. Beginilah perasaan yang tidak bisa ia bohongi. Perasaan bahagia, berdebar-debar, dan indah.
“Kau ingin membatalkan pernikahan kita dengan melangkah mundur dan terjatuh di tangga?” Tanya Kyungsoo sungguh-sungguh.
Glek~
Shin Joo terpaku. Bagaimana bisa, darimana Kyungsoo mendapatkan kata-kata yang selalu indah seperti itu? Kata-kata yang selalu berhasil membuatnya meleleh.
Shin Joo menggeleng lemah. Matanya masih menatap ke dalam mata bulat milik Kyungsoo.
“Jangan berjalan mundur lagi, pernikahan kita hanya tinggal terhitung hari.” Bisik Kyungsoo lirih sebelum akhirnya menormalkan posisi keduanya, melepaskan pelukannya dan meninggalkan Shin Joo sendiri, yang masih mematung. Berdebar-debar.
Begitu kembali dan membelakangi Shin Joo, sebuah senyum tipis terukir di wajah Kyungsoo. Senyuman tipis dan singkat yang hanya ia sendiri yang tahu.
Kyungsoo mendengar semua percakapan Shin Joo dan teman-temannya. Sekarang ia tahu, bahwa ternyata ada seorang gadis yang menyukainya dan gadis itu adalah calon istrinya sendiri. Entah mengapa Kyungsoo merasa senang akan hal itu. Ia merasa ingin mendengar kalimat itu lagi, walau ia tak tahu apa yang menyebabkannya begitu senang dengan kata-kata Shin Joo tadi. Kyungsoo sendiri pun tak tahu harus bersikap bagaimana saat mendengarnya tadi. Tak ada yang bisa ia lakukan selain menyembunyikan perasaan senangnya dan berpura-pura tidak mendengar apapun.
Baiklah, kalau begitu, sampai jumpa di hari pernikahan kita, pernikahan yang akan menuntun perasaan dari kita masing-masing nantinya. Terimakasih sudah memberi sedikit bocoran tentang perasaanmu padaku, calon istriku~
~♥♥♥~
TBC

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: